Anda di halaman 1dari 171

Sistem Insentif Rehabilitasi Lahan

Dalam Rangka
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Haryanto R. Putro
M. Buce Saleh
Hendrayanto
Iin Ichwandi
Sudaryanto

Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor
2003
Sistem Insentif Rehabilitasi Lahan dalam Rangka
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

PENULIS
Haryanto R. Putro
M. Buce Saleh
Hendrayanto
Iin Ichwandi
Sudaryanto

KONSTRIBUTOR
Hariadi Kartodihardjo
Harianto
Kukuh Murtilaksono
Endriatmo Soetarto
Iskandar Z. Siregar

TATA LETAK
Kasuma Wijaya
Syamsul Budiman

ILUSTRASI SAMPUL
Kasuma Wijaya

@ Fakultas Kehutanan IPB, 2003


VII+166 hal, 165 x 230 mm
ISBN 979-9337-15-1
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
KATA PENGANTAR

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan pengelolaan


sumberdaya yang terdapat di suatu DAS, baik sumberdaya alam
(natural capital), sumberdaya manusia (human capital) beserta pranata
institusi formal maupun informal masyarakat (social capital), maupun
sumberdaya buatan (man made capital) yang satu sama lain saling
berinteraksi (interaction).

Isu-isu penurunan kualitas lingkungan dalam pengelolaan DAS,


terutama isu banjir dan kekeringan seringkali ditanggapi sebagai isu-isu
yang disebabkan oleh masalah-masalah yang bersifat teknis semata,
sehingga usulan-usulan pemecahan masalah lebih banyak dipusatkan
pada kegiatan-kegiatan yang bersifat teknis, seperti sodetan sungai,
normalisasi sungai, pembuatan resapan aliran permukaan, penanaman
di daerah hulu sungai dan sebagainya, masih jarang yang melihat
prasyarat-prasyarat yang diperlukan agar kegiatan-kegiatan yang
bersiafta teknis tersebut dapat berjalan dengan baik.

Tim Kerja Fakultas Kehutanan IPB telah melakukan beberapa studi


sebagai upaya untuk mengkaji permasalahan-prmasalahan yang
dihadapi dalam Pengelolaan DAS, terutama dalam rangka merespon isu
banjir dan kegagalan Rehabilitasi Lahan. Dari hasil-hasil studi tersebut
ditemukan indikasi kuat bahwa kegiatan-kegiatan yang bersifat teknis
memerlukan kegiatan-kegiatan non teknis sebagai prasyarat
keberhasilan kegiatan teknis. Lemahnya Sistem Insentif dan
Kelembagaan dalam Pengelolaan DAS merupakan dua hal yang
dominan yang menyebabkan munculnya isu banjir dan kegagalan
rehabilitasi lahan.

Hasil dari studi tersebut ditulis dalam tiga buku, sebagai upaya untuk
memberikan tambahan pengetahuan dan bahan acuan bagi studi dan
praktek pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Ketiga buku tersebut adalah:

1. Penataan Institusi Pengelolaan DAS


2. Sistem Insentif Rehabilitasi Lahan Dalam Kerangka Pengelolaan
DAS

i
3. Hubungan Kerjasama Institusi dalam Pengelolaan DAS : Kasus DAS
Ciliwung

Buku 1. Penataan Institusi Pengelolaan DAS secara garis besar berisi


konsep institusi/kelembagaan, pengalaman penerapannya di beberapa
negara, permasalahan institusi pengelolaan DAS di Indonesia, serta
telaah penatanaannya.

Buku 2. Sistem Insentif Rehabilitasi Lahan Dalam Kerangka Pengelolaan


DAS, secara garis besar berisi konsep insentif, sejarah pengelolaan DAS
di Indonesia, dan hasil studi kasus sistem insentif yang diperlukan di
DAS Ciliwung (Jawa Barat), Rokan (Riau) dan DAS Dodokan (NTB),
posisi insentif dan kebijakan rehabilitasi lahan dalam kerangka
pengelolaan DAS, serta panduan pengembangan sistem insentif.

Buku 3. Hubungan Kerjasama Institusi dalam Pengelolaan DAS : Kasus


DAS Ciliwung, secara garis besar berisi konsep pengelolaan DAS,
karakteristik DAS Ciliwung, permasalahan DAS Ciliwung dan
pengelolaannya, kebijakan pengelolaan DAS Ciliwung, dan sintesa
rekomendasi pengelolaan DAS dan pengendalian banjir di Jakarta.

Disadari bahwa dalam penulisan buku-buku ini masih belum sempurna


sehingga masukan dari pembaca sangat berguna dalam
menyempurnakan isi dan penulisan buku ini. Terlepas dari kekurangan
yang masih ada, diharapkan buku-buku tersebut dapat bermanfaat bagi
perbaikan pengelolaan DAS di Indonesia.

Tulisan ini tidak akan terdokumentasi dengan baik tanpa bantuan Japan
International Agency (JICA). Terima kasih untuk Hiroshi Nakata, Rika
Novida dan Irma Imelda yang dengan sabar menunggu kompilasi
dokumen ini. Tidak lupa penghargaan kami berikan kepada tim dapur,
Kasuma Wijaya dan Syamsul Budiman yang telah melakukan pekerjaan
dengan sangat baik.

Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor
Dekan,

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


iDAFTAR ISI ......................................................................................... iii
iDAFTAR TABEL ...................................................................................... v
iDAFTAR GAMBAR ................................................................................... vii

iI. PENDAHULUAN ............................................................................... 1

II. PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU .......................... 5

III. PENGERTIAN INSENTIF................................................................... 19

IV. PERSPEKTIF SEJARAH PERKEMBANGAN REHABILITASI HUTAN


DAN LAHAN DI INDONESIA ........................................................... 37

V. INSENTIF REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DI DAS CILIWUNG,


ROKAN DAN DODOKAN ................................................................... 63

VI. POSISI INSENTIF DALAM REHABILITASI HUTAN .............................103

VII. KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN ...................................................109

VIII. PANDUAN PERANCANGAN INSENTIF UNTUK REHABILITASI


HUTAN DAN LAHAN ........................................................................127

iDAFTAR PUSTAKA

iii
iv
DAFTAR TABEL

Nomor Teks Hal


Tabel 1. Perbedaan antara insentif variabel (variable insentives)
dan insentif pemungkin (enabling incentives)..................... 21
Tabel 2. Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi
yang diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui
proses PRA dan LFA untuk DAS Ciliwung, Rokan, dan
Dodokan .............................................................................. 29
Tabel 3. Karakteristik yang dapat meningkatkan atau
menghambat kemungkinan bekerjanya insentif ...................... 31
Tabel 4. Struktur kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan ....................... 36
Tabel 5. Beberapa peraturan perundangan yang mengatur
Pengelolaan DAS .................................................................. 60
Tabel 6. Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi
yang diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui
proses PRA dan LFA untuk DAS Ciliwung................................ 92
Tabel 7. Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi
yang diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui
proses PRA dan LFA untuk DAS Rokan ................................... 95
Tabel 8. Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi
yang diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui
proses PRA dan LFA untuk DAS Dodokan ............................... 97
Tabel 9. Kategori Insentif/Disinsentif Pengelolaan DAS Terpadu
Dalam Konteks Kebijakan Nasional ........................................118
Tabel 10. Contoh-Contoh Insentif Ekonomi untuk pengelolaan
DAS terpadu untuk berbagai sektor .......................................119
Tabel 11. Kategori insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan dan
lahan berbasis masyarakat ....................................................149

v
vi
DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Hal


Gambar 1. DAS dalam pandangan 3-D (tiga dimensi)......................... 6
Gambar 2. Gambar Proyeksi Permukaan DAS (2-D)............................ 7
Gambar 3. Siklus/pergerakan Air di Suatu DAS .................................. 8
Gambar 4. Tipe-tipe insentif ............................................................. 20
Gambar 5. Sistem insentif rehabilitasi lahan....................................... 22
Gambar 6. Kategori insentif menurut luaran (pendapatan dan
kontrol) yang diharapkan ................................................. 27
Gambar 7. Tahap-tahap yang harus dipenuhi dalam
mengembangkan insentif rehabilitasi hutan dan
lahan .............................................................................. 33
Gambar 8. Kerangka Logis Sistem Penyelenggaran Rehablitasi
hutan dan Lahan (RHL)....................................................107

vii
1

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkembangan pembangunan nasional saat ini dan pada masa yang akan
datang ditandai oleh semakin terbukanya peluang bagi masyarakat untuk
berpartisipasi secara langsung dalam proses perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, maupun pengendalian program pembangunan. Disamping itu
penyelenggaraan pembangunan juga diarahkan untuk menggantikan
mekanisme administratif yang semula dikendalikan pemerintah menjadi
mekanisme pasar dimana perilaku masyarakat digerakkan oleh berbagai
insentif/disinsentif yang tersedia.

Di sisi lain degradasi sumber daya alam telah terjadi di berbagai tempat.
Luas hutan dan penutupan vegetasi menurun sangat tajam di berbagai Daerah
Aliran Sungai (DAS), terutama di daerah hulu, akibat eksploitasi sumberdaya
hutan dan lahan yang irasional, sehingga mengganggu keseimbangan
lingkungan. Banjir dan kekeringan di daerah hilir DAS selalu terjadi setiap
tahun dan dirasakan dampaknya di seluruh wilayah. Untuk menanggulangi
kondisi dan permasalahan di atas, pemerintah bersama masyarakat perlu
melakukan rehabilitasi hutan dan lahan yang pada prinsipnya tidak dapat
dipisahkan dari pengelolaan DAS.

Selama ini degradasi lahan dan sumberdaya alam dipandang sebagai


masalah fisik, sehingga pendekatan teknologi selalu diandalkan untuk
memecahkannya. Fakta lapangan menunjukkan bahwa pendekatan teknologi
gagal dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan, bahkan lahan kritis semakin
luas dari waktu ke waktu. Kegagalan tersebut dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
pertama: Degradasi lahan dan sumberdaya alam hanyalah gejala dari masalah
lain, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, kebijakan maupun masalah lainnya.
Tanpa upaya untuk memecahkan masalah yang sebenarnya, upaya rehabilitasi
akan banyak mengalami kegagalan; kedua: Program rehabilitasi lahan tidak
menarik (atraktif) bagi pengguna lahan untuk terlibat, karena tidak
2

memecahkan masalah mereka secara langsung, misalnya: memperbaiki hasil


panen, meningkatkan pendapatan atau mengurangi resiko kegagalan panen.

Penyelenggaraan pembangunan diharapkan dapat mewujudkan efisiensi


alokasi pemanfaatan sumberdaya hutan dan lahan. Namun demikian tidak
mustahil bahwa pilihan-pilihan masyarakat hanya akan mendorong pemanfaatan
sumberdaya hutan dan lahan tanpa memperhatikan aspek-aspek
pelestariannya. Hal ini dapat terjadi apabila masyarakat tidak memperoleh
insentif yang memadai dalam upaya pelestarian sumberdaya tersebut. Pada
tingkat administratif pemerintahan, hal serupa juga akan dihadapi. Keterbukaan
ekonomi dan investasi akan mendorong peningkatan pemanfaatan sumberdaya
hutan dan lahan, karena prioritas masih tertuju pada pemulihan krisis ekonomi.
Berbagai program pelestarian fungsi hutan dan lingkungan hidup senantiasa
akan tertinggal apabila tolok ukur pembangunan tidak memasukkan unsur-
unsur kelestarian lingkungan hidup.

Mengingat berbagai permasalahan di atas, pelaksanaan pembangunan


kehutanan perlu menyertakan pendekatan sistem insentif/disinsentif, khususnya
guna menjamin tercapainya tujuan program rehabilitasi hutan dan lahan, baik di
tingkat masyarakat yang terlibat langsung dalam aktivitas tersebut, maupun di
tingkat kebijakan yang melibatkan berbagai instansi pemerintah. Untuk
merumuskan insentif yang tepat diperlukan rumusan kebijakan dan panduan
yang dapat digunakan oleh seluruh stakeholders untuk berpartisipasi dalam
rehabilitasi hutan dan lahan khususnya dan pengelolaan DAS umumnya.

B. TUJUAN

Buku merupakan hasil kajian untuk perumusan dokumen kebijakan yang


dapat digunakan oleh seluruh stakeholders untuk melaksanakan proses-proses
rehabilitasi lahan dalam pengelolaan DAS secara terpadu. Secara khusus,
tujuan penerbitan buku ini adalah:
3

1. Menyajikan naskah akademik mengenai sistem insentif penyelenggaraan


rehabilitasi lahan dalam pengelolaan DAS secara terpadu.

2. Menyajikan panduan yang dapat digunakan oleh seluruh stakeholders


dalam mengembangkan insentif rehabilitasi lahan dalam pengelolaan DAS
terpadu.
5

II. PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU

A. Daerah Aliran Sungai


Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai terjemahan dari watershed secara harfiah
diartikan sebagai setiap permukaan miring yang mengalirkan air. Dalam konteks unit kajian
dan unit pengelolaan, DAS didefinisikan sebagai bentang lahan yang dibatasi oleh topografi
pemisah aliran (topographic divide), yaitu punggung-punggung bukit/gunung yang
menangkap curah hujan, menyimpan dan kemudian mengalirkannya melalui saluran-saluran
pengaliran ke satu titik patusan (outlet) (Manan, 1976; Linsley, 1980; Diskusi pengelolaan
DAS di Bogor tahun 1978). Titik patusan umumnya berupa muara sungai di laut, kadang-
kadang di danau. Suatu DAS yang titik patusannya berada di sungai diistilahkan sebagai
sub DAS dari sungai tempat titik patusan berada. Daerah Pengaliran Sungai (DPS) dan
Wilayah Aliran Sungai (WAS) merupakan terminologi lain yang mempunyai arti yang sama
dengan pengertian DAS.

Mengacu kepada pengertian DAS seperti uraian diatas yang telah diterima secara
luas, batas permukaan DAS menjadi jelas, dan mudah dibatasi baik di lapangan maupun di
peta kontur atau peta topografi, terutama untuk lahan-lahan bergelombang sampai
bergunung. Batas permukaan di lahan-lahan datar dan di lahan dengan sistem drainase
buatan lebih sulit ditetapkan. Pengertian DAS di atas juga menunjukkan bahwa DAS
merupakan satuan (unit) sistem hidrologi, yaitu satuan daerah pengaliran air dari mulai
curah hujan jatuh di permukaan tanah, mengalir sampai di titik patusan. DAS sebagai
sistem hidrologi dimana titik patusan merupakan titik kajian hasil air (water yield)
menjelaskan lebih lanjut bahwa air di titik patusan tidak hanya berasal dari aliran di
permukaan tanah (surface flow) tetapi juga berasal dari aliran di dalam tanah, yaitu aliran
bawah permukaan (sub surface flow) dan aliran air bumi/air tanah (ground water flow).
Pergerakan aliran bawah permukaan dan aliran air bumi dipengaruhi oleh sifat tanah dan
jenis serta struktur batuan (geologi) yang terdapat di suatu DAS. Dengan melihat sistem
hidrologi tersebut, batas suatu DAS, di lapangan tidak hanya batas di permukaan tanah saja
tetapi juga terdapat batas di dalam tanah, di mana batas keduanya tidak selalu bersesuaian
(coincide). Batas di dalam tanah (di bawah permukaan tanah) relatif lebih sulit ditetapkan
dan cenderung bersifat dinamis, sehingga dalam kegiatan praktis, batas suatu DAS hanya
menggunakan batas di permukaan tanah, yang bersifat definitif untuk aliran permukaan dan
6

bersifat indikatif untuk aliran di dalam tanah dan untuk keseluruhan sistem hidrologi DAS
tersebut. Gambaran yang lebih jelas tentang suatu DAS dapat dilihat dari Gambar 1 dan
Gambar 2.

Gambar 1. DAS dalam pandangan 3-D (tiga dimensi)

Ukuran DAS sangat bervariasi dari sangat kecil (beberapa hektar) sampai sangat
besar (ribuan hektar). DAS berukuran sangat kecil, sungai utamanya berhulu di bukit-bukit
yang berbatasan langsung dengan laut. Sungai utamanya umumnya bersifat intermittent,
yaitu hanya berair pada saat hujan dan beberapa saat setelah hujan berhenti. DAS sangat
besar berhulu di pegunungan yang jauh dari laut. Sungai utamanya umumnya bersifat
perennial, yaitu berair hampir sepanjang tahun.
7

Gambar 2. Gambar Proyeksi Permukaan DAS (2-D)

Batas (permukaan) DAS tidak selalu dan sebagian besar tidak bersesuaian dengan
batas wilayah administrasi pemerintahan baik pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota.
Sesuai dengan ukuran DAS, ada DAS yang hanya mencakup satu wilayah pemerintahan
kabupaten/kota, tetapi ada juga yang mencakup lebih dari satu wilayah kabupaten/kota
dalam satu wilayah propinsi dan propinsi yang berbeda bahkan ada juga yang mencakup
wilayah negara yang berbeda. Dalam beberapa publikasi ada istilah DAS lokal yaitu DAS
yang hanya mencakup satu wilayah kabupaten/kota, DAS regional yaitu DAS yang
mencakup lebih dari satu wilayah kabupaten/kota dalam propinsi yang sama, DAS nasional
yaitu DAS yang mencakup dua wilayah propinsi (Ambar, 2001) dan untuk yang mencakup
lebih dari satu wilayah negara dapat diistilahkan sebagai DAS internasional.

B. Komponen dan Ciri Daerah Aliran Sungai

Mengacu kepada pengertian DAS dalam uraian di atas, maka di dalam suatu DAS
terdapat berbagai komponen sumberdaya, baik sumberdaya alam (natural capital), yaitu
udara (atmosphere), tanah dan batuan penyusunnya, vegetasi, satwa, sumberdaya manusia
(human capital) beserta pranata institusi formal maupun informal masyarakat (social
capital), maupun sumberdaya buatan (man made capital) yang satu sama lain saling
8

berinteraksi (interaction). Komponen-komponen sumberdaya tersebut adalah khas untuk


suatu DAS sehingga menjadi karakteristik dari DAS tersebut.

Sumberdaya alam terutama udara, tanah dan batuan penyusunnya serta


morfologinya merupakan faktor yang hampir tak dapat dimanipulasi dalam jangka pendek,
relatif terhadap faktor sumberdaya manusia (human capital), sumberdaya buatan manusia
(man made capital) serta pranata institusi formal maupun informal masyarakat (social
capital) (Kartodihardjo et al., 2000). Sumberdaya alam sebagai obyek pengelolaan dapat
dikelompokkan menjadi sumberdaya air, tanah dan penutup tanah dalam bentuk vegetasi
maupun non vegetasi.

Dengan memandang DAS sebagai satuan sistem hidrologi, interaksi antar


komponen sumberdaya tersebut di suatu DAS dapat digambarkan melalui siklus/pergerakan
air di DAS tersebut. Perubahan suatu komponen sumberdaya dapat dikaji dampaknya
terhadap komponen sumberdaya lainnya dengan melihat dampak perubahan tersebut
terhadap komponen proses pergerakan air dan keseluruhan siklus/pergerakan air.
Gambaran tentang siklus/pergerakan air di suatu DAS dapat dilihat dalam Gambar 3.

Gambar 3. Siklus/pergerakan Air di Suatu DAS


9

Dari sistem pergerakan air nampak jelas hubungan sebab-akibat hulu-hilir. Daerah
hulu dari segi letak daerah dalam suatu DAS dan yang dipersepsikan oleh masyarakat luas
merupakan daerah paling atas sedangkan daerah hilir adalah daerah paling bawah dari
suatu DAS. Daerah hulu umumnya dicirikan oleh topografi bergunung, curah hujan tinggi
dan kondisi sosial ekonomi masyarakat lokalnya kurang maju. Semakin ke arah hilir
cenderung makin landai, hujan makin kurang dan kondisi sosial ekonomi lebih baik. Dalam
pengertian lebih luas pengertian hulu-hilir tidak sebatas dalam letak suatu daerah di atas
dan di bawahnya, tetapi lebih melihat hubungan sebab-akibat, seperti halnya pencemaran
udara dimana pergerakan udara yang menentukan “hulu-hilir” suatu daerah, yang tidak
selalu di atas dan di bawahnya.

Keadaan udara yang mencakup suhu, kelembaban, angin, awan, radiasi dan hujan
yang diistilahkan sebagai iklim; morfologi DAS, sifat jenis tanah dan batuan, serta struktur
batuan mencerminkan kapasitas dan kemampuan lahan alamiah dalam mendukung
kehidupan. Ukuran kapasitas dan kemampuan lahan alamiah ditentukan oleh tingkat
pengetahuan dan penguasaan teknologi masyarakat lokal maupun global. Penggunaan
lahan yang melampaui kapasitas dan kemampuannya akan mengakibatkan penurunan
kapasitas dan kemampuan yang akhirnya menyebabkan kerusakan sehingga lahan tidak
mampu lagi memberikan fungsi dalam mendukung kehidupan.

Sumberdaya suatu DAS dari segi penguasaannya dapat dikelompokkan menjadi


sumberdaya yang dikuasai oleh negara dan yang dikuasai rakyat baik sebagai komunitas
maupun individu. Dalam konteks sumberdaya DAS sebagai kesatuan ekosistem, maka
dalam pemanfaatan kedua sumberdaya tersebut harus memperhatikan kepentingan/fungsi
publik. Sumberdaya yang dikuasai oleh negara seyogyanya dapat memberikan kemanfaatan
publik lebih besar dibandingkan dengan yang dikuasai oleh rakyat.

C. Tipologi DAS

Dalam uraian komponen dan ciri DAS (Sub Bab B) dijelaskan bahwa DAS terdiri dari
komponen yang dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok komponen utama yaitu (1)
kelompok komponen yang sulit dikendalikan (unmanageable) relatif terhadap (2) kelompok
komponen lainnya yang dapat dikendalikan (manageable). Kelompok pertama terdiri dari
komponen iklim, jenis dan struktur batuan (geologi), jenis dan sifat tanah (tanah).
Komponen-komponen tersebut kemudian (dipengaruhi oleh vegetasi, dan waktu)
10

membentuk morfologi DAS yang digambarkan oleh kemiringan lahan, latitude, relief,
amplitudo, aspek, pola dan kerapatan jaringan drainase/sungai, dan luas daerah aliran
sungai.

Morfologi DAS dalam banyak hal dapat dikuantifikasikan, yaitu yang diistilahkan
sebagai morfometri DAS. Morfometri DAS seperti, luas, faktor bentuk, faktor-faktor ciri
jaringan drainase/sungai banyak digunakan dalam memprediksi perilaku respon DAS dalam
mengalihragamkan (transformation) hujan menjadi aliran sungai (debit, discharge) dalam
bentuk hidrograph satuan.

Perbedaan salah satu komponen pembentuk morfologi DAS akan mengakibatkan


perbedaan morfologi DAS, yang selanjutnya akan mengakibatkan perbedaan sifat DAS, baik
dalam hal kerentanan lahan terhadap erosi, longsor, produktivitas lahan, dan perilaku
hidrologi. Perilaku hidrologi yang digambarkan oleh bentuk hidrograph dengan ciri waktu
konsentrasi (time of concentration, tc), waktu resesi (time of recesion, tr) dan debit puncak
(maximum discharge, Qp) serta kualitas air menggambarkan respon DAS terhadap
resultante adanya variasi komponen dan kegiatan di dalam DAS, sementara kerentanan
lahan terhadap erosi, longsor, dan produktivitas lahan merupakan sifat in situ dan sangat
bervariasi di dalam suatu DAS. Menggambarkan sifat umum (generalized) dari sifat in situ
menjadi satu ciri/sifat suatu DAS tidaklah mudah.

Karakteristik komponen iklim dan fisik suatu DAS sangat erat kaitannya atau
pengaruhnya terhadap perilaku sosial ekonomi termasuk didalamnya kelembagaan
sosialnya, sehingga akan membentuk karakteristik sosial ekonomi dan kelembagaan sosial
pengelolaan sumberdaya alam dalam suatu DAS. Sebagai contoh: bagian DAS yang
didominasi lahan subur cenderung “diinvasi” dengan kegiatan pertanian intensif dan jumlah
penduduk tinggi, sebaliknya lahan tidak subur cenderung dibiarkan dan berpenduduk
kurang padat. DAS berukuran besar cenderung meliputi lebih dari satu wilayah administratif
otonomi pemerintah daerah, sebaliknya DAS berukuran kecil, akan memperkecil peliputan
wilayah administrasi otonomi pemerintah daerah. Semua ini akan mempengaruhi perilaku
manajemen sumberdaya alam di suatu DAS.

Dalam kerangka pengelolaan (management) DAS diperlukan ukuran-ukuran kinerja


atau hubungan input-output pengelolaan. Untuk menghindari atau memperkecil bias ukuran
kinerja diperlukan identifikasi tipologi DAS, yaitu pengelompokkan DAS berdasarkan ciri
11

inheren DAS baik yang menyangkut ciri iklim dan fisik DAS yang menyebabkan kesamaan-
kesamaan dalam hal output pengelolaan, ciri sosial ekonomi masyarakat, dan kelembagaan
pengelolaan sumberdaya alam di suatu DAS yang kesemuanya akan menentukan perilaku
pengelolaan sumberdaya alam suatu DAS.

Dalam hal ciri inheren iklim dan fisik DAS seperti diuraikan sebelumnya,
hidrograph dan kualitas air sungai di suatu outlet DAS merupakan gambaran resultante
variasi kegiatan dan ciri klimatik serta fisik DAS sehingga lebih tepat untuk dijadikan
indikator output pengelolaan secara komprehensif, sehingga ciri hidrograph dan kualitas air
dapat dijadikan dasar dalam penyusunan tipologi suatu DAS dari sudut pandang iklim dan
fisik DAS.

Dalam rangka pengelolaan DAS di Indonesia telah dikembangkan kriteria dan


indikator DAS kritis dalam rangka penetapan urutan prioritas DAS yang dituangkan dalam
bentuk Surat Keputusan Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Nomor:
128/Kpts/V/1997 tentang Kriteria Penetapan Urutan Prioritas Daerah Aliran Sungai. Kriteria
dan indikator tersebut dikembangkan untuk seluruh DAS di Indonesia tanpa
mempertimbangkan ciri inheren DAS tersebut. Misalnya untuk kriteria hidrologi
dikembangkan indikator Coefisien Variasi (CV) aliran sungai, indeks penggunaan air (IPA)
dan kualitas air. Indikator kriteria hidrologi tersebut dalam konteks tingkat kekritisan bisa
dianggap sesuai tetapi dalam konteks management untuk mengatasi kekritisan tersebut bisa
menjadi bias, ketika, ukuran-ukuran indikator tersebut sama untuk seluruh DAS di
Indonesia. Nilai atau ukuran indikator hidrologi tersebut yang dianggap kritis berdasarkan
ukuran kriteria dan indikator dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Reboisasi dan
Rehabilitasi Lahan Nomor: 128/Kpts/V/1997 bisa jadi merupakan ciri inherent DAS tersebut,
bukan karena adanya salah penggunaan (misuse/mismanagement) sumberdaya alam DAS
tersebut.

Ciri DAS lainnya selain ciri klimatik dan fisik DAS, yaitu ciri sosial ekonomi dan
lembaga pengelolaan Sumberdaya Alam DAS perlu dikenali dan dianalisis dalam kaitannya
dengan respon terhadap input pengelolaan yang diberikan. Menyamaratakan input
pengelolaan baik berupa teknologi, maupun kebijakan pengelolaan akan menyebabkan
pengelolaan tidak efektif dan efisien, bahkan dapat menyebabkan kontra produktif terhadap
pencapaian tujuan pengelolaan.
12

Tipologi DAS Indonesia baik yang menyangkut karakter atau ciri klimatik dan fisik
maupun sosial ekonomi dan lembaga pengelolaan perlu dikembangkan dalam upaya
pengelolaan DAS yang lebih logis, baik untuk keperluan pengukuran kinerja pengelolaan
yang lebih proporsional maupun untuk keperluan penetapan tujuan (goal), sasaran
(objective), outcome dan bentuk serta strategi pengelolaan DAS di Indonesia yang lebih
tepat dalam pencapaian outcome, sasaran dan tujuan.

Langkah-langkah pembentukan/penetapan tipologi DAS adalah dengan membuat


data dasar (data base) yang komprehensif mencakup keseluruhan data komponen DAS,
iklim, fisik, sosial ekonomi dan lembaga pengelolaan sumberdaya alam DAS. Format data
dasar perlu diseragamkan untuk seluruh Indonesia, agar memungkinkan dan memudahkan
dalam analisis data. Standar Meta Data ISO 19115 yang merupakan standar internasional
data base GIS dapat diadopsi, sehingga dapat sekaligus mengikuti format standar
internasional.

D. Pengelolaan DAS

Hewlett (1969) memberikan batasan tentang Pengelolaan DAS sebagai one part of
natural resources management or the development and administration of a country to
satisfy their needs of present and future human resident. Departemen Pertanian, Republik
Indonesia (SK Mentan No. 251/kpts/Um/4/1979) merumuskan pengelolaan DAS sebagai
upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumberdaya alam
dengan manusia dan segala aktivitasnya dengan tujuan membina kelestarian dan
keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia.

Society of American Forester (1985) memberikan batasan Pengelolaan DAS sebagai:


Application of business methods in watershed to assure maximum supplies of useable
water, desirable water flow, prevention and control of erosion and the reduction of flood,
sediment damages.

Sedangkan pengelolaan DAS secara terpadu merupakan suatu proses penyusunan


dan penerapan suatu tindakan yang melibatkan sumberdaya alam dan manusia di dalam
DAS, dengan mempertimbangkan faktor-faktor sosial, politik, ekonomi, lingkungan dan
institusi (kelembagaan) dalam DAS, untuk mencapai dan seluas mungkin mengembangkan
lingkup dari tujuan masyarakat jangka pendek dan panjang (Boehmer et al., 1997).
13

Dari batasan/pengertian tersebut, kata-kata penting yang menandai pengertian


Pengelolaan DAS terpadu adalah:

1. Pengelolaan sumberdaya alam.

2. Pemenuhan kebutuhan manusia sekarang dan yang akan datang.

3. Kelestarian dan keserasian ekosistem.

4. Pengendalian hubungan timbal balik antara sumberdaya alam dengan manusia.

5. Penyediaan air, pengendalian erosi, banjir dan sedimentasi, dan

6. mempertimbangkan faktor-faktor sosial, politik, ekonomi, lingkungan dan institusi


(kelembagaan).

Sesuai dengan uraian batasan di atas, pengelolaan DAS pada dasarnya adalah
pengelolaan sumberdaya alam dan buatan (natural and man made capital) yang terdapat di
suatu DAS. Praktek pengelolaan sumberdaya alam dan buatan di Indonesia dibagi atau
dikelompokkan kedalam sektor-sektor pengelolaan/pembangunan. Sebut saja sektor yang
terkait dengan tanah dan batuan yang menyusunnya serta vegetasi di atasnya yaitu
pertambangan, pertanian, perkebunan, kehutanan; yang terkait dengan badan air dan
sumberdaya buatan, yaitu energi, transportasi, prasarana, pemukiman dan lain-lain.
Pengelolaan sektoral sumberdaya tersebut melibatkan instansi pemerintah, propinsi maupun
kabupaten/kota, perusahaan swasta atau milik negara maupun masyarakat sebagai individu,
maupun kelompok. Multi sumberdaya yang dikelola oleh lembaga-lembaga sektoral
pemerintahan, dan non pemerintah menjadikan pengelolaan DAS bersifat multi sektoral dan
multi pemangku kepentingan (stakeholders).

Tujuan (goal) pengelolaan DAS yang dirumuskan dari pengertian pengelolaan DAS
dan pengelolaan DAS terpadu adalah terpeliharanya :

1. kelestarian fungsi produksi

2. kelestarian fungsi lingkungan

3. kelestarian fungsi sosial-ekonomi.

Konsekuensi DAS sebagai satuan pengelolaan sumberdaya di suatu DAS maka


seluruh program dan kegiatan masing-masing komponen pengelola harus bersinergi ke arah
tercapainya tujuan pengelolaan tersebut. Kenyataan yang ada sampai sekarang, program
dan kegiatan-kegiatan pengelolaan sumberdaya DAS oleh masing-masing yang mempunyai
14

kewenangan dalam pengelolaan sumberdaya DAS di Indonesia belum sinergi bahkan dalam
banyak kasus bertentangan atau bersifat menghambat tercapainya tiga tujuan tersebut.

Sifat DAS yang multi sumberdaya, multi sektor, multi pemangku kepentingan dan
DAS sebagai satu kesatuan ekosistem menuntut pengelolaan bersifat menyeluruh (holistic)
dalam melihat hubungan interaksi antar komponen sumberdaya DAS sehingga pengelolaan
juga harus melibatkan multi disiplin keilmuan, koordinatif dan transparan serta dapat
dipertanggung-gugatkan (accountable) baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan,
selain harus efektif dan efisien, sehingga pemahaman menyeluruh, koordinatif, transparan
dan dapat dipertanggung-gugatkan merupakan prinsip-prinsip yang harus digunakan dalam
pencapaian tujuan pengelolaan DAS terpadu. Selain itu dengan adanya daerah hulu-hilir
dalam suatu DAS yang diartikan sebagai “sebab-akibat”, dimana daerah yang
mengakibatkan harus memberikan kompensasi bagi daerah yang diakibatkan (dalam
konteks akibat negatif), dan sebaliknya dalam konteks akibat positif, prinsip berbagi
pembiayaan (cost sharing) harus diperhatikan/diterapkan.

Pencapaian tujuan pengelolaan DAS terpadu yang melibatkan multi pemangku


kepentingan memerlukan kerangka kerja logis atau logical framework (logframe) yang
disusun dengan tujuan untuk mengukur kinerja atau hingga sejauh mana tingkat
ketercapaian tujuan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) terpadu dalam suatu
skema/kerangka pemikiran secara logis dan bertahap. Dalam pentahapannya atau tingkat
pencapaian tujuan, tujuan akhir (goal) pengelolaan DAS terpadu (bersifat normatif) dapat
dicapai jika keluaran langsung (output) program dan kegiatan bersifat lebih
kongkrit/operasional dapat diukur, dan keluaran tersebut akan bisa diperoleh jika ada
asupan kegiatan (input). Pengelolaan DAS terpadu sebagai proses dapat diketahui secara
runut kinerjanya melalui indikator-indikator tersusun dalam kerangka logis tersebut.
Indikator yang tersusun harus bersifat obyektif atau disebut juga sebagai Objective
Verifiable Indicators (OVI), artinya indikator tersebut dapat diukur melalui serangkaian
proses verifikasi dan pengumpulan data, sehingga setiap indikator harus mempunyai
verifier. Sedapat mungkin, verifier dapat dikuantifikasikan sehingga penentuan tolok ukur
atau ukuran nilai dapat disusun dengan pengelompokkan/klasifikasi yang lebih akurat
(Murtilaksono, 2002).
15

Pengelolaan DAS terpadu memerlukan pengembangan kelembagaan pelaksana


kegiatan yang efisien dan efektif, pengembangan institusi yang dapat mendukung secara
cepat kebutuhan pelaksana kegiatan, dan penerapan kegiatan. Untuk itu diperlukan
prasyarat atau asumsi bahwa perlu kesamaan persepsi tentang masalah pengelolaan DAS
dan pentingnya pembaharuan kebijakan disamping peraturan perundangan, serta adanya
koordinasi baik internal institusi maupun lintas institusi (Kartodihardjo, et al, 2000).

E. Konsep Bio-Region dan Konsep Pengelolaan DAS Terpadu

Perkembangan pengetahuan tentang ekosistem global telah menghasilkan


paradigma baru dalam pendekatan pengelolaan sumberdaya alam, yaitu pendekatan yang
diistilahkan bioregion. Konsep ini didasari oleh pengetahuan bahwa tidak ada satu sistem
alam (nested ecosystem) yang bersifat tertutup, sehingga antara satu ekosistem dengan
ekosistem lainnya saling berinteraksi. Konsep bioregion mengakomodir migrasi biologi
komponen suatu ekosistem ke ekosistem lainnya melalui pergerakan dinamis, periodik,
musiman mahluk hidup, yaitu satwa, selain “migrasi” komponen fisik lainnya.

Memperhatikan ciri-ciri pengelolaan berdasarkan bioregion yang disarikan dari


pengalaman Bioregionalism, Man and the Biosphere Program, International Conservation
and Development Projects, Protected Area Management, and Ecosystem Management
(Miller, 1996) pada dasarnya ciri-ciri tersebut hampir sama dengan ciiri-ciri pengelolaan DAS
terpadu yang bersifat holistik, koordinatif, transparan dan dapat dipertanggung-gugatkan.
Perbedaannya, dalam konsep pengelolaan DAS terpadu hubungan antara ekosistem (nested
ecosystem) lebih dipandang dari sudut pergerakan air, sedangkan dalam konsep bioregion
hubungan tersebut juga memperhatikan aspek migrasi satwa dan pergerakan udara global.

Dalam konsep pengelolaan DAS terpadu, disadari bahwa masing-masing komponen


sumberdaya yang ada di suatu DAS, pada dasarnya memiliki batas-batas ekosistem dan
batas satuan pemanfaatan ekonomis yang tidak selalu berada dalam satu satuan DAS tetapi
seringkali melintasi batas DAS, sehingga batas ekosistem dan batas satuan pemanfaatan
ekonomis dari komponen sumberdaya tersebut dapat mencakup lebih dari satu DAS. Dalam
konteks pengelolaan DAS terpadu dikenal istilah Satuan Wilayah Sungai (SWS), Satuan
Wilayah Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (SWPDAS), dan DAS “A” Ds (Daerah Aliran
Sungai “A” dan sekitarnya) yaitu satuan pengelolaan sumberdaya yang mencakup beberapa
16

DAS. Konsep ini pada dasarnya dilandasi konsep satuan pengaliran (DAS) dan wilayah
administrasi pemerintahan dalam kerangka efektifitas dan efisiensi pengelolaan.

Dalam konteks satuan kajian, konsep pengelolaan DAS terpadu untuk wilayah
tertentu misalnya wilayah kepulauan (pulau-pulau kecil), SWS, SWPDAS dapat identik
dengan unit kajian berbasis bioregion, namun untuk wilayah pulau besar seperti pulau
Jawa, Kalimantan, Sumatera, Kalimantan dan Papua, konsep SWS, SWPDAS tidak
selalu/belum dapat mengakomodir konsep bioregion.

Satu kesatuan daratan nampaknya memadai untuk dijadikan satuan kajian


bioregion, yang dapat dijadikan sebagai perencanaan global untuk dijabarkan lebih lanjut
menjadi perencanaan di tingkat SWPDAS dan DAS.

F. Rehabilitasi Lahan dalam Pengelolaan DAS Terpadu

Rehabilitasi lahan dalam arti luas dapat diartikan sebagai upaya memperbaiki fungsi
lahan sesuai dengan kapasitas lahannya. Untuk lahan yang telah sangat berat mengalami
penurunan fungsinya, seperti lahan bekas pertambangan, upaya memperbaiki fungsi
lahannya diistilahkan sebagai reklamasi lahan.

Upaya rehabilitasi lahan dalam konteks pengelolaan DAS terpadu harus mengacu
kepada alokasi fungsi ruang (lahan) yang didasarkan pada kajian menyeluruh, mendalam,
hubungan ruang (spatial distibution), kapasitas dan kesesuaian penggunaan sumberdaya
lahan untuk mencapai tujuan pengelolaan DAS. Sehingga rehabilitasi lahan tidak terbatas
hanya pada kegiatan-kegiatan dalam program Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah
(RLKT) Departemen Kehutanan yang umumnya diterapkan di bagian hulu DAS, tetapi
termasuk rehabilitasi lahan pemukiman, industri dan lahan lainnya di seluruh DAS, termasuk
bantaran sepanjang saluran drainase/sungai. Keberhasilan rehabilitasi lahan seyogyanya
diukur dari tingkat pemulihan fungsi lahan, bukan dari realisasi kegiatan.

Rehabilitasi lahan dalam istilah populer diartikan “sempit” sebagai rehabilitasi lahan
“hanya” di luar kawasan hutan, sedangkan rehabilitasi lahan di dalam kawasan hutan
diistilahkan sebagai rehabilitasi hutan, sehingga dikenal luas istilah rehabilitasi hutan dan
lahan (RHL). Pembagian istilah rehabilitasi lahan menjadi rehabilitasi hutan dan rehabilitasi
lahan dimaksudkan untuk mempertegas kewenangan departemen teknis.
17

Fungsi lahan yang telah terdegradasi yang dikenal sebagai lahan kritis di Indonesia
telah mencapai 43 juta hektar dengan laju 1,6 juta hektar per tahun (BAPLAN, 2002).
Luasnya lahan kritis menuntut penanganan yang terprogram berdasarkan fungsi dan
karakteristik lahan.

Penilaian lahan kritis dewasa ini didasarkan pada karakter iklim dan bio-fisik lahan
dan interaksi antar keduanya terhadap fungsi perlindungan tanah dan pengaturan tata air
(hidro-orological function), dan fungsi produksi (production function). Karakter lahan yang
dikaitkan dengan fungsi lain selain fungsi hidro-orologi dan produksi belum ada, seperti
fungsi lahan sebagai Taman Nasional, Cagar Alam dan lainnya.

Penilaian lahan kritis juga masih berdasarkan pada kekritisan setempat (in-site),
belum memperhitungkan dampak di hilirnya (off-site). Luasan tapak penilaian, letak tapak
di suatu DAS yang mempengaruhi besaran dampak off-site belum diperhitungkan. Terlepas
dari kekurangan tersebut, kekritisan tapak dapat menjadi indikator relatif tingkat kekritisan.

Program Rehabilitasi lahan harus merupakan kesatuan program dengan program


perlindungan dan pengamanan dan pemanfaatan sumberdaya alam, sebagai suatu program
konservasi sumberdaya alam1), sehingga dihasilkan percepatan pencapaian tujuan
pengelolaan DAS. Keberhasilan rehabilitasi suatu tapak tidak akan berarti apa-apa terhadap
pencapaian tujuan pengelolaan DAS apabila terjadi kerusakan di tempat lain.

Kebijakan, program dan kegiatan rehabilitasi lahan menyangkut suatu tapak yang
didalamnya melekat hak-hak atas penguasaan tapak tersebut, sehingga perumusan
kebijakan, program, dan kegiatan rehabilitasi lahan tidak dapat dilepaskan dari aspek sosio-
budaya dan ekonomi masyarakat.

--------------------------------------------------------------------------------------------
1)
Konservasi sumberdaya alam diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan, perlindungan, dan rehabilitasi
sumberdaya alam berdasarkan kapasitasnya untuk menjamin tercapainya fungsi kelestarian produksi,
lingkungan dan sosial-ekonomi.
19

III. PENGERTIAN INSENTIF

Insentif rehabilitasi hutan dan lahan adalah semua bentuk dorongan


spesifik atau rangsang/stimulus, umumnya berasal dari institusi eksternal
(pemerintah, LSM atau lainnya), yang dirancang dan diimplementasikan untuk
mempengaruhi atau memotivasi masyarakat, baik secara individu maupun
kelompok, untuk bertindak atau mengadopsi teknik dan metode baru yang
bertujuan untuk memperbaiki pengelolaan DAS melalui rehabilitasi hutan dan
lahan. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan insentif adalah salah satu
atau kombinasi dari hal-hal berikut:

1. Pembayaran atau pemberian konsesi untuk merangsang luaran (output)


yang lebih besar.

2. Dorongan atau faktor yang dapat memotivasi dilakukannya suatu tindakan.

3. Isyarat (signal), yang bisa negatif (disinsentif)/bersifat menghambat atau


positif (insentif)/bersifat meningkatan motivasi dan mengindikasikan suatu
tindakan.

Menurut Ostrom et al. (1993), insentif/disinsentif bukan hanya sekedar


penghargaan atau hukuman, tetapi menyangkut perubahan positif atau negatif
pada hasil (outcomes) yang dalam pandangan individu akan dapat dihasilkan
dari suatu tindakan yang dilakukan berdasarkan kaidah atau aturan tertentu
baik dalam konteks fisik maupun sosial.

Menurut sifatnya, tipe-tipe insentif dapat dikelompokkan menjadi:

1. Insentif Langsung: dapat diberikan dalam bentuk uang tunai, seperti upah,
hibah, subsidi dan pinjaman lunak; dalam bentuk barang seperti bantuan
pangan, sarana pertanian, ternak atau bibit pohon; atau dalam bentuk
kombinasi antara keduanya.

2. Insentif Tak Langsung: dapat berupa pengaturan fiskal atau bentuk


pengaturan seperti pajak, jaminan harga input/output, pengaturan
20

penguasaan/pemilikan lahan. Dalam konteks ini termasuk pelayanan


seperti penyuluhan, bantuan teknis, penggunaan alat-alat pertanian,
pemasaran, penyimpanan, pendidikan dan pelatihan, serta pelayanan
sosial, penggunaan organisasi komunitas dan desentralisasi pengambilan
keputusan.

Insentif tak langsung dapat berupa insentif variabel (variable incentives)


atau insentif pemungkin (enabling incentives). Insentif pemungkin dapat
dikelompokkan menjadi insentif sektoral dan insentif ekonomi makro (lihat
Gambar 4). Contoh-contoh insentif tak langsung dapat dilihat pada Tabel 1.

INSENTIF

Insentif Insentif Tak


Langsung Langsung

Insentif Insentif
Variabel Pemungkin

Insentif
Insentif
Ekonomi
Sektoral
M akro

Gambar 4. Tipe-tipe insentif (Sanders and Cahlil, 1999)


21

Insentif akan secara efektif mempengaruhi hasil (outcomes) bila


diterapkan dalam suatu kelembagaan yang mapan dan kondusif terhadap
pencapaian tujuan. Dalam kajian ini, yang dimaksud dengan sistem insentif
dapat dilihat dalam Gambar 5.

Tabel 1. Perbedaan antara insentif variabel (variable insentives) dan


insentif pemungkin (enabling incentives)

INSENTIF VARIABEL INSENTIF PEMUNGKIN

Sektoral Ekonomi Makro

9 Harga masukan 9 Nilai tukar 9 Keamanan lahan


(input) dan (exchange rates)
luaran (output)

9 Pajak-pajak 9 Pajak-pajak 9 Aksesibilitas

9 Subsidi 9 Tingkat bunga 9 Pembangunan pasar

9 Tarif 9 Tindakan fiskal 9 Devolusi pengelolaan


dan moneter sumberdaya alam

9 Desentralisasi pengambilan
keputusan

9 Fasilitas kredit

9 Keamanan nasional

Sumber: IFAD (1996, 1998)


22

REHABILITASI: - sumberdaya
- tujuan - kapasitas
- potensi sda - kemauan
- pengaturan TINDAKAN HASIL
sosial REHABILITASI (outcome)
- Faktor-faktor -INSENTIF
eksternal - Norma-norma
- Peraturan

Gambar 5. Sistem insentif rehabilitasi lahan (diadopsi dari CIFOR)

Dari Gambar 5 dapat dijelaskan mengapa suatu DAS tertentu dikelola


lebih baik daripada DAS yang lain, dan mengapa sebagian penduduknya hidup
lebih sejahtera? Ada empat faktor yang dapat digunakan untuk memprediksi
hasil pengelolaan DAS, yaitu: (a) tujuan pengelolaan DAS, (b) potensi ekologis
dari sumberdaya, (c) pengaturan kelembagaan lokal, dan (d) berbagai kekuatan
eksternal (politik dan ekonomi). Faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap
tingkah-laku stakeholders dalam suatu DAS tertentu yang kemudian
menentukan kinerjanya.

Pengelolaan DAS memiliki tujuan yang penekanannya dapat berbeda-


beda. Ada dua tujuan utama yang dalam pencapaiannya dapat bertentangan
satu dengan yang lainnya, yaitu tujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan
penduduk di dalam DAS dan tujuan untuk rehabilitasi dan konservasi DAS.
Pada tujuan yang pertama, pemenuhan kebutuhan lokal, memperbaiki
pemerataan, ataupun mengurangi kemiskinan masyarakat di dalam DAS
merupakan hasil yang diharapkan dari pengelolaan DAS. Pencapaian tujuan
kedua biasanya berupa perlindungan hutan, rehabilitasi hutan dan perbaikan
tanah yang rusak/terlantar. Tujuan mana yang akan memperoleh penekanan
akan mempengaruhi hasil akhir pengelolaan DAS.
23

Potensi sumberdaya di dalam DAS akan menentukan bentuk manfaat dan


praktek-praktek yang sesuai dalam pengelolaan DAS dalam rangka mencapai
tujuannya. Potensi DAS dapat dicerminkan oleh :

1. potensi produktifnya (dapat berupa: kesuburan lahan, nilai produk yang


dapat dihasilkan, keluwesannya dalam memenuhi kebutuhan lokal yang
berubah-ubah, resiko banjir-longsor-serangan hama/penyakit-api-
kekurangan air),

2. tekanan terhadap sumberdaya (dapat berupa: kepadatan penduduk,


permintaan produk, harga-harga, alternatif pemanfaatan kawasan), dan

3. stabilitas dan daya tahannya (dapat berupa: kapasitas regeneratif dan


manfaat yang dihasilkannya meskipun ada gangguan).

DAS yang memiliki potensi tinggi relatif lebih mudah untuk dikelola, juga
menghasilkan manfaat yang lebih banyak sehingga memberikan insentif yang
lebih besar pada pengelolanya. DAS yang memiliki daya tahan sumberdaya akan
memegang peranan penting dalam keputusan rumahtangga untuk melakukan
rehabilitasi. Stabilitas sumberdaya mempengaruhi motivasi untuk menukarkan
manfaat kini dengan harapan manfaat pada masa yang akan datang. Namun
potensi DAS yang tinggi ini sering manfaatnya tidak didistribusikan dengan baik,
di mana masyarakat lokal sering kalah bersaing dengan pendatang (contohnya
DAS Ciliwung).

Pengaturan kelembagaan menentukan bagaimana individu berinteraksi


dengan individu lainnya dalam pemanfaatan DAS. Pengaturan ini penting untuk
memastikan bahwa pengelolaan DAS dapat diterima oleh berbagai stakeholders
dengan tujuan dan kepentingannya masing-masing. Ada tiga faktor yang dapat
diidentifikasi dari pengaturan kelembagaan ini, yaitu:

1. koherensi kepentingan dan aktivitas di antara stakeholders,

2. kekuatan lembaga lokal, dan

3. manfaat untuk masyarakat lokal di dalam DAS.


24

Pengaturan kelembagaan akan semakin mudah dilakukan jika ada


kesamaan kepentingan di antara stakeholders dan adanya kejelasan identitas
serta besaran (ukuran) kelompok masing-masing stakeholders. Semakin besar
dan semakin terdiferensiasi kelompok stakeholder yang ada di dalam DAS, maka
semakin sulit pengaturan sosialnya.

Kelembagaan lokal membantu berfungsinya pengelolaan DAS melalui


perlindungan terhadap hak, penguatan norma-norma yang berlaku, mengatasi
konflik, dan distribusi manfaat. Pengaruh kelembagaan sangat tergantung pada
kekuatan yang dimilikinya atas berbagai aktor yang terlibat dalam pengelolaan
DAS. Dalam aspek ekonomi dan politik sering komunitas di dalam DAS
merupakan kesatuan yang lemah. Pengaruh kelembagan lokal ini sering sulit
menjangkau kawasan ‘di luar’ lokal. Oleh sebab itu perlu penguatan oleh
lembaga eksternal yang memiliki kekuatan pengaruh yang memadai.

Keberhasilan pengelolaan DAS juga akan sangat dipengaruhi oleh


berbagai faktor eksternal yang keberadaannya berada di luar DAS.
Kelembagaan dan aktor eksternal DAS dapat saja melakukan intervensi
terhadap pengelolaan DAS dalam bentuk penguatan lembaga DAS yang ada
atau melalui perubahan konteks ekonomi dan politik dalam pengambilan
keputusan pengelolaan DAS. Kelembagaan dan aktor eksternal ini antara lain
adalah LSM, universitas, media masa, instansi pemerintah (Pusat), sangsi,
aturan, maupun berbagai kebijakan yang diciptakannya.

Di antara berbagai aktor tersebut, pemerintah sebagai kekuatan


eksternal, memberikan pengaruh yang paling dominan. Intervensi pemerintah
dapat dikategorikan sebagai intervensi yang paling lemah sampai intervensi
yang paling kuat. Semakin besar intervensi yang dilakukan pemerintah, maka
semakin besar peluang tingkah laku atau tindakan stakeholders DAS yang
ditentukan oleh insentif dan peraturan (regulation) daripada oleh norma-norma.
Pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa pada situasi tertentu, orang akan
melakukan tindakan pengelolaan DAS jika mereka memiliki sumberdaya yang
25

cukup, kapasitas yang memadai dan kemauan untuk bertindak. Sumberdaya


dapat berupa material, tenaga kerja, dan input-input lainnya yang dibutuhkan
untuk aktivitas pengelolaan. Termasuk dalam kapasitas adalah pengetahuan,
teknologi, maupun pengaturan sosial yang dibutuhkan untuk mengontrol dan
mengelola sumberdaya.

Tindakan pengelolaan DAS juga ditentukan oleh tiga faktor, yaitu:

1. insentif atau janji untuk memperoleh ‘hadiah’,

2. norma atau tingkah laku standar anggota masyarakat yang diharapkan


berlaku dalam suatu kelompok masyarakat, dan

3. peraturan (regulation) yang mendorong masyarakat untuk mengambil


tindakan tertentu.

DAS akan dapat dikelola dengan baik jika potensi sumberdayanya tinggi
dan pengaturan sosial serta faktor-faktor eksternal dapat menciptakan
keseimbangan yang baik antara insentif dan kontrol. Masyarakat akan mau
bertindak dalam rangka rehabilitasi dan konservasi DAS jika mereka dapat ikut
merasakan manfaat dari tindakannya itu. Pengelolaan DAS dikatakan telah
efektif jika tujuan manajemen dapat dicapai bersamaan dengan peningkatan
kesejahteraan sosial masyarakat penghuninya.

Berdasarkan uraian tersebut tampak bahwa aspek insentif hanyalah


merupakan sebagian kecil dari berbagai faktor yang dapat mempengaruhi
keberhasilan pengelolaan DAS secara berkelanjutan. Insentif selalu disertai
dengan aturan dan kontrol, namun faktor potensi sumberdaya DAS, pengaturan
sosial, maupun pengaruh faktor eksternal yang lainnya harus selalu
diperhitungkan dalam penyusunan program rehabilitasi dan konservasi DAS.
Keberhasilan pengelolaan DAS akan lebih mudah jika:

1. sumberdaya di dalam DAS menghasilkan manfaat yang besar,

2. peluang pendapatan masyarakat lokal sejalan dengan aktivitas rehabilitasi


DAS,
26

3. hak atas lahan (tenureship) jelas, terjamin dan terdistribusi secara adil,

4. ada insentif bagi mereka yang bersedia mengorbankan manfaat jangka


pendeknya (manfaat individu) untuk memperoleh manfaat jangka panjang
(manfaat sosial), dan

5. ada kerjasama antar stakeholders pengelolaan DAS

Hasil rehabilitasi hutan dan lahan di dalam DAS dipengaruhi oleh dua
luaran utama, yaitu pendapatan yang akan diperoleh penduduk di dalam DAS
akibat tindakan rehabilitasi dan besaran kontrol yang dimiliki oleh penduduk
untuk menentukan secara bebas arah kehidupannya bila terlibat dalam tindakan
rehabilitasi. Kedua luaran tersebut dapat dipandang sebagai insentif yang akan
menentukan tindakan ataupun keputusan rumahtangga atau individu untuk
berpartisipasi dalam tindakan rehabilitasi. Berapa besar insentif tersebut
diberikan dan bagaimana insentif tersebut didistribusikan secara langsung akan
mempengaruhi motivasi masyarakat untuk melakukan rehabilitasi hutan dan
lahan DAS. Insentif tersebut juga secara langsung akan mempengaruhi
kesejahteraan penduduk di dalam DAS. Menurut hubungannya dengan luaran
yang diharapkan, insentif dapat dikelompokkan menjadi empat kategori
sebagaimana dapat dilihat dalam Gambar 6.
27

Pendapatan
tinggi

insentif
berbasis insentif kuat
kesejahteraan

Kontrol
rendah tinggi

insentif
insentif lemah berbasis
pemberdayaan

rendah

Gambar 6. Kategori insentif menurut luaran (pendapatan dan kontrol) yang


diharapkan

Berdasarkan kajian tentang Pengembangan Sistem Insentif Rehabilitasi


Hutan dan Lahan (Fahutan IPB, 2001), beberapa pokok hasilnya adalah :

1. Efektivitas bekerjanya insentif langsung seperti adanya dana murah,


penyediaan bibit dan pupuk dalam pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan
sangat tergantung pada kondisi insentif tak langsung yang ada di
masyarakat. Apabila kondisi insentif tidak langsung ini tidak mendukung,
maka adanya insentif langsung hanya akan menjadikan berlangsungnya
proyek jangka pendek tanpa ada dukungan masyarakat;

2. Kinerja rehabilitasi hutan dan lahan di lapangan masih didasarkan oleh


bekerjanya kelembagaan (pusat dan daerah) yang belum mampu
memperhatikan lemahnya insentif tak langsung khususnya mengenai
insentif pemungkin sebagai hambatan utama pelaksanaan rehabilitasi hutan
dan lahan. Insentif langsung yang berupa dana murah masih dipandang
sebagai faktor utama, sehingga informasi tentang kondisi masyarakat yang
28

berkaitan dengan insentif pemungkin belum menjadi dasar penetapan


substansi program dan proyek rehabilitasi hutan dan lahan;

3. Proses komunikasi dan koordinasi antara pemerintah pusat (DepHut),


organisasi perencana di daerah (BRLKT/BPDAS dan propinsi), maupun
organisasi kehutanan di kabupaten, belum secara intensif dilaksanakan,
meskipun permintaan untuk melakukan koordinasi ini secara umum cukup
tinggi. Di pihak lain, adanya koordinasi yang sudah berjalan (DAS Ciliwung)
dipandang belum memenuhi harapan yang dibutuhkan;

4. Terdapat kebutuhan untuk memperoleh informasi dan hasil perencanaan di


tingkat DAS, sebagai dasar penilaian hasil perencanaan rehabilitasi hutan
dan lahan yang disusun oleh daerah otonom (kabupaten) serta prioritas
kegiatan yang diajukan. Dalam kaitan ini, peran Departemen Kehutanan
dalam menguatkan kelembagaan di tingkat DAS sangat penting artinya;

5. KepMenHut No. 20/Kpts-II/2001 tentang Pola Umum dan Standard serta


Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan perlu dijabarkan menjadi
perencanaan di tingkat DAS. Mekanisme penyusunan perencanaan tersebut
perlu didahului dengan program pokok yang diajukan setiap kabupaten.
Dalam implementasinya, diperlukan proses iterasi untuk saling
menyesuaikan dan memperbaiki antara pola umum yang dikeluarkan
Departemen Kehutanan, perencanaan oleh lembaga setingkat DAS, dan
program-program kabupaten;

6. Untuk memperbaiki kondisi insentif tidak langsung, pemerintah pusat


(DepHut) perlu melakukan koordinasi dengan berbagai sektor terkait untuk
menyusun program-program yang bersifat jangka panjang.

Berdasarkan harapan pihak-pihak terkait melalui proses PRA dan LFA


dapat dipetakan bentuk-bentuk insentif sesuai batasan di atas (lihat Tabel 2).
Berbagai bentuk insentif tersebut merupakan pilihan-pilihan yang
implementasinya sangat dipengaruhi kondisi spesifik lokasi, baik kondisi biofisik
maupun sosial budaya. Pada tingkat nasional, berbagai prakondisi perlu
29

diperhitungkan secara seksama agar implementasi suatu bentuk insentif


tertentu dapat berhasil.

Tabel 2. Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi yang


diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui proses PRA dan LFA
untuk DAS Ciliwung, Rokan, dan Dodokan.
Kontrol Rendah Kontrol Tinggi
Insentif Lemah (Weak Insentif Berbasis Pemberdayaan
incentives): (Empowerment-based incentives):
Dipandang tidak relevan untuk 9 Partisipasi dalam perencanaan dan
digunakan dalam konteks pengambilan keputusan, termasuk
rehabilitasi hutan dan lahan fungsi kontrol
9 Kontrol terhadap lahan (tenure)
9 Informasi dan teknologi
9 Penguatan kelembagaan lokal,
9 Pemilihan jenis berbasis kearifan
lokal
Pendapatan 9 Klinik agribisnis
Rendah 9 Pembangunan plot percontohan
9 Pendidikan dan pelatihan, termasuk
penyuluhan, pendampingan dan
studi banding
9 Bantuan bibit/pos bibit
9 Penghargaan bagi yang berhasil
9 Bantuan dana pembuatan teras
9 Pembentukan kelompok konservasi
DAS
Insentif Berbasis Insentif Kuat (Strong incentives):
Kesejahteraan (Prosperity- Kombinasi dan Integrasi aktivitas yang
based incentives): mengandung unsur insentif berbasis
9 Kesempatan kerja, misalnya kesejahteraan dan insentif berbasis
wana ternak pemberdayaan sedemikian rupa sehingga
9 skema kredit, misalnya menciptakan peluang untuk memperbesar
KUTK kemungkinan tercapainya tujuan
Pendapatan 9 Subsidi bagi pemilik lahan pengelolaan DAS, termasuk rehabilitasi
Tinggi (bebas pajak) lahan/ penghijauan.
9 Subsidi masal
30

9 Perbaikan jalur pemasaran


9 Menjamin kestabilan harga
hasil panen
9 Perbaikan infrastruktur
9 pengembangan usaha
9 program pendidikan dan
kesehatan
9 upah-imbalan yang menarik
(di atas UMR)
9 Pembangunan industri kecil
penampung hasil panen

Berdasarkan tinjauan normatif yang didasarkan atas kajian dari berbagai


sumber Sanders dan Cahill (1999) menyajikan berbagai karakteristik yang
mempengaruhi berjalan atau tidaknya suatu insentif, baik dalam konteks
insentif langsung maupun tidak langsung (lihat Tabel 3). Tabulasi berbagai
karakateristik tersebut akan membantu pengambil keputusan dalam
menentukan apakah di suatu DAS tertentu ada bentuk insentif langsung yang
perlu di adopsi atau prioritasnya justru pada perbaikan prakondisi (insentif tak
langsung) yang diperlukan agar suatu bentuk insentif langsung dapat di
implementasikan secara efektif dan efisien.
31

Tabel 3. Karakteristik yang dapat meningkatkan atau menghambat


kemungkinan bekerjanya insentif
Karakteristik Konsekuensi atas
Item Kondusif Menghambat karakteristik
menghambat
Sumber Dana internal eksternal Pembayaran sulit
Ekonomi berbasis industri Berbasis pertanian Sering sulit bagi
Nasional pertanian untuk
membiayai rehabilitasi
Status terformulasikan kurang ter- Prioritas yang salah
Kebijakan dengan baik formulasikan mungkin disubsidi
Distribusi spesifik lokasi umum Terlalu mahal
Masalah mensubsidi keseluruhan
Tujuan Subsidi demonstrasif umum Terlalu mahal
mensubsidi keseluruhan
Ekonomi pasar subsisten Tujuan pengguna lahan
Pertanian adalah uang tunai bukan
konservasi
Sikap aktif pasif Sikap konservasi
Pengguna mungkin sebatas akhir
Lahan pembayaran atau
supervisi
Sistem tindakan tindakan disruptif Menegasikan tindakan
Pertanian pelengkap pemeliharaan
Lama Subsidi spesifik tak spesifik Subsidi dapat
diinkorporasikan dalam
struktur harga
Proses cukup tidak ada Kesalahan penggunaan
Evaluasi tidak terdeteksi

Sumber: Sanders dan Cahill (1999)


32

Karakteristik pada Tabel 3. juga dapat digunakan untuk memandu


pengambil keputusan atas prinsip-prinsip berikut :

1. Apabila karakteristik DAS lebih cenderung ke kiri (kondusif), maka


pendekatan insentif langsung memiliki peluang keberhasilan yang lebih
tinggi.

2. Sebaliknya bila karakteristik DAS lebih cenderung ke kanan (menghambat)


pendekatan insentif langsung memiliki peluang gagal yang lebih besar.

3. Apabila lebih dari satu karakteristik menghambat ditemukan, pengaruhnya


cenderung berlipat ganda.

4. Pertimbangan atas daftar karakteristik menghambat menunjukkan bahwa


insentif langsung sulit dikelola pada kondisi dimana aksi konservasi paling
diperlukan.

5. Agregasi karakteristik menghambat di negara manapun berakibat pada


semakin tidak realistisnya implementasi konsep pembayaran kembali
pinjaman ke pemerintah. Hibah dan pendanaan pada akhirnya lebih
banyak digunakan dalam bentuk bantuan.

6. Tidak peduli apakah sumberdana berasal dari sumber internal atau


eksternal, alokasi dana lebih baik digunakan untuk memperbaiki
karakteristik menghambat, misalnya: pengembangan kebijakan,
perencanaan terpadu, evaluasi program maupun pengembangan sikap
positif pengguna lahan.

Dari ketiga kasus di tiga DAS dapat diketahui bahwa pengembangan


sistem insentif cenderung sangat spesifik tapak, karena itu diperlukan panduan
yang dapat digunakan oleh Pemerintah Kabupaten dan berbagai pihak terkait
lainnya untuk mengembangkan insentif yang dapat diimplementasikan oleh
masyarakat. Gambar 7. memberikan gambaran mengenai tahap-tahap yang
dilakukan dalam mengembangkan insentif rehabilitasi hutan dan lahan.
33

Rehabilitasi hutan dan lahan adalah bagian dari konservasi DAS. Pilihan
kelembagaannya relatif sulit akibat komplikasi sumberdaya yang termasuk di
dalamnya serta oleh berbagai faktor lainnya. Daerah aliran sungai umumnya
kerapatan penduduknya relatif longgar, sehingga pengembangan dan
pemeliharaan kelembagaan menjadi relatif sulit. Populasi penduduk DAS sering
secara ekonomis berada di luar alur besar ekonomi nasional, dianggap daerah
peripheral, di mana administrasi dan pemerintahan lokal relatif lemah.
Rumahtangga menjadi unit dasar pengambilan keputusan dan aktivitas yang
paling menonjol.

Gambar 7. Tahap-tahap yang harus dipenuhi dalam mengembangkan insentif


rehabilitasi hutan dan lahan
34

Pengelolaan DAS memberikan insentif yang rendah bagi penggunanya


untuk melakukan tindakan kolektif. Beberapa alasan dapat dikemukakan
mengapa tindakan kolektif sering gagal terlaksana dalam program rehabilitasi
hutan dan lahan dalam rangka konservasi DAS.

1. Komunitas pemakai sering hanya dapat diidentifikasi secara geografis dan


umumnya tidak memiliki identitas kelompok ataupun struktur otoritas
operasional yang jelas.

2. Manfaat tertunda dan umumnya dinikmati oleh pihak yang tidak


mengeluarkan biaya pengelolaan DAS.

3. Perubahan yang terjadi pada sumberdaya umumnya sulit diketahui dan


diukur, sehingga manfaat dari investasi tidak jelas.

4. Keterkaitan atau saling-ketergantungan antar pemakai sumberdaya


dianggap lemah.

Berdasarkan berbagai alasan yang telah dikemukakan di atas, dapatlah


dikatakan bahwa mengandalkan sepenuhnya pada kelembagaan lokal bagi
rehabilitasi dan konservasi DAS merupakan pilihan yang tidak tepat.
Kelembagan lokal akan efektif sebagai pengelola sumberdaya jika manfaat dan
biaya memiliki berbagai ciri sebagai berikut: (a) manfaat timbul dengan cepat,
(b) manfaat dapat dinikmati secara lokal, (c) manfaat dapat dilihat secara
nyata, dan (d) manfaat dapat diperoleh oleh orang yang sama yang
menanggung biaya. Karakteristik manfaat dan biaya rehabilitasi dan konservasi
DAS memiliki ciri sebagai berikut: (a) manfaat muncul dalam jangka panjang,
(b) manfaat dinikmati oleh pihak yang jauh lokasinya, (c) manfaat sulit untuk
diidentifikasi, dan (d) manfaat juga dinikmati oleh mereka yang tidak ikut
menanggung biaya. Jadi rehabilitasi dan konservasi DAS perlu diatur oleh
lembaga yang lebih tinggi tingkatannya daripada tingkatan kelembagaan lokal.

Peranan pemerintah pusat ataupun kabupaten diharapkan masih relatif


besar. Kelembagaan lokal sulit diharapkan untuk memainkan peranan sentral
dalam rehabilitasi dan konservasi DAS. Hal ini bukan berarti bahwa
35

kelembagaan lokal menjadi tidak penting. Berbagai pengalaman dari program


pengelolaan DAS menunjukkan bahwa menggerakkan masyarakat untuk
melakukan aktivitas rehabilitasi sulit dilakukan melalui pemaksaan atau
intervensi dari luar. Respon masyarakat (petani) yang berada di daerah yang
terpencil, di mana campur tangan pemerintah relatif kecil dan lebih banyak
bersandarkan pada indigenous local institutions, terhadap program rehabilitasi
ternyata lebih baik. Masih ada peluang untuk memberikan peranan yang
penting pada kelembagaan lokal dalam pengelolaan rehabilitasi DAS, terutama
yang menyangkut berbagai hal yang menjadi interest penduduk lokal.
Kelembagaan lokal juga menjadi penting jika program rehabilitasi dan
konservasi DAS dilandaskan pada permasalahan lokal. Program rehabilitasi DAS
juga lebih efisien dan sustainable apabila dapat memanfaatkan bakat dan
keterampilan masyarakat lokal daripada mendatangkan tenaga dari luar daerah.

Hubungan kelembagaan antara BRLKT/BPDAS, Dinas Kehutanan Propinsi


dan Dinas Kehutanan serta seluruh pihak terkait (stakeholders), termasuk
komunitas lokal dikukuhkan melalui Forum pengelolaan DAS dan rehabilitasi
lahan yang berfungsi dalam penyusunan perencanaan terpadu, kontrol dan
evaluasi program. Sinergi program yang diimplementasikan oleh seluruh pihak
terkait akan dapat dijamin bila forum diinisiasikan atas dasar kebutuhan lokal
dan dibangun atas dasar keinginan seluruh pihak terkait untuk memecahkan
masalah rehabilitasi dan pengelolaan DAS. Struktur kegiatan, peran berbagai
stakeholders dan sumber-sumber kegagalan atau inefisiensi yang mungkin
terjadi dapat dilihat pada Tabel 4.
36
Tabel 4. Struktur Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan lahan

AKTIVITAS UTAMA PIHAK TERKAIT SUMBER KEGAGALAN/INEFISIENSI

Penyusunan Pola Umum, Kriteria & Indikator Pemerintah Pusat (DepHut), mestinya melibatkan Bias substansial dan/atau kepentingan pemerintah pusat
RHL Bapedal

Penjabaran Pola Umum, Kriteria & Indikator Seluruh stakeholders: lokal, kabupaten, propinsi, Pusat Perbedaan persepsi, pemahaman dan kepentingan stakeholders
RHL sesuai karakteristik DAS (tergantung karakteristik DAS)

Penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Seluruh stakeholders: lokal, kabupaten, propinsi, Pusat Perbedaan komitmen untuk melaksanakan RPDAS terpadu akibat perbedaan
(RPDAS) Terpadu (tergantung karakteristik DAS) kapasitas stakeholders kesepakatan atas ruang yang harus dipertahankan

Adopsi RPDAS Terpadu menjadi Perda Pemerintah Kabupaten -


Daerah

Penyusunan Proposal Implementasi RPDAS Stakeholders tingkat Kabupaten, diusulkan kepada Kesalahan interpretasi stakeholders atas RPDAS terpadu dalam konteks RHL,
tingkat lokal (bisa banyak proposal) Gubernur oleh Bupati dengan tembusan ke BRLKT dan perbedaan kapasitas stakeholders

Pembahasan dan Persetujuan Setiap Pemerintah Propinsi (Dinas Kehutanan Propinsi), Kriteria yang disepakati stakeholders untuk proposal yang layak disetujui;
Proposal BRLKT Kanwil DJA Pengesahan persetujuan proposal biaya transaksi

Implementasi RHL Pelaksana yang disepakati stakeholders Perbedaan kapasitas pelaksana RHL

Pengendalian Tingkat Implementasi RHL Teknis: Bupati, Dephut Kriteria yang disepakati untuk dijadikan alat intervensi bahwa proyek
dihentikan atau diteruskan; biaya transaksi
Kelembagaan: Stakeholders

Pengawasan: Bupati

Pelaporan Proyek: Pimpro Akses publik terhadap laporan Implementasi RHL serta mekanisme umpan
balik terhadap RPDAS Terpadu dan Implementasi RHL
Teknis: BRLKT

Akuntabilitas: Bupati

Pemantauan dan Evaluasi Seluruh stakeholders, dikoordinasikan oleh pihak yang Akses publik atas hasil-hasil implementasi RHL dan mekanisme umpan balik
disepakati terhadap RPDAS Terpadu dan Implementasi RHL
37
37

IV. PERSPEKTIF SEJARAH PERKEMBANGAN


REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DI INDONESIA

Manfaat hutan bagi kehidupan manusia semakin hari dirasa semakin


besar, sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan peranan hutan dalam
suatu ekosistem wilayah. Begitu juga dalam menempatkan skala prioritas
manfaat sumberdaya hutan akan sangat bergantung pada perkembangan
kehidupan masyarakat pada saat itu. Secara umum manfaat hutan dapat
dikelompokkan ke dalam manfaat yang bersifat "tangible" dan "intangible" atau
"use values" dan "non use values".

Penempatan skala prioritas yang kurang tepat, yaitu hutan sebagai


penghasil kayu, telah menimbulkan banyak masalah, karena hutan tidak dapat
berfungsi optimal dalam mengendalikan keanekaragaman hayati, iklim mikro,
tata air dan keseimbangan lingkungan.

Degradasi hutan akibat penebangan di luar batas kemampuannya telah


terjadi sejak lama, baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa. Di Pulau
Jawa pada masa pemerintahan Hindia Belanda, eksploitasi hutan alam jati dan
konversi hutan menjadi perkebunan telah terjadi secara besar-besaran dan lebih
diperparah lagi pada masa pendudukan Jepang, yang melakukan penebangan
hutan untuk kepentingan perang.

Pembukaan perkebunan secara besar-besaran dengan mengkonversi dari


lahan hutan terjadi sejak jaman penjajahan Belanda, telah mengakibatkan erosi
dan banjir yang dahsyat antara lain di Solo pada pertengahan dan akhir abad
ke-19. Oleh karenanya pemerintah Belanda pada waktu itu, tahun 1844
menerbitkan Undang-undang yang mengatur tentang pembukaan hutan.
Namun undang-undang tersebut tanpa pengawasan yang ketat tidak dapat
dijalankan dengan efektif, karena tuntutan kebutuhan lahan. Hal tersebut
ditunjukkan oleh peningkatan sedimentasi di sungai Cilutung dari 0,9 mm per
38

tahun pada tahun 1911 menjadi 1,9 mm per tahun pada tahun 1917. Coster,
pengamat sedimentasi tersebut akhirnya memimpin “Badan Reboisasi” yang
dibentuk tahun 1930. Ordonansi yang dikeluarkan antara lain pengaturan luas
minimum hutan di suatu wilayah. Saat itu mulai dikenal bangunan konservasi,
yaitu teras sengkedan serta penggunaan pupuk hijau.

Berbeda dengan saat penjajahan Belanda, pada waktu pendudukan


Jepang, masalah konservasi tanah dan air tidak terperhatikan karena lebih
menekankan pada pemenuhan kebutuhan pangan dengan membuka hutan
secara ekstensif. Lebih lanjut erosi dan kerusakan lahan semakin menjadi-jadi.

Pada saat awal kemerdekaan Indonesia, kerusakan lahan dan tanah


belum bisa disentuh dengan nyata, karena perhatian pemerintah lebih banyak
diberikan kepada usaha yang digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan
yang baru diproklamasikan.

I. J. Kasimo, Menteri Kesejahteraan pada waktu itu, yaitu tahun 1951-


1955 memperkenalkan Rencana Kesejahteraan Istimewa dengan salah satu
kegiatan yang berupa pembuatan teras dan penghijauan lahan pekarangan,
disamping dilaksanakan Percobaan Pertanian Tanah Kering.

Pada tahun 1956 dicetuskan Hari Pohon atau disebut sebagai Arbour
Day pada Kongres Kehutanan di Bandung. Setelah itu dilakukan kegiatan
Pekan Penghijauan Nasional yang pertama, yaitu pada tanggal 17-23 Desember
1961. Saat itu dilakukan penanaman pohon di tengah perkebunan teh Gunung
Mas.

Pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk penghijauan walau


dana yang dialokasikan sangat terbatas. Anggaran tersebut dituangkan dalam
Proyek Departemen Pertanian nomor 001-037. Selanjutnya dengan dimulainya
Pembangunan Lima Tahun (Pelita) yang pertama pada tahun 1969, maka
dibentuk proyek Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai dan Lahan Kritis serta
Reboisasi. Namun pada tahun 1971 proyek tersebut diubah menjadi Proyek
Reboisasi dengan wilayah kerja Daerah Aliran Sungai. FAO memberikan
39

bantuan dengan nama “Upper Solo Watershed Management and Upland


Development Project”. Selanjutnya dikeluarkan Inpres No 8/76 tahun 1976
tentang bantuan penghijauan dan reboisasi. Pada periode inilah terbentuk
Proyek Perencanaan dan Pembinaan Reboisasi dan Penghijauan Daerah Aliran
Sungai (P3RPDAS).

Pada Pelita-pelita selanjutnya, pemerintah Indonesia lebih menekankan


kepada proyek yang diutamakan pada DAS-DAS kritis atau DAS prioritas
dengan bantuan dari berbagai instansi donor luar negeri, seperti USAID, World
Bank, dan IBRD.

Berdasarkan kegiatan dalam proyek-proyek yang dapat dilihat mengalami


penyempurnaan terutama dalam perencanaan. Dalam periode Pelita I dan II
aspek pemerataan kegiatan lebih menonjol sehingga lokasi reboisasi dan
penghijauan tersebar pada 36 DAS di 21 propinsi dan 121 kabupaten. Hasil
evaluasi pelaksanaan reboisasi dan penghijauan selama Pelita I hingga III
walaupun bersifat “klise” sebagai berikut :

1. Timbulnya kesadaran pentingnya konservasi tanah dan air.

2. Mulai muncul swadaya masyarakat dalam kegiatan konservasi tanah dan


air.

3. Secara keproyekan terjadi peningkatan luas reboisasi dan penghijauan.

4. Dampak negatif di hilir (off-site) masih belum teridentifikasi benar karena


belum ada pemantauan.

5. Oleh petani proyek dianggap sebagai charity, belum tumbuh rasa sense of
belonging.

6. Lahir kader-kader dalam konservasi tanah dan air melalui proyek-proyek


yang telah ada.

Di luar Pulau Jawa penebangan hutan mulai marak setelah diterbitkannya


PP.No. 64.Tahun 1957. Berdasarkan peraturan itu banyak bermunculan konsep
hutan, perhitungan tebang, maupun ijin penebangan, yang melakukan
40

eksploitasi hutan untuk menyediakan bahan baku industri panglong terutama di


Propinsi Riau dan Kalimantan Timur. Sejak lahirnya orde baru, yang
berorientasikan pada percepatan penebangan secara pragmatis, sumberdaya
alam hutan menjadi harapan salah satu kekuatan penggerak akselarasi
pembangunan. Hutan telah memberikan sumbangan yang besar dalam
menyediakan devisa negara, setelah minyak dan gas bumi. Namun dibalik itu
ekploitasi hutan telah menyebabkan kerusakan hutan di mana-mana.
Diperkirakan jumlah luasan hutan rusak telah mencapai 56,48 juta ha dengan
laju "deforestasi" dalam sepuluh tahun terakhir sekitar 1,6 juta ha per tahun.
Kerusakan tersebut tambah diperparah lagi oleh aktivitas masyarakat yang
melakukan penebangan illegal, karena aksesnya tertutup dengan adanya Hak
Pengusaha Hutan (HPH) yang beroperasi di wilayah yang sama.

Kerusakan hutan dan dampaknya terhadap ekosistem wilayah, terutama


terhadap pengendalian tata air, telah pula dipahami dan disadari sejak lama,
oleh para rimbawan dan penentu kebijakan. Upaya rehabilitasi hutan dan lahan
telah dilakukan, namun hasilnya belum memenuhi harapan, atau belum
menunjukkan kemajuan yang berarti jika dibandingkan dengan laju kerusakan
yang terjadi. Secara fisik volume pekerjaan rebosisasi hanya sebesar 50.000-
70.000 ha per tahun, sedangkan volume pekerjaan penghijauan hanya 400.000-
500.000 ha per tahun.

Konservasi tanah dan air di Indonesia sebenarnya telah lama menjadi


perhatian pemerintah, walau catatan tertulis secara kuantitatif baru dimulai
pada jaman penjajahan Belanda di awal abad ke-19. Bukti bahwa konservasi
tanah dan air telah menjadi perhatian Indonesia semenjak zaman kerajaan
adalah sistim pengairan subak di Bali yang merupakan kelanjutan dari masa
kerajaan Majapahit. Walaupun sistim sawah bukan merupakan usaha
konservasi tanah secara langsung, melainkan lebih kepada budidaya tanaman
padi sawah itu sendiri.
41

Masalah dampak kerusakan hutan dan lingkungan, serta upaya


rehabilitasinya ternyata tidak hanya menyangkut aspek fisik saja, tetapi juga
mengangkat aspek sosial ekonomi dan kelembagaannya. Secara lebih spesifik,
upaya rehabilitasi hutan dan lahan dapat dilihat perkembangannya, ditinjau dari
teknis kegiatan, kelembagaan, mekanisme penyelenggaraan dan peran serta
masyarakat sebagai berikut:

A. PERIODE 1951-1973

1. Aspek Teknis

Sebelum tahun 1963 program rehabilitasi hutan dan lahan tidak


terpikirkan, meskipun kerusakan hutan, akibat penebangan telah terjadi
dimana-mana baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa. Begitu pula
pengelolaan hutan melalui pendekatan Daerah Aliran Sungai (DAS) belum
dilakukan.

Penanaman tanah kosong melalui program pembangunan "Hutan


Serbaguna", baru dicanangkan setelah tahun 1964, dimana pada saat itu
kehutanan telah menjadi departemen tersendiri pada masa kabinet 100 menteri.

Program pembangunan hutan serbaguna menitikberatkan pada


rehabilitasi tanah kosong sekaligus dikaitkan dengan usaha ekonomi rakyat
untuk meningkatkan kesejahteraannya. Bentuk kegiatannya terutama adalah
penanaman murbei pada kawasan hutan rusak (tanah kosong) dan pemukiman
ulat sutera.

2. Kelembagaan

Sebelum tahun 1963 hutan-hutan di seluruh Indonesia diurus oleh


Jawatan Kehutanan. Di daerah diserahkan kepada Dinas Kehutanan Tingkat I,
sesuai dengan PP No. 64 tahun 1967.
42

Pada tahun 1963 pengelolaan hutan di Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah
dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan diserahkan kepada perusahaan negara,
dengan tugas utama eksploitasi hutan.

Departemen kehutanan dibentuk pada tahun 1964, namun praktis belum


berbuat apa-apa, karena kemudian segera dibubarkan.

3. Mekanisme Penyelenggaraan

Pada masa kehutanan diurus oleh Jawatan Kehutanan, hutan merupakan


kekayaan alam yang harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat dan dijaga keutuhannya (pasal 33 UUD 1945).

Sesuai dengan aturan pendanaan (ICW merupakan sistem pengelolaan


dana peninggalan kolonial Belanda), yang masih diberlakukan hingga sekarang,
maka semua biaya yang diperlukan untuk pengelolaan hutan harus
mendapatkan persetujuan pemerintah, termasuk kegiatan-kegiatan untuk
reboisasi tanah kosong. Begitu juga hasil penjualan kayu ataupun hasil hutan
lainnya serta restribusi yang ditarik oleh kehutanan, langsung masuk ke kas
negara.

Mekanisme seperti itu, jelas tidak efektif untuk kegiatan pengelola hutan
yang seringkali memerlukan tindakan yang cepat dan tanggap-darurat
(emergency).

Oleh karena itu di daerah-daerah yang dipandang memiliki potensi yang


cukup besar dan permasalahan kehutanan juga cukup banyak, dibentuk
perusahaan negara yakni PN. Perhutani di Pulau Jawa (Jawa Tengah dan Jawa
Timur). PN Perhutani telah mampu menghasilkan beberapa kemajuan, terutama
telah melakukan rehabilitasi tanah-tanah kosong atau hutan rusak, yang terjadi
sebelumnya, meskipun laju kerusakan hutan masih cukup besar pada saat itu.
43

4. Peran Serta Masyarakat

Pelibatan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan hutan masih terbatas


sebagai pekerja hutan, atau dalam hubungan rakyat dengan penguasa. Pada
saat itu penjabat instansi kehutanan adalah penguasa teritorial dengan jabatan
Kepala Daerah Hutan (KDH) dan Menteri Kehutanan adalah Margirstrat, atau
pembantu Jaksa, yang memiliki kewenangan untuk membuat process verbale.
Dengan kewenangan itu, pejabat di lingkungan kehutanan dapat menggerakkan
dan memobilisasi tenaga kerja.

Namun pada masa menjelang G 30 S PKI, penjarahan dan penyerobotan


tanah hutan banyak dilakukan. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi pula
peran serta masyarakat dalam program pembangunan hutan serbaguna (Sutra
Alam) yang pada saat itu sedang digalakkan. Sebagai percontohan untuk
mempromosikan program tersebut, karyawan PN. Perhutani diikutkan sebagai
peserta.

B. PERIODE 1973-1998

1. Aspek Teknis

Pasca kejatuhan orde lama, praktis program rehabilitasi yang baru belum
nampak, namun mulai dipilah perlunya rehabilitasi yang harus dilakukan di
dalam kawasan hutan maupun yang ada di luar kawasan hutan. Di luar
kawasan hutan program aforestation atau penghijauan, dikembangkan melalui
penanaman buah-buahan di lahan masyarakat.

Di dalam kawasan hutan, masih melanjutkan program lama, hanya di


wilayah kerja PN. Perhutani pada tahun 1972 dilakukan percepatan penanaman
tanah kosong yang dikenal dengan "double speed up reboitation". Di luar Pulau
Jawa mulai dicanangkan program "man made forest", yang dikemudian hari
menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI).
44

Baru setelah tahun 1974; Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan


(Ditsi), membuat program Penyelamatan Hutan Tanah dan Air (PHTA), secara
teknis dikembangkan berbagai upaya untuk menanggulangi masalah lahan kritis
melalui pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dalam bentuk
kegiatan:

a. Dalam kawasan hutan

Reboisasi:

- Penanaman di hutan lindung

(Tidak termasuk di kawasan hutan produksi dan hutan konservasi, karena


kedua kawasan hutan diserahkan kepada masing-masing pengelolanya).

b. Di luar kawasan hutan

Penghijauan:

- Pengadaan bibit

- Penanaman

- Terasering

- Bangunan sipil teknis (Cek Dam/Dam pengendali)

Pada Tahun 1984, pendekatan ekosistem DAS lebih ditingkatkan, dengan


strategi penetapan skala prioritas lokasi-lokasi DAS. Skala prioritas didasarkan
atas kekritisan dari kondisi masing-masing daerah aliran sungai.

Sejalan dengan perkembangan waktu dan tuntutan keadaan, kegiatan


tersebut selanjutnya berkembang menjadi:

a. Dalam kawasan hutan

- Reboisasi

- HTI
45

b. Di luar kawasan hutan

1) Penghijauan input langsung (PIL), terdiri dari jenis kegiatan :

- Unit Percontohan UPSA/UPM

- Pemeliharaan Unit Percontohan UPSA/UPM

- Hutan dan atau Kebun Rakyat

- Bangunan Konservasi Tanah (Dam Pengendali/Dam Penahan) dan


bangunan konservasi tanah lainnya. Dalam kondisi tertentu
dapat dilakukan pembuatan dan atau perbaikan jalan desa dan
saluran air.

- Rehabilitasi Teras.

2) Penghijauan Areal Dampak (PAD) jenis kegiatannya dapat berupa


jenis-jenis kegiatan yang terdapat dalam penghijauan input langsung.

3) Penghijauan Swadaya (PS), jenis kegiatannya dapat berupa kegiatan


yang termasuk dalam penghijauan input langsung.

Secara terintegrasi Departemen Kehutanan bersama-sama dengan


departemen lain yang terkait, telah menilai tingkat kekritisan DAS di Indonesia
baik fisik maupun kondisi sosial ekonomi masyarakatnya dan menetapkan 414
DAS sebagai DAS prioritas penanganannya. Dari 414 DAS tersebut, 54 DAS
merupakan DAS prioritas pertama, 207 DAS termasuk prioritas kedua dan 153
DAS merupakan prioritas ketiga.

Upaya pengelolaan DAS oleh Departemen Kehutanan dijabarkan ke


dalam perencanaan pengelolaan DAS, yaitu rencana jangka panjang, jangka
menengah dan rencana jangka pendek. Rencana jangka panjang (15 tahun)
disusun dalam pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (Pola RLKT), yang
membuat arahan rehabilitasi dan konservasi tanah, serta arahan prioritas
penanganan Sub DAS.

Penyusunan Pola RLKT telah diselesaikan untuk 211 DAS/Sub DAS


(52,2% jumlah DAS) mencakup luas lahan 56.202.678 ha (28.9% dari luas
46

daratan Indonesia). Disamping itu disusun Rencana Teknik Lapangan (RTL-


RLKT), yang merupakan rencana jangka menengah (5 tahun), yang memuat
rencana teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan menurut lokasi, jenis
dan volume kegiatan, serta proyeksi tahunannya yang disusun untuk setiap
DAS/Sub DAS (termasuk arahan teknis dan analisis ekonomi untuk setiap usaha
RLKT). Penyusunan RTL-RLKT telah dapat diselesaikan untuk 328 Sub DAS
(19.695.630 ha), atau 10 %dari luas daratan Indonesia.

Untuk lebih mendorong akselerasi penyelenggaraan kegiatan-kegiatan


rehabilitasi lahan, berbagai upaya yang telah dilakukan antara lain :

a. Hutan Rakyat

- Pemberian kredit usaha hutan rakyat yang diatur melalui SK Menteri


Kehutanan No. 54/Kpts-II/1997. Besarnya kredit usaha adalah Rp.
2000.000/ha dengan tingkat bunga sebesar 6 % per tahun dan telah
disalurkan dana sebesar Rp. 20.231.394.000 dengan luas areal sekitar
10.565 ha dan melibatkan 9.781 orang petani.

- Investasi pemerintah dalam pembangunan hutan rakyat dilaksanakan


melalui unit-unit areal model yang dilaksanakan di 12 propinsi (Aceh,
Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan
Sulawesi Selatan). Selain itu telah diberikan juga subsidi bibit untuk
pengembangan areal dampak hutan rakyat dan diperkirakan sampai
saat ini masyarakat telah mampu membangun hutan rakyat seluas
1.328.358 ha yang tersebar di 22 propinsi.

b. Sutera Alam

- Kredit usaha tani persuteraan alam kepada petani yang dituangkan


dalam SK Menhut No. 50/Kpts-II/1997. Pengembangan Kredit
Usahatani Persuteraan Alam dilakukan pada daerah pusat-pusat
produksi benang sutera di 4 propinsi yaitu (Sumatera Barat, Jawa
Barat, DI Yogyakarta dan Sulawesi Selatan). Sampai dengan bulan
47

Februari 1998 jumlah kredit yang disalurkan sebesar Rp. 7.302.398.400


untuk areal seluas 1.070 ha dan melibatkan sekitar 1.166 petani.

- Peranan pemerintah dalam mendorong usahatani persuteraan alam


dalam bentuk bantuan teknis berupa pembangunan kebun bibit murbei
jenis unggul, bibit ulat sutera, pelatihan petani dan bantuan sarana
produksi khususnya di daerah sentra usaha sutera alam di Sulawesi
Selatan.

c. Lebah Madu

- Pembinaan pengembangan perlebahan dilakukan oleh Departemen


Kehutanan dan Perkebunan melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan
petani, pembuatan model usaha lebah madu, pengkayaan tanaman
pakan lebah, bantuan koloni dan sarana produksi. Kegiatan ini telah
dilakukan di 20 propinsi yang mencakup 50 kabupaten.

- Jumlah bantuan yang telah disalurkan kepada masyarakat petani


perlebahan sejak Pelita IV sebanyak 4.5000 kotak lebah, bibit pakan
lebah sebanyak 108.500 batang. Obat-obatan sebanyak 1.200 unit dan
sarana produksi pengolahan madu sebanyak 25 unit. Disamping itu
telah dilakukan pula pelatihan budidaya lebah madu terhadap petani
lebah sebanyak 5.131 orang, petugas penyuluhan sebanyak 250 orang,
pramuka sebanyak 30 orang dan Penyuluh Swadaya Wanita sebanyak
30 orang yang diharapkan menjadi kader-kader usaha tani perlebahan.
Kegiatan-kegiatan pembinaan usaha perlebahan dilakukan oleh Perum
Perhutani di pulau Jawa melalui PMDH, diluar Jawa oleh PT. Inhutani
melalui pola kemitraan disamping itu ditunjuk pula HPH/HPHTI untuk
melaksanakan pembinaan perlebahan.

d. Kredit Usaha Tani Konservasi Tanah (KUK-DAS)

- KUK-DAS telah dirintis sejak tahun anggaran 1988, 1989 telah diawali
dengan pilot Proyek KUK-DAS di 2 kabupaten, kemudian pada tahun
1990/1991 dikembangkan menjadi 6 propinsi dan sejak tahun
48

1993/1994 dikembangkan menjadi 21 propinsi. Sampai dengan bulan


Februari 1998 perkembangan KUK-DAS telah melibatkan 39.155 petani
(887 kelompok) pada 520 desa dengan areal usaha tani seluas 18.817
ha. Dana kredit yang telah disalurkan sebesar Rp. 32.618.125.318
(62.29%) dari garansi kredit sebesar 47.003.868.205. Angsuran kredit
yang telah jatuh tempo adalah sebesar Rp. 7.292.071.984 dan
pengambilan angsuran pokok kredit telah mencapai sebesar Rp.
5.486.545.053 (75.29%) dari pokok kredit yang telah jatuh tempo.

e. Hutan Kemasyarakatan

- Sejak tahun 1997, telah dikeluarkan SK Menteri Kehutanan yang


mengatur tentang pelaksanaan Hutan Kemasyarakatan, namun
peraturan tersebut telah berganti, dan pada implementasinya, tidak
membuahkan hasil nyata di lapangan. Bahkan yang berhasil
dilaksanakan adalah yang melalui bantuan OECF (Overseas Economic
Coorporations Fund-Jepang) yang dilaksanakan di berbagai wilayah
dan telah meliputi areal seluas 18. 681 ha.

- Sejak tahun 1990 dilaksanakan kerjasama teknik (grant) dengan


pemerintah Jerman (GTZ) di Propinsi Kalimantan Barat untuk
memperoleh metode pembangunan Hutan Kemasyarakatan yang
paling tepat sesuai kondisi setempat, dikenal sebagai SFDP.
Pendekatan partisipatif merupakan ciri pokok dari SFDP ini.

- Pengembangan HKM dilaksanakan di 19 propinsi (Aceh, Sumatera


Utara, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu,
DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Bali, NTB, NTT, Maluku,
Irian Jaya dan Timor Timur). Sebagai pelaksana kegiatan telah
ditunjuk BUMN Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Perum
Perhutani dan PT. Inhutani), dan tanaman yang telah dibangun sampai
dengan tahun 1997/1998 mencapai luas 72.753 ha (NTT, NTB dan
49

Timor Timur seluas 57.566 ha dan di luar NTT, NTB dan Timor Timur
seluas 15.187 ha). Jenis tanaman terdiri dari jenis yang mempunyai
banyak manfaat (MPTS) sebanyak 30% dan sisanya berupa tanaman
pangan (padi, jagung dan kacang-kacangan serta palawija lain)
dilaksanakan terutama di NTT dan NTB.

2. Aspek Kelembagaan

Penyelenggaraan program rehabilitasi lahan dalam bentuk proyek


penghijauan pada masa sebelum otonomi daerah seperti uraian berikut ini.
Gubernur dan Bupati merupakan administrator tunggal yang memiliki
kewenangan penuh untuk mengkoordinasikan kegiatan sektoral di wilayahnya
sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat. Kepala Daerah Tingkat I dan
Kepala Daerah Tingkat II merupakan Kepala Daerah Otonom yang memiliki
kewenangan untuk mengatur daerahnya sendiri yang diimplementasikan dalam
peraturan daerah.

Kewenangan Gubernur, Bupati, Kepala Daerah Tingkat I dan Kepala


Daerah Tingkat II digunakan sebagai jembatan untuk menyelenggarakan
program rehabilitasi lahan dan merupakan kewenangan pemerintah pusat yang
diturunkan ke daerah. Secara sektoral program tersebut didelegasikan melalui
Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT), untuk bidang
perencanaan, pembinaan dan pengawasannya. Pelaksanaan kegiatan
diserahkan ke Daerah Tingkat II dengan bupati sebagai penanggung jawab
yang dilaksanakan oleh Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah (PKT). Di
lapangan Dinas PKT bekerjasama dengan Camat dan Kepala Desa serta Pemuka
Masyarakat mengkoordinir Kelompok Tani yang ada di wilayahnya untuk
melaksanakan kegiatan tersebut, yang kemudian diberikan insentif melalui
berbagai skema. Bentuk insentif yang diberikan meliputi :

- Pembinaan kelembagaan

- Bantuan bibit
50

- Bantuan teknis (penyuluhan, demplot)

- Kredit

Organisasi Tim Pembina Penghijauan dan Reboisasi Tingkat I (TPPR) dan


Tim Koordinasi Penghijauan dan Reboisasi Tingkat II (TKPR) dibentuk sesuai
dengan kebutuhan, namun secara garis besar adalah sebagai berikut :

a. Susunan Tim Pembina Penghijauan dan Reboisasi Tingkat I, adalah :

Ketua : Wakil Gubernur KDH Tingkat I

Wakil Ketua I : Ketua Bappeda Tingkat I

Wakil Ketua II : Asisten Sekwilda Tingkat I yang membidangi


pembangunan

Sekretaris I : Karo Lingkungan Hidup (LH) Setwilda Tingkat


I/Kabid Pemantauan dan Pemulihan
Bapedalda, merangkap Ketua Sekretariat

Sekretariat II : Kepala Balai RLKT/Kabid RRL Kanwil


Kehutanan merangkap Wakil Ketua Sekretariat

Anggota : Kanwil Kehutanan, Kanwil Pertanian, Kanwil


DJA, Bapedalda, Dinas Kehutanan Tingkat I,
Dinas Pertanian Tingkat I, Dinas Peternakan
Tingkat I, Dinas PU, Perkebunan, Badan
Pertanahan Nasional, Kantor PMD dan Balai
RLKT

b. Sekretariat Tim

Dalam Pelaksanaan tugas sehari-hari Tim Pembina dilengkapi dengan


Sekretariat Tim dengan susunan :

Ketua : Karo LH/Kabid Pemantauan dan Pemulihan


Bapedalda

Wakil Ketua : Ka BRLKT/Kabid RRL-Kanwil Kehutanan


51

Anggota : Kabag LH di Biro LH/Kepala Seksi Pemulihan


Kualitas Lingkungan Selaku Pimpro PUPR
Tingkat I, seksi Bappeda Tingkat I dan Dinas
Kehutanan Tingkat I

c. Tim Koordinasi

Susunan Tim Koordinasi Penghijauan dan Reboisasi di tingkat II


adalah :

Ketua : Wakil Bupati/Sekwilda Tingkat II

Wakil Ketua I : Ketua Bappeda Tingkat II

Wakil Ketua II : Asisten Sekwilda Tingkat II yang membidangi


pembangunan

Sekretaris I : Kabag Lingkungan Hidup/Perekonomian,


Sekwilda Tingkat II merangkap Ketua
Sekretariat

Sekretariat II : Kasi Konservasi Tanah Dinas PKT/Kehutanan


Tingkat II merangkap Wakil Ketua Sekretariat

Anggota : Asisten Sekwilda Tingkat II yang membidangi


Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan Tingkat
II, Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan,
Cabang Dinas Kehutanan Tingkat I dan
Tingkat II, Badan Pertanahan Nasional dan
Kantor PMD.

d. Sekretariat Tim Koordinasi

Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari Tim Koordinasi dilengkapi


dengan Sekretriat Tim, dengan susunan :

Ketua : Kabag LH/Kabag Perekonomian

Wakil Ketua : Kasi Konservasi Dinas PKT/Kehutanan Tingkat


II
52

Anggota : Bappeda Tingkat II, unsur Dinas Tanaman


Pangan Tingkat II, Subag LH/Subag
Perekonomian

Adapun kewajiban dan tanggung jawab masing-masing unsur organisasi


adalah :

a. Gubernur KDH Tingkat I yang selanjutnya disebut gubernur berkewajiban


untuk membina penyelenggaraan bantuan penghijauan di Dati II, dan
menyelenggarakan bantuan reboisasi serta bertanggung jawab atas :

• Pembinaan perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan, pengamanan


dan pengembangan hasil dan melakukan pengawasan dan pelaporan
bantuan penghijauan serta membina peranserta dan swadaya
masyarakat/swasta

• Perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pelaporan bantuan


reboisasi serta pemeliharaan, pengamanan dan pengembangan hasil-
hasilnya.

• Pembinaan peranserta dan swadaya masyarakat/swasta

• Tugas dan tanggung jawab gubernur tersebut sehari-hari dilaksanakan


oleh TPPR.

b. Bupati KDH Tingkat II yang selanjutnya disebut bupati berkewajiban untuk


menyelenggarakan bantuan penghijauan dan bertanggung jawab atas :

• Perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemeliharaan, pengamanan,


pengembangan hasil dan pelaporan bantuan penghijauan

• Pengamanan hasil reboisasi

• Pembinaan peran serta swadaya masyarakat/ swasta

• Tugas dan tanggung jawab Bupati KDH Tingkat II tersebut, sehari-


harinya dilaksanakan oleh TKPR.

c. Camat bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan


pengamanan hasil kegiatan penghijauan dan reboisasi, pembinaan
53

peranserta dan swadaya masyarakat, serta bertanggung jawab atas


kelancaran dan ketertiban pelaksanaan penghijauan dan reboisasi. Tugas
dan fungsi camat tersebut ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati KDH
Tingkat II selambat-lambatnya pada minggu kedua Bulan April.

d. Kepala desa bertanggung jawab atas pelaksanaan pengamanan hasil


kegiatan penghijauan dan reboisasi. Tugas dan fungsi kepala desa
tersebut ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati KDH Tingkat II
selambat-lambatnya pada minggu kedua Bulan April.

e. Kepala Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah Dati II/Dinas Kehutanan


Dati II adalah penanggung jawab harian pelaksanaan bantuan
penghijauan, dan Kepala Dinas Kehutanan Tingkat I adalah penanggung
jawab harian dalam pelaksanaan bantuan Reboisasi.

f. Bupati KDH Tingkat II dengan Surat Keputusan menetapkan/ menunjuk


Pemimpin dan Bendaharawan Proyek Penghijauan yang berasal dari Dinas
PKT/Dinas Kehutanan Tingkat II.

g. Gubernur KDH Tingkat I dengan Surat Keputusan menetapkan/ menunjuk


Pemimpin dan Bendaharawan Proyek Reboisasi yang berasal dari Cabang
Dinas Kehutanan Tingkat I dan Tingkat II.

h. Gubernur KDH Tingkat I dengan Surat Keputusan menetapkan/ menunjuk


Pemimpin dan Bendaharawan Proyek PUPR Tingkat I yang berasal dari
Biro Lingkungan Hidup/Bidang Pemantauan dan Pemulihan pada
Bapedalda Tingkat I.

3. Mekanisme Penyelenggaraan

Program rehabilitasi lahan merupakan kebijakan nasional, yang pada


awalnya diimplementasikan dalam bentuk Proyek Inpres yang dimulai pada
tahun 1976, dalam rangka penyelamatan hutan, tanah dan air. Program
54

tersebut meliputi Proyek Reboisasi yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan dan
Proyek Penghijauan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah.

Sebagai motor penggerak pada saat itu dibentuk institusi proyek dibawah
Direktorat Jenderal Kehutanan/Departemen Kehutanan dengan nama Proyek
Perencanaan dan Pembinaan Reboisasi dan Penghijauan Daerah Aliran Sungai
(P3RPDAS), yang kemudian berkembang menjadi Balai Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah (BRLKT). Fungsi pokok institusi tersebut adalah menyusun
rencana kegiatan-kegiatan proyek dalam pelaksanaan program, dan tugas-tugas
pembinaan rehabilitasi lahan.

Hingga dewasa ini program bantuan penghijauan maupun reboisasi


menjadi beban pemerintah pusat. Bantuan penghijauan diberikan kepada
Pemerintah Daerah Tingkat II yang diarahkan untuk melaksanakan kegiatan
konservasi tanah dan air melalui usaha tani.

Pada awalnya bupati yang sekaligus sebagai kepala daerah bertindak


sebagai pemimpin proyek penghijauan dalam kegiatan pengadaan bibit,
penanaman, pemeliharaan tanaman, terasering dan bangunan konservasi tanah
(Cek Dam/Dam Pengendali).

Mengingat beban kerja bupati sebagai kepala daerah sangat berat maka
untuk kelancaran tugasnya, dibantu oleh Petugas Khusus Penghijauan (PKP),
sedangkan dalam bidang perencanaan dan bimbingan teknis dilaksanakan oleh
P3RPDAS. Di lapangan bimbingan teknis dilakukan oleh Petugas Lapangan
Penghijauan (PLP), yang semula dibawah koordinasi PKP, karena
keberadaannya dalam paket INPRES, berikut dengan beban pendanaannya.
Namun sejalan dengan perkembangan sistem perproyekan dimana P3RPDAS
berubah menjadi institusi yang lebih establish (tetap) yakni Balai Rehabilitasi
Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT), PLP menginduk kesana dan personalnya
pun berubah menjadi pegawai tetap pemerintah pusat.

Pada fungsi organisasi kelemahan yang dirasakan dalam penyelenggaraan


program bantuan reboisasi adalah adanya pemisahan antara tugas
55

pembinaan/pengendalian teknis dan tugas pembinaan/pengendalian


administrasi pada instansi yang berbeda, yaitu Departemen Kehutanan dan
Pemerintah Daerah Tingkat I. Keberadaan Tim Pembina Tingkat I yang
dimaksudkan sebagai wadah koordinasi penyelenggaraan reboisasi, dalam
perkembangannya saat ini mengambil alih tugas-tugas instansi yang terkait,
yaitu dibidang pembinaan administrasi dan pengendalian teknis di lapangan.
Hal ini mengakibatkan instansi yang terkait dalam penyelenggaraan reboisasi
seperti Dinas Kehutanan, Kanwil Kehutanan dan Balai/Sub Balai RLKT merasa
hanya bertanggungjawab dalam kapasitasnya sebagai anggota Tim Pembina
Tingkat I. Pada fungsi pelaksanaan kelemahan yang masih dirasakan
menghambat adalah penyediaan dana yang selalu tidak tepat waktu, akibat
proses adminitrasi yang cukup panjang. Pengembangan sumberdaya manusia
dalam arti peningkatan kecakapan individu di tingkat proyek maupun propinsi
dan peningkatan jumlah dana dalam penyelenggaraan reboisasi tidak cukup
berperanan dalam memperbaiki keberhasilan penyelenggaraan reboisasi,
demikian pula penyempurnaan teknologi bukanlah faktor penting yang dapat
menentukan keberhasilan penyelenggaraan reboisasi.

Persoalan lain yang mendasar dalam penyelengaraan reboisasi terletak


pada aspek institusinya, yaitu kurang dipahaminya sifat/karakteristik hasil
reboisasi sebagai sumberdaya dengan akses terbuka (open acces resources),
berjangka panjang dan intangible. Dengan demikian institusi penyelanggaraan
reboisasi yang berjalan justru meningkatkan biaya transaksi dan bukan
mengendalikan biaya transaksi tinggi yang disebabkan oleh sifat alami hasil
reboisasi. Institusi yang berjalan belum dapat memastikan instansi mana
sebagai penanggungjawab (manajer) keberhasilan penyelenggaraan reboisasi.
Lemahnya pemilikan (insecure property right) hasil reboisasi menyebabkan
ukuran keberhasilan penyelenggaraan reboisasi tidak menjadi insentif, karena
instansi yang terlibat kurang memiliki resiko (low risk perception) terhadap
kegagalan penyelenggaraan reboisasi.
56

4. Peran Serta Masyarakat

Keterlibatan masyarakat sebagai peserta pada awalnya karena tanahnya


didaftar oleh Petugas Lapangan Penghijauan (PLP). Peranan kepala desa,
camat maupun aparat yang lain sangat besar dalam hal ini. Kesertaan sebagai
wujud partisipasi pada umumnya belum nampak. Penyelenggaraan program
lebih bersifat birokratif. Sudah barang tentu motivasi terhadap keberhasilan
program sangat rendah, dan ini terbukti dalam pelaksanaannya. Setelah selesai
periode proyek, kegiatan tersebut mereka tinggalkan.

Pada periode selanjutnya, penyelenggaraan program diubah, dengan


menerapkan sistem Demonstrasi Plot (Demplot). Diharapkan dengan sistem ini
peserta dibatasi kepada mereka yang telah tertarik dengan contoh-contoh
program. Demplot dilaksanakan oleh Sub Balai/Balai RLKT. Namun dalam
pelaksanaannya keikutsertaan mereka juga masih melalui peranan aparat desa,
sehingga masih tetap birokratis. Jadi peserta program adalah petani dampak
yang direncanakan.

Keikutsertaan masyarakat yang dilandasi oleh keinginan berpartisipasi


karena termotivasi terhadap program, adalah pada program-program yang
dikaitkan dengan usaha komersial seperti, pengembangan Jambu Mete, Lebah
Madu, Sutera Alam, Hutan Rakyat sebagaimana yang telah diutarakan dimuka.
Lebih termotivasi lagi pada program-program yang didukung oleh subsidi, baik
dalam bantuan input maupun pemasaran hasil.

Pengamanan hasil reboisasi sangat mahal. Oleh karena itu masyarakat


yang tinggal di sekitar lokasi reboisasi mempunyai peran penting dalam
penyelenggaraan reboisasi karena mereka, secara tidak langsung dan tidak
formal, berperan dalam pengambilan keputusan apakah hasil reboisasi perlu
diamankan atau tidak. Oleh karena itu institusi harus menempatkan masyarakat
dalam pengambilan keputusan bahkan perlu menjadi unsur ‘pemilik’ hasil-hasil
reboisasi. Jika masyarakat turut ‘memiliki’ hasil reboisasi, masyarakat akan turut
serta mempunyai resiko atas kegagalan hasil reboisasi.
57

Permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan setiap fungsi


manajemen penyelenggaraan reboisasi pada instansi yang lebih tinggi dari
instansi pelaksana program antara lain adalah:

1. Kelemahan peraturan perundangan yang menjadi dasar pelaksanaan


program bantuan reboisasi di daerah, yaitu Juklak yang dikeluarkan setiap
tahun oleh Ditjen Bangda. Materi Juklak tidak sejalan dengan Inpres Nomor
6 Tahun 1984 dan Instruksi Mendagri Nomor 17 A Tahun 1989 Tanggal 27
Juli 1989, yaitu mengurangi bahkan menghilangkan fungsi dan tanggung
jawab Kanwil dan B/SBRKLT dalam perencanaan dan pengendalian teknis.
Perencanaan dan pengendalian teknis, adalah dua aspek yang merupakan
wujud tanggung jawab Menteri Kehutanan dalam pembinaan teknis
program bantuan reboisasi, sebagaimana yang diatur dalam Inpres Nomor
6 Tahun 1984.

2. Tugas pembinaan dan pengendalian teknis belum berjalan seperti yang


ditetapkan dalam pedoman pelaksanaan.

3. Fungsi koordinasi dalam perencanaan belum dilaksanakan.

4. Terdapat perbedaan persepsi mengenai fungsi masing-masing instansi yang


terlibat dalam penyelenggaraan program bantuan reboisasi .

5. Terlihat adanya disinkronisasi antara pendekatan sektor dan wilayah.

6. Belum adanya kejelasan tentang penanggungjawab pengelolaan dan


pengamanan tanaman hasil reboisasi pasca proyek serta status hukum
tanaman yang nyata-nyata gagal.

C. PERIODE 1999-2002

1. Aspek Teknis

Pada masa era informasi pasca orde baru, terutama setelah diterbitkannya
UU No. 22 Tahun 1999; UU No. 41 Tahun 1999; UU No. 25 Tahun 2000 dan
58

diikuti dengan PP No. 25 Tahun 2000, keinginan untuk merubah keadaan sudah
nampak bahkan semangat daerah untuk melaksanakan otonomi begitu tinggi.

Namun secara teknis, setelah tiga tahun lebih penyelenggaraan rehabilitasi


lahan masih melanjutkan program-program lama. Sejalan dengan itu untuk
menyesuaikan kewenangan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam PP No.
25 Tahun 2000, dimana pemerintah pusat hanya berwenang untuk menetapkan
standar dan kriteria, maka melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 20 Tahun
2000. Departemen Kehutanan menyusun Pola Umum dan Standar serta Kriteria
Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Tujuan penyusunan Pola Umum Rehabilitasi
Hutan dan Lahan adalah diperoleh landasan bersama mengenai pendekatan
dasar, prinsip-prinsip, pola-pola penyelenggaraan dan mekanisme pengendalian
pelaksanaan agar diperoleh hasil dan dampak yang efektif sesuai dengan tujuan
rehabilitasi hutan dan lahan.

Namun kegiatan di lapangan masih melanjutkan program-program lama


yakni rehabilitasi hutan rusak, pembangunan Hutan Tanaman Industri dan
Hutan Rakyat serta penghijauan baik melalui pendekatan sipil teknis maupun
vegetatif.

Rehabilitasi hutan atau reboisasi dilakukan oleh pengusaha hutan di Jawa


dan Madura oleh PT Perhutani dan di luar Jawa oleh pengusaha HPH.
Keberhasilan rehabilitasi hutan di luar Jawa sangat memprihatinkan, sehingga
potensi hutan menurun drastis dan akibatnya banyak HPH yang dicabut haknya
atau meninggalkan area kerjanya.

Realisasi pembangunan HTI, berjalan sangat lambat sampai dengan tahun


2000, baru terealisasi 2.584.870 ha (Dephut, 2000), terdiri dari 1.032.018 ha
HTI Pulp, 830.074 ha HTI kayu pertukangan, 283.260 ha HTI Trans dan
439.518 ha pengembangan jenis tanaman unggulan (lokal species).
Pengembangan HTI tersebut terutama tersebar di provinsi Kalimantan Timur
(419.524 ha), Riau (298.576 ha), Kalimantan Barat (124.920 ha), Kalimantan
Selatan (148.248 ha) dan Kalimantan Tengah (106.041 ha).
59

Hutan Rakyat lebih banyak yang dikembangkan secara swadaya di bawah


binaan Dinas PKT. Sebagai contoh hutan rakyat yang dikembangkan di
Kabupaten Wonosobo, yang telah meliputi luasan lebih dari 19.000 ha (lebih
luas dari hutan negara di daerah setempat), dengan kondisi yang baik, ditanam
dalam empat Strata (Sengon, Mahoni, Kopi dan Salak serta Kapulaga), yang
telah terbukti memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat setempat.

Program penghijauan masih mengikuti pola RLKT dan RTL lama, namun
dalam pelaksanaannya telah mengalami kesulitan di daerah, terutama masalah
pendanaan.

2. Aspek Kelembagaan

Fungsi departemen Kehutanan tidak bisa seluruhnya dominan dalam suatu


DAS, hanya dominan pada DAS yang memang mempunyai kawasan hutan yang
dominan, misalnya DAS Ciliwung kawasan hutannya hanya 12% dari total
kawasan. Beberapa peraturan yang berkaitan dengan Pengelolaan DAS yang
sekarang ada antara lain adalah sebagaimana tersaji dalam Tabel 5.

3. Mekanisme Penyelenggaraan

Fungsi Departemen Kehutanan saat ini lebih kearah regulasi, fasilitasi


dan supervisi. Misalnya Regulasi adanya SK no. 52 dan no. 20 pada tataran
impementasinya diterjemahkan pada peran UPT Balai. Sebelumnya balai
dibebani dengan dengan tugas-tugas operasional, namun sekarang setelah
dirubah menjadi Balai Pengelolaan DAS (BPDAS), fungsinya diarahkan sebagai
fasilitator maupun katalisator bukan operator lagi. Misalnya di tingkatan DAS
Ciliwung tercetus keinginan daerah untuk mereview peraturan-peraturan yang
berkaitan dengan DAS Ciliwung dan salah satu program BPDAS tahun 2002-
2003 ditujukan untuk memfasilitasi hal tersebut, wujud fasilitasi itu adalah
membangun instrumen. Didalam konteks pengelolaan DAS terpadu terdapat
rencana multisektor yang tidak terlalu detail tetapi substansinya sebagai
pengikat komitmen stakeholders.
60

Tabel 5. Beberapa peraturan perundangan yang mengatur Pengelolaan DAS.


No. Kategori Uraian
1. UU/PP/PERDA • UU No 11/1974
• PP No 22/1982
• UU No. 5/1990 : KSDA
• PerMen PU No 45/1990
• PerMen PU No 63/1990
• Kepres 32/1990: Kawasan lindung
• PP No 35/1991
• UU. No. 24/1992; Tata Ruang
• Kepmen LH No 35/1995
• UU No. 23/1997: LH
• UU No 41/1999
• PP No 82/2001
• Perlu Restrukturisasi Agraria: UU dan politik agraria dalam
pengelolaan SDA perlu memberdayakan masyarakat lokal.
2. Instrumen • Tata Ruang Berjenjang dan dilakukan dengan konsisten
Kebijakan (penataan ruang kawasan pedesaan)
• Kebijakan Nasional PSDA
• Kesepakatan Penggunaan Valuasi sebagai Instrumen Penilaian
• Manfaat dan biaya bersama antara hulu dan hilir
• Indikator Kinerja kelestarian dalam rangka monitoring dan
evaluasi
• Pengelolaan DAS terpadu
• Upaya peningkatan kelembagaan (peraturan, pendanaan, SDM,
tenaga kerja)
• Master plan drainage
• Master plan air limbah
• Legal instrumen (emergency laws)

3. Organisasi/Pengor • Mobilisasi dana (pusat, propinsi, kabupaten)


ganisasian • Pengembangan Kelembagaan DAS
• Program koordinasi hulu dan hilir dengan konsultasi publik
• Badan yang independen, profesional, dan tidak birokratis serta
melibatkan masyarakat luas
• Pernyataan tanggungjawab masing-masing dan kesepakatan
sukarela
4. Aspek Teknik/ • Kombinasi Normalisasi sungai, resapan, dan Retensi
Teknologi • Rehabilitasi Sempadan Sungai, Bendungan, Situ, Artificial
Recharge, Taman Resapan
• Pengelolaan Hutan, Penghijauan dan reboisasi di Hulu, Tengah
dan Hilir
• Land Use Management and Water Management
• Pengembangan Data Base dan Sistem Monitoring Evaluasi DAS
• Pembuatan pilot project
5. Masyarakat • Program Sadar Akan Bencana
• Identifikasi pelaku dan penanggung jawab banjir (hulu,
tengah, hilir)
• Sosialisasi Rencana dan Kegiatan di Kabupaten dan
Masyarakat.
• Membangun pemberdayaan masyarakat lokal.
• Akses masyarakat terhadap informasi, perumusan kebijakan,
perubahan kebijakan pelaksanaan maupun pengawasan harus
dibuka seluas-luasnya bagi peran serta masyarakat
61

Koordinasi antar institusi guna mendorong pengelolaan DAS terpadu telah


dilakukan, melalui dibentuknya Dewan Nasional Sumberdaya Air melalui
Keppres. Dewan ini memiliki satu komisi dibawahnya yaitu komisi DAS,
Kimpraswil menjadi pimpinan badan koordinasi ini dan untuk menghubungkan
antara tim koordinasi pusat dan tim koordinasi daerah adalah tim pengarah.
Secara umum sudah banyak terbentuk tim-tim koordinasi namun pada
kenyataannya tidak ada satupun yang berjalan sesuai dengan harapan. Hal ini
dimungkinkan oleh hal-hal pokok seperti mekanisme, konstituen dan
paradigmanya masih top down (memihak pusat), yang semestinya segera
diubah.

Peranan pemerintah pusat yang cenderung ingin dominan, sekalipun proses-


proses dilakukan ke daerah agar suatu program berjalan akan menghadapi
tentangan, karena paradigma yang dianut masih bersifat top-down.
Kemungkinan di daerah akan terjadi berbagai tanggapan yang bersifat negatif
terhadap program yang dimaksud peluangnya besar, hal ini terjadi karena pada
tataran riil di lapangan banyak hal antara lain alih fungsi, hak-hak masyarakat
atas tanah tidak terwadahi. Kemudian yang sering terjadi adalah mekanisme
kerjasama yang disusun berbeda satu sama lain sehingga yang terjadi adalah
sama-sama bekerja dengan ketidakjelasan arah pencapaian. Hal ini cukup
berbeda dengan program yang disusun oleh BPDAS dimana setiap pendapat
stakeholders digali kemudian apa maunya di kumpulkan dan disusun menjadi
sebuah rekomendasi keputusan, jadi konsepnya benar-benar disusun secara
bottom-up.

Ketika terjadi banjir maka persoalan teknis RHL di daerah hulu selalu
dikambinghitamkan, padahal persoalan di hilirpun sama pentingnya. Yang
terpenting adalah bagaimana caranya membangun public awareness di
masyarakat pada tingkat grass root melalui penguatan-penguatan
kelembagaan, walaupun inisiasi proses berasal dari atas namun kegiatan ini
akan menghentikan aktivitas kontraproduktif di lapangan. Inisiasi pertama
62

adalah dibentuk forum di hulu yang diketuai oleh Bapeda, tetapi itu hanya
namanya saja soal siapa yang memfasilitasi (dana, materi lain) bisa siapa saja.

Kasus di Jawa Tengah tentang pengelolaan DAS timbul karena perbedaan


persepsi antara Departeman Kimpraswil yang menganggap semua yang
menyangkut air itu adalah wewenang Kimpraswil, sebab mereka melihat bahwa
air itu adalah komoditas, dengan Departemen Kehutanan yang memandang
bahwa air itu adalah jasa lingkungan yang bisa dikategorikan sebagai hasil
hutan non kayu dan jika air itu ada di kawasan hutan sesuai dengan konsesinya
maka itu adalah wewenang kehutanan.

4. Peran Serta Masyarakat

Masyarakat pada era reformasi ini sudah sangat kritis. Sesuai dengan
prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam Kepmen No.20 tahun 2000,
masyarakat telah merespon secara baik, terutama dalam memahami prinsip
keadilan, partisipasi dan kesetaraan. Berdasarkan pengalaman Tim (penulis),
pada saat memfasilitasi kegiatan PRA, maupun LFA dalam Studi Sistem Insentif
Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan nampak cukup antusias dan partisipatif.
Kesadaran tentang pentingnya kegiatan RHL telah nampak dan telah paham
betul bahwa kegiatan tersebut merupakan tanggung jawab bersama dan harus
dilaksanakan secara terintegrasi.
63

V. INSENTIF REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DI DAS


CILIWUNG, ROKAN DAN DODOKAN

A. Karakteristik DAS Wilayah Studi

Studi tentang insentif dalam kegiatan RHL dilakukan di tiga wilayah areal
DAS yaitu: Ciliwung, Rokan dan Dodokan. Letak DAS Ciliwung dimulai dari
hulu yang bermata air di Gunung Gede, terletak di perbatasan kabupaten Bogor
dan Cianjur, kemudian menuju ke bagian tengah DAS yang berada di Kota
Madya Bogor terus mengalir ke Kota Administratif Depok dan akhirnya
bermuara di DKI Jakarta mempunyai luas 36.839 ha. DAS Ciliwung dibagi
kedalam tiga bagian wilayah yaitu : DAS Ciliwung Hulu seluas 14.876 ha, DAS
Ciliwung Tengah seluas 13.763 ha, DAS Ciliwung Hilir seluas 8.200 ha.

DAS Rokan dengan luas wilayah keseluruhan 1.014.294 Ha sebagian


besar terletak di wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir dan
Kabupaten Bengkalis. Bagian paling hulu dari DAS Rokan berada di dua
propinsi lain yaitu masing-masing Propinsi Sumatera Barat melalui Sungai Rokan
Kiri dan Propinsi Sumatera Utara melalui Sungai Rokan Kanan. Pembagian
wilayah DAS Rokan secara terinci terdiri dari Sub DAS Rangau 70.864 ha, Rokan
Kiri 403.807 ha, Mahato 187.156 ha, Rokan Kanan 173.895 ha, Batang Sosah
51.072 ha, Batang Lubuk 75.357 ha dan Sungai Dua 52.143 ha.

DAS Dodokan merupakan bagian dari Sub Satuan Wilayah Sungai


Dodokan, Satuan Wilayah Sungai Dodokan-Moyo-Sari, Propinsi Nusa Tenggara
Barat. Luas DAS Dodokan adalah 53.408 ha meliputi wilayah kerja Kabupaten
Lombok Tengah (7 kecamatan, 44 desa; 84,7%) dan Kabupaten Lombok Barat
(2 kecamatan, 4 desa; 15,3%). Di DAS Dodokan terdapat bendungan yang
mengairi pesawahan di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur sehingga
peran DAS Dodokan juga penting bagi Kabupaten Lombok Timur.

Dari karakteristik masing-masing DAS Ciliwung, Rokan dan Dodokan


terlihat perbedaan yang cukup mencolok, antara lain bahwa DAS Ciliwung
64

merupakan wilayah perkotaan dengan pengaturan yang berlebih namun dengan


kinerja yang belum baik, DAS Rokan merupakan wilayah pedesaan dengan luas
wilayah yang besar sedang mengalami perubahan/konversi hutan alam
menunjukkan kinerja yang cenderung menurun, sedangkan DAS Dodokan
merupakan wilayah pedesaan dengan luasan wilayah relatif kecil pertanian
cenderung intensif juga menunjukkan kinerja yang belum baik.

B. Persepsi Stakeholders Terhadap Rehabilitasi Lahan dan


Penghijauan

1. Respon Masyarakat Lokal DAS Ciliwung

Sebagai suatu program yang keberhasilan kegiatannya membutuhkan


keterlibatan dan dukungan warga komunitas (petani) maka penting untuk
memperhatikan bagaimana sesungguhnya respon petani terhadap implementasi
program rehabilitasi lahan/penghijauan yang selama ini dilakukan. Namun
sebelumnya perlu dipelajari terlebih dahulu bagaimana struktur agraria petani
lokal di DAS Ciliwung. Karena dengan memperhatikan hal ini akan dapat
difahami sejauhmana kondisi aktual pemilikan/penguasaan lahan di kalangan
petani. Selanjutnya perlu dikaji keragaman struktur lahan pertanian yang ada
dalam hubungannya dengan dikotomi penguasaan/pemilikan lahan terutama
yang disebabkan oleh adanya perubahan ekonomi dan teknologi.

Sebagaimana diketahui sejak 3 (tiga) dekade terakhir khususnya


kawasan Puncak yang merupakan bagian dari wilayah hulu DAS Ciliwung telah
berkembang begitu rupa dan diikuti pertambahan penduduk yang begitu cepat.
Di samping itu dengan dukungan udara yang sejuk, kesuburan tanah yang baik
serta lokasi yang strategis dilihat dari kota Jakarta, Bogor, dan Bandung, telah
terjadi proses komersialisasi lahan yang agresif. Penguasaan lahan perorangan
makin meningkat menggantikan status lahan yang semula adalah hak garap
dari para petani lokal. Para petani ini karena berbagai sebab sempat menguasai
65

sebagian lahan Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan teh negara Gunung Mas.
Faktor utama yang dirasakan petani untuk melakukan hal tersebut adalah
karena luas lahan usahataninya tidak lagi mencukupi untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.

Luas rata-rata lahan usahatani para petani di 5 desa kasus yang diteliti
berkisar antara 0.25 - 2 ha dengan tanaman utama hortikultur sayur-mayur.
Karena tidak seluruh petani dapat ditampung pada lahan HGU maka sebagian
petani mencari pekerjaan lain di sektor non-pertanian seperti menjadi tukang
ojek sepeda motor, penjaga villa peristirahatan milik orang kota, karyawan
rumah makan, padang golf, dan sebagainya. Patut dicatat semenjak timbulnya
arus komersialisasi lahan yang semakin merebak, banyak petani lokal yang
tergiur melepaskan sebagian atau seluruh lahan miliknya kepada orang kota
yang bermodal kuat. Pembelian lahan seperti itu jelas makin mempersempit
lahan usahatani petani lokal termasuk dengan melepaskan hak garapnya pada
orang kota atau yang dalam istilah lokal disebut over hak garap. Biasanya
setelah lahan mengalami over hak garap, maka segera diikuti dengan konversi
penggunaan lahan kepada yang bersifat non-pertanian. Hal ini akan
menyumbangkan pengurangan penutupan vegetasi pada permukaan lahan yang
penting untuk pemeliharaan fungsi wilayah hulu DAS Ciliwung sebagai daerah
tangkapan hujan (water catchment area).

Proses komersialisasi lahan yang agresif ini pada derajat tertentu telah
mengakibatkan terciptanya struktur komunitas lokal yang longgar karena
lingkungan mampu membentuk diferensiasi sosial yang makin nyata, walaupun
belum sampai pada tingkatan polarisasi. Termasuk dalam pengertian ini bukan
saja antara warga kota yang menguasai lahan relatif luas, melainkan juga
antara sesama petani setempat. Petani elit lokal dengan kekuatan modal dan
penguasaan lahannya yang relatif luas telah berhasil meningkatkan dirinya
dalam derajat kesejahteraan yang semakin menyolok dibandingkan dengan
kebanyakan warga petani lainnya. Homogenitas sosial yang semula menjadi ciri
66

pengikat sosial dengan berbagai pranata sosial asli, seperti bagi hasil maro, atau
hubungan patron-klien antara petani kaya dan petani miskin, atau bahkan tuna
kisma telah diganti dengan proses peralihan penguasaan tanah yang lebih
mutakhir, seperti sewa komersial, jual beli tanah, selain sistem gadai yang telah
berlangsung selama ini. Dalam keadaan seperti ini, di samping telah terjadi
diferensiasi pada sistem penguasaan tanah, juga telah berkembang diferensiasi
pada masyarakat setempat yang didasarkan pada pola fragmentasi penguasaan
dan pemilikan tanah. Kesenjangan yang semakin lebar diantara masyarakat
telah menyebabkan konflik sosial antar warga setempat dengan pemilik rumah
penginapan, disko, atau kafe - yang notabene adalah milik orang kota misalnya
- makin sering terjadi, walaupun di permukaan layaknya seperti dipicu oleh
sebab lain seperti adanya ketersinggungan norma-norma susila dan keagamaan.

Program Rehabilitasi/Penghijauan Lahan Kritis masih dirasakan bersifat


Top-Down. Hal ini ditandai dengan penyusunan Rencana Program yang belum
melibatkan partisipasi Warga Masyarakat. Akibatnya pilihan atas Jenis Bibit
Tanaman yang akan disebarluaskan, misalnya, tidak senantiasa cocok dengan
kemauan warga. Berubah-ubahnya rencana program secara sepihak oleh pihak
aparat instansi dapat mengacaukan dan mengecewakan perasaan warga, antara
lain; janji untuk membuat sumur resapan di desa Gunung Geulis yang ternyata
hingga kini tidak terwujud, tidak adanya upah untuk tahap perawatan tanaman
(di lahan penanaman maupun di Kebun Bibit Desa) yang akhirnya justru
menjadi beban warga sendiri. Dengan demikian pendekatan program
diharapkan dapat lebih bersifat partisipatif dengan pemahaman agar warga
masyarakat mendapat akses pada pembuatan keputusan-keputusan atas alokasi
sumberdaya program, sehingga dapat lebih sesuai dengan kemauan dan
kemampuan riil yang ada pada warga masyarakat itu sendiri. Beberapa hal
yang dianggap penting dibicarakan bersama dengan masyarakat antara lain
adalah berapa jumlah bibit tanaman buah atau bibit tanaman keras (misal:
Albasia, Mindi) yang harus diadakan, berapa upah yang perlu dialokasikan, pada
tahap apa saja alokasi upah perlu diadakan, berapa orang warga masyarakat
67

yang perlu dilibatkan dalam tahap kegiatan program kali ini, dan seterusnya.
Dalam ungkapan yang lebih singkat, program harus berbasiskan pada
komunitas warga karena mereka adalah salah satu pilar (stakeholders) strategis
DAS Ciliwung yang harus mendapatkan posisi yang memadai.

Program ini diharapkan dapat berlangsung secara berkesinambungan dan


sistematis mengikuti hasil evaluasi atas tahapan kegiatan yang sudah dilakukan
sebelumnya. Hal ini diajukan mengingat selama ini program yang dilancarkan
dirasakan lebih bersifat sporadis dan parsial, serta tidak fokus. Selama ini
pelaksanaan program dianggap dilakukan secara mendadak dan tidak
menyangkutkan diri dengan kebutuhan dan permasalahan warga dalam konteks
yang lebih komprehensif. Pertanyaan seperti seberapa jauh program
rehabilitasi lahan/penghijauan ini dapat menjadi peluang insentif baik dalam
bentuk peluang kerja atau sumber pendapatan baru, sering dilontarkan oleh
masyarakat. Pertanyaan tersebut seyogyanya dapat menjadi bahan pantauan
dan evaluasi pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses ‘duduk bersama’
yang jujur dan terbuka. Patut dicatat pada dasarnya program ini telah
mendapatkan sambutan baik dengan menjadikan warga sebagai subyek sasaran
program sehingga warga merasa telah mendapat semacam pengakuan dari
pemerintah bahwa mereka adalah ‘pemilik’ sah atas tanah garapannya. Namun
program ini belum diikuti dengan tindakan lebih lanjut yang mendudukan
mereka sebagai subyek aktif dalam penyusunan dan pelaksanaan program agar
lebih merasa sebagai pemilik program itu sendiri.

Banyaknya penguasaan lahan (misal: villa-villa peristirahatan) oleh orang


luar jelas telah menyulitkan pelaksanaan program, karenanya pelaksanaan
kegiatan program tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada warga
setempat/kelompok tani. Apalagi diketahui sejak ditetapkan adanya
kebijaksanaan Bopunjur ternyata pembangunan sebagian villa-villa tetap tidak
mengindahkan lingkungan dan malahan tanpa IMB. Tentu saja semua ini
berimbas pada penciptaan situasi dan kondisi yang tidak kondusif, pada derajat
68

tertentu warga meragukan tekad dan itikad pemerintah dalam menyukseskan


program rehabilitasi lahan/penghijauan tersebut.

Ada gagasan menjadikan program tersebut terpadu dengan


pembangunan Hutan Wisata, sehingga sekaligus dapat membuka peluang
kerja/usaha bagi warga setempat. Wilayah hulu DAS Ciliwung yang selama ini
telah menjadi tujuan wisata untuk banyak orang kota dan mancanegara
seyogyanya dapat dilengkapi dengan suatu pembangunan Hutan Wisata. Tentu
saja gagasan ini terpulang kepada hasil kajian dan komitmen dari semua pihak
yang menjadi stakeholders DAS Ciliwung.

2. Respon Masyarakat Lokal DAS Rokan

Dari hasil studi di dua desa di wilayah hulu DAS Rokan, diketahui bahwa
ketidakpastian kepemilikan/kepenguasaan sebagian lahan di kalangan warga
petani masih merupakan masalah utama. Wujud hal ini misalnya terjadi pada
proses pengambilalihan tanah ex onderneming di desa Rambah Tengah Ilir,
yang sebelumnya telah dikuasai warga lokal sebagai kebun rakyat, namun
ternyata diambil-alih kembali oleh pihak pemerintah daerah. Pengambilalihan
tanah masyarakat yang dijadikan areal transmigrasi pada tahun 1980
membuktikan bahwa pemerintah tidak mengakui hak-hak masyarakat atas
tanah adat atau ulayat. Pengambilalihan tanah yang telah menjadi kebun
masyarakat ini dilakukan dengan tekanan serta tanpa ada ganti rugi. Kejadian
itu mendorong masyarakat yang tergusur untuk mengerjakan tanah ex-
onderneming Pasir Jambu sebagai lahan kebun mereka. Meskipun di atas tanah
itu sekarang telah tumbuh tanaman karet, sengon, dan sungkai dengan baik
namun ancaman bahwa tanah akan diambil alih oleh pemerintah daerah tetap
menjadi masalah yang harus diselesaikan.

Selain masalah status tanah, masalah agraria yang lain adalah tidak
adanya batas wilayah yang jelas antara satu desa dengan desa lainnya. Hal ini
menyebabkan terjadinya pertengkaran antar masyarakat. Oleh karenanya
69

direncanakan untuk mengembangkan kerjasama antar desa yang berbatasan


dalam rangka menentukan batas wilayah desa. Masing-masing desa diwakili
oleh masyarakat yang memiliki tanah diperbatasan serta lembaga adat dan
pemerintah desanya.

Kerusakan sungai Rokan yang terjadi di wilayah kecamatan Rambah


terlihat dari debit air yang semakin berkurang, banjir, tebing sungai runtuh atau
longsor, dan berkurangnya jumlah dan jenis ikan. Kerusakan sungai ini
disebabkan erosi yang terjadi di lahan bekas HPH akibat penebangan liar.
Untuk mengatasi masalah kerusakan sungai, masyarakat mengusulkan
beberapa hal, yaitu: (i) penegakan hukum dengan pemberian sanksi yang tegas
kepada penebang dan pengusaha kayu liar, (ii) kegiatan penghijauan di lahan-
lahan kritis dan lahan terlantar dan (iii) penanaman bambu di tebing-tebing
sepanjang sungai Rokan. Masalah kerusakan lain adalah erosi yang terjadi di
lahan pertanian. Erosi terjadi karena beberapa hal: (i) usaha tani tidak sesuai
dengan kemiringan lahan, (ii) tidak adanya terasering, dan (iii) cara pengolahan
lahan atau pembajakan yang tidak tepat. Untuk mengatasi masalah erosi ini
masyarakat merencanakan untuk membuat terasering dan menanam tanaman
penguat teras yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain itu juga
perlu peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani tentang pengelolaan
lahan yang miring. Masalah lain yang berkaitan dengan sumberdaya alam
adalah mengeringnya sumur di pemukiman dan rawa. Masyarakat menduga
penyebab keringnya sumur dan rawa adalah tanaman kelapa sawit yang rakus
air. Untuk mengatasi masalah ini masyarakat mengusulkan agar ada kampanye
untuk menyadarkan masyarakat agar tidak menanam kelapa sawit di kawasan
permukiman dan pertanian.

Program sengonisasi yang pernah dilakukan mempunyai masalah dengan


rendahnya harga jual sengon. Hal ini dibuktikan dengan tidak lakunya sengon
rakyat walaupun telah dijanjikan oleh program sengonisasi akan mendapatkan
harga yang menguntungkan. Ketidakpastian harga ini membuat petani sering
70

mengganti tanamannya. Di sisi lain pemerintah perlu lebih memberikan


jaminan pemasaran. Sementara itu program kayu rakyat harus diprioritaskan
dan penebangan hutan alam secara luas harus dihentikan. Dengan demikian
pengusaha pengolahan kayu lebih banyak mengolah hasil kayu rakyat dan
bukan secara bebas menebang dari hutan alam demi kepentingan sendiri.
Permasalahan lainnya adalah berhubungan dengan hama seperti penggerek
batang pada tanaman sengon dan sungkai, dan jamur akar putih pada akar
karet.

Minimnya ketersediaan air, terutama di musim kemarau, disebabkan


karena tidak adanya saluran irigasi yang dikelola untuk mengairi sawah dan
kurang tepatnya penjadwalan penanaman. Untuk itu diperlukan pembangunan
irigasi untuk mengairi sawah, serta membangun kesepakatan lokal di tingkat
petani dalam menentukan jadwal tanam yang jelas dan adil bagi semua pihak.
Kecenderungan menurunnya luas lahan pangan adalah seiring dengan
perkembangan penduduk dan banyaknya alih fungsi untuk tanaman keras yang
lebih menguntungkan. Untuk itu, pemerintah harus membuat peraturan tentang
tata guna lahan yang disusun dengan melibatkan seluruh komponen
masyarakat.

Program-program yang dikembangkan dirasakan masyarakat belum tepat


baik mekanisme maupun sasarannya. Program-program tidak disusun
berdasarkan kesepakatan dengan masyarakat dan lebih mendengarkan pesanan
dari atas. Lebih dari itu realisasi program seringkali didasarkan atas lobby atau
kedekatan dengan pihak pengambil kebijakan. Program juga sering tidak tepat
waktu sehingga masyarakat sering menunggu terlalu lama untuk
pelaksanaannya. Kurangnya koordinasi antar instansi membuat program yang
dikembangkan seringkali tumpang tindih antara instansi satu dengan yang lain.
Sasaran program juga lebih banyak memprioritaskan daerah yang dekat dengan
kota dan tidak merata sehingga di suatu wilayah terjadi penumpukan program,
namun wilayah lain yang membutuhkan justru tidak ada program sama sekali.
71

Hal yang penting lagi adalah program tidak transparan baik dari segi keuangan
maupun pertanggungjawabannya. Atas dasar hal tersebut maka masyarakat
merekomendasikan seharusnya program disesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat dan dilakukan pendampingan terus-menerus, yang berarti
partisipasi masyarakat dalam pengembangan program harus diperbesar. Dalam
aspek kelembagaan desa juga kurang effektif dalam mendukung program-
program di masyarakat. Hal ini disebabkan internal pemerintahan desa yaitu
tidak terjadi komunikasi dan koordinasi antara pemerintah desa dengan LKMD.
Untuk itu kelembagaan desa harus mulai transparan dengan mengedepankan
musyawarah desa yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk
mengambil keputusan. Kelompok tani sendiri kurang memiliki inisiatif dan
kemandirian. Kelompok tani hanya siap menerima bantuan, bahkan hanya aktif
jika ada proyek. Selepas proyek banyak kelompok yang bubar tanpa
kesinambungan kegiatan. Hal ini disebabkan rendahnya kesadaran dan
pemahaman akan perlunya berkelompok serta rendahnya tingkat pendidikan
masyarakat. Untuk mencapai kemandirian memerlukan proses yang panjang
seiring dengan bertambahnya intensitas tukar-menukar pengalaman dan
pengetahuan antar anggota kelompok sehingga sumberdaya manusia petani
akan dapat ditingkatkan. Untuk mewujudkan hal tersebut dapat dilakukan
inisiasi dengan mengadakan pertemuan kelompok secara teratur.

Pasar merupakan aspek penting dalam menunjang kehidupan bertani


masyarakat, namun aspek ini justru yang paling seringkali dikeluhkan
masyarakat. Berkaitan dengan pasar petani menilai tidak adil karena petani
tidak bisa menentukan harga. Pemerintah juga tidak pernah memberikan
jaminan pemasaran yang menguntungkan petani bahkan untuk program-
program yang dikembangkan pemerintah seperti sengon dan sungkai. Petani
menilai bahwa belum ada komitmen pemerintah untuk memberikan kepastian
harga yang menguntungkan. Situasi ini membuat tengkulak mempermainkan
harga sehingga harga di tingkat petani menjadi rendah. Kondisi ini diperparah
dengan mahalnya ongkos pengangkutan yang menurunkan margin keuntungan
72

petani. Biaya transportasi yang mahal ini disebabkan oleh jalan yang kurang
memadai, harga bahan bakar minyak mahal dan jarak pemasaran yang jauh.
Ditengah tingginya ongkos transportasi, biaya yang dilaksanakan oleh petani
semakin membengkak dengan banyaknya pungutan liar atau illegal. Pungutan
ini sering dilakukan terutama untuk pengangkutan kayu dan dilakukan atau
dibekingi oleh aparat keamanan. Beberapa solusi yang dipikirkan petani adalah
dengan mengusulkan pembangunan pasar yang berdekatan dengan daerah
produksi. Selain sarana fisik seperti pasar, pemerintah juga harus memberikan
kepastian harga yang layak bagi petani berupa harga dasar dan pengawasan
terhadap harga tersebut. Pada tingkat masyarakat, pemberdayaan koperasi
merupakan salah satu solusinya.

Bagi kehidupan petani, sarana dan prasarana merupakan penunjang bagi


kehidupannya. Masyarakat petani merasa bahwa pembangunan belum merata
dimana terbukti banyak jalan desa yang belum dibangun. Ketika musim hujan
jalan becek bahkan ada yang tidak bisa dilewati kendaraan. Kenyataan ini
sangat mengganggu mobilitas mayarakat. Jalan yang rusak juga mempengaruhi
pengeluaran petani untuk ongkos angkut hasil pertanian mereka. Untuk itu
petani berharap pembangunan sarana fasilitas umum seperti jalan di desa
diprioritaskan.

Di luar konteks semua kendala itu, pada dasarnya program rehabilitasi


lahan/penghijauan yang diprakarsai oleh pemerintah sebenarnya mendapatkan
sambutan positif dari warga komunitas lokal. Tanaman sengon dan sungkai
yang banyak dikenalkan sebagai jenis pohon penghijauan ternyata
mendapatkan sambutan yang antusias dari warga karena dinilai dapat
mendatangkan sumber penghasilan bagi warga. Dengan demikian kampanye
sengonisasi yang pernah dilakukan itu dapat dikatakan berhasil baik dan bahkan
warga merespon secara giat untuk membudidayakannya. Hal penting yang
dapat memperlancar pelaksanaan program di lapangan adalah program tersebut
73

dapat menjadi sumber alternatif pendapatan warga lokal, dan keberhasilan


mengembangkan faktor kelembagaan (kelompok tani) sebagai faktor kunci.

Perlu disadari adanya lahan kritis tidaklah terlepas dari perusakan


kawasan hutan atau sumberdaya alam lainnya yang tidak diikuti dengan
penegakan hukum yang memberi sangsi keras bagi para pelanggarnya.
Perusakan ini misalnya karena maraknya penebangan liar yang tak jarang
disponsori oleh para pemodal kuat dari luar desa. Di samping itu menurunnya
daya dukung lahan untuk pertanian tanaman pangan akibat minimnya
ketersediaan air dan kecenderungan menurunnya luas lahan tanaman pangan
melalui konversi fungsi lahan dan lain-lain, telah menyebabkan perlunya
pemerintah menyusun tata guna lahan di aras mikro (lokal).

3. Respon Masyarakat lokal DAS Dodokan

Dari hasil studi di 4 (empat) desa contoh di DAS Dodokan diketahui


bahwa faktor pertumbuhan penduduk alamiah dan migrasi (masuknya
penduduk luar) yang berlangsung setiap tahun cenderung terus meningkat. Hal
ini menyebabkan struktur penguasaan lahan di dalam komunitas lokal makin
terbatas, walaupun antara petani satu dengan petani lainnya cenderung merata.
Dengan kata lain tidak cukup kuat ditemukan gejala yang memperlihatkan
dikotomi penguasaan lahan, kecuali sebatas pembentukan diferensiasi sosial
yang makin kompleks. Rata-rata penguasaan lahan di desa-desa kasus berkisar
0.5 ha - 1 ha, dengan jenis tanaman yang cukup beraneka ragam, mulai dari
`tanaman buah-buahan seperti nangka, semangka, tembakau, palawija, kedelai
sampai dengan padi. Kegiatan usahatani merupakan sumber matapencaharian
andalan, kegiatan alternatif yang bersifat non-pertanian langka dan keadaan ini
makin diperparah oleh krisis ekonomi yang belum juga berakhir hingga saat ini.
Sementara itu diketahui pula bahwa produktivitas pertanian setempat relatif
rendah.
74

Dengan kondisi menyempitnya struktur penguasaan lahan dan tak


adanya bentuk pranata sosio-agraria yang memihak pada kepentingan petani
gurem maka menjadi wajar timbul ketergantungan petani (warga masyarakat)
lokal terhadap kawasan hutan. Pranata sosio-agraria yang dimaksudkan di sini
adalah suatu hubungan antara petani kuat dan kecil yang berciri mutualistik,
namun sekaligus dengan itu dapat memberikan jaminan sosial bagi petani kecil
untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan dasarnya. Sebagai contoh makin
meningkatnya harga minyak tanah dan meningkatnya harga kayu bangunan
memaksa petani mencari sumber lain yang lebih murah dan terjangkau, yaitu
dengan cara menebang pohon keras di hutan untuk kebutuhan kayu bakar dan
bahan bangunan bagi kepentingan perbaikan atau membangun rumah barunya.
Apabila petani tidak memperoleh kesempatan masuk ke dalam kawasan hutan
untuk mendapatkan lahan pertanian yang baru, maka bagi yang mampu dapat
menyewa lahan milik petani lainnya. Hal terakhir ini sekaligus mengisyaratkan
bahwa proses monetisasi dalam kegiatan ekonomi khususnya di usahatani telah
berkembang, sehingga hampir sulit menemukan pranata sosial asli yang mampu
memberikan jaminan hidup bagi petani kecil.

Lahan kritis dimaknai oleh petani lokal sebagai lahan kering dan sangat
sulit untuk ditanami padi, palawija, atau tanaman lainnya dan biasanya
ditelantarkan begitu saja. Belum adanya prasarana irigasi dan praktek pola
perladangan tradisional yang tidak memperhatikan aspek konservasi tanah yang
diterapkan oleh petani setempat menimbulkan lahan kritis yang makin meluas
setiap tahun. Program rehabilitasi lahan/penghijauan dalam skala besar sudah
berlangsung kurang lebih dari dua dekade yang lalu. Sebagaimana pendekatan
program-program bantuan, umumnya penyelenggaraan program rehabilitasi
lahan/penghijauan juga diprakarsai oleh pemerintah pusat, yaitu Departemen
Kehutanan. Apa yang terjadi kemudian komunitas warga petani yang menjadi
kelompok sasaran, menjadi cenderung tergantung dengan semua fasilitas yang
disediakan oleh pemerintah. Kelembagaan yang dibentuk, seperti kelompok
tani yang semula dimaksudkan sebagai gerakan masyarakat namun dalam
75

perkembangannya lebih memunculkan diri sebagai saluran kepentingan dari


pihak supra desa (dinas/instansi pemerintah). Dengan demikian kegiatan
penghijauan lebih mencirikan dirinya sebagai program bantuan belaka tanpa
berupaya mengakarkan dirinya terhadap komunitas petani lokal. Namun
demikian tidak dapat kita pungkiri bahwa ada pula kelompok tani yang relatif
berhasil dalam pengembangan aktivitas dirinya, misalnya kelompok tani di desa
Gunung Jati yang dibentuk dalam rangka pembuatan Demplot UPSA. Karena
dinilai berhasil maka sejumlah desa tetangga turut mencontohnya. Contoh
lainnya adalah terbentuknya koperasi berbadan hukum seperti yang ada di
Desa Mangkung. Kegiatan koperasi ini berupa simpan-pinjam dan penyediaan
sarana produksi. Skema program yaitu gerakan swadaya penghijauan oleh
kelompok komunitas lokal yang lebih dikenal sebagai areal dampak UPSA,
dalam penilaian warga petani dianggap lebih berhasil. Apabila memperhatikan
kondisi penutupan lahan di desa-desa kasus, terlihat dengan jelas kondisi
pentupan lahan yang tidak baik, dan seolah-olah tidak terlihat jejak-jejak
program penanaman. Penyebabnya adalah kecepatan tumbuh pohon jauh lebih
lambat dengan kecepatan pemanfaatan kayu oleh warga petani itu sendiri.

Warga masyarakat menilai bahwa program bantuan tetap diperlukan


terutama jika dalam program tersebut sekaligus membuka peluang untuk
mendapatkan upah atau lapangan kerja, selain bantuan-bantuan lain yang
memang tidak dapat dibiayai sendiri oleh para petani. Warga komunitas lokal
menghendaki agar mereka diberi bantuan penghijauan dalam bentuk kebun
rakyat di lahan milik agar tujuan penghijauan dan membaiknya kesejahteraan
warga petani sekaligus dapat tercapai. Ketepatan waktu pemberian bantuan
juga perlu diperhatikan, dalam hubungannya dengan waktu penanaman yang
tepat. Warga sesungguhnya juga menyukai adanya skema bantuan pinjaman
dalam bentuk KUK DAS seperti dilakukan pada tahun 1996. Walaupun masih
banyak warga yang belum mengembalikan utang kreditnya, bahkan sebagian
warga lain menyatakan tak sanggup mengembalikan kredit pinjamannya,
karena mengalami kegagalan panen yang terjadi dalam beberapa tahun
76

terakhir. Kegiatan program lain yang juga mendapatkan respon baik dari
komunitas warga lokal adalah budidaya lebah madu. Sampai saat ini kegiatan
budidaya lebah madu telah berhasil menumbuhkan sejumlah kelompok-
kelompok petani-peternak di beberapa desa. Dengan kegiatan ini telah ada
upaya rintisan program yang cukup memberi harapan kepada warga untuk
mendapatkan sumber penghasilan yang baru.

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan pelaksanaan


program rehabilitasi lahan/penghijauan. Di Desa Beber misalnya, keberhasilan
program bantuan penghijauan menurut mereka disebabkan karena keinginan
datang dari warga lokal, dan itu bermula pada tahun 1982. Nafkah mereka
antara lain mengandalkan dari hasil penjualan kayu. Dengan demikian adanya
program yang menyediakan bibit tanaman kayu-kayuan yang mereka dambakan
namun tidak mampu dibeli karena ketiadaan dana disambut gembira oleh
warga. Di Desa Beber berdiri sebuah kelompok tani "Sepakat' yang sengaja
dibentuk untuk mengantisipasi program bantuan, namun kini tidak lagi aktif.
Walaupun demikian jejak-jejak kegiatan program masih dapat diamati. Ini
berkat makna penghijauan bukan lagi sebagai kebutuhan/tujuan pihak supra
desa saja, melainkan sudah menjadi kebutuhan fungsional warga lokal untuk
keperluan sumber nafkah sehari-harinya. Penyemaian bibit-bibit swadaya,
walaupun hanya dalam skala yang relatif kecil, telah menjadi aktivitas sehari-
hari yang mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Harapan
lain dari warga lokal adalah agar kepada mereka diberikan bimbingan teknis
lebih lanjut, khususnya bagi pemeliharaan bibit tanaman keras mangga,
alpukat, melinjo, dan lain-lain agar hasilnya dapat memuaskan. Mereka
mencontohkan pada tahun 1980 misalnya di Desa Beber ini pernah diterima
proyek PRPTE yang diintroduksikan oleh Dinas Perkebunan. Hasil dari kegiatan
proyek ini masih dapat dilihat sampai sekarang, bahkan kebun kelapa rakyat ini
sekarang telah menjadi salah satu sumber penghasilan rakyat yang penting.
77

Hal penting lain yang perlu digaris bawahi adalah warga sangat
menyadari bahwa terjadinya perambahan kawasan hutan adalah suatu tindakan
illegal, namun terpaksa dilakukan karena sempitnya penguasaan lahan
usahatani mereka. Oleh karena itu mereka berharap agar 'awig-awig'
(kesepakatan adat), antara pihak institusi pemerintah dan warga lokal yang
menuntut agar pihak yang disebut terakhir ini berlaku pro aktif memelihara
kawasan hutan yang mereka manfaatkan sebagai lahan garapan, tetap dapat
ditaati. Dengan demikian diharapkan kawasan hutan tersebut tidak akan
berubah menjadi lahan kritis walaupun dijadikan lahan garapan petani. Dari
uraian tadi, harapan-harapan warga petani terhadap penyelenggaraan program
pada masa mendatang dapat disimpulkan secara umum sebagai berikut:
program wana ternak dan silvo pasture agar diintroduksikan lebih luas dan
merata, pelatihan keterampilan dalam pengelolaan usahatani, pembuatan
sumur resapan, pengembangan kebun rakyat di lahan kritis, areal persemaian,
pembibitan, serta pemeliharaan sarana jalan desa agar menjadi perhatian serius
pemerintah bersama bersama warga lokal untuk terus menjamin keberhasilan
tujuan program dan bahkan meningkatkannya pada masa mendatang.

4. Respon Pihak-Pihak Terkait Dalam Pengelolaan DAS


Ciliwung
Secara umum para pihak terkait di DAS Ciliwung menilai bahwa program
reboisasi/penghijauan yang dilakukan selama ini telah gagal. Beberapa faktor
yang dianggap penentu kegagalan program tersebut, antara lain :

ƒ Kelembagaan pengelolaan DAS Ciliwung lemah

ƒ Fungsi kontrol tidak berjalan serta penegakan hukum yang lemah dan
tidak konsisten

ƒ Koordinasi antar lembaga terkait dengan pengelolaan DAS kurang


berjalan

ƒ Kurangnya sosialisasi program kepada masyarakat


78

ƒ Peran serta masyarakat masih relatif rendah

ƒ Budaya masyarakat yang tidak kondusif dengan konservasi.

Berdasarkan hasil Partisipatif Rural Appraisal (PRA) dan lokakarya pihak-


pihak terkait (stakeholders) dengan metode LFA di DAS Ciliwung dapat
diketahui bahwa permasalahan pokok yang menghambat keberhasilan program
rehabilitasi lahan/penghijauan dan/atau pengelolaan DAS masih diakibatkan
oleh berjalannya kelembagaan pada masa lalu, khususnya menyangkut masalah
pengorganisasiannya. Pihak-pihak terkait menentukan permasalahan tersebut
mulai dari masalah di tingkat petani/implementasi, perencanaan, pengawasan,
maupun kebijakan.

Pengelompokan permasalahan yang didasarkan pada persepsi pihak-


pihak terkait tersebut tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang terjadi
sebelum otonomi daerah, meliputi aspek-aspek berikut:

1. Pelaksanaan yang sentralistik dan belum diwujudkannya kepastian tata


ruang: Permasalahan ini dipersepsikan oleh pihak-pihak terkait DAS
Ciliwung terutama berkaitan dengan kekakuan kebijakan, lemahnya
penegakan hukum, tidak adanya tata ruang yang disepakati seluruh pihak
terkait.

2. Organisasi penyelenggaraan lemah: Permasalahan yang menonjol di DAS


Ciliwung adalah lemahnya fungsi koordinasi, lemahnya fungsi kontrol, tidak
adanya perencanaan terpadu yang disepakati forum koordinasi yang ada
tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan, kebijakan yang dilaksanakan
belum dipahami oleh masyarakat dan lemahnya sosialisasi program.

3. Lemahnya pendekatan sosial budaya:

4. Kesadaran dan peran serta masyarakat rendah: Permasalahan ini


menggambarkan bahwa terdapat kesenjangan yang besar antara manfaat
individu dengan manfaat sosial dan lemahnya insentif bagi manfaat individu
untuk meningkatkan manfaat sosial rehabilitasi lahan/penghijauan.
79

5. Tuntutan ekonomi masyarakat terhadap pemanfaatan sumberdaya alam


sangat tinggi: Permasalahan ini dipersepsikan oleh pihak terkait di DAS
Ciliwung, dikaitkan dengan masalah kemiskinan penduduk lokal.

Beberapa cara pemecahan masalah yang diusulkan baik untuk tingkat


kebijakan dan institusi maupun tingkat operasional di masyarakat adalah :

a. Penegakan hukum melalui penerapan aturan hukum yang tegas,


peningkatan pemahaman peraturan oleh masyarakat, operasi penertiban,
memperkuat lembaga penegakan hukum, perbaikan produk-produk hukum,
menghidupkan kembali budaya malu atas pelanggaran hukum

b. Peningkatan fungsi koordinasi dan fungsi kontrol melalui sosialisasi aturan-


aturan, dibentuk team kontrol independen dan lembaga pengaduan, sistem
atau mekanisme yang jelas, adanya waskat, koordinasi yang transparan,
dan adanya insentif yang memadai bagi pelaku kontrol

c. Kegiatan sosialisasi program pengelolaan DAS, khususnya rehabilitasi


lahan/penghijauan melalui berbagai upaya seperti penerapan metode
sosialisasi yang tepat (contohnya sosialisasi dengan memfungsikan tokoh
masyarakat dan agama, ujicoba lapangan dan pembuatan demplot),
memperhatikan lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat, pendanaan
yang cukup untuk program sosialisasi, dibentuknya kelompok-kelompok
yang dapat membantu sosialisasi (misalnya Kelompok Pencinta Alam),
materi sosialisasi mudah dicerna oleh masyarakat.

d. Peningkatan peran serta masyarakat melalui berbagai insentif langsung


maupun tidak langsung yang dapat memberikan rangsangan kepada
masyarakat untuk lebih berperan dalam rehabilitasi lahan/penghijauan.
Berbagai insentif dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat diusulkan
dengan berbagai cara seperti memberikan subsidi bagi masyarakat (subsidi
masal, subsidi bibit, kredit program), akses terhadap modal dan pasar,
serta jenis tanaman unggulan sesuai dengan keinginan masyarakat.
Adapun bentuk-bentuk insentif yang tidak langsung yang diusulkan antara
80

lain adalah dengan cara meningkatkan pengetahuan dan kesadaran


masyarakat mengenai pentingnya lingkungan (melalui kegiatan studi
banding, penyuluhan, pelatihan dan pendidikan), pelibatan masyarakat
dalam setiap tahapan pengambilan keputusan dalam kegiatan rehabilitasi
lahan/penghijauan.

Dalam menyikapi dan mencari upaya penyelesaian segala persoalan yang


ada dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS Ciliwung diperlukan langkah-
langkah berikut:

a. Perlu dibentuk suatu forum pengelolaan DAS Ciliwung yang efektif dan
institusi kerjasama yang mempunyai fungsi kontrol dalam aplikasinya.

b. Perlu dibuat program pengelolaan DAS yang menyeluruh untuk dapat


dilaksanakan oleh setiap stakeholders sesuai peran masing-masing.

c. Melakukan koordinasi antar lembaga/instansi terkait secara transparan dan


efektif.

d. Adanya kejelasan manfaat bagi stakeholders, khususnya masyarakat pada


tingkat bawah.

5. Respon Para Pihak Terkait dalam Pengelolaan DAS Rokan

Berdasarkan hasil kajian lapangan terhadap para pihak terkait dengan


pengelolaan DAS melalui metode LFA diperoleh gambaran beberapa
permasalahan yang muncul sebagai respon atas pertanyaan mengapa program
rehabilitasi lahan dan penghijauan dianggap gagal. Permasalahan-
permasalahan yang ada ternyata cukup mendasar dan saling kait-mengkait
antara satu permasalahan dengan permasalahan lainnya:

• Kelembagaan pengelolaan DAS

• Tata ruang tidak mantap

• Kurangnya penegakan hukum

• Kurangnya pendekatan sosial budaya


81

• Kurangnya sosialisasi program

• Sumberdaya manusia masih rendah

• Pertimbangan ekonomi kurang memadai

Namun demikian, secara garis besar permasalahan-permasalahan


tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Kelembagaan Pengelolaaan DAS

Kelembagaan pengelolaan DAS dirasakan kurang mantap. Hal ini


dicirikan oleh masih lemahnya tingkat koordinasi antar pihak yang terkait dalam
pengelolaan DAS, kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, dan pengawasan
yang lemah. Koordinasi tampaknya menjadi titik sentral kelemahan dalam
pengelolaan DAS yang berakibat pada perencanaan dan pelaksanaan
pengelolaan DAS secara terpadu tidak pernah berjalan. Koordinasi yang lemah
ini disebabkan oleh permasalahan yang cukup mendasar antara lain karena
masih kentalnya “ego sektoral” yang menyebabkan persepsi, visi, dan misi
tentang pengelolaan DAS yang tidak sama. Pada tingkatan operasional, para
pelaksana program rehabilitasi lahan dan penghijauan tidak cukup punya
komitmen dan masih berorientasi keproyekan.

b. Tata Ruang yang Tidak Mantap

Permasalahan tidak mantapnya tata ruang wilayah menyebabkan


penggunaan lahan seringkali tidak sesuai atau tidak mengikuti tata ruang yang
ada. Sebagai implikasinya dari persoalan tersebut menyebabkan sering
terjadinya konflik dalam penggunaan lahan. Tata ruang yang tidak mantap juga
menyebabkan perencanaan dalam program rehabilitasi lahan dan penghijauan
yang dihasilkan tidak mantap pula.

c. Kurangnya Penegakan Hukum

Penegakan hukum adalah dalam rangka untuk mendapatkan kepastian


hukum atas segala aturan yang telah dibuat dan disepakati bersama.
Penegakan hukum yang masih rendah ini dibuktikan masih besarnya kegiatan
82

illegal logging dan bentuk-bentuk pelanggaran di bidang lingkungan. Kondisi ini


tentunya dapat menyebabkan berbagai pihak dalam masyarakat tidak/kurang
mempunyai dorongan/insentif untuk turut serta menjaga dan memperbaiki
lingkungan DAS yang rusak. Pada sisi lain, adanya illegal logging menyebabkan
rendahnya harga kayu, dimana ini dapat berdampak pada tidak lakunya kayu-
kayu hasil penghijauan, yang pada akhirnya tidak memberikan insentif bagi
masyarakat untuk melakukan kegiatan penghijauan (hutan rakyat) karena
produknya tidak dapat dipasarkan.

d. Kurangnya Pendekatan Sosial Budaya

Kurangnya pendekatan sosial budaya cukup dirasakan oleh masyarakat


dalam perencanaan program rehabilitasi lahan dan penghijauan. Pendekatan
program rehabilitasi lahan dan penghijauan bersifat top-down, dimana aspirasi
dari bawah kurang diperhatikan. Kurangnya masyarakat dilibatkan dalam proses
perencanaan menyebabkan “sense of belonging” masyarakat terhadap kegiatan
rehabilitasi lahan dan penghijauan rendah.

e. Kurangnya Sosialisasi Program

Kurangnya sosialisasi program juga dirasakan oleh berbagai pihak,


khususnya pada level tengah dan level bawah (masyarakat). Kurangnya
sosialisasi ini menyebabkan tidak adanya kesamaan persepsi, visi, dan misi
program diantara para pihak yang terkait, perencanaan yang tidak padu/selaras
dan kurangnya bahkan tidak adanya pemahaman manfaat pada tingkat
masyarakat tentang kegiatan rehabilitasi lahan dan penghijauan.

f. Sumberdaya Manusia yang Rendah

Kualitas sumberdaya manusia baik aparat maupun masyarakat sangat


memegang peranan yang sangat penting dalam setiap kegiatan pembangunan,
karena faktor ini sangat menentukan kualitas setiap kegiatan seperti
perencanaan, koordinasi, dan pengawasan serta rendahnya kesadaran akan
83

manfaat hutan di DAS yang rendah. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia


ini pun dapat menyebabkan permasalahan yang lainnya muncul.

g. Kurangnya Pertimbangan Ekonomi

Dalam setiap perencanaan program rehabilitasi lahan dan penghijauan


sangat mempertimbangkan masalah-masalah teknis biologis tetapi kurang
mempertimbangkan masalah-masalah ekonomi. Pertimbangan ekonomi dalam
kegiatan rehabilitasi lahan dan penghijauan ini sangat menentukan dan menjadi
pendorong/motivator bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan rehabilitasi
lahan dan penghijauan dengan baik. Beberapa pertimbangan ekonomi yang
perlu diperhatikan antara lain pemilihan komersial dan disukai masyarakat,
diversifikasi usaha, dukungan pasar untuk produk/hasil kegiatan penghijauan
melalui penyediaan/perbaikan infrastruktur pasar, dan stabilisasi harga.

6. Respon Para Pihak Terkait dalam Pengelolaan DAS Dodokan

Permasalahan inti (core-problem) yang diidentifikasikan oleh para


pengambil keputusan di aras atas desa (supra desa), dalam kinerja pelaksanaan
program rehabilitasi lahan/penghijauan adalah berasal dari dua aras, yaitu
masyarakat dan institusi pemerintah. Dari aras masyarakat mereka melihat
kurang berhasilnya pencapaian tujuan program disebabkan oleh tingkat
pendapatan masyarakat yang masih rendah (faktor kemiskinan). Sementara di
aras institusi supra desa, tidak efektifnya pencapaian program adalah karena
kinerja aparat instansi, termasuk di dalamnya kualitas petugas penyuluh di
lapangan masih rendah.

Di aras masyarakat, faktor kemiskinan telah berakibat tingkat pendidikan


yang dapat dicapai juga relatif rendah. Sekolah menuntut biaya relatif mahal
yang sulit dipenuhi oleh rata-rata warga desa yang berada di bawah garis
kemiskinan tersebut. Di samping itu pengetahuan dan keterampilan warga desa
dalam kegiatan rehabilitasi lahan/penghijauan juga relatif masih rendah. Namun
84

ini disadari kembali sebagai disebabkan oleh kinerja aparat penyuluh,


khususnya yang belum bertugas secara optimal. Alasan hal terakhir ini antara
lain karena keterbatasan jumlah aparat, dukungan sarana yang minim, dan
belum adanya pilihan kelembagaan yang tepat untuk mengembangkan program
itu sendiri, serta belum adanya koordinasi dan komitmen yang mantap dari
dinas/instasi serta juga dunia usaha sebagai bagian dari stakeholders DAS
Dodokan. Dengan kata lain, para pengambil keputusan sebenarnya menyadari
bahwa mereka memang perlu berhati-hati untuk mengatakan atau menerima
dengan begitu saja bahwa kegagalan program tak lain disebabkan oleh faktor
kurangnya kesadaran dan kepedulian warga terhadap kelestarian lingkungan
dan tak dapat diserapnya makna program rehabilitasi lahan/penghijauan secara
baik karena rendahnya mutu pendidikan mereka.

Mereka sekaligus juga menyadari ada faktor lain yang bersifat lebih
fundamental, antara lain kepemilikan lahan petani lokal yang sempit dan status
tanah yang masih belum jelas, sehingga makin merebaknya lahan-lahan
absentee akibat kepemilikannya dikuasai oleh orang-orang luar (kota) yang
bermodal kuat, dan sebagainya. Hal ini terjadi terutama di desa-desa yang
kegiatan ekonominya meningkat. Faktor lain adalah pertumbuhan penduduk
yang terus meningkat, sehingga meningkatkan kebutuhan atas lahan.
Sementara di aras institusi supra desa komitmen dan kinerja aparat dan instansi
yang terkait dengan kepentingan program masih rendah.

Mereka juga mengeluhkan penyakit birokrasi dan sikap ego sektoral yang
tidak kondusif dalam penyusunan dan pelaksanaan program. Lebih jauh
koordinasi antar instansi terkait pun masih belum digarap dengan sungguh-
sungguh sehingga yang terkesan program ini menjadi kepentingan sektor
kehutanan saja. Hal lain yang diajukan adalah sikap para penyusun program
yang umumnya masih bersikap top-down, sehingga keterkaitan program
dengan aspirasi dari kelompok sasaran lebih sering tertata berdasarkan posisi
subyek vs obyek.
85

Hal strategis berikut yang penting dicatat adalah kepastian hukum tata
ruang yang mengatur peruntukan lahan di aras kabupaten dan propinsi ternyata
juga masih menimbulkan keraguan, sehingga sulit diharapkan lahir kebijakan
yang mantap. Dalam hal ini mereka menyadari perlunya pemberdayaan Badan
Pertanahan Nasional agar tidak hanya berperan sebagai institusi pengelola
admisnistratif tanah saja, melainkan juga sebagai institusi yang memfasiltasi
penataan tata ruang yang lebih partisipatif sekaligus diakui secara legal.

Berdasarkan uraian di atas, masalah pokok program rehabilitasi


lahan/penghijauan adalah perlunya komitmen dan kebijakan yang memadai dari
seluruh pihak terkait di aras institusi. Ini dapat ditempuh antara lain dengan
membuat analisis-analisis yang lebih tajam terhadap kondisi aktual yang sedang
mengancam kualitas DAS Dodokan dan akibat jangka pendek dan panjang bagi
perekonomian masyarakat Pulau Lombok pada umumnya dan warga
masyarakat DAS Dodokan khususnya. Hal ini dinyatakan pula dengan sangat
kuatnya kesan bahwa di kalangan aparat institusi di aras supradesa,
pengetahuan tentang tingkat kekritisan yang mengancam DAS belum
sepenuhnya diketahui. Faktor ini merupakan salah satu faktor penyebab
rendahnya kinerja aparat. Faktor ini pula yang memungkinkan menyebabkan
ketidakpastian dalam penetapan tata ruang.

Dari kedua aras permasalahan tersebut akhirnya mengakibatkan


pelaksanaan program yang tidak sesuai dengan keinginan dan aspirasi
masyarakat setempat, timbulnya sikap (bukan kesadaran) warga komunitas
lokal yang kurang mengindahkan pentingnya konservasi DAS, dan akhirnya
praktek penebangan ilegal dan perambahan hutan oleh warga lokal, oknum
aparat, serta sejumlah individu pengusaha.

Di aras masyarakat tujuan 'menciptakan lapangan usaha/kerja non-


pertanian yang lebih luas' dipandang sebagai hal penting, mengingat tidak
semua kondisi ekologis desa-desa di DAS Dodokan kondusif untuk usahatani.
Hal itu berarti program rehabilitasi lahan/ penghijauan harus mampu menjadi
86

sumber pendapatan baru bagi kelompok masyarakat setempat. Dengan


demikian hal tersebut sekaligus perlu disertai dengan upaya meningkatkan
pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian masyarakat akan pentingnya
kelestarian lingkungan. Apabila ini telah tercapai, diharapkan dengan mudah
memposisikan kelompok masyarakat sebagai subyek yang penting dalam
pelaksanaan program rehabilitasi lahan/penghijauan, sehingga menjadikan
partisipasi mereka dalam program menjadi utuh.

Hal ini tidak akan terjadi begitu saja, karena di aras institusi perlu
dilakukan langkah-langkah yang kondusif untuk mendukung apa yang menjadi
tujuan di aras masyarakat. Langkah-langkah tersebut adalah mendorong
terbentuknya klinik agribisnis yang berguna sebagai wahana pembelajaran
warga masyarakat agar mereka terlatih menjadi wirausaha yang tangguh. Di
samping perlu meningkatkan kualitas ekosistem yang cocok untuk usahatani
dengan membangun ketersediaan saluran irigasi teknis. Kemudian membangun
program rehabilitasi lahan/ penghijauan secara terpadu dan lintas sektoral yang
dikoordinasikan oleh BRLKT. Hal penting lainnya adalah membuat penataan
ruang di dalam DAS yang proporsional dan seimbang dan ditegaskan melalui
peraturan yang jelas dan dimasyarakatkan secara luas. Dengan demikian
menjadi jelas batas/zonasi kawasan rehabilitasi lahan/penghijauan yang harus
dilaksanakan.

Atas dasar tujuan itu semua diharapkan keberhasilan program yang


bertumpu pada meningkatnya partisipasi masyarakat, meningkatnya peran serta
dan koordinasi antar institusi/instansi terkait, dan mendayagunakan potensi
yang mendukung pelestarian alam yang akan tercapai.

Pengelompokan permasalahan yang didasarkan pada persepsi pihak-


pihak terkait meliputi aspek-aspek berikut:

1. Pelaksanaan yang sentralistik dan belum diwujudkannya kepastian tata


ruang: Permasalahan ini dipersepsikan oleh pihak-pihak terkait DAS
Dodokan terutama berkaitan dengan kekakuan kebijakan, lemahnya
87

penegakan hukum, tidak adanya tata ruang yang disepakati seluruh pihak
terkait.

2. Organisasi penyelenggaraan lemah: Permasalahan yang menonjol di DAS


Dodokan adalah lemahnya fungsi koordinasi, lemahnya fungsi kontrol, tidak
adanya perencanaan terpadu yang disepakati dan lemahnya sosialisasi
program

3. Rendahnya kualitas SDM dan lemahnya pendekatan sosial budaya:


Permasalahan ini muncul dengan tekanan pada rendahnya kualitas SDM
dan lemahnya pendekatan yang berbasis lokal.

4. Kesadaran dan peran serta masyarakat rendah: Permasalahan ini


menggambarkan bahwa terdapat kesenjangan yang besar antara manfaat
individu dengan manfaat sosial dan lemahnya insentif bagi manfaat individu
untuk meningkatkan manfaat sosial rehabilitasi lahan/penghijauan.

5. Tuntutan ekonomi masyarakat terhadap pemanfaatan sumberdaya alam


sangat tinggi: Permasalahan ini dipersepsikan oleh pihak terkait di DAS
Dodokan, dikaitkan dengan masalah kemiskinan dan penebangan liar yang
perlu diselesaikan oleh Pemerintah.

C. Insentif Rehabilitasi Lahan/Penghijauan

Tujuan pengelolaan DAS adalah untuk mempertahankan manfaat ekologi


dan sosial DAS yang akan dapat dicapai bila setiap individu/rumah
tangga/kelompok di dalam DAS tersebut mau mengorbankan manfaat ekonomi
jangka pendeknya dan memaksimumkan manfaat ekonomi jangka panjang dari
sumberdaya lahan yang dikuasainya. Secara teoritis, bila kegagalan pasar,
kegagalan kebijakan dan kelembagaan dianggap tidak ada, setiap penguasa
lahan akan bersedia mengadopsi praktek-praktek konservasi yang memperkecil
dampak lingkungan atau biaya sosial di dalam tapak akibat degradasi
sumberdaya alam. Namun bila biaya sosial ditanggung oleh pihak lain di luar
88

tapak, insentif konservasi bagi para penguasa lahan umumnya rendah. Di DAS
Ciliwung dan Rokan yang berciri lintas propinsi, masalah di atas makin kompleks
akibat adanya beberapa daerah otonom yang memiliki karakteristik sosial,
ekologi dan birokrasi yang berbeda-beda. Sedangkan DAS Dodokan yang
berciri lintas kabupaten, juga mempunyai masalah yang kurang lebih sama.
Selain itu, terdapat masalah struktural di DAS Ciliwung hulu dimana lahan yang
menjadi obyek rehabilitasi/penghijauan dimiliki oleh penduduk di luar wilayah
tersebut, termasuk penduduk di daerah hilir (DKI Jakarta).

Untuk mencapai manfaat ekologi dan sosial yang optimal, pengelolaan di


ketiga DAS memerlukan suatu “Badan” yang mampu menjembatani
pertanggunggugatan pengelolaan DAS yang diimplementasikan oleh pihak-pihak
terkait dan keberadaannya diakui oleh seluruh pihak terkait. Para pihak terkait
mengusulkan agar dibentuk “Forum Pengelolaan DAS”. Usulan pihak-pihak
terkait tersebut dipandang kurang tepat karena ikatan suatu forum umumnya
sangat longgar, sehingga sulit menyatukan beberapa Daerah Otonom dalam
ikatan kelembagaan. Untuk itu diusulkan dibentuk “Badan Koordinasi dan
Pengendalian Pengelolaan (BKPP) DAS” yang berfungsi sebagai berikut:

1. Sebagai media komunikasi bagi seluruh pihak terkait agar dapat disepakati
visi dan misi pengelolaan DAS (pulau Lombok untuk kasus DAS Dodokan).

2. Menyatukan rencana-rencana pihak terkait sehingga dapat disusun rencana


pengelolaan DAS Terpadu, termasuk penataan ruangnya, atas dasar
kesamaan visi dan misi yang disepakati.

3. Mengembangkan kesamaan ukuran kinerja keberhasilan pengelolaan DAS.

4. Memberikan pelayanan berbasis keahlian (technical assistance) dengan


menyediakan tenaga ahli yang diperlukan oleh seluruh pihak terkait.

5. Melaksanakan audit untuk seluruh program yang diimplementasikan oleh


pihak-pihak terkait guna menjamin pertanggunggugatan publik (public
accountability).
89

Keberadaan “BKPP” DAS harus mampu menjembatani kepentingan


seluruh pihak terkait sehingga secara “bottom-up” dapat dirumuskan komitmen
bersama, perlunya kepastian hukum atas mekanisme pembagian biaya-manfaat,
serta adanya mekanisme kelembagaan yang jelas dan disepakati bersama.
Eksistensi “BKPP” tersebut akan sangat dipengaruhi oleh berlangsungnya
proses-proses partisipatif yang melibatkan seluruh pihak terkait dalam
perencanaan, implementasi dan evaluasi program. Terbangunnya rasa memiliki
atas program-program tersebut merupakan insentif pemberdayaan yang secara
nyata akan menentukan kinerja pengelolaan DAS.

Kepastian aspek legal tentang pembagian biaya-manfaat antara hulu-hilir


DAS dapat dikembangkan atas prinsip-prinsip berikut:

1. Pengaturan kontrak antara “BKPP” DAS dengan masyarakat hilir untuk


membantu pendanaan rehabilitasi daerah hulu (sebagai insentif bagi
masyarakat hulu).

2. Prinsip pencemar membayar (polluters’ pay principle): kesepakatan agar


BKPP DAS memberikan disinsentif bagi masyarakat hulu (melalui sistem
perpajakan dan penegakan hukum) bila melakukan tindakan yang
merugikan DAS.

3. Pengembangan hak kepemilikan melalui kebijakan tentang kompensasi


pasar bila memberikan jasa lingkungan (konservasi air) atau produk
akhirnya (air).

4. Pengembangan baku mutu air yang disepakati dan mekanisme denda


(disinsentif) yang dilembagakan bagi pihak-pihak yang melanggar.

“BKPP” DAS juga bertanggungjawab atas sosialisasi rencana pengelolaan


DAS terpadu, program yang akan dan sedang diimplementasikan oleh masing-
masing pihak terkait, serta hasil yang dicapai dalam setiap implementasi
program. Hasil kesepakatan pihak-pihak terkait menyatakan bahwa kelompok
sasaran dari program sosialisasi adalah seluruh pihak terkait, yaitu: masyarakat
petani, lembaga adat, aparat pemerintah, pengusaha dan ornop atau LSM.
90

Program rehabilitasi lahan/penghijauan diharapkan mampu berperan


ganda, disamping untuk memelihara fungsi-fungsi ekologi/lingkungan, juga
memberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Dalam konteks ini
masyarakat harus dilibatkan sebagai subyek atau pelaksana langsung kegiatan
rehabilitasi lahan/penghijauan. Masyarakat harus dilibatkan sejak tahap
perencanaan, implementasi hingga tahap pengawasan dan evaluasi
keberhasilan. Setiap program rehabilitasi harus memperhatikan kondisi spesifik
lokal, baik dalam masalah biofisik maupun sosial budaya.

Untuk menjamin keberhasilan rehabilitasi lahan/penghijauan diperlukan


program peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Peningkatan kualitas
sumberdaya manusia dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan pelatihan dan
pendampingan. Berbagai pihak terkait sepakat mengenai pentingnya upaya
peningkatan kesadaran dan pemahaman mengenai konservasi DAS, baik melalui
jalur pendidikan formal maupun non formal.

Program rehabilitasi lahan/penghijauan diharapkan mampu berperan


ganda, disamping untuk memelihara fungsi-fungsi ekologi/lingkungan, juga
memberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Dalam konteks ini
masyarakat harus dilibatkan sebagai subyek atau pelaksana langsung kegiatan
rehabilitasi lahan/penghijauan. Masyarakat harus dilibatkan sejak tahap
perencanaan, implementasi hingga tahap pengawasan dan evaluasi
keberhasilan. Setiap program rehabilitasi harus memperhatikan kondisi spesifik
lokal, baik dalam masalah biofisik maupun sosial budaya. Untuk menjamin
keberhasilan rehabilitasi lahan/penghijauan diperlukan program peningkatan
kualitas sumberdaya manusia serta kebijakan yang mendorong kestabilan harga
kayu rakyat dan peningkatan akses pasar untuk kayu rakyat.

Peningkatan kualitas sumberdaya manusia dapat dilakukan melalui


berbagai kegiatan pelatihan, pendampingan dan pengembangan
profesionalisme. Berbagai pihak terkait sepakat mengenai pentingnya upaya
peningkatan kesadaran dan pemahaman mengenai konservasi DAS, baik melalui
91

jalur pendidikan formal maupun non formal. Bahkan para pihak terkait
menghendaki agar kepedulian para politisi dan pengambil keputusan terhadap
masalah kelestarian lingkungan perlu ditingkatkan. Untuk mendukung seluruh
program tersebut diperlukan upaya untuk mengembangkan lembaga pendidikan
yang berkualitas dan mampu mengadopsi kearifan tradisional serta mampu
menyediakan informasi teknologi tepat guna yang disebarluaskan kepada
seluruh masyarakat.

Untuk meningkatkan akses pasar diperlukan berbagai program guna


memperkuat kelembagaan lokal petani, antara lain: membentuk asosiasi petani
yang memiliki posisi tawar dalam penetapan harga dan menentukan standar
produk. Pemerintah diharapkan dapat membantu para petani dengan
memperbaiki infrastruktur, mendorong berkembangnya industri yang berbahan
baku dari kayu rakyat dan mengembangkan program kemitraan antara
pengusaha besar dengan asosiasi petani. Selain itu, pemerintah diharapkan
mampu melaksanakan penegakan hukum untuk menghentikan penebangan
hutan alam, khususnya penebangan liar yang dapat merusak pasar kayu lokal.

1. Insentif di Tingkat Masyarakat Lokal


Berdasarkan kategori insentif menurut luarannya (pendapatan dan
kontrol), bentuk-bentuk insentif yang diharapkan oleh pihak-pihak terkait DAS
Ciliwung disajikan pada Tabel 6. DAS Rokan pada Tabel 7. dan DAS Dodokan
pada Tabel 8.

Berbagai bentuk insentif sebagaimana disajikan dalam Tabel merupakan


pilihan-pilihan yang implementasinya sangat dipengaruhi kondisi spesifik lokasi,
baik kondisi biofisik maupun sosial budaya. Pada tingkat nasional, berbagai
prakondisi perlu diperhitungkan secara seksama agar implementasi suatu
bentuk insentif tertentu dapat berhasil.

Dalam pengelolaan DAS Ciliwung, dimana penyebab degradasi berasal


dari luar lahan pertanian (off-farm) dan manfaat rehabilitasi dinikmati di luar
92

lahan pertanian, maka pengunaan insentif dapat dilakukan. Namun mengingat


bahwa masalah utamanya adalah faktor ekstrinsik, yakni: modal dan
akses/kontrol atas lahan jangka panjang (banyak pemilik lahan bukan
penduduk), pemberian insentif langsung tidak akan menyelesaikan
permasalahan rehabilitasi dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, dua
langkah dapat ditempuh:

a. Bagi masyarakat pemilik lahan dapat diberikan insentif berbasis


pemberdayaan untuk mengadopsi teknik-teknik pertanian ramah
lingkungan dan insentif berbasis kesejahteraan berupa kompensasi atas
lahan yang digunakan untuk rehabilitasi atau pemilikan hasil panen.

b. Bagi pemilik lahan bukan penduduk setempat dan pemilik lahan untuk
usaha perlu ditegakkan peraturan agar: (a) mereka membayar pajak
lingkungan atas manfaat yang diperolehnya; (b) membayar denda bila
melakukan pelanggaran atas fungsi lahan; (c) mendapatkan keringanan
pajak pertanahan bila memenuhi fungsi lahan yang ditetapkan menurut
standar yang berlaku.

Tabel 6. Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi yang


diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui proses PRA dan LFA
untuk DAS Ciliwung.
Kontrol Rendah Kontrol Tinggi
Insentif Berbasis
Pemberdayaan (Empowerment-
based incentives):
9 Partisipasi dalam perencanaan
dan pengambilan keputusan
9 Pengembangan jumlah
Pendapatan Insentif Lemah (Weak kelompok penghijauan
Rendah incentives): 9 Informasi dan teknologi
Dipandang tidak relevan 9 Penguatan kelembagaan lokal
untuk disajikan 9 Kebebasan pemilihan jenis
sesuai kondisi lokal
9 Pembangunan plot percontohan
9 Pendidikan dan pelatihan,
termasuk penyuluhan,
pendampingan dan studi
93

banding
9 Piagam Penghargaan bagi yang
berhasil
9 Sosialisasi program secara
intensif
9 Memberikan fungsi kontrol pada
masyarakat

Insentif Berbasis Insentif Kuat (Strong


Kesejahteraan incentives):
(Prosperity-based Kombinasi dan Integrasi aktivitas
incentives): yang mengandung unsur insentif
Pendapatan 9 Subsidi bagi pemilik berbasis kesejahteraan dan insentif
Tinggi lahan yang digunakan berbasis pemberdayaan sedemikian
untuk rupa sehingga menciptakan peluang
rehabilitasi/penghijauan untuk memperbesar kemungkinan
9 Kesempatan kerja tercapainya tujuan pengelolaan DAS,
9 Subsidi masal termasuk rehabilitasi lahan/
9 Skema kredit usaha penghijauan.
tani konservasi
9 Menjamin kestabilan
harga hasil panen
9 Perbaikan infrastruktur,
termasuk sarana-
prasarana desa
9 Pemanfaatan lahan
tidur dengan tanaman
keras
9 Penyediaan bibit
unggul melalui pos
bibit gratis

Bentuk-bentuk insentif pada Tabel 6 tersebut dapat dikelompokkan


sebagai berikut:

a. Insentif Langsung

♦ Insentif berbasis pemberdayaan

• Pembangunan plot percontohan

• Partisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan

• Pemberian fungsi kontrol

• Kebebasan pemilihan jenis berbasis lokal

• Piagam penghargaan bagi yang berhasil


94

♦ Insentif berbasis kesejahteraan

• Subsidi bagi pemilik lahan yang lahannya digunakan untuk


rehabilitasi

• Subsidi masal

• Kesempatan kerja

• Skema kredit usaha tani konservasi

• Pemanfaatan lahan tidur dengan tanaman keras

• Penyediaan bibit unggul melalui pos bibit gratis

b. Insentif Tak Langsung

♦ Insentif berbasis pemberdayaan

• Pendidikan dan pelatihan termasuk penyuluhan, pendampingan


dan studi banding

• Informasi dan teknologi

• Penguatan kelembagaan lokal

• Pengembangan jumlah kelompok penghijauan

• Sosialiasi program secara intensif

♦ Insentif berbasis kesejahteraan

• Perbaikan infrastruktur

• Perbaikan jalur pemasaran

• Kebijakan harga
95

Tabel 7. Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi yang


diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui proses PRA dan LFA
untuk DAS Rokan.
Kontrol Rendah Kontrol Tinggi

Insentif Berbasis Pemberdayaan


(Empowerment-based incentives):
9 Partisipasi dalam
perencanaan dan
pengambilan keputusan,
Insentif Lemah (Weak
termasuk fungsi kontrol
Pendapatan incentives):
9 Kontrol terhadap lahan
Rendah Dipandang tidak relevan untuk
(tenure)
disajikan
9 Informasi dan teknologi
9 Penguatan kelembagaan
lokal,
9 Pemilihan jenis berbasis
kearifan lokal
9 Pembangunan plot percontohan
9 Pendidikan dan pelatihan,
termasuk penyuluhan,
pendampingan dan studi
banding

Insentif Berbasis Insentif Kuat (Strong


Kesejahteraan (Prosperity- incentives):
based incentives): Kombinasi dan Integrasi aktivitas
9 Kesempatan kerja yang mengandung unsur insentif
9 Subsidi masal berbasis kesejahteraan dan insentif
Pendapatan 9 Perbaikan jalur berbasis pemberdayaan sedemikian
Tinggi pemasaran rupa sehingga menciptakan peluang
9 Menjamin kestabilan untuk memperbesar kemungkinan
harga hasil panen tercapainya tujuan pengelolaan DAS,
9 Perbaikan infrastruktur termasuk rehabilitasi lahan/
9 Pembangunan industri penghijauan.
kecil penampung hasil
panen

Bentuk-bentuk insentif pada Tabel 7. tersebut dapat dikelompokkan


sebagai berikut:
96

a. Insentif Langsung

♦ Insentif berbasis pemberdayaan

• Pembangunan plot percontohan

• Partisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan

• Pemilihan jenis berbasis lokal

♦ Insentif berbasis kesejahteraan

• Subsidi masal

• Kesempatan kerja

b. Insentif Tak Langsung

♦ Insentif berbasis pemberdayaan

• Pendidikan dan pelatihan termasuk penyuluhan

• Pendampingan dan studi banding

• Informasi dan teknologi

• Kontrol terhadap lahan (tenure)

• Penguatan kelembagaan lokal

♦ Insentif berbasis kesejahteraan

• Perbaikan infrastruktur

• Perbaikan jalur pemasaran

• Kebijakan harga

Dalam pengelolaan DAS Rokan penyebab degradasi lahan berasal dari


lahan pertanian (dalam arti luas) dan manfaat rehabilitasi juga akan dinikmati
oleh pemilik lahan, sehingga insentif berbasis kesejahteraan sebaiknya dibatasi
pada pengembangan jalur pemasaran (akses pasar) bagi produk-produk
pertaniannya, insentif lain sebaiknya di arahkan pada insentif berbasis
pemberdayaan. Seluruh insentif berbasis pemberdayaan yang diharapkan oleh
97

pihak-pihak terkait dapat dipertimbangkan oleh para pengambil kebijakan, baik


di pusat maupun di daerah, untuk diadopsi dan diimplementasikan. Dalam
jangka pendek, prioritas dapat difokuskan pada partisipasi dalam proses
perencanaan dan pengambilan keputusan, pemilihan jenis berbasis lokal,
pendampingan dan studi banding dalam konteks penguatan kelembagaan lokal,
dan pemberian kontrol atas lahan.

Tabel 8. Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi yang


diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui proses PRA dan
LFA untuk DAS Dodokan.

Kontrol Rendah Kontrol Tinggi


Insentif Lemah (Weak
incentives): Insentif Berbasis Pemberdayaan
Dipandang tidak relevan untuk (Empowerment-based incentives):
disajikan
9 Partisipasi dalam
perencanaan dan
pengambilan keputusan,
termasuk fungsi kontrol
Pendapatan 9 Kejelasan status lahan
Rendah 9 Penguatan kelembagaan
lokal,
9 Peningkatan kemampuan
perencanaan petani
9 Pendidikan dan pelatihan,
termasuk penyuluhan dan
pendampingan

Insentif Berbasis Insentif Kuat (Strong


Kesejahteraan (Prosperity- incentives):
based incentives): Kombinasi dan Integrasi aktivitas
9 Klinik agribisnis yang mengandung unsur insentif
9 Perbaikan infrastruktur berbasis kesejahteraan dan
Pendapatan insentif berbasis pemberdayaan
Tinggi sedemikian rupa sehingga
menciptakan peluang untuk
memperbesar kemungkinan
tercapainya tujuan pengelolaan
DAS, termasuk rehabilitasi lahan/
penghijauan.
98

Bentuk-bentuk insentif pada Tabel 8. tersebut dapat dikelompokkan


sebagai berikut:

a. Insentif Langsung

Insentif berbasis pemberdayaan:

- Partisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan

Insentif berbasis kesejahteraan:

- Klinik agribisnis

b. Insentif Tak Langsung

Insentif berbasis pemberdayaan

- Pendidikan dan pelatihan termasuk penyuluhan dan pendampingan

- Kejelasan status lahan

- Penguatan kelembagaan lokal

Insentif berbasis kesejahteraan

- Perbaikan infrastruktur

Dalam pengelolaan DAS Dodokan penyebab degradasi lahan berasal dari


lahan pertanian (dalam arti luas) dan manfaat rehabilitasi juga akan dinikmati
oleh pemilik lahan, sehingga pemberian insentif sebaiknya di arahkan pada
insentif berbasis pemberdayaan. Selain itu masalah degradasi lahan di DAS
Dodokan dipandang belum terlalu kritis, sehingga seluruh insentif berbasis
pemberdayaan yang diharapkan oleh pihak-pihak terkait dapat dipertimbangkan
oleh para pengambil kebijakan, baik di pusat maupun di daerah, untuk diadopsi
dan diimplementasikan. Dalam jangka pendek, prioritas dapat difokuskan pada
partisipasi dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan, pelatihan
dan pendampingan dalam konteks penguatan kelembagaan lokal.
99

2. Insentif Pemungkin (Enabling Incentive)

Dalam pandangan pihak-pihak terkait, faktor-faktor utama yang


mendukung keberhasilan rehabilitasi lahan/penghijauan dalam rangka
pengelolaan DAS bukan pada insentif langsung, tetapi pada insentif pemungkin,
khususnya perbaikan dan konsistensi pelaksanaan kebijakan, utamanya:
pemantapan tata ruang dan peningkatan koordinasi pengelolaan DAS. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa prioritas penggunaan insentif dalam rehabilitasi
lahan/penghijauan hanya dapat dibenarkan bila seluruh prakondisi yang
mendukung tercapainya tujuan pengelolaan DAS dibenahi. Penggunaan insentif
dalam rehabilitasi lahan/penghijauan dapat didukung bila merupakan tuntutan
arus bawah yang diwadahi oleh kemantapan kelembagaan lokal yang secara
partisipatif memberikan komitmen dan menunjukkan konsistensi dalam
pengelolaan DAS.

Idealnya, pemberian insentif langsung sebaiknya diberikan setelah semua


prakondisi kebijakan, regulasi dan kelembagaan (sebagai insentif pemungkin)
dipandang mapan. Selain itu penegakan hukum perlu dilakukan di semua lini
yang mungkin menjadi penyebab eksternal terhadap degradasi lahan, misalnya
penebangan ilegal. Namun demikian mengingat bahwa ada kesenjangan waktu
untuk penataan kebijakan dan kelembagaan, insentif berbasis pemberdayaan
dapat mulai diimplementasikan secara terbatas sebagai suatu proyek
percontohan.

Penataan ruang di tingkat kebupaten, sejauh mengikuti Undang-undang


No. 24 Tahun 1992, diharapkan mampu menghubungkan seluruh DAS, baik di
dalam suatu kabupaten, lintas kabupaten maupun lintas propinsi, melalui
kesinambungan kawasan lindungnya. Kelemahan umumnya ditemukan pada
tidak terakomodasikannya seluruh daerah tangkapan DAS ke dalam kawasan
lindung tersebut. Penerapan rencana tata ruang umumnya lemah/tidak
konsisten dan ukuran keberhasilan pengelolaan ruang umumnya tidak dikaitkan
dengan kualitas DAS, sehingga dalam realita banyak ditemukan lahan-lahan
100

kritis, baik di dalam maupun di luar kawasan lindung, di dalam daerah


tangkapan suatu DAS. Selain itu tidak ada satupun lembaga yang
bertanggungjawab penuh atas keberhasilan atau kegagalan pengelolaan DAS.
Khusus di DAS Ciliwung Hulu masalah tata ruang juga diperkuat dengan
Keputusan Presiden Nomor 114 Tahun 1999 tentang Penataan Ruang Kawasan
Bopunjur.

Di dalam setiap bentuk kawasan budidaya akan ditemukan kelompok aksi


kolektif (collective action group) yang berbeda-beda dengan kepentingan yang
beragam pula. Identifikasi secara cermat atas setiap kelompok aksi kolektif dan
menggalang partisipasi antar kelompok aksi kolektif di tingkat masyarakat
dengan swasta dan sektor publik merupakan alternatif terbaik untuk
mensinergikan seluruh kepentingan dengan tujuan pengelolaan DAS. Dalam
konteks ini lembaga koordinasi merupakan keharusan agar sinergi dapat
diwujudkan.

Koordinasi pengelolaan DAS berangkat dari perbedaan kepentingan dan


persepsi atas pentingnya tujuan pengelolaan DAS tersebut, sehingga upaya
menggalang partisipasi harus berorientasi pada proses yang melibatkan seluruh
pihak terkait. Percepatan yang signifikan akan dapat dicapai bila koordinasi
pengelolaan DAS disertai dengan proses-proses pemberdayaan yang bertujuan
untuk menguatkan kelembagaan lokal. Dalam jangka pendek, koordinasi di
tingkat perencanaan dapat disebut berhasil bila :

a. Ada rencana terpadu pengelolaan DAS, termasuk rencana tata ruangnya,


yang diadopsi oleh seluruh pihak terkait sesuai kewenangannya masing-
masing, misalnya: diadopsi dalam Perda tingkat Propinsi dan Kabupaten.

b. Ada kriteria dan indikator kinerja pengelolaan DAS yang disepakati oleh
seluruh pihak terkait, termasuk di dalamnya kriteria dan indikator kinerja
rehabilitasi lahan/penghijauan.

c. Ada “BKPP” DAS yang dipercaya seluruh pihak terkait untuk menjembatani
pertanggunggugatan kinerja pengelolaan DAS kepada publik serta menjadi
101

pusat komunikasi antar pihak-pihak terkait. Untuk DAS Ciliwung, BKSP


Jabotabek dapat memerankan proses-proses inisiasi “BKPP” DAS Ciliwung
dengan melibatkan seluruh pihak terkait.

Kesepakatan pihak-pihak terkait dalam proses LFA DAS menunjukkan


bahwa “BKPP” DAS merupakan kebutuhan seluruh pihak yang harus segera
diwujudkan. Mengingat bahwa DAS bersifat lintas propinsi/kabupaten, maka
“BKPP” DAS harus sepakati di antara kabupaten maupun propinsi terkait.
Mengingat bahwa DAS Dodokan merupakan DAS di pulau kecil dan lintas
kabupaten, maka: unit kewenangan “BKPP” DAS sebaiknya mencakup seluruh
DAS di Pulau Lombok dan keberadaannya harus sepakati di antara kabupaten
maupun kota terkait.. Di tingkat implementasi, keberhasilan koordinasi dapat
diketahui dari beberapa hal berikut:

a. Setiap pihak yang mengimplementasikan program (sesuai dengan rencana


pengelolaan DAS/pulau terpadu) memiliki kriteria keberhasilan
implementasi program yang sesuai ukuran kinerja pengelolaan DAS, dapat
diaudit dan dikomunikasikan secara transparan kepada seluruh pihak
terkait.

b. Terwujudnya mekanisme/hubungan kelembagaan antar seluruh pihak


terkait yang dibangun atas proses-proses partisipatif di dalam “BKPP” DAS,
termasuk mekanisme pembagian biaya-manfaat antara hulu-hilir dan
mekanisme penegakan hukum bagi pemilik lahan bukan penduduk.

c. Biaya pengelolaan DAS secara keseluruhan harus lebih rendah untuk


menghasilkan manfaat yang sama atau dengan biaya yang sama diperoleh
hasil yang lebih besar.

d. Ada kejelasan status lahan di tingkat komunitas lokal/petani.


103

VI. POSISI INSENTIF DALAM REHABILITASI HUTAN

Rehabilitasi Hutan dan lahan merupakan upaya yang menyangkut berbagai


pihak yang mempunyai kepentingan berbeda-beda, sehingga keberhasilannya
sangat ditentukan oleh banyak pihak, tidak semata-mata oleh pelaksana
langsung di lapangan, tetapi oleh pihak-pihak yang berperan sejak tahapan
perencanaan hingga monitoring dan evaluasinya. Masyarakat merupakan
unsur pelaku utama, sedangkan pemerintah sebagai unsur pemegang otoritas
kebijakan dan fasilitator. Selain itu masih terdapat pihak-pihak lain, Perguruan
Tinggi, Lembaga Penelitian, LSM yang turut mendukung keberhasilan
penyelenggaraan RHL. Gambar 8 menyajikan kerangka logis penyelenggaraan
RHL partisipatif.

Rehabilitasi hutan dan lahan dilaksanakan dalam kerangka pengelolaan


sumberdaya alam dengan satuan pengelolaan DAS. Batas satuan DAS hampir
selalu tidak bersesuaian dengan batas unit administrasi pemerintahan,
sehingga koordinasi dan integrasi antar pemerintahan otonom dan instansi
sektoral sangat penting.

DAS kecil yang hanya meliputi satu unit terkecil pemerintahan otonom,
koordinasi dan integrasi (rule of the game) dibuat dan dilaksanakan dalam
cakupan administrasi daerah tingkat II atau kabupaten, dimana bupati dan
dinas-dinas terkait berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait (stakeholders)
kegiatan RHL untuk membangun sistem RHL yang kondusif kearah tercapainya
RHL swakelola. Kewenangan masing-masing pihak yang terkait dapat
dituangkan dalam peraturan daerah sebagai implementasi dari UU No 22 dan 25
tahun 1999 serta PP No 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan
Kewenangan Daerah Otonom, disamping UU no 41 tahun 2000 tentang
Kehutanan sehingga kepentingan pihak-pihak terkait dapat terpenuhi.
104

Untuk DAS besar dimana batas DAS melintas lebih dari satu unit
administrasi pemerintahan otonom, koordinasi dan integrasi kegiatan dilakukan
antar daerah otonom terkait. Apabila daerah-daerah otonom tersebut masih
dalam satu unit pemerintah daerah tingkat I, maka koordinasi dapat dilakukan
pemerintah daerah tingkat I, atau propinsi. Kewenangan masing-masing pihak
terkait dapat diatur dalam peraturan daerah yang ditetapkan oleh gubernur.

Dalam era otonomi daerah, khususnya untuk mengkoordinasikan peran


pemerintah daerah tingkat propinsi dan kabupaten, instansi BRLKT akan sangat
penting menjadi partner – instansi sejawat – yang secara profesional telah
bertahun-tahun menekuni dan menggeluti kegiatan RHL. Hal yang perlu
ditingkatkan adalah efisiensi dan efektivitas serta kreatifitas yang tidak hanya
mengikuti petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (juklak dan juknis).

Kebijakan pengelolaan sumberdaya hutan harus dirumuskan dengan


memperhatikan isu-isu penting yang dirasakan oleh masyarakat luas dengan
masukan-masukan dari berbagai pihak. Dalam hal ini pemerintah baik pusat
(Departemen Pertanian dan Kehutanan, Departemen Pemukiman dan Prasarana
Wilayah, Depdagri) maupun daerah (Gubernur, Bupati, Dinas-dinas dan Badan-
badan terkait) harus mampu memberikan landasan-landasan hukum maupun
operasionalnya, serta memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut.

Lembaga-lembaga lainnya seperti Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian,


LSM, dll secara aktif mendukung aspek kajian ilmiah untuk memberikan
landasan, kaidah-kaidah ekologi, sosial ekonomi dan teknis bagi penyusunan
kebijakan serta teknologi yang efisien dan ramah lingkungan kepada
masyarakat pelaku. Masyarakat sebagai pelaku utama juga harus terlibat
secara aktif sejak perencanaan, pelaksanaan kegiatan maupun kontrol dan
evaluasi pelaksanaan RHL.

Standar, kriteria dan indikator kinerja penyelenggaraan RHL dalam


pengelolaan DAS perlu disusun bersama secara partisipatif oleh pihak-pihak
terkait baik birokrasi pemerintah maupun lembaga lainnya dan disepakati
105

bersama yang selanjutnya dapat dituangkan dalam bentuk perda propinsi


maupun kabupaten sebagai landasan penilaian akuntabilitas pemerintah
kabupaten dan propinsi.

Hasil Program RHL dirasakan tidak hanya oleh masyarakat lokal tetapi juga
masyarakat luas, baik itu regional, nasional maupun internasional. Isu
lingkungan global, misalnya perdagangan karbon (carbon trade) merupakan
salah satu contoh isu international yang terkait dengan RHL. Sangat tidak adil
(fair) suatu negara atau daerah hilir DAS yang sebagian besar wilayahnya
merupakan kawasan industri, memproduksi cemaran udara (COx, NOx),
sementara negara lain atau daerah hulunya berhasil menghijaukan dengan
penutupan tajuk yang rapat oleh tanaman keras sebagai penghasil O2 untuk
menekan polusi udara. Dengan demikian keberhasilan RHL semestinya
mendapatkan kompensasi yang dapat berupa uang sebagai nilai jual jasa-jasa
lingkungan.

Luasnya manfaat yang mungkin dinikmati oleh masyarakat memungkinkan


pendanaan RHL bersumber dari berbagai pihak. Dana RHL yang tersedia dan
potensial dimanfaatkan untuk RHL adalah dana dari pemerintah (DR, IHPH,
PSDH, dll), dana langsung masyarakat domestik berupa pajak lingkungan,
donasi dan swadana pemilik lahan, serta masyarakat/pemerintah internasional
dalam bentuk DNS (debt for nature swap), perdagangan karbon (carbon trade),
hibah (grant) dan lain-lain.

RHL dimasa datang diharapkan dapat dilaksanakan secara swakarsa,


swadaya, swadana dan swakelola tanpa mengandalkan dana dari pemerintah.
Untuk itu RHL harus digerakan oleh suatu mekanisme insentif-disinsentif agar
dapat melibatkan pihak-pihak terkait secara aktif, terutama masyarakat
pelaku/pelaksana langsung.

Masyarakat pelaku langsung akan dapat berperan lebih aktif apabila


setidaknya para pelaku yang dimaksud a) meyakini kebenaran program, b)
106

mendapatkan manfaat dari hasil kegiatan, dan c) mampu melaksanakan


kegiatan tersebut.

Untuk mengetahui lebih mendalam ketiga hal di atas, maka diperlukan


evaluasi terhadap prinsip-prinsip kelembagaan yang diterapkan masyarakat
melalui identifikasi status kepemilikan (property right system), aturan perwalian
(rule of representantive), serta batas kewenangan (jurisdiction boundary).
Identifikasi status kepemilikan lahan sebagai tapak RHL, milik perorangan atau
kelompok masyarakat sebagai lahan komunal atau adat, sangat menentukan
intensitas dan kesungguhan pelaksanaan program yang akan diterapkan.
Pemahaman mengenai aturan perwalian perlu dilakukan karena budaya
masyarakat yang satu dengan yang lainnya berbeda.
Gambar 8. Kerangka Logis Sistem Penyelenggaran Rehablitasi hutan dan Lahan (RHL)
107
109

VII. KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN

A. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN KEBIJAKAN


REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

Program rehabilitasi lahan merupakan kebijakan nasional, yang pada


awalnya diimplementasikan dalam bentuk Proyek Inpres yang dimulai pada
tahun 1976, dalam rangka penyelamatan hutan tanah dan air. Program
tersebut meliputi Proyek Reboisasi yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan dan
Proyek Penghijauan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah.

Sebagai motor pengerak pada saat itu, dibentuk institusi proyek dibawah
Direktorat Jenderal Kehutanan, Departemen Pertanian dengan nama
Perencanaan dan Pembinaan Penghijauan Daerah Penghijauan Daerah Aliran
Sungai (P3RPDAS), yang kemudian berkembang menjadi Balai Rehabilitasi
Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT). Fungsi pokok institusi tersebut adalah
menyusun rencana kegiatan-kegiatan proyek dalam pelaksanaan program, dan
tugas-tugas pembinaan rehabilitasi lahan.

Pada awalnya Proyek Penghijauan meliputi kegiatan yang bersifat teknik


pertanaman, terdiri atas kegiatan pengadaan bibit, penanaman dan pembuatan
teras serta yang bersifat teknik sipil berupa pembangunan Dam Pengendali dan
Dam Penahan. Seluruh kegiatan dilaksanakan di tanah milik (di luar kawasan
hutan), dalam bentuk paket-paket penghijauan. Akibatnya kegiatan
penghijauan dilaksanakan dengan volume pekerjaan yang sangat besar dan
membutuhkan dana yang besar pula. Pada saat itu sumber dana berasal dari
alokasi dana perencanaan, pengawasan dan rehabilitasi berdasarkan PP No. 22
Tahun 1968, tentang Penetapan dan Penggunaan Iuran Hak Pengusahaan
Hutan (IHPH) dan Iuran Hasil Hutan (IHH). Realisasi kegiatan banyak yang
tidak sesuai dengan target, banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan,
terutama dalam alokasi penggunaan dana, yang direncanakan secara kaku.
Program bantuan tidak dipandang sebagai subsidi atau insentif, tetapi dipahami
110

sebagai biaya kegiatan, sehingga dianggap terlalu kecil. Hal itu menyebabkan
pelaksanaan program bantuan menjadi tidak efektif karena rendahnya
dukungan peserta.

Melihat kenyataan tersebut pada perkembangan selanjutnya dilakukan


perubahan pola bantuan. Bantuan dilaksanakan dalam bentuk pembangunan
unit-unit percontohan. Diharapkan dengan adanya unit percontohan tersebut
akan berdampak terhadap masyarakat di sekitarnya dan merangsang
masyarakat untuk melaksanakan kegiatan serupa secara swadaya.

Dalam rangka otonomi daerah, landasan kebijakan penyelenggaraan


rehabilitasi lahan/penghijauan mengalami banyak penyesuaian sebagaimana
uraian berikut:

1. Landasan hukum
Undang-Undang :

ƒ UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan

ƒ UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah

ƒ UU No. 24 Tahun 1992 tentang Tata Ruang Wilayah

ƒ UU No. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.


18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

ƒ UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Daerah

Peraturan Pemerintah:

ƒ Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan


Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi

ƒ Peraturan Pemerintah No. 84 Tahun 2000 tentang Organisasi Daerah

ƒ Peraturan Pemerintah No. 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan


111

Aturan Pelaksanaan:

ƒ Keputusan Menteri Kehutanan No. 20/KPTS-II/2001 tentang Pola


Umum dan Standar serta Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan

2. Kebijakan Saat Ini

a. Arah Kebijakan

Sebagaimana tertuang dalam Pasal 40 Undang-undang No. 41 Tahun


1999, rehabilitasi hutan dan lahan dimaksudkan untuk memulihkan,
mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya
dukung, produktivitas, dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga
kehidupan tetap terjaga. Tujuan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL)
sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 20 /Kpts-
II/2001 adalah terpulihkannya sumberdaya hutan dan lahan yang rusak,
sehingga berfungsi optimal dan dapat memberikan manfaat kepada seluruh
pihak terkait (stakeholders), menjamin keseimbangan lingkungan dan tata air
Daerah Aliran Sungai (DAS) dan mendukung kelangsungan industri kehutanan.
RHL merupakan bagian dari sistem pengelolaan hutan dan lahan yang
ditempatkan dalam kerangka pengelolaan DAS.

Dalam pasal 41, 42 dan 43 Undang-undang No. 41 Tahun 1999,


dikemukakan arahan pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan sebagai berikut:

Pasal 41

(1) Rehabilitasi hutan dan lahan diselenggarakan melalui kegiatan: reboisasi,


penghijauan, pemeliharaan, pengayaan tanaman, atau penerapan teknik
konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis, pada lahan kritis dan
tidak produktif.

(2) Kegiatan rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di


semua hutan dan kawasan hutan kecuali cagar alam dan zona inti taman
nasional.
112

Pasal 42

(1) Rehabilitasi hutan dan lahan dilaksanakan berdasarkan kondisi spesifik


biofisik.

(2) Penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan diutamakan pelaksanaannya


melalui pendekatan partisipatif dalam rangka mengembangkan potensi dan
memberdayakan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 43

(1) Setiap orang yang memiliki, mengelola, dan/atau memanfaatkan hutan


yang kritis atau tidak produktif, wajib melaksanakan rehabilitasi hutan
untuk tujuan perlindungan dan konservasi.
(2) Dalam pelaksanaan rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
setiap orang dapat meminta pendampingan, pelayanan dan dukungan
kepada lembaga swadaya masyarakat, pihak lain atau pemerintah.
Arahan pembagian kewenangan umum yang tertuang dalam PP 25 Tahun
2000, dalam konteks rehabilitasi hutan dan lahan dijabarkan oleh Departemen
Kehutanan sebagai berikut:
(1) Kewenangan Pemerintah Pusat
a. Penyusunan rencana makro dan pola umum rehabilitasi lahan dan
konservasi tanah
b. Penetapan kriteria dan standar pengelolaan rehabilitasi
c. Pengawasan dan pengendalian
d. Menilai kelayakan proposal daerah

e. Fasilitasi dan bimbingan

(2) Kewenangan Propinsi

a. Penyusunan pedoman penyelenggaraan rehabilitasi lahan

b. Penyelenggaraan dan pengawasan

c. Fasilitasi dan pelatihan teknis


113

(3) Kewenangan Kabupaten

a. Menyusun proposal kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan yang


partisipatif dan spesifik lokasi

b. Melaksanakan dan menjamin keberhasilan kegiatan rehabilitasi hutan


dan lahan yang mandiri dan partisipatif

c. Fasilitasi dan bimbingan teknis

b. Strategi

Hingga saat ini Departemen Kehutanan bersama-sama departemen


terkait, telah menelaah jumlah DAS di Indonesia dan menetapkan jumlahnya
sebanyak 615 DAS. Pada tanggal 31 Januari 2001, pemerintah pusat
(Departemen Kehutanan) telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 20/Kpts-
II/2001 tentang Pola Umum dan Standar serta Kriteria Rehabilitasi Hutan dan
Lahan yang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pemerintah, pemerintah
daerah dan masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan lahan. Secara eksplisit
dikemukakan bahwa teknologi, partisipasi masyarakat dan insentif merupakan
salah satu dari tiga kriteria yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam
indikator kinerja rehabilitasi hutan dan lahan.

Hingga saat ini Keputusan Menteri Kehutanan tersebut masih dalam


tahap sosialisasi dan berbagai pihak di daerah belum banyak memahami
maksud dan tujuan keputusan tersebut. Dalam makalah ini tingkat
keberterimaan daerah atas kewenangan Menteri Kehutanan untuk menetapkan
Pola Umum dan Standar serta Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan praktis
belum dapat dieavaluasi. Upaya sosialiasi keputusan tersebut harus segera
dilakukan melalui berbagai media, termasuk internet, media massa, lokakarya,
pelatihan dan sebagainya.
114

c. Organisasi

Selain jabaran kewenangan pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten


tersebut di atas, tidak ada acuan formal baku yang menggambarkan organisasi
rehabilitasi hutan dan lahan dalam rangka otonomi daerah. Arahan
pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan sebagaimana dituangkan dalam pasal
42 UU Nomor 41 Tahun 1999 tersebut di atas memberikan ruang bagi
perbedaan organisasi rehabilitasi hutan dan lahan di tingkat lokal, tergantung
pada kondisi spesifik biofisik dan kesepakatan seluruh pihak terkait di daerah
tersebut.

Hubungan organisasional antara pemerintah pusat, propinsi dan


pemerintah daerah diperlukan untuk menjamin aliran perencanaan,
implementasi, pengendalian dan pemantauan/evaluasi agar kinerja rehabilitasi
hutan dan lahan dapat dipertanggunggugatkan kapada publik, serta mekanisme
pendanaan yang bersumber dari dana alokasi khusus yang berasal dari dana
reboisasi. Upaya untuk mendayagunakan kesepakatan lokal melalui forum-
forum atau institusi lokal lainnya perlu dihargai secara khusus dalam hal
koordinasi pengelolaan DAS secara keseluruhan.

B. KEBIJAKAN INSENTIF REHABILITASI HUTAN

Idealnya konservasi tanah dan air yang menjadi target utama rehabilitasi
hutan dan lahan cukup memadai untuk menjadi insentif bagi berbagai pihak,
mengingat manfaat jangka panjang yang akan diperoleh, baik manfaat
langsung maupun tidak langsung. Namun pada kenyataannya, kebutuhan akan
hasil cepat yang mencukupi dan tidak adanya sumber pendapatan yang tetap
bagi masyarakat serta adanya kegagalan kebijakan, pasar, maupun
kelembagaan telah menyebabkan semakin luasnya lahan kritis dari waktu ke
waktu.

Implementasi rehabilitasi hutan dan lahan menunjukkan bahwa efisiensi


dan efektivitas kegiatan tersebut dinilai rendah akibat pendekatan yang
115

cenderung menegasikan faktor-faktor lokal, pendekatan keproyekan yang


menghasilkan insentif tentangan dan penyeragaman aspek-aspek teknis yang
hanya diukur dari keberhasilan tanam-tumbuh. Di pihak lain pendekatan
pengelolaan daerah sungai yang mendasari pentingnya rehabilitasi hutan dan
lahan, praktis kurang dikenal oleh berbagai pemangku kepentingan, walaupun
dalam banyak diskusi seringkali dinyatakan tingkat pentingnya.

Menata kembali kerangka logis rehabilitasi hutan dan lahan dalam


kaitannya dengan pengelolaan DAS serta mendorong seluruh pemangku
kepentingan di dalam DAS tersebut agar mau menjaga dan melestarikan
seluruh komponen sumberdaya alam yang dapat mempengaruhi kualitas DAS,
serta melakukan rehabilitasi pada lahan-lahan kritis di dalam DAS merupakan
kebutuhan yang mendesak. Dalam kaitannya dengan otonomi daerah,
kebutuhan tersebut semakin penting mengingat semakin banyaknya daerah
otonom yang harus berkoordinasi dan menyatakan kesepakatan terhadap
ukuran kinerja yang sama.

Mengacu pada kerangka logis rehabilitasi hutan dan lahan yang dirumuskan
di tingkat nasional dan substansi pengembangan sistem insentif yang disajikan
pada Bab IV, dapat dirumuskan kebijakan di tingkat nasional yang
memungkinkan berlakunya sistem insentif di tingkat DAS dan tapak rehabilitasi
hutan dan lahan.

1. Prinsip kebijakan Sistem Insentif RHL

Berdasarkan penjelasan panjang lebar pada bab-bab sebelumnya, maka


kebijakan sistem insentif RHL harus di dasari atas :

ƒ Prinsip Multisektor

Terjadinya degradasi hutan dan lahan seringkali disebabkan oleh faktor-


faktor di luar kehutanan. Adanya kebijakan insentif pada suatu sektor
seringkali menjadi disinsentif bagi kegiatan RHL (Perverse Incentives).
116

Oleh karenanya kebijakan insentif RHL bukan melulu menjadi otoritas


sektor kehutanan. Atas dasar hal tersebut, maka landasan kebijakan
pengembangan sistem insentif RHL harus melalui pendekatan multisektoral,
khususnya pada sektor-sektor yang terkait dengan sumberdaya hutan dan
lahan seperti pertanahan, makro ekonomi, pertanian, perindustrian, energi,
dll. Dalam kerangka ini maka perlu didorong adanya kebijakan yang
sifatnya integratif dan koordinatif dari sektor-sektor tersebut.

ƒ Prinsip Cost-Benefit Sharing

Biaya dan manfaat dari kegiatan RHL seringkali tidak mengena pada pihak
(orang/sektor) dan wilayah/lokasi yang sama. Hal inilah yang secara
ekonomi sering menyebabkan terjadinya "kegagalan pasar" pada kegiatan
RHL. Dalam kaitan tersebut maka kebijakan sistem insentif RHL harus
mendorong tidak terjadinya kegagalan pasar tersebut, yaitu melalui
mekanisme "Cost-Benefit Sharing" baik antar pihak/pelaku maupun antar
wilayah seperti :

• Hulu - hilir

• Desa - kota

• Sektor kehutanan - non kehutanan

• Nasional/domestik - internasional

• Public sector - Private sector

2. Pendekatan dan instrumen kebijakan insentif RHL

Berdasarkan kedua prinsip di atas, maka kebijakan insentif RHL dapat


dibuat melalui pendekatan berikut :

ƒ Pendekatan institusi/legal

Pendekatan legal institusi ini dalam rangka adanya jaminan kepastian dan
keamanan hak atas pemilikan, pengelolaan atau akses pemanfaatan
sumberdaya hutan dan lahan. Jaminan kepastian tersebut dikemas dalam
117

bentuk "Property right" berupa sejumlah hak (bundle of right) atas


sumberdaya hutan dan lahan misalnya : land right, management and use
right, communal and private right, dll.

ƒ Pendekatan Ekonomi

Berdasarkan pendekatan ekonomi, sejumlah kebijakan insentif RHL dapat


dibuat melalui instrumen-instrumen ekonomi, antara lain :

1. Market and Charge Systems, seperti concession Fee and Royalties


Water Protection Fee, Carbon offsets, dll.

2. Fiscal Instrument, seperti pajak-pajak dan subsidi

3. Bond and Deposite (Dana-dana jaminan) seperti Dana Jaminan


Reboisasi, Dana Reklamasi Lahan, Dana Jaminan Pencemaran, dll

ƒ Pendekatan Sosial

Kebijakan insentif RHL dapat dilakukan melalui pendekatan sosial yaitu


melalui livelihood Support dan Empowerment.

Berdasarkan pendekatan di atas, Tabel 9 menyajikan kategori


insentif/disinsentif dalam konteks kebijakan nasional menurut tapak, aktor dan
pendekatan yang mungkin dilakukan. Adapun contoh jenis-jenis insentif untuk
pengelolaan DAS terpadu dalam berbagai sektor disajikan pada Tabel 10.

3. Mekanisme Pendanaan RHL

Dalam kerangka pendanaan RHL, ada dua hal penting yang harus diatur
agar kebijakan pendanaan menjadi insentif bagi kegiatan RHL, yaitu:

ƒ Sumber-sumber pendanaan dan mekanisme pengumpulannya

Berdasarkan prinsip Cost-Benefit Sharing sesungguhnya sumber-sumber


pendanaan RHL dapat secara luas digali. Melalui berbagai instrument
ekonomi, mekanisme pengumpulan dana RHL dapat dirumuskan. Dalam
kaitan tersebut, pada level kebijakan nasional adalah bagaimana hal
tersebut ingin diwujudkan.
118

Tabel 9. Kategori Insentif/Disinsentif Pengelolaan DAS Terpadu Dalam


Konteks Kebijakan Nasional
PENDEKATAN KEBIJAKAN
TAPAK AKTOR Legal Social- Market
Approach Approach Approach
Unit Usaha Fiscal Certification
skala besar Instruments Market and
Bonds and Charge system
DALAM Deposits
KAWASAN Baku Mutu
HUTAN Unit Usaha Fiscal Certification
skala kecil Instrument Market and
Baku Mutu Charge system
Komunitas Property Right Livelihood Certification
Support
Empowerment
Rumah Property Right Livelihood
Tangga Support
Empowerment
Unit Usaha Fiscal Certification
skala besar Instruments Market and
Bonds and Charge system
LUAR Deposits
KAWASAN Baku Mutu
HUTAN Unit Usaha Fiscal Certification
skala kecil Instrument Market and
Baku Mutu Charge system
Komunitas Property Right Livelihood
Support
Empowerment
Rumah Property Right Livelihood
Tangga Support
Empowerment
119

Tabel 10. Contoh-Contoh Insentif Ekonomi untuk pengelolaan DAS terpadu


untuk berbagai sektor
Hak Sistem Instrumen Dana Mekanisme
Kepemilikan Pasar dan Fiskal Jaminan Pendanaan
Harga
Lahan - Hak atas - Pajak - Dana - Dana pinjaman
lahan/milik kepemilikan jaminan untuk
dan
- Hak guna - Pajak reklamasi konservasi
Tanah penggunaan lahan tanah
lahan
Sumber - Hak atas air - Bagi hasil air - Pajak
- Harga air pertumbuhan
daya Air
- Biaya modal
perlindunga air

Hutan - Hak-hak pribadi - Tawar - Pajak untuk - Dana


dan komunal menawar log jaminan
- Konsesi - Konsesi - Subsidi untuk refores
- Sewa/ kontrak - Royalti reforestrasi trasi
- Dana
jaminan
pengelola
an hutan

Mineral - Hak atas - Bagi hasil - Pajak - Dana


pertambangan produk pemanfaatan jaminan
perdaga ngan - Subsidi infill reklamasi
- Subsidi lahan
batterment

Polusi - Polusi yang - Pajak polusi - Dana - Dana pinjaman


diperboleh kan jaminan berbunga
pada produk pengirima rendah
perdaga ngan n limbah - Insentif relokasi
- Biaya - Dana
perlakuan jaminan
- Subsidi kerusa
teknologi kan lingku
ngan

Limbah - Harga - Pajak limbah - Sistem - Insentif


pengumpulan - Subsidi pada pembayar Penggan ti CFC
teknologi an
yang bersih kembali
limbah dana
jaminan

Iklim - Emisi yang - Ofset karbon - Pajak


diperboleh kan - Kredit karbon karbon
dari produk - Kuota perdaga - Pajak BFU
perdaga ngan ngan CFC
120

ƒ Mekanisme Penggunaan Dana RHL

Hal lain yang juga penting dalam mekanisme pendanaan RHL adalah
bagaimana dana RHL yang terkumpul digunakan dan menjadi insentif bagi
kegiatan RHL. Seperti kasus DR sekarang ini, apakah penggunaan Dana
DR dan mekanisme penyalurannya menjadi insentif bagi kegiatan RHL.
Dalam kerangka ini, maka beberapa kebijakan yang berkaitan dengan
mekanisme penyaluran dana RHL perlu dibuat.

C. KEBIJAKAN NASIONAL

Apa yang telah diuraikan di atas adalah keseluruhan komponen


pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan baik yang menyangkut tahapan proses
pelaksanaan, syarat yang diperlukan, alternatif bentuk insentif, serta aktor
pelakunya. Bagaimana pelaksanaan tersebut dapat benar-benar berjalan akan
sangat tergantung pada semua aktor yang terlibat, namun masing-masing aktor
perlu mengetahui peran masing-masing secara jelas.

Dalam kebijakan nasional, tujuan yang senantiasa perlu ditekankan adalah


agar kebijakan tersebut dapat mempengaruhi aktor-aktor utama, baik pada
jajaran pemerintah maupun masyarakat, agar menurut pertimbangan yang
mereka sendiri lakukan, langkah-langkah nyata untuk melaksanakan rehabilitasi
hutan dan lahan menjadi pilihan rasional mereka. Oleh karena itu ruang lingkup
kebijakan nasional tertuju pada dua aspek pokok, yaitu :

1. Pertimbangan Rasionalitas Ekonomi

Terwujudnya syarat-syarat agar kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dapat


berjalan sesuai rationalitas ekonomi dengan tolok ukur B/C >1. Rasionalitas
ekonomi ini biasanya menjadi dasar perhitungan aktor-aktor seperti petani
tanaman pangan, peternak, maupun pengusaha yang memanfaatkan
sumberdaya alam dan menyebabkan dampak negatif bagi daya dukung
121

sumberdaya alam. Oleh karena itu kebijakan nasional dapat dirumuskan setelah
terlebih dahulu diketahui masalah-masalah pokok yang dihadapi oleh
keempat aktor yaitu unit usaha skala besar, unit usaha skala kecil, komunitas,
dan rumah tangga. Apa yang dapat dilakukan untuk memenuhi rasionalitas
ekonomi tersebut adalah menjalankan ketiga bentuk mekanisme yaitu
pendekatan legal, pendekatan sosial, serta pendekatan pasar, sebagaimana
telah diuraikan dalam Tabel 29.

Dalam implementasinya, pelaksanaan kebijakan ini dapat dilakukan dengan


memperbaiki berbagai bentuk kebijakan dan manajemen yang diberlakukan
terhadap unit-unit usaha besar dan kecil, serta pelibatan komunitas dan rumah
tangga dalam kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.

Oleh karena itu untuk pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan yang
berada di dalam kawasan hutan, evaluasi kebijakan dan manajemen dapat
dilakukan terhadap sistem pengelolaan hutan yang dijalankan dalam bentuk
pemberian hak pengusahaan hutan, ijin pemanfaatan hasil hutan, dll. yang
berlaku di hutan produksi, pengelolaan kawasan konservasi, maupun
pengelolaan hutan lindung. Demikian pula, evaluasi dilakukan terhadap
kebijakan dan manajemen rehabilitasi hutan dan lahan yang selama ini
diimplementasikan terhadap hutan di luar kawasan hutan negara.

Dalam kaitan ini, maka di dalam lingkup Departemen Kehutanan perlu


dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengelolaan hutan yang
diberlakukan selama ini. Evaluasi serupa juga perlu dilakukan oleh instansi yang
berwenang melakukan pengelolaan hutan di wilayah Kabupaten. Departemen
Kehutanan perlu menjalankan program yang dapat membantu pemerintah
Kabupaten tersebut.

2. Pertimbangan Rasionalitas Birokrasi

Keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan juga sangat tergantung pada


sejauhmana kepentingan-kepentingan pragmatis birokrasi akibat spesialisasi,
122

sektoral dan penyederhanaan pertanggungjawaban kegiatan (lebih menekankan


pertanggungjawaban administratif) dapat di atasi. Apabila lemahnya koordinasi
adalah karakteristik inherent dari birokrasi, maka perlu ada pilihan kebijakan
yang dapat meminimumkan hambatan tersebut. Langkah yang dapat
diupayakan adalah memadukan antara pendekatan rasional (top-down) dengan
pendekatan bottom up.

Kelemahan pendekatan top-down adalah sulitnya dipenuhi sejumlah asumsi


yang menjadi syarat keterlaksanaannya, yaitu :

a. Tujuan kebijakan bersifat konsisten dan jelas sehingga standard


evaluasinyapun dapat dirumuskan dengan mudah;

b. Kebijakan dirumuskan atas dasar hubungan sebab-akibat yang sangat jelas


sehingga jika kebijakan dijalankan, masalah akan dapat diatasi;

c. Organisasi pelaksana dapat mematuhi semua aturan yang dibuat;

d. Para pelaksana kebijakan mempunyai komitmen, kemampuan dan


ketrampilan dalam menerapkan kebebasan yang dimilikinya guna
mewujudkan tujuan kebijakan;

e. Adanya dukungan penuh dari berbagai kelompok kepentingan;

f. Perubahan sosial ekonomi tidak menghilangkan dukungan kelompok


sasaran dan tidak memperlemah hubungan konsep sebab-akibat yang
mendasai kebijakan tersebut.

Dalam pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan, pendekatan top-down tersebut


kemungkinan akan gagal disebabkan oleh :

a. Informasi yang tidak valid, sehingga masalah tidak terdeteksi dengan baik,
dan kebijakan yang dijalankan tidak relevan dengan masalah yang ada di
lapangan;

b. Konflik antara tujuan kebijakan dengan kepentingan kelompok sasaran,


sehingga tidak mendapat dukungan dari kelompok-kelompok kepentingan;
123

c. Validitas konsep sebab-akibat yang melandasi kebijakan tidak memadahi;

d. Dengan penekanan pada keberhasilan koordinasi, kepatuhan dan kontrol


yang efektif, pendekatan ini mengabaikan manusia dengan target group
dan peran aktor lainnya.

Namun demikian, model top-down tersebut dapat memastikan adanya


tanggungjawab yang terpusat serta adanya kemampuan penanggungjawab
yang tinggi karena adanya spesialisasi. Ini sangat penting agar apa yang sudah
dijalankan tidak menyimpang dari tujuan semula, dan jelas siapa
penanggungjawabnya.

Sebaliknya, pendekatan bottom up lebih menekankan kepercayaan dan


kemampuan pelaksanaan. Ini disebabkan karena target group terlibat dalam
penyesuaian-penyesuain yang diperlukan sehingga dapat ikut memiliki
kepentingan atas implementasi kebijakan. Kepercayaan merupakan modal
utama dan penting karena dalam pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan
memerlukan pemeliharaan dalam jangka panjang. Kegiatan tersebut tidak
hanya selesai pada tingkat penanaman, yang biasanya dikawal oleh organisasi
pelaksana yang sangat intensif, namun juga sampai pada pemeliharaan tegakan
yang institusi pelaksananya sangat tergantung pada besarnya dukungan target
group.

D. KEBIJAKAN YANG PERLU SEGERA DITETAPKAN

Berdasarkan kerangka logis penyelenggaraan RHL, substansi insentif RHL


dan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan nasional beberapa draf dapat
diusulkan untuk memastikan agar insentif RHL dapat diwujudkan di tataran
implementasi, yaitu:
124

1. Kebijakan Pengelolaan DAS Terpadu

Walaupun secara implisit pentingnya pengelolaan DAS terpadu telah


dinyatakan dalam beberapa peraturan perundang-undangan, namun kebijakan
mengenai hal tersebut belum ada. Kebijakan mengenai pengelolaan DAS
terpadu akan memberikan jaminan atas terjadinya rekonsiliasi hulu-hilir,
kepastian tata ruang dan penerapan panduan perancangan insentif RHL serta
mekanisme cost-benefit sharing antar sektor. Kebijakan ini juga diperlukan
untuk menjamin kepemilikan atas rencana pengelolaan DAS terpadu serta
memastikan kewenangan dan peran masing-masing pemangku kepentingan.
Untuk itu diperlukan pendekatan yang berbasis logical framework perlu diadopsi
untuk mendorong tercapainya kesepakatan antar pemangku kepentingan
mengenai tujuan, sasaran, luaran yang ingin dicapai, input yang diperlukan
serta ukuran kinerja keberhasilan pengelolaan DAS terpadu.

2. Kebijakan Pendanaan di Tingkat DAS

Pendanaan RHL dan pengelolaan DAS adalah tanggungjawab pemerintah


dan para pemangku kepentingan yang mendapat manfaat langsung dari
sumberdaya alam di dalam DAS tersebut. Kebijakan yang mendorong
terbentuknya mekanisme pendanaan di tingkat DAS akan menjadi insentif bagi
terlaksananya RHL secara swakarsa, swadana dan swadaya. Kebijakan
mengenai mekanisme pendanaan ini dapat dikombinasikan dengan kebijakan
pengelolaan DAS terpadu. Dalam merealisasikan kebijakan ini, pendekatan
legal dan pendekatan pasar terhadap sumber-sumber pendanaan perlu
ditempuh (lihat Tabel 29 dan Tabel 30).

3. Kebijakan Sistem Informasi di Tingkat DAS

Sistem informasi yang menjamin terjadinya transparansi dan komunikasi


dua arah antar berbagai pemangku kepentingan akan mendorong berbagai
125

pihak untuk mempertanggung-gugatkan setiap aktivitasnya. Kebijakan


diperlukan untuk memastikan peran pusat dalam menyebarluaskan setiap
informasi yang berguna bagi perbaikan sistem pengelolaan DAS dan
memfasilitasi komunikasi antar berbagai pihak/aktor yang aktivitasnya
berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan DAS. Kebijakan ini juga diperlukan
untuk mendorong agar berbagai pusat pengetahuan (pool of knowledge),
misalnya: perguruan tinggi, LSM dan lembaga penelitian dapat memberikan
kontribusi informasi yang berguna bagi seluruh pemangku kepentingan. Selain
itu perlu dikembangkan mekanisme umpan balik (feedback) informasi dari
berbagai pemangku kepentingan ke pihak yang bertanggungjawab atas suatu
kegiatan yang berpengaruh negatif pada kinerja pengelolaan DAS.
127

VIII. PANDUAN PERANCANGAN INSENTIF UNTUK


REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

Insentif sebagai instrumen dalam rehabilitasi hutan dan lahan pada


prinsipnya tidak terbatas pada insentif ekonomi, namun mencakup berbagai
intrumen lain, khususnya hukum, kebijakan dan berbagai instrumen
pembangunan sosial. Dalam merancang dan mengimplementasikan tindakan
insentif baru, konteks yang menyeluruh harus dipertimbangkan, termasuk
konteks sosial dan politiknya. Setidaknya terdapat tiga aspek makro yang harus
dipertimbangkan dalam merancang dan mengimplementasikan tindakan
insentif, yaitu (Vorhies, 2001):

1. Kendala Formal: hukum, kebijakan dan hak-hak kepemilikan. Setiap


tindakan, khususnya tindakan ekonomi, biasanya memerlukan aksi legal-
formal, misalnya: pajak atau subsidi rehabilitasi hutan dan lahan atau
melegalkan dan mengatur pasar hasil rehabilitasi hutan dan lahan.

2. Kendala Sosial: Banyak aturan tidak tertulis yang mengarahkan perilaku


sehari-hari masyarakat dalam percaturan ekonomi dan sosial. Kendala
sosial berakar pada sistem kepercayaan, termasuk norma budaya,
kesepakatan sosial, adat istiadat, etika, tradisi dan tabu. Masyarakat
patuh pada kendala sosial bukan karena hukum, tetapi karena
kesepakatan.

3. Kepatuhan (compliance): Suatu tindakan insentif hanya akan efektif bila


masyarakat patuh/taat pada aturan mainnya. Derajat kepatuhan
masyarakat atas aturan main tertentu bervariasi dan perlu dipertimbangkan
secara khusus dalam merancang suatu tindakan insentif.

Di tingkat implementasi, insentif ekonomi dipandang dapat digunakan


sebagai instrumen yang efektif untuk mendorong keberhasilan rehabilitasi hutan
dan lahan. Berdasarkan rumusan atas panduan perancangan insentif ekonomi
128

yang relevan kemudian dikaji berbagai aspek kebijakan yang berkaitan dengan
hak kepemilikan, pendekatan pasar, pendekatan fiskal dan finansial serta faktor-
faktor non ekonomi lainnya. Bab ini difokuskan untuk merumuskan panduan
tersebut sebagai basis kajian kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan
sistem insentif rehabilitasi hutan dan lahan. Keseluruhan bab ini dikembangkan
berdasarkan dokumen “Community-based Incentive For Nature Conservation”
yang ditulis oleh Emerton (1999) dan diterbitkan IUCN. Berbagai penyesuaian
kontekstual dan substansi rehabilitasi hutan dan lahan dilakukan berdasarkan
kajian Tim Fakultas Kehutanan IPB mengenai pengembangan sistem insentif
rehabilitasi hutan dan lahan pada tahun 2000.

A. TUJUAN PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI INSENTIF


EKONOMI UNTUK REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

Faktor-faktor ekonomi di tingkat masyarakat mempunyai hubungan yang


erat dengan status dan integritas sistem-sistem alam. Masyarakat pedesaan
(rural) umumnya memiliki ketergantungan pada terpeliharanya sumberdaya
alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Adanya lahan yang
baik, tanah subur, pasokan air yang teratur dan perlindungan terhadap cuaca
yang ekstrim memungkinkan konsumsi, produksi dan pemukiman masyarakat
yang sehat. Sistem-sistem alam seperti, hutan, kebun, padang rumput, padang
penggembalaan, lahan basah, pantai dan laut menghasilkan sumberdaya yang
dapat dimanfaatkan secara langsung untuk memberikan pendapatan dan
kehidupan sehari-hari (subsisten), kadang-kadang sebagai sumber mata
pencaharian masyarakat satu-satunya atau dalam kombinasinya dengan sistem
produksi masyarakat.

Sumberdaya-sumberdaya alam tersebut cenderung mempunyai peran


khusus bagi rumahtangga miskin, terutama pada keadaan tertekan, dan
seringkali merupakan jaring pengaman akhir ketika sumber-sumber kehidupan
dan pendapatan lain mengalami kegagalan.
129

Namun demikian, kegiatan masyarakat kadang-kadang mengakibatkan


kerusakan sistem alam tempat mereka tergantung. Hampir semua bentuk
kegiatan produksi dan konsumsi mempunyai potensi untuk menurunkan,
mengubah, mencemari bahkan merusak sistem alam. Kegiatan-kegiatan seperti
lewah panen terhadap rumput, ikan dan kayu, konversi hutan menjadi lahan
pertanian dan pemanfaatan satwa liar tidak secara lestari semuanya
menurunkan dan merusak sistem alam secara langsung. Kegiatan-kegiatan lain
seperti pemanenan kayu dan ikan dengan menggunakan teknik-teknik yang
merusak, pertanian tebas-bakar, pertambangan terbuka, dan pembuangan
sampah pertanian dan rumahtangga tanpa pengolahan mengakibatkan
kerusakan sistem alam secara tidak langsung akibat kesalahan teknologi yang
diterapkan. Dalam konteks pengelolaan DAS, berbagai kegiatan tersebut
mengakibatkan terbentuknya lahan kritis yang membutuhkan penangan khusus
untuk memulihkan fungsinya, baik fungsi ekologi, sosial maupun produksi.

Sebagai akibat rusaknya sistem alam, termasuk penambahan luas lahan


kritis, sumber mata pencaharian dan kesejahteraan ekonomi masyarakat
semakin menurun. Menyadari bahwa ekonomi lokal sangat tergantung pada
ketersediaan dan kualitas sumberdaya hutan dan lahan di DAS, makin disadari
bahwa kegiatan konservasi, termasuk rehabilitasi hutan dan lahan, merupakan
komponen penting dalam kegiatan pembangunan pedesaan. Secara bersamaan
makin disadari pula bahwa ekonomi lokal memainkan peran penting dalam
pengelolaan sumberdaya hutan dan lahan. Strategi rehabilitasi hutan dan
lahan, banyak melibatkan dan mempertimbangkan manfaat kegiatan tersebut
bagi masyarakat lokal. Upaya pembangunan dan konservasi, keduanya
bertujuan untuk memelihara status dan integritas alam yang secara ekonomi
dapat diterima masyarakat lokal.

Tanpa adanya manfaat nyata secara ekonomi, masyarakat lokal umumnya


tidak mau atau tidak mampu untuk mengkonservasi dan merehabilitasi hutan
dan lahan dalam kegiatan-kegiatan produksi dan konsumsi mereka. Secara
130

umum, program-program, pembangunan pedesaan maupun rehabilitasi hutan


dan lahan, bertujuan utama untuk menciptakan kondisi agar masyarakat mau
dan mampu secara ekonomi melakukan tindakan konservasi sumberdaya hutan
dan lahan. Dengan kata lain, program-program tersebut bertujuan menyediakan
insentif ekonomi untuk mencegah degradasi hutan dan lahan atau
merehabilitasi lahan kritis berbasis masyarakat.

Insentif dapat didefinisikan sebagai dorongan khusus yang dirancang dan


dilaksanakan untuk mempengaruhi atau memotivasi orang untuk bertindak.
Dalam konteks rehabilitasi hutan dan lahan, insentif ekonomi ditekankan untuk:
(1) Mencegah terjadinya degradasi sumberdaya hutan dan lahan di DAS yang
kualitasnya masih bagus; dan (2) Mendorong masyarakat agar mau melakukan
rehabilitasi hutan dan lahan atas kesadarannya sendiri, sehingga dapat
memberikan manfaat finansial dan memperluas alternatif mata pencaharian
masyarakat.

Program-program dirancang untuk: (1) menciptakan dorongan-dorongan


ekonomi atau insentif positif untuk mencegah kerusakan sumberdaya hutan dan
lahan berkualitas bagus dan mendorong rehabilitasi hutan dan lahan; (2) tidak
menghargai tindakan merusak dengan menerapkan “hukuman” dan disinsentif;
dan (3) mengatasi tekanan ekonomi yang mendorong perilaku merusak atau
insentif tentangan (perverse incentive). Insentif ekonomi merupakan sebuah
instrumen yang dipandang mampu untuk mencegah degradasi hutan dan lahan
serta mendorong rehabilitasi hutan dan lahan untuk mendukung kehidupan
masyarakat yang berkelanjutan.

B. TAHAPAN DALAM PERANCANGAN INSENTIF EKONOMI


UNTUK REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

Proses perancangan dan implementasi insentif ekonomi untuk rehabilitasi


hutan dan lahan berbasis masyarakat meliputi tahapan-tahapan logis yang
berurutan didasarkan pada suatu latar belakang informasi dan analisis. Respon
131

insentif baik terhadap kebutuhan-kebutuhan lokal, lingkungan sekitar dan


kegiatan-kegiatan ekonomi, maupun pasar yang lebih luas, kegagalan kebijakan
dan kelembagaan yang membuat masyarakat tidak ingin atau secara ekonomi
tidak mampu untuk rehabilitasi lahan dan hutan dalam kaitannya dengan
kegiatan-kegiatan ekonomi. Pemahaman terhadap dinamika sistem ekonomi ini
dan identifikasi terhadap kebutuhan-kebutuhan dan kesempatan-kesempatan
yang dapat mereka berikan untuk rehabilitasi dan lahan merupakan dasar bagi
pemilihan tata insentif yang sesuai dengan lokasi bersangkutan.

Sesuai dengan hasil kajian sebelumnya, rincian tahapan dalam


perancangan insentif rehabilitasi hutan dan lahan disajikan pada Gambar 5.,
dengan penjabaran sebagai berikut:

Tahap 1: Pengumpulan informasi yang melatarbelakangi mata


pencaharian masyarakat dan kharakteristik sumberdaya
alam dalam DAS

a. Jelaskan konteks sosial-ekonomi dan sumberdaya alam

Bagaimana dan dimana masyarakat tinggal, ketergantungan mereka


terhadap sumberdaya untuk mempertahankan hidup sehari-harinya, serta
kendala dan kesempatan yang mereka hadapi dalam pencaharian nafkah pada
waktu yang berbeda, semuanya menentukan konteks lokal dimana sumberdaya
dikonservasi atau mengalami kerusakan dan insentif yang dapat digunakan.

b. Identifikasi interaksi antara mata pencaharian lokal dengan sumberdaya


alam

Matapencaharian masyarakat seringkali tergantung dan memberikan


dampak pada sumberdaya alam. Ketergantungan dan dampak tersebut
bervariasi menurut waktu dan orang. Kebalikannya, perubahan status dan
integritas sistem alam berdampak kepada mata pencaharian lokal. Identifikasi
dan pemahaman atas interaksi tersebut beserta variasi-variasinya akan
memberikan informasi penting tentang kebutuhan dan relung bagi insentif
ekonomi.
132

Tahap 2 : Analisis pengaruh ekonomi masyarakat terhadap


sumberdaya alam

a. Identifikasi kegiatan yang memberikan kontribusi langsung terhadap


kerusakan sumberdaya alam

Kegiatan-kegiatan ekonomi lokal dapat berdampak negatif terhadap


sumberdaya alam. Penyebab langsung degradasi sumberdaya yang umum
ditemui adalah adanya lewah ekspoitasi (over-expoitation) terhadap
sumberdaya alam, pemanenan dan praktek penggunaan lahan yang merusak,
konversi habitat alam dan masuknya sampah, racun dan bahan pencemar
lainnya ke dalam sistem alam. Identifikasi dampak-dampak negatif ini dan
kegiatan ekonomi penyebabnya memberikan informasi penting dalam
penentuan target insentif atau disinsentif.

b. Identifikasi penyebab pokok degradasi sumberdaya alam

Walaupun degradasi sumberdaya alam terjadi sebagai akibat langsung dari


kegiatan yang menurunkan kualitas sumberdaya alam, namun realitas tersebut
seringkali dibenarkan atau dihargai keberadaannya oleh proses-proses yang
lebih luas. Kegagalan-kegagalan dalam tata hukum, kebijakan, kelembagaan
dan pasar merupakan akar penyebab degradasi sumberdaya alam, karena hal
tersebut membiaskan biaya dan keuntungan relatif dari kegiatan ekonomi,
sehingga mendorong masyarakat untuk memproduksi dan mengkonsumsi
dengan cara-cara tertentu.

Tahap 3: Identifikasi kebutuhan dan relung insentif

a. Identifikasi kebutuhan insentif untuk rehabilitasi hutan dan lahan

Masyarakat cenderung untuk tidak melakukan tindakan konservasi


sumberdaya alam atau merehabilitasi hutan dan lahan kritis dalam kegiatannya
bila hal tersebut tidak memberikan manfaat ekonomi bagi mereka. Identifikasi
penyebab langsung degradasi sumberdaya alam dan faktor ekonomi yang
menyebabkannya (Tahap 3 dan 4) akan membantu dalam menentukan dimana
133

rehabilitasi hutan dan lahan tidak diinginkan, siapa saja pemangku kepentingan
utama yang relevan, serta dalam kondisi apa dan kapan mereka tidak mau atau
tidak mampu untuk melakukan rehabilitasi hutan dan lahan.

b. Identifikasi relung insentif untuk rehabilitasi hutan dan lahan

Bila rehabilitasi hutan dan lahan tidak memiliki nilai (sense) ekonomi bagi
pemangku kepentingan tertentu atau pada waktu tertentu, terbuka kebutuhan
untuk mengembangkan insentif positif dan menghilangkan insentif tentangan.
Informasi tentang penyebab langsung maupun tidak langsung degradasi
sumberdaya alam membantu untuk mengidentifikasi bentuk insentif yang paling
sesuai dan sifat/ciri dari insentif tentangan.

Tahap 4: Memilih insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan dan


lahan berbasis masyarakat

Banyak insentif ekonomi yang dapat diterapkan untuk rehabilitasi hutan


dan lahan berbasis masyarakat. Dengan memperhatikan status dan integritas
sistem alam di DAS, kondisi sosial ekonomi dan mata pencaharian masyarakat
lokal serta dengan memahami faktor-faktor ekonomi yang langsung
menyebabkan degradasi alam, dimungkinkan untuk dapat mengidentifikasi
bentuk-bentuk insentif atau kombinasinya yang sesuai dan dinilai efektif,
diterima masyarakat lokal dan dapat diterapkan secara praktis.

Tahap 5: Pertimbangan praktis dalam penerapan tindakan insentif

a. Mengoperasionalkan insentif untuk rehabilitasi hutan dan lahan

Operasionalisasi insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan dan lahan


mencakup identifikasi mitra kerja (partner) dalam implementasinya, negosiasi
peran dan tanggungjawab mitra kerja dan menterjemahkan insentif ke dalam
bentuk konkret aksi di lapangan.

b. Peninjauan dan perancangan ulang insentif untuk rehabilitasi hutan dan


lahan
134

Tindakan insentif tidak pernah memberikan hasil permanen atau mutlak


dalam pencapaian tujuan rehabilitasi hutan dan lahan serta
perbaikan/pengembangan mata pencaharian masyarakat. Status dan integritas
sumberdaya alam, mata pencaharian masyarakat serta faktor-faktor luar yang
mempengaruhi sistem alam selalu berubah menurut waktu. Peninjauan dan
penilaian ulang secara menerus serta perancangan ulang tindakan-tindakan
insentif (bila diperlukan) merupakan hal kritis untuk menjamin efektifitas dan
kelangsungannya dalam jangka panjang.

C. INFORMASI MENGENAI MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT


DAN KHARAKTERISTIK SUMBERDAYA ALAM DALAM DAS
Dinamika sistem mata pencaharian lokal menyebabkan pengaburan fokus
dalam perancangan dan penerapan insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan
dan lahan. Bagian ini mengidentifikasi informasi dasar yang diperlukan untuk
perancangan dan penerapan insentif ekonomi.

1. Menjelaskan Konteks Sosial Ekonomi dan Sumberdaya Alam

Bagaimana dan dimana masyarakat tinggal, ketergantungan mereka


terhadap sumberdaya untuk mempertahankan hidup sehari-harinya, serta
kendala dan kesempatan yang mereka hadapi dalam pencaharian nafkah pada
waktu yang berbeda, semuanya menentukan konteks lokal dimana sumberdaya
dikonservasi atau mengalami kerusakan dan insentif yang dapat digunakan.
Menjelaskan konteks sosial ekonomi dan sumberdaya alam merupakan langkah
pertama dalam merancang insentif untuk rehabilitasi hutan dan lahan berbasis
masyarakat.

Enam elemen utama konteks sosial ekonomi dan sumberdaya alam yang
mempunyai nilai penting dalam merancang insentif untuk rehabilitasi hutan dan
lahan berbasis masyarakat adalah:
135

• Tipe dan Penyebaran Sumberdaya Alam. Tipe sumberdaya alam apa yang
tersedia bagi masyarakat, bagaimana komposisi dan sebarannya menurut
ruang;

• Status dan Ketersediaan Sumberdaya Alam. Apakah sumberdaya alam dalam


kondisi asli atau terganggu, spesies atau ekosistem mana yang
menunjukkan gejala kerusakan khusus dan mana yang tersedia dalam
keadaan berlimpah;

• Cara-cara Sumberdaya Alam Dialokasikan dan Dikelola. Organisasi-


organisasi sosial, hubungan-hubungan dan kelembagaan yang
bertanggungjawab untuk mengendalikan penggunaan sumberdaya alam,
baik di dalam maupun di antara rumah tangga;

• Cara-cara Keputusan Mata Pencaharian Dibuat. Organisasi-organisasi sosial,


hubungan-hubungan dan kelembagaan yang bertanggungjawab untuk
mengendalikan kegiatan mata pencaharian, baik di dalam maupun di antara
rumah tangga;

• Mata Pencaharian Lokal yang Dominan. Kegiatan-kegiatan utama yang


memberikan kontribusi terhadap mata pencaharian dan kehidupan lokal;

• Cara-cara dimana Sistem Mata Pencaharian Berubah menurut Waktu dan


Orang yang Berbeda. Perbedaan-perbedaan sosial ekonomi, baik di dalam
maupun di antara rumah tangga, dalam kegiatan-kegiatan mata
pencaharian dan pengambilan keputusan, serta cara-cara kegiatan mata
pencaharian berubah menurut musim,, sepanjang waktu, atau sebagai
respon atas cekaman dan perubahan faktor luar.
136

Senarai 1 : Informasi Mengenai Mata Pencaharian


Masyarakat dan Sumberdaya Alam dalam DAS

KONTEKS: INTERAKSI-INTERAKSI

Jenis dan Penyebaran Sumberdaya Alam: Ketergantungan Mata Pencaharian thd


- Ekosistem apa ? Sumberdaya Alam :
- Spesies penyusunya apa ? - Sumber utama mata pencaharian ?
- Dimana sumberdaya tersedia ? - Kegiatan sekunder atau tambahan ?
- Kapan sumberdaya tersedia ?
Nilai Penting Ekonomi Sumberdaya Alam:
Status dan Ketersediaan Sumberdaya Alam: - Sumber kehidupan harian (subsistence) ?
- Status sumber daya alam ? - Sumber pendapatan ?
- Sumberdaya yg berlimpah ? - Sumber pekerjaan ?
- Sumberdaya yang langka ? - Kegiatan ekonomi yg mana ?
- Sumberdaya yang terdegradasi ?
- Sumberdaya yang terancam punah ? Variasi Sosial Ekonomi:
- Sumberdaya yang mempunyai nilai komersial ? - Bagaimana kelompok berbeda menggunakan
sumberdaya ?
Pengelolaan dan Alokasi Sumberdaya Alam: - Bagaimana kelompok berbeda mengelola
- Pengelola dari luar ? sumberdaya ?
- Keputusan di tingkat komunitas ? - Bagaimana kelompok berbeda mendapatkan
- Keputusan di tingkat rumahtangga ? manfaat dari sumberdaya ?
- Strategi pengelolaan lokal ? - Siapa yg sangat tergantung, bagaimana ?
- Divisi sosial mengenai keputusan dan tenaga kerja ? - Siapa yg kurang tergantung, bagaimana ?

Keputusan Mata Pencaharian: Waktu dan Perubahan:


- Organisasi di tingkat komunitas ? - Bagaimana penggunaan dan ketergantungan
- Keputusan di tingkat rumahtangga ? bervariasi menurut musim ?
- Divisi sosial mengenai keputusan dan tenaga kerja ? - Sumber perubahan reguler lainnya ?
- Sumber perubahan irreguler ?
Sistem Mata pencaharian Lokal: - Sumber perubahan eksternal ?
- Strategi mata pencaharian utama ?
- Sumber utama pendapatan ?
- Sumber utama kehidupan harian (subsistence) ?
- Sumber utama pekerjaan ?
- Kepercayaan terhadap pasar luar ?

Diferensiasi Mata Pencaharian dan Variasinya:


- Diferensiasi antar rumah tangga ?
- Diferensiasi dalam rumah tangga ? Analisis Pengaruh Ekonomi
- Variasi musiman ?
- Perubahan tak beraturan ?
masyarakat terhadap
- Sumber cekaman ? Sumberdaya Alam
- Pengaruh luar utama ? (Tahap 2)
137

2. Identifikasi Interaksi Antara Mata Pencaharian dengan


Sumberdaya Alam.

Insentif ekonomi bekerja dengan memotivasi orang untuk bertindak dengan


cara tertentu atau memodifikasi kegiatan ekonomi mereka sehingga dapat
merangsang kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Hal pertama yang
diperlukan adalah pemahaman menyeluruh terhadap interaksi antara mata
pencaharian dengan sumberdaya alam. Tahap kedua dalam perancangan
insentif untuk rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat adalah menilai
seberapa jauh kegiatan mata pencaharian tergantung dan mempengaruhi
sumberdaya alam.

Empat elemen utama interaksi antara mata pencaharian lokal dengan


sumberdaya alam yang paling relevan dalam perancangan insentif untuk
rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat adalah:

• Tingkat Ketergantungan Mata Pencaharian Lokal terhadap Sumberdaya


Alam. Apakah sumberdaya alam merupakan sumber utama mata
pencaharian, atau digunakan untuk mendukung kegiatan-kegiatan atau
sebagai sumber sekunder sebagai masukan atau bentuk lain dari kegiatan
produksi;

• Sifat dari Kontribusi Sumberdaya Alam terhadap Mata Pencaharian Lokal.


Apakah sumberdaya alam memberikan kontribusi terhadap pendapatan,
sekedar penyambung hidup atau manfaat pekerjaan bagi populasi lokal dan
jenis kegiatan ekonomi yang didukungnya;

• Variasi Kontribusi Sumberdaya Alam terhadap Mata Pencaharian Orang


yang Berbeda. Bagaimana sumberdaya alam digunakan dan
ketergantungannya bervariasi menurut perbedaan kategori sosial-ekonomi
orang, dibedakan menurut kekayaan, gender atau akses terhadap
sumberdaya lainnya.

• Variasi Kontribusi Sumberdaya Alam Terhadap Mata Pencaharian pada


Waktu yang Berbeda. Bagaimana sumberdaya alam digunakan dan
138

ketergantungannya bervariasi menurut musim, waktu atau sebagai respon


atas perubahan keadaan lokal atau eksternal.

D. ANALISIS PENGARUH EKONOMI KOMUNITAS TERHADAP


SUMBERDAYA ALAM

Terjadinya degradasi karena kebutuhan mata pencaharian menempatkan


permintaan secara tidak lestari terhadap sumberdaya alam. Bagaimana dan
mengapa aktivitas ekonomi lokal mengakibatkan degradasi sumberdaya alam
penting untuk diketahui. Bagian ini menjelaskan langkah-langkah analisis
tentang pengaruh ekonomi komunitas terhadap sumberdaya alam. Analisis ini
diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan relung insentif untuk
rehabilitasi hutan dan lahan.

1. Identifikasi kegiatan yang memberikan konstribusi langsung pada


degradasi sumberdaya alam

Insentif ekonomi terutama digunakan sebagai alat untuk mencegah


degradasi sumberdaya alam oleh masyarakat. Terbukti dengan sendirinya
bahwa identifikasi sifat dan sumber degradasi alam lokal merupakan tahap
penting dalam merancang insentif. Terdapat 4 kategori utama kegiatan
ekonomi lokal yang memberikan konstribusi langsung pada degradasi
sumberdaya alam, yaitu:

• Kegiatan lewah eksploitasi terhadap sumberdaya alam. Pemanfaatan


sumberdaya alam yang tidak lestari, baik secara menyeluruh atau dalam
arti areal maupun spesies yang mereka panen memberikan kontribusi pada
degradasi sumberdaya alam. Aktivitas yang tidak lestari merupakan
aktivitas atau kombinasi aktivitas pemanenan sumberdaya alam yang
melampaui kemampuan sumberdaya alam tersebut untuk beregenerasi
atau sumberdaya alam tersebut digantikan dengan sumberdaya lain,
139

sehingga terjadi kemunduran dalam kuantitas, kualitas atau


keanekaragaman sumberdaya alam sepanjang waktu.

• Aktivitas konversi habitat alami ke penggunaan lainnya. Penggunaan lahan


yang menyebabkan perubahan habitat secara permanen dengan merusak
dan menggantikan ekosistem alam dan spesies penyusunnya merupakan
faktor utama degradasi alam.

Senarai 2 : Analisis Pengaruh Ekonomi Kerakyatan


terhadap Sistem-Sistem Alam

Penyebab Langsung

Kegiatan lewah eskploitasi


terhadap sumberdaya alam:
- Kegiatan apa ?
Dasar Penyebab
- Bagaimana kegiatan tersebut
menyebabkan degradasi
Kegagalan kebijakan
sumberdaya alam ?
- Bagaimana kebijakan mendorong
- Siapa yang melaksanakan ?
kegiatan ?
- Kapan dilaksanakan ?
Kegagalan pasar
- Bagaiaman pasar mendorong
Kegiatan mengkonversi habatat
kegiatan ?
alami ke penggunaan lain
Kegagalan kelembagaan
- Kegiatan apa ?
- Bagaiaman kelembagaan
- Bagaimana kegiatan tersebut
mendorong kegiatan ?
menyebabkan degradasi
Kondisi mata pencaharian
sumberdaya alam ?
- Bagaiaman kondisi mata
- Siapa yang melaksanakan ?
pencaharian mendorong
- Kapan dilaksanakan ?
kegiatan ?
-
Pemanenan dan praktek
penggunaan lahan yang merusak:
- Kegiatan apa ?
- Bagaimana kegiatan tersebut
menyebabkan degradasi
sumberdaya alam ?
- Siapa yang melaksanakan ? Kebutuhan dan relung
- Kapan dilaksanakan ? insentif untuk RHL
(Tahap 3)
Kegiatan yang mencemari basis
sumberdaya alam :
- Kegiatan apa ?
- Bagaimana kegiatan tersebut
menyebabkan degradasi
sumberdaya alam ?
- Siapa yang melaksanakan ?
- Kapan dilaksanakan ?
140

• Praktek teknik pemanenan dan penggunaan lahan yang merusak. Teknik


pemanfaatan lahan dan sumberdaya yang merusak akan menyebabkan
degradasi sumberdaya alam. Penggunaan teknik penangkapan ikan dan
pemanenan kayu yang merusak serta pemanfaatan lahan di lahan curam
dapat menyebabkan degradasi sumberdaya alam.

• Kegiatan yang mencemari sistem alam. Kegiatan produksi dan konsumsi


yang menghasilkan limbah atau hasil ikutan yang tidak ramah lingkungan
akan menyebabkan degradasi alam. Limbah domestik yang tidak diolah,
penggunaan bahan kimia berbahaya beracun atau pembuangan limbah
industri ke tanah dan air dapat menyebabkan degradasi DAS.

2. Identifikasi faktor-faktor ekonomi penyebab pokok degradasi


lahan

Masyarakat melakukan kegiatan ekonomi yang menyebabkan degradasi


sumberdaya alam akibat tekanan yang lebih luas mendorong atau menekan
mereka untuk melakukannya. Selain mengatasi penyebab langsung degradasi
sumberdaya alam, insentif ekonomi berbasis masyarakat bertujuan mengatasi
insentif tentangan tersebut. Indentifikasi insentif tentangan dan faktor-faktor
ekonomi yang menjadi penyebab pokok degradasi sumberdaya alam
memberikan informasi yang sangat penting dalam merancang insentif ekonomi.
Insentif tentangan dapat dikelompokkan ke dalam 4 kategori, yaitu:

• Kegagalan Kebijakan. Pemerintah meletakkan kebijakan untuk mendorong


kegiatan ekonomi bagi tercapainya tujuan pembangunan nasional atau
sektoral. Kebijakan tersebut umumnya disertai dengan sejumlah instrumen
pendukung, seperti subsidi, pajak, hukum, pendidikan, penelitian dan
penyuluhan. Instrumen kebijakan tersebut seringkali mendorong
masyarakat untuk melakukan aktivitas yang menyebabkan degradasi
sumberdaya alam dalam aktivitas ekonominya. Sebagai contoh kebijakan
pertanian yang mendorong produksi dengan input tinggi sebagai satu-
141

satunya kegiatan yang dibenarkan untuk pemanfaatan lahan, kebijakan


industri dan perkotaan yang mendorong pembangunan dan pemukiman di
wilayah yang sensitif secara ekologi atau kebijakan yang kurang
mempertimbangkan pengelolaan limbah dan pengendalian pencemaran,
serta kebijakan lingkungan yang gagal mempertimbangkan isu pengelolaan
sumberdaya lokal dan penguasaan sumberdaya (tenure).

• Kegagalan Pasar. Pasar mengalokasikan sumberdaya dan


mengkoordinasikan keputusan masyarakat mengenai jumlah barang yang
mereka produksi dan konsumsi melalui mekanisme harga. Aktivitas
ekonomi masyarakat merespon harga dan pasar yang mereka hadapi,
sebab hal tersebut mempengaruhi keuntungan dan keinginan relatif atas
pilihan produksi dan konsumsi yang berbeda. Distorsi harga dan tidak
efesiennya pasar dapat mengirimkan sinyal (signal) yang salah kepada
masyarakat mengenai nilai sumberdaya alam yang menjadi basis produksi
barang dan jasa. Hal ini mendorong anggota masyarakat untuk
mengkonsumsi sumberdaya tersebut secara berlebihan dan menyebabkan
terjadinya degradasi alam. Sebagai contoh, tidak ada atau rendahnya nilai
iuran dan royalti pemanfaatan sumberdaya alam, monopoli pasar
sumberdaya lokal oleh tengkulak (makelar), penentuan harga rendah
untuk bahan kimia pertanian dan industri, rendahnya denda atau hukuman
bagi perusak lingkungan atau ketiadaan harga dan pasar bagi barang dan
jasa ramah lingkungan.

• Kegagalan Kelembagaan. Kelembagaan mengatur dan mengendalikan cara


dan kondisi bagaimana sumberdaya alam dikelola, dialokasikan dan
digunakan. Kelembagaan, baik di tingkat lokal maupun nasional,
mempengaruhi penggunaan sumberdaya alam oleh komunitas. Penataan
kelembagaan seringkali menegasikan aspek konservasi sumberdaya alam
karena merepresentasikan kepentingan kelompok tertentu, menegasikan
kontrol oleh anggota komunitas terhadap sumberdaya alam, menegasikan
142

manfaat sumberdaya alam bagi anggota komunitas atau mendorong


kegiatan yang merusak sumberdaya alam. Sebagai contoh adalah monopoli
pemerintah dalam pengelolaan kawasan konservasi dan menafikan peran
penduduk lokal, penataan lahan dan tenure yang lemah dan penetapan
kelembagaan pengelolaan sumberdaya alam yang menafikan pengguna
kunci atau sektor dalam populasi. Kegagalan institusi adalah disinsentif
kunci bagi konservasi hutan.

• Kondisi Mata Pencaharian (Livelihood circumstances). Kondisi biofisik dan


demografi, bersama-sama dengan kebijakan, pasar dan tata kelembagaan,
menentukan kegiatan mata pencaharian, kebutuhan, kendala dan
kesempatan lokal. Upaya mencari mata pencaharian yang aman seringkali
memaksa komunitas untuk melakukan kegiatan ekonomi yang
menyebabkan degradasi sumberdaya alam. Ketika sumber mata
pencaharian terbatas dan tidak aman, ketersediaan sumber kehidupan
harian, pendapatan dan pekerjaan sedikit, sehingga orang tidak memiliki
pilihan kecuali melakukan lewah eksploitasi, mengkonversi atau merusak
sumberdaya alam guna menghasilkan produk yang diperlukan. Sebagai
contoh, ketergantungan berlebihan terhadap pemanenan sumberdaya alam
untuk pendapatan atau penyambung hidup, tekanan atas lahan dan
populasi, cekaman musiman, lemahnya infrastruktur dan pasar, serta
kemiskinan.

E. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN DAN RELUNG INSENTIF

Insentif ditujukan untuk menanggulangi penyebab langsung dan penyebab


pokok (underlying causes) degradasi sumberdaya alam dan mendorong
tindakan rehabilitasi hutan dan lahan. Insentif diperlukan ketika rehabilitasi
hutan dan lahan tidak layak secara ekonomis bagi anggota masyarakat. Untuk
menentukan kapan dan dimana suatu insentif dibutuhkan, diperlukan adanya
identifikasi dan pemahaman atas kasus dimana kelayakan ekonomi
143

menyebabkan degradasi sumberdaya alam. Untuk tujuan tersebut diperlukan


identifikasi kelompok-kelompok yang mengakibatkan degradasi sumberdaya
alam dan aktivitas-aktivitas penyebabnya. Kapan hal tersebut terjadi
menunjukkan relung untuk menata insentif secara tepat. Bagian ini menyajikan
metode-metode guna mengidentifikasi kebutuhan dan relung insentif.
Informasi tersebut memungkinkan pemilihan dan penetapan insentif ekonomi
yang spesifik untuk rehabilitasi hutan dan lahan.

1. Kebutuhan insentif ekonomi

Insentif ekonomi diperlukan pada saat hutan dan lahan mengalami


penurunan fungsi atau terdegradasi. Manusia melakukan lewah eksploitasi
terhadap sumberdaya alam, mengubah ekosistem, membuat kerusakan dan
mencemari sistem alam, ketika secara ekonomis kegiatan tersebut
menguntungkan, termotivasi untuk melakukannya atau terpaksa melakukannya
karena tidak pilihan lain.

Analisis mengenai penyebab langsung dan penyebab pokok degradasi


sumberdaya alam memberikan alat untuk mengidentifikasi dimana dan
mengapa rehabilitasi hutan dan lahan tidak diinginkan secara ekonomis oleh
anggota-anggota masyarakat - ketika mereka memperoleh manfaat bersih dari
degradasi sumberdaya alam, atau ketika mereka harus mengeluarkan biaya
bersih untuk melestarikannya. Insentif ekonomi diperlukan dalam empat tipe
keadaan:

(1) Aktivitas ekonomi yang menyebabkan degradasi sumberdaya alam


lebih diinginkan dari pada aktivitas yang mengkonservasinya.
Insentif positif diperlukan untuk mendorong manusia agar memodifikasi
atau mengubah aktivitas tersebut, dan disinsentif diperlukan untuk
menghambat aktivitas tersebut. Sebagai contoh, insentif mungkin
diperlukan untuk memodifikasi aktivitas-aktivitas pertanian, perikanan,
pertambangan, pemanfaatan hutan atau pembuangan limbah.
144

Senarai 3. Identifikasi Kebutuhan dan Relung Insentif

KEBUTUHAN DAN RELUNG INSENTIF


Aktivitas degradasi diinginkan secara
ekonomis:
- Aktivitas yang mana?
- Kelompok yang mana?
- Kapan waktunya?
- Akar penyebab?
Insentif tentangan yang mendorong Pemilihan insentif
degradasi:
ekonomi spesifik
- Aktivitas yang mana?
- Kelompok yang mana? untuk RHL berbasis
- Kapan waktunya? masyarakat (Tahap 4)
- Akar penyebab?
Kebijakan, pasar, kelembagaan dan
keadaan lokal gagal:
- Aktivitas yang mana?
- Kelompok yang mana?
- Kapan waktunya?
- Akar penyebab?

(2) Insentif tentangan mendorong orang untuk melakukan aktivitas


yang menyebabkan degradasi sumberdaya alam. Insentif tentangan
tersebut perlu ditata ulang agar insentif positif untuk konservasi
sumberdaya alam dapat mengimbangi aktivitas merusak tersebut atau
menggantikannya. Sebagai contoh, insentif mungkin diperlukan untuk
mengatasi pengaruh musim, kekeringan, monopoli pasar, kebijakan
pertanian atau akses terbuka terhadap sumberdaya.

(3) Kebijakan, pasar, kelembagaan dan keadaan lokal gagal dan


membiaskan kepentingan relatif ekonomi terhadap konservasi
dan degradasi sumberdaya alam. Perbaikan kerja kebijakan, pasar,
kelembagaan dan keadaan lokal perlu dilakukan dan kegagalannya yang
menyangkut sumberdaya alam perlu diatasi. Sebagai contoh, insentif
145

diperlukan untuk memperbaiki kelembagaan pengelolaan hutan berbasis


masyarakat, pasar bahan baku atau kebijakan rehabiltasi hutan dan lahan
nasional.

(4) Aktivitas rehabilitasi hutan dan lahan tidak memberikan manfaat


ekonomi langsung bagi anggota masyarakat. Kegagalan rehabilitasi
hutan dan lahan seringkali terjadi akibat tidak adanya dorongan positif
untuk melakukan kegiatan tersebut. Insentif ekonomi diperlukan untuk
memastikan bahwa rehabilitasi hutan dan lahan dapat memberikan
manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

2. Relung Insentif Ekonomi

Relung insentif ekonomi dapat ditemukan untuk menyelesaikan


permasalahan, kesenjangan dan kegagalan tertentu bila alasan yang jelas
degradasi sumberdaya alam dapat diidentifikasi dan dikaitkan dengan aktivitas
tertentu, penyebab, kelompok pelaku dan kondisi faktualnya. Analisis mengenai
penyebab langsung dan penyebab pokok degradasi hutan dan lahan,
memberikan alat untuk mengidentifikasi alasan-alasan yang menyebabkan,
keadaan dimana, rehabilitasi hutan dan lahan tidak diinginkan secara ekonomi
oleh anggota-anggota masyarakat. Keberadaan relung insentif ekonomi dapat
ditemukan pada empat kondisi berikut:

(1) Terdapat aktivitas ekonomi tertentu yang menyebabkan


degradasi sumber-daya alam.

Terdapat relung insentif yang ditargetkan langsung pada aktivitas


penyebab degradasi sumberdaya alam. Sebagai contoh, mungkin ada
relung yang mentargetkan insentif khusus pada pertanian tebas bakar,
aktivitas pemboman ikan, pengambilan kayu atau konversi lahan.
146

(2) Terdapat kelompok-kelompok tertentu yang berpandangan


bahwa rehabilitasi hutan dan lahan tidak diinginkan secara
ekonomi. Relung yang lain untuk menggunakan insentif adalah
mentargetkannya pada kelompok-kelompok yang memandang bahwa
rehabilitasi hutan dan lahan tidak diinginkan secara ekonomi. Sebagai
contoh, mungkin ada relung untuk mentargetkan insentif khusus bagi
wanita, rumah tangga miskin, tuna kisma atau pada kelompok kunci
pengguna sumberdaya.

(3) Terdapat periode-periode khusus dimana rehabilitasi hutan dan


lahan tidak diinginkan secara ekonomi. Terdapat relung untuk
mentargetkan tindakan insentif pada periode-periode ketika rehabilitasi
hutan dan lahan tidak diinginkan secara ekonomi atau ditujukan untuk
mencegah munculnya situasi tertentu. Sebagai contoh, terdapat relung
untuk mentargetkan insentif pada saat aktivitas pertanian rendah, musim
kering dan paceklik atau ambruknya pasar dan kesempatan lainnya.

(5) Terdapat kebijakan, pasar, kelembagaan dan keadaan lokal


tertentu yang menyebabkan rehabilitasi hutan dan lahan tidak
diinginkan secara ekonomi.

Terdapat relung insentif untuk mengubah atau mengganti kerugian


dampak kebijakan, pasar, kelembagaan dan keadaan lokal yang bekerja
secara berlawanan dengan tujuan rehabilitasi hutan dan lahan. Sebagai
contoh, terdapat relung untuk mentargetkan insentif tertentu pada
rencana kerjasama pengelolaan sumberdaya hutan dan lahan, pasar
produk hutan, penyuluhan informasi pertanian atau industri pengolahan
sumberdaya lokal.
147

F. MEMILIH INSENTIF EKONOMI UNTUK REHABILITASI


HUTAN DAN LAHAN BERBASIS MASYARAKAT

Apabila kebutuhan dan relung untuk melakukan aksi yang bertujuan untuk
menanggulangi penyebab ekonomi degradasi sumberdaya alam telah
diidentifikasi, insentif spesifik dapat dipilih untuk memenuhi atau mengisi
kebutuhan dan relung yang tersedia. Bagian ini, menyajikan tipe-tipe utama
insentif ekonomi yang dapat digunakan untuk rehabilitasi hutan dan lahan
berbasis masyarakat.

1. Tipe-tipe insentif.

Terdapat 3 kategori insentif ekonomi yang dapat didefinisikan dan


dipandang relevan untuk rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat,
yaitu:

(1) Insentif langsung: mekanisme yang ditargetkan untuk tujuan spesifik dan
mendorong masyarakat untuk mencegah degradasi sumberdaya alam serta
merehabilitasi hutan dan lahan, dengan memberikan penghargaan
bersyarat untuk setiap perilaku yang berubah.

(2) Insentif tak langsung: mekanisme yang mendorong masyarakat untuk


mencegah degradasi sumberdaya alam serta merehabilitasi hutan dan
lahan dengan menata kondisi pemungkin bagi berlangsungnya perilaku
positif.

(3) Disinsentif: mekanisme yang tidak menghargai masyarakat yang


menyebabkan tidak degradasi sumberdaya alam.

Dalam kategori tersebut, tindakan insentif ekonomi dapat berupa:

(a) Hak kepemilikan: tindakan yang mengalokasikan hak-hak kepemilikan


untuk memiliki, menggunakan atau mengelola sumberdaya alam.

(b) Tindakan mata pencaharian: tindakan penguatan dan diversifikasi


mata pencaharian lokal.
148

Senarai 4: Pemilihan Tindakan Insentif RHL

Untuk Setiap Kebutuhan dan Relung:

Insentif Insentif Tak Disinsentif


Langsung Langsung

Hak kepemilikan

Insentif mata pencaharian

Pemilihan Insentif
Tindakan pasar

Tindakan fiskal

Tindakan finansial

Pertimbangan-Pertimbangan Praktis dalam Implementasi


Insentif (Tahap 5)

(c) Tindakan pasar: tindakan yang merasionalisasikan harga dan


memperbaiki pasar.

(d) Tindakan fiskal: tindakan keuangan yang menerapkan sistem pajak dan
subsidi.

(e) Tindakan finansial: tindakan yang memobilisasikan dan meyalurkan


dana dan keuangan.
149

Tabel 9. Kategori insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan dan lahan


berbasis masyarakat

Insentif Langsung Insentif tak Disinsentif


langsung

Hak Contoh: hak milik, pengelolaan, akses, Contoh: pengeluaran,


kepemilikan penggunaan lahan dan sumber daya, pemindahan hak milik
sewa, konsesi dan hak atas lahan dan lahan dan sumber daya,
sumber daya alam penegakan hukum dan
hukuman untuk
penggunaan lahan yang
tidak berkelanjutan atau
tidak syah

Tindakan Contoh: perbaikan Contoh:


mata efisiensi, pengembangan
pencaharian kesempatan dan pedesaan,
pemanfaatan diversifikasi dan
berkelanjutan perbaikan mata
pencaharian

Tindakan Contoh: perbaikan Contoh: Contoh: larangan pada


pasar pasar sumberdaya pengembangan produk atau pasar,
alam, alternatif untuk kuota atau batas produk
pengembangan pasar dan produk
pasar dan harga sumberdaya alam
untuk sumberdaya
alam baru
150

Tindakan Contoh: subsidi untuk aktivitas konservasi Contoh: pajak


fiskal sumberdaya dan produk, keringanan sumberdaya alam atau
pajak atau perbedaan pajak pada biaya tambahan, pajak
penggunaan lahan dan produk untuk penggunaan lahan
yang dan produk
berbeda

Tindakan Contoh: target Contoh: bagi hasil Contoh: denda dan


finansial hadiah untuk keuntungan, hukuman untuk
aktivitas persediaan penggunaan
konservasi, pinjaman, dana sumberdaya yang tidak
kompensasi untuk bantuan dan kredit berkelanjutan atau tidak
mengurangi untuk aktivitas syah
aktivitas yang tidak pengembangan
berkelanjutan,
penyediaan dana
untuk
pengembangan
usaha alternatif

2. Hak Kepemilikan

Hak kepemilikan bertujuan untuk mengatasi kegagalan kelembagaan dan


kebijakan pengelolaan sumberdaya alam. Hal ini didasarkan atas fakta bahwa
penerima keuntungan primer dari sumberdaya hutan dan lahan biasanya
dinikmati oleh individu-individu atau kelompok-kelompok yang memiliki hak
milik, hak mengelola, hak menggunakan dan memperdagangkan sumberdaya
tersebut.

Bahkan bagi anggota-anggota masyarakat yang memiliki hak asal,


kepentingan atau hak tradisional terhadap sumberdaya alam, mereka seringkali
kehilangan akses terhadap sumberdaya tersebut. Dalam kondisi tersebut,
masyarakat memperoleh keuntungan ekonomi yang kecil dari rehabilitasi hutan
dan lahan, karena mereka tidak memiliki hak memanfaatkan sumberdaya alam.
151

Sebaliknya jika mereka memiliki keamanaan atas hak terhadap sumberdaya


hutan dan lahan, anggota masyarakat tidak memiliki beban atas degradasi
sumberdaya alam yang terjadi. Pengalokasian hak kepemilikan yang aman
untuk memiliki, mengelola dan menggunakan sumberdaya hutan dan lahan,
dapat menjadi insentif pada kondisi dimana masyarakat dapat memperoleh
keuntungan ekonomi dari kegiatan konservasi/rehabilitasi. Mereka juga dapat
mengatasi kegagalan pasar dengan memungkinkan harga pasar dan kelangkaan
untuk rehabilitasi hutan dan lahan.

Berbagai bentuk hak kepemilikan dapat digunakan sebagai insentif untuk


rehabilitasi hutan dan lahan, termasuk pemindahan hak milik atas tanah dan
sumberdaya kepada komunitas melalui sewa, pemberian konsesi atau hak
mengelola atau menggunakan sumberdaya tertentu, serta perwalian
masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan badan pengambilan
keputusan. Kolaborasi dan ko-manajemen adalah bentuk-bentuk khusus dari
hak kepemilikan yang digunakan secara luas sebagai insentif dalam rehabilitasi
hutan dan lahan berbasis masyarakat.

Hak kepemilikan digunakan juga sebagai disinsentif untuk degradasi hutan


dan lahan. Pemerintah seringkali memonopoli kontrol atas pengelolaan,
eksploitasi atau pemasaran sumberdaya hutan dan lahan yang sensitif atau
bernilai tinggi, seperti spesies pohon asli, mineral, air, atau kawasan konservasi,
dan menganggap pemanfataan oleh komunitas tidak syah. Meskipun aplikasi
hak kepemilikan tersebut menghambat degradasi hutan dan lahan, namun hal
tersebut jarang efektif dalam praktek karena kurangnya biaya penegakan
hukum serta masalah keadilan dan basis etikanya.

3. Tindakan mata pencaharian.

Tindakan mata pencaharian berkaitan dengan fakta bahwa sifat mata


pencaharian, khususnya keterbatasan dan ketakcukupannya, menekan anggota-
anggota masyarakat untuk melakukan aktivitas yang menyebabkan degradasi
sumberdaya hutan dan lahan, untuk penyambung hidup, pendapatan dan
152

pekerjaan. Penguatan dan diversifikasi mata pencaharian masyarakat serta


dengan membuat hidup mereka lebih terjamin, tindakan mata pencaharian
tujukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya
hutan dan lahan, dan menempatkan orang dalam posisi dimana mereka dapat
memilih, dan mampu, membatasi aktivitas-aktivitas ekonomi yang dapat
menyebabkan degrdasi sumberdaya hutan dan lahan.

Selang tindakan mata pencaharian dapat digunakan sebagai insentif untuk


rehabilitasi hutan dan lahan berbasiskan masyarakat. Hal ini dapat dibagi
secara luas menjadi insentif langsung yang mendorong orang untuk
menggunakan dan mengelola secara khusus sumberdaya hutan dan lahan lebih
lestari, dan insentif tidak langsung yang dapat memperkuat dan
mendiversifikasi mata pencaharian di pedesaan, membuat masyarakat kurang
bersandar atau pindah dari kegiatan mengeksploitasi sumberdaya hutan dan
lahan.

Insentif mata pencaharian langsung biasanya fokus pada upaya


mempertinggi efisiensi dan keleluasaan pada aktivitas-aktivitas yang
berbasiskan sumberdaya hutan dan lahan, seperti peningkatan nilai sumberdaya
tersebut dan kelestariannya pada tingkat lokal. Contohnya: intervensi untuk
promosi teknik pemanenan yang efisien, pelatihan anggota-anggota masyarakat
dalam keahlian pengolahan atau dalam penyelidikan produk-produk baru dan
teknologi.

Insentif tidak langsung pada mata pencaharian menganggap bahwa


dengan memperkuat dan mendiversifikasi mata pencaharian, dan membuat
mereka hidup lebih terjamin, orang akan mengurangi ketergantungannya
kepada sumberdaya hutan dan lahan. Mereka termasuk suatu selang yang luas
pada aktivitas-aktivitas pengembangan pedesaan dan dukungan kepada
infrastruktur sosial dan penyediaan lapangan kerja.
153

4. Tindakan Pasar

Tindakan pasar bertujuan untuk mengatasi distorsi dan kelemahan pada


harga dan pasar, yang memberikan tanda yang salah pada produsen dan
konsumen, sehingga mendorong mereka untuk mendegradasi sumberdaya
hutan dan lahan, karena hal ini lebih mudah, menguntungkan atau lebih murah
untuk dilakukan. Insentif-insentif pasar untuk rehabilitasi hutan dan lahan
masyarakat mempunyai 3 bentuk dasar :

- Tindakan yang memperbaiki harga dan pasar untuk sumberdaya hutan


dan lahan mereka sendiri.

- Tindakan yang berusaha untuk meningkatkan suplai dan menghasil


berbagai alternatif dari sumberdaya sumberdaya hutan dan lahan.

- Tindakan untuk membatasi atau mengontrol pasar pada berbagai


produk dari sumberdaya hutan dan lahan.

Tindakan untuk meningkatkan pasar sumberdaya hutan dan lahan


termasuk didalamnya adalah rasionalisasi harga sumberdaya hutan dan lahan
yang ada, pengembangan kegunanan sumberdaya hutan dan lahan serta
produk baru, dan peningkatan saluran dan informasi pemasaran. Dengan
meningkatkan harga sumberdaya hutan dan lahan sejalan dengan kelangkaan
relatifnya, maka tindakan ini bertujuan untuk mendorong penggunaan secara
bijaksana, meningkatkan nilai tambah pada tingkat masyarakat dan konsumsi
terbatas pada level lestari. Misalnya: pengembangan pasar baru pada
sumberdaya hutan dan lahan non konsumtif, seperti ekoturisme, implementasi
pajak untuk layanan lingkungan, rasionalisasi royalti kayu dan pajak pengguna
hutan dan pengembangan kelompok pemasaran lokal dan industri cottage di
dalam sumberdaya hutan dan lahan.

Aternatif tindakan lainnya terhadap sumberdaya hutan dan lahan adalah


meningkatkan produk lain dan pasar pekerjaan pada level masyarakat. Hal ini
bertujuan untuk mendorong anggota masyarakat meninggalkan aktivitas
berbasis sumberdaya hutan dan lahan. Misalnya termasuk stimulasi pasar
154

pertanian, ketersediaan pelatihan keahlian dan kredit kecil sebagai alternatif


bagi perusahaan f sumberdaya hutan dan lahan, domestikasi spesies liar dan
pengembangan alternatif sumberdaya liar seperti bahan konstruksi, sumber
pakan ternak atau bahan bakar. Pengukuran mata pencaharian yang berkaitan
dengan sifat dasar mata pencaharian, khususnya sifat sifat yang mendesak
memaksa anggota masyarakat untuk menurunkan sumberdaya alam untuk
mencari nafkah, pendapatan dan pekerjaan yang jarang.

5. Tindakan Fiskal

Tindakan fiskal meningkat dan menghabiskan pajak anggaran belanja


untuk meningkatkan atau menurunkan harga relatif dari produk-produk yang
berbeda, jadi bertujuan untuk mencegah atau mendorong konsumsi mereka
dan produksinya. Tindakan-tindakan ini dapat digunakan untuk memperbaiki
atau menyeimbangkan harga yang terdistorsi pada sumberdaya hutan dan
lahan, dan pasar lainnya.

Insentif fiskal untuk rehabilitasi hutan dan lahan biasanya ditargetkan pada
produk-produk dan pasar-pasar tertentu, dan dapat digunakan sebagai salah
satu insentif positif untuk rehabilitasi hutan dan lahan atau sebagai disinsentif
untuk mencegah degradasi. Contoh-contoh insentif fiskal untuk rehabilitasi
hutan dan lahan adalah subsidi untuk teknologi rehabilitasi sumber daya hutan
dan lahan atau produk-produk alternatif dari sumberdaya hutan dan lahan, dan
pembebasan pajak atau tingkat pajak yang relatif lebih rendah pada
penggunaan lahan dan sumber daya lestari. Disinsentif fiksal pada degradasi
alam merupakan bentuk yang berlawanan dan termasuk tingkat pajak yang
relatif lebih tinggi, atau pencabutan subsidi pada produk dan proses produksi
yang merusak sistem hutan dan lahan.

Keterbatasan banyak ditemukan pada penggunaan tindakan fiskal untuk


rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat. Walaupun pengenaan pajak
tambahan pada level masyarakat biasanya tidak popular baik bagi anggota
masyarakat maupun pembuat keputusan, karena dapat menaikkan harga
155

komoditi dasar, penggunaan subsidi sering membebani anggaran pemerintah


yang telah dibatasi. Ditambah lagi, karena banyak pasar dan harga yang telah
berfungsi buruk, keinginan untuk memasukkan distorsi-distorsi tambahan akan
dapat semakin meningkatkan pertanyaan. Dimana tindakan fiksal digunakan
sebagai insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan dan lahan berbasis
masyarakat, tindakan-tindakan ini biasanya diterapkan sebagai tindakan
temporer atau jangka pendek.

6. Tindakan Finansial

Tindakan finansial yang berkaitan dengan fakta-faka yang ada


menunjukkan bahwa khususnya masyarakat mendapatkan keuntungan tunai
(cash) yang kecil berkaitan dengan rehabilitasi hutan dan lahan, dan
mempunyai akses dana yang buruk yang dapat diinvestasikan pada aktivitas
atau teknologi pemanfaatan yang lestari lestari atau dalam aktivitas dan produk
ekonomi alternatif. Tindakan-tindakan tersebut memungkinkan adanya
pendanaan bagi masyarakat dan secara khusus memperuntukkannya bagi
aktivitas rehabilitasi hutan dan lahan.

Tindakan finansial mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Insentif


finansial langsung termasuk imbalan tunai atau konpensasi untuk aktivitas
rehabilitasi hutan dan lahan, seperti ketersediaan dana bantuan, kredit atau
pinjaman yang secara langsung ditargetkan pada pengembangan produk
alternatif dan perusahaan sumber daya hutan dan lahan.

Banyak negara yang telah memfokuskan sistem bagi hasil sebagai insentif
ekonomi utama untuk rehabilitasi hutan dan lahan, pada umumnya sebagian
besar melalui alokasi proporsional antara biaya untuk areal yang dilindungi
dengan aktivitas pengembangan masyarakat yang berdekatan dengan areal
tersebut. Pengaturan ini pada umumnya telah memberikan keberhasilan secara
terbatas, terutama karena hanya disediakan secara tidak langsung, keuntungan
pada tingkat masyarakat seperti dukungan untuk sekolah, suplai air dan
156

infrastruktur sosial lainnya. Masyarakat sering tidak mau, dan tidak mampu
secara ekonomi untuk mendukung rehabilitasi hutan dan lahan jika mereka
tidak diberikan secara tangible, dan keuntungan tunai pada tingkat individu atau
rumah tangga, yang menutup secara langsung kerugian biaya (cost) finansial
dan kerugian yang berkaitan dengan pembatasan penggunaan sumber hutan
dan lahan atau penggantian dengan aktivitas yang lain.

G. PERTIMBANGAN PRAKTIS DALAM IMPLEMENTASI


INSENTIF

Tindakan insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan dan lahan masyarakat


harus dapat diterapkan secara praktis, dapat diterima dan diterima oleh
kelompok-kelompok yang tepat. Di sini memerlukan pertimbangan secara hati-
hati terutama dalam hubungannya dengan pertimbangan keadilan, efisiensi dan
keberlanjutan. Ekonomi lokal dan eksternal dan perubahan keadaan
sumberdaya hutan dan lahan, insentif-insentif harus dapat digunakan kembali
dan di desain ulang dengan didasarkan pada kegiatan yang sedang berjalan,
jika mereka mau melanjutkan dengan hal-hal efektif untuk rehabilitasi hutan
dan lahan yang berbasiskan masyarakat. Pada bagian ini dijelaskan
pertimbangan-pertimbangan praktis yang berhubungan dengan pilihan
implementasi dan kesuksesan pada tindakan insentif.

1. Penetapan Insentif.

(1) Penterjemahan insentif ke dalam aktivitas di lapangan

Relung identifikasi dan kebutuhan untuk tindakan insentif bagi rehabilitasi


hutan dan lahan masyarakat dan penetapan tempat untuk tindakan-insentif
insentif secara benar dan penetapan mereka di 2 (dua) tempat yang sangat
berbeda. Pemilihan tindakan insentifharus diterjemahkan ke dalam suatu
157

rangkaian yang kongkrit, dapat diterapkan secara praktis pada aktivitas-aktivitas


di lapang. Pertimbangan-pertimbangan praktis dalam penerapan insentif:

(a) Insentif tunggal hanya menanggulangi masalah tunggal atau aspek


tertentu rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat.

(b) Kebanyakan paket insentif mengkombinasikan pendekatan "carrot and


stick"

(c) Tindakan insentif memerlukan mitra dalam penerapannya.

(2) Menjamin Penerimaan dan Ketepatan Insentif

Tindakan-tindakan insentif bertumpu pada pelaksanaannya oleh anggota-


anggota masyarakat, dan juga dukungan berbagai kelompok lain yang memiliki
potensi untuk mempengaruhi tingkah laku ekonomi masyarakat, dan
dampaknya terhadap sistem hutan dan lahan. Mereka tidak dapat sukses atau
lestari, jika mereka tidak dapat diterima oleh kelompok-kelompok lainnya.
Kepentingan khusus yang perlu dipertimbangkan:

(a) Tujuan masyarakat yang lebih luas dan organisasi-organisasi


lokal yang ada. Sejauh memungkinkan, desain dan pilihan
tindakan insentifuntuk rehabilitasi hutan dan lahan harus secara
serentak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, aspirasi dan tujuan,
penguatan mata pencaharian, dan pekerjaan dilakukan melalui
institusi dan pengetahuan lokal yang ada, sehingga tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan dapat tercapai. Hal Ini akan secara nyata
mempertinggi pemenuhan kebutuhan masyarakat, keefektifan dan
penerimaan lokal.

(b) Insentif seharusnya tidak membuat anggota masyarakat lebih


buruk. Beberapa paket insentif yang menaikkan harga pada barang-
barang subsisten dasar, pengurangan pengangguran local atau
meningkatkan kesempatan memperoleh pendapatan atau
158

pengurangan sektor-sektor khusus pada masyarakat yang tidak


diterima atau tidak lestari.

(c) Insentif seyogyanya diterima oleh para politikus dan


pengambil keputusan, serta konsisten dengan tujuan
pembangunan serta rehabilitasi hutan dan lahan yang lebih
luas. Beberapa tindakan yang bertentangan dengan garis politik,
sosial atau tujuan ekonomi adalah tidak bisa diimplementasikan dalam
praktek. Tujuan penggunaan insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan
dan lahan berbasis masyarakat adalah untuk mendukung
pembangunan dan rehabilitasi, bukan untuk mempertentangkan
tujuan dan pendekatan keduanya..

(d) Tindakan insentif harus mudah diimplementasikan,


meminimalkan biaya transaksi, penegakan dan partisipasi.
Walaupun ada dukungan dari luar, tindakan insentif akhirnya akan
diurus oleh pemerintah dan masyarakat lokal melalui berbagai kegiatan
aksi. Tindakan-tindakan insentif harus mudah dan murah untuk
diimplementasikan oleh semua kelompok yang perhatian, jika tindakan
-timdakan tersebut lestari dalam waktu yang lama.

2. Peninjauan dan Perancangan ulang Insentif

(1) Menghadapi perubahan

Tindakan-tindakan insentif untuk rehabilitasi hutan dan lahan masyarakat


tidak pernah pasti. Tindakan tersebut didesain dan diterapkan pada kondisi
khusus, agar tercapai tujuan-tujuan bersifat khusus. Keadaan ekonomi yang
menentukan degradasi dan rehabilitasi hutan dan lahan bervariasi diantara
kelompok dan waktu yang berbeda. Sumber daya hutan, lahan dan tujuan dari
tindakan insentif harus mereka sendiri yang tanggap terhadap perubahan yang
ada. Tindakan insentif hanya akan memiliki efektifitas yang terbatas dan tidak
mungkin lestari dalam waktu lama jika mereka tidak menghitung perbedaan
159

dan perubahan dalam mata pencaharian lokal serta status dan kesatuan dari
sistem hutan dan lahan. Faktor-faktor penting yang perlu dipertimbangkan:

(a) Heterogenitas sosial ekonomi. Sektor-sektor berbeda dalam


masyarakat mempunyai strategi mata pencaharian dan kebutuhan
yang bervariasi, dan ketergantungan yang berbeda terhadap sistem
sumberdaya hutan dan lahan. Keefektifan dari relung insentif ekonomi
untuk rehabilitasi hutan dan lahan akan sesuai dengan variasi yang
ada. Tidak ada tindakan tunggal akan dapat diterapkan dan efektif
untuk seluruh kelompok.

(b) Variasi dampak tindakan insentif. Tindakan insentif mempunyai


dampak bervariasi pada sektor-sektor berbeda di masyarakat. Semua
insentif mempunyai potensi untuk mengubah peranan substansi yang
ada, tanggung jawab, penggunaan hutan dan lahan, dan akses
terhadap pendapatan, subsisten dan pekerjaan. Hal tersebut, berarti
insentif harus tidak merugikan kelompok-kelompok yang ada,
khususnya mereka telah menerima ancaman.

(c) Perubahan mata pencaharian masyarakat secara reguler.


Anggota masyarakat dihadapkan pada perbedaan keterbatasan dan
kesempatan mata pencaharian pada waktu yang berbeda. Beberapa
aspek perubahan tersebut bersifat umum, seperti musiman, bersifat
kebetulan dan tidak dapat diprediksi, seperti musim kering, pasar yang
bangkrut, perang dan gejolak masyarakat. Kebutuhan dan relung
rehabilitasi hutan dan lahan berbasiskan masyarakat akan bervariasi
pada waktu yang berbeda, dan sistem-sistem insentif harus dapat
beradaptasi dan responsif terhadap hal ini.

(d) Perubahan permanen dalam mata pencaharian dan


kesempatan masyarakat. Mata pencaharian orang-orang berubah
secara permanen seperti kebutuhan baru dan munculnya berbagai
kesempatan. Alasannya adalah tindakan insentif ekonomi tidak pernah
160

dapat memberikan solusi permanen pada degradasi hutan dan lahan.


Mereka juga dapat menjadi pemilik tidak sah dalam waktu yang lama,
sebagian atau seluruh sektor di mayarakat. Sebagai contoh, produk-
produk hutan dan lahan sering kali terlihat inferior, serta pendapatan
dan pekerjaan berbasiskan sumber daya hutan dan lahan memerlukan
aktivitas yang sedikit. Insentif-insentif yang berdasarkan pada
penambahan dan pertumbuhan aktivitas berbasiskan sumberdaya bisa
pada waktu yang lama menjadi tidak dapat diterima sebagai perangkat
perubahan melalui mata pencaharian masyarakat, dan dapat berperan
untuk menjaga pengembangan pada tingkat masyarakat yang rendah.

2) Kebutuhan tindakan pendukung tambahan

Tindakan insentif masyarakat merupakan pemecah sebagian masalah dari


degradasi sumberdaya hutan dan lahan. Aksi mereka pada aktivitas level
masyarakat, dan pekerjaannya melalui isu-isu ekonomi. Penentuan dari
rehabilitasi dan degradasi hutan dan lahan, serta kebutuhan insentif,
memperluas jangkauan isu ekonomi dan keadaan lokal. Insentif ekonomi untuk
rehabilitasi hutan dan lahan masyarakat harus selalu disertai dengan adanya
dukungan tindakan bersifat luas di luar level lokal dan meliputi lebih dari
perhatian ekonomi. Beberapa bagian yang penting adalah tergantung pada :

(a) Faktor non ekonomi yang mendorong degradasi atau


mencegah rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat.
Meskipun faktor-faktor ekonomi adalah penting untuk mengatasi
degradasi sumberdaya hutan dan lahan oleh masyarakat, mereka
bukan satu-satunya faktor yang dapat mengatasi hal tersebut. Jarak
dari distorsi-distorsi yang lain, kegagalan dan gap aksi melawan
rehabilitasi hutan dan lahan pada level lokal. Tekanan ini, termasuk
isu-isu yang berhubungan dengan informasi, ketidaksadaran dan
organisasi sosial, harus juga menjadi bidikan dari strategi rehabilitasi
hutan dan lahan.
161

(b) Kelompok dan aktivitas lain yang langsung berkontribusi pada


degradasi sumberdaya hutan dan lahan. Masyarakat bukan hanya
kelompok-kelompok yang memproduksi dan mengkonsumsi hasil pada
degradasi hutan dan lahan. Pada produsen komersial khusus dan
konsumen kota, juga mendegradasi hutan dan lahan dalam aktivitas
ekonominya. Langkah yang harus diambil untuk memodifikasi dan
merubah aktivitas ini, tergantung dari sisi penawaran dan permintaan.

(c) Tekanan nasional dan global yang mendorong degradasi


sumberdaya hutan lahan. Insentif ekonomi bertujuan untuk
mengatasi dan menyeimbangkan pengaruh insentif penghambat, tetapi
sering tidak dapat merubah kebijakan, institusi dan pasar sumber
daya. Insentif ekonomi ini penting juga dalam modifikasi kebijakan
nasional dan global, institusi dan pasar, yang berada pada level lokal
degradasi sumber daya hutan dan lahan. Bagian penting lain adalah
sektor umum, makro ekonomi dan membentuk kembali kebijakan
sektoral, dan pertimbangan secara hati-hati pada persetujuan global
dan rancangan donor yang mengenakan kondisi-kondisi khusus pada
penggunaan sumber daya dan mata pencaharian lokal.
162

Senarai 5: Pertimbangan Praktis

Kepraktisan dan Kesesuaian:


Tujuan masyarakat luas dan organisasi lokal yang
ada:
- Apakah insentif sesuai dengan tujuan masyarakat?
- Apakah insentif didasarkan atas pengetahuan
masyarakat?
- Apakah insentif menggunakan organisasi masyarakat?

Pengaruh tindakan insentif:


- Apakah insentif menaikkan harga dasar?
- Apakah insentif menurunkan peluang lokal?
- Apakah insentif meminggirkan kelompok-kelompok
tertentu?

Penerimaan secara politik:


- Apakah insentif konsisten dengan tujuan yang lebih
luas?
- Apakah insentif mendukung tujuan rehabilitasi dan
pembangunan?

Kesederhanaan:
- Apakah insentif mudah diimplementasikan dan
dipertahankan?
- Apakah insentif murah untuk diimplementasi dan
dipertahankan?

Diferensiasi dan Perubahan


- Apakah insentif mempertimbangkan heterogenitas
sosial ekonomi? PENINJAUAN DAN
- Apakah insentif resposif terhadap perubahan? PERANCANGAN
ULANG INSENTIF

Tindakan Pendukung Tambahan


- Faktor-faktor non ekonomi pada tingkat masyarakat?
- Kelompok dan aktivitas lain penyebab degradasi
sumberdaya hutan dan lahan?
- Kebijakan dan tekanan nasional dan global?
163

DAFTAR PUSTAKA

Biro Perencanaan, Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan dan


Perkebunan, 1999. Statistik Kehutanan dan Perkebunan Indonesia
Tahun 1998/1999. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta.

BRLKT Citarum-Ciliwung, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan


Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 2000.
Rencana Teknik Lapangan-Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah. Sub
DAS Ciliwung Hulu, DAS Ciliwung. Buku I dan II

BRLKT Indragiri – Rokan, Departemen Kehutanan Kantor Wilayah Propinsi Riau.


2000. Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi
Tanah Sub Daerah Aliran Sungai Rokan. Proyek Perencanaan dan
Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Indragiri-Rokan. Buku I dan
II

BRLKT Wilayah IV. 1998. Laporan Hasil Monitoring Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah (RLKT) SWP-DAS Ciliwung, Cisadane, Cimandiri Tahun
1997/1998. Sub BRLKT Ciujung-Ciliwung

BRLKT Wilayah VII. 1998. Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah Wilayah DAS Dodokan. Sub BRLKT Dodokan Moyosari.
Buku I dan II

Chambers, Robert. 1996. Memahami Desa Secara Partisipatif. Kanisius.


Yogyakarta

Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Departemen Kehutanan.


1986. Ringkasan Rencana Teknik Lapangan-Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah

Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah, Direktorat Jenderal


Rebiosasi dan Rehabilitasi Lahan, Departemen Kehutanan. 1997.
Laporan Utama : Evaluasi Pengelolaan DAS Ciliwung Bagian Hulu

Direktorat RLKT dan Direktorat Bina Program, Direktorat Jenderal Rehabilitasi


Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan dan Perkebunan.
1999. Evaluasi Program RLKT Pelita VI. Buku I dan II

Direktorat Bina Program, Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan,


Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 1999. Evaluasi Pelita VI
Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan
164

Dinas Kehutanan Kabupaten Lombok Tengah. 2000. Rancangan Teknis


Penghijauan Kebun Rakyat Tahun Anggaran 2000 (di Kecamatan
Batukliang dan Pujut Kabupaten Lombok Tengah)

Dinas Kehutanan Kabupaten Lombok Tengah. 2000. Laporan Pelaksanaan


Proyek Penghijauan Kabupaten Lombok Tengah Tahun Anggaran 2000

Dinas Kehutanan Kabupaten Lombok Tengah. 2000. Buku Selayang Pandang


Pelaksanaan HKM di Kecamatan Batukliang dan Sekitarnya-Kabupaten
Lombok Tengah

Emerton, Lucy. 1999. Community-Based Incentives for Nature Conservation.


IUCN-The World Conservation Union Eastern Africa Regional Office and
Economics Unit

IFAD. 1996. Combatting Desertification-The Role of Incentives. International


Fund for Agricultural Development. Rome

IFAD. 1998. Incentives Systems for Natural Resources Management : The Role
of Indirect Incentives. International Fund for Agricultural Development.
Rome

Kepala BRLKT Dodokan Moyosari, Nusa Tenggara Barat. 2000. Bahan


Lokakarya: Karakteristik Sub DAS Dodokan. Makalah disampaikan
dalam Lokakarya Pengembangan Sistem Insentif Rangka Rehabilitasi
Lahan/Penghijauan di DAS Dodokan. Mataram, Nusa Tenggara Barat

Kepala BRLKT Indragiri-Rokan, Riau. 2000. Bahan Lokakarya: Karakteristik


Daerah Aliran Sungai (DAS) Rokan. Makalah di sampaikan dalam
Lokakarya Pengembangan Sistem Insentif Dalam Rangka Rehabilitasi
Lahan/Penghijauan di DAS Rokan. Pekanbaru, Riau

Laboratorium Ilmu Tanah , Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas


Mataram. 1999. Laporan Akhir Kegiatan Inventarisasi Lahan Kritis di
Kabupaten Lombok Tengah Tahun Anggaran 1998/1999. Kerjasama
Dinas Kehutanan Kabupaten Lombok Tengah dengan Laboratorium
Ilmu Tanah , Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Mataram

Ostrom, et al. 1993, Cited In Aylward, et al., 1998. Economic Incentives For
Watershed Protection : a case study of Lake Arenal, Costa Rica. Final
Report. Vrije Universiteit Amsterdam, Amsterdam, and International
Institute for Environment and Development, London.
165

Pola RLKT. 1990. Daerah Aliran Sungai Moyo Hulu Propinsi Nusa Tenggara
Barat. Buku I dan II

Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 2000. Laporan Akhir


Evaluasi Penghijauan dan Reboisasi, Kerjasama Direktorat Jenderal
Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan dan
Perkebunan dengan Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, Bandung

Sanders, David and Cahlil, Dennis. 1999. Where Incentives Fit in Soil
Conservation Programs. In : Incentives in Soil Conservation-From Theory
to Practice, ed. D.W. Sanders, P.C. Huszar, S. Sombatpanit and T. Enters.
Oxford and IBH Publishing, Co. PVT. LTD, New Delhi.

Stodio Driya Media. 1994. Berbuat Bersama Berperan Setara : Pengkajian dan
Perencanaan Program Bersama Masyarakat. Bandung

T. Enters. 1999. Incentives as Policy Instruments-Key Concepts and Definition.


In : Incentives in Soil Conservation-From Theory to Practice, ed. D.W.
Sanders, P.C. Huszar, S. Sombatpanit and T. Enters. Oxford and IBH
Publishing, Co. PVT. LTD, New Delhi.