Anda di halaman 1dari 3

Transition in chemical and mineralogical composition around unweathered relicts of

granodiorite in the kaolin deposit on Bornholm,Denmark


Penulis:
JAN BONDAM & MANFRED STORR
Bondam, J. & Storr, M.: Transition in chemical and mineralogical composition around unweathered relicts of
granodiorite in the kaolin deposit on Bornholm,Denmark. Bull. geol. Soc. Denmark, Vol. 37, pp. 117-122,
Copenhagen, October 14th, 1988

Abstrak: Endapan kaolin dekat pulau Ronne di Bornholm di Laut Baltik, membundar baik,
tidak lapuk, boulder berasa dari batuan asal berupa granodiorite tertanam di kaolin. Sampel
diambil dengan interval 2cm dari material yang masih fresh diluar kaolin. Distribusi dari
elemen utama pada sampel dipelajari untuk menumukan kondisi pencucian pada formasi.
Distibusi pada skala kecil, efek pencucian tidal seragam pada elemen yang berbeda
menujukkan adanya kalsium pada zona transisi dekat dengan batuan induk yang tidak
terlapukkan. TEM dan SEM menunjukkan mineral lempung yang dominan adalah haloisit
dan smektit, dan kaolin muncul secara sporadis. Mineral tersebut menajdi tidak stabil ketika
alkali tanah tercuci secara progresif, sementara kaoline muncul sebagai mineral lempung dan
amphibole dan plagioklas tidak ditemukan pada kumpilan mineral residual.
Pendahuluan
Dekat Ronne pada bagian batar pulau Bornholm di Laut Baltik mengandung sisa dari
granodioritik yang tidak terlapukkan berbetuk membundar baik berumur Prekambrian
ditemukan pada elevasi 31 m, 7m diatas granidiorit yang tidak lapuk. Studi ini mempelajari
distribusi dari elemen utama dan kompenen mineral dari sampel batuan yang diambil setiap
interval 2cm dari batuan induk sisa sepanjang 10 cm disekitar kaolin. Sampel kaolin diambil
dengan jarak 20cm dari batuan fresh.
Sampel dianalisa secara kimia di lab di Ronne menggunakan mikroskop electron, X-ray
untuk mengetahui pola dari mineral lempung.
Mineral lempung yang baru terbentuk berupa smektit, haloisit, dan kaolinit. Pada kedua
sampel dengan biotit berwarna hitam, pada jarak 2 dan 4 cm dari batuan yang masih fresh,
amphibole dan plagioklas telah tegantikan dengan mineral lempung. Penggantian amphibole
oleh semektit, plagioklas oleh haloisit, dan kaolinite muncul sedikit, dan serpih yang
terisolasi. Jumlah dari halosite mencapai puncak pada 40% dari mineral lempung dengan
jarak 6cm dari batuan induk fresh.

Pada jarak 8cm jumalah haliosit menurun dengan ukuran halus, pseudohexagonal
kaolinite dominan pada produk alterasi. Pada jarak 10-20cm ditemukan kaolinit dan partikel
mineral lempung, smektit dan haloisit, Kuarsa tidak menunjukkan adanya disolusi pada
permukaan butiranya menunjukkan bentuk butir irregular dan ada jejak korosi.
Dekomposisi dari mineral primer pada batuan granodioit dan neoformasi pada mineral
lempung diikuti dengan peubahan komposisi kimia akibat adanya pencucian dan kaolinisasi.
Pada saat mengalami pelapukan kaolin komponen alumuna bertahan pada saat residual
sedangkan elemen utama yang lain mengalami pencucian.
Pola distribusi berupa zone, menunjukkan relevansi dengan transformasi batuan induk.
Zona tersebut berdekatan dengan granodirit yang tidak mengalami pelapukan. Pada jarak 4cm
dari batuan induk mulai terjadi penipisan CaO. Pada jarak 10 cm Soduim, kalsium dan
magnesium dan besi telah mengalami pencucian pada tahap kesetimbangan. Pada jarak 20cm
dari batuan fresh mulai terlihat efek dari silika dan potassium.
Pola distibusi dari elment utama menunjukkan perbedaan distribusi potassium dan sodim
dan kesamaan antara kandungan alumina residual dan rasio H2O/Al2SIO3. Distribusi dari
Fe2O3 menunjukkan besi mengalami pencucian seperti sodium.
Diskusi
Dari hasil analisa mikroskop elekton menunjukkan dekomposisi mineral primer dan
neoformasi residual mineral lempung terjadi secara bertahap dan berkaitan dengan
lingkungan pelapukan yang berbeda.
Meskipun pada kondisi umum mineral piroksen, amphibole, feldspar dan mika stabil,
dan plagiokalas tidak stabil pada lingkunagan pelapukan menunjukkan penurunan yang cepat
pada sampel batuan.
Pada endapan kaolin di Bornholm menunjukkan 2 paragenasa pelapukan yaitu Iparagenesis untuk residual dimana jumlah mika dan mineral lempung stabil, dengan sedikit
smektit dan kalsit muncul di kaolin dan konten alumina kurang dari 22% dan K-paragenesis
muncul sekuan kalsit dengan kandungan mika yang sedikit,
Pola distribusi dari mineral utama pada pelapukan kaolin memiliki keterkaitan dengan
kedalaman.Distribusi mineral utama pada skala kecil, dan pada lingkunagan pelapukan. Pada
zona 0-4cm dari batuan fresh terjadi kondisi pencucian yang memnyebabkan munculnya
kumpulan mineral lempung dari I-paragenetic, sementara pola distribusi dari 6cm dari batuan
fresh menunjukkan perkembanganendapan residual tipe K-paragenetic.

Formasi awal dan dekomposisi yang cepat pada haloisit pada zona trabnsisi dari batuan
induk yang masih segar hinngga kaolin dicatat dan menunjukkan perkembangan secara
parallel dengan menurunya komposisi alkali dan alkali tanah pada sampel dan menunjukkan
pada kondisi tersebut haloisit stabil dan juga smektit.
Pada transisi zona granite-kaolin di Sparta Georgia USA secara lokal memiliki ketebalan
berberapa cm dan mengandung haloisit yang melimpah yang terbentuk di bagian whisker
cust.