Anda di halaman 1dari 15

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK SD

ANALISIS KOMPARATIF PANDANGAN BEHAVIORISTIK-KONTRUKTIVISTIK

Dosen Pengampu Mata Kuliah : Drs. I Wayan Sujana, S.Pd, M.Pd

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK SD ANALISIS KOMPARATIF PANDANGAN BEHAVIORISTIK-KONTRUKTIVISTIK Dosen Pengampu Mata Kuliah : Drs. I

Oleh:

Nama

:

Ni Nyoman Sri Arianti

NIM

: 1411031207

No. Absen

:

36

Kelas

: J/4

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

2016

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu, Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Analisis Komparatif Pandangan Behavioristik-Konstruktivistik”. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Belajar dan Pembelajaran SD. Penulis berharap makalah dapat menunjang pengetahuan para mahasiswa khususnya serta pihak lain pada umumnya. Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data yang penulis peroleh dari beberapa sumber dan panduan buku yang berkaitan dengan materi. Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk perbaikan, kritik, dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi menyempurnakan makalah ini, agar menjadi lebih baik. Semoga atas terselesaikannya makalah ini, dapat bermanfaat bagi pembaca dalam proses pembelajaran ini. Om Santih, Santih, Santih Om.

Denpasar, April 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN

i

KATA

ii

DAFTAR

iii

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Belakang.................................................................................

Latar

1

  • 1.2 Masalah............................................................................

Rumusan

2

  • 1.3 Tujuan...............................................................................................

2

BAB II

3

BAB III

10

DAFTAR RUJUKAN LAMPIRAN

iii

  • 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Dalam pidato pengukuhan penerimaan jabatan guru besar IKIP MALANG, Degeng (1998) mengemukakan bahwa kita telah memasuki era ketidakpastian dan ketidakmenentuan. Segala sesuatu nampak keluar dari strukturnya, yang sebelumnya tertata begitu rapi dan dipandang sebagai kepastian, serta tak akan berubah dan tak boleh diubah, termasuk perubahan itu sendiri. Era “tak akan berubah dan tak boleh diubah” yang bermuara pada kepastian, keteraturan, kerapian, ketertiban, dan keseragaman, paling tidak sebagai harapan, karena hingga kini belum pernah menjadi kenyataan. Era ini dikenal dengan sebutan “tatanan anyar”. Tatanan anyar ini menjanjikan bahwa kalau kita hidup di alam keteraturan, maka akan ada kepastian. Keseragaman akan mendatangkan kerapian dan ketertiban, sedangkan keragaman dan perbedaan akan mendatangkan ketidakteraturan dan kekacauan. Di era tatanan anyar, penghargaan kita terhadap keseragaman untuk keteraturan dan ketertiban sangat luar biasa besarnya, sedangkan terhadap keragaman sangat rendah. Perbedaan dipandang sebagai sumber kekacauan dan kesemrawutan, dank arena itu harus dihindari. Kini, era “tak kan berubah dan tak boleh diubah” mendapat sorotan dan menjadi wacana keseharian oleh orang yang peduli akan perubahan. Berdasarkan pengamatan Degeng (1998), bahwa muara akhir, sebagai hasil dari era kepastian ternyata adalah ketidakpastian. Muara akhir dari era keteraturan adalah ketidakteraturan. Ketertiban bermuara ke kekacauan. Detik-detik ini kita telah tiba di era yang lebih baru dari era “tatanan anyar”, yaitu era kesemrawutan. Segala sesuatu tidak terstruktur, temporer dan selalu berubah, bahkan perubahannya dalam beberapa hal telah memasuki hitungan detik. Jadi, perubahan itu berjalan begitu cepat sehingga segala sesuatu menjadi semrawut.

1

Pemecahan masalah-masalah belajar dan pembelajaran di era tatanan anyar nampak sekali bertumpu pada paradigma keteraturan sebagai lawan dari paradigma kesemrawutan. Belajar dan pembelajaran di semua jenjang pendidikan nampak sekali didesain dengan menggunakan pendekatan keteraturan. Suatu pendekatan yang hingga kini diyakini sangat sahih oleh pengajar, orang tua, atau pendidik lainnya. Menurut Brooks dan Brooks (Degeng, 1998) paradigma keteraturan dilandasi oleh teori dan konsep behavioristik, sedangkan paradigma kesemrawutan dilandasi oleh teori dan konsep konstruktivistik. Perbedaan pandangan ini jika dikaji akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan pendekatan pemecahan masalah belajar dan pembelajaran yang lebih cocok di era yang telah berubah ini. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik menurut pandangan Degeng.

  • 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. Bagaimanakah analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik menurut pandangan I Nyoman Sudana Degeng?

  • 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik menurut pandangan I Nyoman Sudana Degeng.

2

BAB II PEMBAHASAN

Menurut Degeng dalam pidato pengukuhan guru besar IKIP MALANG, analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik dapat ditinjau dari lima komponen, yaitu dari komponen belajar dan pembelajaran, penataan lingkungan belajar dan pembelajaran, tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran serta komponen evaluasi.

  • 2.1 Belajar dan Pembelajaran Menurut Brooks dan Brooks (Degeng, 1998) teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasti dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sedangkan konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah non objektif, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat oleh teori behavioristik sebagai perolehan pengetahuan dan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar. Itulah sebabnya, si belajar oleh teori behavioristik diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahami oleh si belajar (Degeng, 1998). Bagi teori konstruktivistik belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi (Brooks dan Brooks dalam Degeng, 1998). Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajr termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini, maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya. Pandangan kedua teori ini terhadap fungsi mind juga berbeda. Behavioristik memandang bahwa mind berfungsi sebagai penjiplak struktur pengetahuan melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan. Di sisi lain, teori konstruktivistik memandang bahwa mind berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasi

3

peristiwa, objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistik (Degeng, 1998).

Sesuai dengan pandangan Degeng (1998), analisis

komparatif

pandangan behavioristik-konstruktivistik tentang belajar dan pembelajaran dapat digambarkan dalam tabel 1.

Tabel 1. Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Belajar dan Pembelajaran

 

Behavioristik

 

Konstruktivistik

Behavioristik memandang bahwa

Konstruktivistik memandang bahwa

pengetahuan adalah objektif, pasti

pengetahuan adalah non objektif,

dan

tetap,

tidak

berubah.

bersifat temporer, selalu berubah, dan

Pengetahuan

telah

terstruktur

tidak menentu.

dengan rapi

 

Belajar adalah perolehan

Belajar

adalah

penyusunan

pengetahuan, sedangkan mengajar

pengetahuan

dari

pengalaman

adalah memindahkan pengetahuan

konkrit,

aktivitas

kolaboratif,

dan

ke orang yang belajar.

refleksi serta interpretasi. Mengajar

adalah

menata

lingkungan

agar

si

belajr

termotivasi

dalam

menggali

makna

serta

meghargai

ketidakmenentuan.

 

Si

belajar

diharapkan

memiliki

Si belajar akan memiliki pemahaman

pemahaman yang sama terhadap

yang berbeda terhadap pengetahuan

pengetahuan

yang

diajarkan.

tergantung pada pengalamannya, dan

Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahami oleh si belajar.

perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

Fungsi mind adalah menjiplak

Mind berfungsi sebagai alat untuk

struktur pengetahuan melalui

menginterpretasi peristiwa,

objek,

 

proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga

atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang

makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan.

dihasilkan bersifat individualistik

unik

dan

 
  • 2.2 Penataan Lingkungan Belajar dan Pembelajaran Behavioristik memandang bahwa segala sesuatu yang ada di dunia nyata telah terstruktur rapi, teratur, maka orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak

4

dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Konstruktivistik berangkat dari pengakuan bahwa orang yang belajar

harus bebas. Hanya di alam yang penuh dengan kebebasan si belajar dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat oleh teori konstruktivistik sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai. Itulah sebabnya teori konstruktivistik memandang bahwa penentu keberhasilan belajar adalah kebebasan. Si belajar adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. Kontrol belajar dipegang oleh si belajar. Butir ini juga dilihat sebagai hal yang berbeda oleh teori behavioristik dimana ketaatan pada aturanlah yang dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan. Dengan demikian, maka kontrol belajar dipegang oleh sistem yang berada di luar diri si belajar. Menurut pandangan Degeng (1998), analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik tentang penataan lingkungan belajar dan pembelajaran dapat digambarkan dalam tabel 2.

Tabel 2. Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Penataan Lingkungan Belajar dan Pembelajaran

 

Behavioristik

Konstruktivistik

Si belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin.

Si belajar harus bebas. Kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar.

 

Behavioristik

Konstruktivistik

Kegagalan

atau

ketidakmampuan

Kegagalan

atau

keberhasilan,

5

dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.

kemampuan atau ketidakmampuan dilihat oleh teori konstruktivistik sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.

Ketaatan

pada

aturanlah

yang

Kebebasan

dipandang sebagai

dipandang

sebagai

penentu

pennetu

keberhasilan belajar. Si

keberhasilan

belajar.

Si

belajar

belajar adalah subjek yang harus

adalah

objek

yang

harus

mampu menggunakan kebebasan

berperilaku sesuai dengan aturan.

 

untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar.

Kontrol

belajar

dipegang

oleh

Kontrol dipegang oleh si belajar.

sistem yang

berada di luar

diri

si

belajar.

  • 2.3 Tujuan Pembelajaran Menurut Brooks dan Brooks (Degeng, 1998) teori behavioristik menekankan tujuan pembelajaran pada penambahan pengetahuan sehingga belajar dilihat sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut si belajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Di sisi lain, teori konstruktivistik menekankan tujuan pembelajaran pada belajar bagaimana belajar, terutama dalam hal menciptakan pemahaman baru, yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata, yang mendorong si belajar untuk berpikir dan berpikir ulang dan mendemonstrasikan apa yang sedang/telah dipelajari. Sesuai dengan pandangan tersebut, Degeng (1998) mengemukakan analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik tentang tujuan pembelajaran dapat digambarkan dalam tabel 3. Tabel 3. Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Tujuan Pembelajaran

Behavioristik

Konstruktivistik

Tujuan pembelajaran ditekankan pada penambahan pengetahuan.

Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar.

  • 2.4 Strategi Pembelajaran

6

Behavioristik menekankan penyajian isi pada keterampilan yang terisolasi dan akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian-ke-keseluruhan, sedangkan konstruktivistik menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan-ke-bagian. Oleh karena itu, maka pembelajaran yang menggunakan preskripsi behavioristik

dilaksanakan mengikuti urutan kurikulum secara ketat sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks. Jadi, pembelajaran lebih menekankan pada hasil. Pada dimensi kontruktivistik, pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar. Dengan demikian, aktivitas belajar lebih didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis, seperti analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan menghipotesis. Itulah sebabnya, pembelajaran konstruktivistik lebih menekankan pada proses. Perbedaan kedua pandangan tersebut dapat digambarkan dalam tabel 4 mengenai analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik tentang strategi pembelajaran (Degeng, 1998).

Tabel 4.

Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Strategi Pembelajaran

 

Behavioristik

 

Konstruktivistik

 

Penyajian isi menekankan pada

Penyajian

isi

menekankan

pada

keterampilan yang terisolasi dan

penggunaan

pengetahuan secara

akumulasi fakta mengikuti urutan

bermakna mengikuti

urutan

dari

dari bagian-ke-keseluruhan,

keseluruhan-ke-bagian.

 

Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat.

Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar.

Aktivitas

belajar

lebih banyak

Aktivitas belajar lebih didasarkan

didasarkan pada buku teks dengan

pada data primer dan bahan

penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks.

manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis

Pembelajaran

dan

evaluasi

Pembelajaran

menekankan

pada

menekankan pada hasil.

proses.

2.5 Evaluasi

7

Evaluasi yang menggunakan landasan behavioristik menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan “paper and pencil test”, sedangkan evaluasi yang menggunakan landasan konstruktivistik menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata. Evaluasi yang behavioristik lebih banyak menuntut satu jawaban benar, dan jawaban yang benar menunjukkan bahwa si belajar telah menyelesaikan tugas belajar, sedangkan evaluasi yang konstruktivistik berupaya menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda. Dalam arti bukan hanya menuntut satu jawaban benar. Perbedaan selanjutnya adalah bahwa teori behavioristik memandang evaluasi belajar sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan belajar dengan penekanan pada

evaluasi individual, sedangkan teori konstruktivistik memandang bahwa evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar, dengan cara memberikan tugas- tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Oleh karena itu, evaluasi yang konstruktivistik menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok. Berdasarkan uraian tersebut, Degeng (1998) mengemukakan analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik tentang evaluasi dapat digambarkan dalam tabel 5.

Tabel 5.

Pandangan

Behavioristik

dan

Konstruktivistik

tentang

Evaluasi

 

Behavioristik

 

Konstruktivistik

Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan “paper and pencil test”

Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata.

Evaluasi yang menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa si belajar telah menyelesaikan tugas belajar

Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar.

 

Behavioristik

 

Konstruktivistik

Evaluasi

belajar

sebagai

bagian

Evaluasi merupakan bagian utuh dari

8

terpisah

dari

kegiatan

belajar, dengan cara memberikan

proses dalam kelompok.

pembelajaran,

dan

biasanya

tugas-tugas yang menuntut aktivitas

dilakukan setelah selesai kegiatan

belajar yang bermakna serta

belajar

dengan

penekanan

pada

menerapkan apa yang dipelajari

evaluasi individual

 

dalam konteks nyata. Evaluasi

 

menekankan pada keterampilan

BAB III

PENUTUP

9

3.1

Simpulan

Berdasarkan uraian, dapat disimpulkan bahwa analisis komparatif pandangan behavioristik-konstruktivistik dapat ditinjau dari lima komponen, yaitu dari komponen belajar dan pembelajaran, penataan lingkungan belajar dan pembelajaran, tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran serta komponen evaluasi. Pertama, perbedaan pandangan behavioristik- konstruktivistik tentang belajar dan pembelajaran dibedakan dari segi pandangan pengetahuan, pengertian belajar dan mengajar, hasil pemahaman si belajar serta fungsi mind. Kedua, perbedaan pandangan behavioristik- konstruktivistik tentang penataan lingkungan belajar dan pembelajaran dibedakan dari segi aturan dan pembiasaan disiplin, kemampuan si belajar, ketaatan pada aturan, serta dari segi kontrol belajar. Ketiga, perbedaan pandangan behavioristik-konstruktivistik tentang tujuan pembelajaran dimana menurut pandangan behavioristik tujuan pembelajaran ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan menurut pandangan konstruktivistik tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar. Keempat, perbedaan pandangan behavioristik-kontruktivistik tentang strategi pembelajaran dibedakan dari segi penyajian isi pembelajaran, arah pembelajaran, aktivitas belajar serta penekanan evaluasi. Kelima, perbedaan pandangan behavioristik-konstruktivistik tentang evaluasi dibedakan dari segi penekanan evaluasi, tujuan evaluasi, serta kedudukan evaluasi dalam pembelajaran.

  • 3.2 Saran Berdasarkan analisis komparatif pandangan behavioristik- kontruktivistik, diharapkan kita sebagai calon guru mampu memilih teori dan konsep pembelajaran dengan tepat agar peserta didik dapat belajar dengan baik.

10

DAFTAR RUJUKAN

Degeng, I Nyoman Sudana. 1998. Mencari Paradigma Baru Pemecahan Masalah Belajar Dari Keteraturan Menuju ke Kesemrawutan. Malang:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang.

LAMPIRAN

DAFTAR HASIL DISKUSI KELAS J/4

  • A. Daftar Nama Mahasiswa yang Presentasi

1)

Ni Nyoman Sri Arianti

(1411031207 / 36)

  • B. Daftar Nama Mahasiswa yang Bertanya

1)

Ni Putu Pitri Febriani

(1411031124 / 06)

2)

Putu Suryantini

(1411031148 / 17)

3)

Ni Putu Mahadewi Candra Swari

(1411031162 / 19)

4)

Ni Nyoman Satriani

(1411031185 / 26)

5)

Ni Putu Ari Sudiantini

(1411031192 / 30)

6)

Ni Putu Rasni Karwati

(1411031197 / 33)

7)

Made Paramita Dewi

(1411031214 / 37)

8)

Ni Putu Era Rositayani

(1411031218 / 39)

  • C. Daftar Nama Mahasiswa yang Menambahkan Pendapat

1)

Luh Putu Ritzki Wedanthi

(1411031126 / 08)

2)

Ni Made Wila Intarini

(1411031178 / 24)