Anda di halaman 1dari 20

Laporan kasus

ULKUS KORNEA PERFORASI

Oleh :
Vivin Anggia Putri, S.Ked
NIM. 1508434424

Pembimbing :
dr. Bagus Sidharto, Sp.M

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1

Latar belakang
Ulkus kornea adalah keadaan patologi kornea yang ditandai oleh adanya

infiltrat supuratif disertai diskontinuitas kornea, diskontinuitas jaringan kornea


dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea dapat terjadi akibat adanya
trauma pada oleh benda asing, dan dengan penyakit yang menyebabkan masuknya
bakteri atau jamur ke dalam kornea sehingga menimbulkan infeksi atau
peradangan. Ulkus kornea yang luas dapat menyebabkan komplikasi berupa
descematokel, perforasi, endoftalmitis, bahkan kebutaan.1
Perforasi kornea merupakan hasil dari berbagai kelainan yang dapat
meninggalkan sekuel pada penglihatan. Descematokel dan perforasi merupakan
kasus darurat mata yang membutuhkan penanganan segera. Penatalaksanaan yang
harus diutamakan adalah pencegahan terhadap terjadinya perforasi kornea, karena
sekali terjadinya perforasi, seringkali gangguan penglihatan terjadi.2
Descematokel adalah sebuah lesi dimana terjadi destruksi dari epitelium
dan stroma dengan hanya menyisakan membran descement dan endotelium. Sifat
alaminya yang sangat elastis dan adanya tekanan intraokular, membran
Descement akan menonjol ke arah anterior, membentuk menyerupai kubah,
bermembran transparan, yang mudah dikenali melalui pemeriksaan slit lamp. Pada
stadium ini, kornea menjadi sangat rentan untuk perforasi. Istilah impending
perforata memang kurang spesifik, namun seringkali digunakan pada berbagai
ulserasi dengan penipisan lapisan stroma yang parah dan secara klinis dapat
menjadi perforasi. Perforasi adalah kondisi dimana terdapat defek pada seluruh
lapisan kornea dan adanya hubungan antara anterior chamber dan permukaan
bola mata. Descematokel dengan keluarnya humour aquos secara teknis disebut
perforasi. Jadi, berdasarkan terminologi tersebut, adanya jaringan non-epitelial,
penipisan kornea yang parah, harus mendapatkan penanganan darurat yang
membutuhkan intervensi khusus.2,3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1

Anatomi dan Fisiologi


Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan

kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus,
lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea
dewasa rata-rata mempunyai tebal 550 mikrometer di pusatnya, diameter
horizontalnya sekitar 11,75 mm dan vertikalnya 10,6 mm.4
Kornea adalah struktur vital pada mata yang bersifat sangat sensitif. Kornea
menerima suplai sensoris dari nervus trigeminal optalmikus. Rangsang taktil
menyebabkan reflex mata tertutup. Jika terdapat injuri atau cedera kornea (erosi,
penetrasi benda asing, atau keratokunjungtivitis ultraviolet) yang mencederai
bagian akhir nervus sensoris akan menyebabkan nyeri berkelanjutan dengan reflex
keluarnya air mata dan penutupan mata yang involunter.4
Kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang
berbatasan dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma,
membran Descement dan lapisan endotel.1

Gambar 1. Anatomi Bola Mata2

Gambar 2. Lapisan lapisan kornea2

Kornea terdiri atas 5 lapisan, yaitu:1


1.

Epitel
Merupakan tipe sel skuamosa bertingkat yang berlanjut dengan
epithelium pada konjungtiva bulbar di limbus. Bagian ini terdiri dari 5-6
lapisan sel. Pada lapisan bagian terdalam (basal) membentuk sel kolumner,
kemudian 2-3 lapisan sel sayap atau sel payung dan 2 lapisan superfisial
merupakan sel datar.

2.

Membran Bowman
Lapisan ini terdiri dari bagian aseluler yang memadatkan fibril
kolagen. Ketebalannya mencapai 12 mikrometer dan berikatan pada stroma
kornea anterior dengan membran basal epithelium. Lapisan ini bukan
membran elastis tapi secara singkat merupakan bagian superfisial stroma.
Bagian ini sangat resisten untuk menjadi infeksi. Tapi jika bagian ini rusak
maka tidak dapat bergenerasi kembali.

3.

Stroma
Lapisan ini mempunyai ketebalan 0,5 mm dan merupakan bagian
penting kornea (90% dari total ketebalan) terdiri dari fibril kolagen (lamella)
dalam matrix hidrasi pada proteoglikan. Lamella disusun oleh banyak
lapisan, lapisan ini tidak hanya paralel diantara lapisan yang lain tapi juga

berlanjut dengan lamellae sklera pada limbus. Diantara lapisan lamella


terdapat keratosit, makrofag, histiosit dan sedikit leukosit.
4.

Membran Descement
Lapisan homogen kuat yang berikatan dengan stroma posterior.
Membrane ini resisten terhadap bahan kimia, trauma dan proses patologik.
Bagaimanapun descemetokel dapat mempertahankan integritas bolamata
dalam waktu lama. Membran descement terdiri dari kolagen dan
glikoprotein. Tidak seperti membran bowman, membran descement dapat
bergenerasi.

5.

Endotel
Terdiri dari lapisan selapis pada bagian datar sel polygonal (atau
hexagonal). Kepadatan sel endothelium sekitar 3000 sel/mm2 pada dewasa
muda, yang menurun seiring bertambahnya usia. Bagian ini sangat
fungsional sebagai cadangan untuk endotelium. Oleh karena itu,
dekompensasi kornea terjadi hanya setelah lebih dari 75% sel telah hilang.
Sel endotelial berisi mekanisme pompa aktif.

Lima lapisan kornea memiliki sedikit sel dan tidak terstruktur serta
avaskular. Seperti lensa, sklera dan badan vitreus, kornea adalah struktur jaringan
lunak braditropik. Sumber nutrisi kornea melalui metabolism nutrisi (asam amino
dan glukosa) dari 3 sumber yaitu difusi dari tepi kapiler kornea, difusi dari
humour aquos dan difusi dari tear film.4
2.2 Definisi3,5
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai
defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari
epitel sampai stroma. Perforasi adalah kondisi dimana terdapat defek pada seluruh
lapisan kornea dan adanya hubungan antara anterior chamber dan permukaan
bola mata. Perforasi kornea merupakan hasil dari berbagai kelainan yang dapat
meninggalkan sekuel pada penglihatan.

2.3 Etiologi
Penyebab ulkus kornea sering diakibatkan oleh infeksi virus herpes
simpleks, infeksi bakteri, jamur atau trauma.6 Penyebab bakteri yang paling sering
adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus
epidermidis. Bakteri yang juga dapat menyebabkan ulkus kornea adalah
Mycobacterium leprae.7 Sedangkan jamur biasanya disebabkan oleh Candida
albicans. Terdapat beberapa kondisi yang dapat sebagai predisposisi terjadinya
inflamasi pada kornea seperti blefaritis, perubahan pada barrier epitel kornea (dry
eyes), penggunaan lensa kontak, lagopthalmos, gangguan paralitik, trauma dan
penggunaan preparat imunosupresif topical maupun sistemik.8
Penyebab tersering terjadinya perforasi kornea adalah infeksi, baik
infeksi bakteri, jamur, atau virus. Dari semua kejadian perforasi kornea 24 55 %
penyebab yang tersering adalah infeksi bakteri. Penyebab utamanya antara lain,
infeksi (bakteri, jamur, virus seperti herpes simplex dan herpes zoster), inflamasi
(penyakit vaskular-kolagen, rosacea, penyakit atopik, Wepeners granulomatosa,
ulkus Mooren) dan trauma (zat kimia, panas, dan penetrasi). Disamping itu,
penyebab lainnya seperti akibat paparan matahari dan keratopati neuropati,
xerosis (idiopatik, Shogrens syndrome, SSJ, defisiensi vitamin A), penggunaan
kortikosteroid topical dan OAINS dapat mengeksaserbasi dan mengawali
terjadinya

penipisan

stroma

dan

perforasi

spontan,

degenerasi

kornea

(keratokonus, keratoglobus) dan pembedahan (ekstraksi katarak, LASIK, eksisi


pterygium dengan mitomycin-C, operasi glaukoma) juga dapat menyebabkan
ulkus dan perforasi.9

2.4 Patogenesis
Ketika terjadi kerusakan pada epitel kornea yang terjadi oleh karena
adanya suatu agent dari luar yang menyebabkan terjadinya perubahan menjadi
patologi dimana proses terjadinya perforasi kornea dibagi dalam empat fase, yaitu:
infiltrasi, ulserasi aktif, regresi dan pembentukan sikatrik. Kornea mendapatkan
pemaparan konstan dari mikroba dan pengaruh lingkungan, oleh sebab itu untuk

melindunginya kornea memiliki beberapa mekanisme pertahanan. Mekanisme


pertahanan tersebut termasuk refleks berkedip, fungsi antimikroba film air mata
(lisosim), epitel hidrofobik yang membentuk barrier terhadap difusi serta
kemampuan epitel untuk beregenerasi secara cepat dan lengkap.3
Epitel merupakan barrier yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme
ke dalam kornea. Pada saat epitel mengalami trauma, struma yang avaskuler dan
lapisan bowman menjadi mudah untuk mengalami infeksi dengan organisme yang
bervariasi, termasuk bakteri, amoeba dan jamur. 3,8
Ketika patogen telah menginvasi jaringan melalui lesi kornea superfisial,
beberapa rantai kejadian tipikal akan terjadi, yaitu:6,9

Lesi pada kornea

Patogen akan menginvasi dan mengkolonisasi struma kornea

Antibodi akan menginfiltrasi lokasi invasi patogen

Hasilnya akan tampak gambaran opasitas pada kornea dan titik invasi
patogen akan membuka lebih luas dan memberikan gambaran infiltrasi

kornea
Iritasi dari bilik mata depan dengan hipopion (umumnya berupa pus yang
akan berakumulasi pada lantai dari bilik mata depan)
Patogen akan menginvasi seluruh kornea
Hasilnya stroma akan mengalami atropi dan melekat pada membaran
descement yang relatif kuat dan akan menghasilkan descematokel yang
dimana hanya membran descement yang intak. Di sekitar sisa jaringan
stroma bersifat abnormal dan opak yang menyebabkan terbentuknya cincin

putih (white ring) di perifer defek


Ketika penyakit semakin progresif, perforasi dari membran descement
terjadi dan humour aquos akan keluar. Hal ini disebut ulkus kornea
perforasi dan merupakan indikasi bagi intervensi bedah secepatnya. Pasien
akan menunjukkan gejala penurunan visus progresif dan bola mata akan
menjadi lunak.

Gambar 3. Stadium pembentukan descematokel yang diawali oleh ulkus kornea. (A)
Stadium infiltrasi progresif, (B) Stadium ulserasi aktif, (C) Stadium regresi, (D) Stadium
Sikatrik, (E) Ulkus kornea telah mengerosi stroma sepenuhnya sehingga hanya membran
descemet tersisa. Bahkan walaupun tekanan intraokular yang normal akan menyebabkan
membran descemet melekuk ke depan, membentuk sebuah descemetokel 5

Gambar 4.Desmatokel2

2.5

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,

pemeriksaan klinis dengan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Dari


anamnesis, nyeri merupakan keluhan yang paling sering pada penyakit kornea.
Keluhan ini diakibatkan inervasi sensori yang diakibatkan oleh ulkus. Kornea

memiliki banyak serabut nyeri, kebanyakan lesi kornea baik superfisial maupun
dalam, akan menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Fotofobia pada ulkus kornea
adalah akibat adanya kontraksi iris yang meradang. Keluhan yang lainnya adalah
penurunan tajam penglihatan. Adanya riwayat trauma, benda asing, penggunaan
kontak lensa, adanya riwayat penyakit pada kornea sebelumnya, riwayat
pemakaian obat topikal oleh pasien, riwayat penyakit sistemik seperti diabetes,
AIDS dan keganasan harus diperhatikan untuk membantu menentukan etiologi
perforasi.1,2,9
Dari pemeriksaan fisik, dapat ditemukan air mata yang berlebih akibat
refleks lakrimasi atau sekret yang mukopurulen pada ulkus akibat bakteri.
Fluoroscens harus dilakukan atau ulkus mungkin tidak terdeteksi. Gangguan visus
tergantung pada lokasi dan luasnya ulkus dan visus yang normal bukan berarti
tidak terjadi ulkus.9
Untuk memilih terapi yang tepat untuk penyakit kornea, terutama ulkus
supuratif, sangat memerlukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan kerokan
kornea yang dipulas dengan pewarnaan Gram dan KOH dapat mengidentifikasi
organisme, khususnya bakteri dan jamur. Polymerase Chain Reaction (PCR)
memungkinkan dilakukannya identifikasi virus-virus herpes, acanthamoeba dan
jamur dengan cepat.1

2.6 Penatalaksanaan
A. Medikamentosa
Ulkus kornea perforasi adalah keadaan darurat yang harus segera di
tangani agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut pada kornea. Terapi pada
ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang
mengandung antibiotik, antivirus, anti jamur, siklopegik dan mengurangi
reaksi peradangan. Namun terapi tidak boleh ditunda hanya karena organisme
tidak teridentifikasi pada pemeriksaan mikroskopis kerokan kornea.1
Infeksi pada mata harus diberikan8:

Antibiotik
Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang
berspektrum luas diberikan sebagai salep, tetes atau injeksi

subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus sebaiknya tidak diberikan


salep mata karena dapat memperlambat penyembuhan dan juga dapat
menimbulkan erosi kornea kembali.

Anti jamur
Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya
preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang
dihadapi bisa dibagi :
1.

Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya


: topikal amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml,
Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole

2.

Jamur berfilamen : topikal amphotericin B,


Thiomerosal, Natamicin, Imidazol

3.

Ragi (yeast) : Amphotericin B, Natamicin, Imidazol

4.

Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan


sulfa, berbagai jenis anti biotik

Anti virus
Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan steroid
lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas
untuk infeksi sekunder analgetik bila terdapat indikasi. Herpes
simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer.
Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi supuratif karena
dapat menghalangi pengaliran sekret infeksi tersebut dan memberikan
media yang baik terhadap perkembangbiakan kuman penyebabnya.
Perban memang diperlukan pada ulkus yang bersih tanpa sekret guna
mengurangi rangsangan.

Sulfas atropin sebagai salep atau larutan,


Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu.
Efek kerja sulfas atropine :

Sedatif, menghilangkan rasa sakit.

Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.

Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.


9

Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya


akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan
lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga
sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah
pembentukan sinekia posterior yang baru.

Skopolamin sebagai midriatika.

Analgetik.
Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain atau
tetrakain tetapi tidak boleh digunakan jangka panjang.

B. Pembedahan7,8,10
1. Flap Konjungtiva
Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva, dengan melepaskan
konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian ditarik menutupi ulkus.
Tujuan tindakan ini memberi perlindungan dan nutrisi pada ulkus untuk
mempercepat penyembuhan. Jika sudah sembuh flap konjungtiva dapat
dilepaskan kembali.
2. Transplantasi Membran Amnion
a. Indikasi
Transplantasi membran amnion digunakan pada defek epitel
persisten yang tidak respon terhadap pengobatan medikamentosa dan
sebagai alternatif lain dari tindakan flap konjungtiva dan tarsorafi.
Transplantasi membran amnion merupakan metode efektif untuk
penatalaksanaan perforasi kornea nontraumatik dan descemetokel.
Metoda ini juga bermanfaat sebagai terapi permanen atau sebagai
tindakan sementara sampai inflamasi berkurang dan prosedur
rekonstruksi tetap dapat dilakukan. Disamping itu, teknik ini juga
bermanfaat pada negara-negara yang persediaan jaringan korneanya
terbatas.
b. Kontra indikasi

10

Kontra indikasi transplantasi membran amnion meliputi dry eye


berat dengan lagoftalmus, atau nekrosis hebat yang mengiringi
iskemik.
3. Keratoplasti
Transplantasi kornea (keratoplasti) diindikasikan bagi banyak kornea
yang serius, misalnya jaringan parut, edema, penipisan dan distorsi.
Istilah keratoplasti penetrans berarti penggantikan kornea seutuhnya dan
keratoplasti lamelar berarti penggantian sebagian dari ketebalan kornea.
Donor yang lebih muda lebih disukai untuk keratoplasti penetrans
dan terdapat hubungan langsung antara umur dengan kesehatan dan
jumlah sel endotel. Karena sel endotel sangat cepat mati, mata hendaknya
segera diambil segera setelah donor meninggal dan segera dibekukan.
Mata utuh harus dimanfaatkan dalam 48 jam, dan sebaiknya dalam 48
jam. Untuk keratoplasti lamelar, kornea tersebut dapat dibekukan,
didehidrasi, atau disimpan dalam lemari es selama beberapa minggu, sel
endotel tidak penting untuk prosedur ini.

Gambar 5. Keratoplasti. (A) Penetrating, (B) Lamellar2

4. Keratoprosthesis
Keratoprosthesis atau pemasangan kornea buatan bisa dilakukan pada
kerusakan kornea yang sangat berat, dikarenakan hasil dari flap konjungtiva
dan transplantasi membran amnion sangat buruk. Selain itu, tindakan dapat
11

dilakukan jika tidak adanya pendonor kornea atau dengan pasien yang tidak
menyetujui tindakan transplantasi kornea.
5. Eviserasi dan Enukleasi
Eviserasi adalah membuang semua isi bola mata dengan tetap
mempertahankan sclera, kapsula tenon, konjungtiva dan nervus optikus.
Enukleasi adalah mengangkat seluruh bola mata dan sebagian nervus optikus.
Konjungtiva bulbi dan kapsula tenon dipertahankan. Keuntungan eviserasi
diantaranya:
a. Nervus optikus dan meningen tidak terganggu
b. Lebih cepat dan mudah untuk drainase abses okuler
c. Menghindari perdarahan yang berlebihan dari jaringan lunak yang
inflamasi
d. Sklera tetap intak, sebagai barier terhadap proses supuratif
e. Struktur jaringan lunak orbita tidak terganggu
f. Fisiologi normal dan gerakan orbita dapat dipertahankan
g. Bola mata tetap terfiksasi oleh kapsula tenon, otot-otot ekstraokular dan
septum intermuskular
h. Secara kosmetik hasilnya lebih baik dan kelainan lebih lambat terjadinya.
Ada berbagai pertimbangan kenapa operator lebih memilih tindakan
eviserasi dibandingkan dengan enukleasi. Pada eviserasi hilangnya volume
orbita serta perubahan anatomi dan fisiologi dapat juga terjadi, namun dengan
dipertahankannya lapisan sklera dan jaringan periorbita dapat menambah
volume orbita 0,5 cc. Struktur anatomi periorbita pada eviserasi tidak dirusak
dan hubungan antar jaringankelopak mata dan otot ekstra okuler ke dinding
sklera dan forniks tidak diganggu, sehingga perubahan anatomi dan fisiologi
yang terjadi tidak seberat pasca enukleasi. Secara kosmetik tentu hasilnya
lebih baik dan kelainan lebih lambat terjadinya.
2.7

Komplikasi
Komplikasi ulkus kornea antara lain: 3,7

12

a. Sikatrik: Penyembuhan ulkus kornea selalu akan meninggalkan


sikatrik yaitu jaringan parut pada kornea. Beberapa bentuk sikatrik
yaitu :

Nebula, kabut halus pada kornea yang hanya dapat terlihat


dengan slit lamp.

Makula, kekeruhan kornea yang berbatas tegas.

Leukoma, kekeruhan kornea berwarna putih padat.

Leukoma adheren : kekeruhan kornea atau sikatriks kornea


dengan menempelnya iris di dataran belakang, merupakan
komplikasi yang terjadi pada kasus ulkus kornea perforasi.

b. Glaukoma sekunder: timbul karena adanya blok dari eksudat yang


fibrinous pada sudut segmen anterior (inflamatori glaukoma).
c. Sekuel dari ulkus kornea perforasi, termasuk:
1. Prolaps iris: muncul segera mengikuti perforasi.
2. Subluksasi atau dislokasi anterior dari lensa dapat muncul
karena adanya peregangan dan ruptur zonula secara tiba-tiba.
3. Anterior

capsular

katarak:

Terbentuk

saat

terjadi

kontak antara lensa dan ulkus pada saat perforasi pada area
pupil.
4. Uveitis purulen, endoftalmitis, bahkan panoftalmitis yang
berkembang karena penyebaran infeksi secara intraokular.
5. Fistula kornea: Terbentuk saat perforasi pada area pupillary
tidak diikuti oleh iris dan dibatasi oleh epithelium yang
membuat jalan secara cepat. Terjadinya kebocoran aquos
secara terus menerus melalui fistula ini.
6. Endoftalmitis: Terjadi akibat agen infeksi kornea yang dapat
menembus melalui descematokel yang berlubang.

2.8 Prognosis

13

Prognosis ulkus kornea perforasi ini buruk. Seharusnya ulkus kornea


perforasi bisa dicegah sebelum terjadinya perforasi, misalnya pada keadaan
dimana kornea masih mengalami infeksi yang tidak terlalu luas seperti pada
keadaan terjadinya keratitis atau ulkus kornea. Ulkus kornea tergantung pada
tingkat

keparahan

dan

cepat

lambatnya

mendapat

pertolongan,

jenis

mikroorganisme penyebabnya dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus


kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan
kornea bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya
mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi
lebih buruk. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan
penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat
terjadi pada penggunaan antibiotik maka dapat menimbulkan resistensi.1,7

B A B III

14

LAPORAN KASUS
RAHASIA
STATUS BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. E S

Pekerjaan

: Wiraswasta

Umur

: 50 tahun

Pendidikan

: SMA

Jenis Kelamin : Laki-laki


Alamat

Tanggal Pemeriksaan : 30/09/2016

: Jl. Utama RT 05 RW 03, Bantar, Kec. Rangsang Barat, Kep.

Meranti
Keluhan Utama

Mata kiri kabur sejak 1 bulan yang lalu.


Riwayat Penyakit Sekarang
Mata kiri kabur disertai dengan keluhan nyeri pada mata, mata merah dan sakit
kepala. Mata kabur ini sangat mengganggu pekerjaan. Riwayat terkena pasir di
mata kiri saat memotong rumput 1 bulan yang lalu, pasien dibawa ke RSUD
Meranti dan dilakukan irigasi pada mata kiri. Namun 1 hari setelah tindakan, mata
kiri menjadi semakin kabur.
Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-)
- Riwayat trauma mata sebelumnya (-)
- Riwayat penggunaan kontak lensa (-)
- Riwayat operasi mata (-)
- Riwayat DM dan keganasan (-)
Riwayat Pengobatan
Riwayat pemakaian obat mata sebelum muncul gejala (-)
Riwayat Penyakit Keluarga

15

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal yang sama


Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Komposmentis kooperatif

Vital Sign

: TD

: 120/70 mmHg

Nadi

: 80 x/i

Suhu : 36,4C
Status Opthalmologi
OD
20/20
Tidak di koreksi

Baik kesegala arah


12 mmHg

OS
Visus Tanpa
Koreksi
Visus Dengan
Koreksi
Posisi Bola Mata
Ortoforia
Gerakan Bola
Mata
Tekanan Bola
Mata

1/
Tidak ada kemajuan

Baik kesegala arah


Tidak diperiksa

Tenang

Palpebra

Tenang

Konjungtiva

Jernih

Kornea

Tenang
Dalam
Bulat, sentral, reguler,
3mm,
refleks cahaya(+/+)
Jernih

Sklera
COA

Edema (-), hematom (-), spasme


(-), nyeritekan (-)
Hiperemis (+)
Ulkus (+), kornea melting (+),
hipopion (-)
Hiperemis (+)
Sulit dinilai

Iris/Pupil

Sulit dinilai

Lensa
Fundus
Refleks
Media

Sulit dinilai

Papil

Sulit dinilai

+
Jernih
Papilbulat, batastegas, CDR
0,3, AVR 2 : 3
Refleks (+), edema (-)
Normal

Makula
Retina

16

Gambar 3.2. Mata kiri

Gambar 3.1. Mata kanan

Gambar

ULKUS
KORNEA
PERFORASI

Kesimpulan/resume :
Tn. E S usia 50 tahun dating dengan keluhan mata kiri kabur sejak 1 bulanyang
lalu, keluhan disertai nyeri pada mata, mata merah dan sakit kepala. Riwayat
trauma (+). Pada pemeriksaan ophtalmologi mata kiri, didapatkan visus mata kiri
1/, konjungtiva hiperemis (+), sklera hiperemis (+) dan pada kornea melting (+).
Diagnosis kerja

Ulkus kornea perforasi OS


Diagnosis banding

Endoftalmitis OS

17

Terapi

Ofloxasin ed 6x1 OS
Natamisin ed 6x1 OS
Ciprofloxasin tab 2x500 mg
Rencana eviserasi
Anjuran pemeriksaan:
Pemeriksaan gram, KOH, kultur dan sensitivitas dari swab ulkus kornea
USG mata
Prognosis
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad malam

Quo ad kosmetikum : dubia ad bonam

18

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Biswell R. Kornea. Dalam: Vaughan D, Asbury T, Eva PR. Oftalmologi


Umum. Edisi 16. Jakarta: EGC 2009. Hal. 129-149
2. Rapuano, C. Marc A. Management of Corneal Perforation. In : Corneal
Surgery.Availablefrom:http://www.us.elsevierhealth.com/media/us/sample
chapters/9780323023153/Chapter%2037.pdfdiakses pada tanggal 3
Oktober 2016
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2009.
Hal. 159-167
4. Lang,
GK.
Cornea.
In:
Ophthalmology
Textbook.NewYork:Thieme Stuttgart. 2000. p. 118-119

Short

5. Mills TJ. Corneal ulceration and ulcerative keratitis in emergency. Journal


[serial
on
the
Internet].
2011:
Available
from:
http://emedicine.medscape.com/article/798100-overview#showalldiakses
pada tanggal 4 Oktober 2016
6. Ming ALS, Constable IJ. Conjunctiva, sclera and cornea. Color Atlas of
Ophtalmology. 3 ed: World Science. 2000. p. 38-50
7. Suharjo SU, Hartono. Ilmu kesehatan mata. Edisi 2. Yogyakarta. Bagian
Ilmu Penyakit Mata FK UGM. 2012. Hal. 28-36
8. Farida Y. Corneal Ulcers Treatment. Majority Journal. Vol. 4 No. 1.
Lampung : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 2015. Hal. 119127.
9. Basic and Clinical Science Course. External Disease and Cornea, part 1,
Section 8. USA: American Academy of Ophtalmology. 2009. p. 179-192
10. Basic and Clinical Science Course. Surgery of the Ocular Surface, part 10,
Section 8. USA: American Academy of Ophtalmology. 2009. p.421-443

19