Anda di halaman 1dari 11

TEORI KEPERAWATAN MENURUT VIRGINIA HENDERSON

DAN APLIKASINYA

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Abdurrahman Ismoyo Dewo


Ali Kusnandar
Bambang Dedi Setiawan
Hafiidhayan Bangun Nugroho
Khamami
Tri Anggraini
Wahyudi Candra
Yudi Prasetyo
Yulia Dwi Puspita Rini

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG
2016
A. Latar Belakang
Teori keperawatan digunakan untuk menyusun suatu model konsep dalam
keperawatan, sehingga model keperawatan tersebut mengandung arti aplikasi dari

struktur

keperawatan

itu

sendiri

yang

memungkinkan

perawat

untuk

mengaplikasikan ilmu yang pernah didapat di tempat mereka bekerja dalam batas
kewenangan sebagai seorang perawat. Konsep merupakan suatu ide di mana
terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir menjadi simbul-simbul
yang nyata, sedangkan konsep keperawatan merupakan ide untuk menyusun suatu
kerangka konseptual atau model keperawatan.
Model konsep keperawatan ini digunakan dalam menentukan model praktek
keperawatan yang akan diterapkan sesuai kondisi dan situasi tempat perawat
tersebut bekerja. Mengingat dalam model praktek keperawatan mengandung
komponen dasar seperti: adanya keyakinan dan nilai yang mendasari sebuah
model, adanya tujuan praktek yang ingin dicapai dalam memberikan pelayanan
ataupun asuhan keperawatan terhadap kebutuhan semua pasien, serta adanya
pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh perawat dalam mencapai
tujuan yang ditetapkan sesuai kebutuhan pasien.
Virginia Henderson memperkenalkan definition of nursing (definisi
keperawatan). Definisinya mengenai keperawatan dipengaruhi oleh latar belakang
pendidikannya. Ia menyatakan bahwa definisi keperawatan harus menyertakan
prinsip keseimbangan fisiologis. Definisi ini dipengaruhi oleh persahabatan
Henderson dengan seorang ahli fisiologis bernama Stackpole. Henderson sendiri
kemudian mengemukakan sebuah definisi keperawatan yang ditinjau dari sisi
fungsional. Menurutnya, tugas unik perawat adalah membantu individu, baik
dalam keadaan sakit maupun sehat, melalui upayanya melaksanakan berbagai
aktifitas guna mendukung kesehatan dan penyembuhan individu atau proses
meninggal dengan damai, yang dapat dilakukan secara mandiri oleh individu saat
ia memiliki kekuatan, kemampuan, kemauan, atau pengetahuan untuk itu. Di
samping itu, Henderson juga mengembangkan sebuah model keperawatan yang
dikenal dengan The Actifities of Living. Model tersebut menjelaskan bahwa
tugas perawat adalah membantu individu dalam meningkatkan kemandiriannya
secepat mungkin. Perawat menjalankan tugasnya secara mandiri, tidak tergantung
pada dokter. Akan tetapi, perawat tetap menyampaikan rencananya pada dokter
sewaktu mengunjungi pasien.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlunya mempelajari Teori dan Model
Konsep Keperawatan yang telah ada sebagai salah satu kunci dalam
mengembangkan ilmu dan praktek, serta profesi keperawatan di Indonesia. Pada
kesempatan kali ini kelompok mencoba memaparkan Teori dan Model Konsep
Keperawatan Virginia Henderson.
B. Konsep Teori
1) Definisi Konsep Teori
Virginia Henderson adalah ahli teori keperawatan yang penting yang telah
memberi pengaruh besar pada keperawatan sebagai profesi yang mendunia.Ia
membuat model konseptualnya pada awal 1960-an, ketika profesi
keperawatan mulai mencari identitasnya sendiri. Masalah intinya adalah
apakah perawat cukup berbeda dari profesi lain dalam layanan kesehatan
dalam hal kinerja.
Perkembangan definisi keperawatan yang dikembangkan oleh Virginia
Henderson didasari oleh 2 (dua) hal, yaitu :
1. Sering ikut serta di dalam merevisi buku-buku keperawatan.
2. Ditemukannya kasus tentang tidak adanya izin yang memenuhi syarat
untuk memberikan kenyamanan dalam bentuk pelayanan atau asuhan
keperawatan yang berkompeten bagi konsumen di beberapa negara.
Henderson meyakini bahwa seharusnya sebuah teks yang menjadi sumber
bagi praktek keperawatan juga menggambarkan tentang definisi keperawatan.
Selanjutnya prinsip-prinsip dan praktek keperawata harus dibangun atas dasar
kaidah-kaidah keprofesian, serta berasal dari definisi profesi keperawatan itu
sendiri.

2) Konsep Teori
Henderson melakukan suatu proses untuk mengatur praktek keperawatan
melalui proses perizinan dari setiap negara. Untuk menyempurnakan hal
tersebut dia yakin bahwa keperawatan secara eksplisit harus didefinisikan
dalam artian sebagai tindakan dari para perawat. Tindakan-tindakan
tersebut digaris bawahi dengan parameter legal dari fungsi perawat dalam

merawat klien / pasien dan memberikan perlindunga bagi masyarakat umum


dari praktek-praktek yang tidak berkompeten, ataupun tidak sempurna.
Pernyataan-pernyataan

dari

pihak

yang

berwenang

tentang

fungsi

keperawatan pada tahun 1932 dan 1937 telah dipublikasikan oleh Asosiasi
Perawat Amerika (ANA / American Nurse Association), namun menurut
Henderson pernyataan-pernyataan tersebut belum spesifik dan tidak
memuaskan; sehingga pada tahun 1955 munculah definisi tentang profesi
keperawatan dari ANA sebagai berikut Profesi keperawatan diartikan
sebagai suatu tindakan untuk melengkapi beberapa tindakan dari tim
kesehatan, antara lain: dalam mengobservasi, melakukan perawatan,
memberikan nasehat/anjuran bagi yang sakit, terluka atau yang lemah,
mencegah dari tertularnya penyakit lain, serta membantu dalam pemeliharaan
status kesehatannya.
Disamping itu profesi ini juga bertugas membina dan membimbing
petugas lainnya, termasuk dalam pemberian pengobatan kepada pasien
(sebagai tugas kolaboratif/limpahan). Oleh karena itu dalam bekerja
diperlukan keahlian khusus yang termasuk di dalamnya adalah ilmu biologi,
fisika, dan ilmu sosial; serta aplikasinya yang juga perlu digali lebih dalam
untuk menambah wawasan dalam menegakan diagnosa keperawatan atau
membantu dalam pemberian terapi atau ukuran-ukuran lain yang perlu
koreksi.
Pernyataan tersebut di atas dipandang sebagai sebuah pernyataan
tambahan saja, karena fungsi keperawatan teridentifikasi, tetapi definisinya
masih sangat umum dan kurang jelas. Dalam pernyataan yang baru, perawat
bisa mengamati, merawat, dan memberikan nasehat / anjuran bagi pasien dan
bisa membina pegawai lain tanpa dibina oleh dokter, tetapi dilarang untuk
mendiagnosa, memberikan resep, atau mengoreksi masalah keperawatan.
Pada tahun 1995, definisi keperawatan yang pertama dari Henderson
dipublikasikan dalam revisi buku keperawatan Bertha Harmer, sebagai
berikut Keperawatan yang utamanya adalah membantu individu baik sakit
ataupun sehat dengan tindakan - tindakan yang memberikan kontribusi bagi
kesehatan atau kesembuhan, atau bahkan suatu kematian Yang didorong
dengan kekuatan, keinginan, dan pengetahuan. Keperawatan merupakan

kontribusi yang bersifat unik untuk membantu individu agar mandiri dengan
memberikan bantuan seperlunya..
Fokus Henderson terhadap perawatan individu lebih ditekankan pada
komponen-komponen dalam keperawatan, sebagai berikut:
1. Bernafas secara normal
2. Tercukupinya kebutuhan makan dan minum
3. Mengurangi zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh
4. Mengubah dan memelihara bentuk tubuh yang diinginkan
5. Tercukupinya kebutuhan tidur dan istirahat
6. Memilih pakaian yang tepat/sesuai
7. Menjaga suhu tubuh dalam rentang yang normal dengan menyesuaikan
pakaian dan

memodifikasi terhadap kondisi lingkungan

8. Menjaga kebersihan tubuh dan kerapihan


9. Menghindari bahaya terhadap kondisi lingkungan dan menghindari
jatuhnya korban lain
10. Berkomunikasi dengan orang lain untuk menyalurkan emosi, kebutuhan,
ketakutan, dan berpendapat
11. Beribadah sesuai dengan satu kepercayaan
12. Bekerja dengan semangat untuk mencapai keberhasilan
13. Berperan atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi
14. Belajar menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia untuk menemukan
atau memuaskan rasa ingin tahu yang akan membantu meningkatkan
kondisi kesehatan.
Pada tahun 1966, Henderson menyatakan pendapatnya mengenai definisi
keperawatan yang dipublikasikan oleh The Nature of Nursing, dan
pendapatnya tersebut dipandang sebagai kristalisasi dari ide-idenya, yaitu
sebagai berikut Fungsi unik perawat adalah membantu individu baik sehat,
maupun sakit dengan tindakan - tindakan yang memberikan kontribusi bagi
kesehatan atau penyembuhan, atau untuk memperoleh kematian dengan
damai, dan harus dilakukannya tanpa bantuan, sehingga sangat membutuhkan
kekuatan, kemauan, serta pengetahuan. Untuk dapat melakukan hal tersebut,
maka dapat dilakukan berbagai cara agar dapat mempercepat kemandirian
pasien sesegera mungkin.

Situasi yang ideal bagi seorang perawat adalah berpartisipasi penuh dalam
bekerja secara tim dengan kelompoknya tanpa campur tangan pihak lain, dan
mendayagunakan

kekuatan

fisik

yang

dimiliki,

keinginan,

serta

pengetahuannya untuk mencapai deraja kesehatan secara optimal.


Pada kenyataannya saat itu tugas-tugas perawat sangat dibatasi, peran
profesinya juga dalam pembatasan, serta kebutuhan untuk memberikan
prioritas keperawatan yang unik sesuai kondisi.Bagaimanapun Henderson
menganjurkan kepada perawat, agar berperan-serta aktif dalam menunjukan
fungsi-fungsinya terhadap tenaga kesehatan lainnya yang mungkin peran
tersebut dapat membantu dan meningkatkan keahliannya. Didasari oleh
berbagai keadaan secara luas, fungsi keperawatan tersebut akan berbeda
antara daerah yang satu dengan daerah lainnya, walaupun berada dalam satu
negara. Jumlah perawat, dokter dan tenaga kesehatan lainnya akan
berpengaruh

terhadap

apa

yang

akan

dilakukan

oleh

perawat.

Konsekuensinya, hal ini akan menimbulkan kebingungan terhadap berbagai


peran perawat, terutama sejak adanya praktek keperawatan.
C. Asumsi Teori
Klien/pasien
1) Pasien harus memelihara keseimbangan fisiologis dan emosional
2) Pikiran dan tubuh pasien tidak terpisahkan
3) Pasien perlu bantuan untuk meraih kemandirian
4) Pasien dan keluarganya merupakan satu kesatuan
5) Kebutuhan pasien meliputi 14 komponen penanganan keperawatan
6) Klien sebagai individu mempunyai pengetahuan, kemampuan dan keinginan
bertindak sebagai cara meningkatkan kesehatannya.
Perawat dan klien memiliki nilai-nilai kemandirian
Sehat dan kesehatan
1) Sehat adalah suatu kualitas hidup dan kehidupan
2) Sehat merupakan dasar bagi tugas kemanusiaan
3) Sehat memerlukan kemandirian dan saling ketergantungan
4) Memperoleh kesehatan lebih penting daripada mengobati penyakit
5) Individu akan meraih atau mempertahankan kesehatan bila mereka memiliki
kekuatan, kehendak dan pengetahuan yang cukup
Perawat/keperawatan
1) Perawat mempunyai tugas yangg unik (membantu individu sehat dan sakit)
2) Perawat sebagai anggota tim kesehatan.

3) Tidak bergantung pada dokter. Mandiri, sesuai dengan kompetensi dan


standar.
4) Mempunyai

pengetahuan,

sehingga

mempunyai

kompetensi

yangg

komprehensif.
5) Menilai kebutuhan dasar manusia.
6) Perawat menangani 14 komponen penanganan keperawatan.
Lingkungan
1) Individu sehat mampu mengontrol lingkungan.
2) Perawat memperoleh pendidikan, penyelamatan.
3) Perawat melindungi klien dari luka mekanis.
4) Perawat meminimalisir peluang terjadinya luka, melalui saran yang
membangun.
5) Dokter memanfaatkan hasil obs perawat untuk perlindungan terhad klien.
6) Perawat mengetahui kebiasaan sosial, ritual, keagamaan untuk memprediksi
bahaya.

D. Kelebihan dan Kelemahan Teori


1. Kelebihan
a. Henderson adalah ahli teori keperawatan yang memberi pengaruh besar
pada keperawatan sebagai profesi yang mendunia.
b. Henderson adalah orang pertama yang mencari fungsi unik dari profesi
perawat.
c. Teori Henderson didasari oleh keanekaragaman pengalaman yang ia miliki
selama karir keperawatannya, bukan teori / model yang abstrak semata.
d. Henderson mendefinisika profesi keperawatan: bahwa profesi keperawatan
adalah profesi yang mandiri yang tidak hanya tergantung pada instruksi
dokter.
e. Asumsi Henderson mempunyai validitas karena mempunyai keserasian
dengan riset ilmuan dibidang yang lain seperti konsep Maslow.
2. Kelemahan
a. Pandangan dan pendapatnya hanya berfokus pada satu pihak yaitu pada
penyembuhan fisik semata atau pada upaya memandirikan pasien.
b. Teori kurang pragmatis.
E. Analisis Teori

Dari penjelasan tersebut tujuan keperawatan yang dikemukakan oleh


Handerson adalah untuk bekerja secara mandiri dengan tenaga pemberi pelayanan
kesehatan dan membantu klien untuk mendapatkan kembali kemandiriannya
secepat mungkin. Dimana pasien merupakan mahluk sempurna yang dipandang
sebagai komponen bio, psiko, cultural, dan spiritual yang mempunyai empat belas
kebutuhan dasar. (Aplikasi model konseptual keperawatan, Meidiana D). Menurut
Handerson peran perawat adalah menyempurnakan dan membantu mencapai
kemampuan untuk mempertahankan atau memperoleh kemandirian dalam
memenuhi empat belas kebutuhan dasar pasien.

F. Aplikasi Teori pada Proses keperawatan


1) Pengkajian Keperawatan pada kasus berdasarkan 14 komponen Henderson
a. Bernafas dengan normal :
Klien mengalami mengalami kesulitan bernafas
b. Makan dan minum dengan cukup :
c. Klien terpasang foley kateter untuk memantau output harian secara akurat
d. Eliminasi
Diharapkan klien dapat BAB dan BAK dalam batas normal
e. Bergerak dan olahraga untuk menjaga postur tubuh
Diharapkan klien dapat bergerak secara mandiri
f. Tidur dan istirahat
Klien mengeluh kesulitan tidur saat malam hari
g. Memilih pakaian yang cocok
Klien menggunakan pakaian yang seadanya dan kotor
h. Menjaga suhu tubuh
Suhu tubuh klien dalam batas normal
i. Berkomunikasi dengan orang lain dalam ungkapan emosi, kebutuhan rasa
takut atau pendapat
Klien terlihat kurang

mampu

menanggapi

dan

mengungkapkan

pendapatnya
j. Beribadah
Klien beragama islam
k. Bekerja dengan baik sehingga dapat melakukan pencapaian tertentu
Klien tidak mampu bekerja
l. Menjaga tubuh tetap bersih dan terawat dengan baik dan melindungi
integumen
Klien tidak mengalami demam dan menggigil, kebersihan tubuh klien
kotor

m. Bermain dan berpartisipasi


Klien tidak mampu bersosialisasi dan kurang mampu menanggapi stimulus
n. Menghindari bahaya dan menyakiti orang lain
Klien mencoba untuk bunuh diri dan terkadang menjadi pendiam
o. Belajar
Klien berobat dirumah sakit atas dorongan keluarga
2) Kemungkinan Diagnosa Keperawatan yang muncul pada kasus
a. Ketidakmampuan klien dalam bernafas normal
b. Ketidakmampuan klien untuk makan dan minum
c. Ketidakmampuan klien untuk tidur nyaman
3) Perencanaan/planning
a. Klien kesulitan bernafas teratasi
b. Klien menunjukkan respon tidak suka dan makan
c. Klien kurang menanggapi stimulus dari lingkungan karena suasana hati
berubah muncul insomnia
4) Intervensi
a. Masalah keperawatan kebutuhan bernafas
1. Monitor tanda dan sesak nafas (frekuensi dan retraksi dada)
2. Evaluasi bunyi paru
3. Pantau warna mukosa dan daerah akral
4. Bantu pernafasan dengan oksigen
5. Berikan posisi yang nyaman
b. Masalah keperawatan makan dan minum
1. Kaji riwayat pengeluaran berlebih: poliuri, muntah.
2. Pantau TTV
3. Ukur BB tiap hari
4. Pantau masukan dan keluaran urin
5. Libatkan pasien dan keluarga dalam pencernaan makanan
c. Masalah keperawatan pola tidur
1. Kaji pola tidur
2. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan dan irama
3. Kaji faktor yang menyebabkan gangguan tidur
4. Catat tindakan kemampuan untuk mengurangi kegelisahan
5. Ciptakan suasana nyaman dan Kurangi atau hilangkan gangguan
tidur
5) Analisis kasus dihubungkan dengan teori
Klien/pasien
a. Pasien harus tidak mampu memelihara keseimbangan fisiologis dan
emosional karena klien mengatakan stres mengalami gangguan gangguan
emosiaonal, dan klien kurang mampu menanggapi stimulus dari
lingkungan, sehingga klien perlu bantuan untuk meraih kemandirian dalam
masalah diri sendiri

b. Pasien dan keluarganya merupakan satu kesatuan jadi perlu dukungan dari
pihak leuarga
c. Kebutuhan pasien perlu meliputi 14 komponen penanganan keperawatan
yang mengalami kelainan karena Klien sebagai individu perlu mempunyai
pengetahuan,

kemampuan

dan

keinginan

bertindak

sebagai

cara

meningkatkan kesehatannya.
d. Perawat dan klien memiliki nilai-nilai kemandirian
6) Kesimpulan
Kesimpulan, pendekatan henderson dalam perawatan pasien sangat
berhati-hati terutama terkait dengan pengambilan keputusan. Meski ia tidak
menjelaskan secara spesifik langkah-langkah dalam proses perawatan,
seseorang dapat melihat bagaimana konsep tersebut saling berhubungan.
Henderson meyakini proses perawatan merupakan proses problem solving
dan tidak hanya khusus masalah keperawatan.

G. Aplikasi Teori pada Penelitian


1) Judul Penelitian
HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN LAMA HARI DIRAWAT
PASIEN GASTRITIS DI RSU KEBUMEN
2) Nama Peneliti
Safrudin ANS, Asrin, Eti Purwatiningsih
3) Tujuan
Penelitian ini untuk menganalisa hubungan antara kualitas tidur pada pasien
gastritis dengan lama hari dirawat di ruang rawat inap
4) Sampel
Pada penelitian ini metode penelitian menggunakan metode survey dengan
pendekatan cross sectional, uji statistikyang di gunakan untuk korelasi kendall
tau. Populasi penelitian ini semua pasien diruang rawat inap rsu kebumen dengan
populasi 76.
5) Hasil
Lama hari dirawat pasien gastritis di ruang rawat inap bangsal penyakit dalam

RSU Kebumen, prosentase terbesar pada lama perawatan 1-2 hari atau tidak

lama (30%). Gambaran kualitas tidur pasien gastritis di ruang rawat inap
bangsal penyakit dalam RSU Kebumen adalah prosentase terbesar pada
kualitas tidur cukup sejumlah 10 orang (50%). Terdapat hubungan kualitas
tidur pasien gastritis dengan lama hari dirawat di ruang rawat inap bangsal
penyakit dalam RSU Kebumen.
6) Implikasi Keperawatan
Dari penelitian diatas tentang lamanya hari rawat pasien gastritis dengan
gangguan pola tidur maka dilakukan perawatan lebih dari dua hari sehingga
dapat di implikasikan dengan klien harus juga dilakukan perawatan lebih dari
dua hari.

Daftar Pustaka
Asmadi, Ns. S. Kep. 2005. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran ECG.
Basford, Lynn dan Slevin, Oliver. 2006. Teori dan Praktik Keperawatan.Jakarta :
Penerbit Buku Kedokterran ECG.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.Jakarta :
Salemba Medika.
Potter dan Perry. 2006. Fundamental Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran ECG.
Harmer, B., & Henderson, V. A. 1955. Buku dari prinsip dan praktik
keperawatan. New York:Macmillan.