Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHUUAN

A. KONSEP TEORI
1. Pengertian
Laparatomi adalah insisi pembedahan melalui dinding perut atau abdomen.
Laparatomi adalah operasi yang dilakukan untuk membuka abdomen (bagian
perut) Indikasi. Tindakan laparatomi biasa dipertimbangkan atas indikasi:
appendicitis, hernia, kista ovarium, kanker serviks, kanker ovarium, kanker tuba
falopi, kanker uterus, kanker hati, kanker lambung, kanker kolon, kanker kandung
kemih, kehamilan ektopik, mioma uteri, peritonitis dan pangkreas.
Laparatomi terdiri dari beberapa jenis. Salah satu jenis laparatomi adalah
histerektomi. Histeroktomi merupakan suatu tindakan penanganan untuk
mengatasi kelainan atau gangguan organ atau fungsi reproduksi yang terjadi pada
wanita. Dengan demikian, tindakan ini merupakan keputusan akhir dari
penanganan kelainan atau gangguan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.
Namun tindakan ini sangat berpengaruh terhadap system reproduksi wanita.
Diangkatnya rahim, tidak atau dengan saluran telur atau indung telur akan
mengakibatkan perubahan pada system reproduksi wanita, seperti tidak bisa
hamil, haid dan perubahan hormone.
Histerektomi adalah operasi pengangkatan kandungan (rahim,uterus) pada
seorang wanita, sehingga setelah menjalani ini dia tidak bisa lagi hamil dan
mempunyai anak. Histerektomi biasanya disarankan oleh dokter untuk dilakukan
karena berbagai alasan. Salah satu alasan dilakukannya tindak histerektomi adalah
cyste ovarii. Kista ovarium merupakan salah satu tumor jinak ginekologi yang
paling sering dijumpai pada wanita di masa reproduksinya. Kista ovarium adalah
suatu kantong berisi cairan seperti balon berisi air yang terdapat di ovarium. Kista
ovarium adalah tumor ovarium yang bersifat neoplastik dan non neoplastik. Kista
ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar, kistik atau padat,
jinak atau ganas yang berada di ovarium. Dalam kehamilan tumor ovarium yang
paling sering dijumpai ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor

Ovarium yang cukup besar dapat menyebabkn kelainan letak janin dalam rahim
atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala kedalam panggul.
2. Indikasi
Indikasi histerektomi adalah sebagai berikut :
b. Leiomioma uteri
Merupakan indikasi histerektomi tersering. Intervensi bedah biasanya
diindikasikan pada uterus yang berukuran 12-14 minggu atau lebih. Indikasi
lain

adalah

jika

terdapat

peningkatan

ukuran

tumor

secara

cepat pada wanita premenopause. Indikasi lainnya apabila terdapat


menometrorgia berat yang menyebabkan anemia, nyeri akibat torsi
c.

mioma,dan penekanan pada pelvis.


Prolaps uteri
Menjadi indikasi histerektomi jika timbul keluhan atau terdapat ulserasi pada

d.

permukaan uterus yang prolaps.


Keganasan
Kanker endometrial uterus merupakan indikasi mutlak histerektomi.Indikasi
lain histerektomi adalah hiperplasia endometrial dengan atipia yang
merupakan prekursor dari keganasan endometrial kanker ovarium diatas

e.
f.
g.

stadium satu.
Endometriosis
Terutama pada pasien yang sudah tidak mengharapkan kehamilan lagi.
Dysfunctional Uterine Bleeding
Terutama pada pasien yang gagal diterapi secara hormonal.
Infeksi pelvis
Jarang dilakukan. Terutama dilakukan pada pasien yang sudah
tidak menginginkan kehamilan lagi / pada infeksi uterin puerperal yang

h.

tidak dapat dikontrol secara konservatif.


Masalah obstetrik
Histerektomi diindikasikan kepada pasien yang mengalami perdarahan yang

i.

tidak terkontrol setelah aborsi / seksio secarea atau infeksi berat.


Pengangkatan ovarium
Jika kedua ovarium perlu diangkat pada wanita usia lanjut sebaiknya
dilakukan pengangkatan uterus karena sudah tidak lagi memiliki fungsi dan
berisiko menimbulkan penyakit.
3. Peralatan
Peralatan operasi untuk histerektomi adalah sebagai berikut :

Klem lurus arteri

Set jarun

Klem bengkok/klem arteri

Benang cromic dan benang side

Pinset anatomis

Cucing

Pinset cirugis

Kanul suction

Bengkok

Ring klem (spong forceps)

Scalpel

Needle holder

Kom besar

Gunting benang

Gunting jaringan

Hak kecil

Mess no 20

Gunting metzenbum

Gunting mayo untuk jaringan

S hak (untuk melindungi bladder)

kasar

Kelly Retraktor (untuk

Kocher

melebarkan lapang operasi)

Histerectomy klem

Miculicz klem

Kanul suction

Tissue forceps

Selang suction

Couter set

Mono polar

Patient plate

Mesin suction

Towel klem

4. Teknik Operasi Histerektomi


Pilihan teknik pembedahan tergantung pada indikasi pengangkatan uterus,
ukuran uterus, lebarnya vagina, dan juga kondisi pendukung lainnya. Lesi
prekanker dari serviks, uterus, dan kanker ovarium biasanya dilakukan
histerektomi abdominal, sedangkan pada leimioma uteri, dilakukan histerektomi
abdominal jika ukuran tumor tidak memungkinkan diangkat melalui histerektomi
vaginal.
a.

Histerektomi abdominal

Pengangkatan kandungan dilakukan melalui irisan pada perut, baik


irisan vertikal maupun horisontal (Pfanenstiel). Keuntungan teknik ini
adalah dokter yang melakukan operasi dapat melihat dengan leluasa
uterus dan jaringan sekitarnya dan mempunyai cukup ruang untuk
melakukan pengangkatan uterus. Cara ini biasanya dilakukan pada
mioma yang berukuran besar atau terdapat kanker pada uterus.
Kekurangannya, teknik ini biasanya menimbulkan rasa nyeri yang lebih
berat, menyebabkan masa pemulihan yang lebih panjang, serta
menimbulkan jaringan parut yang lebih banyak.
b.

Histerektomi vaginal
Dilakukan melalui irisan kecil pada bagian atas vagina. Melalui irisan
tersebut, uterus dipisahkan dari jaringan dan pembuluh darah di
sekitarnya kemudian dikeluarkan melalui vagina. Prosedur ini biasanya
digunakan pada

prolapsus uteri. Kelebihan tindakan ini adalah

kesembuhan lebih cepat, sedikit nyeri, dan tidak ada jaringan parut yang
tampak.
c. Histerektomi laparaskop
Teknik ini ada dua macam yaitu histeroktomi vagina yang dibantu
laparoskop (laparoscopically assisted vaginal hysterectomy, LAVH) dan
histerektomi supraservikal laparoskopi (laparoscopic supracervical
hysterectomy, LSH). LAVH mirip dengan histerektomi vagnal, hanya
saja dibantu oleh laparoskop yang dimasukkan melalui irisan kecil di
perut untuk melihat uterus dan jaringan sekitarnya serta untuk
membebaskan uterus dari jaringan sekitarnya. LSH tidak menggunakan
irisan pada bagian atas vagina, tetapi hanya irisan pada perut. Melalui
irisan tersebut laparoskop dimasukkan. Uterus kemudian dipotongpotong menjadi bagian kecil agar dapat keluar melalui lubang
laparoskop. Kedua teknik ini hanya menimbulkan sedikit nyeri,
pemulihan yang lebih cepat, serta sedikit jaringan parut.
Tindakan

pengangkatan

rahim

menggunakan

laparoskopi

dilakukan menggunakan anestesi (pembiusan) umum atau total. Waktu

yang diperlukan bervariasi tergantung beratnya penyakit, berkisar


antara 40 menit hingga tiga jam. Pada kasus keganasan stadium awal,
tindakan histerektomi radikal dapat pula dilakukan menggunakan
laparoskopi. Untuk ini diperlukan waktu operasi yang relatif lebih lama.
Apabila dilakukan histerektomi subtotal, maka jaringan rahim
dikeluarkan menggunakan alat khusus yang disebut morcellator
sehingga dapat dikeluarkan melalui llubang 10 mm. Apabila dilakukan
histerektomi total, maka jaringan rahim dikeluarkan melalui vagina,
kemudian vagina dijahit kembali. Operasi dilakukan umumnya
menggunkan empat lubang kecil berukuran 5 10 mm, satu di pusar dan
tiga di perut bagian bawah.
5. Persiapan histerektomi
a.

Persiapan Pre Operasi 1 hari sebelum operasi


1) Persiapan urogenital
Dilakukan pengosongan kandung kemih dengan kateterisasi kandung
kemih.
2) Obat-obat Premedikal
Yaitu penyuntikan pengantar pada penderita yang sudah ditentukan
oleh ahli bius
3) Bahan yang harus dibawa bersama pasien ke kamar operasi
a) Status klien
a) Hasil-hasil laboratorium
4) Persiapan psikologis
a) Pasien dan keluarga perlu diberi kesempatan bertanya mengenai
fungsi reproduksi dan seksnya.
b) Beri penjelasan tentang operasi histerektomi yang akan
dilakukannya.
5) Hal-hal yang perlu diperhatikan
a) Cek gelang identitas
a) Lepas tusuk konde, wig, tutup kepala dengan mitella.
b) Lepaskan perhiasan, cincin, dan jam tangan
b) Bersihkan cat kuku
c) Lepaskan kontak lens
d) Alat bantu pendengaran dapat dipasang bila pasien tidak dapat
mendengarkan tanpa alat.

e) Pasang kaos kaki anti emboli bila pasien resiko tingi terhadap
syok.
f) Ganti pakaian operasi
6) Transportasi ke kamar operasi
Perawat menerima status pasien, memeriksa gelang pengenal,
menandatangani inform concent, pasien dilindungi dari kedinginan
dengan memberi selimut katun.
b. Persiapan Operasi
1) Inform Concent
Surat persetujuan kepada pasien dan keluarga mengenai
pemeriksaan sebelum operasi, alasan, tujuan, jenis operasi,
keuntungan dan kerugian operasi.
2) Puasa
Pada operasi kecil, tidak perlu ada perawatan khusus. Hanya
perlu puasa beberapa jam sebelum operasi dan makan makanan
ringan yang mudah dicerna malam hari sebelumnya. Pada
operasi besar, pada hari akan dilakukan operasi, pasien hanya
mendapatkan terapi cairan saja. Pada persiapan praoperatif
penderita malnutrisi, juga diberikan hiperalimentasi per oral atau
intravena.
3) Persiapan usus, persiapan usus praoperatif berguna untuk hal-hal
berikut:
a) Pengurangan isi gastrontestinal memberi ruang tambahan
pada pelvis dan abdomen sehingga memperluas lapangan
operasi.
b) Pengurangan jumlah flora patogen pada usus menurunkan
resiko infeksi pascaoperasi. Cedera usus saat pembedahan
tidak selalu berhasil untuk dihindari, terutama sering terjadi
pada

pasien

yang

menjalani

operasi

karsinoma,

endometriosis, penyakit peradangan pelvis, pasien dengan


prosedur pembedahan berulang atau penyakit peradangan
usus.
4) Persiapan kulit
Persiapan kulit

disarankan

untuk

dilakukan

pada

area

pembedahan, bukan karena takut terjadi kontaminasi, akan tetapi

lebih karea alasan teknis. Pasien dicukur hanya pada area


disekitar insisi. Pencukuran sebaiknya dilakukan segera sebelum
operasi, untuk mengurangi resiko infeksi pasca operasi.
Membersihkan kulit dengan sabun antiseptic pada malam hari
sebelum operasi atau pagi hari dapat mengurangi frekuensi
infeksi luka pascaoperasi.
5) Persiapan vagina
Apabila terdapat infeksi vagina, sebaiknya diterapi sebelum
operasi. Vaginosis bacterial dapat diterapi dengan metrodinazole
atau krim klindamisin 2%. Pada wanita pasca menopause
dengan atrofi mucosa vagina, krim estrogen meningkatkan
penyembuhan luka setelah operasi vagina. Segera sebelum
operasi, vagina dibersihkan dengan larutan antisepsis, seperti
iodine PVB, chlorhexidine atau octenidindil-hydricloride.
6) Persiapan kandung kencing dan ureter
Segera sebelum pemeriksaan di bawah anestesi,kandung
kencing dikosngkan dengan kateterisasi. Jik akan dilakukan
operasi denga durasi lama, sebelumnya dipasang kateter folley.
6.

Prosedur Histerektomi
Histerektomi dapat dilakukan melalui sayatan di perut bagian bawah atau

vagina, dengan atau tanpa laparoskopi. Histerektomi lewat perut dilakukan


melalui sayatan melintang seperti yang dilakukan pada operasi sesar. Histerektomi
lewat vagina dilakukan dengan sayatan pada vagina bagian atas. Sebuah alat yang
disebut laparoskop mungkin dimasukkan melalui sayatan kecil di perut untuk
membantu pengangkatan rahim lewat vagina.
Histerektomi vagina lebih baik dibandingkan histerektomi abdomen karena
lebih kecil risikonya dan lebih cepat pemulihannnya. Namun demikian, keputusan
melakukan histerektomi lewat perut atau vagina tidak didasarkan hanya pada
indikasi penyakit tetapi juga pada pengalaman dan preferensi masing-masing ahli
bedah.
Histerektomi adalah prosedur operasi yang aman, tetapi seperti halnya bedah
besar lainnya, selalu ada risiko komplikasi. Beberapa diantaranya adalah

pendarahan dan penggumpalan darah (hemorrgage/hematoma) pos operasi, infeksi


dan reaksi abnormal terhadap anestesi.
7.

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan post histerektomi adalah

sebagai berikut :
a.

Hemoragik
Keadaan hilangnya cairan dari pembuluh darah yang biasanya terjadi dengan

cepat dan dalam jumlah yang banyak. Keadaan ini diklasifikasikan dalam
sejumlah cara yaitu, berdasarkan tipe pembuluh darah arterial, venus atau kapiler,
berdasarkan waktu sejak dilakukan pembedahan atau terjadi cidera primer, dalam
waktu 24 jam ketika tekanan darah naik reaksioner, sekitar 7-10 hari sesudah
kejadian dengan disertai sepsis sekunder, perdarahan bisa interna dan eksterna.
b. Thrombosis vena
Komplikasi hosterektomi radikal yang lebih jarang terjadi tetapi
membahayakan jiwa adalah thrombosis vena dalam dengan emboli paru-paru,
insiden emboli paru-paru mungkin dapat dikurangi dengan penggunaan ambulasi
dini, bersama-sama dengan heparin subkutan profilaksis dosis rendah pada saat
pembedahan dan sebelum mobilisasi sesudah pembedahan yang memadai.
c. Infeksi
Infeksi oleh karena adanya mikroorganisme pathogen, antitoksinnya didalam
darah atau jaringan lain membentuk pus.
d. Pembentukan fistula
Saluran abnormal yang menghubungkan 2 organ atau menghubungkan 1
organ dengan bagian luar. Komplikasi yang paling berbahaya dari histerektomi
radikal adalah fistula atau striktura ureter. Keadaan ini sekarang telah jarang
terjadi, karena ahli bedah menghindari pelepasan ureter yang luas dari peritoneum
parietal, yang dulu bisa dilakukan. Drainase penyedotan pada ruang retroperineal
juga digunakan secara umum yang membantu meminimalkan infeksi.

B. CLINICAL PATHWAY
Degenerasi ovarium

Infeksi ovarium

Cyste ovarii
Histerektomi
ovarium

Pembesaran ovarium

Ruptur
ovarium

Oovorektomi
Resti injuri

Kurang
informasi
Kurang
pengetahuan

Luka operasi
Diskontinuitas jaringan

Nyeri
Cemas

Risiko infeksi

Pembatasan
nutrisi
Metabolisme
Hipolisis

Anastesi
Peristaltik usus
Absorbsi air di
kolon

Asam laktat
Konstipasi
Keletihan
Gangguan
metabolisme
Gangguan defsit
perawatan diri

Nervus vagus
Reflek menelan
Risiko aspirasi

Risiko
perdarahan
Risiko syok
hipovolemik