Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL

Pembuatan emulsi dengan emulgator sistem HLB

DOSEN PENGAMPU

Pramono Abdullah

Disusun oleh :
1
2
3
4

Rommeil genzano
Sari kurniawati
Siti fatimah
Siti nurlaela sari

NIM : 12010077
NIM : 12010097
NIM : 12010078
NIM : 12010079

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI


BOGOR
2015
I

JUDUL
Pembuatan emulsi dengan emulgator sistem HLB

II

TUJUAN PRAKTIKUM
Mengamati pengaruh penambahan pengental terhadap karakteristik fisik
emulsi yang dibuat dengan emulgator sistem HLB

Menghitung jumlah emulgator golongan surfaktan yang digunakan dalam


pembuatan emulsi

III

Membuat emulsi menggunakan emulgator golongan surfaktan

Mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi

Menentukan HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi

DASAR TEORI
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,
terdipersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang
cocok.. (1;9) Zat pengemulsi yang sering digunakan adalah gelatin, gom akasia, tragakan,
sabun, senyawa amonium kwarterner, senyawa kolesterol, surfaktan, atau emulgator lain
yang cocok. Untuk mempertinggi kestabilan dapat ditambahkan zat pengental, misalnya
tragakan, tilosa, natrium karboksimetilselulosa. (1;9) Salah satu fase cair dalam suatu
emulsi terutama bersifat polar (sebagai contoh air),
sedangkan lainnya relatif non polar (sebagai contoh minyak). (4;1029)

1. Bila fase minyak didispersikan sebagai bola-bola ke seluruh fase kontinu


air,

sistem tersebut dikenal sebagai suatu emulsi minyak dalam air

(o/w).
2. Bila fase minyak bertindak sebagai fase kontinu, emulsi tersebut dikenal
sebagai produk air dalam minyak (w/o).
Emulsi yang dipakai untuk obat luar bertipe o/w atau w/o, ntuk tipe o/w
menggunakan zat penegemulsi disamping beberapa yang dikemukakan tadi yakni natrium
lauril sulfat, trietanolamin stearat.(4;1029)
Untuk memperoleh emulsi yang stabil perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai
berikut : (2;12)
1

Penggunaan zat-zat yang mempertinggi viskositas

Perbandingan opimum dari minyak dan air. Emulsi dengan minyak 2/3-3/4 bagian
meskipun disimpan lama tidak akan terpisah dalam lapisan-lapisan

Penggunaan alat khusus untuk membuat emulsa homogen.


Dikenal beberapa fenomena ketidakstabilan emulsi yaitu : (5;31)

flokulasi dan creaming


Fenomena ini terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan oleh adanya
energi bebas permukaan saja. Flokulasi adalah terjadinya kelomok-kelompok globul yang
letaknya tidak beraturan di dalam suatu emulsi. Creaming adalah terjadinya lapisanlapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda di dalam suatu emulsi. Lapisan dengan

konsentrasi yang paling pekat akan berada di sebelah atas atau disebelah bawah
tergantung dari bobot jenis fasa yang terdispersi.
-

Koalesen dan Demulsifikasi


Fenomena ini terjadi bukan karena semata-mata karena energi bebas
permukaan saja, tetapi juga karena tidak semua globul terlapis oleh film antar permukaan.
Koalesen adalah terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar, sedangkan
demulsifikasi adalah merupakan proses lebih lanjut dari koalesen dimana kedua fasa
terpisah menjadi dua cairan yang tidak bercampur. Kedua fenomena ini tidak dapat
diperbaiki dengan pengocokan.
Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang
penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi
oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang aktif permukaan adalah
surfaktan. Mekanisme kerja emulgator ini adalah menurunkan tegangan antar permukaan
air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fasa
terdispersinya. (5;30)
Secara kimia molekul surfaktan terdiri atas gugus polar dan nonpolar. Apabila
surfaktan dimasukkan ke dalam suatu sistem yang terdiri dari air dan minyak, maka
gugus polar akan terarah ke fasa air sedangkan gugus non polar terarah ke gugus ke fasa
minyak. Surfaktan yang memiliki gugus polar lebih kuat akan cenderung membentuk
emulsi minyak dalam air, sedangkan bila gugus nonpolar yang lebih kuat maka akan
membentuk emulsi air dalam minyak. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang
kekuatan gugus polar-nonpolar dari surfaktan. Metode yang dapat digunakan untuk

menilai efisiensi emulgator yang ditambahkan adalah metode HLB (HydrophilicLipophilic Balance)
Secara teoritis, emulgator dengan HLB 12 adalah merupakan emulgator yang
paling sesuai untuk emulsi tersebut . Pada kenyataannya, jarang sekali ditemukan HLB
surfaktan yang harganya persis sama dengan harga HLB butuh minyak. Oleh karena itu
penggunaan kombinasi dua emulgator dengn harga HLB rendah dan harga HLB tinggi
akan memberikan hasil yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena dengan menggunakan
kombinasi emulgator dapat diperoleh harga HLB yang sama dengan harga HLB butuh
minyak dan film antar permukaan yang terbentuk lebih rapat. (5;30)

IV

ALAT DAN BAHAN


ALAT
- Bunsen
- Kaki tiga
- Beker glas
- Batang pengaduk
- Lumpang
- Alu
- Glas piala
BAHAN
- Aquadest
- Tween
- Span
- Parafin liquid
- Propilenglikol

Perhitungan Bahan

VI

CARA KERJA

Fase minyak dalam air (M/A)


1) dilakukan pemanasan fase 1 air ditambah Tween sampai suhu 70C
1) dilakukan pemanasan fase 2 Span ditambah paraffin liquid dipanasi sampai suhu
70C
2) fase 1 dimasukan kelumpang ditambahkan fase 2 ditambahkan propilenglikol gerus
sampai homogen
Fase air dalam minyak (A/M)
2) dilakukan pemanasan fase 1 air ditambah Tween sampai suhu 70C
3) dilakukan pemanasan fase 2 Span ditambah paraffin liquid dipanasi sampai suhu
70C
4) fase 2 dimasukan kelumpang ditambahkan fase 1 ditambahkan propilenglikol gerus
sampai homogen

VI. HASIL PENGAMATAN

VII

PEMBAHASAN
Dalam pembuatan suatu emulsi digunakan suatu emulgator atau surfaktan yang
bertujuan untuk menurunkan tegangan antar muka air dan minyak serta membentuk

lapisan film pada permukaan fase terdispersi. Pada percobaan ini digunakan dua
surfaktan yang dikombinasikan dengan tujuan untuk memperoleh HLB surfaktan
yang persis sama dengan HLB minyak yang dibutuhkan.
Dengan menyamakan atau mendekatkan harga HLB kombinasi surfaktan pada
HLB butuh untuk fasa minyak tertentu, akan diharapkan hasil emulsi yang lebih baik.
Kestabilan emulsi pada HLB butuh dari fasa minyak berbeda-beda, tergantung dari
efisiensi kombinasi surfaktan.
Di samping itu digunakan emulgator kombinasi karena sulit untuk mencari
emulgator tunggal sesuai dengan HLB butuh, selain itu pengemulsi hidrofilik pada
fase air dan zat hidrofobik pada fase minyak akan membentuk lapisan kompleks pada
batas minyak/ air, lapisan ini akan membungkus globul-globul lebih rapat
dibandingkan emulgator tunggal. Telah diketahui pula bahwa rantai hidrokarbon dari
molekul tween berada dalam bola minyak antara rantai-rantai span dan penyusun ini
menghasilkan atraksi Van der Walls yang efektif. Dengan cara ini lapisan antarmuka
diperkuat dan kestabilan emulsi O/Wditingkatkan melawan pengelompokan partikel.
Dalam percobaan ini digunakan kombinasi emulgator tipe air (Tween 80) dan
emulgator tipe minyak (span 80), meskipun kadang-kadang ditemukan bahwa suatu
pengemulsi tunggal dapat menghasilkan jenis emulsi yang dikehendaki pada
viskositas yang diinginkan, namun karena jarang ditemukan emulgator tunggal yang
memiliki nilai HLB sesuai dengan yang dibutuhkan maka digunakan emulgator
VIII

kombinasi.
KESIMPULAN

IX

DAFTAR PUSTAKA

o DITJEN POM., (1979), Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen


Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
o Kadis, Sukati, et all, (

), Meracik Obat Lanjutan I, Lembaga Penerbitan

Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang


o Lachman, Leon, (1994), Teori dan Praktek Farmasi Industri, UI-Press,
Jakarta
o Martin, Alfred, (1994), EMULSI , UI-Press, Jakarta