Anda di halaman 1dari 34

cover

kata pengantar

daftar isi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker endometrium merupakan salah satu kanker ginekologi dengan angka kejadian tertinggi,
terutama di negara-negara maju. Di seluruh dunia, setiap tahun, 142,000 perempuan terdiagnosis,
dan sebanyak 42.000 perempuan meninggal karena penyakit ini (Amant, 2005). Selama tahun
2005, diperkirakan di Amerika terdapat sekitar 40.880 kasus baru dengan sekitar 7.100 kematian
terjadi karena kanker endometrium. Pada tahun 2007, diperkirakan 1 dari 38 perempuan di
Amerika Serikat terdiagnosis kanker endometrium. Insiden kanker endometrium berdasarkan
data dari Office of National Statistic meningkat dari dua per 100.000 perempuan per tahun di
bawah usia 40 tahun sampai 40-50 per 100.000 perempuan per tahun pada dekade ke-6, ke-7 dan
ke-8. Angka kematian di Amerika Serikat meningkat dua kali antara tahun 1988 dan 1998. Di
regional Asia Tenggara di mana Indonesia termasuk di dalamnya insiden kanker endometrium
mencapai 4,8 persen dari 670.587 kasus kanker pada perempuan. Sementara kanker payudara
sebanyak 30,9%; serviks 19,8% dan ovarium 6,6%. (Anderton.C.2012)
Peningkatan angka kejadian karsinoma endometrium berkaitan dengan meningkatnya status
kesehatan sehingga usia harapan hidup kaum wanita semakin tinggi yang menyebabkan jumlah
wanita yang berusia lanjut semakin banyak yang diiringi dengan penggunaan terapi hormone
pengganti untuk mengatasi gejala-gejala menopausenya. Kanker endometrium umumnya
ditemukan pada penderita berusia 60 keatas. Selain itu,telah ditemukan bahwa peningkatan
kejadian obesitas juga memegang peranan penting dalam meningkatnya angka kejadian kanker
endomerium. Kanker endometrium lebih banyak menyerang para wanita yang berasal dari
golongan ekonomi menengah ke atas. Tingginya kemampuan ekonomi selanjutnya
mengakibatkan gizi yang mereka peroleh berlebihan sehingga berubah menjadi obesitas. Karena
prevalensi faktor resiko ini semakin meningkat, maka insiden kanker endometrium juga semakin
meningkat akhir-khir ini. Di masa depan, dengan makin tingginya angka penderita obesitas maka
angka kejadian kanker endometrium diperkirakan akan makin bertambah, yang sudah terbukti di
Amerika Serikat. (Schorge JO.2008)

Pasien dengan kanker endometrium biasanya mencari perhatian medis sejak awal akibat adanya
keluhan perdarahan vagina, dan biopsi endometrium akan mengarahkan diagnosis dengan cepat.
Hal ini menyebabkan meskipun kanker endometrium menempati urutan ke empat kanker yang
paling sering terjadi namun kanker endometrium tersebut menempati urutan ke delapan kanker
yang menyebabkan kematian pada perempuan. Terapi primer untuk kebanyakan penderita kanker
endometrium adalah histerektomi disertai dengan bilateral salpingo-oophorectomy (BSO) dan
limfadeneknomi. Tiga perempat dari pasien terdiagnosis saat menderita kanker endometrium
stadium satu yang dapat disembuhkan dengan operasi. Pasien dengan stadium yang lebih lanjut
biasanya memerlukan kombinasi pascaoperasi kemoterapi, radioterapi, atau keduannya.
(Wikipedia.org)
Dari pernyataan diatas penulis tertarik untuk menyusun asuhan kebidanan pada ibu dengan Ca
Endometrium.

A. Rumusan masalah
Bagaimanakah teori dan konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker
endometrium dan terapi menggunakan kemoterapi?
B. Tujuan penulisan
1. Tujuan Umum
a. Mampu menerapkan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan kanker endometrium dan
terapi menggunakan kemoterapi.
2. Tujuan Khusus
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Dapat menjelaskan definisi kanker endometrium


Dapat menyebutkan etiologi dan manifestasi klinis dari kanker endometrium
Dapat menjelaskan pencegahan kanker endometrium
Dapat menjelaskan patofisiologi kanker endometrium
Dapat meyebutkan penalaksanaan kanker endometrium
Dapat melakukan pengkajian terhadap pasien kanker endometrium
Dapat menyebutkan diagnosa keperawatan pada pasien kanker endometrium
Dapat melaksanakan intervensi keperawatan pada pasien kanker endometrium
Dapat melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan yang telah
dilakukan pada perawatan pasien kanker endometrium

BAB II
A.
B. Pengertian
Kanker endometrium adalah kanker yang terjadi pada organ endometrium atau pada
dinding rahim. Endometrium adalah organ rahim yang berbentuk seperti buah pir sebagai
tempat tertanam dan berkembangnya janin. kanker endometrium kadang-kadang disebut
kanker rahim, tetapi ada sel-sel lain dalam rahim yang bisa menjadi kanker seperti otot atau
sel miometrium. kanker endometrium sering terdeteksi pada tahap awal karena sering
menghasilkan pendarahan vagina di antara periode menstruasi atau setelah menopause.
(Whoellan 2009)

Definisi
Kanker Rahim (uterus) atau kanker jaringan endometrium adalah kanker yang sering terjadi di
endometrium, tempat dimana janin tumbuh, sering terjadi pada wanita usia 60-70 tahun. Carsinoma
ovarium adalah tumur ganas yang menyerang ovarium. (David Ovedoff, 2002, hal. 619).
Carsinoma endometrium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis yang beranekaragam,
dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, entodermal dan mesodermal) dengan sifat-sifat
histologis maupun bilogis yang beraneka ragam (Prof. Dr. Sarwono Prawiroharjo, 1994), hal. 400).
Carsinoma pada uteri merupakan kumpulan tumor dengan histigenesis yang beranekaragam.
Tumor ditemukan sebanyak 8,0 %dari tumor ganas ginekologik, dan 60 % terdapat pada usia 50 tahun.
30 % pada masa reproduksi, dan 10 % apda usia yang lebih muda 15 % dari semua carsinoma ovarium itu
ganas (Prof. Dr. Sarwono Prawiroharjo, 1987, hal. 333).

A. KONSEP TEORI KANKER ENDOMETRIUM


1. Definisi
Kanker endometrium merupakan tumor ganas primer yang berasal dari endometrium
atau miometrium. Sebagian besarnya merupakan adenokarsinoma (90%). Karsinoma
endometrium terutama adalah penyakit pada wanita pascamenopause, walaupun 25% kasus

terdapat pada wanita yang berusia kurang dari 50 tahun dan 5% kasus terdapat pada usia
dibawah 40 tahun. Umur rata-rata penderita kanker endometrium adalah 55-66 tahun.
Insidensi kanker endometrium pada wanita premenopause 5 kali lebih rendah daripada
wanita yang telah mengalami menopause, Insidensi ini meningkat sesuai bertambahnya
usia kemudian menetap setelah umur 70 tahun
(Anderton,2012)

Sebagian besar kanker endometrium adalah adenokarsinoma (75 %), yang berasal dari
lapisan tunggal dari sel-sel epitel yang melapisi endometrium dan membentuk kelenjar
endometrium. Ada banyak subtipe mikroskopis karsinomaendometrium, termasuk jenis
common endometrioid, di mana sel kanker menyerupai gambaran endometrium normal,
Papillary serous carcinoma yang agresif serta clear cell carcinoma.
Kanker endometrium adalah neoplasma yang mempunyai 2 tipe dengan patogenesis
berbeda pada masing-masing tipenya. Tipe pertama adalah estrogen dependen dan tipe
kedua estrogen independen. Perubahan genetik molekular yang terdapat pada karsinoma
endometrium tipe I dan tipe II berbeda dan mungkin dapat membantu dalam menjelaskan
sifat-sifat klinisnya.
a. Tipe I Estrogen dependen
Tipe I berhubungan dengan meningkatnya kadar estrogen dalam darah, yang umumnya
menyerang wanita pre dan perimenoupause. Pada anamnesis didapatkan riwayat
terpapar estrogen dan berasal dari atipikal endometrial hiperplasia. Tipe ini
berdiferensiasi baik, minimal invasif, sehingga mempunyai prognosis yang baik. Pada

beberapa kasus mungkin didapatkan diabetes, penyakit liver, hipertensi, obesitas,


infertilitas, dan gangguan menstruasi. Pada kenyataannya, lesi tipe I berpotensi dapat
diecegah melalui pengenalan risiko pada pasien, diagnosis lesi prekursor (hiperplasia
endometrium atipikal), dan pengobatan yang sesuai.
(Anderton,2012)
b. Tipe II Estrogen Independen
Tipe ini bisanya didapatkan pada wanita postmenopause, kurus, dan fertil atau wanita
dengan siklus hormonal yang normal. Tipe II lebih agresif dan mempunyai prognosis
lebih buruk daripada tipe I. Tipe II paling sering didapat pada wanita Afro-Amerika.
Yang termasuk kanker endometrium tipe II adalah :
1) high-grade endometrioid cancer,
2) uterine papillary serous carcinoma,
3) uterine clear cell carcinoma.
Terdapat 3 lokasi dimana kanker endometrium sering terjadi yaitu fundus, tuba dan
isthmus. Hal ini berkaitan dengan pengaruh hormonal pada lapisan uterine di lokasi
tersebut.
(Anderton,2012)
2. Epidemiologi
Kanker endometrium merupakan salah satu kanker ginekologi dengan angka kejadian
tertinggi, terutama di negara-negara maju. Di seluruh dunia, setiap tahun, 142,000
perempuan terdiagnosis, dan sebanyak 42.000 perempuan meninggal karena penyakit ini
(Amant, 2005). Selama tahun 2005, diperkirakan di Amerika terdapat sekitar 40.880 kasus
baru dengan sekitar 7.100 kematian terjadi karena kanker endometrium. Pada tahun 2007,
diperkirakan 1 dari 38 perempuan di Amerika Serikat terdiagnosis kanker endometrium.
AS dan Kanada memiliki rerata insidensi tertinggi di seluruh dunia, sementara negara
berkembang dan Jepang memiliki rerata insidensi 4-5 kali lebih rendah.
(Schorge JO, et al. 2008)
3. Etiologi
Penyebab pasti kanker endometrium tidak diketahui. Kebanyakan kasus kanker
endometrium dihubungkan dengan endometrium terpapar stimulasi estrogen secara kronis.

Salah satu fungsi estrogen yang normal adalah merangsang pembentukan lapisan epitel
pada rahim. Sejumlah besar estrogen yang disuntikkan pada hewan percobaan di
laboratorium menyebabkan hiperplasia endometrium dan kanker.
Adanya hubungan antara pajanan estrogen dengan kanker endometrium telah diketahui
selama lebih dari 50 tahun. Satu faktor risiko yang paling sering dan paling terbukti untuk
adenokarsinoma uterus adalah obesitas. Jaringan adiposa memiliki enzim aromatase yang
aktif. Androgen adrenal dengan cepat dikonversi menjadi estrogen di dalam jaringan
adiposa pada individu yang obes. Estrogen yang baru disintesis ini juga memiliki
bioavailabilitas yang sangat baik karena perubahan metabolik yang berhubungan dengan
obesitas menghambat produksi globulin pengikat hormon seks oleh hati. Individu yang
obes mungkin mengalami peningkatan drastis pada estrogen bioavailabel yang bersirkulasi
dan pajanan ini dapat menyebabkan penumbuhan hiperplastik pada endometrium.
Dasar pemikiran yang menganggap estrogen sebagai faktor etiologis berasal dari tiga
sumber:
a. aktivitas biologis estrogen dan progesteron pada endometrium
b. data pada hewan dan manusia mengenai pengaruh dietilstilbestrol (DES) terhadap
karsinogenesis
c. hubungan antara kanker endometrium dengan hiperplasia endometrium dalam kaitannya
dengan hubungan antara hiperplasia dengan pajanan estrogen yang tidak dihambat dan
bcrlangsung lama.
Bukti yang paling kuat untuk sensitivitas endometrium yang tinggi terhadap hormon
steroid ovarium adalah perubahan dramatis yang terjadi pada jaringan ini selama siklus
menstruasi. Pada siklus wanita normal: endometrium mengubah morfologinya setiap hari.
Pada fase folikular siklus: estrogen menstimulasi proliferasi epitel yang menutupi
kelenjar endometrium dan stroma di bawahnya. Estrogen menginduksi produksi reseptorya
sendiri dan reseptor progesteron selama fase ini. Progesteron yang disekresi dengan cepat
setelah ovulasi menahan aktivitas proliferasi pada kelenjar-kelenjar dan mengkonversi
epitel menjadi keadaan sekretorik. Stroma merespons progesteron dengan angiogenesis dan
maturasi fungsional. Jika kehamilan terjadi, perubahan-perubahan ini akan mempersiapkan
endometrium untuk implantasi. Dipercaya bahwa efek mitogenik yang poten dari estrogen
pada epitel kelenjar endometrium mempercepat tingkat mutasi spontan dari onkogen yang

merupakan predisposisi dan/atau gen penekan tumor. Hal ini mengarah pada suatu
transformasi neoplastik.
Data pada hewan dan manusia yang dikumpulkan setelah berkembangnya pajanan DES
menambah bukti biologis untuk potensi karsinogenik dari estrogen di saluran reproduksi.
DES adalah agonis estrogen nonsteroid yang merupakan salah salu estrogen sintetik
pertama yang dikembangkan. DES tersebut diberikan kepada lebih dari dua juta wanita
pada tahun 1940-1970 sebagai pengobatan terhadap ancaman keguguran spontan
(miscarriage).
Pada tikus. pajanan neonatal terhadap DES menghasilkan kanker endometrium pada
95% binatang saat berusia 18 bulan. Pada wanita, pajanan DES pranatal mengarah pada
kelainan struktur saluran reproduksi dan pada adenokarsinoma sel jemih vagina dan
serviks. Aktivitas karsinogenik pada DES tampaknya dimediasi sebagian oleh aktivasi
reseptor estrogen. Apakah pajanan DES pranatal akan menyebabkan kanker endometrium
pada manusia akan ditentukan setelah penelitian kohort pada wanita-wanita ini
berlangsung sampai menopause. Mekanisme genetik molekular mengenai bagaimana DES
menyebabkan karsinoma sel jernih mungkin sama dengan bagaimana estroge alami
menyebabkan kanker endometrium tipe I. Ketidakstabilan genetik telah ditunjukkan pada
kedua tumor ini.
4. Faktor Resiko
a. Faktor resiko reproduksi dan menstruasi.
Kebanyakan peneliti menyimpulkan bahwa nulipara mempunyai risiko 3x lebih besar
menderita kanker endometrium dibanding multipara. Hipotesis bahwa infertilitas
menjadi factor risiko kanker endometrium didukung penelitian-penelitian yang
menunjukkan resiko yang lebih tinggi untuk nulipara dibanding wanita yang tidak
pernah menikah.
(Schorge JO, et al. 2008)
Perubahan-perubahan biologis yang berhubungan dengan infertilitas dikaitkan dengan
risiko kanker endometrium adalah siklus anovulasi ( terpapar estrogen yang lama tanpa
progesteron yang cukup), kadar androstenedion serum yang tinggi (kelebihan
androstenedion dikonversi menjadi estron), tidak mengelupasnya lapisan endometrium
setiap bulan (sisa jaringan menjadi hiperplastik) dan efek dari kadar estrogen bebas

dalam serum yang rendah pada nulipara. Salah satu fungsi estrogen yang normal adalah
merangsang pembentukan lapisan epitel pada rahim. Sejumlah besar estrogen yang
disuntikkan kepada hewan percobaan di laboratorium menyebabkan hiperplasia
endometrium dan kanker.
(Schorge JO, et al. 2008)
b.

Usia menarche dini (<12 tahun)


berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker endometrium walaupun tidak selalu
konsisten. Benyak penelitian menunjukkan usia saat menopause mempunyai hubungan
langsung terhadap meningkatnya kanker ini. Sekitar 70% dari semua wanita yang
didiagnosis kanker endometrium adalah pakcamenopause. Wanita yang menopause
secara alami diatas 52 tahun 2,4 kali lebih beresiko jika dibandingkan sebelum usia 49
tahun.
(Schorge JO, et al. 2008)

c.

Hormon.
1) Hormone endogen.
Risiko terjadinya kanker endometrium pada wanita-wanita muda berhubungan
dengan kadar estrogen yang tinggi secara abnormal seperti polycystic ovarian disease
yang memproduksi estrogen.
2) Hormone eksogen pascamenopause.
Terapi sulih hormone estrogen menyebabkan risiko kanker endometrium meningkat
2 sampai 12 kali lipat. Peningkatan risiko ini terjadi setelah pemakaian 2-3 tahun.
Risiko relatif tinggi setelah pemakaian selama 10 tahun.

d. Kontrasepsi oral.
Peningkatan risiko secara bermakna terdapat pada pemakaian kontrasepsi oral yang
mengandung estrogen dosis tinggi dan rendah progestin. Sebaliknya pengguna
kontrasepsi oral kombinasi estrogen dan progestin dengan kadar progesterone tinggi
mempunyai efek protektif dan menurunkan risiko kanker endometrium setelah 1-5
tahun pemakaian.
e. Tamoksifen.
Beberapa penelitian mengindikasikan adanya peningkatan risiko kanker endometrium 23 kali lipat pada pasien kanker payudara yang diberi terapi tamoksifen. Tamoksifen
merupakan antiestrogen yang berkompetisi dengan estrogen untuk menduduki reseptor.

Di endometrium, tamoksifen malah bertindak sebagai faktor pertumbuhan yang


meningkatkan siklus pembelahan sel.
f. Obesitas.
Obesitas meningkatkan risiko terkena kanker endometrium. Kelebihan 13-22 kg BB
ideal akan meningkatkan risiko sampai 3 x lipat. Sedangkan kelebihan di atas 23 kg
akan meningkatkan risiko sampai 10x lipat. obesitas adalah penyebab paling umum dari
kelebihan produksi estrogen endogen. Jaringan adiposa berlebihan akan meningkatkan
aromatisasi androstenedion perifer menjadi estrone. Pada wanita premenopause, tingkat
estrone memicu umpan balik peningkatan abnormal pada aksis-hipofisis-ovarium
hipotalamus. Hasil klinisnya adalah oligo-atau anovulasi. Dengan tidak adanya ovulasi,
endometrium terkena stimulasi estrogen hampir terus menerus tanpa efek progestasional
berikutnya dan terjadi gangguan menstruasi.
g. Faktor diet.
Perbedaan pola demografi kanker endometrium diperkirakan oleh peran nutrisi,
terutama tingginya kandungan lemak hewani dalam diet. Konsumsi sereal, kacangkacangan, sayuran dan buah terutama yang tinggi lutein, menurunkan risiko kanker
yang memproteksi melalui fitoestrogen.
h. Kondisi medis.
Wanita premenopause dengan diabetes meningkatkan 2-3 x lebih besar berisiko terkena
kanker endometrium jika disertai diabetes. Tingginya kadar estrone dan lemak dalam
plasma wanita dengan diabetes menjadi penyebabnya. Hipertensi menjadi faktor risiko
pada wanita pancamenopause dengan obesitas.
i. Faktor genetik.
Seorang wanita dengan riwayat kanker kolon dan kanker payudara meningkatkan risiko
terjadinya kanker endometrium. Begitu juga dengan riwayat kanker endometrium dalam
keluarga.
j. Merokok.
Wanita perokok mempunyai resiko kali jika dibandingkan yang bukan perokok
(faktor proteksi) dan diperkirakan menopause lebih cepat 1-2 tahun.
k.

Ras.
Kanker endometrium sering ditemukan pada wanita kulit putih.

l. Faktor risiko lain.


Pendidikan dan status sosial ekonomi diatas rata-rata meningkatkan risiko terjadinya
kanker endometrium akibat konsumsi terapi pengganti estrogen dan rendahnya paritas.
5. Manifestasi Klinis
Keluhan utama yang dirasakan pasien kanker endometrium adalah perdarahan pasca
menopause bagi pasien yang telah menopause dan perdarahan intermenstruasi bagi pasien
yang belum menopause. Keluhan keputihan merupakan keluhan yang paling banyak
menyertai keluhan utama
Gejalanya bisa berupa:
a. Perdarahan rahim yang abnormal
b. Siklus menstruasi yang abnormal
c. Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami
menstruasi)
d. Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause
e. Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40
tahun)
f. Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul
g. Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause)
h. Nyeri atau kesulitan dalam berkemih
i. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual.
(Schorge JO, et al. 2008)
6. Klasifikasi Endometrium
Saat ini, stadium kanker endometrium ditetapkan berdasarkan surgical staging, menurut The
International Federation of Gynecology and Obstetrics(FIGO) 1988 :
Tingkat
0
I
IA
IB
IC
II

Kriteria
Karsinoma In Situ, lesiparaneoplastik seperti hyperplasia
adenomatosa endometrium atau hyperplasia endometrium atipik
Proses masih terbatas pada korpus uteri
Tumor terbatas pada endometrium (miometrium intak)
Invasi miometrium minimal, kurang dari separuh miometrium
Invasi miometrium lebih dari separuh tebal miometrium
Proses sudah meluas ke servik, tapi tidak meluas ke atas uterus

IIA
IIB
III
IIIA
IIIB
IIIC
IV
IVA
IVB

Keterlibatan kelenjar endoserviks


Sudah melibatkan stroma serviks
Proses sudah keluar uterus,tapi masih berada dalam panggul kecil
Invasi cairan serosa uterus, adneksa, atau hasil positif pada sitologi
cairan peritoneum
Invasi ke vagina
Metastasis ke kelenjar getah bening pelvis dan/atau paraaorta
Proses sudah keluar dari panggul kecil
Invasi ke kandung kemih dan/atau rectum
Metastasis jauh, termasuk ke organ visera atau KGB inguinal

Patofisiologi
Fibroblas Growth Factor Reseptor 2 (FGFR2) adalah reseptor tirosin kinase yang
berperan dalam proses biologikal. Mutasi pada FGFR telah dilaporkan pada 10-12% dari
kanker endometrium identik dengan penemuan yang didapatkan dari kelainan kraniofasial
kongenital. Inhibisi pada FGFR2 diharapkan akan menjadi terapi masadepan bagi penderita
kanker endometrium. Beberapa peneliti menduga terdapat dua peran FGFR2 dalam
mempengaruhi endometrium, yaitu dengan menghambat proliferasi sel endometrium pada
siklus menstruasi dan sebagai onkogen pada karsinoma endometrial. (Chiang W.2012)
Selain itu, kadar hormon sex estrogen yang tinggi juga dapat menyebabkan peningkatan
masa dan jumlah sel lapisan uterus jika tidak terdapat cukup progesteron, salah satu
hormon sex yang penting pada wanita. (Chiang W.2012)
Siklus menstrual normal, rata-rata berlangsung 28 hari, terdapat 2 fase. Pada 2 minggu
pertama, estrogen adalah hormon seks yang dominan. Estrogen menyebabkan lapisan sel
uterus bertumbuh dan bertambah jumlahnya. Pada 14 hari selanjutnya, hormon sex yang
dominan adalah progesteron. Progesteron menyebabkan kematangan sel sehingga lapisan
uterus dapat menerima dan menutrisi ovum yang sudah difertilisasi. (Chiang W.2012)
Apabila tidak terdapat cukup progesteron, sel pada lapisan uterus (epitelium) akan
bertumbuh dan bermultiplikasi semakin banyak. Hal ini disebut hiperplasia simpleks.
Apabila situasi ini terus berlanjut, akan terbentuk kelenjar baru pada lapisan uterus. Hal ini
disebut hiperplasia kompleks. Akhirnya, sel menjadi atipikal dan menunjukkan perilaku
yang menyimpang. (Koplajar M.2012)

Kadar estrogen yang tinggi tanpa diimbangi progesteron dapat ditemukan pada beberapa
kondisi seperti : anovulasi dalam jangka waktu yang lama, mengkonsumsi estrogen dalam
waktu lama, tumor penghasil estrogen, malfungsi tiroid, penyakit hepar. (Koplajar M.2012)

3)

4)

8. pemeriksaan diagnostik
1) Pelvic exam, dokter memeriksa daerah sepanjang kandungan apakah terdapat lesi, benjolan, atau
mengetahui daerah mana yang terasa sakit jika diraba. Untuk daerah kandungan bagian atas
dokter menggunakan alat speculum. Teknik pemeriksaan ini sebenarnya harus rutin dilakukan
oleh wanita untuk mengetahui kondisi vaginanya (Hidayat: 2009).
2) USG
Transvaginal untrasound, adalah suatu alat yang dimasukkan ke dalam rahim dan berfungsi
untuk mengetahui ketebalan dinding rahim. Ketebalan dinding yang terlihat abnormal akan dicek
lanjutan dengan pap smear atau biopsi. Pada pemeriksaan USG didapatkan tebal endometrium di
atas 5 mm pada usia perimenopause. Pemeriksaan USG dilakukan untuk memperkuat dugaan
adanya keganasan endometrium dimana terlihat adanya lesi hiperekoik di dalam kavum
uteri/endometrium yang inhomogen bertepi rata dan berbatas tegas dengan ukuran 6,69 x 4,76 x
5,67 cm. Pemeriksaan USG transvaginal diyakini banyak penelitian sebagai langkah awal
pemeriksaan kanker endometrium, sebelum pemeriksaan-pemeriksaan yang invasif seperti biopsi
endometrial, meskipun tingkat keakuratannnya yang lebih rendah, dimana angka false
reading dari strip endometrial cukup tinggi. Sebuah meta-analisis melaporkan tidak
terdeteksinya kanker endometrium sebanyak 4% pada penggunaan USG transvaginal saat
melakukan pemeriksaan pada kasus perdarahan postmenopause, dengan angka false reading
sebesar 50%. USG transvaginal dengan atau tanpa warna, digunakan sebagai tehnik skrining.
Terdapat hubungan yang sangat kuat dengan ketebalan endometrium dan kelainan pada
endometrium. Ketebalan rata-rata terukur 3,41,2 mm pada wanita dengan endometrium atrofi,
9,72,5 mm pada wanita dengan hiperplasia, dan 18,26,2mm pada wanita dengan kanker
endometrium. Pada studi yang melibatkan 1.168 wanita, pada 114 wanita yang menderita kanker
endometrium dan 112 wanita yang menderita hiperplasia, mempunyai 5 mm. Metode noninvasif lainnya adalah sitologi ketebalan endometrium endometrium namun akurasinya
sangat rendah (Hidayat: 2009).
Pap Smear
adalah metode skrining ginekologi, dicetuskan oleh Georgias Papanikolaou, untuk mendeteksi
kanker rahim yang disebabkan oleh human papilomavirus. Pengambilan sampel endometrium,
selanjutnya di periksa dengan mikroskop (PA). Cara untuk mendapatkan sampel adalah dengan
aspirasi sitologi dan biopsy hisap (suction biopsy) menggunakan suatu kanul khusus. Alat yang
digunakan adalah novak, serrated novak, kovorkian, explora (mylex), pipelly (uniman),
probet (Hidayat: 2009).
Dilatasi dan Kuretase (D&C)

5)

Caranya yaitu leher rahim dilebarkan dengan dilatator kemudian hiperplasianya dikuret. Hasil
kuret lalu di cek di lab Patologi. Memasukkan kamera (endoskopi) kedalam rahim lewat vagina.
Dilakukan juga pengambilan sampel untuk di cek di lab Patologi (Hidayat: 2009).
Biopsi endometrium
Endometrial biopsi, teknik pengambilan dan pemeriksaan sampel sel jaringan rahim yang
bertujuan menemukan kanker endometrial dan hanya dilakukan pada pasien yang beresiko tinggi
(Hidayat: 2009).
7. Penatalaksanaan
Radiasi atau histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis merupakan pilihan terapi
untuk adenokarsinoma endoserviks yang masih terlokalisasi, sedangkan staging surgical
yang meliputi histerektomi simple dan pengambilan contoh kelenjar getah bening paraaorta adalah penatalaksanaan umum adenokarsinoma endometrium
a. Pembedahan
Kebanyakan penderita akan menjalani histerektomi (pengangkatan rahim). Kedua tuba
falopii dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena sel-sel tumor
bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin
tertinggal kemungkinan akan terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium.
Jika ditemukan sel-sel kanker di dalam kelenjar getah bening di sekitar tumor, maka
kelenjar getah bening tersebut juga diangkat. Jika sel kanker telah ditemukan di dalam
kelenjar getah bening, maka kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian tubuh
lainnya. Jika sel kanker belum menyebar ke luar endometrium (lapisan rahim), maka
penderita tidak perlu menjalani pengobatan lainnya.
b. Radioterapi
Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.
Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang sel-sel kanker di daerah
yang disinari. Pada stadium I, II atau III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan.
Angka ketahanan hidup 5 tahun pada pasien kanker endometrium menurun 20-30%
dibanding dengan pasien dengan operasi dan penyinaran. Penyinaran bisa dilakukan
sebelum pembedahan (untuk memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan
(untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa). Stadium I dan II secara medis hanya

diberi terapi penyinaran. Pada pasien dengan risiko rendah (stadium IA grade 1 atau 2)
tidak memerlukan radiasi adjuvan pasca operasi. Radiasi adjuvan diberikan kepada :
1) Penderita stadium I, jika berusia diatas 60 tahun, grade III dan/atau invasi melebihi
setengah miometrium.
2) Penderita stadium IIA/IIB, grade I, II, III.
3) Penderita dengan stadium IIIA atau lebih diberi terapi tersendiri
(Prawirohardjo, 2006)
Ada 2 jenis terjapi penyinaran yang digunakan untuk mengobati kanker endometrium:
1) Radiasi eksternal : digunakan sebuah mesin radiasi yang besar untuk mengarahkan
sinar ke daerah tumor. Penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu
selama beberapa minggu dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit. Pada
radiasi eksternal tidak ada zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh.
2) Radiasi internal (AFL): digunakan sebuah selang kecil yang mengandung suatu zat
radioaktif, yang dimasukkan melalui vagina dan dibiarkan selama beberapa hari.
Selama menjalani radiasi internal, penderita dirawat di rumah sakit.
c. Kemoterapi
Adalah pemberian obat untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi merupakan terapi
sistemik yang menyebar keseluruh tubuh dan mencapai sel kanker yang telah menyebar
jauh atau metastase ke tempat lain.
Kemoterapi pada Kanker Endometrium
Adjuvan

AP (Doxorubicin 50-60 mg/m2,


Cisplatinum 60 mg/m2 dengan

Kemoradiasi

Cis-platinum 20-40 mg/m2 setiap


minggu (5-6 minggu)
Xelloda 500-1000mg/hari (oral)
Gemcitabine 300mg/m2
Paclitacel 60-80 mg/m2, setiap
minggu (5-6 minggu)
Docetaxel 20 mg/m2setiap minggu
(5-6 minggu)

Peran kemoterapi dalam pengobatan kanker endometrium sedang dalam penelitian


clinical trial fase II . Kemoterapi yang dipakai antara lain Daxorubicin, golongan
platinum, fluorouracil, siklofosfamid, ifosfamid, dan paclitaxel. Hasil penelitia
menunjukkan kanker endometrium pasca operasi yang diikuti kemoterapi kombinasi
memiliki angka survival lebih tinggi.Berikut ini rekomendasi pemberian kemoterapi:
Karakteristik penderita
Tumor stadium lanjut atau
rekuren
Tumor stadium lanjut atau
rekuren dengan reseptor
positif dan/atau grade 1 atau 2

Rekomendasi
Kemoterapi
(cisplatin/doxorubicin/paclitaxel)
Hormonal therapy (oral progestin atau
magestrol asetat)

Tumor stadium III-IVA

Operasi diikuti kemoterapi

d. Terapi Hormonal
1) Terapi primer
Salah satu keunikan kanker endometrium adalah merespon terapi hormon. Progestin
digunakan sebagai terapi primer wanita yang mempunyai resiko tinggi operasi.
Namun terapi ini jarang dilakukan. Ini bisa saja merupakan satu-satunya pilihan
terapi paliatif dalam beberapa kasus. Pada kasus yang jarang lainnya, pada
adenocarcinoma stadium 1 yang sulit di operasi, intrauterine progestional dapat
membantu. Namun terapi ini harus digunakan dengan hati-hati.
2) Terapi Hormonal Adjuvan
Single-agent progestin telah menunjukkan aktifitas pada penderita dengan stadium
lanjut. Tamoxifen memodulasi ekspresi dari progesteron reseptor dan meningkatkan
efikasi progestin. Tamoksifen dan progestin sebagai terapi adjuvan telah
menunjukkan tingkat respon yang tinggi. Secara umum, toksisitas sangat rendah,
kombinasi ini paling sering digunakan untuk penyakit rekuren.
3) Terapi Pengganti Estrogen
Karena dugaan kelebihan estrogen sebagai penyebab perkembangan kanker
endometrium, ada kekhawatiran bahwa penggunaan estrogen pada wanita dengan
kanker endometrium dapat meningkatkan resiko kekambuhan atau kematian. Namun,
efek seperti itu belum ada penelitiannya. Gog meneliti efek terapi pengganti estrogen

secara acak pada 1236 wanita yang telah menjalani operasi kanker stadium I dan II
dengan memberikan estrogen atau plasebo. Hasilnya terdapat kekambuhan yang
rendah. Karena beresiko dan keamanannya belum terbukti, pasien harus diberi
konseling hati-hati sebelum memulai rejimen estrogen pasca operasi.
(Schorge JO, et al. 2008)
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
B. Pengkajian
1. DATA SUBYEKTIF
a. Identitas
Nama Ibu
:
Nama Suami :
Umur
: Wanita yang menopause
Umur
:
secara alami diatas 52 tahun 2,4 kali lebih beresiko jika dibandingkan sebelum usia 49 tahun.
Suku /bangsa
:
Agama
:
Pendidikan
: Pendidikan dan status social ekonomi diatas rata-rata meningkatkan
risiko terjadinya kanker endometrium akibat konsumsi terapi pengganti estrogen dan rendahnya
paritas.
Pekerjaan
:
Pekerjaan
:
Alamat
:
Alamat
:
No Telp
:
No Telp
:
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang dirasakan pasien kanker endometrium adalah perdarahan pasca
menopause bagi pasien yang telah menopause dan perdarahan intermenstruasi bagi pasien yang
belum menopause. Keluhan keputihan merupakan keluhan yang paling banyak menyertai
keluhan utama.
c. Status Kesehatan
1. Riwayat Menstruasi
a. Menarche
: Usia menarch dini (<12 tahun) berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker
endometrium walaupun tidak selalu konsisten.
b. Siklus
: dapat mengalami perdarahan diluar siklus haid dan lebih panjang (banyak
atau bercak)
c. Jumlah
: lebih banyak
d. Lamanya
: dapat memanjang
e. Sifat Darah
: encer atau bergumpal
f. Teratur / tidak
: mengalami perubahan

g.
h.
i.
2.

3.

4.
a.
b.
5.

Dismenorhea
: dapat terjadi
Fluor albus
: berlebihan, berbau, purulen, bercampur darah
HPHT
:
Riwayat Penyakit yang lalu:
Menggali riwayat penyakit yang pernah dan sedang diderita oleh ibu khususnya penyakit
ginekologi,diabetes dan hipertensi.
Riwayat penyakit keluarga
Menggali riwayat penyakit keluarga, karena kanker endometrium berisiko pada wanita yang
memiliki riwayat genetik.
Riwayat Sosial Budaya
Status Emosional :
Menggali kondisi emosional ibu yang berkaitan dengan penyakitnya.
Tradisi :
Menggali kebiasaan-kebiasaan terhadap penyakitnya (merokok atau perokok pasif), sirkumsisi.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Masalah yang mungkin terjadi ketidaknyamanan yang berkaitan dengan perubahan pola
menstruasi (perdarahan banyak), nyeri, adanya keputihan, keluhan lain yang disebabkan oleh
penekanan tumor pada vesika urinaria, uretra, ureter, rectum, pembuluh darah dan limfe.

d. Pola Fungsi kesehatan Gordon


1. Pemeliharaan dan persepsi kesehatan.
Kanker endometrium dapat diakibatkan oleh higiene yang kurang baik pada daerah
kewanitaan. Kebiasaan menggunakan bahan pembersih vagina yang mengandung zat zat kimia
juga dapat mempengaruhi terjadinya kanker endometrium.
2. Pola istirahat dan tidur.
Pola istirahat dan tidur pasien dapat terganggu akibat dari nyeri akibat progresivitas dari
kanker endometrium gangguan pola tidur juga dapat terjadi akibat dari depresi yang dialami oleh
pasien.
3. Pola Nutrisi.
Perbedaan pola demografi kanker endometrium diperkirakan oleh peran nutrisi, terutama
tingginya kandungan lemak hewani dalam diet. Konsumsi sereal, kacang-kacangan, sayuran dan
buah terutama yang tinggi lutein, menurunkan risiko kanker yang memproteksi melalui
pitoestrogen.
4. Pola Eliminasi.
Pola eliminasi yang dialami oleh ibu. Apakah ibu mengalami obstipasi, retensi urine, poliuri
yang dapat disebabkan metastase sel kanker.
5. Pola kognitif perseptual

6.

7.

8.

9.

Pada pasien dengan kanker endometrium biasanya tidak terjadi gangguan pada pada panca indra
meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, pengecap.
Pola persepsi dan konsep diri
Pasien kadang merasa malu terhadap orang sekitar karena mempunyai penyakit kanker
endometrium, akibat dari persepsi yang salah dari masyarakat. Meskipun penyakit ini tidak
disebabkan dari berganti ganti pasangan.
Pola aktivitas dan latihan.
Kaji apakah penyakit serta kehamilan pasien mempengaruhi pola aktivitas dan latihan. Dengan
skor kemampuan perawatan diri (0= mandiri, 1= alat bantu, 2= dibantu orang lain, 3= dibantu
orang lain dan alat, 4= tergantung total).
Pasien dengan kanker endometrium wajar jika mengalami perasaan sedikit lemas akibat dari
asupan nutrisi yang berkurang akibat dari terapi yang dijalaninya, selain itu pasien juga akan
merasa sangat lemah terutama pada bagian ekstremitas bawah dan tidak dapat melakukan
aktivitasnya dengan baik akibat dari progresivitas kanker endometrium sehingga harus
beristirahat total.
Pola seksualitas dan reproduksi
Kaji apakah terdapat perubahan pola seksulitas dan reproduksi pasien selama pasien menderita
penyakit ini. Pada pola seksualitas pasien akan terganggu akibat dari rasa nyeri yang selalu
dirasakan pada saat melakukan hubungan seksual (dispareuni) serta adanya perdarahan setelah
berhubungan. Serta keluar cairan encer (keputihan) yang berbau busuk dari vagina. Kaji Riwayat
penggunana kontrasepsi Menggali jenis dan lama kontasepsi yang digunakan (pemakaian KB
suntik 3 bulan lebih dari 6 tahun, KB IUD).
Pola manajemen koping stress
Kaji bagaimana pasien mengatasi masalah-masalahnya. Bagaimana manajemen koping pasien.
Apakah pasien dapat menerima kondisinya setelah sakit.

10. Pola peran - hubungan


Bagaimana pola peran hubungan pasien dengan keluarga atau lingkungan sekitarnya. Apakah
penyakit ini dapat mempengaruhi pola peran dan hubungannya. Pasien dengan kanker
endometrium harus mendapatkan dukungan dari suami serta orang orang terdekatnya karena
itu akan mempengaruhi kondisi kesehatan pasien. Biasanya koping keluarga akan melemah
ketika dalam anggota keluarganya ada yang menderita penyakit kanker endometrium.
11. Pola keyakinan dan nilai
Kaji apakah penyakit pasien mempengaruhi pola keyakinan dan nilai yang diyakini.
2. DATA OBYEKTIF

1.

PEMERIKSAAN UMUM
a. KU
:
b. Tekanan darah
: Hipertensi menjadi factor risiko pada wanita pancamenopause dengan
obesitas.
c. Denyut nadi
:
d. Pernapasan
:
e. Suhu
:
f. Berat Badan
: Obesitas meningkatkan risiko terkena kanker endometrium. Kelebihan 1322 kg BB ideal akan meningkatkan risiko sampai 3 x lipat. Sedangkan kelebihan di atas 23 kg
akan meningkatkan risiko sampai 10x lipat.
1. PEMERIKSAAN FISIK
a. Muka
Pucat jika mengalami gangguan pola menstruasi
b. Dada
Pemeriksaan ginekologi sadaris (ada tidaknya penyebaran).
c. Abdomen
Pemeriksaan nyeri tekan. Adanya masa.
d. Genetalia
Terdapat sekret pervaginam (banyak, kekuning-kuningan, berbau amis atau busuk, dapat
bercampur darah, purulent), perdarahan.
Terdapat lesi, erosi, tukak kecil, tumor papiller, tumor eksofitik
e. Ekstremitas
Bisa terdapat oedema pada ekstremitas atas dan bawah
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Penanganan
1. Nyeri kronis berhubungan dengan nekrosis jaringan akibat kanker endometrium.
2. PK Anemia
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan akibat proses penyakit.
4. Disfungsi seksual berhubungan dengan koitus yang nyeri akibat nekrosis jaringan akibat kanker
endometrium.
Post Penanganan Operasi, Radiasi, Chemoterapi
1) Mual berhubungan dengan iritasi gastrointestinal akibat kemoterapi
2) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat kemoterapi
3) PK Anemia
4) Ketidakefektifan kinerja peran berhubungan dengan kehilangan fungsi peran sebagai wanita
akibat tindakan operatif pengangkatan rahim.

4.
1.
2.
3.

DIAGNOSA PRIORITAS
Nyeri kronis berhubungan dengan nekrosis jaringan akibat kanker endometrium.
Nausea berhubungan dengan iritasi gastrointestinal akibat kemoterapi
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat kemoterapi
No

Diagnosa

Tujuan

Nyeri
kronis
berhubungan
dengan
nekrosis jaringan akibat
kanker endometrium.

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x


jam diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol,
dengan kriteria hasil:
NOC Label >> Discomfort level
Pasien tidak mengeluh nyeri
Pasien tidak merintih kesakitan
Pasien tidak gelisah
Wajah pasien tampak relaks
NOC Label >> Pain level
Pasien tidak melaporkan adanya nyeri
Pasien tidak merintih ataupun menangis
Pasien tidak menunjukkan ekspresi wajah terhadap
nyeri
RR dalam batas normal (16-20 kali/menit)
Nadi dalam batas normal (60-100 kali/menit)
NOC Label >> Pain control
Pasien dapat mengenali onset nyeri
Pasien dapat mendeskripsikan faktor-faktor penyebab
nyeri
Pasien dapat mengontrol nyerinya dengan
menggunakan teknik manajemen nyeri non
farmakologis
Pasien menggunakan analgesik sesuai rekomendasi.
Pasien melaporkan nyeri terkontrol.

Nausea
berhubungan Setelah diberikan asuhan keperawatn selama x24
dengan
iritasi jam diharapkan nausea pasien teratasi, dengan criteria
gastrointestinal akibat hasil:

In

NIC Label >> Pain


Lakukan pengkaj
terhadap nyeri, mel
onset/durasi, freku
nyeri, serta faktor-f
nyeri.
Observasi tanda-t
isyarat dari ketidak
Gunakan strategi
dalam mengkaji
menyampaikan pen
pasien terhadap nye
Kaji tanda-tanda v
Kaji pengetahuan
terhadap nyeri pasie
Diskusikan bersa
faktor-faktor yang d
pasien.
Evaluasi bersama
mengenai riwayat
nyeri yang pernah d
Kontrol faktor l
menyebabkan ke
suhu ruangan, penc
Ajarkan prinsip-p
non farmakologi, (
distraksi, guided im
Kolaborasi dalam
sesuai indikasi.

NIC Label >> naus


Berikan
pasien
pengalaman nausea

kemoterapi

NOC Label >> Nausea and Vomiting Control


Pasien menyadari onset dari nausea secara teratur
Pasien dapat menghindari faktor penyebab nausea
dengan baik
Pasien melakukan tindakan pencegahan nausea
dengan teratur
Pasien dapat melaporkan mual, muntah, dan dapat
dapat mengontrol muntahnya dengan baik
NOC Label >> hidrasi
Status hidrasi: hidrasi kulit membran mukosa baik,
tidak ada rasa haus yang abnormal, urin output normal

Ajarkan pasien s
rasa mualnya
Lakukan pengkaj
termasuk frekuens
dan faktor yang me
Kurangi faktor per
atau meningkatkan
kelelahan, dan kura
Berikan istirahat
untuk mengurangi m
Berikan terapi farm
tidak dapat ditolera
Anjurkan pasien
makanan yang bisa
NIC Label >> Flu
Pencatatan intake o
Monitor status nutr
Monitor status
membran mukosa, v
Batasi minum 1
sesudah dan selama

Gangguan citra tubuh Setelah diberikan asuhan keperawatan 3x24 jam


berhubungan
dengan diharapkan:
perubahan penampilan NOC >> Adaptation to Physical Disability
akibat proses penyakit.
Mengungkapkan secara verbal untuk mengatur
ketidakmampuan (skala 5)
Mampu beradaptasi dari ketebatasan fungsi tubuh
(skala 5)
Mampu menggunakan strategi untuk mengurangi
stress yang berhubungan dengan ketidakmampuan
(skala 5)
Mampu menggunakan sumber komunitas yang ada
(skala 5)
NOC label >> Body Image
Mampu menjelaskan gambaran internal diri (skala 5)
Sikap mampu menyentuh bagian tubuh yang
berpengaruh pada citra tubuh (skala 5)

NIC label >>Active


Tentukan tujuan in
Tunjukan rasa terta
Fokus interkasi, se
Gunakan interaksi
kepada pasien.
NIC label >> Body
Jelaskan ekspektas
berdasarkan stase p
Gunakan pedoman
perubahan pada citr
NIC label >> Copin
Gunakan pendekat
Sediakan atmosfer
Bantu pasien untuk
yang didapat padan

Sikap mampu menggunakan strategi untuk


pengingkatan fungsi (skala 5)
Peningkatan hak perubahan tubuh untuk aging (skala
5)
NOC label >> Coping
Mampu mengidentifikasi pola koping yang efektif
(skala 5)
Mampu mengidentifikasi pola koping yang tidak
efektif (skala 5)
Melaporkan penurunan stress (skala 5)
Melaporkan penurunan perasaan negative (skala 5)
Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologi
(skala 5)

Kurangi stimulasi
mengakibatkan mis
Evaluasi kemampu
mengambil keputus
NIC label >> Emot
Diskusi dengan pa
emosinya.
Buat pernyataan su
Identifikasi kemara
Sediakan asisten d
keputusan.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A Pengkajian
1. Identitas
a. Pasien:
Nama
Umur
Alamat
Agama
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Pendidikan
Pekerjaan
No. RM
Diagnosa Medis
Tanggal Masuk
Tanggal Pengkajian
b. Penanggung Jawab
Nama
Alamat

: Ny. A
: 31 tahun
: BTN Cimandala Permai F No. 20 RT 03/RW 09 Kel. Cimandala
Kec. Sukaraja Kab. Bogor
: Islam
: Perempuan
: Menikah
: SMA
: Ibu Rumah Tangga
: 19-72-22
: Ca. Endometrium
: 02 Desember 2016
: 02 Desember 2016

: Tn. W
: BTN Cimandala Permai F No. 20 RT 03/RW 09 Kel. Cimandala
Kec. Sukaraja Kab. Bogor
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Hubungan dengan pasien
: Suami

2. Keluhan Utama
Pasien mengatakan sudah 2 minggu terakhir mengalami mual dan kurang nafsu makan
3. Protokol Kemo
Carboplatin dan Paclitaxel siklus ke -5
4. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien datang ke ruang rawat singkat untuk menjalani kemoterapi carboplatin dan
paclitaxel yang kelima. Pasien mengatakan mual dan nafsu makan berkurang setelah
menjalani pengobatan kemoterapi. Pasien juga mengatakan mudah kelelahan jika
beraktivatas terlalu sering
5. Riwayat Kesehatan Dahulu

Pasien mengatakan pada bulan Maret 2016 mengalami perdarahan per vaginam yang tak
kunjung berhenti selama 1 bulan, diikuti dengan keputihan selama 1 minggu. Kemudian
pasien berobat ke RS As Salam dan dokter mengatakan pasien mengalami perubahan
hormon. Namun, perdarahannya tidak kunjung berhenti kemudian pada bulan April pasien
menjalani pemeriksaan USG dan bulan Juni 2016 pasien menjalani tindakan kuretase di
RS FMC Bogor untuk melihat hasil PA. Setelah hasil pemeriksaan PA keluar, pasien
dirujuk ke RS Kanker Dharmais dan hasilnya dibacakan di RS Kanker Dharmais. Ternyata
didapatkan diagnosa bahwa pasien menderita Ca. Endometrium stadium III C. Kemudian
pada tanggal 04 Agustus 2016 pasien menjalani tindakan operasi pengangkatan rahim dan
kedua ovarium pasien di RS Kanker Dharmais.
Pasien tidak memiliki alergi terhadap obat dan makanan apapun. Pasien tidak memiliki
riwayat hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit lainnya.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga dan Genogram
Pasien mengatakan tidak ada di keluarganya yang memiliki penyakit kanker, hipertensi,
dan diabetes melitus.
Genogram

Keterangan :
: Laki- Laki
: Perempuan
: Meninggal
: Keturunan
: Menikah
: Tinggal serumah
1.

Riwayat Seksual/Reproduksi

Keluhan

: pasien mengatakan sejak bulan maret 2016 sering mengalami perdarahan


per vaginam setiap 2 minggu sekali diikuti dengan keputihan selama 1
minggu. Pasien mengatakan setiap 2 jam sekali mengganti pembalut
ukuran 35 cm. Dismenorhea jarang. Siklus menstruasi 14 hari

Usia Menarche

: 14 tahun
Usia pertama kali hubungan seksual: 23 tahun
Pernikahan ke
:1
Riwaya obstetric : G 0 P 0 A 0
HPHT
: Bulan Agustus 2016

7. Pemeriksaan Fisik
a. Tingkat Kesadaran : Composmentis
b. Tanda-Tanda Vital
1) TD
2)
3)

: 110/80 mmHg
S
: 36,4oc
BB
: 54 kg

4)
5)
6)

N
P
TB

: 94x/menit
: 20x/menit
: 155 cm

8. Pemeriksaan Sistematis
a. Kepala : Bentuk kepala simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada lesi, tidak ada massa,
penyebaran rambut tidak merata, rambut bersih, tekstur rambut halus.
1) Mata : Pupil isokor, konjungtiva tampak anemis, sklera tidak ikterik, bentuk kedua
mata simetris, pasien mampu membaca tulisan dari jarak jauh,
2) Hidung : Tidak ada pembengkakan, fungsi penciuman baik, tidak ada sekret, tidak
ada nyeri tekan pada sinus, tidak tampak pernapasan cuping hidung
3) Telinga : Kedua daun telinga simetris, tidak terdapat lesi dan serumen, fungsi
pendengaran baik
4) Mulut dan gigi : Bentuk bibir simetris, mukosa bibir lembab, terdapat lubang di gigi
geraham
5) Leher : Tidak terdapat kemerahan pada kulit, tidak terdapat edema, bentuk leher
simetris, pergerakan leher baik, tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid.
a. Thorak dan fungsi pernapasan
1) Inspeksi :
9. Bentuk dada simetris, tidak terdapat lesi, tidak terlihat pernapasan cuping hidung,
respirasi= 20x/menit, irama pernapasan teratur.
2) Palpasi :
10.Tidak terdapat nyeri tekan
11. 3) Auskultasi :
12.Bunyi vesikular
13. 4) Perkusi :
14.Terdengar bunyi suara hypersonor
b. Pemeriksaan Jantung
1) Inspeksi
15.Iktus kordis tidak terlihat
2) Palpasi :
16.Frekuensi nadi = 94x/menit, kecepatan cepat, irama nadi teratur.
3) Auskultasi :
17.Terdengar suara bunyi jantung I dan bunyi jantung II, tidak terdengar suara
tambahan
c. Pemeriksaan Abdomen
1) Inspeksi :
18.Bentuk perut datar, tidak terdapat lesi, tidak terlihat hiperpigmentasi kulit
abdomen, tidak ada asites
2) Auskultasi :
19.Bising usus 6x/ Menit
3) Palpasi :
20.Tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba hepar
4) Perkusi:
21.Terdengar suara dullnes

d. Kulit dan Ekstremitas


1) Kulit : Tidak terdapat hiperpigmentasi, tidak terdapat lesi, turgor kulit baik, kulit
tampak pucat, akral teraba dingin
2) Ekstremitas Atas :Pasien terpasang infus NaCl 0,9 % 500ml ditangan kanan, tidak
terdapat lesi, tidak terdapat edema
3) Ekstremitas Bawah: Tidak terdapat lesi, tidak terdapat edema
4) Kekuatan otot :
5
22.
5
23.
e. Genitalia : Pasien tidak5terpasang
Dower Catheter
5
6. Pola Kebiasaan Sehari-hari
24.

Pola Kebiasaan

26.

Pola makan dan 27.

minum

25.

Dirumah

Pasien mengatakan sudah 2 minggu terakhir

mengalami mual dan kurang nafsu makan, pasien hanya


makan 2 kali dalam sehari. Pasien mengatakan mengalami
penurunan berat badan. Pasien mengatakan porsi makan
hanya habis porsi. Pasien mengatakan biasa makan
dengan ikan, ayam, tahu, tempe, dan semua jenis sayursayuran yang dimasak. Pasien menyukai semua jenis buahbuahan.
28.
BB sebelum sakit= 60 kg
29.
BB saat sakit= 54 kg
30.
TB = 155 cm
31.
IMT = 22,5

32.

Pola Eliminasi

33.
34.

Pasien mengatakan BAB 1 kali sehari.


Pasien tidak mengalami kesulitan saat BAK.

Frekuensi BAK 5-6 x/hari.


35.

Pola

dan Istirahat

Aktivitas 36.

Pasien mengatakan menjadi mudah lelah setelah

beraktivitas seperti berjalan jauh, dan mengerjakan


pekerjaan rumah tangga. Pasien mengatakan aktivitas di
rumah hanya berbaring tiduran dan menonton TV saja
dikamar. Sebelum pasien sakit, kegiatan rutin pasien adalah
bekerja di luar rumah sebagai karyawan swasta. Pasien
tampak lemah. Saat di RS pasien tampak sering tidur saat

menjalani kemoterapi.
37.

Pola tidur

38.

Pasien mengatakan tidur malam dari jam 22.00

05.00, tidur siang selama 1 2 jam.


39.
40.
7. Data Sosial
41.
Pasien tampak kooperatif saat diajak berbicara dengan perawat, pasien tampak
berbaring ditempat tidur karena lemas, pasien tidak terlihat mengobrol dengan pasien
sekamarnya. Pasien diantar oleh suaminya setiap kali menjalani kemoterapi.
8. Data Psikologi
42.
Sebelum sakit pasien bekerja sebagai karyawan swasta. Pasien mengatakan dapat
menerima kondisi kesehatannya saat ini dan tetap semangat untuk menjalani pengobatan
penyakitnya. Pasien mengatakan ingin sekali dapat beraktivitas seperti berjalan jauh,
melakukan olahraga, dan bekerja kembali. Pasien mengatakan setelah menjalani
kemoterapi keluhan yang dialami yaitu mual, muntah, nafsu makan menurun, rambut
rontok dan kadang kadang sariawan. Pasien mengatakan tidak tahu bagaimana cara
mengatasi efek samping dari kemoterapi. Pasien tampak tenang dan selalu bertanya kepada
perawat.
9. Data Spritual
43.
Pasien beragama Islam, pasien mengatakan masih dapat melakukan ibadah solat
lima waktu.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55. Data Penunjang
a. Hasil laboratorium pada tanggal 29 November 2016
56.

Jenis Pemeriksaan

60.

HEMATOLOGI

57.
66.

Hasil

58.

Rujukan
72.

59.

Satuan
78.

RUTIN
61.
Hemoglobin
62.
Leukosit
63.
Trombosit
64.
Eritrosit
65.
Hematokrit

67.
68.
69.
70.
71.

9.7*
4.12*
199
4.69
31.0

73.
74.
75.
76.
77.

12.0 - 16.0
5.0 - 10.0
150 - 440
4.00 - 5.00
37 43

79.

g/dL

103 /

80.

L
3

10

81.

L
106 /

82.

L
83.
84.
85.
86.
87.
88.

KIMIA KLINIK
FUNGSI GINJAL
Ureum Darah
Kreatinin Darah
eGFR

89.
90.
91.
18
92.
0.68
93.
107.98

94.
95.
96.
15-40
97.
< 0.95
98.
>60

99.
100.
101.
mg/dL
102.
mg/dL
103.
ml/min/1
.73m2

104.
b. Hasil pemeriksaan tanggal 19 Juli 2016 di RS Kanker Dharmais
105.
Keterangan Klinik : Ca. Endometrium
106.
Kesimpulan :
107.
Histologi sesuai dengan Endometrioid carcinoma grade 3 dengan
squamous differentiation yang dapat berasal dari corpus uteri
108.
109.
Program Terapi (Premedikasi)
110.
Ranitidine 50 mg
iv bolus
111.
Ondansentrone 8 mg
iv bolus
112.
Diphenhydramine 10 mg
iv bolus
113.
Dexamethasone 10 mg
iv bolus
114.
115.
116.
117.
118.
119.

A. Analisa Data
120.

121.Data Senjang

122.Kemungkinan

123.Masalah

Penyebab

124. 125.Data subjektif :


126.- Pasien mengatakan
1
sudah 2 minggu terakhir

127.

133.

Ca Endometrium
134.

135.

Carboplatin dan Paclitaxel

kurang nafsu makan

siklus ke -5

makan hanya habis porsi.


128. - Pasien mengatakan berat

136.
Efek kemoterapi
138.

137.

139.Mual

badan sebelum sakit yaitu 60 kg

140.

129.Data Objektif:
130.
131.

setelah beraktivitas seperti

menurun
154.

Kemoterapi

Carboplatin dan Paclitaxel


siklus ke -5

mengerjakan pekerjaan

hanya bisa berbaring

Ca Endometrium
155.

156.

berjalan jauh, dan


rumah tangga
146.- pasien mengatakan

141.Nafsu makan

- BB saat dikaji = 54 kg
- TB saat dikaji 153 cm

132.IMT = 23,4
143. 144.Data Subjektif:
145.-pasien mengatakan
2
menjadi mudah lelah

(Nausea)

Kemoterapi

mengalami mual dan


- Pasien mengatakan porsi

142.Mual

158.
160.

157.
Efek kemoterapi
159.
Penurunan kadar

Hemoglobin dalam darah


tiduran saja di kamar jika
161.
162. Kelelahan
terasa lelah. Akltivitas yang
163.
pasien lakukan adalah
164.
menonton TV
147.Data Objektif:
148.- Kulit tampak pucat
149.- Akral teraba dingin
150.- Pasien tampak lemah

165.Kelelahan

151. - Pasien tampak pasien


sering tidur saat menjalani
kemoterapi
152.
- Hasil Lab Hemoglobin
9.7*

153.
166. 167.Data Subjektif :
168.Pasien mengatakan tidak
3
tahu
bagaimana
cara
mengatasi efek samping
dari kemoterapi.
169.
170.
171.

Data Objektif :
-Pasien tampak tenang
-Pasien tampak dan selalu

bertanya kepada perawat.


172.

173.

Ca. Endometrium
174.
175. Kemoterapi

Carboplatin dan Paclitaxel


siklus ke -5

177.
179.

176.
Efek kemoterapi
178.
Perawatan efek

samping dari kemoterapi


180.
181. Kurang
pengetahuan

183.
184.

182.Risiko
ketidakseimba
ngan nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh