Anda di halaman 1dari 27

Program Surveilans Puskesmas

Diposkan oleh Chairunnisa

Pengertian
Istilah Surveillance sebenarnya berasal dari bahasa perancis yang
berarti mengamati tentang sesuatu, Istilah ini awalnya dipakai dalam
bidang penyelidikan/intelligent untuk memata-matai orang yang
dicurugai, yang dapat membahayakan. Menurut The Centers for
Disease Control (CDC) Surveilans kesehatan masyarakat adalah The
on-going systematic Collection, analysis and interpretation of Health
data essential to the planning, implementation, and evaluation of
public health practice, closely integrated with the timely
dissemination of these data to those who need to know. The final
link of the surveillance chain is the application of these data to
prevention and control.
Surveilans merupakan salah satu kegiatan di bidang kesehatan yang
memberikan informasi awal mengenai kejadian suatu penyakit.
Surveilan bisa diibaratkan ujung tombak, mata-mata ataupun spion
untuk mengamati suatu fenomena. Dimana fenomena ini merupakan
titian garis merah yang akan membuka suatu misteri kejadian untuk
menentukan tindak lanjut yang akan diambil untuk memecahkan suatu
permasalahan. Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari
suveilans :
Menurut WHO dalam www.surveilan.org, surveilans adalah proses
pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data secara
sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada
unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Oleh karena
itu perlu di kembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang
lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta
pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya
kegiatan pengumpulan dan pengolahan data.

Sedangkan menurut Last (2001), surveilan epemiologi adalah :


Pengumpulan, pengolahan, analisis data kesehatan secara sistematis
dan terus menerus, serta diseminasi informasi tepat waktu kepada
pihak-pihak yang perlu mengetahui sehingga dapat diambil tindakan
yang tepat.
Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah
kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap
penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang
mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau
masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi
kepada penyelenggara program kesehatan. (www.surveilan.org)
Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur
penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara
unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumbersumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara
program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi
antar wilayah kabupaten/kota, Propinsi dan Pusat.
Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab, oleh
karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat
diselesaikan oleh sektor kesehatan sendiri, diperlukan tatalaksana
terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis
antar sektor dan antar program, sehingga perlu dikembangkan
subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari
Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular, Surveilans Epidemiologi
Penyakit Tidak Menular, Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan,
dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra.
Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular.
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit
menular dan faktor resiko untuk mendukung upaya pemberantasan
penyakit
menular.
Sesuai
Keputusan
Menteri
Kesehatan

(Kepmenkes)
No.
1479
Tahun
2003 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan
Penyakit Tidak Menular Terpadu, Jenis penyakit yang termasuk
didalam Surveilans Terpadu Penyakit di Puskesmas meliputi kolera,
diare, diare berdarah, tifus perut klinis, TBC paru BTA (+), tersangka
TBC paru, kusta PB, kusta MB,campak, difteri, batuk rejan, tetanus,
AFP, hepatitis klinis, malaria klinis, malaria vivax, malaria falsifarum,
malaria mix, demam berdarah dengue, demam dengue, pneumonia,
sifilis, gonorrhoe, frambusia, filariasis, dan influenza.
Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit
tidak menular dan faktor resiko untuk mendukung upaya
pemberantasan penyakit tidak menular. Surveilans epidemiologi
penyakit tidak menular antara lain :

Hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner

Diabetes Melitus

Neoplasma

Penyakit paru obstruksi kronis

Gangguan mental

Masalah kesehatan akibat kecelakaan

Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku.


Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit
dan faktor resiko untuk mendukung program penyehatan lingkungan.
Surveilans epidemiologi kesehatan lingkungan dan perilaku, meliputi:

Sarana air bersih

Tempat-tempat umum (TTU)

Pemukiman dan lingkungan perumahan

Limbah industri, rumah sakit

Vektor penyakit

Kesehatan dan keselamatan kerja

Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain, termasuk


infeksi nasokomial

Perilaku merokok

Pola makan diet

Aktivitas fisik

Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan.


Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah
kesehatan dan faktor resiko untuk mendukung program-program
kesehatan tertentu. Surveilan epidemiologi masalah kesehatan,
meliputi:

SKPG (sistem kewaspadaan pangan dan gizi)

Kekurangan Gizi mikro (kekurangan yodium, anemia gizi besi,


kekurangan vitamin A)

Kekurangan Gizi makro (Gizi kurang, Gizi buruk)

Gizi lebih

Kesehatan ibu dan anak (termasuk kesehatan reproduksi)

Usia lanjut

Penyalahgunaan napza

Penggunaan sediaan farmasi, obat, obat tradisional, bahan


kosmetik dan alat kesehatan

Kualitas makanan dan bahan makanan tambahan

Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra.


Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah
kesehatan dan faktor resiko untuk upaya mendukung program
kesehatan matra. Survelans epidemiologi masalah matra, meliputi:

Kesehatan haji

Kesehatan pelabuhan dan lintas batas perbatasan

Bencanan dan masalah sosial

Kesehatan matra laut dan udara

KLB penyakit dan keracunan

Manfaat Surveilans Puskesmas


Adapun manfaat Surveilans Epidemiologi adalah:

Deteksi Perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan


distribusinya

Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit

Identifikasi kelompok risiko tinggi menurut waktu, orang dan


tempat

Identifikasi factor risiko dan penyebab lainnya

Deteksi perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi

Dapat memonitoring kecenderungan penyakit endemis

Mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologinya

Memberikan informasi dan data dasar untuk proyeksi


kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa datang

Membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas dan


prioritas sasaran program pada tahap perencanaan

Kegiatan Pokok Surveilans Puskesmas

Pengumpulan data

Tabulasi dan analisis data

Penyebarluasan hasil dan informasi

Sumber data Surveilans Puskesmas


1. Laporan (catatan/registrasi)
o Kematian
o Kesakitan
o Laboratorium
o Kejadian Luar Biasa/Wabah
o Kasus individu
o Laporan penelitian (eksperimen atau observasi)
2. Survei khusus terhadap penyakit tertentu atau screening
3. Laporan vector binatang (reservoir)
4. Data lingkungan (sanitasi, geografi termasuk curah hujan, ketinggian,
dll)
5. Data penduduk (termasuk social budaya, komposisi umur, dll)
Peran dan Mekanisme Kerja Surveilans Terpadu Penyakit (STP) di
Puskesmas

Pengumpulan dan Pengolahan Data. Unit surveilans Puskesmas


mengumpulkan dan mengolah data STP Puskesmas harian
bersumber dari register rawat jalan & register rawat inap di
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, tidak termasuk data dari

unit pelayanan bukan puskesmas dan kader kesehatan.


Pengumpulan dan pengolahan data tersebut dimanfaatkan untuk
bahan analisis dan rekomendasi tindak lanjut serta distribusi
data.

Analisis serta Rekomendasi Tindak Lanjut. Unit surveilans


Puskesmas melaksanakan analisis bulanan terhadap penyakit
potensial KLB di daerahnya dalam bentuk tabel menurut
desa/kelurahan dan grafik kecenderungan penyakit mingguan,
kemudian menginformasikan hasilnya kepada Kepala Puskesmas,
sebagai pelaksanaan pemantauan wilayah setempat (PWS) atau
sistem kewaspadaan dini penyakit potensial KLB di Puskesmas.
Apabila ditemukan adanya kecenderungan peningkatan jumlah
penderita penyakit potensial KLB tertentu, maka Puskesmas
melakukan penyelidikan epidemiologi dan menginformasikan ke
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Unit surveilans Puskesmas
melaksanakan analisis tahunan perkembangan penyakit dan
menghubungkannya dengan faktor risiko, perubahan lingkungan,
serta perencanaan dan keberhasilan program. Puskesmas
memanfaatkan hasilnya sebagai bahan profil tahunan, bahan
perencanaan Puskesmas, informasi program dan sektor terkait
serta Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Umpan Balik. Unit surveilans Puskesmas mengirim umpan balik


bulanan absensi laporan dan permintaan perbaikan data ke
Puskesmas Pembantu di daerah kerjanya

Laporan. Setiap minggu, Puskesmas mengirim data PWS


penyakit potensial KLB ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
sebagaimana formulir PWS KLB. Setiap bulan, Puskesmas
mengirim data STP Puskesmas ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan jenis penyakit dan variabelnya
sebagaimana formulir STP.PUS. Pada data PWS penyakit
potensial KLB dan data STP Puskesmas ini tidak termasuk data
unit pelayanan kesehatan bukan puskesmas dan data kader
kesehatan. Setiap minggu, Unit Pelayanan bukan Puskesmas

mengirim data PWS penyakit potensial KLB ke Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota.

http://cae-publichealth.blogspot.co.id/2012/03/program-surveilanspuskesmas.html

Contoh Laporan Tentang Kegiatan Surveilans di Puskesmas


00:58

Muhammad Haris

BAB I
SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal yang sangat urgent dalam membentuk negara
yang hebat. Tak dapat dipungkiri bahwa, terciptanya generasi bangsa yang sehat
akan mendorong potensi yang lebih besar untuk menghasilkan sumber daya
manusia yang berkompeten dan berkualitas. Dengan keberadaan sumber daya
manusia yang berkualitas, maka secara otomatis pembangunan nasional dari
segi kesehatan akan terus mengalami peningkatan.
Peran tenaga kesehatan sebagai komponen penentu pelaksanaan program
haruslah memiliki kemampuan dalam melakukan perencanaan dan manajemen
dalam suatu tempat pelayanan kesehatan. Yang harus disadari adalah dalam
manajemen kesehatan diperlukan adanya subjek kesehatan yang mampu
menjalankan fungsi sebagai tenaga kesehatan yang mampu mengumpulkan,
mengolah, maupun menginterpretasi data dalam suatu struktur organisasi.
Disinilah letak peran vital para epidemiolog. Mereka dibekali dengan
kemampuan teknis dalam melakukan fungsi surveilans. Fungsi yang semakin
lama semakin dibutuhkan apalagi ketika kita menelitik fakta bahwa semakin
banyaknya penyebaran penyakit di Indonesia, baik penyakit menular maupun
tidak menular. Surveilans bukan hanya sekedar berfungsi untuk mengumpulkan
data, namun fungsinya kian kompleks karena mereka juga dituntut mampu
menganalisis determinan munculnya suatu penyakit serta melakukan upaya
pencegahan dan promotif di bidang kesehatan khususnya epidemiologi.
Kegiatan surveilans dalam rangka mendukung penyediaan informasi
epidemiologi untuk pengambilan keputusan yang meliputi Sistem Surveilans
Terpadu (SST), Surveilans Sentinel Puskesmas, Surveilans Acute Flaccid Paralysis,

Surveilans

Tetanus

Neonatorum,

Surveilans

Campak,

Surveilans

Infeksi

Nosokomial, Surveilans HIV/AID, Surveilans Dampak Krisis, Surveilans Kejadian


Luar Biasa (KLB) Penyakit dan Bencana, Surveilans Penyakit Tidak Menular serta
Surveilans Kesehatan Lingkungan untuk mendukung penyelenggaraan program
pencegahan dan pemberantasan penyakit, Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian
Luar Biasa (SKD-KLB) dan penelitian. Pada Peraturan Pemerintah RI. No.25 tahun
2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai daerah
otonom, BAB II Pasal 2 ayat 3.10.j menyatakan bahwa salah satu kewenangan
Pemerintah

di

Bidang

Kesehatan

adalah

surveilans

epidemiologi

serta

pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah penyakit menular dan


kejadian luar biasa, sementara pada BAB II Pasal 3 ayat 5.9.d menyatakan
bahwa salah satu kewenangan Propinsi di Bidang Kesehatan adalah surveilans
epidemiologi serta penanggulangan wabah penyakit dan kejadian luar biasa.
Oleh karenanya, diharapkan pada setiap tempat pelayanan kesehatan
seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, harusnya memiliki tenaga surveilans
sebagai pendukung efektivitas kinerja dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
B.

Pengertian Surveilans Epidemiologi


Surveilans pada awalnya hanya dipahami sebatas proses pengumpulan dan
pengolahan data. Namun semakin berkembangnya dunia kesehatan, mendorong
perluasan makna sekaligus peran dan fungsi para tenaga surveilans. Tuntutan
bahwa perlunya ada proses analisis data dan pengamatan terhadap faktor
determinan penyakit justru membuat tenaga surveilans semakin memiliki posisi
yang penting dalam pelayanan kesehatan. Sistem surveilans dalam epidemiologi
harus mampu melakukan kajian kritis terhadap insidensi dan prevalensi penyakit
sehingga mampu memberikan saran terkait upaya yang harus dilakukan dalam
menanggulangi penyakit tertentu.
Secara garis besar, surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara
sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah masalah
kesehatan

dan

kondisi

yang

mempengaruhi

terjadinya

peningkatan

dan

penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat


melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada
penyelenggara program kesehatan.
Kegiatan surveilans dilakukan secara terpadu dan terstruktur dalam sebuah
tempat pelayanan kesehatan. Tak jarang sangat mudah menemui kegiatan
surveilans, yang biasanya terdapat pada laboratorium, tempat diagnosa

penyakit, ataupun di tempat-tempat penting lainnya. Maka sudah sepatutnya


tenaga surveilans harus ditempatkan pada sektor-sektor penting di tempat
pelayanan kesehatan.

C. Visi, Misi, dan Tujuan Surveilans Epidemiologi


a. Visi
Manajemen kesehatan berbasis fakta yang cepat, tepat, dan akurat.
b.
-

Misi
Memperkuat sistem surveilans disetiap unit pelaksana program kesehatan.
Meningkatkan kemampuan analisis dan rekomendasi epidemiologi yang

berkualitas dan bermanfaat.


Menggalang dan meningkatkan kerjasama dan kemitraan unit surveilans dalam

pertukaran serta penyebaran informasi.


Memperkuat sumber daya manusia di bidang epidemiologi untuk manajer dan

c.

fungsional
Tujuan
Tersedianya data dan informasi epidemiologi sebagai dasar manajemen
kesehatan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, evaluasi program kesehatan dan peningkatan kewaspadaan serta
respon kejadian luar biasa yang cepat dan tepat secara nasional, propinsi dan
kabupaten/kota menuju Indoensia yang lebih sehat.

BAB II
LAPORAN KEGIATAN SURVEILANS DI PUSKESMAS
TAMALATE

A. Profil Petugas Surveilans


a. Nama
b. Alamat
c. No. Hp
d. Basic Keilmuan
e. Masuk Kerja di Puskesmas
f. Menjadi Tenaga Surveilans
B.

: Andi Asriani H, SKM


: Hertasning
: 085299118588
: Epidemiologi Unhas
: 2010
: Mulai bulan januari 2015 sekarang

Jumlah Petugas Surveilans


Jumlah petugas survelans di puskesmas tamalate berjumlah 1 orang. Dalam
menjalankan fungsingya petugas surveilans dibantu oleh tenaga kesling,
promkes, gizi, kesehatan kerja yang masing-masing berjumlah 1 orang. Ia
mengatakan idealnya harus ada 2-3 orang petugas surveilans.

Jumlah petugas surveilans yang turun dalam mengumpulkan data biasanya


tergantung dari tingkat temuan penyakit. Misalnya kasus diare maka yang turun
ke lapangan biasanya 2-3 orang, sedangkan misalnya pada kasus campak
biasanya yang turun cukup 1 orang.
C. Sasaran Daerah Petugas Surveilans
Petugas surveilans di puskesmas tamalate mencakup 2 kelurahan yaitu
Parangtambung dan Balang Baru yang terdiri dari 22 RW dengan 13 RW di
parangtambung dan 9 RW di Balang Baru.

D. Tugas dan Peran Petugas Surveilans


Petugas surveilans puskesmas tersebut mengutarakan bahwa tugas utama
mereka adalah mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data penyakit yang
terjadi di 2 kelurahan yaitu Parangtambung dan Balang Baru kemudian
menganalisis faktor penyebab penyakit tersebut.
E.

Siklus Pelaporan Surveilans


Siklus Pelaporan Surveilans yaitu mereka mengumpulkan data melalui buku
diagnosa pengunjung yang datang ke puskesmas untuk berobat, kemudian
dicatat di laporan harian, terus data tersebut dianalisa kenapa penyakit tersebut
dapat terjadi. Apabila penyakitnya tergolong berbahaya, maka akan diberikan
rujukan ke tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. Ia menyatakan ada
beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu lingkungan dan pola hidupnya.
Setelah itu petugas surveilans melaporkan hasil analisis data penyakit ke Dinkes
melalui sms.

F.

Kegiatan Petugas Surveilans


Ada beberapa kegiatan yang dilakukan petugas surveilans yakni :
a. Pengumpulan data
Dilakukan dengan turun langsung ke rumah warga dan dengan melihat buku
diagnosa dari pengunjung puskesmas setiap harinya.
b.

Penyuluhan
Penyuluhan dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan kejadian

penyakit maupun KLB.


c. Interpretasi data
Data penyakit dikumpulkan setiap hari kemudian dilakukan interpretasi terhadap
d.

temuan data.
Analisis penyebab
Analisis penyebab

dilakukan

untuk

mengetahui

faktor

risiko

apa

yang

menyebabkan banyaknya jumlah penyakit yang diderita masyarakat sekitar. Ia

mengambil contoh seperti diare, maka yang harus diperhatikan apakah


lingkungan, kebiasaan masyarakat, serta ketaatan dalam menjalankan anjuran
e.

petugas surveilans.
Pembuatan laporan harian, bulanan, dan tahunan
Pembuatan laporan dilakukan secara berjenjang

dan

berkesinambungan

sehingga data yang dihasilkan dapat terus diamati perkembangannya hingga 1


f.

tahun lamanya.
Pengawasan masyarakat
Pengawasan terhadap masyarakat yang dilakukan oleh petugas surveilans tidak
dilakukan secara ketat. Pengawasan hanya dilakukan dengan memperhatikan
rumah-rumah masyarakat apakah ada perubahan perilaku masyarakat atau

tidak.
g. Pelaporan hasil temuan penyakit
Pelaporan terkait temuan penyakit sangatlah dibutuhkan sebagai langkah awal
dalam menentukan upaya yang akan ditempuh dalam menyelesaikan persoalan
suatu penyakit di daerah tertentu. Ia mengatakan laporan akhir akan diberikan
kepada pihak Dinkes via sms secara rutin.
G. Proses Surveilans
a. Surveilans Aktif
Kegiatan surveilans aktif yang dilakukan di puskesmas ini adalah dengan cara
mengumpulkan data dengan cara mendatangi unit pelayanan kesehatan
(posyandu) yang disebar di RW, bisa juga dengan langsung ke rumah
masyarakat.
b. Surveilans Pasif
Kegiatan surveilans pasif yang dilakukan di puskesmas ini adalah dengan cara
mengumpulkan data dengan menerima data tersebut sumber buku diagnosa
pengunjung puskesmas, dan memperhatikan penyakit apa saja yang diderita
masyarakat.
H. Dana Surveilans
Dana surveilans yang diberikan hanya dalam bentuk dana transportasi tanpa
detail jumlah yang jelas.
I.

Evaluasi
Evaluasi kinerja petugas surveilans di puskesmas tersebut dilakukan dengan
rapat mingguan, bulanan, maupu tahunan, tanpa penentuan waktu terlebih
dahulu.

J.

Pelatihan
Pelatihan yang diberikan pada tenaga surveilans tergantung pada keputusan
Dinas Kesehatan Kota Makassar, maupun Dinas Kesehatan Provinsi Sul-sel, dan

biasanya melihat dari prevalensi dan insidensi kejadian penyakit. Jadi tidak
dilakukan pelatihan secara rutin.
K. Kendala
a. Operasional
b.
Efektivitas Kerja

: Kendaraan yang belum tersedia.


: Paradigma masyarakat yang masih sering acuh

terhadap arahan yang diberikan petugas surveilans.

L.

Struktur Puskesmas

Struktur puskesmas tercantum dalam gambar yang ada di bawah ini :


http://muh-haris.blogspot.co.id/2015/04/contoh-laporan-tentang-kegiatan.html
Surveilans diPuskesmas
Kegiatan Pokok Surveilans Epidemiologi
Ada 5 komponen utama dari kegiatan Surveilans
1. Pengumpulan/pencatatan kejadian (data) yang dapat dipercaya.
2. Pengelola data untuk dapat memberikan keterangan yang berarti.
3. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan.
4. Perencanaan penanggulangan khusus dan program pelaksanaannya.
5. Evaluasi/penilaian hasil kegiatan.
Pengumpulan Data: Pencatatan insidensi berdasarkan laporan rumah sakit,
puskesmas, dan sarana pelayanan kesehatan lain, laporan petugas surveilans di
lapangan, laporan masyarakat, dan petugas kesehatan lain; Survei khusus; dan
pencatatan jumlah populasi berisiko terhadap penyakit yang sedang diamati.
Tehnik pengumpulan data dapat dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan.
Tujuan pengumpulan data adalah menentukan kelompok high risk; Menentukan
jenis dan karakteristik (penyebabnya); Menentukan reservoir; Transmisi;
Pencatatan kejadian penyakit; dan KLB.
Pengelolaan Data: Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk data
mentah (row data) yang masih perlu disusun sedemikian rupa sehingga mudah
dianalisis. Data yang terkumpul dapat diolah dalam bentuk tabel, bentuk grafik
maupun bentuk peta atau bentuk lainnya. Kompilasi data tersebut harus dapat
memberikan keterangan yang berarti.

Analisis dan Interpretasi Data: Data yang telah disusun dan dikompilasi,
selanjutnya dianalisis dan dilakukan interpretasi untuk memberikan arti dan
memberikan kejelasan tentang situasi yang ada dalam masyarakat.
Distribusi Data: Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki
keterangan yang cukup jelas dan sudah disimpulkan dalam suatu kesimpulan,
selanjutnya dapat disebarluaskan kepada semua pihak yang berkepentingan,
agar informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya.
Evaluasi: Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat
digunakan untuk perencanaan, penanggulangan khusus serta program
pelaksanaannya, untuk kegiatan tindak lanjut (follow up), untuk melakukan
koreksi dan perbaikan-perbaikan program dan pelaksanaan program, serta untuk
kepentingan evaluasi maupun penilaian hasil kegiatan.
Tujuan dari Surveilans Epidemiologi

Untuk memantau kecenderungan penyakit

Untuk deteksi dan prediksi terjadinya KLB (Kejadian Luar Biasa) dari
sebuah penyakit

Memantau kemajuan suatu program pemberantasan

Menyediakan informasi untuk perencanaan pembangunan pelayanan


kesehatan

Memperkirakan besarnya suatu kesakitan atau kematian yang


berhubungan dengan masalah yang sedang diamati.

Bisa digunakan sebagai dasar penelitian untuk menentukan suatu


tindakan penanggulangan atau pencegahan penyakit

Mengidentifikasikan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian


suatu penyakit

Memungkinkan seseorang untuk melakukan penilaian terhadap tindakan


penanggulangan

Mengawali upaya untuk meningkatkan tindakan-tindakan praktek klinis


oleh petugas kesehatan yang terlibat dalam sistim surveilans.

Pembuatan policy dan kebijakan pemberantasan penyakit

Dalam menjalankan kegiatan surveilans epidemiologi, diperlukan


keterpaduan satu sama lain, untuk itu ditetapkan sebuah atribut / pedoman
dalam pelaksanaannya. Sebuah kegiatan surveilans epidemiologi hendaknya
mengikuti beberapa kriteria seperti sederhana, fleksibel, bisa diterima

(acceptability), sensitif (sesuai dengan laporan kasus, proporsi dari masalah


kesehatan), benar dan tepat waktu.
Manfaat Surveilans Puskesmas

Deteksi Perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya

Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit

Identifikasi kelompok risiko tinggi menurut waktu, orang dan tempat

Identifikasi factor risiko dan penyebab lainnya

Deteksi perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi

Dapat memonitoring kecenderungan penyakit endemis

Mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologinya

Memberikan informasi dan data dasar untuk proyeksi kebutuhan


pelayanan kesehatan

dimasa datang
Membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas dan prioritas
sasaran program pada

tahap perencanaan
Kegiatan Pokok Surveilans Puskesmas

Pengumpulan data

Tabulasi dan analisis data

Penyebarluasan hasil dan informasi

Sumber data Surveilans Puskesmas


1.

Laporan (catatan/registrasi)

Kematian

Kesakitan

Laboratorium

Kejadian Luar Biasa/Wabah

Kasus individu

Laporan penelitian (eksperimen atau observasi)

2.

Survei khusus terhadap penyakit tertentu atau screening

3.

Laporan vector binatang (reservoir)

4.
dll)

Data lingkungan (sanitasi, geografi termasuk curah hujan, ketinggian,

5.

Data penduduk (termasuk social budaya, komposisi umur, dll)

Peran dan Mekanisme Kerja Surveilans Terpadu Penyakit (STP) di


Puskesmas

Pengumpulan dan Pengolahan Data. Unit surveilans Puskesmas


mengumpulkan dan mengolah data STP Puskesmas harian bersumber dari
register rawat jalan & register rawat inap di Puskesmas dan Puskesmas
Pembantu, tidak termasuk data dari unit pelayanan bukan puskesmas dan kader
kesehatan. Pengumpulan dan pengolahan data tersebut dimanfaatkan untuk
bahan analisis dan rekomendasi tindak lanjut serta distribusi data.

Analisis serta Rekomendasi Tindak Lanjut. Unit surveilans


Puskesmas melaksanakan analisis bulanan terhadap penyakit potensial KLB di
daerahnya dalam bentuk tabel menurut desa/kelurahan dan grafik
kecenderungan penyakit mingguan, kemudian menginformasikan hasilnya
kepada Kepala Puskesmas, sebagai pelaksanaan pemantauan wilayah setempat
(PWS) atau sistem kewaspadaan dini penyakit potensial KLB di Puskesmas.
Apabila ditemukan adanya kecenderungan peningkatan jumlah penderita
penyakit potensial KLB tertentu, maka Puskesmas melakukan penyelidikan
epidemiologi dan menginformasikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Unit
surveilans Puskesmas melaksanakan analisis tahunan perkembangan penyakit
dan menghubungkannya dengan faktor risiko, perubahan lingkungan, serta
perencanaan dan keberhasilan program. Puskesmas memanfaatkan hasilnya
sebagai bahan profil tahunan, bahan perencanaan Puskesmas, informasi
program dan sektor terkait serta Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Umpan Balik. Unit surveilans Puskesmas mengirim umpan balik


bulanan absensi laporan dan permintaan perbaikan data ke Puskesmas
Pembantu di daerah kerjanya

Laporan. Setiap minggu, Puskesmas mengirim data PWS penyakit potensial KLB
ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagaimana formulir PWS KLB. Setiap

bulan, Puskesmas mengirim data STP Puskesmas ke Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota dengan jenis penyakit dan variabelnya sebagaimana formulir
STP.PUS. Pada data PWS penyakit potensial KLB dan data STP Puskesmas ini
tidak termasuk data unit pelayanan kesehatan bukan puskesmas dan data kader
kesehatan. Setiap minggu, Unit Pelayanan bukan Puskesmas mengirim data PWS
penyakit potensial KLB ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Tentang Surveilans Sentinel

1. Definisi
Sentinel Surveilans adalah kegiatan analisis data dengan cara
pengumpulan dan pengolahan data secara terus menerus yang dilakukan di
wilayah/ unit yang terbatas atau sempit. (Depkes RI, 2004)
Surveilans Sentinel melakukan aktivitas pemantauan terhadap suatu populasi
luas atau suatu populasi tertentu yang difokuskan pada indikator kesehatan
kunci, antara lain sebagai berikut:

1. Sentinel kejadian kesehatan, yakni berupa kejadian penyakit, kecacatan atau


kematian yang dapat menjadi tanda penting bahwa upaya preventif atau
pengobatan yang sedang dijalankan perlu melakukan perbaikan. (Rutsein)
2. Surveilans Sentinel, yakni suatu sistem yang dapat memperkirakan insiden
penyakit pada suatu negara yang tidak memiliki sistem surveilans yang baik
berbasis populasi tanpa melakukan survei yang mahal. (Woodhall)
Adapun pengertian Sentinel sendiri terbagi atas tiga macam, yaitu :
1. Sentinel Health Event (Sentinel kejadian kesehatan)
2. Sentinel Site (klinik atau pusat pelayanan lain yang memonitor kejadiankejadian kesehatan)
3. Sentinel Provider (kerjasama para penyelenggara pelayanan kesehatan
perorangan)
2. Sumber Data Surveilans Sentinel
- Register harian dan LBI Puskesmas termasuk pencatatan dari Puskesmas
Pembantu.
- Penyakit yang dicatat adalah kasus baru
- Pencatatan total laki-laki dan perempuan serta total kunjungan
- Register rawat jalan dan rawat inap Rumah sakit (RL2a dan RL2b)
- Pada register rawat jalan dan rawat inap RS dicatat total laki-laki dan
perempuan, total kunjungan, dan total kematian perjenis penyakit.

3. Analisis dan rekomendasi tindak lanjut


Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/kota dalam analisis dan rekomendasi tindak
lanjut adalah sebagai berikut :
- Melakukan analisis mingguan PWS penyakit potensial KLB dalam bentuk tabel,
dan grafik kecenderungan mingguan.
- Menginformasikan hasilnya pada Rumah sakit Sentinel dan non sentinel,
Puskesmas, program terkait di Dinas Kesehatan Kab/kota dan Dinas Kesehatan
Ka./kota yang berbatasan dengan PWS atau SKD KLB serta sektor terkait.
- Melakukan analisis tahunan perkembangan penyakit, dan menghubungkannya
dengan faktor risiko, perubahan lingkungan, perencanaan, dan keberhasilan
program.
- Memanfaatkan hasil analisis untuk profil tahunan, bahan perencanaan Dinkes
Kab./kota, serta informasi program untuk Dinas Kesehatan propinsi, Rumah sakit,
laboratorium, pusat penelitian, perguruan tinggi, Ditjen PPM & PL, serta sektor
terkait di daerahnya.
4. Surveilans Sentinel di Indonesia
a. Surveilans Sentinel PD3I, Diare dan Pneumonia
- kasus imunisasi
- penggunaan oralit, antibiotic
- kecenderungan pnemonia
b. Surveilans Sentinel HIV
- kecenderungan HIV
c. Sentinel dampak krisis
- pelayanan rumah sakit
- pelayanan puskesmas
- derajat kesehatan masyarakat
d. STP berbasis puskesmas sentinel
e. STP berbasis rumah sakit sentinel
f. Sentinel kusta
g. STP berbasis puskesmas
h. STP berbasis rumah sakit
5. Indikator Penyelenggaraan Surveilans Sentinel
- Input
Tenaga : Ada
Buku Juknis :Ada
Proses kelengkapan laporan :90%
Ketepatan laporan : 80%

- Output
Analisis data bulanan : Ada
Analisis data tahunan : Ada

Surveilans Epidemiologi Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

1. Pengertian
Dalam Surveilans Epidemiologis Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), ada
beberapa hal yang perlu diketahui, yaitu :
a.Surveilans Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah proses pengumpulan,
pengolahan, analisis dan interpretasi data, serta penyebarluasan informasi ke
penyelenggara program dan pihak / instansi terkait secara sistematis dan terus
menerus tentang situasi DBD dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya
peningkatan dan penularan penyakit tersebut agar dapat dilakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien.

b.

Kasus DBD adalah penderita DBD atau SSD

c.
Penderita DBD adalah penderita penyakit yang didiagnosis sebagai DBD
atau SSD
d.

Penegakan diagnosis DBD

Diagnosis klinis DBD adalah penderita dengan gejala demam tinggi


mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2 7 hari
disertai manifestasi perdarahan (sekurang kurangnya uji tourniquet positif).
Trombositopenia (jumlah trombosit 100.000/l), dan hemokonsentrasi
(peningkatan hematokrit 20 %)
Diagnosis Laboratoris adalah hasil pemeriksaan serologis pada tersangka
DBD menunjukan hasil positif pada pemeriksaan HI test atau peninggian (positif)
IgG saja atau IgM dan IgG pada pemeriksaan dengue rapid test.
e.
Penegakan diagnosis DD adalah gejala demam tinggi mendadak, kadang
bifasik (saddle back fever), nyeri kepala berat, nyeri belakang bola mata, nyeri
otot, tulang atau sendi, mual, muntah, dan timbulnya ruam. Hasil pemeriksaan
darah menunjukannleukopeni kadang dijumpai trombositopeni. Pada penderita
DD tidak dijumpai kebocoran plasma atau hasil pemeriksaan serologis pada
penderita yang diduga DD menunjukan peninggian (positif) IgM saja.

f.
Tersangka DBD adalah penderita demam tinggi mendadak, tanpa sebab
yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2 7 hari disertai tanda tanda

perdarahan sekurang kurangnya uji tourniquet (Rumple Leede) positif dan atau
jumlah trombosit 100.000 / l.
g. Laporan kewaspadaan dini DBD (KD/RS DBD) adalah laporan segera (paling
lambat dikirimkan dalam 24 jam setelah penegakkan diagnosis) tentang adanya
penderita (DD, DBD dan SSD) termasuk tersangka DBD agar segera dapat
dilakukan tindakan atau langkah langkah penanggulangan seperlunya.

h.
Laporan tersangka DBD dimaksudkan hanya untuk kegiatan proaktif
surveilans dan peningkatan kewaspadaan, tetapi bukan sebagai laporan kasus
atau penderita DBD.

i. Unit pelayanan kesehatan adalah rumah sakit (RS), Puskesmas, Puskesmas


Pembantu, balai pengobatan, poliklinik, dokter praktek bersama, dokter praktek
swasta, dan lain lain.

j. Puskesmas setempat ialah puskesmas dengan wilayah kerja di tempat


dimana penderita DBD berdomisili.

k.

Stratifikasi desa / kelurahan DBD :

1) Kelurahan / desa endemis adalah Kelurahan / desa yang dalam 3 tahun


terakhir, setiap tahun ada penderita DBD.
2) Kelurahan / desa sporadis adalah Kelurahan / desa yang dalam 3 tahun
terakhir terdapat penderita DBD tetapi tidak setiap tahun.
3) Kelurahan / desa potensial adalah Kelurahan / desa yang dalam 3 tahun
terakhir tidak pernah ada penderita DBD, tetapi penduduknya padat, mempunyai
hubungan transportasi yang ramai dengan wilayah yang lain dan presentase
rumah yang ditemukan jentik lebih atau sama dengan 5 %.
4) Kelurahan / desa bebas adalah kelurahan / desa yang tidak pernah ada
penderita DBD selama 3 tahun terakhir dan presentase rumah yang ditemukan
jentik kurang dari 5 %.

2.

Alur Pelaporan Penyakit Demam Berdarah Dengue

a.

Pelaporan Rutin

1)

Pelaporan dari unit pelayanan kesehatan (selain puskesmas)

Setiap unit pelayanan kesehatan yang menemukan tersangka atau


penderita DBD wajib segera melaporkannya ke dinas kesehatan kabupaten / kota
setempat selambat lambatnya dalam 24 jam dengan tembusan ke puskesmas
wilayah tempat tinggal penderita. Laporan tersangka DBD merupakan laporan
yang dipergunakan untuk tindakan kewaspadaan dan tindak lanjut
penanggulangannya juga merupakan laporan yang dipergunakan sebagai
laporan kasus yang diteruskan secara berjenjang dari puskesmas sampai pusat.
Formulir yang digunakan adalah formulir kewaspadaan dini RS (KD/RSDBD) (lampiran 1), dan formulir rekapitulasi penderita DBD per bulan (DPDBD/RS) (lampiran 2).

2)

Pelaporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten / kota

Menggunakan formulir KD/RS-DBD untuk pelaporan kasus DBD dalam 24


jam setelah diagnosis ditegakkan (lampiran 1)

Menggunakan formulir DP-DBD sebagai data dasar perorangan DBD yang


dilaporkan perbulan (lampiran 2)

Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan (lampiran 3)

4)

Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran

Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB (lampiran 5)

3)
Pelaporan dari dinas kesehatan kabupaten / kota ke dinas kesehatan
provinsi

Menggunakan formulir DP-DBD sebagai data dasar perorangan DBD yang


dilaporkan perbulan (lampiran 2)

Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan (lampiran 3)

4)

Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran

Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB (lampiran 5)

4)

Pelaporan dari dinas kesehatan provinsi ke Ditjen PP & PL

Menggunakan formulir DP-DBD sebagai data dasar perorangan DBD yang


dilaporkan perbulan (lampiran 2)

Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan (lampiran 3)

4)

Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran

Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB (lampiran 5)

b.

Pelaporan dalam situasi kejadian luar biasa

1)

Pelaporan oleh unit pelayanan kesehatan (selain puskesmas)

Menggunakan formulir W1 (lampiran 5)

Pelaporan dengan formulir DP-DBD ditingkatkan frekuensinya menjadi


mingguan atau harian (lampiran 2)

Pelaporan dengan formulir KD/RS-DBD tetap dilaksanakan (lampiran 1)

2)

Pelaporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten / kota

Menggunakan formulir W1 (lampiran 5)

Menggunakan formulir KD/RS-DBD untuk pelaporan kasus DBD dalam 24


jam setelah diagnosis ditegakkan (lampiran 1)

4)

Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran

3)
Pelaporan dari dinas kesehatan kabupaten / kota ke dinas kesehatan
provinsi

Menggunakan formulir W1 (lampiran 5)

4)

Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran

4)

Pelaporan dari dinas kesehatan provinsi ke Ditjen PP & PL

Menggunakan formulir W1 (lampiran 5)

4)

Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran

c.

Umpan balik pelaporan

Umpan balik pelaporan perlu dilaksanakan guna meningkatkan kualitas dan


memelihara kesinambungan pelaporan, kelengkapan dan ketepatan waktu
pelaporan serta analisis terhadap laporan. Frekuensi umpan balik oleh masing
masing tingkat administrasi dilaksanakan setiap tiga bulan, minimal dua kali
dalam setahun.

3.
Surveilans Epidemiologis Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) di Puskesmas

Surveilans Epidemiologis Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di


Puskesmas meliputi kegiatan pengumpulan dan pencatatan data tersangka DBD
dan penderita DD,DBD,SSD; pengolahan dan penyajian data penderita DBD
untuk pemantauan KLB; KD/RS-DBD untuk pelaporan tersangka DBD, penderita
DD, DBD, SSD dalam 24 jam setelah diagnosis ditegakkan; laporan KLB (W1);
laporan mingguan KLB (W2-DBD); laporan bulanan kasus/kematian DBD dan
program pemberantasan (K-DBD); data dasar perorangan penderita DD, DBD,
SSD (DP-DBD), penentuan stratifikasi (endemisitas) desa/kelurahan, distribusi
kasus DBD per RW/dusun, penentuan musim penularan dan kecenderungan DBD.
a.

Pengumpulan dan pencatatan data.

1)
Pengumpulan dan pencatatan dilakukan setiap hari, bila ada laporan
tersangka DBD dan penderita DD, DBD, SSD. Data tersangka DBD dan penderita
DD, DBD, SSD yang diterima puskesmas dapat berasal dari rumah sakit atau
dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas sendiri atau puskesmas lain (cross
notification) dan puskesmas pembantu, unit pelayanan kesehatan lain (balai
pengobatan, poliklinik, dokter praktek swasta, dan lain lain), dan hasil
penyelidikan epidemiologi (kasus tambahan jika sudah ada konfirmasi dari
rumah sakit / unit pelayanan kesehatan lainnya).
2)
Untuk pencatatan tersangka DBD dan penderita DD, DBD, SSD
menggunakan Buku catatan harian penderita DBD yang memuat catatan
(kolom) sekurang kurangnya seperti pada form DP-DBD ditambah catatan
(kolom) tersangka DBD.

b.

Pengolahan dan Penyajian data.

Data dalam Buku catatan harian penderita DBD diolah dan disajikan dalam
bentuk :
1)

Pemantauan situasi DD, DBD, SSD mingguan menurut desa/kelurahan

2)
Penyampaian laporan tersangka DBD dan penderita DD, DBD, SSD
selambat lambatnya dalam 24 jam setelah diagnosis ditegakkan menggunakan
formulir KD/RS-DBD.
3)
Laporan data dasar perorangan penderita DD, DBD, SSD menggunakan
formulir DP-DBD yang disampaikan perbulan.
4)

Laporan mingguan (W2-DBD)

Jumlahkan penderita DBD dan SSD setiap minggu menurut desa /


kelurahan
5)

Laporkan ke dinas kesehatan kabupaten / kota dengan formulir W2-DBD


Laporan bulanan

Jumlahkan penderita / kematian DB, DBD, SSD termasuk data beberapa


kegiatan pokok pemberantasan / penanggulangannya setiap bulan.
6)

Laporkan ke dinas kesehatan kabupaten / kota dengan formulir K-DBD.


Penentuan stratifikasi desa / kelurahan DBD

Cara menentukan stratifikasi (endemisitas) desa / kelurahan


Buatlah tabel desa/kelurahan dengan menjumlahkan penderita DBD dan
SSD dalam 3
Jumlah rumah/bangunan yang
(tiga) tahun
ditemukan jentik
House Index
X
terakhir.
(HI) =
100%
Jumlah rumah/bangunan yang
Tentuka
diperiksa
n stratifikasi
masing masing desa/kelurahan menurut criteria stratifikasi desa/kelurahan
-

Stratifikasi desa tersebut di sajikan dalam bentuk peta

7) Mengetahui distribusi penderita DBD per RW/dusun, dibuat pertahun dengan


cara menjumlahkan penderita DBD dan SSD per RW / dusun.
8)

Penentuan musim penularan DBD.

Jumlahkan penderita DBD dan SSD per bulan selama 5 tahun terakhir dan
disajikan dalam bentuk table dan selanjutnya di sajikan dalam bentuk grafik.
9)
Mengetahui kecenderungan situasi penyakit, untuk mengetahui apakah
situasi penyakit DBD diwilayah puskesmas tetap, naik atau turun.

4.
Surveilans Epidemiologis Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) di Dinas Kesehatan Kabupaten
a.

Pencatatan Data

1)

Sumber data

Laporan KD/RS-DBD dari RS (pemerintah atau swasta)

Laporan data dasar personal DBD dari puskesmas (DP-DBD)

Laporan rutin bulanan (K-DBD) dari puskesmas

Laporan W1 dan W2-DBD

Laporan hasil surveilans aktif oleh dinas kesehatan kabupaten / kota ke


unit pelayanan kesehatan
-

Cross Notification dari kabupaten / kota lain.

2)

Pencatatan data

Untuk pencatatan tersangka DBD dan penderita DD, DBD, SSD, misalnya
menggunakan Buku catatan penderita DBD yang memuat catatan (kolom)
sekurang kurangnya seperti pada form DP-DBD ditambah catatan (kolom)
tersangka DBD.
Perlu kecermatan terhadap kemungkinan pencatatan yang berulang untuk
pasien yang sama, misalnya antara tersangka DBD dan penderita DBD selama
proses perawatan dan antara penderita DBD yang dilaporkan RS dengan yang
dilaporkan oleh puskesmas, sehingga perlu penyesuaian data.

b.

Pengolahan dan Penyajian Data

Dari data yang ada pada buku catatan penderita DD, DBD dan SSD dapat
dilakukan penyajian data sebagai berikut :
-

Pemantauan situasi DD, DBD, SSD mingguan menurut kecamatan

Laporan data dasar perorangan penderita DD, DBD, SSD menggunakan


formulir DP-DBD yang disampaikan per bulan.
-

Laporan mingguan (W2-DBD)

Laporan bulanan, jumlahkan dan laporkan penderita / kematian DD, DBD,


SSD termasuk beberapakegiatan pokok pemberantasan / penanggulangannya
setiap bulan.
-

Penentuan stratifikasi kecamatan DBD

Mengetahui distribusi penderita DBD per desa / kelurahan

Penentuan musim penularan

Mengetahui kecenderungan situasi DBD, untuk mengetahui apakah situasi


penyakit DBD di wilayah kabupaten / kota tetap, naik atau turun.
-

Mengetahui jumlah penderita DD, DBD dan SSD per tahun

Mengetahui distribusi penderita dan kematian DBD menurut tahun,


kelompok umur dan jenis kelamin

Sumber :
Heru,Adi.2010.Epidemiologi Kebidanan.Fitramaya.Yogyakarta
Budiarto,Eko.2003.Pengantar Epidemiologi.EGC.Jakarta

http://kompilasiartikelakbidakper.blogspot.com/2009/02/surveilans-epidemiologisebagai-bentuk.html
http://www.blogkesmas.com/2013/01/konsep-dasar-surveilans-epidemiologi.html

http://sriayuagustyin.blogspot.co.id/2013/07/surveilans-dipuskesmas_9.html