Anda di halaman 1dari 30

Universitas Tridinanti Palembang

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Permasalahan yang sama, dihadapi oleh mayoritas berbagai negara di dunia
adalah kemiskinan. Kemiskinan lahir bersamaan dengan keterbatasan sebagian
manusia dalam mencukupi kebutuhannya. Kemiskinan telah ada sejak lama pada
hampir semua peradaban manusia. Pada setiap belahan dunia dapat dipastikan adanya
golongan konglomerat dan golongan melarat. Dimana golongan yang konglomerat
selalu bisa memenuhi kebutuhannya, sedangkan golongan yang melarat hidup dalam
keterbatasan materi yang membuatnya tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari
sehingga membuatnya semakin terpuruk. Konsep pemahaman tentang kemiskinan
sangat beragam, mulai dari sekadar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi
dan juga ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan yang cukup dasar dalam
kehidupan sehari-hari, kurangnya kesempatan berusaha dan juga kurangnya lapangan
pekerjaan, hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan aspek sosial dan
moral. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan terkait dengan sikap,
budaya hidup, dan lingkungan dalam suatu masyarakat. Kemiskinan juga dapat
diartikan sebagai ketidakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang
diterapkan oleh suatu pemerintahan sehingga mereka berada pada posisi yang sangat
lemah dan tereksploitasi. Tetapi pada umumnya, ketika kemiskinan dibicarakan, yang
dimaks/ud adalah kemiskinan material. Dengan pengertian ini, maka seseorang
masuk dalam kategori miskin apabila tidak mampu memenuhi standar minimum
kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak. Ini yang sering disebut dengan
kemiskinan konsumsi. Status miskin dalam kehidupan juga relatif, ada standar
tertentu yang dapat mengelompokan seseorang masuk dalam kategori masyarakat
miskin.
Sebagai masalah yang menjadi isu global disetiap negara berkembang,
wacana kemiskinan dan pemberantasanya haruslah menjadi agenda wajib bagi para
1

Universitas Tridinanti Palembang

pemerintah pemimpin negara. Tentu saja akan banyak memicu pro dan kontra bagi
para ahli dalam membahas penyebab terjadinya kemiskinan bahkan masyarakat awam
pun banyak yang mempertanyakan mengapa pemerintah negara ini masih
membiarkan orang-orang hidup di bawah garis kemiskinan? yang seolah-olah
menggambarkan tidak ada perhatian khusus dari aparat pemerintah untuk
menanggulangi kemiskinan di negara ini yang dari dulu sampai sekarang masih
barakar kuat di negeri tercinta kita. Bahkan, salah satu tujuan negara Republik
Indonesia yang tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 yaitu Memajukan
Kesejahteraan Umum, mulai diragukan.
Dalam faktanya, tidak sepenuhnya kemiskinan ini dikarenakan kurang
perhatiannya pemerintah karena bagaimanapun masalahnya, kondisi letak geografis
Indonesia dan kepadatan penduduknya menjadi faktor utama yangikut menghambat
usaha pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Banyaknya sumber daya
manusia yang jumlahnya lebih banyak dari pada lapangan pekerjaan yang ada
tentunya menjadi masalah yang sulit untuk ditanggulangi pemerintah hanya dengan
menerapkan kebijakan. Belum lagi, banyaknya SDM yang tidak memiliki keahlian
khusus tentunya sangat tidak membantu pemerintah dalam mengatasi masalah ini.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan
masalahnya adalah:
1.

Bagaimana kondisi kemiskinan di Indonesia ?

2.
3.

Apa yang menjadi masalah dalam kemiskinan di Indonesia ?


Faktor apa yang menyebabkan kemiskinan di Indonesia ?

4.

Bagaimana cara menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia?

Universitas Tridinanti Palembang

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
1. Bagaimana gambaran keadaan kemiskinan di Indonesia?
2. Apa saja faktor penyebab kemiskinan? kita akan bisa dengan mudah
menentukan arah kebijakan.
3. Apa saja upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam memberantas
kemiskinan?
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin di capai dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui gambaran keadaan kemiskinan di Indonesia
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab kemiskinan, sehingga

kita

bisa

menghindari dan turut serta mengurangi angka kemiskinan di Indonesia


3. Mengetahui kebijakan apa saja upaya yang telah dilakukan pemerintah, agar
bisa turut serta mencermati keadaan disekitar kita apakah kebijakan
pemerintah tersebut sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat
disekitar kita.

Universitas Tridinanti Palembang

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teori


Definisi yang ada dalam teori kemiskinan tidaklah selalu lengkap mencakup
seluruh aspek. Definisi dibuat tergantung dari latar belakang dan tujuan, juga
tergantung dari sudut mana definisi tersebut ditinjaunya, untuk kepentingan apa
definisi tersebut dibuat. Biasanya definisi-definisi tersebut akan saling melengkapi
antara yang satu dengan yang lainnya.
Berikut ini definisi kemiskinan dilihat dari beberapa segi :
1. Dari segi standar kebutuhan hidup yang layak / kebutuhan pokok
Golongan ini mengatakan bahwa kemiskinan itu adalah tidak terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan pokok / dasar disebabkan karena adanya kekurangan
barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk memenuhi
standar hidup yang layak. Ini merupakan kemiskinan absolute / mutlak yakni
tidak terpenuhinya standar kebutuhan pokok / dasar.

Universitas Tridinanti Palembang

2.

Dari segi pendapatan / penghasilan income


Kemisikinan oleh golongan ini dilukiskan sebagai kurangnya pandapatan /

penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.


3. Dari segi kesempatan / opportunity
Kemiskinan
adalah
karena
ketidaksamaan
kesempatan

untuk

mengakumulasikan (meraih) basis kekuasaan sosial meliputi :


a. Ketrampilan yang memadai,
b. Informasi/ pengetahuan-pengetahuan yang berguna bagi kemajuan
hidup,
c. Jaringan-jaringan sosial/ social network,
d. Organisasi-organisasi sosial dan politik,
e. Sumber-sumber modal yang diperlukan
4.

bagi

peningkatan

pengembangan kehidupan.
Dari segi keadaan / kondisi
Kemiskinan sebagai suatu kondisi/keadaan yang bisa dicirikan dengan :
a. Kelaparan / kekurangan makan dan gizi.
b. Pakaian dan perumahan yang tidak memadai.
c. Tingkat pendidikan yang rendah.
d. Sangat sedikitnya kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan

yang pokok.
5. Dari segi penguasaan terhadap sumber-sumber
Menurut golongan ini kemiskinan merupakan keterlantaran yang disebabkan
oleh penyebaran yang tidak merata dan sumber-sumber (malldistribution of
resources), termasuk didalamnya pendapatan / income.
Definisi Kemiskinan dilihat dari beberapa Para Ahli :
1. Drewnowski (Epi Supiadi:2003), mencoba menggunakan indikator-indiktor
sosial untuk mengukur tingkat-tingkat kehidupan (the level of living index).
Menurutnya terdapat tiga tingkatan kebutuhan untuk menentukan tingkat
kehidupan seseorang :
a. Kehidupan fisik dasar (basic fisical needs), yang meliputi gizi/ nutrisi,
perlindungan/ perumahan (shelter/ housing) dan kesehatan.
b. Kebutuhan budaya dasar (basic cultural needs), yang meliputi pendidikan,
penggunaan waktu luang dan rekreasi dan jaminan sosial (social security).
c. High income, yang meliputi pendapatan yang surplus atau melebihi
takarannya.

Universitas Tridinanti Palembang

2. Oscar Lewis (1983), orang-orang miskin adalah kelompok yang mempunyai


budaya kemiskinan sendiri yang mencakup karakteristik psikologis sosial, dan
ekonomi. Kaum liberal memandang bahwa manusia sebagai makhluk yang
baik tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Budaya kemiskinan hanyalah
semacam realistic and situational adaptation pada linkungan yang penuh
diskriminasi dan peluang yang sempit. Kaum radikal mengabaikan budaya
kemiskinan, mereka menekankan peranan struktur ekonomi, politik dan sosial,
dan memandang bahwa manusia adalah makhluk yang kooperatif, produktif
dan kreatif.
3. Amartya Sen, Seseorang dikatakan miskin bila mengalami "capability
deprivation" dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan
yang substantive.
4. Soerjono Soekant, Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana
seseorang tidak sanggup memlihara dirinya

sendiri sesuai dengan taraf

kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental,


maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.
Definisi Kemiskinan dari segi sudut pandandang :
Dari berbagai sudut pandang tentang pengertian kemiskinan, pada dasarnya bentuk
kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu :
1. Kemiskinan Absolut
Kemiskinan Absolut adalah sejumlah penduduk yang tidak mampu
mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
2. Kemiskinan Relatif
Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup diatas garis
kemiskinan

namun

masih

berada

dibawah

kemampuan

masyarakat

disekitarnya.
3. Kemiskinan Kultural
Kemiskinan Kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok
masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya
sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.

Universitas Tridinanti Palembang

2.2 Kemiskinan di Indonesia


Di Indonesia kita bisa melihat langsung bentuk-bentuk nyata dari kemiskinan,
seperti masih banyaknya orang yang menderita kelaparan, banyaknya anak kecil
putus sekolah yang terpaksa harus banting tulang mengamen di jalanan demi
membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup, banyaknya kriminalitas yang
terjadi di jalanan karena alasan keterbatasan ekonomi, orang yang tinggal dibawah
kolong jembatan karena tidak mempunyai tempat tinggal, dan lain sebagainya.
Memang fakta ini tidak dapat disembunyikan, hal ini mencerminkan kualitas sumber
daya manusia(SDM) di Indonesia masih belum rata dan masih banyak SDM yang
tertinggal. Setiap tahunnya jumlah penghuni jalanan dan kolong jembatan terus
bertambah, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain:

penggusuran lahan sehingga banyak orang kehilangan tempat tinggal

PHK yang menyebabkan hilangnya pendapatan yang akhirnya berpengaruh


pada tingkat kemakmuran

masalah masalah perekonomian lainnya, seperti: inflasi

rendahnya kualitas SDM

Kualitas SDM memang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kemiskinan
seperti yang diungkapkan oleh Hartomo dan Aziz (2009) antara lain :
1. Pendidikan yang Terlampau Rendah. Tingkat pendidikan yang rendah
menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang
diperlukan dalam kehidupannya.

Universitas Tridinanti Palembang

2. Keterbatasan pendidikan atau keterampilan yang dimiliki seseorang


menyebabkan keterbatasan kemampuan seseorang untuk masuk dalam dunia
kerja.
3. Malas Bekerja. Adanya sikap malas (bersikap pasif atau bersandar pada nasib)
menyebabkan seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk
bekerja.
4. Keterbatasan Sumber Alam Suatu masyarakat akan dilanda kemiskinan
apabila sumber alamnya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan
mereka. Hal ini sering dikatakan masyarakat itu miskin karena sumberdaya
alamnya miskin.Terbatasnya Lapangan KerjaKeterbatasan lapangan kerja
akan membawa konsekuensi kemiskinan bagi masyarakat. Secara ideal
seseorang harus mampu menciptakan lapangan kerja baru sedangkan secara
faktual hal tersebut sangat kecil kemungkinanya bagi masyarakat miskin
karena keterbatasan modal dan keterampilan.
5. Keterbatasan Modal. Seseorang miskin sebab mereka tidak mempunyai modal
untuk melengkapi alat maupun bahan dalam rangka menerapkan keterampilan
yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk memperoleh penghasilan.
Beban Keluarga. Seseorang yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila tidak
diimbangi dengan usaha peningakatan pendapatan akan menimbulkan kemiskinan
karena semakin banyak anggota keluarga akan semakin meningkat tuntutan atau
beban untuk hidup yang harus dipenuhi.

2.3 Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia

Universitas Tridinanti Palembang

Dari data kuantitatif

yang didapat dari BPS diketahui angka kemiskinan

Indonesia dari rtahun 2009-2012 adalah sebagai berikut :

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi
Persentase Penduduk Miskin
waktu

Jumlah Penduduk Miskin (000)

(%)

Garis Kemiskinan (Rp)

P1 (%)

P2 (%)

(berdasarkan
jumlah dari

Des

Kot

Kota+

semua Propinsi)

Kota
10,507.8

Desa
18,086.9

Kota+Desa

Kota

Desa
14.7

Kota+Desa

Kota
277,38

Desa
240,44

Kota+Desa

Kota

Kota+Desa

Desa

Desa

Sep-12

0
10,647.2

0
18,485.2

28,594.60

8.60

0
15.1

11.66

2
267,40

1
229,22

259,52

1.38

2.42

1.90

0.36

0.61

0.49

Mar-12

0
18

29,132.40

8.78

2
15.7

11.96

8
253

6
213

248,707

1.40

2.36

1.88

0.36

0.59

0.47

2011

11 046.75

972.18
19

30 018.93

9.23

2
16.5

12.49

016
232

395
192

233 740

1.52

2.63

2.08

0.39

0.70

0.55

2010

11 097.80

925.60

31 023.40

9.87
12.5

6
20.3

13.33

988
187

354

211 726

1.57

2.80

2.21

0.40

0.75

0.58

Mar-09

13 559.3

23 609.0

37 168.3

16.58

942

Perbandingan tahun 2009-2010. Disana kita bisa melihat perkembangan yang


cukup baik, bahwa adanya penurunan perlahan jumlah angka kemiskinan dari
tahun ketahunseperti yang terjadi pada maret tahun 2009 persentase angka
penduduk miskin desa-kota di Indonesia pada berbagai provinsi yang
menunjukkan angka 16,58% sedangkan pada tahun 2010 angka persentase
penduduk miskin berada pada perentase angka 13,33% yang berarti angka
penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2010 berkurang 3,25% dari tahun
sebelumnya.

Perbandingan tahun 2010-2011. Pada tahun 2011 angka persentase penduduk


miskin desa-kota yang berada pada angka 12,49% juga menunjukkan
perkembangan penurunan angka kemiskinan di Indonesia sebesar 0.84%.

Perbandingan

tahun

2011-september

2012.

Pada

September

2012

menunjukkan perkembangan yang cukup baik juga, yakni penurunan jumlah


kemiskinan penduduk berbagai provinsi di Indonesia terjadi sebesar 0,83%.

Universitas Tridinanti Palembang

Permasalahan kemiskinan di Indonesia dibayang-bayangi pula dengan


keberadaan kelompok masyarakat Hampir Miskin yang berada pada tingkatan
sedikit di atas garis kemiskinan dan sangat rentan untuk sewaktu-waktu masuk
menjadi kelompok miskin apabila terjadi tekanan eksternal, seperti kenaikan harga
bahan pokok, kenaikan harga BBM dan listrik, pemutusan hubungan kerja (PHK),
konflik sosial maupun bencana alam. Mencermati tingkat dan jumlah kemiskinan
yang bervariasi di masing-masing Provinsi, maka efektivitas program pengentasan
kemiskinan tidak dapat lepas dari peranan aktif Pemerintah Daerah, baik di tingkat
Provinsi maupun

Kabupaten/Kota. Secara konseptual

Strategi Pengentasan

Kemiskinan Nasional (NationalPoverty Reduction Strategy) adalah penting namun


tidak mencukupi. Diperlukan partisipasi aktif dari Pemerintah Daerah dan
Masyarakat untuk mempertajam program dan target penerima sasaran melalui
Strategi Pengentasan Kemiskinan Daerah (SPKD) yang mencakup inisiatif dan
kearifan lokal.
Dalam kerangka kebijakan desentralisasi (otonomi daerah), Pemerintah Pusat
telah melimpahkan kewenangan yang luas dan nyata di berbagai bidang kepada
Pemerintah Daerah, kecuali 6 kewenangan utama (urusan luar negeri, pertahanan,
keamanan, yustisi, fiskal dan moneter, agama). Sebagai unit Pemerintahan yang lebih
dekat dengan masyarakat, maka Pemerintah Daerah lebih dapat memahami dan
memiliki kemampuan untuk melaksanakan program kerja sesuai dengan karakteristik
dan kebutuhan masyarakat di daerahnya, sehingga pelayanan publik dapat diberikan
dalam jumlah yang lebih besar (production eficiency), sumber daya dialokasikan
lebih efektif dan akuntabel(allocation eficiency and accountabel) serta partisipasi dan
aspirasi masyarakat lebih diakomodasi (empowernment and participation), termasuk
kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Keperdulian yang tinggi dari para Kepala Daerah terhadap berbagai
permasalahan masyarakat di daerah terlihat dari janji-janji selama kampanye Pilkada,
yang pada umumnya banyak menjanjikan program pendidikan dan kesehatan yang
murah

dan

berkualitas,

reformasi

birokrasi,
10

peningkatan

iklim

investasi,

Universitas Tridinanti Palembang

pengembangan ekonomi daerah (termasuk UKM, pedagang, pengrajin, petani,


nelayan), penciptaan lapangan kerja, pengelolaan sumber daya alam untuk rakyat,
hingga

peningkatan

kesejahteraan

dan

pengentasan

kemiskinan.

Namun

permasalahan krusial berikutnya adalah memastikan realisasi dan transformasi dari


janji-janji politik tersebut ke dalam kebijakan pembangunan dan anggaran belanja
daerah.
Di samping penajaman program pengentasan kemiskinan dan target sasaran
serta penguatan partisipasi masyarakat, Pemerintah Daerah juga memiliki peranan
penting untuk memastikan situasi yang kondusif di wilayahnya. Sebagai garda
terdepan Pemerintah RI dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat,
maka Pemerintah Daerah perlu pula memastikan ketersediaan serta keterjangkauan
kebutuhan dasar di daerahnya agar masyarakat tidak terbebani dengan biaya ekonomi
yang tidak wajar, termasuk ancaman kelangkaan dan kenaikan harga (inflasi) bahan
pokok. Pemahaman yang mendalam dari Pemerintah Daerah terhadap wilayahnya
akan memperkuat stabilitas maupun ketahanan ekonomi sehingga kelompok
masyarakat yang rentan akan terhindar dari ancaman gejolak eksternal yang akan
menyebabkan mempengaruhi daya beli dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Keterlibatan Pemerintah Daerah dalam pengendalian inflasi daerah bukanlah sesuatu
yang baru. Pemerintah Pusat dan Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota telah membentuk Tim Pengendalian Inflasi
Daerah (TPID) yang bertugas menjaga stabilitas harga dan pengelolaan inflasi di
daerah. Melalui peningkatankoordinasi dari seluruh pemangku kepentingan di daerah
tersebut maka ketersediaan (availability) serta keterjangkauan (accessibility) bahan
kebutuhan pokok di daerah akan lebih terjamin dan ancaman peningkatan angka
kemiskinan dapat dihindari. Partisipasi aktif Pemerintah Daerah tersebut pada
akhirnya bukan hanya akan menjamin keberhasilan pembangunan di daerahnya,
namun secara sentrifugal akan mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menciptakan keadilan sosial-ekonomi.

11

Universitas Tridinanti Palembang

2.4 Kondisi Kemiskinan di Indonesia


Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2010
Secara harfiah, kemiskinan berasal dari kata dasar miskin yang artinya tidak
berharta-benda (Poerwadarminta, 1976). Dalam pengertian yang lebih luas,
kemiskinan dapat dikonotasikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara
individu, keluarga, maupun kelompok sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya
permasalahan sosial yang lain.
Kemiskinan dipandang sebagai kondisi seseorang atau sekelompok orang,
laki-laki dan perempuan yang tidak terpenuhi hak-hak dasarnya secara layak untuk
menempuh dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Dengan demikian,
kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidak mampuan ekonomi, tetapi juga
kegagalan pemenuhan hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau
sekelompok orang, dalam menjalani kehidupan secara bermartabat.
Hidup miskin bukan hanya berarti hidup di dalam kondisi kekurangan
sandang, pangan, dan papan. Akan tetapi, kemiskinan juga berarti akses yang rendah
dalam sumber daya dan aset produktif untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan
hidup, antara lain: ilmu pengetahuan, informasi, teknologi, dan modal.
Dari berbagai sudut pandang tentang pengertian kemiskinan, pada dasarnya
bentuk kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu:
1.

Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam


golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis
kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu:
pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
12

Universitas Tridinanti Palembang

2.

Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya


telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan
masyarakat sekitarnya.

3.

Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap


seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki
tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Keluarga miskin adalah pelaku yang berperan sepenuhnya untuk menetapkan

tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi


kehidupannya. Ada tiga potensi yang perlu diamati dari keluarga miskin yaitu:
1. Kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, contohnya dapat dilihat dari
aspek pengeluaran keluarga, kemampuan menjangkau tingkat pendidikan
dasar formal yang ditamatkan, dan kemampuan menjangkau perlindungan
dasar.
2. Kemampuan dalam melakukan peran sosial akan dilihat dari kegiatan utama
dalam mencari nafkah, peran dalam bidang pendidikan, peran dalam bidang
perlindungan, dan peran dalam bidang kemasyarakatan.
3. Kemampuan dalam menghadapi permasalahan dapat dilihat dari upaya yang
dilakukan sebuah keluarga untuk menghindar dan mempertahankan diri dari
tekanan ekonomi dan non ekonomi.
Kemiskinan merupakan masalah yang ditandai oleh berbagai hal antara lain
rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan,
terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu
layanan pendidikan. Selama ini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi

13

Universitas Tridinanti Palembang

kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan


pendidikan, perluasan kesempatan kerja dan sebagainya.
Berbagai upaya tersebut telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin
dari 54,2 juta (40.1%) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996.
Namun, dengan terjadinya krisis ekonomi sejak Juli 1997 dan berbagai bencana alam
seperti gempa bumi dan tsunami pada Desember 2004 membawa dampak negatif bagi
kehidupan masyarakat, yaitu melemahnya kegiatan ekonomi, memburuknya
pelayanan kesehatan dan pendidikan, memburuknya kondisi sarana umum sehingga
mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin menjadi 47,9 juta (23.4%)
pada tahun 1999. Kemudian pada 5 tahun terakhir terlihat penurunan tingkat
kemiskinan secara terus menerus dan perlahan-lahan sampai mencapai 36,1 juta
(16.7%) di tahun 2004 seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini (catatan: terjadi
revisi metode di tahun 1996).

Revisi

Menurut data Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS-RI) per Maret 2010,
jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 31,02 juta.

Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan
di bawah GarisKemiskinan) di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02

14

Universitas Tridinanti Palembang

juta (13,33 persen), turun 1,51 juta dibandingkan dengan penduduk miskin

pada Maret 2009 yang sebesar 32,53 juta (14,15 persen).


Selama periode Maret 2009-Maret 2010, penduduk miskin di daerah
perkotaan berkurang 0,81 juta (dari 11,91 juta pada Maret 2009 menjadi 11,10
juta pada Maret 2010), sementara di daerah perdesaan berkurang 0,69 juta

orang (dari 20,62 juta pada Maret 2009 menjadi 19,93 juta pada Maret 2010).
Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak
banyak berubah selama periode ini. Pada Maret 2009, 63,38 persen penduduk
miskin berada di daerah perdesaan, sedangkan pada Maret 2010 sebesar 64,23

persen.
Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar
dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang,
pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2010, sumbangan Garis Kemiskinan
Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 73,5 persen, sedangkan pada

Maret 2009 sebesar 73,6 persen.


Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan
adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, mie instan, tempe,
bawang merah, kopi, dan tahu. Untuk komoditi bukan makanan adalah biaya

perumahan, listrik, angkutan, dan pendidikan.


Pada periode Maret 2009-Maret 2010, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)
dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan
menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin
cenderung

semakin

mendekati

Garis

Kemiskinan

dan

pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.

Perkembangan Tingkat Kemiskinan Maret 2009-Maret 2010

15

ketimpangan

Universitas Tridinanti Palembang

Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 sebesar 31,02 juta
orang (13,33 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang
berjumlah 32,53 juta (14,15 persen), berarti jumlah penduduk miskin berkurang 1,51
juta jiwa.
Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun lebih besar daripada
daerah perdesaan. Selama periode Maret 2009-Maret 2010, penduduk miskin di
daerah perkotaan berkurang 0,81 juta orang, sementara di daerah perdesaan
berkurang 0,69 juta orang (Tabel 2).
Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak
banyak berubah dari Maret 2009 ke Maret 2010. Pada Maret 2009, sebagian besar
(63,38 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan begitu juga pada Maret
2010, yaitu sebesar 64,23 persen.
Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode Maret
2009-Maret 2010 nampaknya berkaitan dengan faktor-faktor berikut:
a. Selama periode Maret 2009-Maret 2010 inflasi umum relatif rendah, yaitu
sebesar 3,43 persen. Menurut kelompok pengeluaran kenaikan harga selama
periode tersebut terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 4,11 persen;
kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 8,04 persen;
kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 3,85 persen; kelompok
kesehatan sebesar 3,18 persen; kelompok sandang sebesar 0,78 persen;
kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 2,08 persen,
serta kelompok transpor dan komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,38
persen.
b. Rata-rata upah harian buruh tani dan buruh bangunan masing-masing naik
sebesar 3,27 persen dan 3,86 persen selama periode Maret 2009-Maret 2010.
c. Produksi padi tahun 2010 (hasil Angka Ramalan/ARAM II) mencapai 65,15
juta ton GKG, naik sekitar 1,17 persen dari produksi padi tahun 2009 yang
sebesar 64,40 juta ton GKG.

16

Universitas Tridinanti Palembang

d. Sebagian besar penduduk miskin (64,65 persen pada tahun 2009) bekerja di
Sektor Pertanian. NTP (Nilai Tukar Petani) naik 2,45 persen dari 98,78 pada
Maret 2009 menjadi 101,20 pada Maret 2010.
e. Perekonomian Indonesia Triwulan I 2010 tumbuh sebesar 5,7 persen terhadap
Triwulan I 2009, sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat
sebesar 3,9 persen pada periode yang sama.

Dilihat dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2010, perkembangan tingkat
kemiskinan ditunjukkan oleh tabel berikut:

17

Universitas Tridinanti Palembang

Perubahan Garis Kemiskinan Maret 2009-Maret 2010


Garis Kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk menentukan
miskin atau tidaknya seseorang. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki
rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
Selama Maret 2009-Maret 2010, Garis Kemiskinan naik sebesar 5,72 persen,
yaitu dari Rp200.262,- per kapita per bulan pada Maret 2009 menjadi Rp211.726,per kapita per bulan pada Maret 2010. Dengan memerhatikan komponen Garis
Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis
Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan
jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan,
sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2009 sumbangan GKM terhadap
GK sebesar 73,6 persen, dan sekitar 73,5 persen pada Maret 2010. Pada Maret 2010,
komoditi makanan yang memberi sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah
beras yaitu sebesar 25,20 persen di perkotaan dan 34,11 persen di perdesaan. Rokok
kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua kepada Garis Kemiskinan (7,93
persen di perkotaan dan 5,90 persen di perdesaan). Komoditi lainnya adalah gula

18

Universitas Tridinanti Palembang

pasir (3,36 persen di perkotaan dan 4,34 persen di perdesaan), telur ayam ras (3,42
persen di perkotaan dan 2,61 di perdesaan), mie instan (2,97 persen di perkotaan dan
2,51 persen di perdesaan), tempe (2,24 persen di perkotaan dan 1,91 persen di
perdesaan), bawang merah (1,36 persen di perkotaan dan 1,66 persen di perdesaan),
kopi (1,23 persen di perkotaan dan 1,56 persen di perdesaan), dan tahu (2,01 persen
di perkotaan dan 1,55 persen di perdesaan).
Komoditi bukan makanan yang memberi sumbangan besar untuk Garis
Kemiskinan adalah biaya perumahan (8,43 persen di perkotaan dan 6,11 persen di
perdesaan), biaya listrik (3,30 persen di perkotaan dan 1,87 persen di perdesaan), dan
angkutan (2,48 persen di perkotaan dan 1,19 persen di perdesaan), dan biaya
pendidikan (2,40 persen di perkotaan dan 1,16 persen di perdesaan).
Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan
Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase
penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan
keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk
miskin, kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bias mengurangi tingkat
kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.
Pada periode Maret 2009-Maret 2010, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)
dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan
turun dari 2,50 pada Maret 2009 menjadi 2,21 pada Maret 2010. Demikian pula
Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,68 menjadi 0,58 pada periode yang sama
(Tabel 3). Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata
pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati Garis Kemiskinan dan
ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.

19

Universitas Tridinanti Palembang

Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan


(P2) di daerah perdesaan masih tetap lebih tinggi daripada perkotaan, sama seperti
tahun 2009. Pada Maret 2010, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk
perkotaan hanya 1,57 sementara di daerah perdesaan mencapai 2,80. Nilai Indeks
Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0,40 sementara di daerah
perdesaan mencapai 0,75. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah
perdesaan lebi buruk dari daerah perkotaan.
2.5 Faktor Penyebab Kemiskinan
Pada kondisi tertentu, kemiskinan dapat disebabkan dari berbagai segi,
diantaranya :

Kemiskinan alamiah. Kemiskinan alamiah terjadi akibat sumber daya alam


yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah, dan bencana alam.

Kemiskinan buatan. Kemiskinan ini terjadi karena lembaga-lembaga yang ada


di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu

20

Universitas Tridinanti Palembang

menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia hingga
mereka tetap miskin.

Sulitnya pemenuhan hak-hak dasar kehidupan manusia antara lain makanan,

kesehatan, pendidikan, perumahan dan pendapatan perkapita masyarakat.


Kesenjangan pembangunan antara kota-kota besar dipulau jawa dan kota-kota
didaerah diluar pulau jawa, dan juga antara kota dengan pedesaan dan daerah
terpencil lainnya yang tentunya belum terjamah pembangunan, dan juga

potensi sumber daya alam yang berbeda.


Guncangan perekonomian sebagai akibat dari lemahnya dasar perekonomian

Indonesia, yang mengakibatkan banyaknya pengangguran.


Kemiskinan yang dialami oleh kaum perempuan, dimana kurangnya perhatian
pemerintah dalam mengikusertakan atau memberdayakan perempuan dalam

pembangunan
Kultur dan Budaya daerah yang turut mempengaruhi.

2.6 Penanggulangan Masalah Kemiskinan di Indonesia


Penanganan berbagai masalah di atas memerlukan strategi penanggulangan
kemiskinan yang jelas. Pemerintah Indonesia dan berbagai pihak terkait lainnya patut
mendapat acungan jempol atas berbagai usaha yang telah dijalankan dalam
membentuk strategi penanggulangan kemiskinan. Hal pertama yang dapat dilakukan
oleh pemerintahan baru adalah menyelesaikan dan mengadaptasikan rancangan
strategi penanggulangan kemiskinan yang telah berjalan. Kemudian hal ini dapat
dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan. Berikut ini dijabarkan sepuluh langkah yang
dapat diambil dalam mengimplementasikan strategi pengentasan kemiskinan tersebut.

Peningkatan fasilitas jalan dan listrik di pedesaan.


Berbagai pengalaman di China, Vietnam dan juga di Indonesia sendiri
menunjukkan bahwa pembangunan jalan di area pedesaan merupakan cara
yang efektif dalam mengurangi kemiskinan. Jalan nasional dan jalan
provinsi di Indonesia relatif dalam keadaan yang baik. Tetapi, setengah

21

Universitas Tridinanti Palembang

dari jalan kabupaten berada dalam kondisi yang buruk. Sementara itu lima
persen dari populasi, yang berarti sekitar 11 juta orang, tidak mendapatkan
akses jalan untuk setahun penuh. Hal yang sama dapat terlihat pada
penyediaan listrik. Saat ini masih ada sekitar 6000 desa, dengan populasi
sekitar 90 juta orang belum menikmati tenaga listrik.
Walaupun

berbagai

masalah

di

atas

terlihat

rumit

dalam

pelaksanaannya, solusinya dapat terlihat dengan jelas.


o Menjalankan

program

skala

besar

untuk

membangun

jalan

pedesaandan di tingkat kabupaten.


Program pembangunan jalan tersebut juga dapat meningkatkan
penghasilan bagi masyarakat miskin dan mengurangi pengeluaran
mereka,

disamping

memberikan

stimulasi

pertumbuhan

pada

umumnya.
o Membiayai program di atas melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).
Dana pembangunan harus ditargetkan pada daerah-daerah yang
mempunyai kondisi buruk, terutama dalam masalah kemiskinan. Peta
lokasi kemiskinan, bersama dengan peta kondisi jalan, dapat
digunakan untuk mengidentifikasi daerah-daerah tersebut. Masyarakat
miskin setempat juga harus dilibatkan agar hasilnya dapat sesuai
dengan kebutuhan mereka, serta menjamin tersedianya pemeliharaan
secara lebih baik.
o Menjalankan program pekerjaan umum yang bersifat padat karya.
Program seperti ini dapat menjadi cara yang efektif untuk
menyediakan fasilitas jalan di pedesaan disamping sebagai bentuk
perlindungan sosial. Untuk daerah yang terisolir, program ini bahkan
dapat mengurangi biaya pembangunan.
o Menjalankan strategi pembangunan fasilitas listrik pada desa-desa
yang belum menikmati tenaga listrik.

22

Universitas Tridinanti Palembang

Kompetisi pada sektor kelistrikan harus ditingkatkan dengan


memperbolehkan perusahaan penyedia jasa kelistrikan untuk menjual
tenaga listrik yang mereka hasilkan kepada PLN. Akses pada jaringan
yang dimiliki PLN juga patut dibuka dalam rangka meningkatkan
kompetisi tersebut. Penyusunan rencana pelaksanaan dengan lebih
terinci atas dua skema subsidi yang ada sangatlah diperlukan, untuk
menjamin subsidi tersebut tidak menghambat penyediaan listrik secara
lebih luas.

Peningkatan tingkat kesehatan melalui fasilitas sanitasi yang lebih baik


Indonesia sedang mengalami krisis penyediaan fasilitas sanitasi. Hanya
kurang dari satu persen limbah rumah tangga di Indonesia yang menjadi
bagian dari sistem pembuangan. Penyediaan fasilitas limbah lokal tidak
dibarengi dengan penyediaan fasilitas pengumpulan, pengolahan dan
pembuangan akhir. Pada tahun 2002, pemerintah hanya menyediakan
anggaran untuk perbaikan sanitasi sebesar 1/1000 dari anggaran yang
disediakan untuk penyediaan air. Akibatnya, penduduk miskin cenderung
menggunakan air dari sungai yang telah tercemar. Tempat tinggal mereka
juga sering berada di dekat tempat pembuangan limbah. Hal ini membuat
penduduk miskin cenderung menjadi lebih mudah sakit dan tidak
produktif. Pada tahun 2001, kerugian ekonomi yang timbul akibat masalah
sanitasi diperkirakan mencapai Rp 100.000,- per rumah tangga setiap
bulannya. Untuk mengatasi hal tersebut ada dua hal yang dapat dilakukan:
o Pada sisi permintaan, pemerintah dapat menjalankan kampanye publik
secara nasional untuk meningkatkan kesadaran dalam penggunaan
fasilitas sanitasi yang lebih baik. Biaya yang diperlukan untuk
kampanye tersebut tidaklah terlalu tinggi, sementara menjanjikan hasil
yang cukup baik.
o Pada sisi penawaran, tentu saja penyediaan sanitasi harus diperbaiki.
Aspek terpenting adalah membiayai investasi di bidang sanitasi yang

23

Universitas Tridinanti Palembang

akan terus meningkat. Dua pilihan yang dapat dilakukan adalah: (i)
mengadakan

kesepakatan

nasional

untuk

membahas

masalah

pembiayaan fasilitas sanitasi dan (ii) mendorong pemerintah local


untuk membangun fasilitas sanitasi pada tingkat daerah dan kota;
misalnya dengan menyediakan DAK untuk pembiayaan sanitasi

ataupun dengan menyusun standar pelayanan minimum.


Penghapusan larangan impor beras
Larangan impor beras yang diterapkan bukanlah merupakan kebijakan
yang tepat dalam membantu petani, tetapi kebijakan yang merugikan
orang miskin. Studi yang baru saja dilakukan menunjukkan bahwa lebih
dari 1,5 juta orang masuk dalam kategori miskin akibat dari kebijakan
tersebut. Bahkan bantuan beras yang berasal dari Program Pangan Dunia
(World Food Program) tidak diperbolehkan masuk ke Indonesia karena
tidak

memiliki

izin

impor.

Kebijakan

ini

dimaksudkan

untuk

meningkatkan harga beras. Tetapi ini hanya menguntungkan pihak yang


memproduksi beras lebih dari yang dikonsumsi, sementara 90 persen
penduduk perkotaan dan 70 persen penduduk pedesaan mengkonsumsi
lebih banyak beras dari yang mereka produksi. Secara keseluruhan, 80
persen dari penduduk Indonesia menderita akibat proteksi tersebut,
sementara hanya 20 persen yang menikmati manfaatnya. Bahkan manfaat
tersebut tidaklah sedemikian jelas. Harga beras di tingkat petani tidak
mengalami kenaikan yang berarti sementara harga di tingkat pengecer
naik cukup tinggi. Dapat dikatakan bahwa hanya para pedagang yang
menikmati manfaat kenaikan harga tersebut. Sementara itu, dukungan dan
bantuan bagi petani dapat dilakukan dengan berbagai cara lain, seperti
penyediaan infrastruktur pertanian dan pedesaan serta penyediaan riset
dalam bidang pertanian. Pengenaan bea masuk juga dapat menjadi
altenatif yang lebih baik daripada larangan impor.

24

Universitas Tridinanti Palembang

Pembatasan pajak dan retribusi daerah yang merugikan usaha lokal dan
orang miskin
Salah satu sumber penghasilan terpenting bagi penduduk miskin di daerah
pedesaan adalah wiraswasta dan usaha pendukung pertanian. Setengah
dari penghasilan masyarakat petani miskin berasal dari usaha pendukung
pertanian. Untuk meningkatkan penghasilan tersebut, terutama yang
berasal dari usaha kecil dan menengah, perlu dibangun iklim usaha yang
lebih kondusif. Sayangnya, sejak proses desentralisasi dijalankan,
pemerintah daerah berlomba-lomba meningkatkan pendapatan mereka
dengan cara mengenakan pajak dan pungutan daerah yang lebih tinggi.
Usahawan pada saat ini harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit
untuk mengurus berbagai izin yang sebelumnya dapat mereka peroleh
secara cuma-cuma. Belum lagi beban dari berbagai pungutan liar yang
harus dibayarkan untuk menjamin pengangkutan barang berjalan secara
lancar dan aman. Berbagai biaya ini menghambat pertumbuhan usaha di
tingkat lokal dan menurunkan harga jual yang diperoleh penduduk miskin

atas barang yang mereka produksi.


Pemberian hak penggunaan tanah bagi penduduk miskin
Adanya kepastian dalam kepemilikan tanah merupakan faktor penting
untuk meningkatkan investasi dan produktifitas pertanian. Pemberian hak
atas tanah juga membuka akses penduduk miskin pada kredit dan
pinjaman. Dengan memiliki sertifikat kepemilikan mereka dapat
meminjam uang, menginvestasikannya dan mendapatkan hasil yang lebih
tinggi dari aktifitas mereka1. Sayangnya, hanya 25 persen pemilik tanah di
pedesaan yang memiliki bukti legal kepemilikan tanah mereka. Ini sangat
jauh dari kondisi di Cina dan Vietnam, dimana sertifikat hak guna tanah
dimiliki oleh hamper seluruh penduduk. Program pemutihan sertifikat
tanah di Indonesia berjalan sangat lambat. Dengan program pemutihan
yang sekarang ini dijalankan, dimana satu juta sertifikat dikeluarkan sejak

25

Universitas Tridinanti Palembang

1997, dibutuhkan waktu seratus tahun lagi untuk menyelesaikan proses


tersebut. Disamping itu, kepemilikan atas 64 persen tanah di Indonesia
tidaklah dimungkinkan, karena termasuk dalam klasifikasi area hutan.
Walaupun pada kenyataannya, di area tersebut terdapat lahan pertanian,

pemukiman, bahkan daerah perkotaan.


Perbaikan atas kualitas pendidikan dan penyediaan pendidikan transisi
untuk sekolah menengah
Indonesia telah mencapai hasil yang memuaskan dalam meningkatkan
partisipasi di tingkat pendidikan dasar. Hanya saja, banyak anak-anak dari
keluarga miskin yang tidak dapat melanjutkan pendidikan dan terpaksa
keluar dari sekolah dasar sebelum dapat menamatkannya (lihat gambar
dibawah). Hal ini terkait erat dengan masalah utama pendidikan di

Indonesia, yaitu buruknya kualitas pendidikan.


Membangun lembaga lembaga pembiayaan mikro yang memberi
manfaat pada penduduk miskin
Sekitar 50 persen rumah tangga tidak memiliki akses yang baik terhadap
lembaga pembiayaan, sementara hanya 40 persen yang memiliki rekening
tabungan. Kondisi ini terlihat lebih parah di daerah pedesaan. Solusinya
bukanlah dengan memberikan pinjaman bersubsidi. Program pemberian
pinjaman bersubsidi tidak dapat dipungkiri telah memberi manfaat kepada
penerimannya. Tetapi program ini juga melumpuhkan perkembangan
lembaga pembiayaan mikro (LPM) yang beroperasi secara komersial.
Padahal, lembaga-lembaga semacam inilah yang dapat diandalkan untuk
melayani masyarakat miskin secara lebih luas. Solusi yang lebih tepat
adalah memanfaaatkan dan mendorong pemberian kredit dari bank-bank

komersial kepada lembaga-lembaga pembiayaan mikro tersebut.


Mengurangi tingkat kematian Ibu pada saat melahirkan
Hampir 310 wanita di Indonesia meninggal dunia pada setiap 10.000
kelahiran hidup. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.
Tingkat kematian menjadi tinggi terkait dengan dua sebab. Pertama karena

26

Universitas Tridinanti Palembang

ibu yang melahirkan sering terlambat dalam mencari bantuan medis.


Sering terjadi juga bantuan medis yang dibutuhkan tersebut tidak tersedia.
Kedua karena kebanyakan ibu yang melahirkan lebih memilih untuk

meminta bantuan bidan tradisional daripada fasilitas medis yang tersedia.


Menyedian lebih banyak dana untuk daerah-daerah miskin
Kesenjangan fiskal antar daerah di Indonesia sangatlah terasa. Pemerintah
daerah terkaya di Indonesia mempunyai pendapatan per penduduk 46 kali
lebih tinggi dari pemerintah di daerah termiskin. Akibatnya pemerintah
daerah yang miskin sering tidak dapat menyediakan pelayanan yang
mencukupi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pemberian dana

yang terarah dengan baik dapat membantu masalah ini.


Merancang perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran
Program perlindungan yang tersedia saat ini, seperti beras untuk orang
miskin serta subsidi bahan bakar dan listrik, dapat dikatakan belum
mencapai sasaran dengan baik. Pada tahun 2004, pemerintah Indonesia
mengeluarkan Rp 74 trilliun untuk perlindungan sosial. Angka ini lebih
besar dari pengeluaran di bidang kesehatan dan pendidikan. Sayangnya,
hanya 10 persen yang dapat dinikmati oleh penduduk miskin, sementara
sekitar Rp60 trilliun lebih banyak dinikmati oleh masyarakat mampu.
Secara rata-rata, rumah tangga miskin hanya memperoleh subsidi sebesar
Rp12.000 untuk beras dan Rp 9.000 untuk minyak tanah setiap bulannya.

27

Universitas Tridinanti Palembang

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Permasalahan kemiskinan merupakan permasalahan yang kompleks dan
bersifat multidimensional. Oleh karena itu, upaya pengentasan kemiskinan harus
dilakukan secara komprehensif, mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan
dilaksanakan secara terpadu. Kemiskinan harus menjadi sebuah tujuan utama dari
penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi oleh negara Indonesia, karna aspek
dasar yang dapat dijadikan acuan keberhassilan pembangunan ekonomi adalah
teratasinya masalah kemiskinan. Pemerintah indonesia harus terus memberdayakan
dan membina masyarakat miskin untuk dapat mengelola sumber-sumber Ekonomi
yang dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat. Ada beberapa
faktor yang dapat menyebabkan timbulnya masalah kemiskinan, diantaranya, SDM
yang rendah, SDA yang tidak dikelolah dengan baik dan benar, pendidikan yang
rendah,

tidak

memiliki

pengetahuan

untuk

mengembangkan

sektor-sektor

perekonomian baik itu dibidang pertanian maupun dibidang perindustrian, dan lain
lain.
Faktor penyebab kemiskinan ada dua, yaitu faktor alami dan faktor buatan. Selain
kedua faktor tersebut ada faktor lain yang menimbulkan kemiskinan, yaitu:
1. Kurang tersedianya sarana yang dapat dipakai keluarga miskin secara layak.
2. Kurangnya dukungan pemerintah sehingga keluarga miskin tidak
mendapatkan haknya atas pendidikan dan kesehatan yang layak.
3. Rendahnya minat masyarakat miskin untuk berjuang mencapai haknya .

28

Universitas Tridinanti Palembang

4. Kurangnya dukungan pemerintah dalam memberikan keahlian.


5. Wilayah Indonesia yang sangat luas sehingga sulit bagi pemerintah untuk
menjangkau seluruh wilayah dengan perhatian yang sama.

3.2 Saran
1. Pemerintah sebaiknya menjalankan program terpadu secara serius dan
bertanggung jawab agar dapat segera mengatasi masalah kemiskinan di
Indonesia
2. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari kita dukung semua program
pemerintah dengan sungguh-sungguh demi masa depan bangsa dan negara
Indonesia terbebas dari kemiskinan.
3.

Marilah kita tingkatkan kepedulian dan kepekaan sosial untuk membantu


saudara kita yang masih mengalami kemiskinan.

29

Universitas Tridinanti Palembang

30