Anda di halaman 1dari 19

Metode tambang bawah tanah Cut and Fill

Cut and fill adalah salah satu metoda penambangan, dalam metoda
penambangan ini, dengan cara menggali atau membuat bukaan-bukaan dan
kemudian mengisi kembali dengan material lain bekas bukaan tersebut. Cut and
fill merupakan metode penambangan dengan cara memotong batuan untuk
membuat stope dalam level. Setelah selesai menambang dalam satu stope,
maka stope tersebut diisi kembali tanpa menunggu selesai dalam satu level.
Biasanya metode ini digunakan untuk mengambil bahan galian jenis bijih.
Peralatan yang biasa digunakan untuk metode cut and fill ini adalah excavator,
front shovel, dariagline, dan shell.
Prinsip kerja dari metode ini adalah bijih diambil dalam potongan yang sejajar
dan setiap potongan yang telah diambil dilakukan pengisian dengan waste fill
dalam stope sehingga menyisakan ketinggian ruang yang mencukupi untuk
melakukan pemboran bijih selanjutnya. Material Filling digunakan sebagai
tempat berpijak untuk melakukan pemboran bijih selanjutnya. Material filling
sering berupa waste rock dari kegiatan development dan eksplorasi sekitar
tambang yang kemudian ditumpahkan melalui rise mengarah ke stope yang
akan diisi dan untuk meningkatkan kekuatan material pengisi maka ditambahkan
semen.
Ada beberapa syarat untuk metode cut and fill stoping, antara lain :
a.

Endapan bijih tebalnya antara 1 6 m.

b.

Arah endapan relatif mendatar tapi cukup tebal.

c.
Sebaiknya untuk endapan vein, kemiringannya harus lebih dari 45o. Dan
untuk endapan yang bukan vein kurang dari 45o.
d.
Endapan bijih keras, tapi batuan induknya boleh tidak kompeten mengingat
hampir secara langsung disangga dengan material filling.
e.

Endapan bijih bernilai tinggi baik kadar maupun harganya.

Keuntungan dari metode cut and fill, antara lain :


a.

Ventilasi mudah diatur

b.

Dilusi seminimum mungkin

c.
Dinding antara 2 stope yang berdekatan bisa lebih tipis dibanding metode
stoping yang lain
d.

Stope fleksibel mengikuti cebakan sempit kadar tinggi

e.

Stope stabil karena dengan yang lemah disangga dengan waste filling

Kerugian dari metode cut and fill, antara lain :


a.

Butuh material filling yang banyak

b.

Butuh buruh banyak untuk menangani filling

c.

Butuh banyak air untuk pulp

d.

Semen dan pasir halus untuk filling bisa menyumbat pompa/pipa

e.

Output dari stope terbatas karena adanya kegiatan filling

Metode tambang bawah tanah


Ada berbagai macam cara penambangan. ada tambang terbuka, ada tambang
bawah tanah, dan ada tambang bawah air. tambang terbuka adalah tambang
yang berhubungan langsung dengan udara bebas. sedangkan Tambang bawah
tanah adalah, tambang dimana kegiatan penambangnya tidak langsung
berkaitan dengan alam terbuka, atau udara bebas.

Metode tambang bawah tanah terbagi mejadi:


Open Stope Methodes
Supported Stope Methodes
Caving Methodes
Coal Mining Methodes
Berdasarkan pembagian metode penambangan di atas, dapat kita ketahui bahwa
penambangan metode penambangan batubara dipisahkan dari metode-metode
yang lain.
Hal ini dikarenakan :
Batubara berupa lapisan sedimen.
Penyusunnya berupa Karbon, dan banyak mengandung Methane (gas beracun).
Selanjutnya, metode tambang bawah tanah tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Open Stope Methodes
Open Stope Methodes adalah sistem tambang bawah tanah dengan ciri-ciri :

Sedikit memakai penyangga, atau hampir tidak tidak ada.


Umumnya merupakan cara penambangan sederhana, atau tradisional.
Bisa menggunakan buruh-buruh yang tidak terlatih.
Cocok untuk endapan bijih dengan ciri-ciri:
Endapan bijih dan batuan induk relative keras, sehingga tidak mudah runtuh.
Endapan bijih memiliki kemiringan lapisan (dip) lebih dari 70o.
Ukuran bijih tidak terlalu besar.
Tebal endapan bijih kurang dari 5 m.
Antara batuan induk dan bijih mudah dibedakan atau terlihat jelas.
Sedangkan metode Open Stope Methode sendiri dibedakan menjadi:
Gophering Coyoting
Glory Hole Methode
Shrinkage Stoping
Sublevel Stoping
Berdasarkan pembagian di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Gophering Coyoting
Metode Gophering Coyoting mempunyai ciri-ciri:
Arah penambangan hanya mengikuti arah endapan bijih.
Cara pengerjaannya tidak sistematis.
Alat dan cara penambangnya sangat sederhana.
Tanpa perencanaan rinci, karena dalam penambangnya hanya mengikuti arah
endapan.
Glory Hole Methode
Metode Glory Hole Methode merupakan system penambangan dengan cara
bebas membuat lubang bukaan, dikarenakan baik batuan induk maupun
endapan bijih relative kuat. mempunyai ciri-ciri:
Metode ini cocok untuk endapan yang sempit atau relative sedikit.
Lebar endapan antara 1 5 m, tetapi dengan arah memanjang ke bawah
berbentuk bulat atau elips.
Endapan bijih dan batuan induk kuat.

Shrinkage Stoping
Metode Shrinkage Stoping mempunyai syarat atau ciri-ciri:
Cocok untuk batuan kuat.
Endapan mempunyai kemiringan lebih dari 70o.
Tebal endapan tidak lebih dari 3 m.
Endapan bijih memiliki nilai yang tinggi baik kadar maupun harganya.
Endapan bijih harus homogen atau uniform.
Penambangan tidak selektif.
Bukan merupakan endapan Sulfida (Fe), karena endapan Sulfida harus dengan
metode selective mining, hal ini guna menghindari pengaruhnya pada asam
tambang.
Sublevel Stoping
Sublevel Stoping adalah penambangan bawah tanah dengan cara membuat
level-level, kemudian dibagi menjadi sublevel-sublevel. Sedangkan syaratsyaratnya sebagai berikut:
Ketebalan cebakan antara 1 20 m.
Kemiringan lereng sebaiknya lebih dari 30o.
Baik endapan bijih dan batuan induk harus kuat dan keras.
Batas endapan bijih dan batuan induk harus kuat dan tidak ada retak-retak
ketika dilakukan penambangan. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi dilusi atau
pencampuran dua material. Dalam hal ini pencampuran endapan bijih dengan
batuan induk.
Penyebaran kadar bijih sebaiknya homogen.
Supported Stope Methode
Supported Stope Methode adalah metode penambangan bawah tanah yang
menggunakan penyangga dalam proses penambangannya. Secara umum ciri-ciri
Supported Stope Methode antara lain:
Cocok untuk endapan bijih serta batuan induk yang lunak.
Cara penambangannya secara sistematis.
Penyangga dalam tambang bawah tanah dibedakan menjadi dua, antara lain:
Penyangga Alamiah

Penyangga alamiah adalah penyangga yang menggunakan material yang berada


atau dihasilkan dari proses penambangan itu sendiri. Penyangga alamiah dibagi
menjadi:
Endapan bijih yang ditinggalkan atau tidak ditambang.
Endapan bijih kadar rendah. Setelah dinilai tidak ekonomis, endapan bijih ini
ditinggalkan sebagai penyangga.
Waste
Batuan samping, atau material lain yang tidak ditambang.
Penyangga Buatan (Artificial Support)
Artificial support adalah penyangga buatan yang dimasukan ke dalam tamang
bawah tanah, agar tidak runtuh. Bahan penyangga buatan ini disebut juga
Material Filling, dapat berupa tailing, pasir, tanah, semen, baja, kayu, maupun
baut batuan.
Supported Stope Methode dibedakan menjadi:
Shrink and Fill Stoping
Merupakan metode penambangan dengan cara membuat level-level, dimana
level-level tersebut merupakan endapan bijih yang ditambang. Di dalam levellevel tersebut dibuat Stope-stope atau ruangan-ruangan. Setelah selesai
menambang dalam satu level, maka level tersebut diisi kembali dengan material
lalu dilanjutkan dengan membuat level baru. Arah tambang pada metode ini
relative horizontal.
Cut and Fill Stoping
Merupakan metode penambangan dengan cara memotong batuan untuk
membuat stope dalam level. Setelah selesai menambang dalam satu stope,
maka stope tersebut diisi kembali tanpa menunggu selesai dalam satu level. Ini
yang membedakan dengan Shrink and Fill Stoping. Syarat Cut and Fill Stoping
antara lain:
Endapan bijih tebalnya antara 1 6 m.
Arah endapan relative mendatar tapi cukup tebal.
Sebaiknya untuk endapan vein, kemiringannya harus lebih dari 45o. Dan untuk
endapan yang bukan vein kurang dari 45o
Endapan bijih keras, tapi batuan induknya lunak.
Endapan bijih bernilai tinggi baik kadar maupun harganya.
Square Set Stoping

Pada dasarnya, system penambangan ini dengan cara membuat penyangga


yang lebih sistematis, dimana penyangganya berbentuk ruang (tiga dimensi).
Baik berupa kubus ataupun balok. Penyangganya sendiri dapat berupa kayu
maupun besi.
Ciri-ciri Square Set Stoping antara lain:
Ongkos penyangganya sangat mahal.
Kemiringan endapan lebih dari 45o
Ketebalan bijih minimal 3,5 m.
Baik endapan bijih maupun batuan induk mudah runtuh.
Endapan tidak perlu memiliki batasan yang jelas antara endapan bijih dan
batuan induknya.
Stull Stoping
System penambangan ini meruapkan system penambangan yang memasang
penyangga dari footwall ke hanging wall. Stull sendiri berarti kayu, sehingga
pada system penambangan ini penyangganya menggunakan kayu.
Ciri-ciri system penambangan ini antara lain:
Bijih cukup kuat, sehingga tidak perlu langsung disangga, tapi batuan induk
mudah pecah menjadi bongkahan-bongkahan.
Kemiringan endapan bijih tidka terlalu berpengengaruh.
Ketebalan endapan bijih antara 1 5 m.
Bijih harus bernilai tinggi.
Recovery harus tinggi. Dan looses factor harus rendah, mengingat biaya yang
dibutuhkan untuk penyangga sangat mahal.
* Cara pemasangan penyangga dibedakan menjadi:
Raise Set
Raise set merupakan cara pemasangan penyangga dari bawah ke atas.
Lead Set
Lead set merupakan cara pemasangan penyangga maju, searah dengan
penambangan endapan bijih.
Corner
Corner set merupakan cara pemasangna penyangga ke arah samping atau juga
menyudut.

* Vein atau urat batuan adalah intrusi batuan lain ke dalam batuan induk. Intusi
terjadi melalui rekahan-rekahan batuan induk, dan lebih keras daripada batuan
induk.
* Endapan bijih dalam sebuah cebakan relative berbeda kadarnya pada masingmasing bagiannya. Mengenai kadarnya dapat dihitung dengan menggunakan
metode IMD dan juga IDW yang diperlajari di matakuliah Geostatik.
* Drift adalah lubang bukaan yang menghubungkan antar level secara vertikal.
* Raise adalah lubang bukaan horizontal yang berfungsi sebagai jalan keluarmasuk pekerja dan juga mengeluarkan endapan bijih.
* Level adalah lubang bukaan yang bertingkat-tingkat.

LAPORAN PRAKTIKUM
TAMBANG BAWAH TANAH
2013

Metode ini menggunakan material pengisi (filling material) disamping


penyanggaan yang teratur. Keduanya membutuhkan biaya yang tinggi, oleh
sebab itu cara penambangan ini menjadi mahal dan hanya endapan-endapan
bijih yang bernilai tinggi saja yang dapat ditambang dengan cara ini.

Fungsi material pengisi :


Tempat berpijak dalam melakukan pemboran dan persiapan peledakan.
Untuk penyangga batuan samping di tempat-tempat yang bijihnya sudah
diambil.
Untuk menghindari terjadinya amblesan (surface subsidence).

Syarat Penambangan Cut and Fill

Metode ini cocok untuk endapan-endapan bijih yang memiliki sifat-sifat sebagai
berikut :
Kekuatan bijih kuat dan keras tetapi di bagian tengah-tengahnya ada yang
kurang kompak dan kadang-kadang memerlukan temporary support.
Kekuatan batuan samping agak lemah atau kurang kompak.
Bentuk endapan bijih tabular atau cebakan deposit dan batasnya kurang teratur
atau banyak batuan kosong (barren rock) di antara endapan bijihnya.
Kemiringan endapan 35o - 90o untuk yang berbentuk vein.
Ukuran endapan 4 - 40 m, tetapi yang umumnya adalah 10 - 12 m.
Kadar bijih nilainya tinggi.
Kedalamannya dangkal atau dalam.

Cara Penambangan

Pada kebanyakan cut and fill stopping, kemajuan penambangan dilakukan naik
sepanjang badan bijih miring. Kemajuan penambangan dilakukan didalam suatu
siklus yang meliputi tahapan aktivitas sebagai berikut :
Pemboran dan peledakan untuk batuan berlapis dengan ketebalan 3 m dilakukan
pada atap stope.
Scalling dan penyanggaan meliputi pemindahan loose material dari atap dan
dinding stope serta cara penempatan penyanggaan.
Pemuatan dan pengangkutan bijih, dimana bijih secara mekanis dipindahkan dari
dalam stope ke ore pass, kemudian jatuh ke jalan pengangkutan oleh gravitasi.
Pengisian kembali (back filling) stope yang telah kosong diisi kembali dengan
material filling.

Kelebihan Metode Penambangan Cut and Fill

Adapun kelebihan dari metode penambangan cut and fill ini antara lain :

Termasuk metode yang luwes, karena metode ini bisa menambang endapanendapan yang tidak teratur bentuknya, diubah ke metode penambangan yang
lain tidak begitu sulit, memungkinkan untuk dilakukannya selective mining,
walaupun terbatas.
Akibat dari sifat metode ini maka dapat diusahakan mining recovery yang tinggi.
Dari front atau lombong dapat sekaligus dilakukan prospecting dan eksplorasi.
Batuan samping yang secara tidak sengaja pecah dapat dipakai sebagai filling
material sehingga tidak perlu diangkut ke luar tambang.
Karena memakai material pengisi maka penyangga kayu bisa dikurangi, surface
subsidence dapat dicegah, kemungkinan kebakaran dan pembusukkan juga
berkurang.
Penambangan bisa dilakukan di beberapa lombong sekaligus sehingga produksi
bisa diatur besar kecilnya.

Kekurangan Metode Penambangan Cut and Fill

Adapun kekurangan dari metode penambangan cut and fill ini antara lain :
Selain harus menambang bijihnya, juga harus mengurus material pengisi
sehingga diperlukan lebih banyak karyawan terutama jika material pengisi harus
diambil lebih jauh.
Untuk bentuk endapan bijih yang tidak teratur, maka batuan samping harus
sering digali.
Setiap kali akan dilakukan peledakan, maka harus mempersiapkan alat untuk
memisahkan material pengisinya dari bijih, berarti ada ongkos tambahan.
Ongkos penambangannya mahal, Jadi hanya endapan bijih dengan nilai tinggi
bisa ditambang dengan metode ini.
Endapan bijih yang tipis tetapi perlu penambangan yang lebar untuk
mendapatkan ruang kerja yang leluasa dan enak. Jika ditambang selebar ore
body tidak mungkin jadi terpaksa diperlebar dengan konsekuensi country rock
harus diambil lebih dulu, batuan samping diambil sebagian untuk filling dan
sebagian dibuang.

METODE PENAMBANGAN & PEMILIHANNYA


Pembagian Metode Penambangan.

Secara garis besar metode penambangan dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

1.

Tambang terbuka (surface mining) : adalah metode penambangan yang segala kegiatan
atau aktivitas penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi,
dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar.
2.

Tambang dalam/tambang bawah tanah (underground mining) : adalah metode

penambangan yang segala kegiatan atau aktivitas penambangannya dilakukan di bawah


permukaan bumi, dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara luar.
3.

Tambang bawah air (underwater mining) : adalah metode penambangan yang kegiatan
penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air atau endapan mineral berharganya terletak
dibawah permukaan air.
Tambahan
1.

Tambang Ditempat (Insitu Mining or Novel Mining).

Pemilihan metode penambangan dilakukan berdasarkan pada keuntungan terbesar yang akan
diperoleh, bukan berdasarkan letak dangkal atau dalamnya suatu endapan, serta mempunyai
perolehan tambang (mining recovery) yang paling baik.

Dari 4 kelompok besar metode penambang tersebut menurut Hartman, 1987 dibagi-bagi menjadi
metode-metode penambangan yang lebih spesifik seperti pada Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1. Klasifikasi Metode Penambangan, (Hartman, 1987)


SISTEM

KELAS

METODE

BAHAN GALIAN

Konvensional
Open pit mining*
Quarrying*
Opencast mining*
Tambang
Terbuka

Mekanis
Aquaeous

Auger mining
Hydraulicking*
Dregding *

Tambang
Bawah Tanah

Swa-sangga (Selfsupported)

Metal, non-metal
Non-metal
Batubara, non-metal
Batubara, metal, nonmetal
Metal, non-metal
Metal, non-metal

Room & Pillar mining*


Stope & Pillar mining*

Batubara, non-metal
Metal, non-metal

Underground
gloryhole

Metal, non-metal

Berpenyangga
buatan (Supported)

Gophering

Metal, non-metal

Shrinkage stoping

Metal, non-metal

Sublevel stoping *

Metal, non-metal

Cut & Fill stoping *


Stull stoping

Metal
Metal

Square set stoping

Metal

Longwall mining *
Sublevel caving

Batubara, non metal


Metal

Block caving *

Metal

Ambrukan (Caving)

Inkonvesional
Penggalian cepat
Automasi, Robotik
Gasifikasi bawah
tanah
Retorting bawah
tanah

Batuan keras
Semua
Batubara, batuan lunak
Hidrokarbon

Novel
Metal
Tambang samudera
Non-batubara
Tambang nuklir
Metal, non-metal
Tambang luar bumi

Pemilihan Metode Penambangan


Dalam kegiatan penambangan, aturan utamanya adalah memilih suatu metoda
penambangan yang paling sesuai dengan karakteristik unik (alam, geologi, lingkungan
dan sebagainya) dari endapan mineral yang ditambang di dalam batas keamanan,
teknologi dan ekonomi, untuk mencapai ongkos yang rendah dan keuntungan yang
maksimum. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan tersebut adalah :
1.
Karakteristik spasial dari endapan
Factor-faktor ini merupakan faktor penting yang dominan karena umumnya sangat
menentukan dalam pemilihan metode penambangan antara tambang terbuka dengan
tambang bawah tanah, penentuan tingkat produksi, metode penanganan material, dan
bentuk tambang dalam badan bijih. Factor-faktor tersebut meliputi :
1.
Ukuran (dimensi, terutama tinggi dan tebal)
2.
Bentuk (tabular, lenticular, massive, irregular)
3.
Orientasi (dip/inklinasi)
4.
Kedalaman (rata-rata dan nilai ekstrem, yang akan berimbas pada stripping ratio)

1.
Kondisi geologi dan hidrogeologi
Karakteristik geologi, baik dari badan bijih maupun batuan samping, akan mempengaruhi
pemilihan metode penambangan, terutama dalam pemilihan antara metode selektif dan
nonselektif serta pemilihan system penyanggaan pada system penambangan bawah
tanah. Hidrologi berdampak pada kebutuhan akan penyaliran dan pemompaan,
sedangkan aspek mineralogy akan menentukan syarat-syarat pengolahan.
1.
Mineralogi dan petrologi (Sulfida vs Oksida),
2.
Komposisi kimia
3.
Struktur endapan (lipatan, sesar, ketidakmenerusan, intrusi)
4.
Bidang lemah, (kekar, rekahan)
5.
Keseragaman, alterasi, erosi (zona dan daerah pembatas)
1.
Air tanah dan hidrologi (kemunculan, debit aliran dan muka air)
1.
Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan mekanika batuan) untuk bijih dan
batuan sekelilingnya. Hal-hal ini akan mempengaruhi pemilihan peralatan pada system
penambangan terbuka dan pemilihan klas metode dalam system tambang bawah tanah
(swasangga, berpenyangga atau ambrukan)
1.
Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas, permeabilitas, lengas)
2.
Sifat elastik (kekuatan, modulus elastik, nisbah, dan lain-lain)
3.
Perilaku elastik atau visko elastik (flow, creep)
4.
Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
5.
Konsolidasi, kompaksi dan kompeten (kemampuan bukaan pada kondisi
tanpa penyangga)
1.
Konsiderasi ekonomi
Faktor-faktor ini akan mempengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa pengembalian dan
keuntungan. Faktor ini meliputi :
1.
Cadangan (tonase dan kadar),
2.
Produksi,
3.
Umur tambang,
4.
Produktivitas,
5.
Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok
6.
Faktor teknologi
Kondisi paling cocok antara kondisi alamiah endapan dan metode penambangan adalah
yang paling diinginkan. Sedangkan metode yang tidak cocok mungkin tidak banyak
pengaruhnya pada saat penambangan, tetapi kemungkinan akan mempengaruhi pada
kegiatan pendukung tambang/terusannya (pengolahan, peleburan, dll). Yang termasuk
dalam faktor teknologi adalah :
1.
Perolehan tambang, Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih),
2.
Ke-fleksibilitas-an metode dengan perubahan kondisi,
3.
Selektifitas metode untuk memisahkan bijih dan waste,
4.
Konsentrasi atau dispersi pekerjaan,
5.
Modal, pekerja dan intensitas mekanisasi
1.
Faktor lingkungan
Factor lingkungan yang dimaksud tidak hanya berupa lingkungan fisik saja, tetapi juga
meliputi lingkungan social-politik-ekonomi. Yang termasuk dalam faktor lingkungan
adalah :
Prosedur pemilihan metoda penambangan secara ringkas dapat ditunjukkan
oleh Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Prosedur pemilihan metode penambangan


Metode dan prinsip penambangan yang telah dijelaskan sebelumnya melibatkan
masalah-masalah geomekanika dan operasional. Pengelola industri harus bisa memilih
metode panambangan yang paling tepat untuk cebakan bijih tertentu. Selain
karakteristik badan bijih yang mempengaruhi pemilihan metode panambangan,
karakteristik operasional khusus untuk setiap metode penambangan secara langsung
juga ikut mempengaruhi pemilihan metode penambangan.
Karekteristik operasional tersebut meliputi:
Skala penambangan
Laju produksi
Selektivitas
Persyaratan pekerja
Keluwesan ekstraksi
Keputusan terakhir dalam pemilihan metode penambangan akan merefleksikan sifat-sifat
mekanik dari badan bijih dan lingkungannya serta hal-hal teknik praktis lain. Misalnya,
non-selective method seperti block caving tidak akan diterapkan pada cebakan bijih
dimana selective recovery diperlukan, walaupun cebakan tersebut sangat sesuai untuk
ditambang dengan metode block caving.
Kadang-kadang muncul permasalahan bahwa pemilihan metode penambangan dapat
menimbulkan beberapa kesulitan teknis. Kesulitan yang timbul adalah bagaimana
menggabungkan bebarapa faktor yang berpengaruh agar bisa memutuskan metode
penambangan yang sesuai untuk suatu cebakan bijih. Berdasarkan perkembangan
filosofi dan sejarah ilmu pertambangan, metode penambangan dikembangkan untuk
dapat mengakomodir dan mengeksploitasi beberapa kondisi penambangan. Prosedur
paling baik yang dapat dikembangkan dalam pemilihan metode penambangan adalah
dengan melibatkan logika berpikir suatu sistem komputer.
Pemilihan metode panambangan sulit diterapkan bila berhadapan dengan badan bijih
besar yang harus ditambang dengan dua metode panambangan yang berbeda, misalnya
block caving dan open stoping. Block caving akan menjadi metode yang lebih disukai
karena jumlah tenaga kerja yang sedikit, biaya per tonne yang rendah dan keuntungankeuntungan teknis lainnya. Prasyarat utama yang harus dipenuhi adalah bahwa
ambrukan dapat diinisiasi pada badan bijih dan merambat dengan kecepatan konstan
melalui badan bijih sebagai broken ore. Kapan ambrukan dapat diterapkan pada suatu
badan bijih ? Jawabannya bukan hal yang sederhana. Solusi praktis untuk menjawab
pertanyaan ini (mengerti tentang mekanisme ambrukan) dapat ditemukan pada
klasifikasi geomekanik yang dimodifikasi berdasarkan kondisi massa batuan di daerah
penambangan.
Tujuan utama dalam pemilihan suatu metode untuk menambang suatu endapan mineral
adalah dalam rangka merancang suatu sistem eksploitasi yang paling sesuai dengan
kondisi sebenarnya. Dalam hal ini pengalaman berperan utama dalam pengambilan

keputusan, yang memerlukan banyak pertimbangan berdasarkan evaluasi rekayasa.


Evaluasi tersebut dilakukan dalam tiga tahap seperti pada Gambar 3.1, yaitu studi
konseptual, studi rekayasa, dan studi rancangan rinci. Hasilnya ialah sebuah laporan
rekayasa final.
Contoh pedoman untuk penentuan metode penambangan terbuka berdasarkan kekuatan
bijih dan batuan di sekitarnya serta geometri cadangan menurut Hartman (1987) dapat
dilihat pada Tabel 3.2.
Resume dari tabel tersebut adalah :
1.

Tambang terbuka umumnya lebih serba guna, terutama berkaitan dengan


kekuatan bijih dan batuan samping, dip endapan, dan kadar bijih, tetapi sangat
bergantung dengan bentuk dan ukuran endapan, keseragaman kadar dan kedalaman
(keduanya mutlak dan bergantung pada nisbah kupas/stripping ratio)

2.

Penerapan ideal pada endapan yang besar, perlapisan datar (atau massif) dengan
sebaran secara mendatar luas dan tebal dan keterdapatannya dekat permukaan.

3.

Kurang cocok untuk endapan yang kecil, tipis, kadar tidak merata, kemiringan
besar dan posisinya dalam.

4.

Penambangan dengan ekstraksi mekanis lebih konvensional, banyak diterapkan,


mudah dalam pelaksanaannya dan fleksibel dalam perubahan metode penambangan.

5.

Penambangan dengan ekstraksi aqueous lebih murah dan cocok untuk diterapkan
pada endapan kecil dengan kadar yang bervariasi, tetapi sangat terbatas
penerapannya pada endapan yang rentan terhadap terhadap air dan jika pemenuhan
kebutuhan air memerlukan biaya yang mahal.
Sedangkan contoh pedoman untuk penentuan metode penambangan bawah tanah
berdasarkan kekuatan bijih dan batuan di sekitarnya serta geometri cadangan menurut
Hartman (1987) dapat dilihat pada Tabel 3.3.
Tabel 3.2. Pemilihan Metode Penambangan Terbuka Berdasarkan Kekuatan
Bijih Dan Batuan Serta Geometri Cadangan
konseptual, studi rekayasa, dan studi rancangan rinci. Hasilnya ialah sebuah laporan
rekayasa final.
Contoh pedoman untuk penentuan metode penambangan terbuka berdasarkan kekuatan
bijih dan batuan di sekitarnya serta geometri cadangan menurut Hartman (1987) dapat
dilihat pada Tabel 3.2.
Resume dari tabel tersebut adalah :

1.

Tambang terbuka umumnya lebih serba guna, terutama berkaitan dengan


kekuatan bijih dan batuan samping, dip endapan, dan kadar bijih, tetapi sangat
bergantung dengan bentuk dan ukuran endapan, keseragaman kadar dan kedalaman
(keduanya mutlak dan bergantung pada nisbah kupas/stripping ratio)

2.

Penerapan ideal pada endapan yang besar, perlapisan datar (atau massif) dengan
sebaran secara mendatar luas dan tebal dan keterdapatannya dekat permukaan.

3.

Kurang cocok untuk endapan yang kecil, tipis, kadar tidak merata, kemiringan
besar dan posisinya dalam.

4.

Penambangan dengan ekstraksi mekanis lebih konvensional, banyak diterapkan,


mudah dalam pelaksanaannya dan fleksibel dalam perubahan metode penambangan.

5.

Penambangan dengan ekstraksi aqueous lebih murah dan cocok untuk diterapkan
pada endapan kecil dengan kadar yang bervariasi, tetapi sangat terbatas

penerapannya pada endapan yang rentan terhadap terhadap air dan jika pemenuhan
kebutuhan air memerlukan biaya yang mahal.
Sedangkan contoh pedoman untuk penentuan metode penambangan bawah tanah
berdasarkan kekuatan bijih dan batuan di sekitarnya serta geometri cadangan menurut
Hartman (1987) dapat dilihat pada Tabel 3.3.

pn/r bisa memutuskan metode penambangan yang sesuai untuk suatu cebakan
bijih. Berdasarkan perkembangan filosofi dan sejarah ilmu pertambangan, metode
penambangan dikembangkan untuk dapat mengakomodir dan mengeksploitasi beberapa
kondisi penambangan. Prosedur paling baik yang dapat dikembangkan dalam pemilihan
metode penambangan adalah dengan melibatkan logika berpikir suatu sistem
komputer.Pemilihan metode panambangan sulit diterapkan bila berhadapan dengan
badan bijih besar yang harus ditambang dengan dua metode panambangan yang
berbeda, misalnya block caving dan open stoping. Block caving akan menjadi metode
yang lebih disukai karena jumlah tenaga kerja yang sedikit, biaya per tonne yang rendah
dan keuntungan-keuntungan teknis lainnya. Prasyarat utama yang harus dipenuhi adalah
bahwa ambrukan dapat diinisiasi pada badan bijih dan merambat dengan kecepatan
konstan melalui badan bijih sebagai broken ore. Kapan ambrukan dapat diterapkan pada
suatu badan bijih ? Jawabannya bukan hal yang sederhana. Solusi praktis untuk
menjawab pertanyaan ini (mengerti tentang mekanisme ambrukan) dapat ditemukan
pada klasifikasi geomekanik yang dimodifikasi berdasarkan kondisi massa batuan di
daerah penambangan.
Tujuan utama dalam pemilihan suatu metode untuk menambang suatu endapan mineral
adalah dalam rangka merancang suatu sistem eksploitasi yang paling sesuai dengan
kondisi sebenarnya. Dalam hal ini pengalaman berperan utama dalam pengambilan
keputusan, yang memerlukan banyak pertimbangan berdasarkan evaluasi rekayasa.
Evaluasi tersebut dilakukan dalam tiga tahap seperti pada Gambar 3.1, yaitu studi
Tabel 3.2. Pemilihan Metode Penambangan Terbuka Berdasarkan Kekuatan
Bijih Dan Batuan Serta Geometri Cadangan

Kekuatan bijih
dan batuan

Bijih : kuat
sampai

moderat

Klasifikasi
sistem
penambangan

Geometri
cadangan

Metode
Penambangan

Tabular, datar, tipis,


ukuran besar

Room & Pillar

Swa SanggaSelf Tabular, datar,


Supported
tebal,ukuran besar
Batuan : kompeten
(tidak runtuh meski
tidak disangga)

Stope & Pillar

Tabular, miring,
tipis,ukuran
sembarang

Shrinkage
Stoping

Tabular, miring,

Sub-level Stoping

tebalukuran besar

Bentuk tak teratur,


miring, tipis, ukuran Cut & Fill Stoping
sembarang

Bijih: Moderat
sampai lemah
Penyangga
buatanArtifically
supported

Tabular, miring,
tipis, ukuran kecil

Stull Stoping

Batuan: Inkompeten
(runtuh jika tidak
disangga)

Bentuk, kemiringan
ukuran sembarang,
tebal

Square Set
Stoping

Bijih : Moderat
sampai lemah

Tabular, datar, tipis,


ukuran besar

Longwall

Tabular atau masif,


miring,

Sub-level caving

Masif, miring, tebal,


ukuran besar

Block Caving

AmbrukanCaving
Batuan : cavable
(dapat ambruk)

Tidak terlepas dari pedoman di atas, terdapat pedoman umum dalam menentukan
apakah akan menggunakan tambang bawah tanah atau tambang terbuka. Metode
tambang bawah tanah diterapkan jika kedalaman endapan, dan atau nisbah pengupasan
(stripping ratio) overburden terhadap bijih (atau batubara atau mineral berharga
lainnnya) menjadi sangat besar untuk ditambang dengan metode tambang terbuka.
Metode penambangan yang biasa diterapkan didasarkan pada cara penyanggaan (lihat
pada Gambar 3.2). Pada gambar ini ditunjukkan bagaimana perubahan pada
perpindahan dan strain energy di daerah near field.
Laubscher (1977) melakukan penelitian tentang hubungan antara sifat geomekanik
batuan dengan kemudahan caving atau stoping. Pola pengklasifikasian yang disusun
oleh Laubscher menampilkan hasil korelasi antara kinerja metode penambangan dengan
kondisi massa batuan di dalam serta di sekitar badan bijih asbestos dan emas di
Zimbabwe. Pola Laubscher merupakan pengembangan asli dari teknik klasifikasi
geomekanik lainnya. Penerapan pola Laubscher dalam pemilihan metode panambangan
dan aspek-aspek lain dalam perencanaan dan perancangan tambang telah dijabarkan
oleh Laubscher (1981) seperti ditunjukkan pada Tabel 3-4.
Klasifikasi Laubscher memberikan perkiraan kuantitatif atau indeks sifat massa batuan
(angka dalam interval 0-100) yang digunakan untuk menentukan urutan kelas (1-5).
Setiap kelas berada pada interval indeks 20. Kelas 1 massa batuan diartikan kondisi
insitu material dengan kekuatan tinggi, frekuensi kekar yang kecil, kuat gesar kekar yang
tinggi, dan tekanan air yang rendah. Berdasarkan uraian ringkas tentang mekanisme
ambrukan yang diberikan pada bagian awal, jelas bahwa massa batuan dengan urutan
kelas yang tinggi tersusun oleh kekar yang banyak dan bersifat getas, akan sangat
sesuai bila dilakukan ambrukan.
Penyelidikan Laubscher dapat menerangkan hubungan langsung antara nomer kelas
dengan faktor kinerja, misalnya kecenderungan massa batuan untuk menahan ambrukan
(seperti cavability), ukuran butiran bijih, keperluan secondary blasting pada drawpoint
(yang mempunyai hubungan terbalik dengan fragmentasi alami) dan kebutuhan dimensi
undercut untuk menginisiasi ambrukan. Parameter terakhir dijelaskan sebagai jari-jari
hidraulik ekivalen, misalnya perbandingan luas undercut terhadap keliling undercut
untuk menghitung geometri penggalian.
Interpretasi data pada Tabel 3-4 menunjukkan bahwa untuk kelas geomekanik 3-5 lebih
baik menerapkan metode penambangan ambrukan. Untuk kelas 1 dan 2, metode
penambangan open stope akan lebih baik diterapkan. Sebagai tambahan, Tabel 3-1 tidak
selamanya harus dijadikan patokan, karena dapat juga memperhitungkan kondisi
lainnya. Misalnya untuk kelas geomekanik III-3, penerapan ambrukan dapat dilakukan

dengan memperhitungan orientasi kekar dan pengaruhnya terhadap ambrukan.


Kendorski (1978) menyebutkan perlu adanya critical factor dalam mengaplikasikan
ambrukan pada badan bijih bila terdapat kekar sub-horisontal.
Informasi pada Tabel 3-4 untuk ukuran undercut akan sangat berguna dalam
memperkirakan tata latak ambrukan. Misalnya untuk panel ambrukan dengan
penggalian undercut segiempat, dan kelas massa batuan 4, rata-rata jari-jari ekivalen
yang disarankan adalah 14 m dengan dimensi undercut 56 m. Perhitungan dimensi
undercut harus dilengkapi dengan analisis detail kondisi spesifik massa batuan,
misalnya kondisi tegangan insitu dan kekuatan massa batuan. Bagaimanapun bagusnya
klasifikasi geomekanik tersebut, hal tersebut diperoleh berdasarkan pengalaman,
sehingga masih diperbolehkan keputusan-keputusan lain dalam aplikasinya.
Tabel 3-4. Unjuk kerja ambrukan untuk berbagai kelas geomekanik dari massa
batuan (Laubscher, 1981).
Kelas geomekanik

Tidak
terjadi

Buruk

Sedang

Baik

Sangat
baik

Ukuran fragmen

Besar

Sedang

Kecil

Sangat
kecil

Secondary blasting

Tinggi

Medium

Kecil

sangat
kecil

Dimensi undercut
(m)*

30

30 20

20 8

Cavabilit
y

* Jari-jari hidraulik ekivalen


3.3. TAMBANG TERBUKA ATAU TAMBANG BAWAH TANAH
Operasi penambangan meliputi : pemboran dan peledakan yang dilakukan untuk
memecah batuan, pemuatan dan pengangkutan, atau dapat juga ditambahkan proses
peremukan bijih untuk menghasilkan ukuran yang sesuai. Operasi tersebut dapat
diterapkan pada tambang bawah tanah, open pit, atau penambangan di laut. Operasi
yang sama juga dilakukan pada berbagai pekerjaan konstruksi, misalnya pembuatan
jalan, PLTA, dll. Sebelum sampai pada analisis ekonomi yang sangat mempengaruhi
pemilihan tambang bawah tanah atau open pit dan pada kondisi bagaimana harus
dilakukan perubahan dari open pit ke tambang bawah tanah atau sebaliknya, sangat
menarik bila dipertimbangkan beberapa faktor-faktor umum.
3.3.1. Tambang Terbuka vs Tambang Bawah Tanah
3.3.1.1. Produksi
Tabel 3-5 menunjukkan jumlah material yang ditangani pada penambangan open pit dan
tambang bawah tanah di tahun 1973. Di dunia barat, industri pertambangan dapat
menangani material sebanyak 3 milyar ton bijih/ tahun.
Metode penambangan bervariasi sesuai dengan jenis logamnya. Bijih besi dan tembaga
lebih sering ditambang dengan metode open pit. Untuk emas, nikel, timbal, dan seng
lebih sering ditambang dengan metode bawah tanah.
Tabel 3-5. Jumlah material yang dipindahkan selama penambangan dan pekerjaan
konstruksi tahun 1973 (Committee for Mineral Policy, 1978)

Penambang

106 m3

1550
620

41
17

an
Terbuka
Bawah tanah

Pekerjaan
konstruksi

1450
130

39
3

3750

100

Terbuka
Bawah tanah
Jumlah penambangan bijih dengan open pit bervariasi untuk setiap negara. Di USA
sekitar 85% penambangan bijih logam dilakukan melalui open pit tetapi untuk negara
Swedia hanya 30%.
Tabel 3-6 memperlihatkan jumlah penambangan open pit dan bawah tanah di dunia
barat yang menghasilkan 150.000 ton bijih/ tahun (tidak termasuk tambang batubara).
Tabel 3-5 dapat mewakili 90% produksi tambang di seluruh belahan dunia yang
meningkat dari 1.900 juta sampai 3-500 juta ton per tahun selama periode 1968-1977.
Tabel 3-6 menunjukkan bahwa produksi tambang meningkat bukan karena peningkatan
jumlah industri pertambangan, tetapi lebih dikarenakan perluasan daerah
penambangan. Jumlah industri pertambangan besar meningkat, dan selama periode
waktu yang sama, jumlah tambang kecil dan medium meningkat dengan konstan atau
sebaliknya menurun menjadi semakin kecil.
3.3.1.2. Perkembangan Produksi
Perkembangan teknis yang cepat selama beberapa dekade terakhir menghasilkan
peningkatan produktivitas yang tinggi. Produktivitas menunjukkan peningkatan yang
lebih besar pada tambang-tambang besar dibandingkan tambang-tambang kecil serta
lebih tinggi diperoleh dari tambang terbuka daripada tambang bawah tanah. Pada
tambang terbuka hanya terdapat sedikit pembatasan untuk bisa mempergunakan mesinmesin dengan kapasitas yang besar, berbeda dengan tambang bawah tanah yang
dibatasi oleh ruang kerja yang sempit.
Pada studi perbandingan antara tambang terbuka di USA dengan tambang bawah tanah
di Swedia yang telah dilakukan beberapa memperlihatkan bahwa produksi tambang
terbuka per tambang secara berkala lebih menunjukkan peningkatan dibandingkan
tambang bawah tanah, tetapi prosentase peningkatan lebih besar terjadi pada tambang
bawah tanah. Sejak awal abad masehi, untuk tambang terbuka produktivitas meningkat
sebanyak 250% dan untuk tambang bawah tanah 350%, dan produktivitas mulai
meningkat akhir-akhir ini pada tambang bawah tanah besar dibandingkan tambang
bawah tanah kecil.