Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kurang gizi
menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik, perkembangan mental, dan kecerdasan,
menurunkan produktifitas menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kesakitan
serta kematian.
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan
mengenai upaya perbaikan gizi masyarakat yang memiliki tujuan untuk meningkatkan
mutu gizi perorangan dan masyarakat. Perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan
perilaku sadar gizi, peningkatan akses, dan pelayanan gizi serta kesehatan sesuai
dengan kemajuan ilmu dan teknologi merupakan hal-hal yang berkaitan dengan hal
tersebut (Kemenkes, 2012).
Rencana Strategi Kementrian Kesehatan menyebutkan bahwa perkembangan
masalah gizi semakin komplek saat ini, selain masih menghadapi masalah kekurangan
gizi, masalah kelebihan gizi juga menjadi persoalan yang harus kita tangani dengan
serius. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014,
perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan
prevalensi balita gizi kurang (underweight) menjadi 15% dan prevalensi balita pendek
(stunting) menjadi 32% pada tahun 2014. Hasil Riskesdas dari tahun 2007 ke tahun
2013 menunjukkan fakta yang memprihatinkan dimana underweight meningkat dari
18,4% menjadi 19,6%, stunting juga meningkat dari 36,8% menjadi 37,2%, sementara
wasting (kurus) menurun dari 13,6% menjadi 12,1% (Kemenkes, 2015).
Dalam rangka mempercepat tujuan dan pelaksanaan kegiatan program
perbaikan gizi masyarakat pada umumnya dan kegiatan program program perbaikan
gizi pada khususnya yang dilaksanakan di tingkat posyandu maka di perlukan peran
serta aktif petugas puskesmas yang melakukan penyuluhan gizi masyarakat, UPGK,
UPGI, dan penerapan SKPG dengan harapan terwujudnya Kadarzi.
Oleh karena itu diperlukannya deteksi dini gizi dan surveilans gizi agar bisa
memperoleh informasi pencapaian kinerja pembinaan gizi masyarakat secara cepat,
akurat, teratur dan berkelanjutan. Cepat dalam arti tepat waktu; akurat dalam arti
dapat di percaya (reliable) dan tidak bias; teratur dan berkelanjutan dalam arti sesuai
jadwal dan terus menerus (Kemenkes, 2012). Surveilans gizi akan meningkatkan
efektivitas program dengan mempertajam upaya penanggulangan masalah gizi secara

tepat waktu, tempat, sasaran dan jenis tindakannya (Kemenkes, 2010). Sedangkan
pada deteksi dini akan meningkatkan usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau
kelainan secara klinis dengan menggunakan test, pemeriksaan atau prosedur tertentu
yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang
kelihatannya sehat tetapi sesunguhnya menderita suatu kelainan.
Berkaitan dengan hal tersebut, masalah mengenai penjelasan Surveilans dan
Indikator-indikator terkait serta penjelasan mengenai Deteksi Dini masalah gizi akan
di ulas lebih rinci pada makalah ini.
B. Manfaat
Makalah ini akan bermanfaat untu memberikan informasi mengenai hal-hal
yang terkait dengan pelaksanaan surveilans gizi dan deteksi dini masalah gizi. Selain itu
juga bisa untuk melihat perbedaan-perbedaan yang ada dalam pelaksanaan surveilans dan
deteksi dini masalah gizi.

BAB II
TUJUAN

A. Umum
Tersedianya informasi mengenai pengertian dan sistem kerja dari kegiatan
surveilans gizi dan deteksi dini masalah gizi.
B. Khusus
Tersedianya informasi seperti berikut
1) Pengertian surveilans gizi dan deteksi dini masalah gizi
2) Tujuan surveilans gizi dan deteksi dini masalah gizi
3) Metode surveilans gizi dan deteksi dini masalah gizi
4) Sasaran surveilans gizi dan deteksi dini masalah gizi
5) Indikator- indikator terkait surveilans gizi
6) Jenis masalah yang dijaring pada deteksi dini masalah gizi
7) Penentuan indeks pada kegiatan deteksi dini masalah gizi
8) Cut of Point dalam klasifikasi masalah gizi

BAB III
PEMBAHASAN

A. SURVEILANS GIZI
1) PENGERTIAN

Surveilans Gizi merupakan kegiatan pengamatan keadaan gizi, dalam rangka


untuk membuat keputusan yang berdampak pada perbaikan gizi penduduk dengan
menyediakan informasi yang terus menerus tentang keadaan gizi penduduk,
berdasarkan pengumpulan data langsung sesuai sumber yang ada, termasuk data hasil
survei dan data yang sudah ada.
Sementara menurut Depkes RI (2006), surveilans gizi merupakan pengamatan
yang dilakukan terhadap anak balita dalam rangka mencegah terjadinya kasus gizi
buruk. Hasil surveilans dan pengumpulan serta analisis data pada surveilans kesehatan
masyarakat, digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang status
kesehatan populasi

guna merencanakan,

menerapkan, mendeskripsikan, dan

mengevaluasi program kesehatan masyarakat untuk mengendalikan dan mencegah


kejadian yang merugikan kesehatan (Timmreck, 2005).
Di tahun 2012, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam buku petunjuk
pelaksanaan Surveilans Gizi yang disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Gizi dan
Kesehatan Ibu dan Anak mendeskripsikan Surveilans gizi suatu proses pengumpulan,
pengolahan dan diseminasi informasi hasil pengolahan data secara terus menerus
dan teratur tentang indikator yang terkait dengan kinerja pembinaan gizi masyarakat.
2) TUJUAN SURVEILANS
Menurut Soekirman & Karyadi (1995), tujuan dan lingkup dan sistem surveilans gizi,
antara lain :
1. Sebagai pperingatan dan intervensi tepat waktu.
2. Menghubungkan masalah daerah rawan, dengan otoritas yang lebih tinggi pada
tingkat propinsi dan tingkat pusat
3. Memberikan indikator yang berfungsi sebagai mekanisme deteksi dini untuk krisis
pangan
4. Membimbing tindakan cepat untuk mengatasi penurunan ketersediaan pangan dan
konsumsi, khususnya di kalangan rumah tangga miskin
3) PRINSIP DASAR SURVEILANS GIZI
Tersedia data yang akurat dan tepat waktu
Ada proses analisis atau kajian data
Tersedianya informasi yang sistematis dan terus menerus
Ada proses penyebarluasan informasi, umpan balik dan pelaporan
Ada tindak lanjut sebagai respon terhadap perkembangan informasi
4) KEGIATAN SURVEILANS GIZI
Kegiatan surveilans gizi meliputi kegiatan pengumpulan dan pengolahan data,
penyajian serta diseminasi informasi bagi pemangku kepentingan. Informasi dari

surveilans gizi dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk melakukan


tindakan segera maupun untuk perencanaan program jangka pendek, menengah
maupun jangka panjang serta untuk perumusan kebijakan.
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan dari berbagai
kegiatan surveilans gizi sebagi sumber informasi
a. Kegiatan rutin yaitu penimbangan bulanan, pemantauan dan pelaporan kasus
gizi buruk, pendistribusian tablet Fe ibu hamil, pendistribusian kapsul vitamin
A balita, dan pemberian ASI Eksklusif.
b. Kegiatan survei khusus yang dilakukan berdasarkan kebutuhan, seperti
konsumsi garam beriodium, pendistribusian MP-ASI dan PMT, pemantauan
status gizi anak dan ibu hamil dan Wanita Usia Subur (WUS) risiko Kurang
Energi Kronis (KEK) atau studi yang berkaitan dengan masalah gizi lainnya.

2. Pengolahan Data dan Penyajian Informasi


Pengolahan data dapat dilakukan secara deskriptif maupun analitik, yang
disajikan dalam bentuk narasi, tabel, grafik dan peta, atau bentuk penyajian
informasi lainnya.
3. Diseminasi Informasi
Diseminasi informasi dilakukan untuk menyebarluaskan informasi surveilans
gizi kepada pemangku kepentingan. Kegiatan diseminasi informasi dapat dilakukan
dalam bentuk pemberian umpan balik sosialisasi atau advokasi.
Umpan balik merupakan respon tertulis mengenai informasi surveilans gizi
yang dikirimkan kepada pemangku kepentingan pada berbagai kesempatan baik
pertemuan lintas program maupun lintas sektor.
Sosialisasi merupakan penyajian hasil surveilans gizi dalam forum koordinasi
atau forum-forum lainnya sedangkan advokasi merupakan penyajian hasil
surveilans gizi dengan harapan memperoleh dukungan dari pemangku kepentingan.
5) SYARAT-SYARAT SURVEILANS GIZI
- Mengumpulkan informasi secara teratur.
- Data yang dikumpulkan secara periodik dan dianalisa harus dapat digunakan
sebagai bahan pengambilan keputusan di dalam pengelolaan program-program
yang memiliki dampak gizi.
Kegiatan Surveilance Gizi Dimaksudkan Untuk Keperluan :
- Perencanaan kebijakan dalam bidang pangan dan gizi.

Pengelolaan program gizi terutama menyangkut perencanaan, monitoring dan

evaluasi dampak.
Isyarat tepat waktu untuk pencegahan kejadian krisis pangan.

6) PEMANFAATAN INFORMASI HASIL SURVEILANS GIZI


Hasil surveilans gizi dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan sebagai tindak
lanjut atau respon terhadap informasi yang diperoleh. Tindak lanjut atau respon dapat
berupa tindakan segera, perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang serta
perumusan kebijakan pembinaan gizi masyarakat baik di kabupaten/kota, provinsi dan
pusat.
7) INDIKATOR- INDIKATOR SURVEILANS GIZI
1. BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)
Definisi: yang dimaksud dengan berat badan lahir rendah adalah berat badan bayi
lahir hidup di bawah 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir.
Kegunaan:
A. Untuk screening (penapisan) individu
a. Indikator: Berat Badan Lahir (BBL)
b. Cut-off: BBL < 2500 gram
c. Sumber data: Bidan desa atau dukun terlatih (Laporan kohor bayi)
d. Frekuensi: Setiap ada bayi lahir e). Tujuan: penapisan bayi untuk diberikan
perawatan
e. Pengguna: Puskesmas
B. Untuk gambaran perkembangan keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak tingkat
kecamatan
a. Indikator: Prevalensi bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari jumlah bayi lahir
hidup
b. Trigger level: Prevalensi BBLR > 15% c). Sumber data: Puskesmas
(Kompilasi laporan kohor bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari Puskesmas-2
di kecamatan bersangkutan)
c. Frekuensi: Sekali setahun (dihitung pada tengah tahun)
d. Tujuan: Evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat,
terutama ibu dan anak
e. Pengguna: Kecamatan
C. Untuk gambaran perkembangan keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak antar
kecamatan dalam kabupaten
a. Indikator: Prevalensi bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari jumlah bayi lahir
hidup
b. Trigger level: Prevalensi BBLR > 15% c). Sumber data: Kecamatan
(Kompilasi laporan kohor bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari Kecamatankecamatan di kabupaten bersangkutan)
c. Frekuensi: Sekali setahun (dihitung pada tengah tahun)

d. Tujuan: Evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat,


terutama ibu dan anak
e. Pengguna: Kabupaten --- dan --- Propinsi Surveilans Gizi (draft) 5
D. Untuk gambaran perkembangan keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak tingkat
nasional
a. Indikator: Prevalensi BBLR dalam periode tertentu
b. Trigger level: Prevalensi BBLR > 15%
c. Sumber data: Tim Surkesnas (Badan Litbangkes + BPS) (Survei Kesehatan
Nasional)
d. Frekuensi: Sekali dalam 3 tahun
e. Tujuan: Evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat,
terutama ibu dan anak secara nasional
f. Pengguna: Primer: Pusat
2. MASALAH GANGGUAN PERTUMBUHAN BALITA
Definisi: Gangguan pertumbuhan: bila BGM atau tiga kali penimbangan bulanan
tidak naik berat badan (BB)
Kegunaan:
A. Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatmen
a. Indikator: Pertumbuhan berat badan (SKDN)
b. Cut-off: 1. BGM (BB/U < -3SD)
2. 3T (3 kali penimbangan tidak naik BB)
c. Sumber data: Posyandu (Penimbangan bulanan)
d. Frekuensi: sekali sebulan
e. Tujuan: Screening balita yang memerlukan tindakan rujukan atau intervensi
khusus (pengobatan dan atau PMT pemulihan)
f. Pengguna: Puskesmas
B. Gambaran keadaan pertumbuhan balita tingkat kecamatan
a. Indikator: 1. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >= 80%). Bila D/S belum
>=80% upayakan untuk ditingkatkan. 2. % BGM/D
b. Trigger level: 1. % N/(D-O-B) < 60% 2. % BGM > 1%
c. Sumber data: Puskesmas (Kompilasi laporan SKDN dari Puskesmas-2 yang
ada di wilayah kecamatan bersangkutan)
d. Frekuensi: sekali sebulan
e. Tujuan: Evaluasi keadaaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif
terhadap memburuknya keadaan gizi
f. Pengguna: Kecamatan Surveilans Gizi (draft) 6
C. Gambaran keadaan pertumbuhan balita antar kecamatan dalam kabupaten
a. Indikator: 1. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >= 80%). Bila D/S belum
>=80% upayakan untuk ditingkatkan. 2. % BGM/D
b. Trigger level: 1. % N/(D-O-B) < 60%, dan 2. % BGM > 1%

c. Sumber data: Kecamatan (Kompilasi laporan SKDN dari Kecamatan-2 yang


ada di wilayah kabupaten bersangkutan)
d. Frekuensi: sekali sebulan
e. Tujuan: Evaluasi keadaaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif
terhadap memburuknya keadaan gizi
f. Pengguna: Kabupaten --- dan --- propinsi
3. MASALAH KEP BALITA
Definisi: Gizi kurang bila BB/U < -2 SD dan Gizi buruk bila BB/U < -3 SD
Kegunaan:
A. Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatment
a. Indikator: BB/U
b. Cut-off: BB/U <-2 SD (gizi kurang) dan BB/U < -3 SD (gizi buruk),
kwasiorkor dan marasmus
c. Sumber data: Puskesmas (Pelacakan gizi buruk, kunjungan pasien, dan
opsional kegiatan bulan penimbangan)
d. Frekuensi: setiap ditemukan kasus (setiap saat)
e. Tujuan: Rujukan atau memberikan treatment khusus bagi penderita sesuai
dengan grade kurang gizinya.
f. Pengguna: Puskesmas
B. Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita di kecamatan-2 dalam
kabupaten
a. Indikator: Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk
b. Trigger level: 1. Prevalensi gizi kurang > 20%, atau 2. Prevalensi gizi buruk >
1%
c. Sumber data: Pemantauan Status Gizi (PSG)
d. Frekuensi: Sekali setahun
e. Tujuan: Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan
program dan perumusan kebijakan
f. Pengguna: Kabupaten, Propinsi --- dan --- Pusat
C. Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita tingkat Propinsi dan
nasional
a. Indikator: Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk
b. Trigger level: 1. Prevalensi gizi kurang > 20%, atau Surveilans Gizi (draft) 7
2. Prevalensi gizi buruk > 1% c). Sumber data: BPS (Susenas)
c. Frekuensi: Sekali dalam 3 tahun
d. Tujuan: Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan
program dan perumusan kebijakan di tingkat nasional
e. Pengguna: Pusat
4. MASALAH GANGGUAN PERTUMBUHAN ANAK USIA MASUK SEKOLAH
Definisi: Gangguan pertumbuhan anak usia masuk sekolah adalah pencapaian tinggi
badan anak baru masuk sekolah (TBABS)
Kegunaan : (a)refleksi keadaan gizi masyarakat,

a.
b.
c.
d.
e.

(b) gambaran keadaan sosial ekonomi masyarakat, dan


(c) gambaran efektivitas upaya perbaikan gizi masa balita
Indikator: Prevalensi pendek (TB/U<-2 SD)
Trigger level: Prevalensi pendek >20%
Sumber data: Pemantauan TBABS --- DepKes Kesos
Frekuensi: Sekali dalam 5 tahun
Tujuan: Evaluasi perkembangan keadaan gizi masyarakat, keadaan sosial

ekonomi masyarakat, dan efektivitas upaya perbaikan keadaan gizi masa balita
f. Pengguna: Kabupaten, Propinsi --- dan --- pusat
5. MASALAH KEK DAN RESIKO KEK WANITA USIA SUBUR (WUS) USIA 15-45
TAHUN DAN IBU HAMIL
Definisi:
1. KEK Ibu hamil: LILA< 23,5 cm
2. KEK WUS: IMT < 18,5
3. Resiko KEK WUS: LILA < 23,5 cm
Kegunaan:
A. Screening Ibu hamil yang memiliki resiko BBLR untuk diberikan treatmen
(penyuluhan)
a) Indikator : Lingkar Lengan Atas (LILA)
b) Cut-off : LILA < 23,5 cm
c) Sumber data : Kohor Ibu Hamil bidan desa --- Puskesmas
d) Frekuensi : Setiap ditemukan ibu hamil (setiap saat)
e) Tujuan : Screening ibu hamil KEK untuk diberikan penyu- luhan dan
intervensi (PMT ibu hamil)
f) Pengguna : Puskesmas
B. Memberikan gambaran perkembangan status gizi WUS
a) Indikator: 1. KEK: Indeks massa tubuh (IMT) Surveilans Gizi (draft) 8 2.
Resiko KEK: Lingkar Lengan Atas (LILA)
b) Cut-off: 1. KEK: IMT < 18,5 2. Resiko KEK: LILA< 23,5 cm
c) Sumber data: Survei cepat dan Surkesnas (KEK WUS) dan Susenas (Resiko
KEK)
d) Frekuensi: Sekali dalam 3 tahun
e) Tujuan: Evaluasi perkembangan keadaan gizi kelompok wanita usia subur
f) Pengguna: Resiko KEK : Propinsi --- dan --- Pusat KEK WUS : Pusat
6. MASALAH GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium)
Definisi: GAKY: Defisiensi yodium
Kegunaan: Memberikan gambaran besar dan sebaran masalah GAKY
a) Indikator:
1. Prevalensi GAKY (Total Goiter Rate=TGR) anak sekolah
2. Eksresi Yodium Urin (EYU) pada anak sekolah
3. Konsumsi garam beryodium rumahtangga
b) Trigger level:
1. TGR > 5%
2. EYU 100 mcg/dl > 50%
3. Konsumsi garam beryodium (>=30 ppm) < 80% rumahtangga

c) Sumber data:
1. TGR dan EYU : Survei nasional pemetaan GAKY
2. Konsumsi garam beryodium: Susenas dan monitoring garam beryodium oleh
Kabupaten
d) Frekuensi: TGR dan EYU : Sekali 5 tahun, Konsumsi garam beryodium: Sekali 3
tahun (Susenas) dan sekali setahun (monitoring oleh Kabupaten)
e) Tujuan: Memberikan gambaran tentang masalah GAKY untuk manajemen
program perbaikan GAKY (distribusi kapsul dan garam beryodium)
f) Pengguna: Kabupaten --- Propinsi --- Pusat
7.

MASALAH KVA
Definisi : defisiensi vitamin A
Kegunaan :
1) Screening kasus Xerophtalmia untuk perawatan.
a. Indikator
: kasus Xerophtalmia
b. Trigger level : Setiap ada kasus
c. Sumber data : Laporan kasus Puskesmas dan RS setempat
d. Frekuensi
: Setiap ada kasus (setiap saat)
e. Tujuan
: Tindakan cepat penanganan masalah Xerophtalmia Surveilans
Gizi (draft) 9
f. Pengguna
: kabupaten---Propinsi---Pusat.
2) Untuk memberikan gambaran perkembangan masalah KVA
a. Indikator
: Prevalensi X1B dan Prev.Serum Retinol <20mcg/dl
b. Trigger level :
1) Prev X1B > 0,5
2) Prev Serum Retinol ( 0,5%)
c. Sumber data : Survei Vitamin A (SUVITA) -Depkes Kesos
d. Frekuensi : Sekali dalam 10 tahun
e. Pengguna : Propinsi---dan---Pusat

8. MASALAH KONSUMSI GIZI


Definisi : Masalah defisiensi Intake Makro dan Mikro nutrient di masyarakat.
Kegunaan :
Memberikan gambaran perkembangan konsumsi makro dan mikronutrien serta
pola konsumsi masyarakat.
a. Indikator : Prevalensi defisit energi dan protein serta zat gizi mikro (Vit.A, zat
Besi, Kalsium dan Vit. B1)
b. Trigger level : 1. Prev.rumah tangga dengan konsumsi energi (30% 2. Prev.rumah
tangga dengan konsumsi protein (30% 3. Lainnya dengan melihat besaran &
perkembangan dari waktu ke waktu.
c. Sumber data : Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) Depkes Kesos.
d. Frekuensi : Sekali dalam 3 tahun
e. Tujuan : Evaluasi perkembangan masalah dan untuk analisa faktor-faktor yang
berkaitan, dan juga memberikan masukan bagi instansi yang berkaitan dengan
ketersediaan pangan.

f. Pengguna : Kabupaten---Propinsi---Pusat.
9. MASALAH ANEMIA GIZI
Definisi : Defisiensi zat besi yang diindikasikan dengan kadar Hb darah
<11mg (wanita hamil), atau <12 mg% pada wanita tidak hamil.
Kegunaan :
Memberikan gambaran perkembangan masalah anemia dan besarannya
a. Indikator :
1) Prevalensi anemia pada bayi
2) Prevalensi anemia balita
3) Prevalensi anemia pada ibu hamil/bufas
4) Prevalensi anemia pada WUS
5) Prevalensi anemia pada Lansia 6) Prevalensi anemia pada Nakerw
b. Trigger level : belum ada ketentuan
c. Sumber data : Badan Litbang Kes (+ BPS), Surkesnas
d. Frekuensi : Sekali dalam 3 tahun
e. Tujuan : Evaluasi perkembangan masalah anemia gizi untuk perencanaan
program, perumusan kebijakan penanganannya.
f. Pengguna : Pusat.
g.
10. GIZI DARURAT
Definisi : Keadaan darurat yang dimaksud adalah situasi yang terjadi akibatkonflik
politik, bencana alam atau konflik lainnya yang mengakibatkan banyak penduduk
keluar dari daerah tempat tinggalnya dan tinggal pada lokasi baru (tempat
pengungsian)
Kegunaan :
Memberikan masukan dalam kaitannya dengan penanganan pangan dan gizi
dalam keadaan darurat.
a. Indikator : Prevalensi wasting (BB/TB)
b. Trigger level : Prevalensi BB/TB (<-2SD) >15%, atau antara 10-15% dengan
angka kematian kasar 1/10000, atau angka kematian gizi buruk >1%.
c. Sumber data : Survei cepat dan monitoring keadaan gizi di lokasi darurat oleh
propinsi dan pusat (international agency).
d. Frekuensi :
1) Survei Cepat, sekali saat terjadi pengungsian.
2) Monitoring, tergantung kebutuhan (sekali dalam 3 bulan atau sekali dalam
6 bulan).
e. Tujuan : Manajemen penanganan masalah gizi pada situasi darurat
f. Pengguna : Kabupaten---Propinsi---Pusat---International Agencies---LSM
g.
11. MASALAH GIZI LEBIH ORANG DEWASA
Definisi : Yang dimaksud dengan gizi lebih adalah mulai dari overweight sampai
dengan obese.
Kegunaan : Memberikan gambaran kecenderungan masalah gizi lebih terutama di
daerah perkotaan.

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Indikator : Prevalensi IMT>25


Trigger level : Prevalensi IMT (IMT>25) >10%
Sumber data : Survei cepat IMT Depkes & Kesos
Frekuensi : Sekali dalam 3 tahun
Tujuan : Manajemen penanganan masalah gizi lebih pada orang dewasa.
Pengguna : Propinsi---Pusat. Surveilans Gizi (draft) 11

12. MASALAH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN MP-ASI


Definisi :
1) ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan.
2) MP-ASI adalah makanan tambahan dalam bentuk lunak maupun bentuk makanan
dewasa selain ASI sampai anak usia 24 bulan.
Kegunaan :
A. Memberikan gambaran tentang perkembangan praktek pemberian ASI eksklusif.
a. Indikator : Proporsi ibu memiliki bayi usia 4 bulan yang hanya memberikan
b.
c.
d.
e.

ASI (ASI-Eksklusif).
Trigger level : Proporsi ASI Eksklusif tidak menurun.
Sumber : Badan Litbangkes (+BPS) --- Surkesnas
Frekuensi : Sekali dalam 3 tahun.
Tujuan : Manajemen penyuluhan dalam rangka peningkatan praktek

pemberian ASI-Eksklusif.
f. Pengguna : Propinsi---Pusat
B. Penyuluhan individu ibu yang memiliki anak usia 4 bulan ke bawah agar
memberikan ASI-Eksklusif.
a. Indikator : Ibu yang memiliki anak usia 4 bulan ke bawah
b. Trigger level : Tidak memberikan ASI-Eksklusif
c. Sumber data : Kohort bayi--- Bidan desa/Kader Posyandu
d. Frekuensi : Setiap ada ibu yang memiliki bayi 4 bulan ke bawah.
e. Tujuan : Tindakan penyuluhan agar memberikan ASI-Eksklusif.
f. Pengguna : Puskesmas Surveilans Gizi (draft) 12
8) PELAPORAN DAN UMPAN BALIK SERTA KOORDINASI
Mekanisme dan alur pelaporan, umpan balik serta koordinasi pelaksanaan
surveilans gizi digambarkan sebagai berikut:

9) INDIKATOR KEBERHASILAN PELAKSANAAN KEGIATAN SURVEILANS


GIZI
Untuk mengetahui keberhasilan kegiatan surveilans gizi perlu ditetapkan
indikator atau parameter objektif yang dapat dipahami dan diterima oleh semua pihak.
Dengan menggunakan indikator tersebut diharapkan dapat diketahui keberhasilan
kegiatan surveilans gizi, dan dapat pula digunakan untuk membandingkan
keberhasilan kegiatan surveilans gizi antar wilayah. Penentuan indikator keberhasilan
kegiatan surveilans gizi didasarkan pada:
A. Indikator Input
a. Adanya tenaga manajemen data gizi yang meliputi pengumpul data dari
laporan rutin atau survei khusus, pengolah dan analis data serta penyaji
informasi.
b. Tersedianya instrumen pengumpulan dan pengolahan data
c. Tersedianya sarana dan prasarana pengolahan data
d. Tersedianya biaya operasional surveilans gizi
B. Indikator Proses
a. Adanya proses pengumpulan data
b. Adanya proses editing dan pengolahan data
c. Adanya proses pembuatan laporan dan umpan balik hasil surveilans gizi
d. Adanya proses sosialisasi atau advokasi hasil surveilans gizi
C. Indikator Output
a. Tersedianya informasi gizi buruk yang mendapat perawatan
b. Tersedianya informasi balita yang ditimbang berat badannya (D/S)
c. Tersedianya informasi bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif
d. Tersedianya informasi rumah tangga yang mengonsumsi garam beriodium
e. Tersedianya informasi balita 6-59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A
f. Tersedianya informasi ibu hamil mendapat 90 tablet Fe 22
g. Tersedianya informasi kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi
h. Tersedianya informasi penyediaan bufferstock MP-ASI untuk daerah bencana
i. Tersedianya informasi data terkait lainnya (sesuai dengan situasi dan kondisi
daerah)

B. DETEKSI DINI MASALAH GIZI


1) PENGERTIAN
Deteksi dini masalah gizi merupakan cara untuk memantau dan mendeteksi
permasalahan-permasalahan gizi di masyarakat. Deteksi dini dari suatu penyakit atau
usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan secara klinis

dengan

menggunakan test, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara
cepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat tetapi sesunguhnya
menderita suatu kelainan.
2) TUJUAN
Deteksi dini masalah gizi bertujuan sebagai program programperbaikan gizi,
yang menitikberatkan

pada upaya

pencegahan

Deteksi dini bertujuan untuk menemukan

dan

peningkatan keadaan

gizi.

kasus/ masalah gizi seawal mungkin

sehingga dapat dicegah akibat yang lebih parah.

3) LANGKAH-LANGKAH DETEKSI DINI


a. Tahap menetapkan MASALAH GIZI yang ingin diketahui
b. Tahap menetapkan cara pengumpulan data (jenis pemeriksaan = test) yang
c.
d.
e.
f.

akan digunakan
Tahap menetapkan kelompok sasaran
Tahap melakukan skrining (penyaringan)
Tahap mempertajam skrining
Tahap penyusunan laporan dan tindak lanjut

4) TES DETEKSI DINI


Test skrining dapat dilakukan dengan :
a.
b.
c.
d.

Pertanyaan (anamnesa)
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan laboratorium
Antropometeri

5) JENIS-JENIS DETEKSI DINI MASALAH GIZI


1. KEP DAN GIZI BURUK

Gizi buruk adalah keadaan dimana kurang gizi yang disebabkan karena asupan
energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama.Gizi buruk dapat
dinyatakan bila berat badan dan umur tidak sesuai selama 3 bulan berturut-turut.dan
tidak ditandainya dengan bahaya. Otak kosong akan dialami anak dibawah usia dua
tahun yang kekurangan gizi,sehingga kecerdasannya rendah dan demikian pula
dengan produktivitasnya ,hal itu terlihat dari penampang lintang otak kurang gizi
dibandingkan anak yang cukup gizinya.dan akibat dari semua itu pada giliranya akan
mengahsilkan pekerja kasar yang tidak berpenghasilan tinggi dengankata lain
miskin,yang tidak mampu memberikan makanan bergizi pada anaknya sekaligus
siklus akan terulang kembali.
Hingga kini Indonesia masuk dalam lima besar untuk kasus gizi buruk. Untuk
menanggulangi masalah tersebut kementerian kesehatan (kemenkes) menyediakan
anggaran hingga Rp700 miliar per tahunnya.Saat ini kemenkes memrioritaskan
penanggulangan gizi buruk di enam provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur,
Gorontalo, Sulawesi Barat, NTB dan NTT. Enam provinsi itu diprioritaskan karena
masih banyaknya kasus gizi buruk ditemukan. Secara nasional, diperkirakan ada
sekitar 4,5 persen dari 22 juta balita atau 900 ribu balita mengalami gizi kurang atau
gizi buruk.Meski demikian, Menkes mengungkapkan bahwa angka prevalensi gizi
kurang pada balita telah menurun dari 31 persen pada tahun 1990 menjadi 17,9 persen
pada tahun 2010.Menkes juga menyatakan Indonesia berhasil menanggulangi masalah
gizi mikro dimana defisiensi vitamin A sudah tidak lagi menjadi masalah kesehatan
masyarakat serta gangguan akibat kekurangan yodium makin berkurang. Secara
umum adapun penyebab langsung dari gizi buruk adalah :
a. Penyapihan yang terlalu dini
b. Kurangnya sumber energi dan protein di dalam makanan TBC
c. Anak yang asupan gizinya terganggu akibat penyakit bawaan seperti
jantung
Sedangkan Penyebab tidak langsungnya adalah :
a.
Daya beli suatu keluarga yang rendah/ekonomi lemah
b.
Kurang baiknya keadaan lingkungan disekitar rumah
c.
Pengetahuan gizi yang kurang
d.
Rendahnya perilaku kesehatan gizi terhadap suatu keluarga.
Sebanyak 4 juta anak Indonesia yang menderita kurang gizi terancam jatuh
derajadnya ke gizi buruk, jika tidak mendapat penanganan menurut semestinya.
Masalahnya, dari 700.000 penderita gizi buruk, kemampuan pemerintah menangani
hanya 39.000 anak gizi buruk per tahun. Kondisi ini menjadi ancaman karena dari
250.000 Posyandu yang ada, tidak lebih dari 50 persen yang masih aktif.

Dalam mengatasi permasalahan gizi di Indonesia perlu dilakukan intervensi,


salah satunya skala prioritas melalui investasi di bidang kesehatan, pendidikan dan
sosial, khususnya ditujukan pada kelompok risiko tinggi, seperti keluarga
miskin.Selain itu juga berbagai upaya pemberdayaan masyarakat terus dilakukan
termasuk perubahan perilaku masyarakat sadar gizi
2. ANEMIA GIZI BESI
Anemia gizi besi ini timbul akibat kosongnya cadangan zat besi tubuh
sehingga cadangan zat besi untuk eritropoesis berkurang yang menyebabkan kadar
Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Prevalensi anemia gizi besi di
Indonesia cukup tinggi. Menurut data yang dikeluarkan Depkes RI, pada kelompok
usia balita prevalensi anemia gizi besi pada tahun 2001 adalah 47,0%, kelompok
wanita usia subur 26,4%, sedangkan pada ibu hamil 40,1%.
Mengingat, 1 dari 2 orang di Indonesia beresiko anemia. Lebih
memprihatinkan lagi, prevalensi anemia terjadi bukan hanya pada orang dewasa,
namun juga sudah menyerang anak-anak.Penyebab anemia atau yang biasa disebut
kalangan awam dengan penyakit kurang darah, selain kekurangan gizi juga adanya
penyakit yang merusak sel darah merah. Selain itu, Prevalensi ibu hamil yang terkena
anemia sekitar 40-50 persen, hal ini berarti 5 dari 10 ibu hamil mengalami anemia.
Anemia gizi besi biasanya ditandai dengan menurunnya kadar Hb total di
bawah nilai normal (hipokromia) dan ukuran sel darah merah lebih kecil dari normal
(mikrositosis). Tanda-tanda ini biasanya akan menggangu metabolisme energi yang
dapat menurunkan produktivitas. Penyebab anemia gizi besi bisa disebabkan oleh
beberapa hal. Seperti kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi,
menderita penyakit ganguan pencernaan sehingga menggangu penyerapan zat besi.
Terjadi luka yang menyebabkan pendarahan besar, persalinan, menstruasi, atau
cacingan serta penyakit kronis seperti kanker, ginjal dan penyakit. Adapun dampak
dari Anemia Gizi Besi (AGB) adalah :
a. Pada Anak-anak berdampak:
Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
Menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan

otak,
Meningkatkan risiko menderita penyakit infeksi karena daya tahan
tubuh menurun.

b.

Dampak pada Wanita :


Anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit.

Menurunkan produktivitas kerja


Menurunkan kebugaran.

c. Dampak pada Remaja putri :


Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai

d.

optimal.
Menurunkan kemampuan fisik olahragawati
Mengakibatkan muka pucat.

Dampak pada Ibu hamil :


Menimbulkan perdarahan sebelum atau saat persalinan.
Meningkatkan risiko melahirkan Bayi dengan Berat Lahir Rendah

atau BBLR (<2,5 kg).


Pada anemia berat, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu

dan/atau bayinya.
AGB bisa diderita siapa saja, namun ada masa rentan AGB. Diantaranya pada
masa kehamilan, balita, remaja, masa dewasa muda dan lansia.. Ibu hamil rentan
terhadap AGB disebabkan kandungan zat besi yang tersimpan tidak sebanding dengan
peningkatan volume darah yang terjadi saat hamil, ditambah dengan penambahan
volume darah yang berasal dari janin. Wanita secara kodrat harus kehilangan darah
setiap bulan akibat menstruasi, karenanya wanita lebih tinggi risikonya terkena AGB
dibandingkan pria. Anak-anak dan remaja juga usia rawan AGB karena kebutuhan zat
besi cukup tinggi diperlukan semasa pertumbuhan. Jika asupan zat besinya kurang
maka risiko AGB menjadi sangat besar.
3. GAKI (GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM)
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang perlu ditanggulangi secara sungguh-sungguh. Penduduk
yang tinggal di daerah kekurangan iodium akan mengalami GAKI kronis yang
menyebabkan pertumbuhan fisik terganggu dan keterbelakangan mental yang tidak
dapat disembuhkan sehingga menjadi beban masyarakat. GAKI mengakibatkan
penurunan

kecerdasan

dan

produktivitas

penduduk

sehingga

menghambat

pengembangan sumber daya manusia. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (Iodine


Deficiency Disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan
iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Definisi lain, GAKY
merupakan suatu masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan Yodium, akibat
kekurangan Yodium ini dapat menimbulkan penyakit salah satu yang sering kita kenal

dan ditemui dimasyarakat adalah Gondok. Dimana akibat defisiensi iodium ini
merupakan suatu spektrum yang luas dan mengenai semua segmen usia, dari fetus
hingga dewasa. Dengan demikian jelaslah bahwa gondok tidak identik dengan GAKI.
Faktor Faktor yang berhubungan dengan masalah GAKI antara lain :
a. Faktor Defisiensi Iodium dan Iodium Excess
Defisiensi iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah
GAKI. Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid melakukan proses
adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam makanan dan
minuman yang dikonsumsinya,
b. Faktor Geografis dan Non Geografis
GAKI sangat erat hubungannya dengan letak geografis suatu
daerah, karena pada umumnya masalah ini sering dijumpai di daerah
pegunungan seperti pegunungan Himalaya, Alpen, Andres dan di
Indonesia gondok sering dijumpai di pegunungan seperti Bukit Barisan Di
Sumatera dan pegunungan Kapur Selatan.
c. Faktor Bahan Pangan Goiterogenik
Kekurangan iodium merupakan penyebab utama terjadinya
gondok, namun tidak dapat dipungkiri bahwa faktor lain juga ikut
berperan. Salah satunya adalah bahan pangan yang bersifat goiterogenik
Dalam waktu tertentu GAKY dapat menyebabkan berbagai dampak terhadap
pertumbuhan, dan kelangsungan hidup penderitanya diantaranya :
1) Terhadap Pertumbuhan
a. Pertumbuhan yang tidak normal.
b. Pada keadaan yang parah terjadi kretinisme
c. Keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan
d. Tingkat kecerdasan yang rendah
2) Kelangsungan Hidup
Wanita hamil didaerah Endemik GAKY akan mengalami berbagai
gangguan kehamilan antara lain :
a. Abortus
b. Bayi Lahir mati
c. Hipothryroid pada Neonatal
Penyebab tingginya kasus GAKY adalah disebabkan karena beberapa hal diantaranya:
a. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menggunkan garam
beryodium
b. Masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan mamfaat garam beryodium
c. Garam Non Yodium masih banyak beredar ditengah masyarakat.

d. Adanya perbedaan harga yang relatif besar antara garam yang beryodium
dengan garam non yodium.
e. Pengawasan mutu garam yodium belum dilaksanakan secara menyeluruh
dan terus menerus serta belum adanya sangsi tegas bagi produksi garam non
yodium.
f. Pendistribusian garam beryidium masih belum merata terutama untuk
daerah-daerah terpencil.

4. OBESITAS
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak
tubuh yang berlebihan.Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk
menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya.
Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 2530% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30%
dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.
Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah
kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.Obesitas
digolongkan menjadi 3 kelompok:
a.
Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
b.
Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
c.
Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan
sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk).
Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi
juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat
mengonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Obesitas
meningkatkan risiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti Diabetes tipe 2
(timbul pada masa dewasa),tekanan darah tinggi (hipertensi), stroke, serangan jantung
(infark miokardium), gagal jantung, kanker kanker tertentu, misalnya kanker prostat
dan kanker usus besar), batu kandung empedu dan batu kandung kemih, Gout dan
artritis gout, serta osteoartritis.
Anak-anak yang mengalami obesitas dapat berisiko lebih besar mengidap
penyakit jantung, diabetes dan gangguan akibat kelebihan berat badan lainnya dari
yang terpikirkan. Fakta ini diketahui berdasarkan studi baru tentang dampak obesitas
selama masa kanak-kanak dan perkembangan kesehatan di masa dewasa.Dibanding
anak-anak dan remaja yang berbobot ideal, anak dengan obesitas lebih berisiko

menderita gangguan kesehatan yang memicu penyakit jantung dan diabetes. Seperti,
tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan gula darah tinggi.
Di Indonesia terdapat 19,1 persen kasus obesitas pada penduduk berusia di
atas 15 tahun. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia pada
2010, menunjukkan 27,7 juta jiwa penduduk Indonesia berusia di atas 18 tahun,
mengalami obesitas. Jumlah ini sama dengan 11,7 persen dari keseluruhan penduduk
Indonesia.
5.

KEKURANGAN ENERGI PROTEIN (KEP)


Kekurangan energi protein adalah keadan kurang gizi yang disebabkan

rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari sehingga tidak
memenuhi angaka kecukupan gizi. faktor-faktor penyebab kurang energi protein
dibagi menjadi dua, yaitu :
1) Primer
a) Susunan makanan yang salah
b) Penyedia makanan yang kurang baik
c) Kemiskinan
d) Ketidaktahuan tentang nutrisidan kebiasan makan yang salah
2) Penyebab Sekunder :
a) Gangguan pencernaan (seperti malabsorbsi, gizi tidak baik, kelainan struktur
saluran).
b) Gangguan psikologis.
Kekurangan Energi Protein merupakan masalah gizi utama di Indonesia.
Keadaan ini banyak diderita oleh balita. Anak balita dengan KEP tingkat berat akan
menunjukan tanda klinis kwaskiokhor dan marasmus. Masalah KEP sebenarnya
hampir selalu berhubungan dengan masalah pangan. Berdasarkan data Susenas, dari 5
juta anak (27%), 3,6 juta anak (19,2 %) mengalami KEP. KEP disebabkan oleh
multifaktor yang saling terkait sinergis secara klinis maupun lingkungannya.
Pencegahan hendaknya meliputi faktor secara konsisten.
Tindakan yang diperlukan untuk mengatasi KEP :
1) Mengendalikan penyakit-penyakit infeksi, khususnya diare, melalui :
a) Perbaikan sanitasi, personal, lingkungan, terutama makanan dan peralatan.
b) Pendidikan : dasar, kesehatan, gizi
c) Program imunisasi pencegahan penyakit erat kaitannya dengan lingkungan
seperti TBC, Malaria, DHF, parasit (cacing).
2) Memperkecil dampak penyakit infeksi terutama diare diwilayah yang sanitasi
lingkungannya belum baik.
3) Deteksi dini dan menejemen awal / ringan
a) Memonitor tumbang dan status gizi balita secara kontinu
b) Perhatikan khusus faktor resiko tinggi yang akan berpengaruh terhadap
kelangsungan status gizi (kemiskinan, ketidaktahuan penyakit infeksi)

4) Memelihara status gizi


a) Dimulai sejak dalam kandungan, ibu hamil dengan gizi yang baik,
diharapkan melahirkan bayi dengan status gizi yang baik pula.
b) Setelah lahir segera diberi ASI ekslusif sampai 4 bulan
c) Pemberian makanan tambahan (pendamping) ASI mulai usia 4 bulan
secara bertahap
d) Memperpanjang

masa

menyusui

selama

mungkin

selama

bayi

menghendaki (maksimal 2 tahun).


6. KEKURANGAN VITAMIN A (KVA)
Kekurangan Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di
seluruh dunia terutama negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur
terutama pada masa pertumbuhan (balita). Kekurangan vitamin A dapat menurunkan
sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit. Kekurangan vitamin
A dapat terjadi karena beberapa sebab antara lain konsumsi makanan yang tidak
cukup mengandung vitamin A atau provitamin A untuk jangka waktu yang lama, bayi
yang tidak diberikan ASI eksklusif, menu tidak seimbang (kurang mengandung
lemak, protein, zink atau zat gizi lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan vitamin
A dan penggunaan vitamin A dalam tubuh, adanya gangguan penyerapan vitamin A
dan provitamin A seperti pada penyakit-penyakit antara lain diare kronik, KEP dan
lain-lain.
KVA merupakan suatu kondisi dimana mulai timbulnya gejala kekurangan
konsumsi vitamin A. Defisiensi vitamin A dapat merupakan kekurangan primer akibat
kurang konsumsi. KVA dapat pula disebut kekurangan sekunder apabila disebabkan
oleh gangguan penyerapan dan penggunaan vitamin A dalam tubuh, kebutuhan yang
meningkat, atau karena gangguan pada konversi karoten menjadi vitamin A. KVA
sekunder dapat terjadi pada penderita KEP, penyakit hati, alfa dan beta
lipoproteinemia, atau gangguan absorpsi karena kekurangan asam empedu.
Kekurangan vitamin A dapat mengakibatkan kelainan pada sel-sel epitel pada
selaput lendir mata. Kelainan tersebut karena terjadinya proses metaplasi sel-sel
epitel, sehingga kelanjar tidak memproduksi cairan yang dapat menyebabkan
terjadinya kekeringan pada mata yang disebut xerosis konjungtiva. Bila kondisi ini
berlanjut akan terjadi yang disebut bercak bitot (Bitot Spot) yaitu suatu bercak putih,
berbentuk segi tiga di bagian temporal dan diliputi bahan seperti busa.
Defisiensi lebih lanjut menyebabkan xerosis kornea, yaitu kornea menjadi kering dan
kehilangan kejernihannya karena terjadi pengeringan pada selaput yang menutupi

kornea. Pada stadium yang lanjut, kornea menjadi lebih keruh, berbentuk infiltrat,
berlaku pelepasan sel-sel epitel kornea, yang berakibat pada pelunakan dan pecahnya
kornea. Mata juga dapat terkena infeksi. Tahap terakhir deri gejala mata yang
terinfeksi adalah keratomalasia (kornea melunak dan dapat pecah), sehingga
menyebabkan kebutaan total.
Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan fungsi kekebalan tubuh menurun,
sehingga mudah terkena infeksi. Kekurangan vitamin A menyebabkan lapisan sel
yang menutupi paru-paru tidak mengeluarkan lendir, sehingga mudah dimasuki
mikroorganisme, bakteri, dan virus yang dapat menyebabkan infeksi. Jika hal ini
terjadi pada permukaan dinding usus halus, akan menyebabkan diare.
Masalah kurang vitamin A subklinis (kadar vitamin A dalam serum 20 ug/dl)
dibeberapa propinsi masih cukup memprihatinkan, karena 50% Balita masih
mempunyai status vitamin A rendah. Kurang vitamin A akan mengakibatkan
penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berpengaruh pada kelangsungan
hidup anak. 9,8 persen balita Indonesia masih kekurangan vitamin A. Program
penanggulangan Vitamin A di Indonesia telah dilaksanakan sejak tahun 1995 dengan
suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi, untuk mencegah masalah kebutaan
karena kurang Vitamin A, dan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pemberian
kapsul Vitamin A menunjang penurunan angka kesakitan dan angka kematian anak
(30-50%). maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya vitamin A saat ini lebih
dikaitkan dengan kelangsungan hidup anak, kesehatan dan pertumbuhan anak. Dalam
upaya penyediaan vitamin A yang cukup untuk tubuh ditempuh kebijaksanaan sebagai
berikut:
a. Peningkatan konsumsi sumber vitamin A alami
b. Fortifikasi vitamin A pada bahan makanan
c. Distribusi vitamin A dosis tinggi secara berkala.

7. PENCATATAN DAN PELAPORAN


a. Cakupan SKDN
b. Jumlah balita BGM
c. Cakupan distribusi Vitamin A pada bayi dan balita, FE pada ibu hamil dan WUS,
Yodium pada penderita GAKY
d. Cakupan PMT-AS
e. Cakupan PMT-P

8. INDIKATOR KEBERHASILAN
Pembinaan Kesehatan Wilayah Peningkatan peran serta masyarakat
a. Peningkatan PSP kader kes, guru uks, LSM
b. Penurunan angka KEP, defisiensi gangguan gizi
Pelayanan Puskesmas
a. Peningkatan ketrampilan staf Puskesmas
b. Terselenggaranya penyuluhan terpadu
c. Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistik

DAFTAR PUSTAKA
Timmreck, C.T. .2005. Epidemiologi: Suatu Pengantar. EGC
Soekirman & Karyadi, D. 1995. Nutrition surveillance: A planners perspective. Food and
Nutrition Bulletin. 16 (2), United Nations University, Tokyo.
Depkes R.I. 2006. Glosarium Data dan Informasi Kesehatan.
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Kementrian Kesehatan Indonesia. 2010.
Surveilans Gizi di tingkat Kabupaten/Kota. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. 2011. Petunjuk pelaksanaan surveilans gizi khusus di
Kabupaten/kota. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI

Sekretariat Jenderal Kementrian Kesehatan RI. 2015 Rencana Strategis Kementerian


Kesehatan Tahun 2015-2019. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI
http://kimtaknur.blogspot.co.id/2013/01/makalah-masalah-gizi-di-indonesia.html