Anda di halaman 1dari 4

Pemeriksaan Tekanan Vena Jugularis

Tekanan vena tergantung pada kontraksi ventrikel kiri. Penentu penting lain dari
tekanan vena ialah volume darah dan kapasitas jantung kanan dalam
mengejeksikan darah ke sistem arteri pulmonalis. Penyakit jantung dapat merubah
variabel ini sehingga dapat mengubah tekanan vena sentral. Tekanan vena
jugularis interna menggambarkan tekanan atrium kanan yang memberikan
indikator klinis untuk fungsi jantung dan hemodinamik jantung kanan. Penilaian
JVP lebih baik di ukur dari vena jugularis interna, biasanya di sebelah kanan
karena vena jugularis interna kanan merupakan vena yang memiliki kanal
anatomik langsung dengan atrium kanan.
Permulaan dalam pengukuran JVP adalah dengan menaikkan kepala setinggi 30 o.
JVP adalah peningkatan point tertinggi denyutan atau meniscus. Pada pasien
hipovolemi, di antisipasi JVP akan rendah sehingga mengharuskan posisi pasien
lebih rendah dan bahkan 0o untuk melihat denyutan terbaik. Sebaliknya pada
pasien dengan volume-overloaded, di antisipasi JVP akan meningkat yang
mengharuskan posisi kepala pasien lebih tinggi.

2. Pengukuran Batas Jantung


3. Skor Daldiyono
Skor daldiyono digunakan untuk menghitung kebutuhan cairan untuk rehidrasi
awal pada diare akut, yaitu dengan menggunakan skor sebagai berikut
Muntah

Suara Serak

Kesadaran apatis

Kesadaran somnolen, sopor, koma

Tekanan sistolik 90mmHg

Frekuensi nadi 120 kali per menit 1


Pernapasan Kusmaul (30 kali per menit)1
Turgor kulit kurang

Facies kolerika

Ekstremitas dingin

Jari tangan keriput

Sianosis

Umur 50 tahun

-1

Umur 60 tahun

-2

Kebutuhan cairan= jumlah skor /15 x 10% x BB (kg)x 1 L


Jumlah tersebut diberikan dalam 2 jam, kebutuhan selanjutnya dihitung
berdasarkan volume feses.
3. Kriteria Rawat Inap untuk Penderita Asma
Pasien dengan FEV1 atau PEF < 25% pre-treatment atau FEV1 atau PEF < 40%
post-treatment merupakan indikasi untuk di rawat inap. Eksaserbasi berat sudah
memerlukan rawat inap.
4. Beta-2 Agonis
Agen simpatomimetik ini menstimulasi reseptor beta 2 pada sel jalan napas. Efek
utama dari beta-2 agonis adalah relaksasi otot polos dan bronkodilatasi yang
disebabkan oleh aktivasi adenil siklase untuk menghasilkan siklik 3,5 AMP. Beta2 adrenergic reseptor agonis bekerja dengan mengikat pada reseptor beta-2
adrenergik yang menyebabkan peningkatan kadar cAMP dan aktivasi protein
kinase A yang berikatan pada reseptor beta-2 adrenergik. Beta-2 agonis terdiri atas
short acting yang memiliki bekerja dengan durasi 3-6 jam dan long acting yang
bekerja dengan durasi melebihi 12 jam. Onset aksi dari short acting beta-2 agonis
adalah sekitar 1-5 menit tergantung dari kelarutan dalam lemak dari tiap obat,
sedangkan long acting beta-2 agonis onset obatnya sekitar 30-45 menit.

5. Indikasi pemasangan kateter urin

Retensi urin akut

Pengukuran akurat urin output

Penggunaan perioperatif
o Bedah urologi atau yang berhubungan dengan traktus
gastrointestinal
o Bedah yang memerlukan waktu yang lama
o Penggunaan diuretik atau infus dalam jumlah yang banyak

6. Indikasi Pemberian Oksigen


Indikasi akut terapi oksigen

Hipoksemia akut (PaO2 < 60mmHg; SaO2 <90%)

Henti napas henti jantung

Hipotensi (Sistolik <100mmHg)

Cardiac output yang rendah dan metabolik asidosis (bikarbonat


<18mmol/L)

Respiratori distress ( frekuensi pernapasan >24x /menit)

Indikasi terapi oksigen jangka panjang

PaO2 istorahat 55mmHg atau saturasi oksigen 88%

PaO2 istirahat 56-59mmHg atau saturasi oksigen 89% pada salah satu
keadaan berikut
o Edema karena gagal jantung
o Eritrositemia (HCT >56%)

Anda mungkin juga menyukai