Anda di halaman 1dari 15

KONSEP MEROKOK

2.1 Konsep Merokok


2.1.1 Pengertian
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120
mm (bervariasi tergantung negara) diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun
tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan
dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya
(Jaya M, 2009 : 14).
Merokok adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia yang dilakukan
dengan membakar tembakau dan daun tar dan menghisap asap yang dihasilkannya
asap ini membawa bahaya dari sejumlah kandungan tembakau dan juga bahaya
dari pembakaran yang dihasilkan (Husaini, 2012 : 21).
Komasari dan Helmi (2010), mengartikan merokok sebagai aktivitas
subjek yang berhubungan dengan perilaku merokoknya, yang diukur melalui
intensitas merokok, waktu merokok, dan fungsi merokok dalam kehidupan seharihari.
Merokok pada dasarnya adalah kegiatan atau aktivitas membakar rokok
yang kemudiannya dihisap dan dihembuskan keluar sehingga orang yang
disekitarnya juga bisa terhisap asap rokok yang dihembuskannya (Kemala, 2008).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan kebiasaan merokok adalah
kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam menghisap atau menghirup
asap yang dihasilkan dari tembakau yang dibakar, dengan menggunakan pipa

ataupun langsung dari rokoknya, kemudian menghembuskan kembali asap


tersebut ke udara.
2.1.2

Jenis Rokok
Rokok umumnya terbagi menjadi tiga kelompok yaitu rokok putih, rokok

kretek dan cerutu. Bahan baku rokok adalah daun tembakau yang dirajang dan
dikeringkan. Cerutu biasanya berbentuk seperti kapal selam dengan ukuran yang
lebih besar dan lebih panjang berbanding rokok putih dan rokok kretek. Cerutu
terdiri dari daun tembakau yang dikeringkan saja tanpa dirajang, digulung
menjadi silinder besar lalu diberikan lem. Gulungan tembakau yang dikeringkan,
dirajang, dan dibungkus dengan kertas rokok dikenali sebagai rokok putih.
Apabila ditambah cengkeh atau bahan lainnya dalam rokok putih ia dikenali
sebagai rokok kretek (Khoirudin, 2012 : 32).
2.1.3 Zat-zat yang terkandung dalam rokok
1. Karbon monoksida
Gas karbon monoksida merupakan satu gas yang sangat berbahaya.
Karena persentasenya yang tinggi dalam aliran darah seorang perokok aktif
mampu menyedot persediaan gas oksigen yang sanga dibutuhkan setiap
individu untuk bernafas
2. Nikotin
Zat ini bersifat adiktif yang membuat seseorang menjadi ketagihan untuk
bisa selalu merokok. Zat ini sangat berbahaya. Bagi kesehatan tubuh manusia
maupun binatang. Selain itu. Nikotin adalah satu penyebab penyakit jantung
koroner dan kanker
3. Tar
Tar adalah sejenis cairan kental berwarna coklat tua dan hitam yang
merupakan subtansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada

10

paru-paru. Kadar tar dalam tembakau antara 0,5-35 mg/batang. Tar merupakan
suatu zat karsinogen yang dapat menimbulkan kanker pada jalan napas dan
paru-paru.
4. Kadmium
Cadmium adalah zat yang dapat meracuni jaringan tubuh terutama
ginjal.
5. Amoniak
Amoniak merupakan gas yang tidak berwarna terdiri dari nitrogen dan
hydrogen.
6. Insektisida
Zat ini sangat beracun dan umumnya banyak digunakan untuk
membunuh serangga
7. Polycyclic
Zat ini menyerang paru-paru dan menyebabkan kerusakan fatal bagi
perokok aktif
8. Carcinogens
Asap yang dihasilkan dari pembakaran tembakau dan kertas sigaret
mengadung beragam zat kimiawi yang sangat berbahaya dan mampu memicu
penyakit kanker bagi siapa pun yang menghirupnya (Nur Kholis, 2011 : 2429).

11

2.1.4

Tipe Perokok
Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa tipe perokok itu ada dua jenis, yaitu

perokok aktif (active smooker) dan perokok pasif (pasive smooker).


1. Perokok aktif ialah individu yang benar-benar memiliki kebiasaan merokok.
Merokok sudah menjadi bagian hidupnya sehingga rasanya tak enak kalau
sehari tak merokok. Oleh karena itu, ia akan berupaya untuk mendapatkannya.
2. Perokok pasif, yaitu individu yang tak memiliki kebiasaan merokok, namun
terpaksa harus mengisap asap rokok yang diembuskan orang lain yang
kebetulan di dekatnya. Dalam keseharian, mereka tak berniat dan tak
mempunyai kebiasaan merokok. Kalau tak merokok, rnereka tak merasakan
apa-apa dan tak terganggu aktivitasnya. Tipe perokok ini dapat ditemui pada
mereka yang duduk di halte, di dalam bus kota atau di tempat-tempat
pertemuan ketika di dekat mereka ada seseorang atau beberapa orang yang
sedang merokok. Jadi, perokok pasif dianggap sebagai korban dari perokok
aktif.
Baik perokok aktif maupun pasif akan dapat menanggung risiko terganggunya
kondisi kesehatan mereka (Agus Dariyo, 2011 : 39).
2.1.5

Tahap perilaku merokok sehingga menjadi perokok


Empat tahap perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu:

1. Tahap Preparatory, seorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan


mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaan.
Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.

12

2. Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang yang
akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.
3. Tahap Becoming a Smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok
sebanyak 4 batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi
perokok.
4. Tahap Maintenance of Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu
bagian dari cara pengaturan diri (self-regulating). Merokok dilakukan untuk
memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan (Komasari dan Helmi, 2010).
2.1.6

Klasifikasi perokok
Perokok pada garis besarnya dibagi menjadi dua yaitu perokok aktif dan

perokok pasif. Perokok aktif adalah orang yang langsung menghisap asap rokok
dari rokoknya, sedangkan perokok pasif adalah orang-orang yang tidak merokok,
namun ikut menghisap asap sampingan selain asap utama yang dihembuskan balik
oleh perokok. Dari beberapa pengamatan dilaporkan bahwa perokok pasif
menghisap lebih banyak bahan beracun daripada seorang perokok aktif
(Khoirudin, 2012 : 34).
Alamsyah (2009), mengklasifikasikan perokok atas tiga kategori, yaitu:
1. Bukan perokok (non-smoker), seseorang yang belum pernah mencoba
merokok sama sekali.
2. Perokok eksperimental (experimental smokers), seseorang yang telah mencoba
merokok tetapi tidak menjadikannya suatu kebiasaan.
3. Perokok tetap (regular smokers), seseorang yang teratur merokok baik dalam
hitungan mingguan atau dengan intensitas yang lebih tinggi.

13

14

Menurut Smet (1994) terdapat tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikan
menurut banyaknya rokok dihisap. Tiga tipe perokok tersebut adalah:
1. Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok sehari
2. Perokok sedang yang menghisap 5 - 14 batang rokok dalam sehari
3. Perokok ringan yang menghisap 1 - 4 batang rokok sehari
Sementara menurut Bustan (1997), perokok dikategorikan sebagai
berikut :
1. Perokok ringan adalah perokok yang menghisap 1 - 10 batang rokok sehari,
2. Perokok sedang, 11 - 20 batang sehari,
3. Perokok berat lebih dari 20 batang rokok sehari (Cahyono, 2012 : 109).
2.1.7 Derajat berat merokok
Derajat berat merokok diukur dengan Indeks Brinkman (IB),
yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok yang dihisap sehari
dikalikan lama merokok dalam tahun :
1. Ringan : 0 199
2. Sedang : 200- 599
3. Berat : > 600 (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2013 : 3).
2.1.8 Bahaya kebiasaan merokok
1. Budaya merokok dapat menghancurkan masa depan generasi muda suatu
bangsa. Sebab merokok juga ddapat mengganggu organ-organ vital tubuh
seperti saraf otak, saluran pernapasan, dan lain sebagainya. Selain itu, remaja
yang merokok akan cenderung melakukan perilaku kenakalan remaja, seperti
mengkonsumsi narkoba dan minum minuman keras.

15

2. Rokok dapat mengakibatkan kematian pada seseorang, sebab dapat


mengakibatkan gangguan kesehatan seperti kanker paru-paru, gangguan
kehamilan, impotensi, kanker pangkal tenggorokan dan sebaginya.
3. Asap rokok juga sangat berbahaya bagi kesehatan, baik bagi perokok aktif
atau pasif, sebab asap rokok banyak mengandung racun.
4. Trend merokok juga dapat merusak penampilan.sebab dapat mengakibatkan
gigi berwarna kuning, bau mulut, bau badan, gigi bernoda, mata sedikit
menguning, dan kulit kusam (Nur Kholis, 2011 : 35-36).
2.1.9 Penyakit-penyakit akibat merokok
Berikut ini daftar penyakit yang disebabkan oleh rokok, yaitu:
1. Kanker paru
Diketahui sekitar 90 persen kasus kanker paru diakibatkan oleh rokok. Hal ini
karena asap rokok akan masuk secara inhalasi ke dalam paru-paru. Zat dari
asap rokok ini akan merangsang sel di paru-paru menjadi tumbuh abnormal.
Diperkirakan 1 dari 10 perokok sedang dan 1 dari 5 perokok berat akan
meninggal akibat kanker paru.
2. Kanker kandung kemih
Kanker kandung kemih terjadi pada sekitar 40 persen perokok. Studi
menemukan kadar tinggi dari senyawa 2-naphthylamine dalam rokok menjadi
karsinogen yang mengarah pada kanker kandung kemih.
3. Kanker payudara
Perempuan yang merokok lebih berisiko mengembangkan kanker payudara.
Hasil studi menunjukkan perempuan yang mulai merokok pada usia 20 tahun
dan 5 tahun sebelum ia hamil pertama kali berisiko lebih besar terkena kanker
payudara.
4. Kanker serviks

16

Sekitar 30 persen kematian akibat kanker serviks disebabkan oleh merokok.


Hal ini karena perempuan yang merokok lebih rentan terkena infeksi oleh
virus menular seksual.
5. Kanker kerongkongan
Studi menemukan bahwa asap rokok merusak DNA dari sel-sel esofagus
sehingga menyebabkan kanker kerongkongan. Sekitar 80 persen kasus kanker
esofagus telah dikaitkan dengan merokok.
6. Kanker pencernaan
Meskipun asap rokok masuk ke dalam paru-paru, tapi ada beberapa asap yang
tertelan sehingga meningkatkan risiko kanker gastrointestinal (pencernaan).
7. Kanker ginjal
Ketika seseorang merokok, maka asap yang mengandung nikotin dan
tembakau akan masuk ke dalam tubuh. Nikotin bersama dengan bahan kimia
berbahaya lainnya seperti karbonmonoksida dan tar menyebabkan perubahan
denyut jantung, pernapasan sirkulasi dan tekanan darah. Karsinogen yang
disaring keluar dari tubuh melalui ginjal juga mengubah sel DNA dan merusak
sel-sel ginjal. Perubahan ini mempengaruhi fungsi ginjal dan memicu kanker.
8. Kanker mulut
Tembakau adalah penyebab utama kanker mulut. Diketahui perokok 6 kali
lebih besar mengalami kanker mulut dibandingkan dengan orang yang tidak
merokok, dan orang yang merokok tembakau tanpa asap berisiko 50 kali lipat
lebih besar.
9. Kanker tenggorokan
Asap rokok yang terhirup sebelum masuk ke paru-paru akan melewati
tenggorokan, karenanya kanker ini akan berkaitan dengan rokok.
10. Serangan jantung
Nikotin dalam asap rokok menyebabkan jantung bekerja lebih cepat dan
meningkatkan tekanan darah. Sedangkan karbon monoksida mengambil
oksigen dalam darah lebih banyak yang membuat jantung memompa darah

17

lebih banyak. Jika jantung bekerja terlalu keras ditambah tekanan darah tinggi,
maka bisa menyebabkan serangan jantung.
11. Penyakit jantung koroner (PJK)
Sebagian besar penyakit jantung koroner disebabkan oleh rokok dan akan
memburuk jika memiliki penyakit lain seperti diabetes melitus.
12. Aterosklerosis
Nikotin dalam asap rokok bisa mempercepat penyumbatan arteri yang bisa
disebabkan oleh penumpukan lemak. Hal ini akan menimbulkan terjadinya
jaringan parut dan penebalan arteri yang menyebabkan arterosklerosis.

18

13. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)


Kondisi ini menyebabkan aliran darah terhalangi sehingga membuat seseorang
sulit bernapas, dan sekitar 80 persen kasus PPOK disebabkan oleh rokok.
Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya emfisema (sesak napas akibat
kerusakan pada kantung udara atau alveoli) dan bronkitis kronis (batuk dengan
banyak lendir yang terjadi terus menerus selama 3 bulan).
14. Impotensi
Bagi laki-laki berusia 30-an dan 40-an tahun, maka merokok bisa
meningkatkan risiko disfungsi ereksi sekitar 50 persen. Hal ini karena
merokok bisa merusak pembuluh darah, nikotin mempersempit arteri sehingga
mengurangi aliran darah dan tekanan darah ke penis. Jika seseorang sudah
mengalami impotensi, maka bisa menjadi peringatan dini bahwa rokok sudah
merusak daerah lain di tubuh.
15. Gangguan medis lainnya
Beberapa gangguan medis juga bisa disebabkan oleh rokok seperti tekanan
darah tinggi (hipertensi), gangguan kesuburan, memperburuk asma dan radang
saluran napas, berisiko lebih tinggi mengalami degenerasi makula (hilangnya
penglihatan secara bertahap), katarak, menjadi lebih sering sakit-sakitan,
menimbulkan noda di gigi dam gusi, mengembangkan sariawan di usus serta
merusak penampilan (Vera Farah Bararah, 2011).
16. Rambut rontok. Rokok memperlemah sistem kekebalan, sehingga tubuh lebih
rentan terhadap penyakit seperti lupus erythematosus yang menyebabkan
rambut rontok, sariawan mulut, dan erupsi cutan (bintik merah) diwajah, kulit
kepala dan tangan.
17. Katarak. Merokok dipercaya dapat memperburuk kondisi mata. Katarak, yaitu
memutihnya lensa mata yang menghalangi masuknya cahaya yang dapat

19

menyebabkan kebuataan, 40% terjadi pada perokok. Rokok dapat


menyebabkan katarak dengan cara mengiritasi mata dengan terlepasnya zatzat kimia di paru-paru yang oleh aliran darah dibawa sampai kemata.
18. Tukak Lambung. Konsumsi tembakau menurunkan resistensi terhadap bakteri
yang menyebabkan tukak lambung, juga meminimalisasi kemampuan
lambung untuk menetralkan asam lambung setelah makan sehingga akan
menggerogoti dinding lambung. Tukak lambung pada perokok lebih sulit
disembuhkan.
19. Kanker kulit. Merokok tidak menyebabkan melonoma, tetapi merokok dapat
menyebabkan meningkatkan kemungkinan kematian akibat penyakit tersebut.
Ditengarai bahwa perokok berisiko menderita cutaneus squamus cell kanker,
sejenis kanker yang meninggalkan bercak pada kulit.
20. Hilangnya Pendengaran. Karena tembakau menyebabkan timbulnya endapan
pada dinding pembuluh darah sehingga menghambat laju aliran darah ke
dalam telinga bagian dalam. Perokok dapat kehilangan lebih awal daripada
orang yang tidak merokok atau lebih mudah kelihangan pendengaran karena
infeksi pendengaran.
21. Osteoporosis. Ada karbon monoksida, yaitu zat kimia beracun yang banyak
terdapat pada gas buang mobil dan asap rokok lebih mudah terikat dalam
darah dari oksigen, sehingga kemampuan udara untuk mengangkat oksigen
turun 15% pada perokok, akibatnya tulang orang yang merokok kehilangan
densitasnya menjadi lebih mudah patah/retak dan penyembuhannya 80% lebih
lama.
22. Karies. Rokok mempengaruhi keseimbangan kimiawi dalam mulut,
membentuk plak yang berlebihan, membuat gigi menjadi kuning, dan terjadi
karies.

20

23. Emphysema. Emphysema yaitu pelebaran dan rusaknya kantung udara oada
paru yang menurunkan kapasitas paru-paru untuk menghisap oksigen dan
melepaskan CO2 (Supratikno Aji, 2013).
2.1.10 Pengaruh asap rokok pada paru
Merokok merupakan faktor risiko utama terjadinya PPOK. Gangguan
respirasi dan penurunan faal paru paling sering terjadi pada perokok. Usia mulai
merokok, jumlah bungkus rokok pertahun, dan perokok aktif mempengaruhi
angka kematian. Perokok pasif dan merokok selama hamil juga merupakan faktor
risiko terjadinya PPOK. Di Indonesia, 70% kematian karena penyakit paru kronik
dan emfisema adalah akibat penggunaan tembakau. Lebih daripada setengah juta
penduduk Indonesia pada tahun 2001 menderita penyakit saluran pernafasan yang
disebabkan oleh penggunaan tembakau (Supari, 2008 : 4-16).
Secara umum telah diketahui bahwa merokok dapat menyebabkan
gangguan pernafasan. Terdapat beberapa alasan yang mendasari pernyataan ini.
Pertama, salah satu efek dari penggunaan nikotin akan menyebabkan konstriksi
bronkiolus terminal paru, yang meningkatkan resistensi aliran udara ke dalam dan
keluar paru. Kedua, efek iritasi asap rokok menyebabkan peningkatan sekresi
cairan ke dalam cabang-cabang bronkus serta pembengkakan lapisan epitel.
Ketiga, nikotin dapat melumpuhkan silia pada permukaan sel epitel pernapasan
yang secara normal terus bergerak untuk memindahkan kelebihan cairan dan
partikel asing dari saluran pernafasan. Akibatnya lebih banyak debris
berakumulasi dalam jalan napas dan kesukaran bernapas menjadi semakin
bertambah. Hasilnya, semua perokok baik berat maupun ringan akan merasakan
adanya tahanan pernafasan dan kualitas hidup berkurang. Pada beberapa perokok

21

berat yang tidak menderita emfisema, dapat terjadi bronkitis kronik, obstruksi
bronkiol terminalis dan destruksi dinding alveolus. Pada emfisema berat,
sebanyak empat perlima membran saluran pernafasan dapat rusak. Meskipun
hanya melakukan aktivitas ringan, gawat pernafasan bisa terjadi. Pada kebanyakan
pasien PPOK dengan gangguan pernafasan terjadi keterbatasan aktivitas harian,
bahkan ada yang tidak dapat melakukan satu kegiatan pun. Dipercayai merokok
adalah penyebab utamanya (Guyton, 2012 : 347).
Terdapat hubungan dose response antara rokok dan PPOK. Lebih banyak
batang rokok yang dihisap setiap hari dan lebih lama kebiasaan merokok tersebut
maka risiko penyakit yang ditimbulkan akan lebih besar. Hubungan dose response
tersebut dapat dilihat dan diukur dengan Index Brinkman (IB), yaitu jumlah
konsumsi batang rokok per hari dikalikan dengan jumlah lamanya merokok dalam
tahun (Supari, 2008). Derajat berat merokok ini dikatakan ringan apabila IB 0 200, sedang jika 200 - 600 dan berat apabila lebih daripada 600. Dalam pencatatan
riwayat merokok perlu diperhatikan jenis perokok sama ada perokok aktif,
perokok pasif atau bekas perokok (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2013).

22

DAFTAR PUSTAKA

Aji, Supratikno. 2013. Efek Negatif Merokok. http://ajitusupratikno.blogspot.co.id.


Diakses 12 Desember 2016.
Alamsyah, R.M. 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebiasaan Merokok
dan Hubungannya dengan Status Penyakit Periordontal Remaja. Medan :
Jurnal Penelitian USU.
Bararah, Vera Farah. 2011. 15 Penyakit Yang Disebabkan Oleh Rokok.
http://www.yudhe.com. Diakses 10 Desember 2016.
Cahyono, J.B.Suharjo B. 2012. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Yogyakarta :
Kanisius.
Dariyo, Agoes. 2011. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta : PT.
Grasindo.
Guyton, Arthur C. 2012. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta :
EGC.
Husaini, Aiman. 2012. Tobat Merokok, Rahasia & Cara Empatik Berhenti
Merokok. Depok : Pustaka Iman.
Jaya, M. 2009. Pembunuh Berbahaya Itu Bernama Rokok. Yogyakarta : Rizma.
Kemala. 2008. Perilaku Merokok Pada Remaja. Medan : Jurnal Psikologi USU.
Khoirudin. 2012. Kapasitas Vital Paru dan Tekanan Darah antara Perokok Aktif
dengan Perokok Pasif. Semarang : Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang.
Kholis, Nur. 2011. Kisah Inspirasi Perjuangan Berhenti Merokok. Yogyakarta :
Real Books.
Komalasari, D & Helmi, A.F. 2010. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok
Pada Remaja. Yogyakarta : Jurnal Psikologi UGM.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 2013. Penyakit Paru
Obstruktif Kronik (PPOK), Pedoman Praktis Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter
Paru Indonesia.
Supari S.F. 2008. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang
Pedoman Pengendalian Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Jakarta :
Kemenkes RI.