Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL TUGAS AKHIR

TL 4099

STUDI POTENSI DAUR ULANG LIMBAH TEKSTIL MENGGUNAKAN


ADVANCED OXIDATION PROCESS (AOP) DENGAN VARIASI KOMBINASI
OZONE DAN UV

Topik penelitian ini merupakan bagian dari Hibah Penelitian ITB dengan anggota tim:
Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D; Rofiq Iqbal, ST., M.Eng., PhD.; Dr. Qomaruddin
Helmy, S.Si., MT.

Disusun oleh :
Rizki Apriliawati
(15312085)

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

1. JUDUL TUGAS AKHIR


Judul tugas akhir yang diajukan adalah Studi Potensi Daur Ulang Limbah Tekstil
Menggunakan Advanced Oxidation Process (AOP) dengan Variasi Kombinasi Ozone
dan UV
2. LATAR BELAKANG
Industri tekstil adalah salah satu industri yang berkembang dengan pesat dan
memegang peranan yang cukup penting di Indonesia. Dalam melakukan kegiatannya,
industri tekstil membutuhkan air yang sangat banyak yang kemudian menyebabkan
dihasilkannya air limbah dalam jumlah yang besar pula (mencapai 70% dari
kegiatan produksi) (Sastrawidana dan Sukarta, 2011). Hal ini menunjukkan terjadinya
peningkatan risiko kerusakan lingkungan jika limbah tidak tertangani dengan baik.
Salah satu masalah yang paling mengganggu dari limbah tekstil adalah kandungan zat
warna dan garam-garam anorganik yang cukup besar yang dapat mencemari
lingkungan, membahayakan keanekaragaman hayati,mengganggu kesehatan dan
menyebabkan terjadinya mutasi (Mathur dkk., 2005).
Perlu dilakukannya suatu pengolahan limbah sehingga limbah yang terbuang dapat
digunakan kembali dalam proses produksi (kegiatan daur ulang). Teknologi
pengolahan lanjutan seperti Advanced Oxidation Process (AOP) telah banyak
dipelajari untuk mendegradasi senyawa organic, anorganik serta warna pada air
limbah.
Advanced Oxidation Process (AOP) merupakan suatu metode pengolahan kimiawi
untuk mendegradasi senyawa organik maupun anorganik dalam air limbah. Kekuatan
degradasi AOP dikendalikan oleh jumlah senyawa hidroksil radikal (OH*) sebagai
oksidator kuat yang dapat mendegradasi senyawa organic maupun anorganik. OH*
tidak bersifat toksik dan selektif terhadap senyawa yang akan di degradasi (baik
organik maupun anorganik). Salah satu rekayasa yang dilakukan untuk memproduksi
OH* dalam jumlah besar adalah dengan kombinasi radiasi ultraviolet (O3/UV).
3. TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Gambaran Umum Industri Tekstil
Industri tekstil merupakan industri yang mengubah bahan baku berupa serat
menjadi barang jadi tekstil. Tahapan proses produksi pada industri tekstil antara
lain: produksi serat, pengolahan serat, pemintalan, persiapan benang, produksi

kain, pemutihan, pencelupan dan pencetakan, serta finishing. (World Bank ESH,
1998)
Proses pembuatan tekstil dibedakan menjadi dua jenis yaitu, proses kering dan
proses basah. Proses kering meliputi pemintalan serat, pelilitan benang,
penenunan, kegiatan rajut, laminasi, dan pengikatan, sedangkan proses basah
meliputi pencucian dan segala kegiatan pemrosesan yang menggunakan air.
3.2. Karakteristik Limbah Cair Industri Tekstil
Industri tekstil tidak hanya indentik dengan jumlah efluennya yang besar,
namun juga banyaknya zat kimia yang digunakan dalam berbagai proses
operasinya. Setiap tahapan dari proses produksi tersebut dibutuhkan input air,
bahan kimia, dan energi yang besar sehingga menimbulkan limbah yang besar
pula. Karakteristik limbah cair dari setiap tahapan proses operasi tekstil akan
berbeda, begitu pula karakteristik limbah cair antara industri tekstil satu dengan
yang lainnya. Umumnya limbah cair industri bersifat alkalin (basa) dan
memiliku BOD antara 700-2000 mg/L. (World Bank ESH, 1998).
o Karakteristik Fisik
Karakteristik fisik air limbah yang paling penting adalah total solid yang terdiri
dari material yang larut (mampu melewati filter dengan diameter pori 1,2 m)
dan tersuspensi (tidak mampu melewati filter dengan diameter pori 1,2 m)
yang terdapat di dalam air limbah tersebut. Parameter lain yang penting adalah
suhu, warna, turbiditas, dan bau. (Tchobanoglous, 2003).
o Karakteristik Kimia
Karakteristik kimia meliputi senyawa organik dan anorganik yang terkandung
dalam suatu limbah. Senyawa organik pada umumnya terdiri dari kombinasi
karbon, hidrogen dan oksigen dengan tambahan nitrogen pada senyawa organik
tertentu. Sedangkan senyawa anorganik terdiri dari logam, sulfur, dan fosfor.
Beberapa parameter yang digunakan untuk menentukan keberadaan zat organik
di dalam air limbah dengan konsentrasi polutan organik yang lebih dari 1 mg/L
adalah parameter TOC, BOD, dan COD. (Tchobanoglous, 2003).
Total organic compound (TOC) adalah parameter yang menunjukkan
keberadaan seluruh senyawa organik dalam limbah. Nilai TOC merupakan
selisih antara seluruh senyawa karbon dalam air (Total Carbon) dengan nilai

karbon inorganic yang berada di dalam air meliputi karbonat, bikarbonat, dan
CO2 terlarut (Sawyer, 1994).
BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
mendegradasi substrat secara biokimia. Sedangkan COD adalah jumlah oksigen
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi seluruh material organik yang dapat
dioksidasi menggunakan agen oksidator kuat dalam kondisi asam. (Sawyer,
1994).
Karakteristik kimia lainnya adalah pH yaitu derajat keasaman suatu larutan;
Ammonia hadir sebagai bagian dari siklus nitrogen yang terjadi secara alami;
Krom ditemukan di tanah bebas maupun dalam limbah industri; dan Oil and
Grease yaitu senyawa organik di dalam air yang kurang larut dalam air sehingga
mengganggu transfer oksigen dari atmosfer. (Alley, 1999). Baku mutu limbah
tekstil tercantum dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup no. 51 Tahun
1995 seperti tercantum dalam Tabel 1.
Tabel 1. Baku Mutu Limbah Cair untuk Industri Tekstil

(Sumber: Lampiran B.IX Kep-51/MenLH/10/1995)

3.3. Warna
o Zat Pewarna
Zat pewarna (dye) secara umum dapat disebut sebagai suatu zat warna yang
memiliki nilai afinitas terhadap substrat dimana zat warna tersebut digunakan.
Zat warna organik diklasifikasikan bergantung pada bagaimana proses
pewarnaan dilakukan. Berikut beberapa jenis zat warna organik.

1. Acid Dyes: Zat pewarna yang berasal dari larutan dengan pH rendah.
2. Basic Dyes: Zat pewarna yang larut dalam air dan bersifat kationik.
3. Direct or Substantive Dyes: Zat warna dengan molekulnya mengalami daya
Tarik fisika hingga pada level molecular dari serat.
4. Mordant Dyes: Zat warna yang membutuhkan mordant.
5. Vat Dyes: Zat warna yang tidak larut dalam air dan tidak dapat langsung
digunakan untuk mewarnai serat.
6. Reactive Dyes: Zat warna yang memiliki chromofor yang mengandung
substansi yang dapat diakticasi untuk bereaksi dengan permukaan substrat.
7. Sulfur Dyes: Zat warna yang paling banyak digunakan untuk bahan katun.
o Spektrum Warna
Setiap jenis warna yang dilihat oleh mata manusia dilihat oleh mata manusia
memiliki spektrum warna yang berbeda tergantung pada jenis spektrum yang
dipantulkan oleh benda yang kita lihat. Panjang gelombang yang dapat dilihat
mata manusia berkisar antara 380 750 nm.
3.4. Advanced Oxidation Process (AOP)
AOP merupakan teknologi oksidasi lanjut yang bertujuan untuk memproduksi
radikal Hidroksil (OH*), suatu pereduksi oksidasi yang tinggi dengan merusak
sebagian besar polutan organik dalam air. Hidroksil dapat dihasilkan dari sistem
yang menggunakan sinar UV sebagai sumber energi untuk menimbulkan reaksi,
dapat pula digunakan ozon. Berikut reaksi yang terjadi dari oksidasi UV dan
ozon:
H202 + hv 2 OH* (Sinar UV)
2O3 + H2O2 2 OH* + 3 O2 (Ozone)
Radikal yang dihasilkan dari cara ini merusak senyawa organik dengan
kemampuan yang sama seperti pada penggunaan UV/Peroksida yang telah ada
sebelumnya. (Batubara, 2005)
3.5. Ozon dan Karakteristiknya
Ozon adalah oksidator kuat yang mampu mengoksidasi material organik
maupun anorganik di dalam air. Ozon memiliki tingkat reaktivitas yang tinggi
bahkan pada suhu yang berada dibawah suhu kamar, penggunaannya juga tidak

meninggalkan sisa hasil reaksi. (Klein, 1984). Tingkat keefektivitasan ozon


untuk mengoksidasi material organik maupun anorganik di dalam air merupakan
fungsi terhadap suhu dan pH. Ozon mampu melakukan oksidasi terhadap logam
berat seperti besi (Fe), mangan (Mn) dan lain-lain.
3.6. UV dan Karakteristiknya
Spektrum sinar UV adalah elektromagnetik yang terlentang pada rentang
panjang gelombang 100 nm- 400nm yang dibagi atas menjadi sinar ultraviolet A
atau UV-A ( 320-400 nm), sinar UV-B ( 280-320 nm) dan sinar UV-C ( 100280 nm). Sumber radiasi UV alam adalah matahari, tetapi karena serapan atom
oksigen sehingga membentuk lapisan ozon, maka radiasi matahari yang sampai
ke bumi (terestrial) intensitasnya lebih rendah yang meliputi UV dengan
panjang gelombang 290 400 nm, sedangkan panjang gelombang yang lebih
pendek diserap oleh lapisan atmosfer. Sebagai penyerap utama radiasi UV,
lapisan gas ini berfungsi sebagai pelindung bumi dari pajanan sebagai radiasi
UV yang lebih pendek dari 340 nm. Semakin berkurangnya lapisan ozon
sebagai akibat dari pelepasan chloofluorocarbon (CFC) hasil buatan manusia ke
atmosfer akan memperkecil tingkat proteksi ozon terhadap sinar UV dan
menyebabkan tingkat kerusakan akibat pajanan radiasi UV semakin besar (De
Grujl, 2000).
Dalam proses degradasi warna limbah tekstil, sinar UV berperan sebagai
fotokatalitik yang berfungsi untuk menurunkan energi aktivasi dari proses
degradasi tersebut.
3.7. Faktor yang Mempengaruhi Degradasi Zat Warna
o Suhu
Semakin tinggi suhu maka kelarutan ozon dalam air akan semakin kecil
sehingga terjadi penurunan presentase degradasi. (Adrian, 2008)
o pH
Pengaruh pH terhadap laju degradasi memiliki trend yang beragam bergantung
pada muatan dari senyawa yang akan didegradasi. Saat senyawa yang akan
didegradasi bermuatan positif maka degradasi akan lebih efektif pada saat
kondisi basa. Sebaliknya, saat kondisi asam senyawa yang akan lebih efektif

didegradasi adalah senyawa yang memiliki muatan negatif (Andari dan


Wardhani, 2014).
o Waktu
Faktor lain yang mempengaruhi adalah waktu kontak, dimana presentasi
senyawa akan meningkat seiring bertambahnya waktu kontak (Safni dkk, 2007).
o Pengadukan
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, perbandingan antara proses
pengolahan dengan dan tanpa pengadukan adalah, apabila dilakukan
pengadukan maka waktu yang dilakukan sampai senyawa terdegradasi secara
sempurna akan lebih singkat daripada pengolahan tanpa pengadukan.
4. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi daur ulang limbah
tekstil menggunakan proses oksidasi dengan kombinasi ozon (O 3) dan radiasi
ultraviolet.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Mengetahui karakteristik awal limbah tekstil yang akan diteliti.
b. Mengetahui pengaruh konsentrasi ozon dan intensitas radiasi ultraviolet terhadap
degradasi zat warna dan senyawa organik pada limbah tekstil yang akan diteliti.
c. Mengetahui kelayakan hasil proses oksidasi lanjut untuk keperluan water reuse
dengan membandingkan kualitasnya terhadap baku mutu, berdasarkan KEP
51-/MENLH/10/1995.
5. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup dari penelitian ini meliputi:
a. Sumber limbah tekstil yang digunakan meliputi sampel limbah artificial dan
sampel limbah Batik PT X.
b. Penelitian ini menggunakan set reaktor batch berupa ozone contactor dilengkapi
dengan lampu UV.
c. Karakterisasi awal dan akhir dalam penelitian ini mencakup parameter pH,
kekeruhan, konduktivitas, suhu, DO, BOD, COD, dan ammonia. Parameter yang
fokus akan diamati adalah zat warna.

d. Variasi dalam penelitian ini yaitu konsentrasi ozone dan intensitas sinar ultraviolet
yang digunakan.
e. Analisis yang dilakukan mencakup pengaruh konsentrasi ozon dan intensitas sinar
UV terhadap penyisihan zat warna dan senyawa organik (COD), penentuan
kombinasi paling efektif untuk proses pengolahan, dan mengetahui kelayakan air
hasil olahan sebagai air bersih untuk keperluan water reuse (digunakan kembali
sebagai air untuk proses produksi).
6. METODOLOGI PENELITIAN
a. Studi literatur
Studi literatur mencakup pencarian teori dasar yang berkaitan dengan penelitian
tugas akhir yang akan dilakukan, melalui buku referensi maupun jurnal ilmiah.
b. Persiapan penelitian
Persiapan penelitian meliputi persiapan alat (persiapan reaktor) dan pengujian
karakteristik awal dari sampel limbah yang digunakan.
c. Running reaktor dengan variasi konsentrasi ozon dan intensitas sinar UV
Tahap ini meliputi pengujian skala laboratorium dengan variasi pengolahan
seperti besarnya konsentrasi ozon dan intensitas sinar UV yang diberikan.
d. Pengambilan data dan karakterisasi akhir limbah
Pengambilan data dilakukan dari hasil running reaktor, kemudian dilakukan uji
karekterisasti sample hasil pengolahan tersebut.
e. Analisa dan pembahasan data hasil penelitian
Dilakukan pembahasan dan analisis terhadap data yang telah diperoleh dari hasil
percobaan. Pembahasan dan analisis yang dilakukan menggunakan acuan dari
studi literatur yang telah dilakukan sebelumnya.
f. Kesimpulan dan saran
Hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan kemudian dijadikan bahan
untuk menarik kesimpulan dan pemberian saran bagi penelitian yang akan
dilakukan selanjutnya.
g. Penyusunan laporan
Pemaparan hasil penelitian secara sistematis.

Penetapan Tujuan Penelitian


Studi Literatur
Persiapan Penelitian

Uji karakteristik awal limbah tekstil


Persiapan Reaktor mencakup Oksidator (O3) dan lampu UV

Running reaktor dengan variasi konsentrasi ozon dan intensitas UV

Pengambilan data pemeriksaan karakteristik akhir limbah

Analisa dan Pembahasan data hasil penelitian

Kesimpulan dan Saran

Penyusunan Laporan
Selesai

Gambar 1. Diagram Alir Tahapan Penelitian


7. JADWAL PENELITIAN
Tabel 1. Rencana Jadwal Penelitian
No.

Tahapan penelitian

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Studi literature
Persiapan penelitian dan karakterisasi awal
Running reaktor
Pengambilan data dan karakterisasi akhir
Pengolahan data
Penyusunan laporan

Bulan ke2 3 4 5

8. DAFTAR PUSTAKA
Sastrawidana, I.D.K., Selamat, I.N. and Sukarta, I.N. 2009. The Utilization of
Ligninolytic Enzyme from Teramobile- Wood-Degrading Fungi on Vulcanic
Stones to Bioremidiate Textile Waste as an Effort for Environmental
Conservation. National Strategic Research Repored, Ganesha University of
Education, Singaraja.

Mathur, N.; Bhatnagar, P. ; Bakre, P. 2005. Assessing Mutagenicity of Textile Dyes


From Pali (Rajasthan) Using Ames Bioassay
Christian, Handy. dkk. 2007. Kemampuan Pengolahan Warna Limbah Tekstil oleh
Berbagai Jenis Fungi dalam Suatu Bioreaktor. Surabaya.
Notodarmojo, Suprihanto. 2014. Instalasi Pengolah Limbah Cair Tekstil Skala Pilot
dengan Sistem Advanced Oxidation Processes (AOPs)-Membrane untuk
Digunakan Kembali sebagai Air Proses Industri. Bandung.
Adrian, Kemas. 2008. Proses Aerasi dengan Menggunakan Ozon terhadap Limbah
Industri Batik (Studi Kasus Limbah Batik PT Jababeka. Bandung.
World Bank Group. 1998. Pollution Prevention and Abatement Handbook.
Washington, D.C.
Tchobanoglous, George. 2003. Wastewater Engineering Treatment and Reuse, 4th
edition. New York: Mc Graw Hill.
Sawyer, C. N. McCarty, P. L. Parkin, G.F. 1994. Chemistry for Environmental
Engineering, 4th edition. New York: Mc Graw Hill.
Klein. 1984. Broadcast / Cable Programming Strategies & Practices second
edition, Belmont. California: Wadswart Publishing Company.
Andari, N.D. Wardhani, S. 2014. Fotokatalis TiO2-Zeolit untuk Degradasi Metilen
Blue. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Brawijaya.
Safni, dkk. 2007. Degradasi Zat Warna Napthol Blue Black Secara Sonolisis dan
Fotolisis dengan Penambahan TiO2-Anatase. Jurnal Riset Kimia Volume 1
Nomor. 1
Batubara, M.Y. 2005. Proses Oksidasi Lanjutan (advanced Oxidation Process)
sebagai Pra Pengolahan Air Limbah Industri Tekstil dalam Upaya Pengendalian
Pencemaran Air. Medan.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup no. 51 tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah
Cair bagi Kegiatan Industri.