Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TAKSONOMI MODERN

Keanekaragaman Anatomi Epidermis Daun Aglaonema commutatum (Aracheae)

Anatomi Epidermis Daun Aglaonema commutatum (Aracheae) Disusun Oleh: Nama : Aditya Wardana NIM : K4314001

Disusun Oleh:

Nama

: Aditya Wardana

NIM

: K4314001

Kelas

: A

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2016

PENDAHULUAN

I.

Latar Belakang Araceae adalah keluarga tumbuhan berbunga monokotil herbaceus yang mana memiliki bunga satu tangkai yang disebut dengan spadix. Keluarga Arace ini memiliki lebih dari 105 genus dan 3300 spesies dari berbagai temperatur dan tempat. (Mayo et al., 1997). Aglaonema Schott, rumpun Aglaonemateae, adalah genus aroids tropis yang sekitar 21 spesies enddemik di Asia. Yang biasanya diperuntukkan untuk ornamen foliage di rumah, greenhouse dan di luar ruangan. (Nicolson, 1969). Spesies Aglaonema adalah tumbuhan perenial herbaceus yang tumbuh bisa mencapai tinggi 20 samapi 150 cm. Daunnya ada beberapa, alternet pada batang, lancet sampai oval meruncing, gelap sampai agak hijau, memiliki panjang daun 10-45 cm dan lebar daunnya 4-16 cm tergantung dengan jenis spesiesnya. Aglaonema inflorescence, spadix, mengandung axis central tegak lurus dengan beberapa petal tidak berbunga. Bunganya relatif berwarna terang, putih atau putih kehijauan yang seperti ada batas merah. Bunga staminate (Jantan) menutupi spadix hampir setengahnya dibagian teratas dan bunga pistillate (Betina) terletak di hampir setengahnya dibagian basal. Getah Aglaonema itu beracun untuk kesehatan yang dapat meiritasi kulit dan jika tertelan dapat meiritasi mulut, bibir, tenggorokan dan lidah. (Bown, 2000). Batangya tegak sampai decumbent, internodusnya hijau, dan dapat berubah menjadi coklat jika tua, halus, bahkan berakar pada nodusnya saat decumbent. Sehingga sangat mudah dikembangbiakan dengan pemotongan dan dapat berakar pada gelas air. Tumbuhan ini dapat bertahan hidup didaerah lembab, tapi baik diairi, tanah berat. Metode Anatomi dipilih untuk mengatasi kesulitan dalam pentaksonomian tumbuhan. Banyak pentaksonomi telah menggunakan metode anatomi untuk mengatasi masalah identifikasian pada kelompok2 tanaman. seperti jika pada genus Aglaonema klasifikasinya direvisi oleh Nicolson (1969). Benedetto et al. (2005), Benedetto et al. (2006) dan Chao-Yi dan Der-Ming (2008) Aglaonema commutatum memiliki fisiologi yang sama seperti anggota Arace yang lain.

II.

Tujuan

Dalam melakukan pengklasifikasian pada suatu kelompok tumbuhan, diperlukan berbagai data penciri sehingga dalam pengelompokkan tidak hanya berdasarkan pada Morfologi saja. Pengtakson percaya pada Morfologi yang mirip, Anatomi juga pasti memiliki ciri-ciri yang hampir sama. Tetapi tidak selalu pada Morfologi yang sama Anatomi juga sama. Hal inilah yang menjadi dasar Pengtakson untuk dapat mengklasifikasikan kelompok tumbuhan tertentu yang memiliki Morfologi yang sama dengan data yang diperoleh dari ciri-ciri Anatominya. Pengidentifikasian Mikromorfologi pada epidermis daun Aglaonema commutatum untuk mendapat kharakter pembeda sampai pada tingkat varietas dari spesies Aglaonema commutatum.

METODE PENELITIAN

Diambil 10 sampel genus Aglaonema yang berspesies Aglaonema commutatum Schott. Mereka dikoleksi disekitar UNS kentingan, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia secara random. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikro, Gedung D, UNS. Pada jam 15.00 WIB tanggal 15 November 2016. Menggunakan Teknik gerutan Free Hand Section untuk mendapat kulit epidermal dari permukaan atas daun (adaxial). Porsi median daun diperluas telah dikuliti dengan menaruh permukaan epidermal yang diinginkan pada objek glass dan daun dikikis dengan pisau tajam pada bagian adaxial daun secara acak. Objek glass tersebut ditetesi aquades sampai preparat terendam dan ditutup dengan Cover glass untuk meratakan sayatan daun sehingga menghasilkan lapisan yang datar dan tidak terbentuknya gelembung saat pengamatan. Free Hand Section adalah salah satu teknik sederhana dalam mendapatkan preparat dari potongan organ pada tumbuhan. Teknik ini menggunakan pisau tajam, benda silinder, objek glass dan cover glass. Dalam pengamatannya menggunakan Mikroskop Binokuler listrik dengan berbagai perbesaran. Pertama, memotong bagian daun Aglaonema secara tipis. Potongan tipis ini lebih mudah dilakukan dengan penggulungan daun pada benda silinder pada bidang selimutnya dan diiris dengan pisau tajam secara lateral. Kemudian diletakkan pada Objek glass dan ditetesi aquades sehingga terendam dan ditutup dengan Cover glass. Dan diamati menggunakan Mikroskop. Jaringan epidermis dari setiap individu pada spesies yang sama (Aglaonema commutatum) dipelajari secara hati-hati melaui pengamatan menggunakan Mikroskop sehingga mendapatkan kharakter mikromorfologi.

HASIL

Kualitatif kharakter foliar dari 10 individu Aglaonema commutatum disajikan pada Tabel 1 Stasioner (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10). Fotomikrograf permukaan adaxial diambil dengan bantuan Camera Handphone Samsung J1 6 yang adaptif terhadap cahaya. Deskripsi permukaan epidermis foliar secara detail dibawah ini.

Menurut Arogundade (2016) Secara umum Aglaonema commutatum pada permukaan adaxialnya memiliki sel epidermal poligonal sampai irregular dengan dinding antiklinal bergelombang. Mereka sangat beragam pada ukuran, bentuk dan susunan. Area Sel epidermal diantara 442.0 µm 2 -2356.2 µm 2 dengan rata2 1379.52 µm 2 . Amphistomatous, membatasi daerah non-venous. Komplek stomata brachyparacytic, berbentuk elliptic, occasionally circular Fig 1. Ukuran stomata diantara 326.4µm 2 -561 µm 2 dengan rata2 447.30 µm 2 .

2 -561 µm 2 dengan rata2 447.30 µm 2 . Tabel 1 Kharakteristik 10 individu Aglaonema

Tabel 1 Kharakteristik 10 individu Aglaonema commutatum mikromorfologi epidermal foliar pada Stasioner 1 (terbawah ke 1 dari tanaman), Stasioner 2 (terbawah ke 2 dari tanaman), Stasioner 3 (terbawah ke 3 dari tanaman), dan seterusnya. Kharakter state Aglaonema commutatum dilihat dari segi bentuk sel (A), Dinding sel (B), ukuran sel (C), susunan sel (D), dan bentuk stomata (E). Kharakter dasar epidermis foliar yaitu Bentuk sel poligonal (A1) dan atau irregular (A2), dinding sel antiklinal bergelombang (B), ukuran sel epidermis sekitar 1379.52 µm 2 (C) dan susunan sel rapi (D), stomata brachyparacytic berbentuk elliptic (E1) dan atau occasionally circular (E2). Penglompokkan dalam penyimbulan Ya (1), atau Tidak (0).

 

Stasioner 1

   

Stasioner 2

 
 

A1

A2

B

C

D

E1

E2

 

A1

A2

B

C

D

E1

E2

1

1

0

0

0

0

1

0

1

0

1

0

1

0

1

1

2

1

0

0

1

0

0

1

2

1

0

0

1

0

0

1

3

0

1

1

0

0

1

1

3

0

1

1

0

0

1

1

4

1

0

1

1

0

1

0

4

0

1

0

0

1

0

1

5

0

1

1

1

1

1

0

5

1

0

0

0

0

1

0

6

0

1

0

1

0

0

1

6

1

0

1

0

0

1

0

7

0

1

1

1

1

1

1

7

1

0

1

1

1

1

0

8

0

0

1

0

1

0

1

8

1

0

0

0

0

1

0

9

0

1

0

1

0

1

1

9

1

1

1

1

0

0

1

10

0

1

1

0

1

1

0

10

1

0

1

1

0

0

1

 

Stasioner 3

   

Stasioner 4

 
 

A1

A2

B

C

D

E1

E2

 

A1

A2

B

C

D

E1

E2

1

0

1

0

1

1

1

1

1

1

0

1

0

0

1

1

2

1

0

0

0

1

0

1

2

1

0

0

0

1

1

1

3

1

 

1

0 0

 

0

0

1

3

0

1

1

1

0

1

1

4

0

 

0

1 0

 

0

1

0

4

0

1

0

1

0

0

1

5

1

0

1

1

0

0

1

5

0

1

1

0

1

1

1

6

1

 

1 0

0

0

1

0

6

0

1

1

0

0

0

1

7

1

 

1 1

0

0

0

1

7

1

0

0

0

0

1

1

8

1

1

1

 

0

0 0

1

8

0

1

0

1

0

1

0

9

0

1

0

 

1

1 1

1

9

1

1

1

0

0

1

0

10

1

1

0

0

1

1

0

10

0

0

0

0

1

1

1

 

Stasioner 5

   

Stasioner 6

 
 

A1

A2

B

 

C D

E1

E2

 

A1

A2

B

C

D

E1

E2

1

1

0

0

 

1 0

1

0

1

0

1

0

0

0

1

0

2

1

0

1

 

1 0

0

1

2

1

0

0

0

0

1

1

3

0

1

1

 

1 0

0

1

3

0

1

0

0

0

1

0

4

0

1

1

0

1

0

1

4

0

1

0

0

0

1

0

5

1

1

0

1

0

0

0

5

1

0

0

1

0

1

1

6

1

0

1

0

1

1

0

6

0

1

1

0

0

0

1

7

0

1

0

0

1

0

1

7

1

1

1

1

0

1

0

8

1

1

1

0

0

0

1

8

1

0

1

1

1

1

0

9

1

0

1

0

1

0

1

9

0

1

0

1

0

1

1

10

1

1

1

1

0

0

1

10

0

1

1

0

1

1

0

 

Stasioner 7

   

Stasioner 8

 
 

A1

A2

B

C

D

E1

E2

 

A1

A2

B

C

D

E1

E2

1

1

0

0

0

0

1

0

1

0

1

0

0

1

1

0

2

0

1

1

1

0

1

0

2

0

1

1

1

0

1

1

3

1

0

0

1

0

1

0

3

0

1

0

0

1

1

0

4

0

1

0

1

0

0

1

4

1

0

1

1

1

1

0

5

1

1

0

0

1

0

0

5

0

1

1

0

0

1

1

6

0

1

0

1

1

0

0

6

1

1

1

0

0

0

1

7

0

1

0

1

0

0

1

7

1

0

1

0

0

0

0

8

0

1

0

0

0

1

1

8

1

0

0

1

1

0

1

9

0

1

1

1

1

1

0

9

1

0

1

0

1

0

1

10

1

0

1

0

0

0

1

10

0

1

0

0

1

1

0

Stasioner 9 Stasioner 10 A1 A2 B C D E1 E2 A1 A2 B C
Stasioner 9
Stasioner 10
A1
A2
B
C
D
E1
E2
A1
A2
B
C
D
E1
E2
1
1
0
1
0
0
0
1
1
1
0
0
0
0
0
1
2
1
0
0
1
0
1
0
2
0
1
1
1
0
0
1
3
1
0
0
0
0
1
1
3
1
1
0
0
1
1
1
4
0
1
1
0
0
1
1
4
1
0
0
1
0
0
1
5
1
0
1
1
1
0
1
5
1
1
0
1
0
1
0
6
1
0
0
1
1
1
0
6
1
1
0
0
0
0
1
7
0
1
1
1
1
1
1
7
1
1
0
1
0
0
1
8
0
1
1
1
0
1
1
8
1
0
0
0
0
1
0
9
1
1
1
1
1
1
0
9
0
1
0
1
0
0
1
10
1
1
0
1
0
1
1
10
1
0
1
1
0
0
1

Pada Penggolongan Bentuk sel epidermal Poligonal ditunjukkan pada Fig 2, penggolongan Bentuk sel epidermal Irregular ditunjukkan pada Fig 3, penggolongan dinding sel epidermal antiklinal bergelombang ditunjukkan pada Fig 4, penggolongan ukuran sel epidermal kira-kira sebesar 1379.52 µm 2 ditunjukkan pada Fig 5, penggolongan susunan sel epidermal rapi ditunjukkan pada Fig 6, penggolongan bentuk sel stomata elliptic ditunjukkan pada Fig 7, dan penggolongan bentuk sel stomata occasionally circular ditunjukkan pada Fig 8.

Fig 2 Penggolongan Bentuk sel epidermal Poligonal Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak)

Bentuk sel epidermal Poligonal Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Kiri memiliki dinding Gambar sel polygonal yang
Bentuk sel epidermal Poligonal Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Kiri memiliki dinding Gambar sel polygonal yang

Kiri

memiliki dinding

Gambar

sel

polygonal

yang

terlihat

sangat

jelas

memiliki

sisi

sekitar 6.

Gambar Kiri memiliki dinding acak, tidak teratur dan berpola berbeda tiap selnya.

Fig

3

Penggolongan

Bentuk

sel

epidermal

Irregular

Fig 3 Penggolongan Bentuk sel epidermal Irregular Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri terlihat bentuk
Fig 3 Penggolongan Bentuk sel epidermal Irregular Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri terlihat bentuk

Kiri

(Ya)

atau

Kanan

(Tidak)

Gambar Kiri terlihat bentuk sel irregular sampai tidak terlihat dinding sel antar sel pada bagian tengah tetapi tidak pada bagian tepi. Gambar Kanan terlihat jelas bentuk sel dan dinding sel pemisah antar sel. Tidak terlihat adanya bentuk sel irregular.

Fig 4 Penggolongan dinding sel epidermal antiklinal bergelombang Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak)

antiklinal bergelombang Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri terlihat dinding antiklinalnya berlekuk dan
antiklinal bergelombang Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri terlihat dinding antiklinalnya berlekuk dan

Gambar Kiri terlihat dinding antiklinalnya berlekuk dan bergelombang

Gambar Kanan terlihat dinding selnya tegak dan tidak berlekuk sama lain.

Fig 5 Penggolongan ukuran sel epidermal 1379.52 µm2 Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak)

sel epidermal 1379.52 µm2 Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Pada gambar disamping merupakan contoh jaringan epidermis
sel epidermal 1379.52 µm2 Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Pada gambar disamping merupakan contoh jaringan epidermis

Pada gambar disamping merupakan contoh jaringan epidermis Aglaonema commutatum yang berukuran 1379.52 µm2 diambil dari jurnal Arogundade, O., O., dan Adedeji, O. (2016). Jika disesuaikan ukuran stomata dari jurnal tersebut dengan stomata pada gambar dibawah ini maka ukuran sel epidermisnya dapat dibandingkan. Pada gambar Kiri memiliki ukuran sekitar 1379.52 µm2. Pada gambar Kanan tidak memiliki ukuran sekitar 1379.52 µm2.

gambar Kanan tidak memiliki ukuran sekitar 1379.52 µm2. Fig 6 Penggolongan susunan sel epidermal rapi Kiri

Fig 6 Penggolongan susunan sel epidermal rapi Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak)

susunan sel epidermal rapi Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri memiliki susunan epidermal rapi
susunan sel epidermal rapi Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri memiliki susunan epidermal rapi

Gambar

Kiri

memiliki

susunan

epidermal

rapi

terlihat

tersusun

berurutan.

Gambar Kanan memiliki susunan epidermal tidak rapi terlihat tersusun berantakan.

Fig 7 Penggolongan bentuk sel stomata elliptic Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak)

bentuk sel stomata elliptic Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri terlihat stomata berbentuk elliptic
bentuk sel stomata elliptic Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri terlihat stomata berbentuk elliptic

Gambar

Kiri

terlihat

stomata

berbentuk

elliptic memipih.

Gambar Kanan terlihat stomata berbentuk

tidak

lebih membulat.

dan

memipih

Fig 8 Penggolongan bentuk sel stomata occasionally circular Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak)

stomata occasionally circular Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri terlihat bentuk stomata
stomata occasionally circular Kiri (Ya) atau Kanan (Tidak) Gambar Kiri terlihat bentuk stomata

Gambar

Kiri

terlihat

bentuk

stomata

occasionally

circular

membulat dan terlihat lebih lebar diameternya.

Gambar Kanan terlihat bentuk stomatanya tidak occasionally circular dan memipih sangat tipis.

Dengan menggunkan 2 program pembuatan Pohon Kekerabatan berdasarkan persamaan dan perbedaan dari pengamatan tabel 1 didapat hasil sebagai berikut.

dari pengamatan tabel 1 didapat hasil sebagai berikut. Grafik 1 Pohon Kekerabatan yang terbentuk dari persamaan

Grafik 1 Pohon Kekerabatan yang terbentuk dari persamaan dan perbedaan 10 individu yang

berspesies sama Aglaonema commutatum berdasarkan 7 Character state dari Jurnal Arogundade, O., O., dan Adedeji, O. (2016). Penjelasan sebagai berikut:

1. Jika dilihat dari Hubungan Kekerabatan Nenek Moyang Individu nomer 1 berkerabat dekat dengan 4. Individu nomer 6 berkerabat dekat dengan 9. Individu nomer 5 berkerabat dekat dengan 7. Individu nomer 2 merupakan nenek moyang dari 6 dan 9. Individu nomer 10 merupakan nenek moyang dari 5 dan 7. Individu nomer 3 merupakan nenek moyang dari 10. Dan Individu nomer 8 merupakan nenek moyang dari 3. Kekerabatan dari Individu nomer 2 lebih dekat dengan kekerabatan nomer 1 dan 4 dari pada dengan nomer 8.

2. Jika dilihat dari Banyak sedikitnya Perbedaan susunan Gen Dapat dibaca dari garis Coefficient yang berada di bagian paling bawah dari Pohon Kekerabatan setiap garis mewakili 0.022. Susunan Gen dari 1 dan 4 dibanding dengan Susunan Gen 2 berbeda sebesar 0.066. Susunan Gen dari 10 dan 3 berbeda sebesar 0.11. dan susunan gen dari 3 dan 8 berbeda sebesar 0.132. Tetapi pada susunan gen 6 dan 9 dibanding dengan 5 dan 7 sejajar tetapi tidak dapat dikatakan tidak memiliki perbedaan susunan gen, hal ini dikarenakan informasi yang digunakan untuk membentuk pohon kekerabatan kurang.

PEMBAHASAN

Data pengamatan yang disajikan dalam bentuk tabel 1 tersebut terdiri dari 10 posisi daun stasioner dikarenakan untuk didapatkan data yang Valid dari setiap Individu diharuskan mengambil setidaknya 10 daun dari individu yang sama dan pengambilan daun ini disesuaikan dengan posisi daun dan kematangan daun. Menurut Fahn (1995) dengan penelitian daun Iris sp. pada cahaya rendah yang diterima daun dapat menurunkannya pembentukan stomata. Cahaya rendah ini diakhibatkan beberapa faktor yaitu kedudukan daun dan ketinggian daun pada tanaman tersebut. Cahaya yang diterima ini juga berpengaruh terhadap pelebaran daun untuk respon penangkapan cahaya lebih banyak. Pada pengambilan sampel dari setiap daun dilakukan dengan cara random pada bagian Adaxial daun yang tidak terlalu banyak adanya stomata. Menurut Rahman, F. et al.(2016) pengambilan sampel arus dilakukan secara random untuk mencegah adanya pengambilan data secara subjektif, hal ini dikarenakan pada setiap bagian daun mendapat berbagai perlakuan yang berbeda dan hal ini tidak dapat dihindari atau dicegah. Perlakuan tersebut diataranya intensitas cahaya yang diterima, arah aliran angin, tingkat kelembaban udara, dan nutrisi yang didapat. Berbagai faktor ini dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan dan pembetukan sel. Pada beberapa spesies pada bagian Adaxial tidak dijumpainya stomata dan ini dijadikan sebagai salahsatu charakter state penciri spesies.

DAFTAR PUSTAKA

Arogundade, O., O., dan Adedeji, O. (2016) Foliar Epidermal Study Of Some Species Of Aglaonema Schott (Araceae) In Nigeria. Ife Journal of Science vol. 18, no. 1 Benedetto D. A., Boschi C., Klasman R. and Molinari J. 2005. Aglaonema commutatum Schott (Araceae) leaf growth under limited light environments. Effect of plant size. Cientifica, Jaboticabal 33 (2):160-164 Benedetto A. D., Molinari J., Boschi C., Benedicto D., Cerrotta M. and Cerrotta G. 2006. Estimating Crop Productivity for Five Ornamental Foliage Plants. International Journal of Agricultural Research 1: 522-533. Bown, D. 2000. Aroids: Plants of the Arum Family. Timber Press, Portland, Oregon. Chao-Yi L. and Der-Ming Y. 2008. Potassium Nutrition Affects Leaf Growth, Anatomy, and Macroelements of Guzmania. HortScience 43 (1): 146-148. Fahn, A. 1995. Anatomi Tumbuhan. (Terjemahan Tjitrosomo SS). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Nicolson, D. H. 1969. A Revision of the Genus Aglaonema (Araceae) Smithsonian Contributions to Botany 1:1-66. Mayo, S., Bogner, J. and Boyce, P.C. 1997. The genera of Araceae. Royal Botanic Gardens, Kew, Surrey, UK. Rahman, F., Ahmad, M., Zafar, M., Mumtaz, S., dan Shah, S., A.(2016). Taxonomic implications of foliar epidermis in Impatiens (Balsaminaceae): Investigating 12 Pakistani taxa as an example. Plant Biosystems, 2016.

LAMPIRAN

LAMPIRAN