Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat keadaan perekonomian sudah semakin sulit. Banyak sekali
persaingan usaha di berbagai bidang perekonomian didalam kehidupan masyarakat,
termasuk didalamnya adalah persaingan dalam dunia wirausaha. Banyak wirausaha
yang saling berlomba untuk mendapatkan pangsa pasar, sehingga hal ini memicu para
wirausaha untuk berusaha terus maju dalam memperbaiki usahanya. Supaya usahanya
dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam mengikuti perkembangan zaman,
maka wirausaha tersebut harus dapat mengantisipasi perkembangan ekonomi yang
semakin kompetitif dengan melakukan strategi yang tepat agar tidak tersisih dalam
persaingan. Selain itu wirausaha juga harus dapat mengantisipasi kecenderungan
ekonomi di masa mendatang dan harus dapat bersaing dengan wirausaha lain yang
bergerak di bidang yang sama. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan
hidup dan kemajuan usahanya.
Pada kenyataannya seperti yang kita lihat sekarang banyaknya masyarakat
yang memilih berwirausaha dibidang makanan. Makanan merupakan kebutuhan
pangan yang harus kita penuhi guna menunjang kehidupan. Makanan merupakan
salah satu kebutuhan pangan yang tidak bisa lepas dari kebutuhan biologis kita sebagai
manusia. Dalam lingkupnya makanan dapat terbagi pada beberapa jenis makanan, ada
makanan pokok kita sehari-hari seperti nasi dan ada juga makanan ringan pelengkap
makanan pokok yang kita makan dan yang tidak kalah populernya dari dulu sampai
sekarang adalah makanan Tradisional.
Oleh karena itu pada pertemuan kali ini penulis tertarik membahas mengenai
hasil survey yang penulis dan tim lakukan atas pelaku usaha yang mengelola ataupun
yang menjual makanan tradisional.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan laporan ini yaitu untuk mengetahui bagaiman perekembangan
usaha makanan tradisional di Minagkabau dan bentuk pelatihan apa yang mereka
butuhkan.

BAB II
PEMBAHASAN
Tahap survei yang penulis dan tim adalah lakukan dengan cara wawancara
langsung pada pelaku usaha makanan tradisional. Pelaku usaha makanan tradisional
yang kami wawancarai adalah pelaku usaha makanan tradisional asal Sumatera Barat.
Kami melakukan wawancara pada pelaku usaha makanan tradisional pada daerah
antara lain:
2.1 Pariaman Dan Sekitarnya
2.1.1 Gambaran Umum Produk (Nasi SEK)
Pariaman merupakan kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kota Padang.
Pariaman merupakan kota wisata yang dikenal sebagai kota yang memiliki pantai yang
bersih dan cantik. Salah satu makanan tradisional yang paling dikenal dari kota ini
adalah nasi sek yang mana banyak jumpai ditepi Pantai Gandoriah ataupun Pantai
Cermin Kota Pariaman.
Nasi sek adalah kependekan dari nasi seratus kenyang. Tentu saja harganya
saat ini tidak lagi seratus rupiah seperti pada akhir tahun 1980-an saat pertama kali
muncul. Harga satu porsi yang terdiri dari lima bungkus nasi dan sepiring sala, lauk
pauk serta urap dan sambal lado kini bisa mencapai sepuluh ribu rupiah.
Makanan tradisional yang satu ini bukan hanya terkenal pada wisata lokal saja
tetapi sudah manca negara. Banyak pengunjung yang datang ke Kota Pariaman untuk
bisa menikmati makanan tradisional yang satu ini.
Pada saat melakukan wawancara untuk makanan tradisional salah satu yang
kami wawancarai adalah pada PONDOK NASI SEK RENI. Usaha ini beralamat di
tepi Pantai Cermin Kota Pariaman. Pemilik usaha ini bernama Sari Handayani yang
memiliki pendidikan terakhir adalah S1 (Sarjana), jenis usaha ini mengelola sekaligus
memperdagangkan yang mana usaha ini merupakan milik perseorangan. Usaha ini
dimulai sejak tahun 1986, pemilik mengatakan bahwa sejak memulai usaha beliau
memulainya dengan usaha ini.
Hasil wawancara yang kami simpulkan bahwa pelaku usaha memilih usaha ini
karena dulu usaha ini masih sedikit dan memberikan untung yang lumayan. Pelaku

usaha ini juga memiliki beberapa pengetahuan yang cukup dalam bidang usaha ini,
dapat mengelola waktu dengan baik dan memiliki struktur organisasi dalam
menjalankan usaha dan kadang- kadag pemilik membantu pekerjanya dalam
menjalankan tugasnya serta melakukan pengawasan terhadap pekerjaan karyawanya.
Pemilik usaha ini belum pernah mendapatkan bentuk pelatihan apapun baik
dari pemerintah ataupun organisasi lain, dalam melakukan usahanya ini pelaku usaha
menyusun pembukuan yang berbentuk catatan umum yang berisiskan pengeluaran
masuk dan pengeluaran keluar. Dukungan permodalan yang berasal dari luar
perusahaan adalah dari keluarga dan Bank. Bantuk promosi yang dilakukan
perusahaan adalah dengan berdiri di pintu dan meneriakan agar orang yang melewati
jalan masuk dan makan disana. Jumlah karyawan yang ada berjumlah 4 orang 2 lakilaki dan 2 perempuan. Sumber tenaga kerja ini berasal dari keluarga dan masyarakat
sekitar lingkungan tempat usaha. Daerah pemasaran usaha ini adalah Nagari sekitar
Pantai Cermin Kota Pariaman. Laba bersih rata-rata yang Bisa didapatkan dalam 1
bulan sekitar Rp. 1.500.000,-. Kendala yang dihadapi oleh pelaku usaha adalah
banyaknya persaingan dalam usaha ini.
2.1.2 Gambaran Umum Produk (Kue Talam)
Setelah mengupas makanan tradisional sekarang kita beralih pada kue
tradisional. Kue tradisional yang satu ini mungkin sudah banyak dikenal orang bahkan
mungkin disetiap kota ada saja yang menjual kue tradisional yang satu ini. Kue
tradisional memang selalu menjadi sajian yang menyenangkan untuk dinikmati. Kuekue yang manis dan berstektur lembut memang sangat memanjakan lidah. Salah satu
kue tradisional yang ada di kota Pariaman adalah Kue Talam. Di Kota Pariaman
sendiri kue talam ada 2 jenis yaitu kue talam Singkong yang mana masyarakat
Pariaman menyebutnya Kue Talam Parancih yang mana kue talam ini terbuat dari
singkong dan kue talam tepung beras yang mana bahan dasarnya adalah tepung beras
yang dicampur dengan gula merah.
Pada saat melakukan wawancara untuk kue tradisional ini kami berhasil
mewawancarai pembuat kue talam beralamat di Desa Marabau Kecamatan Pariaman
Selatan Kota Pariaman pelaku usaha ini hanya mengelola atau membuatnya saja,
sedangkan yang menjualnya adalah anak-anak Desa Marabau mulai dari anak yang
masih duduk di bangku SD kelas 4 sampai anak-anak yang duduk di bangku SMA.

Dari hasil penjualannya nantinya akan dibagi hasil untuk pengelola dan penjual kue
talam ini.
Penulis hanya mewawancarai pengelola dari kue tradisional ini yang bernama
Maryati yang biasanya orang-orang memanggilnya Ande Mar. Pelaku usaha ini
mulai mengelola usaha kue talam ini sejak tahun 2013. Alasannya karena usaha ini
merupakan usaha turun temurun dan pelaku usaha memiliki keahlian hanya dibidang
ini.
Dari hasil wawancara penulis dan tim lakukan pelaku usaha ini tidak pernah
melakukan inovasi terhadap produknya. Sehingga usaha ini dari dahulu sampai
sekarang hanya itu saja. Pelaku usaha ini belum pernah mendapatkan bentuk pelatihan
apapun baik itu dari pemerintah ataupun dari organisasi lain. Pelaku usaha ini tidak
memiliki karyawan tetap yang membantunya. Pelaku usaha juga tidak memiliki
bentuk pembukuan atas penggunaan dana dan sampai saat ini pelaku usaha masih
menggunakan Tungku sebagai alat untuk proses pemasakannya tetapi sesekali
menggunakan Kompor Gas sebelum adanya Kompor Gas, pelaku usaha menggunakan
Kompor dengan Minyak Tanah. Kendala yang dihadapi pelaku usaha adalah Harga
Singkong yang semakin mahal dan keberadaannya yang semakin jarang di pasar selain
itu harga-harga pokok bahan-bahan pembuatanya juga semakin mahal.
2.1.3 Gambaran Umum Produk (Kedai Lotek)
Lotek merupakan makanan yang hampir menyerupai pical yaitu makanan yang
terbuat dari rebusan sayuran segar, disirami sambel kacang, Lotek merupakan
makanan tradisional yang terbuat dari kacang panjang, toge, lontong yang mana
bumbunya itu digiling dahulu sebelumnya yaitu kencurnya dan beberapa rempah
lainya.
Pada tahap wawancara, kami berhasil mewawancarai salah satu pelaku usaha
ini yang bernama Nani. Yang mana usaha ini beralamat di Desa Marabau Kecamatan
Pariaman Selatan Kota Pariaman. Pelaku usaha mulai berwirausaha sejak tahun 2005
dan mulai mengelola dan menjual makanan tradisional ini sejak tahun 2014, alasan
kenapa pelaku usaha memilih usaha ini adalah karena keahlian dan juga tidak adanya
pesaing di daerah sekitar. Pelaku usaha tidak memiliki karyawan yang akan
membantunya dalam usaha ini, usaha ini juga merupakan usaha perseorangan. Pelaku
usaha juga belum pernah mendapatkan pelatihan apapun dari pemerintahan ataupun

dari organisaasi lain. Kendala yang dihadapi pelaku usaha adalah bagaimana untuk
lebih meluaskan usaha ini.
2.1.4 Gambaran Umum Produk (Katupek Gulai Cubadak Dan Paku)
Gulai cubadak adalah gulai yang terbuat dari nangka muda sedangkan gulai
paku adalah gulai yang menggunakan batang dan daun paku/pakis yang masih muda.
Gulai cubadak dan gulai paku biasanya dimakan bersamaan dengan ketupat ini
merupakan makanan khas sumatera barat dan pada saat ini ketupat gulai cubadak dan
gulai paku tidak hanya disajikan sebagai makanan sarapan pagi saja tetapi bisa
menjadi menu pada Hari Raya Idul Fitri.
Pada tahap wawancara yang penulis dan tim lakuka, kami berhasil
mewawancarai salah satu pengelola sekaligus penjual ketupat gulai cubadak dan gulai
paku yang bernama siman yang mana orang-orang desa ini memaggilnya One ciman
yang mana usaha ini beralamat di Desa Marabau Kecamatan Pariaman Selatan Kota
Pariaman. Pelaku usaha memulai berwirausaha sejak tahun 2005 tetapi mulai
mengelola dan menjual makanan tradisional ini sejak tahun 2009. Usaha ini merupaka
usaha yang dikelola sendiri oleh pelaku usaha, Pelaku usaha memilih usaha ini karena
keahlian yang dimilikinya hanya pada bidang ini. Dalam mengelola ataupun menjual
makanan ini pelaku usaha tidak memiliki karyawan tetap dan pelaku usaha juga belum
pernah mendapatkan bentuk pelatihan apapun baik dari pemerintah ataupun organisasi
lain selain itu pelaku usaha juga belum pernah mencoba untuk berinovasi atas
makanan ini, daerah pemasaran makanan ini hanya Pasar Nagari atau yang lebih
tepatnya Desa saja.
Laba bersih yang didapatkan pelaku usaha juga terbatas yang mana hanya
cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pelaku usaha. Kendala yang dihadapi
pelaku usaha adalah bagaimana pemasaran untuk makanan tradisional ini agar wilayah
pemasaran pelaku usaha tidak hanya Desa saja.
2.1.5 Gambaran Umum Produk (Sate Khas Pariaman)
Sate pariaman adalah salah satu yang cukup digemari. Makanan yang satu ini
juga menjadi makanan favorit bagi masyarakat sekitarnya. Pada umumya sate ada di
setiap daerah di Sumatera Barat. Sebagai contoh Sate Pasaman, Sate Padang tapi pada

umumnya Sate Pasaman, Sate Padang bahkan Sate Pariaman umumnya sama
perbedaanya terdapat pada cita rasa kuahnya.
Pada tahap wawancara, kami berhasil mewawancarai salah satu pengelola seta
penjual makanan tradisional ini yang bernama Yurafimi Rafita. Yang mana orang
disekitar tempat tinggalnya memanggilnya dengan sebutan Nupik. Pelaku usaha
dalam mengelola dan menjual makanan tradisional ini dibantu oleh suami serta adik
kandungnya, dengan menjualnya menggunakan bedak berkeliling dengan wilayah
pemasaran yang berbeda. Pelaku usaha ini mulai berwirausaha dan mulai mengelola
makanan ini sejak tahun 2009, pelaku usaha memilih usaha ini karena usaha ini
merupakan usaha turun temurun dengan perputaran uangnya yang cepat.
Pelaku usaha juga belum pernah mendapatkan bantuk pelatihan apapun dari
pemerintah ataupun organisasi lain kendala dalam usaha ini adalah harga daging sapi
yang semakin memingkat.
2.1.6 Gambaran Umum Produk (Nasi Goreng Petai)
Nasi Goreng adalah salah satu makanan favorit banyak kalangan bukan hanya
lokal bahkan samapai ke manca negara. Di Indonesia banyak ksekali jenis nasi goreng
tetapi nasi goreng yang tradisional adalah nasi goreng khas padang yaitu Nasi Goreng
Petai.
Pada tahap wawancara, kami berhasil mewawancarai salah satu pelaku usaha
dalam bisang makanan tradisional ini yang bernama Intan Pratiwi, bisa dibilang pelaku
usaha ini adalah pelaku usaha yang paling muda diantara yang lain, pelaku usaha
mulai berwirausaha sejak tahun 2012 dan mulai mengelola makanan ini sejak awal
tahun 2016. Pelaku usaha memilih makanan ini karena lebih menguntungkan, usaha
ini beralamat di Padusunan Kecamatan Pariaman timur Kota Pariaman. Pelaku usaha
tidak memiliki karyawan tetap untuk membantunaya dalam usaha ini, pelaku usaha
juga belum pernah mendapatkan bentu pelatihan apapun dari pemerintah ataupun dari
organisasi lain.
2.1.7 Gambaran Umum Produk (Keripik Sanjai)

Keripik sanjai merupakan salah satu jenis keripik yang dibuat menggunakan
bahan baku singkong. Keripik sanjai menjadi panganan dari bahan singkong yang
bernilai tinggi dengan harga jual yang sangat bagus. Tingginya peminat keripik sanjai
membuat penjualan keripik sanjai makin meningkat. Olahan keripik sanjai memang
masih sangat populer dalam olahan kerupuk di Indonesia. Sehingga tak heran
permintaan keripik sanjai di pasaran sangatlah tinggi. Banyaknya masayarakat yang
penasaran untuk mencoba olahan keripik sanjai. Tingginya peminat keripik sanjai ini
menjadikan keripik sanjai sebagai ladang usaha yang sangat menjanjikan.
Dari berbagai usaha keripik sanjai yang kami wawancara, berbagai macam
jawaban yang dilontarkan para pelaku usaha keripik sanjai ini. Pelaku usaha keripik
sanjai yang kami wawancari adalah pelaku usaha Keripik Sanjai Ane yang berada di
Jl. SM Jamil Kampung Perak Pariaman. Dari pelaku usaha tersebut dapat kami peroleh
informasi bahwa usaha ini tergolong sebagai usaha kecil menengah yang cukup
berkembang dibandingkan usaha lain yang kami wawancarai.
Keripik Sanjai Ane tidak memilki struktur organisasi dan tidak ada pemisahan
fungsi yang jelas. Usaha ini dikelola oleh keluarga pemilik ditambah dengan
masyarakat sekitar yang membantu dalm proses produksi yang bisa juga disebut
karyawannya. Namun, dalam pengelolaan usaha keripik ini tidak ada pencatatan dan
pembukuan atau bahkan pengelolaan manajemen dalam usaha ini. Bahkan usaha ini
juga tidak memiliki daftar harga ataupun laporan keuangan. Namun, usaha ini
memiliki surat izin usaha yang lengkap. Dari hasil wawancara kami, Keripik Sanjai
Ane ini pernah mengikuti berbagai pelatihan, namun yang mengikuti pelatihan
tersebut hanyalah karyawannya saja. Bagi mereka tidak ada pengaruh pelatihan
tersebut terhadap perkembangan usaha yang mereka kelola.
2.1.8 Gambaran Umum Produk (Ladu)
Ladu arai pinang yaitu makanan khas Pariaman yang terbuat dari tepung beras.
Pada zaman dahulu makanan ini hanya muncul pada saat Hari Raya Idul Fitri saja,
namun sekarang makanan ini sudah bisa ditemukan tiap hari di berbagai toko-toko
yang menjual makanan khas Pariaman.
Pada produk ladu ini, kami berhasil mewawancarai beberapa pelaku usaha di
bidang ini, diantaranya:
1. Menara (Ladu sala)

Salah satu usaha ladu ini cukup kreatif dibandingkan usaha ladu lainnya. Kami
cukup tertarik dengan usaha ladu ini, dimana ladu yang pada umumnya dijual di
pasaran berasala dari bahan tepung beras putih yang dicampur dengan air dan garam.
Namun, untuk ladu yang diproduksi oleh Ibu Erlina selaku pengelola ini cukup unik,
dimana ladu yang dihasilkan berasala dari olahan tepung untuk pembuatan sala lauak.
Sehingga ladu yang dihasilkan oleh Ibu Erlina ini lebih memiliki rasa seperti sala
lauak.
Usaha Ladu Menara ini beralamat di Pasar Lalang Kecamatan Periaman tengah
Kota Pariaman. Usaha ladu sala ini mulai didirikan pada tahun 2012. Alasan
mengelola usaha ini yaitu karena usaha ini cukup baru, belum memiliki saingan yang
cukup banyak, menarik, kreatif, serta menghasilkan keuntungan yang bisa langsung
didapat.
Berdasarkan wawancara kami dengan Ibu Erlina yang memiliki pendidikan
sampai SMA ini, mampu mengelola dan mengatur usaha ladu ini dengan baik. Usaha
ladu ini sudah memiliki struktur organisasi dan pemisahan fungsi dalam pengelolaan
usahanya. Usaha ladu ini awalnya sama persis dengan usaha ladu pada umumnya,
namun pengelola berniat ingin membuat sebuah produk yang baru yang berbeda
sehingga muncullah ide untuk menciptakan Ladu sala ini.
Usaha ladu ini sudah pernah mengikuti bebrapa pelatihan sebelumnya yaitu
pelatihan pengembangan usaha yang diselenggarakan oleh Kopperindag Kota
Pariaman, dan pelatihan peningkatan mutu produk yang diselenggarakan oleh
Kelompok Koperasi. Berdasarkan pelatihan-pelatihan tersebut usaha ladu ini menjadi
lebih berkembang dan meningkatkan volume penjualannya setiap bulannya. Ibu Erlina
selaku pengelola juga menerapkan pencatatan dan pembukuan dalam pengelolaan
usahanya. Sehingga usaha ladu tersebut dapat ia kelola dengan baik. Namun,
pencatatan yang dilakukan hanyalah berupa catatan umum yaitu catatan pengeluaran
dan pemasukan saja.
2. Laudia (Ladu Arai Pinang)
Ladu arai pinang Laudia ini merupakan sebuah usaha ladu arai pinang yang
dikelola oleh Ibu Betrawati. Usaha ladu ini beralamat di Jl. SM Jamil Kampung perak
Kecamatan PariamanTengah Kota Pariaman. Usaha ladu ini didirikan pada tahun
2002. Karena usaha ladu ini cukup menjamin keuntungan bagi pengelola, maka
dibentuklah usaha ini.
8

Hasil wawancara yang kami lakukan terhadap usaha ini, yaitu usaha ini cukup
berkembang dibanding usaha makanan tradisional lainnya. Dimana usaha ini sudah
dikelola dalam jangka waktu yang cukup lama, sudah memiliki struktur organisasi
yang jelas serta pemisahan fungsinya, dan juga sudah memiliki merk. Usah yang
dikelola oleh Ibu Betrawati sekeluarga ini juga bergabung di berbagai komunitas
terkait usaha yang dijalankan.
Selama mengelola usaha ladu ini pelaku usaha pernah mencoba untuk
memperluas wilayah pemasaran, karena kebanyakan di dekat daerah usahanya tersebut
cukup banyak yang juga mengelola usaha ladu. Sehingga persaingan didaerah tersebut
cukup ketat. Sayangnya, usaha ladu ini tidak cukup terbuka terhadap perkembangan
teknologi sekarang ini. Baik proses produksi, maupun sampai ke startegi pemasaran,
masih menggunakan cara tradisional. Proses produksi ladu ini masih menggunakan
cetakan tangan biasa, dan pemasarannya pun hanya melalui dari mulut ke mulut saja.
Dan lagi tidak ada pencatatan dan pembukuan sedikitpun dalam pengelolaan
usaha ladu ini. Sehingga pengelolaan keuangan dari usaha ini tidak terkelola dengan
baik. Usaha ini pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Kopperindag
Kota Pariaman yang mana pelatihannya adalah Pelatihan Pengembangan Usaha dalam
bentuk merk dan Kemasan. Namun, bagi pengelola menanggapi pelatihan tersebut
adalah walaupun usaha kita sudah memiliki merk pun, volume penjualannya tetap
seperti itu saja. Jadi, dapat kami simpulkan tidak ada pengaruh positif pelatihan
tersebut bagi usaha ini.
3. Ladu Nurhasanah
Ladu Nurhasanah ini yaitu usaha ladu yang dikelola oleh Ibu Sugiarsih
beralamat di Kampung Baru Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman. Usaha ladu
ini didirikan pada tahun 2012. Alasan didirikan usaha ini yaitu memiliki jaminan untuk
menambah modal bagi pengelola. Usaha ladu ini merupakan usaha yang cukup
berkembang pesat karena pendiriannya yang cukup dibilang masih baru. Usaha ini
sudah memiliki struktur organisasi daam pengelolaanya.
Berdasarkan hasil wawancara kami dengan Ibu Sugiarsih, usaha ladu ini sudah
mampu mmenuhi permintaan pasar. Usaha ladu ini mampu menggunakan teknologi
dalam produksi dan pemasaran produk. Dilihat dari latarbelakang pendidikan Ibu
Sugiarsih sendiri yaitu Sarjana pendidikan, tentunya Ibu Sugiarsih ini mampu
mengelola usahanya dengan baik.
9

Usaha ladu ini pernah mengikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan di


Kota Pariaman. Salah satu Pelatihan yang disebutkan yaitu pelatihan Pengembangan
usaha yang diselenggarakan oleh Kopperindag Kota Pariaman. Pelatihan tersebut
menjadi motivasi bagi Ibu Sugiarsih selaku pengelola untuk meningkatkan kemajuan
usahanya.
4. Ladu Herman
Ladu Herman ini yaitu usaha ladu yang beralamat di Jl. H. Samanudin Sei.
Pasak kecamatan Pariaman Timur Kota Pariaman, yang mana dikelola oleh Ibu
Nurhayati dan Ibu Yusneti. Usaha ladu ini didirikan atas dasar pengelola hanya
memiliki keahlian dalam bidang ini untuk dijadikan wirausaha dan usaha ini sudah
menjadi usaha yang turun temurun. Usaha ladu ini bisa dibilang usaha yang paling
lama dari beberapa usaha yang kami survei. Usaha ini didirikan sejak tahun 1985.
Berdasarkan hasil wawancara kami, pelaku usaha ini mapu untuk menjalin
kerjasmaa dengan pihak lain dalam pengelolaan usaha ini, dan kualitas produk tetap
terjaga. Dalam usaha ini tidak memiliki struktur organisasi yang baku, namun ada
beberapa pemisahan fungsi dan wewenang yang terlaksana dengan baik. Usaha ini
memiliki karyawan beberapa orang dan terutam yang mengelola usaha ini aadalah
anggota keluarga pelaku usaha ini sendiri.
Pelaku usaha mampu mengelola usaha dengan baik, dan memberikan
kepercayaan kepada karyawannya dengan baik, sehingga meskipun pemilik tidak
dirumah, usaha ini tetap berjalan seperti biasanya. Dalam produksi maupun pemasaran
pelaku usaha cukup terbuka terhadap perkembangan teknologi seperti sekarang ini.
Sehingga usah yang dikelola dapat berkembang dengan baik. Usaha memiliki
pencatatan dan pembukuan, namun pencatatan yang dilakukan hanya berupa catatan
umum saja, tanpa ada spesifik seperti buku kas, daftar persediaan, dan lainnya.
Sayangnya, meskipun usaha ini cukup usaha yang tergolong lama berdiri, usaha ini
belum pernah mengikuti satupun bentuk pelatihan. Sehingga usaha ini mengharapkan
pelatihan dalam bentuk pelatihan terhadap inovasi produk dan bagaimana cara
berkreatifitas terhadap produk.
5. Ladu Ibu Sariani
Usaha ladu Ibu Sariani ini merupakan usaha ladu yang paling kecil
dibandingkan usaha ladu sebelumnya. Usaha ladu ini beralamat di Kampung Baru
Padusunan Kecamatan Pariaman timur Kota Pariaman. Usaha ladu ini tidak memiliki
10

merk seperti usaha ladu sebelumnya. Usaha ini tidak berpoduksi secara massal seperti
usaha ladu sebelumnya. Ibu sariani hanya akan memproduksi ladu jika ada pesanan
dari tetangga atau kerabat terdekatnya. Usaha ini merupakan usaha rumahan yang
tidak memiliki tempat khusu dalam pengelolaan usahanya.
Berdasarkan hasil wawancara kami terhadap Ibu Sariani, usaha ini didirikan
sejak tahun 2014. Ibu Sariani memilih berusaha membuat ladu ini karena
kemampuannya dalam membuat ladu dan bisa menghasilkan keuntungan, meskipun
tidak berkesinambungan. Setiap kali ada pesanan dari pelanggan, Ibu Sariani mampu
menyelsaikan pesanan pelanggannya tepat waktu dengan kualitas produk yang tetap
tejaga. Tidak ada pengelolaan yang intens dalam usaha ladu ini. Yang namanya juga
usaha rumahan, usah ini tidak memiliki catatan maupun izin usaha sekalipun. Karena
usaha ini hanay akan berproduksi jika ada pesanan saja.
Ibu Sariani selaku pengelola usaha ini pernah mengikuti pelatihan yang
dilakukan oleh Pemerintah desa setempat, yang mana saat kami wawancara, Ibu ini
sudah lupa akan nama dan jenis pelatihan tersebut.

2.1.9 Gambaran Umum Produk (Katupek Lamak & Sala Lauak)


Katupek lamak adalah salah satu jenis makanan tradisional khas Pariaman
yang biasanya disantap bersamaan dengan Sala Lauak. Katupek lamak ini terbuat dari
beras yang dikasih santan. Sedangkan sala lauak yaitu makanan tradisional khas
Pariaman yang terbuat dari tepung beras yang dikasih bumbu cabe, dan tumbukan ikan
asin yang sudah direbus.
Beberapa pelaku usaha dibidang ini yang kami wawancarai yaitu:
1. Ibu Pianih (Katupek lamak dan sala lauak)
Usaha Ketupek lamak dan sala lauak yang dikelola oleh Ibu Pianih ini
merupakan usaha rumahan yang dikelola sejak tahun 2014 yang beralamat di Desa
Marabau Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman. Ibu Pianih memilih
menjalankan usaha ini yaitu karena hanya usaha ini yang memberikan jaminan
keuntungan bagi pelaku usaha.
Berdasarkan hasil wawancara kami dengan Ibu Pianih, usaha ini adalah usaha
yang dijalankan oleh Ibu Pianih sendiri dan sebagian keluarganya ikut membantu
dalam proses produksi. Usaha ini bukan merupakan usaha yang bisa dibilang yang

11

cukup berkembang. Usaha ini mungkin saja hanya memberikan keuntungan yang
hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pelaku usaha.
Dalam usaha ini tidak ada pencatatan sedikitpun dalam pengelolaan usahanya.
Usaha ini juga belum pernah mengikuti pelatihan satupun. Dalam proses produksi
katupek lamak dan sala lauak ini masih menggunakan tungku. Dan pemasarnnya pun
dengan berkeliling menggunakan gerobak ke sekitar kampung.
2. Ibu Mesnawati (Katupek lamak)
Usaha Katupek lamak ini juga merupakan usaha rumahan yang beralamat di
Desa Sungkai Sikapak Timur, Kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman. Usaha ini
berdiri sejak tahun 2001 yang dikelola oleh Ibu Mesnawati. Usaha ini dijalankan sejak
turun temurun dari orang tua Ibu Mesnawati itu sendiri.
Berdasarkan hasil wawancara kami, usaha ini dijalankan berdasarkan pesanan
dari pelanggan yang ingin memesan Katupek lamak, namun juga kadang
memproduksi tiap hari jika modalnya cukup. Usaha ini tidak memiliki catatan atau
pembukuan. Tidak ada pengleolaan yang teratur dalam usaha ini. Usaha ini belum
pernah mengikuti pelatihan sekalipun. Sehingga tidak ada motivasi bagi pelaku usaha
untuk mengembangkan usahanya. Berdasarkan jawaban dari pelaku usaha, pelaku
usaha tidak mengharapkan untung yang besar karena itu tidak mungkin, mereka hanya
mengharapkan laba yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sjaa sudah cukup bagi
mereka.
3. Ibu Yulida Marni (Sala lauak)
Sala lauak yang diproduksi oleh Ibu Yulida Marni ini hampir smaa dengan sala
lauak yang kami wawancarai lainnya. Sala lauak ini berlamat di Pasar Pariaman,
seperti yang kita lihat disepanjang pantai Pariaman banyak para penjual sala lauak.
Sala lauak ini didirikan sejak tahun 1990, usaha ini dijalankan karena menurut pelaku
usaha, usaha ini memiliki modal yang murah dan mengahsilkan untung yang lumayan.
Meskipun usaha sala lauak ini terbilang kecil, tetapi usaha ini memiliki
pemisahan tugas dan fungsi dalam pengelolaannya. Proses pengelolaan usaha ini
sebagian besar dikerjakan secara berkelompok.
Berdasarkan hasil wawancara kami, usaha ini pernah mencoba melakukan
perluasan wilayah pemasaran, karena saingan di daerah pemsaran sekitar pasar
Pariaman tersebut lumayan ketat. Karena begitu banyak pelaku usaha yang berjualan
sala lauak.
12

Usaha ini tidak pernah mengikuti pelatihan sekalipun. Namun dengan keahlian
yang dimiliki pelaku usaha, pelaku usaha mampu menguasai pasar sampai dengan
21%. Dari berbagai pertanyaan wawancara kami, pelaku usaha berharap memperoleh
pelatihan bagaiman cara memasarkan prosuk dengan baik dan bagaimana
meningkatkan inovasi terbaru terhadap makanan.
4. Ibu Animal (Sala lauak)
Usaha sala lauak Ibu Animal ini tidak jauh berbeda dengan usaha sala lauak
lainnya. Usaha ini juga beralamat di Pasar pariaman, lebih tepatnya di Pantai
Gandoriah Pariaman. Usaha ini didirikan sejak tahun 2001. Usaha ini dipilih karena
pelaku usaha hanya memiliki kemampuan dalam pengolahan sala yang bisa ia jadikan
ladang usaha.
Persaingan yang terlalu ketat menjadi kendala dalam usaha ini. Karena tidak
hanya satu pelaku usaha sala lauak yang berada di Pantai Gandoriah Pariaman, bahkan
sepanjang pantai tersebut umunya penjual sala lauak. Sama halnya dengan pelaku usah
sala lauak lainnya tidak ada pencatatan dan pembukuan dalam pengelolaan usahanya.
Mereka juga belum pernah mengikuti sejenis pelatihanpun. Namun, mereka memiliki
surat izin untuk berdagang dari kelurahan/kecamatan mereka.
5. Ibu Nurlela (Sala lauak)
Ibu Nurlela merupakan salah satu pelaku usaha yang cukup tua dibandingkan
pelaku usaha lainnya. Usaha sala lauak yang dikelola oleh Ibu Nurlela ini terletak di
Pantai Gandoriah Pariaman. Usaha ini didirikan sejak tahun 2011.
Berdasarkan wawancara kami dengan Ibu Nurlela, usaha ini hampir sama
dengan usaha sala lauak sebelumnya. Namun, Ibu Nurlela ini pernah mengikuti sebuah
pelatihan yaitu Teknik Pengelolaan Makanan yang diselenggarakan Pemerintah sekitar
tahun 2015. Berdasarkan pelatihan tersebut Ibu Nurlela memperoleh informasi
bagaimana mengolah makanan dengan baik. Sehingga meningkatkan kualitas sala
lauak yang dijual oleh Ibu Nurlela saat ini.

2.2 Padang dan Sekitarnya


Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap penjual makanan tradisional
minangkabau yang berada di Sumatera Barat seperti beberapa penjual di kota Padang
adalah anyang rawan, sate padang, ataupun keripik sanjai. Pada lampiran kuisioner

13

yang menanyakan mengenai pelatihan yang pernah diikuti oleh penjual ataupun
pengelola makanan tradisional, diantara mereka ada yang pernah mengikuti pelatihan
dan ada yang tidak pernah mengikuti pelatihan mengenai bagaimana cara terbaik
dalam menjalankan usaha dan mengembangkan usaha yang mereka miliki. Penjual
atau pengelola makanan terlihat tidak tertarik dan berpendapat bahwa ikut serta dalam
pelatihan tidak terlalu penting untuk memajukan usahanya.
2.2.1 Gambaran Umum Produk (Sate Padang)
Pada pembahasan diatas telah dijelaskan bahwasanya sate disetiap daerah ada,
pada kali ini penulis dan tim mengambil pelaku usaha dalam bidang makanan
tradisional tidak hanya didaerah Pariaman saja tetapi penulis dan tim juga berhasil
mewawancarai pelaku usaha ini yang bernama Elly, yang mana usaha ini beralamat di
Gerbang Unand, Limau Manis Kota Padang.
Mungkin Sate Lain menggunakan Daging Sapi dalam Menjual Sate tetapi
Pelaku usaha Ini menggunakan Daging Ayam dalam mengelola dan menjual makanan
tradisional ini. Kita mengenal bahwa Sate yang menggunakan Daging ayam sebagai
bahan utama dikenal sebagai sate ayam yang merupakan makanan khas madura tetapi
untuk sate ayam khas madura menggunakan kecap dalam pembuatannya. Pelaku usaha
menjuala sate ini dengan cita rasa kuah yang sama seperti Sate Padang ataupun Sate
Pariaman. Pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya hanya dibantu oleh suaminya
saja. Pelaku usaha juga belum pernah mendapatkan pelatihan apapun dari pemerintah
ataupun organisasi lain.
2.2.2 Gambaran Umum Produk (Keripik Sanjai)
Dari berbagai usaha keripik sanjai yang kami wawancara, berbagai macam
jawaban yang dilontarkan para pelaku usaha keripik sanjai ini. Pelaku usaha keripik
sanjai yang kami wawancari adalah pelaku usaha Keripik Sanjai Mahkota yang berada
di Jl. Raya Padang. Dari pelaku usaha tersebut dapat kami peroleh informasi bahwa
usaha ini tergolong sebagai usaha kecil menengah yang cukup berkembang
dibandingkan usaha lain yang kami wawancarai. Usaha ini bisa dibilang usaha yang
cukup lama berdiri. Yang mana Keripik Sanjai Mahkota yang didirikan mulai tahun
1993 tentunya merupakan usaha yang cukup berkembang dari awal berdiri sampai saat
sekarang ini.

14

Berdasarkan hasil wawancara kami, Keripik Sanjai Mahkota sudah memiliki


struktur organisasi dan adanya pemisahan tugas dan fungsi masing-masing struktur.
Mereka mampu untuk mengatur manjamen keuangan mereka sendiri, dan mampu
memprediksi kondisi pasar. Mereka memiliki surat izin usaha yang lengkap, dokumendokumen transaksi berupa faktur dan daftar harga, serta memiliki laporan keuangan
yang lengkap. Namun, Keripik Sanjai Mahkota ini tidak pernah mengikuti satu bentuk
pelatihan pun. Usaha Keripik ini hanya dikelola oleh pemilik sekeluarga tanpa ada
dukungan pendanaan dari luar.
2.2.3 Gambaran Umum Produk (Anyang Rawan)
Ibu Ely sebagai penjual dan pengelola anyang rawan mengatakan bahwa
pernah diundang untuk mengikuti pelatihan oleh pihak kelurahan yang diadakan di
GOR H Agus Salim. Namun Ibu Ely tidak menghadiri pelatihan itu karena alasan
usahanya tidak dapat ditinggal. Hal ini menjadi bukti bahwa penjual ataupun pengelola
makanan tradisional tidak mementingkan apa pun bentuk pelatihan untuk menjalankan
usaha yang sebenarnya diperlukan oleh mereka.
Berdasarkan tanya jawab yang dilakukan para penjual tradisional minangkabau
memilih usaha yang mereka jalankan karena merupakan usaha turun temurun dari
keluarganya. Oleh sebab itu, mereka merasa tidak membutuhkan pelatihan. Padahal
pelatihan yang diberikan tidak hanya bagaimana mengolah produk, namun juga dapat
berupa pelatihan tentang kebersihan, penggunaan merek, dan pengelolaan modal.
Dengan dilakukannya survey terhadap penjual makanan tradisional menunjukkan
bahwa usaha yang dijalankan masih membutuhkan modal dan cara mengelola
keuangan usaha sangat diperlukan. Karena penjual atau pemilik usaha ini masih
berpendapat bahwa akses untuk mendapatkan modal adalah hanya melalui pinjaman di
bank. Padahal jika mereka berminat dalam mengikuti pelatihan pastinya mereka akan
mendapatkan ilmu pengetahuan dalam mengelola keuangan usahanya sehingga
mereka dapat memperoleh modal tambahan itu sendiri dari proses penjualan yang
mereka lakukan sendiri.

15

2.3 Hasil Survey Daerah Pariaman dan Kota Padang


Berdasarkan survey yang dilakukan di daerah Pariaman dan Kota Padang, kami
menemukan bahwa dari 21 kuisioner yang dijalankan, hanya ada 5 pedagang saja
penjual makanan khas tradisional Minangkabau yang pernah mengikuti training
ataupun seminar mengenai kewirausahaan. Dari sejumlah penjual makanan khas
tradisional ini secara merata hanya menjalankan usahanya dengan aturan mereka
sendiri tanpa adanya ilmu pengetahuan mengenai tips atau cara menjalankan usahanya.
Bahkan latar belakang mereka secara merata hanya tamatan SD.
Mengacu pada kenyataan dilapangan saat melakukan survey, penjual makanan
khas tradisional Minangkabau menjalankan usaha secara sederhana saja. Mereka tidak
tahu bagaimana mengatur atau merancang usahanya agar terus maju dan berkembang.
Sebagian dari penjual ini memiliki keinginan untuk mengikuti training ataupun
seminar kewirausahaan yang diselenggarakan pemerintah atau yang lainnya, hanya
saja mereka memiliki keterbatasan waktu, karena usahanya tidak dapat dijalankan.
Selain itu beberapa dari penjual merasa tidak membutuhkan training ataupun seminar
kewirausahaan karena mereka merasa usaha yang dijalankan hanyalah makanan
tradisional yang semua orang di Sumatera Barat bisa saja mengolahnya, tidak butuh
hiasan khusus untuk tampilannya, dan juga merupakan usaha turun temurun dari orang
tua terdahulu.
Dalam hal komunikasi dan pertanggungjawaban pekerjaan, para penjual yang
kami wawancarai memiliki kemampuan komunikasi secara lisan maupun tulisan yang
baik sehingga dalam penyampaian keterangan mengenai usaha mereka kepada kami
sangat baik. dalam hal tanggung jawab, penjual memahami bahwa pesanan dari
pelanggan itu merupakan hal yang penting dalam mempertahankan kepercayaan
pelanggan terhadap mereka, sehingga penjual mengaku bahwa telah dapat
menyelesaikan pesanan pelanggan dengan tepat waktu dan sesuai dengan yang
diinginkan.
Jika dipandang dari sudut akuntansi, penjual makanan khas tradisional yang telah
kami survey secara merata belum memahami praktik ataupun pengetahuan tentang
akuntansi seperti yang kita pelajari. Seperti dalam hal mempertanyakan berapa modal

16

mereka saat mendirikan usaha, penjual menjawab bawah mereka tidak memiliki modal
di awal usahanya, mereka mengambil dari ladang mereka untuk bahan baku. Hal itu
tentu dalam ilmu pengetahuan yang kita dapat merupakan sebuah modal, namun dalam
pikiran mereka bahwa modal itu hanya berupa uang saja. Maka kami menilai dari segi
modal dengan menilai peralatan, perabot, atau elektronik yang mereka gunakan dalam
menjalan usahanya. Berbicara mengenai modal, ada beberapa dari penjual makanan
khas tradisional Minangkabau ini merasa kesulitan dalam mendapatkan tambahan
modal yang diberikan oleh pemerintah ataupun melalui pinjaman dari bank. Dengan
persyaratan yang diajukan oleh pihak pemberi modal, mereka merasa hal itu hanya
untuk mempersulit mereka saja dalam memperoleh pinjaman. Oleh sebab itu mereka
merasa tidak usah saja mendapatkan tambahan modal ataupun pinjaman tersebut.
Selain dalam hal modal, penjual bahkan tidak ada melakukan pencatatan atas kas
masuk ataupun kas keluar dalam menjalankan usahanya. Mereka hanya melakukan
perhitungan mengenai keuntungan pada hari itu yang kemudian akan digunakan untuk
modal membeli bahan baku untuk keesokan harinya. Maka selisih dari itu saja yang
mereka simpan sebagai keuntungan dari hasil penjualan. Hal ini menunjukkan bahwa
mereka belum sadar dengan pentingnya praktik akuntansi itu dilakukan, setidaknya
adanya catatan kas masuk dan keluar agar mereka dapat melihat perkembangan dan
kemajuan dari usahanya.
Dalam hal manajerial untuk mendukung bagaimana cara mereka melakukan
pekerjaan, menjaga kualitas produk, maupun mempertahankan usahanya, penjual yang
membutuhkan bahan baku khusus dalam mengolah jualannya merasa membutuhkan
ide dan cara dalam mengatasi persediaan bahan baku yang tidak tersedia di pasar.
Karena jika bahan baku itu tidak ada di pasar, maka mereka tidak dapat mengolah
produk jualannya dan nantinya mereka tidak memperoleh pendapatan.
Berdasarkan survey lapangan, kami menilai dan melihat sendiri bahwa kebersihan
lingkungan dalam menjalankan usaha menjadi hal yang harus sangat diperhatikan oleh
penjual. Karena untuk menarik perhatian pelanggan, ataupun wisatawan bagi penjual
yang berada di objek wisata membutuhkan daya tarik tertentu dalam menjual produk,
salah satunya adalah kebersihan. Dengan menjaga kebersihan itu, maka pelanggan
ataupun pembeli yang berada di objek wisata itu tertarik untuk membeli dagangan
mereka.

17

2.4 Bentuk Pelatihan yang Disarankan


Menurut kami sebagai surveyor, pelatihan yang tepat untuk penjual atau
pengelola makanan tradisional adalah mengenai pengelolaan keuangan dan kebersihan
dalam mengelola makanan, peningkatan kreatifits produk, serta teknik pemsaran
produk yang lebih unik. Jika pelatihan itu diberikan kepada penjual atau pengelola
makanan tradisional, maka makanan tradisional minangkabau yang ada di Sumatera
Barat ini tidak akan kalah dengan makanan modern jaman sekarang ini. Jika makanan
yang penjual olah dengan baik dan dijual dengan menunjukkan kebersihan mereka,
maka akan mendapatkan kepercayaan dari lingkungan sekitar untuk mengkonsumsi
makanan mereka. Tidak hanya mengandalkan cita rasa dari makanan tradisional
sendiri tetapi juga kualitas.

18

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil wawancara berbagai macam pelaku usaha makanan
tradisional mingankabau, banyak diantar pelaku usaha tersebut belum mengikuti
satupun bentuk pelatihan terhadap perkembangan usaha mereka. Sebagian jenis pelaku
usaha bahkan merasa mereka tidak butuh pelatihan. Asalkan usaha mereka cukup
untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja itu sudah cukup. Mereka tidak ingin
berharap keuntungan yang lebih. Karena bagi mereka jika ingin keuntungan yang
lebih, mereka juga harus menggeluarkan biaya yang lebih juga.

19