Anda di halaman 1dari 24

MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN

STRUKTUR MODAL
Dosen Tetty Lasniroha Sarumpaet, S.E.,M.Ak.Ca.

Disusun oleh
Kelompok 12
Anggota :
Ratu Aghnia Raffaidy W

011401206

Rizky Syahrial

011401507

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta berkah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Keuangan Lanjutan dengan judul Struktur Modal . Dalam
penulisan makalah ini tak lepas dari bimbingan dosen kami Ibu Tetty Lasniroha
Sarumpaet, S.E.,M.Ak.Ca. , atas bantuan dan bimbingannya kami ucapkan
terimakasih.
Mengingat isi dari makalah ini banyak sekali kekurangan dan jauh dari
kata sempurna maka, kami menerima kritik dan saran dari pembaca guna untuk
memperbaiki makalah ini menjadi lebih baik lagi dan mencapai sebuah
kesempurnaan.
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat umumnya untuk para
pembaca dan khususnya untuk mahasiswa sebagai pengetahuan tambahan
mengenai materi Struktur Modal dalam mata kuliah Manajemen Keuangan
Lanjutan.

Bandung, 22 November 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar

Belakang,

......1
1.2.

Rumusan
Masalah..1

1.3.

Tujuan
2

1.4.

Kegunaan
...2

BAB II PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian

Kapitalisasi

dan

Struktur

Modal

dan

Struktur

Modal

dan

Struktur

Modal

Mempengaruhi

Struktur

3
2.2.

Hubungan

Kapitalisasi

5
2.3.

Teori-Teori

Kapitalisasi

..........5
2.4.

Faktor

Faktor

yang

Modal10
2.5.

Pendekatan-Pendekatan

Konsep

Penilaian

Struktur

Modal

..12
2.6.

Keputusan

Modal

Praktik....................15

dalam

BAB III PENUTUP......19


DAFTAR PUSTAKA...20
LAMPIRAN..21

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Salah satu keputusan penting yang dihadapi oleh manager keuangan
dalam kaitannya dengan operasional perusahaan adalah keputusan atas
Struktur Modal, yaitu keputusan keuangan yang berkaitan dengan komposisi
utang, saham prefen dan saham biasa yang harus digunakan oleh perusahaan.
Keputusan Struktur Modal secara langsung berpengaruh

terhadap

besarnya risiko yang ditanggung pemegang saham beserta besarnya tingkat


pengembalian atau tingkat keuntungan yang diharapkan.
Keputusan Struktur Modal yang diambil oleh manager tersebut tidak
saja berpengaruh terhadap profitalitas perusahaan , tetapi juga berpengaruh
terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan.
Struktur Modal merupakan pilihan pendanaan antara utang dan ekuitas.
Teori yang menjelaskan hal tersebut antara lain Teori Trade-Off, Teori
Pecking Order, dan Teori lainnya.
Hal inilah yang melatar belakangi penyusunan makalah ini , lebih lanjut
penjelasan mengenai pendekatan teori atas struktur modal dan keputusan
struktur modal dalam praktik akan dibahas dalam makaah ini secara lebih
jelas dan terperinci.
1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang di atas ,
adapun permasalahan yang dibahas dalam makalah ini dapat diidentifikasi
sebagai berikut :
1.2.1.
Apa pengertian kapitalisasi dan struktur modal ?
1.2.2.
Bagaimana hubungan kapitalisasi dan struktur modal ?
1.2.3.
Apa saja teori-teori kapitalisasi dan struktur modal ?

1.2.4.

Faktor faktor apa saja yang mempengaruhi struktur modal

?
1.2.5.

Bagaimana

pendekatan-pendekatan

konsep

penilaian

struktur modal ?
1.2.6.
Bagaimana menentukan keputusan modal dalam praktik ?
1.3.

Tujuan
Berdasarkan uraian pada latar belakang serta rumusan masalah yang
telah dikemukakan sebelumnya , maka tujuan penyusunan makalah ini ,
yaitu:
1.3.1.
1.3.2.
1.3.3.
1.3.4.

Menjelaskan pengertian kapitalisasi dan struktur modal .


Mengetahui hubungan kapitalisasi dan struktur modal .
Menjelaskan teori-teori kapitalisasi dan struktur modal.
Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi struktur

modal .
1.3.5.
Menjelaskan

pendekatan-pendekatan

konsep

penilaian

struktur modal .
1.3.6.
Menentukan keputusan modal dalam praktik .
1.4.

Kegunaan
Kegunaan dari penyusunan makalah ini , adalah sebagai berikut :

1.4.1.

Dari aspek keilmuan (teoritis); makalah ini diharapkan agar


menambah

wawasan

pengembangan

ilmu,

khususnya

ilmu

pengetahuan manajemen keuangan yang berkenaan dengan struktur


modal.
1.4.2.

Dari aspek praktis; makalah ini diharapkan dapat membantu para


siswa dalam memahami dan mengetahui cara menentukan struktur
modal.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 . Pengertian Kapitalisasi dan Struktur Modal


Menurut Keputusan Menteri Keuangan NOMOR : 01/KM.12/2001
yang dimaksud dengan Kapitalisasi adalah penentuan nilai pembukuan
terhadap semua pengeluaran untuk memperoleh aset tetap hingga siap pakai,
untuk meningkatkan kapasitas/efisiensi, dan atau memperpanjang umur
teknisnya dalam rangka menambah nilai-nilai aset tersebut. Dengan demikian
maka kapitalisasi meliputi:
1) Modal sendiri, yang terdiri dari modal saham dan surplus dalam
segala bentuknya.
2) Modal asing, yang terdiri dari obligasi atau utang jangka panjang
lain yang serupa.
Struktur modal (capital structure) mempunyai pengertian yang
berbeda dengan struktur keuangan (financial structure). Struktur modal
hanya merupakan bagian dari struktur keuangan.
Menurut Sawir (2005: 10) Struktur keuangan adalah bagaimana cara
perusahaan mendanai aktivanya. Aktiva perusahaan didanai dengan hutang
jangka pendek, jangka panjang, dan modal pemegang saham, sehingga
seluruh sisi aktiva dari neraca memperlihatkan struktur keuangan.

Sedangkan struktur modal adalah pendanaan permanen yang terdiri dari


hutang jangka panjang, saham preferen, dan modal pemegang saham. Nilai
buku dari modal pemegang saham terdiri dari saham biasa, modal disetor
atau surplus modal dan akumulasi laba ditahan. Struktur modal merupakan
bagian dari struktur keuangan.
Menurut Riyanto (2001: 22) struktur modal adalah pembelanjaan
permanen dimana mencerminkan perimbangan antara hutang jangka
panjang dengan modal sendiri. Struktur modal tercermin pada hutang jangka
panjang dengan unsur-unsur modal sendiri.
Menurut Brigham & Weston (2005: 150) struktur modal adalah
pembelanjaan permanen yang mencerminkan perimbangan antara hutang
jangka panjang dan ekuitas. Struktur modal yang optimal adalah gabungan
dari hutang dan ekuitas yang memaksimalkan harga saham perusahaan.
Penggunaan besarnya proporsi hutang dalam struktur modal dapat diamati
lewat rasio Leverage. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi segala kewajiban finansialnya. Dengan kata lain bahwa rasio
leverage ini mengukur kemampuan perusahaan dalamemenuhi
semua hutang jangka pendek dan jangka panjangnya yang dapat
diukur melalui Debt Equity Ratio/DER dan Debt Ratio/DR. Debt
EquityRatio/DER adalah perbandingan
utang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan
kemampuan modal
sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Debt
Ratio/DR Rasio adalah proporsi antara kewajiban yang dimiliki seluruh
kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi presentasenya cenderung semakin
besar resiko keuangan bagi kreditor maupun pemegang saham..
Menurut Warsono (2003: 236) struktur modal perusahaan secara
umum terdiri atas tiga komponen, yaitu:
a) Hutang Jangka Panjang (LongtermDebt)
Hutang jangka panjang adalah hutang yang masa jatuh tempo
pelunasannya lebih dari 1 (satu) tahun. Komponen modal jangka

panjang yang berasal dari hutang biasanya terdiri dari: hutang hipotek
(mortgage), obligasi (bond), dan bentuk hutang jangka panjang
lainnya.
b) Saham Preferen (Preffered Stock)
Saham preferen adalah bentuk komponen modal jangka panjang
yang merupakan kombinasi antara modal sendiri (saham biasa) dan
hutang jangka panjang. Saham preferen biasanya dimasukkan dalam
modal sendiri atau ekuitas.
c) Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah bentuk komponen modal jangka panjang
yang ditanamkan oleh para investor, yang pemegangnya memiliki
klaim atas laba dan kekayaan perusahaan
2.2 . Hubungan Kapitalisasi dan Struktur Modal .
Charles W. Gerstenberg menyatakan bahwa kapitalisasi seringkali
digunakan

untuk

menunjukkan

jumlah

securities

yang

beredar

(outstanding) di dalam bentuknya modal saham (capital stock) dan obligasi


(long-term bonds). Untuk maksud-maksud atau tujuan praktis, kapitalisasi
sering diartikan juga sebagai jumlah nilai accounting keseluruhan modal
yang selalu atau secara tetap digunakan dalam perusahaan,dan modal terebut
dalam bentuk modal saham, surplus dan utang jangka panjang.
Pengertian kapitalisasi terbagi kedalam dua pengertian yaitu :
a. Menunjukan jumlah securities yang beredar (saham dan obligasi)
b. Menunjukan jumlah modal yang digunakan dalam perusahaan dan
modal tersebut dalam bentuk modal saham, surplus dan utang
jangka panjang lainya.
2.3 . Teori - Teori Kapitalisasi dan Struktur Modal
2.3.1. Teori-teori Kapitalisasi
i.
Teori Kapitalisasi Berdasarkan Pendapatan (The Earning Theory of
Capitalization)
Nilai

suatu

perusahaan

dapat

ditentukan

berdasarkan

pendapatan yang didapatkan setiap tahunnya dikalikan dengan


multiplier tertentu. Sebelum menentukan multiplier tersebut harus

ditentukan dulu rate of return atau tingkat pendapatan investasi


yang dikehendaki bagi modal yang akan ditanamkan dalam suatu
perusahaan. Dengan demikian maka kapitalisasi ditentukan oleh dua
faktor, yaitu:
1)

Berapa pendapatan atau pendapatan rata-rata yang dapat

2)

dihasilkan perusahaan
Berapa rate of return yang layak bagi modal yang
diinvestasikan.

ii.

Teori Kapitalisasi Berdasarkan Biaya (The Cost

Theory of

Capitalization)
Menurut cost theory, kapitalisasi perusahaan didasarkan pada
cost dari fixed capital yang digunakan perusahaan, biaya mendirikan
perusahaan, jumlah modal kerja yang dibutuhkan, dll. Jadi
kapitalisasi didasarkan pada cost yang telah dikeluarkan. Makin
besar cost-nya makin besar nilai kapitalisasinya. Tetapi cara ini tidak
dapat memberikan basisyang kuat karena apabila ada fixed assets
menganggur, menjadi usang atau kurang efisien penggunaannya,
maka earning akan turun dan perusahaan tidak dapat membayar fair
return dari modal yang diinvestasikan, dan ini akan menimbulkan
overcapitalization.
iii.

Over dan Under Capitalization


Perusahaan overcapitalization apabila:
Earning-nya tidak cukup untuk mendapatkan fair return dari
jumlah modal yang diinvestasikan, atau average rate of
return jauh dibawah fair rate of return-nya.
Jumlah securities yang ada dalam peredaran lebih besar
daripada nilai riil assets.
Perusahaan undercapitalization apabila:

Average rate of return dari perusahaanjauh lebih tinggi


disbanding rate of return dari modal yang diinvestasikan
dalam perusahaan, atau average rate of return berada jauh di

atas fair rate of return.


Jumlah nilai securities yang tercantum dalam neraca jauh

lebih kecil daripada nilai riil assets.


2.3.2. Teori-teori Struktur Modal
i.
Agency Theory
Teori ini dikemukakan oleh Michael C. Jensen dan William H.
Meckling pada tahun 1976 (Horne dan Wachowicz, 1998 dalam
Saidi, 2004) ,yang menyebutkan bahwa manajemen merupakan agen
dari pemegang saham, sebagai pemilik perusahaan. Para pemegang
saham berharap agen akan bertindak atas kepentingan mereka
sehingga mendelegasikan wewenang kepada agen. Biaya yang
ditimbulkan dari pengawasan yang dilakukan oleh manajemen
disebut biaya agensi. Biaya agensi menurut Horne dan Wachowicz
dalam Saidi (2004) adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan
pengawasan manajemen untuk menyakinkan bahwa manajemen
bertindak konsisten sesuai dengan perjanjian kontraktual perusahaan
dengan kreditur dan pemegang saham.
ii.

Signaling Theory
Isyarat atau signal menurut Brigham dan Houston (2001)
adalah suatu tindakan yang diambil manajemen perusahaan yang
memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen
memandang prospek perusahaan. Perusahaan dengan prospek yang
menguntungkan akan mencoba menghindari penjualan saham dan
mengusahakan setiap modal baru yang diperlukan dengan cara-cara
lain, termasuk penggunaan utang yang melebihi target struktur
modal yang normal. Pengumuman emisi saham oleh suatu
perusahaan merupakan suatu isyarat (signal) bahwa manajemen
memandang prospek perusahaan suram. Apabila suatu perusahaan
menawarkan penjualan saham baru lebih sering dari biasanya, maka
7

harga sahamnya akan menurun, karena menerbitkan saham baru


berarti memberikan isyarat negatif yang kemudian dapat menekan
harga saham sekalipun prospek perusahaan cerah.
iii.

Pecking Order Theory


Pecking order theory mengasumsikan bahwa perusahan
bertujuan untuk memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham.
Perusahaan berusaha menerbitkan sekuritas pertama dari internal,
retained earning, kemudian utang berisiko rendah dan terakhir
ekuitas (Myers, 1984 dalam Perminas Pangeran, 2004). Pecking
order theory memprediksi bahwa pendanaan utang eksternal
didasarkan pada defisit pendanaan internal.
Model pecking order theory memfokuskan pada motivasi
manejer korporat, bukan pada prinsip-prinsip penilaian pasar modal.
Pecking order theory mencerminkan persoalan yang diciptakan oleh
asimetrik informasi. Dasar pemikirannya didasarkan pada penjelasan
berikut ini, (Meyers, 1984 dalam Perminas Pangeran, 2004) :
1. Para manejer mengetahui lebih banyak tentang perusahaan
daripada investor luar, namun mereka enggan untuk
menerbitkan saham ketika percaya saham mereka adalah
undervalued.
2. Investor memahami bahwa para manajer mengetahui lebih
banyak dan mereka mencoba menerbitkan sesuai waktu yang
tepat.
3. Para manejer menginterpresentasikan keputusan untuk
menerbitkan ekuitas sebagai bad news, dan perusahaan dapat
menerbitkan ekiutas hanya pada harga diskon.
4. Perusahaan yang bekerja berdasarkan filosofi pecking order
theory dan membutuhkan ekuitas eksternal kemungkinan

tidak akan memanfaatkan kesempatan investasi yang baik,


karena saham tidak dapat dijual pada fair Price.
Menurut Myers (1996) dalam Saidi (2004) perusahaan lebih
menyukai penggunaan pendanaan dari modal internal, yakni dana
yang berasal dari aliran kas, laba ditahan dan depresiasi. Urutan
penggunaan sumber dana dengan mengacu packing order theory
adalah internal fund (dana internal), debt (utang), dan equity (modal
sendiri) (Kaaro, 2003).
iv.

Trade Off Theory


Konsep

trade

off

dalam

balancing

theory

adalah

menyeimbangkan manfaat dan biaya dari penggunaan utang dalam


struktur modal sehingga disebut pula sebagai trade off theory
(Brigham et al, 1999 dalam Kaaro, 2003). Berdasarkan teori
Modigliani dan Miller (1996) dalam Adler Haymans Manurung
(2004), semakin besar utang yang digunakan, semakin tinggi nilai
perusahaan. Model Modigliani dan Miller mengabaikan faktor biaya
kebangkrutan dan biaya keagenan. Struktur modal yang optimal
dapat ditemukan dengan menyeimbangkan antara keuntungan
penggunaan utang dengan biaya kebangkrutan dan biaya keagenan
yang disebut model trade off ( Myers, 1984 dalam Perminas
Pangeran, 2004).
Perusahaan mendasarkan keputusan pendanaan pada struktur
modal yang optimal. Struktur modal optimal dibentuk dengan
menyeimbangkan manfaat dari penghematan pajak atas penggunaan
utang

terhadap

biaya

kebangkrutan.

Penggunaan

utang

mengakibatkan peningkatan EBIT yang mengalir ke investor, jadi


semakin besar utang perusahaan, semakin tinggi nilainya dan harga
saham perusahaan. Berdasarkan makalah Modigliani-Miller dengan
pajak, harga saham perusahaann akan dimaksimumkan jika
menggunakan utang 100 persen. Dalam kenyatannya, jarang ada

perusahaan yang menggunakan utang 100 persen karena perusahaan


membatasi penggunaan utang untuk menekan biaya-biaya yang
berkaitan dengan kebangkrutan (Brigham dan Houston, 2001).

2.4 . Faktor Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal


Menurut Maness (1988), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
penentuan struktur modal yang optimal, yaitu :
1) Stabilitas Penjualan
Perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih
aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban
tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang
penjualannya tidak stabil.
2) Operating Leverage
Perusahaan yang mengurangi leverage operasinya lebih
mampu untuk menaikkan penggunaan leverage keuangan ( hutang ).
3) Corporate Taxes
Karena bunga tax-deductable, ada sebuah keuntungan jika
menggunakan hutang. Marginal tax rate perusahaan yang lebih
tinggi, maka keuntungan menggunakan hutang akan lebih tinggi,
semua yang lainnya dianggap sama.
4) Kadar resiko dari aktiva
Tingkat atau kadar resiko dari setiap aktiva didalam
perusahaan adalah tidak sama. Makin panjang jangka waktu
penggunaan suatu aktiva didalam perusahaan, makin besar derajat
resikonya. Dan perkembangan dan kemajuan teknologi serta ilmu
pengetahuan yang tiada henti, dalam artian ekonomis dapat
mempercepat tidak digunakannya suatu aktiva, meskipun dalam
artian teknis masih dapat digunakan.
5) Lenders dan rating agencies
Jika perusahaan menggunakan hutang semakin berlebih, maka
pihak lenders akan mulai meminta tingkat bunga yang lebih tinggi

10

dan rating agencies akan mulai menurunkan rating pada tingkat


hutang perusahaan.
6) Internal cash flow
Tingkat internal cash flow yang lebih tinggi dan lebih stabil
dapat menjastifikasi sebuah tingkat leverage lebih stabil.
7) Pengendalian
Banyak perusahaan sekarang meningkatkan tingkat hutangnya
dan memulai dengan menerbitkan hutang baru hingga repurchase
outstanding commonstock. Tujuan dari peningkatan hutang tersebut
adalah untuk mendapatkan return yang lebih tinggi., sedangkan
pembelian kembali saham bertujuan untuk lebih meningkatkan
tingkat pengendalian.
8) Kondisi ekonomi
Kondisi ekonomi seperti sekarang ini dan juga kondisi pada
pasar keuangan dapat mempengaruhi keputusan struktur modal.
Ketika tingkat suku bunga tinggi, mungkin keputusan pendanaan
lebih mengarah pada short-term debt, dan akan dilakukan refinance
dengan long-term debt atau equity jika kondisi pasar memungkinkan.
9) Preferensi pihak manajemen
Preferensi manajemen terhadap resiko dan gaya manajemen
mempunyai peran dalam hubungannya dengan kombinasi debtequity perusahaan pada struktur modalnya.
10) Debt covenant
Uang yang dipinjam dari sebuah bank dan juga penerbitan
surat hutang dan terwujud melalui serangkaian kesepakatan (debt
covenant).
11) Agency cost
Agency cost adalah sebuah biaya yang diturunkan guna
memonitor kegiatan pihak manajemen untuk menjamin bahwa
kegiatan mereka selaras dengan persetujuan antara manajer, kreditur
dan juga para shareholders.
12) Profitabilitas
Perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi, dan penggunaan
internal financing yang lebih besar dapat menurunkan penggunaan
hutang (rasio hutang).

11

Pada kasus tertentu ternyata kondisinya dapat dikelompokan pada 4


faktor yang dominan terhadap penentuan struktur modal, yaitu:
Faktor 1: Stabilitas pendapatan dan kebutuhan modal, komponen
variabelnya: Stabilitas penjualan dan kebutuhan modal. Dengan variabel
yang dominan adalah kebutuhan modal.
Faktor 2: Struktur pasar industri yang terdiri variabel; struktur saingan,
tingkat bunga, tingkat pertumbuhan penjualan, dan kadar risiko dari aktiva.
Variabel dominannya adalah struktur saingan.
Faktor 3: Risiko usaha dan keuangan, yang terdiri variabel; sikap pemberi
pinjaman, susunan aktiva, dan sikap manejemen. Variabel dominannya
adalah sikap pemberi pinjaman.
Faktor 4: Situasi perekonomian yang hanya terdiri variabel keadaan pasar
modal, sehingga variabel dominannya adalah variabel keadaan pasar modal.
2.5 . Pendekatan - Pendekatan Konsep Penilaian Struktur Modal .
2.5.1. Pendekatan NI (Net Income)
Pendekatan laba bersih mengasumsikan bahwa

investor

mengkapitalisasi atau menilai perusahaan dengan tingkat kapitalisasi


yang konstan dan perusahaan dapat meningkatkan jumlah hutangnya
dengan tingkat biaya hutang yang konstan pula. Karena tingkat
kapitalisasi dan tngkat biaya hutang konstan maka semakin besar
jumlah hutang yang digunakan perusahaan, biaya modal rata-rata
tertimbang akan semakin kecil. Jika biaya modal rata-rata tertimbang
semakin kecil sebagai akibat penggunaan hutang semakin besar, maka
nilai perusahaan akan meningkat. Nilai perusahaan meningkat jika
perusahaan menggunakan hutang semakin besar.
2.5.2. Pendekatan NOI ( Net Operating Income )
Satu pendekatan terhadap penilaian laba perusahaan dikenal
sebagai pendekatan laba operasi bersih (net operating income, NOI).
Melalui pendekatan ini, laba operesi bersih didiskonto pada tingkat
kapitalisasi total perusahaan untuk memperoleh nilai total pasar
perusahaan. Nilai pasar pinjaman kemudian dikurangi dari nilai total

12

pasar untu memperoleh nilai pasar saham biasa. Penggunaan


pendekatan ini mengakibatkan tingkat kapitalisasi total serta biaya dana
pinjaman tetap sama walaupun dignakan pengungkit keuangan yang
iduur sebagai B/S.
Asumsi kritis pada pendekatan ini adalah k o bersifat konstan,
berapapun jumlah pengungkit keuangan. Pasar mengkapitalisasi laba
operasi

bersih

perusahaan

dan

menentukan

nilai

keseluruhan

perusahaan. Akibatnya, bauran pendanaan hutang dan ekuitas menjadi


tidak penting. Peningkatan pendanaan hutang yang seharusnya lebih
murah diimbangi oleh peningkatan tingkat pengembalian ekuitas yang
diminta, ke. Maka rata-rata tertimbang ke dan ki tetap sama, walaupun
pengungkit keuangan berubah. Pada saat perusahaan meningkatkan
penggunaan pengungkit keuangannya, risiko perusahaan semakin
meningkat dan investor meningkatkan tingkat pengembalian ekuitas
secara langsung untuk menyesuaikan peningkatan rasio hutang terhadap
ekuitas. Sepanjang ki tidak berubah. Ke merupakan fungsi linier konstan
rasio hutang terhadap ekuitas. Karena biaya modal perusahaan, ko, tidak
dapat diubah melalui pengungkit keuangan, maka pendekatan laba
operasi bersih secara implisit membuktikan tidak ada struktur modal
yang optimal.
Sejauh ini, pembahasan laba operasi bersih hanya dilakukan
dalam

batasan

definisi.

Namun

pembahasan

masih

memiliki

kekurangan dalam menjelaskan perilaku penting yang dimiliki laba


operasi bersih. Modigliani dan Miller, dua ahli teori keuangan
pemenang penghargaan Nobel, memberikan dukungan atas perilaku
pemisahan penilaian total dan biaya modal perusahan dari struktur
modalnya. Pembahasan tersebut diawali dengan pengkajian pendekatan
tradisional terhadap struktur modal dan penilaiannya.
2.5.3. Pendekatan Tradisional
Pendekatan tradisional terhadap struktur dan penilaian modal
mengasumsikan adanya struktur modal optimal dan manajemen dapat
meningkatkan nilai tital perusahaan melalui penggunaan pengungkit

13

keuangan. Pendekatan ini menyatakan perusahaan pada awlnya dapat


mengurangi biaya modalnya dan meningkatkan nilai totalnya melalui
pengembalian ekuitas yang diminta, peningkatan ke tidak sepenuhnya
mengimabangi manfaat yang diperoleh dari pendanaan hutang yang
lebih murah. Dengan semakin seringnya dilakukan pengungkitan
keuangan, investor secara meningkat menghukum tingkat pengembalian
perusahaan hingga akhirnya pengaruh ini dapat mengimabnagn manfaat
pendanaan yang lebih murah.
Satu variasi pendekatan tradisional , dimana k e diasumsikan akan
meningkat pada ringkat yang lebih cepat dengan pengungkit keuangan,
sedangkan ki diaumsikan akan meningkat hanya setelah peningkatan
pengungkit

keuangan

dalam jumlah

besar. Awalnya,

rata-rata

tertimbang biaya modal menurun dengan penggunaan pengungkit


keuangan yang tidak terlalu besar. Sampai pada titik tertentu,
peningkatan dapat lebih mengimbangi penggunaan dana hutang yang
lebih murah dalam struktur modal, sehingga ko mulai mengalami
peningkatan. Peningkatan ko ini selanjutnya memperoleh dukungan
pada saat ki mulai meningkat. Struktur modal optimal adalah titik
dimana ko berada pada titik terendah. Pada posisi struktur modal
optimal tersebut, tidak hanya rata-rata tertimbang biaya modal
perusahaan mencapai titik terendah, namun total nilai perusahaan juga
mencapai titik tertinggi. Hal ini disebabkan semakin rendah tingkat
kapitalisasi, ko, yang digunakan pada arus laba operasi bersih
perusahaan, semakin tinggi nilai serang bersih arus tersebut. Oleh
karena itu, pendekatan tradisional struktur modal menunjukkan bahwa :
(1) biaya modal bergantung pada struktur modal perusahaan dan (2)
terdapat struktur modal optimal.
2.5.4. Pendekatan Modigliani dan Miller (MM Approach)
MM berpendapat bahwa risiko total bagi seluruh pemegang
saham tidak berubah walaupun struktur modal perusahaan mengalami
perubahan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pembagian struktur
modal antara hutang dan modal sendiri selalu terdapat perlindungan

14

atas nilai investasi. Yaitu karena nilai investasi total perusahaan


tergantung dari keuntungan dan risiko, sehingga nilai perusahaan tidak
berubah walaupun struktur modalnya berubah. Asumsi yang digunakan
adalah, pasar modal sempurna, nilai yang diharapkan dari distribusi
probabilitas semua investor sama, perusahaan mempunyai risiko usaha
(business risk) yang sama dan tidak ada pajak.
2.6 . Keputusan Modal Dalam Praktik
Mengapa struktur modal perlu diperhatikan ? Hal ini memotivasi
manajemen perusahaan untuk mencari suatu struktur mosal yang optimal
untuk perusahaannya . Beberapa alat atau metoda dapat digunakan untuk
menentukan suatu pilihan sehingga akan sangat bermanfaat untuk menjawab
pertanyaan semacam ini Dimasa mendatanng, jika kita memerlukan dana
500 juta, apakah kita sebaiknya menerbitkan saham atau obligasi ? Metoda
dasar tersebut adalah (a) Analisis EBIT EPS, (b) Analisis kemampuan
menservis pinjaman , dan (c) Anaisis kecukupan dana.
a) Analisis EBIT EPS.
Melalui analisis ini manajemen dapat melihat dampak dari
berbagai alternatif pendanaan terhadap EPS ( Earning per share )
pada tingkatan EBIT ( Earning Before Interest and Tax ) yang
bervariasi. Yang dimaksud dengan EPS adalah laba bersih sesudah
pajak atau Earning After Tax ( EAT ) dibagi jumlah lembar saham
perusahaan yang beredar.
Pada analisis ini, hubungan antara EBIT dan EPS dapat dicari
dengan cara:
1) Menghitung EPS pada berbagai alternatif pendanaan untuk
EBIT tertentu , dan
2) Mengulang langkah pertama untuk EBIT yang berbeda beda.
Hasilnya kemudian digambarkan dalam grafik EBIT-EPS.
Indifference point memberikan masukan penting bagi
manajemen dalam memilih alternatif pembelanjaan, Jika expected
EBIT lebih besar dari indifference point, perusahaan sebaiknya
menggunakan hutang. Jika sebaliknya, menggunakan saham akan
lebih menguntungkan. Perlu dicatat bahwa keputussan ini bisa salah
15

jika aktual EBIT tidak besar yang diharapkan. Oleh karena itu,
didalam mengambil keputusan, manajemen harus memperhatikan
juga deviasi standard ( tingkat variabilitas ) EBIT perusahaan.
Expected dan deviasi standard EBIT dapat dicari dengan
mengembangkan sejumlah skenario tentang EBIT dimasa mendatang
beserta dengan probabilita terjadinya. Jika deviasi standard EBIT
relatif besar, manajemen harus lebih hati hati karena expected
EBIT menjadi kurang dapat dipercaya. Sebaiknya manajemen
memutuskan menggunakan hutang hanya bila expected EBIT cukup
jauh di atas indifference point.
EAT ( saham ) EAT ( hutang )

= Jumlah saham Jumlah

saham
( EBIT* - C1) ( 1 T ) (EBIT* - C2 ) ( 1 T)
Dimana:

= S1 S2

EBIT * = Indifferent point


C1

= Biaya bunga pada alternatif pembelanjaan 1

C2

= Biaya bunga pada alternatif pembelanjaan 2

S1

= Jumlah saham pada alternatif pembelanjaan 1

S2

= Jumlah saham pada alternatif pembelanjaan 2

T
= Tingkat pajak
b) Analisis Kemampuan Menservis Pinjaman (Perbandingan Rasio
Rasio Leverage)
Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan efek dari
setiap alternatif pendanaan terhadap rasio rasio leverage
( penggunaan hutang ). Manajemen kemudian dapat membandingkan
rasio rasio yang ada saat ini dan rasio rasio pada alternatif
pendanaan tertentu dengan rasio rasio industri sejenis. Rasio
Leverage terdiri dari (1) Rasio Hutang ( debt ratio ), (2) Rasio
Jaminan ( coverege ratio ).
Rasio hutang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban jangka panjang, sedangkan rasio jaminan
menunjukkan kemampuan untuk membayar bunga dan pokok
pinjamn yang jatuh tempo. Untuk menghitung rasio hutang,

16

manajemen menggunakan informasi dari neraca. Untuk menghitung


rasio jaminan, informasi dari laporang rugi laba yang
dipergunakan.
Manajemen dapat menggunakan metoda perhitungan rasio
sbb :
1. Rasio Hutang:
a. Total hutang/Total aktiva
b. Hutang jangka panjang/ (Hutang jangka panjang +
Modal sendiri)
c. Total hutang/ Modal sendiri
2. Rasio Jaminan:
a. Time interest earned = EBIT/Biaya bunga
b. Debt service coverage = EBIT / [ biaya bunga +
(pembayaran pokok pinjman/1 pajak) ]
Rasio hutang dan rasio jaminan dapat dihitung berdasarkan :
(1) posisi keuangan perusahaan pada saat ini, (2) posisi keuangan
perusahaan dengan alternatif alternatif pendanaan yang ada seperti
100 % modal sendiri, 100% hutang dsb. Rasio rasio tersebut
kemudian dibandingkan dengan rasio indusstri. Dari perbandingan
tersebut, manajemen dapat menentukan alternatif pendanaan yang
paling tepat bagi perusahaan. Hal ini tidak berarti bahwa manajemen
harus mempertahankan rasio yang sama dengan rasio industri.
Kegunaan perbandingan rasio dengan rasio industri adalah jika
perusahaan memilih rasio hutang dan rasio jaminan yang
menyimpang dari rasio industri, ia harus memiliki alasan yang kuat.
c) Analisis Kecukupan Dana (Analisis Arus Kas Perusahaan)
Metoda ini menganalisis dampak keputusan struktur modal
terhadap arus kas perusahaan. Metoda ini sederhana tetapi sangat
bermanfaat. Metoda ini melibatkan persiapan suatu seri anggaran kas
pada (1)kondisi perekonomian yang berbeda, (2) struktur modal
yang berbedaArus kas bersih pada situasi yang berbeda ini dapat
dianalisis untuk menentukan apakah beban tetap perusahaan ( pokok
pinjaman, bunga, sewa dan dividen saham preferen ) yang dihadapi
perusahaan tidak terlalu tinggi. Ketidak mampuan perusahaan untuk
membayar beban tetap bisa mengakibatkan financial insolvency .
17

Gordon Donaldson dari Harvard University menyarankan


bahwa kapasitas beban tetap perusahaan sebaiknya tergantung pada
arus kas bersih perusahaan yang diharapkan dapat terwujud pada saat
perekonomian mengalami resesi. Dengan kata lain, target struktur
modal ditentukan dengan membuat rencana untuk menghadapi
kondisi terburuk yang mungkin terjadi .
Rumus berikut mendifinisikan CBr, saldo kas yang diharapkan
perusahaan pada akhir periode resesi.
CBr = Co + NCFr FC
Dimana:
Co

= Saldo ka pada awal resesi

NCFr

= Arus kas bersih dari operasi selama resesi

FC

= Beban tetap perusahaan

BAB III
KESIMPULAN
Struktur modal hadir sebagai pengetahuan dari hasil perhitungan rasio
antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Ini berarti, struktur modal
hanya tercermin pada golongan pasiva dana permanen. Dengan demikian tidaklah
berlebihan struktur modal dikatakan sebagai bagian dari struktur finansiil.
Tujuan utama terbentuknya perusahaan adalah mencari keuntungan serta
kesinambungan usaha. Untuk mencapai keuntungan yang diharapkan, perusahaan
memerlukan dana untuk keperluan operasi dan investasi. Berbagai pertimbangan
perlu diperhatikan dalam memenuhi dana tersebut antara lain biaya modal, resiko
yang mungkin dihadapi apabila dana tersebut ditarik dari hutang jangka panjang
atau menerbitkan saham biasa. Disamping itu seberapa besar komposisi struktur
modal yang optimal bagi perusahaan.

18

DAFTAR PUSTAKA

Choirul Ahmad . 2012 . Keputusan Pendanaan : Struktur Modal . [online] .


http://ahch0104.blogspot.com/2012/06/keputusan-pendanaan-strukturmodal.html . [20 Nopember 2014 ].
Kiki

2008.

Manajemen

Keuangan

Struktur

Modal

. [online]

http://kikimariki.blogspot.com/2008/12/manajemen-keuangan-strukturmodal.html . [ 20 Nopember 2014 ].


Pujiastusi

Ratih

2013

Kapitalisasi

[online]

http://tgaskuliahku.blogspot.com/2013/06/kapitalisasi.html . [ 20 Nopember
2014].
Surayuda Rama . 2011. Struktur Modal dan Kebijakan Deviden. [online] .
http://ramasurayuda86.blogspot.com/2011/07/struktur-modal-dan-kebijakandeviden.html .[ 20 Nopember 2014].
Wahyu Sandi . 2013 . Kapitalisasi dan Struktur Modal . [online] .
http://sawids.blogspot.com/2013/04/manj-keu.html . [20 Nopember 2014].

19

Wardhani

Noer

2012.

Struktur

Modal.

[online]

.http://tugaskuliahfkm.blogspot.com/2012/11/struktur-modal_4084.html . [ 20
Nopember 2014].
Yusuda

2009

Manajemen

Keuangan

[online]

http://yusuda.wordpress.com/2009/10/30/manajemen-keuangan/ . [20 Nopember


2014].

LAMPIRAN
Jurnal yang berjudul STRUKTUR AKTIVA, STRUKTUR MODAL, OPERATING
LEVERAGE PENGARUHNYA TERHADAP ALIRAN KAS BEBAS DAN
PERTUMBUHAN PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BEI disusun oleh Angellica J.M Rumende.

20