Anda di halaman 1dari 113

RANGKUMAN

MINERALOGI DAN PETROLOGI

DOSEN PEMBIMBING:
kIr. RETNO WITJAHJATI BN

DISUSUN OLEH:

CHRISTY MARIAN SIWABESSY


073001500027

UNIVERSITAS TRISAKTI
FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN
2015/2016

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....4

BAB I MINERALOGI...............................................................................5
1.1 Pengertian Mineral............................................................................5
1.2 Mineral dan Sejarah Manusia............................................................5
1.3 Ilmu MineralogiI...............................................................................6
1.4 Lingkingan Terbentuknya Mineral....................................................7
1.5 Berdasarkan sifat-sifat kimianya.......................................................9
1.6 Mineral berdasarkan ketransparanannya...........................................13
1.7 Klasifikasi Mineral............................................................................13
1.8 Mineral utama sebagai penyusun utama pembentuk batuan.............31

BAB II PETROLOGI.................................................................................41
2.1 Struktur Lapisan Kulit Bumi.............................................................41
2.2 Penyebaran Batuan Lateral................................................................42
2.3 Volume batuan pengisi Bumi............................................................42

Mineralogi dan Petrologi

2.4 Pengelompokan Batuan.....................................................................42


2.5 Siklus batuan.....................................................................................42
2.6 Symbol Batuan..................................................................................44
2.7 Ring of Fire.......................................................................................44
2.8 Ruang Lingkup ilmu pertologi dalam Pertambangan45

BAB III BATUAN BEKU..........................................................................46


3.1 Pembentukan Magma........................................................................46
3.2 Komposisi Kimia Magma.................................................................47
3.3 Tingkat pembekuan magma..............................................................47
3.4 Evolusi magmatik..............................................................................48
3.5 Klasifikasi batuan beku berdasarkan genetik....................................49
3.6 Pengelompokan Mineral Batuan Beku..............................................49
3.7 Berdasarkan kesamaan terjadinya.....................................................51
3.8 Macam-macam Proses Altrasi...........................................................51
3.9 Fungsi Hydrothermal.........................................................................52
3.10 Struktur Batuan Beku......................................................................52
3.11 Teksture Batuan Beku......................................................................54
3.12 Klasifikasi Kimia Batuan Beku.......................................................57
3.13 BATUAN PIROKLASTIK.............................................................60
3.14 CONTOH BATUAN BEKU...........................................................61
Mineralogi dan Petrologi

BAB IV BATUAN SEDIMEN...................................................................69


4.1 Komponen batuan sedimen...............................................................70
4.2 Lingkungan pengendapan.................................................................70
4.3 Penamaan..........................................................................................72
5.4 Klasifikasi Batuan Sedimen..............................................................73
5.5 CONTOH BATUAN SEDIMEN......................................................81

BAB V BATUAN METAMORF................................................................86


6.1 Tipe-tipe Metamorfosa......................................................................88
5.2 Struktur Batuan Metamorf 91
6.2 Tekstur Batuan Metamorf..................................................................92
6.4 Komposisi Batuan Metamorf............................................................94
6.5 MACAM-MACAM BATUAN METAMORF..................................97
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................104

Mineralogi dan Petrologi

KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena atas berkat rahmatNya lah
penulis dapat menyelesaikan rangkuman catatan petrologi dan mineralogi ini tepat waktu sesuai dengan
apa yang dikehendaki.Terima kasih juga kepada Dosen Mata Kuliah Petrologi dan Mineralogi atas
bimbingan beliau yang amat sangat membantu dalam memberi ilmu,sehingga penulis bisa membuat
rangkuman ini sedemikian rupa.
Mineralogi dan Petrologi merupakan salah satu mata kuliah pada Program Studi Teknik
Pertambangan yang mempelajari tentang mineral dan batuan. Mineralogi adalah ilmu yang
mempelajari tentang mineral (sebagian zat hablur yang ada dalam kerak bumi serta bersifat homogen,
fisik maupun kimiawi). Petrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang batuan (unsur penyusun bumi
yang paling keras). Batuan adalah benda alam yang menjadi penyusun utama dari materi bumi. Batuan
di muka bumi ini terbagi atas tiga macam yakni Batuan Beku, Batuan Sedimen dan Batuan Metamorf
Mengapa kita perlu/ harus belajar Menerologi dan Petrologi sebagai mahasiswa Teknik
Pertambangan ???
Minerologi dan Petrologi merupakan suatu ilmu pengetahuan geologi yang kita pelajari dengan
maksud dapat gambaran tentang proses-proses pembatuan yang terjadi di dalam maupun dipermukaan
bumi dan juga supaya kita mengetahui tentang apa itu petrolgi, cara pembentukan batuan, jenis-jenis

Mineralogi dan Petrologi

batuan penyusun bumi dan macam-macam jenisnya, kemudian agar kita dapat mengetahui bagaimana
cara mendiskripsi masing-masing jenis batuan hingga akhirnya kita dapat mengenali beberapa jenis
batuan penyusun bumi berdasarkan pengamatan megaskopis, serta apa saja kegunaan dan manfaat ilmu
petrologi didunia pertambangan
Tujuan lain mempelajari Menerologi dan Petrologi ini adalah, antara lain :
Dapat mengenal berbagai jenis batuan
Mengetahui tekstur dan struktur dari suatu batuan
Mengetahui komposisi mineral yang terkandung dalam suatu batuan, serta dapat mendeskripsikan
mineral-mineral yang terkandung tersebut
Mengetahui nama batuannya dan dapat menafsirkan genesanya
Jakarta,14 Juni 2015

Penulis

BAB I
MINERALOGI
2.1 Mineral
Mineral adalah suatu benda padat yang homogeny terjadi secara alamiah, terbentuk dari
bahan anorganik mempunyai komposisi kimia dan susunan atomnya tertentu (Berry,1959).

Mineralogi dan Petrologi

SIfat-sifat suatu mineral sangat bergantung pada :


1. Struktur Kristal
2. Komposisi kimia
2.2 Mineral dan Sejarah Manusia
Arti ilmu Mineralogi :
Mineralogi atau ilmu mineral adalah ilmu yang mempelajari ikatan unsur pembentuk
kulit bumi (mineral), meliputi apa unsur pembentuknya (komposisi kimia), bagaimana bentuk
ikatannya, bagaimana proses dan sifat fisiknya, bagaimana cara mengenalinya.
Lebih dari 160 ribu tahun lalu nenek moyang manusia sudah mulai menggunakan
flint,chert dan obsidian untuk membuat peralatan hidup.
Logam dipakai pertamakali sekitar 20.000 tahun lalu, logam yang pertama kali dipakai
oleh manusia adalah tembaga dan emas
Sekitar 6000 tahun lalu orang mulai bisa mengekstrak tembaga dan melebur timah
hitam, timah putih, seng, perak dan logam lainnya, diikuti dengan kemampuan mencampur
logam, membuat alloy. Perunggu- sebagai campuran.
Kemampuan manusia untuk melebur besi dikuasai lebih belakangan, sekitar 3000 tahun
lalu.

Mineralogi dan Petrologi

Sekitar 4500 tahun lalu, Orang Babylonia adalah manusia pertama yang memanfaatkan
minyak bumi disamping kayu dan sekitar 3100 tahun lalu,Orang Cina adalah manusia pertama
yang menambang dan memakai batubara

2.3 ILMU MINERALOGI


Kulit Bumi ( Earths Crust) merupakan bagian padat dari bumi. Dibentuk oleh tiga jenis
batuan, yaitu :
1.
Batuan Beku
2.
Batuan Sedimen
3.
Batuan Metamorf
Ketiga jenis batuan ini dibentuk oleh sekumpulan mineral dan mineral dibentuk oleh
sekumpulan unsur unsur
Mineralogi atau ilmu yang mempelajari tentang mineral dapat diartikan sebagai ilmu
yang mempelajari tentang ikatan unsur. Berikut adalah unsur pembentuk mineral.

2.4 LINGKUNGAN TERBENTUKNYA MINERAL


Lingkungan tempat terbentuknya mineral dibagi menjadi tiga yaitu :
1.
Magmatik

Mineralogi dan Petrologi

a. Dalam Bumi
b. Lelehan (lava)
c. Erupsi (letusan)
d. Pneumatolitik (gas)
e. Hidrotermal (air)
f. Hot Spring/ Fumarola (gas)
Hidrotermal adalah larutan atau cairan panas sisa pembekuan magma. Kaya dengan
unsur. Berdasarkan temperaturnya, larutan kidrotermal dibedakan menjadi :
a. Lerutan Hipotermal, temperatur 300 500 derajat C
b. Larutan Mesothermal, temperatur 200 300 derajat C
c. Larutan Epithermal, temperatur 50 200 derajat C
2.

Metamorfosa
a. Rekristalisasi : Perubahan berlangsung dalam keadaan padat
b. Isokimia : dalam sistem tidak terjadi penambahan maupun pengurangan unsur

3.

Sedimen
a. Evaporit
b. Presipitasi
Dapat dilihat pada gambar berikut :

Mineralogi dan Petrologi

Mineralogi dan Petrologi

10

Berdasarkan komposisi kimia, Magma digolongkan menjadi tiga jenis yaitu


Magma basa, magma asam dan magma intermediate.

Jenis mineral berdasarkan ikatan kimia dibedakan menjadi 2 yaitu :


1. Silikat : Neosilikat, Sorosilikat, Siklosilikat, Inosilikat, Philosilikat dan Tektosilikat.
2. Non
Silikat : Oksida, Sulfida, Sulfat, Karbonat, Halit, Fosfat dan Native dan
SEDIMENTARY ENVIRONMENT
Hidroksida
2.5 Berdasarkan sifat-sifat kimianya, mineral menurut BERZELIUS,
dapat digolongkan menjadi 8, yaitu :
2.5.1 Native Elements
Golongan unsur kimia mineral natif hanya memiliki satu unsur kimia atau unsur
murni, terdiri dari:

2.5.2

Mineral natif logam murni, yaitu: mineral logam emas(Au),


perak(Ag),
tembaga(Cu), platina(Pt), paladium(Pd), iridium(Ir), besi(Fe), dan nikel(Ni).

Mineral natif semilogam, yaitu: arsenick(As), antimon(Sb), dan bismuth(Bi).

Mineral natif non logam, yaitu: sulfur(S), intan(C), grafit(C).

Sulfides dan Sulfosalts


Golongan mineral sulfida dan sulfosfat merupakan kombinasi antara mineral
logam atau semi logam dengan belerang(S), maka:
Golongan unsur kimia mineral sulfida, terdiri :

MAGMATIC ENVIRONMENT
METAMORPHIC ENVIRONMENT

Mineral sulfide dengan ikatan kimia symbol AX, diantaranya yaitu:


galena(PbS),
sfalerit(ZnS),
pirotit(FeS),
nikolit(NiS),
milerit(NiS),
kovelit(CuS), sinabar(HgS), realgar(AsS)
(A = unsure logam dan X =
umsur sulfur).

Mineral sulfide dengan ikatan kimia symbol AX2, diantaranya yaitu: pirit(FeS2),
markasit(FeS2), molibdenit(MoS2), arsenopirit((FeAsS), kobaltit((CoAsS),
kalaverit(AuTe2), krenerit(Au,Ag)Te2
Mineralogi dan Petrologi SUBVOLCANIC
11

(A = unsure logam dan X = unsure S).

Mineral sulfide dengan ikatn unsure kimia symbol AX 3, diantaranya yaitu:


Skuterudit(Co,Ni)As3 .

Mineral sulfide dengan ikatan kimia unsure kimia symbol A2X, contohnya:
argentit(Ag2S) , kalkosit(Cu2S).

Mineral sulfida dengan ikatan unsure kimia symbol A3X2 , contohnya yaitu:
bornit(Cu5FeS4).

Golongan unsur kimia mineral sulfosfat , terdiri :

2.5.3

Mineral sulfosalt dengan ikatan unsur kimia symbol ABX 2, contohnya yaitu:
boulangerit(Pb5Sb4S11).

Mineral sulfosalt dengan ikatan unsur kimia symbol A2BX3, contohnya yaitu:
bournonit ( PbCuSbS3 ).

Mineral sulfosalt dengan ikatan unsure kimia symbol A3BX3, contohnya yaitu:
pirargirit(Ag3SbS3),
proustit(Ag3AsSb3),
tetrahedrt(Cu,Fe)12
Sb2S13,
tennatit(Cu,Fe)12 As4S13 .

Mineral sulfosalt dengan ikatan unsure kimia symbol A3BX4, contohnya yaitu:
enargit(Cu3AsS4).

Halides
Golongan mineral halide , berkomposisi unsure kimia halogen dicirikan dengan
adanya dominasi dari ion halogenida yang elektronegatif seperti F, Cl, Br, dan I,terdiri :

2.5.4

Mineral berkomposisi unsure klorin, contohnya yaitu: halit(NaCl ), silvit(KCl),


serargirit(AgCl).

Mineral berkomposisi unsure F, contohnya yaitu fluorit(CaF2), kriolit (Na3AlF6).

Oxides dan Hydroides

Mineralogi dan Petrologi

12

Golongan unsur kimia mineral oksida merupakan kombinasi antara oksigen atau
hidroksil/air dengan logam, yaitu:
Golongan mineral Oksida
Mineral oksida dengan ikatan unsure kimia symbol AX, diantaranya yaitu:
periklas(MgO), dan zinkit(ZnO);
( A= unsure logam dan X = unsur oksigen).
Mineral oksida dengan ikatan unsure kimia symbol
AX2, diantaranya yaitu: rutil(TiO2), kasiterit(SnO2), pirolusit(MnO2), anatas(TiO2),
brookit(TiO2), uraninit(UO2), thorianit(ThO2).

Mineral oksida dengan ikatan unsure kimia symbol


A2X, diantaranya yaitu: kuprit(CuO2).

Mineral oksida dengan ikatan unsure kimia symbol


korundum(Al2O3), hematite(Fe2O3), ilmenit(FeTiO3),

A2X3, contohnya:
braunit(Mn,Si)2O3.

Mineral oksida dengan ikatan unsure kimia symbol


AB2X4, contohnya yaitu: spinel(MgAl2O4), magnetit(Fe3O4), kromit(Mg,Fe )
Cr2O4, hausmanit(MnMn2O4), ktisoberil(BeAl2O4).

Golongan unsur kimia mineral hidroksida, terdiri:

2.5.5

Mineral hidroksida brusit(Mg(OH)).

Mineral hidroksida lepidokrosit FeO(OH), boehmit AlO(OH), manganit


MnO(OH).

Mineral hidroksida gutit(HFeO2), diaspor(HAlO2).

Mineral hidroksida gibsit(Al(OH))3.

Carbonates, Nitrates dan Borates

Mineralogi dan Petrologi

13

Golongan Mineral Karbonat, Nitrat, Borat, Iodidat merupakan kombinasi antara


logam/semilogam dengan anion komplek, CO3(Nitrat) atau NO3(Borat), yaitu:
Golongan mineral karbonat kalsit, dolomite, aragonite, terdiri:

Mineral karbonat kalsit, yaitu: kalsit(CaCO3), magnesit(MgCO3), siderite(FeCO3),


rodokrosit(MnCO3), smitsonit(ZnCO3).

Mineral karbonat dolomite,


kutnahorit(CaMn(CO3)2).

Mineral karbonat aragonite, yaitu:


strontianit(SrCO3), cerussite(PbCO3).

Mineral karbonat malakit(Cu2(CO3)(OH02) dan azurite Cu3(CO3)(OH)2.

yaitu:

(CaMg(CO3)2),

aragonit

ankerit(CaFe(CO3)2,

CaCO3,

whiterit(BaCO3),

Golongan mineral nitrat dan borat, terdiri :

2.5.6

Mineral nitrat, contohnya yaitu: sodium nitrat(NaNO3) dan kalium nitrat(KNO3).

Mineral borat, contohnya yaitu : borax(Na 2B4O5(OH)48H2O), kernit (Na2B4O7.4H2O),


kolemanit(CaB3O4(OH)3.H2O) dan ulexite(NaCaB5O6(OH)6.5H2O).

Sulfates, Chromates, Molybdates dan Tungstates


Golongan Mineral Sulfat, Kromat, Molibdat, Tungstat merupakan kombinasi
logam dengan anion sulfat, kromat, molibdat, dan tungstat, yaitu:
Golongan mineral sulfat, kromat, molibdat dan tungstat, terdiri :

Mineral sulfat, bersimbol ikatan unsure kimia AXO4, contohnya yaitu:


barit(BaSO4) selestit(SrO4), angelesit(PbSO4).

Mineral sulfat bersimbol ikatan unsure kimia AXO4.xH2O, contohnya yaitu :


gypsum(CaSO4.2H2O), chalcanthite(CuSO4.5H2O), melantherite(FeSO4.7H2O),
epsomit (MgSO4.7H2O).

Mineral sulfat, bersimbol ikatan unsure kimia Am(XO 4)pZq, berhidroksil ,


contohnya yaitu: brochanthite(Cu4(SO4)(OH)6)dan antelerite (Cu3(SO4)(OH)4).

Mineralogi dan Petrologi

14

2.5.7

Mineral sulfat, bersimbol ikatan unsure kimia A2(XO4)Zq, berhidroksil,


contohnya yaitu: alunit(KAl3(SO4)2(OH)6)dan jarosit(KFe3(SO4)2(OH)6).

Mineral kromat, contohnya yaitu: krokoit(PbCrO4)

Mineral molibdat, contohnya yaitu: wulfenite(PBMoO4).

Mineral tungstat , contohnya yaitu: wolframit(Fe,Mn)WO4, scheelite(CaWO4)

Phospates, Arsenates dan Vanadates


Golongan mineral fosfat, arsenat, dan vanadat, terdiri:

2.5.8

Mineral fosfat anhidrit , bersimbol ikatan unsure kimia A(XO 4), contohnya yaitu:
xenotim YPO4 dan monasit((Ce,La,Y,Th)PO4.

Mineral fosfat anhidrat, bersimbol ikatan unsure kimia A3(XO4), contohnya yaitu:
vivianit(Fe3(PO4)2.8H2O), dan erythrite (Co3(PO4)2.8H2O).

Mineral fosfat anhidrat berhidroksil dan berkomposisi unsure halogen, bersimbol


ikatan unsure kimia A,B(XO4)3Z4, contohnya yaitu: apatit(Ca5(PO4)39F,Cl,OH ),
fluorapatit(Ca5(PO4)3F),
kholorapatit(Ca5(PO4)3Cl),
hidroksilapatit(Ca5(PO403(Oh)), apatit-karbonat(Ca10(PO4)6(CO3)H2).

Mineral fosfat-piromorfit, yaitu: piromorfit(Pb5(PO4)3Cl).

Mineral arsenat, contohnya yaitu: mimetit((Pb5(AsO4)2Cl).

Mineral vanadat, contohnya yaitu: vanadinit( Pb5(VO4)3Cl).

Mineral
fosfat
hidrat
(berhidroksil),
contohnya
yaitu
turquois(CuAl6(PO4)4(OH)8.4H2O
,
torbenit(Cu(UO2)2(PO)42.8-12H2O),
autunit(Ca(UO2)2(PO4)2.10-12H2O ), karnotit(K2(UO2)2(VO4)2.3H2O) dan
tyuyamunit(Ca(UO2)2(VO4)2.5-8.5H2O).

Silicates

Mineralogi dan Petrologi

15

Kira-kira 95% sebagai penyusun batuan yang terdpat dikerak bumi . Striktur
ikatan Tetrahedra komppsisi silica dan oksigen diklasifikasikan menjadi 6 subkelas
silikat, yaitu:

Neosilikat, dicirikan berstruktur silikat tetrahedratunggal Si:O = 1:4, contoh


mineral yaitu forsterit (MgSiO4).

Sorosilikat, dicirikan berstruktur silikat tetrahedral tunggal ganda, Si:O = 2:7,


contoh mineral yaitu hemimorfit.

Siklosilikat, dicirikan berstruktur cincin rantai tetrahedral silikat, Si:O = 1:3,


contoh yaitu mineral beryl.

Inosilikat, dicirikan berstruktur rantai tunggal tetrahedra silikat, Si:O = 1:3, dan
rantai ganda tetrahedral silikat Si:O = 4:11, contoh mineral amfibol .

Phyllosilikat, dicirikan bangunan tiga dimensi tetrahedral silikat, dengan


perbandingan Si:O = 1:2, contoh mineral kuarsa.

Mineral yang umum dijumpai :

Mineralogi dan Petrologi

16

a. Batuan Beku : Feldspar, Biotit, Amfibol, Piroksen, Olivin, Nepelin, Kuarsa,


Gelas, dan muskovit
b. Batuan Sedimen :Kuarsa, Karbonat, Mineral lempung, Anhidrit, Glaukonite,
Gypsum, Halit
c. Batuan Metamorf :Andalusit, Kordierit, Epidot, Garnet, Feldspar, Ampibol,
Glaukofan, Grafit, Kianit, Silimanit, Staurolit, Trimolit, Aktimolit,
Wolastonit, Mika, dan kuarsa .
2.6 Mineral dibedakan menjadi 2 berdasarkan ketransparanannya yaitu
1.
Transparan : Felsik dan mafik
2.
Opak

2.7 Klasifikasi Mineral


2.7.1

Klasifikasi mineral
1. Sifat fisik terkait dengan kohesi dan elastisitas :cleavage, fravture, tencity,
kekerasan, parting, dsb
2. Sifat berat jenis : specific gravity (SG), density (), dsb.
3. Sifat cahaya : indeks bias, diaphaneity, colour, streak, luster, dsb.
4. Sifat kemagnetan : peromagmetism, ferrimagnetism, dsb.
5. Sifat perawakan Kristal : acicular, columnar, bladed, foliated, dsb.
6. Sifat rasa : oudour, feel, taste, dsb.
7. Sifat dan lain-lain : warna pijar, kebasaan, dan fusibility.
Penamaan mineral dapat ditentukan dengan membandungkan sifat fisiknya
dengan mineral lain. Sifat-sifat fisiknya meliputi: warna, cerat, kilap, kekerasan bentuk
kristal, belahan, pecahan, berat jenis, sifat dalam, diaphanety dan specia

A. Bentuk Kristal
1. Sistem Kristal
Ahli kristalografidari Prancis, AGUSTE BRAVAIS (1811-1863) menyatakan bahwa
sistem Lattice tiga dimensi sebagai satuan terkecil pembentuk Kristal.
Struktur kristal dibentuk oleh unit unit sel sebagai bagian terkecil pembentuk kristal.
Unit sel ini dapat digambarkan sebagai sekumpulan kecil atom dengan letak teratur.
Membentuk lattice (tiga dimensi) atau kisi kisi dengan sebuah atom menduduki

Mineralogi dan Petrologi

17

setiap

sudut

kisi

kisi

ini.

Sistem Kristal dibagi menjadi 7, diantaranya : Isometric, Tetragonal, Orthorombik,


Hexagonal, Monoklin, Triklin, dan Trigonal
Sistem sumbu kristal
Kristal sebagai bentuk tiga dimensi juga diatur oleh tiga buah sumbu, yang dikenal
sebagai sistem sumbu kristal.
Sistem Sumbu kristal tersebut adalah :
1. Tiga Buah Sumbu (a, b dan c)
2. Tiga buah Sudut antar sumbu yaitu
sudut antar sumbu b dan sumbu c .
sudut antar sumbu a dan sumbu c.
sudut antar sumbu a dan sumbu b.
3. Sumbu a b c
4. 90.
5. Nilai Sumbu ( +) didepan (a) , di kanan (b) dan
diatas
(c)
Catatan :
tidak selalu sama
2.

Sistem kristal di kelompokkan menjadi 7 sistem

Mineralogi dan Petrologi

18

Skema Sistem Kristal


a. Isometrik

Sistem ini juga disebut sistem kristal regular, atau dikenal pula dengan sistem kristal
kubus atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak lurus satu dengan
yang lainnya. Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masing-masing
sumbunya.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Isometrik memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu a = b = c, yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama
dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi = = = 90. Hal ini
berarti, pada sistem ini, semua sudut kristalnya ( , dan ) tegak lurus satu sama
lain (90).
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Isometrik
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3. Artinya, pada sumbu a ditarik
garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c juga
ditarik garis dengan nilai 3 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut

Mineralogi dan Petrologi

19

antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki
nilai 30 terhadap sumbu b.
Sistem isometrik dibagi menjadi 5 Kelas :Tetaoidal, Gyroida, Diploida,
Hextetrahedral, danHexoctahedral
Beberapa contoh mineral dengan system kristal Isometrik ini adalah gold, pyrite,
galena, halite, Fluorite (Pellant, chris: 1992)
b. Tetragonal

Sama dengan system Isometrik, sistem kristal ini mempunyai 3 sumbu kristal yang
masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang sama.
Sedangkan sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada
umumnya lebih panjang.
Pada kondisi sebenarnya, Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a =
b c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b tapi tidak sama dengan
sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi = = = 90. Hal ini berarti, pada
sistem ini, semua sudut kristalografinya ( , dan ) tegak lurus satu sama lain
(90).
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal
Tetragonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a
ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c
Mineralogi dan Petrologi

20

ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut
antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki
nilai 30 terhadap sumbu b.
Sistem tetragonal dibagi menjadi 7 kelas : Piramid, Bipiramid, Bisfenoid,
Trapezohedral, Ditetragonal Piramid, Skalenohedral, dan Ditetragonal Bipiramid
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Tetragonal ini adalah rutil, autunite,
pyrolusite, Leucite, scapolite (Pellant, Chris: 1992)
c. Hexagonal

Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga
sumbu lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120 terhadap
satu sama lain. Sambu a, b, dan d memiliki panjang sama. Sedangkan panjang c
berbeda, dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya lebih panjang).
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Hexagonal memiliki axial ratio
(perbandingan sumbu) a = b = d c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan

Mineralogi dan Petrologi

21

sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga
memiliki sudut kristalografi = = 90 ; = 120. Hal ini berarti, pada sistem ini,
sudut dan saling tegak lurus dan membentuk sudut 120 terhadap sumbu .
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Hexagonal
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik
garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik
garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar
sumbunya a+^b = 20 ; d^b+= 40. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+
memiliki nilai 20 terhadap sumbu b dan sumbu d membentuk sudut 40 terhadap
sumbu b+.
Sistem ini dibagi menjadi 7: Hexagonal Piramid, Hexagonal Bipramid, Dihexagonal
Piramid, Dihexagonal Bipiramid, Trigonal Bipiramid, Ditrigonal Bipiramid, dan
Hexagonal Trapezohedral
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Hexagonal ini adalah quartz,
corundum, hematite, calcite, dolomite, apatite. (Mondadori, Arlondo. 1977)
d. Trigonal

Jika kita membaca beberapa


referensi luar, sistem ini mempunyai nama lain yaitu Rhombohedral, selain itu
beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem kristal Hexagonal. Demikian
pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya, bila pada sistem Trigonal
setelah terbentuk bidang dasar, yang terbentuk segienam, kemudian dibentuk
segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.
Pada kondisi sebenarnya, Trigonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b
= d c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan
sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi =
= 90 ; = 120. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut dan saling tegak lurus
dan membentuk sudut 120 terhadap sumbu .
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal
Trigonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a
ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c
Mineralogi dan Petrologi

22

ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut
antar sumbunya a+^b = 20 ; d^b+= 40. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu
a+ memiliki nilai 20 terhadap sumbu b dan sumbu d membentuk sudut 40
terhadap sumbu b+.
Sistem ini dibagi menjadi 5 kelas:Trigonal piramid, Trigonal Trapezohedral,
Ditrigonal Piramid, Ditrigonal Skalenohedral, dan Rombohedral.
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Trigonal ini adalah tourmaline dan
cinabar (Mondadori, Arlondo. 1977)
e. Orthorombik

Sistem ini disebut juga sistem Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal
yang saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut
mempunyai panjang yang berbeda.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Orthorhombik memiliki axial ratio
(perbandingan sumbu) a b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada
yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut
kristalografi = = = 90. Hal ini berarti, pada sistem ini, ketiga sudutnya saling
tegak lurus (90).
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem
Orthorhombik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak
ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem
ini. Dan sudut antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa antara
sumbu a+ memiliki nilai 30 terhadap sumbu b.
Sistem ini dibagi menjadi 3 kelas:Bisfenoid, Piramid, dan Bipiramid
Beberapa contoh mineral denga sistem kristal Orthorhombik ini adalah stibnite,
chrysoberyl, aragonite dan witherite (Pellant, chris. 1992)

Mineralogi dan Petrologi

23

f. Monoklin

Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang
dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap sumbu c,
tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut
mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan
sumbu b paling pendek.
Pada kondisi sebenarnya, sistem Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu) a b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama
panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi = =
90 . Hal ini berarti, pada ancer ini, sudut dan saling tegak lurus (90),
sedangkan tidak tegak lurus (miring).
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal
Monoklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada
patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini.
Dan sudut antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+
memiliki nilai 45 terhadap sumbu b.
Sistem Monoklin dibagi menjadi 3 kelas:Sfenoid, Doma, dan Prisma
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah azurite,
malachite, colemanite, gypsum, dan epidot (Pellant, chris. 1992).
g. Triklin
`

Mineralogi dan Petrologi

24

Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri


yang satu dengan yang
lainnya tidak saling tegak lurus. Demikian juga
panjang masing-masing sumbu
tidak sama.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu) a b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama
panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi =
90. Hal ini berarti, pada system ini, sudut , dan tidak saling tegak lurus satu
dengan yang lainnya.
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin memiliki
perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan
menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar
sumbunya a+^b = 45 ; b^c+= 80. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+
memiliki nilai 45 terhadap sumbu b dan b membentuk sudut 80 terhadap c+.
Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas:Pedial dan Pinakoidal
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite, anorthite,
labradorite, kaolinite, microcline dan anortoclase (Pellant, chris. 1992)

Mineralogi dan Petrologi

25

3. Tingkat kesempurnaan Kristal


Tingkat kesempurnaan bangun Kristal yang mempengaruhi kesempurnaan bangun
Kristal adalah sifat alamiah fasa cait atau gas, ruang atautempat terbentuknya, dan
temperature serta tekanannya.
Hukum hauye menyatakan bahwa semakin banyak lattice maka semakin
sempurna bangun Kristal
a. Euhedral (sempurna)

b.Anhedral

(tidak

sempurna)

c.
Subhedral (kurang sempurna)

Mineralogi dan Petrologi

26

4.
Ukuran
Kristal
a. Kristalin (tanpa alat bantu)
b. Mikrokristalin (mikroskop)
c. Kriptokristalin (x-ray defraksi
B. Warna
Warna adalah yang ditampilkan dan dapat terlihat dipermukaan mineral oleh
mata telanjang. Warna biasanya lebih bersifat umum daripada menunjuk yang
spesifik.
Pada umumnya warna mineral ditimbulkan karena penyerapan beberapa jenis
panjang gelombang yang membentuk cahaya putih, jadi warna itu timbul sebagai
hasil dari cahaya putih yang dikurangi oleh beberapa panjang gelombang yang
terserap.
Mineral berwarna gelap adalah mineral yang secara merata dapat menyerap
seluruh panjang gelombang pembentuk cahaya putih.

Warna

Contoh

Kuning

Belerang (S)

Emas

Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Emas (Au)

Hijau

Klorit ((MGFe)5Al(AlSiO3O10)(OH)), Malasit (Cu2Co3(OH)2)

Biru

Azurit (2CuCo3 Cu(OH0)2), Beril (B3Al2 (Si6O18))

Merah

Jasper, Hematit (Fe2O3)

Cokelat

Garnet, Limonite (Fe2O3)

Abu-abu

Gelena (PbS)

Hitam

Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit

Putih

Kaolin (Al3O3.2SiO2.2H2O), Gypsu (CaSO4.2H2O)

Mineralogi dan Petrologi

27

mineral-mineral
yang
mempunyai
warna-warna
tetap
dan
tertentu
disebut Idiochromatic, sedangkan mineral yang mempunyai warna yang dapat
berubah-ubah disebut Allochromatic.
Adapun faktor-faktor yang menimbulkan warna dalam mineral antara lain :
2. Komposisi Kimia
Contoh : warna biru dan hijau pada mineral-mineral Copper sekunder.
4. Struktur Kristal dan Ikatan Atom
Contoh : Polymorph dari Carbon : Intan tidak berwarna dan transparant sedangkan
Graphite berwarna hitam dan opaque.
Polymorph adalah suatu unsur atau senyawa yang dapat membentuk lebih dari satu
susunan atom. Tiap-tiap susunan mempunyai sifat-sifat fisik dan struktur kristal yang berbeda.
Jadi atom-atom/ion-ion disusun secara berbeda dalam polymorph yang berbeda untuk zat yang
sama. (bentuk lain, rumus kimia analog)
-

Pengotoran Mineral
C. Kilap
Kilap adalah penampakan atau cahaya yang dipantulkan saat mineral terkena
cahaya. Secara garis besar, kilap dibedakan dengan:
1. Kilap Logam (Metallic Luster), Mineral-mineral yang dapat menyerap pancaran
secara kuat, disebabkan oleh sifat opaque atau hampir opaque walaupun mineralmineral ini terbentuk sebagai fragmen-fragmen yang tipis. Mineral-mineral ini
mempunyai indeks bias sebesar 3 ke atas. Mineral tersebut memiliki kilapan
seperti logam. Contoh: Galena, Pirit, Magnetite, Kalkopirit, Granite, Hematite.
2. Kilap Non Logam (Non-Metallic Luster), terbagi atas :
Kilap Intan (Adamantine Luster), kilapannya cemerlang seperti intan.
Kilap Kaca (Viteorus Luster), misalnya kilapan pada kuarsa dan kalsit.
Contoh : Quartz, Carbonates, Sulphates, Silicates, Spinel, Leucite, Gamet,
Flourite, Corundum dan Halite.

Mineralogi dan Petrologi

28

Kilap Sutera (Silky Luster), kilapannya menyerupai sutera. Biasanya


terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat seperti asbes,
alkanolit, dan gypsum.

Kilap Damar (Resinous Luster), kilapannya menyerupai damar seperti


pada sphalerite.

Kilap Mutiara (Pearly Luster), kilapannya seperti lemak atau sabun,


misalnya serpentin, opal, nepelin.

Kilap Tanah (Earthy Luster), kilapannya seperti tanah lempung,


misalnya kaolinite, bauxit dan limonite.
3. Kilap Sub-Metalik (Sub-Metallic Luster), Kilap ini biasanya dimiliki olem logam
yang mempunyai indeks bias antara 2,6-3.Contoh: Cuprite (Cu2O), Hematite
(Fe2O3), Cinnabar (Hgs).
D. Cerat/Goresan (Streak)
Cerat merupakan warna asli dari mineral apabila mineral tersebut ditumbuk
sampai halus. Cerat ini dapat lebih dipertanggungjawabkan karena stabil dan penting
untuk membedakan 2 mineral yang warnanya sama tetapi goresnya berbeda. Cerat
ini diperoleh dengan cara menggoreskan mineral pada permukaan keping porselin,
tetapi apabila mineral mempunyai kekerasasn lebih dari 6, maka dapat dicari dengan
cara menumbuk sampai halus menjadi berupa tepung.
Mineral yang berwarna terang biasanya mempunyai gores berwarna putih.
Contoh :
- Quartz
= putih / tak berwarna
- Gypsum
= putih / tak berwarna
- Calcite
= tak berwarna
Mineral bukan logam ( non metalic mineral ) dan berwarna gelap akan
memberikan gores yang lebh terang daripada warna mineralnya sendiri.
Contoh :
- Leucite
= warna abu-abu / gores hitam.
- Dolomite
= warna kuning sampai merah jambu / gores putih
Mineral yang mempunyai kilap metallic kadang-kadang mempunyai warna gores
yang lebih gelap dari warna mineralnya sendiri.
Contoh :
- Pyrite
= warna kuning loyang / gores hitam

Mineralogi dan Petrologi

29

- Copper
= warna merah tembaga / gores hitam
- Hematite
= warna abu-abu kehitaman / gores merah
Pada beberapa mineral, warna dan gores sering menunjukkan warna yang sama.
Contoh :
- Cinnabar
= warna dan gores merah
- Magnetite
= warna dan gores hitam
- Azurite
= warna dan gores biru
E. Kekerasan
Kekerasan adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi
suatu mineral dapat membandingkan suatu mineral terentu yang dipakai sebagai
kekerasan yang standard. Mineral yang mempunyai kekerasan yang lebih kecil akan
mempunyai bekas dan badan mineral tersebut. Standar kekerasan yang biasa dipakai
adalah skala kekerasan yang dibuat oleh Friedrich Mohs dari Jeman dan dikenal
sebagai skala Mohs. Skala Mohs mempunyai 10 skala, dimulai dari skala 1 untuk
mineral
terlunak
sampai
skala
10
untuk
mineral
terkeras.
Skala Kekerasan Mohs
Skala
Kekerasan

Mineral

Rumus Kimia

Talc

H2Mg3 (SiO3)4

Gypsum

CaSO4. 2H2O

Calcite

CaCO3

Fluorite

CaF2

Apatite

CaF2Ca3 (PO4)2

Orthoklase

K Al Si3 O8

Quartz

SiO2

Topaz

Al2SiO3O8

Corundum

Al2O3

10

Diamond

Mineralogi dan Petrologi

30

Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini diberikan
kekerasan dari alat penguji standar :

Alat Penguji

Derajat
Mohs

Kuku manusia

2,5

Kawat Tembaga

Paku

5,5

Pecahan Kaca

5,5 6

Pisau Baja

5,5 6

Kikir Baja

6,5 7

Kuarsa

Kekerasan

F. Belahan
Apabila suatu mineral mendapat tekanan yang melampaui batas elastisitas dan
plastisitasnya, maka pada akhirnya mineral akan pecah. Belahan mineral akan selalu sejajar
dengan bidang permukaan kristal yang rata karena belahan merupakan gambaran dari struktur
dalam dari kristal. Belahan tersebut akan menghasilkan kristal menjadi bagian-bagian yang
kecil, yang setiap bagian kristal dibatasi oleh bidang yang rata. Berdasarkan dari bagus atau
tidaknya permukaan bidang belahannya, belahan dapat dibagi menjadi :
a.

Sempurna ( Perfect ) yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang
merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya.
Contoh : Calcite, Muscovite, Galena dan Halite

b.

Baik ( Good ) yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata,
tetapi dapat juga terbelah tidak melalui bidang belahannya .
Contoh : Feldspar, Hyperstene, Diopsite dan Rhodonite

Mineralogi dan Petrologi

31

c.

Jelas ( Distinct ) yaitu apabila bidang belahan mineral dapat terlihat jelas, tetapi mineral
tersebut sukar membelah melalui bidang belahannya dan tidak rata.
Contoh : Staurolite, Scapolite, Hornblende, Anglesite, Feldspar, dan Scheelite

d.

Tidak Jelas ( Indistinct ) yaitu apabila arah belahan mineral masih terlihat, tetapi
kemungkinan untuk membentuk belahan dan pecahan sama besar.
Contoh : Beryl, Corundum, Platina, Gold dan Magnetite

e.

Tidak sempurna ( Imperfect ) yaitu apabila mineral sudah tidak terlihat arah belahannya,
dan mineral akan pecah dengan permukaan yang tidak rata.
Contoh : Apatite, Cassiterite dan Native sulphur
Belahan adalah kecenderungan suatu mineral untuk mengalami disintegrasi
sepanjang bidang lemahnya. Belahan dapat dibagi menjadi:

1 arah: Mika, Muskovit

2 arah: Feldspar, Amphibole

3 arah: Halit, Kalsit

4 arah: Flourit

Macam macam belahan :


a. Kubik
b.Oktahedral
c. Dedokahedral
d. Rombohedral
e.Prismatik dan pinakoid
f. Pinakoid (basal)
G. Pecahan
Pecahan adalah kecenderungan suatu mineral mengalami disintegrasi tidak pada titik
lemahnya. Pecahan dapat dibagi menjadi:

Konkoidal, permukaan halus dan melengkung seperti kenampakan kerang atau pecahan
botol. Contoh: Kuarsa

Splintery, permukaan seperti serat atau abon. Contoh: Asbes, Gypsum dan Augite.

Even, bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan halus. Contoh:
Muscovite, Galena.

Uneven, permukaan kasar dan tidak teratur. Contoh: Pirit, Kalkopirit, Hematite.

Mineralogi dan Petrologi

32

Hackly, permukaan kasar, tidak teratur dan runcing. Contoh: Silver, Gold, dan Platinum.

H. Berat Jenis
Berat jenis adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang
umum untuk menentukan berat jenis adalah dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu,
misalnya beratnya X gram. kemudian mineral ditimbang kembali dalam keadaan didalam air,
misalnya Y gram. Berat terhitung dalam keadaan didalam air adalah berat mineral dikurangi
dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut. Contoh: Galena
(SG: 7,5), perak (SG: 10-12).
Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral di bandingkan dengan
berat air pada volume yang sama.

I. Tenacity :
Adalah ketahanan mineral terhadap suatu gaya
1.
Brittle : Sifat mudah dipecahkan dan dihancurkan
(Sulfida, Karbonat, Silikat, dan Oksida)
2.
Malleable : Sifat mineral yang mudah ditempa menjadi lempengan tanpa pecah
(Plastics, Native Metal)
3.
Sectile : Sifat mineral yang dapat dipotong menjadi serat serat tipis
(Native Metal)
4.
Ductile : Sifat mudah ditarik menjadi kawat.
(Native Metal)
5.
Flexible : Sifat mineral bila dibengkokan bentuknya tidak kembali
semula / Permanen
6. Elastic : Sifat yang bila dibengkokan akan segera kembali bentuk

K. Specific Grafity (SG) :


Adalah rasio antara berat benda dengan berat air pada volume yang sama
L. Density () :
Adalah berat benda dibagi dengan volumenya

Mineralogi dan Petrologi

33

M. Berhubungan dengan sinar :


1. Diapheneity / Derajat ketransparanan
Transparan, Transkusen, Opak
2. Warna / Colours
3. Cerat / Gores / Streak
Warna sebuah mineral dapat beragam, tetapi warna bubuk biasanya tetap. Warna bubuk dapat
diperoleh dengan menggoreskan mineral proselen putih yang keras atau digerus
4. Kilap / Luster
5. Flouresence
Adalah suatu gejala emisi cahaya yang dihasilkan oleh suatu proses radiasi oleh sinar ultra
violet. Bila sustu mineral tertentu diberi sinar ultra violet akan memberkan warna tertentu.
Misal :Uraninit berwarna hitam bila diberi sinar UV akan mampak menjadi kuning cerah
6. Phosphorous
Sifat ini dimiliki oleh mineral yang dapat menyerap cahaya dan pada waktu tidak ada cahaya
(gelap ) mineral tersebut akan mengeluarkan cahaya terang.
Misal : Mineral mengandung phosphor
N. Sifat Kemagnitan :
1. Diamagmetisme : Menolak magnet
2. Paramagnetisme : Ditarik magnet
Mineral yang mempunyai kemagnitan antara lain:
1. Magnetit (Fe3O4)
2. Pyrhotite (Fe1-n S)
3. Polimorf dari maghematit (Fe2O3).
O. Sifat Kelistrikan :
Berdasarkan sifat kelistrikan maka mineral dapat dikelompokan menjadi :
1. Konduktor : umumnya bersifat logam
2. Non konduktor : umumnya bersifat non logam.
P. Sifat Radioaktif :
Mineral radioktif : Uranium (U) dan thorium (Th) dengan luruhannya.
Meluruh dengan diikuti satu atau lebih :
- partikel alfa
- Partikel betha
- Partikel gamma
Mineralogi dan Petrologi

34

Q. Sifat kebasahan relatif (Wathability) :


Lyophile : permukaannya mudah dibasahi oleh air
Lyophobe : permukaannya tidak dapat dengan mudah dibasahi air
Pada umumnya mineral metalik bersifat lyophobe.
R. Sifat yang terkait indra perasa :
1. Taste (Rasa):
a. Saline (asin): SALT. NaCl
b. Alkaline: SODA NaCO3.
c. Cooling: KNO3.
d. Bitter (Pahit): MgSO4.7H20.
e. Sticky (Lengket): Mineral lempung Hidroskopis di lidah
2. Odour (Bau):
Kebanyakan mineral tidak berbau
a. Bawang (Garlic) : Mineral mengandung As
b. Bituminous : Petrolium Products
c. Sulphurous (Telur Busuk): H2S (Belerang)
d. Argillaceous : Mineral Lempung
3. Feels (Rabaan):
a. Halus : Sepiolite
b. Berlemak : Talk
c. Kasar : Hampir semua mineral
d. Dingin : Corundum, Al2O3
e. Lengket di lidah : Mineral lempung

S. Warna Pijar (Serbuk) :


Bila serbuk mineral dibakar dalam Bunsens burner maka mineral tersebut akan memijar
dengan warna yang khusus
T. Fusibility :
Daya atau tingkat kemudahan melebur serbuk mineral

Mineralogi dan Petrologi

35

2.8 Mineral utama sebagai penyusun utama pembentuk batuan antara lain:
Mineral Mineral Pembentuk Batuan
( Reaksi Bowen )
Mineral pembentuk batuan adalah mineral-mineral yang menyusun suatu batuan dengan kata
lain batuan yang terdiri dari berbagai macam mineral. Ada juga terdapat batuan yang hanya
terdiri dari satu mineral saja, seperti Dunit yang hanya terdiri dari satu mineral yaitu
Olivine.Dalam proses pendinginan magma dimana magma itu tidak langsung semuanya
membeku, tetapi mengalami penurunan temperatur secara perlahan bahkan mungkin cepat.
Penurunan temperature ini disertai mulainya pembentukan dan pengendapan mineral-mineral
tertentu yang sesuai dengan temperaturnya. Pembentukan mineral dalam magma karena
penurunan temperatur telah disusun oleh Bowen (seri reaksi Bowen).

(sumber:www.anakgeo.co.id)
Sebelah kiri mewakili mineral-mineral mafik, yang pertama kali terbentuk dalam temperatur
sangat tinggi adalah Olivin. Akan tetapi jika magma tersebut jenuh oleh SiO2 maka Piroksenlah
yang terbentuk pertama kali. Olivin dan Piroksen merupakan pasangan Ingcongruent melting
dimana setelah pembentukan Olivin akan bereaksi dengan larutan sisa membentuk Piroksen.
Temperatur menurun terus dan pembentukan mineral berjalan sesuai dengan temperaturnya.
Mineral yang terakhir terbentuk adalah Biotit.
Mineral sebelah kanan diwakili oleh mineral kelompok Plagioklas (mineral felsik). Anorthit
adalah mineral yang pertama kali terbentuk pada suhu yang tinggi dan banyak terdapat pada
batuan beku basa seperti Gabro atau Basalt. Andesin terbentuk pada suhu menengah dan
terdapat pada batuan beku Diorit atau Andesit. Sedangkan mineral yang terbentuk pada suhu
Mineralogi dan Petrologi

36

rendah adalah Albit, mineral ini tersebar pada batuan asam seperti Granit dan Riolit. Reaksi
berubahnya komposisi Plagioklas ini merupakan deret Solid Solution yang merupakan reaksi
kontinyu, artinya kristalisasi Plagioklas Ca (Anortit) sampai Plagioklas Na (Albit) akan berjalan
terus jika reaksi setimbang.
Mineral sebelah kanan dan sebelah kiri bertemu pada mineral Potasium Feldspar (Orthoklas),
ke Muscovit dan terakhir Kwarsa, maka mineral kwarsa merupakan mineral yang paling stabil
diantara seluruh mineral mafik atau mineral felsik.
Sehingga dengan memperhatikan reaksi Bowen, kita memperoleh berbagai kemungkinan
himpunan mineral utama didalam batuan beku diantaranya:
1. Kelompok batuan Ultrabasa dan Basa, mineralnya antara lain:

Olivin

Olivin Plagioklas

Piroksen

Olivine Piroksen

Olivin Plagioklas - Piroksen

Piroksen Plagioklas
2. Kelompok batuan Intermediet, mineralnya antara lain:

Piroksen Horblende - Plagioklas

Hornblende Plagioklas

Hornblende Plagioklas Biotit Kwarsa


3. Kelompok batuan Asam, mineralnya antara lain:

Hornblende Plagioklas Biotit Orthoklas

Hornblende Plagioklas Biotit Muscovit

Muscovit Biotit Orthoklas


2.8.1

Kwarsa (Quartz), Mineral ini mempunyai susunan kimia dengan rumus SiO2 dan
terhitung mineral yang banyak sekali tersebar, warna asli tidak berwarna putih, tetapi
karena adanya pengotoran dari unsur lain sehingga berwarna lain, bentuk kristal
prismatic hexagonal, tidak mempunyai belahan, pecahannya: conchoidal, kekerasan: 7
(skala mohs). Ciri yang khas dari mineral ini, terdapat garis-garis mendatar pada sisi
bidang kristalnya. Mempunyai warna tersendiri, sering berwarna jernih atau putih
suram. Pengisian dari berbagai zat didalamnya, memberikan warna yang berbeda-beda,
ada yang berwarna kekuning-kuningan, ungu (amnetis), coklat dan lain-lain. Biasanya
tidak mempunyai bentuk yang baik, karena merupakan mineral yang menghablur
terakhir dari magma, sehingga terpaksa harus mengisi celah-celah dan rongga-rongga
sisi yang terdapat diantara kristal-kristal dari mineral yang telah terbentuk lebih dahulu.

2.8.2

Feldspar, merupakan golongan mineral yang paling umum dijumpai di dalam kulit
bumi sebagai Silikat dari Alumina dengan Kalium, Natrium, dan Kapur. Sistim

Mineralogi dan Petrologi

37

Monoklin/Triklin terlihat belahan dalam 2 arah. Kekerasan 6 Felspar dibagi atas 2


golongan, yaitu:
1. Potash Felspar (K Al Si3O8), terdiri dari mineral ortoklas, mikrolin dan sanidin
adularis. Warnanya putih, pucat atau merah daging, abu-abu. Kilat seperti kaca
(petreous). Bidang belahan baik, tidak ada striasi (garis-garis paralel yang lembut).
Ortoklas (KALSiO2), sebagai sumber utama unsur K (Kalium) dalam tanah, umumnya
berwarna abu-abu, kemerahan, belahan dua arah.
2. Plagioklas Feldspar (Na, Ca)Al Si3O8, warna putih atau abu-abu berwarna lain,
kilap pitreus. Bidang belahan baik kedua arah ada sitriasi. Mudah dibedakan dari
Ortoklas karena adanya kembaran yang dapat dilihat dibawah loupe, lebih-lebih di
bawah mikroskop. Sering berbentuk zona dan berubah menjadi Serisit, Kaolinit atau
Epidot.
Plagioklas felspar terdiri atas 6 macam mineral, yaitu:Albit, Oligoklas, Andesin,
Bitownit, Labradorit, dan Anorthit.
Makin ke bawah makin berkurang mengandung Na dan makin bertambah akan
mengandung Ca. Albit, Andesin disebut Plagioklas asam atau Na Plagioklas. Anortit,
Bitonit disebut Plagioklas basa atau Calcic Plagioklas. Plagioklas (Na, Ca) AlSi3O8
kenampakannya menyerupai Ortoklas, hanya warnya biasa putih abu-abu dan secara
optic Plagioklas mempunyai kembaran. Plagioklas terdiri dari mineral-mineral Albit,
Oligoklas, Andesine, Bitonit, Labradorit dan Anortit.
2.8.3

Feldspatoid, merupakan mineral pengganti Feldspar, karena terbentuk bila dalam suatu
batuan tidak cukup terdapat SiO2. Dalam batuan yang mengandung SiO2 bebas, mineral
ini tidak terbentuk, karena yang terbentuk adalah Felspar. Feldspatoid ini terdiri atas
beberapa mineral, antara lain: Leucit (K Al Si2O) sebagai pengganti orthoklas.
Warnanya putih agak jernih dan bentuknya aquant/bulat. Nephelin (Na Al Si2O6)
sebagai pengganti Plagioklas (Albit). Warna abu-abu. Bentuk berisi 6 atau bulat. Sodalit
warnanya putih, abu-abu atau kebiruan.

2.8.4

Mika (Glimmer)
Ada tiga macam, yaitu muscovit, biotit, dan phlogopit.
a. Muscovit, disebut juga mika putih. Rumus kimianya K Al (OH)2 (Al Si3 O10). Mudah
dikenal, karena sifatnya yang mudah dibelah-belah dalam helaian-helaian yang sangat
tipis, transparan dan fleksibel, tidak berwarna, abu-abu, kehijauan atau coklat muda,
kilap vitreum, kekerasan 2-3.
b. Biotit disebut juga Mika hitam, dengan rumus kimia K2 (Mg, Fe)2 (OH)2 AlSi3 O8.
Mudah terbelah dalam satu arah dan biasanya berbentuk segi enam, tidak transparan,
fleksibel. Warna: hitam hingga coklat tua, kilap vitrous, kekerasan 2,5 - 3.
c. Phlogopit disebut juga mika coklat. Tidak banyak dijumpai.

2.8.5

Amfibol

Mineralogi dan Petrologi

38

Terutama
terdiri
dari
mineral
Hornblende.
Susunan
Kimianya
Ca2(MgFeA1)3(OH)2(SiA14O11)2. Berbentuk prismatik, biasanya berisi kelipatan tiga,
agak panjang dengan belahan dua arah menyudut kira-kira 900. Merupakan kumpulan
mineral-mineral yang berbentuk prisma pendek berisi delapan. Warna : coklat tua
hingga hitam. Kekerasan 5 - 6. yang terpenting dari golongan ini adalah Hornblende.
2.8.6

Piroksen
Terutama terdiri dari mineral Augit. Berbentuk prismatik pendek berisi kelipatan
4 dengan belahan 2 arah menyudut. Merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang
berbentuk prisma pendek bersisi delapan. Striasi bersudut kira-kira 900. Pyroxen adalah
senyawa yang kompleks dari Calsium, Magnesium, Ferum, dan Silikat. Warna coklat tua
hingga hitam. Kekerasan 5 - 8. Mineral golongan ini antara lain : Enstatit, Hypersten,
Diopsid, dan yang paling banyak terdapat ialah Augit dengan rumus kimia Ca (MgFe)
(SiO3)2 (AlFe)2 O3.

2.8.7

Olivin
Biasanya berwarna hijau terdiri dari (FeMg)2SiO4. Pada umumnya terdapat
dalam batu Basalt dan Gabro. Olivin membentuk kristal yang ideal, karena terbentuk
pertama-tama dari magma. Warna hijau atau kuning kecoklatan. Biasanya berbutir halus
dan granular. Pecahan concoidal (seperti kerang).

2.8.8

Kalsit
Mineral ini berwarna putih, sering ada pengotoran, mempunyai belahan 3 arah
berbentuk Rombuder, susunan kimianya CaCO3.

2.8.9

Grafit
Mineral ini unsurnya Karbon (C) berwarna hitam, lunak, umumnya pada batuan
ubahan.
Contoh Pemisahan Mineral
a. Liquation Separation / Pemisahan pencairan
Pemisahan pencairan (liquation separation), adalah proses pemisahan
yang dilakukan dengan cara memanaskan mineral di atas titik leleh logam,
sehingga cairan logam akan terpisahkan dari pengotor.
Yang menjadi dasar untuk proses pemisahan metode ini, yaitu :

Density ( berat jenis )

Mineralogi dan Petrologi

39

Melting point ( titik cair )

b. Magnetic Separation / Pemisahan magnetik


Pemisahan magnetik (magnetic separation), adalah proses pemisahan
dengan dasar apabila mineral memiliki sifat feromagnetik. Teknik
pengejerjaannya adalah dengan mengalirkan serbuk mineral secara vertikal
terhadap medan magnet yang bergeraksecara horizontal. Dengan demikian
materi yang tidak tertarik magnet akan terpisahkan dari materi yang memiliki
sifat feromagnetik.
Metode ini dalam proses pengolahan emas biasanya dilakukan pada
primary concentrate / first concentrate / total concentrate yang banyak
mengandung mineral sulfida utamanya pyrite (FeS2). Setelah dioksidasi dengan
metode roasting, pyrite akan berubah menjadi FeO3 yang bersifat feromagnetik.
Dengan perubahan sifat FeO3 yang bersifat feromagnetik, total concentrate dapat
direduksi kuantitasnya dengan menggunakan MAGNETIC Separator sehingga
mempermudah proses metallurgy selanjutnya.
c. Froth Flotation / Pemisahan pengapungan
Pemisahan pengapungan (Froth Flotation) yaitu proses pemisahan
mineral menjadi bijih dari pengotor dengan cara mengapungkan bijih ke
permukaan melalui pengikatan dengan buih dengan menggunakan bahan kimia
tertentu dan udara. Selain pemisahan bijih emas, prosess ini banyak dipakai
untuk beberapa bijih seperti Cu, Pb, Zn, Ag, dan Ni.
Teknik pengerjaannya dilakukan dengan cara menghembuskan udara ke
dalam butiran mineral halus (telah mengalami proses crushing) yang dicampur
dengan air dan zat pembuih. Butiran mineral halus akan terbawa gelembung
udara ke permukaan, sehingga terpisahkan dengan materi pengotor (gangue)
yang tinggal dalam air (tertinggal pada bagian bawah tank penampung).
Pengikatan butiran bijih akan semakin efektif apabila ditambahkan suatu zat
collector.
CONTOH MACAM-MACAM MINERAL

Agate

Zirkon

Agate adalah mineral koloid, dalam mineralogi, agate termasuk kelas


Chalcedony.
Mineral zirkon terbentuk sebagai mineral asseccories pada batuan yang
mengandung Na-feldspar (pada batuan beku asam dan batuan

Mineralogi dan Petrologi

40

metamorf). Jenis cebakannya dapat berupa endapan primer atau endapan


sekunder.
Sifat kimia:
Mineral utama yang mengandung unsur zirkonium adalah zircon /
zirkonium silika (ZrO2.SiO2) dan baddeleyit / zirkonium oksida (ZrO2).
Kedua mineral ini dapat dijumpai dalam bentuk senyawa dengan
hafnium. Pada umumnya zirkon mengandung unsur besi, kalsium
sodium, mangan, dan unsur lainnya.
Sifat fisika:

Biotit

warna pada zirkon bervariasi, seperti putih bening hingga


kuning, kehijauan, coklat kemerahan, kuning kecoklatan, dan
gelap disebabkan karena mengandung unsur-unsur besi, kalsium
sodium, dll

system kristalnya
ditetragonal

kilapnya lilin sampai logam; belahannya sempurna sampai tidak


beraturan

kekerasannya 6,5 sampai 7,5

berat jenisnya 4,6 sampai 5,8

indeks refraksinya 1,92 sampai 2,19

monoklin,

prismatik,

dipiramida,

dan

hilang pijar 0,1%, dan titik lebur pada 2.500 C.


- Sifat Fisik : Warna putih, kekerasan 2,5 3 skala mohs, serat putih,
belahan 1 arah, bentuk lembaran, kilap kaca, dapat ditembus oleh
cahaya, densitas 2.7 3.3 g/cm3, berbentuk tabular dan rhombohedral.
Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting Al, K, H, O, S,
merupakan salah satu mineral anggota grup Alunite, mengandung sulfat,
rumus kimia KAl3[(OH)3[SO4]2.
Sifat Optik : Sifat optik pada mineral ini ditunjukkan dengan istem
Mineralogi dan Petrologi

41

kristal trigonal, termasuk dalam kelas diagonal pyramidal kilap kaca,


tidak mempunyai kembaran, optik ( = 1.570-1.63, = 1.61-1.7, =
1.61-1.7).
Lingkungan Pembentukan : mineral ini terubah dan terbentuk di
dalam batuan beku, seperti granit sampai gabro yang mengalami proses
metamorfisme, selain itu ditemukan pada berbagai pegmatite dan dalam
lava serta batuan metamorf.
4

Calcite

- Sifat Fisik : Secara megaskopis mineral ini berwarna putih,


kuning,dan merah, kekerasan 3 skala mohs, cerat putih, pecahan
uneven/irrengular, densitas 2.711 g/cm3 ,belahan 1 arah, kilap kaca,
dapat ditembus oleh cahaya.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting C, Ca, O, merupakan
anggota dari Calcite grup mineral, mengandung unsur karbonat, rumus
kimia CaCO3. Mineral ini kaya terhadap kandungan kalsium sehingga
dalam proses pelarutan dengan mineral asam ia sangat cepat beraksi.
- Sifat Optik : Sistem kristal trigonal, termasuk dalam kelas hexagonal
scalenohedral, optik n = 1.640 1.660 n = 1.486.
- Lingkungan Pembentukan : Terbentuk di laut, sebagai nodul dalam
batuan sedimen, selain itu juga bisa terbentuk pada urat-urat
hydrothermal sebagai mineral gang di dalam berbagai batuan beku.

Chlorite

- Sifat Fisik : Secara umum mineral ini berwarna hijau , kekerasan 2


2,5 skala mohs, kilap tanah/lilin, pecahan sub-conchoidal, densitas 2.6
3.3 g/cm3 , belahan 2 arah, tidak dapat ditembus oleh cahaya, cerat tidak
mempunyai warna, bentuk prismatik.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting Al, H, O, Si,
mengandung unsur silikat dan aluminum, rumus kimia Al2Si2O5(OH)4.
- Sifat Optik : Sistem kristal monoclinic, kelas kristal pedial,
pleokroisme lemah tidak tampak, mempunyai surface relief rendah,
optik ( = 1.570-1.66, = 1.57-1.67, = 1.57-1.67).
- Lingkungan Pembentukan : Terbentuk karena alterasi dari
metamorfosa tingkat rendah dan alterasi hidrotermal dari mineral besi,
magnesium silikat. Sebagian besar di temukan pada betuan beku
maupun metamorf.

Baryte

- Sifat Fisik : Secara umum warnanya tidak terlalu jauh beda dengan
apatit mineral ini tidak mempunyai warna (transparan sampai putih) :
dengan kekerasan 3 3,5 skala mohs, cerat putih atau kehijauan,
Mineralogi dan Petrologi

42

pecahan uneven/irrengular : densitas 4.47 g/cm3 , belahan 1 arah, kilap


kaca, dapat ditembus oleh cahaya.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting Ba, O, S, merupakan
anggota dari Baryte grup mineral. mengandung sulfat : rumus kimia
BaSO4.
- Sifat Optik : Sifat optik pada mineral ini ditunjukkan dengan sistem
kristal yang relatif orthorombik, termasuk dalam kelas dipyramidal,
pleokroisme tampak, optic n = 1.634 1.637 n = 1.636 1.638 n =
1.646 1.648
- Lingkungan Pembentukan : Ditemukan sebagai mineral gang di
dalam cebakan bijih logam yang terbentuk karena proses epithermal
atau mesothermal
7

Apatite

- Sifat Fisik : Mineral ini relatif berwarna transparan namun pada


beberapa tempat mineral ini berwarna agak putih, kekerasan 5 skala
mohs, cerat putih, pecahan uneven/irrengular dan conchoidal, densitas
3.1 3.25 g/cm3 , kilap kaca, dapat ditembus oleh cahaya.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang terkandung dalam apatit adalah
Ca, F, O, P, anggota dari mineral Apatite, mengandung fosfat, rumus
kimia Ca5[FI(PO4)3].
- Sifat Optik : Sifat optik pada mineral ini ditunjukkan dengan sistem
kristal hexagonal, termasuk dalam kelas dipyramidal, tampak adanya
pleokroisme, optik ( = 1.570, = 1.575, = 1.614).
- Lingkungan Pembentukan : Terbentuk pada daerah vulkanisme
sebagai mineral aksesori di dalam batuan beku yang terbentuk.

Anhydrite

- Sifat Fisik : Warna dominan pada mineral ini berwarna kebiruan,


dengan kekerasan 3 3,5 skala mohs, sedangkan cerat putih atau
kehijauan, pecahan uneven/irrengular, densitas 2.98(1) g/cm3 , belahan 1
arah, kilap kaca, dapat ditembus oleh cahaya.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting didalam mineral ini
adalahCa, O, S, merupakan struktur yang sama dengan Ferruccite,
mengandung sulfat, rumus kimia CaSO4.
- Sifat Optik : Mempunyai sistem kristal orthorombic, termasuk dalam
kelas dipyramidal, tidak mempunyai kembaran ketika dilihat melalui
pengamatan mikroskopik, optik ( = 1.570, = 1.575, = 1.614).
- Lingkungan Pembentukan : Terbentuk pada lingkungan laut yang
terbentuk karena proses evaporasi dari lapisan kubah garam. Mineral ini

Mineralogi dan Petrologi

43

hampir berbentuk seperti talk namun yang membedakan dengan mineral


kalsit adalah mineral ini tidak mempunyai belahan yang banyak pada
permukaannya.
9

Alunite

- Sifat Fisik : Warna putih, kekerasan 3,5 4 skala mohs, mudah


hancur, pecahan uneven/irrengular conchoidal, densitas 2.6 2.9 g/cm3 ,
dapat ditembus oleh cahaya, kilap tanah, belahan 1 arah, bentuk tabular.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting Al, K, H, O, S,
merupakan salah satu mineral anggota grup Alunite, mengandung sulfat,
rumus kimia KAl3[(OH)3[SO4]2.
- Sifat Optik : Dilihat dari sifat optik pada mineral ini mineral ini
mempunyai Sistem kristal trigonal, termasuk dalam kelas diagonal
pyramidal kilap kaca, kembaran parallel seperti carlsbad, optik ( =
1.572, = 1.592).
- Lingkungan Pembentukan : Mineral ini terbentuk atau terubah pada
lingkungan vulkanik yaitu dibentuk oleh alterasi hidorthermal dari
batuan vulkanik asam dan menegah yang dikontrol oleh fluida
hidrothermal tersebut.

10

Albite

11

Actinolite

- Sifat Fisik :Mineral ini mempunyai Kilap kaca, dimana bentuknya


transparan (Tembus cahaya), dengan warna dominan: putih, kebirubiruan, abu-abu, merah muda, dll. Gores putih. Skala kekerasan (Mohs):
6 -6, belahan sempurna di [001], baik di [010], tak sempurna di {110},
pecahan Irregular/Uneven, conchoidal. Densitas (yang di/terukur): 2.6
-2.65 g/cm3, densitas (yang dihitung): 2615(6) g/cm3.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting Na, Al, O, Si, merupakan
salah satu mineral anggota grup Feldspar, mengandung silika dan
aluminum, rumus kimia Na(AlSi3O8).
- Sifat Optik : Sistem kristal triclinic, termasuk dalam kelas pinacoidal,
kembaran polysintethic, optik ( = 1.525, = 1.529, = 1.536).
- Lingkungan Pembentukan : Pada daerah vulkanik, tepatnya pada
daerah hidrotermal sebagai urat dan genesanya yaitu hasil dari
metasomatisma sodium.
- Sifat Fisik : Sifat fisik dari mineral ini ditunjukkan dengan warna
hijau sampai hijau kehitaman, Hal ini dikarenakan komposisi kimia
yang terkandung pada mineral ini, densitas pada mineral ini sebesar 3.03
3.24 g/cm3 kekerasan mineral ini adalah 5 6 skala mohs, dengan
cerat berwarna agak putih terang, , kilap mineral ini termasuk kilap
kaca sampai sutera, Karena komposisi serta tekstur dan sistem mineral
Mineralogi dan Petrologi

44

12

13

pada mineral maka mineral ini dapat ditembus oleh cahaya hal itu
sejalan dengan partikel paretikel pembentuk mineral ini yang mudah
dilalui oleh cahaya, Relief permukaan sedang/lembut.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting Ca, H, Mg, O, Si,
merupakan salah satu mineral anggota Amphibole, rumus kimia
Ca2(Mg, Fe2+)5(Si8O22)(OH)2.
- Sifat Optik : Sistem kristal monoklin, kelas kristal prismatic,
kembaran berbentuk parallel, optik ( = 14.56-1.63, = 1.61-1.65, =
1.63-1.66).
- Lingkungan Pembentukan Mineral : ingkungan terbentuk pada
daerah metamorfosa dan terbentuk di dalam sekis kristalin dimana
Temperatur suhu sangat berpengaruh dalam pembentukan mineral ini.
Andalusite - Sifat Fisik : Mineral ini secara dominan mempunyai warna
kemerahan/cokelat, sedangkan kekerasan 6,5 7,5 skala mohs, mudah
hancur, kilap kaca, dapat ditembus oleh cahaya, belahan 1 arah,
pecahan uneven/irrengular, conchoidal, densitas 3.13 3.16 g/cm3,
bentuk tabular.
- Sifat Kimia : Komposisi kimia yang penting Al, O, Si, merupakan
salah satu mineral anggota grup Silimanite, Andalusite Kaoninite
series, mengandung silikat aluminum, rumus kimia Al2[OlSiO4].
- Sifat Optik : Sistem kristal orthorombic, termasuk dalam kelas
dipyramidal, tidak mempunyai kembaran, berbentuk euhedral dan
seperti kolom, optik ( = 1.632, = 1.638, = 1.634).
- Lingkungan Pembentukan : Lingkungan terbentuk pada daerah
metamorfosa kontak dan metamorfosa regional yang terbentuk oleh
proses metamorfosa dari batuan serpih aluminium, sehingga terlihat
bentukan bentukan penjajaran mineral pada batuan yang terdapat
mineral ini dan sering berasosiasi dengan kuarsa.
http://anekabatupermata.wordpress.com/
Seng

- Sifat Fisika: berwarna putih kebiruan, berkilau, dan bersifat


diamagnetik. Seng sedikit kurang padat daripada besi dan berstruktur
kristal heksagonal. Kekerasan mosh 2,5. Dapat ditempa antara 100 150 C. Di atas 210 C, logam ini kembali menjadi rapuh dan dapat
dihancurkan menjadi bubuk dengan memukul-mukulnya. Seng juga
mampu menghantarkan listrik. seng memiliki titik lebur (420 C) dan
tidik didih (900 C) yang relatif rendah. Densitas seng 6.57 g/cm3.
- Sifat Kimia
- Sifat Optik
Mineralogi dan Petrologi

45

- Lingkungan Pembentukan

BAB II
PETROLOGI
Petrologi berasal dari kata petra yang artinya batu dan logos artinya ilmu. Jadi, petrologi adalah
ilmu yang mempelajari tentang batuan serta proses pembentukan batuan, termasuk bahasan tentang
tekstur., struktur, komposisi mineral, kandungan fossil, umur dan evolusi yang terjadi terhadap batuan
tersebut.
Batuan adalah agregat satu atau beberapa mineral atau mineraloid terjadi secara alamiah dan
menyusun lapisan kulit bumi.

3.1 Struktur Lapisan Kulit Bumi


Lithosphere - Tebal sekitar 100 km (dibawah kerak benua lebih dari 200 km, dan lebih tipis
dibawah punggung samudra dan rift valleys, sangat brittle, mudah pecah pada tekanan
rendah. Catatan: litosfera dibentuk oleh gabungan kerak dan bagian dari mantle. Lempeng
kerakbumi adalah litosfera yang terapung didasari oleh astenosfer. The asthenosphere (from

Mineralogi dan Petrologi

46

Astenosfera

tebal sekitar 250 km,

padat tetapi lembek dan mudah

bergerak (ductile). Bagian atas astenosfera disebut sebagai


Low Velocity Zone/ LVZ, karena kecepatan kedua
gelombang P dan S wave lebih rendah daripada litosfera
diatasnya. Tetapi kecepatan, baik P- ataupun S- wave,
tidak

menjadi nol, maka LVZ tidak sepenuhnya

likuid.

Mesofer tebal sekitar 2500 km, padat, tetapi


dapat bergerak mengalir.

OuterCore tebal 2250 km, likuid, Kita tahu tentang


ini karena kecepatan gelombang S , nol di core luar.

Bila Vs = 0, ini

menyatakan bahwa m = 0, dan ini juga menyatakan bahwa

bahan2 tersebut dalam keadaan likuid.

Inner Core 1230 km, solid

3.2 Penyebaran Batuan Lateral:

66% batuan sedimen


34% batuan beku dan metamorf

3.3 Volume batuan pengisi Bumi :

5% batuan sedimen
95% batuan beku dan metamorf

3.4 Pengenlompokan Batuan


Batuan pada umumnya dapat dikelompokan menjadi:

Batuan Beku (Ignesius Rock)


Batuan yang terbentuk akibat pembekuan magma maupun proses kristaliasasi, tebentuk baik
secara intrusive maupun ekstrusif.
Batuan Sedimen (Sedimentary Rock)

Mineralogi dan Petrologi

47

Batuan yang terbentuk akibat proses litifikasi bahan rombakan batuan hasil denudasi atau hasil
reaksi kimia (Petti John, 1964)
Batuan Metamorf (Metmaorphic Rock)
Batuan yang terbentuk akibat adanya tekanan dan temperature yang tingi, biasanya terbentuk
dari batuan beku, batuan sedimen, maupun batuan metamorf itu sendiri

3.5 Siklus batuan

ENDOGEN

Mineralogi dan Petrologi

48

Siklus batuan menggambarkan seluruh proses yang dengannya batuan dibentuk, dimodifikasi,
ditransportasikan, mengalami dekomposisi, dan dibentuk kembali sebagai hasil dari proses internal dan
eksternal Bumi. Siklus batuan ini berjalan secara kontinyu atau berulang dan tidak pernah berakhir.
Siklus ini adalah fenomena yang terjadi di kerak benua (geosfer) yang berinteraksi dengan atmosfer,
hidrosfer, dan biosfer dan digerakkan oleh energi panas internal atau energi panas dari dalam Bumi dan
energi panas yang datang dari Matahari.
Kerak bumi yang tersingkap ke udara akan mengalami pelapukan dan mengalami transformasi
menjadi regolit melalui proses yang melibatkan atmosfer, hidrosfer dan biosfer. Selanjutnya, proses
erosi mentansportasikan regolit dan kemudian mengendapkannya sebagai sedimen. Setelah mengalami
deposisi, sedimen tertimbun dan mengalami kompaksi dan kemudian menjadi batuan sedimen.
Kemudian, proses-proses tektonik yang menggerakkan lempeng dan pengangkatan kerak Bumi
menyebabkan batuan sedimen mengalami deformasi. Penimbunan yang lebih dalam membuat batuan
sedimen menjadi batuan metamorik, dan penimbunan yang lebih dalam lagi membuat batuan
metamorfik meleleh membentuk magma yang dari magma ini kemudian terbentuk batuan beku yang
baru. Pada berbagai tahap siklus batuan ini, tektonik dapat mengangkat kerak bumi dan
menyingkapkan batuan sehingga batuan tersebut mengalami pelapukan dan erosi. Dengan demikian,
siklus batuan ini akan terus berlanjut tanpa henti.

3.6 SYMBOL BATUAN

Mineralogi dan Petrologi

49

3.7 RING OF FIRE

Ring of Fire (Cincin Api) adalah zona dimana terdapat banyak aktifitas seismik.
Indonesia terletak diantara Cincin Api dan Sabuk Alpide yang membentang dari Nusa Tenggara, Bali,
Jawa, Sumatra, terus ke Himalaya, Mediterania dan berujung di Samudra Atlantik. Inilah sebabnya di
Indonesia DISEBUT RING OF FIRE KARENA banyak gunung berapi aktif. Gunung-gunung berapi di
Indonesia termasuk yang paling aktif dalam jajaran gunung berapi pada Ring of Fire. Kebanyakan
daratan yang dilewati RING OF FIRE adalah daratan yang berbatasan langsung dengan laut dan
memiliki gunung api yang masih aktif.

Sekitar 12 lokasi di Indonesia termasuk dalam kawasan Cincin Api Pasifik (RING OF FIRE). Mereka
adalah:

Gunung Tambora (Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat)

Toba-Sibayak-Sinabung-Tarutung (Gunung api dan sesar tektonik di Sumatera Utara)

Mineralogi dan Petrologi

50

Gunung Krakatau (Gunung api bawah laut di Selat Sunda)

Gunung Agung-Batur-Rinjani (Bali, Lombok)

Gunung Semeru-Penanggungan-Bromo-Ijen-Kelud (Jawa Timur)

Gunung Merapi-Merbabu-Lawu-Sindoro-Sumbing-Dieng (Jawa Tengah)

Gunung Tangkuban Perahu-Salak-Papandayan-Galunggung (Jawa Barat)

Gunung Kerinci-Dempo-Sorik Merapi (Sumatera)

Gunung Rokatenda-Egon-Lewo-Tobi-Ende-Larantuka (Nusa Tenggara Timur)

Sangihe-Ambon-Ibu-Saputan (Kepulauan Ambon)

Liwang-Padang-Aceh-Palu (Sesar Darat)

Mentawai-Nias-Simeulue (Pulau di batas benua)

MANFAAT RING OF FIRE :


1. Indonesia salah satu zona ring of fire, Indonesia memiliki banyak sekali potensi sumberdaya yaitu
geothermal panas bumi . Indonesia salah satu sumberdaya energy terbesar di dunia.
2. Terdapatnya mineral mineral baru yang terdapat di permukaan
3. Terdapatnya area seperti adanya belerang sulfur dan banyak lainya
4. Area panas bumi ini salah satu energi yang terbaharukan yang dapat di jdikan energy panas listrik
yang maha dahsyat

Mineralogi dan Petrologi

51

3.8 RUANG LINGKUP ILMU PETROLOGI DALAM PERTAMBANGA

BAB III
BATUAN BEKU
Batuan beku merupakan mineral hasil pembekuan lava dan magma yang berupa silica pijar
dengan temperaturnya (>1000C ) lalu membeku pada temperature yang lebih rendah dari temperatur
silica pijar tersebut atau Batuan hasil proses pembekuan dari bahan lelehan atau sebagian leleh,
yangdikenal sebagai magma.Magma merupakan batu-batuan cair yang terletak di dalam kamar
magma di bawah permukaan bumi. Magma di bumi merupakan larutansilika bersuhu tinggi yang
kompleks dan merupakan asal semua batuan beku. Magma berada dalam tekanan tinggi dan kadang
kala memancut keluar melalui pembukaan gunung berapi dalam bentuk aliran lava atau letusan gunung
berapi.

3.1 Pembentukan Magma

Mineralogi dan Petrologi

52

Magmadibentuk oleh proses pelelehan sebagian(partial melting) kulit bumi oleh liquid yang
berasal dari lapisan mantle. Sekali partial melt terbentuk, lelehan (magma) tersebut dengan
mudah dapat terpisah dari sisa padatan, karena sifatnya yang mobil dan biasanya mempunyai densitas
yang lebih rendah dari padatan.
Bila batuan meleleh volumenya berubah;gelembung2 lelehan akan menempati ruang antar butir
padatan dan menyatukan sehingga

batuan menjadi lembek. Didalam bumi, walaupun dengan

tekanan yang sangat kecil, batuan yang sudah meleleh dan lembek ini akan terperas dan memisah dari
sumber asalnya. Proses pelelehan ini dapat berlangsung cukup lama sehingga menghasilkan sebanyak
20% bahkan 35% lelehan dari padatan asal, tetapi jarang mencapai lebih dari 50%.

3.2 Komposisi Kimia Magma


Magma yaitu campuran mineral silikat, gas dan air yang membentuk solution dalam keadaan
panas dan liat yang terdapat di dalam kulit bumi. KomPposisi utama magma (99% dibentuk oleh 10
unsur utama), yaitu : silicon (Si), Titanium (TI), Alumunium (Al), Iron (Fe), magnesium (Mg), Calcium
(Ca), Sodium (Na),Pottasium (K), Hydrogen (H), dan Oxygen (O). sedangkan lava adalah mgma yang
mencapai dan mengalir di permukaan.

Delapan unsur pertama dalam bentuk kation positip, dengan muatan berkisar sekitar +1

sampai +4. Unsur terakhir oksigen, ada dalam bentuk anion negatif, berharga -2.
Silikon dengan muatan +4 berikatan dengan dua ion oksigen membentuk sebuah molekul

dengan rumus kimia SiO2


Magnesium dengan muatan +2, berikatan dengan ion oksigen tunggal membentuk molekul

dengan rumus kimia MgO


Ion tunggal Al dengan muatan +3, tidak bisa berikatan dengan ion oksigen tunggal ,
membangun molekul netral . Selain itu, dua ion Aluminum berikatan dengan tiga ion oksigen
menghasilkan ikatan kompleks dengan rumus AL2O3

3.3 Tingkat pembekuan magma :


1.
2.
3.
4.

Orthomagmatik : >800C
Pegmatitik
: 600-800C
Pneumatolitik
: 400-800C
Hydrothermal
: 100-400C

Mineralogi dan Petrologi

53

Silika pijar
Batuan beku
( Asam - Intermediet - Basa Ultrabasa )
Batuan Plutonik

Batuan Hipabisal

Batuan Vulkanik

(Intrusif
/
hasil
intrusive dalam)

(hasil
dangkal)

(Ekstrusif
/
pembekuan
permukaan)

Ultramafik
(peridotit)
Ultrabasa
gabro

intrusive

Basa (diabas)
Intermediet
(andesit)

hasil
di

Effusive (lava,
basalt, andesit,
dasit,
dan
riolit).

Mineral dalam batuan beku :


1. Mineral utama; hasil kristalisasi langsung dari magma (>10% menentukkan nama batuan).
2. Mineral tambahan; hasil kristalisasi langsung magma tetapi kehadirannya tidak mempengaruhi
nama batuan.
3. Mineral sekunder; hasil pelapukan dan ubahan dari mineral primer (utama dan tambahan).

3.4 Evolusi magmatic


Evolusi magmatic adalah magma asal yang dalam proses pembentukannya masih secara normal
(perlahan-lahan) yang secara mekanismenya mengalami :
Diferensiasi yaitu proses pemisahan beberapa fraksi dengan komposisi berbeda dan berasal dari magma
yang homogen. Tiga Mekanisme Evolusi Magma:
1. Deferensiasi : - Gravitasi: Seri Bowen
- Gas Transfer: Hilangnya GAS
2. Assimilasi yaitu pembaruan antara magma yang menerobos dengan batuan sampingnya
sehingga terjadi perubahan komposisi magma. Batuan yang relative lebih asam distrusi magma
yang relative basa akan terjadi proses assimilasi, sedangkan sebaliknya hanya menghasilkan
xenolith dan backing effect saja.
Mineralogi dan Petrologi

54

3. Magma Mixing
Pencampuran antara dua magma berbeda komposisi kimia, menghasilkan campuran baru
dengan komposisi yang berbeda dengan komposisi awal nya masing-masing.
Assimilasi adalah Pengaruh lingkungan yang diterobos

Magma Mixing adalah Campuran magma yang berbeda.

Mineralogi dan Petrologi

55

3.5 Klasifikasi batuan beku berdasarkan genetik (Tempat terjadinya)


Di alam terdapat batuan piroklastik yang secara genetic lebih dekat dengan batuan beku namun
secara deskribtif lebih dekat dengan batuan sedimen.
Siklus pembentukan batuan menurut Sukendar Asikin, 1979:
Batuan beku hasil pembekuan lava dipermukaan bumi baik didarat maupun dibawah permukaan
laut. Batuan ini mempunyai ukuran Kristal yang harus sampai glassy, karena hasil pembekuan yang
cepat disebuah batuan ekstrusif atau batuan vulkanik. Batuan beku hasil pembekuan dibawah
permukaan dimana sifatnya batuan ini menerobos batuan yang sebelumnya telah terbentuk disebut
batuan intrusi atau batuan plutonik. Berdasarkan prinsip penerobosannya dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1. Intrusive adalah Magma yang membeku di bawah permukaan bumi
1.1 Diskordan
Contoh : Batholith, Stock, Dike dan Jenjang Vulkanik atau Volcanic Neck.
1.2 Konkordan
Contoh : Sill, lakolith dan lokolith
2. Ekstrusif adalah Magma yang membeku di permukaan bumi.
Contoh : Lava, Lava pahoehoe, Aa lava, dan Pillow lava.

3.6 Pengelompokan Mineral Batuan Beku


Batuan beku disusun oleh senyawa-senyawa kimia yang membentuk mineral dan mineral
menyusun batuan beku. Salah satu klasifikasi batuan beku dari kimia adalah dari senyawa oksidasi
seperti:SiO2, TiO2, Al2O3 , FeO, MnO, MgO, CaO, Na2O, K2O, H2O dan P2O5
Dari presentase setiap senyawa kimia dapat mencerminkan beberapa lingkungan pembentuk
mineral. Pembagian batuan beku berdasarkan kandungan silikanya (SiO2).
Nama Batuan
Batuan Beku Asam
Batuan Beku Intermediet
Batuan Beku Basa
Batuan Beku Ultra Basa

Kandungan Silika
> 66%
52% - 66%
45% - 52%
<45%

Menurut Walker T. Huang ( 1962 ), komposisi mineral dikelompokkan menjadi tiga kelompok
mineral, yaitu :

Mineralogi dan Petrologi

56

1. Mineral utama
Mineral mineral terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan kehadiran nya sangat menentukan
dalam penamaan batuan. Berdasarkan warna dan densitas dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a.

Mineral felsik ( warna terang, densitas 2,5-2,7 ), yaitu :

Kuarsa (SiO2)
Kelompok feldspar, terdiri dari seri feldspar alkali ( K, Na ) AISi3O8 dan seri plagioklas. Seri
feldspar alkali terdiri dari sanidin, ortoklas, Anhortoklas, adularia, dan mikrolin. Seri plagioklas

terdiri dari albit, aligoklas, andesine labradorit, bwonit, dan anortit.


Kelompok feldspartoid ( Na, K Alumina Silika ), terdiri dari nefelin, sodalit,leusit.
Kelompok feldspatoid ( Na, K Alumina Silika), terdiri dari nefelin, sodalit, leusit.

b. Mineral Mafik ( warna gelap, densitas 3 -3,6 ), yaitu :

Kelompok olivine, terdiri dari fayalite dan forsterite.


Kelompok piroksen, terdiri dari enstite, hiperstein, augit, pigeonit diopsid.
Kelompok mika, terdiri dari biotitic, muscovit, plogopit.
Kelompok amphibole, terdiri dari anthofilit, cumingtonit, hornblende, rieberkit,tremolit,
aktinolit, glaukofan, dll.
2.Mineral Sekunder

Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat daril hasil pelapukan, hydrothermal
maupun methamotfisme terhadap mineral-mineral utama. Dengan demikian mineral-mineral ini tidak
ada hubungannya dengan pembekuan magma ( non pirogenetik ). Mineral sekunder terdiri dari:
1

Kelompok kalsit ( kalsit, dolomit, magnesit, siderite ) ; dapat terbentuk dari hasil ubahan
mineral plagioklas.

Kelompok serpentin ( antigorit dan krisotil ) : umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral
plagioklas.

Kelompok serisit sebagai ubahan mineral plagioklas.

Kelompok kaolin ( kaolin, hallosyte ) : umumnya ditemukan sebagai hasil pelapukan batuan
beku.
3. Mineral tambahan ( accessory Mineral )

Merupakan mineral-mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma, umumnya dalam jumlah sedikit,
apabila hadir dalam jumlah cukup banyak, tetap tidak mempengaruhi penanaman batuan, tetapi hal ini
Mineralogi dan Petrologi

57

bisa mempunyai nilai ekonomis, termasuk dalam golongan ini antara lain : Hematite, Kromit,
Muscovit, Rutile, Magnetit, Zeolit, Apatit, dll.

3.7 Berdasarkan kesamaan waktu terjadinya :


1. Mineral primer (terbentuk bersamaan dengan batuan)
2. Mineral sekunder (terbentuk setelah batuan)

3.8 Macam-macam Proses Altrasi (pembentukan sekunder mineral):

Kaolinisasi/Argilitisasi
: Feldspar menjadi argilit /kaolin atau mineral lempung yang lain.
Kloritisasi
: Mineral Feromagnisian menjadi klorit
Uralitisasi
: Replesmen mineral pyroksen oleh ampibol
Sausoritisasi
: Plagioklas menjadi sausurit
Serpentinisasi
: Olivin menjadi pyroksen
Silisifikasi
: Proses yang mengakibatkan impreknasi dan replesmen oleh silika
Propilitisasi
: Alterasi mineral feromagnesian menjadi klorit,kalsit,serpentin,dan
mineral opak

3.9 Fungsi hydrothermal


1.
2.
3.
4.

Alat transportasi bagi unsur-unsur kimia , dapat merembes keluar sehingga merubah batuan.
Masuk dalam struktur mineral sehingga membentuk hydroksil (biotit, klorit, hornblende).
Membentuk fasa tersendiri (urat-urat mineral atau batuan).
Membentuk mineral sekunder atau proses altrasi :
a. Kaolinisasi
: Feldspar menjadi argilit/ kaolin/ mineral lempung lain.
b. Kloritisasi
: Mineral feromagnisian menjadi klorit.
c. Uralitisasi
: Replesmen mineral pyroksen oleh ampibol.
d. Sausoritisasi
: Plagioklas menjadi sausurit.
e. Serpentinisasi
: Olivin menjadi Pyroksen.
f. Silifikasi
:Proses yang mengakibatkan impreknasi dan replesmen oleh silica.
g. Propilitisasi
:Alterasi mineral ferromagnesian menjadi klorit, kalsit, serpentin, dan
mineral opak.

3.10 Struktur Batuan Beku

Mineralogi dan Petrologi

58

Struktur

batuan

beku

adalah

bentuk batuan beku

dalam

skala

besar atau berupa

refleksi

dari

proses genesa batuan

beku

yang

berukuran besar, dapat dilihat dengan mata dan mudah dikenali dilapangan.
1

Discordant,memotong struktur batuan yang diterobosnya.

Concordant, sejajar /tidak memotong struktur batuan yang ditrobos.

Contoh struktur batuan beku intrusi :


1. Batholith : pluton berukuran besar dengan kemiringan bidang kontak yang curam. Dasarnya
tidak diketahui. Ukuran dapat mencapai beberapa ribu km. Bersoisasi dengan geosinklin.
2. Vesikuler: struktur batuan beku yang ditandai dengan lubang gas dengan arah teratur
3. Skoria: seperti vesikuler tetapi tidak menunjukkan arah yang teratur
4. Amigdalodal: struktur dimana lubang-lubang keluarnya gas terisi oleh mineral-mineral
sekunder seperti zeolite, karboat, dan silica
5. Xeolith: struktur yang memperlihatkan ada fragmen batuan yang masuk atau tertanam kedalam
batuan beku. Struktur ini terbentuk sebagai akibat peleburan tidak sempurna dari batuan
samping didalam magma yang menerobos
6. Masif: apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran atau jejak gas atau tidak menunjukkan
adanya fragmen batuan lain yang tertanam dalam tubuhnya
7. Autobrecia: struktur yang telibat pada lava yang memperlihatkan fragmen-fragmen dari lava
itu sendiri
Contoh struktur batuan beku ekstrusi :

Mineralogi dan Petrologi

59

1.

Pillow Structure: struktur yang ditandai dengan masa bentuk bantal khas
pada batuan ekstrusi bawah laut.
2.
Lava flows : biasanya dibentuk oleh basaltic magma, sedikit dari
intermediate.
3.

Pahoehoe glassy : permukaan seperti lipatan kain (gelombang

lipatan),memanjang seperti tali (ropy), dibagian dalam halus.


Aa lavas kasar : dipermukaan banyak bekas lubang gas, pecah2
sementara bagian dalam padat.
5.
Block lavas: permukaannya irregular, magma sangat kental yang
mengalir cepat sehingga pecah menjadi block.
6.
Pillow lavas :lava bantal terbentuk didalam air (dilaut), magma basaltic
intermediate
4.

Contoh struktur batuan beku Hypabisal :


1. Sills: konkordan, sejajar dengan struktur foliasi atau perlapisan batuan sedimen yang
diintrusinya. Ukurannya tipis, sheetlike form, biasanya dibentuk oleh magma encer,
basaltic,bisa single ataupun multiple.
2. Dikes & veins : diskordan, ukuran tipis membentuk urat atau gang.
3. Lakolith:konkordan, mushroom shape.diameter dapat berkisar antara 1 - 8 km dg tebal sekitar
1000 m. Dibentuk oleh batu beku asam intermediate.
4. Lapolith : umum konkordan, menyebar luas,lentikular, bagian tengah tenggelam/lebih rendah,
diameter dpt mencapai ratusan km. Dibentuk oleh batuan beku mafic ultramafic.
5. Phacolith : konkordan, berasosiasi denga batuan sedimen yang terlipat lipat.bila dlm antiklin,
bt.beku cembung keatas dan dalam sinklin batuan bekunya cekung diatas.

Struktur Lain:

Mineralogi dan Petrologi

60

Struktur Tiang (Collumnar joint)

Struktur Lembaran (Sheetting Joint)

3.11 Teksture Batuan Beku


Tekstur dalam batuan beku merupakan hubungan antar mineral atau mineral dengan massa
gelas yang membentuk massa merata pada batuan. Selama pembentukan tekstur dipengaruhi oleh
kecepatan dan stadia kristalisasi. Yang kedua tergantung pada suhu, komposisi kandungan gas,
kekentalan magma dan tekanan. Dengan demikian tekstur merupakan fungsi dari sejarah pembentukan
batuan beku. Tekstur batuan beku dapat menunjukkan derajat kristalisasi (degree of crystallinity),
kemas (fabric), granularitas.
1. Derajat kristalisasi, jika terdiri dari Kristal semua disebut holokristalin, jika terdiri dari
sebagian Kristal dan sebagian gelas disebut hypokristalin atau merokristalin dan apabila
terdiri dari semua gelas disebut dengan holohyalin
Holokristalin
: Apabila batuan tersusun oleh seluruh massa Kristal.
Holohyalin
: Apabila batuan tersusun oleh seluruh massa gelas.
Hypokristalin
: Apabila batuan tersusun oleh massa Kristal dan gelas.
2. Granularitas adalah ukuran Kristal, apabila kristalnya sangat halus disebut dengan afanitik dan
apabila kristalnya dapat diamati dengan mata disebut dengan fanerik dan apabila terdiri dari
masa gelas semuanya disebut dengan glassy. Umumnya dikenal 2 kelompok ukuran butir, yaitu:
Afanitik
Dikatakan afanitik apabila ukuran butir individu Kristal sangat halus, sehingga tidak
dapat dibedakan dengan mata telanjang. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun
atas

massa

Kristal,

massa

gelas

atau

keduanya.

Selain

itu

dikenal

pula

istilah mikrokristalin dan kriptokristalin. Disebut mikrokristalin apabila Kristal individu


dapat dikenal dengan mikroskop, sedangkan dikatakankriptokristalin apabila tidak dapat

dikenal dengan menggunakan mikroskop.


Fanerik
Kristal individu yang termasuk Kristal fanerik dibedakan menjadi:
a. Halus, ukuran diameter rata-rata Kristal individu < 1 mm.
b. Sedang, ukuran diameter Kristal 1 mm 5 mm.
c. Kasar, ukuran diameter Kristal 5 mm 30 mm.

Mineralogi dan Petrologi

61

d. Sangat

kasar,

ukuran

diameter

Kristal

>

30

mm.

3. FABRIK, Bentuk Kristal apabila mineral dibatasi bidang Kristal yang sempurna disebut
Euhedral dan apabila dibatasi sebagian Kristal yang tidak sempurna disebut dengan
Anhedral.
Ditinjau dari pandangan dua dimensi, dikenal tiga macam:

Euhedral: Apabila bentuk Kristal dan butiran mineral mempunyai bidang Kristal yang

sempurna.
Subhedral: apabila bentuk Kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang

Kristal yang sempurna.


Anhedral: Apabila bentuk Kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang
Kristal yang tidak sempurna.

4. Hubungan antara Kristal/relasi adalah keseragaman ukuran Kristal dalam batuan.


Relasi merupakan hubungan antara Kristal satu dengan yang lain dalam suatu batuan dari
ukuran dikenal:
a. Equigranular, apabila mineral mempunya ukuran butir yang relative seragam terdiri dari:
Panidioformik granular, yaitu sebagian besar mineral berukuran seragam dan
euhedral

Mineralogi dan Petrologi

62

Hipiodiomorfik gb granular, yaitu sebagian besar mineral nya berukuran relative

seragam dan anhedral


Allotiomorfik granular, yaitu sebagian besar mineral nya berukuran relative

seragam dan anhedral


b. Inequigranular, apabila mineralnya mempunyai ukuran butir tidak sama, antara lain
terdiri dari :
Porfiritik, adalah tekstur batuan dimana Kristal besar(fenoriks) tertanam dalam
massa dasar yang lebih halus

Vitroverik,
apabila fenoriks
tertanam dalam
massa

dasar

berupa gelas
Tekstur batuan beku

ditentukan oleh

sejarah

magma

kristalisasi

pembekuan

kristal

atau

yang

dipengaruhi oleh :
a.
b.
c.
d.
e.

Komposisi magma asal.


Kekentalan larutan, dapat memperlambat kristalisasi.
Adanya gas/volatil, dapat mengurangi kekentalan.
Temperatur, dingin akan cepat membeku.
Tekanan pembekuan.

Tekstur lain-lainnya:
-

Vesicular :Dijumpai lobang-lobang akibat adanya keluarnya gas kepermukaan.


Amygdular : Dijumpai lobang-lobang gas yang terisi mineral lain (misal; kalsit, kuarsa)
Pumiceous :Dijumpai lobang lobang gas yang sangat banyak yang diakibatkan hasil
pembekuan buih didalam air

- GLASSY :terdiri dari mineral glass

3.12 Klasifikasi Kimia Batuan Beku:

Mineralogi dan Petrologi

63

Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks warna.
Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda meskipun dalam jenis batuan yang
sama, menurut dasar klasifikasinya.
1

Menurut Rosenbusch (1877-1976)


a) Klasifikasi Berdasarkan Terjadinya :
Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan.
Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.
Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi. Oleh W.T. Huang (1962),
jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik.
b) Klasifikasi Kandungan Mineral, Kandungan Silika dan Tekstur :
Tabel rosenbusch digunakan dalam melakukan pendeterminasian batuan beku. Tabel Rosenbusch
berisi tentang komposisi mineral pada batuan beku yang kemudian dihubungkan dengan tekstur
pada batuan beku. Dengan mencocokan takstur batuan dan mineral penyusun batuan yang sedang
diuji dengan data-data yang terdapat pada tabel rosenbusch maka kita dapat dengan mudah
mendeterminasikan batuan beku.

Menurut Hamblin

Mineralogi dan Petrologi

64

Tabel hamblin ini tidak jauh berbeda dengan tabel rosenbusch karena sama-sama berdasarkan
komposisi mineral dan tekstur batuan, bedanya adalah pada tabel hamblin tekstur batuan kurang
spesifik karena hanya berdasarkan ukuran butir sedangkan tabel rosenbusch berdasarkan ukuran
butir, derajat kristalisasi dan keseragaman butir.
Adapun tekstur batuan beku pada tabel hamblin ini adalah sebagai berikut :
a) Faneritik, pada tekstur ini terdapat kristal besar yang dapat dilihat dengan mata telanjang.
b) Porfiritik-faneritik tekstur, tekstur ini dikarakteriskan oleh 2 kristal, yang keduanya bisa
dilihat dengan mata telanjang.
c) Afanitik, pada tekstur ini kristal-kristalnya sangat kecil sehingga tidak bisa dideteksi tanpa
bantuan mikroskop.
d) Porfiritik-afanitik, tekstur ini adalah salah satu yang mana fenokris berkumpul dalam
matriks afanitik.
e) Seperti kaca, tekstur ini mirip dengan kaca biasa. Hal ini mungkin dalam unit yang besar.
f) Fragmental, tekstur ini terdiri dari pecahan kaku yang mengeluarkan material beku yang
berkisar dari blok-blok besar hingga debu halus.
3

Menurut C.L. Hugnes (1962)


Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 :
Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%.
Contohnya adalah riolit.
Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% 66%. Contohnya adalah dasit.
Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% 52%. Contohnya adalah andesit.
Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah basalt

Mineralogi dan Petrologi

65

Menurut S.J. Shand (1943)


Klasifikasi berdasarkan indeks warna :
Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.
Mesococtik rock, apabila mengandung 30% 60% mineral mafik.
Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik

Menurut S.J. Ellis (1948)


Klasifikasi berdasarkan indeks warna :
Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%.
Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%.
Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%.
Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%.

Menurut Russell B. Travis (1955)


Berdasarkan ukuran butir mineral dan tempat terjadi :
Batuan beku dalam
Bertekstur faneritik yang berarti mineral-mineral yang menyusun batuan tersebut
dapat dilihat dengan mata biasa tanpa bantuan alat pembesar. Terbentuk kurang lebih 3
4 km di bawah permukaan bumi, dan batuan dalam sering disebut juga batuan plutonik
atau batuan abisik. Struktur kristalnya adalah holokristalin atau berhablur penuh. Contoh
batuannya adalah gabbro dan granodiorit.

Batuan beku gang


Bertekstur porfiritik dengan masa dasar faneritik atau bertekstur porfiritik
dengan masa dasar afanitik. Terbentuk dalam celah-celah atau retak-retak kulit bumi,
pada jalan magma menuju permukaan bumi. Batuan gang sering disebut juga batuan
hypoabisik dan struktur kristalnya adalah holkristalin dan porfir atau amorf. Contoh
batuannya adalah diorite porfiri dan granit porfiri.

Batuan beku luar


Bertekstur afanitik, yaitu individu mineralnya tidak dapat dilihat dengan mata
biasa. Terbentuk melalui pembekuan tiba-tiba ketika magma sampai ke permukaan bumi
dan berubah menjadi lava yang langsung menjadi padat karena pendinginan dari
lingkungan. Sedangkan batuan lelehan memiliki struktui kristal yang kecil-kecil atau

Mineralogi dan Petrologi

66

bahkan tidak mempunyai bentuk Kristal (amorf). Contoh batuannya adalah batu riolit
dan obsidian.

3.13 BATUAN PIROKLASTIK


Batuan piroklastik adalah batuan yang tersusun dari fragmen detritus atau klastik (rombakan)
material yang dilemparkan (dierupsikan) dari saluran atau pipa (crater) gunung api, ditransport oleh
udara dan diendapkan didarat, di danau, atau di laut.
Ragam terminology piroklastik
1. volcanoclastic (Fisher, 1961) : semua clastic volcanic materials yang dibentuk pada proses
fragmentasi, diendapkan oleh semua jenis agen angkut di dalam suatu lingkungan pengendapan
(apa saja), dapat bercampuran dengan material non volcanic.
2. Autoclastic : fragmentasi akibat mekanisme ledakan gas ataupun gesekan aliran lava, lengseran
tiang-tiang lava ataupun alava dome.
3. Epiclastic : berasal dari hasil rombakan batuan volkanik yang lebih tua (sudah terbentuk
sebelumnya).
4. Tephra : Akumulasi piroklastik dari sembarang ukuran berdasarkan mineral yang halus ke
mineral yang kasar.
Klasifikasi dan penamaan piroklastik
a. Ash
: debu volkanik
b. Blocks and bombs
: runcing dan bulat.
c. Lapilli
: pasir.
Material volkanik yang telahterombak dan tertransport secara mekanik oleh angin atau air, batuan yang
terbentuk disebut sebagai batuan volkaniklastik .

3.14 CONTOH BATUAN BEKU


A. Granit

Mineralogi dan Petrologi

67

Proses terbentuk

: Batuan ini terbentuk dari hasil pembekuan magma berkomposisi asam yang
membeku di dalam dapur magma, sehingga batu ini merupakan jenis batu
beku dalam.
Massa jenis
: sekitar 2,2 2,3 gram/cm3
Warna
: putih, abu-abu, atau campuran keduanya.
Batuan ini banyak di temukan di daerah pinggiran pantai dan di pinggiran sungai besar ataupun di dasar
sungai.
Batu Granit dapat digunakan sebagai :
- Batu bahan bangunan
- Monumen
- Jembatan
- Jebagai dekorasi
- Bahan tegel
B. Gabro

Proses Terbentuk : terbentuk dari magma yang membeku di dalam gunung. Termasuk batuan dalam
Massa Jenis
: 2,9 3,21 gram/cm3
Warna
: Gelap kehijauan , coklat bercampur putih
Karakteristik lain
: Batuan gabro berwarna gelap kehijauan, menunjukkan kandungan silika
rendah sehingga magma asal bersifat basa. Struktur batuan ini adalah massive, tidak terdapat rongga
atau lubang udara maupun retakan-retakan. Batuan ini masih segar dan tidak pernah terkena gaya
endogen yang dapat meninggalkan retakan pada batuan.Batuan ini memeiliki tekstur fanerik karena
mineral-mineralnya dapat dilihat langsung secara kasat mata dan mineral yang besar menunjukkan
bahwa mineral tersebut terbentuk pada suhu pembekuan yang relatif lambat sehingga bentuk
mineralnya besar-besar.Derajat kristalisasi sempurna, bahwa batuan ini secara keseluruhan tersusun
atas kristal sehingga disebut holocrystalline. Tekstur seperti ini menunjukkan proses pembentukan
magma yang lambat. Ion-ion penyusun mineral pada batuan, dalam lingkungan bertekanan tinggi dan
temperatur yang luar biasa tinggi dapat bergerak sangat cepat dan menyusun dirinya sedemikian rupa
sehingga membentuk suatu bentuk yang teratur dan semakin berukuran besar.
C. Andesit
Mineralogi dan Petrologi

68

Proses terbentuk

:Batuan ini berasal dari lelehan lava gunung merapi yang meletus, batu Andesit
terbentuk (membeku) ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 sampai
dengan 1,100 derajat Celsius. Merupakan jenis batuan beku luar.
Massa Jenis
: 2,8 3 gram/cm3
Warna
: agak gelap (abu-abu tua).
Batu andesit sering digunakan sebagai :
1. Nisan kuburan
2. Cobek
3. Lumping jamu
4. Cungkup (kap lampu taman)
5. Arca untuk hiasan
6. Batu pembuat candi
7. Sarkofagus
8. Punden berundak
9. Meja batu
Pusat kerajinan dan pemotongan batu Andesit juga terdapat di daerah Cirebon dan Majalengka Jawa
Barat.Karena di daerah ini banyak terdapat perbukitan yang merupakan daerah tambang Batu Andesit.
Untuk batu Andesit di daerah cirebon umum nya bewarna abu-abu dan terdiri dari 2 Jenis utama:
Andesit Bintik dan Andesit Polos.
D.Diorit

Proses terbentuk

: Merupakan batuan hasil terobosan batuan beku (instruksi) yang Terbentuk dari
hasil peleburan lantai samudra yang bersifat mafic pada suatu subduction zone.
biasanya diproduksi pada busur lingkaran volkanis, dan membentuk suatu
gunung didalam cordilleran ( subduction sepanjang tepi suatu benua, seperti
pada deretan Pegunungan). Terdapat emplaces yang besar berupa batholiths

Mineralogi dan Petrologi

69

Massa jenis
Warna
Kegunaan

( banyak beribu-ribu mil-kwadrat) dan mengantarkan magma sampai pada


permukaan untuk menghasilkan gunung api gabungan dengan lahar andesite.
Termasuk jenis batuan beku dalam
: 2,8 2,9 gram/cm3
: Kelabu bercampur putih, atau hitam bercampur putih
: batu diorit ini dapat dijadikan sebagai batu ornamen dinding maupun lantai
bangunan gedung atau untuk batu belah untuk pondasi bangunan / jalan raya.

E. Basalt

Proses Terbentuk

Massa jenis
Warna
Karakteristik lain

Manfaat

: Berasal dari hasil pembekuan magma berkomposisi basa di permukaan atau


dekat permukaan bumi. Biasanya membentuk lempeng samudera di
dunia.Mempunyai ukuran butir yang sangat baik sehingga kehadiran mineral
mineral tidak terlihat.
: 2,7 3 gram/cm3
: Gelap
: Batuan Basalt lazimnya bersifat masif dan keras, bertekstur afanitik, terdiri atas
mineral gelas vulkanik, plagioklas, piroksin. Amfibol dan mineral
hitam.Kandungan mineral Vulcanik ini hanya dapat terlihat pada jenis batuan
basalt yang berukuran butir kuarsa, yaitu jenis dari batuan basalt yang
bernama gabbro.Berdasarkan komposisi kimianya, basalt dapat dibedakan
menjadi dua tipe, yaitu basalt alkali dan basalt tholeitik.Perbedaan di antara
kedua tipe basalt itu dapat dilihat dari kandungan Na2O dan K2O. Untuk
konsentrasi SiO2 yang sama, basalt alkali memiliki kandungan Na2O dan
K2O lebih tinggi daripada basalt tholeitik.
:Basalt kerap digunakan sebagai bahan baku dalam industri poles, bahan
bangunan / pondasi bangunan (gedung, jalan, jembatan, dll) dan sebagai
agregat.

F. Obsidian

Mineralogi dan Petrologi

70

Proses Terbentuk

Massa Jenis
Warna

Karakteristik lain
Manfaat

:Obsidian merupakan batuan yang terbentuk oleh hasil kegiatan erupsi gunung
api bersusunan asam hingga basa yang pembekuannya sangat cepat sehingga
akan terbentuk gelas atau kaca daripada kristal dominan. Obsidian adalah
batuan yang disusun secara keseluruhan dari kaca amorf dan sedikit kristal
feldspar, mineral hitam dan kuarsa.
: 2,36 2,5 gram/cm3
: Warnanya bening seperti kaca dan warnanya kadang-kadang hitam mulus,
merah tua, agak hijau atau abu-abu. Batu ini jarang yang berwarna kuning atau
merah putih atau biru.Batu obsidian sering ditemukan dalam keadaan
mengkilau mulus walaupun belum dipoles. Batu obsidian terbuat dari 70%
silicon dioxide bahkan lebih dan jika tercampur mineral mineral tertentu
warnanya akan berubah.
: Batu obsidian mempunyai nilai keras 5-5.5 berdasarkan daftar keras Mohs dan
termasuk batu mulia tanggung.
:Dapat dijadikan sebagai perhiasan cincin
Dijadikan kerajinan

G. Pumice (batu apung)

Proses Terbentuk

: Batu apung merupakan hasil material erupsi gunung api yang membeku
ketika didalamnya masih terdapat udara sehingga mempunyai sifat titik
berongga-rongga tersebar secara tidak merata. Batu apung mengandung
silika tinggi, dan termasuk jenis batuan beku luar.

Mineralogi dan Petrologi

71

Massa Jenis
Warna
Karakteristik lain
Manfaat

:dibawah 1 gram/cm3
: Putih, dan coklat muda
: dapat terapung di air, kedap suara, batuapung juga tahan terhadap api,
kondensi, jamur dan panas.
: Dalam sektor industri lain, batu apung digunakan sebagai bahan
pengisi (filler), pemoles/penggosok (polishing), pembersih (cleaner),
stonewashing, abrasif, isolator temperatur tinggi dan lain-lain.

H. Diorit

Batuan ini bertekstur feneris, mengandung feldspar plagioklas calsiksodik dalam jumlah yang besar
dengan tipe sodik yang banyak.Plagioklasnya melebihi ortoklas, kwarsa tidak ada, tetapi mengandung
augit dalam jumlah sedikit.Harnbledia biasanya lebih banyak dari biotit.Diorite sangat mirip dengan
gabro, tetapi diorit plagioklasnya lebih asam (sodik) daripada labradorit.Batuan dengan plagioklas yang
lebih basa disebut dengan gabro.Jika banyak penokris disebut dengan porfir diorit.diorit terdiri dari
kurang lebih 65% plagioklas dan 35% mineral silikat gelap seperti biotit dan augit. Mineral-mineral
accesorisnya kwarsa, apotik, kalsit, klorit, granit, dan epidot. Varietas yang umum adalah diorite
hornblende.Warna diorit cerah abu-abu gelap hijau keabu-abuan.

I. Liparit

Mineralogi dan Petrologi

72

Lapirit merupakan batuan bertekstur porfiris dan umumnya berwarna putih, mineral pembentuknya
feldspar, kuarsa, biotit dan mungkin juga mineral berwarna gelap.

J. Dasit

Dasit merupakan batuan yang memiliki ciri-ciri berwarna abu-abu terang, mineral plagioklas berbutir
kasar dalam masa dasar lebih halus.Dasit mengandung 15-20% kwarsa, kurang lebih 60% feldaspar
dan 10-20% biotit atau hornblande.Mineral silikat ada dalam jumlah sedikit.Misalnya biotit,
hornblende, dan augit.Jika panerisnya plagioklas atau kwarsa banyak, disebut dengan porfir dan
dasit.Masa dasar dari batuan ini biasanya berbutir halus, tetapi dapat juga secara gradual menjadi glass.

Mineralogi dan Petrologi

73

K. Skoria

Skoria merupakan batuan yang terbentuk jika air dan gelombang-gelombang gas lainnya keluar melalui
lava yang mampat (stiff lava), yang luabang-lubangnya lebih besar kalau dibandingkan dengan
purnice.Warna skoria coklat kemerahan sampai abu-abu gelap dan hitam.

L. Tufa Gelas

Mineralogi dan Petrologi

74

Tufa Gelas merupakan batuan piroklastik yang disusun oleh material hasil gunung api yang banyak
mengandung debu vulkanik dan mineral gelas, dengan warna putih kekurangan, abu-abu dan kuning
kecoklatan. Kegunaan digunakan sebagai timbunan.

Mineralogi dan Petrologi

75

BAB IV
BATUAN SEDIMEN
Batuan sedimen menurut Pettjohn. 1975 yaitu batuan yang terbentuk dari akumulasi material
hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme,
yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan.
Sifat utama batuan sedimen yaitu
1. Adanya bidang perlapisan ; struktur batuan sedimen yang menandakan sedimentasi.
2. Sifat klastik ; yang menandakan bahwa butir-butir pernah lepas, terutama golongan detritus.
3. Sifat jejak ; adanya bekas tanda kehidupan (fosil). Jika bersifat hablur, selalu monomineralik.
Missal : gypsum, kalsit, dolomit, rijang.
Fosil hanya ada di batuan sedimen, tidak ada di batuan beku dan metamorf karena batuan beku
bersifat panas dari pembekuan magma dan sedangkan di batuan metamorf selama masih ada fosil
belum terbentuk metamorf.
Sumber, semua jenis batuan ataupun yang ada di kulit bumi, akan mengalami proses pelapukan
bila terkena udara. Proses pelapukan ada 2 yaitu Disintegrasi dan dekomposisi. Akibat dari pelapukan
akan berkurang ketahanan suatu batuan terhadap semua agen degradasi masuk penguraian kimia.
Media Transportasi Batuan Sedimen:

Air
Angin
Es/ glasier

Basin atau cekungan sedimentasi


Terbentuknya cekungan sedimentasi BASIN

Mineralogi dan Petrologi

76

1. Penurunan lithosfer karena tektonik (tectonic subsidamce)


2. Penaikan lithosfer karena tektonik (tectonic uplive)

4.1 Komponen batuan sedimen :


1. Allogenic; berasal dari luar basin, dari batuan yang sudah ada sebelumnya masuk dalam bentuk
pecahan.
2. Authogenic; berasal dari dalam basin itu, bahan yang terbentuk atau mengkristal dalam
lingkungan sedimentasi.

Komponen Pembentuk Batuan Sedimen berdasarkan material asal :


1. Allogenic;
a. Hasil rombakan : Inorganik, batuan organic, karbon dan organisme.
b. Bukan hasil rombakan : aktivitas vulkanik, larutan yang tertransport.
2. Authogenic
a. Sisa organisme : evaporate, pengendapan unsur atau presipitasi.

Kestabilan mineral
a. Stabil
b. Tidak stabil

: ALlogenic dan Authigenik


: Allogenik; tidak tahan terhadap proses kimiawi dan mekanis.
Autigenik; tahan terhadap proses kimiawi dan mekanis.

Mineralogi dan Petrologi

77

4.2 Lingkungan pengendapan


Parameter lingkungan pengendapan:
1. Elemen fisik
: Statis (Geometri dan material) dan dinamis (energy dan arah alihan).
2. Elemen kimia
: Salinitas (Keasinan), pH,eH (keasaman dan kebasaan) dan CO2,02
(oksidasi dan reduksi).
3. Elemen biologi
: Elemen biologi (Manusia, binatang dan tumbuhan).

Lingkungan pengendapan

Terestri

Aquqeno

Delta
Lagoon
Litoral

Aluvial fan
Braided
steam
Meandering
Flood plain

Des
ert
Glaci

Laut

Transisi

Darat

Sung
ai
Dan
au
Raw

Neritik
Batyal
Abisal

Skema lingkungan pengendapan

1. Struktur fisik batuan sedimen terbagi menjadi dua, yaitu Sygenetik (primer)
a. Eksternal
: Lingkungan (size), dan Bentuk (shape)
b. Internal
: Orientasi (fosil), dan perlapisan (laminasi, silang siur, dan
covolute).
2. Epygenetik (sekunder)
a. Internal
: Klastik dike.
b. Eksternal
: patahan, perlipatan, ketidakselarasan, mud crasks, rain dops.
Struktur organic sedimentasi diantaranya

Mineralogi dan Petrologi

78

1. Primer
a. Eksternal
: Bioherem dan bisotrom.
b. Internal
: Sisa fosil dan jejak fosil.
2. Sekunder
a. Bekas atau jejak binatang
b. Biotur bation atau diacak
c. Penggalian akar.

4.3 Penamaan Batuan Sedimen


Cara penamaan suatu batuan sedimen dengan cara dimana nama depannya oleh kandungan
mineral yang dominan dan nama belakang batuan yang disebabkan oleh lebih sedikit dari mineral
tersebut.
Contoh : Batu Gamping Pasiran (kandungan gamping lebih dominan, kandungan pasiran lebih sedikit
dari gamping).
Napal yaitu campuran lempung gamping (carbonat), kandungan 35-60% (berlaku bolak-balik),
Batu pasir, batu lempung, konglomerat, breksi klastik, batu gamping.
1. Kolompok Evaporasi
- Batu garam (Halit)-NaCl
- Andehit CaSO4
- Gypsum CaSO4- H2O
2. Kelompok Silika (terdapat pada laut yang dangkal.
- Rijang (Inhert)
- Radiolarit : plankton dan ganggang (yang terdiri dari silika) ).
- Tahan diatome
Hukum Pengendapan adalah pada saat sedimen diendapkan mengikuti hukum alam, maka
material yang berat akan terendapkan terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lebih ringan, sesuai
dengan kecepatan atau energy medium pembawanya.
Mekanisme dan kondisi lingkungan pengendapan akan terekam dalam sedimen meskipun telah
bmengalami diagenesia menjadi batuan sedimen. Dengan membandingkan dengan proses yang
bberlangsung saat ini dan kaidah-kaidah present is the key to the past dapat diketahui kondisi dan
mekanisme yang terjadi saat proses pengendapan suatu lapisan batuan sedimen jutaan tahun yang
silam.
Batuan sedimen paling banyak dibandingkan batuan beku dan metamorf di bumi. Batuan
penyusun kulit bumi lebih banyak pada batuan beku dan metamorf dibangdingkan dengan batuan
sedimen.
Mineralogi dan Petrologi

79

Fasies sedimen membahas tentang batuannya, komposisi penyusunnya, dan tempat


penyusunnya, diantaranya
-

Komposisi ; fosil < kondisi fosilnya.


Bagaimana > yang mengalami proses
Geologi, kimia, fisika ; dapat ditemukan di laut atau di darat.

4.4 Klasifikasi Batuan Sedimen


Berdasarkan genetikanya batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan (Petti Jhon,
1975):
1.

Batuan Sedimen Klastik.

Yaitu batuan sedimen yang terbentuknya berasal dari hancuran batuan lain. Kemudian
tertransportasi dan terdeposisi, yang selanjutnya mengalami diagenesa.
2.

Batuan Sedimen nonKlastik.

Yaitu batuan sedimen yang tidak mengalami proses transportasi. Proses pembentukannya adalah
kimiawi dan organis.
A. Sedimen Klastik
1. Struktur
Struktur sedimen merupakan suatu kelainan dari perlapisan normal dari batuan sedimen yang
diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energy pembentuknya. Studi struktur paling baik
dilakukan dilapangan (Pettijohn, 1975). Berdasarkan asalnya, struktur sedimen yang terbentuk dapat
dibagi menjai tiga macam yaitu :
-

Struktur Sedimen Primer : Terbentuk karena proses sedimentasi, dapat merefleksikan


mekanisme pengendapannya, antara lain : perlapisan, gelembur-gelombang, perlapisan
silang-siur, konvolut, perlapisan bersusun, dll.
Struktur Sedimen Sekunder : Terbentuk setelah proses sedimentasi, sebelum atau setelah
diagenesa. Menunjukkan keadaan lingkungan pengendapannya, misal : cetak suling, cetak
beban, dll.
Struktur Sedimen Organik : Struktur yang terbentuk oleh kegiatan organisme seperti
molusca, cacing, dan binatang lainnya, misal : kerangka, laminasi pertumbuhan, dll.

Contoh Struktur Batuan Sedimen Klastik :

Mineralogi dan Petrologi

80

- Masif : Batuan masif bila tidak menunjukan struktur dalam (Pittijohn & Potter, 1964) atau ketebalan
lebih dari 120 cm ( Mc.Keee & Weir, 1953)
- Graded Bedding (perlapisan pilihan) : Lapisan yang dicirikan oleh perubahan yang granual dari
ukuran butir penyusunnya bila bagian bawah kasar dan ke atas semakin halus disebut normal grading.
Sebaliknya apabila dari halus ke atas makin kasar disebut Inverse grading.
- Laminasi : Perlapisan dan struktur sedimen yang mempunyai ketebalan kurang dari 1 cm terbentuk
bila pola pengendapannya dengan energi yang konstan (homogen).
- Cross Lamination : Secara umum dipakai untuk lapisan miring dengan ketebalan kurang dari 5 cm,
dengan fareset ketebalannya lebih dari 5 cm, merupakan struktur sedimentasi tunggal yang terdiri dari
urut-urutan sistematik, perlapisan dalam disebut fereset bedding yang miring terhadap permukaan
umum sedimentasi.
- Cross Bedding : Secara umum bentuk fisik dari cross bedding sama seperti bentuk fisik cross
lamination, yang membedakan hanyalah ketebalannya, yaitu lebih dari 5 cm untuk cross bedding.
- Clastic Imbrication : Adalah suatu struktur sedimentasi yang dicirikan oleh fragmen-fragmen
tabular yang overlaping dan menunjukkan arus ke atas pada daerah yang berbatu-batu atau pada
daerah yang miring. Kenampakan penjajaran material seperti susunan genting, disebabkan pengulangan
energi transportasi. Biasanya pada daerah fluvial.
- Primary Current Kineation : Adalah struktur sedimentasi yang berbentuk gars pada di dalam
batuan yang terbentuk oleh arus utama, sering diterapkan pada batuan sedimen yang biasanya
menunjukkan pelusuran suatu garis tunggal dari kumpulan cangkang atau fosil.
- Fosil Orientation : Adalah struktur sedimen yang menunjukkan orientasi tertentu dari kumpulan
fosil yang menunjukkan arah arus sedimentasi yang diakibatkan oleh pengenangan yang energi
transportasinya berkurang, sedangkan fosilnya sendiri mempunyai bentuk-bentuk yang dapat
berorientasi.
- Load Cast : Adalah struktur sedimen yang terbentuk akibat tubuh sedimen yang mengalami
pembebanan oleh material sedimen lain di atasnya.
- Flute cast : Adalah struktur sedimen yang berupa celah dan terputus-putus serta berbentuk kantong,
dengan ukuran 2 10 cm, struktur ini terbentuk pada batua dasar akibat pengaruh aliran turbulen dari
air merupakan gerusan dari media transportasi yang membawa material kemudian material-material
tersebut mengisinya yang biasa berupa pasir, atau scour yang telah terisi oleh lapisan pori di atasnya.
- Mud Cracks : Adalah struktur sedimen yang brupa retakan-retakan pada tubuh sedimen bagian
permukaan, biasanya pada tubuh campur yang berkembang sifat kohesinnya. Hal ini akibat perubahan
suhu (pengeringan) dan pengerutan.

Mineralogi dan Petrologi

81

- Tool Marks : Adalah material-material pasir yang terbawa arus mengerus permukaan lumpur dan
meninggalkan jejak menjadi tempat berkumpul material pasir tersebut dan gerakan merupakan tonjolan
lapsan pasir ke bawah.
- Rain Print : Adalah suatu lubang lingkaran atau elips kecil yang terbentuk di atas lumpur yang
masih basah oleh air hujan yang kemudian setelah lumpur itu kering diatasnya terendapkan lapisan batu
pasir atau silstone.
- Flame Structure : Adalah struktur sedimen yang berupa bentukan dari lumpur yang licin dan
memisahkan ke bawah membesar membentuk load cast dari pasir pada kontak antara lempung dan
pasir.
-

- Ball, Pillow, or Pseudonodule Structure : Adalah suatu bentukan akibat gaya beban dari atas
pada shate oleh batu pasir dimana shale tersebut belum dapat benar. Bila bentukan tersebut masih
menyambung disebut Pillow atau bantal dan bila sudah lepas disebut Ball Structure.
- Convolute Bedding : Adalah structure devormasi dari suatu lapisan yang membentuk perlapisan
meliuk-liuk dengan ketebalan lapisan 2 25 cm.
- Channels : Adalah Struktur sedimen yg mempunyai ciri erosional yang kelal-kelok atau bercabang
dan merupakan bagian dari sistem transportasi terpadu akibat erosi permukaan dari media transportasi
yang mempunyai energi penggerusan cukup besar.
- Dish and Pillow Structure : Adalah struktur sedimen yang terbentuk oleh bantal dan mangkok yang
terbentuk oleh sedimen pasir yang belum terkonsolidasi telah tertimbun sedimen lain di atasnya
sehingga mengalami penekanan ke bawah.
- Low Relief Erosion Surface : Adalah struktur sedimen yang terbentuk relief rendah pada permukaan
tubuh sedimen akibat proses erosi.
- Hard Ground Mass : Adalah struktur sedimen yang terbentuk akibat dari akumulasi material
sedimen yang khas di dalam tubuh sedimen lain yang relatif lebih lunak.
Struktur batuan sedimen yang penting adalah perlapisan. Struktur ini umum terdapat pada
batuan sedimen klastik yang terbentuknya disebabkan beberapa faktor, antara lain:
a. Adanya perbedaan warna mineral.
b. Adanya perbedaan ukuran butir.

Mineralogi dan Petrologi

82

c.
mineral.

Adanya

d.

Adanya

Nama
Sedimen

batuan.

Lapisan

perbedaan

komposisi

perbedaan

macam

Ketebalan ( cm )

Lapisan sangat tebal

> 120

e.
sedimen.

Adanya

Lapisan tebal

60 120

perbedaan

struktur

f.
kekompakan.

Adanya

Lapisan tipis

5 60

perbedaan

perubahan

Lapisan sangat tipis

15

Laminasi

0,2 1

Laminasi tipis

< 0,2

Table.Pembagian lapisan menurut ketebalannya ( Mc. Kee & Weir, 1953 )

2. Tekstur
Tekstur adalah suatu kenampakan yang berhubungan dengan ukuran dan bentuk butir serta
susunannya (Pittijohn, 1975). Butiran tersusun dan terikat oleh semen dan masih adanya rongga di
antaranya butirnya. Pembahasan tekstur meliputi :
a. Ukuran Butir (Grain Size)
Table. Skala Wentworth

Mineralogi dan Petrologi

83

NAMA BUTIR

Ukuran Butir (mm)

Bongkah (boulder)

256

Brangkal (couble)

256 64

Krakal (pcebble)

64 4

Pasir sangat kasar (very coarse sand)

42

Pasir kasar (coarse sand)

21

Pasir sedang (medium sand)

Pasir halus (fine sand)

Pasir sangat halus (very fine sand)

- 1/8

Lanau (silt)

1/16 1/256

Lempung (clay)

1/256

b. Pemilahan (Sorting)
Pemilahan adalah keseragaman dari ukuran besar butir penyusun batuan sedimen, artinya bila
semakin seragam ukurannya dan besar butirnya maka pemilahan semakin baik. Pemilahan yaitu
keseragaman butir didalam batuan sedimen klastik. Beberapa istilah yang biasa dipergunakan dalam
pemilahan batuan, adalah:

Mineralogi dan Petrologi

84

- Well sorted

: terpilah baik

- Medium sorted

: terpilah sedang

- Poor sorted
c.

: terpilah buruk

Kebundaran (Bentuk Butir)

Kebundaran adalah nilai membulat atau meruncingnya butiran


dimana sifat ini hanya bisa diamati pada batuan sedimen klastik kasar.
- Wellrounded (membundar baik) : Semua permukaan konveks, hampir equidimensional, sferoidal.
- Rounded (membundar) : Pada umumnya permukaan-permukaan bundar, ujung-ujung dan tepi-tepi
butiran bundar.
- Subrounded (membundar tanggung) : Permukaan umumnya datar dengan ujung-ujungnya yang
membundar.
- Subangular (menyudut tanggung) : Permukaan pada umumnya datar dengan ujung-ujung tajam.
- Angular (menyudut) : Permukaan konkaf dengan ujungnya tajam.

d. Kemas (Fabric)
- Kemas terbuka : Butiran tidak saling bersentuhan.
- Kemas tertutup : Butiran saling bersentuhan satu dengan yang lainnya.
e. Shape
Shape adalah bentuk daripada butiran tersebut, dapat dibedakan menjadi empat macam.
- Golongan pertama (I) oblate/labular
- Golongan kedua (II) equent/equiaxial
- Golongan ketiga (III) bladed/triaxial

Mineralogi dan Petrologi

85

- Golongan keempat (IV) prolate/ rod shaped


f. Porositas
Porositas suatu batuan adalah perbandingan seluruh permukaan pori dengan volume dari batuan.
Pembagian porositas biasa dipergunakan sebagai berkut:
- Negligible

: 0-5%

- Poor

: 5-10%

- Fair

: 10-15%

- Good

: 15-20%

- Very good

: 20-25%

- Exellent

: 25-40%

g. Permeabilitas
Permeabilitas sukar ditentukan d bawah mikroskop, tetapi dapat dikira-kira melalui porositas.
Salah satu metoda pendekatan untuk mengetahui permeabilitas adalah dengan menempatkan setetes air
pada sekeping yang kering dan mengamati kecepatan ar merembes. Istilah yang biasa digunakan
adalah:
- Fair

: 1,0 10 md

- Good

: 10 100 md

- Very good

: 100 1.000 md

3.

Komposisi Batuan Sedimen Klastik

Komposisi pada batuan sedimen klastik bisa dikelompokkan berdasarkan kandungan mineral
dan fungsinya dalam batuan sedimen di bagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Fragmen
Yaitu butiran yang berukuran lebih besar, dapat berupa mineral, pecahan batuan, cangkang fosil
dan zat organik.

Mineralogi dan Petrologi

86

b. Matriks (massa dasar)


Yaitu butiran yang lebih kecil dari fragmen, terendapkan bersama sama dengan fragmen,
terdapat di sela sela fragmen sebagai massa dasar. Seperti fragmen, matrik dapat berupa mineral,
pecahan batuan maupun fosil. Matrik sangat halus sehingga aspek geometri tak begitu penting, terdapat
di antara butiran sebagai massa dasar.
c.

Semen

Yaitu material yang sangat halus ( hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop ) diendapkan
setelah fragmen dan matrik, sebagai pengisi rongga serta pengikat antar butir sedimen, dapat berbentuk
amorf maupun kristalin. Semen umumnya terdiri dari :
-

Semen karbonat ( kalsit, dolomit )

Semen silika ( calsedon, kuarsit )

Semen oksida ( limonit, hematit, dan siderit )

Pada sedimen berbutir halus ( lanau atau lempung ) tidak terdapat semen, karena tidak adanya rongga
atau ruang antar butir.

B. Sedimen Nonklastik
1. Struktur
Reksi kimia, aktifitas gunung berapi dam organisme adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
terbentuknya batuan sedimen berstruktur nonklastik. Macam-macam struktur nonklastik:
a. Fossiliferous, struktur yang menunjukan adanya fosil.
b. Oolitik, struktur dimana fragmen klastik diselubungi oleh mineral non klastik, bersifat konsentris
dengan diameter kurang dari 2 mm.
c. Pisolitik, sama dengan oolitik tetapi ukuran diameternya lebih dari 2 mm.
d. Konkresi, sama dengan oolitik namun tidak konsentris.
e. Cone in cone, struktur pada batu gamping kristalin berupa pertumbuhan kerucut per kerucut.
f. Bioherm, tersusun oleh organism murni insitu.

Mineralogi dan Petrologi

87

g. Biostorm, seperti bioherm namun bersifat klastik.


h. Septaria, sejenis konkresi tapi memiliki komposisi lempungan. Cirri khasnya adalh memiliki
rekahan-rekahan tak teratur akibat penyusutan bahan lempungan tersebut karena proses dehidrasi yang
kemudian celah-celahnya terisi oleh mineral karbonat.
i. Goode, banyak dijumpai pada batugamping, berupa rongga-rongga yang terisi oleh Kristal-kristal
yang tumbuh kearah pusat rongga tersebut. Kristal dapat berupa kalsit maupun kuarsa.
j.

Styolit, kenampakan bergerigi pada batugamping sebagai hasil pelarutan.

2. Tekstur
Tekstur dalam batuan sedimen nonklastik dibedakan menjadi dua macam :
a. Kristalin : Tekstur ini terdiri dari kristal-kristal yang interlocking, yaitu kristal-kristal yang saling
mengunci satu dengan yang lain.
b. Amorf : Tekstur ini terdiri dari mineral yang tidak membentuk kristal-kristal atau amorf
(nonklastik), umumnya berukuran lempung atau koloid, contoh : rijang masif.
3. Komposisi Batuan Sedimen Nonklastik
Komposisi mineral pada batuan sedimen nonklastik biasanya sederhana terdiri dari satu atau
dua mineral contoh :
- Batugamping " kalsit, dolomite
- Chert " kalsedon
- Gypsum " gypsum
- Anhidrit " anhidrit

4.5 CONTOH BATUAN SEDIMEN


A. Konglomerat

Mineralogi dan Petrologi

88

Proses Terbentuk

Warna
Manfaat

:Konglomerat merupakan suatu bentukan fragmen dari proses sedimentasi,


batuan yang berbutir kasar, terdiri atas fragmen dengan bentuk membundar
dengan ukuran lebih besar dari 2mm yang berada ditengah-tengah semen yang
tersusun oleh batupasir dan diperkuat & dipadatkan lagi kerikil. Dalam
pembentukannya membutuhkan energi yang cukup besar untuk menggerakan
fragmen yang cukup besar biasanya terjadi pada sistem sungai dan pantai.
: berwarna warni
: Biasanya batuan tersebut menjadi batuan penyimpan hidrokarbon (reservoir
rocks) atau bisa juga menjadi batuan induk sebagai penghasil hidrokarbon
(source rocks).

B. Batu Pasir

Mineralogi dan Petrologi

89

Proses Terbentuk

:Batupasir adalah suatu batuan sedimen klastik yang dimana partikel


penyusunya kebanyakan berupa butiran berukuran pasir. Kebanyakan batupasir
dibentuk dari butiran-butiran yang terbawa oleh pergerakan air, seperti ombak
pada suatu pantai atau saluran di suatu sungai.Butirannya secara khas di semen
bersama-sama oleh tanah kerikil atau kalsit untuk membentuk batupasir
tersebut.Batupasir paling umum terdiri atas butir kwarsa sebab kwarsa adalah
suatu mineral yang umum yang bersifat menentang laju arus.

Warna
Manfaat

: Coklat dan putih


: Batupasir mempunyai banyak kegunaan didalam industri konstruksi sebagai
suatu kumpulan dan batu-tembok. batupasir hasil galian dapat digunakan
sebagai material di dalam pembuatan gelas/kaca.

C. Breksi

Karakteristik

Warna
Manfaat

: Breksi merupakan batuan sedimen klastik yang memiliki ukuran butir yang
cukup besar (diameter lebih dari dua milimeter) dengan tersusun atas batuan
dengan fragmen menyudut (tajam). Ruang antara fragmen besar bisa diisi
dengan matriks partikel yang lebih kecil atau semen mineral yang mengikat batu
itu bersama-sama. Spesimen yang ditunjukkan di atas memiliki ukuran garis
tengah sekitar dua inci (lima sentimeter).
: merah kecoklatan, keemasan, coklat
: sebagai Hiasan Bisa, misalnya di ukir hingga halus membentuk vas bunga, meja
kecil, atau asbak.

D. Stalakmit dan Stalagmit

Mineralogi dan Petrologi

90

Proses Terbentuknya : Stalaktit dan Stalakmit adalah bentukan alam khas daerah Karst. Air yang larut
di daerah karst akan masuk ke lobang-lobang (doline) kemudian turun ke gua
dan menetes-netes dari atap gua ke dasar gua. Nah tetesan-tetesan air yang
mengandung kapur ini lama-lama kapurnya membeku dan menumpuk sedikit
demi sedikit lalu berubah jadi batuan kapur yang bentuknya runcingruncing.Stalaktit adalah batu yang terbentuk di atap gua, bentuknya meruncing
ke bawah, sedangkan stalakmit adalah batu yang terbentuk di dasar gua
bentuknya meruncing ke atas.
Warna
: kuning, coklat, krem, keemasan, putih
Manfaat
: sebagai keindahan alam (biasanya di gua-gua), dapat di jadikan hiasan rumah.
Tempat
: Sangat sering di temukan di daerah gua, ada juga yang di sekitar air terjun.
E. Batu Lempung

Proses Terjadinya

Warna
Manfaat
Tempat

: Type utama batulempung menurut terjadinya terdiri dari lempung residu dan
lempung letakan (sedimen), lempung residu adalah sejenis lempung yang
terbentuk karena proses pelapukan (alterasi) batuan beku dan ditemukan
disekitar batuan induknya. Kemudian material lempung ini mengalami proses
diagenesa sehingga membentuk batu lempung.
: Coklat, keemasan, coklat, merah, abu-abu
: Dapat dijadikan kerajinan, seperti asbak, patung, celengan, dll.
: Sering ditemukan di Pinggiran Sungai ataupun pinggiran danau.

F. Batu gamping (batu kapur)

Mineralogi dan Petrologi

91

Batu Gamping merupakan batuan carbonat yang paling banyak terdapat, demngan kenampakan textur
aphanitik sampai phanero-cristalin.Warna putih keabu-abuan, abu-abu, abu-abu gelap, hitam, kuning,
coklat, dan lainnya oleh adanya kotoran-kotoran, oksid besi dan zat-zat organik.Limestone berbutir
mulus, pecahannya conchoidal.Bila ditetesi HCL memercik/berbuih. Mudah larut terutama dalam air
yang mengandung CO2 sehingga terjadi lubang-lubang, celah-celah, diaklas- diaklas dan lainnya. tebal
dapat dari beberpa centimeter sampai beberapa ratus meter. Beberapa limestone seluruhnya dapat
terdiri dari butir-butir calcit.Keras dari limestone sangat berbeda-beda, ada yang keras dan ada yang
lunak, agak keras, dan sebaginya, tergantung dari texturnya. Selama proses pelapukan dari limestone,
calcium carbonatnya dapat terlarut, dan yang tertinggal adalah kotoran-kotorannya, yang kemudian
dapat terkonsentrasi dan membentuk clay atau loams yang berwarna merah atau kuning, oleh aksidasi
dari mineral-mineral oksida besi.
Ciri-ciri: Warna putih keabu-abuan, agak lunak, dan bila ditetesi asam membentuk gas karbondioksida.

Terbentuk dari hasil pemadatan cangkang hewan lunak atau hewan laut yang telah mati.Cangkang
tersebut terdiri dari kapur tidak musnah.
G. Travertin

Mineralogi dan Petrologi

92

Calcium carbonat tidak larut dalam air murni, tetapi bila aornya mengandung CO 2 maka calcium
carbonat itu mudah berubah menjadi biocarbonat. Jadi dibawah tekanan atmosfer, air yang banyak
mengandung CO2 secara perlahan-lahan melarutkan calcium carbonat, terutama bila air tersebut berasal
dari tempat yang dalam dengan tekanan yang lebih besar dan kandungan CO 2 nya lebih banyak, maka
daya melarutkan lebih tinggi. Bila larutan tersebut mencapai permukaan bumi dibawah tekanan
atmosfer, calcium carbonatnya segera diendapkan oleh proses evaporasi, dan proses ini dapat
dipercepat oleh adanya kegiatan dari tumbuh-tumbuhan (algae). Calcum carbonat yang doiendapkan di
mulut/lubang mata air itu disebut travertine. Pada gua-gua kapur, terjadi pula pengendapan dari
calcium carbonat oleh tetesan-tetesan air secara perlahan-lahan yang terdiri dari kristal-kristal halus dan
kompak, yang disebut dengan dripstone.Warna putih, kuning, atau cokelat.Struktur fibrous atau
konsentris.Yang tumbuh dari bawah disebut stalagnite.
H. Serpin

Serpin berasal dari lumpur yang mengendap. Terdiri dari butiran-butiran batu lempung atau tanah liat,
pada umumnya sepertiga terdiri atas kuarsa, sepertiga bahan tanah, sepertiga bahan lain termasuk
karbonat, besi oksida, feldspar, dan zat organik. Berwarna abu-abu kehijauan, merah, atau
kuning.Dimanfaatkan sebagi bahan bangunan.Berasal dari endapan hasil pelapukan batuan tanah liat.

Mineralogi dan Petrologi

93

BAB V
BATUAN METAMORF
Metamorfosa berasal dari kata Meta yang berarti ubah dan morf yang berarti bentuk. Proses
metamorfosa dapat diartikan sebagai proses perubahan bentuk
Jalannya proses metamorfosa dimulai dari dirubahnya batuan asal (Protolith) yang berupa
batuan sedimen, beku ataupun batuan metamorf oleh panas (150 - 200 C) dan tekanan menjadi batuan
baru yang struktur, tekstur dan komposisi mineralnya lain sama sekali, batuan baru ini disebut dengan
batuan metamorf
Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk, bisa batuan beku, batuan
sedimen, maupun batuan metamorf sendiri yang mengalami metamorfosaatau batuan hasil ubahan dari
batuan yang sudah ada (Batuan beku, sedimen, dan metamorf) oleh pengaruh temperatur dan tekanan.
Kumpulan mineral dalam batuan metamorf disebut dengan Batuan/Mineral Paragenesa .Menurut H.
G. F. Winkler, 1967 metamorfosa adalah proses-proses yang mengubah mineral suatu batuan pada fasa
padat karena pengaruh atau response terhadap kondisi fisik dan kimia di dalam kerak bumi, diana
kondisi fisika dan kimia tersebut berbeda dengan kondisi sebelumnya. Proses-proses tersebut tidak
termasuk pelapukan dan diagnesa.
Ada 2 agen terjadinya proses metamorfosa yaitu Suhu (T) dan Tekanan (P)
a. Suhu
: Suhu berasal dari magma, magma menaikan suhu setiap batuan yang ada di
sekitarnya di kulit bumi 20oC to 30oC tiap kilometernya

Mineralogi dan Petrologi

94

b.

Tekanan

: Tekanan bertambah besar seiring dengan kedalaman. Tekanan pada batuan berasal
dari segala arah mengakibatkan jarak anatara mineral menjadi semakin dekat,
menghasilkan batuan dengan sturktur lebih kompak dan density yang lebih tinggi
Corren (1950) menyatakaan bahwa, semua perubahan yang terjadi (apakah itu proses
pembentukan batuan sedimen ataupun proses metamorfosa), tidak ada perubahan yang bersifat
mendadak, yang ada adalah suatusekuen menerus.
Proses diagenesa yang berlangsung pada pembentukan batuan sedimen akan berhenti bila semua
rongga (antar kepingan) yang saling berhubungan sudah tertutup oleh proses kimiawi ataupun fisika,
bila perubahan berkelanjutan maka akan diteruskan dengan proses metamorfosaatau pada zona ini
proses metamorfosa dimulai.
Ada mineral yang dapat ditemui baik pada batuan sedimen maupun pada batuan metamorf, seperti
mineral feldspar, klorit, kuarsa; tetapi ada juga mineral yang tidak stabil pada proses diagenesa,
sehingga hanya dapat ditemui pada batuan metamorf
saja sepertiglaucophane, epidote,
lauminite,paragonite,lawsonite, pyrophylite,
Temperatur merupakan faktor utama dalam proses metamorfosa :
Batas terendah adalah batas pada proses diagenesa. Batas ini tidak pasti, metmorfosa
berlangsung pada sekitar 100-150o C.
Batas temperatur tinggi diatas kisaran pelelehan dari solid ke likuid.
Peningkatan temperatur membuka penghalang (kinetic barrier) rekristalisasi, dan butiran kecil
melebur kedalam butiran lebih besar.
Mendorong reaksi yang memakan mineral tidak stabil dan menghasilkan mineral baru yang
lebih stabil

Tekanan akan tinggi didaerah aktif plutonik atau daerah rifting dan akan rendah di daerah subduksi
Mineralogi dan Petrologi

95

5.1 Tipe-tipe Metamorfosa:


Bucher dan Frey (1994) mengemukakan bahwa berdasarkan tatanan geologinya, metamorfosa
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Tipe Metamorfosa Lokal
Merupakan metamorfosa yang terjadi pada daerah yang sempit berkisar antara beberapa meter
sampai kilometer saja. Metamorfosa ini dapat dibedakan menjadi
Disebut lokal karena penyebarannya sangat terbatas meliputi:
a. Metamorfosa kontak atau termal
Terjadi pada batuan yang mengalami pemanasan di sekitar kontak massa batuan beku
intrusif maupun ekstrusif. Perubahan terjadi karena pengaruh panas dan material yang
dilepaskan oleh magma serta oleh deformasi akibat gerakan massa. Zona metamorfosa kontak
disebut contact aureole. Proses yang terjadi umumnya berupa rekristalisasi, reaksi antara
mineral, reaksi antara mineral dan fluida serta penggantian dan penambahan material. Batuan
yang dihasilkan umumnya berbutir halus.
b. Metamorfosa kontak
disebabkan oleh adanya kenaikan temperature apada batuan tertentu. Panas tubuh batuan intrusi
yang diteruskan pada batuan sekitarnya mengakibatkan metamorfosa kontak sekitar tubuh

Mineralogi dan Petrologi

96

batuan tersebut dinamakan daerah kontak yang efeknya terliaht pada batuan sekitarnya. Pada
metamorfosa kontak, batuan sekitar berubah menjadi hornfels (batuatanduk) yang susunannya
tergantung pada batuan sedimen asal.
c. Metamorfosa fislokasi katalistik / katalistik / dynamo
Batuan metamorfosa ini dijumpai pada daerah yang mengalami dislokasi misanya pada batuan
ini mengalami proses penggerusan secara mekanik yang disebabkan oleh faktor penekanan
secara kompresional baik tegak maupun mendatar. Batuan metamorfosa katalitik khusus
dijumpai di jalur-jalur orogenesa dimana proses pengangkatan diikuti oleh fase pelipatan dan
pematangan batuan.
d. Pirometamorfosa/ Metamorfosa optalic/Kaustik/Thermal.
Adalah jenis khusus metamorfosa kontak yang menunjukkan efek hasil temperatur yang
tinggi pada kontak batuan dengan magma pada kondisi volkanik atau quasi volkanik. Contoh
pada xenolith atau pada zone dike.

Metamorfosa Kataklastik/Dislokasi/Kinemati/Dinamik
Terjadi pada daerah yang mengalami deformasi intensif, seperti pada patahan. Proses
yang terjadi murni karena gaya mekanis yang mengakibatkan penggerusan dan sranulasi
batuan. Batuan yang dihasilkan bersifat non-foliasi dan dikenal sebagai fault breccia,
fault gauge, ataumilonit.

Metamorfosa Hidrotermal/Metasotisme
Terjadi akibat adanya perkolasi fluida atau gas yang panas pada jaringan antar butir atau
pada retakan-retakan batuan sehingga menyebabkan perubahan komposisi mineral dan
kimia. Perubahan juga dipengaruhi oleh adanya confining pressure.

Metamorfosa Impact
Terjadi akibat adanya tabrakan hypervelocity sebuah meteorit. Kisaran waktunya hanya
beberapa
mikrodetik
dan
umumnya
ditandai
dengan
terbentuknya
mineral coesite danstishovite. Metamorfosa ini erat kaitannya dengan panas bumi
(geothermal).

Metamorfosa Retrogade/Diaropteris
Terjadi akibat adanya penurunan temperature sehingga kumpulan mineral metamorfosa
tingkat tinggi berubah menjadi kumpulan mineral stabil pada temperature yang lebih
rendah (Combs, 1961).

Mineralogi dan Petrologi

97

Gambar Lokasi dan Tipe Metamorfisme

2. Tipe Metamorfosa Regional


Metamorfosa Regional / Dinamo Termal
Metamorfosa ini terjadi pada kulit bumi bagian dalam dan faktor yang berpengaruh adalah
temperature dan tekanan yang sangat tinggi. Secara geografis dan genetik penyebaran batuan
metamorf ini sangat erat kaitannya dengan aktifis orogenesa atau proses terbentuknya gunung
api, meliputi daerah yang luas. Erat hubungannya dengan jalur tumbukan lempeng benua dan
samudra (subduction zone). Batuan ini dicirikan dengan struktur foliasi penjajaran mineral
pipih.

Metamorfosa Orogenik
Metamorfosa ini terjadi pada daerah sabuk orogenik dimana terjadi proses deformasi yang
menyebabkan rekristalisasi. Umumnya batuan metamorf yang dihasilkan mempunyai butiran
mineral yang terorientasi dan membentuk sabuk yang melampar dari ratusan sampai
ribuan kilometer. Proses metamorfosa ini memerlukan waktu yang sangat lama berkisar antara
puluhan juta tahun lalu.

Metamorfosa Burial

Mineralogi dan Petrologi

98

Metamorfosa ini terjadi oleh akibat kenaikan tekanan dan temperatur pada daerah geosinklin
yang mengalami sedimentasi intensif, kemudian terlipat. Proses yang terjadi adalah rekristalisai
dan reaksi antara mineral dengan fluida.

Metamorfosa Dasar dan Samudera


Metamorfosa ini terjadi akibat adanya perubahan pada kerak samudera di sekitar punggungan
tengah samudera (mid oceanic ridges). Batuan metamorf yang dihasilkan umumnya
berkomposisi basa dan ultrabasa. Adanya pemanasan air laut menyebabkan mudah terjadinya
reaksi kimia antara batuan dan air laut tersebut.

Metamorfosa Beban / Burial


Batuan metamorfosa ini terbentuk oleh proses pembekuan oleh suatu masa sedimentasi yang
sangat tebal pada suatu cekungan yang sangat luas atau dikenal dengan sebutan cekungan
geosinklin.

Proses pembentukan mineral pada metamorf dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
1. Dalam keadaaan padat
2. Dalam keadaaan tertutup
3. Tanpa penambahan atau pengurungan unsur dalam sistem tersebut, yang terjadi hanyalah
pertukuran unsur antar mineral yang bersentuhan.
Fasies metamorfosa adalah kelompok metamorf yang menunjukkan kondisi fisik (pengaruh
P&T) tertentu, dicirikan oleh asosiasi mineral yang tetap.

5.2Struktur Batuan Metamorf:


Secara umum struktur yang dijumpai di dalam batuan metamorf dibagi menjadi dua kelompok
besar yaitu struktur foliasi dan struktur non foliasi. Struktur foliasi ditunjukkan oleh adanya penjajaran
mineral-mineral penyusun batuan metamorf, sedang struktur non foliasi tidak memperlihatkan adanya
penjajaran mineral-mineral penyusun batuan metamorf.
A.Struktur Foliasi
Struktur pada batuan metamorf yang ditunjukkan oleh adanya penjajaran mineral penyusun batuan
metamorf. Struktur ini meliputi:
Struktur Slatycleavage
Peralihan dari sedimen ke metamorf, merupakan batuan batu lempung yang mengalami
metamorf derajat rendah, foliasi halus, mulai terdapat daun-daun mika halus.
Mineralogi dan Petrologi

99

Struktur Phylitic
Struktur ini hampir mirip dengan struktur slatycleavage hanya mineral dan kesejajarannya
sudah mulai agak kasar. Derajat metamorfosa lebih tinggi dari pada slate (batu asbak), dimana
daun-daun mika dan klorit sudah cukup besar, berkilap sutera pecah-pecahnya.
Struktur Skistosa
Suatu struktur dimana mineral pipih (biotit, muscovite, feldspar) lebih dominan dibandingkan
dengan mineral butiran. Struktur ini biasanya dihasilkan oleh proses metamorfosa regional,
sangat khas adalah kepingan-kepingan yang jelas dari mineral pipih seperti mika, talk, klorit
dan mineral-mineral yang berserabut lebih tinggi dari philit, karena mulai adanya mineralmineral lain disamping mika.
Struktur Gneisik
Jumlah yang granular relative lebih banyak dari mineral pipih, mempunyai sifat bendit dan
mewakili metamorfosa regonal derajat tinggi. Terdiri dari mineral-mineral seperti kwarsa,
feldspar dan mineral mafik.
A. Struktur Non Foliasi
Struktur yang tidak memperlihatkan adanya penjajaran mineral penyusun batuan metamorf.
Yang termasuk dalam struktur ini adalah:
Struktur Hornfelsik
Dicirikan dengan adanya butiran-butiran yang seragam, terbentuk pada bagian dalam daerah
kontak sekitar tubuh batuan beku. Bertekstur halus dan padat.
Struktur Milonitik
Struktur yang berkembang oleh adanya penghancuran batuan asal karena proses metamorfosa
dynamo, batuan berbutir halus dan mempunyai orientasi mineral.
Struktur Granulose
Struktur ini hampir sama dengan hornfelsik, hanya butirannya mempunyai ukuran yang tidak
sama besar.
Struktur Liniasi
Struktur yang memperlihatkan oleh adanya kumpulan mineral yang berbentuk seperti jarum
(fibrous).
Struktur Kataklastik
Struktur yang memperlihatkan adanya penghancuran terhadap batuan asal.
Struktur Pilonitik
Struktur yang memperlihatkan liniasi dari belahan permukaan yang berbentuk paralel dan
butiran mineralnya lebih kasar dibanding struktur milonitik, malah mendekati tipe struktur filit.
Struktur Flaser: sama struktur kataklastik, namun struktur batuan asal berbentuk lensa yang
tertanam pada masa dasar milonit.
Struktur Augen:
Sama struktur flaser, hanya lensa-lensanya terdiri dari butir-butir felspar dalam masa dasar yang
lebih halus.

Mineralogi dan Petrologi

100

5.3Tekstur Batuan Metamorf


Tekstur yang berkembang selama proses metamorfisme secara tipikal penamaanya mengikuti
kata-kata yang mempunyai akhiran -blastik. Contohnya, batuan metamorf yang berkomposisi kristalkristal berukuran seragam disebut dengan granoblastik. Secara umum satu atau lebih mineral yang
hadir berbeda lebih besar dari rata-rata; kristal yang lebih besar tersebut dinamakan porphiroblast.
Porphiroblast, dalam pemeriksaan sekilas, mungkin membingungkan dengan fenokris (pada batuan
beku), tetapi biasanya mereka dapat dibedakan dari sifat mineraloginya dan foliasi alami yang umum
dari matrik. Pengujian mikroskopik porphiroblast sering menampakkan butiran-butiran dari material
matrik, dalam hal ini disebut poikiloblast. Poikiloblast biasanya dianggap terbentuk oleh pertumbuhan
kristal yang lebih besar disekeliling sisa-sisa mineral terdahulu, tetapi kemungkinan poikiloblast dapat
diakibatkan dengan cara pertumbuhan sederhana pada laju yang lebih cepat daripada mineral-mineral
matriknya, dan yang melingkupinya. Termasuk material yang menunjukkan (karena bentuknya,
orientasi atau penyebarannya) arah kenampakkan mula-mula dalam batuan (seperti skistosity atau
perlapisan asal); dalam hal ini porphiroblast atau poikiloblast dikatakan mempunyai tekstur helicitik.
Kadangkala batuan metamorf terdiri dari kumpulan butiran-butiran yang berbentuk melensa
atau elipsoida; bentuk dari kumpulan-kumpulan ini disebut augen (German untuk mata), dan
umumnya hasil dari kataklastik (penghancuran, pembutiran, dan rotasi). Sisa kumpulan ini dihasilkan
dalam butiran matrik. Istilah umum untuk agregat adalah porphyroklast.

Tekstur batnuan metamorf digolongkan menjadi:


Tekstur kristaloblastik
Tekstur yang tejadi pada tumbuhya mineral dalam suasana padat (tekstur batuan asal tidak
nampak lagi) dan bukan mengkristal dalam suasana cair. Karena itu Kristal yang terjadi disebut
blastos.
Lepidoblastik, tekstur batuan metamorf yang didominasi oleh mineral-mineral pipih yang
memperliahtkan orientasi sejajar, seperti mineral biotit, muscovite dan sebagainya.
Granoblastik, tekstur pada batuan metamorf yang terdiri dari mineral-mineral yang
membentuk butiran-butiran yang seragam, seperti kwarsa, kalsit, garnet, dan lain-lain.
Nematoblastik, terdiri dari mineral-mineral berbentuk prismatik, menjarum yang
memperlihatkan orientasi sejajar, seperti mineral amphibol, silimanit, prioksen, dan lainlain.
Porfiroblastik, tekstur pada batuan metamorf dimana Kristal besar (fenokris) tertanam
dalam massa dasar yang relatif halus.

Mineralogi dan Petrologi

101

Idioblastik, tekstur batuan metamorf dimana bentuk mineral-mineral penyusunnya


berbentuk euhedral.
Xenoblastik, tekstur pada batuan metamorf dimana bentuk-bentuk mineral penyusun
berbentuk euhedral.
Tekstur palimpsest
Merupakan tekstur sisa dari batuan asal yang dijumpai pada batuan metamorf.
Blastoforforitik, suatu tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur porfiritik.
Blastopsefit, suatu tekstur sisa dari batuan sedimen yang ukurannya lebih besar dari pasir.
Blastopsamit, tekstur sisa dari batuan sedimen yang berukuran pasir.
Blastopelit, tekstur sisa dari batuan sedimen yang berukuran lempung.

Gambar Tekstur batuan metamorf (Compton, 1985).

5.4 Komposisi Batuan Metamorf


Pertumbuhan dari mineral-mineral baru atau rekristalisasi dari mineral yang ada sebelumnya
sebagai akibat perubahan tekanan dan atau temperatur menghasilkan pembentukan kristal lain yang
baik, sedang atau perkembangan sisi muka yang jelek; kristal ini dinamakan idioblastik, hypidioblastik,
atau xenoblastik. Secara umum batuan metamorf disusun oleh mineral-mineral tertentu namun secara
khusus mineral penyusun batuan metamorf dikelompokkan menjadi dua yaitu :
(1) mineral stress dan
(2) mineral anti stress.

Mineralogi dan Petrologi

102

Mineral stress adalah mineral yang stabil dalam kondisi tekanan, dapat berbentuk pipih/tabular,
prismatik dan tumbuh tegak lurus terhadap arah gaya/stress meliputi: mika, tremolit-aktinolit,
hornblende, serpentin, silimanit, kianit, seolit, glaukopan, klorit, epidot, staurolit dan antolit. Sedang
mineral anti stress adalah mineral yang terbentuk dalam kondisi tekanan, biasanya berbentuk
equidimensional, meliputi: kuarsa, felspar, garnet, kalsit dan kordierit.
Jenis batuan metamorf lain penamaannya hanya berdasarkan pada komposisi mineral,
seperti: Marmer disusun hampir semuanya dari kalsit atau dolomit; secara tipikal bertekstur
granoblastik. Kuarsit adalah batuan metamorfik bertekstur granobastik dengan komposisi utama adalah
kuarsa, dibentuk oleh rekristalisasi dari batupasir atau chert/rijang. Secara umum jenis batuan
metamorfik yang lain adalah sebagai berikut:
A. Amphibolit: Batuan yang berbutir sedang sampai kasar komposisi utamanya adalah ampibol
(biasanya hornblende) dan plagioklas.
B. Eclogit: Batuan yang berbutir sedang komposisi utama adalah piroksin klino ompasit tanpa
plagioklas felspar (sodium dan diopsit kaya alumina) dan garnet kaya pyrop. Eclogit
mempunyai komposisi kimia seperti basal, tetapi mengandung fase yang lebih berat. Beberapa
eclogit berasal dari batuan beku.
C. Granulit: Batuan yang berbutir merata terdiri dari mineral (terutama kuarsa, felspar, sedikit
garnet dan piroksin) mempunyai tekstur granoblastik. Perkembangan struktur gnessiknya
lemah mungkin terdiri dari lensa-lensa datar kuarsa dan/atau felspar.
D. Hornfels: Berbutir halus, batuan metamorfisme thermal terdiri dari butiran-butiran yang
equidimensional dalam orientasi acak. Beberapa porphiroblast atau sisa fenokris mungkin ada.
Butiran-butiran kasar yang sama disebut granofels.
E. Milonit: Cerat berbutir halus atau kumpulan batuan yang dihasilkan oleh pembutiran atau
aliran dari batuan yang lebih kasar. Batuan mungkin menjadi protomilonit, milonit, atau
ultramilomit, tergantung atas jumlah dari fragmen yang tersisa. Bilamana batuan mempunyai
skistosity dengan kilap permukaan sutera, rekristralisasi mika, batuannya disebut philonit.
F. Serpentinit: Batuan yang hampir seluruhnya terdiri dari mineral-mineral dari kelompok
serpentin. Mineral asesori meliputi klorit, talk, dan karbonat. Serpentinit dihasilkan dari
alterasi mineral silikat feromagnesium yang terlebih dahulu ada, seperti olivin dan piroksen.
G. Skarn: Marmer yang tidak bersih/kotor yang mengandung kristal dari mineral kapur-silikat
seperti garnet, epidot, dan sebagainya. Skarn terjadi karena perubahan komposisi batuan
penutup (country rock) pada kontak batuan beku.

Mineralogi dan Petrologi

103

Tabel Tekstur Mineral

Mineral stress
Suatu mineral yag stabil dalam kondisi tekanan dimana mineral ini dapat berbentuk pipih atau
tabular, prismatik, maka mineral tersebut akan tumbuh tegak lurus terhadap arah gaya, sebagai
contoh:Mika, Tremolit-actionolit, Hornblende, Serpentin, Silimanit, Kyanit, Zeolit, Glaukopan,
Klorit, Epidot, Staurolit, Antopolit

Mineral anti stress


Suatu mineral yang terbentuk dalam kondisi tekanan dimana biasanya berbentuk
equidimensional. Sebagai contoh adalah:Kwarsa, Feldspar, Garnet, Kalsit, Koordierit.

Mineralogi dan Petrologi

104

Penanaman Batuan Metamorf


Berdasarkan struktur.

Struktur

Nama Batuan

Slatycleavage

Slate

Philitic

Philit

Schistosity

Skiss

Gneissic

Gneis

Apabila mineral tertentu dalam jumlah banyak maka dapat diberi nama bangunan
Skis + Mika Mikaskiss
Untuk struktur non faliasi komposisi mineral memegang peranan penting dalam
penamaan batuan.
Bila dominan kwarsa
kwarsit
Bila dominan kalsit
marmer
Bila dominan serpentin
serpentinit

5.5 MACAM-MACAM BATUAN METAMORF


1.

Marmer
Marmer atau batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau
malihan dari batu gamping. Pengaruh suhu dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya
endogen menyebabkan terjadi rekristalisasi pada batuan tersebut membentuk berbagai
foliasi mapun non foliasi. Akibat rekristalisasi struktur asal batuan membentuk tekstur
baru dan keteraturan butir. Marmer Indonesia diperkirakan berumur sekitar 3060 juta
tahun atau berumur Kuarter hingga Tersier. Marmer akan selalu berasosiasi
keberadaanya dengan batugamping. Setiap ada batu marmer akan selalu ada
batugamping, walaupun tidak setiap ada batugamping akan ada marmer. Karena
keberadaan marmer berhubungan dengan proses gaya endogen yang
mempengaruhinya baik berupa tekan maupun perubahan temperatur yang tinggi. Di
Indonesia penyebaran marmer tersebut cukup banyak, seperti dapat dilihat pada.
Penggunaan marmer atau batu pualam tersebut biasa dikategorikan kepada dua
penampilan yaitu tipe ordinario dan tipe staturio. Tipe ordinario biasanya digunakan
untuk pembuatan tempat mandi, meja-meja, dinding dan sebagainya, sedangka tipe
staturio sering dipakai untuk seni pahat dan patung. Ditemukan di gunung Jokotuwo,
Bayat, Klaten.

2.

Marmer merah
Warna yang cenderung ngejreng dan terkesan vokal, membuat jeni batu ini
menjadi batu marmer favorit masyarakat. Batu ini pun sudah lama dimanfaatkan
sebagai bahan untuk mempercantik bangunan. Hingga saat ini jenis batu marmer
merah masih digunakan sebagai bahan elemen interior dan eksterior. Ditemukan di
karangsambung, Kebumen.

3.

Sekismika
Batuan sekis mika memiliki warna abu-abu dan mengkilap putih, dengan
komponen mineralnya yaitu mika, merupakan metamorf foliasi. Pada deretan batuan
sekis mika ini terdapat aliran sungai yang merupakan arah aliran subsekuaen karena
sungainya sejajar dengan arah straight. Pada struktunya terdapat rekahan yang telah
terisi oleh mineral kuarsa yang masuk ke celah-celah rekahan tersebut. Sekis mika
berfoliasi lemah terdapat komponen mika dan kuarsa. Terbentuk karena akibat
tektonik yang merupakan fanerik lepidoblastik skistosa. Batuan dengan mineral mika
yang berkilauan ketika tertimpa sinar matahari ini adalah batu tertua yang tersingkap
di Pulau Jawa. Ditemukan di bayat, Klaten.

4.

Sekis hijau
Batuan Sekis hijau (metamorf) merupakan satuan batuan tertua sebagai
basement yang berumur Trias (TrS) terdapat di bagian timur daerah penyelidikan.
Luas penyebarannya cukup luas sekitar 20% menutupi daerah penelitian dengan
ketebalan diperkirakan lebih dari 300 meter (?). Batuan Sekis hijau ini tersingkap
pada penorehan struktur sesar dijumpai pada bagian tebing sungai Binangga hingga
ke bagian selatan didaerah desa Pakuli dan Simoro. Batuan ini tersingkap sebagai
Sekis hijau, berwarna hijau tua, berlapis sebagai bidang foliasi, kompak, berbutir
halus, lanau sampai lempung dan setempat-setempat rekahan terisi oleh urat-urat
kwarsa maupun kalsit. Ditemukan di sadang, Kebumen.

5.

Sekis biru
Fasies blueschist atau sekis biru yang mengandung mineral sodic biru amp
hibol, glaukopan bersama dengan mineral lawstonite. Ditemukann di sadang,
Kebumen.

6.

Gneis

Gneiss adalah typical dari jenis batuan metamorf, batuan ini terbentuk pada
saat batuan sedimen atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam
mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi. Hampir dari semua jejak jejak asli
batuan ( termasuk kandungan fosil) dan bentuk bentuk struktur lapisan ( seperti
layering dan ripple marks) menjadi hilang akibat dari mineral-mineral mengalami
proses migrasi dan rekristalisasi. Pada batuan ini terbentuk goresan goresan yang
tersusun dari mineral mineral seperti hornblende yang tidak terdapat pada batuan
batuan sediment. Ditemukan di Pulau bangka, belitung.

7.

Filit
Filit berwarna hitam terdapat pada dinding sungai yang terjal. Batuan ini
terbentuk selama proses penunjaman serta merupakan batuan metamorf berderajat
rendah. Proses tektonik dan deformasi lebih lanjut berupa patahan geser searah aliran
sungai, membentuk lipatan-lipatan kecil serta struktur gores garis pada batuan filit.
Ditemukan di Bayat, klaten.

8.

Agate
Agate adalah mikrokristalin berbagai kuarsa ( silika ), ditandai oleh kehalusan
yang gandum dan kecerahan warna. Meski agates dapat ditemukan di berbagai jenis
batu, mereka klasik terkait dengan gunung berapi batu tetapi dapat umum di beberapa
batu metamorfik dan lainnya chalcedonies diperoleh lebih dari 3.000 tahun yang lalu
dari Sungai Achates, sekarang disebut Dirillo , di Sisilia . Agate adalah salah satu
yang paling bahan umum digunakan dalam seni ukir hardstone , dan telah pulih di
sejumlah situs kuno, yang menunjukkan penggunaan meluas dalam dunia kuno,

misalnya, pemulihan arkeologi di Knossos situs di Kreta menggambarkan perannya


dalam Zaman Perunggu Minoan budaya. Ditemukan di karangsambunng, Kebumen.

9.

Nefrit
Nefrit adalah permata , berbagai amphibole , bersama dengan giok giok
dikenal nama. (Jadeit je pyroxen.) warna giok adalah bayam hijau tua, mineral
memiliki kekerasan sekitar 7 derajat skala Mohs, seperti kuarsa, tetapi lebih sulit
karena struktur mikrokristalin. Setelah polishing sangat estetika, dengan kemilau kaca
sempurna. Ditemukan di Karang sambung Kebumen.

10.

Horenfels
Hornfels ( Jerman , yang berarti "hornstone," setelah sering hubungan dengan
glasial "puncak" tanduk di Alps, menjadi batu yang sangat keras dan dengan demikian
lebih mungkin untuk menolak tindakan glasial dan tanduk berbentuk seperti bentuk
puncak Matterhorn ) adalah kelompok peruntukan untuk serangkaian metamorf
kontak batuan yang telah dipanggang dan indurated oleh panas mengganggu massa
beku dan telah diberikan besar, keras, splintery, dan dalam beberapa kasus yang
sangat tangguh dan tahan lama. Ditemukan di watumpang, Kebumen.

11.

Asbes
Asbes merupakan mineral yang berbentuk serat-serat yang mudah terpisah.
Ukuran sebuah serat asbes sangat kecil dan halus. Karena itulah mudah beterbangan
di udara. Apabila terhirup, asbes akan segera masuk ke dalam rongga pernapasan,
kemudian menimbulkan berbagai kerusakan. Ditemukan di karangsambung,
Kebumen.

12.

13.

14.

Amphibolite
Berasal dari batuan beku basa dan beberapa berasal dari batuan sedimen
kalkarius(gamping). Biasanya berwarna gelap dengan komposisi utama hornblenda ,
plagioklas dan biotit.
Mineral tambahannya antara lain epidote, garnet, quartz, zoisite dan kadangkadang dijumpai pyroxene, apatite, calcite, chlorite, scapolite, sphene, tourmaline,
pyrite, rutile.
Serpentinite.
Pada umumnya berwarana hijau gelap sampai kecoklatan. Membentuk
penjajaran seperti bidang Foliasi (bukan dari mika). Berasal dari mineral piroksin
/hypersthen yang terpengaruh temperatur yang sangat tinggi. Mineral asosiasinya :
hypersthen, biotite, cordierite, diopside, garnet, hornblende, kyanite, orthoclase,
plagioclase, quartz, sillimanite. Kadang-kadang dijumpai : apatite, corundum,
graphite, ilmenite, spinel
Eclogite
Merupakan batuan metamorf regional ,pada umumnya berwarna hijau dengan
butiran mineral sedang, komposisinya menyerupai basal. Mineral utamanya adalah :

15.

16.

alamandine-garnet, omphacite, kyanite. Sedangkan mineral tambahannnya adalah :


apatite, glaucophane, muscovite, plagioclase, zoisite.
Serpentinite.
Pada umumnya berwarana hijau gelap sampai kecoklatan. Membentuk
penjajaran seperti bidang Foliasi (bukan dari mika). Berasal dari mineral piroksin
/hypersthen yang terpengaruh temperatur yang sangat tinggi. Mineral asosiasinya :
hypersthen, biotite, cordierite, diopside, garnet, hornblende, kyanite, orthoclase,
plagioclase, quartz, sillimanite. Kadang-kadang dijumpai : apatite, corundum,
graphite, ilmenite, spinel
Eclogite
Merupakan batuan metamorf regional ,pada umumnya berwarna hijau dengan
butiran mineral sedang, komposisinya menyerupai basal. Mineral utamanya adalah :
alamandine-garnet, omphacite, kyanite. Sedangkan mineral tambahannnya adalah :
apatite, glaucophane, muscovite, plagioclase, zoisite.

DAFTAR PUSTAKA

Witjahjati, Retno. Mineralogi dan Petrologi Teknik Pertambangan.Jakarta :Universitas


Trisakti.
Mineralogi. 27 Juni 2014 . http://perpustakaangeografionline.blogspot.com

Strukturdan Tekstur Batuan. 29 Juni 2014


.http://tambangunp.blogspot.com/2013/07/struktur-dan-tekstur-batuan.html

Manual of Mineralogy; James Dana; John Willey & Son, New York, 1968.
MANUAL OF MINERALOGY ( after JAMES DANA); 20th edition; Cornelis Klein (The
University of New Mexico); Cornelius S. Hulburt , Jr (Havard University);1998; John wiley
& sons, New York,Chichester, Brisbane, Toronto,Singapore.

A Course of Mineralogy; A, Betekhtin; Peace Publisher Moscow.

An Intoduction to Mineralogy; W.J. Phillips, N. Phillips ; Jhon Willey and Son.

Essential of crystallography; Y.Flint; Peace publishers Moscow.

http://www.scribd.com/doc/211850959/pengertian-Petrologi

http://wingmanarrows.wordpress.com/geological/petrologi/batuan-beku/

http://rizqigeos.blogspot.com/2013/05/batuan-metamorf.html
http://nuranigeo.blogspot.co.uk/2013/07/pengetian-dan-klasifikasi-batuan-sedimen.html