Anda di halaman 1dari 4

ringkasan materi kelompok 4

nama anggota :
Natalia damanik (A1C114006)
Della Novtasya AP (A1C114007)
Siti Marhamah (A1C114010)
Hiskia irfan manulang (A1C114028)
Dian indah lestari (A1C114038)

1. Faktor yang mempengaruhi reaksi polimerisasi


A. Suhu
Suhu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi reaksi polimerisasi
dari suatu senyawa dari beberapa jurnal yang ada, terdapat kesimpulan
berikut :

a. Setelah proses menggoreng dengan cara deep frying (suhu tinggi dan waktu yang
lama) terlihat adanya hubungan terbalik antara kadar asam lemak elaidat (trans)
dan asam oleat (cis) dengan nilai p <0,05. Pembentukan asam lemak trans terjadi
setelah proses penggorengan minyak pada pengulangan kedua(sartika, MAKARA,
SAINS, VOL. 13, NO. 1, APRIL 2009: 23-28).
b. Berdasarkan hasil penelitian, derajat polimerisasi yang dihasilkan berbanding lurus
dengan suhu reaksi alkoholisis. Derajat polimerisasi tertinggi didapat pada suhu
alkoholisis 260 o C dan pada suhu esterifikasi 180o C sebesar 1,418(Jayanudin,
ISSN 1693 4393).
c. Reaksi polimerisasi dipengaruhi oleh suhu reaksi, konsentrasi awal monomer.
Semakin tinggi suhu, laju reaksi polimerisasi akan bertambah cepat, hal ini
ditandai dengan kenaikan konversi akrilamid; Semakin besar konsentrasi
monomer maka konversi akrilamid semakin besar.Semakin tinggi suhu maka
semakin besar nilai berat molekul rata-rata poliakrilamid; Semakin besar
konsentrasi monomer, berat molekul rata-rata polikrilamid semakin
besarPengaruh variasi suhu pada kisaran 40 70oC diperoleh polimer dengan
berat molekul rata-rata poliakrilamid 87987,2 154885,6 gr/mol; Pengaruh variasi
konsentrasi monomer kisaran 1025 gr dalam 200 ml pelarut diperoleh berat
molekul rata-rata polimer 101738,1 89926,7 gr/mol
Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu reaksi maka akan semakin cepat
reaksi itu berjalan
B. Tekanan
Tekanan meningkat maka laju reaksi polimerisasi juga akan meningkat, hal ini
disebabkan oleh meningkatnya jumlah tumbukan antara pusat aktif dan monomer.
Meningkatkan tekanan memungkinkan suhu polimerisasi yang lebih rendah, karena
produksi polimer dengan massa molekul yang lebih tinggi. Polimerisasi butadiena
membutuhkan waktu selama 46 jam (95 persen konversi) pada tekanan 7.000 atm dan
suhu 48C, dan hanya 19 jam pada tekanan yang sama dan suhu 61 C, tetapi pada 1

atm dibutuhkan waktu yang sangat lama (dengan tidak adanya katalis). Namun,
penggunaan tekanan tinggi untuk polimerisasi harus selalu dipertimbangkan dalam
pemilihan katalis. Dengan demikian, polietilensebelumnya dapat diproduksi pada
tekanan 1000-2000 atm (polietilen bertekanan tinggi), sekarang dapat diperoleh
dengan metode Zeigler melibatkan penggunaan trietilaluminium dan titanium klorida
sebagai katalis pada tekanan rendah (polietilen tekanan rendah).
C. Katalis
Katalis atau katalisator adalah salah satu komponen yang mandukun jalannya suatu
reaksi agar semakin cepat namun tidak ikut bereaksi didalamnya. Lalu bagaimana
denan reaksi polimerisasi?, apakah katalis dipakai?
Pada reaksi yang memakai katalisator terutama pada polimerisasi cenderung bakan
lebih stabil dan cepat berreaksi namun jika tidak ada maka reaksi akan bisa berjalan
namun lambat atau tidak berjalan sama sekalli
2. Reaksi polimerisasi kondensasi
Polimer kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer yang
sama atau monomer yang berbeda. Dalam polimerisasi kondensasi kadang-kadang
disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti H2O, NH3, atau HCl.Pada
polimerisasi kondensasi, monomer-monomer saling berkaitan dengan melepas
molekul kecil, seperti H2O dan metanol. Polimerisasi ini terjadi pada monomer yang
mempunyai gugus fungsi pada kedua ujung rantainya. Di dalam jenis reaksi
polimerisasi yang kedua ini, monomer-monomer bereaksi secara adisi untuk
membentuk rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru yang dibentuk akan
bersamaan dengan dihasilkannya suatu molekul kecil biasanya air dari atom-atom
monomer. Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus mempunyai dua gugus
fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke unit lainnya dari rantai
tersebut. Jenis reaksi polimerisasi ini disebut reaksi kondensasi. Dalam polimerisasi
kondensasi, suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer bergabung dengan gugusOH dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk air.
Polikondensasi asam dikarboksilat dengan aromatik dihidrit fenol, hydroquin,
resokinol atau phenolpthalein, akan menghasilkan poliakrilat :
nHOOCRCOOH + nHOArOR ...OArOCRCO...
O
Polikondensasi asam dikarboksilat dengan aromatik diamina dapat menghasilkan
panas

dalam

pembentukan

polimer.

Misalnya,

ketika

asam

isoftalat

klorida

menglamipolikondensasikan dengan m-phenilenadiamina terbentuk polimer yang disebut


poliphenilon :
Polikondensasi senyawa dengan fungsionalitas tiga atau lebih dengan penambahan
reagen khusus (harseners) untuk membentuk ikatan silang dalam struktur polimer tiga
dimensi. Sebuah contoh khas dari polikondensasi alkohol trihidrik dengan asam dikarboksilat
adalah polikondensasi gliserol dan asam phthalik :
Sebuah contoh sederhana pembentukan polimer dengan struktur tiga dimensi adalah
polikondensasi fenol dengan aldehida. Reaksi fenol dengan formaldehid menghasilkan
struktur polimer yang bercabang dengan massa molekulnya rendah, yang dikenal sebagai
resol:
dengan pemanasan lebih lanjut maka dihasilkan resitol, yang memiliki struktur tiga dimensi
dengan kepadatan polimernya yang rendah :
Tahap akhir dari proses ini adalah pembentukan resites, dengan kepadatan polimernya yang
tinggi :
Urea dan melamin dapat dihasilkan dengan reaksi serupa seperti diatas.
2.1 Syarat dari prosespolikondensasi
Polikondensasi merupakan reaksi reversibel. Ini berarti bahwa dua proses terjadi
secara simultan, yaitu kondensasi dan degradasi.
Degradasi dapat disebabkan oleh gugus fungsi dari monomer atau disebabkan oleh interaksi
dari reaksi kondensasi dengan massa molekul yang rendah (H 2O, HCl, dll).Karena prosesnya
reversibel maka polikondensasi dapat dicapai pada kondisi tertentu sesuai dengan
pembentukan produk polimer dengan massa molekul tertentu.Sebagai aturan, produk
polikondensasi memiliki massa molekul rendah (20,000-50,000) dibandingkan produk
polimerisasi.
Untuk mendapatkan polimer dengan massa molekul yang lebih tinggi maka dapat
menghilangkan produk dari sistem dan menggunakan rasio yang setara dengan gugus
fungsional. Kelebihan dari salah satu reaktan selalu menghasilkan pembentukan produk
dengan massa molekul yang rendah. Misalnya, ketika fenol atau kresol bereaksi dengan
aldehida dalam 10 kali lipat melebihi fenol, satu-satunya produk yang terbentuk adalah
dihidroksifenilmetana (ada

produk dengan massal

molekul tinggi). Gambar

2.1

menggambarkan pengaruh kelebihan senyawa yang bereaksi pada massa molekul polimer.
Reaksi polikondensasi dapat dilakukan dengan menggunakan monomer dalam
keadaan cair, larutan, emulsi, suspensi, dalam fase padat, atau pada permukaan antara dua
fase, atau denganada atau tidaknya katalis.Jika senyawa polimernya stabil pada titik leleh

yang rendah, maka proses polikondensasi dapat dilakukan dalam keadaan mencair dengan
suhu 200-300C. Untuk mengurangi terjadinya reaksi samping (oksidasi, degradasi,
dekarboksilasi, dll), proses ini dilakukan dalam suasana gas dengan menggunakan gas inert
dan biasanya diperlukan vakum (untuk menghasilkan produk yang murni).
Untuk melaksanakan polikondensasi pada permukaan antara dua fase (polikondensasi
antarmuka), reaktan dilarutkan secara terpisah dalam dua cairan yang tidak saling bercampur.
Sebagai aturan, salah satu cairan air dan zat organik. Biasanya salah satu reaktan adalah
diklorida dari asam dikarboksilat, dan yang lainnya sebuah diamina, diol, dll. Ketika cairan
bersentuhan, terbentuk polimer pada antarmuka, sedangkan dengan produk yang larut dalam
salah satu cairan dapat menghilangkan polimer antarmuka. Hal ini membuat proses
polikondensasi antarmuka irreversibel, sehingga zat dua fungsional tidak perlu diamati.
Dengan menggunakan polikondensasi antarmuka yang linear dapat diperolehpolimer dengan
massa molekul yang relatif tinggi (setinggi 500.000). Film polimer terbentuk pada antarmuka
akan dihilangkan secara terus menerus.