Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Vaksin telah lama dikenal sebagai suatu substansi yang digunakan untuk
memperoleh respon imun terhadap mikroorganisme patogen. Vaksin pertama kali
ditemukan pada tahun 1796 oleh Edward Jenner yaitu vaksin virus cacar. Sejak
saat itu teknologi pembuatan vaksin telah berkembang dengan pesat dan berbagai
jenis vaksin untuk mencegah penyakit infeksi telah banyak digunakan. Vaksin
konvensional baik vaksin generasi pertama yaitu vaksin yang mengandung
mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan, vaksin generasi kedua yaitu vaksin
yang mengandung mikroorganisme yang dimatikan, dan vaksin generasi yang
ketiga yaitu vaksin rekombinan yang juga dikenal dengan vaksin sub unit yang
mengandung fragmen antigenik dari suatu mikroorganisme yang dapat
merangsang respon imun, dalam penggunaannya masih memiliki beberapa
kelemahan.(1)
Sebelum ditemukannya vaksin, kematian akibat cacar variola besar sangat
tinggi. Catatan sejarah menunjukkan metode kekebalan dengan cara merangsang
kekebakan sudah dikenal. Sebuah proses yang disebut inokulasi, juga dikenal
sebagai insuflasi atau "variolation" dipraktekkan di India sejak 1000 SM. Peneliti
lain mengatakan inokulasi cacar dilakukan juga di China. Wan Quan (1499-1582)
dalam bukunya Douzhen Xinfa diterbitkan pada tahun 1549, Inokulasi cacar
dilakukandi China sampai era pemerintahan Kaisar Longqing (1567-1572) pada
era Dinasti Ming.(2)
Variolation juga dipraktekkan pada abad ke-17 oleh para dokter di Turki,
Persia, dan Afrika. Pada 1714 dan 1716, dua laporan dari Kekaisaran Ottoman
Turki menyebutkanmetode inokulasi terhadap cacar dilakukan untuk Royal
Society di Inggris, oleh Emmanuel Timoni, seorang dokter berafiliasi dengan
Kedutaan Besar Inggris di Konstantinopel, dan Giacomo Pylarini.(2)
Mithridates Eupatoris VI seorang raja dari Pontis Yunani, (Tahun 132 63
SM) dianggap banyak peneliti merupakan ahli imunologi pertama. Cara yang
digunakan Mithridates yaitu: meminum racun sedikit demi sedikit sehingga orang

menjadi kebal terhadap racun. Dikenal dengan paham mithridatisme. Metode


tersebut bahkan sampai sekarang masih ada yang melakukakannya walaupun
beresiko tinggi. Pada abad ke 12, bangsa China mengenali bagaimana mengatasi
penyakit cacar. Cairan atau kerak dari orang yang terkena cacar tapi tidak berat
apabila dioleskan pada kulit orang sehat dapat melindungi terhadap cacar. Begitu
pula orang timur tengah menggoreskannya pada orang dengan membubuhkan
bubuk pada penderita cacar yang tidak parah akan melindungi keadaan yang lebih
parah. Metode ini dikenal dengan: tindakan variolasi.(2)
Pada usia 13, Jenner magang di tempat Dr Ludlow di Sodbury. Dia mengamati
bahwa orang-orang yang bekerja di peternakan yang kebetulan terkena cacar
ternyata diketahui tidak terkena cacar. Dia menganggap ada hubungan kausal.
Setelah Jenner kembali dari sekolah kedokteran di London. Ketika sebuah
epidemi cacar melanda daerahnya kota Berkeley, Inggris, dia menyarankan para
pekerja sapi lokal diinokulasi. Para petani mengatakan kepadanya bahwa cacar
sapi mencegah cacar. Ini menegaskan kecurigaan masa kecilnya, dan ia
mempelajari lebih lanjut tentang cacar sapi setempat.(2)
Edward Jenner (Tahun 1749 1823), menggunakan bibit penyakit cacar dari
sapi untuk ditularkan pada manusia. Setidaknya enam orang di Inggris dan Jerman
(Sevel, Jensen, Jesty 1774, Rendall, Plett 1791), diuji dengan sukses kemungkinan
menggunakan vaksin cacar sapi sebagai imunisasi untuk cacar pada manusia.
Jenner melaporkan pengamatannya kepada Royal Society. Saat itu mulailah
penggunaan vaksinasi untuk menggantikan istilah variolasi. Vacca: sapi. Vaksin
pertama diproduksi oleh Edward Jenner untuk memberikan perlindungan terhadap
penyakit cacar. Jenner menyadari bahwa pemerah susu yang telah tertular cacar
sapi, sebuah infeksi yang relatif tidak berbahaya, menjadi tahan terhadap penyakit
cacar, kasus penyakit manusia yang sering menjadi epidemi dengan angka
kematian yang sangat tinggi.(2)
Jenner berteori bahwa yang cacar sapi, penyakit hewan, tidak berbeda dengan
penyakit cacar. Dia menyimpulkan bahwa reaksi manusia terhadap suntikan virus
cacar sapi entah bagaimana mekanismenya akan mengajarkan tubuh manusia
bagaimana untuk menghadapi kedua virus ini sehingga tidak menyebabkan
penyakit berat atau kematian. Saat ini, penyakit cacar diyakini sudah benar-benar

dapat diatasi. Karena penemuannya ini, maka Dr. Edward Jenner juga dikenal di
dunia kedokteran modern sebagai Bapak Ilmu Imunologi(2)
Pengembangan vaksin untuk melindungi manusia dari penyakit virus adalah
salah satu keunggulan dari pengobatan modern. Louis Pasteur dan kawan-kawan
(18221895), meneliti kemungkinan pencegahan penyakit dengan cara vaksinasi
melalui penggunaan bibit penyakit yang telah dilemahkan terlebih dahulu. Pada
waktu itu digunakan untuk mengatasi penyakit kholera yang disebabkan
Pasteurella aviseptica. Pfeifer (1880) murid Koch meneliti Vibrio cholerae untuk
mengatasi

wabah

penyakit

kholera.

Elie

Metchnikof

(18451916)

mengungkapkan bagaimana mekanisme efektor bekerja dalam tubuh terhadap


benda asing. Memperkuat pendapat Koch dan Neisser. Adanya mekanisme efektor
dari sel leukosit untuk mengusir bakteri dinamakan proses fagositosis. Sel tubuh
yang memiliki kemampuan fagositosis dinamakan fagosit. Fodor (1886), ilmuwan
pertama yang mengamati pengaruh langsung dari serum imun terhadap mikroba
tanpa campur tangannya komponen seluler. Penemuan ini diperkuat oleh Behring
dan Kitasato (1890). yang menunjukkan bahwa serum dapat menetralkan aktifitas
tetanus dan difteri. Jules Bordet (18701961) mengemukakan bahwa untuk lisis
diperlukan 2 komponen yang terdapat dalam serum imun. Sebuah diantaranya
bersifat termostabil yang dikemudian hari ternyata adalah antibodi sedangkan
komponen lainnya bersifat termolabil yang dinamakan komplemen.(2)
Pada saat itulah mulai diperkenalkan istilah antigen untuk memberikan nama
bagi semua substansi yang dapat menimbulkan reaksi dalam tubuh terhadapnya.
Dan juga istilah antibodi untuk substansi dalam serum yang mempunyai aktifitas
menanggulangi terhadap antigen yang masuk ke tubuh. Penemuan oleh Fodor
mengawali penelitian untuk mendukung teori mekanisme melalui imunitas
humoral. Wright dan Douglas (1903), mengatakan proses fagositosis akan
dipermudah apabila ditambahkan serum imun. Bahanyang diduga dikandung
dalam serum itu dinamakan opsonin. Jadi mekanisme efektor seluler dan humoral
bersifat saling memperkuat. Pada saat bersamaan ditemukan fenomena lain dalam
imunologi yaitu adanya penyimpangan dalam tubuh seseorang karena bereaksi
terlalu peka. Pirquet membedakan fenomena tersebut dalam bentuk serum
sickness, alergi dan anafilaksis.

Sampai Tahun 1940an banyak dilakukan


3

penelitian tentang aplikasi dan pengembangan tentang fenomena imunologi


khususnya dalam penyediaan serum imun (anti tetanus, anti rabies dan lain-lain),
reagen untuk diagnostik dan program vaksinasi. Felton, menemukan fenomena
lain yaitu bahwa dalam tubuh mungkin dapat timbul tidak adanya respon imun
terhadap suatu subtansi atau antigen tertentu. Fenomena ini disebut toleransi
imunologik. Felton berhasil memurnikan untuk pertamakalinya antibodi dari
antiserum kuda terhadap pneumococcus.(2)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi KIPI
Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penaggulangan KIPI (KN PP
KIPI), KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1
bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat
mencapai masa 42 hari.(10)
Kejadian ikutan paska imunisasi adalah sebagai reaksi simpangan yang
dikenal sebagai kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI) adalah kejadian medik
yang berhubungan dengan imunisasi baik berupa efek vaksin ataupun efek
samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, atau kesalahan
program, faktor kebetulan, reaksi suntikan, atau hubungan kausal yang tidak dapat
ditentukan. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42
hari (artritis kronik paska vaksinasi rubela), atau bahkan sampai 6 bulan (infeksi
virus campak vaccine-strain pada pasien imunodefisiensi paska vaksinasi campak,
dan polio paralitik serta infeksi virus polio vaccine-strain pada resipien non
imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi paska vaksinasi polio). (10)
Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi
simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi berupa efek
farmakologi, efek samping (side-effect), interaksi obat, intoleransi, reaksi
idiosinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan satu
dengan yang lainnya. Efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi
umumnya terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi
merupakan kepekaan seseorang terhadap unsur vaksin dengan latar belakang
genetik. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak,
gendong, influenza, dan demam (kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin,
merkuri), atau unsur lain yang terkandung dalam vaksin.(10)
Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena
kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpangan
vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata
kejadian yang timbul secara kebetulan. Persepsi awam dan juga kalangan petugas
kesehatan, menganggap semua kalainan dan kejadian yang dihubungkan dengan
imunisasi sebagai reaksi alergi terhadap vaksin. Akan tetapi telah laporan KIPI
5

oleh Vaccine Safety Comittee, Institute of Medicine (IOM) USA menyatakan


bahwa sebagian besar KIPI terjadi secara kebetulan saja (koinsidensi). Kejadian
yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan
teknik pelaksanaan (programmatic erros).(10)
2.2 Epidemiologi KIPI(11)
Kejadian ikutan paska imunisasi akan timbul setelah pemberian vaksin
dalam jumlah besar. Penelitian efikasi dan keamanan vaksin dihasilkan melalui
fase uji klinis yang lazim, yaitu fase 1, 2, 3, dan 4. Uji klinis fase 1 dilakukan pada
binatang percobaan sedangkan fase selanjutnya pada manusia. Uji klinis fase 2
untuk mengetahui keamanan vaksin (reactogenicity and safety), sedangkan pada
fase 3 selain keamanan juga dilakukan uji efektivitas (imunogenisitas) vaksin.
Pada jumlah penerima vaksin yang terbatas mungkin KIPI belum tampak, maka
untuk menilai KIPI diperlukan uji klinis fase 4 dengan sampel besar yang dikenal
sebagai Post Marketing Surveilance (PMS). Tujuan PMS adalah untuk memonitor
dan mengetahui keamanan vaksin setalah pemakaian yang cukup luas di
masyarakat (dalam hal ini program imunisasi). Data PMS dapat memberikan
keuntungan bagi program apabila semua KIPI (terutama KIPI barat) dilaporkan,
dan masalahnya segera diselesaikan. Sebaliknya akan merugikan apabila program
tidak segera tanggap terhadap masalah KIPI yang timbul sehingga terjadi
keresahan masyarakat terhadap efek samping vaksin dengan segala akibatnya.
Menurut National Childhood Vaccine Injury dari Committe of the Institute of
Medicine (IOM) di USA sangat sulit mendapatkan data KIPI oleh karena:
1. Mekanisme biologis gejala KIPI kurang dipahami
2. Data KIPI yang dilaporkan kurang rinci dan kurang akurat
3. Surveilans KIPI belum luas dan menyeluruh
4.Surveilans KIPI belum dilakukan untuk jangka panjang
5. Kurang publikasi KIPI dalam kasus yang besar.
Mengingat hal tersebut, maka sangat sulit menentukan jumlah kasus KIPI
yang sebenarnya. Kejadian ikutan paska imunisasi dapat ringan sampai berat,
terutama pada imunisasi masal atau setelah penggunaan lebih dari 10.000 dosis.
(11)

2.3 Klasifikasi penyebab KIPI


Dalam membuat kajian KIPI, Komnas PP-KIPI mengelompokkan KIPI
dalam 2 klasifikasi yaitu klasifikasi lapangan dan klasifikasi kausalitas. (12)
1. Klasifikasi lapangan(12)

Sesuai dengan manfaat situasi di lapangan maka sebagai acuan untuk


Komnas dan Komda PP-KIPI dengan menggunakan kriteria WHO untuk
memilah KIPI dalam lima kelompok penyebab, yaitu:
a. Kesalahan prosedur/teknik pelaksanaan (programmatic errors)
KIPI yang berhubungan dengan masalah prosedur dan teknik
pelaksanaan imunisasi, meliputi kesalahan prosedur penyimpanan,
pengelolaan dan tata laksana pemberian vaksin.
b. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik
baik langsung maupun tidak langsung. Reaksi suntikan langsung
misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan,
sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing,
mual, sampai sinkope.
c. Induksi vaksin (reaksi vaksin)
KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat
diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin
dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja
terjadi SAE (Serious Adverse Event) berupa gejala klinis hebat seperti
reaksi anafilaktik sistemik dengan risiko kematian. Meskipun
kemungkinan kejadian sangat kecil (1/satu juta).
d. Faktor kebetulan (koinsiden)
KIPI yang terjadi secara kebetulan saja setelah imunisasi. Salah
satu indikator faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya
kejadian yang sama di saat bersamaan pada kelompok populasi
setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak mendapat imunisasi.
e. Penyebab tidak diketahui
Bila karena kurang lengkapnya informasi KIPI yang dilaporkan
belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab, maka
untuk sementara dimasukkan ke dalam kelompok ini

sambil

menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya dengan kelengkapan


informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.
2. Klasifikasi Kualitas(12)
Klasifikasi kualitas mengelompokkan KIPI menjadi 6 (enam) kelompok
yaitu:
a. Very likely / Certain

Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang mungkin (masuk


akal) terhadap pemberian vaksin dan tidak dapat dijelaskan
berdasarkan penyakit penyerta atau obat atau zat kimia lain.
b. Probable
Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang masuk akal dengan
pemberian vaksin dan sepertinya tidak berhubungan dengan penyakit
penyerta atau obat atau zat kimia lain.
c. Possible
Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang masuk akal dengan
pemberian vaksin namun dapat berhubungan dengan penyakit penyerta
atau obat atau zat kimia lain.
d. Unlikely
Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang mungkin (masuk
akal) terhadap pemberian vaksin menyebabkan hubungan kasual tidak
mungkin namun mungkin dapat dijelaskan berdasarkan penyakit
penyerta atau obat atau zat kimia lain.
e. Unrelated
Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang tidak mungkin
(masuk akal) terhadap pemberian

vaksin

dan

dapat

dijelaskan

berdasarkan penyakit penyerta atau obat atau zat kimia lain.


f. Unclassifiable
Kejadian klinis dengan informasi yang tidak cukup untuk
memungkinkan dilakukan penilaian dan identifikasi penyebab.
2.4. Gejala Klinis dan Tatalaksana KIPI(10)
Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat
dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi
lainnya. Pada umumnya makin cepat terjadi KIPI makin berat gejalanya. Baku
keamanan suatu vaksin dituntut lebih tinggi daripada obat. Hal ini disebabkan
oleh karena pada umumnya produksi farmasi diperuntukkan orang sakit
sedangkan vaksin untuk orang sehat terutama bayi. Karena itu toleransi terhadap
efek samping vaksin harus lebih kecil daripada obat-obatan untuk orang sakit.
Mengingat tidak ada satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek samping, maka
apabila seorang anak telah mendapat imunisasi perlu diobservasi beberapa saat,
sehingga dipastikan bahwa tidak terjadi KIPI (reaksi cepat). Berapa lama

observasi sebenarnya sulit ditentukan, tetapi pada umumnya setelah pemberian


setiap jenis imunisasi harus dilakukan observasi selama 15 menit.
Tabel 1. Gejala dan Penanggulangan KIPI

10

2.5 Pemberian Vaksinasi / Imunisasi dan KIPI

Gambar 1. Jadwal pemberian vaksin IDAI(9)

Jenis-Jenis VAKSINASI/ IMUNISASI yang ada:

Hepatitis B(7)
Pencegahan dengan hepatitis B dilakukan dengan menggunakan
immunoglobulin hepatitis. Vaksin hepatitis B tersedia dalam bentuk vaksin
rekombinan. Vaksin hepatitis B di anjurkan bagi semua bayi baru lahir,
individu yang beresiko tertular hepatitis B karena pekerjaan, pasien
11

hemodialisis, pasien yang memerlukan transfusi berulang serta individu


yang serumah dengan penderita hepatitis B atau mengalami kontak secara
langsung.
Cara pemberian
Jadwal anjuran

: Intramaskular
: 3 kali, di berikan segera setelah lahir

(sebelum 12 jam), usia 1 dan 6 bulan


Dosis
: 0,5ml
(7)
Poliomielitis
Tersedia 2 jenis vaksin polio yaitu oral (oral polio vaccine/OPV jenis
Sabin yang mengandung 3 strain) dan injeksi (inactivated polio
vaccine/IPV jenis salk).
Cara pemberian
Jadwal anjuran

: oral OPV atau intramuskular (IPV)


: usia 0 (dianjurkan OPV), 2, 4, 6, 18-20

bulan dan 5 tahun.


Dosis
: 2 tetes
BCG( Bacillus Calmatte Guerin)(7)
Vaksin BCG berasal dari strain M bovis. BCG dapat mencegah
TB(Tuberkulosis) berat yang mematikan pada balita dan anak.
Cara pemberian
: intrakutan
Jadwal anjuran
: usia < 3 bulan ; apabila >3 bulan harus

Mantoux negatif
Dosis
: 0,05 ml untuk bayi, 0,1 untuk anak
DTP ( Difteri, Tetanus, Pertusis)(7)
Vaksinasi difteri dan tetanus diberikan dalam bentuk toksoid. Vaksin
pertusis yang diberikan pada vaksin DTwP(Diptheria, Tetanus, whole cell
pertussis)

merupakan

suspensi

B.

Pertusis

mati,

sementara

DTaP(Diptheria, Tetanus, acelullar pertussis) mengandung fraksi sel dari


B. Pertusis.
Cara pemberian
Jadwal anjuran

: intramuskular
: 2, 4, 6, 18, bulan, 5 tahun, kemudian

booster setiap 10 tahun.

Campak(7)
Dapat diberikan tunggal atau kombinasi (campak, gondong dan rubella).
Cara pemberian
: subkutan
Jadwal anjuran
: usia 9 bulan dan diberikan lagi pada usia 6
tahun
Dosis
: 0,5 ml
HiB (Haemophylus Influenza tipe B)(7)

12

Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit menigitis dan pneumonia


yang disebabkan oleh Haemophylus Influenza tipe B.Dapat diberikan
bersamaan dengan vaksin DPT
Cara pemberian
: intramuskular
Jadwal anjuran
: usia 2, 4, 6 bulan.

Pneumokokus(7)
Terdapat 2 jenis vaksin di antaranya PPV (pnemucoccal polysaccharide
vaccine) dan PCV (pneumoccocal conjugated vaccine) untuk mencegah

terjadinya pneumonia, sepsis, otitis media akut, dan meningitis.


Cara pemberian
: intramuskular
Jadwal anjuran
: usia 2, 4, dan 6 bulan.
(7)
Rotavirus
Rotavirus merupakan virus penyebab gastroentritis dengan manifestasi
klinis berupa diare, demam ringan, dan muntah. Tersedia 3 jenis vaksin
yakni:
Vaksin monovalen diberikan secara oral.
Vaksin tetravalen
Vaksin pentavalen diberikan dalam 3 dosis per oral dengan jadwal
usia bayi 6-14 minggu, dengan interval dosis kedua dan ketiga 4-

10 minggu dan harus selesai sebelum 32 minggu.


Influenza(7)
Anak yang direkomendasi vaksin ini ialah anak yang sehat berusia 6
bulan-2 tahun, anak dengan penyakit jantung kronis, diabetes penyakit
ginjal

kronis,

penyakit

saluran

napas

kronis,

pengguna

obat

immunosuppresan dan anak yang tinggal bersama di asrama, panti asuhan,


sekolah dan pesantren.
Cara pemberian
Jadwal anjuran

: intramuskular atau subkutan


: setia tahun pada usia >6 bulan. Imunisasi

pertama pada usia <9 bulan diberi 2 dosis dengan interval minimal

4 minggu.
Dosis
: <3 tahun 0,25 ml; >3 tahun 0,5ml
Varisela(7)
Vaksin yang digunakan adalah vaksin varicella zooster untuk mencegah
penyakit cacar air.
Cara pemberian

: subkutan

13

Jadwal anjuran

: diberikan pada usia 1 tahun, sebelum

masuk sekolah.
Dosis
: 0,5 ml
MMR (Measles, Mums, Rubella)(7)
Mums merupakan penyakit yang diakibatkan oleh virus dari famili
paramyxovirus. Virus ini terutama menyerang kelenjar getah bening dan
jaringan saraf. Rubella merupakan infeksi akut ringan yang disebabkan
oleh virus rubella. Penyebaran rubella melalui udara. Tujuan utama

imunisasi rubella adalah mencegah sindrom rubella congenital.


Cara pemberian
: intramuskular atau subkutan
Jadwal anjuran
: usia 12-18 bulan
Dosis
: 0,5 ml
Tifoid(7)
Vaksin oral yang dibuat dari gallur Sallmonella typhi non pathogen yang
telah dilemahkan. Vaksin ini dapat menstimulasi produksi IgA sekretorik
didalam mukosa usus. Vaksin parenteral yang telah dibuat dari

polisakarida dan kuman Sallmonella typhi.


Cara pemberian
: oral atau parenteral
Jadwal anjuran
: usia 2-3 tahu
(7)
Hepatitis A
Vaksin yang terbuat dari virus yang dimatikan. Vaksinasi hepatitis
Aterutama diberikan pada anak yang tinggal di daerah endemis atau
dengan wabah periodik.
Cara pemberian
Jadwal anjuran

: intramuscular
: diberikan usia >2 tahun+booster antara 6

bulan 18 bulan setelah dosis pertama.


Human Papilloma Virus (HPV)(7)
Vaksin ini diberikan pada anak berusia diatas 10 tahun.
Cara pemberian
: intramuskular
Jadwal anjuran
: >10 tahun

14

15

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Imunisasi adalah proses menginduksi imunitas secara buatan baik dengan
vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian antibodi (imunisasi pasif).
Imunisasi aktif menstimulasi sistem imun untuk membentuk antibodi dan respon
imun seluler yang melawan agen penginfeksi, sedangkan imunisasi pasif
menyediakan proteksi sementara melalui pemberian antibodi yang diproduksi
secara eksogen maupun transmisi plasenta dari ibu ke janin.
Vaksinasi yang merupakan imunisasi aktif ialah suatu tindakan yaang
dengan sengaja memberikan paparan antigen sari suatu patogen yang
menstimulasi sistem imun dan menimbulkan kekebalan sehingga nantinya anak
yang telah mendapatkan vaksinasi tidak akan sakit jika terpajan oleh antigen
serupa. Antigen yang diberikan dalam vaksinasi dibuat sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan sakit, namun memproduksi limfosit yang peka, antibodi,
maupun sel memori.
Imunisasi pasif dilakukan dengan memberikan immunoglobulin yang
berasal dari plasma donor. Pemberian imunisasi pasif hanya memberikan
kekebalan sementara karena immunoglobulin yang diberikan akan dimetabolisme
oleh tubuh. Waktu paruh IgG adalah 28 hari, sedangkan imunoglobulin yang lain
(IgM, IgA, IgE, IgD) memiliki waktu paruh yang lebih pendek. Oleh karena itu,
imunisasi yang rutin diberikan pada anak adalah imunisasi aktif yaitu vaksinasi.
Vaksin mengandung antigen yang sama atau bagian dari antigen yang
menyebabkan penyakit, tetapi antigen dalam vaksin adalah dalam keadaan sudah
dibunuh atau sangat lemah. Ketika mereka yang disuntikkan ke dalam jaringan
lemak atau otot, antigen vaksin tidak cukup kuat untuk menghasilkan gejala
dantanda-tanda penyakit, tetapi cukup kuat bagi sistem imun untuk menghasilkan
antiboditerhadap mereka. Sel-sel memori yang menetap akan mencegah infeksi
ulang ketikamereka kembali lagi berhadapan dengan antigen penyebab penyakit
yang sama diwaktu-waktu yang akan datang. Dengan demikian, melalui vaksinasi,
anak-anak mengembangkan kekebalan tubuh terhadap penyakit yang mestinya

16

bisa dicegah. Namun perlu juga diingat bahwa karena vaksin berupa antigen,
walaupun sudah dilemahkan, jika daya tahan anak atau host sedang lemah,
mungkin bisa jugamenyebabkan penyakit. Karena itu pastikan anak/host dalam
keadaan sehat ketika akan divaksinasi. Jika sedang demam atau sakit, sebaiknya
ditunda dulu untuk imunisasi/vaksinasi.
Manfaat utama dari imunisasi vaksinasi adalah menurunkan angka kejadian
penyakit, kecacatan, maupun kematian akibat penyakit-penyakit infeksi yang
dapat dicegah dengan imunisasi (vaccine-preventable disease). Imunisasi tidak
hanya memberikan perlindungan pada individu melainkan juga pada komunitas,
terutama untuk penyakit yang ditularkan melalui manusia (person-to-person). Jika
suatu komunitas memiliki angka cakupan imunisasi yang tinggi, komunitas
tersebut memiliki imunitas yang tinggi pula, sehingga kemungkinan terjadinya
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi juga bermanfaat
mencegah epidemi pada generasi yang akan datang. Selain itu, imunisasi dapat
menghemat biaya kesehatan. Dengan menurunnya angka kejadian penyakit, biaya
kesehatan yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut pun akan
berkurang.
KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1
bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat
mencapai masa 42 hari (misalnya pada arthritis kronik pasca vaksinasi rubella).
Menurut WHO Western Pacific (1999), ada 5 klasifikasi lapangan penyebab KIPI,
yaitu Reaksi vaksin, kesalahan Program/ Programatic error, reaksi suntikan,
kebetulan/ Co insidensi dan tidak diketahui.
KIPI

merupakan

risiko

program

imunisasi,

sehingga

untuk

mengantisipasinya diperlukan pengetahuan imunisasi yang mendalam bagi


petugas dan penerangan yang jelas kepada orang tua anak yang diimunisasi. Hal
yang perlu diperhatikan juga yaitu setiap vaksin yang dipasarkan dan
dipergunakan telah mengalami beberapa tahap uji klinik dan uji mutu yang sangat
ketat dan bertanggung jawab, sehingga dengan sangat pasti boleh dikatakan, tidak
ada vaksin yang berbahaya yang akan diberikan kepada anggota masyarakat dan
bayi kita. Meskipun demikian tetap saja ada kemungkinan efek samping yang
terjadi dengan pemberian vaksinasi atau imunisasi, meskipun hal ini sudah sangat

17

jarang terjadi untuk vaksin yang telah dibuat dengan cara pembuatan yang modern
dan sesuai dengan kriteria dan kaidah pembuatan vaksin sangat tinggi. Biasanya
yang terjadi adalah reaksi lokal yang akan berlangsung dalam waktu < 48 jam,
dan reaksi itu akan sembuh atau menghilang dengan sendirinya.
Bila terjadi KIPI vaksin, laporkan kepada dokter bersangkutan,untuk
mendapatkan perawatan dan pertolongan yang diperlukan bagi bayi atau anggota
keluarga kita. Rentang waktu yang diperkirakan adalah KIPI Vaksin, adalah
kejadian KIPI yang terjadi beberapa waktu segera setelah pemberian vaksinasi
atau imunisasi hingga beberapa minggu kemudian setelah kejadian pemberian
vaksinasi atau imunisasi.
Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan imunisasi yang baik akan
mengurangi KIPI. Selain itu juga diperlukan sosialisasi dan pemberian informasi
yang benar dan jelas dari tenaga kesehatan kepada masyarakat tentang manfaat
imunisasi, prosedur, serta reaksi yang mungkin timbul. Penanganan KIPI yang
baik dan komprehensif juga diperlukan dalam rangka menunjang keberhasilan
program imunisasi.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Radji M. Vaksin DNA: Vaksin Generasi Keempat. Majalah Ilmu
Kefarmasian. 2009.
2. Mankester. Prinsip-Prinsip Dasar Vaksinasi. Vaksinasi. Jakarta,
Indonesia2008. p. 157-77.
3. Wismarini DM. Imunisasi. In: imunisasi S, editor. SKK imunisasi.
Jakarta2008. p. 1-11.
4. NIH. Understanding Vaccine. U.S.: Different type of vaccine; US Department of
Health and Human; 2008.. p21-31

5. Buana K. Buku Pedoman untuk Kader Imunisasi. Jakarta Selatan: Yayasan


Kusuma Buana; 1991. p5 .
6. Proverawati, Atikah. Perkembangan

Imunisasi,

Jadwal

Imunisasi,

Imunisasi Wajib, Imunisasi Anjuran. Imunisasi dan Vaksinasi. Nuha


Medika. Yogyakarta. 2010.
7. Sekartini R. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius;
2014. p129-33
8. Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB,
Ismoedijanto, Soedjatmiko. Pedoman imunisasi di indonesia. Jakarta:
Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2011.
9. Jadwal Imunisasi Anak - Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) 2014. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. 2014.
10. Dr. dr. Siti Fadilah Supari S, JP(K). Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia. Imunisasi dan KIPI. 2005:p25-37.
11. Sari Rezeki dkk. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri, Vol. 2,
No. 1. Jakarta. Juni 2000.
12.
Badan POM RI. Klasifikasi KIPI. Buletin berita MESO, Vol 30,
No. 2. November 2012.

19