Anda di halaman 1dari 6

A.

JUDUL
Tes Ketajaman Penglihatan (Visus)
B. TUJUAN
Menguji ketajaman penglihatan
C. DASAR TEORI
Visus (ketajaman penglihatan) adalah ukuran, berapa jauh, dan detail suatu benda
dapat tertangkap oleh mata sehingga visus dapat disebut sebagai fisiologi mata yang
paling penting. Ketajaman penglihatan didasarkan pada prinsip tentang adanya daya
pisah minimum yaitu jarak yang paling kecil antara 2 garis yang masih mungkin
dipisahkan dan dapat ditangkap sebagai 2 garis (Murtiati dkk, 2010).
Untuk menghasilkan detail penglihatan , sistem optik mata harus
memproyeksikan gambaran yang fokus pada fovea , sebuah daerah di dalam makula yang
memiliki densitas tertinggi akan fotoreseptor konsus / kerucut sehingga memiliki revolusi
tinggi dan penglihatan warna terbaik . Istilah visus 20 / 20 adalah suatu bilangan yang
menyatakan jarak dalam satuan kaki yang mana seseorang dapat membedakan sepasang
benda. Satuan lain dalam meter di nyatakan sebagai visus 6 / 6. Duapuluh kaki di anggap
sebagai tak terhinggs dalam perspektif optikal (perbedaan dalam kekuatan optis yang
dibutuhkan untuk memfokuskan jarak duapuluh kaki terhadap tak terhingga hanya 0,164
dioptri). Untuk alasan tersebut , visus 20 / 20 dapat di anggap sebagai performa nominal
untuk jarak penglihatan manusia .
Ketajaman visus di pengaruhi oleh diameter pupil. Aberasi optik pada mata yang
menurunkan tajam penglihatan ada pada mata yang menurunkan tajam pengkihatan ada
pada titik maksimal jika ukuran pupil berada pada ukuran terbesar (sekitar 8 mm) yang
terjadi pada keadaan kurang cahaya. Diameter pupil yang secara umum terbaik untuk
tajam penglihatan normal dan mata yang sehat ada pada kisaran 3 atau 4 mm. Korteks
penglihatan adalah bagian dari korteks serebri yang terdapat pada bagian posterior
(oksipital) dari otak yang bertanggung jawab dalam memproses stimuli visual.
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi ketajaman pengllihatan mata, yaitu:
1. Phisis mata, yaitu aberasi pada mata, besar kecilnya pupil dan lain lain.
2. Struktur retina, yaitu semakin kecil atau semakin dekat dengan conos maka semakin
minim jiga kemungkinan adanya separable.
3. Stimulus, yaitu kontras atau tidak, besar kecilnya objek, intensitas cahaya.
Ketajaman penglihatan seseorang di ukur dengan menggunakan optotyp dari
snellen, salah satunya adalah suatu bilangan yang menunjukkan kemampuan seseorang
untuk melihat sederetan huruf tertentu.
d
Visus ditetapkan dengan rumus sebagai berikut : Visus= D
Keterangan :
V: Visus
d : jarak antara optotyp dan mata yang di periksa

D : jarak sejauh mana huruf huruf masih dapat dibaca oleh mata / normal
D. ALAT & BAHAN
1. Optotip Snellen
2. Alat petunjuk/openggaris
3. Alat tulis dan catatan
E. CARA KERJA
Naracoba duduk dikusri yang berjarak 6 meter dari optotip snellen, ditanya
tentang ketajaman penglihatannya (sebelum diperiksa) dan catat jawabannya di
lembar kerja.

Mata kiri naracoba ditutup, kemudian dengan panduan penunjuk yang dipegang
oleh penguji, naracoba membaca huruf-huruf pada optotip snellen. Pembacaan
lurus dimulai dari deretan yang terbesar sampai dengan deretan huruf terkecil
yang masih dapat dibaca tanpa kesalahan

Mencatat hasilnya pada lembar catatan

F. HASIL

Makna: Pada naracoba pertama memiliki visus 6/6 pada mata kanan dan 6/9 pada mata
kiri, naracoba kedua memiliki visus 6/9 pada mata kanan dan 6/6 pada mata kiri. Naracoba

ketiga visus mata kanannya 6/5 sedangakan visus mata kirinya 6/6 dan naracoba terakhir
memiliki visus mata kanan 6/5 dan pada mata kirinya 6/9.
G. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini melakukan tes visus yaitu pemeriksaan ketajaman mata atau
pemeriksaan mata. Visus juga mempunyai arti yang lebih luas yaitu memberi keterangan tentang
baik dan buruknya fungsi mata secara keseluruhan, pemeriksaan visus mata dapat dilakukan
mengunankan optotip snellen, optotip snellen terdiri atas deretan huruf dengan ukuran yang
berbeda dan bertingkat serta disusun dalam baris mendatar, huruf yg teratas adalah yang paling
besar dan makin kebawah akan semakin kecil. probandus harus membaca optotip snallen pada
jarak 6 meter, karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan rileks dan tanpa
akomodasi.
Pemerikasaan diawali pembacaan dengan mengunakan mata kanan dengan terlebih
dahulu menutup mata kiri, lalu di lakukan secara bergantian, penguji menunjuk huruf dari yg
besar sampai terkecil, sampai probandus tidak melihat lagi, ketajaman pengelihatan dinyatakan
dalam pencahan, pembilang menunjukkan jarak naracoba dengan optotip snellen, sedangkan
penyebut adalah jarak probandus yang penglihatannya masih normal bisa membaca huruf pada
optotip snellen.
Pada praktikum kali ini naracoba 1,2,3 dan 4 di dapatkan hasil yang beranekaragam yaitu
pada naracoba pertama memiliki visus 6/6 pada mata kanan dan 6/9 pada mata kiri, naracoba
kedua memiliki visus 6/9 pada mata kanan dan 6/6 pada mata kiri. Naracoba ketiga visus mata
kanannya 6/5 sedangakan visus mata kirinya 6/6 dan naracoba terakhir/ke empat memiliki visus
mata kanan 6/5 dan pada mata kirinya 6/9, visus mata antara kanan dan kiri tidak selalu sama.
Seperti yg terjadi pada naracoba 1 mata kiri mempunyai visus 6/9 dan mata kanan normal (6/6).
Visus mata tiap seseorang dapat berbeda-beda. Hal ini di buktikan dari hasil pengamatan pada
keempat naracoba yang mempunyai visus tidak sama, dalam praktikum kali ini dapat di
simpulkan bahwa naracoba yang memiliki mata normal dari percobaan adalah naracoba ke 3,
sedangkan naracoba 1, 2 dan 4 memiliki kelainan rabun jauh pada salah satu atau kedua
matanya.
Rabun jauh (myopi) diartikan mata mampu untuk melihat dengan jelas benda dalam jarak
jauh, rabun jauh disebabkan karena jarak titik api lensa mata lebih pendek atau lensa mata terlalu
cembung sehingga bayangan mata jatuh di depan retina. Cara mengatasi rabun jauh (myopi)
adalah dengan memakai kaca mata lensa cekung (kaca mata minus) yang akan membantu
mendapatkan bayangan tepat pada retina.
H. DISKUSI
1. Apakah hal-hal yang mempengaruhi visus seseorang?
Jawab:
a. Sifat fisis mata, yang meliputi ada tidaknya aberasi (kegagalan sinar untuk
berkonvergensi atau bertemu di satu titik fokus setelah melewati suatu sistem optik),
besarnya pupil, komposisi cahaya, fiksasi objek, dan mekanisme akomodasinya

dengan elastisitas musculus ciliarisnya yang dapat menyebabkan ametropia yang


meliputi :
1) Myopia, sinar sejajar axis pada mata tak berakomodasi akan memusat di
muka retina, sehingga bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh:
- axis terlalu panjang
- kekuatan refraksi lensa terlalu kuat
2) Hypermetropia, sinar sejajar axis pada mata yang tak berakomo- dasi akan
memusat di belakang retina, sehingga bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh:
- axis bola mata terlalu Pendek
- kekuatan refraksi lensa kurang kuat
3) Astigmatisma, kesalahan refraksi sistem lensa mata yang biasa-nya
disebabkan oleh kornea yang berbentuk bujur sangkar atau jarang-jarang, dan lensa
yang berbentuk bujur).
b. Faktor stimulus, yang meliputi kontras (terbentuknya bayangan benda yang
berwarna komplemennya), besar kecilnya stimulus, lamanya melihat, dan intensitas
cahaya.
c. Faktor Retina, yaitu makin kecil dan makin rapat conus, makin kecil
minimum separable (jarak terkecil antara garis yang masih terpisah).
2. Apakah hbungan vitamin A dengan visus seseorang? Jelaskan!
Jawab:
Vitamin A membantu metabolisme sel yang terdapat pada lapisan paling luar
retina, yang fungsinya untuk beradaptasi dengan cahaya terang dan gelap. Seseorang
yang kekurangan vitamin A dapat terkena xeroftalmia dimana bola mata menjadi
kering, kornea mengeras dan pembengkakan kelopak. Apabila tidak diobati,
xeroftalmia dapat menyebabkan kebutaan permanen.
Fungsi lain vitamin A adalah mencegah pembentukan radikal bebas yang
dapat merusak sel retina dan lensa. Ia juga bermanfaat sebagai pencegah katarak dan
penyakit retina seperti degenerasi makula. Konsumsi vitamin A harus sesuai dengan
dosis yang dianjurkan yaitu 7500 mcg per hari (sesuai tingkat kebutuhan dan usia).

I. KESIMPULAN

Pemeriksaan visus mata dapat dilakukan menggunakan optotipe snellen, visus


pada setiap orang dan setiap mata mata tidak selalu sama atau berbeda-beda, visus
dikatakan normal bila visus nya 6/6, adalah tes ketajaman mata.
J. TUGAS
1. Gambar jalan sinar pada mata normal, myop dan presbiop

2. Gambar anatomi mata

K. DAFTAR PUSTAKA
Ganong, William. 2002. Fisiologi Kedokteran. EGC: Jakarta
Guyton, A C. 2007. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. EGC: Jakarta

Murtiati, Tri dkk. 2010. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jurusan
Biologi FMIPA Universitas Negeri Jakarta.