Anda di halaman 1dari 12

Negara Indonesia merupakan negara kesatuan yang menganut sistem

pemerintahan berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945. Wilayah Indonesia terdiri
dari banyak pulau, banyak daerah-daerah. Oleh karena itu, dalam menjalankan
pemerintahan di daerah dibutuhkan pemerintah daerah. Berdasarkan Pasal 18 UUD
NRI 1945, NKRI dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi
atas kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan
undang-undang.
A. Sebelum Kemerdekaan Indonesia
BELANDA
Sebelum tahun 1903, pemerintahan di Indonesia dilaksanakan secara
sentralistis. Segala urusan pemerintahan diserahkan kepada Gubernur Jenderal
yang berpusat di Bogor. Karena merasa kesusahan untuk mengatur urusan di
daerah yang letaknya jauh dari Bogor, maka dilakukanlah pembagian tugas.
Pada tahun 1903, dibentuklah Decentralisatiewet 1903, terdapat Dewan
Daerah yang diberi wewenang untuk mempunyai keuangan sendiri dalam
membiayai pemerintahan daerah.
Hindia Belanda dibagi menjadi beberapa daerah administrative. Masingmasing daerah dipimpin oleh Pegawai Pamong Praja Belanda. Karena
Decentralisatiewet 1903 dirasa kurang memuaskan, maka dibentuklah Stb
1922/216 yang mengadakan pembentukan badan-badan pemerintahan baru
dengan menyertakan penduduk asli . Dalam ketentuan ini dibentuklah
provincie, regentschap, stadsgemeente, dan groepmeneenschap.
Pada daerah yang tidak langsung dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda,
terdapat daerah otonom yang terdiri dari kerajaan-kerajaan asli Indonesia.
Kerajaan-kerajaan ini diikat oleh Pemerintah Kolonial dengan kontrak politik,
yaitu kontrak jangka panjang dan kontrak jangka pendek.

JEPANG
Pada masa pendudukan Jepang, terjadi perubahan-perubahan atas nama-nama
daerah dan pejabat-pejabat menjadi bahasa Jepang. Wilayah jajahan Jepang ini
terbagi menjadi 3 komando, yaitu :
Sumatera di bawah Komando Panglima Angkatan Darat XXV
Jawa dan Madura di bawah Komando Panglima Angkatan Darat XVI
Daerah lainnya di bawah Komando Panglima Angkatan Laut
Pada 1943, kekuasaan tersebut semuanya berada di bawah kekuasaan
Saikosikikan / Gubernur Jenderal. Saikosikikan mengeluarkan peraturan
perundang-undangan yang disebut Osamuseirei. Dengan dikeluarkannya
Osamuseirei No. 21 dan 26, dikatakan bahwa Provinsi ditiadakan.

Pada masa ini, semua jabatan diduduki oleh Jepang, sedangkan rakyat
Indonesia hanya diberi kesempatan sekecil mungkin. Pemerintah daerah
hampir tidak mempunyai kewenangan pada saat itu.
B. Undang-Undang No. 1 Tahun 1945
Dalam Pasal I Aturan Peralihan UUD 1945 dikatakan bahwa Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengatur dan menyelenggarakan
kepindahan pemerintahan kepada Pemerintah Indonesia. Setelah Indonesia
merdeka, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan beberapa
ketentuan, yaitu membentuk Pemerintahan Daerah.
Indonesia dibagi menjadi 8 provinsi dengan 2 daerah istimewa, yaitu
Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil,
Maluku, Sulawesi, dan Borneo. Tiap-tiap provinsi dipimpin oleh
seorang Gubernur. Dua daerah istimewa yaitu, Yogyakarta dan
Surakarta.
Daerah Provinsi dibagi dalam Keresidenan yang dikepalai oleh
Residen.
Gubernur dan Residen dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh
Komite Nasional Daerah (KND)
Komite Nasional Daerah (KND), yaitu komite nasional yang berkedudukan di
daerah. Komite Nasional dibentuk di seluruh Indonesia dan pusatnya berada di
Jakarta. Untuk mempertegas kedudukan KND, maka dibentuklah UndangUndang Nomor 1 Tahun1945 tentang Kedudukan Komite Nasional Daerah.
Kedudukan KND pada saat itu adalah sebagai Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah. KND bersama-sama dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah
menjalankan pekerjaan mengatur rumah tangga daerah.
UU No.1 Tahun 1945 hanya mengatur hal-hal yang bersifat darurat dan segera
saja.
C. Undang-Undang No. 22 Tahun 1948
Seiring berjalannya waktu, UU No. 1 Tahun 1945 dinilai kurang lengkap
dalam mengatur pemerintahan daerah.
Baik pemerintah maupun Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat
merasa akan pentingnya untuk segera memperbaiki pemerintah daerah yang
dapat memenuhi harapan rakyat, ialah pemerintah daerah yang kolegial
berdaswarkan kedaulatan rakyat (Demokrasi) dengan ditentukan batas-batas
kekuasaannya.
Karena kesederhanaan Undang-undang No. 1 tersebut, kewajiban dan
pekerjaan pemerintah daerah yang berhak mengatur dan mengatur rumah
tangganya sendiri tidak dapat diatur oleh pemerintah pusat dengan baik.
Karena itu DPRD tidak mengetahui batas-batas kewajibannya dan bekerja ke
arah yang tidak tentu. Dewan itu lebih memperhatikan soal-soal politik
mengenai beleid pemerintah pusat daripada kepentingan daerahnya.

Oleh karena itu, dibentuklah UU No. 22 Tahun 1948. Dalam UU ini, terdapat
2 jenis daerah yang dapat mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri,
yaitu daerah otonom dan daerah istimewa. Terdapat 3 tingkatan dalam daerah
otonom, yaitu provinsi, kabupaten / kota besar, dan desa. Dalam Pasal 2,
disebutkan bahwa Pemerintah Daerah terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) dan Dewan Pemerintah Daerah (DPD).
DPRD memiliki wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga
daerahnya. Dalam hal ini, DPRD juga membuat peraturan daerah untuk
melaksanakan otonomi.
DPD dipilih oleh dan dari DPRD. Tugas DPD sebagai wakil daerah, antara
lain :
Menjalankan pemerintahan sehari-hari
Memberi keterangan-keterangan yang diminta DPRD
Bertanggung jawab kepada DPRD
Dalam menjalankan kewenangannya, DPRD mengeluarkan Pedoman, Usul,
Menunjuk, Mengatur dan Mengurus, Mengatur atau Peraturan, PeraturanPeraturan, atau Peraturan Daerah, Keberatan dan Pembelaan.
Kepala Daerah menjabat Ketua dan anggota DPD. Kepala daerah memiliki
tugas yaitu mengawasi pekerjaan yang dilakukan DPRD dan DPD. Dalam
menjabat sebagai Ketua dan anggota DPD, berarti Kepala Daerah menjalankan
fungsi sebagai wakil Pemerintah Pusat. Sedangkan dalam mengawasi
pekerjaan DPRD dan DPD, Kepala Daerah menjalankan fungsii sebagai organ
Pemerintah Daerah.
Pemerintahan Daerah menurut UU No 22 Tahun 1948 berdasarkan pada
otonomi daerah dan hak medebewind/tugas pembantuan. Hak Medebewind ini
berarti daerah menjalankan peraturan-peraturan yang diperintahkan oleh pihak
atasan, atau lebih sering disebut dengan Tugas Pembantuan.

D. Undang-Undang No. 44 Tahun 1950


Setelah Indonesia merdeka, rakyat Indonesia masih harus berjuang
mempertahankan kemerdekaan dari gangguan Belanda. Belanda melakukan
beberapa upaya untuk merebut Indonesia, hingga akhirnya terbentuklah
Negara Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949.
Terdapat perubahan dari UU sebelumnya, yaitu :
1. Susunan penamaan daerah.
2. Sebutan resmi untuk DPD adalah Dewan Pemerintah dan keanggotaannya
diambil dari bukan anggota DPRD.
3. Jumlah anggota DPRD tidak semata-mata berdasarkan jumlah penduduk,
juga mempertimbangkan luasnya otonomi, kekuatan keuangan, dan suasana
politik.
4. Penolakan pengesahan terhadap putusan DPRD bagian dan anak bagian,
keberatan dapat diajukan kepada Pemerintah Agung, sedangkan Undangundang No. 22 tahun 1948 diajukan kepada DPD setingkat lebih atas dari
DPD yang menolak.

5. Undang-undang NIT No. 44 tahun 1950 tidak mengatur tentang Sekretaris


Daerah dan pegawai daerah, siapa mewakili daerahnya didalam dan diluar
pengadilan, pajak dan keuangan daerah, sedangkan anggaran pendapatan dan
belanja hanya diulas sekilas dalam penjelasan.
Negara Republik Indonesia Serikat meliputi :
Negara Indonesia Timur
Negara Sumatera Timur
Negara Pasundan
Negara Sumatera Selatan
Negara Jawa Timur
Negara Madura
Dengan berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat ini, maka Negara
Republik Indonesia hanya berstatus sebagai Negara Bagian. Pada masa ini,
mengenai pemerintahan daerah diserahkan kepada Negara-negara Bagian dan
akan dibentuk Undang-Undang pada masing-masing negara bagian. Pada
bagian Negara Indonesia Timur, dibentuklah Undang-Undang No. 44 Tahun
1950. Dalam Undang-Undang ini, dikatakan bahwa Negara Indonesia Timur
terdiri atas 3 tingkatan daerah otonom, yaitu :
Daerah
Daerah bagian
Daerah anak bagian
Daerah merupakan tingkat teratas, kemudian terdapat daerah bagian yang
terdiri atas daerah anak bagian.
Pemerintah daerah terdiri dari DPR dan Dewan Pemerintah. DPR memiliki
wewenang untuk mengatur rumah tangga daerahnya dan membuat peraturan
daerah yang nantinya dapat dilaksanakan. Dewan Pemerintah memiliki
wewenang untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari. Dewan Pemerintah
bertanggung jawab kepada DPR.
Namun, berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat ini tidak bertahan lama.
Rakyat Indonesia ingin kembali dan memperjuangkan pada bentuk Negara
Kesatuan Republik Indonesia, sehingga UU No. 44 Tahun 1950 ini kurang
dapat dijalankan dengan maksimal. Salah satu bentuk perjuangan bangsa
Indonesia adalah dengan bergabungnya beberapa negara-negara bagian hingga
menjadi 3 negara bagian, yaitu Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia
Timur, dan Negara Sumatera Timur. Daerah-daerah bagian Republik Indonesia
Serikat yang telah menggabungkan diri disebut sebagai Daerah Pulihan.
Terhadap Daerah Pulihan ini diberlakukan UU No. 22 Tahun 1948. Hingga
akhirnya pada 17 Agustus 1950, terjadi perubahan bentuk menjadi Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Menurut UUDS RI, daerah Indonesia terbagi
menjadi daerah-daerah otonom. Daerah-daerah ini diberi otonom untuk
mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Berdasarkan UUDS RI,
haruslah dibentuk Undang-Undang tertentu untuk mengatur mengenai
pemerintahan daerah. Namun ternyata pembentukan UU mengenai
pemerintahan membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu,

pengaturan sementara mengenai pemerintahan daerah diutamakan menganut


UU No. 22 Tahun 1948.
E. Undang-Undang No. 1 Tahun 1957
Setelah bentuk negara Indonesia yang semula berbentuk federasi berubah
menjadi negara kesatuan, maka dibentuklah UU No. 1 Tahun 1957 tentang
Pokok-Pokok Pemerintah Daerah sehingga terdapat kesatuan pengaturan
mengenai Pemerintahan Daerah. Dengan berlakunya UU ini, maka dicabutlah
UU No. 22 Tahun 1948 dan UU NIT No. 44 Tahun 1950.
Undang-undang ini merupakan pelaksanaan dari Pasal 131 UUDS 1950 yang
berbunyi :
1. Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil yang erhak
mengurus rumah tangganya sendiri, dengan bentuk susunan pemerintahannya
ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingat dasar
permusyawaratan dan dasar perwakilan dalam sistem pemerintahan negara.
2. Kepada daerah-daerah diberikan otonomi seluas-luasnya untuk mengurus
rumah tangganya sendiri
3. Dengan undang-undang dapat diserahkan penyelenggaraan tugas-tugas
kepada daerah-daerah yang tidak termasuk dalam urusan rumah tangganya.
Wilayah Republik Indonesia terbagi dalam daerah besar kecil, dan terdapat 3
tingkatan yang derajatnya dari atas ke bawah, yaitu :
Daerah tingkat ke I, termasuk Kotapraja Jakarta Raya
Daerah tingkat ke II, termasuk Kotapraja
Daerah tingkat ke III
Dalam UU ini dianut asas desentralisasi dan tugas pembantuan. UU ini
menganut system otonomi riil dan seluas-luasnya. Maksud otonomi riil adalah
pemberian otonomi kepada daerah didasarkan pada faktor-faktor dan
kebijakan-kebijakan yang dapat menjamin daerah secara nyata mampu
mengurus rumah tangganya sendiri. Maksud seluas-luasnya adalah daerah
diserahi urusan sebanyak mungkin untuk menjadikan urusan rumah tangganya
sendiri. Hal ini sesuai dengan Pasal 131 ayat (2) UUDS 1950. Pemerintah
Daerah terdiri dari DPRD dan DPD. DPRD dan DPD adalah alat kelengkapan
daerah yang bertugas mengatur urusan rumah tangganya sendiri.
Kewenangan DPD / Kepala Daerah terletak dalam wilayah kekuasaan
eksekutif yang merupakan pelaksanaan dari keputusan-keputusan yang telah
ditetapkan oleh DPRD. Untuk menjalankan kewenangan tersebut DPD dapat
juga diserahi beberapa kewenangan dibidang perundang-undangan dalam
rangka menjalankan peraturan daerah, misalnya diberikan pula kewenangan di
bidang legislatif, meskipun hanya terbatas pada pembuatan peraturan.
F. Undang-Undang No. 18 Tahun 1965
Wilayah Indonesia dibagi menjadi 3 tingkat, yaitu :
Provinsi dan/atau Kotaraya sebagai Daerah tingkat I
Kabupaten dan/atau Kotamadya sebagai Daerah tingkat II
Kecamatan dan/atau Kotapraja sebagai Daerah tingkat III

Dalam Undang-Undang ini, Daerah berhak mengurus rumah tangganya


sendiri, sesuai dengan asas desentralisasi.
Keseluruhan urusan yang diselenggarakan oleh daerah otonomi pada dasarnya
bersumber dari penyerahan urusan dari Pusat.Jadi inisiatif daerah dalam
mengurus urusan-urusan tertentu hampir dapat dikatakan tidak ada.Hal ini
antara lain disebabkan :
1. Otonomi merupakan sesuatu yang baru bagi rakyat Indonesia.
2. Kurangnya tenaga terampil dalam penyelenggaraan otonomi
3. Keuangan daerah tetap bergantung kepada pusat.
Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan DPRD. Kepala Daerah
dapat sebagai alat Pemerintah Daerah dan alat Pemerintah Pusat. Sebagai alat
Pemerintah Daerah, Kepala Daerah memimpin pelaksanaan kekuasaan
eksekutif pemerintahan daerah di bidang urusan rumah tangga daerah dan di
bidang pembantuan. Sebagai alat Pemerintah Pusat, misalnya Kepala daerah
menjalankan tugas-tugas yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat, mengawasi
jalannya pemerintahan daerah.
Dalam menjalankan tugasnya, Kepala Daerah dibantu oleh Wakil Kepala
Daerah dan Badan Pemerintah Harian (BPH). Juga terdapat Sekretariat
Daerah. Wakil Kepala Daerah membantu Kepala Daerah dalam menjalankan
pemerintahan sehari-hari.
DPRD bertugas membentuk peraturan-peraturan daerah, menetapkan anggaran
pendapatan dan belanja daerah, mengawasi jalannya penyelenggaraan
pemerintahan daerah.
Tugas BPH ini memberikan pertimbangan kepada kepala daerah baik diminta
atau tidak, dan menjalankan tugas yang diberikan oleh kepala daerah, sehingga
institusi BPH ini hanya bersifat penasehat belaka. Oleh karena itu sebagai alat
pemerintah daerah, kepala daerah memimpin pelaksanaan kekuasaan eksekutif
pemerintah daerah baik dibidang urusan rumah tangga daerah maupun
dibidang pembantuan.
G. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974
Seiring dengan perkembangan zaman, UU No. 18 Tahun 1965 dinilai kurang
dapat mengikuti perkembangan keadaan. Oleh karena itu dibuatlah UU No. 5
Tahun 1974.
Penamaan judul tentang Pokok-pokok Pemerintahan Di Daerah. Penamaan
yang terdapat dalam UU pemerintah daerah yang pernah berlaku sejak tahun
1948 bernama UU tentang Pokok Pemerintah Daerah, tanpa imbuhan Di
untuk menunjukkan bahwa UU ini tidak semata-mata mengatur mengenai
desentralisasi, dengan kata lain tidak hanya mengatur tentang pemerintahan
otonom dan medebewind juga mengatur tentang pemerintahan dekonsentrasi.
Dalam Undang-Undang ini dianut asas desentralisasi, asas dekonsentrasi, dan
tugas pembantuan. Asas desentralisasi adalah penyerahan urusan pemerintah
dari Pemerintah Pusat atau Daerah Otonom diatasnye kepada Pemerintah
Daerah menjadi urusan rumah tangganya. Asas dekonsentrasi merupakan
pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat/Kepala Instansi Vertikal tingkat

atasnya kepada pejabat-pejabat di daerah. Sedangkan Tugas Pembantuan


adalah tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusan pemerintahan yang
ditugaskan oleh Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah tingkat atasnya kepada
Pemerintah Daerah dengan kewajiban mempertanggungjawabkan kepada yang
menugaskannya.
Wilayah Indonesia dibagi ke dalam daerah-daerah otonom dan wilayah
administratif.
Terdapat 2 macam pemerintahan, yaitu Pemerintahan Daerah yang bersifat
otonom dan Pemerintah Daerah yang bersifat administratif. Pemerintahan
Daerah yang bersifat otonom sebagai konsekuensi atas asas desentralisasi. UU
No. 5 Tahun 1974 menganut prinsip nyata dan bertanggung jawab. Nyata
berarti pemberian otonom kepada daerah harus berdasarkan faktor-faktor yang
dapat menjamin daerah secara nyata mampu mengurus rumah tangga sendiri.
Bertanggung jawab artinya pemberian otonom benar-benar sejalan dengan
tujuannya. Pemerintah Daerah yang bersifat administratif sebagai konsekuensi
atas asas dekonsentrasi.
Dalam pemerintahan daerah yang bersifat administratif, Indonesia dibagi
menjadi wilayah Provinsi dan Ibu Kota Negara.
Wilayah Provinsi dibagi menjadi wilayah Kabupaten dan Kotamadya.
Wilayah Kabupaten dan Kotamadya dibagi ke dalam wilayah Kecamatan.
Setiap wilayah dipimpin oleh Kepala Wilayah, yaitu :
Provinsi dan Ibukota negara dipimpin Gubernur
Kabupaten dipimpin Bupati
Kotamadya dipimpin Walikotamadya
Kota Administratif dipimpin Walikota
Kecamatan dipimpin Camat
Dalam pemerintahan daerah yang bersifat otonom, dibagi menjadi Daerah
Otonom Tingkat I dan Daerah Otonom Tingkat II.
Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan DPRD. Kepala Daerah
dapat berperan sebagai Alat Pemerintah Daerah dan Alat Pemerintah Pusat.
Sebagai Alat Pemerintah Daerah berarti memimpin dan bertanggung jawab
atas jalannya pemerintahan daerah otonom. Sedangkan sebagai Alat
Pemerintah Pusat berarti memimpin penyelenggaraan urusan pemerintah
umum yang menjadi tugas Pemerintah Pusat di daerah. Dalam menjalankan
tugasnya, Kepala Daerah dibantu oleh Wakil Kepala Daerah. Wakil Kepala
Daerah juga membantu dalam menjalankan wewenang sehari-hari.
Juga terdapat Sekretariat Daerah dan Dinas-Dinas Daerah. Secretariat Daerah
adalah unsur staf yang membantu Kepala Daerah dalam menyelenggarakan
pemerintahan daerah.
DPRD memiliki beberapa kewajiban, antara lain bersama-sama dengan
Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dari
peraturan-peraturan daerah. Juga, memajukan tingkat kehidupan rakyat
dengan berpegang pada program pembangunan pemerintah.

H. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999


Pada masa Reformasi, dibentuklah Undang-Undang No. 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah. Dalam UU ini, pelaksanaan otonomi daerah
haruslah memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan, dan
keberagaman daerah. Undang-Undang ini menganut prinsip otonomi luas,
nyata, dan bertanggung jawab. Kewenangan pemerintah, kecuali dalam hal
politik luar negeri, pertahanan dan keamanan negara, moneter, system
peradilan, dan agama diberikan kepada daerah secara utuh dan menyeluruh.
Daerah otonom memiliki kewenangan untuk memmbuat peraturan dan
kebijakannya sendiri. Otonomi nyata, artinya daerah berwenang
menyelenggarakan pemerintahan dalam bidang tertentu yang secara nyata ada
dan tumbuh berkembang di daerah.
Dalam Undang-undang No.22 tahun 1999 menghapus hierarki antara
pemerintah kabupaten / kota dengan propinsi. Pemerintah kabupaten / kota
bukanlah daerah bawahan dari propinsi. Penghapusan hierarki ini sekaligus
mengikis birokratisasi pelaksanaan pemerintahan yang pada akhirnya akan
menciptakan efisiensi pelayanan kepada masyarakat. Hubungan antara
provinsi dengan kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak
memiliki hubungan hirarki (tidak bertingkat).
Pemerintahan Daerah terdiri dari DPRD dan Pemerintah Daerah. DPRP
merupakan Badan Legislatif. Pemerintah Daerah merupakan Badan Eksekutif
Daerah. Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala daerah dan perangkat daerah
lainnya.
Kepala Daerah Provinsi adalah Gubernur
Kepala Daerah Kabupaten adalah Bupati
Kepala Daerah Kota adalah Walikota
Kepala Daerah Provinsi karena jabatannya adalah juga Kepala Daerah
Administrasi sebagai Wakil Pemerintah.
DPRD memiliki fungsi pengawasan, anggaran, dan legislasi daerah. Kepala
Daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD.
Wilayah Indonesia terbagi dalam Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten, dan
Daerah Kota yang bersifat otonom.
Daerah Provinsi merupakan daerah yang dibentuk berdasarkan asas
desentralisasi dan dekonsentrasi. Daerah Provinsi juga sebagai wilayah
administratif. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota adalah daerah yang
dibentuk berdasarkan asas desentralisasi.
Daerah Propinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota memiliki wewenang
untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan prakarsa
sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
I. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyrakat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sama halnya dengan UU No.

22 Tahun 1999, UU ini juga menganut system otonomi daerah yang luas,
nyata, dan bertanggung jawab. Dalam menyelenggarakan pemerintahan,
Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas
pembantuan. Seluas-luasnya berarti daerah diberi wewenang untuk mengatur
semua urusan pemerintahan kecuali yang menjadi urusan Pemerintah yang
telah ditetapkan dalam Undang-Undang. Nyata artinya urusan pemerintahan
dilaksanakan berdasarkan tugas dan wewenang yang senyatanya telah ada dan
berpotensi untuk berkembang sesuai dengan potensi daerah tersebut.
Bertanggung jawab berarti penyelenggaraan otonomi harus benar-benar
sejalan dengan tujuannya.
Penyelenggara pemerintahan daerah adalah Pemerintah Daerah dan DPRD.
Pemerintah Daearah adalah Kepala Daerah dan dibantu oleh Wakil Kepala
Daerah. Pemerintah Daerah dengan DPRD mempunyai hubungan kerja yang
sama dan bersifat kemitraan. Berarti, harus saling mendukung dalam
menjalankan pemerintahan daerah.
Dalam menjalankan pemerintahan, Kepala Daerah juga dibantu oleh :
Unsur staf yang membantu menyusun kebijakan dan koordinasi, yaitu
Sekretariat
Unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan
pelaksanaan kebijakan daerah, yaitu Lembaga Teknis Daerah
Unsur pelaksana urusan daerah, yaitu Dinas Daerah
Berbeda dengan UU No. 22 Tahun 1999, dalam UU ini pemilihan Kepala
Daerah dilakukan secara langsung oleh rakyat. Pada UU No. 22 Tahun 1999,
pemilihan Kepala Daerah dilakukan melalui perwakilan, yaitu DPRD.
Negara Indonesia terbagi atas daerah-daerah Provinsi, lalu Kabupaten, dan
Kota, yang masing-masing memiliki pemerintahan daerah yang mengatur dan
mengurus urusan pemerintahannya sendiri.
J. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014
Dalam UU ini, urusan pemerintahan terbagi menjadi 3, yaitu urusan
pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan
pemerintahan umum.
Terdapat tiga alasan utama mengenai perubahan / revisi secara mendasar
terhadap Undang-undang No. 22 tahun 1999 yaitu :
1. Alasan hukum berupa amandemen kedua, khusus terhadap Pasal 18 UU RI
tahun 1945.
2. Alasan administratif berupa keadaan terlampau luasnya rentang kendali
antara pemerintah pusat terhadap kabupaten / kota.
3. Alasan empiris berupa keadaan / kejadian timblnya masalah aktual yang
dapat mengganggu kegiatan berbangsa serta berpemerintahan dengan berbagai
problematika Otonomi Daerah.
Urusan Pemerintahan Absolut adalah urusan pemerintahan yang sepenuhnya
menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.

Urusan Pemerintahan Konkuren adalah urusan pemerintahan yang dibagi


antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.
Urusan Pemerintahan Konkuren kemudian dibagi menjadi Urusan
Pemerintahan Konkuren Wajib dan Pilihan.
Urusan Pemerintahan Umum adalah urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan.
Mengenai pembagian wilayah, Negara Indonesia terbagi atas Daerah Provinsi.
Daerah Provinsi dibagi atas Daerah Kabupaten dan Kota. Daerah Kabupaten
dan Kota terbagi menjadi Kecamatan. Kecamatan terbagi atas Kelurahan
dan/atau Desa.
Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah dan DPRD. Dalam menjalankan
tugasnya dibantu oleh Perangkat Daerah. Kepala Daerah masing-masing
daerah adalah :
Daerah Provinsi adalah Gubernur
Daerah Kabupaten adalah Bupati
Daerah Kota adalah Wali Kota
Wakil Kepala Daerah bertugas membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan
pemerintahan daerah.
Dalam UU ini juga mengatur mengenai daerah yang bercirikan kepulauan.
Daerah provinsi di laut dan daerah provinsi yang berciri kepulauan diberi
kewenangan-kewenangan untuk mengelola sumber daya alam.

Daftar Pustaka
Kansil C.S.T dan Christine S.T. Kansil. 2001. Pemerintah Daerah
Di Indonesia. Jakarta:Sinar Grafika.
Kaho Josef Riwu. 2003. Prospek Otonomi Daerah di Negara
Republik Indonesia. Jakarta:RajaGrafindo Persada.
Soehino. 1980. Perkembangan Pemerintah di Daerah.
Yogyakarta:Liberty.

http://www.negarahukum.com/hukum/otonomi-daerah.html
diakses 17 Oktober 2016
http://www.unisosdem.org/otonomi/uu22-prinsip.htm diakses
17 Oktober 2016
http://www.tutorialut.web.id/2015/04/kewenanganpemerintah-dan-pemerintah.html diakses 18 Oktober 2016

SEJARAH PEMERINTAHAN DAERAH


DI INDONESIA

Oleh :
Ivena Tandiyono
A1 - 031411131043