Anda di halaman 1dari 9

Demam layanan booking transportasi bisa dibilang tengah melanda

Indonesia, khususnya Jakarta. Layanan booking taksi, mobil, hingga ojek


sudah tersedia di ibu kota ini. Bahkan, layanan booking ojek misalnya, tidak
hanya disediakan oleh satu atau dua pemain, tapi juga menarik sejumlah
pemain baru yang ingin ikut mengambil peluang. Beberapa waktu lalu,
muncul satu lagi layanan booking transportasi yang menyasar mode
transportasi bajaj bernama Bajai App.
Bajai App merupakan aplikasi mobile yang mulai dikembangkan oleh
Feryanto Njomin dan sejumlah rekannya pada bulan April lalu. Bertujuan
mulia untuk meningkatkan taraf hidup pengemudi bajaj dan mengurangi
kemacetan di ibu kota, tim Bajai App mulai melakukan survei pada awal
Januari lalu. Fery mengatakan:

Agar lebih memahami kebutuhan konsumen, kami


mulai melakukan survei sejak awal Januari lalu. Kami
merasakan sendiri pengalaman menjadi penumpang,
bahkan menjadi supir. Dengan itu kami tahu masalahmasalah yang mereka hadapi, serta bagaimana
menentukan tarif yang pas.
Tarif yang ditentukan Bajai App memang tidak sama dengan
aplikasi booking transportasi lainnya. Jika aplikasi booking ojek misalnya,
menentukan tarif berdasarkan jarak tempuh, Bajai App mengklaim
menggunakan algoritma khusus. Kami menggunakan algoritma canggih yang
tidak hanya menentukan tarif berdasarkan jarak tempuh, tapi juga kondisi
jalan, waktu, dan cuaca. Ini kami terapkan agar tarif yang dikenakan adil,
tidak hanya bagi penumpang tapi juga bagi supir, ujar Yusak Oey, salah satu
pengembang aplikasi Bajai App.
Sama seperti layanan booking transportasi pada umumnya, pengguna hanya
perlu menentukan lokasi penjemputan dan destinasi. Nantinya, Bajai App
akan menampilkan tarif yang harus dibayar oleh pengguna. Menariknya, jika
jumlah penumpang lebih dari satu, atau jika penumpang membawa barang
yang memerlukan jasa angkat, Bajai App akan membebankan biaya tambahan
sebesar Rp5.000. Pengguna juga bisa memberikan tip kepada supir bajaj
melalui fitur Tips.

Legal, tapi peraturan memberatkan


Bajai App sendiri mulai diluncurkan dalam masa uji coba sejak Juni lalu.
Hingga kini, tim Bajai App yang berjumlah 10 orang masih terus memperbaiki
dan menambah fitur-fitur yang ada di aplikasi ini. Rencananya sih sekitar
dua bulan lagi lah sudah siap fitur-fiturnya, ujar Fery.
Menurut Fery, berbeda dari layanan booking transportasi lain yang berbuah
kontroversi terkait legalitas, Bajai App berada dalam binaan Organda. Bajaj
kan diatur sama pemerintah, tambahnya.
Bagaimanapun, meski bekerja sama dengan Organda, ada satu peraturan
pemerintah yang masih menjadi kendala Bajai App, yakni tidak diizinkannya
bajaj melintasi jalan protokol. Ini tentunya bisa membatasi jumlah pelanggan
yang ingin menaiki bajaj, utamanya mereka yang ingin bepergian dengan
jarak cukup jauh. Meski bisa melewati jalan kecil, bisa saja waktu tempuh
menjadi lebih lama.

Terkait hal ini, Fery mengatakan bahwa pihaknya berupaya mengajukan


perizinan agar bajaj boleh melewati jalan protokol. Mudah-mudahan saja ya,
soalnya kan bajaj juga bisa mengurangi kemacetan. Ukurannya juga lebih
kecil dibanding taksi, tapi muat untuk 2-3 penumpang, imbuhnya.

Armada yang terbatas


Selain mengembangkan aplikasi, tim Bajai App juga tengah disibukkan
dengan mengedukasi supir bajaj tentang penggunaan aplikasi buatan mereka.
Ini salah satu tantangan kami. Tak jarang kami harus berada di pangkalan
sampai subuh, ujar Fery.
Hingga saat ini, baru ada sekitar 100-200 supir bajaj yang telah bergabung.
Sebenarnya sudah ada ribuan yang mendaftar, tapi kami harus edukasi satu
per satu. Jadi baru segitu yang sudah ready, jelas Yusak.
Karena hanya menargetkan bajaj biru, armada Bajai App terbilang terbatas.
Menurut tim bajaj, total armada bajaj biru di Jakarta hanya berjumlah 7.000.
Bandingkan dengan armada layanan booking lain yang jumlahnya hingga
puluhan ribu. Layanan booking ojek misalnya, bahkan bisa bertambah
banyak, karena siapa pun yang memiliki motor dan memenuhi kriteria bisa
bergabung menjadi pengemudi.
Terkait hal ini, Fery mengaku tidak merasa khawatir. Meski mungkin akan
mengalami kesulitan mengembangkan jumlah armada, timnya akan
mengembangkan jenis layanannya. Rencananya nanti kami juga akan
menyediakan layanan logistik. Atau jika ini sukses, kami juga akan merambah
mode transportasi lain.

Tunda monetisasi, fokus jaring pengguna


Ketika ditanya tentang peminat layanan booking bajaj ini, Fery mengatakan
bahwa sudah ada sejumlah pengguna yang telah menggunakan layanannya.
Sayangnya, ia enggan menyebut detail pasti jumlah pemesanan atau transaksi
yang telah terjadi. Hingga saat ini, Bajai App yang baru tersedia untuk
platform Android ini telah mendapat sekitar 500-1.000 unduhan di Google
Play.

Terkait monetisasi, tim Bajai App yang kini masih beroperasi


secara bootstrap mengaku belum memikirkan soal ini karena masih berfokus
menjaring pengguna. Bagaimanapun, tampaknya Bajai App tidak akan
menerapkan sistem komisi seperti layanan bookingtransportasi lainnya.
Intinya kami mau menggratiskan layanan ini. Kami tidak akan menarik
komisi, tutur Fery.
Ke depannya, Fery mengatakan bahwa Bajai App juga berencana untuk
berekspansi ke kota lain di Indonesia. Tim Bajai App kini juga tengah
mengembangkan aplikasinya untuk platform iOS guna menjangkau lebih
banyak pengguna.
Jika melihat berbagai kendala yang dihadapinya, Bajai App tampaknya akan
mengalami banyak kesulitan untuk bertahan di ranah
layanan booking transportasi. Ditambah lagi dengan sudah banyaknya
layanan booking transportasi lain yang bisa dipilih pengguna.
Baca juga: Duel Roda Dua: GrabBike vs GoJek (INFOGRAFIS)
Bagaimanapun, menarik untuk dilihat strategi apa yang akan digunakan tim
Bajai App untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Yang jelas, kualitas
layanan, keamanan, kenyamanan, dan harga merupakan beberapa faktor yang
harus diperhatikan sebuah layanan bookingtransportasi untuk bisa bertahan
di industri ini.

Apa Saja Kemudahan yang


Ditawarkan Oleh Bajaj App ini?
\Bajaj App mengklaim kalau mereka telah mempunyai 10.000 pengendara
Bajaj yang tersebar di kota Jakarta dan sekitarnya. Pengendara Bajaj tersebut
semuanya merupakan pengendara profesional yang akan membawa kita ke
tempat tujuan dengan aman dan nyaman. Untuk menjamin itu, Bajaj App
mengatakan kalau mayoritas armada mereka merupakan Bajaj berbahan
bakar gas yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, waktu operasional Bajaj
pun tidak dibatasi, yang artinya kita bisa memesan Bajaj lewat Bajaj App
kapanpun. Namun hal ini patut dipertanyakan karena setahu saya daerah
operasi Bajaj sangatlah terbatas, dan ada jalan-jalan tertentu yang tidak bisa
dilewati oleh Bajaj.
Mirip dengan layanan-layanan lainnya, tarif Bajaj App juga tidak perlu ditawar
lagi. Sebelum memesan, anda bisa melihat biaya yang harus anda bayar,
yang terdiri atas Biaya Perjalanan, Biaya Tambahan untuk tambahan
penumpang, serta Tip yang bisa anda tentukan sendiri. Walaupun tidak
disebutkan dalam tambahan biaya yang harus anda bayar, namun Bajaj App
juga menyediakan asuransi yang bisa memberikan ganti rugi hingga 1 Juta
Rupiah apabila anda mengalami kecelakaan lalu lintas ketika menggunakan
armada Bajaj milik Bajaj App. Menarik bukan?
Lalu bagaimana dengan si pengendara Bajaj itu sendiri, apa yang mereka
dapat? Layaknya pengendara Go-Jek, mereka kini bebas menentukan waktu
kerja dan tak harus menghamburkan bensin untuk berkeliling mencari
penumpang. Bahkan, untuk saat ini, pengendara Bajaj masih akan
mendapatkan 100% dari pendapatan mereka, Bajaj App tak akan memotong
penghasilan mereka sepeser pun. Bajaj App juga menjanjikan hadiah-hadiah
spesial setiap minggunya untuk pengendara Bajaj yang rajin mengangkut
penumpang.

Bagaimana Cara Menggunakan


Bajaj App?
Untuk menggunakan Bajaj App ini, caranya sangat mudah. Cukup download
saja aplikasinya lewat AppStore atau GooglePlay. Tampilan dari halaman
khusus Bajaj App bisa anda lihat di bawah ini.
Kemudian langsung buka aplikasi tersebut, dan daftarkan diri anda. Apabila
anda tidak mau repot-repot, gunakan saja fitur Log in With Facebook.
Setelah itu akan muncul halaman Pick Location di bawah ini. Anda harus
memasukkan titik penjemputan (From), dan lokasi yang dituju (To). Biaya
yang harus anda keluarkan langsung tertera di bagian bawah. Saya sendiri
mencoba untuk menggunakan Bajaj App dari Blok M ke Bundaran Hotel
Indonesia, ternyata perlu biaya sekitar 30 Ribu Rupiah. Tidak jauh lah dengan
ongkos Go-Jek di luar harga promo. Untuk melanjutkan, tekan tombol Next.
Setelah itu akan ada pilihan-pilihan tambahan seperti apakah si pengendara
harus bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris? Berapa jumlah
penumpang yang akan naik (maksimal 4 orang)? Dan apakah ada bawaan
yang harus diangkut? Selain itu ada juga kolom tip yang bisa anda masukkan
dengan nominal tertentu. Apabila anda tidak ingin memberikan tip, kosongkan
saja kolom tersebut. Kemudian tekan tombol Next.
Selanjutnya akan ada halaman Settle Payment, yang akan menjumlah
seluruh biaya yang harus anda keluarkan, plus biaya-biaya tambahan yang
tadi anda pilih.
Setelah itu, anda tinggal menunggu Bajaj App datang menjemput. Tapi ketika
saya mencoba, kebetulan saya tidak berhasil mendapatkan Bajaj yang
menjemput saya dengan cepat, sehingga saya memutuskan untuk
menggunakan moda transportasi yang lain. Ternyata, ketika saya sudah di
perjalanan, muncul pemberitahuan kalau sudah ada supir yang akan
menjemput saya seperti tampilan di bawah ini. Saya pun menyampaikan
pesan permintaan maaf kepada sang pengendara Bajaj lewat fitur Send
SMS. Lain kali akan saya coba lagi untuk merasakan berkendara dengan
Bajaj App ini.

Jakarta - Kemudahan dan kenyamanan dalam mengakses moda transportasi tentunya menjadi
dambaan bagi masyarakat Jakarta. Munculnya ojek online seakan menjadi oase di tengah karutmarutnya sistem transportasi Ibukota.
Tak bisa dipungkiri, hadirnya Go-Jek dan GrabBike telah membuka mata banyak pihak akan
pentingnya pemanfaatan teknologi bagi kehidupan sehari-hari. Fenomena itu pula yang coba
ditangkap oleh Organisasi Angkatan Darat (Organda) DKI untuk meluncurkan aplikasi bajaj bernama
"Bajaj App".
Organda DKI yang awalnya "teriak-teriak" soal ojek yang bukan merupakan moda transportasi
resmi, tampaknya gatal juga ingin merasakan manisnya keuntungan menggunakan aplikasi. Jadilah,
mereka menjiplak konsep ojek online untuk diterapkan kepada bajaj.
"Bajaj online ini dalam rangka mempercepat layanan dan memberi kepuasan kepada pelanggan.
Apalagi sekarang musim kemajuan Teknologi Informasi (TI)," ujar Ketua DPD Organda DKI,
Syafruhan.
Menurutnya, layanan online akan diberlakukan khusus untuk Bajaj Biru yang telah berbahan bakar
gas (BBG) dan merupakan keluaran terbaru. Bajaj tersebut dipilih karena lebih ramah lingkungan
dan cocok di Jakarta.
"Tarif ditetapkan setelah penumpang dan pengemudi negosiasi di lokasi. Bajaj kan termasuk
angkutan umum, bukan angkutan liar, sudah tercantum di UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan," kata Syafruhan yang optimistis aplikasi Bajaj App akan diresmikan
pekan depan.
Meskipun terlihat meyakinkan, menerapkan bajaj online dipercaya tak akan semudah membalikan
telapak tangan. Banyak halangan yang bakal dihadapi Organda DKI. Mulai dari terbatasnya rute
hingga permasalahan dengan bajaj pangkalan.
H. Sulwadi (66), pemilik pool Bajaj BBG di Jalan Bentengan I, Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan
Tanjung Priok, Jakarta Utara, menyatakan penerapan bajaj online akan jauh lebih sulit dan rumit
dibandingkan ojek online. Satu hal yang menonjol, lanjut Sulwadi, adalah terbatasnya trayek dan
bahan bakar gas.
"Nggak semudah itu. Bajaj kan banyak jalur yang nggak bisa dilewatin. Nggak kaya ojek yang masih
bisa lewat jalan protokol. Kalau bajaj ke Kuningan atau Gatot Subroto yang pusat perkantoran nggak
boleh," ujar pemilik 7 Bajaj BBG ini.
Hal yang tak kalah pelik adalah ketersedian bahan bakar gas yang akan berpengaruh terhadap jarak
tempuh bajaj. Sulwadi mengungkapkan sopir bajaj biasanya tak mau narik ke tempat yang jauh jika
bahan bakar gas mereka menipis.
"Kenapa? Karena mereka takut gasnya habis, mogok. Terutama kalau udah sore mereka maunya
narik yang deket-deket SPBG. Nggak gampang bawa bajaj karena SPBG bisa diitung sama jari di
Jakarta," katanya.
Jika bajaj online meluncur di jalanan Ibukota, Sulwadi juga memprediksi akan terjadi gesekan
dengan bajaj pangkalan layaknya yang dirasakan ojek online saat ini. Imbasnya, penumpang justru
tak merasa aman dan nyaman karena adanya kekisruhan tersebut. Hal lain yang harus dipikirkan
yakni mengenai jam operasional bajaj. Karena biasanya satu bajaj ditarik oleh dua sopir dalam
sehari.
Namun, Sulwadi tak menolak jika ketujuh bajajnya dimasukan ke dalam aplikasi Bajaj App. Yang
terpenting baginya, Organda DKI tetap menggunakan sistem setoran. "Asal (jumlah) setorannya

sama. Karena 90 persen bajaj di Jakarta itu pakai sistem setoran. Nggak kaya ojek yang dimiliki
pribadi. Cuma sedikit sopir bajaj yang punya bajaj sendiri," ujarnya

Memesan ojek atau taksi online via aplikasi Android bukan hal baru bagi
masyarakat Jabodetabek. Tetapi ada hal baru yang menjadi peluang tersendiri
bagi para pengemudi bajaj. Sebuah aplikasi bernama Bajaj App siap menandingi
aplikasi ojek dan taksi onlineyang tersohor di Jabodetabek.
Tentang Pengembangan Aplikasi Bajaj App
Aplikasi Bajaj App sudah mulai dikembangkan sejak Juni 2015. Fitur-fitur yang
disiapkan mirip dengan aplikasi ojek dan taksi online. Para calon penumpang
bisa memasukkan lokasi sekaligus destinasi yang ingin dicapai.
Patokan tarif Bajaj App berbeda dengan ojek dan taksi online. Selain
mempertimbangkan jarak tempuh, aplikasi ini juga memiliki sistem algoritma
untuk menetapkan tarif berdasarkan kondisi jalanan, cuaca dan waktu tempuh.
Salah satu keunikan Bajaj App adalah penambahan ongkos sebesar Rp 5.000
jika penumpangnya lebih dari satu atau membutuhkan bantuan untuk
mengangkat barang. Para penumpang juga bisa leluasa memberikan uang tip
kepada pengemudi bajaj dengan memanfaatkan fitur Tips pada Bajaj App.
Pihak pengembang Bajaj App mengklaim bahwa penggunaan bajaj sebagai
transportasi umum bisa mengurangi kemacetan. Karena ukuran bajaj lebih kecil
daripada mobil tetapi bisa mengangkut 2 hingga 3 orang penumpang sekaligus.
Bajaj App Masih Menghadapi Sejumlah Tantangan
Hingga pertengahan Januari 2016, Bajaj App sudah diunduh oleh lebih dari
10.000 pengguna Android di Indonesia. Para pengguna Bajaj App pun
memberikan masukan terhadap peningkatan kualitas aplikasi. Sistem deteksi
lokasi yang masih sering error serta tidak adanya pilihan Bahasa Indonesia
menjadi salah satu kekurangan Bajaj App yang patut diperbaiki.
Hingga akhir 2015 sudah terdapat 100 hingga 200 pengemudi bajaj yang
bergabung dengan Bajaj App. Meski pengemudi yang mendaftar berjumlah
ribuan, tim Bajaj App ingin lebih selektif dalam memilih pengemudi. Karena

pengemudi yang akan bergabung harus menguasai sistem aplikasi dengan baik
dan lancar. Kendala lainnya yang dihadapi Bajaj App adalah tidak adanya
perizinan untuk melintas di jalan protokol.
Apakah Bajaj App bisa membantu menata pengemudi bajaj menjadi lebih
terkendali dan siap beroperasi di jalan-jalan protokol Jabodetabek? Kita simak
saja perkembangan dari aplikasi unik ini dalam beberapa waktu ke depan.