Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb,


Puji serta syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Esa
karena berkat Rahmat Nyalah saya diberikan kesehatan untuk dapat membuat
laporan ini dengan tepat waktu Alhamdulillahirabbil'alamin, saya panjatkan puji
dan syukur ke Hadirat Allah SWT yang telah memberikan banyak rahmat dan
karunia Nya sehingga saya dapat menyusun laporan ini dengan tepat waktu.
Laporan yang berjudul Sistem Rangkaian Peledakan Misfire ini berisi tentang
jenis-jenis rangkaian pada detonator listrik, pada sumbu non listrik, serta misfire
yang diakibatkan oleh kawat-kawat tersebut.
Tidak

lupa

juga

saya

haturkan

terima

kasih

kepada

instruktur

Laboratorium Tambang Unisba karena berkat saran dan bimbingan mereka lah
laporan bisa diselesaikan.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu segala kritik dan saran dari berbagai pihak
sangat diharapkan, demi kesempurnaan penulisan laporan selanjutnya. Semoga
laporan ini dapat bermanfaat.
Wassalamualaikum wr. wb.

Bandung, 10 Desember 2016


Penyusun,

Aldi Gustian Muhari

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................................1
1.2 Maksud dan Tujuan..........................................................................1
1.2.1 Maksud.................................................................................1
1.2.2 Tujuan...................................................................................1
BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................2
2.1 Rangkaian Peledakan......................................................................2
2.1.1 Jenis Rangkaian Listrik.........................................................2
2.1.2 Sistem rangkaian Nonel........................................................4
2.2 Misfire..............................................................................................5
2.2.1 Misfire Pada Sumbu Api.......................................................5
2.2.2 Misfire Pada Detonator Listrik...............................................5
BAB III TUGAS DAN PEMBAHASAN.................................................................8
BAB IV ANALISA...............................................................................................12
BAB V KESIMPULAN........................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pada proses kegiatan peledakan, sistem rangkaian peledakan menjadi

suatu faktor yang menentukan apakah peledakan berjalan lancar atau tidak.
Setiap rangkaian peledakan digunakan, mempunya sebab dan alasan tersendiri
yang disesuaikan dengan jumlah detonator, kondisi lapangan, serta energi yang
diperlukan untuk menyalakan detonator. Pemasangan rangkaian kawat harus
dilakukan dengan baik agar tidak terjadinya misfire atau peledakan yang gagal.
Sehingga harus dilakukan tes sebelum melakukan kegiatan peledakan tersebut.
Pengujian hal tersebut juga ditentukan oleh sumbu rangkaian peledakan yang
digunakan. Oleh karena itu, praktikum mengenai sistem rangkaian peledakan
misfire harus dilakukan dan dipahami agar peledakan dapat berjalan lancar dan
tidak terjadi misfire dalam kegiatan peledakannya.

1.2

Maksud dan Tujuan

1.2.1

Maksud
Maksud dari dilakukannya praktikum ini agar praktikan dapat mengetahui

cara merangkai kawat peledakan baik dengan kawat listrik atau kawat non listrik
dan dapat menghindarkan dari terjadinya misfire.
1.2.2

Tujuan

1. Mengetahui dan memahami cara perangkaian dan perhitungan pada


peledakan dengan rangkaian listrik dan non listrik.
2. Mengetahui dan memahami penyebab serta cara pencegahan terjadinya
misfire pada suatu kegiatan peledakan.
3. Mengetahui kelebihan dan kelemahan dari rangkaian seri maupun
rangkaian pararel

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Rangkaian Peledakan
Rangkaian Peledakan merupakan suatu pola ataupun suatu susunan

yang dibuat sedemikian rupa dan sebaik mungkin agar kegiatan peledakan dapat
berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetukan sebelumnya. Pada prinsipnya
peledakan yaitu dilakukan dengan cara menghubungkan Legwire dari satu
lubang ke lubang lain secara menerus, sehingga apabila dalam suatu ranfkaian
peledakan salah satu detonator ada mati, maka seluruh rangkaian terputus dan
peledakan akan gagal (misfire).
2.1.1

Jenis Rangkaian Listrik


Detonator

listrik

yaitu

merupakan

jenis

detonator

yang

dalam

penyalaannya menggunakan arus listrik, yang dialirkan melalui kabel khusus


pada ujung kabel kedalam tabung detonator listrik yang dilapisi dengan kawat
halus yang dapat menghantarkan arus listrik sehingga isian utama akan
menghasilkan gelombang berupa gelombang kejut yang dapat membuat isian
dasar dari bahan peledak dapat meledak. Secara umum detonator listrik dapat di
bagi menjadi dua macam yaitu : Instantaneous detonator ,dan Delay detonator.
Alat yang digunakan sebagai alat pemicu awal pada detonator ini disebut
dengan blasting machine yang dapat menghantarkan arus listrik menuju
detonator. Cara kerjanya didasarkan pada pengumpulan arus listrik dalam
kapasitor yang dilepaskan secara seketika atau secara serentak. Arus yang
dilepaskan dapat mengatasi tahanan listrik dalam peledakan. Tahanan rangkaian
aus listrik ini harus diukur atau dihitung terlebih dahulu dan harus dijaga dengan
keadaan tertentu jangan sampai terdapat kebocoran arus pada kabel tersebut,
karena terdapat kawat terbuka yang berhubungan dengan tanah, air atau bahan
lain yang bersifat konduktor sehingga dapat menimbulkan suatu kegagala
peledakan dan kecelakaan kerja. Terdapat beberapa jenis rangkaian pada
penyambungan detonator listrik, yaitu diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Rangkaian Seri
Rangkaian seri, yaitu merupakan suatu rangkaian sederhana dengan
arus sekitar 1,5 Ampere yang berperan dalam memberikan suplai panas
terhadap detonator. Pada sistem rangkaian listrik, arus yang diberikan
relative rendah namun tegangan voltagenyacukup tinggi, sehingga jika
salah satu kawat ada yang terputus atau gagal menghantarkan energi
panasnya, maka rangkaian lainnya tidak akan terdeflagrasi secara
sempurna. Adapun gambaran rangkaian seri ini dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

Sumber : Fajrin M, 2013

Gambar 2. 1
Sistem Rangkaian Seri

Rangkaian seri ini biasanya digunakan pada peledakan yang tidak terlalu
besar yaitu dengan jumlah detonator berkisar kurang lebih 50 buah, dan
panjang kabel penghubungnya tidak lebih dari 7 m. Prinsip dasar
rangkaian
seri yaitu di rumuskan seprti di bawah ini :
Rtotal

= R1 + R2+ R3 + + Rn
=nR

i total

= i 1 = i 2 = in

Volt

= i (nr)

2. Rangkaian Paralel
Rangkaian pararel ini merupakan rangkaian yang pada tiap detonatornya
memiliki dua alur yang berbrda

yaitu sebagai alur utama dan alur

artenatif. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menangani apabila


salah satu arus terhenti dalam rangkaiannya, maka arus yang lainnya

maih dapat menghantarkan energi panas untuk penyalaan detonator.


Arus yang digunakan minimal 0,5 Ampere. Adapun gambran dari
rangkaian seri ini adalah sebagai berikut.

Sumber : Fajrin M, 2013

Gambar 2. 2
Sistem Rangkaian Paralel

Prinsip dasar dari rangkaian paralel yaitu dirumuskandengan rumusan


sebagai berikut :
1/R total = 1/R1 + 1/R

+ +

1/Rn = n/Rn
i total

= i 1 + i 2 + + in

Volt

= i (nR)

3. Rangkaian Kombinasi
Selain rangkaian seri dan rangkaian pararel, ada juga rangkaian
kombinasi, yaitu gabungan dari keduanya. Rangkaian ini terbagi dua :
Rangkaian Seri Paralel, merupakan sejumlah rangkaian seri yang

dihubungkan kembali dengan rangkaian paralel.


Rangkaian Paralel Seri, merupakan sejumlah rangkaian seri yang
dihubungkan secara paralel.

Sumber : Fajrin M, 2013

Gambar 2. 3
Sistem Rangkaian Paralel Seri

Pengunaan rangkaian kombinasi ini, digunakan apabila suatu kegiatan


peledakan memerlukan detonator yang jumlahnya lebih dari 40 dengan
leg wire lebih dari 7 m. Daya tiap detonator yang digunakan biasanya
berkekuatan sebesar 100 ohm.
2.1.2

Sistem Rangkaian Nonel


Alat pemicu peledakan non listrik, terbagi dua yaitu yang menggunakan

sumbu api sebagai penghantarnya, dan yang menggunakan sumbu ledak


(nonel). Alat pemicu yang digunakan untuk sistem nonel ini dinamakan dengan
shot gun atau shor fire. Nonel merupakan sejenis detonator yang cara
penyalaannya dilakukan dengan cara menghantarkan gelombang detonasi yang
dirambatkan atau dihantarkan melalui suatu pipa berdiameter 2-4 mm yang
didalamnya berisi bahan tertentu yang dapat menghantarkan gelombang
detonasi. Pada nonel ini terdiri dari tiga lapisan yang berfungsi untuk menjaga
isian dari nonel ini yang dapat menghantarkan gelombang detonasinya, dan
menjaga dari gesekan ataupun benturan lainya.
Sumbu

Ledak

(Detonating

Fuse,

Detonating

Cord)

yaitu

merupakan suatu sumbu yang berintikan initiating explosive yang


dimasukan kedalam suatu pembungkus plastik dan berbagai kombinasi
atanara textile, kawat halus dan plastik. Sumbu nonel terdiri dari tiga
lapisan, yaitu lapisan luar, lapisan tengah, dan lapisan dalam. Setiap
lapisan ini memiliki fungsi yang berbeda-beda yang pada intinya berfungsi
untuk melindungi isian dari nonel ini yang dapat menghantarkan
gelombang detonasi. Lapisan luar berfungsi sebagai ketahanan terhadap
goresan dan terhadap sinar ultraviolat. Lapisan tengah berfungsi sebagai
daya regang dan ketahanan terhadap zat kimia. Dan lapisan yang terakhir
yaitu lapisan dalam digunakan untuk menahan bahan kimia reaktif
biasanya berisi HMX, dan alumunium yang bersuhu stabil dan memiliki
densitas dan kecepatan detonasi yang tinggi. HMX ini berfungsi sebagai
penghantar gelomang detonasi.
Untuk sistem perangkaian nonel, biasanya ditentukan oleh jenis pola
peledakan yang akan digunakan. Jenis rangkaian nonel ini terbagi menjadi

beberapa rangkaian yaitu rangkaian corner cut, v cut, dan box cut. Untuk sistem
rangkaian box cut bisanya dilakukan secara zigzag maupun secara lurus.

2.2

Misfire
Misfire yaitu merupakan suatu kondisi dimana kegiatan suatu peledakan

tidak terjadi secara sempurna yang diakibatkan oleh gagalnya meledaknya suatu
bahan peledak dalam suatu lubang, untuk meledak. Penyebab utama dari
kondisi ini dapat disebabkan oleh detonator, bahan peledak itu sendiri, maupun
dari rangkaian kawat atau kabel yang menghantarkan arusnya.
2.2.1

Misfire Pada Sumbu Api


Sumbu api yang digunakan biasanya memiliki ketahanan sangat rendah

terhadap air sehingga menjadi penyebab paling sering terjadinya misfire. Selain
itu, adanya material pengotor yang dapat menyumbat, dan pada saat
pemotongan sumbu yang dilakukan dengan cara yang kurang baik. Sehingga
pada saat penyimpanannya, sumbu api harus berada ditempat kering, dan pada
saat pengisian kedalam lubang ledak diusahakan tidak terkena oleh air. Dan
pemotongan harus dilakukan serapih mungkin dan tidak terlalu pendek.
2.2.2

Misfire Pada Detonator Listrik


Penyebab atau kendala terjadinya misfire pada detonator listrik, sangat

banyak kemungkinannya yang disebabkan oleh beberapa faktor. Sehingga perlu


dilakukan berbagai pemeriksaan awal sebelum melakukan kegiatan peledakan
dengan detonator listrik. Peledakan listrik memerlukan alat bantudengan tujuan
agar peledakan listrik berlangsung dengan aman dan terkendali. Alat bantu yang
digunakan berfungsi sebagai pengukur tahanan, pengukur kebocoran arus,
detektor petir, dan kawat utama atau lead wire atau lead lines atau firing line.
Adapun penjelasn dari beberapa alat bantu ini adalah sebagai berikut.

Pengukur Tahanan (Blastometer atau BOM)


Alat pengukur tahanan kawat listrik yang biasa digunakan yaitu
multitester. Alat ini hanya bisa digunakan untuk mengukur tahanan kawat
listrik tersebut, dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan lainya
seperti untuk mengukur kawat. Kawat harus dilakukan pengukuran,
diantaranya legwire, connecting wire, bus wire, dan lead wire. Sehingga

seluruh tahanan total dapat dihitung dan dapat disesuaikan dengan arus
yang dibutuhkan oleh mesin peledak.

Pengukur Kebocoran Arus


Kebocoran arus biasanya terjadi akibat adanya kawat yang terisolasi,
atau terdapat kontak dengan air sehingga dapat menyebabkan
terputusnya aliran arus pada tempat dimna kawat tersebut terjadi kontak
dengan air sehingga tidak dapat menghantarkan arus ke lubang ledak
yang lainya.. Alat yang paling sering digunakan untuk mengukur
kebocoran arus yaitu AECI Digital Earth Leakage Tester LT-02 Alat ini
dapat digunkan untuk

mengukur tahanan antara 0 19.990 ohms

dengan skala 10 ohm dan menggunakan tenaga baterai sebesar 9


volts.alat ini dapat memeriksa kebocoran arus yang menyebabkan

misfire, massa batuan, dan peledakan dengan banyak baris.


Multimeter Peledakan
Alat multimeter ini merupakan suatu alat yang digunakan untuk
mengukur tahanan, voltage, serta arus termasuk kebocoran serta

digunakan untuk mengukur kemenerusan arus tersebut.


Rheostat dan Fussion tester
Alat ini merupakan alat yang digunakan untuk pengujian blasting
machine yang berjenis kapasitor atau generator untuk mengatasi tahan
detonator. Setiap tahanan biasanya ditandai dengan nilai ohms tertentu
yang ekuivalennya dengan sejumlah detonator listrik yang memiliki
panjang legwire tembaga 30 ft (10 m).

Detektor Kilat
Merupakan alat yang digunakan untuk mengukur gradiasi voltage listrik
yang terdapat pada atmosfer. Alat ini biasanya digunakan apabila kondisi
cuaca didaerah peledakan sedang banyak kilat atau berpotensi kilat.

BAB III
TUGAS DAN PEMBAHASAN

3.1

Tugas
1. Rangkaian seri 15 detonator short delay dengan tahanan tiap detonator
1.8 ohm, 35 m kawat penyambung (connecting wire) 22 AWG tahanan
15.14 ohm/330 m dan 60 m kawat utama (lead wire) terbuat tembaga
ganda yang diisolasi dengan plastic PVC dengan tahanan 5.8 ohm/100
m. Hitung total tahanan dan voltage.
2. Suatu rangkaian paralel 12 detonator short delay dengan tahanan tiap
detonator 1.8 ohm, 30 m bus wire ukuran 16 AWG dengan tahanan 4.02
ohm / 330 m, 40 m kawat penyambung ukuran 22 AWG tahanan 16.14
ohm / 330 m dan 150 m kawat utama ukuran 22 AWG tahanan 16.14 ohm
/ 330 m. Hitung tahanan total dan voltase!
3. Suatu rangkaian parallel-seri terdiri dari 4 seri, tiap seri mempunyai 10
detonator short delay dengan tahanan tiap detonator 1.8 ohm, kawat
penyambung ukuran 22 AWG 40 m tahanan 16.14 / 330 m, dan kawat
utama ukuran 22 AWG 150 m tahanan 16.14 ohm / 330 m. Hitunglah total
tahanan dan voltase!
4. Gambarkan dikertas millimeter blok dan dengan menggunakan software
coreldraw dengan skala (disesuaikan)!

3.2

Pembahasan
1. Diketahui :
Rangkaian seri 15 detonator
Tahanan tiap detonator 1.8 ohm
35 m kawat penyambung 22 AWG dengan tahanan 16.14 ohm/

330m
60 m kawat utama dengan tahanan 5.8ohm/100m

Ditanyakan :

Voltase?

Jawab :
Tahanan 15 detonator
Tahanan total kabel utama

= 15 x 1.8
=

= 27 ohm

5.8 ohm x ohm


=
100 m
60 m

= 3.48 ohm
Tahanan total kawat penyambung

16.14 ohm x ohm


=
330 m
35 m

= 1.71 ohm
Tahanan total

= 32.18ohm

Voltase

= I x Rtot
=1.5 x 32.18
= 48.27 volt

Sumber : Kegiatan Praktikum Peledakan, 2016

Gambar 3.1
Sketsa Sistem Rangkaian Seri

2. Diketahui :
Rangkaian pararel dengan 12 detonator
Tahanan tiap detonator 1.8 ohm
30m buswire tipe 16 AWG dengan tahanan 4.02 ohm/ 330m
40m kawat penyambung 22 AWG dengan tahanan 16.14 ohm/

330m16.14 ohm/ 330m


150m kawat utama dengan tahanan 16.14 ohm/ 330m

Ditanyakan :

10

Voltase?Jawab :

Tahanan 15 detonator

= 1.8/12

Buswire

= 0.15 ohm

4,02 ohm x ohm


=
330 m
30 m

= 0,365 ohm
Tahanan kawat penyambung

16.14 ohm x ohm


=
330 m
40 m

= 1.95 ohm
Tahanan kawat utama

16.14 ohm x ohm


=
330 m
15 0 m
= 7.33 ohm

Tahanan total

= 9.795 ohm

Arus yang digunakan

= 0.5 x 12 = 6 A

Voltase

= I x Rtot
= 6 x 9.795
= 58.77 volt

Sumber : Kegiatan Praktikum Peledakan, 2016

Gambar 3.2
Sketsa Sistem Rangkaian Paralel

11

3. Diketahui :
Suatu rangkaian pararel-seri, dengan rangkaian 4 seri, setiap 1

seri = 10 detonator
Tahanan tiap detonator 1.8 ohm
40m kawat penyambung 22 AWG dengan tahanan 16.14 ohm/

330m
150m kawat utama dengan tahanan 16.14 ohm/ 330m

Ditanyakan :
Voltase?
Jawab :
Tahanan detonator total

= 1.8/10 x 4

Tahanan kawat penyambung

= 0.72 ohm

16.14 ohm x ohm


=
330 m
40 m

= 1.956 ohm
Tahanan total kawat penyambung

16.14 ohm x ohm


=
330 m
150 m

= 7.335 ohm
Tahanan total

= 10.01 ohm

Arus yang digunakan

= 0.5 x 10 = 5A

Voltase

= 5A x 10.01 ohm
= 50.055 volt

Sumber : Kegiatan Praktikum Peledakan, 2016

Gambar 3.3

12

Sketsa Sistem Rangkaian Paralel Seri

BAB IV
ANALISA

Dari hasil perhitungan yang didapatkan, dapat dilihat bahwa arus yang
digunakan untuk sistem perangkaian seri dan parallel berbeda. Perbedaan arus
yang digunakan pada rangkaian pararel dan seri dikarenakan pada rangkaian
pararel arus yang masuk terbagi-bagi, sedangkan pada rangkaian seri arus yang
digunakan sama tanpa terbagi-bagi seperti pada sistem pararel. Detonator yang
dirangkai seri akan menghasilkan total tahanan yang jauh lebih besar daripada
perangkaian parallel. Dengan besarnya nilai tahanan pada rangkian seri, maka
akan membuat voltase yang dibutuhkan akan semakin besar pula. Oleh karena
itu, sistem perangkaian seri digunakan untuk peledakan yan menggunakan
detonator kurang dari 50 buah atau jumlah detonator yang sedikit, hal ini
dikarenakan kemampuan dari blasting machine yang jarang memiliki nilai voltase
diatas 100 volt. Selain itu, kelemahan pada sistem perangkaian seri memiliki
resiko terjadinya misfire yang lebih besar, apabila salah satu lubang gagal
meledak, maka lubang-lubang yang lainya tidak akan meledak juga. Apabila
terjadi kesalahan pada detonator pertama yang dialiri arus listrik, tentunya arus
tersebut tidak akan mengalir ke detonator lainnya sehingga tidak akan terjadi
ledakan. Namun, kelebihan dari sitem rangkaian seri ini akan menggunakan
lebih sedikit kabel dalam perangkaiannya. Sehingga, biaya yang dikeluarkan
untuk pembelian kabel akan lebih sedikit pula. Disamping itu, perangkaian sistem
seri lebih mudah dan praktis dalam pengerjaanya.
Beda halnya dengan sistem rangkaian parallel, tahanan yang akan lebih
kecil dibandingkan rangkaian seri. Jika menggunakan blasting machine dengan
kapasitas voltase yang sama, sistem perangkaian parallel dapat meledakan
detonator dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan rangkaian
seri. Selain itu, karena sistem perangkaian parallel memiliki percabangan pada
perangkaianya, maka jika terjadi kesalahan peledakan atau misfire pada satu
percabangan diakibatkan arus listrik tidak mengalir, hal tersebut tidak akan
berpengaruh pada percabangan lainnya, dan peledakan akan terus berjalan.
Artinya, resiko terjadinya misfire pada rangkaian pararel ini akan lebih kecil.

13

14

Namun, dengan perangkaian yang memiliki percabangan, maka sistem


pararel ini memerlukan kabel tambahan sebagai dudukan bagi connecting wire.
Artinya, biaya yang harus dikeluarkan akan lebih besar dibandingkan dengan
sistem rangkaian seri.
Selain itu ada sistem perangkaian gabungan antara seri dan pararel.
Pada kasus soal no 3 terdapat suatu rangkaian pararel-seri, yang terdiri dari 4
seri setiap satu seri ada 10 detonator dengan rangkaian pararel. Arus yang
digunakan pada perhitungan voltase ini adalah arus rangkaian seri yaitu 1.5 A,
sedangkan rangkaianya adalah pararel. Pemilihan arus yang digunakan
menggunakan arus rangkaian seri yaitu 1.5 A dikarenakan pada rangaian ini arus
yang mengalir tetap sama karena rangkaian yang digunakan sebagai
penghubung utamanya adalah rangkaian seri, meskipun setiap satu seri ada 10
rangkaian detonator menggunakan rangkaian pararel.

BAB V
KESIMPULAN

Pada proses kegiatan peledakan, sistem rangkaian peledakan menjadi


suatu faktor yang menentukan apakah peledakan berjalan lancar atau tidak.
Setiap rangkaian peledakan digunakan, mempunya sebab dan alasan tersendiri
yang disesuaikan dengan jumlah detonator, kondisi lapangan, serta energi yang
diperlukan untuk menyalakan detonator.
Sistem perangkaian seri digunakan untuk peledakan yan menggunakan
detonator kurang dari 50 buah atau jumlah detonator yang sedikit, hal ini
dikarenakan kemampuan dari blasting machine yang jarang memiliki nilai voltase
diatas 100 volt. Selain itu, kelemahan pada sistem perangkaian seri memiliki
resiko terjadinya misfire yang lebih besar, apabila salah satu lubang gagal
meledak, maka lubang-lubang yang lainya tidak akan meledak juga. Apabila
terjadi kesalahan pada detonator pertama yang dialiri arus listrik, tentunya arus
tersebut tidak akan mengalir ke detonator lainnya sehingga tidak akan terjadi
ledakan. Namun, kelebihan dari sitem rangkaian seri ini akan menggunakan
lebih sedikit kabel dalam perangkaiannya
Sedangkan sistem rangkaian parallel,

tahanan yang akan lebih kecil

dibandingkan rangkaian seri. Jika menggunakan blasting machine dengan


kapasitas voltase yang sama, sistem perangkaian parallel dapat meledakan
detonator dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan rangkaian
seri. Selain itu, karena sistem perangkaian parallel memiliki percabangan pada
perangkaianya, maka jika terjadi kesalahan peledakan atau misfire pada satu
percabangan diakibatkan arus listrik tidak mengalir, hal tersebut tidak akan
berpengaruh pada percabangan lainnya, dan peledakan akan terus berjalan.
Artinya, resiko terjadinya misfire pada rangkaian pararel ini akan lebih kecil.
Dalam suatu kegiatan peledakan, harus dilakukan pengujian terlebih
dahulu terhdap beberapa aspek.karena jika tidak dapat menghasilkan misfire.
Misfire pada sumbu api rentan terjadi akibat basahnya sumbu tersebut.
Sedangkan pada detonator listrik, harus dilakukan pengujian dengan alat-alat
tertentu untuk menjamin keberhasilan suatu rangkaian peledakan.

15

DAFTAR PUSTAKA

1.

Ahmad Muis, 2012, Rangkaian Peledakan,


http://kodokngesoot.
blogspot.co.id/2012/08/rangkaian-peledakan.html. Diakses pada tanggal 08
Desember 2016 pada pukul 21.55 WIB.

2.

Dirga Andri Putra, 2012, Teknik Peledakan, Anggarahttp://dirgamining.


blogspot.co.id/2012/10/teknik-peledakan.html. Diakses pada tanggal 08
Desember 2016 pada pukul 21.52 WIB.

3.

Fajrin Muhammad, 2013, Sistem Rangkaian Listrik, Teknik Peledakan,


Bandung. Diakses pada tanggal 08 Desember 2016 pada pukul 21.45 WIB.