Anda di halaman 1dari 8

Tacit Collusion

Latar Belakang
Hukum persaingan usaha mengenal dua bentuk collusion yaitu explicit collusion dan
tacit collusion. Explicit collusion melibatkan komunikasi langsung diantara para pelaku usaha
untuk membuat suatu collusive agreement. Sedangkan, dalam tacit collusion tidak diperlukan
sebuah komunikasi langsung. Biasanya di dalam tacit collusion bentuk komunikasi yang terjadi
di antara pelaku usaha adalah price signaling, yaitu pelaku usaha menaikan harga jual mereka
dengan harapan pelaku usaha lain akan mengikuti kenaikan harga tersebut sehingga terjadi
persamaan kenaikan harga diantara para pelaku usaha.
Pembahasan
Para ekonom menganalisis oligopoly menggunakan Game Theory. Untuk dapat
memahami game theory dibutuhkan beberapa pemahaman terhadap aturan dasar dan konsep dari
game theory itu sendiri. Di dalam game theory yang dimaksud dengan players adalah perusahaan
yang bersaingan, action atau moves yang mereka ambil di ibaratkan sebagai penetapan harga
atau penetapan kuantitas, informasi yang dimiliki oleh para pemain mengenai lingkungannya
diibaratkan sebagai kurva permintaan terhadap produk yang dijual, pemain lain diibaratkan
sebagai tindakan para pelaku usaha, payoffs yang didapatkan oleh pemain yang didapat dari
tindakan semua pemain diibaratkan sebagai profit, equilibrium concept yang mengindikasin
action yang akan memberikan payoffs paling banyak dan yang akan menentukan hasil dari
permainan. Permainan dilakukan melalui dua cara yaitu one-shot games, yang dimainkan satu
kali dan repeated games yaitu one-shot games yang dimainkan secara berkali-kali sehingga
menimbulkan berbagai macam kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan tersebut lah yang
mengakibatkan munculnya berbagai macam bentuk oligopoly menurut para ekonom.
Kunci dari equilibrium concept di dalam oligolopy adalah Nash, non-cooperative
equilibrium. Nash mendefinisikan equilibrium yang dimaksud adalah sebuah rangkaian tindakan
yang diambil oleh para pemain yang dimana para pemain tersebut tidak memiliki keuntungan
untuk mengganti tindakannya terhadap tindakan yang diambil oleh pemain lain.

Dalam berbagai mecam bentuk pasar oligopoly sangat besar kemungkinan terjadinya
collusion diantara para pelaku usaha. Collusion yang dimaksud adalah

Pendapat para ahli:


1. Edward Chamberlin:
When there are only two or a few sellers, their fortunes are not independent. Each is
Forced by the situation itself to take into account the policy of his rival in determining his
own, and this cannot be constructed as a tacit agreement between the two1.
[Terjemahan Bebas] Ketika hanya ada dua atau beberapa penjual, untuk mengambil
sebuah keputusan tidak dapat dilakukan sendiri. Setiap pelaku usaha dipaksa untuk
melihat kebijakan pelaku usaha pesaing untuk menentukan kebijakan mereka sendiri, dan
hal seperti ini tidak dapat disebut sebagai tacit agreement diantara mereka berdua.
A monopoly price for any fairly small number of sellers, because no competitor has any
incentive to cut price below the monopoly level, realizing his own move has a
considerable effect upon his competitors, and that this makes it idle to suppose that they
will accept without retaliation the losses he forces upon them2
[Terjemahan Bebas] Para pelaku usaha yang dalam jumlah kecil memberlakukan harga
monopoli, karena tidak ada pelaku usaha yang memiliki keuntungan apabila
memberlakukan harga di bawah harga monopoli, karena mereka menyadari tindakan
yang mereka lakukan akan memiliki dampak terhadap para kompetitornya, sehingga
sungguh sia-sia jika berfikir bahwa para pesaingnya akan mengikuti harga yang
diberlakukan tanpa adanya perlawanan dari kerugian yang diakibatkan olehnya.
2. Fellner:
Spontaneous Coordination was not merely a possible outcome in oligopoly, but rather
the almost inevitable outcome. To legislate against oligopoly and against quasi1 Gregory J. Werden, Economic Evidence on The Existence of Collusion: Reconciling
Antitrust Law with Oligopoly Theory, (Antitrust Law Journal, Vol. 71, No. 3, 2004),
hlm. 725.
2 Ibid.,

agreements is less promising than some optimists may have believed. Not much is gained
by trying to force a group of oligopolists to behave as if they were not aware of their
individual influence on each others policies3
[Terjemahan Bebas] Spontaneous Coordination bukan hanya mungkin dapat terjadi di
dalam pasar oligopoly namun sudah pasti tidak dapat dihindarkan. Untuk me-legislate
oligopoly dan melawan quasi-agreements merupakan hal yang sulit. Tidak banyak hal
tersebut didapat dengan memaksa para oligopolist untuk bersikap seolah-olah tidak
mengetahui pengaruh mereka di dalam mempengaruhi kebijakan pelaku usaha
pesaingnya.
3. Brooke Group Ltd. v. Brown & Williamson Tobacco Corp., 509 U.S. 209, 227 (1993)
Tacit collusion, sometimes called oligopolistic price coordination or conscious
paralellism, describes the process, not in itself unlawful, by which firms in a concentrated
market might in effect share monopoly power, setting their prices at a profit-maximizing,
supracompetitive level by recognizing their shared economic interests and their
interdependence with respect to price and output decisions
[Terjemahan Bebas] Tacit Collusion terkadang disebut oligopolistic price coordination
atau conscious paralellism, tidak dengan sendirinya merupakan perbuatan melawan
hukum, yang dimana sebuah pelaku usaha dalam suatu pasar terkonsentrasi membagi
kekuatan monopoli, membuat harga untuk mencapai keuntungan maksimum, persaingan
usaha yang tinggi dengan mengetahui kepentingan ekonomi dan ketergantungan terhadap
harga dan keputusan pengeluaran.
Edward J. Green, Robert C. Marshall, and Leslie M. Marx August 20, 2013 Tacit Collusion in
Oligopoly
4. Green and Porter:
It is logically possible for this agreement to be a tacit one which arises spontaneously.
Nevertheless, in view of the relative complexity of the conduct to be specified by this
particular equilibrium and of the need for close coordination among its participants, it
seems natural to assume here that equilibrium arises from an explicit agreement (Green
and Porter, 1984, p.89, n.5)
[Terjemahan Bebas] Merupakan sebuah hal yang logis apabila sebuah perjanjian disebut
diam-diam dikarenakan muncul secara spontan. Namun, dalam pandangan relative
3 Ibid., hlm. 726.

complexity dari pembentukan perjanjian tersebut melalui keadaan keseimbangan khusus


dan kebutuhan kordinasi dari para pelaku, maka patut diduga bahwa keseimbangan
tersebut dicapai melalui explicit agreement.
Menurut Green walaupun pada tahap implementasi tidak dibutuhkan communication namun
dalam tahap inisiasi dibutuhkan communication (Explicit Agreement)

Joseph E. Harrington, Jr. Department of Economics Johns Hopkins University. Wei Zhao,
Department of Economics Johns Hopkins University. Signaling and Tacit Collusion in an
Infinetely Repeated Prisoners Dilemma
5. Harrington and Zhao:
Tacit collusion is coordination without express communication. A common form of tacit
collusion is indirect communication through price signalling: A firm raises its price with
the hope that other firms will interpret this move as an invitation to collude and respond
by matching the price increase4
[Terjemahan Bebas] Tacit collusion merupakan sebuah kordinasi tanpa komunikasi secara
langsung. Bentuk yang paling umum dari tacit collusion adalah komunikasi tidak
langsung melalui price signalling, seorang pelaku usaha menaikan harga jual dengan
harapan pelaku usaha lain akan memahami hal tersebut sebagai ajakan untuk berkolusi
dan merespon dengan mengikuti kenaikan harga.
6. Judge Richard Posner:
Section 1 of the Sherman Act forbids contracts, combinations, or conspiracies in restrain
trade. This statutory languange is broad enough to encommpass a purey tacit agreement
to fix prices, that is, an agreement made without any actual communication among the
4 Joseph Harrington dan Wei Zhao, Signaling and Tacit Collusion in an Infinitely
Repeated Prisoners Dilemma, (May 2011) hlm. 2.

parties to the agreement. If a firm raises price in the expectation that its competitors will
do likewise, and they do, the firms behavior can be conceptualized as the offer of a
unilateral contract that the offereees accept by raising their prices5.
Teori mengenai Tacit Collusion ini sering digunakan oleh KPPU didalam membongkar kasuskasus kartel maupun kasus penetapan harga. Hal tersebut dapat terlihat di dalam beberapa
putusan-putusan KPPU antara lain:
1. Putusan KPPU Nomor: 07/KPPU-L/2007 (Putusan Temasek)
Tacit Collusion ditemukan di halaman 87 putusan. Menurut KPPU:
102. Secara umum, harga ritel pascabayar meningkat, padahal jumlah subscribers
mengalami peningkatan yang begitu signifikan. Dengan konsep economic of scale, maka
hal ini mencerminkan perkembangan margin yang sangat tinggi bagi para operator.
Fenomena ini sangat menarik karena seolah-olah tidak ada persaingan dalam
memperebutkan konsumen, tidak ada yang bersaing melalui penurunan harga. Bila
perusahaan-perusahaan tersebut bersufat kompetiti, maka setiap perusahaan akan
berusaha menurunkan harga sebagai faktor yang paling signifikan dalam merebut
konsumen dari pesaingnya.
103. Menurut Price-Leadership Model, suatu perusahaan dominan berperan sebagai
penentu harga sementara perusahaan lain mengikuti perubahan harga tersebut. Hal ini
akan terjadi jika perusahaan foloower tidak mempunyai keberanian untuk bersaing
dalam harga-karena skala ekonomi yang relatif tidak kompetitif. Price-Leadership ini
merupakan suatu bentuk dari tacit collusion yang akan berimbas mirip dengan kartel
terhadap konsumen namun terjadi tanpa perjanjian antara kedua belah pihak, dan
murni karena strategi follower yang mendapatkan keuntungan optimal dengan
mengikuti harga perusahaan dominan
Kemudian ditemukan pula mengenai Tacit Collusion di dalam pembelaan terlapor, yaitu
pada halaman 190 putusan, menurut KPPU:
224. KPPU kemudian, menuduh bahwa Telkomsel merupakan pemimpin harga tersebut.
Dalam kesimpulannya, KPPU memberikan alasan-alasan berikut:
a) Telkomsel memiliki (i) Pangsa pasar yang terbesar dalam pasar terkait sejak 2001;
(ii) Jaringan BTS yang paling luas: dan (iii) Pendapatan rata-rata terbesar diantara
Indosat, Excelcomindo dan Telkomsel untuk periode 2001-2006.
5 In Re High Fructose Corn Syrup Antitrust Litigation Appeal of A&B Bettling Inc et
al, United States Court of Appeals, Seventh Cisrcuit, 295 F3d 651, 2002; p. 2.

b) Perbandingan harga antara Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo dan analisa pola
tarif,

keduanya

memperlihatkan

adanya

paralel

harga

(price-paralellism).

Khususnya, Indosat dan Excelcomindo mengikuti perubahan harga yang ditetapkan


Telkomsel dalam pasar pasca bayar.
c) Untuk itu Telkomsel meupakan pemimpin harga dimana Indosat dan Excelcomindo
tidak memiliki kemampuan untuk berkompetisi dibidang harga. Secara efektif,
terdapat kolusi diam-diam diantara ketiga operator yang efeknya serupa dengan
kartel yang mendominasi pasar.
2. Putusan Minyak goreng
Dalam putusan kartel minyak goreng ditemukan penerapan teori tacit collusion yang
menggunakan istilah price signaling yang dilakukan oleh market leader kepara market
follower. Di dalam putusan tersebut di jabarkan dalam halaman 38-39 putusan, menurut
KPPU:
8.4.7 Transparansi dan Pertukaran Informasi Harga Minyak Goreng
Sebagaimana telah diuraikan pada fakta hasil pemeriksaan bahwa terdapat
hubungan harga CPO di beberapa institusi (Rotterdam, Malaysia, Tendr KPB,
dan Tender PT Astra Agro Lestari) dengan harga minyak goreng yang ditetapkan
oleh para Terlapor. Hal tersebut terjadi karena setiap transaksi minyak goreng
yang dilakukan oleh para Terlapor selalu mempertimbangkan pergerakan harga
CPO di beberapa institusi tersebut. Transparansi harga bahan baku minyak
goreng dan didukung oleh transparansi harga jual minyak goreng terutama
minyak goreng curah di pasar sangat memudahkan bagi perusahaan market
leader untuk melakukan koordinasi harga jual. Pergerakan harga CPO dan
fluktuasi harga minyak goreng yang ada di pasar digunakan oleh para
perusahaan baik yang memiliki posisi market leader maupun follower sebagai
sinyal harga (price signaling).
Khusus untuk minyak goreng kemasan, pola distribusi dari semua minyak goreng
kemasan salah satunya dilakukan melalui ritel modern yang tersebar di seluruh
Indonesia. Sehingga perusahaan minyak goreng kemasan melakukan penyesuaian
harga berkala melalui media promosi yang dikeluarkan oleh retail modern.
Media promosi dari retail modern ini diiklankan di media nasional sehingga
memberikan sinyal kepada perusahaan pesaing dalam menyesuaikan harga.

Sedangkan untuk perusahaan follower, akan menyesuaikan harga sesuai dengan


harga yang ditetapkan oleh perusahaan market leader.
Majelis dalam pertimbangannya menjelaskan bahwa dalam perkara tersebut yang
merupakan indirect evidence adalah komunikasi langsung. Menurut majelis:
2.2.1. Bukti Komunikasi (communication evidence)
Bukti komunikasi dapat berupa fakta adanya pertemuan dan/atau komunikasi
antar pesaing meskipun tidak terdapat substansi dari pertemuan dan/atau
komunikasi tersebut. Dalam perkara ini, pertemuan dan/atau komunikasi baik
secara langsung maupun tidak langsung dilakukan oleh para Terlapor pada
tanggal 29 Februari 2008 dan tanggal 9 Februari 2009. Bahkan dalam
pertemuan dan/atau komunikasi tersebut dibahas antara lain mengenai harga,
kapasitas produksi, dan struktur biaya produksi; (vide C23.3,C23.6)
Kemudian menurut majelis price signaling yang merupakan salah satu bentuk tacit
collusion masuk kedalam Facilitating Practices untuk Price Paralellism. Menurut majelis:
2.2.3. Facilitating Practices yang dilakukan melalui price signaling dalam kegiatan
promosi dalam waktu yang tidak bersamaan serta pertemuan-pertemuan atau
komunikasi antar pesaing melalui asosiasi (vide B26-B29, B34, B39, B41-B43)
3. Putusan Kartel SMS
Dalam pertimbangannya, majelis komisi menggambarkan adanya sebuah tacit collusion
yaitu walaupun perjanjian yang mencantumkan kalusul penetapan harga SMS telah
diamandemen sehingga secara formil tidak ada lagi kalusula penetapan harga, namun komisi
menilai secara materil kartel penetapan harga tetap efektif berlaku. Menurut majelis komisi:
5.5.2.36 Bahwa meskipun perjanjian yang mencantumkan klausul penetapan tersebut
telah diamandemen sehingga secara formil sudah tidak ada laki PKS
Interkoneksi yang mencantumkan kalusula penetapan harga, namun Majelis
Komisi menilai bahwa secara materil, kartel/penetapan harga tersbut masih
efektif berlaku. Hal ini terbukti dari penurunan harga SMS baru terjadi setelah
Pemerintah melalui Ditjen Postel mengumumkan penurunan harga interkoneksi
pada 1 April 2008;

Kesimpulan
Sehingga berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa tacit collusion merupakan
sebuah hal yang tidak dapat dihindarkan di dalam sebuah pasar oligopoly. Tacit collusion sendiri

tidak semata-mata merupakan sebuah pelanggaran hukum, karena di dalam pasar oligopoly para
pelaku usaha membagi pasar mereka dan masing-masing pelaku usaha berusaha untuk mencapai
keuntungan maksimal.

1. Apakah tacit harus di oligopoly


2. Cari jenis2 tacit kolusion yg terjadi di kppu?
3. Bagaimana kondisi dapat dikatakan sebagai tacit collusion?