Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb,


Puji serta syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Esa
karena berkat Rahmat Nyalah saya diberikan kesehatan untuk dapat membuat
laporan ini dengan tepat waktu Alhamdulillahirabbil'alamin, saya panjatkan puji
dan syukur ke Hadirat Allah SWT yang telah memberikan banyak rahmat dan
karunia Nya sehingga saya dapat menyusun laporan ini dengan tepat waktu.
Laporan yang berjudul mekanisme fragmentasi batuan hasil peledakan, serta
perhitungan dan analisis mengenai fragmentasi hasil peledakan.
Tidak

lupa

juga

saya

haturkan

terima

kasih

kepada

instruktur

Laboratorium Tambang Unisba karena berkat saran dan bimbingan mereka lah
laporan bisa diselesaikan.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu segala kritik dan saran dari berbagai pihak
sangat diharapkan, demi kesempurnaan penulisan laporan selanjutnya. Semoga
laporan ini dapat bermanfaat.
Wassalamualaikum wr. wb.

Bandung, 02 Desember 2016


Penyusun,

Aldi Gustian Muhari

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................................1
1.2 Maksud dan Tujuan..........................................................................1
1.2.1 Maksud.................................................................................1
1.2.2 Tujuan...................................................................................1
BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................2
2.1 Mekanisme Fragmentasi Peledakan................................................2
2.1.1 Fragmentasi Peledakan........................................................2
2.1.2 Mekanisme Pecahnya Batuan..............................................4
2.1.4 Faktor Yang Mempengaruhi Fragmentasi Batuan.................5
2.2 Analisis Fragmentasi Hasil Peledakan Dengan Model Kuz-ram.......7
2.1.1 Perhitungan Fragmentasi Hasil Peledakan...........................7
2.1.2 Penaksiran Kurva Distribusi Fragmentasi.............................9
BAB III KESIMPULAN.......................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam suatu kegiatan peledakan, yang menjadi salah satu tujuan utama

sebagai penentuan tingkat keberhasilan dari kegiatan peledakan, dapat dilihat


dari hasil fragmentasi hasil peledakannya. Semakin tinggi tingkat keseragaman
ukuran fragmen yang dihasilkan sesuai dengan yang direncanakan, maka
kegiatan peledakan dianggap berjalan dengan baik atau sempurna sesuai
dengan keinginan.
Dalam menentukan ukuran fragmen yang akan dihasilkan, maka harus
disesuaikan dengan penanganan dan pengolahan lanjut yang akan dilakukan.
Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian atau analisis mengenai fragmentasi
batuan hasil peledakan ini sesuai prosedur yang sudah ada. Berbagai faktor
pertimbangan yang dapat mempengaruhi juga harus diikut sertakan dalam kajian
ini Dan harus dilakukan secara tepat dan teliti sehingga keseragaman ukuran
fragmen lebih baik.
Sehingga praktikum mengenai analisis fragmentasi hasil peledakan ini,
perlu diketahui serta dipahami oleh seorang engineer, agar mendapatkan cara
analisis yang baik mengenai fragmentasi batuan hasil peledakan. Analisis yang
dilakuakn juga harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan seperti
menggunakan metode penaksiran dari perhitungan metode Kuz-Ram, dan
metode lainnya.

1.2

Maksud dan Tujuan

1.2.1

Maksud
Maksud

dari

dilakukannya

praktikum

ini

agar

praktikan

dapat

menganalisis fragmentasi hasil kegiatan peledakan secara tepat dan teliti sesuai
prosedur.
1.2.2

Tujuan
Mengetahui dan memahami faktor, mekanismie, dan hal yang berkaitan
dengan analisis fragmentasi hasil peledakan.

Mengetahui dan memahami cara menganalisis fragmentasi hasil


peledakan dengan metode Kuz Ram, koefisien tekstur, dsb.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Mekanisme Fragmentasi Peledakan

2.1.1

Fragmentasi Peledakan

Kegiatan suatu peledakan, memiliki tujuan tertentu, terutama


untuk memecah atau memberaikan suatu massa batuan menjadi ukuran
yang lebih kecil, untuk mempermudah dalam penanganan serta
pengolahan yang akan dilakukan dalam tahapan selanjutnya. Dengan
kata lain, suatu kegiatan peledakan akan menghasilkan fragmentasi hasil
peledakan dengan ukuran tertentu sesuai dengan kegiatan peledakan
yang dilakukan, yang akan menghasilkan ukuran lebih kecil dari massa
batuanya.

Yang dimaksud dengan fragmentasi yaitu ukuran dari

bongkah, atau butir batuan yang dihasilkan dari suatu kegiatan


peledakan. Adapun beberapa hubungan fragmentasi dengan lubang
ledak diantaranya adalah sebagai berikut :

Ukuran lubang ledak yang besar, maka akan menghasilkan suatu


fragmentasi batuan yang cukup besar pula, berupa boulder, sehingga

perlu digunakan bahan peledak dengan VoD yang cukup tinggi.


Penambahan pada handak akan membuat energi semakin bertambah

dan akan membuat fragmentasi lebih terlempar jauh.


Kombinasi antara jarak burden dan spasi yang digunakan harus dilakukan
dan diperhitungkan dengan sangat tepat untuk menghasilkan fragmentasi
yang relatif seragam.

Sumber : banti-indonesia.com

Foto 2. 1
Fragmentasi Hasil Peledakan

Metode yang paling umum dilakukan untuk menilai

fragmentasi adalah dengan menggunakan perkiraan visual sederhana


dari pecahan pada permukaan muckpile. Dalam penentuan ukuran
fragmentasi yang diinginkan, biasanya dilakukan dengan berbagai
perhitungan tertentu dengan melakukan beberapa pertimbangan terhadap
berbagai parameter yang mempengaruhinya. Prinsip utama yang biasa
digunakan sebagai parameter utama dalam mengontrol suatu hasil
fragmentasi hasil ledakan yaitu dengan mempertimbangkan jumlah energi
yang dihasilkan dari bahan peledak, serta interaksi energi yang dihasilkan
tersebut dengan massa batuanya.

Pada saat ini, perhitungan yang dilakukan mengenai fragmentasi

hasil peledakan biasanya dilakukan dengan menggunakan software tertentu


untuk mempermudah dalam pengerjaanya, contohnya seperti split desktop. Pada
suatu kegiatan analisis pragmentasi dengan menggunakan program Split
Desktop digunakan untuk membantu menganalisis gambaran fragmen material
hasil peledakan yang akan dihasilkan, hasilnya berupa grafik yang menunjukan
persentase-persentase lolos material dan ukuran fragmen rata-rata yang
dihasilkan dalam suatu peledakan yang dilakukan.

Adapun beberapa sifat batuan yang harus diketahui dan

dipertimbangkan dalam melakukan kegiatan peledakan karena akan sangat


mempengaruhi dalam pembuatan lubang ledak dan geometri peledakan lainnya,
antara lain adalah sebagai berikut :

Kekerasan dari suatu batuan dinyatakan sebagai besarnya tegangan

yang harus diberikan agar dapat merusak batuan.


Tekstur dari suatu batuan yang akan diledakan seperti kekompakan,

ukuran butir, dsb.


Abrasivitas dari suatu batuan merupakan sifat suatu batuan jika terjadi
gesekan dengan material yang menerobosnya. Dalam hal ini abrasivitas

dapat menentukan lamanya tingkat keausan suatu mata bor.


Rock drill ability merupakan kecepatan penetrasi mata bor kedalam

batuan yang diterobosnya.


Rock blast ability yaitu merupakan tahanan terhadap peledakan yang
sangat dipengaruhi oleh keadaan batuan yang akan diledakan.

2.1.2

Mekanisme Pecahnya Batuan

Homogenitas dari sifat massa batuan akan menjadi salah satu

parameter utama yang dipertimbangkan dalam reaksi pecahnya massa batuan


tersebut. Dalam mekanismenya, batuan yang memiliki tingkat homogen yang
tinggi akan mempermudah dalam penyeragaman fragmen serta pecahnya
batuan. Proses pecahnya batuan oleh kegiatan peledakan terbagi menjadi tiga
tahapan, yaitu :
1. Proses pemecahan tingkat I (Dynamic Loading)

Pada tahap ini, gelombang kejut yang dihasilkan oleh handak


berkisar pada

angka 9000-17000 ft/s sehingga dapat menimbulkan

tegangan yang cukup tinggi untuk membuat suatu rekahan pada batuan.
Rekahan pertama yang dihasilkan akan menjalar terjadi dalam waktu 1-2
m/s. Pada tahap ini terjadi penghancuran pada batuan disekitar lubang
tembak dan energi ledakan diteruskan kesegala arah.
2. Proses pemecahan tingkat II (Quasi-static Loading)
Pada tahapan ini, tekanan yang dihasilkan pada proses pecahnya batuan
ditahap 1, dapat menghasilkan gelombang tarik yang terbentuk akibat
adanya pantulan tekanan tersebut ke bidang bebasnya. Sehingga dapat
menyebabkan gelombang tarik tersebut akan merambat kembali kedalam
batuan dan dapat menghasilkan rekahan-rekahan primer dan apabila
tegangan renggang cukup kuat, akan menyebabkan slambing atau
spalling pada bidang bebas. Pada tahapan ini, gelombang kejut yang
dihasilkan berkisar antara 5-15 % dari energi total yang dihasilkan dari
handak yang dapat membuat rekahan primer (awal) untuk persiapan
ketahapan selanjutnya.
3. Proses pemecahan tingkat III (release of loading)
Tegangan yang diberikan pada tingkat II, akan digabungkan dengan
kombinasi efek dari tegangan tarik yang disebabkan kompresi radial dan
pembagian (pneumetic wedging) sehingga akan menyebabkan peluasan
sebaran tegangan tersebut. Jika suatu massa batuan memiliki resistensi
yang cukup tinggi dalam mempertahankan posisinya, maka akan terjadi
efek pelepasan tekanan yang cukup tinggi yang akan menimbulkan
tegangan tarik yang sangat tinggi untuk memecah batuan. Pada tahapan
terakhir ini energi yang dipantulkan oleh bidang bebas pada tahap
sebelumnya dapat mengahancurkan batuan dengan lebih sempurna.

Sumber : Miningforce.blogspot.com

Setelah

Gambar 2. 1
Mekanisme Pecahnya Batuan

dilakukan

suatu

kegiatan

peledakan,

maka

akan

menghasilkan beberapa zona-zona hasil peledakan yaitu zona hancuran,


zona retakan, daerah getaran tanah, dan zona air blast. Daerah atau
zona hancuran biasanya terdapat disekitar lubang ledak berupa
banyaknya fragmen halus . Sedangkan zona retakan merupakan zona
dimana tegangan yang ditimbulkan oleh ledakan lebih besar dari
tegangan yang dapat diterima oleh batuanya. Sedangkan zona air blast
yaitu merupakan zona dimana gelombang tekanan yang dihasilkan
dirambatkan dengan kecepatan sama atau lebih dari kecepatan suara.

2.1.4

Faktor Yang Mempengaruhi Fragmentasi Batuan

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fragmentasi bantuan dari

hasil peledakan diantaranya adalah sebagai berikut :

Karakteristik dari suatu batuan, yaitu berupa kekuatan batuan, kekerasan


batuan, density, kecepatan penyebaran energi, sifat deformability seperti
elastisitas, plastisitas, dan rupture.

Struktur Geologi, yaitu merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar


dalam suatu kegiatan peledakan sehingga pertimbangannya harus
dilakukan dengan tepat dan teliti agar terjadi peledakan yang sesuai
tujuan. Struktur geologi dapat mempengaruhi dalam kelurusan lubang
ledak, kecepatan pemboran, sebaran tegangan yang dihasilkan oleh
handak, ketidakseimbangan dan distribusi bahan peledak, yang akan
sangat mempengaruhi terhadap hasil ketidakseragaman fragmentasi
peledakan. Batuan yang mempunyai banyak retakan, secara umum
memerlukan

energi

peledakan

yang

relatif

lebih

sedikit

untuk

mendapatkan fragmentasi yang baik dibandingkan dengan batuan yang


masiv, namun banyaknya rekahan serta rongga-rongga pada batuan
dapat menyebabkan terjadinya fly rock (batuan melayang), ledakan udara

(airblast) serta getaran yang yang cukup hebat.


Air tanah, terdapatnya air tanah pada batuan yang akan diledakan dapat
menimbulkan beberapa reaksi-reaksi yang dapat merugikan terhadap
bahan peledak jika bahan peledak yang digunakan tidak sesuai atau tidak
cocok dengan air. Banyak bahan peledak yang memiliki ketahanan
sangat buruk terhadap air. Hal ini bisa ditangani dengan penggunaan

casing pada bahan peledak yang digunakan.


Geometri Pemboran, geometri ini meliputi arah pemboran, diameter
lubang bor, kemiringan lubang bor, dan pola lubang ledak yang
digunakan. Lubang tembak yang dibuat dengan tegak, maka pada bagian
lantai jenjang akan menerima gelombang tekan yang besar, sehingga
dapat menyebabkan tonjolan (toe) pada lantai jenjang, hal ini dikarenakan
gelombang tekan yang dihasilkan sebagian akan dipantulkan pada bidang
bebas dan sebagian lagi akan diteruskan pada bagian bawah lantai

jenjang sehingga mengahsilkan toe.


Geometri peledakan, geometri peledakan ini meliputi burden, spasi,
stemming, subdrilling, power coulumn, powder factor, dll. Parameterparameter tersebut akan sangat berpengaruh terhadap fragmentasi yang

akan dihasilkan pada kegiatan peledakan yang dilakukan.


Teknik Peledakan, seperti pemeriksaan lubang ledak, pengisian lubang
ledak dengan bahan peledak, serta penyambungan rangkain peledakan
yang dilakukan.

2.2

Analisis Fragmentasi Hasil Peledakan Dengan Model

Kuz-ram

2.1.1

Perhitungan Fragmentasi Hasil Peledakan


Seorang engineer yang bernama Kuznetsov melakukan kajian

mengenai fragmentasi hasil peledakan yang dihasikan dengan cara


mengkorelasikan beberapa aspek seperti ukuran rata-rata fragmentasi
dengan powder factor bahan peledak TNT, dan struktur geologi yang ada
dalam massa batuan tersebut. Dari ketiga aspek tersebut, kuznetsov
atau menyimpulkan keterkaitan antara aspek-aspek tersebut dan dia
merumuskan ke dalam persamaan berikut ini:

Xmean

= A ( V / Q )0.8 Q 1/6

Keterangan :

Xmean = Ukuran rata-rata fragmen batuan ( cm )


A

= Faktor batuan, yaitu :

1 untuk batuan yang sangat rapuh

7 untuk batuan yang agak kompak

10 untuk batuan kompak dengan sisipan yang

rapat *

13 untuk batuan kompak dengan sedikit sisipan

V0

= Volume batuan per-lubang ledak ( B x S x H )

= Berat bahan peledak TNT yang energinya

BCM

ekivalen

dengan energi dari muatan bahan peledak

dalam setiap lubang ledak

Persamaan tersebut, hanya bisa digunakan untuk bahan peledak


berjenis TNT saja, sehingga Cunningham menyempurnakan teori atau
persamaan tersebut agar bisa digunakan untuk semua jenis bahan
peledak yang dignakan. Adapun persamaanya adalah sebagai berikut :

Xmean = A ( V0 / Q )0.8 Q1/6 ( 115/E )19/30

Keterangan :

Xmean = Ukuran rata-rata fragmen batuan ( cm )

10

= Faktor batuan, yaitu :

1 untuk batuan yang sangat rapuh

7 untuk batuan yang agak kompak

10 untuk batuan kompak dengan sisipan yang

rapat *

13 untuk batuan kompak dengan sedikit sisipan

V0

= Volume batuan per-lubang ledak ( B x S x H )

= Berat bahan peledak TNT yang energinya

BCM

ekivalen

dengan energi dari muatan bahan peledak

dalam setiap lubang ledak

Merupakan nilai RWS bahan peledak yang

dipakai.

Persamaan yang dirumuskan oleh kuznetsov dan Cunningham


hanya dapat memberikan ukuran fragmen rata-rata saja,sehingga tidak
dapat menghasilkan data yang lebih spesifik sehingga tidak dapat
menjelaskan atau menggambarkan kuantitas dari ukuran fragmen
tersebut yang akan dihasilkan pada suatu kegiatan peledakan yang
dilakukan. Kelemahan lain dari persamaan ini yaitu ukuran rata-rata
fragmentasi yang dihasilkan diperoleh dengan cara merata-ratakan data
dengan kisaran yang besar sehingga dapat menghasilkan

tingkat

ketelitiannya menjadi berkurang. Sehingga dibutuhkan metode lain untuk


taksiran untuk menangani distribusi fragmentasi batuan tersebut, yang
sudah dikembangkan oleh Rosin Ramler. Dia merumuskan persamaan
berdasarkan parameter ukuran rata-rata yang digunakan Kuznetsov dan
Cunningham.

R = e [ X / Xc ] 100 %

Dimana :

= Banyaknya batuan yang tertahan pada ayakan

= Ukuran ayakan, ( mm )

Xc

= Xmean / ( 0.693 )1/ n

= Indeks Keseragaman

= ephsilon = 2.71 .

11

Yang

dimaksud

dengan

indeks

keseragaman

disini

yaitu

merupakan nilai yang dapat mengindikasikan keseragaman ukuran,


semakin tingggi nilainya, maka akan semakin seragam pula ukurannya.
Biasanya nilai n yang sering digunakan berkisar antara 0,75-1,5. Berikut
adalah tabel yang menyatakan pengaruh parameter terhadap nilai n yang
digunakan yaitu sebagai berikut :
Tabel 2. 1
Fungsi n Terhadap parameter

Parameter

" n " meningkat jika


parameter

Burden/diamter

lubang
Akurasi Pemboran
Tinggi jenjang
Spasi/burden

Menurun
Meningkat
Meningkat
Meningkat

Sumber :Dokumen tips, identifikasi tingkat keseragaman fragmentasi batuan hasil peledakan

Setelah dikemukakan berbagai faktor oleh para ahli, akhirnya


timbullah suatu persamaan yang telah dikembangkan yang disebut
dengan model Kuz-Ram. Persamaanya sebagai berikut :

n = ( 2.2 14B/d ) ( 1 W/B ) { 1 + ( A 1 )/2} L/H

Dimana :

= Burden, ( m )

= Diameter lubang ledak, ( mm ) ;

= Standar deviasi lubang bor, ( m ) ;

= Ratio spasi terhadap burden ;

= Panjang muatan bahan peledak, ( m ) ;

= Tinggi jenjang, ( m ) .

2.1.2

Penaksiran Kurva Distribusi Fragmentasi


Dalam pengaplikasian model Kuz-ram ini harus memperhatikan

beberapa aspek yang membatasi agar fragmentasi yang dihasilkan dari


kegiatan peledakan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Batasan
tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

12

Perbedaan rasio atau perbandingan atara burden dan spasi tidak boleh
melebihi nilai 2 kali lipatnya jika peledakannya menggunakan sistem

delay.
Dalam pengaturan waktu delay, dalam praktiknya harus dilakukan setepat
mungkin sehingga fragmentasi yang dihasilkan dapat lebih seragam dan

tidak terjadinya misfire.


Bahan peledak yang akan digunakan, harus memiliki energi yang hampir
sama dengan perhitungan rws nya sesuai dengan perhitungan yang telah

ditentukan.
Keberadaan dari struktur geologi dan bidang lemah juga harus
dipertimbangkan, seperti kerapatan, geometri, dan besar kecilnya struktur
tersebut. Karena fragmentasi hasil peledakan juga akan sangat
ditentukan oleh keadaan dari bidang lemah yang ada pada massa batuan
itu sendiri

BAB III

TUGAS DAN PEMBAHASAN

3.1

Tugas

PT. UUS merupakan salah satu perusahaan tambang andesit di

Jawa Barat uang diketahui memilik banyak rekahan, jarak anatr kekas 0,1 m 1
m dan kekerasan 6 (skala Mohs) dengan spesifikasi batuannya dengan nilai SGr
2.55 gr /cc dan SGrstd 2,7 gr/cc. Perusahaan ini menggunakan metodis peledakan
dalam pembongkaran/penggaliannya dengan menggunakan ANFO sebagai
bahan peledak utamanya yang memiliki spesifikasi SGe 0.82 ton/m3, SGestd 0,85
gr/cc, VOD 11803 fps dan VODstd 12000 fps. Geometri peledakan yang
digunakan perusahaan tersebut adalah sbb:

Burden (B)

=3m

Spasi (S)

= 3.5 m

Kedalaman (H)

= 12 m

Diameter (De)

= 3

Stemming (T)

=3m

Tinggi Jenjang (L) = 12 m

Sub-drilling (J)

=0m

1.

Hitung geometri peledakan perusahaan tersebut secara teoritis (R.L. Ash


dan C.J. Konya)!

2.

Analisa mengapa perusahaan tersebut lebih menggunakan geometri


peledakan aktual?

3.

Hitung prediksi/perkiraan fragmentasi yang didapat dari masing-masing


metode geometri peledakan (aktual, C.J. Konya dan R.L. Ash)

4.

Hitung distribusi fragmentasi hasil peledakan di lapangan.

5.

Jika ukuran mulut jaw crusher hanya berukuran 80 cm, berapa persentase
batuan yang dapat masuk?
(Catatan: KBstd= 30, KSstd= 1,5, KTstd= 0,8, KJstd= 0,3)

13

14

15

3.2

Pembahasan
1. Diketahui

SGr

= 2,55 gr/cc

SGr std

= 2,7 gr/cc

SGe

= 0,82 ton/m3

SGe std

= 0,85 gr/cc

VoD

= 11.803 fps

VoD std

= 12.000 fps

Ditanyakan

: Hitung geometri peledakan perusahaan tersebut secara

teoritis (R.L. Ash dan C.J. Konya)!


Jawab

R.L Ash
AF1

SGe Handak VoD Handak


SGe std VoD std
0,82 11.803 fps
0,85 12.000 fps

= 0,977
AF2

SGr std
SGr

2,7 gr/ cc3

2,55 gr/ cc3


3

= 1,019

Burden (B)
Kb

= Kb std x AF1 x AF2


= 20 x 0,977 x 1,019
= 29,8962
= (KBKor x De) / 12
= (29,8962 x 3) / 12
= 7,47 ft = 2,2768656 m

Spacing (S)
Ks kor

= Ks std x AF1 x AF2


= 1,5 x 0,977 x 1,019
= 1,49481

16

= Ks kor x B
= 1,49481 x 2,27m
= 3,38 m

Subdrilling (J)
KJ kor

= Ks std x AF1 x AF2


= 0,3 x 0,977 x 1,019
= 0,3

= Ks kor x B
= 0,3 x 2,27m
= 0,67 m

Stemming (T)
KT kor

= KT std x AF1 x AF2


= 0,8 x 0,977 x 1,019
= 0,798

= Kt kor x B
= 0,798 x 2,27 m
= 1,80 m

Power Coulumn (PC)

=HT
=

Loading Density (LD)

Berat handak (W)

Volume (V)

Powder factor

12 m -1,84 m

= 10,2 m
= 0,508 x De2 x SGe
= 0,508 x (3 inch)2 x 0,82 ton/m3
= 3,74 kg/m
= LD x PC
= 3,74 kg/m x 10,2 m
= 38.148 kg
=BxSXL
= 2,27 m x 3,38 m x 12 m
= 92.07 m3
= W / Volume
= 38.148 kg / 92.07 m3
= 0,41 kg/m3

C.K Konya

= Dex3,15x

SGe
SGr

= 3 x 3,15 x nroot { 3 } {{0,82 ton/m } over { 2,7 ton/m }}


= 6,474 ft = 1,97 m

17

Spacing (S)

Subdrilling (J)

Stemming (T)

= 1,4 x B
= 1,4 x 1,97 m
= 2,758 m
= Kj x B
= 0,3 x 1,97 m
= 0,591 m
= B Karena batuan masiv
= 1,97 m

Power Coulumn (PC)

= (L+J) T
=

Loading Density (LD)

Berat handak (W)

Volume (V)

Powder factor

2. Diketahui

Ditanyakan

B
S
H
T
J
De
L

( ( 11.409 ) +0,591 m ) - 1,97 m

= 10.03 m
= 0,508 x De2 x SGe
= 0,508 x (3inch)2 x 0,82 ton/m3
= 3,75 kg/m
= LD x PC
= 10.03 kg/m x 3,7 m
= 37.6125 kg
=BxSXL
= 1,97 m x 2,758 m x 11.49 m
= 61.98 m3
=W/V
= 37.61 kg / 61.98 m3
= 0,60 kg/m3

:
= 3m
= 3.5 m
= 12 m
=3m
=0m
= 3 inch
= 12 m
:Analisa

mengapa

perusahaan

tersebut

menggunakan geometri peledakan aktual?


Jawab

Power Coulumn (PC)

= (L+J) T
=

Loading Density (LD)

Berat handak (W)

( ( 12 ) + 0 m ) -3 m

=9m
= 0,508 x De2 x SGe
= 0,508 x (3 inch)2 x 0,82 ton/m3
= 3,749 kg/m
= LD x PC
= 3,75 kg/m x 9 m

lebih

18

Volume (V)

Powder factor

= 33,741 kg
=BxSXL
= 3m x 3,5 m x 12 m
= 126 m3
= W / Volume
= 33,741 kg / 126 m3
= 0,268 kg/m3

Tabel 3. 1
Geometri Peledakan Aktual dan Teoritis

Geometri
Burden
Spasi
Subdrilling
Stemming
Power Coulumn
Loading Density
Weight
Volume
Powder Factor

Aktual
3m
3,5 m
0m
3m
9m
3,749 kg/m
33,741 kg
126 m3
0,267 kg/m3

Teoritis
R.L Ash
C.J konya
2,238 m
1,97 m
3.28 m
2,758 m
0.649 m
0,591 m
1,75 m
1,97 m
10.25 m
10,03 m
3,749 kg/m
3,75 kg/m
38.427 kg
37.612 kg
3.45 m3
61.98 m3
0,46 kg/m3
0,60 kg/m3

Sumber : Data Asistensi Praktikum Peledakan Aldi Gustian Muhari, 2016

Penggunaan geometri aktual oleh perusahaan digunakan karena


keadaan burden dan spasi tiap lubang ledak memiliki jarak lebih jauh dibanding
geometri menurut perhitungan secara teoritis, sehingga dengan luas area
peledakan yang sama, geometri aktual dapat menghasilkan jumlah lubang ledak
lebih sedikit. Selain itu, panjang PC juga lebih pendek sehingga isian bahan
peledak lebih sedikit, dengan diameter yang sama. Hal tersebut dianggap lebih
ekonomis. Selain hal tersebut, perusahaan juga mempertimbangan antara
ukuran mulut jaw crusher dengan fragmentasi hasil peledakan. Dengan ukuran
mulut jaw crusher yang kurang dari 80 cm, geometri peledakan aktual
menghasilkan ukuran rata-rata sekitar 50-56 cm. Ukuran tersebut juga dianggap
sudah sudah cukup dan dapat masuk ke proses selanjutnya yaitu dengan masuk
ke jaw crusher. Meskipun geometri peledakan berdasarkan perhitungan juga
menghasilkan ukuran fragmen rata-rata 27-31 cm, yang juga masih bisa masuk
dalam jaw crusher, namun dalam segi ekonomis geometri tersebut tentu jauh
lebih mahal karena aspek yang telah dijelaskan diawal.
3. Hitung prediksi/perkiraan fragmentasi yang didapat dari masing-masing
metode geometri peledakan (aktual, C.J. Konya dan R.L. Ash

19

Prediksi fragmentasi berdasrkan persamaan Kuz Ram

Vo
X =A
Q

( )

0,8

1
6

R.L Ash

X =10

83,45
38,42

38.426 = 34.16 cm

C.J Konya

61.98
X =10
37.6125

0,8

0,8

37.6125

1
6

= 20.08 cm

Aktual

126
X =10
42.14

1
6

0,8

42.14 = 45.49 cm

Prediksi fragmentasi berdasrkan persamaan Cunningham


1

Xm =A( PF)-0,8 Qe 6

115
E

19
30

( )

Bi = 0.5 (RMD + JPS + JPO + SGI + H)


= 0.5 (20 + 20 + 10 + 13.75 + 6)
= 34.875

RF= 0.12 X Bi
= 0.12 x 34.875
= 4.185
R.L Ash
1

Xm = 4.185( 0,46) -0,8 38.427 6

19
30

( )

= 15.63 cm

C.J Konya
1

Xm = 4.185 ( 0,60)-0,8 37.6126

115
100

115
100

19
30

( )

= 12.59 cm

Aktual
-0,8

Xm = 4.185( 0,267)

1
6

33,741

115
100

19
30

( )

= 23.63 cm

4. Adapun cara perhitungan distribusi hasil peledakan dilapangan dilakukan


dengan cara menjumlahkan setiap ukuran fragmen persection kemudian

20

dibagi jumlah keseluruhan dari jumlah fragmen dikalikan 100 persen.


Adapun contoh perhitunganya sebagai berikut :

<20

70
x 100 %=18.37 %
381

<21-40

172
x 100 %=45.144 %
381

<41-60

54
x 100 %=14. 17 %
381

<61-80

58
x 100 %=15.22 %
381

>80

27
x 100 %=7.08 %
381

Tabel 3.2
Hasil Pengamatan Fragmentasi Hasil Peledakan 1

Ukuran
(Cm)

Jumla
h

Section
1
0
1
0
1
2

< 20

21 - 40

1
5

2
0

1
4

2
2

2
1

2
4

1
5

2
3

41 - 60

54

61 - 80

58

> 80

27

70
172

381

Persentas
e
18.37270
34
45.14435
7
14.17322
83
15.22309
71
7.086614
17
100

Tabel 3.3
Hasil Pengamatan Fragmentasi Hasil Peledakan 2

Ukuran
(Cm)

Jumla
h

Section
1

1
0

75

3
0

1
8

2
0

2
0

2
1

1
8

1
9

1
9

212

< 20

21 - 40

2
5

1
0
2
2

41 - 60

56

61 - 80

64

Persenta
se
17.81472
68
50.35629
45
13.30166
27
15.20190

21

> 80

14
421

02
3.325415
68
100

Tabel 3.4
Hasil Pengamatan Fragmentasi Hasil Peledakan 3

Ukuran
(Cm)

Jumla
h

Section

1
7
1
9

1
0
1
5
2
4

151

53

55

12

1
2
2
2

1
5
2
2

2
0
2
5

1
4
1
7

1
4
1
9

1
2
1
9

1
5
2
0

1
7
2
3

41 - 60

61 - 80

> 80

< 20
21 - 40

210

481

Persenta
se
31.39293
14
43.65904
37
11.01871
1
11.43451
14
2.494802
49
100

Tabel 3.5
Hasil Pengamatan Fragmentasi Hasil Peledakan 4

Ukuran
(Cm)

Jumla
h

Section

1
6
2
6

1
0
1
5
2
5

178

82

61

15

2
5
2
1
1
0

1
8
2
0
1
2

1
7
2
2

1
7
2
4

1
6
2
8

1
9
2
5

1
9
2
5

1
6
2
4

61 - 80

> 80

< 20
21 - 40
41 - 60

240

576

Persenta
se
30.90277
78
41.66666
67
14.23611
11
10.59027
78
2.604166
67
100

Tabel 3.6
Hasil Pengamatan Fragmentasi Hasil Peledakan 5

Ukuran
(Cm)
< 20

Section
1

1
5

1
5

1
3

1
6

1
8

1
2

1
2

1
4

1
5

1
0
1
5

Jumla
h

Persenta
se

145

23.08917
2

22

21 - 40
41 - 60
61 - 80
> 80

2
1
1
5
1
0

2
2
1
4

2
2
1
4

2
1
1
4

2
1
1
4

2
2
1
4

2
1
1
6

2
4
1
4

2
7
1
5

2
5
1
8

88

21

226
148

628

35.98726
11
23.56687
9
14.01273
89
3.343949
04
100

5. Hasil persentase peledakan, jika ukuran jaw crusher hanya berukuran 80


mesh adalah sebagai berikut :

Peledakan 1

70
x 100 %=18.37 %
381

Peledakan 2

172
x 100 %=45.144 %
381

Peledakan 3

54
x 100 %=14. 17 %
381

Peledakan 4

58
x 100 %=15.22 %
381

Peledakan 5

27
x 100 %=7.08 %
381

BAB IV
ANALISA

Analisis fragmentasi hasil peledakan sangat ditentukan oleh berbagai


faktor. Geometri peledakan, merupakan salah satu hal yang paling berpengaruh
terhadap penentuan hasil fragmentasi dari kegiatan suatu peledakan. Tingginya
keseragaman fragmentasi dari hasil suatu peledakan dapat menandakan
kegiatan peledakan telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana.
Fragmentasi peledakan juga harus dianalisis terlebih dahulu agar dapat sesuai
dengan ukuran yang diinginkan untuk proses selanjutnya.
Geometri peledakan yang baik, dapat ditentukan dengan perhitungan
secara teoritis. Namun, geometri tersebut tidak selamanya menjadi geometri
yang paling tepat atau yang paling optimal yang kan digunakan di lapangan
karena ada beberapa pengaruh dari factor-faktor lainya. Sehingga ukuran
fragmentasi hasil peledakan harus disesuaikan dengan penanganan selanjutnya
atau tahapan lanjut yang akan dilakukan dalam pengolahan anjutan. Dalam
kasus ini, perusahaan tidak menggunakan geometri peledakan berdasarkan
teoritis hasil perhitungan, namun menggunakan geometri peledakan yang aktual
yang dipengaruhi oleh faktor ekonomis, waktu, serta penanganan material
selanjtnya. Dengan jarak burden dan spasi yang lebih jauh pada geometri
peledakan optimal, dengan luasan suatu area peledakan yang sama, dapat
menghasilkan jumlah lubang ledak yang lebih sedikit sehingga waktu yang
dibutuhkan dalam pembuatan lubang lebih cepat, dan lebih ekonomis. Selain itu
isian kolom bahan peledak, juga lebih sedikit dibanding geometri peledakan yang
lainya.
Dengan ukuran mulut jaw crusher yang besarnya kurang dari 80 cm,
ukuran rata-rata fragmentasi yang dihasilkan baik dengan geometri aktual
maupun secara teoritis, seluruhnya dapat masuk ke dalam jaw crusher, hanya
saja dalam hal ini perlu ditinjau kembali dari segi ekonomis, dan waktu, geometri
peledakan secara aktual lebih baik sehingga dianggap sebagai geometri yang
paling tepat atau optimal dalam pelaksanaanya. Dari hasil pengamatan, didapat
persentase undersize yang sangat tinggi yang dapat masuk ke dalam jaw crushe

23

BAB V
KESIMPULAN

Kegiatan suatu peledakan yang baik harus dapat menghasilkan hasil


fragmentasi batuan yang baik juga yang ditandai dengan tingkat keseragaman
ukurannya dan kesesuaian antara rencana dan aktualnya. Fragmentasi batuan
dalam peledakan yaitu merupakan suatu batuan dengan ukuran tertentu yang
dihasilkan dari suatu kegiatan peledakan. Dalam perhitungannya biasanya
digunakan software yang telah dikembangkan sampai saat ini. Beberapa faktor
yang mempengaruhi fragmentasi batuan hasil peledakan, seperti karakteristik
batuan berupa kekuatan batuan, kekerasan batuan, density, kecepatan
penyebaran energi, sifat deformability, dll, struktur Geologi, air tanah, geometri
pemboran, geometri peledakan dan teknik Peledakannya.
Tingkat keseragaman sifat masssa batuan sangat mempengaruhi
terhadap reaksi atau mekanisme pecahnya suatu batuan, semakin homogen
sifatnya maka reaksi pecahnya suatu batuan akan semakin mudah dan baik.
Proses pecahnya suatu batuan oleh kegiatan peledakan terbagi menjadi tiga
tahapan, yaitu Dynamic Loading, (Quasi-static Loading, dan release of loading.
Setelah dilakukan suatu kegiatan peledakan, akan menghasilkan beberapa zona
yaitu zona hancuran, zona retakan, daerah getaran tanah, dan zona air blast.
Ada beberapa ahli yang melakukan kajian mengenai fragmentasi hasil
peledakan seperti Kuznetsov, Cunningham, Rosin Ramler yang memiliki
kelemahan dan kelebihan tersendiri. Beberapa ahli tersebut menyempurnakan
kajian tersebut sehingga sampai pada rumusan akhir yang disebut dengan model
Kuz-Ram dalam penentuan indeks keseragaman, dilakukan dengan persamaan :
n = ( 2.2 14B/d ) ( 1 W/B ) { 1 + ( A 1 )/2} L/H
Dalam pengaplikasian model Kuz-ram ini harus memperhatikan beberapa
aspek yang membatasi agar fragmentasi peledakan dapat berjalan sesuai
rencana. Batasan tersebut meliputi Rasio burden spasi, bahan peledak yang
digunakan, pengaturan waktu delay, dan struktur geologi.

20

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat Taufik, 2011, Analisa Produktifitas Peledakan, http://miningforce.


blogspot.co.id/2011/09/analisa-produktifitas-peledakan-untuk.html.
Diakses pada tanggal 02 Desember 2016 pukul 01.17 WIB
Rafi,

2015, Identifikasi Tingkat Keseragaman Fragmentasi Hasil


Peledakan, http://dokumen.tips/documents/identifikasi-tingkat-keseraga
man-fragmen tasi-batuan-hasil-peledakan-dengan.html. 02 Desember
2016 pukul 01.15 WIB

Suwandi Edy, 2015, Fragmentasi Hasil Peledakan, http://redgenmining.


blogspot.co.id/2015/03/fragmentasi-hasil-peledakan.html. 02 Desember
2016 pukul 01.20 WIB

21