Anda di halaman 1dari 22

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1.
Teori Stakeholder
Stakeholders pada teori ini memiliki peranan dan kekuasaan yang amat
penting dan menjadi pertimbangan bagi pengelola di perusahaan dalam
mengungkapkan informasi laporan keuangan. Perusahaan memandang
bahwa stakeholders terdiri dari pemegang saham, kreditur, pemerintah,
karyawan, pelanggan, pemasok, dan publik (Suhendah, 2012).
Dalam konteks untuk menjelaskan hubungan VAICTM dengan kinerja
keuangan, pertumbuhan serta nilai pasar perusahaan, teori stakeholder
dipandang dari kedua bidangnya, baik dalam bidang etika (moral)
maupun dalam bidang manajerial. Bidang etika berargumen bahwa
seluruh stakeholder memiliki hak untuk diperlakukan secara adil oleh
organisasi, dan manajer harus mengelola organisasi untuk keuntungan
seluruh stakeholder (Deegan, 2004 dalam Solikhah dkk, 2010). Bidang
manajerial

dari

teori

stakeholder

berpendapat

bahwa

kekuatan

stakeholder untuk memengaruhi manajemen korporasi harus dipandang


sebagai fungsi dari tingkat pengendalian stakeholder atas sumber daya
yang dibutuhkan organisasi

(Watts dan Zimmerman, 1986 dalam

Solikhah, 2010). Oleh karena itu, para stakeholder memegang peran

kontrol perusahaan dalam rangka pengelolaan dan penggunaan sumber


2.1.2.

daya perusahaan tersebut termasuk intellectual capital.


Resources Based View (RBV)
Teori yang berhubungan dengan intellectual capital adalah resources
based view. RBV menyatakan bahwa perusahaan yang mampu mengelola
sumber dayanya dan pengetahuannya dengan baik maka perusahaan
tersebut akan memiliki keunggulan kompetitif yang berpengaruh terhadap
kinerja perusahaan. Teori ini mengganggap organisasi dapat dianggap
sebagai sumber daya fisik, sumber daya manusia dan sumber daya
organisasi (Barney, 1991; Amit dan Shoemaker, 1993 dalam Madhani,
2010).

Sumber

daya

dapat

dianggap

sebagai

masukkan

yang

memungkinkan perusahaan untuk melaksanakan kegiatan mereka.


Sumber daya internal dan kemampuan menentukan pilihan strategis yang
dibuat oleh perusahaan saat kompetisi di lingkungan bisnis eksternal
mereka. Sumber daya yang dimaksud dalam hal ini berupa Intellectual
Capital yaitu human capital, structural capital dan relational capital
apabila IC dapat dikelola dengan baik maka dapat menciptakan
keunggulan kompetitif bagi perusahaan yang nantinya dapat menciptakan
keunggulan kompetitif.
Menurut Barney (1991) dalam Madhani (2010) sumber daya yang
berharga harus memungkinkan perusahaan untuk melakukan hal hal dan
berperilaku dengan cara mengarahkan pada penjualan yang tinggi, biaya
rendah, margin tinggi, atau dalam cara lain menambah nilai keuangan

untuk perusahaan. Hal ini menekankan bahwa sumber daya yang berharga
ketika perusahaan memungkinkan untuk memahami atau menerapkan
strategi yang meningkatkan efisiensi dan efektivitas. RBV juga membantu
manajer perusahaan untuk memahami mengapa kompetensi dapat
dianggap sebagai aset paling penting perusahaan dan pada saat yang
sama, untuk menghargai bagaimana aset tersebut dapat digunakan untuk
meningkatkan kinerja bisnis.
Berdasarkan resources based view dalam Madhani (2010), RBV
menganalisis sumber daya internal organisasi dan menekankan sumber
daya dan kemampuan dalam merumuskan strategi untuk mencapai
keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Kemampuan perusahaan juga
memungkinkan beberapa perusahaan untuk menambah nilai dalam rantai
nilai pelanggan, mengembangkan produk baru atau memperluas di pasar
baru. Sehingga, menurut RBV, sumber daya dapat didefinisikan secara
luas untuk mencakup aset, proses organisasi, atribut perusahaan,
informasi, atau pengetahuan dikendalikan oleh perusahaan yang dapat
digunakan untuk memahami dan menerapkan strategi mereka (Learned,
et.al, 1969; Daft, 1983; Barney, 1991; Mata dkk, 1995 yang dikutip
Madhani, 2010).
2.2. Pengertian Intellectual Capital
Perusahaan yang berorientasi pada pengetahuan dan pengembangan informasi
telah melandaskan keunggulan kinerjanya pada intellectual capital. Meskipun

diketahui sangat benilai dan unggul, intellectual capital merupakan aset strategis
yang penting dalam perekonomian berbasis pengetahuan Rehman, dkk (2011).
Zeghal dan Maaloul (2010) menyatakan bahwa saat ini beberapa perusahaan
menginvestasikan dalam pelatihan karyawan, penelitian dan pengembangan,
hubungan pelanggan, sistem komputer dan administrasi, dan lain-lain. Investasi
ini sering disebut sebagai intellectual capital yang bertumbuh dan bersaing
dengan investasi modal fisik dan keuangan.
Bontis et al., (2000) menyatakan bahwa secara umum, para peneliti
mendefinisikan tiga konstruk utama dari modal intelektual, yaitu: human capital
(HC), structural capital (SC), dan customer capital (CC). Menurut Bontis et al.,
(2000) secara sederhana HC merepsentasikan individual knowledge stock suatu
organisasi yang direpresentasikan oleh karyawannya. HC merupakan kombinasi
dari genetic inheritance; education; experience; and attitude tentang kehidupan
dan bisnis.
Lebih lanjut Bontis et al., (2000) menyebutkan bahwa SC meliputi seluruh
non-human storehouse of knowledge dalam organisasi. Termasuk dalam hal ini
adalah database, organisational charts, process manuals, strategies, routines dan
segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya.
Sedangkan tema utama dari CC adalah pengetahuan yang melekat dalam
marketing channels dan customer relationship di mana suatu organisasi
mengembangkannya melalui jalannya bisnis (Bontis et al., 2000).
.3. Klasifikasi Intellectual Capital

Para praktisi yang menyatakann bahwa intellectual capital terdiri dari tiga
elemen utama (Sawarjuwono, 2003 dalam Dwipayani, 2014) yaitu :
1.

Human Capital atau modal manusia


Human capital merupakan lifeblood dalam modal intelektual. Di
dalam human capital inilah sumber inovasi dan pengembangan didapat.
Selain sebagai sumber inovasi, human capital juga merupakan tempat
bersumbernya pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang berguna bagi
perusahaan.

Human

capital

akan

meningkat

jika

perusahaan

bisa

memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan. Sawarjuwono


(2003) dalam Dwipayani (2014) memberikan karakteristik yang mendasari
pengukuran human capital yaitu program pelatihan, mandat, pengalaman,
kompetensi,

rekrutmen, program pembelajaran, potensi individu dan

kepribadian.
2. Structural capital atau modal struktural
Structural capital merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam
memenuhi proses rutinitasnya dan strukturnya yang mendorong karyawan
dalam usaha menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja
bisnis. Kemampuan intelektual karyawan dapat ditingkatkan sejalan dengan
keberhasilan organisasi dalam menciptakan sistem dan prosedur yang baik.
3. Relational capital atau modal pelanggan
Relational capital adalah pengetahuan yang dibentuk dalam jangkauan
pemasaran dan hubungan konsumen. Contohnya adalah image, loyalitas
konsumen, kepuasan konsumen, hubungan dengan supplier, kekuatan
komersial, kapasitas negosiasi dengan entitas keuangan dan lingkungan

aktivitas (Stratovic & Marr, 2004). Dalam rational capital, terdapat


pengukuran dalam beberapa hal yaitu :
a. Customer Profile
Siapa pelanggan-pelanggan kita dan bagaimana mereka berbeda dari
pelanggan yang dimiliki oleh pesaing. Hal potensial apa yang kita miliki
untuk

meningkatkan

loyalitas,

mendapatkan

pelanggan

baru

dan

mengambil pelanggan dari pesaing.


b. Customer Duration
Seberapa sering pelanggan kita berbalik kepada kita? Apa yang kita
ketahui tentang bagaimana dan kapan pelanggan akan menjadi pelanggan
yang loyal? Serta seberapa sering frekuensi komunikasi kita dengan
pelanggan.
c. Customer Role
Bagaimana kita mengikutsertakan pelanggan ke dalam desain produk,
produksi dan pelayanan.
d. Customer Support
Program apa yang digunakan untuk mengetahui kepuasan pelanggan.
e. Customer Success
Berapa besar rata-rata setahun pembelian yang dilakukan oleh
pelanggan.
Berikut ini tabel 5.1 yang menyajikan komponen dari tiga elemen utama,
yaitu: Human Capital, Relational Capital, dan Structural Capital.
Tabel 2.1
Klasifikasi Intellectual Capital
Human Capital

Know-how

Relational Capital

Organisational

(Customer Capital)

(Structural Capital)

Brand

Intellectual property

Pendidikan

Konsumen

Paten

Vocational
qualification

Loyalitas konsumen

Copyrights

Pekerjaan
dihubungkan dengan
pengetahuan

Penilaian

Psychometric

Pekerjaan
dihubungkan dengan
kompetensi

Nama perusahaan

Design rights

Backlog orders

Trade secrets

Jaringan distribusi

Trademarks

Kolaborasi bisnis

Service marks

Kesepakatan lisensi
Kontrak-kontrak
mendukung

yang Infrastructure assets

Semangat
Kesepakatan finance
enterpreneurial, jiwa
inovatif, kemampuan
proaktif dan reaktif,
kemampuan untuk
berubah

Filosofi manajemen
Budaya perusahaan
Sistem informasi
Sistem jaringan
Hubungan keuangan

Sumber: IFAC (1998) dalam Khasanah (2014)


.4. Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM)
Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM) merupakan salah satu
pengukuran dengan metode tidak langsung untuk mengukur seberapa dan
bagaimana efisiensi modal intelektual dan modal karyawan menciptakan nilai
yang berdasar pada hubungan tiga komponen utama, yaitu capital employed,
human capital dan structural capital. VAICTM ini merupakan salah satu metode
yang seluruh informasi telah pada laporan tahunan dan dapat dibandingkan
dengan rata-rata perusahaan sejenis.

Metode VAIC, dikembangkan oleh Pulic (1998) dan didesain untuk


menyajikan informasi tentang value creation efficiency dari aset berwujud
(tangible asset) dan aset tidak berwujud (intangible assets) yang dimiliki
perusahaan. Model ini dimulai dengan kemampuan perusahaan untuk
menciptakan value added (VA). Value added adalah indikator paling objektif
untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam penciptaan nilai (value creation) (Pulic, 1998 dalam Muna, 2014).
Keunggulan metode VAIC adalah data yang dibutuhkan relatif mudah
diperoleh dari berbagai sumber dan jenis perusahaan. Data yang dibutuhkan
untuk menghitung berbagai rasio tersebut adalah angka-angka keuangan yang
standar yang umumnya tersedia dari laporan keuangan perusahaan. Alternatif
pengukuran IC lainnya terbatas hanya menghasilkan indikator keuangan dan nonkeuangan yang unik yang hanya untuk melengkapi profil suatu perusahaan secara
individu. Indikator-indikator tersebut, khususnya indikator non-keuangan, tidak
tersedia atau tidak tercatat oleh perusahaan yang lain.
Value added (VA) dipengaruhi oleh efisiensi dari tiga jenis input yang dimiliki
oleh perusahaan, antara lain : Human Capital (HC), Capital Employed (CE) dan
Structural Capital (SC) (Tan et al., 2007 dalam Muna, 2014).
2.41.Value Added Capital Employed (VACA)
Hubungan lainnya dari VA adalah capital employed (CE), yang dalam
hal ini dilabeli dengan VACA. VACA adalah indikator untuk VA yang
diciptakan

oleh

satu unit

dari

physical

capital. Pulic

(1998)

mengasumsikan, bahwa jika 1 unit dari CE menghasilkan return yang


lebih besar daripada perusahaan yang lain, maka berarti perusahaan

tersebut lebih baik dalam memanfaatkan CE-nya. Dengan demikian,


pemanfaatan CE yang lebih baik merupakan bagian dari IC perusahaan.
2.42.Value Added Human Capital (VAHU)
Hubungan yang berikutnya adalah VA dan HC. Value Added Human
Capital (VAHU) menunjukkan berapa banyak VA dihasilkan dengan
dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Hubungan VA dan HC
menunjukkan kemampuan untuk menciptakan nilai HC dalam sebuah
perusahaan. Konsisten dengan pandangan penulis IC lainnya (Edvisson,
1997; Sveiby, 1998; Pulic, 1998 dalam Khasanah 2014). Pulic (1998)
berargumen bahwa total salary and wage costs adalah indikator dari HC
perusahaan.
2.43.Structural Capital Coefficient (STVA)
Hubungan yang ketiga adalah Structural Capital Coefficient
(STVA), yang menunjukan kontribusi structural capital (SC) dalam
penciptaan nilai. STVA mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk
menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana
keberhasilan SC dalam penciptaan nilai (Tan et al., 2007). Pulic (1998)
menyatakan semakin besar kontribusi HC dalam value creation, maka
akan semakin kecil kontribusi SC dalam hal tersebut, SC adalah VA
dikurangi HC.
Rasio terakhir adalah menghitung kemampuan inteletual perusahaan
dengan

menjumlahkan

coefisien-coefisien

yang

telah

dihitung

sebelumnya. Hasil penjumlahan tersebut diformulasikan dalam indikator


baru yang unik, yaitu VAICTM (Tan et al., 2007 dalam Khasanah, 2014).

.5. Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan merupakan suatu pola tindakan yang dilaksanakan untuk
mencapai tujuan yang diukur berdasarkan pada suatu perbandingan dengan
berbagai standar. Penilaian kinerja keuangan bertujuan untuk mengetahui
efektivitas operasional perusahaan dan mengukur keberhasilam perusahaan
dalam menghasilkan laba yang maksimal.
Sesuai dengan tujuan penelitian ini, ukuran yang dipilih sebagai proksi kinerja
keuangan perusahaan adalah return on asset (ROA), return on equity (ROE),
asset turnover (ATO), market capitalization (MB), earnings per share (EPS).
2.5.1.

Return On Assets (ROA)


Return on assets (ROA) merefleksikan keuntungan bisnis dan efisiensi

perusahaan dalam pemanfaatan total asset (Chen et al., 2005 dalam


Khasanah, 2014). ROA ini merupakan salah satu ukuran profitabilitas
yang

mampu

mengukur

kemampuan

sebuah

perusahaan

dalam

menghasilkan laba dari banyaknya aset yang dimiliki. Jika perusahaan


memiliki jumlah ROA yang tinggi maka perusahaan tersebut memiliki
kemampuan yang besar dalam meningkatkan pertumbuhan bisnisnya.
2.5.2.

Return on Equity (ROE)


Return on equity (ROE) merupakan sebuah rasio profitabilitas yang

berhubungan dengan keuntungan dalam berinvestasi. ROE mengukur

seberapa banyak keuntungan sebuah perusahaan dapat menghasilkan


setiap rupiah dari modal pemegang saham. Rasio ini mengindikasi
kekuatan laba dari investasi nilai buku pemegang saham dan digunakan
ketika mambandingkan dua atau lebih dua perusahaan dalam sebuah
industri secara kontinu (Van Horne, 1989, p. 129 dalam Khasanah, 2014).

2.5.3.

Assets Turnover (ATO)


Assets turnover (ATO) adalah rasio dari total pendapatan terhadap nilai

buku dari total aset Firrer dan Willian (2003) dalam Khasanah (2014).
Rasio ini mengukur seberapa besar total aset yang dimiliki dapat
menghasilkan pendapatan.
2.5.4.

Market Capitalization (MB)


Investor menilai perusahaan berdasarkan nilai kapitalisasi pasar.

Kapitalisasi pasar adalah sebuah istilah yang memiliki arti harga


keseluruhan dari sebuah saham perusahaan yaitu harga yang harus
dibayar seseorang untuk membeli seluruh perusahaan. Kapitalisasi pasar
yang besar dan bertumbuh merupakan suatu alat ukur yang penting bagi
keberhasilan atau kegagalan perusahaan terbuka (go public).
Kapitalisasi pasar dihitung dengan mengalikan jumlah saham
perusahaan yang beredar dengan harga pasar saham. Kapitalisasi pasar

atau market capitalization dihitung menggunakan komponen harga pasar


saham. Harga pasar saham biasanya memiliki nilai di atas nilai buku
saham perusahaan karena harga pasar saham mencerminkan ekspektasi
investor atas prospek ekonomi suatu perusahaan di masa akan datang.
2.5.5.

Earnings per Share (EPS)


Earnings per Share merupakan suatu ukuran di mana baik manajemen

maupun pemegang saham menaruh perhatian yang besar. EPS merupakan


analisis laba dari sudut pandang pemilik dipusatkan pada laba per saham
dalam suatu perusahaan. EPS juga merupakan salah satu persyaratan
dalam pengungkapan laporan keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang
tercatat di Bursa Efek Indonesia, yang diperoleh dengan cara membagi
laba setelah dikurangi dividen yang dibagikan untuk pemegang saham
preferen dengan rata-rata jumlah saham yang beredar sepanjang tahun.
.6. Penelitian Terdahulu
Penelitian Solikhah dkk (2010) yaitu implikasi intellectual capital terhadap
financial performance, growth dan market value. Penelitian ini menggunakan
348 sampel dan menggunakan alat analisis Structural Equation Modeling (SEM)
dengan metode alternatif yaitu Partial Least Square (PLS). Variabel dependen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan perusahaan
(Current ratio, debt to equity ratio, rasio total assets turnover, return on
investment, return on equity), pertumbuhan perusahaan (growth) dan nilai pasar
perusahaan. Hasil dari penelitian tersebut terdapat pengaruh positif antara IC

perusahaan dengan kinerja perusahaan dan IC juga terdapat pengaruh positif


terhadap pertumbuhan perusahaan, tetapi

IC tidak terdapat pengaruh yang

signifikan terhadap nilai pasar perusahaan.


Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Widarjo (2011) yaitu modal
intelektual yang diukur dengan VAICTM tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasar, dalam
hal ini calon investor tidak memberikan nilai yang lebih tinggi terhadap
perusahaan yang memiliki modal intelektual yang tinggi. Belum adanya standar
dalam pengukuran modal intelektual kemungkinan menyebabkan pasar belum
mampu melakukan penilaian yang tepat atas modal intelektual yang dimiliki
perusahaan. Jumlah sampel penelitian, yaitu 31 sampel perusahaan yang
melakukan IPO di BEI dari tahun 1999 sampai tahun 2007.
Penelitian yang dilakukan Suhendah (2012) yang berjudul Pengaruh
Intellectual Capital terhadap Profitabilitas, Produktivitas dan Penilaian Pasar
pada Perusahaan yang Go Public di Indonesia. Populasi perusahaan yang
menjadi objek penelitian berjumlah 210 perusahaan dengan menggunakan teknik
purposive random sampling didapat jumlah sampel perusahaan sebanyak 95
perusahaan. Data penelitian diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dimulai dari tahun 2005 sampai
tahun 2007. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Profitabilitas (ROA), Produktivitas (ATO) dan Penilaian Pasar (MB). Hasil dari
penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa intellectual capital berpengaruh
signifikan terhadap profitabilitas (positif) dan produktivitas (negatif), namun

tidak berpengaruh signifikan terhadap penilaian pasar. Hasil temuan ini


mengindikasikan bahwa intellectual capital memberikan kontribusi yang kuat
pada teori stakeholder yang menekankan pada laba akuntansi dan keakuratan
value added dalam menentukan return. Hasil pengujian ini juga sesuai dengan
resource-based

theory

yang

menjelaskan

bahwa

perusahaan

dapat

mempertahankan produktivitas dengan keunggulan kompetitif yang dimiliki


perusahaan dengan cara mengimplementasikan strategi untuk menciptakan value
added dalam hal ini intellectual capital yang tidak mudah ditiru oleh pesaing
perusahaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Wijaya (2012) mengenai pengaruh intellectual
capital terhadap profitabilitas pada perusahaan farmasi di BEI. Penelitian ini
menggunakan variabel independen VAIC dan variabel dependen return on asset
(ROA), return on equity (ROE) and earnings per share (EPS) dengan jangka
waktu penelitian mulai dari 2006 sampai 2010. Hasil dari penelitian ini
intellectual capital berpengaruh positif terhadap Retun on Asset, Hal ini
disebabkan karena perusahaan lebih memaksimalkan pemanfaatan asetnya untuk
mendorong kualitas karyawan yang dimiliki guna meningkatkan laba yang
dihasilkan. Intellectual capital berpengaruh positif terhadap Return on Equity.
Hal ini disebabkan karena pengembalian modal hanya dipengaruhi oleh faktor
yang berupa pengetahuan karyawan. Intellectual capital berpengaruh positif
terhadap Earning per Share. Hal ini disebabkan perusahaan mampu
memanfaatkan dan mengelola modal intelektual yang dimiliki dengan baik dan

secara maksimal, sehingga dapat memberikan nilai tambah terhadap laba per
lembar sahamnya.
Penelitian Kartika dkk, (2013) yang berjudul Pengaruh Intellectual Capital
pada Profitabilitas Perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
pada tahun 2007-2011. Penelitian ini menggunakan variabel independen yaitu
VAICTM dan variabel dependen Return on Asset (ROA). Hasil uji F menunjukkan
bahwa Value Added Human capital (VAHU), Structural Capital Value Added
(STVA) dan Value Added Capital employed (VACA) mempunyai pengaruh yang
signifikan secara bersama-sama terhadap profitabilitas. Hasil uji t menunjukkan
bahwa Value Added Human capital (VAHU) tidak berpengaruh terhadap
profitabilitas. Sedangkan Structural Capital Value Added (STVA) dan Value
Added Capital employed (VACA) berpengaruh positif signifikan terhadap
profitabilitas. Penelitian ini menggunakan sampel 22 perusahaan perbankan yang
terdaftar di BEI dari tahun 2007-2011.
Penelitian Soetedjo dkk, (2014) yang berfokus juga pada sektor Perbankan
diperoleh hasil bahwa secara simultan, VAIC berpengaruh signifikan terhadap
ROA. Namun secara parsial, peneliti menemukan bahwa dari tiga komponen
pembentuk intellectual capital, hanya HCE yang tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap ROA. Penelitian ini menggunakan sampel 26 perusahaan
perbankan yang terdaftar di BEI dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010.
Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Gozali dkk, (2014) mengenai
pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan dan nilai perusahaan
khususnya di industri keuangan dan industri pertambangan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan variabel independen VAICTM


dan variabel dependen kinerja keuangan (ROA, ROE, Employee Productivity)
dan nilai perusahaan (Market to Book Value Ratio, Tobins Q). Hasil dari
penelitian ini adalah adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara VAIC
dengan kinerja keuangan dan nilai perusahaan. Indikator VAIC yang paling
berpengaruh positif dan signifikan adalah structural capital.Pengaruh VAIC
terhadap kinerja keuangan perusahaan lebih besar daripada pengaruh VAIC
terhadap nilai pasar perusahaan. Sampel yang didapat dari penelitian ini adalah
80 perusahaan yang bergerak di industri keuangan dan industri pertambangan
yang terdaftar di BEI dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012.
Penelitian yang terbaru di Indonesia mengenai Intellectual Capital adalah
penelitian yang dilakukan Sirapanji dan Hatane (2015) mengenai pengaruh value
added intellectual capital terhadap kinerja keuangan dan nilai pasar perusahaan
khususnya di industri perdagangan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
tahun 2008-2013. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38
perusahaan di bidang perdagangan jasa yang secara konsisten terdaftar di BEI
pada tahun 2008-2013. Hipotesis dalam penelitian ini diuji menggunakan uji
statistik regresi linear berganda. Pengukuran VAIC menggunakan konsep dari
Pulic (2005) yang kemudian dihubungkan dengan kinerja keuangan (ROA, ROE)
dan nilai pasar perusahaan (Tobins Q). Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa tidak semua komponen VAIC dapat memiliki pengaruh yang positif dan
siginifikan terhadap profitabilitas dan nilai pasar perusahaan. HCE hanya dapat

mempengaruhi nilai pasar perusahaan, sementara CEE hanya mampu


mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Komponen VAIC yang konsisten dalam
mempengaruhi profitabilitas dan nilai pasar adalah structural capital efficiency
(SCE).
2.7. Hipotesis Penelitian
2.7.1. Hubungan Intellectual Capital dengan Return on Asset (ROA)
Pengukuran kinerja keuangan dikaitkan dengan rasio profitabilitas.
Rasio profitabilitas dalam hal ini diwakili oleh return on asset (ROA).
ROA merupakan salah satu rasio profitabilitas yang menggambarkan
seberapa besar kemampuan sebuah perusahaan dalam memanfaatkan
aktiva yang dimiliki untuk meningkatkan laba perusahaan yang akan
menguntungkan para stakeholder perusahaan. Penggunaan aktiva yang
efisien dapat meminimalkan pengeluaran perusahaan berupa biaya-biaya.
Dengan demikian, jika semakin tinggi intellectual capital yang dimiliki
perusahaan maka akan semakin tinggi laba yang diperoleh perusahaan
dengan pemanfaatan intellectual capital tersebut.
Chen et al., (2005) dan Ulum (2008) meneliti pengaruh intellectual
capital dengan kinerja keuangan yang diproksikan dengan ROA dan
diperoleh hasil dari keduanya bahwa intellectual capital berpengaruh
positif terhadap profitabilitas perusahaan (ROA). Dengan menggunakan
metode VAICTM sebagai ukuran model intellectual capital perusahaan
maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Intellectual capital berpengaruh positif terhadap Return on Asset
(ROA).

2.7.2.

Hubungan Intellectual Capital dengan Return on Equity (ROE)


Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapat laba

melalui semua kemampuan sumber daya yang ada. Profitabilitas suatu


perusahaan akan mempengaruhi kebijakan para investor atas investasi
yang dilakukan. Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba akan
menarik lebih banyak investor untuk menanamkan modalnya. ROE yang
lebih tinggi melebihi biaya modal yang digunakan, itu berarti perusahaan
telah efisien dalam menggunakan modal sendiri, sehingga laba yang
dihasilkan

mengalami

peningkatan

dari

tahun-tahun

sebelumnya

(Angkoso, 2006). Dengan menggunakan VAICTM sebagai ukuran model


intellectual capital perusahaan maka dapat diajukan hipotesis sebagai
berikut:
H2 : Intellectual capital berpengaruh positif terhadap Return on
Equity (ROE)
2.7.3. Hubungan Intellectual Capital dengan Assets Turnover (ATO)
Perusahaan yang mampu mengelola dan memanfaatkan aset yang
dimilikinya secara efisien dapat menurunkan jumlah biaya-biaya.
Pemanfaatan aset secara efisien ini sesuai dengan kemampuan
intellectual capital perusahaan tersebut. Sehingga apabila sebuah
perusahaan memiliki kinerja yang baik maka intellectual capital
perusahaan

tersebut

baik

terutama

dalam

memenuhi

kebutuhan

pelanggan. Menurut pandangan stakeholder theory bahwa peningkatan

penjualan yang dihasilkan akan menghasilkan keuntungan bagi


perusahaan dan hal ini akan menguntungkan para stakeholder.
Semakin tinggi intellectual capital (VAICTM) maka nilai ATO akan
meningkat, hal ini berarti perusahaan semakin efektif dan efisien dalam
penggunaan aktivanya untuk meningkatkan laba perusahaan. Firrer dan
Williams (2003) dan Gan dan Saleh (2008) membuktikan bahwa
intellectual

capital

berpengaruh

positif

terhadap

ATO.

Dengan

menggunakan metode VAICTM sebagai ukuran model intellectual capital


perusahaan maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H3 : Intellectual capital berpengaruh positif terhadap Asset Turnover
(ATO).
2.7.4. Hubungan Intellectual Capital dengan Market Capitalization (MB)
Adanya peningkatan perbedaan antara nilai pasar dengan nilai buku
aset yang dimiliki perusahaan menunjukkan adanya hidden value.
Penghargaan yang lebih atas suatu perusahaan dari para investor tersebut
diyakini disebabkan oleh intellectual capital yang dimiliki perusahaan
(Chen et.al, 2005 dalam Tarigan, 2011).
Menurut resouce based theory, intellectual capital merupakan sumber
daya unik yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan
sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan menjadi semakin baik
dan menciptakan value bagi perusahaan. Perusahaan yang memiliki
keunggulan kompetitif tentunya akan dapat bersaing dengan lawan
bisinisnya dan keberlanjutan perusahaan akan terjamin. Jika keberlanjutan
perusahaan terjamin, maka persepsi pasar terhadap nilai perusahaan akan

meningkat. Hal tersebut dapat membuat perusahaan memiliki nilai


tambah dibandingkan dengan perusahaan lain.
Investor yang menilai perusahaan secara keseluruhan akan memberi
nilai lebih bagi perusahaan yang mempunyai kinerja yang baik. Hal ini
membuat investor akan menempatkan nilai yang lebih tinggi pada
perusahaan yang memiliki intellectual capital yang besar. Semakin tinggi
intellectual capital (VAICTM) maka nilai perusahaan akan meningkat dan
membuat sahamnya akan banyak diminati oleh investor sehingga
permintaan akan saham perusahaan tersebut akan naik sehingga
menyebabkan harga saham menjadi naik. Oleh karena itu, intellectual
capital diyakini memegang peran penting dalam meningkatkan nilai
perusahaan di mata pelaku pasar modal (Ghosh & Mondal, 2009 dalam
Tarigan, 2011).
Salah satu cara untuk meningkatkan rasio market capitalization adalah
dengan meningkatkan nilai pasar perusahaan. Nilai pasar perusahaan
dapat meningkat apabila kekayaan intelektual yang dimiliki perusahaan
dikelola dengan baik. (Chen, 2005 dalam Tarigan 2011), menyatakan
bahwa terdapat hubungan positif antara IC dengan nilai pasar perusahaan.
Jika intellectual capital meningkat, dalam artian dikelola dengan baik,
maka hal ini dapat meningkatkan persepsi pasar terhadap nilai
perusahaan.

Semakin tinggi intellectual capital maka akan semakin tinggi pula


market capitalization perusahaan tersebut. Oleh karena itu, intellectual
capital berpengaruh positif terhadap market capitalization.
H4 : Intellectual capital berpengaruh positif terhadap Market
Capitalization (MB)
2.7.5. Hubungan Intellectual Capital dengan Earnings per Share (EPS)
Salim (2013) mengemukakan bahwa Earnings per Share (EPS)
merupakan suatu ukuran di mana baik manajemen maupun pemegang
saham menaruh perhatian yang besar. EPS merupakan analisis laba dari
sudut pandang pemilik dipusatkan pada laba per saham dalam suatu
perusahaan. EPS juga merupakan salah satu persyaratan dalam
pengungkapan laporan keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang
tercatat di Bursa Efek Indonesia yang diperoleh dengan cara membagi
laba setelah dikurangi dividen yang dibagikan untuk pemegang saham
preferen dengan rata-rata jumlah saham yang beredar sepanjang tahun.
EPS memberikan ukuran profitabilitas yang menggabungkan keputusan
operasi, investasi dan pembiayaan (Stikney dan Weil, 1997 dalam Tan et
al., 2007). Dengan menggunakan VAICTM sebagai ukuran model
intellectual capital perusahaan maka dapat diajukan hipotesis sebagai
berikut:
H5 : Intellectual capital berpengaruh positif terhadap Earnings per
Share (EPS)

2.8. Kerangka Pemikiran


Berdasarkan pada penjelasan sebelumnya, gambar berikut merupakan
kerangka pemikiran penelitian ini. Kerangka pemikiran penelitian ini
menggambarkan pengaruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan
perusahaan.

ROA
HCE

SCE

CEE

ROE

VAIC

TM

Financial
Performa
nce

ATO
MB
EPS

Sumber : Solikhah (2010)

HCE