Anda di halaman 1dari 14

Ekualisasi Pajak adalah pemeriksaan tingkat keseimbangan antara satu jenis pajak dengan

jenis pajak yang lain yang memiliki hubungan antara elemen-elemen laporan suatu jenis
pajak yang lain (baik itu sebagian maupun keseluruhan). Ekualisasi yang dilakukan dalam
proses pemeriksaan, antara lain:
1. Ekualisasi SPT Masa PPN dengan Omset penjualan SPT Badan/ OP dan akun-akun
yang ada di neraca atau laporan posisi keuangan.
2. Ekualisasi SPT Masa PPh Pasal 21, 22, 23, 26, dan 4 ayat 2 dengan akun-akun biaya
pada laporan laba rugi dan akun-akun biaya yang dikapitalisasi sebagai aset pada
neraca atau laporan posisi keuangan.

Adakalanya penghasilan di laporan keuangan berbeda dengan SPT Tahunan PPh Badan. Tidak
semua standar akuntansi dapat diterapkan untuk kepentingan pajak penghasilan. Sebagai contoh,
penghitungan persediaan barang dagangan, peraturan perpajakan di Indonesia yang berlaku
sekarang hanya membolehkan metode FIFO (first in first out) dan metode rata-rata (average).
Jika Wajib Pajak menggunakan metode persesedian LIFO (last in first out) maka nilai persediaan
Wajib Pajak harus dikoreksi. Akan ada perbedaan pengakuan antara fiskal dan komersial.
Wajib Pajak seharusnya membuat ekualisasi antara pos-pos di laporan keuangan komersial dan
angka-angka di SPT Tahunan PPh Badan. Setiap perpedaan angka antara laporan keuangan
dengan SPT Tahunan PPh Badan, Wajib Pajak wajib kudu mempersiapkan alasan-alasan yang
rasional dan berdasar. Berdasar maksudnya, bahwa perbedaan tersebut dikarenakan peraturan
perpajakan yang berlaku, baik undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan menteri
keuangan maupun keputusan direktur jenderal pajak.
SPT Tahunan PPh Pasal 21 berfungsi sebagai rekapitulasi dari semua objek-objek PPh Pasal 21.
Sedangkan SPT Masa PPh Pasal 21 seperti laporan keuangan interim, dilihat dari teknis
perhitungan pajak, hanya sementara. Tetapi sementara lebih baik daripada tidak sama sekali.
Seandainya tidak membuat SPT Tahunan PPh Pasal 21, tetapi taat melaporkan SPT Masa PPh
Pasal 21, maka SPT Masa tersebut tetap diakui dan Wajib Pajak telah melaksanakan sebagian
kewajibannya.
Angka-angka yang dicantumkan dalam SPT Tahunan PPh Pasal 21 harus dapat dijelaskan
bersumber dari perkiraan apa saja. Saat membuat SPT Tahunan PPh Pasal 21 kita harus membuat
ekualisasi antara pos-pos biaya di Laporan Laba Rugi dengan SPT Tahunan PPh Pasal 21.
Ekualisasi ini akan sangat bermanfaat. Setidaknya tidak akan terjadi penghitungan ganda (double
accounting) objek PPh Pasal 21. Penghitungan ganda bisa dilakukan oleh Wajib Pajak saat
membuat SPT Tahunan maupun pemeriksa pajak yang tidak mengerti sumber angka di SPT
Tahunan PPh Pasal 21. Pemeriksa menduga objek PPh Pasal 21 belum dilaporkan di SPT
Tahunan kemudian menghitung ulang (koreksi positif). Jika terjadi penghitungan ganda seperti
itu tentu merugikan Wajib Pajak sendiri.

Teknik ekualisasi PPh Pasl 21, seperti yang diuraikan diatas, sama dengan PPh Pasal 23. Hanya
saja karena PPh Pasal 23 tidak ada SPT Tahunan maka Wajib Pajak tetap harus membuat
rekapitulasi SPT Masa. Harus jelas berapa pembayaran PPh Pasal 23 atas royalti, atas sewa, atas
jasa teknik selama setahun. Total pembayaran selama setahun masing-masing tahun pajak dapat
diperinci. Kemudian sandingkan dengan biaya-biaya yang dilaporkan di Laporan Laba Rugi.
Sedangkan untuk Pasal 4 ayat 2, teknik ekualisasinya sama dengan PPh pasal 23 yang berbeda
hanya jenis penghasilannya. Pembayaran yang sudah dikenakan PPh Pasal 23 tidak dapat
dikenakan PPh Pasal 4 ayat 2 dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu jika dilakukan
ekualisasi, maka kita akan dapat mengetahui akun-akun atau pos-pos mana yang dipotong PPh
23 atau PPh Pasal 4 ayat 2.
Sebagian besar pemeriksa pajak, ketika menerima SPT Masa PPN selalu melihat SPT Masa
Desember. Dilihatnya kolom s.d. bulan ini. Seanda inya angka di kolom tersebut tidak sama
dengan angka di SPT Tahunan PPh Badan, maka timbul pertanyaan, kenapa? Kenapa
angkanya berbeda?
Itulah yang harus dijawab dengan cara ekualisasi SPT Masa PPN dengan SPT Tahunan PPh
Badan. Angka peredaran usaha pada SPT Masa PPN harusnya sama dengan angka peredaran
usaha yang ada pada SPT Tahunan PPh Badan. Jika berbeda, ada beberapa macam kemungkinan
yang terjadi, antara lain:
1

Beda waktu pelaporan

Beda waktu pengakuan pendapatan

Pemakaian sendiri dan bonus

Selisih kurs

Untuk hasil ekualisasi SPT Tahunan badan antara laporan keuangan komersil dan laporan
keuangan fiskal Mengacu kepada PMK No 02/PMK.03/2010 dijelaskan bahwa biaya promosi
tidak dapat dijadikan biaya pengurang apabila Wajib Pajak yang terhadap produk ataupun
penghasilannya sudah dikenakan PPh Final. Oleh karena itu harus dikoreksi sebesar Rp

5.464.200 di bagian biaya pemasaran.


Sanksi dari kesalahan ini adalah denda bunga sebesar 2% per bulan selama 24 bulan dari saat
terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak (Pasal 8
ayat 2 UU KUP) atau bila sudah dilakukan pemeriksaan oleh Dirjen Pajak maka sanksi yang
dikenakan adalah sanksi kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pembayaran pajak
(Pasal 13 ayat 2 UU
KUP). Saran dari penulis, perusahaan sebaiknya melakukan pembetulan sendiri agar terhindar
dari sanksi kenaikan.
Objek PPh Pasal 21 menurut
pembiayaan di PPh Badan
Gaji dan Tunjangan
Biaya PPh 21
Total Objek PPh 21 menurut

2010
1.612.342.050
49.232.700

2011
889.932.000
22.700.000

2012
1.007.301.750
37.222.550

pembiayaan di PPh Badan


Objek PPh Pasal 21 yang dilaporkan

1.661.574.750

912.632.000

1.044.524.300

1.436.250.000
176.092.050

804.150.000
85.782.000

869.800.000
-

1.612.342.050
49.232.700

889.932.000
22.700.000

869.800.000
174.724.300

pada SPT PPh Pasal


21
Penghasilan Bruto Pegawai Tetap
Penghasilan Bruto Pegawai Tidak Tetap
Total Objek PPh 21 menurut
pembiayaan di SPT PPh 21
Selisih Ekualisasi

Cara perhitungan PPh Pasal 21 pada prinsipnya sama dengan cara perhitungan Pajak
Penghasilan pada umumnya. Namun, dalam menghitung Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi
penerima-penerima penghasilan tertentu wajib pajak dalam negeri selain pengurangan berupa
PTKP, juga diberikan pengurangan-pengurangan penghasilan berupa biaya jabatan. Selain itu,
tarif yang ditetapkan juga bervariasi yaitu tarif sesuai dengan pasal 17 Undang-Undang Pajak
Penghasilan atau tarif yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah atau aturan pelaksanaan
lainnya.
Sistem perpajakan yang digunakan untuk pemotongan PPh pasal 21 menggunakan withholding

system. Withholding adalah suatu sistem pemotongan pajak dimana wewenang untuk
menentukan besarnya pajak terutang seseorang berada pada pihak ketiga dan bukan oleh fiskus
maupun oleh wajib pajak itu sendiri.
Pihak yang melakukan pemotongan PPh Pasal 21 adalah pihak PT. TBP, selaku pemberi kerja.
Dimana besarnya potongan tergantung pada berapa besarnya penghasilan yang diterima setiap
pegawai. Perhitungan pemotongan Pajak Penghasilan pasal 21 mengacu kepada formulir SPT
Masa PPh Pasal 21 formulir 172.
Terdapat selisih sebesar Rp 49.232.700, Rp 22.700.000, dan Rp 37.222.550 untuk tahun 2010,
2011, dan 2012 dikarenakan adanya biaya-biaya yang seharusnya menjadi objek pph 21namun
tidak dimasukkan ke dalam objek PPh 21 oleh perusahaan. Sesuai dengan peraturan DirJen
Pajak Nomor PER 31/PJ/2009 Jo. PER 57/PJ/2009 Jo. PER 31/ PJ/2012 tentang pedoman
teknis dan tata cara pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan pasal 21 dan/
atau pajak penghasilan pasal 26 sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi
pasal 5 ayat 2 dijelaskan bahwa penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/ atau PPh pasal 26
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 termasuk pula penerimaan dalam bentuk natura dan/ atau
kenikmatan lainnya dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan oleh wajib pajak
yang dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final atau wajib pajak yang dikenakan pajak
penghasilan berdasarkan norma perhitungan khusus (deemed profit) sehingga biaya pph 21 yang
ada di laporan laba rugi perusahaan seharusnya dimasukkan ke dalam penghitungan objek pph
21 di dalam SPT PPh Pasal 21.
Sedangkan selisih sebesar Rp 137.501.750 di tahun 2012 disebabkan karena perusahaan tidak
memasukkan gaji upah di dalam SPT PPh Pasal 21. Sesuai dengan PER 31/PJ/2012 pasal 5 ayat
1 dijelaskan bahwa penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah penghasilan pegawai tidak
tetap atau tenaga kerja lepaws, berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan
atau upah yang dibayarkan secara bulanan.
Oleh karena itu seharusnya perusahaan memasukkan gaji upah ke dalam penghitungan objek
PPh 21. Akibat dari kesalahan ini adalah perusahaan dapat dikenakan sanksi bunga atau

kenaikan. Sesuai dengan UU KUP Pasal 8 ayat 1 dan 2 dijelaskan bahwa jika terdapat
kekeliruan dalam pengisian SPT maka Wajib Pajak atas kemauan sendiri berhak untuk
melakukan pembetulan SPT nya, dengan syarat adalah : (1) diajukan dalam jangka waktu dua
tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau
tahun pajak, (2) belum dilakukan tindakan pemeriksaan, (3) melunasi jumlah pajak yang kurang
dibayar beserta bunganya sebesar 2% (dua persen) per bulan,
dihitung sejak saat penyampaian SPT berakhir sampai dengan tanggal pembayaran kekurangan
pajak dan akibat pembetulan tersebut.
Namun apabila perusahaan sudah dilakukan tindakan pemeriksaan maka perusahaan akan
diterbitkan SKPKB oleh Dirjen Pajak lalu dikenakan sanksi kenaikan sesuai dengan UU KUP
Pasal 13 ayat 3 sebesar 100% (seratus persen) dari PPh yang tidak atau kurang dipotong, tidak
atau kurang dipungut, tidak atau kurang disetorkan, dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau
kurang disetorkan dan ditambah lagi sanksi bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan paling lama
24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak
atau tahun pajak sampai dengan diterbitkannya SKPKB (pasal 13 ayat 2 UU KUP)
2010
Biaya Pemasaran
Pers/Iklan/Promosi
Seragam Marketing
Cetakan Brosur/Kop/Kartu
Iklan, Pameran
Total Objek PPh 23 setelah

2011

5.464.200
1.460.000
4.044.000
-

2012
-

1.800.000

diperiksa
Total Objek PPh 23 yang

9.508.200

dipotong
Selisih ekualisasi
Biaya Pemeliharaan dan

4.050.000
5.458.200

1.800.000
-

4.260.000
1.538.182
41.993.570

3.555.500
2.715.000
11.478.527

2.920.000
-

Reparasi
Pemeliharaan & Reparasi
Pemeliharaan Peralatan &
Perlengkapan
Pemeliharaan Gedung
Pemeliharaan Kendaraan

1.800.000

Pemeliharaan
komputer+Network
Total Objek PPh 23 setelah

812.000

3.390.000

diperiksa
Total Objek PPh 23 yang

48.603.752

21.139.027

2.920.000

dipotong
Selisih ekualisasi

47.139.632
1.464.120

21.600.000
(460.973)

2.920.000

Untuk PPh Pasal 23 mengacu kepada ketentuan perundang-perundangan perpajakan tentang


Pajak Penghasilan Pasal 23, dimana objek pajak penghasilan pasal 23 antara lain jasa penyediaan
tempat dan/ atau waktu dalam media massa, media luar ruang atau media lain untuk
penyampaian informasi dengan kata lain iklan.
Oleh karena itu perusahaan seharusnya memasukkan DPP biaya iklan ke dalam objek
pemotongan PPh 23. Akibat dari kesalahan ini adalah dapat dikenakan sanksi bunga sebesar 2%
menurut UU KUP Pasal 8 ayat 2 apabila perusaaan melakukan pembetulan. Untuk tahun 2011
dan 2012 objek pph 23 perusahaan telah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dan untuk
rekapitulasi objek pph 23 sehubungan dengan sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta kecuali sewa tanah atau bangunan sudah sesuai dengan peraturan pajak
penghasilan pasal 23 yang berlaku. Untuk pemotongan DPP PPh Pasal 23 yang lain, perusahaan
memasukkan objek tersebut bukan di laporan laba rugi melainkan di neraca karena masih dalam
proyek dalam pelaksanaan sehingga belum diakui sebagai biaya oleh perusahaan namun sudah
dipotong PPh pasal 23 oleh pihak ketiga.
Keterangan
Objek PPh Final menurut
Laporan Keuangan
Bunga Deposito
Penghasilan Pengalihan hak atas
tanah/ bangunan
Sewa Atas Tanah/ Bangunan
Total

2010

2011

2012

5.063.510 3.647.294 2.350.173


6.456.484.0 949.688.2
-

00

73
26.666.66

99.000.000 18.000.000
7
6.478.131.2 978.705.1
104.063.510

94

13

Objek PPh Final menurut SPT


Badan
Bunga Deposito
Penghasilan Pengalihan hak atas

5.063.510 3.647.294 2.350.173


6.456.484.0 949.688.2

tanah/ bangunan
Sewa Atas Tanah/ Bangunan
Total

00

73
26.666.66

99.000.000 18.000.000
7
6.478.131.2 978.705.1
104.063.510

94

13

Selisih

Salah satu objek Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat 2 adalah penghasilan dari transaksi pengalihan
harta berupa tanah dan atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan
tanah dan atau bangunan yang berarti penghasilan dari PT. TBP wajib dikenakan Pajak
Penghasilan Pasal 4 ayat 2 atau PPh Final. Berdasarkan keterangan yang penulis terima,
penghitungan PPh final atas jasa konstruksi dan persewaan atas tanah dan atau bangunan yang
dilakukan oleh PT. TBP secara garis besar dapat dirumuskan sesuai dengan perjanjian yang
telah dibuat oleh PT. TBP dan pihak kedua. Dari perjanjian tersebut timbullah besarnya harga
yang sudah disepakati, dimana nilai harga tersebut akan dikenai PPh Final Pasal 4 ayat 2 atas
jasa konstruksi dan atas sewa tanah dan atau bangunan dan pajak ini diakui pada saat
pembayaran atau pada saat dicatatnya hutang tergantung mana yang terlebih dahulu.
Mengacu kepada PP Nomor 51 Tahun 2008 yang sebagaimana telah diubah menjadi PP Nomor
40 Tahun 2009 tentang pajak penghasilan atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi,
perusahaan telah sesuai memotong, melapor, dan menyetorkan pajak penghasilan pasal 4 ayat 2
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karena perusahaan bergerakn di bidang jasa konstruksi
dan developer maka pendapatan yang didapat oleh perusahaan tidak dihitung di dalam SPT
Badan melainkan langsung dikenakan pajak final.

Uraian
Peredaran Usaha
Penjualan Lain-Lain

PPh

DPP

Badan

PPN

479.587.9 107.003.10

49
0
479.587.9 107.003.10
49
0
479.587.9 107.003.10
Total
Perbedaan Waktu

49

0
1.595.325.1

Uang Muka Tahun 2009


15
Jumlah Objek Pajak Menurut 479.587.9 1.702.328.2
Undang-Undang
49
15
Jumlah Objek Pajak Menurut 479.587.9 1.595.325.1
Wajib Pajak
Selisih Ekualisasi

Uraian
Peredaran Usaha

49

15
107.003.10

PPh

DPP

Badan

PPN

7.090.766.3 5.694.663.
Penjualan

99
143.194.61

Penjualan Lain-Lain

1
7.233.961.0 5.694.663.
10

052

052

Perbedaan Waktu
602.498.6
Uang Muka Tahun 2011
25
Jumlah Objek Pajak Menurut 7.233.961.0 7.289.988.
Undang-Undang
10
167
Jumlah Objek Pajak Menurut 7.233.961.0 7.289.988.
Wajib Pajak
Selisih Ekualisasi

10
PPh

Uraian
Peredaran Usaha
Penjualan

Badan
1.162.752.

167
DPP
PPN
1.245.498.7

Penjualan Lain-Lain

023
52.829.94

15

5
1.215.581.

1.245.498.7

968

15

Perbedaan Waktu
Uang Muka Tahun 2011
Jumlah Objek Pajak Menurut

- 602.498.625
1.215.581. 1.847.997.3

Undang-Undang
Jumlah Objek Pajak Menurut

968
1.215.581.

40
1.847.997.3

968
-

40
-

Wajib Pajak
Selisih Ekualisasi

Untuk Analisis Ekualisasi Pajak Pertambahan Nilai mengacu Kepada Undang-Undang Nomor 42
Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai, terdapat perbedaan yang cukup signifikan di tahun
2010 dan 2012. Hal ini dikarenakan pada tahun 2010, perusahaan belum mengakui uang muka
sebagai pendapatan.
Sedangkan di dalam Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai pasal 11 ayat 2 dijelaskan bahwa
dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau sebelum
penyerahan Jasa Kena Pajak atau dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya
pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean,
saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran.
Oleh karena itu uang muka disebut sebagai pembayaran sebelum diserahkan Barang Kena Pajak.
Begitu juga untuk tahun 2012, selisih antara omset PPh Badan dan PPN dikarenakan adanya
pembayaran uang muka yang belum diakui sebagai pendapatan oleh perusahaan, adanya
penghasilan lain-lain yang menjadi objek PPN, adanya pemakaian sendiri, dan beda waktu
pelaporan.

EKUALISASI PAJAK (Pasal 21 dan PPn)

Bagi seorang Pemeriksa Pajak (tax auditor) maupun bagi Praktisi Perpajakan, istilah
ekualisasi pajak tentu sudah tidak asing lagi, tapi bagi sebagian orang yang lainnya (mungkin
sebagian besar) walaupun sudah pernah belajar mata kuliah perpajakan, bahkan pegawai
accounting sudah pernah membuat laporan pajak, tetapi belum mengetahui Ekualisasi Pajak.

Untuk maksud itulah tulisan ini dibuat ("bapak-bapak auditor pajak atau praktisi perpajakan
yang terhormat....... ijinkanlah saya membagi pengetahuan ini untuk teman-teman pembaca blog
ini, agar mereka tidak tersesat seperti saya dahulu. Bukankah ini juga akan meringankan
bapak-bapak dalam melakukan pemeriksaan :-P :-P ?" ).

Apa itu Ekualisasi Pajak ?


Secara sederhana bisa dikatakan ekualisasi pajak adalah pemeriksaan tingkat keseimbangan
antara satu jenis pajak dengan jenis pajak yang lain yang memiliki hubungan. Yang dimaksud
hubungan disini adalah elemen laporan suatu jenis pajak merupakan bagian dari laporan jenis
pajak yang lain (baik itu sebagian maupun keseluruhan).
Ekualisasi yang biasa dilakukan dalam proses pemeriksaan ada 2 (dua) yaitu :
(-) Ekualisasi PPn dengan Omset (Penjualan) PPh Pasal 25 & 29
(-) Ekualisasi PPh Pasal 21 dengan Pengakuan Biaya Gaji dan Upah Tenaga Kerja
Langsung pada "Laporan Laba Rugi"

Ekualisasi "PPh Pasal 21" dengan Pengakuan Biaya Gaji dan Upah Tenaga Kerja
Langsung pada "Laporan Laba Rugi"
Ini adalah Penyeimbangan antara Laporan PPh Pasal 21 dengan Ongkos Tenaga Kerja Langsung
(Direct Labour Cost) dan Biaya Gaji (Payroll Expenses)
Perhatikan screen shoot dibawah :

Pada SPT PPh Pasal 21 nya, wajib pajak (Perusahaan) melaporkan adanya Penghasilan Bruto
Karyawan hanya sebesar Rp 1,886,635,413 saja, sementara itu..
Pemeriksa menemukan pengakuan Upah Langsung sebesar Rp 881,301,625,- dan Biaya Gaji
sebesar Rp 1,109,454,000,- sehingga Total Obyek PPh Pasal 21 diakui oleh WP (Perusahaan)

seharusnya sebesar Rp 1,990,755,625,-. Untuk itu pemeriksa melakukan koreksi atas


Penghasilan Bruto Pada Laporan PPh Pasal 21 WP sebesar Rp 104,120,212,Andai saja.
Perusahaan menyadari bahwa antara Penghasilan Bruto pada Laporan PPh Pasal 21 dengan
pengakuan Biaya Gaji & Ongkos Tenaga Kerja Langsung pada Laporan Laba Rugi PPh
Pasal 29, harus seimbang, tentu perusahaan akan membuat laporan sebagai berikut :
PPh Pasal 21 : Pengahsilan Bruto Karyawan Rp 1,886,635,413,PPh Pasal 29 :
- Upah Tenaga Kerja Langsung Rp 886,635,413,- Biaya Gaji Rp 1,000,000,000,Tentu koreksi sebesar Rp 104,120,212 TIDAK PERLU TERJADI bukan ? :-) :-)

Ekualisasi PPn dengan Omset (Penjualan) PPh Pasal 25 & 29


Ini adalah ekualisasi yang memeriksa antara Laporan PPn dengan Pengakuan Omset
(Penjualan) Dalam Negeri perusahaan.
Perhatikan Screen shoot dibawah ini :

Temuan Penjualan sebesar Rp 8,593,213,094,- pada Laporan PPh Pasal 29, harus diikuti
dengan temuan penjualan sejumlah yang kurang lebih sama pada Laporan PPn.
Karena Wajib Pajak hanya mengakui penjualan sebesar Rp 3,160,772,250 saja pada Laporan PPh
Pasal 29 nya, maka pemeriksa melakukan koreksi sebesar Rp 5,432,440,844. Pada PPn pun
pemeriksa juga melakukan koreksi yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan pada PPh
Pasal 29 nya. Dengan demikian maka Laporan PPn dengan Laporan PPh Pasal 29-nya sudah
equal atau Sesuaiatau berimbang.