Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

Akne vulgaris atau jerawat seperti pada umumnya diketahui jutaan pasien
Penyakit itu dapat menyebabkan baik kecacatan fisik maupun psikologis terutama
akibat pengobatan yang tidak memadai atau tidak sesuai.(1)
Akne vulgaris menjadi masalah pada hampir semua remaja. Penyakit yang
disebabkan oleh adanya peradangan kronis dari folikel pilocebaceous yang
ditandai dengan adanya komedo, papula, pustula, nodula dan kista. Hal ini
berhubungan dengan peningkatan keratin pada infundibulum folikel, peningkatan
produksi sebum yang behubungan dengan hormonal, overgrowth dari bakteri flora
normal dan keradangan yang berhubungan dengan produksi bakteri dan lipid.
Daerah yang terkena bukan hanya wajah tapi dapat juga pada daerah dada,
punggung, bahu, lengan bagia atas. Acne minor adalah suatu bentuk akne yang
ringan, dan dialami oleh 85% para remaja. Gangguan ini masih dianggap sebagai
proses psikologik. 15% remaja menderita acne major yang cukup hebat sehingga
mendorong mereka untuk berobat ke dokter.(2,3)
Pada dasarnya akne vulgaris atau jerawat bukan merupakan penyakit
berbahaya, hanya saja penyakit ini sangat mengganggu terutama dari segi
kosmetik dan pada kasus yang berat mampu manbuat penderita tertekan dan
kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Meskipun demikian dengan terapi
yang baik akan mampu mengurangi keluhan pasien selain itu kondisi ini akan
mengalami perbaikan dengan bertambahnya usia.(4)
BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Acne vulgaris adalah penyakit peradangan kronis pada folikel pilosebacea
yang umumnya terjadi pada masa remaja ditandai dengan adanya komedo, papula,
pustula, dan sering juga scar/jaringan parut yang terjadi akibat kelainan aktif
tersebut baik jaringan parut yang hipotrofik maupun jaringan parut yang
hipertrofik.(5,6)

Acne vulgaris merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri yang sering
dialami oleh remaja dan dewasa muda. Kebanyakan kasus acne tampak adanya
lesi yang pleomorfik seperti adanya komedo, papula, pustula dan nodul. Meskipun
dapat sembuh sendiri, akibat yang timbul dapat menentap seumur hidup yang
ditandai dengan lubang-lubang atau hipertrophic scar.(7)
Komedo merupakan lesi primer yang timbul pada acne vulgaris. Hal ini
bisa tanpak datar atau berbentuk papula dengan dilatasi pada area sentralnya dan
terisi keratin hitam (komedo terbuka atau bleakhead). Komedo tertutup
(whiteheads), biasanya berukuran 1 mm ditandai dengan papula kekuningan.
Macrocomedo merupakan komeo yang lebih besar dengan ukuran 3-4 mm, papula

dan pustulanya berukuran 1-5 mm dan disebabkan oleh reaksi inflamasi sehingga
didapatkan erythema dan edema. Macrocomedo ini dapat menjadi semakin luas
dan membentuk nodul yang kemudian bersatu membentuk plak yang fluktuatif
berisi nanah yang serosanguinous atau kekuningan.(6)

Akne vulgaris timbul pada daerah wajah, leher, bahu, dada bagian atas,
dan punggung bagian atas. Lokasi lain yang juga dapat terkena yaitu lengan atas
dan glutea. Pada daerah wajah, sering timbul pada pipi, daerah segitiga sekitar
hidung, dahi, dan dagu. Telinga juga dapat terkena, ditandai dengan komedo yang
besar pada konkha, kista pada lobus dan kadang-kadang pada pre dan retro
auricular terdapat komedo dan kista. Pada daerah leher, kistik merupakan lesi
yang dominan timbul disana.(6,8)

EPIDEMIOLOGI
3

Akne dapat timbul pada semua usia, namun pengaruh hormonal lebih
banyak terjadi pada usia remaja dan dewasa muda. Karena hampir semua orang
pernah menderita penyakit ini maka sering dianggap sebagai kelainan kulit yang
timbul secara fisiologis. Kligman mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang
sama sekali tidak pernah menderita penyakit ini. Umumnya insiden akne vulgaris
pada dewasa muda, yaitu umur 14-17 tahun pada wanita, dan 16-19 tahun pada
pria dan pada masa lesi itu yang predominan adalah komedo dan papula dan
jarang terlihar lesi beradang. Pada seorang gadis akne vulgaris dapat terjadi pada
saat premenarche. Setelah masa remaja kelainan ini berangsur-angsur berkurang.
Namun kadang-kadang, terutama pada wanita kelainan ini menetap sampai
dekade umur 30-an atau bahkan lebih.(4,5)
Akne khususnya dimulai saat pubertas dan sering kali menjadi tanda awal
meningkatnya produksi hormon seks. Akne muncul saat usia 8-12 tahun, bentuk
komedo yang sering menjadi ciri khas dan pertama timbul di dahi dan pipi. Pria
muda cenderung memiliki kulit yang berminyak dan penyebaran penyakitnya
lebih berat dibandingkan wanita.(6)
Akne nodulokistik telah dilaporkan umunya terjadi pada orang kulit putih
dibanding orang kulit hitam, dan sutau kelompok penelitian menemukan bahwa
akne lebih berat terjadi pada pasien dengan genotip XXY.(7)
Pasien yang baru memakai kortikosteroid sistemik dapat berkembang
cepat menjadi akne berat. Bagaimananapun juga pada pasien yang mendapat
steroid anabolik untuk menambah massa otot mendadak berkembang menjadi
akne yang berat. Obat-obatan yang lain cenderung mengalami kekambuhan
termasuk litium dan bahan pengontrol kelahiran seperti medroksi-progesteron

(Depo-Provera) dan obat kontrasepsi oral. Penggunaan obat kosmetik spesifik,


seperti pembersih yang bersifat abrasif pada krim alas bedak dan pelembab dapat
berulang pada perorangan.(4)

ETIOLOGI
Meskipun atiologi yang pasti penyakit ini belum diketahui, namun ada
beberapa fakktor yang berkaitan dengan patogenesis penyakit. Patogenesis akne
vulgaris multifaktorial.(5) Beberapa faktor yang berhubungan dengan akne antara
lain :

Sebum
Sebum merupakan faktor utama penyebab timbulnya akne. Akne
yang keras selalu disertai pengeluaran sebore yang banyak.(2)

Bakteria
Mikroba

yang

terlibat

pada

terbentuknya

akne

adalah

Corynebacterium acnes, staphylococcus epidermis, dan pityrosporum

ovale.(2)
Herediter
Banyak faktor yang menyebabkan akne vulgaris. Diantaranya
adalah faktor keturunan, beberapa anggota keluarga mungkin mempunyai
bekas acne. Apabila kedua orang tua mempunyai jaringan parut bekas acne
maka kemungkinan besar anaknya akan menderita acne.(2,8)

Hormon
Hormon androgen memegang peranan yang penting. kelenjar
sebacea sangat sensitif terhadap hormon ini. Hormon androgen berasal dari

testis dan kelenjar adrenal. Hormon ini menyebabkan kelenjar sebacea


bertambah besar dan produksi sebum meningkat.(2)
Rangsangan androgen sangat penting pada pria dan wanita karena
mengatur sekresi kelenjar sebacea. Perubahan hormon diantaranya yang
sering timbul akne yaitu pada saat menstruasi, kehamilan biasanya
menyebabkan akne, beberapa pil KB bisa menyebabkan akne atau
menghambat akne tergantung dari konsentrasi estrogen.(8)
Estrogen pada keadaan fisiologik tidak berpengaruh terhadap
produksi sebum. Estrogen dapat menurunkan kadar Gonadotropin yang
berasal dari kelenjar hipofise. Hormon gonadotropin mempunyai efek
menurunkan produksi sebum. Progesteron dalam jumlah fisiologis, tak
mempunyai efek terhadap aktivitas kelenjar lemak. Produksi sebum tetap
selama siklus menstruasi. Akan tetapi kadang-kadang progesteron dapat
menyebabkan akne premenstruasi.(2)
Diet
Pada penderita yang makan banyak karbohidrat dan zat lemak tak
dapat dipastikan akan terjadi perubahan pada pengeluaran sebum atau
komposisinya karena kelenjar lemak bukan alat pengeluaran untuk lemak
yang kita makan.(2,9)
Iklim
Di daerah yang mempunyai 4 musim, biasanya akne bertambah
berat pada musim dingin dan membaik pada musim panas. Sinar UV
mempunyai efek membunuh bakteri pada permukaan kulit. Selain itu sinar
ini juga dapat menembus epidermis bagian bawah dan bagian atas dermis
sehingga berpengaruh pada bakteri yang berada di bagian dalam kelenjar
sebacea. Sinar UV juga dapat mengadakan pengelupasan kulit yang dapat

membantu menghilangkan sumbatan saluran pilosebacea.(2)


Psikis
6

Pada beberapa penderita stress dan gangguan emosi dapat


menyebabkan akne. Mekanisme yang pasti mengenai hal ini belum
diketahui. Terjadinya stress memicu aktivitas kelenjar sebacea baik secara
langsung ataupun melalui rangsangan terhadap kelenjar hipofisis. (2,5)
Kosmetik
Kosmetik yang tebal mengiritasi lapisan beberapa sel pada saluran
kelenjar minyak sehingga membentuk sumbatan. Kosmetik yang tipis atau
hypoallergenik tidak menimbulkan efek ini.(8)

Bahan-bahan kimia
Beberapa macam bahan kimia dapat menyebabkan erupsi yang
mirip dengan akne seperti yodida, kortikosteroid, INH, obat antikonvulsan,
tetrasiklin, dan vitamin B12.(2)

PATOGENESIS
Patogenesa akne vulgaris multifaktor. Tetapi ada 4 rangkaian dasar
terjadinya akne vulgaris yaitu Hiperproliferasi folikel epidermal, Produksi Sebum
yang berlebih, Inflamasi, Aktivitas Propionibacterium acnes.(7)

1. Hiperproliferasi folikel epidermal


Akne vulgaris adalah penyakit yang khusus menyerang folikel yang dasar
abnormalitasnya terjadi pembentukan komedo. Ini diproduksi oleh adanya
penumpukan dan pembengkakan folikel dengan sumbatan keratin pada
infundibulum bawah. Sumbatan keratin ini menyebabkan hiperproliferasi dan
perbedaan abnormal keratinosit yang tidak diketahui penyebabnya. (6)
Akibat hiperproliferasi folikular epidermal menghasilkan bentukan lesi
primer pada acne yaitu macrocomedo. Epithelium kelenjar rambut bagian atas
yaitu

infumdibulum

menjadi

hiperkeratosis

dengan

peningkatan

kohesi

keratinosit. Sel-sel keratinosit yang berlebih menyebabkan sumbatan pada saluran


folikel tersebut. Sumbatan ini menyebabkan konsentrsi keratin, sebum dan bakteri
terakumulasi di folikel. Kumpulan ini menyebabkan dilatasi dari folikel rambut
bagian atas yang akhirnya menimbulkan microcomedo.(7)

Stimulator dari hiperproliferasi keratinosit dan peningkatan adhesi tidak


diketahui. Meskipun demikian beberapa faktor yang berhubungan dengan
keratinosit hiperproliferasi yaitu stimulasi androgen, penurunan asam linoleat,
peningkatan IL. Hormon androgen yang bekerja pada keratinosit folikel untuk
merangsang hiperproliferasi. Dihidrotestosteron (DHT) merupakan androgen
poten yang memegang peranan terjadinya akne. Jalur fisiologis yang ditunjukkan
dehidroepiandrosteron sulfate (DHEAS) yang berubah menjadi androgen DHT.
17-hidroksisteroid dan 5-reduktase merupakan enzim yang responsif terhadap
perubahan DHEAS menjadi DHT. Bila dibandingkan keratinosit epidermal,
folikel keratinosit menunjukkan peningkatan aktivitas 17-hidroksisteroid
dehidrogenase dan 5-reduktase yang demikian ini ditambah produksi DHT. DHT
dapat merangsang proliferasi keratinosit folikel.(7)
Proliferasi folicular keratinosit juga diregulasi oleh asam linoleat. Asam
linoleat merupakan asam lemak pada kulit yang menurun kadarnya pada orang-

orang dengan jerawat. Kadarnya akan mencapai normal setelah berhasil diterapi
dengan isotreonin. Kadar asam linoleat yang subnormal inilah yang menginduksi
hiperproliferasi folikel keratinosit dan memproduksi sitokin proinflamasi.(7)
Terdapat hubungan terbalik antara sekresi sebum dan konsentrsi asam
linoleat dalam sebum. Menurut downing, akibat dari meningkatnya sebum pada
penderita akne, terjadi penurunan konsentrasi asam linoleat. Hal ini dapat
menyebabkan defisiensi asam linoleat setempat pada epitel folikel yang akan
menimbulkan hiperkeratosis folikuler dan penurunan fungsi barier dari epitel.
Dinding komedo lebih mudah ditembus bahan-bahan yang dapat menimbulkan
peradangan.(2)
2. Produksi Sebum yang berlebih
Penderita akne mempunyai produksi sebum yang berlebihan daripada
panderita yang tanpa akne, walaupun kualitas sebumnya sama diantara keduanya.
Salah satu komponen sebum adalah trigliserida yang mungkin berperan pada
patogenesis timbulnya akne. Trigliserida dipecah menjadi asam lemak bebas oleh
bakteri propionibacterium acnes yang merupakan flora normal kelenjar
pilosebacea.

Asam

lemak

bebas

ini

selanjutnya

menaikkan

bakteri

propionibacterium acnes untuk berkelompok dan berkoloni, sehingga memacu


inflamasi dan menjadi komedogenik.(7)
Pada penderita akne terdapat peningkatan hormon androgen yang normal
beredar dalam darah (testosteron) ke bentuk metabolit yamg lebih aktif (5-alfa
dihidrotestosteron). Hormon ini mengikat reseptor androgen di sitoplasma dan
akhirnya menyebabkan proliferasi sel penghasil sebum.(2)
Penderita akne cenderung mempunyai kelenjar sebacea lebih besar dan
memproduksi sebum berlebih daripada mereka yang tidak mempunyai akne.
Tetapi, penderita yang berkulit kering juga mendapat aktivitas akne sangat banyak

10

sekali. Meski demikian, kadar asam lemak bebas yang ada pada sebum dapat
menyebabkan timbulnya peradangan.(4)
3. Inflamasi
Organisme yang menonjol pada flora fulikuler adalah Propionibacterium
acnes. Dinding sel dari bakteri ini mengandung karbohidrat antigen yang
menstimulasi timbulnya antibodi. Pasien dengan acne yang parah akan memiliki
titer antibodi yang tinggi. Antipropionibacterium antibodi meningkatkan respon
inflamasi dengan mengaktivasi komplemen. Propionibacterium acns juga dapat
menimbulkan inflamasi melalu mekanisme delay type hypersensitivity dengan
memproduksi lipase, protease, hyaluronidase dan chemotatic faktor. Apabila
leukosit polimorfonuklear masuk folikel dan memfagosit P.Acnes, menyebabkan
pelepasan enzim hidrolitik yang penting dalam menyebabkan kerusakan epitel
folikuler.Aktifasi komplemen yang distimulasi oleh P.Acnes mungkin juga
menyebabkan respon inflamasi.(7)
4. Aktivitas Propionibacterium acnes.
Propionibacterium acns merupakan bakteri gram positif, anaerob dan
microaerobicbacterium yang ditemukan pada folikel sebacea. Propionibacterium
acns mengeluarkan lipase yang merubah sebum menjadi asam lemak bebas,
meningkatkan peradangan dengan memproduksi mediator proinflamasi yang
secara langsung menembus dinding folikel. Pada orang dewasa dengan acne
mempunyai konsentrasi Propionibacterium acns lebih besar dibandingkan tanpa
akne. Tetapi, tidak ada hubungan jumlah kasar organisme Propionibacterium
acns yang terdapat pada folikel sebacea dengan beratnya akne.(2,7)
KLASIFIKASI
Klasifikasi yang dibuat oleh PLEWIG DAN KLIGMAN dalam buku
Acne: MORPHOGENESIS AND TREATMENT (1975) yang dianut adalah sebagai
berikut : (5)
A. Akne Vulgaris dan varietasnya
11

o Akne tropikalis
o Akne fulminan
o Pioderma fasiale
o Akne mekanika
B. Akne venenata akibat kontak eksternal dan varietasnya
o Akne kosmetika
o Pamade acne
o Akne klor
o Akne akibat kerja
o Akne deterjen
C. Akne komedonal akibat agen fisik dan varietasnya
o Solar comedones
o Akne radiasi
Selain klasifikasi diatas adapula klasifikasi menurut American Academy of
Dermatology Concencus Conference on Acne Clasification (2)

Ringan

Komedo
Beberapa-banyak <25

Papupla/pustula
Beberapa<10

Nodul
-

Sedang

Banyak/luas > 25

Beberapa-banyak10-30

Beberapa<10

Berat

Tidak bisa dianggap berat

Banyak dan/luas

Banyak>10

GEJALA KLINIK
Tempat Predileksi dari acne adalah pada wajah, dada, bahu dan punggung.
Lesi terdiri dari komedo terbuka dan komedo tertutup, papul eritematosa, pustula,
dan nodul.(4) Dapat disertai gatal, namun umumnya keluhan penderita adalah
keluhan estetika. Komedo adalah gejala patognomonik bagi akne berupa papul
milier yang ditengahnya mengandung sumbatan sebum, bila berwarna hitam
akibat mengandung unsur melanin disebut komedo hitam atau komedo terbuka
(black comedo, open comedo). Sedangkan bila berwarna putih karena letaknya
lebih dalam sehingga tidak mengandung unsur melanin disebut sebagai komedo
putih atau komedo tertutup (white comedo, close comedo).(5)

12

Lesi yang timbul pada acne vulgaris dapat berupa lesi inflamasi maupun
non inflamasi. Lesi non inflamasi berupa komedo yang terdiri dari black comedo,
open comedo dan white comedo, close comedo. Sedangkan lesi yang meradang
bermacam-macam bentuknya dari papul kecil dengan tepi kemerahan hingga
pustula yang besar, kenyal, nodul yang dapat digerakkan. Beberapa nodul besar
dulunya dikatakan kista dan sekarang istilah nodulokistik telah digunakan untuk
menggambarkan beratnya peradangan akne.(7)
Bekas luka dapat menjadi komplikasi yang terjadi pada kedua akne yang
noninflamasi dan yang inflamasi. Ada 4 tipe bekas luka yang umum antara lain :
ice pick, rolling, boxcar, dan hipertrofik. Bekas luka ice pick bentuknya menciut,
dalam, dimana permukaan kulitnya lebih lebar dan meruncing tepat didalam
lapisan dermis. Bekas luka rolling dangkal, lebar yang tampak berundulasi.

13

Sedangkan boxcar lebar, sangat tajam dermacated scars. Tidak seperti ice pick,
lebarnya boxcar sama pada permukaan dan dasarnya.(7)

GRADASI
Gradasi yang menunjukkan berat ringannya penyakit diperlukan bagi
pilihan pengobatan. Ada berbagai pola pembagian gradasi penyakit akne vulgaris
yang dikemukakan. (5)

Pillbury (1963) membuat gradasi sebagai berikut : (5)


o Komedo di muka
o Komedo, papul, oustul dan peradangan lebih dalam di muka
o Komedo, papul, oustul dan peradangan lebih dalam di muka, dada,
punggung
o Akne konglobata
Frank (1970) : (5)
o Akne komedonal non-inflamatory
o Akne komedonal inflamatory
o Akne papular
o Akne papulo pustular
o Akne agak berat
o Akne berat
o Akne nodulo kistik/konglobata
Burke dan Cunliffe : (5)
o Akne minor
o Akne major
Plewig dan Kligman (1975) : (5)
o Akne komedo diklasifikasikan menjadi 4 gradasi
I : Bila ditemukan <10 komedo tiap sisi muka
II : Bila ditemukan 10-25 komedo tiap sisi muka
III: Bila ditemukan 25-50 komedo tiap sisi muka
IV : Bila ditemukan >50 komedo tiap sisi muka
o Akne papulopustiler diklasifikasikan menjadi 4 gradasi
I : Bila ditemukan < 10 lesi beradang tiap sisi muka
14

II : Bila ditemukan 10-20 lesi beradang tiap sisi muka


III : Bila ditemukan 20-30 lesi beradang tiap sisi muka
IV :Bila ditemukan >30 lesi beradang tiap sisi muka
o Akne konglobata tanpa skala gradasi
Penulis di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI/RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo membuat gradasi akne vulgaris sebagai berikut :
o Ringan bila
Beberapa lesi tak beradang pada 1 predileksi
Sedikit lesi tak beradang pada beberapa tempat predileksi
Sedikit lesi beradang pada 1 predileksi
o Sedang bila
Banyak lesi tak beradang pada 1 predileksi
beberapa lesi tak beradang pada beberapa tempat predileksi
beberapa lesi beradang pada 1 tempat predileksi
Sedikit lesi beradang pada lebih dari 1 predileksi
o Berat bila
Banyak lesi tak beradang pada lebih dari 1 predileksi
Banyak lesi tak beradang pada 1 atau lebih tempat
predileksi

15

Acne

vulgaris,

mild-to-moderate.

A.

Inflammatory

papules

and

pustules and comedones are seen mainly on the cheek; erythematous


macules

mark

the

sites

of

older

resolved

lesions.

B.

Inflammatory

papules and pustules on the cheeks and forehead, as well as older


resolving lesions and some scars. C. Close-up of the lower face with
comedones, papules, pustules, and scars. D. Close-up of the cheek,
showing

large

open

comedones,

and

inflammatory

papules

and

pustules that become confluent, forming an erythematous plaque

DIAGNOSA
Diagnosa Acne vulgaris merupakan diagnosa klinis dan pada umumnya
tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosa.(4) Diagnosa
akne vulgaris ditegakkan atas dasar klinis dan pemerikaan ekskokleasi sebum,
yaitu pengeluaran sumbatan sebum dengan dengan komedo ekstraktor (sendok
Unna). Sebum yang menyumbat folikel tampak sebagai massa padat seperti lilin
atau massa lebih lunak bagai nasi yang ujungnya kadang berwarna hitam.(5,8)
Pemeriksaan histopatologis memperlihatkan gambaran yang tidak spesifik
berupa serbukan sel radang kronis di sekitar folikel pilosebasea dengan massa
sebum di dalam folikel. Pada kista radang sudah hilang diganti dengan jaringan
ikat pembatas massa cair sebum yang bercampur dengan darah, jaringan mati, dan
kerati yang lepas.(5,8)
Pemeriksaan mikrobiologis terhadap jasad renik yang mempunyai peran
pada etiologi dan patogenesis penyakit dapat dilakukan laboratorium mikrobiologi
yang lengkap untuk tujuan penelitian, namun hasilnya sering tidak memuaskan.
Pemeriksaan susunan dan kadar lipid permukaan kulit (skin surface lipids) dapat
16

pula dilakukan untuk tujuan serupa. Pada akne vulgaris kadar asam lemak bebas
(free fatty acid) meningkat dan karena itu pada pencegahan dan pengobatan
digunakan cara untuk menurunkannya.(5,8)
DIAGNOSA BANDING
Diagnosa acne vulgaris ditentukan oleh berbagai macam lesi dari acne
yang terdapat pada punggung, wajah, dan dada. Diagnosanya mudah, hanya saja
terkadang dikacaukan dengan folikulitis, rosacea atau perioral dermatitis. Namun
yang membedakan tidak adanya komedo pada penyakit-penyakit tersebut. (7)
1. Erupsi akneiformis yang disebabkan oleh induksi obat misalnya
kortikostreroid, INH, barbiturat, bromida, yodida, difenil hidantoin,
trimetadion, ACTH, dan lainnya. Klinis berupa erupsi papulo pustul
mendadak tanpa adanya komedo di hampir seluruh bagian tubuh. Dapat
disertai demam dan dapat terjadi di semua usia.(5,8)

2. Acne Venenata adalah akne akibat rangsangan fisis. Umumnya lesi


monomorfik, tidak gatal, bisa berupa komedo atau papul, dengan tempat
predileksi ditempat kontak zat kimia atau rangsang fisisnya.(5,8)
3. Rosasea merupakan penyakit peradangan kronik di daerah muka dengan
gejala eritema, pustula, telangiektasis dan kadang-kadang disertai
17

hipertrofi kelenjar sebasea. Tidak terdapat komedo kecuali kombinasi


dengan acne(5,8)

4. Dermatitis perioral yang terjadi terutama pada wanita dengan gejala klinis
polimorfik eritema, papul, pustul, disekitar mulut yang terasa gatal.(5,8)

5. Pityrisporum folikulitis penyebab adalah jamur pityrisporum, faktor


predisposisinya adalah suhu dan kelembaban yang tinggi, penggunaan
bahan berlemak untuk kelembaban badan yang berlebihan, antibiotic dan
penyakit tertentu misalnya keadaan imunocompromised. Gejala kllinis
terlihat papul dan pustul perifolikuler berukuran diameter 2-4 mm, dengan

18

peradangan minimal. Tempat predileksinya adalah dada, punggung, dan


lengan atas, kadang-kadang di leher dan jarang di muka.(5,8)
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan akne vulgaris meliputi usaha untuk mencegah terjadinya
erupsi (preventif) dan usaha untuk menghilangkan jerawat yang terjadi (kuratif).
Kedua usaha tersebut harus dilakukan bersamaan mengingat bahwa kelainan ini
terjadi akibat pengaruh berbagai faktor baik faktor internal maupun eksternal yang
kadang-kadang tidak dapat dihindari oleh penderita.
Pencegahan
o Menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan
perubahan isi sebum dengan cara :
Diet rendah lemak dan karbohidrat, meskipun hal ini

diperdebatkan keefektifannya
Melakukan perawatan kulit

untuk

membersihkan

permukaan kulit dari kotoran dan jasad renik yang


mempunyai peran pada etiopatogenesa akne vulgaris(5,8)
o Menghindari faktor pemicu terjadinya akne :
Hidup teratur dan sehat, cukup istirahat dan olah raga.
Menggunakan kosmetik secukupnya
Menjauhi terpicunya kelenjar minyak seperti minuman
keras, pedas, rokok,
Menghindari polusi debu(5,8)
o Memberi penjelasan pada penderita

tentang

penyebab

penyakitnnya, pencegahan maupun cara pengobatannya dan


prognosisnya.(5,8)
Pengobatan
Pada umumnya terdapat

4 prinsip utama dalam pengobatan akne

(Strauss, 1993), sesuai dengan patogenesisnya :


1. Pengobatan yang ditunjuk untuk menghilangkan obstruksi pada
duktus sebaseus.

19

2. Pengobatan dengan maksud menurunkan produksi sebum.


3. Pengobatan ditujukan untuk
folikuler.
4. Pengobatan

yang

ditujukan

mengurangi populasi bakteri


untuk

mendapatkan

efek

antiinflamasi.
Untuk menghilangkan obstruksi pada duktus sebaseus pada umumnya
digunakan obat obatan topikal yang bersifat keratolitik . Pengobatan yang
bertujuan menurunkan produksi sebum dapat diberikan hormon estrogen dan
sebagainya. Populasi bakteri folikular dapat dikurangi dengan pemberian
antibiotik secara topikal maupun sistemik. Efek antiinflamasi dapat dicapai
dengan pemberian obat antiinflamasi kortikosteroid secara topikal maupun
sistemik.(5,8)

Pengobatan Topikal
Tujuan pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan
komedo, menekan peradangan dan mempercepat penyembuhan lesi.
Obat topikal terdiri atas:
1. Bahan iritan yang dapat mengelupas kulit (peeling), misalnya sulfur (48%), resorsinol (1-5%0. Asam salisilat (2-5%), peroksida Benzoil (2,510%, Asam vitamin A (0,025-0,1%) dan asam azeleat (15-20%).
2. Antibiotik topikal yang dapat mengurangi jumlah mikroba dalam folikel
yang berperan dalam etiopatogenesis acne misalnya Oksi Tetracuclin 1%,
Eritromicin 1%, Klindamisin fosfat 1%.
3. Anti peradangan topikal, salep atau krim kortikosteroid kekuatan ringan
atau sedang (hidrokortison 1-2,5%) atau suntikan intalesi kortikosteroid
kuat (triamnisolon Asetonid 10mg/cc) pada lesi nodulo kistik.
4. Etil laktat 10% untuk menghambat pertumbuhan jasad renik.(5,8)
20

Pengobatan Sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan aktivitas jasad
renik disamping juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi sebum, dan
mempengaruhi keseimbangan hormonal.
1. Anti bakteri sistemik : Tetracyclin (250-1000mg/hari), eritromisin (4x250
mg/hari), Doksisiklin (50 mg/hari), trimetoprim (3x100mg/hari)
2. Obat hormonal untuk menekan produksi hormon androgen dan secara
kompetitif menduduki organ target di kelenjar sebacea misalnya estrogen
(50 mg/hari selama 21 hari dalam 1 bulan), anti androgen sipoteron asetat
(2mg/hari).
3. Vitamin A dan retinoid oral. Vitamin A sudah jarang digunakan, dahulu
digunakan

sebagai

antikeratinisasi

Isotreonoid

(0,5-1mg/kgbb/hari)

(50.000

merupakan

UI-150.000
derivat

UI/hari).

retinoid

uang

menghambat produksi sebum sebagai pilihan pada akne nodulokistik atau


konglobata yang tidak sembuh dengan terapi lain.
4. Obat lainnya misalnya antiinflamasi nonsteroid Ibuprofen (600mg/hari),
dapson (2x100mg/hari), seng sulfat (2x200mg/hari).(5,8)
Bedah Kulit
Tindakan bedah kulit kadang-kadang diperlakukan terutama untuk
memperbaiki jaringan parut akibat akne vulgaris meradang yang berat yang sering
menimbulkan jaringan parut, baik yang hipertrofik maupun yang hipotrofik.
1. Bedah skalpel dilakukan untuk meratakan sisi jaringan parut yang
menonjol atau melakukan eksisi elips pada jaringan parut hipotrofik yang
dalam.
2. Bedah listrik dilakukan pada komedo tertutup untuk mempermudah
pengeluaran sebum atau pada nodulo-kistik untuk drainase cairan isi yang
dapat mempercepat penyembuhan.
21

3. Badah kimia dengan asam trichlor asetat atau fenol untuk meratakan
jaringan parut yang benjol
4. Bedah beku dengan bubur CO2 beku atau N2 cair untuk mempercepat
penyembuhan radang.
5. Dermabrasi untuk meratakan jaringan parut hipo dan hipertrofi pasca akne
yang luas.(5,8)
6.
PROGNOSA
Umumnya baik. Akne vulgaris umumnya menyembuh sebelum mencapai
usia 30-40 tahun. Jarang terjadi acne yang menetap sampai usia tua atau mencapai
gradasi sangat berat sehingga perlu dirawat inap di rumah sakit.(5)

BAB III
PEMBAHASAN
TERAPI ANTIBIOTIK PADA ACNE VULGARIS
Antibiotik merupakan zat kimiawi mikroorganisme yang mempunyai
kemampuan dalam larutan encer untuk menghambat pertumbuhan atau
membunuh mikroorganisme lainnya. (10)
Macam Terapi Antibiotik
TOPIKAL
Pengobatan antibiotik topikal pada akne vulgaris yang dapat dipakai
adalah sebagai berikut :
22

o Benzoil Peroksida
Benzoil peroksida

merupakan

antibakteri

poten.

Propionibacterium acnes tidak resisten selama pemakaian.(6)


Benzoil peroksida umum dipakai dan penggunaannya
sebagai antibakteri sudah banyak diresepkan oleh spesialis kulit
dan terdapat di toko-toko obat.(7)
Mekanisme Kerja
Sangat efektif sebagai anti inflamasi akne, beberapa
penelitian membuktikan dapat juga sebagai komedolitik. (6) Benzoil
peroksida adalah antimokroba yang sangat kuat. Efektifitasnya
mungkin dihubungkan dengan menurunkan populasi bakteri dan
disertai penekanan hidrolisis trigliserida. Benzoil peroksida juga
mencegah lesi baru dengan membunuh Propionibacterium acnes.(7)
Dosis ,Sediaan dan Penggunaan
Tersedia dalam bentuk gel cream, lotion dan sabun wajah
dengan konsentrasi 2,5 %, 5%, sampai 10 %. Jika pasien
mempunyai kulit yang sangat berminyak mulailah dari kekuatan 510%, kalau tidak mulailah dengan kekuatan 2,5-5%. Gunakan
selapis tipis sekali atau dua kali sehari untuk semua daerah yang
terkena.(1)
Bentuk sediaan sabun pilihan yang baik untuk akne pada
dada, bahu, dan punggung, pasien menggunakanya sebagai sabun
pada waktu mandi, gunakan pada daerah yang terkena lalu bilas
sampai bersih.(1)
Efek Samping
Benzoil peroksida dapat mengiritasi kulit dan membuat
kulit terkelupas. Dermatitis kontak alergi jarang ditemukan, diduga
penderita mengeluh gatal daripada keluhan menyengat atau

23

terbakar.(6) Bakteri tidak dapat resisten bila benzoil peroksida


digunakan sebagai terpai kombinasi.(7)
o Antibakteri Topikal
Klindamisisn dan eritromisin topikal tersedia dalam
sejumlah formulasi. Keduanya sangat umum dan baik dipakai
sebagai antibiotik topikal pada pengobatan radang akne yang
ringan hingga sedang.

(6)

Keduanya dapat juga digunakan sebagai

kombinasi dengan benzoil peroksida.(7)


Penggunaan antibiotik tunggal tidak dianjurkan karena
dapat meningkatkan resistensi antibiotik.(6) Peningkatan derajat
resistensi terhadap Propionibacterium acnes telah dilaporkan pada
pasien

yang

telah

mendapatkan

pengobatan

antibiotik.

Bagaimanapun juga perkembangan resistensi ini tidak disukai pada


pasien

yang

diobati

dengan

kombinasi

benzoil

peroksida/eritromisin atau klindamisin.(7)


Bermacam-macam antibiotik mungkin dipakai kombinasi,
seperti eritromisin dan benzoil peroksida (digunakan pasien pada
waktu yang sama dari dua tempat atau sebagai produk tunggal
Benzamisin).

Kombinasi

dipertimbangkan

hanya

produk
pada

seperti

pasien

pengobatan topikal secepatnya.(4)


o Eritromisin
Eritromisin merupakan produk

Benzamin

yang

yang

harus

menggunakan

sangat

murah.

Mekanisme kerja dari eritromisin yaitu menghambat sintesis


protein bakteri dengan jalan berikatan secara reversible dengan
ribosom sub unit 50S dan bersifat bakteriostatik.
Tersedia dalam bentuk bantalan, gel, cair dan salep.
Eritromisin banyak digunakan dan manjur. Bentuk cair dan gel
24

cenderung menjadi kering keuntungannya untuk pengobatan acne


pada usia muda tetapi mungkin bermasalah untuk usia dewasa. Gel
tertentu dapat menggumpal dan menyebabkan alas bedak untuk
digunakan kadang-kadang. Sangat baik digunakan satu atau dua
kali sehari.(4)
o Klindamisin
Klindamisin merupakan preparat yang sering dipakai untuk
akne. Mekanisme kerja antibioti ini yaitu menghambat sintesis
protein bakteri dengan jalan berikatan secara reversible dengan
ribosom sub unit 50S. Antibiotik ini tersedia dalam bentuk
bantalan, gel, cair dan lotion. Karena beberapa produk ini (gel dan
lotion) mengandung air, keduanya cenderung lebih cocok
digunakan oleh banyak pasien. Lebih baik dipakai 1-2x/hari.(4)

SISTEMIK
Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan aktivitas
jasad renik dismping dapat juga mengurangi reaksi radang, menekan
produksi sebum, dan mempengaruhi keseimbangan hormonal.(5)
Bahan ini diindikasikan untuk akne sedang hingga berat pada
pasien dengan peradangan dimana mengalami kegagalan dengan
kombinasi topikal atau tidak ditoleransi penggunaan akne di dada,
punggung atau bahu. Atau pada pasien yang dalam pengawasan mutlak
dianggap penting seperti adanya jaringan parut dengan tiap-tiap luka atau
berkembangnya hiperpigmentasi radang. Umumnya membutuhkan 6-8
minggu untuk mendapatkan efisiensinya. Dimulai dosis tinggi kemudian
diturunkan setelah hasilnya disukai.(6)
o Tetrasiklin
25

Tetrasiklin merupakan antibiotik broad-spektrum luas pada radang


akne. Tetrasiklin umum digunakan.(7) Tetrasiklin pilihan yanga aman dan
murah, akan memberikan hasil positif kira-kira 70% pasien.(6)
Mekanisme kerja
Meskipun pengaturan tetrasiklin oral tidak mengubah produksi
sebum, tapi menurunkan konsentrasi asam lemak bebas ketika konsentrasi
esterifikasi asam lemak bebas meningkat.(7) Asam lemak bebas mungkin
tidak mengiritasi sebagian besar kelenjar lemak tetapi tetrasiklin dapat
bereaksi menembus dan terikat secara reversible ke subunit 30S ribosom
bakteri sehingga menyekat ikatan tRNA aminoacyl ke aseptor pada
komplek ribosom mRNA akibatnya menghalangi penambahan asam amino
ke peptide sehingga aktivitas metabolik anti radangnya sebagai indikasi
dan mensekresi produk radangnya.(7)
Dosis dan Penggunaan
Tetrasiklin biasanya diberikan dosis awal 250-500 mg satu sampai
empat kali perhari dan diturunkan bertahap dosisnya tergantung dari
respon klinisnya.(6) Dalam prakteknya tetrasiklin biasa diberikan dalam
dosis 500mg perhari hingga 1000mg/hari.(7)
Tetrasiklin lebih baik diminum saat perut kososng, sedikitnya 30
menit sebelum makan atau 2 jam setelahnya dimana dosisnya dibatasi
hingga 2x perhari. Kalsium atau zat besi sebagai makanan suplemen
dikombinasikan dengan tetrasiklin akan mengurang absorbsinya sedikit
demi sedikit.(6)
Efek Samping
Dosis maksimal mencapai 3500 mg perhari yang telah digunakan
pada kasus yang berat, tapi dengan hati-hati memonitor fungsi liver.(7)
Efek samping umum yang lainnya adalah gatal, shock anafilaktik,
toksik terhadap hati dan ginjal , gejala gatrointestinal seperti mual.

26

Pewarnaan pada gigi susu terjadi bila digunakan pada wanita dihindari
bila fungsi ginjal lemah. (6) Vaginitis atau gatal perianal yang disebabkan
oleh karena pengobatan tetrasiklin kurang lebih 5% penderita, Candidan
albicans biasanya biasanya keadaan yang menyertainya. (6) Efek samping
yang umum yang ditimbulkan pada penggunaan tetrasiklin meliputi
fotosensitifitas ringan, pewarnaan gigi pada anak usia dibawah 9 tahun,
dan candida vulvovagintis.(4)
Derivat tetrasiklin yakni doksisiklin dan minoksiklin juga umum
digunakan. Keduanya mempunyai keuntungan tersendiri yaitu dapat
diminum bersama makanan tanpa mengurangi penyerapannya.(7)
Doksisiklin diatur dengan dosis 50-100mg satu sampai dua kali
perhari tergantung dari beratnya penyakit.(6,7)
Doksisiklin mempunyai aktivitas anti-inflamasi sekarang sedang
digunakan tapi tidak resisten terhadap antibiotik yang dihasilkan karena
dosisnya rendah.(6) Kerugian besar penggunaan doksisiklin ini dapat
menyebabkan reaksi fotosensitifitas, meliputi foto-onkolisis sehingga
penderita membutuhkan pengganti antibiotik lain selama musim panas.(7)
Minosiklin merupakan antibiotik oral yang sangat efektif sebagai
terapi akne vulgaris. Pada pasien dimana bakteri Propionibacterium Acnes
berkembang menjadi resisten terhadap tetrasiklin, maka minoksiklin
sebagai alternatif.(6)
Dosis minoksiklin yang biasa digunakan adalah 50-100 mg perhari
satu atau dua kali perhari tergantung dari beratnya penyakit. Absorbsinya
berkurang dengan susu dan makanan dibanding pemakaian pada
tetrasiklin(6)
Vertigo dapat terjadi pada awal pengobatan dengan dosis tunggal
pada sore hari dengan hati-hati. Pigmentasi pada area peradangan pada

27

jaringan mulut, pada post-acne, osteoma atau jaringan parut, pada


gambaran fotodistribusi pada tulang kering, sklera, bantalan kuku,
kartilago telingan, gigi, atau pada gambaran umum juga dapat terlihat.(6)
Minoksiklin dapat menyebabkan systemis Lupus Erythematosuslike

syndrom,

suatu

sindroma

hipersensitifitas,

serum

sickness,

pneumonitis dan hepatitis yang tidak umum tapi cenderung menjadi efek
samping yang serius pada minoksiklin.(6)
o Trimetoprim-sulfametoksazole
Kombinasi Trimetoprim-sulfametoksazole juga efektif untuk
pengobatan akne. Pada umumnya, karena kemungkinan efek sempingnya
besar pada penggunaannya maka keduanya hanya dianjurkan pada pasien
dengan akne yang berat dimana tidak ada respon dengan antibiotik lain.(7)
Trimetoprim-sulfametoksazole pada dosis ganda dua kali perhari
awalan efektif pada kasusu tidak responsif dengan antibiotik. Trimetoprim
tunggal 300mg dua kali sehari juga efektif.(6)
o Eritromisin
Untuk penderita yang tidak dapat menggunakan tetrasiklin karena
efek sampingnya atau pada wanita hamil menghendaki terapi antibiotik
oral, eritrimisin dapat dipertimbangkan.(6) Efek samping yang dapat timbul
pada penggunaan eritromisin per oral demam, eosinofilia, eksantem, iritasi
sal cerna.(6)
Dosis awal adalah 250-500 mg dua atau empat kali perhari,
diturunkan bertahap setelah hasil tercapai.(6)
o Klindamisin
Klindamisin oral dulu banyak digunakan, akan tetapi resiko tinggi
yang ditakutkan adalah pseudomembran kolitis, sehingga sekarang jarang
digunakan untuk akne. Sekarang masih digunakan topikal, tetapi seringkali
dikombinasi dengan benzoil peroksida.(7)

28

Dosis awal adalah 150 mg, tiga kali sehari, diturunkan bertahap
dalam penyelesaiannya.(6)

29

BAB IV
KESIMPULAN
1. Acne vulgaris adalah penyakit peradangan kronis pada folikel pilosebacea
yang umumnya terjadi pada masa remaja ditandai dengan adanya komedo,
papula, pustula, dan sering juga scar/jaringan parut yang terjadi akibat
kelainan aktif tersebut baik jaringan parut yang hipotrofik maupun
jaringan parut yang hipertrofik
2. Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi terdapat beberapa faktor yang
berhubungan dengan akne antara lain sebum, bakteri, horonal, psikis,
diet,kosmetik dsb.
3. Terdapat 4 rangkaian dasar terjadinya akne vulgaris yaitu Hiperproliferasi
folikel epidermal, Produksi Sebum yang berlebih, Inflamasi, Aktivitas
Propionibacterium acnes.
4. Penatalaksanaan akne vulgaris meliputi usaha preventif dan kuratif,
pengobatan yang digunakan adalag obat topikal, sistemik dan bedah kulit.
5. Antibiotik topikal yang dapat digunakan Benzoil Peroksida, Eritromisin,
Klindamisin. Sedangkan yang sistemik derivat Tetrasiklin, Trimethoprim,
eritromisin dan klindamisin.

30

DAFTAR PUSTAKA
1. Goldstein,

B.

Acne

Vulgaris

Hipokrates.2001. page 49-54


2. Harahap, M. Acne Vulgaris

in
in

Dermatologi
Ilmu

Penyakit

Praktis.

Jakarta.

Kulit.

Jakarta.

Hipokrates.2000. page 35-45


3. Rapini, R. Adnexal Inflammatory Disease in Practical Dermatopathology.
USA. Elsevier Mosby. 2005. page 139-141
4. Fleischer, Alan B., Feldman, Steven R., Katz, Aaron S., Clayton, Beth D.,
Acne Vulgaris in 20 common Problems in Dermatology : McGraww Hill
Companies 2000 page 3-16
5. Sularsito, Sri adi., Djuanda, Suria., Djuanda, Adhi, Prof.Dr.dr, editors,
Acne Vulgaris in Ilmu Penyakt Kulit dan Kelamin edisi Kelima. Jakarta:
Balai penerbit FKUI. 2007. page 253-259
6. James, William D., Berger, Timothy G., Elston, Dirk M., Acne Vulgaris in
Andrews Disease of the Skin Clinical Dermatology 9 th edition
Philadephia : WB Saunders Company.2000.page 231-242
7. Zaenglein, Andrea L, Graber, Emmy M., Thiboutot, Diae M., Strauss, John
S., MD. Acne Vulgaris and Acneiform eruptions in : Wolff,
Klaus.,Goldsmit, Lowell A., Katz, Stephen I., Gilchrest, Barbara A, Paller,
Amy S, Leffel David J., Fitzpatricks dermatology in general medicine.
Seventh edition. McGraww-Hill <edical.2008.page 690-703
8. Abdullah, Benny. Acne Vulgaris in : Dermatologi Pengetahuan Dasar dan
Kasus dirumah sakit : Airlangga University Press.2009 page 116-119
9. Sukanto, H.,Martodiharjo S.,Zulkarnain I. Acne Vulgaris in Pedoman
Diagnosis dan Terapi Ilmu Pnyakit Kulit dan Kelamin Edisi III.
Surabaya.2005 page 115-118
10. Hartono H, Antibiotik in Kamus Kedokteran Dorlan., Edisi 29 Jakarta.
EGC.2002

31