Anda di halaman 1dari 131

Pengertian

Limfadenitis adalah Peradangan pada satu atau beberapa kelenjar getah


bening. Limfadenitis bisa disebabkan oleh infeksi dari berbagai
organisme, yaitu bakteri, virus, protozoa, riketsia atau jamur. Secara
khusus, infeksi menyebar ke kelenjar getah bening dari infeksi kulit,
telinga, hidung atau mata. Bakteri Streptococcus, Staphylococcus, dan
M. tuberculosis adalah penyebab paling umum dari limfadenitis.

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosa dan memberikan penanganan


limfadenitis.

Kebijakan
Referensi
Langkah - Langkah

1. Anamnesis:
a. Pembengkakan kelenjar getah bening, demam, kehilangan
nafsu makan, keringat berlebihan, nadi cepat, kelemahan,
nyeri tenggorokan dan batuk bila disebabkan oleh infeksi
saluran pernapasan bagian atas, nyeri sendi bila disebabkan
oleh penyakit kolagen atau penyakit serum (serum sickness)
Faktor risiko: riwayat penyakit seperti tonsilitis yang disebabkan

oleh bakteri Streptokokus, infeksi gigi dan gusi yang disebabkan


oleh bakteri anaerob, riwayat perjalanan dan pekerjaan ke daerah
endemis penyakit tertentu, paparan terhadap infeksi / kontak
sebelumnya kepada orang dengan infeksi saluran nafas atas,
faringitis oleh Streptococcus atau dengan pasien TB turut
membantu mengarahkan penyebab limfadenopati.
2. Pemeriksaan fisik:

a. Pada infeksi rubela dan mononukleosis biasanya terdapat


pembesaran KGB leher bagian posterior (belakang).
Sedangkan pada infeksi virus biasanya terdapat pembesaran
KGB bilateral.
b. Pada infeksi bakteri terdapat nyeri tekan, kemerahan, dan
hangat pada perabaan.
c. Fluktuasi menandakan terjadinya abses.
d. Bila disebabkan keganasan tidak ditemukan tanda-tanda
peradangan tetapi teraba keras dan tidak dapat digerakkan
dari jaringan sekitarnya..
e. Pada infeksi oleh mikobakterium pembesaran kelenjar
berjalan mingguan-bulanan, walaupun dapat mendadak,
KGB menjadi fluktuatif dan kulit diatasnya menjadi tipis,
dan dapat pecah.
f. Adanya tenggorokan yang merah, bercak-bercak putih pada
tonsil, bintik-bintik merah pada langit-langit mengarahkan
infeksi oleh bakteri Streptococcus.
g. Adanya selaput pada dinding tenggorok, tonsil, langit-langit
yang sulit dilepas dan bila dilepas berdarah, pembengkakan
pada jaringan lunak leher (bull neck) mengarahkan kepada
infeksi oleh bakteri difteri.
h. Faringitis, ruam-ruam dan pembesaran limpa mengarahkan
kepada infeksi Epstein Barr Virus.
i. Adanya radang pada selaput mata dan bercak koplik
mengarahkan kepada campak.
Adanya bintik-bintik perdarahan (bintik merah yang tidak hilang
dengan penekanan), pucat, memar yang tidak jelas
j. penyebabnya,

disertai

pembesaran

hati

dan

limpa

mengarahkan kepada leukemia.


3. Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan skrining TB (BTA
sputum, LED, mantoux test). Laboratorium: darah perifer
lengkap.
PENATALAKSANAAN:

1. Pencegahan dengan menjaga kesehatan dan kebersihan badan


bisa membantu mencegah terjadinya berbagai infeksi.
2. Untuk membantu mengurangi rasa sakit, kelenjar getah bening
yang terkena bisa dikompres hangat.
3. Tata laksana pembesaran KGB leher didasarkan kepada
penyebabnya.
a. Penyebab oleh virus dapat sembuh sendiri dan tidak
membutuhkan pengobatan apa pun selain dari observasi.
b. Pengobatan pada infeksi KGB oleh bakteri (limfadenitis)
adalah antibiotik oral 10 hari dengan pemantauan dalam 2
hari pertama flucloxacillin 4x25 mg/kgBB. Bila ada reaksi
alergi terhadap antibiotik golongan penicillin dapat
diberikan cephalexin 3x25 mg/kg (sampai dengan 500 mg)
atau erythromycin 3x15 mg/kg (sampai 500 mg).
c. Bila penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis
maka diberikan obat anti tuberkulosis.
d. Biasanya jika infeksi telah diobati, kelenjar akan mengecil
secara perlahan dan rasa sakit akan hilang. Kadang-kadang
kelenjar yang membesar tetap keras dan tidak lagi terasa
lunak pada perabaan.
Kriteria rujukan: Kegagalan untuk mengecil setelah 4-6 minggu
dirujuk untuk mencari penyebabnya (indikasi untuk dilaksanakan
biopsi kelenjar getah bening), biopsi dilakukan bila terdapat tanda
dan gejala yang mengarahkan kepada keganasan, KGB yang
menetap atau bertambah besar dengan pengobatan yang tepat, atau
diagnosis belum dapat ditegakkan

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Virus


dengue memiliki 4 jenis serotype: DEN-1, DEN-2, DEN-3,
DEN-4. Infeksi salah satu serotype akan menimbulkan antibody
Pengertian

terhadap serotype yang bersangkutan, namun tidak untuk


serotype lainnya, sehingga seseorang dapat terinfeksi demam
dengue 4 kali selama hidupnya.

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan demam dengue dan demam berdarah dengue.


Kebijakan

Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan


sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis penyakit dalam.

Referensi
Langkah - Langkah

1. Faktor risiko: tinggal di daerah endemis dan padat


penduduknya,

pada

musim

panas

(28-32oC)

dan

kelembaban tinggi, sekitar rumah banyak genangan air.


2. Pemeriksaan fisik:
3. Tanda patognomonik untuk demam dengue: suhu >
37,5oC, ptekie, ekimosis, purpura, perdarahan mukosa,
rumple leed (+).
Tanda patognomonis untuk demam berdarah dengue:
suhu >

37,5oC, ptekie, ekimosis, purpura, perdarahan

mukosa,rumple leed (+), hepatomegali, splenomegali,

untuk mengetahui terjadi kebocoran plasma, diperiksa


tanda-tanda efusi pleura dan asites, hematemesis/melena.
4. Pemeriksaan Penunjang :
a. Leukosit: leukopenia (pada demam dengue)
b. Adanya bukti kebocoran plasma yang disebabkan
oleh peningkatan permeabilitas pembuluh darah pada
DBD dengan manifestasi peningkatan hematokrit
>20% dibandingkan standard sesuai usia dan jenis
kelamin dan/atau menurun >20% dibandingkan nilai
hematokrit sebelumnya setelah pemberian terapi
cairan.
c. Trombositopenia (trombosit <100.000/ml) (pada
DBD).
d. Pemeriksaan

kadar

trombosit

dan

hematokrit

dilakukan secara serial.


5. Penegakan diagnosis:
a. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari,
biasanya bifasik/ pola pelana
b. Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan
berikut

Rumple leed positif

Petekie, ekimosis atau purpura

Perdarahan mukosa atau perdarahan dari


tempat lain

Hematemesis atau melena

c. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ul)


d. Terdapat minimal satu tanda-tanda kebocoran plasma
sebagai berikut:

Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan


standard sesuai dengan umur dan jenis kelamin

Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat


terapi

cairan,

dibandingkan

hematokrit sebelumnya.

dengan

nilai

Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura,


asistes atau hipoproteinemia

6. Klasifikasi Derajat DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat


(pada setiap derajat sudah ditemukan trombositopenia
dan hemokonsentrasi):
a. Derajat I : Demam disertai gejala konstitusional yang
tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
ialah rumple leed test.
b. Derajat II : Seperti derajat I namun disertai
perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.
c. Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu
nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun
(20mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di
sekitar mulut, kulit dingin dan lembab.
d. Derajat IV : Syok berat, nadi tak teraba, tekanan
darah tidak terukur.
PENATALAKSANAAN:
4. Terapi

simptomatik

dengan

analgetik

antipiretik

(parasetamol 3 x 500-1000 mg).


5. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi. Alur penanganan
pasien dengan demam dengue/demam berdarah dengue,
yaitu:

6. Prinsip konseling pada demam berdarah dengue adalah


memberikan pengertian kepada pasien dan keluarganya
tentang perjalanan penyakit dan tata laksananya, sehingga
pasien

dapat

mengerti

bahwa

tidak

ada

obat/medikamentosa untuk penanganan DBD, terapi


hanya bersifat suportif dan mencegah perburukan
penyakit. Penyakit akan sembuh sesuai dengan perjalanan
alamiah penyakit.
7. Pencegahan dengan modifikasi gaya hidup antara lain
melakukan kegiatan 3M (menguras, mengubur, menutup),
meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi
makanan bergizi dan melakukan olahraga secara rutin.
Kriteria rujukan: terjadi perdarahan masif (hematemesis,
melena), dengan pemberian cairan kristaloid sampai dosis 15
ml/kg/ jam kondisi belum membaik, terjadi komplikasi atau
keadaan klinis yang tidak lazim, seperti kejang, penurunan
kesadaran, dan lainnya.

Malaria Merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik


yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang menyerang
Pengertian

eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual


dalam darah, dengan gejala demam, menggigil, anemia, dan
pembesaran limpa

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan malaria.
Kebijakan

Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan


sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis penyakit dalam

Referensi
Langkah - Langkah

1. Anamnesis:
a. Demam hilang timbul, pada saat demam hilang
disertai

dengan

menggigil,

berkeringat,

dapat

disertai dengan sakit kepala, nyeri otot dan


persendian, nafsu makan menurun, sakit perut, mual

muntah, dan diare (Trias Malaria: panasmenggigil


berkeringat).

b. Faktor

risiko:

Riwayat

menderita

malaria

sebelumnya, tinggal di daerah yang endemis


malaria, pernah berkunjung 1-4 minggu di daerah
endemic malaria, riwayat mendapat transfusi
darah.
2. Pemeriksaan fisik:
a. Pada periode demam: kulit terlihat memerah,
teraba panas,suhu tubuh meningkat dapat sampai
di atas 40oC dan kulit kering, pasien dapat juga
terlihat pucat, nadi teraba cepat, pernapasan cepat
(takipnea).
b. Pada periode dingin dan berkeringat: kulit teraba
dingin dan berkeringat, nadi teraba cepat dan
lemah, pada kondisi tertentu bisa ditemukan
penurunan kesadaran.
c. Kepala: konjungtiva anemis, sklera ikterik, bibir
sianosis,

dan

pada

malaria

serebral

dapat

ditemukan kaku kuduk.


Toraks: terlihat pernapasan cepat.
Abdomen: teraba pembesaran hepar dan limpa, dapat
juga ditemukan asites.
Ginjal:

bisa

ditemukan

urin

berwarna

coklat

kehitaman, oligouri atau anuria.


Ekstermitas: akral teraba dingin merupakan tandatanda menuju syok.
PENATALAKSANAAN:
1. Pengobatan malaria falsiparum:
a. Lini pertama: dengan Fixed Dose Combination (FDC,
terdiri dari Dihydroartemisinin (DHA) + Piperakuin
(DHP) tiap tablet mengandung 40 mg Dihydroartemisinin

dan 320 mg Piperakuin). Untuk dewasa dengan berat


badan:

BB 59 kg diberikan DHP 1x3 tablet/hari selama


3 hari dan Primakuin1x2 tablet/hari satu kali
pemberian.

BB >60 kg diberikan DHP 1x4 tablet/hari selama


3 hari dan Primaquin 1x3 tablet/hari satu kali
pemberian.

Dosis DHA = 2-4 mg/kgBB (dosis tunggal)


Dosis piperakuin = 16-32 mg/kgBB (dosis tunggal)
Dosis primakuin = 0,75 mg/kgBB (dosis tunggal).
b. Pengobatan malaria falsiparum yang tidak respon
terhadap pengobatan DHP: Lini kedua yaitu Kina +
Doksisiklin/
Tetrasiklin + Primakuin.
Dosis kina = 10 mg/kgBB/kali (3x/ hari selama 7
hari)
Dosis doksisiklin = 3,5 mg/kgBB per hari (dewasa,
2x/hr selama 7 hari), 2,2 mg/kgBB/hari (8-14 tahun,
2x/hr selama7 hari)
Dosis tetrasiklin = 4-5 mg/kgBB/kali (4x/hr selama 7
hari)
c. Pengobatan malaria vivax dan ovale:
1. Lini pertama: DHA + DHP, diberikan peroral satu
kali

per

hari

selama

hari,

primakuin=

0,25mg/kgBB/hari (selama 14 hari).


2. Pengobatan malaria vivax yang tidak respon terhadap
pengobatan

DHP:

Lini

kedua

yaitu

Kina

Primakuin.
Dosis kina = 10 mg/kgBB/kali (3x/hr selama 7 hari)
Dosis primakuin = 0,25 mg/kgBB (selama 14 hari)
3. Pengobatan malaria vivax yang relaps (kambuh):
Diberikan lagi regimen DHP yang sama tetapi dosis
primakuin ditingkatkan menjadi 0,5 mg/kgBB/hari.
Dugaan relaps pada malaria vivax adalah apabila
pemberian Primakuin dosis 0,25 mg/kgBB/hr sudah
diminum selama 14 hari dan penderita sakit kembali
dengan parasit positif dalam kurun waktu 3 minggu
sampai 3 bulan setelah pengobatan.

d. Pengobatan malaria malariae: Cukup diberikan DHP 1


kali/hari selama 3 hari
e. Pengobatan malaria pada ibu hamil
1. Trimester pertama: kina tablet 3x10mg/kgBB +
clindamycin 10mg/kgBB selama 7 hari.
2. Trimester kedua dan ketiga diberikan DHP selama
3 hari.
3. Pencegahan digunakan doksisiklin 1 kapsul 100
mg/hari diminum 2 hari sebelum pergi hingga 4
minggu

setelah

keluar/pulang

dari

daerah

endemis.
f. Pencegahan malaria dapat dilakukan dengan menghindari
gigitan

nyamuk

menghindari

dengan

kelambu

atau

repellen,

aktivitas di luar rumah pada malam hari, mengobati


pasien hingga sembuh misalnya dengan pengawasan
minum obat.
Kriteria rujukan: malaria berat, namun pasien
harus

terlebih

dahulu

diberi

dosis

awal

Artemisinin atau Artesunat IM/IV dengan dosis


awal 3,2mg /kg BB, malaria dengan komplikasi,
seperti malaria serebral, anemia berat, gagal ginjal
akut, edema paru atau acute respiratory distress
syndrome, hipoglikemia, syok, dll.

Pengertian

Leptospirosis adalah Penyakit infeksi yang menyerang manusia


disebabkan oleh mikroorganisme Leptospira interogans dan
memiliki manifestasi klinis yang luas. Spektrum klinis mulai dari
infeksi yang tidak jelas sampai fulminan dan fatal. Pada jenis

yang ringan, leptospirosis dapat muncul seperti influenza dengan


sakit kepala dan myalgia. Tikus adalah reservoir yang utama dan
kejadian leptospirosis lebih banyak ditemukan pada musim
hujan.
Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan leptospirosis
Kebijakan

Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan


sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis penyakit dalam.

Referensi
Langkah - Langkah

1. Anamnesis: Demam disertai menggigil, sakit kepala,


anoreksia, mialgia yang hebat pada betis, paha dan
pinggang disertai nyeri tekan. Mual, muntah, diare dan
nyeri

abdomen,

fotofobia,

penurunan

kesadaran.

Kemungkina meningkat jika ada riwayat bekerja atau


terpapar dengan lingkungan yang terkontaminasi dengan
air kencing tikus.
2. Pemeriksaan fisik: Febris, ikterus, nyeri tekan pada otot,
ruam kulit, limfadenopati, hepatomegali, splenomegali,
edemabradikardi relatif, konjungtiva suffusion, gangguan

perdarahan berupa petekie, purpura, epistaksis dan


perdarahan gusi, kaku kuduk sebagai tanda meningitis
Faktor risiko: individu yang aktif secara seksual, keadaan
imunodefisiensi.
3. Pemeriksaan penunjang:
a. Darah rutin: Jumlah leukosit antara 3000-26000/L,

dengan pergeseran ke kiri, trombositopenia yang


ringan terjadi pada 50% pasien dan dihubungkan
dengan gagal ginjal.
b. Urin rutin : Sedimen urin (leukosit, eritrosit, dan

hyalin atau granular) dan proteinuria ringan, jumlah


sedimen eritrosit biasanya meningkat.
1. Keluarga harus melakukan pencegahan leptospirosis
dengan menyimpan makanan dan minuman dengan baik
agar terhindar dari tikus, mencuci tangan dengan sabun
sebelum makan, mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh
lainnya

dengan

sabun

setelah

bekerja

di

sawah/kebun/sampah/tanah/selokan dan tempat tempat


yang tercemar lainnya. Selain itu menggunakan pakaian
khusus yang dapat melindunginya dari kontak dengan
bahan-bahan yang telah terkontaminasi dengan kemih
binatang reservoir.
2. Pengobatan suportif dengan observasi ketat untuk
mendeteksi

dan

mengatasi

keadaan

dehidrasi,

hipotensi,perdarahan dan gagal ginjal sangat penting pada


leptospirosis.
3. Pemberian antibiotik harus dimulai secepat mungkin.
Pada kasus-kasus ringan dapat diberikan antibiotika oral
seperti

doksisiklin,

ampisilin,

amoksisilin

atau

eritromisin. Pada kasus leptospirosis berat diberikan dosis


tinggi penicillin injeksi.
Kriteria rujukan: Jika timbul komplikasi seperti
meningitis, distress respirasi, gagal ginjal karena
renal interstitial tubular necrosis, gagal hati, atau
gagal jantung

Reaksi anafilaksis adalah Sindrom klinis akibat reaksi imunologis


(reaksi alergi) yang bersifat sistemik, cepat dan hebat yang dapat

Pengertian

menyebabkan gangguan respirasi, sirkulasi, pencernaan dan kulit.


Jika reaksi tersebut cukup hebat dapat menimbulkan syok yang
disebut sebagai syok anafilaktik. Syok anafilaktik membutuhkan
pertolongan cepat dan tepat

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan reaksi anafilaksis.


Kebijakan

Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan


sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis anestesi.

Referensi
Langkah - Langkah

1. Anamnesis:
a. Gejala klinik suatu reaksi anafilakis berbeda-beda
gradasinya sesuai berat ringannya reaksi antigenantibodi atau tingkat sensitivitas seseorang, namun
pada tingkat yang berat barupa syok anafilaktik
gejala yang menonjol adalah gangguan sirkulasi dan
gangguan respirasi. Semakin cepat reaksi timbul
makin berat keadaan penderita. Gejala respirasi dapat
dimulai berupa bersin, hidung tersumbat atau batuk
saja yang kemudian segera diikuti dengan sesak
napas.
b. Gejala pada kulit merupakan gejala klinik yang paling
sering ditemukan pada reaksi anafilaktik. Walaupun
gejala ini tidak mematikan namun gejala ini amat
penting

untuk

diperhatikan

sebab

ini

mungkin

merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala


yang lebih berat berupa gangguan nafas dan gangguan
sirkulasi. Oleh karena itu setiap gejala kulit berupa
gatal,

kulit

kemerahan

harus

diwaspadai

untuk

kemungkinan timbulnya gejala yang lebih berat.


c. Manifestasi dari gangguan gastrointestinal berupa perut

kram,mual,muntah sampai diare yang juga dapat


merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala
gangguan nafas dan sirkulasi.

2. Pemeriksaan fisik: Pasien tampak sesak, frekuensi napas


meningkat,

sianosis

bronkospasme.

karena

Hipotensi

edema

merupakan

laring
gejala

dan
yang

menonjol pada syok anafilaktik. Adanya takikardia,edema


periorbital, mata berair, hiperemi konjungtiva. Tanda
prodromal pada kulit berupa urtikaria dan eritema.
3. Penegakan diagnosis:
a. Kriteria pertama adalah onset akut dari suatu
penyakit (beberapa menit hingga beberapa jam)
dengan terlibatnya kulit, jaringan mukosa atau keduaduanya (misalnya bintik-bintik kemerahan pada
seluruh tubuh, pruritus, kemerahan, pembengkakan
bibir, lidah, uvula), dan salah satu dari respiratory
compromise (misalnya sesak nafas, bronkospasme,
stridor, wheezing, penurunan PEF, hipoksemia) dan
penurunan tekanan darah atau gejala yang berkaitan
dengan disfungsi organ sasaran (misalnya hipotonia,
sinkop, inkontinensia).
Kriteria kedua, dua atau lebih gejala berikut yang
terjadi secara mendadak setelah terpapar alergen
yang spesifik pada pasien tersebut (beberapa
menit hingga beberapa jam), yaitu keterlibatan
jaringan mukosa kulit; respiratory compromise;
b. penurunan tekanan darah atau gejala yang berkaitan;
dan gejala gastrointestinal yang persisten.
c. Kriteria ketiga yaitu terjadi penurunan tekanan darah
setelah
beberapa

terpapar
menit

pada
hingga

alergen

yang

beberapa

diketahui

jam

(syok

anafilaktik). Pada bayi dan anak-anak, tekanan darah


sistolik yang rendah (spesifik umur) atau penurunan
darah sistolik lebih dari 30%. Sementara pada orang
dewasa, tekanan darah sistolik kurang dari 90 mmHg
atau penurunan darah sistolik lebih dari 30% dari
tekanan darah awal
PENATALAKSANAAN:
1. Keluarga

perlu

diberitahukan

mengenai

konsumsi/penyuntikan obat-obat yang telah dilaporkan


bersifat antigen dan

harus selalu waspada untuk

timbulnya reaksi anafilaktik. Penderita yang tergolong


risiko tinggi (ada riwayat asma, rinitis, eksim, atau
penyakit-penyakit alergi lainnya) harus lebih diwaspadai
lagi. Jangan mencoba mengkonsumsi/menyuntikkan obat
yang sama bila sebelumnya pernah ada riwayat alergi
betapapun kecilnya.
2. Posisi trendeleburg atau berbaring dengan kedua tungkai
diangkat (diganjal dengan kursi) akan membantu
menaikkan venous return sehingga tekanan darah ikut
meningkat.
3. Pemasangan infus, cairan plasma expander (Dextran)
merupakan pilihan utama guna dapat mengisi volume
intravaskuler secepatnya. Jika cairan tersebut tak tersedia,
Ringer Laktat atau NaCl fisiologis dapat dipakai sebagai
cairan pengganti. Pemberian cairan infus sebaiknya
dipertahankan sampai tekanan darah kembali optimal dan
stabil.
4. Algoritma penatalaksanaan reaksi anafilaksis (lihat
gambar).

5. Kriteria rujukan: Kegawatan pasien ditangani, apabila


dengan penanganan yang dilakukan tidak terdapat
perbaikan, pasien dirujuk ke layanan sekunder.

Pengertian

Tujuan

Sebagai pedoman dalam pemeriksaan dan penanganan ulkus


pada tungkai.

Kebijakan

Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan


sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis bedah dan dokter spesialis penyakit dalam,
tergantung etiologi

Referensi
Langkah - Langkah

Penatalaksanaan dilakukan tergantung penyebab ulkus:

Diabetes melitus
-

Rawat luka terbuka

Kontrol gula darah

Menggunakan kaos kaki dan sepatu tertutup

Menggunakan sepatu khusus.

Gangguan vena
-

Rawat luka terbuka

Elevasi tungkai bawah

Kompresi dengan menggunakan stoking atau perban

Ulkus dekubitus

Lakukan perubahan posisi minimal setiap 2 jam sekali

Setiap bagian yang menonjol harus diberikan padding

Memberikan farmakoterapi:
-

Obat analgetik

Obat antiinflamasi

Obat antibiotik

Kriteria Rujukan
Pasien memiliki penyakit komormid yang tidak
dapat ditangani oleh dokter umum.

Lipoma adalah tumor jinak jaringan lemak yang berada di bawah


Pengertian

kulit yang tumbuh lambat, berbentuk lobul massa lunak yang


dilapisi oleh pseudokapsul tipis berupa jaringan fibrosa

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan lipoma.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis bedah.

Referensi
Langkah - Langkah

Anamnesis:
a. Keluhan benjolan di kulit tanpa disertai nyeri. Biasanya
asimptomatik, hanya dikeluhkan timbulnya benjolan
yang membesar perlahan dalam waktu yang lama. Bisa
menimbulkan gejala nyeri jika tumbuh dengan menekan
saraf. Untuk tempat predileksi seperti di leher bisa
menimbulkan keluhan menelan dan sesak.
b. Faktor risiko: adiposisdolorosis, riwayat keluarga dengan
lipoma, usia menengah dan usia lanjut.
2. Pemeriksaan fisik:

Keadaan umum pasien tampak sehat bisa sakit ringan


sampai dengan sedang.
a. Pada kulit ditemukan benjolan, terlihat pucat, teraba
empuk, bergerak jika ditekan, ukuran diameter <6 cm,
pertumbuhan sangat lama.
PENATALAKSANAAN:
4. Biasanya lipoma tidak perlu dilakukan tindakan apapun.
5. Indikasi untuk dilakukan pembedahan (eksisi) antara lain
kosmetika.
6. Obat analgetik dapat diberikan bila pasien merasa nyeri.
7. Kriteria rujukan:
a. Ukuran massa >6 cm dengan pertumbuhan yang
cepat.
b. Ada gejala nyeri spontan maupun tekan.
Predileksi di lokasi yang berisiko bersentuhan
dengan pembuluh darah atau saraf.

Veruka velgaris adalah disebut juga common warts, merupakan

Pengertian

penyakit infeksi virus pada kulit yang disebabkan oleh Human


Papiloma Virus (HPV) tipe 2 dan 4, ditandai dengan adanya papul,
nodul, atau plak keratotik berbatas tegas.

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosis dan memberikan terapi pada


veruka vulgaris.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - Langkah
1. Anamnesis: papul atau plak permukaan kasar pada jari-jari dan
punggung tangan.
2. Pemeriksaan fisik:
a. Lokasi: jari-jari dan punggung tangan, daerah periungual,
kadang-kadang timbul di mukosa oral.
b. Lesi dapat soliter maupun multipel berupa papul atau plak
sewarna dengan kulit normal atau hiperpigmentasi dengan
permukaan kasar dan berskuama Pemberian obat topikal

seperti asam salisilat konsentrasi

hingga 40%, podofilin

10-25%, 5-Fluorourasil.
c. Dapat dilakukan tindakan pembedahan seperti krioterapi
menggunakan nitrogen cair, CO2; elektrokauter; atau laser
CO2

Moloskum kontagiosum adalah Penyakit yang disebabkan oleh


virus poks, yang menginfeksi sel epidermal. Secara klinis, lesi
tampak sebagai papul yang berbentuk kubah dengan permukaan
Pengertian

halus dan seringkali terdapat umbilikasi. Penularan melalui


kontak langsung dengan agen penyebab. Pada orang dewasa,
penyakit ini digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan
seksual.

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan moluskum kontagiosum.


Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - Langkah

1.

Anamnesis:
a. Kelainan

kulit

berupa

papul

miliar

diskret,

mengkilat, sewarna kulit atau berwarna merah

muda. Masa inkubasi berlangsung satu sampai


beberapa minggu.

b. Lokasi predileksi: daerah muka, badan, dan


ekstremitas; pada orang dewasa di daerah pubis dan
genitalia eksterna.

c. Jika moluskum mengenai kelopak mata (jarang


terjadi), dapat terjadi konjungtivitis kronis.
Faktor risiko: keadaan imunodefisiensi

2.

Pemeriksaan fisik: Papul miliar, kadangkadang lentikular dan berwarna putih seperti lilin,
berbentuk kubah yang kemudian di tengahnya terdapat
lekukan (delle). Jika dipijat akan tampak keluar massa
yang berwarna putih seperti nasi. Kadang-kadang
dapat timbul infeksi sekunder sehingga timbul
supurasi.

PENATALAKSANAAN:
3. Penderita

diberitahu

untuk

selalu

menjaga

kebersihan kulit.
4. Topikal: krim podofilin resin 10%-25%; asam
salisilat 25-35%; krim tretinoin 0,05-0,1%.
5. Sistemik: cimetidine 40 mg/kgBB/hari.
6. Pembedahan:

anestesi

topikal

dengan

krim

lidokain 2,5% dan prilokain 2,5% selam 1-2 jam


sebelum

tindakan

lalu

dilakukan

kuretase/ekskoleasi atau krioterapi atau insisi.


7. Kriteria rujukan:
a. Tidak ditemukan badan moluskum
b. Terdapat penyakit komorbiditas yang terkait

dengan kelainan hematologi


c. Pasien HIV/AIDS
Unit terkait

KIA dan BP

Herpes Zoster Penyakit infeksi kulit vesikobulosa akut yang


Pengertian

disebabkan oleh virus varisela zoster, merupakan reaktivasi dari


virus laten pada individu yang sebelumnya telah terinfeksi, biasa
bersifat lokal

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosis dan memberikan terapi


pada herpes zoster
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan

Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin

Referensi
1. Asiklovir 800 mg 5 kali sehari selama 7-10 hari (dewasa).
2. Asiklovir 200 mg 4-5 kali sehari (anak-anak)
3. Pemberian anti nyeri atau penurun panas atau obat untuk
mengurangi rasa gatal pada periode masa penyembuhan.
Langkah - Langkah
4. Antibiotik diberikan bila ada infeksi sekunder, misalnya
kulit menjadi bernanah atau terkelupas.
5. Pada mata, berikan tetes mata kloramfenikol sebagai
preventif dan pengobatan infeksi bakteri.
Unit terkait

BP

Morbili adalah Penyakit infeksi virus akut yang bermanifestasi


Pengertian

dalam 3 stadium yaitu stadium kataral, erupsi dan konvalens.


Penyebab penyakit campak adalah virus campak atau morbili.
Pada awalnya, gejala campak agak sulit dideteksi

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosis dan memberikan terapi


pada campak.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan

Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis anak atau penyakit dalam.

Referensi
1.

Bila campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah.


Kalau campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi
maka harus dirawat di rumah sakit.

2.

Anak campak perlu dirawat di tempat tersendiri agar


tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi
jika terdapat bayi di rumah yang belum mendapat
imunisasi campak.

3.

Beri pasien asupan makanan bergizi seimbang dan cukup


untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya

Langkah - Langkah

harus mudah dicerna karena anak campak rentan terjangkit


infeksi lain seperti radang tenggorokan, flu atau lainnya.
Masa rentan ini masih berlangsung 1 bulan setelah sembuh
karena daya tahan tubuh pasien yang masih lemah.
4.

Pengobatan secara simtomatik sesuai dengan gejala yang


ada.Pemberian fortivikasi vitamin A 50.000 UI untuk anak
<6 bulan, 100.000 UI untuk anak 6-11 bulan, 200.000 UI
untuk anak 12 bulan 5 tahun, untuk mempercepat proses
penyembuhan. Untuk pasien dengan gizi buruk diberikan
vitamin A 3x

Unit terkait

MTBS

Pengertian

Varisela adalah penyakit menular pada anak-anak, kadang pada


orang dewasa, disebabkan oleh infeksi primer virus kelompok
DNA yaitu virus varisela zoster, bersifat akut dan generalisata,
dengan penularan terjadi melalui kontak langsung dan droplet
dari penderita

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan varisela
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin, atau anak

Referensi
1. Simtomatis: Parasetamol bila demam sangat tinggi.
2. Pasien tetap mandi. Kalium permanganat dan antiseptik
lain tidak dianjurkan.
3. Beri bedak salisil 2%. Usahakan agar vesikel tidak pecah
dan mengalami infeksi sekunder.
Langkah - Langkah
4. Bila ada infeksi sekunder, berikan amoksisilin per oral
2550 mg/kgBB/hari atau eritromisin 20-50 mg/kgBB.
5. Obat antivirus bermanfaat bila diberikan <24 jam setelah
timbulnya kelainan kulit. Dosis asiklovir:
dewasa: 5 x 800 mg sehari selama 7 hari.
bayi dan anak: 4 x 20-40 mg/kgBB (maksimal 800 mg/hari)
Unit terkait

BP & MTBS

Pengertian

Infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I


atau tipe II, yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok
di atas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah
mukokutan. Penularan melalui kontak langsung dengan agen
penyebab.

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

penanganan herpes simpleks.

mendiagnosa

dan

memberikan

Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan


Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
1. Terapi diberikan dengan antiviral, antara lain: asiklovir
5x200 mg/hari atau valasiklovir, dosis 2x500 mg/hari
selama 7-10 hari.
2. Gejala prodromal diatasi sesuai dengan indikasi. Aspirin
dihindari oleh karena dapat menyebabkan Reyes
syndrome.
3. Konseling dan edukasi untuk herpes genitalis ditujukan
terutama terhadap pasien dan pasangannya, yaitu berupa:
a. Informasi perjalanan alami penyakit ini, termasuk
informasi

bahwa

penyakit

ini

menimbulkan

rekurensi.
b. Tidak melakukan hubungan seksual ketika masih ada

Langkah - Langkah

lesi atau gejala prodromal.


c. Pasien

sebaiknya

memberi

informasi

kepada

pasangannya bahwa dia memiliki infeksi HSV.


d. Transmisi

seksual

dapat

terjadi

pada

masa

asimtomatik.
e. Kondom yang menutupi daerah yang terinfeksi, dapat
menurunkan

risiko

transmisi

dan

sebaiknya

digunakan dengan konsisten.


4. Kriteria rujukan:
a. Penyakit tidak sembuh pada 7-10 hari setelah terapi.
b. Terjadi pada pasien bayi dan geriatrik
(immunocompromise).
c. Terjadi komplikasi.
Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka

Unit terkait

BP

Pengertian

Impetigo krustosa Suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh


infeksi bakteri (sebagian besar karena infeksi Staphylococcus
aureus, sebagian kecil karena infeksi Streptococcus hemolyticus group A) yang ditandai dengan adnya lesi berupa
krusta berwarna kuning seperti madu.

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosis dan memberikan terapi


pada impetigo krustosa
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan

Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - Langkah
1.

Anamnesis:
a. Lesi

berupa

bercak

atau

beruntus

berwarna

kemerahan berukuran 1-2 mm yang berkembang


menjadi gelembung berisi cairan jernih atau nanah,
kemudian gelembung akan pecah, mengeluarkan
cairan berwarna kuning keruh, selanjutnya akan
mengering membentuk keropeng berwarna kuning
seperti madu. Kelainan kulit dapat bertambah besar
sampai berdiameter >2 cm
b. Tempat predileksi pada daerah sekitar lubang lami
tubuh pada wajah (sekitar hidung tau mulut) dan
daerah yang terkena trauma atua gesekan atau terkena
gigitan nyamuk
2.

Pemeriksaan fisik:
d. Pada tempat predileksi dijumpai krusta berwarna
kuning seperti madu. Apabila krusta diangkat akan
meninggalkan permukaan kulit yang halus, berwarna
merah, dan lunak serta akan terbentuk eksudat.
e. Pada 90% penderita yang lama tidak diobati, dapat
terjadi limfadenopati regional.

PENATALAKSANAAN:
1. Penerapan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan.
2. Pada krusta yang tebal dan melekat dilakukan kompres
terlebih dahulu untuk mengangkat krusta, kemudian
dioleskan antibiotik topikal (mupirosin 2% dan asam
fusidat) sebanyak 2-3 kali sehari selam 5-7 hari.

3. Antibiotik oral diberikan untuk pasien yang tidak


memperlihatkan respon terhadap pemberian antibiotik
topikal, impetigo berulang, atau disertai gejala sistemik.
Pilihan terapi:
a. Dikloksasilin 4x250-500 mg selama 5-7 hari
b. Amoksisilin + asam klavulanat 3x625 mg selama 10
hari
c. Azitromisin 500 mg pada hari pertama, dilanjutkan
250 mg setiap hari selama 4 hari.
d. Eritromisin 4x250-500 mg selama 5-7 hari
Klindamisin 15 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi 34x sehari selam 10 hari.
Unit terkait

BP

Pengertian

Suatu penyakit yang menginvasi epidermis dan menyebabkan


terbentuknya ulkus yang dangkal.

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan ektima.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
Langkah - Langkah
1.

Anamnesis:
a. Lesi awal berupa vesikel atau vesikopustul dengan
dasar yang mengalami peradangan, kemudian terjadi
penimbunan krusta yang menutupi daerah erosi di
bawahnya. Pembentukan krusta terjadi cepat lalu
mengering,

keras,

dan

sangat

lengket.

Pada

penyembuhan terjadi sikatrisasi yang biasanya terjadi


dalam beberapa minggu.
b. Pada umumnya mengenai anak-anak, disebabkan
oleh seringnya terjadi trauma.
Predileksi biasanya pada tungkai bawah (ulkus
rekuren yang disebabkan trauma) dan area yang
terkena gigitan serangga atau garukan (terutama bila
daerah tersebut kotor).
2.

Pemeriksaan fisik: Ulkus dengan


lesi berupa punched out dengan krusta berwarna abu
kekuningan dan terdapat cairan purulen. Tepi ulkus
teraba mengeras, meninggi, dan terlihat keunguan.

PENATALAKSANAAN:
1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan

kulit dan mencegah terjadinya trauma.


2. Kompres hangat atau sabun yang lembut kemudian dicuci
menggunakan air dapat melunakkan dan mengangkat
debris. Pengangkatan krusta diikuti denga pemberian
antibioti topikal.
Pilihan untuk terapi oral: eritromisin 4x250-500 mg
atau dikloksasilin 4x250-500 mg.
Unit terkait

BP

Pengertian

Folikulitis Peradangan folikel rambut yang ditandai dengan papul


eritema perifolikuler dan rasa gatal atau perih.

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan folikulitis.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
Langkah - Langkah
1. Anamnesis: Beruntus atau berruntus isi nanah yang terasa
gatal atau perih
2. Pemeriksaan fisik:
a. Lesi berupa papul atau pustul kecil multipel
dengan dasar eritem yang bagian tengahnya
dilalui oleh rambut.
b. Predileksi yaitu pada daerah berambut atau daerah
yang mudah terkena gesekan dan maserasi
misalnya bokong, wajah, kulit kepala, aksila, dan
sekitar pinggang.
c. Predisposisi pada individu dengan hygiene buruk.
PENATALAKSANAAN:

1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan


kulit.
a. Faktor predisposisi dihilangkan, misalnya hygiene
yang buruk, diet yang tidak seimbang, infeksi
piogenik dalam keluarga, dan obesitas
2. Pengunaan

sabun

batang

yang

mengandung

zat

antibakteri dapat menekan timbulnya flora transien.


3. Drug of choice: penisilin (dikloksasililn 4-6x250 mg pada
dewasa).
4. Penderita yang alergi penisilin dapat diberikan golongan
sefalosporin, klindamisin, trimetropim-sulfomethoxazole,
minocycline, atau linezolid.
Unit terkait

BP

1. Furunkel: Infeksi yang berasal dari folikel rambut, dapat


berasal dari folikulitis atau dari suatu nodul yang terletak
Pengertian

Tujuan

lebih dalam.
2. Karbunkel lebih besar dari furunkel, terletak lebih dalam,
dan mempunyai beberapa muara pada permukaannya.
Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan furunkel dan karbunkel


Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
Langkah - Langkah
1. Anamnesis:
c. Lesi berupa nodul, menjadi lunak dalam waktu 2-4
hari, kemudian terjadi fluktuasi, kulit menjadi tipis
pada bagian atas lesi dan berwarna kekuningan pada
puncaknya,

setelah

itu

terjadi

ruptur

yang

mengeluarkan cairan berisi jaringan nekrotik, dan


terasa nyeri.

d. Karbunkel lebih besar dari furunkel, terletak lebih


dalam, dan mempunyai beberapa muara pada
permukaannya. Lesi terasa sangat nyeri. Dapat timbul
febris dan malaise.Predileksi yaitu pada daerah
berambut atau daerah yang mudah terkena gesekan
dan maserasi misalnya bokong, leher, wajah, aksila,
dan sekitar ikat pinggang.
e. Predisposisi pada individu dengan hygiene buruk.
f. Furunkel dapat merupakan komplikasi dari berbagai
penyakit kulit dengan infeksi sekunder, misalnya
pedikulosis, skabies, ekskoriasi.
g. Dapat merupakan komplikasi dari penyakit sistemik,
termasuk diabetes, obesitas, kelainan hematologi,
kaheksia, dan malnutrisi.
4. Pemeriksaan fisik:
a. Furunkel: berupa nodul kemerahan pada kulit
berambut yang berkembang dari suatu folikulitis,
teraba keras, lunak.
b. Karbunkel: daerah yang terkena tampak kemerahan
dan mengalami indurasi, pada permukaan tampak
pustula multipel, terdapat muara saluran keluar
sekitar folikel rambut. Pada penyembuhan dapat
terjadi jaringan parut. Furunkulosis merupakan
penyakit yang sangat rekuren dan kronis.
PENATALAKSANAAN:
1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan
kulit.

2. Faktor predisposisi dihilangkan, misalnya diabetes,


hygiene yang buruk, trauma okupasi, paparan kulit
terhadap hidrokarbon, diet yang tidak seimbang, infeksi
piogenik

dalam

keluarga,

obat-obatan

(halogen),

hiperhidrosis, dan obesitas.


3. Pengunaan

sabun

batang

yang

mengandung

zat

antibakteri dapat menekan timbulnya flora transien atau


daerah yang terpapar dioles dengan alohol 70% selama 12 menit setiap hari.
4. Kompres hangat dapat membantu penyembuhan lesi, lalu
dapat diberikan antibiotik topikal (bila hanya terdapat 1
buah

atau

beberapa

furunkel)

untuk

mencegah

pembetukan lesi baru.


5. Drug of choice: penisilin (dikloksasililn 4-6x250-750 mg
pada dewasa.
6. Penderita

yang

alergi

penisilin

dapat

diberikan

klindamisin (4x150-300 mg) atau eritromisin (4x250-500


mg).
7. Insisi merupakan alternatif terakhir terutama ditujukan
untuk penangan karbunkel.
8. Pengeluaran paksa atau insisi yang terlalu dini pada
furunkel merupakan tindakan yang berbahaya. Lesi
ditunggu sampai membentuk pus pada puncaknya, baru
kemudian dapat dikeluarkan lalu dilakukan drainase.
Meskipun demikian, furunkel dapat menyembuh sendiri
tanpa dilakukan tindakan ataupun pemberian antibiotik.
Unit terkait

BP

Pengertian

Penyakit infeksi kronis superfisial pada area intertriginosa kulit,


biasa disebabkan oleh infeksi Corynebacterium minutissimum

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan eritrasma
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
Langkah - Langkah
Anamnesis:
a. Terdapat keluhan bercak merah-kecoklatan pada
kulit

di

daerah

lipatan,

yang

seringkali

asimtomatik atau dapat pula terasa gatal, yang


telah berlangsung lama (beberapa bulan bahkan
menahun)
b. Faktor predisposisi: keringat berlebih, sawar kulit
yang

terganggu,

udara

yang

panas/lembap,

obesitas, diabetes, hygiene yang buruk, usia tua,


atau keadaan immunocompromise.
2. Pemeriksaan fisik:
Pemeriksaan secara teliti semua area lipatan tubuh serta
bagian kaki, karena eritrasma seringkali berhubungan
dengan infeksi corynebacterium yang lain, yaitu pitted
keratolysisatau trychomycosis axillaris.
a. Sering bersamaan dengan pitiriasis vesikolor atau
seboroik dermatitis.
b. Tampak lesi berupa makula atau plak eritemakecoklatan berbatas tegas, dengan skuama halus.
Predileksi terutama di medial tungkai atas, regio
kruris (lipat paha, skrotum), dan sela jari kaki
(terutama di interdigital 4-5, seringkali berupa
maserasi).
PENATALAKSANAAN:
1. Memperbaiki keadaan umum dan mengobati penyakit
yang mendasarinya.

2. Meningkatkan status hygiene dan menjaga agar daerah


lipatan tetap kering.
3. Obat topikal, seperti krim/gel eritromisin 2%, krim asam
fusidat 2%, atau krim ketokonazol, dapat diberikan.
4. Drug of choice: eritromisin 4x250 mg selama 7-14 hari.
5. Lain-lain: golongan penisilin, sefalosoprin, makrolide
Unit terkait

Pengertian

BP

Selulitis (infeksi pada dermis dan subkutis disertai dengan


limfangitis dan adenopati) superfisial yang edematus, kecoklatan,
infiltratif berupa plak yang berbatas tegas berkembang dan
menyebar ke sekelilingnya.

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan erisipelas
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
Langkah - Langkah
Anamnesis:
a. Proses

berlangsung

cepat

disertai

dengan

timbulnya demam, malaise, dan gejala toksik


umum. Pada beberapa kasus vesikel dan bula
dapat terbentuk pada permukaan kulit yang
eritematus dan terjadi infeksi yang lebih berat,
dapat mengenai secara luas.
b. Ersipelas dapat berasal dari suatu luka, ulkus,
pustula, dan kondisi lainnya yang menyebabkan
kolonisasi bakteri Streptococcus -hemolyticus.
c. Predileksi yaitu wajah dan kulit berambut, tapi
lesi dapat terjadi di mana saja terutama pada
tangan dan genitalia.
d. Faktor predisposisi: kaheksia, diabetes, malnutrisi,
Atau keadaan yang menyebabkan penurunan daya
tahan tubuh terutama bila dihubungkan dengn
hygiene yang buruk.
2. Pemeriksaan fisik: Biasanya ditemukan edema yang
kecoklatan. Komplikasi lain dari erisipelas yang menetap
dapat berupa pembengkakan yang menetap pada bibir,
pipi, atau tempat lainnya, disebut juga dengan elefantiasis
nostras. Lesi teraba panas dan tampak merah terang, tidak

tampak central clearing, berbatas tegas.


PENATALAKSANAAN:
1. Penderita harus diberitahu tentang cara tirah baring:
bagian yang terkena harus diimobilisasi dan diangkat.
2. Bila terdapat bula kompres basah dan dingin.
3. Drug of choice: penisilin prokain 2x600.000 IU/hari atau
penisilin V 4x500 mg
4. Pilihan obat lain: eritromisin 4x250-500 mg.
Unit terkait

BP

Pengertian

Penyakit tuberkulosis yang mengenai kulit akibat penyebaran


langsung dari proses tuberkulosis di bawahnya (pada umumnya
sekunder dari limfadenitis tuberkulosis).

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan skrofuloderma
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - Langkah

1.
a. Adanya

nodul

Anamnesis:
subkutan (cold

abscess)

yang

mengalami supurasi dan akhirnya terbentuk ulkus


disertai saluran sinus pada kulit di atasnya yang
mengeluarkan sekret encer, jernih, atau purulen.
b. Terjadi kaena adanya penyebaran proses tuberkulosis
ke kulit yang berasal dari proses tuberkulosis di
tempat lain, sering berasal dari kelenjar limfe
servikal,

tuberkulosis

pada

tulang

dan

sendi,

epididimitis tuberkulosis, atau setelah vaksinasi


BCG.
c. Bisa mengenai semua umur.
d. Paling sering terjadi di daerah parotid, submandibula,

supraklavikula, atau leher bagian lateral.


2.

Pemeriksaan fisik:
a. Ditemukan tanda-tanda tuberkulosis pada organ
lain.
b. Ulkus

berbentuk

linear

atau

serpiginosa,

menggaung, tepi livid menimbul, kenyal, dengan


dasar berupa jaringan granulasi. Dapat ditemukan
sistem sinusoid di bawah kulit. Jaringan parut
yang terbentuk menyerupai jembatan jaringan
atau cordlike scar di atas kulit normal.
PENATALAKSANAAN:
1. Memperbaiki keadaan umum pasien dan mengobati
penyakit yang mendasarinya.
2. Perawatan luka dengan kompres.
3. Pengobatan

spesifik

yaitu

obat

anti

tuberkulosis

berdasarkan program nasional pencegahan TB di


Indonesia.
Unit terkait

BP

Penyakit menular, menahun dan disebabkan oleh Mycobacterium


leprae yang bersifat intraselular obligat. Penularan kemungkinan
Pengertian

terjadi melalui saluran pernapasan atas dan kontak kulit pasien


>1 bulan terus menerus. Masa inkubasi rata-rata 2,5 tahun,
namun dapat juga bertahun-tahun.

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan lepra.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
Langkah - Langkah

1.

Anamnesis:

a. Bercak kulit berwarna merah atau putih berbentuk plakat,

terutama di wajah dan telinga. Bercak kurang/mati rasa,


tidak gatal. Kelainan kulit tidak sembuh dengan
pengobatan rutin, terutama bila terdapat keterlibatan saraf
tepi.
b. Faktor risiko: sosioekonomi rendah, k ontak lama dengan

pasien, seperti anggota keluarga yang didiagnosis dengan


lepra, immunocompromise, tinggal di daerah endemik
lepra.
2.

Pemeriksaan fisik (tanda patognomonis):


c. Tanda-tanda pada kulit: perhatikan setiap bercak,
bintil (nodul), plakat dengan kulit mengkilat atau
kering bersisik. Kulit tidak berkeringat dan berambut.
Terdapat baal pada lesi kulit.
d. Tanda-tanda pada saraf: penebalan nervus perifer,
nyeri tekan dan atau spontan pada saraf, kesemutan,
tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota gerak,
kelemahan anggota gerak dan atau wajah, adanya
deformitas, ulkus yang sulit sembuh.
e. Ekstremitas dapat terjadi mutilasi

3. Pemeriksaan

penunjang:

pemeriksaan

mikroskopis

kuman BTA pada sediaan kerokan jaringan kulit.


4. Klasifikasi:

PENATALAKSANAAN:
8. Pasien diberikan informasi mengenai kondisi pasien saat
ini,

serta

mengenai

pengobatan

serta

pentingnya

kepatuhan untuk eliminasi penyakit.


9. Higiene diri dan pola makan yang baik perlu dilakukan.
10. Pasien dimotivasi untuk memulai terapi hingga selesai
terapi
dilaksanakan.
11. Terapi menggunakan Multi Drug Therapy (MDT) pada:
a. Pasien yang baru didiagnosis kusta dan belum pernah
mendapat MDT.
b. Pasien ulangan, yaitu pasien yang mengalami: relaps,
masuk kembali setelah default (dapat PB maupun
MB), pindahan, ganti klasifikasi/tipe.
12. Terapi pada pasien PB:
a. Pengobatan bulanan: hari pertama setiap bulannya
(obat diminum di depan petugas) terdiri dari: 2
kapsul rifampisin @ 300mg (600mg) dan 1 tablet
dapson/DDS 100 mg.
b. Pengobatan harian: hari ke 2-28 setiap bulannya: 1
tablet dapson/DDS 100 mg. 1 blister obat untuk 1
bulan.
c. Pasien minum obat selama 6-9 bulan ( 6 blister).
d. Pada anak 10-15 tahun, dosis rifampisin 450 mg, dan
DDS 50 mg.
13. Terapi pada Pasien MB:
a. Pengobatan bulanan: hari pertama setiap bulannya
(obat diminum di depan petugas) terdiri dari: 2

kapsul rifampisin @ 300mg (600mg), 3 tablet


lampren (klofazimin) @ 100mg (300mg) dan 1 tablet
dapson/DDS 100 mg.
b. Pengobatan harian: hari ke 2-28 setiap bulannya: 1
tablet lampren 50 mg dan 1 tablet dapson/DDS 100
mg. 1 blister obat untuk 1 bulan.
c. Pasien minum obat selama 12-18 bulan ( 12 blister).
d. Pada anak 10-15 tahun, dosis rifampisin 450 mg,
lampren 150 mg dan DDS 50 mg untuk dosis
bulanannya, sedangkan dosis harian untuk lampren
50 mg diselang 1 hari.
14. Dosis MDT pada anak <10 tahun: Rifampisin: 10-15
mg/kgBB; Dapson: 1-2 mg/kgBB; Lampren: 1 mg/kgBB.
15. Obat penunjang (vitamin/roboransia) dapat diberikan
vitamin B1, B6, dan B12.
16. Tablet MDT dapat diberikan pada pasien hamil dan
menyusui. Bila pasien juga mengalami tuberkulosis,
terapi rifampisin disesuaikan dengan tuberkulosis.
17.

Untuk pasien yang alergi dapson, dapat diganti dengan


lampren, untuk MB dengan alergi, terapinya hanya 2 macam obat
(dikurangi DDS).

18.

Terapi untuk reaksi kusta ringan, dilakukan dengan


pemberian prednison dengan cara pemberian:
a. 2 Minggu pertama 40 mg/hari (1x8 tab) pagi hari
sesudah makan

b. 2 Minggu kedua 30 mg/hari (1x6 tab) pagi hari


sesudah makan
c. 2 Minggu ketiga 20 mg/hari (1x4 tab) pagi hari
sesudah makan
d. 2 Minggu keempat 15 mg/hari (1x3 tab) pagi hari
sesudah makan
e. 2 Minggu kelima 10 mg/hari (1x2 tab) pagi hari
sesudah makan
f. 2 Minggu Keenam 5 mg/hari (1x1 tab) pagi hari
sesudah makan
19.

Rencana tindak lanjut:


a. Setiap petugas harus memonitor tanggal pengambilan
obat.
b. Bila terlambat, paling lama dalam 1 bulan harus
dilakukan pelacakan.
c. Release From Treatment (RFT) dapat dinyatakan
setelah dosis dipenuhi tanpa diperlukan pemeriksaan
laboratorium.
d. Pasien yang sudah RFT namun memiliki faktor
risiko: cacat tingkat 1 atau 2, pernah mengalami
reaksi, BTA pada awal pengobatan >3 (ada nodul
atau infiltrate), maka perlu dilakukan pengamatan
semi-aktif.
e. Pasien PB yang telah mendapat pengobatan 6 dosis
(blister) dalam waktu 6-9 bulan dinyatakan RFT,
tanpa harus pemeriksaan laboratorium.
f. Pasien MB yang telah mendapat pengobatan MDT 12
dosis (blister) dalam waktu 12-18 bulan dinyatakan
RFT, tanpa harus pemeriksaan laboratorium.
g. Default: Jika pasien PB tidak mengambil/minum
obatnya >3 bulan dan pasien MB >6 bulan secara
kumulatif

(tidak

menyelesaikan

mungkin

pengobatan

baginya

sesuai

waktu

untuk
yang

ditetapkan), maka yang bersangkutan dinyatakan


default. Pasien defaulter tidak diobati kembali bila
tidak terdapat tanda-tanda klinis aktif. Namun jika
memiliki tanda-tanda klinis aktif (eritema dari lesi
lama di
kulit/ ada lesi baru/ ada pembesaran saraf yang baru).
Bila default lebih dari 2 kali, perlu dilakukan
tindakan dan penanganan khusus.
20.

Kriteria rujukan
a. Terdapat efek samping obat yang serius.
b. Reaksi kusta dengan kondisi:

ENL melepuh, pecah (ulserasi), suhu tubuh


tinggi, neuritis.

Reaksi tipe 1 disertai dengan bercak ulserasi atau


neuritis.

Reaksi yang disertai komplikasi penyakit lain yang berat,


misalnya hepatitis, DM, hipertensi, dan tukak lambung
berat.
Unit terkait

BP

Infeksi oleh T.pallidum berkembang melalui 4 tahapan :


1. Fase primer
Pengertian

2. Fase Sekunder
3. Fase Laten
4. Fase Tersier

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosis dan memberikan terapi


pada sifilis.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan

Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - Langkah
1.

Obat pilihan : benzatin penisillin G dengan


dosis tergantung stadium :
a. Stadium I dan II : 4,8 juta IU
b. Stadium laten : 7,2 juta IU
Cara : injeksi IM. 2,4 juta IU/kali dengan interval 1

minggu
2. Obat alternatif :
a. Doksisiklin : 2x100 mg, 14 hari untuk fase awal, 28
hari untuk fase lanjut, atau
b. Eritromisin : 4x500 mg
3. Lama pengobatan 30 hari (stadium I dan II) atau waktu
yang lebih lama untuk stadium laten
4. Evaluasi serologis (VDRL) :
1 bulan setelah pengobatan selesai, ulangi tes serologi
sifilis (TSS) :

a. Titer turun : tidak diberikan pengobatan lagi


b. Titer naik : pengobatan ulang
c. Titer tetap : observasi 1 bulan
1 bulan setelah observasi :
a. Titer turun : tidak diberikan pengobatan
b. Titer naik atau tetap : pengobatan ulang
Pemantauan TSS : pada bulan I, II, VI, dan XII dan tiap 6 bulan
pada tahun kedua
Unit terkait

BP

Pengertian

Tinea kapitas adalah Infeksi jamur pada kulit dan rambut kepala,
alis mata, serta bulu mata yang disebabkan jamur golonngan
dermatofita.

Tujuan

Sebagai

pedoman

dalam

mendiagnosa

dan

memberikan

penanganan tinea kapitis


Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
Kebijakan

sesuai dengan SPO dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
Langkah - Langkah

1. Anamnesis:

Bercak

bersisik

pada

kepala

disertai

kerontokan rambut, dapat pula berupa bisul yang terasa


nyeri.
2. Pemeriksaan fisik:
a. Grey patch ring worm: terutama disebabkan M.
canis, sering terjadi pada anak-anak. Dimulai
dengan timbulnya papula merah kecil di sekitar
folikel rambut, kemudian melebar mwmbentuk
bercak yang memucat disertai skuama. Rambut
berwarna abu-abu, tidak berkilat, mudah patah,
dan terlepas dari akarnya (alopesia setempat).
Batas-batas bercak sering tidak jelas.
b. Kerion: disebabkan jamur zoofilik dan geofilik,
berupa tinea kapitis yang disertai peradangan
hebat. Lesi dimulai dari bentuk pustular folikulitis
sampai terbentuk kerion. Lesi menyerupai sarang

lebah. Kelainan ini dapat menimbulkan


jaringan parut (alopesia yang menetap).
3.

Black dot ringworm: disebabkan Trichophyton,


berupa tinea kapitis dengan gambaran titik-titik hitam
pada kulit kepala akibat patahnya rambut yang
terinfeksi tepat di muara folikel rambut.

4.

Favus: brntuk ini merupakan bentuk yang berat


dan kronik, disebabkan oleh T. schoenleinii. Bentuk
ini ditandai dengan pembentukan skultula, yaitu
krusta berbentuk mangkuk berwarna merah kuning
kemudian

menjadi

kuning

kecoklatan.

Pada

pengangkatan krusta, terlihat dasar yang cekung,


merah, basah, berbau tikus (mousy odor). Pada
bentuk ini dapat terjadi luka parut atrofi dan alopesia
yang menetap.
PENATALAKSANAAN:
1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan
kulit dan menghindari pemakaian bersama topi, pakaian,
dan alat-alat rambut.
2. Obat-obatan

topikal

diberikan

untuk

mencegah

penularan:
a. Krim golongan azol dioleskan 1-2 kali sehari.
b. Sampo ketokonazol 2% atau selenium sulfida 1%
dan 2,5% paling sedikit 3x/minggu dan didiamkan
di kulit kepala selama 5 menit.
3. Obat-obatan sistemik:
a. Griseofulvin

15-20

mg/kgBB/hari

(ultramicrosize)

atau

20-25

mg/kgBB/hari

(microsize) selama 6-8 minggu sampai 3 bulan.


b. Itrakonazol 200 mg/hari selama 2-8 minggu
(dewasa), 3-5 mg/kgBB/hari (anak).
c. Kortikosteroid jangka pendek dapat diberikan
pada bentuk kerion.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tinea barbe adalah Infeksi jamur dermatofitosis pada daerah leher, dagu,
atau daerah jenggot.

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosa dan memberikan penanganan


tinea barbe
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah
Langkah

1. Anamnesis: Bercak atau beruntus kemerahan pada daerah leher


atau dagu yang terasa gatal, umumnya gatal bertambah bila
berkeringat.
2. Pemeriksaan fisik: Nodul atau plak kemerahan, berbatas tegas,
dapat membentuk polisiklik atau girata, tepi lesi tampak lebih
aktif dapat berupa papulovesikel eritem, atau kadang berupa
pustul. Bagian tengah lesi tampak menyembuh (central healing)
berupa makula coklat kehitaman berskuama. Bisa disertai pustul
di daerah folikel rambut sehingga rambut jenggot mudah patah
PENATALAKSANAAN:

1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan kulit,


mencukur

rambut

jenggot,

lalu

kompres

hangat

untuk

mengangkat krusta dan membersihkan debris-debris


2. Obat-obatan topikal dioleskan sampai sekitar 3 cm di luar batas
lesi, dilanjutkan sampai 2 minggu setelah lesi menyembuh.
a. Salep whitfield : R/ Acidum salycylicum 3%
a. Acidum benzoicum 6%
b. Krim mikonazol 2% atau krim ketokonazol 2%.
3. Obat-obatan sistemik:
a. Griseofulvin 500-1000 mg/hari selama 2-6 minggu
(dewasa),

10-20 mg/kgBB/hari (microsize) selama 6

minggu.
b. Ketokonazol 200 mg/hari selama 4 minggu.
c. Itrakonazol 200 mg/hari selama 1 minggu (dewasa), 5
mg/kgBB/hari selama 1 minggu (anak).
4. Kriteria rujukan:
5. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.
6. Terdapat imunodefisiensi.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tinea korporis adalah Infeksi jamur dermatofitosis pada daerah kulit


yang tidak berambut, tidak termasuk tangan, kaki, dan sela paha

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosa dan memberikan penanganan


tinea korporis
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
1. Anamnesis: Bercak atau beruntus kemerahan pada badan,
tungkai, atau lengan yang terasa gatal, umumnya gatal
bertambah bila berkeringat.
2. Pemeriksaan fisik: Lesi berbatas tegas, dapat membentuk
polisiklik atau girata, tepi lesi tampak lebih aktif dapat berupa
papulovesikel eritem, atau kadang berupa pustul. Bagian
tengah lesi tampak menyembuh (central healing) berupa
makula coklat kehitaman berskuama.
PENATALAKSANAAN:

1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan kulit.


2. Untuk lesi terbatas dapat diberikan obat-obatan topikal
dioleskan sampai sekitar 3 cm di luar batas lesi, dilanjutkan
sampai 2 minggu setelah lesi menyembuh.
a. Untuk lesi di lipatan paha digunakan pada malam hari.
b. Salep whitfield : R/ Acidum salycylicum 3%
Acidum benzoicum 6%
c. Krim mikonazol 2% atau krim ketokonazol 2%.
3. Obat-obatan sistemik untuk lesi yang tersebar luas:
a. Griseofulvin 500-1000 mg/hari selama 2-6 minggu
(dewasa),

10-20 mg/kgBB/hari (microsize) selama 6

minggu.
b. Ketokonazol 200 mg/hari selama 4 minggu.
c. Itrakonazol 200 mg/hari selama 1 minggu (dewasa), 5
mg/kgBB/hari selama 1 minggu (anak).
4. Kriteria rujukan:
a. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.
b. Terdapat imunodefisiensi.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tinea manus Infeksi jamur dermatofitosis pada daerah tangan

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosa dan memberikan penanganan


tinea manus
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: Bercak atau beruntus kemerahan pada daerah


tangan yang terasa gatal, umumnya gatal bertambah bila
berkeringat.
2. Pemeriksaan fisik: Lesi berbatas tegas, dapat membentuk
polisiklik atau girata, tepi lesi tampak lebih aktif dapat

berupa papulovesikel eritem, atau kadang berupa pustul.


Bagian tengah lesi tampak menyembuh (central healing)
berupa makula coklat kehitaman berskuama.
PENATALAKSANAAN:
1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan kulit.
2. Untuk lesi terbatas dapat diberikan obat-obatan topikal
dioleskan sampai sekitar 3 cm di luar batas lesi, dilanjutkan
sampai 2 minggu setelah lesi menyembuh
a. Salep whitfield : R/ Acidum salycylicum 3%
a. Acidum benzoicum 6%
b. Krim mikonazol 2% atau krim ketokonazol 2%.
c. 3.Obat-obatan sistemik untuk lesi yang tersebar luas:
d. Griseofulvin 500-1000 mg/hari selama 2-6 minggu
(dewasa),

10-20 mg/kgBB/hari (microsize) selama 6

minggu.
e. Ketokonazol 200 mg/hari selama 4 minggu.
f. Itrakonazol 200 mg/hari selama 1 minggu (dewasa), 5
mg/kgBB/hari selama 1 minggu (anak).
3. Kriteria rujukan:
4. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.
5. Terdapat imunodefisiensi.
Unit terkait

BP

Pengertian

Infeksi jamur dermatofitosis pada daerah kuku jari tangan atau kuku
jari kaki. Biasanya dialami oleh orang tua. Beberapa kasus
merupakan penyebaran dari tinea pedis atau tinea manus

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosa dan memberikan penanganan


tinea unguium.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit

Referensi

1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan kuku.


2. Obat-obatan topikal diberikan untuk kasus dengan infeksi
hanya di setengah bagian distal kuku atau untuk pasien yang
memiliki kontraindikasi terhadap obat-obatan sistemik:
a. Amorolfine nail laquer solution
b. Ciclopirox olamine 8% nail laquer solution

Langkah - langkah

3. Obat-obatan sistemik diberikan selama 6-12 minggu (jari


tangan), 3-6 bulan (jari kaki)
a. Terbinafine 250 mg/hari
b. Itrakonazol 200 mg/hari selama 1 minggu (dewasa), 5
mg/kgBB/hari selama 1 minggu (anak).
c. Pembedahan.
Unit terkait

Pengertian
Tujuan

BP

Infeksi jamur dermatofitosis pada daerah sela paha, termasuk daerah


genital, pubis, perianal, dan perineum..
Sebagai pedoman dalam mendiagnosa dan memberikan penanganan

tinea kruris.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: Bercak atau beruntus kemerahan pada sela paha,


pubis, bokong yang terasa gatal, umumnya gatal bertambah
bila berkeringat.
2. Pemeriksaan fisik: Lesi pada daerah genitokrural atau sisi
medial paha atas, dapat simetris atau bilateral. Lesi umumnya
berbatas tegas, tepi lesi tampak lebih aktif, dapat berupa
papulovesikel eritem atau kadang berupa pustula. Pada bagian
tengah dapat ditemukan central healing berupa makula coklat
kehitaman berskuama.
PENATALAKSANAAN:
1. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan kulit.
2. Untuk lesi terbatas dapat diberikan obat-obatan topikal
dioleskan sampai sekitar 3 cm di luar batas lesi, dilanjutkan
sampai 2
a. minggu setelah lesi menyembuh.
b. Salep whitfield : R/ Acidum salycylicum 3%
a. Acidum benzoicum 6%
c. Krim mikonazol 2% atau krim ketokonazol 2%.
3. Obat-obatan sistemik untuk lesi yang tersebar luas:
a. Griseofulvin 500-1000 mg/hari selama 2-6 minggu
(dewasa),
minggu.

10-20 mg/kgBB/hari (microsize) selama 6

b. Ketokonazol 200 mg/hari selama 4 minggu.


c. Itrakonazol 200 mg/hari selama 1 minggu (dewasa), 5
mg/kgBB/hari selama 1 minggu (anak).
4. Kriteria rujukan:
a. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.
b. Terdapat imunodefisiensi.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tinea pedis Infeksi jamur dermatofitosis pada daerah kaki.

Tujuan

Sebagai pedoman dalam mendiagnosa dan memberikan penanganan


tinea pedis
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: Bercak atau beruntus kemerahan pada kaki yang


terasa gatal, umumnya gatal bertambah bila berkeringat.
2. Pemeriksaan fisik: Lesi berbatas tegas, dapat membentuk
polisiklik atau girata, tepi lesi tampak lebih aktif dapat berupa
papulovesikel eritem, atau kadang berupa pustul. Bagian
tengah lesi tampak menyembuh (central healing) berupa
makula coklat kehitaman berskuama.
1. PENATALAKSANAAN:
2. Penderita diberitahu untuk selalu menjaga kebersihan kulit.
3. Untuk lesi terbatas dapat diberikan obat-obatan topikal
dioleskan sampai sekitar 3 cm di luar batas lesi, dilanjutkan
sampai 2 minggu setelah lesi menyembuh.
a. Salep whitfield : R/ Acidum salycylicum 3%
i. Acidum benzoicum 6%
b. Krim mikonazol 2% atau krim ketokonazol 2%.
4. Obat-obatan sistemik untuk lesi yang tersebar luas:
a. Griseofulvin 500-1000 mg/hari selama 2-6 minggu
(dewasa),
minggu.

10-20 mg/kgBB/hari (microsize) selama 6

b. Ketokonazol 200 mg/hari selama 4 minggu.


c. Itrakonazol 200 mg/hari selama 1 minggu (dewasa), 5
mg/kgBB/hari selama 1 minggu (anak).
5. Kriteria rujukan:
a. Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.
b. Terdapat imunodefisiensi.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tujuan

Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial yang sering


terjadi disebabkan oleh Malasezia furfur,yaitu jamur yang bersifat
lifopilik dimorfik dan merupakan flora normal pada kulit manusia,
ditandadi dengan bercak lesi yang bervariasi mulai dari
hipopigmentasi, kemerahan sampai kecoklatan atau hiperpigmentasi.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis pitiriasis versikolor
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita pitiriasis
versikolor
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah 1. Anamnesis: pada umumnya pasien datang berobat karena tampak
bercak putih pada kulitnya disertai keluhan gatal ringan yang
muncul terutama saat berkeringat, namun sebagian besar pasien
asimptomatik. Faktor risikonya seperti, dewasa muda (kelenjar
sebasea lebih aktif bekerja), cuaca yang panas dan lembab, tubuh
yang berkeringat, dan imunodefisiensi.
2. Pemeriksaan fisik: lesi berupa makula hipopigmentasi atau
berwarna-warni, berskuama halus, berbentuk bulat atau tidak
beraturan dengan batas tegas atau tidak tegas. Skuama biasanya
tipis seperti sisik dan kadangkala hanya dapat tampak dengan
menggores kulit (finger nail sign). Predileksi di bagian atas dada,
lengan, leher, perut, kaki, ketiak, lipat paha, muka dan kepala.
Penyakit ini terutama ditemukan pada daerah yang tertutup
pakaian dan bersifat lembab.
3. Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan lampu Wood menampakkan
pendaran (fluoresensi) kuning keemasan pada lesi yang bersisik.
Pemeriksaan mikroskopis sediaan kerokan skuama lesi dengan
KOH akan tampak campuran hifa pendek dan spora-spora bulat
yang dapat berkelompok (spaghetti and meatball appearance).
Diagnosis Banding:

1. Vitiligo
2. Dermatitis seboroik
3. Pitiriasis alba
4. Morbus hansen
5. Eritrasma
Penatalaksanaan:
Pasien disarankan untuk tidak menggunakan pakaian yang lembab
dan tidak berbagi penggunaan barang pribadi dengan orang lain

Pengobatan terhadap keluhannya dengan:


1. Pengobatan topikal
a. Suspensi selenium sulfida 1,8%, dalam bentuk shampo yang
digunakan 2-3 kali seminggu. Obat ini digosokkan pada lesi
dan didiamkan 15-30 menit sebelum mandi.
b. Derivat azol topikal, antara lain mikonazol dan klotrimazol.
a. Pengobatan sistemik diberikan apabila penyakit ini terdapat
pada daerah yang luas atau jika penggunaan obat topikal tidak
berhasil. Obat tersebut, yaitu:
b. Ketokonazol per oral dengan dosis 1 x 200 mg sehari selama
10 hari, atau
c. Itrakonazol per oral dengan dosis 1 x 200 mg sehari selama 57 hari (pada kasus kambuhan atau tidak responsive dengan
terapi lainnya).

Konseling & Edukasi:


Edukasi pasien dan keluarga bahwa pengobatan harus dilakukan
secara menyeluruh, tekun dan konsisten, karena angka
kekambuhan tinggi ( 50% pasien). Infeksi jamur dapat dibunuh
dengan cepat tetapi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk
mengembalikan pigmentasi ke normal. Untuk pencegahan,
diusahakan agar pakaian tidak lembab dan tidak berbagi dengan
orang lain untuk penggunaan barang pribadi.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tujuan

Merupakan penyakit jamur yang menyerang membran mukosa yang


disebabkan oleh spesies jamur Candida albicans,
yang ditandai dengan manifestasi klinis yang bervariasi.Kadidiasis
mukokutan menyerang membran mukosa antara lain mukosa oral,
sudutmulut, mukosa vagina, serta glans penis
1. Sebagai pedoman mendiagnosis kandidosis
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita kandidiasis
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: rasa gatal dan perih di bagian kulit yang terkena


dan mukosa mulut, rasa metal, dan daya kecap penderita yang
berkurang. Faktor risikonya imunodefisiensi.
2. Pemeriksaan fisik: Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat
paha, intergluteal, lipat payudara, anatara jari tangan atau
kaki, glans penis, dan umbilicus, berupa bercak yang berbatas
tegas, bersisik, basah, dan eritematosa. Lesi tersebut
dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustulpustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah
yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang
seperti lesi primer. Guam atau oral thrush yang diselaputi
pseudomembran pada mukosa mulut.
3. Pemeriksaan penunjang: kerokan kulit atau usapan
mukokutan diperiksa dengan laruttan KOH 10% atau dengan
pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu.
4. Penatalaksanaan:
a. Memperbaiki status gizi dan menjaga kebersihan oral
b. Gentian violet 1% (dibuat segar/baru) atau larutan nistatin
100.000 200.000 IU/ml yang dioleskan 2 3 kali sehari
selama 3 hari
c. Mikonazol 2% berupa krim atau bedak 2-3x sehari

d. Untuk kandidosis sistemik dapat diberikan ketokonazol 2x200


mg selama 5 hari atau dengan itrakonazol 2x200 mg dosis
tunggal atau dengan flukonazol 150 mg dosis tunggal.
e. Konseling dan edukasi: dilakukan skrining pada keluarga dan
perbaikan lingkungan keluarga untuk menjaga tetap bersih
dan kering. Pasien kontrol kembali apabila dalam 3 hari tidak
ada perbaikan dengan obat anti jamur.
5. Kriteria Rujukan: Bila kandidiasis merupakan akibat dari
penyakit lainnya, seperti HIV.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tujuan

Cutaneus Larva Migran merupakan suatu lesi kulit yang dihasilkan


oleh penetrasi dan migrsi larva dari parasit nematoda, dengan
karakteristik lesi kulit eritema, serpiginosa, papular, ataupun linear
vesicular sesuai dengan pergerakan larva didalam kulit.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis Cutaneus Larva Migrans
(Creeping Eruption)
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita Cutaneus Larva
Migrans (Creeping Eruption)
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai

Kebijakan

dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin atau penyakit dalam.

Referensi
Langkah - langkah

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:


1. Anamnesis: Pasien mengeluh gatal dan panas pada tempat
infeksi. Pada awal infeksi, lesi berbentuk papul yang
kemudian diikuti dengan lesi berbentuk linear atau berkelokkelok yang terus menjalar memanjang. Keluhan dirasakan
muncul sekitar 4 hari setelah terpajan. Faktor risikonya adalah
orang yang berjalan tanpa alas kaki, atau yang sering
berkontak dengan tanah atau pasir.
2. Pemeriksaan fisik: lesi awal berupa papul eritema yang
menjalar dan tersusun linear atau berkelok-kelok meyerupai
benang dengan kecepatan 2 cm per hari. Predileksi penyakit
ini terutama pada daerah telapak kaki, bokong, genital dan
tangan.
a. Pemeriksaan penunjang: tidak diperlukan.
b. Diagnosis Banding:
c. Dermatofitosis
d. Dermatitis
e. Dermatosis
f. Penatalaksanaan:
g. Memodifikasi gaya hidup dengan menggunakan alas kaki dan
sarung tangan pada saat melakukan aktifitas yang berkontak
dengan tanah, seperti berkebun dan lain-lain.

h. Terapi farmakologi dengan: Tiabendazol 50mg/kgBB/hari, 2x


sehari, selama 2 hari; atau Albendazol 400 mg sekali sehari,
selama 3 hari.
i. Untuk mengurangi gejala pada penderita dapat dilakukan
penyemprotan Etil Klorida pada lokasi lesi, namun hal ini
tidak membunuh larva.
j. Bila terjadi infeksi sekunder, dapat diterapi sesuai dengan
tatalaksana pioderma.
3. Konseling & Edukasi:
a. Edukasi pasien dan keluarga untuk pencegahan
penyakit dengan menjaga kebersihan diri.
4. Kriteria rujukan:
b. Pasien dirujuk apabila dalam waktu 8 minggu tidak
membaik dengan terapi.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tujuan
Kebijakan

Filariasis adalah penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan


di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah sekelompok
cacing parasit nemtoda yang tergolong superfamilia Filarioidea yang
menyebabkan infeksi sehingga berakibat munculnya edema.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis filariasis
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita filariasis
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis:
a. Gejala filariasis bancrofti sangat berbeda dari satu daerah endemik
dengan daerah endemik lainnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh
perbedaan intensitas paparan terhadap vektor infektif didaerah
endemik tersebut. Manifestasi akut, berupa:
b. Demam berulang ulang selama 3-5 hari. Demam dapat hilang bila
istirahat dan timbul lagi setelah bekerja berat.
c. Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) di daerah
lipatan paha, ketiak (lymphadentitis) yang tampak kemerahan,
panas dan sakit.
d. Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit
menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah ujung
(retrograde lymphangitis).
e. Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar
getah bening,dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah.
f. Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, kantong zakar yang terlihat
agak kemerahan dan terasa panas.
g. Manifestasi kronik, disebabkan oleh berkurangnya fungsi saluran
limfe terjadi beberapa bulan sampai bertahun-tahun dari episode
akut. Gejala kronis filariasis berupa:
h. Pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai,lengan,
buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti) yang disebabkan oleh
adanya cacing dewasa pada sistem limfatik dan oleh reaksi
hiperresponsif berupa occult filariasis.

a.

b.
c.

d.

e.
f.

g.

h.

i.

j.

Perjalanan penyakit tidak jelas dari satu stadium ke stadium


berikutnya tetapi bila diurut dari masa inkubasi maka dapat dibagi
menjadi:
Masa prepaten, yaitu masa antara masuknya larva infektif hingga
terjadinya mikrofilaremia berkisar antara 37 bulan. Hanya sebagian
saja dari penduduk di daerah endemik yang menjadi
mikrofilaremik, dan dari kelompok mikrofilaremik ini pun tidak
semua kemudian menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa
kelompok ini termasuk kelompok yang asimptomatik
amikrofilaremik dan asimptomatik mikrofilaremik.
Masa inkubasi, masa antara masuknya larva infektif sampai
terjadinya gejala klinis berkisar antara 8-16 bulan.
Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis disertai
panas dan malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral.
Penderita dengan gejala klinis akut dapat amikrofilaremik maupun
mikrofilaremik.
Gejala menahun, terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama.
Mikrofilaria jarang ditemukan pada stadium ini, sedangkan
adenolimfangitis masih dapat terjadi. Gejala menahun ini
menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas
penderita serta membebani keluarganya.
Pemeriksaan fisik:
Pada manifestasi akut dapat ditemukan adanya limfangitis dan
limfadenitis yang berlangsung 3-15 hari, dan dapat terjadi beberapa
kali dalam setahun. Limfangitis akan meluas ke daerah distal dari
kelenjar yang terkena. Limfangitis dan limfadenitis berkembang
lebih sering pada ekstremitas bawah. Selain pada tungkai, dapat
mengenai alat kelamin, (tanda khas infeksi W.bancrofti) dan
payudara.
Manifestasi kronik, disebabkan oleh berkurangnya fungsi saluran
limfe. Bentuk manifestasi ini dapat terjadi dalam beberapa bulan
sampai bertahun-tahun dari episode akut. Tanda klinis utama yaitu
hidrokel,limfedema,elefantiasis dan chyluria yang meningkat sesuai
bertambahnya usia.
Manifestasi genital di banyak daerah endemis, gambaran kronis
yang terjadi adalah hidrokel. Selain itu dapat dijumpai epedidimitis
kronis, funikulitis, edem karena penebalan kulit skrotum,
sedangkan pada perempuan bisa dijumpai limfedema vulva.
Limfedema dan elefantiasis ekstremitas, episode limfedema pada
ekstremitas akan menyebabkan elefantiasis di daerah saluran limfe
yang terkena dalam waktu bertahun-tahun. Lebih sering terkena
ekstremitas bawah. Pada W.bancrofti, infeksi didaerah paha dan
ekstremitas bawah sama seringnya, sedangkan B.malayi hanya
mengenai ekstremitas bawah saja.
Pada keadaan akut infeksi filariasis bancrofti, pembuluh limfe alat
kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis,epididimitis dan
orkitis. Adenolimfangitis inguinal atau aksila, sering bersama
dengan limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam
3-15 hari dan serangan terjadi beberapa kali dalam setahun.
Filariasis brugia, limfadenitis paling sering mengenai kelenjar
inguinal, sering terjadi setelah bekerja keras. Kadang-kadang
disertai limfangitis retrograd. Pembuluh limfe menjadi keras dan
nyeri dan sering terjadi limfedema pada pergelangan kaki dan kaki.
Penderita tidak mampu bekerja selama beberapa hari. Serangan
dapat terjadi 12 x/tahun sampai beberapa kali perbulan. Kelenjar

k.

2.

3.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

g.
h.
i.

j.

limfe yang terkena dapat menjadi abses, memecah, membentuk


ulkus dan meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu 3 bulan.
Pada kasus menahun filariasis bancrofti, hidrokel paling banyak
ditemukan. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh tungkai
atas, tungkai bawah, skrotum,vulva atau buah dada, dan ukuran
pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran asalnya. Chyluria
terjadi tanpa keluhan, tetapi pada beberapa penderita menyebabkan
penurunan berat badan dan kelelahan. Filariasis brugia, elefantiasis
terjadi di tungkai bawah di bawah lutut dan lengan bawah, dan
ukuran pembesaran ektremitas tidak lebih dari 2 kali ukuran
asalnya.
Pemeriksaan penunjang:
Identifikasi mikrofilaria dari sediaan darah. Cacing filaria dapat
ditemukan dengan pengambilan darah tebal atau tipis pada
waktu malam hari antara jam 10 malam sampai jam 2 pagi yang
dipulas dengan pewarnaan Giemsa atau Wright. Mikrofilaria
juga dapat ditemukan pada cairan hidrokel atau cairan tubuh
lain (sangat jarang).
Pemeriksaan darah tepi terdapat leukositosis dengan eosinofilia
sampai 10-30%. Dengan pemeriksaan sediaan darah jari yang
diambil pukul mulai 20.00 malam waktu setempat.
Bila sangat diperlukan dapat dilakukan Diethylcarbamazine
provocative test.
Penatalaksanaan:
Memelihara kebersihan kulit.
Fisioterapi kadang diperlukan pada penderita limfedema kronis.
Obat antifilaria adalah Diethyl carbamazine citrate (DEC) dan
Ivermektin.
DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa, Ivermektin
merupakan antimikrofilaria yang kuat, tetapi tidak memiliki efek
makrofilarisida.
Dosis DEC 6 mg/kgBB, 3 dosis/hari setelah makan, selama 12 hari,
pada Tropical Pulmonary Eosinophylia (TPE) pengobatan diberikan
selama 3 minggu.
Efek samping bisa terjadi sebagai reaksi terhadap DEC atau reaksi
terhadap cacing dewasa yang mati. Reaksi tubuh terhadap protein
yang dilepaskan pada saat cacing dewasa mati dapat terjadi
beberapa jam setelah pengobatan, terdapat 2 bentuk yang mungkin
terjadi yaitu reaksi sistemik dan reaksi lokal:
Reaksi sistemik berupa demam, sakit kepala, nyeri badan, pusing,
anoreksia, malaise, dan muntah-muntah.
Reaksi lokal, terjadi lebih lambat namun berlangsung lebih lama
dari reaksi sistemik, berbentuk limfadenitis, abses, dan transien
limfedema.
Efek samping DEC lebih berat pada penderita onchorcerciasis,
sehingga obat tersebut tidak diberikan dalam program pengobatan
masal didaerah endemis filariasis dengan ko-endemis Onchorcercia
valvulus.
Ivermektin diberikan dosis tunggal 150 ug/kg BB efektif terhadap
penurunan derajat mikrofilaria W.bancrofti, namun pada filariasis
oleh Brugia spp. penurunan tersebut bersifat gradual. Efek samping
ivermektin sama dengan DEC, kontraindikasi ivermektin yaitu
wanita hamil dan anak <5 tahun. Karena tidak memiliki efek

k.
l.
m.
n.
o.

p.
q.
r.
s.

4.

terhadap cacing dewasa, ivermektin harus diberikan setiap 6 bulan


atau 12 bulan untuk menjaga agar derajat mikrofilaremia tetap
rendah.
Pemberian antibiotik dan/atau antijamur akan mengurangi serangan
berulang, sehingga mencegah terjadinya limfedema kronis.
Antihistamin dan kortikosteroid diperlukan untuk mengatasi efek
samping pengobatan. Analgetik dapat diberikan bila diperlukan.
Pengobatan operatif, kadang-kadang hidrokel kronik memerlukan
tindakan operatif, demikian pula pada chyluria yang tidak membaik
dengan terapi konservatif.
Konseling & Edukasi:
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya mengenai
penyakit filariasis terutama dampak akibat penyakit dan cara
penularannya. Pasien dan keluarga juga harus memahami
pencegahan dan pengendalian penyakit menular ini melalui:
Pemberantasan nyamuk dewasa.
Pemberantasan jentik nyamuk.
Mencegah gigitan nyamuk.
Rencana Tindak Lanjut: setelah pengobatan, dilakukan kontrol
ulang terhadap gejala dan mikrofilaria, bila masih terdapat gejala
dan mikrofilaria pada pemeriksaan darahnya, pengobatan dapat
diulang 6 bulan kemudian.
Kriteria Rujukan: pasien dirujuk bila dibutuhkan pengobatan
operatif atau bila gejala tidak membaik dengan pengobatan
konservatif

Unit terkait
BP

Pengertian

Pedikulosis adalah infeksi kulit kepala pada manusia yang


disebabkan oleh parasit Pediculus

Tujuan

1. Sebagai pedoman mendiagnosis pedikulosis kapitis


2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita pedikulosis kapitis
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap pendevvrita dilakukan

Kebijakan

sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: gejala yang paling sering timbul adalah gatal di


kepala akibat reaksi hipersensitivitas terhadap saliva kutu
Pediculus humanus var capitis saat makan maupun terhadap
feses kutu. Gejala dapat pula asimptomatik. Penularan biasanya
melalui kontak fisik erat dengan kepala penderita, seperti tidur
bersama atau melalui fomite yang terinfestasi, misalnya
pemakaian bersama aksesori kepala, sisir, dan bantal juga dapat
menyebabkan kutu menular. Faktor risikonya, yaitu status
sosioekonomi yang rendah, higienitas perorangan yang rendah,
dan prevalensi pada perempuan>laki-laki, terutama pada
populasi anak usia sekolah
2. Pemeriksaan fisik: lesi kulit terjadi karena bekas garukan, yaitu
bentuk erosi dan ekskoriasi. Bila terdapat infeksi sekunder oleh
bakteri, maka timbul pus dan krusta yang menyebabkan rambut
bergumpal, disertai dengan pembesaran KGB regional.
3.

Pemeriksaan penunjang: ditemukan telur dan kutu yang hidup


pada kulit kepala dan rambut. Telur P. humanus capitis paling
sering ditemukan pada rambut di daerah oksipital dan
retroaurikular.
Diagnosis Banding:
a. Tinea kapitis
b. Impetigo krustosa (pioderma)

c. Dermatitis seboroik
4. Penatalaksanaan:
a. Sebaiknya rambut pasien dipotong sependek mungkin,
kemudian disisir dengan menggunakan sisir serit, menjaga
kebersihan kulit kepala dan menghindari kontak erat dengan
kepala penderita.
b. Pengobatan topikal merupakan terapi terbaik, yaitu dengan
pedikulosid dengan salah satu pengobatan di bawah ini:
c. Malathion 0.5% atau 1% dalam bentuk losio atau spray,
dibiarkan 1 malam.
d. Permetrin 1% dalam bentuk cream rinse, dibiarkan dalam 2
jam lalu bilas.
e. Gameksan 1%, dibiarkan dalam 12 jam.
f. Pedikulosid sebaiknya tidak digunakan pada anak usia kurang
dari 2 tahun. Cara penggunaan: rambut dicuci dengan
shampo, kemudian dioleskan losio/krim dan ditutup dengan
kain. Setelah menunggu sesuai waktu yang ditentukan, rambut
dicuci kembali lalu disisir dengan sisir serit.
5. Konseling & Edukasi:
Edukasi keluarga tentang pedikulosis penting untuk
pencegahan. Kutu kepala dapat ditemukan di sisir atau sikat rambut,
topi, linen, boneka kain, dan upholstered furniture, walaupun kutu
lebih memilih untuk berada dalam jarak dekat dengan kulit kepala,
sehingga harus menghindari pemakaian alat-alat tersebut bersamasama. Anggota keluarga dan teman bermain anak yang terinfestasi
harus diperiksa, namun terapi hanya diberikan pada yang terbukti
mengalami infestasi. Kerjasama semua pihak dibutuhkan agar
eradikasi dapat tercapai.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Pedikulosis pubis adalah penyakit yang disebabkan oleh kutu


kemaluan , Pthirus pubis, sebuah parasit serangga terkenal merajalela
manusia rambut kemaluan . Spesies ini juga dapat hidup di daerah
lain dengan rambut, termasuk bulu mata , menyebabkan pediculosis
ciliaris. Kutu biasanya menyebabkan rasa gatal di daerah kemaluan.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis pedikulosis pubis
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita pedikulosis pubis
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin.
Pedikulosis pubis merupakan infeksi parasit pada vulva oleh crab
louse (tuma pada rambut pubis), Pthirus pubis, atau oleh telur kutu

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: keluhan utamanya gatal, biasanya di daerah


pubis. Rasa gatal menjadi semakin kuat pada dua minggu atau
lebih. Kutu kelamin biasanya menular melalui hubungan
seksual. Penularan dari orang tua kepada anak lebih mungkin
terjadi melalui rute pemakaian handuk, pakaian, tempat tidur
atau closets yang sama secara bergantian. Orang dewasa lebih
sering terkena daripada anak-anak.
2. Pemeriksaan fisik: menemukan kutu atau telur kutu yang
melekat pada rambut pubis.
3. Penatalaksanaan:

Pengobatan topikal merupakan terapi terbaik, yaitu dengan


pedikulosid dengan salah satu pengobatan di bawah ini:
a. Malathion 0.5% atau 1% dalam bentuk losio atau spray,
dibiarkan 1 malam.
b. Permetrin 1% dalam bentuk cream rinse, dibiarkan dalam 2
jam lalu bilas.
c. Gameksan 1%, dibiarkan dalam 12 jam.
d. Pedikulosid sebaiknya tidak digunakan pada anak usia kurang
dari 2 tahun. Cara penggunaan: rambut dicuci dengan

shampo, kemudian dioleskan losio/krim dan ditutup dengan


kain. Setelah menunggu sesuai waktu yang ditentukan, rambut
dicuci kembali lalu disisir dengan sisir serit.
Konseling dan edukasi: Jika kutu telah terdeteksi dalam satu anggota
keluarga, maka seluruh anggota keluarga harus diperiksa dan
perawatan dilakukan untuk orang-orang yang mengidap kutu
tersebut.

Unit terkait

BP

Pengertian
Tujuan
Kebijakan

Skabies dalah penyakit kulit yang disebabkan


oleh tungau (mite) Sarcoptes scabiei yang dicirikan dengan
adanya keropeng, kebotakan, dan kegatalan pada kulit
1. Sebagai pedoman mendiagnosis skabies
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita skabies
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: pruritus nokturna, yaitu gatal yang hebat terutama


pada malam hari atau saat penderita berkeringat. Lesi timbul di
stratum korneum yang tipis, seperti di sela jari, pergelangan
tangan dan kaki, aksila, umbilikus, areola mammae dan di
bawah payudara (pada wanita) serta genital eksterna (pria).
Penularan terjadi karena kontak langsung kulit dengan kulit
penderita skabies, seperti menjabat tangan, hubungan seksual,
tidur bersama maupun kontak tidak langsung (melalui benda),
seperti penggunaan perlengkapan tidur bersama dan saling
meminjam pakaian, handuk dan alat-alat pribadi lainnya miliki
alat-alat pribadi sendiri sehingga harus berbagi dengan
temannya. Faktor risikonya seperti, masyarakat yang hidup
dalam kelompok yang padat seperti tinggal di asrama atau
pesantren, higiene yang buruk, dan osial ekonomi rendah
seperti di panti asuhan, dll.
2. Pemeriksaan fisik: lesi kulit berupa terowongan (kanalikuli)
berwarna putih atau abu-abu dengan panjang rata-rata 1 cm.
Ujung terowongan terdapat papul, vesikel, dan bila terjadi
infeksi sekunder, maka akan terbentuk pustul, ekskoriasi, dsb.
Pada anak-anak, lesi lebih sering berupa vesikel disertai infeksi
sekunder akibat garukan sehingga lesi menjadi bernanah.
3. Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan mikroskopis dari
kerokan kulit untuk menemukan tungau

Terdapat 4 tanda cardinal untuk diagnosis skabies, yaitu:


1) Pruritus nokturna
2) Menyerang manusia secara berkelompok
3) Adanya gambaran polimorfik pada daerah predileksi lesi di
stratum korneum yang tipis (sela jari, pergelangan volar tangan
dan kaki, dsb)
4) Ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskopis.
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda
tersebut.
Diagnosis Banding:
a. Pioderma
b. Impetigo
c. Dermatitis
d. Pedikulosis korporis
Penatalaksanaan:
Melakukan perbaikan higiene diri dan lingkungan, dengan:

1) Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersama-sama dan


alas tidur diganti bila ternyata pernah digunakan oleh penderita
skabies.
2) Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies.

Unit terkait

Terapi tidak dapat dilakukan secara individual melainkan harus


serentak dan menyeluruh pada seluruh kelompok orang yang ada
di sekitar penderita skabies. Terapi diberikan dengan salah satu
obat topikal (skabisid) di bawah ini:
1) Salep 2-4 dioleskan di seluruh tubuh, selama 3 hari berturutturut, dipakai setiap habis mandi.
2) Krim permetrin 5%di seluruh tubuh. Setelah 10 jam, krim
permetrin dibersihkan dengan sabun.
Terapi skabies ini tidak dianjurkan pada anak < 2 tahun.

Konseling & Edukasi:


Dibutuhkan pemahaman bersama agar upaya eradikasi skabies
bisa melibatkan semua pihak. Bila infeksi menyebar di kalangan
santri di sebuah pesantren, diperlukan keterbukaan dan kerjasama
dari pengelola pesantren. Bila sebuah barak militer tersebar
infeksi, mulai dari prajurit sampai komandan barak harus bahu
membahu membersihkan semua benda yang berpotensi menjadi
tempat penyebaran penyakit.

Kriteria rujukan: pasien skabies dirujuk apabila keluhan masih


dirasakan setelah 1 bulan pasca terapi

BP

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Reaksi gigitan serangga adalah kondisi kelainan kulit berupa


reaksi vaskularterhadap bermacam-macam sebab, biasanya
disebabkan oleh suatu reaksi alergi, yang mempunyai ciri-ciri berupa
kulit kemerahan (eritema) dengan sedikit oedem atau penonjolan
(elevasi) kulit berbatas tegas yang timbul secara cepat setelah
dicetuskan oleh faktor presipitasi dan menghilang perlahan-lahan.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis reaksi gigitan serangga
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita reaksi gigitan
serangga
a. Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu
konsul dokter spesialis kulit dan kelamin.
b. Reaksi gigitan serangga (insect bite reaction) adalah reaksi
hipersensitivitas atau alergi pada kulit akibat gigitan (bukan
terhadap sengatan/stings), dan kontak dengan serangga.
Gigitan hewan serangga, misalnya oleh nyamuk, lalat, bugs,
dan kutu, yang dapat menimbulkan reaksi peradangan yang
bersifat lokal sampai sistemik.

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: pasien datang dengan keluhan gatal, rasa tidak


nyaman, nyeri, kemerahan, nyeri tekan, hangat atau bengkak
pada daerah tubuh yang digigit, umumnya tidak tertutup
pakaian. Kebanyakan penderita datang sesaat setelah merasa
digigit serangga, namun ada pula yang datang dengan delayed
reaction, misalnya 10-14 hari setelah gigitan berlangsung.
Keluhan kadang-kadang diikuti dengan reaksi sistemik gatal
seluruh tubuh, urtikaria, dan angioedema, serta dapat
berkembang menjadi suatu ansietas, disorientasi, kelemahan,
GI upset (cramping, diarrhea, vomiting), dizziness, sinkop
bahkan hipotensi dan sesak napas. Gejala dari delayed
reaction mirip seperti serum sickness, yang meliputi demam,
malaise, sakit kepala, urtikaria, limfadenopati dan poliartritis.
Faktor risikonya meliputi lingkungan tempat tinggal yang
banyak serangga, riwayat atopi pada diri dan keluarga,
riwayat alergi, riwayat alergi makanan.

2. Pemeriksaan fisik: tanda patognomonis meliputi urtika dan


papul timbul secara simultan di tempat gigitan, dikelilingi
zona eritematosa, di bagian tengah tampak titik (punktum)
bekas tusukan/gigitan, kadang hemoragik, atau menjadi krusta
kehitaman, disertai bekas garukan karena gatal. Dapat timbul
gejala sistemik seperti takipneu, stridor, wheezing,
bronkospasme, hiperaktif peristaltik, dan dapat disertai tandatanda hipotensi orthostatic. Pada reaksi lokal yang parah dapat
timbul eritema generalisata, urtikaria, atau edema pruritus,
sedangkan bila terdapat reaksi sistemik menyeluruh dapat
diikuti dengan reaksi anafilaksis.
3. Pemeriksaan penunjang: tidak ada yang spesifik
Klasifikasi berdasarkan waktu terjadinya:
a. Reaksi tipe cepat: terjadi segera hingga 20 menit setelah
gigitan, bertahan sampai 1-3 jam.
b. Reaksi tipe lambat: pada anak terjadi > 20 menit sampai
beberapa jam setelah gigitan serangga. Pada orang dewasa
dapat muncul 3-5 hari setelah gigitan.
c. Reaksi tidak biasa: sangat segera, mirip anafilaktik.
Klasifikasi berdasarkan bentuk klinis:
a. Urtikaria iregular.
b. Urtikaria papular.
c. Papulo-vesikular, misalnya pada prurigo.
d. Punctum (titik gigitan), misalnya pada pedikulosis kapitis
atau phtirus pubis.
Diagnosis banding:
Prurigo
Komplikasi:
1. Infeksi sekunder akibat garukan.
2. Bila disertai keluhan sistemik, dapat terjadi: syok anafilaktik
hingga kematian.

Penatalaksanaan:
Prinsip penanganan kasus ini adalah dengan mengatasi respon
peradangan baik yang bersifat lokal maupun sistemik. Reaksi
peradangan lokal dapat dikurangi dengan sesegera mungkin
mencuci daerah gigitan dengan
air dan sabun, serta kompres es.

Atasi keadaan akut terutama pada angioedema karena dapat terjadi


obstruksi saluran napas. Penanganan pasien dapat dilakukan di
Unit Gawat Darurat. Bila disertai obstruksi saluran napas
diindikasikan pemberian ephinefrin sub kutan. Dilanjutkan dengan
pemberian kortikosteroid Prednison 60-80 mg/hari selama 3 hari,
dosis diturunkan 5-10 mg/hari.

Dalam kondisi stabil, terapi yang dapat diberikan yaitu

:
1) Antihistamin sistemik golongan sedatif: misalnya hidroksizin
2x25 mg per hari selama 7 hari atau Chlorpheniramine Maleat
3x4 mg selama 7 hari atau Cetirizin/Loratadine 1x10 mg per
hari selama 7 hari.

Unit terkait

BP

Topikal: Kortikosteroid topikal potensi sedang-kuat: misalnya


krim mometasone furoat 0.1% atau krim betametasone valerat
0.5% diberikan selama 2 kali sehari selama
7 hari

Pengertian

Tujuan
Kebijakan

Dermatitis kontak adalah peradangan pada kulit, ditandai dengan ruam gatal
kemerahan, yang muncul akibat kontak dengan zat tertentu. Ruam yang
muncul akibat peradangan ini tidak menular atau berbahaya, tapi bisa
menyebabkan rasa tidak nyaman bagi penderita.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis dermatitis kontak iritan
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita dermatitis kontak iritan
(DKI)
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter spesialis
kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: keluhan kelainan kulit dapat beragam, bergantung pada


sifat iritan. Iritan kuat memberikan gejala akut, sedangkan iritan
lemah memberikan gejala kronis. Gejala yang umum dikeluhkan
adalah perasaan gatal dan timbulnya bercak kemerahan pada daerah
yang terkena kontak bahan iritan. Kadang-kadang diikuti oleh rasa
pedih, panas, dan terbakar. Faktor risikonya ditemukan pada orangorang yang terpajan oleh bahan iritan misalnya bahan pelarut,
deterjen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu, adanya
riwayat kontak dengan bahan iritan pada waktu tertentu, pasien
bekerja sebagai tukang cuci, juru masak, kuli bangunan, montir,
penata rambut, serta adanya riwayat dermatitis atopik
2. Pemeriksaan fisik: lesi hampir sama dengan dermatitis pada
umumnya. Selengkapnya dapat dilihat pada klasifikasi berdasarkan
penyebab dan pengaruh faktor-faktor tertentu yang meliputi:
a. DKI akut:
- Bahan iritan kuat, misalnya larutan asam sulfat (H 2SO4) atau
asam klorida (HCl), termasuk luka bakar oleh bahan kimia.
- Lesi berupa: eritema, edema, bula, kadang disertai nekrosis.
- Tepi kelainan kulit berbatas tegas dan pada umumnya asimetris.
b. DKI akut lambat:

Gejala klinis baru muncul sekitar 8-24 jam atau lebih setelah
kontak.
- Bahan iritan yang dapat menyebabkan DKI tipe ini diantaranya
adalah podofilin, antralin, tretinoin, etilen oksida, benzalkonium
klorida, dan asam hidrofluorat.
- Kadang-kadang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang
pada malam hari (dermatitis venenata); penderita baru merasa
pedih keesokan harinya, pada awalnya terlihat eritema, dan pada
sore harinya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis.
c. DKI kumulatif/ DKI kronis:
- Penyebabnya adalah kontak berulang-ulang dengan iritan lemah
(faktor fisis misalnya gesekan, trauma minor, kelembaban
rendah, panas atau dingin, faktor kimia seperti deterjen, sabun,
pelarut, tanah dan bahkan air).
- Umumnya predileksi ditemukan di tangan terutama pada
pekerja.
- Kelainan baru muncul setelah kontak dengan bahan iritan
berminggu-minggu atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun
kemudian, sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan
faktor penting.
- Kulit dapat retak seperti luka iris (fisur), misalnya pada kulit
tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus-menerus dengan
detergen. Keluhan penderita umumnya rasa gatal atau nyeri
karena kulit retak (fisur). Ada kalanya kelainan hanya berupa
kulit kering atau skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh
penderita.
d. Reaksi iritan:
- Merupakan dermatitis subklinis pada seseorang yang terpajan
dengan pekerjaan basah, misalnya penata rambut dan pekerja
logam dalam beberapa bulan pertama, kelainan kulit
monomorfik (efloresensi tunggal) dapat berupa eritema, skuama,
vesikel, pustul, dan erosi.
- Umumnya dapat sembuh sendiri, namun menimbulkan
penebalan kulit, dan kadang-kadang berlanjut menjadi DKI
kumulatif.
e. DKI traumatik:
- Kelainan kulit berkembang lambat setelah trauma panas atau
laserasi.
- Gejala seperti dermatitis numularis (lesi akut dan basah).
- Penyembuhan lambat, paling cepat 6 minggu.
- Predileksi paling sering terjadi di tangan.
f.
-

DKI non eritematosa:


Merupakan bentuk subklinis DKI, ditandai dengan perubahan
fungsi sawar stratum korneum, hanya ditandai oleh skuamasi
ringan tanpa disertai kelainan klinis lain.

g. DKI subyektif/ DKI sensori:


- Kelainan kulit tidak terlihat, namun penderita merasa seperti
tersengat (pedih) atau terbakar (panas) setelah kontak dengan
bahan kimia tertentu, misalnya
- asam laktat.

4. Pemeriksaan penunjang: tidak diperlukan.


Diagnosis banding:
Dermatitis kontak alergi
Penatalaksanaan:
Keluhan dapat diatasi dengan pemberian farmakoterapi, berupa:
1. Pengobatan topikal (2x sehari)
- Pelembab krim hidrofilik urea 10%.
- Kortikosteroid: Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak tersedia
dapat digunakan fluosinolon asetonid krim 0.025%).
- Pada kasus DKI kumulatif dengan manifestasi klinis likenifikasi dan
hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan betametason valerat krim
0.1% atau mometason furoat krim 0.1%).
- Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan pemberian
antibiotik topikal.
2. Pengobatan sistemik
- Antihistamin hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu,
atau
- Loratadine 1x10 mg/ hari selama maksimal 2 minggu.

Pasien perlu mengidentifikasi faktor risiko, menghindari bahan-bahan


yang bersifat iritan, baik yang bersifat kimia, mekanis, dan fisis,
memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab serta
memakai alat pelindung diri untuk menghindari kontak iritan saat
bekerja.
Konseling & Edukasi:
- Konseling untuk menghindari bahan iritan di rumah saat mengerjakan
pekerjaan rumah tangga.
- Edukasi menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan
sepatu boot.
- Memodifikasi lingkungan tempat bekerja.

Unit terkait

BP

Kriteria rujukan:
Apabila dibutuhkan patch test
Apabila kelainan tidak membaik dalam 4 minggu pengobatan standar
dan sudah menghindari kontak.

Pengertian
Tujuan
Kebijakan

Dermatitis atopik adalah peradangan kulit yang disertai dengan rasa


gatal. Peradangan biasanya berlangsung lama, bahkan bertahun-tahun
1. Sebagai pedoman mendiagnosis dermatitis atopik (DA)
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita dermatitis atopik
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah 1.Anamnesis: pruritus (gatal), dapat hilang timbul sepanjang hari, tetapi
umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya penderita akan
menggaruk. Pasien biasanya mempunyai riwayat juga sering
merasa cemas, egois, frustasi, agresif, atau merasa tertekan. Faktor
risikonya seperti, wanita>pria (rasio 1,3:1), riwayat atopi pada
pasien dan atau keluarga (rhinitis alergi, konjungtivitis
alergi/vernalis, asma bronkial, dermatitis atopik, dll), faktor
lingkungan: jumlah keluarga kecil, pendidikan ibu semakin tinggi,
penghasilan meningkat, migrasi dari desa ke kota, dan
meningkatnya penggunaan antibiotik, serta riwayat sensitif
terhadap wol, bulu kucing, anjing, ayam, burung, dan sejenisnya.
Adapun faktor pemicunya antara lain, Makanan (telur, susu,
gandum, kedelai, dan kacang tanah), tungau debu rumah, sering
mengalami infeksi di saluran napas atas (kolonisasi Staphylococus
aureus).
2.Pemeriksaan fisik: pada perabaan kulit terasa kering, pucat/redup, jari
tangan teraba dingin, terdapat papul, likenifikasi, eritema, erosi,
eksoriasi, eksudasi dan krusta pada lokasi predileksi. Predileksinya
meliputi:
a. Tipe bayi (infantil)
Dahi, pipi, kulit kepala, leher, pergelangan tangan dan

tungkai, serta lutut (pada anak yang mulai merangkak).


Lesi berupa eritema, papul vesikel halus, eksudatif, krusta.

b. Tipe anak
Lipat siku, lipat lutut, pergelangan tangan bagian dalam,
kelopak mata, leher, kadang-kadang di wajah.
Lesi berupa papul, sedikit eksudatif, sedikit skuama,
likenifikasi, erosi. Kadang-kadang disertai pustul.

c. Tipe remaja dan dewasa


Lipat siku, lipat lutut, samping leher, dahi, sekitar mata,
tangan dan pergelangan tangan, kadang-kadang ditemukan
setempat misalnya bibir mulut, bibir kelamin puting susu,
atau kulit kepala.
Lesi berupa plak papular eritematosa, skuama, likenifikasi,
kadang-kadang erosi dan eksudasi, terjadi hiperpigmentasi.
d. Berdasarkan derajat keparahan terbagi menjadi
DA ringan: apabila mengenai < 10% luas permukaan kulit.
DA sedang: apabila mengenai 10-50% luas permukaan kulit.
DA berat: apabila mengenai > 50% luas permukaan kulit.
Tanpa penyulit (umumnya tidak diikuti oleh infeksi
sekunder). Dengan penyulit (disertai infeksi sekunder atau
meluas dan menjadi rekalsitran (tidak membaik dengan
pengobatan standar).
Diagnosis ditegakkan berdasarkan 3 kriteria mayor dan 3 kriteria
minor dari kriteria Williams (1994) di bawah ini:
Kriteria Mayor:
a. Pruritus
b. Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak
c. Dermatitis di fleksura pada dewasa
d. Dermatitis kronis atau berulang
e. Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya
Kriteria Minor:
a. Xerosis.
b. Infeksi kulit (khususnya oleh S. aureus atau virus herpes
simpleks).
c. Iktiosis/ hiperliniar palmaris/ keratosis piliaris.
d. Pitriasis alba.
e. Dermatitis di papilla mamae.
f. White dermogrhapism dan delayed blanch response.
g. Kelilitis.
h. Lipatan infra orbital Dennie-Morgan.
i. Konjunctivitis berulang.
j. Keratokonus.
k. Katarak subskapsular anterior.
l. Orbita menjadi gelap.

m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.
u.
v.

Muka pucat atau eritem.


Gatal bila berkeringat.
Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak.
Aksentuasi perifolikular.
Hipersensitif terhadap makanan.
Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh factor lingkungan dan
atau emosi.
19. Tes kulit alergi tipe dadakan positif.
Kadar IgE dalam serum meningkat.
Mulai muncul pada usia dini.

Pada bayi, kriteria diagnosis dimodifikasi menjadi: 3 kriteria mayor


berupa:
1. Riwayat atopi pada keluarga.
2. Dermatitis pada muka dan ekstensor.
3. Pruritus.
ditambah 3 kriteria minor berupa:
1. Xerosis/iktiosis/hiperliniaris palmaris, aksentuasi perifolikular.
2. Fisura di belakang telinga.
3. Skuama di scalp kronis.

Penatalaksanaan:
Penatalaksanaan dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, yaitu:
1) Menemukan faktor risiko
2) Menghindari bahan-bahan yang bersifat iritan termasuk pakaian
sepert wol atau bahan sintetik
3) Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab
4) Menjaga kebersihan bahan pakaian
5) Menghindari pemakaian bahan kimia tambahan
6) Membilas badan segera setelah selesai berenang untuk
menghindari kontak klorin yang terlalu lama
7) Menghindari stress psikis
8) Menghindari bahan pakaian terlalu tebal, ketat, kotor
9) Pada bayi, menjaga kebersihan di daerah popok, iritasi oleh
kencing atau feses, dan hindari pemakaian bahan-bahan
medicatedbaby oil
10) Menghindari pembersih yang mengandung antibakteri karena
menginduksi resistensi

Kriteria Rujukan:
1. Dermatitis atopik luas, dan berat
2. Dermatitis atopik rekalsitran atau dependent steroid
3. Bila diperlukan skin prick test/tes uji tusuk
4. Bila gejala tidak membaik dengan pengobatan standar selama 4
minggu
5.Bila kelainan rekalsitran atau meluas sampai eritroderma

Unit terkait

Pengertian

Tujuan
Kebijakan

BP

Dermatitis nurmularis adalah peradangan pada kulit yang merupakan


respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan. atau faktor endogen,
menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi yang polimorfik
(eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan
gatal.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis dermatitis numularis
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita dermatitis
numularis
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: bercak merah yang basah pada predileksi tertentu


dan sangat gatal. Keluhan hilang timbul dan sering kambuh.
Faktor risikonya seperti, pria, usia 55-65 tahun (pada wanita 1525 tahun), riwayat trauma fisis dan kimiawi (fenomena Kobner:
gambaran lesi yang mirip dengan lesi utama), riwayat dermatitis
kontak alergi, riwayat dermatitis atopik pada kasus dermatitis
numularis anak, stress emosional, minuman alkohol, lingkungan
dengan kelembaban rendah, riwayat infeksi kulit sebelumnya.
2. Pemeriksaan fisik: lesi akut berupa vesikel dan papulo vesikel
(0.3 1.0 cm), berbentuk uang logam, eritematosa, sedikit
edema, dan berbatas tegas. Tanda eksudasi, karena vesikel
mudah pecah, kemudian mengering menjadi krusta kekuningan.
Jumlah lesi dapat satu, dapat pula banyak dan tersebar, bilateral,
atau simetris, dengan ukuran yang bervariasi. Predileksi

terutama di tungkai bawah, badan, lengan, termasuk punggung


tangan.
3. Pemeriksaan penunjang: tidak diperlukan.
Diagnosis Banding:
a. Dermatitis kontak.
b. Dermatitis atopi.
c. Neurodermatitis sirkumskripta.
d. Dermatomikosis.

Penatalaksanaan:
Pasien disarankan untuk menghindari faktor yang mungkin
memprovokasi seperti stres dan fokus infeksi di organ lain.
Farmakoterapi yang dapat diberikan, yaitu:
1. Topikal (2x sehari)
a. Kompres terbuka dengan larutan PK (Permanganas Kalikus)
1/10.000, menggunakan 3 lapis kasa bersih, selama masingmasing 15-20 menit/kali kompres (untuk lesi madidans/basah)
sampai lesi mengering.
b. Kemudian terapi dilanjutkan dengan kortikosteroid topikal:
Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat
digunakan fluosinolon asetonid krim 0.025%) selama
maksimal 2 minggu.
c. Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan
hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan betametason
valerat krim 0.1% atau mometason furoat krim 0.1%.
d. Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan
pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.
2. Oral sistemik
a. Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1 tablet) selama
maksimal 2 minggu, atau
b. Loratadine/cetirizin 1x10 mg/ hari selama maksimal 2
minggu.
3. Jika ada infeksi bakterial, diberikan antibiotik topikal atau
sistemik bila lesi luas.

Konseling & Edukasi:


Memberikan edukasi bahwa kelainan bersifat kronis dan berulang,
sehingga penting untuk pemberian obat topikal rumatan. Menjaga
terjadinya infeksi sebagai faktor risiko terjadinya relaps.

Kriteria Rujukan:
1. Apabila kelainan tidak membaik dengan pengobatan topikal
standar.
2. Apabila diduga terdapat faktor penyulit lain, misalnya fokus
infeksi pada organ lain, maka konsultasi dan/atau disertai
rujukan kepada dokter spesialis terkait (contoh: Gigi mulut,
THT, obsgyn, dll) untuk penatalaksanaan fokus infeksi
tersebut.

Unit terkait

Pengertian

Tujuan
Kebijakan

BP

Napkin eczema atau sering disebut juga dengan dermatitis


popok / diaper rash adalah dermatitis di daerah genito-krural sesuai
dengan tempat kontak popok. Umumnya pada bayi pemakai popok
dan juga orang dewasa yang sakit dan memakai popok. Dermatitis ini
merupakan salah satu dermatitis kontak iritan akibat isi napkin
(popok).
1. Sebagai pedoman mendiagnosis napkin eczema
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita napkin eczema
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: gatal dan bercak merah berbatas tegas, mengikuti


bentuk popok yang berkontak kadang-kadang membasah dan
membentuk luka. Faktor risikonya seperti, popok jarang
diganti, kulit bayi yang kering sebelum dipasang popok,
riwayat atopi diri dan keluarga, riwayat alergi terhadap bahan
plastik dan kertas.
2. Pemeriksaan fisik: makula eritematosa berbatas agak tegas
(bentuk mengikuti bentuk popok yang berkontak), papul,
vesikel, erosi, ekskoriasi, infiltran dan ulkus bila parah, serta
plak eritematosa (merah cerah), membasah, kadang pustul, lesi
satelit (bila terinfeksi jamur).
3. Pemeriksaan penunjang: bila diduga terinfeksi jamur kandida,
perlu dilakukan pemeriksaan KOH/Gram dari kelainan kulit
yang basah.

Diagnosis Banding:
a. Penyakit Letterer-Siwe
b. Akrodermatitis enteropatika
c. Psoriasis infersa
d. Eritrasma
4.Penatalaksanaan:
Untuk mengurangi gejala dan mencegah bertambah beratnya lesi,
perlu dilakukan hal berikut:
a. Ganti popok bayi lebih sering, gunakan pelembab sebelum
memakaikan popok bayi.
b. Dianjurkan pemakaian popok sekali pakai jenis highly
absorbent.

Prinsip pemberian farmakoterapi yaitu untuk menekan inflamasi


dan mengatasi infeksi kandida
a. Bila ringan: krim/ salep bersifat protektif (zinc
oxide/pantenol) dipakai 2x sehari selama 1 minggu atau
kortikosteroid potensi lemah (salep hidrokortison 1-2.5%)
dipakai 2x sehari selama 3-7 hari.
b. Bila terinfeksi kandida: berikan antifungal nistatin sistemik 1
kali sehari selama 7 hari atau derivat azol topikal dikombinasi
dengan zinc oxide diberikan 2 kali sehari selama 7 hari.

Konseling & Edukasi:


a. Memberitahu keluarga mengenai penyebab dan menjaga
higiene
b. Mengajarkan cara penggunaan popok dan mengganti
secepatnya bila popok basah
c. Mengganti popok sekali pakai bila kapasitas telah penuh

Rencana Tindak Lanjut:


Setelah 1 minggu dari pemakaian terapi standar. Bila gejala tidak
menghilang setelah pemakaian terapi standar selama 1 minggu,
dilakukan:
a. Pengobatan dapat diulang 7 hari lagi.
b. Pertimbangkan untuk pemeriksaan ulang KOH atau Gram.

Kriteria rujukan: bila keluhan tidak membaik setelah pengobatan


standar selama 2 minggu.
Unit terkait

MTBS

Pengertian

Tujuan
Kebijakan

Dermatitis seboroik adalah penyakit kulit yang biasanya menjangkiti kulit


kepala dan area tubuh yang berminyak, seperti punggung, wajah, serta dada
bagian atas. Pada kulit kepala, penyakit ini menyebabkan kulit berwarna
merah, berketombe, dan bersisik
1. Sebagai pedoman mendiagnosis dermatitis seboroik
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita dermatitis seboroik
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter spesialis
kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: pasien datang dengan keluhan munculnya bercak merah


dan kulit kasar. Kelainan awal hanya berupa ketombe ringan pada kulit
kepala (pitiriasis sika) sampai keluhan lanjut berupa keropeng yang
berbau tidak sedap dan terasa gatal. Faktor risikonya seperti, genetik,
faktor kelelahan, stres emosional, infeksi, defisiensi imun, pria lebih
sering daripada wanita, usia bayi bulan 1 dan usia 18-40 tahun, dan
kurang tidur.
2. Pemeriksaan fisik: lesi berupa papul sampai plak eritema, skuama
berminyak agak kekuningan, dan berbatas tidak tegas. Predileksi di
kulit kepala, dahi, glabela, belakang telinga, belakang leher, alis mata,
kelopak mata, liang telinga luar, lipat naso labial, sternal, areola
mammae, lipatan bawah mammae wanita, interskapular, umbilikus,
lipat paha, dan daerah anogenital. Bentuk klinis lain berupa lesi berat
yang mana seluruh kepala tertutup oleh krusta, kotor, dan berbau
(cradle cap).
3. Pemeriksaan penunjang: tidak diperlukan.
Diagnosis Banding:
a. Psoriasis (skuamanya berlapis-lapis, tanda Auspitz, skuama tebal
seperti mika).
b. Kandidosis (pada lipat paha dan perineal, eritema bewarna merah

cerah berbatas tegas dengan lesi satelit disekitarnya).


c. Otomikosis.
d. Otitis eksterna.

Penatalaksanaan:
Pasien diminta untuk memperhatikan faktor predisposisi terjadinya
keluhan, misalnya stres emosional dan kurang tidur. Diet juga
disarankan untuk mengkonsumsi makanan rendah lemak.
Pengobatan terhadap keluhannya dengan:

1. Pengobatan topikal
Bayi:
Pada lesi di kulit kepala bayi diberikan asam salisilat 3% dalam minyak
kelapa atau vehikulum yang larut air atau kompres minyak kelapa hangat
1x/hari selama beberapa hari.
Dilanjutkan dengan krim hidrokortison 1% atau lotion selama beberapa
hari. Selama pengobatan, rambut tetap dicuci
Dewasa:
a. Pada lesi di kulit kepala, diberikan shampo selenium sulfida 1.8
(Selsun-R) atau ketokonazol 2% shampo, zink pirition (shampo
anti ketombe), atau pemakaian preparat ter (liquor carbonis
detergent) 2-5 % dalam bentuk salep dengan frekuensi 2-3 kali
seminggu selama 5-15 menit per hari.
b. Pada lesi di badan diberikan kortikosteroid topikal: Desonid krim
0.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon
asetonid krim 0.025%) selama maksimal 2 minggu.
c. Pada kasus dengan manifestasi dengan inflamasi yang lebih berat
diberikan kortikosteroid kuat (betametason valerat krim 0.1%).
d. ada kasus dengan infeksi jamur, perlu dipertimbangkan pemberian
krim ketokonazol 2% topikal
2. Pengobatan sistemik
a. Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1 tablet) selama
maksimal 2 minggu, atau
b. Loratadine/cetirizin 1x10 mg/ hari selama maksimal 2 minggu.

Unit terkait

Konseling & Edukasi:


1. Memberitahukan kepada orang tua untuk menjaga kebersihan bayi
dan rajin merawat kulit kepala bayi.
2. Memberitahukan kepada orang tua bahwa kelainan ini umumnya
muncul pada bulan-bulan pertama kehidupan dan membaik seiring
dengan pertambahan usia.
3. Memberikan informasi dengan faktor konstitusi bahwa penyakit ini
sukar disembuhkan tetapi dapat terkontrol dengan mengontrol emosi
dan psikisnya.

Kriteria rujukan:
Apabila tidak ada perbaikan dengan tatalaksana standar.

MTBS & BP

Pitiriasis Rosea adalah kondisi pada kulit tubuh yang berupa ruam,
Entertain

Tujuan
Kebijakan

berwarna merah muda atau merah, dan berbentuk seperti bekas luka
atau benjolan merah menyerupai tambalan.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis pitiriasis rosea
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita pitiriasis rosea
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: pasien datang dengan keluhan lesi kemerahan


yang awalnya satu kemudian diikuti dengan lesi yang lebih
kecil yang menyerupai pohon cemara terbalik. Lesi ini
kadang-kadang dikeluhkan terasa gatal ringan. Faktor
risikonya semua umur, terutama antara 15-40 tahun, dengan
rasio pria dan wanita sama besar. Etiologi belum diketahui,
ada yang mengatakan hal ini merupakan infeksi virus karena
merupakan self limited disease.
2. Pemeriksaan fisik: gejala konstitusi pada umumnya tidak
terdapat, sebagian penderita mengeluh gatal ringan. Penyakit
dimulai dengan lesi pertama (herald patch), umumnya di
badan, soliter, berbentuk oval, dan anular, diameternya sekitar
3 cm. Lesi terdiri atas eritema dan skuama halus di atasnya.
Lamanya beberapa hari sampai dengan beberapa minggu.
Lesi berikutnya timbul 4-10 hari setelah lesi pertama, dengan
gambaran serupa dengan lesi pertama, namun lebih kecil,
susunannya sejajar dengan tulang iga, sehingga menyerupai
pohon cemara terbalik. Tempat predileksi yang sering adalah
pada badan, lengan atas bagian proksimal dan paha atas.

3. Pemeriksaan penunjang: bila diperlukan, pemeriksaan


mikroskopis KOH dilakukan untuk menyingkirkan Tinea
Korporis.

Diagnosis Banding:
a. Tinea korporis
b. Erupsi obat
Penatalaksanaan:
Terapi adalah dengan pengobatan simptomatik, misalnya untuk
gatal diberikan antipruritus seperti bedak asam salisilat 1-2%
atau mentol 0.25-0.5%.
Konseling & Edukasi: edukasi pasien dan keluarga bahwa penyakit
ini swasirna
Unit terkait

BP

Entertain

Tujuan
Kebijakan

Acne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea yang


ditandai dengan adanya komedo, papula, pustula, dan kista pada
daerah-daerah predileksi seperti muka, bahu, bagian atas dari
ekstremitas superior dada dan punggung
1. Sebagai pedoman mendiagnosis acne vulgaris
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita acne vulgaris
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
Langkah - langkah

Penatalaksanaan:
Untuk pencegahan pasien disarankan menghindari terjadinya
peningkatan jumlah lipid sebum dan perubahan isi sebum dengan
cara diet rendah lemak dari karbohidrat atau dengan melakukan
perawatan kulit. Menghindari factor pemicu, misalnya pemakaian
kosmetik yang berlebihan. Memberikan informasi yang cukup
kepada pasien.
Pengobatan terhadap keluhannya dengan:
1. Pengobatan topikal
- Pengobatan topikal yang dapat mengelupas kulit: sulfur, resorsinol,
asam salisilat, benzoil peroksida, asam azeleat
- Pengobatan topikal yg dapat mengurangi jumlah mikroba: tetrasiklin,
eritromisin, klindamisin fosfat
- antiperadangan topikal atau krim kortikosteroid, bila
berbentuk kista dapat diberikan suntikan intralesi
2. Pengobatan sistemik
- antibakteri sistemik: tetrasiklin 2x500mg, doksisiklin
1x50mg, eritromisin 2x500mg, minosiklin 1x500mg
- obat hormonal estrogen

- vitamin A dan retinoid oral, tetapi tidak diberikan pada wanita


hamil karena teratogenik
- Pengobatan topikal yg dapat mengurangi jumlah mikroba: tetrasiklin,
eritromisin, klindamisin fosfat
- antiperadangan topikal atau krim kortikosteroid, bila
berbentuk kista dapat diberikan suntikan intralesi
3. Pengobatan sistemik
- antibakteri sistemik: tetrasiklin 2x500mg, doksisiklin
1x50mg, eritromisin 2x500mg, minosiklin 1x500mg
- obat hormonal estrogen
- vitamin A dan retinoid oral, tetapi tidak diberikan pada wanita
hamil karena teratogenik
Unit terkait

BP

Entertain

Tujuan

Kebijakan

Hidradenitis suppurativa atau acne inversa merupakan penyakit


kulit jangka panjang yang menyebabkan timbulnya benjolan di
bawah kulit di dekat kelenjar keringat
1. Sebagai pedoman mendiagnosis hidradenitis supuratif
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita hidradenitis
supuratif
1.
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita
dilakukan sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit
perlu konsul dokter spesialis kulit dan kelamin atau bedah.
2.
Hidradenitis supuratif merupakan peradangan kronis
supuratif dan sikatrikal pada kelenjar apokrin di aksila,
selangkangan, dan perineum.

Referensi

Langkah langkah

Unit terkait

Penatalaksanaan:
Diberikan antiseptik topikal seperti larutan povidone iodin
Oral sistemik: Antibiotik spectrum luas seperti klindamisin
3x300mg atau eritromisin 3x500mg, oral kortikosteroid
Bila perlu dilakukan eksisi ataupun insisi.
Kriteria rujukan: tidak membaik setelah diberikan terapi standar.
BP

Pengertian

Dermatitis Perioral adalah suatu penyakit kulit yang ditandai oleh


adanya beruntus-beruntus merah di sekitar mulut.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis dermatitis perioral
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita dermatitis perioral

Tujuan
Kebijakan

Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai


dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin.

Referensi
1. Manifestasi klinis: dermatitis perioral bisa sangat menyerupai
jerawat atau rosasea. Diantara batas bibir dengan ruam kulit
biasanya dipisahkan oleh daerah kulit yang normal. Bisa terasa
sangat gatal dan bahkan sampai menyengat. Di sekitar bibir tampak
beruntus-beruntus kecil berupa papul kemerahan ataupun pustul.
Kadang beruntus-beruntus tersebut membentuk plak (daerah
kemerahan yang menonjol) atau bercak (daerah kemerahan yang
mendatar).
2. Faktor risiko: wanita yang berusia 20-60 tahun dan bisa muncul
setelah pemakaian salep kortikosteroid di wajah untuk mengobati
suatu penyakit.
3. Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan lampu Wood menampakkan
pendaran (fluoresensi) kuning keemasan pada lesi yang bersisik.
Pemeriksaan mikroskopis sediaan kerokan skuama lesi dengan
KOH akan tampak campuran hifa pendek dan spora-spora bulat
yang dapat berkelompok (spaghetti and meatball appearance).

Langkah langkah

Penatalaksanaan:
Pengobatan yang terbaik adalah tetracyclin oral. Jika penyakitnya
berat dan pemberian antibiotik tidak dapat memperbaiki ruam kulit,
maka diberikan obat jerawat isotretinoin.

Unit terkait

Pengertian
Tujuan
Kebijakan

BP

Miliaria adalah gangguan umum dari kelenjar keringat eccrine yang


sering terjadi dalam kondisi hawa panas yang tinggi
1. Sebagai pedoman mendiagnosis miliaria
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita miliaria
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: gatal yang disertai timbulnya vesikel, atau bintil


terutama muncul saat berkeringat, pada lokasi predileksi, kecuali
pada miliaria profunda. Faktor risikonya seperti, tinggal di
lingkungan tropis, panas, kelembaban yang tinggi, dan pemakaian
baju terlalu ketat.
2. Pemeriksaan fisik: berdasarkan klasifikasi, yaitu:
a. Miliaria kristalina
Terdiri atas vesikel miliar (1-2 mm), sub korneal tanpa tanda
inflamasi, mudah pecah dengan garukan, dan deskuamasi dalam
beberapa hari.
Predileksi pada badan yang tertutup pakaian.
Gejala subjektif ringan dan tidak memerlukan pengobatan.
Cukup dengan menghindari panas yang berlebihan,
mengusahakan ventilasi yang baik, pakaian tipis dan menyerap
keringat.
b. Milaria rubra
Jenis tersering, vesikel miliar atau papulo vesikal di atas dasar
eritematosa sekitar lubang keringat, tersebar diskret.
Tatalaksana cukup dengan menghindari panas yang berlebihan,
mengusahakan ventilasi yang baik, pakaian tipis dan menyerap
keringat.
Gejala subjektif gatal dan pedih pada di daerah predileksi.

c. Miliaria profunda
Merupakan kelanjutan miliaria rubra, berbentuk papul putih
keras berukuran 1-3 mm, mirip folikulitis, dapat disertai pustul.
Predileksi pada badan dan ekstremitas.
d. Miliaria pustulosa
- Berasal dari miliaria rubra, dimana vesikelnya berubah
menjadi pustul.
Diagnosis Banding:
1. Campak / morbili.
2. Folikulitis.
3. Varisela.
4. Kandidiasis kutis.
5. Erupsi obat morbiliformis.

Penatalaksanaan:
Melakukan modifikasi gaya hidup, yaitu:
- Memakai pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat.
- Menghindari panas dan kelembaban yang berlebihan
- Menjaga kebersihan kulit
- Mengusahakan ventilasi yang baik

Memberikan farmakoterapi, seperti:


1. Pengobatan topikal
a. Bedak kocok: likuor faberi atau bedak kocok yang
mengandung kalamin dan antipruritus lain (mentol dan
kamfora) diberikan 2x sehari selama 1 minggu.
b. Lanolin topikal atau bedak salisil 2% dibubuhi mentol -2 %
sekaligus diberikan 2x sehari selama 1 minggu. Terapi
berfungsi sebagai antipruritus rubra untuk menghilangkan
dan mencegah timbulnya miliaria profunda.
2. Pengobatan sistemik (bila gatal dan bila diperlukan)
a. Antihistamin sedatif: hidroksisin 2 x 25 mg per hari selama 7
hari, atau
b. Antihistamin non sedatif: loratadin/cetirizin 1 x 10 mg per hari
c. selama 7 hari.

Konseling & Edukasi:


1. Menghindari kondisi hidrasi berlebihan atau membantu pasien
untuk pakaian yang sesuai dengan kondisinya.
2. Menjaga ventilasi udara di dalam rumah.
3. Menghindari banyak berkeringat.
4. Memilih lingkungan yang lebih sejuk dan sirkulasi udara
(ventilasi) cukup.
5. Mandi air dingin dan memakai sabun

Unit terkait

BP

Pengertian

Tujuan
Kebijakan

Urtikaria adalah kondisi kelainan kulit berupa reaksi vaskular


terhadap bermacam-macam sebab, biasanya disebabkan oleh suatu
reaksi alergi, yang mempunyai ciri-ciri berupa kulit kemerahan
(eritema) dengan sedikit oedem atau penonjolan (elevasi) kulit
1. Sebagai pedoman mendiagnosis urtikaria akut
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita urtikaria akut
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: pasien datang dengan keluhan biasanya gatal, rasa


tersengat atau tertusuk. Gatal sedang-berat di kulit yang disertai
bentol-bentol di daerah wajah, tangan, kaki, atau hampir di
seluruh tubuh. Keluhan dapat juga disertai rasa panas seperti
terbakar atau tertusuk. Kadang-kadang terdapat keluhan sesak
napas, nyeri perut, muntah-muntah, nyeri kepala, dan berdebardebar (gejala angioedema). Faktor risikonya seperti, riwayat
atopi pada diri dan keluarga, riwayat alergi, riwayat trauma fisik
pada aktifitas (panas, dingin, trauma sinar x dan cahaya), riwayat
gigitan/sengatan serangga, konsumsi obat-obatan (NSAID,
antibiotik tersering penisilin, diuretik, imunisasi, injeksi,
hormon, pencahar, dan sebagainya), konsumsi makanan (telur,
udang, ikan, kacang,, dsb), riwayat infeksi dan infestasi parasit,
penyakit autoimun dan kolagen, dan umur rata-rata 35 tahun.
2. Pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak sehat, dapat sakit
ringan sedang. Pemeriksaaan fisik lengkap termasuk

pemeriksaan gigi, THT, dan genital untuk menemukan adanya


fokus infeksi. Lesi kulit yang didapatkan berupa ruam atau patch
eritema, berbatas tegas, bagian tengah tampak pucat, bentuk
papul dengan ukuran bervariasi, mulai dari papular hingga
plakat, kadang-kadang disertai demografisme berupa edema
linier di kulit yang terkena goresan benda tumpul, timbul dalam
waktu < 30menit. Pada lokasi tekanan dapat timbul lesi urtika.
Tanda lain dapat berupa lesi bekas garukan. Predileksi bisa
terbatas di lokasi tertentu, namun dapat generalisata bahkan
sampai terjadi angioedema pada wajah atau bagian ekstremitas.
Pemeriksaan fisik perlu dilengkapi dengan pemeriksaan lainnya
yang dapat menyingkirkan adanya infeksi fokal (THT, dan
sebagainya).
5. Pemeriksaan penunjang:
a. Tes darah (eosinofil), urin dan feses rutin (memastikan
adanya fokus infeksi tersembunyi).
b. Uji gores (scratch test) untuk melihat dermografisme.
c. Tes eliminasi makanan: dengan cara menghentikan semua
makanan yang dicurigai untuk beberapa waktu, lalu
mencobanya kembali satu per satu.
d. Tes fisik: dingin (es batu)-panas (air hangat)
Klasifikasi:
a. Berdasarkan waktu berlangsungnya serangan, urtikaria
dibedakan atas urtikaria akut (< 6 minggu atau selama 4
minggu terus menerus) dan kronis (> 6 minggu).
b. Berdasarkan morfologi klinis, urtikaria dibedakan menjadi
urtikaria papular (papul), gutata (tetesan air) dan girata
(besar-besar).
c. Berdasarkan luas dan dalamnya jaringan yang terkena,
urtikaria dibedakan menjadi urtikaria lokal (akibat gigitan
serangga atau kontak), generalisata (umumnya disebabkan
oleh obat atau makanan) dan angioedema.
d. Berdasarkan penyebab dan mekanisme terjadinya, urtikaria
dapat dibedakan menjadi:
1. Urtikaria imunologik, yang dibagi lagi menjadi:
Keterlibatan IgE reaksi hipersensitifitas tipe I
(Coombs and Gell) yaitu pada atopi dan adanya
antigen spesifik
Keikutsertaan komplemen reaksi hipersensitifitas
tipe II dan III (Coombs and Gell), dan genetik
Urtikaria kontak reaksi hipersensitifitas tipe 4
(Coombs and Gell)
2. Urtikaria non-imunologik (obat golongan opiate, NSAID,
aspirin serta trauma fisik).
3. Urtikaria idiopatik (tidak jelas penyebab dan mekanismenya).
Diagnosis Banding:
1) Purpura anafilaktoid (Purpura Henoch-Schonlein).
2) Pitiriasis rosea (lesi awal berbentuk eritema).

3) Eritema multiforme (lesi urtika, umumnya terdapat pada


ekstremitas bawah).
Penatalaksanaan:
Prinsip: tata laksana pada layanan primer dilakukan dengan firstline therapy, yaitu memberikan edukasi pasien tentang penyakit
urtikaria (penyebab dan prognosis) dan terapi farmakologis
sederhana.

Urtikaria akut: atasi keadaan akut terutama pada angioedema


karena dapat terjadi obstruksi saluran napas. Penanganan dapat
dilakukan di Unit Gawat Darurat bersama-sama dengan/atau
dikonsultasikan ke Spesialis THT. Bila disertai obstruksi saluran
napas, diindikasikan pemberian epinefrin subkutan yang
dilanjutkan dengan pemberian kortikosteroid Prednison 60-80
mg/hari selama 3 hari, dosis diturunkan 5-10 mg/hari.

Pengobatan terhadap keluhannya dengan:


-

Antihistamin (AH) oral nonsedatif, misalnya


Loratadin/Cetirizin 10 mg/hari pemakaian 1 x sehari selama
1 minggu.
Antipruritus topikal: cooling antipruritic lotion, seperti krim menthol
1% atau 2% selama
- 1 minggu terus menerus.
Konseling & Edukasi:
1. Prinsip pengobatan adalah identifikasi dan eliminasi faktor
penyebab urtikaria.
2. Penyebab urtikaria perlu menjadi perhatian setiap anggota
keluarga.
3. Pasien dapat sembuh sempurna.
Kriteria Rujukan:
1. Rujukan ke spesialis bila ditemukan fokus infeksi.
2. Jika urtikaria berlangsung kronik dan rekuren.
3. Jika pengobatan first-line therapy gagal.
4. Jika kondisi memburuk, yang ditandai dengan makin
bertambahnyapatch eritema, timbul bula, atau bahkan disertai
sesak.
Unit terkait

BP

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Exanthematous drug eruption adalah suatu reaksi simpang


hipersensitivitas terhadap obat
yang diadministrasi secara parenteral atau ditelan
1. Sebagai pedoman mendiagnosis Exanthematous Drug Eruption
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita Exanthematous
Drug Eruption
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis kulit dan kelamin

Referensi
Langkah - langkah

Penatalaksanaan:
Prinsipnya menghentikan obat terduga. Pada dasarnya erupsi
obat akan menyembuh bila obat penyebabnya dapat diketahui
dan segera disingkirkan.
Pengobatan terhadap keluhannya dengan:
1. Pengobatan topikal
- Bedak salisilat 2% dan antipruritus (Menthol 0.5% - 1%)
2. Pengobatan sistemik
a. Kortikosteroid sistemik: Prednison tablet 30 mg/hari dibagi
dalam 3 kali pemberian per hari selama 1 minggu.
b. Antihistamin sistemik:
- Setirizin2x10 mg/hari selama 7 hari bila diperlukan, atau
- Loratadin 10 mg/hari selama 7 hari bila diperlukan

Unit terkait

Konseling & Edukasi:


1. Prinsipnya adalah eliminasi obat penyebab erupsi.
2. Pasien dan keluarga diberitahu untuk membuat catatan kecil di
dompetnya tentang alergi obat yang dideritanya.
3. Memberitahukan bahwa kemungkinan pasien bisa sembuh
dengan adanya hiperpigmentasi pada lokasi lesi.
Kriteria rujukan:
1. Lesi luas, hampir di seluruh tubuh, termasuk mukosa dan
dikhawatirkan akan berkembang menjadi Sindroma Steven
Johnson.
2. Bila diperlukan untuk membuktikan jenis obat yang diduga
sebagai penyebab :
- Uji tempel tertutup, bila negatif lanjutan dengan
- Uji tusuk, bila negatif lanjutkan dengan
- Uji provokasi
3. Bila tidak ada perbaikan setelah mendapatkan pengobatan
standar dan menghindari obat selama 7 hari
4. Lesi meluas

BP

Pengertian

1. Vulnus laseratum (luka robek/laserasi) adalah jenis luka yang


disebabkan oleh beberapa hal seperti, benturan dengan benda
tumpul, jatuh ke benda tajam dan keras, kecelakaan lalu lintas dan
kereta api, maupun kecelakaan akibat kuku dan gigitan; dengan
manifestasi klinis, yaitu bentuk tidak teratur, tepi luka tidak rata,
jaringan rusak, bengkak, perdarahan, akar rambut tampak hancur
atau tercabut bila kekerasanya di daerah rambut, dan tampak lecet
atau memar di setiap luka.

2. Vulnus punctum (luka tusuk) adalah jenis luka yang disebabkan


akibat tertusuk benda runcing tajam yang kedalaman lukanya lebih
dari lebarnya. Manifestasi klinis meliputi, bentuk teratur, tepi rata,
tidak ada jembatan jaringan, rambut sekitarnya bisa terpotong,
biasanya jarang ditemukan lecet ataupun memar di sekitarnya.

Tujuan

Kebijakan

1. Sebagai pedoman mendiagnosis dan mendeskripsikan vulnus


laseratum dan vulnus punctum
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita vulnus laseratum
dan vulnus punctum
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan sesuai
dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul dokter
spesialis bedah.

Referensi
Langkah langkah

1. Anamnesis: menanyakan mekanisme trauma atau terjadinya luka


2. Pemeriksaan fisik: periksa keadaan umum, perhatikan tanda-tanda
syok seperti, tekanan darah menurun hingga tidak teraba, keringat
dingin dan lemah, kesadaran menurun hingga tidak sadar. Periksa
status lokalis seperti nyeri tekan, hangat, edema, dan perdarahan.
Deskripsikan luka sesuai dengan jumlah, lokasi, bentuk, ukuran
dalam cm (panjang x lebar x tinggi), batas tegas/tidak, tepi
rata/tidak, jembatan jaringan, dasar luka, dan adakah memar dan
lecet disekitarnya.
3. Penatalaksanaan:
1. Wound Cleansing
Langkah membersihkan luka secara umum adalah:

Lakukan tindakan antiseptic


Anestesi lokal
Mechanical Scrubbing, menggosok luka dengan kassa steril,
memakai larutan antiseptik

Dilusi dan irrigasi 500-2000 cc atau 50-100 cc/panjang luka,


tergantung dari luas dan kotornya luka.
- Larutan yang digunakan adalah NS
- Dilanjutkan dengan klorheksidin atau povidon iodine
- Kembali irigasi dan dilusi sampai benar-benar bersih
2. Debridemen
Pembersihan luka dan debridemen diawali pada lapisan
superfisial jaringan sampai ke lapisan terdalam.
Perhatikan tanda-tanda jaringan avital/mati, yaitu warna lebih
pucat, lebih rapuh dan tidak berdarah.
Buang jaringan avital dengan pisau atau gunting, perhatikan
anatomi daerah tersebut, jangan mencederai vaskular atau
nervus.
Lakukan debridement sampai jaringan yang normal terlihat,
biasanya terlihat adanya perdarahan dari jaringan yang
dipotong.
3. Penutupan Luka
Jika luka bersih dan jaringan kulit dapat menutup, maka lakukan
jahitan primer.
Jika luka bersih namun diperkirakan produktif, misalnya
kemungkinan seroma atau infeksi, maka pasanglah drain.
Jika luka kotor, maka lakukan perawatan luka terbuka untuk
selanjutnya dilakukan hekting sekunder.
4. Medikamentosa
Antibiotik
Tujuan pemberian atibiotik adalah untuk profilaksis
Topikal /larutan/Salep
Mengurangi pembaentukan krusta yang dapat menghambat
epitaelisasi
Mencegah kassa melekat pada luka
Mengurangi tingkat infeksi
Sistemik berupa sediaan oral ataupun parenteral. Dapat
diberikan oral amoxicillin 3x500mg atau cefadroxil 3x500mg
Analgesik: parasetamol 3x500mg atau asam mefenamat 3x500mg
Roboransia: vitamin C 2x50mg
5. Pemberian Anti Tetanus
Pemberian tetanus toksoid dilakukan jika belum atau lama tidak
mendapatkan booster TT. Jika telah mendapat booster sebelumnya,
cukup diberikan anti tetanus serum yang terlebih dahulu dilakukan
skin test.
Konseling & Edukasi:
Pasien diingatkan untuk menjaga kebersihan lukanya dan tidak
terkena air selama 3 hari pertama.
Setelah 3 hari pasien dianjurkan untuk kontrol kembali.

Kriteria rujukan: bila luka terlalu dalam hingga merusak tulang


atau organ dalam dan perdarahan sulit dihentikan serta ada
tanda-tanda syok

Unit terkait

BP

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Referensi

Luka bakar adalah sejenis cedera pada daging atau kulit yang
disebabkan oleh panas, listrik, zat kimia, gesekan, atau radiasi.
Luka bakar yang hanya mempengaruhi kulit bagian luar dikenal
sebagai luka bakar superfisial atau derajat I. Bila cedera
menembus beberapa lapisan di bawahnya, hal ini disebut luka
bakar sebagian lapisan kulit atau derajat II.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis luka bakar derajat I dan II
2. Menentukan terapi yang tepat untuk penderita luka bakar
derajat I dan II
a. Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita
dilakukan sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang
sulit perlu konsul dokter spesialis bedah atau kulit dan
kelamin.
b. Luka bakar derajat I, kerusakan terbatas pada lapisan
epidermis (superficial), kulit hiperemi berupa eritema,
perabaan hangat, tidak dijumpai bulla, terasa nyeri karena
ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
c. Luka bakar derajat II, kerusakan meliputi epidermis dan
sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses
eksudasi. Terdapat bullae dan nyeri karena ujung-ujung
saraf sensorik yang teriritasi. Dibedakan atas 2 bagian :
Derajat II dangkal/superficial (IIA): Kerusakan mengenai
bagian epidermis dan lapisan atas dari corium/dermis.
derajat II dalam/deep (IIB): Kerusakan mengenai hampir
seluruh bagian dermis dan sisa-sisa jaringan epitel masih
sedikit. Organ-oran kulit seperti folikel rambut, kelenjar
keringat dan kelenjar sebacea tinggal sedikit sehingga
penyembuhan terjadi lebih dari satu bulan dan disertai
parut hipertrofi.

Langkah - langkah

1. Anamnesis: pada luka bakar derajat I paling sering


disebabkan sinar matahari sehingga biasanya pasien hanya
mengeluh kulit terasa nyeri dan kemerahan. Pada luka bakar
derajat II timbul nyeri dan bulae.
2. Pemeriksaan fisik: pada luka bakar derajat I kulit hanya
tampak eritema dengan perabaan hangat, tidak dijumpai
adanya bula. Pada luka bakar derajat II timbul nyeri, timbul
gelembung atau bula berisi cairan eksudat. Pada derajat IIa,
memucat dengan penekanan, biasanya berkeringat. Pada
derajat IIb, permukaan putih, tidak memucat dengan
penekanan.
3. Pemeriksaan penunjang: darah lengkap.
Menentukan luas luka bakar berdasarkan rumus rule of nine

Kriteria Berat Ringannya luka bakar dapat dipakai ketentuan


berdasarkan American Burn Association, yaitu sebagai berikut:
1. Luka Bakar Ringan
- Luka bakar derajat II < 15%
- Luka bakar derajat II < 10% pada anak-anak
- Luka bakar derajat III< 2%
2. Luka Bakar Sedang
- Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa
- Luka bakar II 10-25% pada anak-anak
- Luka bakar derajat III< 10%
3. Luka Bakar Berat
- Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak
- Luka bakar derajat II 10% atau lebih
- Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan
genitalia/perinerium
- Luka bakar dengan cedera inhalasi, disertai trauma lain.

Penatalaksanaan:
Luka bakar derajat 1 penyembuhan terjadi secara spontan tanpa
pengobatan khusus.

Penatalaksanaan luka bakar derajat II tergantung luas luka


bakar.

Pada penanganan perbaikan sirkulasi pada luka bakar dikenal


beberapa formula salah satunya yaitu Formula Baxter sebagai
berikut
o Hari Pertama:
Dewasa: Ringer Laktat 4 cc x BB x % luas bakar per 24 jam
Anak:
Ringer Laktat : Dextran = 17 : 3
2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali.
Kebutuhan faali :
< 1 Tahun : berat badan x 100 cc
1-3 Tahun : berat badan x 75 cc
3-5 Tahun : berat badan x 50 cc
jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.
diberikan 16 jam berikutnya.
o Hari kedua
Dewasa: hari I; Anak: diberi sesuai kebutuhan faali
Formula cairan resusitasi ini hanyalah perkiraan kebutuhan
cairan, berdasarkan perhitungan pada waktu terjadinya luka
bakar, bukan pada waktu dimulainya resusitasi. Pada
kenyataannya, perhitungan cairan harus tetap disesuaikan
dengan respon penderita. Untuk itu selalu perlu dilakukan
pengawasan kondisi penderita seperti keadaan umum, tanda
vital, dan produksi urine dan lebih lanjut bisa dilakukan
pemasangan monitor EKG unutk memantau irama jantung
sebagai tanda awal terjadinya hipoksia, gangguan elektrolit dan
keseimbangan asam basa.

Pemberian antibiotik spektrum luas pada luka bakar sedang dan


berat.

Konseling & Edukasi:


Pasien dan keluarga menjaga higiene dari luka dan untuk
mempercepat penyembuhan, jangan sering terkena air.

Unit terkait

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Kriteria Rujukan:
Rujukan dilakukan pada luka bakar sedang dan berat

IGD

Luka adalah rusakya sebagian jaringan tubuh yang di sebabkan


oleh trauma benda tajam atau tumpul.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis dan mendeskripsikan luka
akibat kekerasan tumpul
2. Menentukan penatalaksaan yang tepat untuk pasien dengan
luka akibat kekerasan tumpul
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis bedah dan forensik.

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: menanyakan mekanisme trauma atau terjadinya


luka, kapan terjadinya, siapa saja yang terlibat, lokasi
kejadian. Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2 sebab
yaitu benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam
atau korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam.
Benda tumpul itu sendiri adalah benda yang tidak bermata
tajam, konsistensi keras / kenyal, dan permukaan halus /
kasar, contohnya, batu, besi, sepatu, tinju, lantai, jalan dan
lain-lain.
2. Pemeriksaan fisik: luka akibat kekerasan tumpul dapat
berupa luka lecet (abrasi), luka robek (laserasi), dan luka
memar (kontusio).
Luka Lecet (Abrasi)

Karakteristik luka lecet :


1) Sebagian/seluruh epitel hilang terbatas pada lapisan
epidermis
2) Disebabkan oleh pergeseran dengan benda keras dengan
permukaan kasar dan tumpul
3) Permukaan tertutup exudasi yang akan mengering (krusta)
4) Timbul reaksi radang (Sel PMN)
5) Sembuh dalam 1-2 minggu dan biasanya pada
penyembuhan tidak meninggalkan jaringan parut.
Memperkirakan umur luka lecet:
Hari ke 1 3 : warna coklat kemerahan
Hari ke 4 6 : warna pelan-pelan menjadi gelap dan lebih
suram
Hari ke 7 14 : pembentukan epidermis baru
Beberapa minggu : terjadi penyembuhan lengkap
Luka Robek (Laserasi)
Laserasi disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing
tetapi tidak begitu tajam sehingga merobek kulit dan jaringan
bawah kulit dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan
bawah kulit. Tepi dari laserasi ireguler dan kasar, disekitarnya
terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian yang lebih
rata dari benda tersebut yang mengalami indentasi. Pada
beberapa kasus, robeknya kulit atau membran mukosa dan
jaringan dibawahnya tidak sempurna dan terdapat jembatan
jaringan. Jembatan jaringan, tepi luka yang ireguler, kasar dan
luka lecet membedakan laserasi dengan luka oleh benda tajam
seperti pisau. Tepi dari laserasi dapat menunjukkan arah
terjadinya kekerasan. Tepi yang paling rusak dan tepi laserasi
yang landai menunjukkan arah awal kekerasan. Sisi laserasi
yang terdapat memar juga menunjukkan arah awal kekerasan.
Luka Memar (Kontusio)
Kontusio terjadi karena tekanan yang besar dalam waktu yang
singkat. Penekanan ini menyebabkan kerusakan pada
pembuluh darah kecil dan dapat menimbulkan perdarahan
pada jaringan bawah kulit atau organ dibawahnya.
Kontusio adalah suatu keadaan dimana terjadi pengumpulan
darah dalam jaringan yang terjadi sewaktu orang masih hidup,
dikarenakan pecahnya pembuluh darah kapiler akibat
kekerasan benda tumpul.
Bila kekerasan benda tumpul yang mengakibatkan luka
memar terjadi pada daerah dimana jaringan longgar, seperti di
daerah mata, leher, atau pada orang yang lanjut usia, maka
luka memar yang tampak seringkali tidak sebanding dengan
kekerasan, dalam arti seringkali lebih luas; dan adanya
jaringan longgar tersebut memungkinkan berpindahnya
memar ke daerah yang lebih rendah, berdasarkan gravitasi.
Luka lecet, memar dan laserasi dapat terjadi bersamaan.

Benda yang sama dapat menyebabkan memar pada pukulan


pertama, laserasi pada pukulan selanjutnya dan lecet pada
pukulan selanjutnya. Tetapi ketiga jenis luka tersebut dapat
terjadi bersamaan pada satu pukulan.
Luka robek atau luka terbuka akibat kekerasan benda tumpul
dapat dibedakan dengan luka terbuka akibat kekerasan benda
tajam, yaitu dari sifat-sifatnya serta hubungan dengan
jaringan sekitar luka, seperti:
tepi yang tidak teratur,
terdapat
jembatan-jembatan
jaringan
yang
menghubungkan kedua tepi luka,
akar rambut tampak hancur atau tercabut bila
kekerasannya di daerah yang berambut,
di sekitar luka robek sering tampak adanya luka lecet
atau luka memar.
Deskripsi Luka
Dalam mendeskripsikan luka terbuka harus mencakup jumlah,
lokasi, bentuk, ukuran, dan sifat luka. Sedangkan untuk luka
tertutup, sifat luka tidak perlu dicantumkan dalam
pendeskripsian luka. Untuk penulisan deskripsi luka jumlah,
lokasi, bentuk, ukuran tidak harus urut tetapi penulisan harus
selalu ditulis diakhir kalimat.
Deskripsi luka meliputi:
1. Jumlah luka
2. Lokasi luka, meliputi:
a. Lokasi berdasarkan region anatomiknya.
b. Lokasi berdasarkan garis koordinat atau berdasarkan
bagian-bagian tertentu dari tubuh. Menentukan lokasi
berdasarkan garis koordinat dilakukan untuk luka pada
regio yang luas seperti di dada, perut, punggung.
Koordinat tubuh dibagi dengan menggunakan garis
khayal yang membagi tubuh menjadi dua yaitu kanan
dan kiri, garis khayal mendatar yang melewati puting
susu, garis khayal mendatar yang melewati pusat, dan
garis khayal mendatar yang melewati ujung tumit.
Untuk luka di bagian punggung dapat dideskripsikan
lokasinya
berdasarkan
garis
khayal
yang
menghubungkan ujung bawah tulang belikat kanan dan
kiri.
3. Bentuk luka
4. Ukuran luka (panjang x lebar x tinggi dalam satuan
sentimeter atau millimeter).
5. Sifat-sifat luka, meliputi :
a. Daerah pada garis batas luka, meliputi :
- Batas (tegas atau tidak tegas)
- Tepi (rata atau tidak rata)
- Sudut luka (runcing atau tumpul)
b. Daerah di dalam garis batas luka, meliputi:
- Jembatan jaringan (ada atau tidak ada)

- Tebing (ada atau tidak ada, jika ada terdiri dari apa)
- Dasar luka
c. Daerah di sekitar garis batas luka, meliputi :
- Memar (ada atau tidak)
-Lecet (ada atau tidak)
Penatalaksanaan luka:
1. Wound Cleansing
Langkah membersihkan luka secara umum adalah:

Lakukan tindakan antiseptic

Anestesi lokal

Mechanical Scrubbing, menggosok luka dengan kassa


steril, memakai larutan antiseptik

Dilusi dan irrigasi 500-2000 cc atau 50-100 cc/panjang


luka, tergantung dari luas dan kotornya luka.
- Larutan yang digunakan adalah NS
- Dilanjutkan dengan klorheksidin atau povidon iodine
- Kembali irigasi dan dilusi sampai benar-benar bersih
2. Debridemen
Pembersihan luka dan debridemen diawali pada lapisan
superfisial jaringan sampai ke lapisan terdalam.
Perhatikan tanda-tanda jaringan avital/mati, yaitu warna
lebih pucat, lebih rapuh dan tidak berdarah.
Buang jaringan avital dengan pisau atau gunting,
perhatikan anatomi daerah tersebut, jangan mencederai
vaskular atau nervus.
Lakukan debridement sampai jaringan yang normal
terlihat, biasanya terlihat adanya perdarahan dari
jaringan yang dipotong.
3. Penutupan Luka
Jika luka bersih dan jaringan kulit dapat menutup, maka
lakukan jahitan primer.
Jika luka bersih namun diperkirakan produktif, misalnya
kemungkinan seroma atau infeksi, maka pasanglah drain.
Jika luka kotor, maka lakukan perawatan luka terbuka untuk
selanjutnya dilakukan hekting sekunder.
4. Medikamentosa
Antibiotik
Tujuan pemberian atibiotik adalah untuk profilaksis
Topikal /larutan/Salep
Mengurangi
pembaentukan krusta yang dapat
menghambat epitaelisasi
Mencegah kassa melekat pada luka
Mengurangi tingkat infeksi
Sistemik berupa sediaan oral ataupun parenteral. Dapat

diberikan oral amoxicillin 3x500mg atau cefadroxil


3x500mg
Analgesik: parasetamol 3x500mg atau asam mefenamat
3x500mg
Roboransia: vitamin C 2x50mg
5. Pemberian Anti Tetanus
Pemberian tetanus toksoid dilakukan jika belum atau lama
tidak mendapatkan booster TT. Jika telah mendapat booster
sebelumnya, cukup diberikan anti tetanus serum yang terlebih
dahulu dilakukan skin test.

Unit terkait

Konseling & Edukasi:


Pasien diingatkan untuk menjaga kebersihan lukanya dan
tidak terkena air selama 3 hari pertama terutama untuk luka
robek.
Setelah 3 hari pasien dianjurkan untuk kontrol kembali.
Visum dapat dilakukan bila ada surat permintaan visum dari
polisi dan ada polisi yang mengantarnya.
Kriteria rujukan: bila luka terlalu dalam hingga merusak
tulang atau organ dalam dan perdarahan sulit dihentikan serta
ada tanda-tanda syok.

IGD

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Luka adalah rusakya sebagian jaringan tubuh yang di sebabkan


oleh trauma benda tajam atau tumpul.
1. Sebagai pedoman mendiagnosis dan mendeskripsikan luka
akibat kekerasan tajam
2. Menentukan penatalaksaan yang tepat untuk pasien dengan
luka akibat kekerasan tajam
Pelaksanaan terapi dan tindakan terhadap penderita dilakukan
sesuai dengan protap dan apabila ada hal yang sulit perlu konsul
dokter spesialis bedah dan forensik.

Referensi
Langkah - langkah

1. Anamnesis: menanyakan mekanisme trauma atau


terjadinya luka, kapan terjadinya, siapa saja yang terlibat,
lokasi kejadian. Kekerasan tajam menimbulkan luka yang
merupakan putusnya atau rusaknya kontinuitas jaringan
karena trauma akibat alat/senjata yang bermata tajam dan
atau berujung runcing.
2. Pemeriksaan fisik: luka akibat kekerasan tajam dapat
berupa luka tusuk (stab wound), luka iris (Incised wounds),
luka bacok (Chop wounds).
Luka Tusuk (Stab Wound)
Luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam
atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus
atau serong pada permukaan tubuh. Contoh: belati, bayonet,
keris, clurit, kikir, tanduk kerbau.
Karakteristik luka tusuk:
- Tepi luka rata

- Dalam luka lebih besar dari panjang luka


- Sudut luka tajam
- Sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam
- Sering ada memar / echymosis di sekitarnya
Luka Iris (Incised Wounds)
Luka iris adalah luka karena alat yang tepinya tajam dan
timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan
kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit.
Karakteristik luka iris :
o Pinggir luka rata
o Sudut luka tajam
o Rambut ikut terpotong
o Jembatan jaringan (-)
o Biasanya mengenai kulit, otot, pembuluh darah, tidak
sampai tulang
Luka Bacok (Chop Wounds)
Adalah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata
tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan
disertai tenaga yang cukup besar. Contoh: pedang, clurit,
kapak, baling-baling kapal. Adanya luka iris yang terdapat
pada kulit, dengan fraktur comminuted mendasari atau
terdapat alur yang dalam pada tulang, menunjukkan bahwa
disebabkan oleh senjata yang bersifat membacok.
Karakteristik pada luka bacok:
o Luka biasanya besar
o Tepi luka rata
o Sudut luka tajam
o Hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang,
dapat memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan
o Kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar, abrasi
Deskripsi Luka
Dalam mendeskripsikan luka terbuka harus mencakup jumlah,
lokasi, bentuk, ukuran, dan sifat luka. Sedangkan untuk luka
tertutup, sifat luka tidak perlu dicantumkan dalam
pendeskripsian luka. Untuk penulisan deskripsi luka jumlah,
lokasi, bentuk, ukuran tidak harus urut tetapi penulisan harus
selalu ditulis diakhir kalimat.
Deskripsi luka meliputi:
1. Jumlah luka
2. Lokasi luka, meliputi:
c. Lokasi berdasarkan region anatomiknya.
d. Lokasi berdasarkan garis koordinat atau berdasarkan
bagian-bagian tertentu dari tubuh. Menentukan lokasi
berdasarkan garis koordinat dilakukan untuk luka pada
regio yang luas seperti di dada, perut, punggung.
Koordinat tubuh dibagi dengan menggunakan garis
khayal yang membagi tubuh menjadi dua yaitu kanan
dan kiri, garis khayal mendatar yang melewati puting

susu, garis khayal mendatar yang melewati pusat, dan


garis khayal mendatar yang melewati ujung tumit.
Untuk luka di bagian punggung dapat dideskripsikan
lokasinya
berdasarkan
garis
khayal
yang
menghubungkan ujung bawah tulang belikat kanan dan
kiri.
3. Bentuk luka
4. Ukuran luka (panjang x lebar x tinggi dalam satuan
sentimeter atau millimeter).
5. Sifat-sifat luka, meliputi :
a. Daerah pada garis batas luka, meliputi :
- Batas (tegas atau tidak tegas)
- Tepi (rata atau tidak rata)
- Sudut luka (runcing atau tumpul)
b. Daerah di dalam garis batas luka, meliputi:
- Jembatan jaringan (ada atau tidak ada)
- Tebing (ada atau tidak ada, jika ada terdiri dari apa)
- Dasar luka
c. Daerah di sekitar garis batas luka, meliputi :
- Memar (ada atau tidak)
-Lecet (ada atau tidak)
Penatalaksanaan luka:
1. Wound Cleansing
Langkah membersihkan luka secara umum adalah:

Lakukan tindakan antiseptic

Anestesi lokal

Mechanical Scrubbing, menggosok luka dengan kassa


steril, memakai larutan antiseptik

Dilusi dan irrigasi 500-2000 cc atau 50-100 cc/panjang


luka, tergantung dari luas dan kotornya luka.
- Larutan yang digunakan adalah NS
- Dilanjutkan dengan klorheksidin atau povidon iodine
- Kembali irigasi dan dilusi sampai benar-benar bersih
2. Debridemen
Pembersihan luka dan debridemen diawali pada lapisan
superfisial jaringan sampai ke lapisan terdalam.
Perhatikan tanda-tanda jaringan avital/mati, yaitu warna
lebih pucat, lebih rapuh dan tidak berdarah.
Buang jaringan avital dengan pisau atau gunting,
perhatikan anatomi daerah tersebut, jangan mencederai
vaskular atau nervus.
Lakukan debridement sampai jaringan yang normal
terlihat, biasanya terlihat adanya perdarahan dari
jaringan yang dipotong.

3. Penutupan Luka
Jika luka bersih dan jaringan kulit dapat menutup, maka

lakukan jahitan primer.


Jika luka bersih namun diperkirakan produktif, misalnya
kemungkinan seroma atau infeksi, maka pasanglah drain.
Jika luka kotor, maka lakukan perawatan luka terbuka untuk
selanjutnya dilakukan hekting sekunder.
4. Medikamentosa
Antibiotik
Tujuan pemberian atibiotik adalah untuk profilaksis
Topikal /larutan/Salep
Mengurangi
pembaentukan krusta yang dapat
menghambat epitaelisasi
Mencegah kassa melekat pada luka
Mengurangi tingkat infeksi
Sistemik berupa sediaan oral ataupun parenteral. Dapat
diberikan oral amoxicillin 3x500mg atau cefadroxil
3x500mg
Analgesik: parasetamol 3x500mg atau asam mefenamat
3x500mg
Roboransia: vitamin C 2x50mg
5. Pemberian Anti Tetanus
Pemberian tetanus toksoid dilakukan jika belum atau lama
tidak mendapatkan booster TT. Jika telah mendapat booster
sebelumnya, cukup diberikan anti tetanus serum yang terlebih
dahulu dilakukan skin test.

Unit terkait

Konseling & Edukasi:


Pasien diingatkan untuk menjaga kebersihan lukanya dan
tidak terkena air selama 3 hari pertama terutama untuk luka
robek.
Setelah 3 hari pasien dianjurkan untuk kontrol kembali.
Visum dapat dilakukan bila ada surat permintaan visum dari
polisi dan ada polisi yang mengantarnya.
Kriteria rujukan: bila luka terlalu dalam hingga merusak
tulang atau organ dalam dan perdarahan sulit dihentikan serta
ada tanda-tanda syok.

BP