Anda di halaman 1dari 3

1.

Klasifikasi Fraktur Femur


Menurut Helmi (2012) faktur femur dapat dibagi limajenis berdasarkan letak garis fraktur seperti
dibawah ini:
a. Fraktur Intertrokhanter Femur
Merupakan patah tulang yang bersifat ekstra kapsuler dari femur, sering terjadi
pada lansia dengan kondisi osteoporosis. Fraktur ini memiliki risiko nekrotik avaskuler
yang rendah sehingga prognosanya baik. Penatalaksanaannya sebaiknya dengan reduksi
terbuka dan pemasangan fiksasi internal. Intervensi konservatif hanya dilakukan pada
penderita yang sangat tua dan tidak dapat dilakukan dengan anestesi general.
b. Fraktur Subtrokhanter Femur
Garis fraktur berada 5 cm distal dari trokhanter minor, diklasifikasikan menurut
Fielding & Magliato sebagai berikut: 1) Tipe 1 adalah garis fraktur satu level dengan
trokhanter minor; 2) Tipe 2 adalah garis patah berada 1-2 inci di bawah dari batas atas
trokhanter minor; 3) Tipe 3 adalah 2-3 inci dari batas atas trokhanter minor.
Penatalaksanaannya dengan cara reduksi terbuka dengan fiksasi internal dan tertutup
dengan pemasangan traksi tulang selama 6-7 minggu kemudian dilanjutkan dengan hip
gips selama tujuh minggu yang merupakan alternatif pada pasien dengan usia muda.
c. Fraktur Batang Femur
Fraktur batang femur biasanya disebabkan oleh trauma langsung, secara klinis
dibagi menjadi: 1) fraktur terbuka yang disertai dengankerusakan jaringan lunak, risiko
infeksi dan perdarahan dengan penatalaksanaan berupa debridement, terapi antibiotika
serta fiksasi internal maupun ekternal; 2) Fraktur tertutup dengan penatalaksanaan
konservatif berupa pemasangan skintraksi serta operatif dengan pemasangan plate-screw.
d. Fraktur Suprakondiler Femur
Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga
terjadi gaya aksial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. Penatalaksanaan
berupa pemasanga traksi berimbang dengan menggunakan bidai Thomas dan penahan

lutut Pearson, cast-bracingdan spika pinggul serta operatif pada kasus yang gagal
konservatif dan fraktur terbuka dengan pemasangan nail-phroc dare screw.
e. Fraktur Kondiler Femur
Mekanisme trauma fraktur ini biasanya merupakan kombinasi dari gaya
hiperabduksi dan adduksi disertai denga tekanan pada sumbu femur ke atas.
Penatalaksanaannya berupa pemasangan traksi tulang selama 4-6 minggu dan kemudian
dilanjutkan dengan penggunaan gips minispika sampai union sedangkan reduksi terbuka
sebagai alternatif apabila konservatif gagal.
2. Manifestasi Klinis
a. Tanda tanda pasti fraktur:
Krepitasi
False movement
Deformitas
b. Tanda tanda tidak pasti:
Nyeri
Bengkak
Sulit digerakkan
Biasanya terdapat riwayat cedera, diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan
tungkai yang mengalami cedera. Faktur tidak selalu dari tempat yang cedera, suatu
pukulan dapat menyebabkan fraktur condylus femur, corpus femur, patella, ataupun
acetabulum. Umur pasien dan mekanisme cedera itu penting. Jika fraktur terjadi akibat
cedera yang ringan dapat dicurigai lesi patologik seperti: nyeri, memar dan
pembengkakan adalah gejala yang sering ditemukan, tetapi gejala itu tidak membedakan
fraktur dari cedera jaringan lunak, deformitas jauh lebih mendukung.
Tanda-tanda lokalis:
a. Look : pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan abnormal, angulasi, rotasi,
pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh;
kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur.
b. Feel : terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari
fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah
keadaan darurat yang memerlukan pembedahan.

c. Movement: krepitasi dan gerakan abnormal dapat ditemukan tetapi lebih penting untuk
menanyakan apakah pasien dapat menggerakkan sendi-sendi dibagian distal cedera.

Daftar pustaka

Standring, Susan et al, Grays Anatomy : The Anatomical Basis of Clinical Practice, 39th

edition, 2008, British : Elsevier


Solomon L., Apleys Concise System of Orthopaedics and Fractures, 3rd edition, 2005, Hodder
Arnold
Chairuddin Rasjad, Pengantar ilmu bedah ortopedi, Edisi 3, 2009, Yarsif Watampone, Jakarta