Anda di halaman 1dari 17

Referat

GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF

Oleh
Oktri Yetta Wimarti, S.Ked
Resmi Deby, S.Ked
Yoza Meirizal, S.Ked

Pembimbing:
dr. Djusnidar Djafar, SpKJ

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN
PEKANBARU
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala, karena
atas rahmat dan karunia Nya penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul
Gangguan obsesif kompulsif Penulis menyusun referat ini untuk memahami
etiologi, diagnosis, penatalaksanaan dan sebagai salah satu syarat dalam
menempuh ujian Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas
Kedokteran Universitas Riau Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih
kepada dokter pembimbing di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran
Universitas Riau Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru dr. Djusnidar Djafar,
Sp.KJ atas saran dan bimbingannya dalam menyempurnakan penulisan referat ini.
Penulis sadar pembuatan referat ini memiliki kekurangan. Saran dan kritik
yang membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, penulis mengharapkan
semoga referat ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.
Pekanbaru, November 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan kecemasan yang ditandai
dengan pikiran-pikiran obsesif yang menetap dan disertai dengan tindakan
kompulsif. Dimana individu tidak mampu mengontrol diri dari pikiran-pikiran
yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya. Individu mengulang
beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikiran tersebut untuk
menurunkan tingkat kecemasannya. 1 Pada gangguan ini penderita menyadari
bahwa pikiran dan perbuatannya itu tidak masuk akal, tidak pada tempatnya, atau
tidak sesuai dengan keadaan tetapi dia tidak dapat menghilangkannya dan juga
tidak mengerti mengapa dorongan tersebut begitu kuat untuk berbuat dan berpikir
demikian.2
Gangguan obsesif dan kompulsif membutuhkan adanya obsesi atau
kompulsi yang merupakan sumber gangguan atau kerusakan yang signifikan dan
bukan merupakan gangguan mental lainnya. 3 Gangguan ini diklasifikasikan dalam
Diagnostic and Stastitical Manual of Mental Disorders, Fourth Editions, Text
Revision (DSM-IV-TR) sebagai gangguan kecemasan. 4 Obsesi adalah hal yang
mengganggu, berulang, ide-ide yang tidak diinginkan, pikiran atau impuls yang
sulit untuk diberhentikan meskipun mengganggu alam sadar mereka. Kompulsi
merupakan perilaku yang dilakukan berulang, baik yang dapat diamati ataupun
secara mental, yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan yang ditimbulkan
oleh obsesi. Beberapa penelitian besar menemukan bahwa obsesi yang tersering
adalah pikiran tentang kontaminasi, dan kompulsi tersering adalah tindakan
memeriksa sesuatu. Namun sebagian besar memiliki multiple obsesi dan kompulsi
dari waktu ke waktu.5
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah:
1. Memahami cara mendiagnosis dan tatalaksana yang harus diberikan pada
pasien dengan gangguan obsesif kompulsif.

2. Meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah di bidang kedokteran


khususnya di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa.
3. Memenuhi salah satu syarat ujian Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian
Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Riau Rumah Sakit
Jiwa Tampan Pekanbaru.
1.3 Metode Penulisan
Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan pustaka yang mengacu
pada beberapa literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Obsesi adalah pikiran, perasaan, gagasan, atau sensai yang berulang dan
mengganggu. Kompulsi adalah perilaku yang disadari, standar dan berulang,
seperti

menghitung,

memeriksa,

atau

menghindar.

Pasien

menyadari

ketidakrasionalan obsesi dan merasakan obsesi serta kompulsi sebagai egodistonik.6


2.2 Etiologi
1. Faktor Biologis6
a. Neurotransmiter
-system serotonergik: Disregulasi serotonin terlibat dalam pembentukan
gejala obsesi dan kompulsi. Obat serotonergik lebih efektif daripada obat yang
memengaruhi system neurotransmiter lain tetapi tidak jelas apakah serotonin
terlibat sebagai penyebab.
-sistem noradrenergic: Lebih sedikit bukti disfungsi system noradrenergic
sebagai penyebab gangguan ini. Laporan tidak resmi menunjukkan sejumlah
perbaikan gejala penyakit ini dengan klonidin oral.
-neuroimunologi: infeksi streptococcus grup A -hemolitik dapat
menyebabkan demam reumatik dan sekitar 10% - 30% mengalami chorea
Sydenham dan menunjukkan gejala obsesif kompulsif.
b. Studi pencitraan otak
Positron emission tomography (PET) menunjukkan peningkatan aktivitas
(contohnya metabolism dan aliran darah) di lobus frontalis, ganglia basalis
(terutama kaudatus) dan cingulum pada pasien gangguan obsesif kompulsif.

Computed tomography (CT) dan magnetic resonance imaging (MRI) menemukan


berkurangnya ukuran kaudatus bilateral.
c. Genetik
Angka kejadian gangguan obsesif kompulsif lebih bermakna untuk kembar
monozigot daripada dizigot. 35% kerabat derajat pertama pasien juga mengalami
gangguan ini. Studi keluarga proband dengan gangguan obsesif kompulsif
menemukan angka gangguan Tourette dan tik motorik kronis yang lebih tinggi
diantara kerabat proband dengan gangguan yang juga memlikibeberapa bentuk
gangguan tic. Data ini mengesankan bahwa terdapat hubungan familial mungkin
genetic antara gangguan Tourette dan tic motorik kronis serta beberapa kasus
obsesif kompulsif.
2. Faktor perilaku6
Obsesi adalah stimulus yang dipelajari. Stimulus yang netral dikaitkan
dengan rasa takut atau ansietas melalui proses pembelajaran responden yaitu
memasangkan stimulus netral dengan peristiwa yang berbahaya sifatnya atau
menimbulkan ansietas. Kompulsi dibentuk dengan cara menemukan bahwa suatu
tindakan tertentu mengurangi ansietas yang melekat dengan pikiran obsesi, ia
akan mengembangkan strategi penghindaran aktif dalam bentuk kompulsi atau
perilaku ritualistic untuk mengendalikan ansietasnya.
3. Faktor psikososial6
a. Faktor kepribadian
Penyakit ini berbeda dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif. Sebagian
besar orang dengan gangguan ini tidak memiliki gejala kompulsif promorbid dan
cirri kepribadian sepeti itu tidak perlu atau tidak cukup untuk menimbulkan
gangguan ini.
b. Faktor psikodinamik
Riset mengesankan bahwa gangguan ini dapat dicetuskan oleh sejumlah stressor
lingkungan khususnya melibatkan kehamilan, kelahiran anak, atau perawatan oleh
orang tua. Faktor psikodinamik lain:

-ambivalensi: hasil langsung perubahan ciri kehidupan impuls. Merupakan cirri


penting fase perkembangan anal-sadistik, anak merasakan cinta dan kebencian
yang kejam pada objek yang sama
-Pikiran magis: Regresi membuka cara berpikir awal bukannya impuls, yaitu
fungsi ego juga fungsi id, dipengaruhi regresi. Banyak pasien dengan gangguan
ini yakin bahwa hanya dengan memikirkan satu peristiwa di dunia eksternal
mereka dapat menyebabkan suatu peristiwa terjadi tanpa tindakan fisik perantara.

2.3 Diagnosis
Untuk dapat dikatakan gangguan obsesif kompulsif, kebiasaan harus
menyebabkan distress lebih dari 1 jam perhari dan mengganggu fungsi normal
secara signifikan. Pasien gangguan obsesif kompulsif sering merasa malu dengan
gejala tersebut sehingga sering menyembunyikannya. Petunjuk berupa hal-hal
seperti kulit yang merah merekah akibat sering dicuci atau permintaan tes HIV
berulang-ulang tanpa indikasi dapat dijumpai pada pasien gangguan obsesif
kompulsif.7
Kriteria diagnosis gangguan obsesif kompulsif:8
1. Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan
kompulsif atau keduanya harus ada setiap hari selama sedikitnya dua
minggu berturut-turut
2. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu
aktivitas penderita.
3.

Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut ini:


a. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri
b. Setidaknya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil
dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh
penderita

c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut bukan merupakan hal


yang memberikan kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan
lega dari ketegangan atau ansietas, tidak dianggap sebagai
kesenangan)
d. Gagasan, bayangan, pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan
pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive)
4. Ada kaitan yang erat antara pikiran obsesif dan depresi. Pasien obsesifkompulsi sering kali menunjukkan gejala depresi, dan sebaliknya pasien
depresi seringkali menunjukkan pikiran-pikiran obsesif dalam episode
depresinya. Dalam berbagai situasi kedua hal tersebut meningkat dan
menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi parallel dengan gejala
kompulsi.
5. Gejala sekunder dari gangguan skizofrenia, sindrom Tourette, atau
gangguan mental organic harus dianggap sebagai bagian dari kelainan
tersebut.
Gejala Klinis
Obsesi dan kompulsi memiliki ciri tertentu secara umum:9
1. Suatu gagasan atau impuls yang memaksakan dirinya secara terus-menerus
dan bertubi-tubi kedalam kesadaran seseorang.
2. Suatu keadaan ketakukan yang mencemaskan yang menyertai manifestasi
sentral dan sering kali menyebabkan orang melakukan kebalikan melawan
gagasan atau impuls awal.
3. Obsesi dan kompulsi adalah asing bagi ego (ego-alien), yaitu ia dialami
sebagai asing bagi pengalaman seseorang tentang dirinya sendiri sebagai
makhluk psikologis.
4. Tidak perduli bagaimana jelas dan memaksanya obsesi dan kompulsi
tersebut, orang biasa menyadarinya sebagai mustahil dan tidak masuk
akal.

5. Orang yang menderita akibat obsesi dan kompulsi biasanya merasakan


suatu dorongan yang kuat untuk menahannya. Teteapi kira-kira separuh
dari semua pasien memiliki pertahan kecil terhadap kompulsi. Sekitar 80%
pasien percaya bahwa kompulsi adalah irasional. Terkadang obsesi dan
kompulsi menjadi pegangan (overvalued) bagi pasien, contohnya pasien
mungkin bertahan bahwa kebersihan kompulsif adalah benar secara moral,
kendatipun mereka kehilangan pekerjaan akibat waktu yang digunakan
untuk membersihkan.
Pola yang paling sering ditemukan yaitu obsesi kontaminasi, diikuti
mencuci atau disertai penghindaran kompulsif terhadap objek yang kemungkinan
mengkontaminasi. Objek yang ditakuti sering kali sulit dihindari (urin, feses, debu
atau kuman). Pasien mungkin terus-menerus menggosok dan mencuci tangan
berlebihan dan tidak mau keluar rumah karena takut terkontaminasi. Kecemasan
adalah respon emosional yang paling sering dijumpai, malu dan jijik juga sering
dijumpai. Pasien percaya kontaminasi dapat terjadi dengan kontak ringan.9
Pola kedua tersering adalah obsesi keragu-raguan diikuti pengecekan yang
kompulsi. Sering kali melibatkan bahaya kekerasan (lupa mematikan kompor,
mengunci pintu). Pasien memiliki keragu-raguan terhadap diri sendiri (self-doubt)
yang obsessional, sering merasa bersalah karena melakukan atau melupakan
sesuatu.9
Pola ketiga tersering adalah pola dengan semata-mata pikiran obsessional
yang dicela pasien tanpa suatu kompulsi. Onsesi tersebut biasanya berupa pikiran
berulang akan suatu tindakan seksual atau agresi yang dicela oleh pasien. Pola
keempat tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas atau ketepatan yang dapat
menyebabkan perlambatan kompulsi. Pasien secara harafiah menghabiskan waktu
berjam-jam untuk makan atau mencukur wajahnya. Trichotillomania (menarik
rambut kompulsif) dan menggigit kuku mungkin merupakan kompulsi yang
berhubungan dengan gangguan obsesi-kompulsi.9

Berikut ini bentuk gangguan obsesif kompulsif yang sering ditemukan:7


No.

Obsesif

Kompulsif

1.

Kekhawatiran masalah kebersihan


(debu, kuman, merasa
terkontaminasi)

Mencuci tangan, mandi, menggosok


gigi, perawatan, membersihkan baju
dan barang pribadi secara berlebihan
atau berulang

2.

Ketakutan dan keraguan yang


berlebihan (terhadap hal yang
membahayakan diri sendiri atau
orang lain)

Berulang kali meyakinkan bahwa


kompor, setrika, dan alat elektronik
lainnya sudah dimatikan, berulang
kali memeriksa untuk memastikan
pintu dan jendela sudah terkunci

3.

Perhatian terhadap simetrisitas


(urutan dan rinci)

Terbiasa menyusun dan menyusun


kembali dalam bentuk tertentu,
membuat dalam bentuk simetris

4.

Obsesi menyimpan dan menimbun

Sulit membuang barang, menyimpan


barang-barang yang kurang berguna,
menyortir sampah untuk memastikan
tidak ada barang berguna yang
terbuang

5.

Kekhawatiran akan membuat


kesalahan (sesuatu yang buruk
akan terjadi akibat kesalahan
tersebut)

Mengulang-ulang (membaca ulang,


menulis ulang, memasukkan dan
mengeluarkan barang dari dalam tas,
mengulang kata-kata), menghitung
objek dan menghitung langkah.

6.

Obsesi religius

Berulang kali berdoa berlebihan

7.

Obsesi seksual (keinginankeinginan yang terlarang, aksi


seksual yang agresif)

Hubungan seksual yang kaku

2.4 Diferensial diagnosis


Diferensial diagnosis gangguan obsesif kompulsif bisa sulit untuk
dibedakan karena bisa merupakan fenomena primer dan sekunder. Obsesi dan
kompulsi tidak perlu dibungungkan dengan pembawaan karakter yang menetap
pada gangguan kepribadian obsesif kompulsi yang bermanifestasi seperti
gangguan obsesif kompulsif (contohnya sering memeriksa, rapi). Pasien dengan
gangguan kepribadian obsesif-kompulsi biasanya kaku, perfeksionis, mengatur
dan teliti berlebihan, menjadi kebiasaan seumur hidupnya dan tidak menyebebkan

distress yang berlebihan akan hal tersebut. Pada gangguan obsesif kompulsif
gejala ini tidak tampak.7
Kelainan lain yang punya gejala mirip gangguan obsesif kompulsif
diantaranya gangguan ansietas, gangguan depresif mayor, hipokondriasis dan
gangguan psikosis. Walaupun gejalanya sama, sudah diketahui bahwa masingmasing gangguan memiliki perbedaan dengan gangguan obsesif kompulsif,
yaitu:7,9
1. Depresi : pada pasien depresi, pasien tidak memperlihatkan pikirannya
sebagai sesuatu yang tidak masuk akal atau alien dan membuat suatu
usaha untuk menghindarinya.
2. Gangguan ansietas : sama halnya seperti depresi, ketakutan dan cemas
pada gangguan ansietas tampak lebih nyata dibandingkan gangguan
obsesif kompulsif.
3. Hipokondriasis : pasien hipokondriasis datang dengan keluhan penyakit
fisik yang tidak nyata yang sama seperti renungan obsesif tetapi tidak
menunjukkan ritual kompulsif.
4. Gangguan psikotik : gangguan obsesif kompulsif biasa dibedakan dengan
gangguan psikotik dengan ada atau tidaknya delusi dan halusinasi, dan
pemeliharaan tilikan terhadap penyakit yang diderita.
5. Gangguan pengendalian impuls (berjudi yang patologis, pola makan
kompulsif, kleptomania) dan gangguan akibat zat : manifestasi klinis pada
gangguan pengendalian impuls dan gangguan akibat zat bisa sama dengan
gangguan obsesif kompulsif, tetapi kebiasaan kompulsif pada kedua
gangguan tersebut bersifat menyenangkan, berbeda dengan gangguan
obsesif kompulsif yang tidak nyaman dan mengalami distress dengan
kompulsi sejatinya.
6. Gangguan Tourette : gejala Tourette adalah tik motoric dan vocal yang
sering dan hampir tiap hari terjadi, memiliki kesamaan onset dengan
gangguan obsesif kompulsi.

Banyak gangguan psikiatrik dan neurologic yang diikuti dengan gejala


gangguan obsesif kompulsif. Contohnya trikotillomania, anoreksia nervosa,
gangguan bentuk tubuh (body dysmorphic), onkofagia, korea Sydenham,
gangguan autistic dan gangguan perkembangan menetap lainnya, epilepsy dan
penyakit Parkinson. Penyakit tersebut dapat digolongkan kedalam gangguan
obsesif kompulsif dan ditatalaksana sebagai gangguan obsesif kompulsif yang
berkemungkinan berhasil menghilangkan lebih dari 1 sindrom.7
Terdapat gejala komorbid yang berkaitan dengan gangguan obsesif
kompulsif. Dua pertiga gangguan obsesif kompulsif memiliki riwayat opisode
depresi mayor seumur hidupnya. Juga erdapat insidensi tinggi penyalahgunaan zat
dan gangguan ansietas, termasuk gangguan panic, fobia social dan gangguan
ansietas umum.7

2.5 Terapi
A. Psikofarmakologi
Penggolongan obat anti obsesif-kompulsif:8
1. Golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)

Contohnya sertraline, paroxetine, fluvoxamine, fluoxetine, citalopram


2. Golongan trisiklik
Contohnya clomipramine.
Pemberian obat anti obsesif kompulsif harus dimulai dengan dosis rendah
untuk penyesuaian efek samping. Clomipramine mulai dengan 25-50 mg/hari,
dinaikkan secara bertahap dengan penambahan 25 mg/hari, sampai tercapai dosis
efektif yang mampu mengendalikan sindrom obsesif kompulsif. Dosis
pemeliharaan umumnya agak tinggi, meskipun sifatnya individual. Clomipramine
sekitar 100-200 mg/hari dan sertraline sekitar 100mg/hari, serta bertahan untuk
jangka waktu yang lama sambil dilakukan terapi perilaku. Sebelum dihentikan,
penggunaan dosis secara tapering off agar tidak terjadi kekambuhan dan
kesempatan yang luas untuk menyesuaikan diri.8
Lama pemberian obat anti obsesif kompulsif adalah sekitar 2 sampai 3
bulan dengan dosis antara 75-225 mg/hari. Batas lamanya pemberian obat bersifat
individual, umumnya diatas 6 bulan sampai tahunan, kemudian dihentikan secara

bertahap bila kondisi penderita sudah memungkinkan. Obat golongan trisiklik dan
SSRI tidak berpotensi menimbulkan ketergantungan obat.8
Efek samping obat anti obsesif-kompulsif sama seperti obat antidepresi
trisiklik, dapat berupa:8
-

Efek

antihistaminergik

berkurang,
-

kinerja

(sedasi,

psikomotor

rasa mengantuk,
menurun,

kewaspadaan

kemampuan

kognitif

menurun, dll).1
Efek antikolinergik (mulut kering, keluhan lambung, retensi urin,
disuria, penglihatan kabur, konstipasi, gangguan fungsi seksual, sinus

takikardia, dll).
Efek antiadrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi ortostatik).
Efek neurotoksis (tremor halus, kejang epileptik, agitasi, insomnia).

Terdapat beberapa jenis obat yang digunakan untuk gangguan obsesif-kompulsif


pada tabel berikut.8
No Nama Generik

Nama Dagang

Sediaan

Dosis Anjuran

Clomipramine

Anafranil

Tab 25 mg

75-200 mg/h

Fluvoxamine

Luvox

Tab 50 mg

100-250 mg/h

Sertraline

Zoloft

Tab 50 mg

50-150 mg/h

Fluoxetine

Prozac

Cap 20 mg

20-80 mg/h

Nopres

Cap 20 mg

Andep

Cap 20 mg

Antiprestin

Cap 10-20 mg

Courage

Tab 20 mg, cap


10 mg

Kalxetin

Cap 20 mg

Paroxetine

Seroxat

Tab 20 mg

40-60 mg/h

Citalopram

Cipram

Tab 20 mg

40-60 mg/h

B. Psikoterapi
Jenis psikoterapi yang diberikan dapat berupa :10,11
a. Psikoterapi suportif
Tujuan Psikoterapi Suportif adalah:
1. Menguatkan daya tahan mental yang ada
2. Mengembangkan mekanisme yang baru dan yang lebih baik untuk
mempertahankan kontrol diri
3. Mengembalikan keseimbangan adaptif
Ada beberapa faktor gangguan obsesif kompulsif sangat sulit untuk
disembuhkan, penderita gangguan obsesif kompulsif kesulitan mengidentifikasi
kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai
bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia
normal-normal

saja

walaupun

perilakunya

itu

diketahui

pasti

sangat

menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi


bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja.
Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi
yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat
individu merasa enggan untuk mengikuti terapi.
b. Terapi prilaku
Walaupun beberapa perbandingan telah dilakukan terapi prilaku sama
efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif kompulsif dan beberapa
data menyatakan efek bermanfaat adalah berlangsung lama dengan terapi prilaku.
Dengan demikian banyak klinisi mempertimbangkan terapi prilaku dapat
dilakukan pada situasi rawat inap maupun rawat jalan. Pendekatan prilaku utama
pada gangguan obsesif kompulsif adalah pemaparan dan pencegahan respons,
desensitisasi menghentikan pikiran, terapi impulsi dan pembiasaan tegas juga
telah digunakan pada pasien gangguan obsesif kompulsif, dalam terapi prilaku
pasien harus benar benar menjalannkannya untuk mendapat perbaikan.10,11
c. Terapi lain

Terapi keluarga sering kali berguna dalam mendukung keluarga,


membantu menurunkan angka perceraian yang disebabkan gangguan dan
membantu ikatan terapi dengan anggota keluarga untuk kebaikan pasien.
Terapi kelompok berguna sebagai sistem pendukung bagi beberapa pasien.
Untuk pasien yang sangat kebal terhadap pengobatan, terapi elektrokonvulsif
(ECT) dan bedah psiko harus dipertimbangkan.
ECT tidak se-efektif bedah psiko tetapi kemungkinan harus dicoba
sebelum pembedahan, prosedur bedah psiko yang paling sering dilakukan untuk
gangguan obsesif kompulsif adalah singulotomi yang berhasil dalam mengobati
20-30 persen yang tidak responsif terhadap pengobatan lain. Komplikasi dari
bedah psiko ialah perkembangan kejang yang hampir selalu dikendalikan dengan
pengobatan phenytoin. Beberapa pasien yang tidak berespons dengan bedah psiko
saja dan yang tidak berespons terhadap farmakoterapi atau terapi prilaku sebelum
operasi menjadi berespons terhadap farmakoterapi atau terapi prilaku setelah
bedah psiko.11
2.6

Prognosis
Suatu prognosis yang buruk dinyatakan jika pasien tidak mampu menahan

dorongan kompulsi, onset pada masa anak-anak, kompulsi yang aneh perlu
perawatan di rumah sakit, gangguan depresi berat yang menyertai, kepercayaan
waham, adanya gagasan yang terlalu dipegang (overvalued) yaitu penerimaan
obsesi dan kompulsi dan adanya gangguan keperibadian. Prognosis yang baik
ditandai oleh penyesuian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa
pencetus, dan suatu sifat gejala yang episodik.10

BAB III
KESIMPULAN
Gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran
seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan

ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga


menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan
kompulsif, atau kedua-duanya harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua
minggu berturut-turut.Diagnosis gangguan Obsesif-kompulsif ditegakkan hanya
bila tidak ada gangguan depresi pada saat gejala Obsesif-kompulsif tersebut
timbul.Bila dari keduanya tidak ada yang menonjol, maka lebih baik menganggap
depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun, maka prioritas
diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang.
Gejala dari Obsesif-kompulsif ditandai dengan pengulangan pikiran dan
tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung
selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Penanganan pasien dengan gangguan
Obsesif-kompulsif dapat berupa psikoterapi dan psikofarmakologi. Prognosis
pasien gangguan Obsesif-kompulsif dapat baik dan buruk. Prognosis buruk bila
terjadi pada usia anak-anak, terdapat depresi berat serta adanya kepercayaan
waham. Sedangkan baik bila penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya
peristiwa pencetus, dan suatu sifat gejala yang episodik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ko Soo Meng. Obsessive Compulsive Disorder. 2016. Available from:
www.med.nus.edu.sg/pcm/book/14.pdf
2. Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga
University Press. 2009. Hal 312-313.

3. Benjamin J, Virginia A. Kaplan dan Sadocks Comprehensive


Textbook of Psychiatry. Seven editions. Lippincott Williams dan
Wilkins Publishers. 2000. Hal 2529-2580.
4. William M Greenberg. Obsessive Compulsif Disorder. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1934139-overview
5. Jerald Kay. Allan Tasman. Obsessive Compulsive Disorder. Wiley
Essential of Psychiatry. British Library Catalouguing. 2006.
6. Benjamin J, Virginia A. Kaplan dan Sadocks Comprehensive
Textbook of Psychiatry. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2004. Hal 247-249.
7. Kay J. Obsessive compulsive disorder. The Hospital Physician
Psychiatry Board Review Manual. 2008
8. Maslim R, 2001. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat
Psikotropik. Edisi III. Jakarta: 47-51.
9. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan dan Sadock Synopsis
Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku dan Psikiatri Klinis Edisi Ketujuh
Jilid Dua. Binarupa Aksara. 1997. Hal 40-51
10. Sadock VA. Kaplan dan Sadock Synopsis Sciences/ Clinical. Tenth
Edition. New York: Lippincott Williams dan Wilkins. 2007. Hal 604
11. Kaplan, Harold I MD,dkk. Gangguan obsesif kompulsif. Ilmu
pengetahuan perilaku psikiatri klinis, Jilid 2, edisi Ketujuh. Hal 56-68.