Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH AGROINDUSTRI

Potensi dan Prospek Pengembangan Minyak akar wangi di Indonesia

Disusun oleh :
Atalya R. P

(J3M114064)

Lintang Larasati

(J3M114065)

Komariah

(J3M114065)

Lato Ivu Rahman

(J3M114084)

Iwanry P. Hasibuan

(J3M114097)

PROGRAM DIPLOMA
TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah agroindustri mengenai potensi
minyak akar wangi.
Makalah agroindustri ini dibuat agar mengetahui potensi-potensi yang
terdapat dalam minyak akar wangi.Kami juga berterimakasih kepada Dosen
Agroindustri yaitu Ibu Mulyorini Rahayuningsih yang telah memberikan tugas ini.
Kami sangat berharap bahwa makalah ini akan berguna dalam rangka menambah
wawasan dan pengetahuan kita mengenai potensi dari minyak akar wangi.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna sempurnanya makalah ini.Penulis berharap semoga karya tulis ini
bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Bogor, 15 November 2015


Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Minyak akar wangi adalah salah satu komoditas ekspor non migas Indonesia. Selama
sekitar lima puluh tahun sejak awal abad yang lalu Indonesia merupakan produsen /
eksportir akar wangi terbesar dunia dan saat ini berada pada posisi ketiga setelah
Haiti dan Bourbon. Minyak akar wangi (vetiver oil) dihasilkan melalui proses
penyulingan (destilasi) terhadap hasil budidaya tanaman akar wangi (Vetiveria
zizanioides). Minyak akar wangi juga merupakan minyak atsiri yang kental dan
memilki aroma sweet, earthy, dan woody. Minyak akar wangi banyak digunakan
dalam industry parfum sebagai fixative, komponen campuran dalam industry sabun
dan kosmetik, dugunakan dalam obat herbal sebagai carminative, stimulant, dan
diaphoretioc (Guenther E. 1987).
Hingga saat ini proses produksi minyak akar wangi Indonesia menghadapai
masalah yang sangat serius mengingat mutunya yang rendah (aroma dan
keseragaman), rendemen yang belum optimal (1 sampai 2%) dan waktu penyulingan
yang lama (12 sampai 14 jam). Rendahnya mtu dan rendemen minyak akar
wangidisebabkan oleh kondisi proses destilasi yang diterapkan tidak tepat, akan tetapi
terpaksa ditempuh mengingat mahalnya harga bahan bakar minyak sejak kenaikan
harga pada tahun 1998.
Faktor yang menjadi penyebab langsung dari rendahnya mutu minyak akar
wangi di Indonesia saat ini adalah kondisi proses penyulingan yang digunakan tidak
tepat. Dapat dikatakan sebagian pengusaha penyulingan minyak akar wangi
menggunakan tekanan uap di dalam ketel proses lebih besar. Perbaikan kondisi proses
penyulingan minyak atsiri dengan peningkatan tekanan uap dengan hasil yang cukup
memuaskan telah dilakukan pada komoditi minyak nilam dan minyak pala.
Penyulingan minyak pala dengan tekanan awal 0 bar selama 4 jam berikutnya dan
diitingkatkan lagi menjadi 1,5 bar sampai akhir penyulingan memberikan
rendemenlebih tinggi dibandingkan dengan penyulingan dengan menggunakan
tekanan konstan 0 bar selama 10 jam (sakiah, 2006). Sebagai upaya untuk
menghasilkan minyak akar wangi bermutu tinggi diperlukan inovasii teknologi
melalui modifikasi proses penyulingan metode uap langsung (steam distillation)
mengggunakan variasi peningkatan tekanan dan laju alir steam secara bertahap.

1.2 Tujuan
Mengetahui potensi-potensi yang terdapat pada minyak akar wangi.
1.3 Tinjauan Pustaka
a. Data potensi minyak akar wangi
Indonesia merupakan salah satu pemasok minyak akar wangi dunia dan
pernah memasok 40 % dari kebutuhan dunia pada tahun 1989 dengan volume
ekspor 245265 ton. Tahun 2008 nilai tersebut menurun hanya sebesar 60 ton/tahun
atau sama dengan 25 % pasokan minyak akar wangi dunia (BPS 2008).
b. Karakteristik Bahan
Akar wangi (Vetiveria zizanoides Stapt) termasuk famili Gramine atau
rumputrumputan.Memiliki bau yang sangat wangi, tumbuh merumpun lebat, akar
tinggal bercabang banyak berwarna merah tua. Tangkai daun tersembul dari akar
tinggal sampai mencapai 200 cm. Daun akar wangi berwarna kelabu, tampak kaku,
panjangnya mencapai 100 cm dan tidak mengandung minyak. Bunganya berwarna
hijau atau ungu.Akar wangi memiliki batang yang tumbuh tegak namun lunak.Warna
batangnya putih, dengan ruas-ruas di sekeliling batang. Daun akar wangi berbentuk
pita, dengan warna hijau itu terdapat pada tanaman minyak akar wangi jenis lain
(Puslitbang. 2015).
c. Mutu Minyak Akar Wangi
Persyaratan mutu minyak akar wangi (Indonesia SP-8-1985) :
Warna : Kuning pucat sampai coklat kemerahan
Berat jenis pada 25o C : 1,515 1,530
Bilangan ester : 5- 25
Bilangan ester setelah asetilasi : 100 150
Kelarutan dalam alkohol 95 % : 1:1 dan seterusnya, jernih
Alkohol tambahan : negatif
Minyak lemak : negatif
Minyak pelikan : negatif
Rekomendasi untuk bau : segar dan khas minyak akar wangi
Rekomendasi untuk putaran optik : 17o 46o

Persyaratan mutu minyak akar wangi menurut Essential Oil Association of USA
(EOA) :
Penampilan dan bau : cairan tidak gelap, berwarma coklat sampai coklat ke
merahan, dan bau aromatis
Berat jenis pada 25o C : 0,984 1,035
Putaran optik : 15o 45o
Indeks bias pada 25o C : 1,5200 1,5280
Kelarutan dalam alkohol 80% : larut dalam 1 3 volume, seterusnya terjadi
opalensi
d. Pohon Industri

BAB II
METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam mendapatkan data untuk memenuhi kebutuhan
informasi yang diperlukan dalam penyusunan Kajian Pengembangan Bisnis adalah
Melakukan studi pustaka dengan mempelajari beberapa literatur sebagai referensi
seperti skripsi, majalah,dan internet.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Klasifikasi Minyak Akar Wangi
Kerajaan
Divisi
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Plantae
: Magnoliophyta
: Liliopsida
: Poales
: Poaceae
: Vetiveria
: V.zizanoides

Komponen penyusun minyak akar wangi


Komponen yang menyusun minyak akar wangi yaitu : vetiveron, vetiverol, vetivenil
vetivenal, asam palmitat, asam benzoat, dan vetivena
Hasil-hasil Minyak Akar Wangi

Asal

Garut

Warna batang

Yellow Green 145 A

Bentuk habitus

Tegak Agak merumbai

Panjang daun

Panjang

Perakaran

Halus

Produktivitas akar basah (t/ha)10,37


Produktivitas akar kering (t/ha) 3,72
Produktivitas minyak (kg/ha)

66,38

Minyak atsiri (%)

1,6 + 0,52

Kadar vetiverol (%)

50,38 + 1,41

Rekomendasi daerah
pengembangan

Dataran tinggi

Saran penggunaan

Industri minyak atsiri

Asal

Garut

Warna batang

Yellow Green 145 B

Bentuk habitus

Merumbai

Panjang daun

Pendek

Perakaran

Kasar

Produktivitas akar basah (t/ha)10,61


Produktivitas akar kering (t/ha) 3,84
Produktivitas minyak (kg/ha)

60,46

Minyak atsiri (%)

1,5 + 0,63

Kadar vetiverol (%)

55,48 + 3,17

Rekomendasi daerah
pengembangan

Dataran tinggi

Saran penggunaan

Kerajinan anyaman dan


pengusir serangga

Asal

Jepang

Bobot terna basah (g/tan)

362,358 106,06

Bobot terna kering angin


(g/tan)

124,895 35,707

Produksi terna basah (t/ha/th) 10,57 + 3,09


Produksi terna kering angin
(t/ha/th)

3,64 + 1,04

Produksi minyak (kg/ha/th)

80,72 13,27

Kadar minyak (%)

2,77 0,42

Kadar total menthol (%)

64,26 8,79

Rekomendasi wilayah
pengembangan

Dataran rendah sampai


dataran medium(100 mdpl
700 mdpl)

Saran penggunaan

Industri permen, sabun, pasta


gigi, dan obat-obatan.

3.2 Pembahasan
Rumput akar wangi (Vetiveria zizanioides, syn. Andropogon zizanoides)
adalah sejenis rumput yang berasal dari India.Tumbuhan ini dapat tumbuh sepanjang
tahun, dan dikenal orang sejak lama sebagai sumber wangi-wangian.Tumbuhan ini
termasuk dalam famili poaceae, dan masi sekeluarga dengan serai atau padi.
Akarnya yang dikeringkan secara teradisional di kenal sebagai pengharum
lemari penyimpan pakain tau barang-barang penting, seperti batik dan keris. Aroma
wangi ini berasal dari minyak atsiri yang dihasilkan pada bagian akar. Tumbuhan ini
merupakan komoditas perdangan minor walaupun cukup luas penggunaan minyaknya
dalam industri wangi-wangian.
Tanaman akar wangi (Andropogon zizanioides Linn.) merupakan tanaman
obat yang merupakan jenis tanaman kasar tegak, berumbai abadi, tingginya 1 sampai
2 meter tinggi, mempunyai akar yang berserat berbau harum. Daunnya teratur dua
baris, panjangnya sekitar 1 meter dan lebar 1 cm atau kurang, dan melipat.
Daerah di pulau Jawa yang menghasilkan akar vetiver adalah daerah Garut
(Jawa Barat) dan daerah Wonosobo (Jawa Tengah).Tanaman tersebut diusahakan oleh
rakyat dengan luas tanah sekitar satu hektar atau lebih, dan ada yang mencapai 20
hektar setiap petani. Di samping itu, tanaman akar wangi diusahakan sebagai tanaman
sela di perkebunan.
Tanah yang cocok untuk pertumbuhan akar wangi adalah tanah yang berpasir,
atau tanah abu vulaknik. Pada tanah tersebut, akar dengan mudah dicabut tanpa ada
yang tertinggal. Penanamannya kurang baik di atas tanah yang padat, keras dan
berlempung karena akarnya sulit dicabut, dan menghasilkan akar dengan rendemen
minyak yang rendah.Tanah vulkanik muda terdapat pada lereng-lereng pegunungan,
dengan ketinggian sekitar 5000 kaki di atas permukaan laut.
Tanaman akar wangi Jawa (Andropogon muricatus Rozt) termasuk tanaman
akar wangi tidak berbunga. Menurut penelitian yang dilakukan di Botenzorg
(sekarang Bogor), vetiver tidak boleh ditanam di tempat yang teduh, karena akan
menyebabkan pengaruh yang kurang baik terhadap pertumbuhan sistim akar. Di pulau
Jawa, tanaman akar wangi sering ditanam secara tumpangsari dan jarang dilakukan
penanaman kembali (peremajaan) pada tempat yang sama. Satu hektar tanaman akar
wangi menghasilkan 1000 kg akar kering udara.Jumlah tersebut bervariasi, dan

tergantung dari jenis tanah dan kondisi lingkungan, kadan-kadang jenis cendawan
tertentu tumbuh dalam akar yang merusak tanaman dan menurunkan produksi akar.
Terdapat tekonologi budidaya yang dapat dilakukan untuk menanam minyak
akar wangi yaitu, Penyiapan Lahan dan Penanaman, lahan untuk pertanaman akar
wangi hendaknya bersih dari gulma. Jika sudah bersih, tanah dibuat lubang tanam
(20x20x20)cm. Jarak tanam tergantung kesuburan dan kemiringan tanah. Pada
kemiringan 15-30%, jarak tanam berkisar antara (6020)-(50100)cm. Dua minggu
sebelum tanam, lubnag diisi pupuk kandang/kompos sebanyak 2 kg/lubang.
Kedalaman tanam tidak lebih dari 4 cm, karena akan mengurangi persentse tumbuh
tanaman..Kemudian terdapat, pemeliharaan dan penyulaman, penyulaman dilakukan
paling lambat 2 minggu setelah tanam. Tanaman yang tidak tumbuh biasanya terlihat
pad umur 1-2 minggu setelah tanam, terutama bila ditanam berupa bibit sobekan dari
bonggol yang ditanam langsung atau anakan tanpa akar.
Khususnya di Indonesia, akar wangi yang baru dipanen, harus di cuci di
sungai atau dipancuran, kemudian dijemur langsung dibawah sinar matahari atau
diangin-anginkan pada tempat yang agak teduh. Bila ditujukan pada ekspor, maka
akar kering dipres dan diikat sehingga berbentuk bundel dan berat setiap bundel
sekitar 100 kg, kemudian dikemas dalam keranjang.Petani penanam menjual akar
wangi trsebut kepada pedagang perantara, untuk selanjutnya dijual ke pabrik
penyulingan atau eksportir yang berada di Jakarta dan Surabaya.
Pada musim kemarau, penyiraman diperlukan setiap hari selama 2 minggu,
sampai akar-akar baru tumbuh dan menempel ke tanah.Petani di Garut umumnya
tidak melakukan pemupukan pada tanamannya, kecuali jika ditumpangsarikan dengan
sayuran.Sama halnya dengan pemupukan, pemangkasan biasanya dilakukan pada
tanaman yang ditumpangsarikan dengan tanaman sayuran.Hama dan penyakit pada
akar wangi belum menjadi masalah yang penting, sehingga pengendaliannya jarang
dilakukan.
Penanganan pascapanen untuk minyak akar wangi, waktu pemanenan
tergantung pada musim. Bila areal yang sama akan ditanami kembali, maka
pemanenan harus dilakukan pada musim hujan, agar dapat tumbuh dengan baik. Akar
wangi yang diperoleh dari petani berupa akar kering panen yang masih mengandung
bonggol dan tanah yang menempel.Sebelum penyulingan, biasanya akar wangi
dikeringkan dan dibersihkan terlebih dahulu untuk meningkatkan rendemen dan mutu
minyak akar wangi yang dihasilkan.Bonggol dapat dipotong dengan alat pemotong
secara manual dengan golok atau dengan menggunakan mesin pemotong
(perajang).Akar tanpa bonggol dicuci dalam air (dalam air mengalir) sambil
dikibaskan/dikeprik sampai semua tanah yang menempel terlepas dari akar. Air yang
menempel pada akar juga dikibaskan atau ditiriskan hingga siap dijemur.Pengeringan
dilakukan di atas lantai penjemur yang diberi alas tikar, atau bambu anyam dengan

ketebalan 20-30 cm. Penjemuran dilakukan dari jam 09.00-14.00 dan dibolak-balik
sebanyak 2-3 kali selama kurang lebih 2 hari. Penjemuran telah selesai jika
menghasilkan akar wangi kering dengan kadar air 15%.Pengeringan akar
membutuhkan waktu lebih singkat sehingga kemungkinan minyak yang menguap
selama penjemuran lebih kecil.Jika tidak segera disuling, akar wangi dikemas dalam
karung plastik dan ditutup rapat, kemudian disimpan dengan cara ditumpuk dalam
gudang yang tidak tembus cahaya matahari, tidak lembab, suhu 20-30oC, dan
letaknya jauh dari ketel suling. Tujuannya adalah untuk mengurangi penguapan
minyak selama penyimpanan.Tujuan perajangan akar adalah untuk mengurangi sifat
kamba akar, mempermudah keluarnya minyak dari dalam akar melalui proses
hidrodifusi. Merajang dapat dilakukan dengan golok atau dengan mesin khusus
perajang akar, dengan panjang sekitar 10-15 cm. Akar setelah dirajang harus segera
dimasukkan ke dalam ketel suling untuk menghindari penguapan minyak dari bagian
akar yang dipotong.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Rumput akar wangi adalah sejenis rumput yang berasal dari India.Tumbuhan
ini dapat tumbuh sepanjang tahun, dan dikenal orang sejak lama sebagai sumber
wangi-wangian. Daerah diIndonesia yang menghasilkan akar wangi adalah daerah
Garut (Jawa Barat) dan daerah Wonosobo (Jawa Tengah). Di pulau Jawa, tanaman
akar wangi sering ditanam secara tumpangsari dan jarang dilakukan penanaman
kembali (peremajaan) pada tempat yang sama. Penanganan pascapanen untuk minyak
akar wangi, waktu pemanenan tergantung pada musim. Bila areal yang sama akan
ditanami kembali, maka pemanenan harus dilakukan pada musim hujan, agar dapat
tumbuh dengan baik.

4.2 Rekomendasi

Tanaman akar wangi digunakan sebagai pengusir serangga. Disebut akar


wangi karena bagian akar tanaman inilah yang mengeluarkan bau wangi, yang tidak
disukai serangga, namun disukai oleh konsumen, sehingga akarnya biasanya
dikeringkan dan diletakkan dilemari pakaian sebagai pengharum, sekaligus mencegah
keberadaan serangga perusak. Tanaman ini juga mengobati rematik, pegal linu,
encok, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Guenther, E. 1987.MinyakAtsiriJilid I. Terjemahan.SemangatKetaren.


UI-Press. Jakarta.

BPS. 2008. BuletinStatistikTanamanHortikultura. BPS. Jakarta.

Puslitbang. 2015. VarietasUnggulHasilInovasiPerkebunan :Akar Wangi

Tuti T danHari S.2008. PerbaikanDesain Proses PenyulinganAkar


Wangi.JurnalMinyakAtsiri Indonesia. 6 (9): 45-60

Lavania, U.C. 1988. Enhanced Productivity of the essential oil in the


artificial autopolyploid of vetiver (Vetiveriazizaniodes L.
Nash).Euphytica. 38: 271-276.