Anda di halaman 1dari 13

TUGAS

MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN
(Kelompok)
Proposal Penawaran Pekerjaan
Studi Hidro-Oseanografi
Penanaman Kabel Listrik Bawah Laut Tegangan Tinggi

Disusun Oleh :
Citra Amalia Putri
Devito Nugraha
Fauzan Ramadhan
Imam Ahmad Kodri
Nurul Aisyah Amini
Wan Mardhiyah

14/364075/TK/41879
14/367044/TK/42298
14/367048/TK/42301
14/366433/TK/42113
14/364297/TK/41948
14/364129/TK/41906

DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I.

Latar Belakang
Transmisi merupakan proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat
lainnya yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV),
Tegangan Ekstra Tinggi (EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan Menengah
(MHV), dan Tegangan Rendah (LV). Standar tegangan tinggi yang berlaku di
Indonesia adalah 30 KV, 70 KV, dan 150 KV. Berdasarkan pemasangannya,
saluran transmisi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu saluran udara (overhead
lines), saluran kabel bawah tanah (underground lines), dan saluran bawah laut
(submarine cable).
Pada sistem saluran kabel bawah tanah, tenaga listrik disalurkan melalui kabelkabel seperti kabel bawah laut dengan berbagai macam isolasi pelindungnya.
Saluran kabel bawah tanah ini dibuat untuk menghindari risiko bahaya yang
terjadi pada pemukiman padat penduduk.
Tenaga listrik sangat dibutuhkan bagi masyarakat untuk berbagai macam
keperluan. Kebutuhan listrik tersebut semakin meningkat seiring dengan
perkembangan dinamika kehidupan masyarakat dan tidak jarang terjadi
kekurangan pasokan listrik pada suatu daerah. Untuk mengantisipasi dan
mengatasi permasalahan tersebut, maka direncanakan pembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kalimantan Timur

, Kaliangau yang akan

menyalurkan listrik melalui kabel listrik bawah laut 150 KV di Teluk Balikpapan
ke Pelabuhan Penajam. Pembangunan jalur transmisi ini terdiri dari pemasangan
kabel listrik bawah tanah dan kabel listrik bawah laut 150 KV dari PLTU
Kariangau ke Gardu Induk (GI) Petung yang menghubungkan landing point di
area PLTU Kariangau dengan landing point di area Penajam.
Desain pembangunan kabel laut dimulai dari landing point yang berada di darat
pada sisi Kariangau, dilanjutkan menyeberangi laut pada Selat Balikpapan menuju
landing point yang berada di darat pada sisi Penajam. Dalam mendesain rute kabel
laut dibutuhkan peta topografi baik topografi daratan maupun topografi dasar
laut/bathimetri untuk mendapatkan gambaran topografi di sepanjang koridor
rencana jalur kabel laut. Peta topografi daratan diperoleh dari survei teristris yang
memberikan informasi mengenai situasi area landing point di kedua sisi,
sedangkan peta topografi dasar laut/bathimetri diperoleh dari survei hidrografi
yang memberikan informasi kedalaman dasar laut dan bentuk terain dasar laut
yang akan dilakukan pemendaman kabel laut. Untuk mendesain rute kabel laut
yang optimal tentu saja memerlukan banyak data, tidak hanya dengan

menggunakan peta topografi dan peta bathimetri saja, melainkan dibutuhkan data
lain seperti peta side scan sonar, anomali magnetik, dan sub bottom profile untuk
mengetahui informasi dasar laut lainnya. Peta side scan sonar digunakan untuk
mengetahui citra/gambaran permukaan dasar laut di sepanjang koridor rencana
jalur kabel laut dan mengidentifikasi adanya material-material yang dapat
membahayakan kabel laut, seperti jangkar kapal, kabel dan pipa eksisting,
maupun batu-batu karang. Selain menggunakan peta side scan sonar, materialmaterial yang dapat membahayakan kabel laut juga dapat diidentifikasi dengan
menggunakan peta anomali magnetik seperti kabel eksisting dan obyek-obyek
metal lainnya di sepanjang koridor rencana jalur kabel laut. Pembangunan kabel
laut dilakukan dengan cara pemendaman di bawah permukaan dasar laut (seabed),
maka dibutuhkan peta sub bottom profile untuk mengidentifikasi lapisan sedimen
di bawah permukaan dasar laut (seabed) dan untuk menentukan informasi penting
yang berhubungan dengan stratigrafi dasar laut seperti penentuan jenis dan batas
lapisan tanah di sepanjang koridor rencana jalur kabel laut.
Beberapa hal yang dijadikan dasar pertimbangan dalam mendesain rute
pemasangan kabel laut yaitu kondisi topografi di sekitar area landing point,
kedalaman dan bentuk terain dasar laut, kondisi anomali magnetik, dan struktur
II.

lapisan sedimen dasar laut di sepanjang koridor rencana jalur kabel laut.
Maksud dan Tujuan
Kegiatan pekerjaan ini bermaksud untuk melakukan studi Hidro-Oseanografi
sebagai persiapan untuk pemasangan kabel bawah laut tegangan tinggi dari PLTU
Kariangau menuju penajam.
Tujuan dari pekerjaan ini adalah mengumpulkan data Hidro-Oseanografi di sekitar
area survei sebagai dasar dalam perancangan desain dan persiapan teknis
pemasangan kabel bawah laut dari PLTU Kariangau menuju penajam.

III.

Area Pekerjaan
1. Lingkup Area Survei

Gambar Lokasi Pekerjaan Studi Hidro-Oseanografi Penajam PLTU


Kariangau
2. Area Landing Point

Gambar Lokasi Pekerjaan Studi Hidro-Oseanografi


Rencana Landing Point di sisi PLTU Kariangau

Gambar Lokasi Pekerjaan Studi Hidro-Oseanografi


Rencana Landing Point di sisi Penajam
3. Koordinat rencana lokasi awal studi
Lokasi
Sisi PLTU Teluk
Balikpapan
(Kariangau)_1

Koordinat

Lokasi Administratif

S : 011021.1

Sisi PLTU :

E : 1164716.3

PLTU Kariangau
Teluk Balikpapan, Kecamatan
Balikpapan Barat

Sisi Penajam

S : 011412.8

Sisi Penajam :

E : 1164556.7

Desa Kayu Api, RT.21


Kelurahan Penajam Kecamatan
Penajam
Kabupaten Penajam Pasir Utara
Akses masuk : Jl. Raden Sukma,

RT.19, Penajam (dekat Chevron)


Catatan : Di sekitar area KR1 (PLTU) ada jetty KCM yang harus dihindari.
Sehingga rencana jalur kabel laut harus menjauhi jetty KCM kemudian
menuju ke arah PJ1 (Sisi Penajam). (Lihat peta topografi).
IV.

Lingkup Pekerjaan
1. Perijinan ke pihak-pihak terkait. Semua biaya karena efek sosial/perizinan
menjadi tanggung jawab pelaksana studi.
2. Melakukan orientasi lokasi, baik berdasarkan peta hidrografi, peta topografi,
dan peta tematik lainnya dan pengamatan langsung di lokasi proyek.

3. Pemasangan patok BM geodetik permanen yang ditempatkan di sekitar areal


landing point.
4. Pengukuran topografi area landing point.
5. Melakukan kegiatan studi hidrografi yang meliputi areal daratan dan lautan,
dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Studi Bathimetri dan topometri, dilakukan untuk mendapatkan deskripsi
mengenai terrain, kontur, dan kedalaman pada permukaan dasar laut di
sepanjang rencana jalur kabel.
b. Pengamatan Pasang Surut, dilakukan untuk memperoleh data tinggi muka
air laut pada lokasi studi dan mencari koreksi pasut untuk mengoreksi nilai
kedalaman.
c. Pengamatan arus, dilakukan untuk mengukur kecepatan arus laut di
sepanjang rencana jalur kabel.
d. Studi topografi, dilakukan untuk memetakan situasi dan kontur di area
lahan darat yang akan digunakan sebagai jalur kabel laut dan rencana
landing point.
e. Pengukuran GPS Geodetik
f. Usaha untuk membuat Benchmark (BM) di daerah sekitar landing point,
BM ini harus memiliki nilai koordinat dan tinggi yang akan menjadi acuan
untuk navigasi kapal survey di laut dan acuan survey topografi di darat.
BM ini juga diadakan dengan tujuan untuk pengikatan palem pasut dan
untuk mendefinisikan nilai chart datum.
6. Semua metode dan pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan prinsip K3.

V.

Metodologi
Aktivitas pelaksanaan studi hidrografi pada area rencana jalur interkoneksi kabel
laut ini pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam beberapa aktivitas sebagai
berikut :
a. Pengumpulan data
Data Primer
Dengan cara langsung melakukan peninjauan, pengambilan
penghimpunan data - data terkait untuk desain jalur kabel laut.

dan

Data Sekunder
Melakukan pengumpulan data antara lain Peta Laut, Peta Topografi
b. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan studi hidro-oseanografi pada lokasi landing point atau
area studi yang akan ditunjuk dan rencana jalur kabel laut ini mencakup hal hal sebagai berikut :
1. Studi Geodetik
Referensi titik kontrol geodesi (Benchmark) yang merupakan bagian dari
Jaringan Kerangka Kontrol Horizontal Nasional yang terletak di dekat atau
di lokasi studi diperlukan untuk penentuan posisi DGPS (bila
menggunakan Shorebase Station/Reference Point), untuk verifikasi alat
penentuan posisi DGPS dan untuk pengikatan relatif titik pengamatan
pasut.
Alat yang di gunakan dalam pekerjaan ini
: GPS Geodetik
Tenaga yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini
: Tenaga ahli GPS,
surveyor GPS.
Peralatan K3 yang di perlukan
: Sarung Tangan,
Sepatu Boot, Topi (Helm Kerja)
2. Sistem Navigasi & Pengumpulan Data
Penentuan posisi kapal studi harus dilakukan dengan menggunakan GPS
receiver dengan metode Real Time Differential GPS (DGPS) dengan
mengikuti prinsip studi yang baik dan harus menjamin tidak adanya
keraguan atas posisi yang dihasilkan. Lintasan kapal studi harus dapat
dipantau setiap saat melalui layar monitor atau diplot pada kertas dari atas
anjungan.
Sistem komputer navigasi harus mampu memberikan informasi satelit GPS
seperti: nomer satelit yang digunakan, PDOP dan HDOP. Elevation mask
setiap satelit harus diset pada ketinggian minimum 10 derajat. Bila DGPS
yang digunakan menggunakan shore base station, maka harus antena
receiver koreksi yang dipasang di atas kapal studi dan satu lagi di atas titik
berkoordinat di darat sebagai antena pengirim koreksi (shore base station).
Selama akuisisi data, koreksi differential harus dapat dimonitor dari atas
kapal pada sistim navigasi.
Sistim komputer navigasi harus dapat menentukan posisi setiap detik, dan
jika perlu, logging data ke hardisk komputer dapat ditentukan setiap 1, 5
atau 10 detik sebagai pilihan atau disesuaikan dengan interval
pengambilan data kedalaman.
Alat yang dipakai adalah alat yang memang ditujukan untuk
pengalipkasian sistem DGPS beserta koreksiannya yang akan dipakai di
kapal studi bathimetri, dilarang menggunakan peralatan seperti GPS
fishfinder untuk positioning titik fix pemeruman. Antena receiver GPS
harus sejajar secara vertikal dengan tranducer yang ada di bawahnya,
sehingga titik fix pemeruman sama dengan titik fix positioningnya. Semua

sistem koordinat mengacu pada Datum WGS 84.Tingkat ketelitian JKH,


metode studidan formulir pengamatan harus mengacu ke SNI No.19-672415002.
Alat yang di gunakan dalam pekerjaan ini
: GPS Geodetik,
Tenaga yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini
: Tenaga ahli GPS,
Tenaga ahli hidrografi.
3. Studi Bathimetri
Studi Batimetri harus dilaksanakan mencakup sepanjang AS area studi
dengan panjang total jalur 5 km dengan lebar koridor 500 m. Interval
jarak memanjang (lajur utama) yang digunakan adalah 10 m dan interval
crossing lajur silang adalah 100 m. Lajur utama survey tegak lurus dengan
garis pantai. Semua pekerjaan yang dikerjakan dalam studi hidro
oseanografi ini harus mengacu pada ketentuan IHO SP-44 edisi ke-5 tahun
2008. Semua bukti ketelitian kedalaman dan posisi harus dilampirkan
dalam laporan.
Peralatan echosounder harus digunakan untuk mendapatkan data
kedalaman optimum mencakup seluruh kedalaman dalam area studi. Agar
tujuan ini tercapai, alat echosounder harus dioperasikan sesuai dengan
spesifikasi dan standard ketelitian survey Hidrografi (SP-44 IHO, Edisi ke5). Dalam hal ini peralatan echosounder yang dipakai dilarang
menggunakan echosounder yang ada di GPS fishfinder.
Daerah perairan yang tidak bisa dilalui oleh kapal studi harus tetap diambil
data kedalamannya dengan cara manual (Topometri).
Alat yang di gunakan dalam pekerjaan ini
: GPS Geodetik,
Multibeam echosounder, Side scan sonar, Kapal, Magnetometer, ROV,
Peta bathimetri
Tenaga yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini
: Tenaga ahli GPS,
Tenaga ahli hidrografi, Surveyor hidrografi
Peralatan K3 yang di perlukan
: Sarung Tangan,
Sepatu Boot, Topi (Helm Kerja), Baju pelampung, Pelampung.

4. Pengamatan Pasang Surut


Pengamatan pasang surut harus dilaksanakan dengan tujuan untuk
menentukan Muka Surutan Peta (Chart Datum), memberikan koreksi
untuk reduksi hasil studi Batimetri, juga untuk mendapatkan korelasi data
dengan hasil pengamatan arus.
Stasiun pasang surut harus dipasang di salah satu sisi dari areal rencana
landing point. Pengamatan pasang surut harus dilaksanakan selama
pekerjaan studi berlangsung. Secepatnya setelah pemasangan, tide
gauge/staff harus dilakukan pengikatan secara vertikal dengan metode
levelling (sipat datar) ke titik kontrol di darat yang terdekat, sebelum
pekerjaan studi dilaksanakan dan pada akhir pekerjaan studi dilakukan.

Apabila kondisi lapangan tidak memungkinkan stasiun pasang surut


diletakkan dekat dengan koridor, maka yang harus diperhatikan adalah
bahwa karakter pasang surut di lokasi pengamatan harus dapat
dibandingkan dengan karakter di dalam koridor studi. Lama pengamatan
pasut adalah 30 hari, penghitungan chart datum menggunakan data
pengamatan 30 hari tersebut. Semua datum vertikal didasarkan pada Chart
Datum yaitu LAT. Menggunakan metode pengolahan data hasil
pengamatan pasut yang memadai dan cocok dengan karakteristik pasut di
areal studi, misalnya admiralty atau Least Square.Metode pengamatan,
tingkat ketelitian dan format formulir pengamatan mengacu pada SNI
7646 : 2010.
Alat yang di gunakan dalam pekerjaan ini
: Sipat datar,
Rambu ukur
Tenaga yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini
: Surveyor
hidrografi, surveyor topografi
Peralatan K3 yang di perlukan
: Sarung Tangan,
Sepatu Boot, Topi (Helm Kerja)
5. Pengamatan Arus
Pengamatan arus diperlukan dengan tujuan untuk mendapatkan data arah
dan kecepatan arus. Data tersebut akan dikorelasikan dengan data
pengamatan pasang surut. Pengamatan arus dilaksanakan di masingmasing areal studi dengan metode :
Satu (1) stasiun tetap yaitu pada perairan yang mewakili areal studi dan
kedalaman dengan memperhatikan kemudahan akses dan proses
pengamatan. Pengamatan dengan menggunakan current meter yang
diturunkan di setiap kedalaman yang mewakili kondisi arus di areal
studi dan mewakili layer-layer atau bagian di dalam perairan. Posisi
Current Meter dapat ditentukan menggunakan handheld GPS.
Pengamatan arus harus dilaksanakan selama minimal 15 hari dengan
menggunakan current meter, bersamaan dengan pengamatan pasut dan
harus mengalami pasang dan surut pada saat purnama atau bulan mati.
Alat yang di gunakan dalam pekerjaan ini
: Current meter,
GPS Handheld
Tenaga yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini
: Surveyor
hidrografi
Peralatan K3 yang di perlukan
: Sarung tangan,
Sepatu Boot, Topi (Helm Kerja), Baju Pelampung
6. Studi Topografi : skala 1:1000
Studi Topografi harus dilaksanakan mencakup wilayah area sekitar studi
dengan luas area 62.500 m2 pada sisi landing penajam, pada sisi landing
kariangau 75.000 m2. Semua pekerjaan yang dikerjakan dalam studi
topografi ini harus mengacu pada ketentuan SNI. Semua bukti ketelitian
ketinggian dan posisi harus dilampirkan dalam laporan.

Peralatan total station harus digunakan untuk mendapatkan data koordinat


mencakup seluruh wilayah dalam area studi. Agar tujuan ini tercapai, alat
Total Station harus dioperasikan sesuai dengan spesifikasi dan standard
ketelitian survey Topografi (SP-44 IHO, Edisi ke-5).
Alat yang di gunakan dalam pekerjaan ini
: GPS Geodetic,
Total station, Sipat datar, rambu ukur
Tenaga yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini
: Surveyor
topografi
Peralatan K3 yang di perlukan
: Sarung tangan,
Sepatu Boot, Topi (Helm Kerja)
VI.

VII.

Keluaran
Terbentuknya gabungan Peta Topografi dan Peta Batimetri skala 1:1000 sebagai
dasar dalam perencanaan pemasangan kabel bawah laut.
Jangka Waktu
Jangka waktu pelaksanaan kegiatan ini ditetapkan selama maksimal 4 (empat)
bulan.

VIII. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

IX.

Tenaga Ahli
Tenaga ahli yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini dirinci dalam
pengelompokan tugas sebagai berikut :
1. Team Leader : 1 orang
Kriteria : S-2 Teknik Geodesi dengan pengalaman 7 (tujuh) tahun
2. Tenaga Ahli :
a. Tenaga Ahli GPS (1),
b. Tenaga Ahli Hidro (2)
3. Tenaga Pendukung
a. Surveyor Hidrografi : 3
b. Asisten Surveyor Hidrografi : 1
c. Surveyor GPS : 3
d. Surveyor Topografi : 1
e. Administrator Proyek : 1
f. CAD Operator : 2
g. Tenaga Bantu Topografi : 2

X.

Rancangan Anggaran Biaya

XI.

Pelaporan

Untuk Oseanografi Penajam PLTU Kariangau, pelaporan yang dihasilkan


sebagai berikut :
1. Laporan kemajuan pekerjaan fisik yang terdiri dari laporan mingguan dan
laporan bulanan dilaporkan setiap bulannya dengan acuan jadwal yang telah di
buat.
2. Laporan akhir pekerjaan yang dibuat setelah pekerjaan fisik selesai
dilaksanakan serta Penyerahan hasil pekerjaan berupa peta dan semua datadata survei topografi dan hidro-oseanografi yang diserahkan kepada
Pengguna Anggaran paling lambat 120 (seratus dua puluh) hari kalender sejak
ditandatanganinya Surat Perintah Mulai Kerja.