Anda di halaman 1dari 21

19

BAB III
LOG LISTRIK
3.1.

TUJUAN ANALISA

3.1.1. Spontaneous Potential Log


Adapun tujuan dari analisa ini adalah untuk menentukan harga resistivitas
air formasi (Rw), menentukan ketebalan lapisan porous, menentukan korelasi
batuan, membantu dalam evaluasi Vclay, serta untuk membedakan lapisan yang
bersih dari shale.
3.1.2. Resistivity Log
Analisa resistivity log memiliki tujuan untuk membedakan zona
hidrokarbon dengan zona air, menghitung harga Rt, Rxo, dan Ri, serta korelasi
antar sumur.
3.2. DASAR TEORI
3.2.1. Spontaneous Potential Log
Prinsip kerja Spontaneous Potential Log, yang merupakan salah satu
lithology tool, yaitu dengan menurunkan salah satu elektroda (dinamakan M) ke
dalam lubang pemboran, sedangkan elektroda yang lainnya (dinamakan N)
ditanam pada lubang dangkal (di permukaan) yang telah diisi oleh lumpur
pemboran. Setelah sampai di dasar lubang pemboran, maka elektroda M ditarik
perlahan-lahan sambil melakukan pencatatan perubahan tegangan sebagai fungsi
kedalaman (potensial antara elektroda M di dalam lubang bor dengan elektroda N
di permukaan).
Spontaneous Potential tidak dapat direkam di dalam lubang bor yang diisi
oleh lumpur yang tidak konduktif (oil base mud), karenanya diperlukan media
yang dapat menghantarkan arus listrik di antara elektroda dengan formasi. Jika
filtrasi lumpur dan kadar garam air formasi (resistivitas) hampir sama, maka
penyimpangan spontaneous potential akan bernilai kecil dan kurvanya menjadi
kurang berguna.
Spontaneous Potential memiliki manfaat antara lain untuk :
a. Menentukan harga resisitivitas air formasi (Rw)

20

b. Mengidentifikasi zona permeabel dan impermiabel


c. Mengidentifikasi lapisan shale
d. Menentukan banyaknya lempung dalam formasi (Vclay)
e. Membedakan lapisan bersih dari clay
f. Korelasi antar sumur
Dari manfaat diatas, disebut kata permeabel. Permeabel sendiri akan selalu
membentuk tiga zona infiltrasi (Borehole Environment), yaitu:
a.

Flushed zone atau invaded zone terletak dekat dengan lubang bor sehingga
terinvasi oleh filtrat lumpur bor. Parameter yang terdapat pada zona ini
adalah Rxo (resistivitas zona invasi), Rmf (resistivitas filtrat lumpur), dan

b.

Sxo (saturasi zona invasi).


Transition zone terletak pada zona infiltrasi yang lebih dalam dibanding
invaded zone, mengandung campuran filtrat lumpur dan kandungan semula.
Sebenarnya, pada zona ini juga terdapat parameter, namun karena nilainya

c.

terlalu kecil dan tidak berpengaruh, maka nilai ini dapat diabaikan.
Uninvaded zone terletak paling jauh dari lubang bor, dimana seluruh porinya
terisi oleh kandungan semula tanpa dipengaruhi oleh invasi filtrat lumpur.
Parameter yang dimiliki zona ini, yaitu : Rt (resistivitas formasi sebenarnya),
Rw (resistivitas air formasi), dan Sw (saturasi air).
Spontaneous Petential Log memiliki kelebihan-kelebihan sebagai berikut :

a.

Bereaksi hanya pada lapisan permeabel karena SP log berguna untuk


mengukur lapisan shale pada formasi, sehingga dapat mendeteksi adanya

b.

lapisan permeabel.
Mudah pengukurannya karena prinsip kerja SP log yang merekam beda
potensial di antara elektroda yang berada di permukaan yang tetap dan
elektroda di bawah permukaan yang bergerak naik turun, serta dapat
dilakukan pada kondisi lumpur water base mud karena sifatnya yang

c.
d.

konduktif.
Sebagai indikator lapisan permeabel dan impermeabel.
Dapat menentukan batas antara lapisan permeabel dan non permeabel.

Adapun kekurangan-kekurangan Log SP, yaitu :


a.
b.
c.

Tidak bekerja pada oil base mud


Tidak bereaksi bila Rmf = Rw
Tidak berfungsi baik pada formasi karbonat

Anomali spontaneous potential dapat terjadi apabila:

21

a. Keadaan rembesan
Bila pasir yang sangat permeabel dan berisi air garam tercemar oleh filtrasi
lumpur tawar, dimana filtrasi lebih ringan dari air garam sehingga akan
mengapung di atas. Hal ini akan memperlihatkan rembesan filtrasi lumpur yang
sangat dangkal di bagian bawah dan cukup dalam di bagian batas atas.
b. Gangguan (noise)
Kadang-kadang suatu riak gelombang sinus (gigi gergaji) dengan amplitudo
kecil teramati pada spontaneous potential, ini terjadi bila sebagian suku cadang
dari mesin derek tiba-tiba menjadi bermagnet. Dalam hal ini, kurva spontaneous
potential masih berlaku karena gejala termagnetisasi tersebut tidak menambah
atau mengurangi pembacaan spontaneous potential.
Arus listrik langsung yang mengalir melalui formasi dekat elektroda
spontaneous

potential

akan

mengakibatkan

kesalahan

pembacaan

pada

spontaneous potential terutama pada formasi dengan resistivitas tinggi. Arus


listrik tersebut bisa disebabkan oleh gejala dua logam (bimetallism) yang terjadi
jika dua lembar logam yang berbeda saling bersentuhan satu sama lain dan
dikelilingi oleh lumpur asin.
Kadang-kadang sulit untuk merekam spontaneous potential yang baik pada
anjungan lepas pantai (offshore), karena alat proteksi katodis (Cathodic Protection
Device), atau alat proteksi kebocoran listrik, dapat memberikan pembacaan yang
kacau pada kurva spontaneous potential. Sedangkan, pada keadaan darat
(onshore), berdekatan dengan kabel listrik bertegangan tinggi atau pompa sumur
juga dapat mempengaruhi kurva spontaneous potential. Banyak dari gangguan ini
dapat diminimalisasi dengan memilih secara seksama lokasi elektroda N di
permukaan tanah.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi atau mengontrol arah dan jarak
kurva SP log, yaitu :
a. Pengaruh shale
Shale akan berperan sebagai membran potensial yang dapat mengalirkan
salinitas mud filtrate ke air formasi (Rmf > Rw), yang kemudian akan dicatat
sebagai beda potensial.
b. Pengaruh Rw dan Rmf

22

Besar nilai Rw dan Rmf dapat mempengaruhi defleksi kurva SP log, dimana
apabila Rw lebih besar dari Rmf, maka kurva akan mengalami defleksi ke arah
kanan (positif), sementara apabila nilai Rw kurang dari Rmf, maka kurva akan
mengalami defleksi ke arah kiri. Selanjutnya, apabila nilai Rw sama dengan Rmf,
maka tidak ada defleksi SP log yang terjadi.
Defleksi kurva spontaneous potential log yang tergambar pada slip log akan
memberikan bentuk-bentuk sebagai berikut:
a. Lurus dan biasa disebut dengan shale base line.
b. Untuk lapisan yang permeable (air asin), kurva spontaneous potential log
berkembang negatif (ke kiri) dari shale base line.
c. Untuk lapisan permeable (air tawar), kurva spontaneous potential log akan
berkembang positif (ke kanan) dari shale base line.
Kondisi optimum pengukuran spontaneous potential log:
a. Hanya dapat digunakan pada kondisi open hole
b. Tidak dapat digunakan pada lumpur pemboran yang bersifat non-conductive
c. Rm tidak sama dengan Rw
d. Porositas yang cukup besar
e. Invasi lumpur dangkal
f. Pada lapisan yang cukup tebal
3.2.2. Resistivity Log
Resistivity log adalah suatu log yang berfungsi mengukur tahanan batuan
formasi beserta isinya, dimana tahanan ini tergantung pada porositas efektif,
salinitas air formasi, dan banyaknya hidrokarbon dalam pori-pori batuan.
Terdapat beberapa macam resistivity log yang memiliki kondisi prinsip
kerja dan kondisinya masing-masing. Hal ini secara garis besar tercantum pada
Tabel III-1.

Resistivity Log
1 Normal log
.

Tabel III-1.
Tabel Parameter Logging Tool
Prinsip Kerja
Kondisi Optimum
Arus dialirkan melalui elektroda Jenis Lumpur yang
tertentu
(A)
menembus
konduktif
(fresh
kedalaman formasi & voltage ini
mud)
berguna dalam penentuan harga

23

resisitivity formasinya
Open hole
Anggapan,
medium
yang Diameter
lubang
mengelilingi elektroda homogen
bor 6-12
dengan tahanan batuan R ohm Short
normal,
meter
spacing 16
Log
normal,
spacing 64

2
.

Lateralog

3 Laterolog
a. LL 7

b
.

LL 3

c. LL 8

Termasuk konvensional log, arus Water base mud


melalui elektroda A, perbedaan Pada lumpur yang
potensial M & N ditempatkan
mempunyai
dipermukaan
salinitas
tinggi
Lateralog dapat dikombinasi
digunakan
skala
dengan short normal 16, untuk
yang lebih sensitif
mengukur Ri
Cocok pada lapisan
shale dan sand yang
tebal
Range
resistivity
antara 0 hingga 500
Ohm m
Mengirim arus konstan Io Cocok pada lapisan
melalui elektroda Ao dan
tipis
elektroda A1 dan A2 yang diatur
sehingga potential M1 dan M2,
M1`, M2 sehingga arus yang
mengalir dari Ao terfokuskan
masuk ke dalam formasi secara
horizontal, ketebalan Io = 32
sehingga cocok untuk lapisan
tipis
Sama dengan LL7
Cocok pada lapisan
tipis
Keuntungannya
memperkecil
pengaruh
lubang
bor dan zone invasi
Perbandingan
Io
LL72
Io LL3 0.102
Sama dengan LL7 tetapi pada Dapat memberikan
LL8 mempunyai spacing yang
hasil
pengukuran
pendek

24

4
.

Microlateralog

Sama dengann focused log


(microlog), berbeda pada elemen
lempeng karet dan pengaturan
elekrodanya melingkar serta
distribusi arus listrik yang
dihasilkan,
(sama
dengan
lateralog).
Lempeng karet menekan dinding
lubang bor dan sebuah elektroda
pusat Ao serta 3 buah ring
elektroda M1, M2, A1 yang
masing
masing
letaknya
konsentris terhadp Ao, jarak
spacing
diantara
elektroda
berkisar hingga 1 inchi.
Sejumlah arus konstan Io
dialirkan melalui Ao dan beda
potensial antara Mi dan M2
dibuat nol sehinggga arus dari
Ao dipaksakan mengalir secara
horizontal menenmbus formasi

vertikal yang detail


Pembacaan banyak
dipengaruhi
oleh
lubang
bor
&
invaded
zone
dibanding LL7 dan
LL3
Daerah
penyelidikan
kedalaman
3
hingga 4
Kondisi
lumpur
pada jenis water
base mud
Porositas < 15%
Tebal mud cake
3/8
Pada
batuan
karbonat
yang
terinvasi
Tahanan batuan 0,5
sampai 100 Ohmmeter

25

5
.

Microlog

Lempeng karet menekan dinding


lubang bor dengan banuan pegas,
microlog tidak menghasilkan
keterangan yang berarti jika arus
yang dipancarkan hanya berpusar
di sekitar mud cake, terjadi jika
resisitivity mud cake rendah
sedangkan resisitivity formasi
sangat tinggi

6
.

Microresistivity
Log yang
Difokuskan

Diukur pada batuan karbonat


untuk menentukan Rxo pada
kondisi salt water base mud
dengan resistivitas batuan yang
relatif besar.

Ukuran lubang 6
hingga 16
Kedalaman formasi
1 hingga 4
Spacing
ketiga
elektroda 1inchi
Dapat dipergunakan
fresh water base
mud
Lubang sumur yang
telah di casing
Tambahan batasan
indikator
lapisan
porous permeabel di
dalam susunan sand
shale
Range
tahanan
batuan 0,5 hingga
100 ohm m
= 15 %
Rxo/Rmc < 15
Ketebalan Mud
Cake <
Kedalaman invasi
Lumpur > 4 inchi
Tahanan batuan
formasi 0,5-100m
Pada
batuan
invaded carbonate
medium (<15%)
Range
tahanan
formasi 0,5 10
ohm m
Rxo/Rmc > 15

Jenis
lumpur salt water
base mud

Kedalaman
invasi lumpur > 4

Ketebalan
mud cake <3/4
Tahanan
batuan
formasi antara 0,5

26

7
.

Proximity Log

8
.

Induction Log

sampai 100 m
Mengukur besar Rxo pada Kondisi hmc <
kedalaman invasi dengan kondisi Kedalaman invasi air
lumpur water base mud.
filtrate lumpur yang
dangkal dipengaruhi
oleh tahanan batuan
zone uninvaded (Rt)
Invasi lumpur dalam
dan ketebalan mud
cake < 3/4
Di dalam lapisan
invaded karbonat dan
sand
Porositas 15%
Pada lumpur water
base mud
Range
tahanan
batuan antara 0,5
higga 100 Ohm-m
Open hole
Merupakan kombinasi dari SP
Tanpa memandang
log dan short normal 16 untuk
jenis lumpur yang
menentukan besar Rt.
digunakan
(IES,
memerlukan
jenis
lumpur water base
mud)
Batasan IES, zone
yan terinvasi terlalu
jauh,
zone
mempunyai
resisitivitas
yang
terlalu tinggi
Keadaan baik, pada
lumpur yang tidak
terlalu mengandung
garam
dan
formasinya
tidak
begitu
resistive
(Rf<100 ohm m)
Porositas
batuan
antara
medium
hingga high (>15%)
Open hole
Invasi lumpur > 40

27

Resisitivitas formasi
< 200 ohm-m
Rmf > 2 Rw
Ketebalan lapisan >
60

28

29

Gambar 3.1. Lingkungan Lubang Bor


(www.google.co.id)

Gambar 3.1. Lingkungan Lubang Bor


(www.google.co.id)

Gambar 3.2. Spontaneous Potential Logging Tool


(http://www.geomore.com)

30

31

Gambar 3.3. Resisitivity Logging Tool


( http://www.logging-tool.en.china-ogpe.com )

Gambar 3.4. Kurva SP Log dan Resistivity Log


(Penilaian Formasi Interpretasi Log Untuk Clean Sand Pertamina)

32

3.3. DATA

Bottom Hole Temperature ( BHT )

: 129 F

Depth

: 870 ft

Temperature Surface ( Ts )

: 75F

Invation diameter ( di )

Bed Thickness

: 30 in
: 10 ft

Hole Diameter ( dh )

: 12,25 in

Depth BHT

: 2843,76 ft

Rs

: 2 m

Rm @ Ts

: 1,5 m

SSP

: -28

33

3.4.

PROSEDUR PERHITUNGAN

1. Menentukan ketebalan lapisan yang akan dianalisa.


2. Menghitung temperatur formasi (Tf).

BHT - Ts
kedalaman lapisan yang dianalisa
Depth BHT

Tf Ts

3.

Menentukan harga Rm, Rmf dari log resistivity (ILM) kemudian mengoreksi
harga Rm tersebut dengan formasinya.
Rmf

Rm chart Ts
Tf

Rmf corr = 0.75 x Rmf


3. Menentukan shale base line dari kurva SP log.
4. Menentukan besarnya harga maximum SP log sebagai ESP.
5. Menentukan harga Rm @ Tf
Rm @ TS =Rm @ Ts x
6. Menentukan harga Ri dengan chart (ILD).

7. Dari harga diameter (di), ketebalan formasi. Cari harga koreksi faktor dari
chart SP 4 untuk ESP, sehingga harga ESSP dapat dicari dengan persamaan:
ESSP = ESP x faktor koreksi
8. Menentukan harga Kc:
Kc = 61 + (0,1333 x Tf)
9. Menentukan harga Rweq :
Rweq =

Rmfc
10

ESSp
Kc

10. Menentukan Rw dengan grafik SP 2.

34

11. Menentukan harga ASP dari chart (per kedalaman).


12. Menentukan Vclay :

ASP

ESSP

Vclay = 1 -

13. Menentukan Ri = R (ILM)


14. Menentukan Rxo :
Rxo = Ri (ILM)
15. Menentukan Ri : R (ILD)
Rt = Ri (ILD)
3.4.1. Perhitungan
1. Kedalaman = 870 ft
2. Tf = Ts +

BHT - Ts
x Depth
Depth BHT

129 - 75
x 870
= 75+
2843,76

= F
3. Rm chart (ILM) = 1,55
Ts
4. Rmf = Rm chart x Tf

= 1,55 x

75
91.52

= 1,22 m
5. Rmf corr = 0,75 x Rmf
= 0,75 x 1,22
= 0,92 m
6. Ri = R 18,8 AMP
diperoleh dari grafik log resistivity ( 18,8 AMP ) =2,67

35

7. K = interpolasi dari grafik 1,34


Ri
2,67
=
= 8,0
Rm
0.33

Dengan di = 40, bed thickness = 10 ft


K = 1,06
8. ISSP
diperoleh dari chart SP Log, yaitu simpangan yang paling menonjol ke kiri
dari Shale Base Line; diperoleh harga ESSP = -28
9. ESP = K x ESSP
= 1,06 x 25
= 29,68
10. Kc = 61 + ( 0.133 x Tf )
= 61 + ( 0,133 x 91.52)
= 73,2
11. Rweq =
=

Rmfc
10 ( ESP/K)
0,92
10

( 29,68/73,2)

= 0,36
12. ASP
diperoleh dari chart SP Log pada kedalaman 870 ft, diperoleh harga ASP = 12
(melihat dari defleksi dari shale base line)
ASP

ESSP

14. Vclay = 1-

12

29,68

= 1-

= 0.6
16. Menentukan Ri= R (ILM)=1,5
17. Rxo = Ri x faktor koreksi
= 1,5 x 1,06

36

= 1,59
18. Menentukan Ri = R (ILD) = 1,5
19. Rt = Ri (ILD)x Faktor Koreksi
= 1,5 x 1,06
= 1,59
3.5.

PEMBAHASAN
Pada sumur yang mempunyai kandungan hidrokarbon perlu dilakukan

logging dengan berbagai jenis alat log. Dalam praktikum kali ini kita
menggunakan Spontaneous Potential (SP) log

dan resistivity log. Adapun

penggunaan dari SP log adalah bertujuan untuk mengetahui Rw (Water


Resistivity), lapisan permeabel, korelasi antar sumur, volume clay dan mengetahui
lapisan shale. Sedangkan pada penggunaan resistivity log bertujuan untuk
mengetahui indikasi adanya hidrokarbon, menentukan Rxo (resistivity flushed
zone) dan Rt (True Resistivity).
Dari data yang didapatkan, dilakukan perhitungan dengan menghitung Tf
(temperatur formasi) terlebih dahulu, dimana harga Tf digunakan untuk mencari
harga Rmf. Untuk harga Ri diperoleh dari permbacaan induction log. Setelah
memperoleh nilai Ri, lalu Ri dibandingkan dengan Rmfc, dimana hasil dari
perbandingan antara Ri dan Rmfc digunakan untuk mencari harga faktor koreksi
terhadap ESP dan diperoleh ESSP dari koreksi tersebut, yang mana ESSP
digunakan

untuk

menentukan

Rweq.

Sedangkan

Vclay

didapat

dari

membandingkan ASP (Actual Spontenaous Potential) dengan ESSP.


Pada percobaan kali ini ditemukan harga SSP (Statik Spontaneous
Potential) yang merupakan simpangan terjauh dari baseline yang didapat sebesar
-28. Selanjutnya kita menentukan nilai ASP (Actual Spontaneous Potential) pada
setiap kedalaman.selain itu temperature formasi harus terlebih dahulu diketahui
dalam perhitungan volume clay. Parameter lainnya adalah Rmf, ESSP, KC, dan
Rweq. Setelah diperoleh harga TF maka akan diperoleh harga Rw.
Pembacaan kurva induction log bertujuan untuk mendeteksi konduktifitas
batuan formasi yang pada akhirnya digunakan dalam penentuan resistivitas. Jadi

37

ada 3 parameter yang dapat diketahui dalam pengukuran log resistivity yaitu
lithology batuan, lapisan permeabel dan non permeabel dan lapisan yang
mengandung hikrokarbon.
Pada kedalaman 870 ft, terdapat defleksi pada kurva SP Log, menandakan
bahwa lapisan tersebut permeable. Harga Vclay = 0.6 mengindikasikan bahwa
batuan tersebut adalah shally sand yang artinya porous tetapi kurang permeable.
Harga Rxo dan Rt yang sama mengindikasikan bahwa pada zona uninvaded tidak
terdapat hidrokarbon, melainkan air formasi. Dengan kata lain pada kedalaman
870 ft tidak memiliki potensial untuk menjadi batuan reservoir.
Aplikasi lapangan dari praktikum ini adalah untuk menentukan jenis
batuan dari suatu lapisan pada kedalaman tertentu, dan untuk mengindifikasikan
kandungan fluida yang terdapat pada lapisan tersebut. Spontaneous log lebih
tepatnya digunakan untuk menentukan lapisan permeable dan non-permeabel dari
harga Vclay yang diperoleh. Resistivity log berperan untuk menentukan indikasi
hidrokarbon dari harga Rt yang didapat.

38

3.6.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan beberapa hasil kesimpulan

sebagai berikut :
1. Pada kedalaman 870 ft diperoleh nilai :

Vclay = 0,6

Rxo

= 1,59 ohm-m

Rt

= 1.59 ohm-m

2. Vcaly pada lapisan 870 ft mengindikasikan bahwa batuan tersebut


adalah shally sand yang artinya porous tetapi kurang permeable.
3. Rw adalah resistivitas air formasi yang terkandung didalam suatu
lapisan batuan. Rw berpengaruh terhadap defleksi pada spontaneous
log, yakni memberikan arah defleksi.
4. Bila Rt=Rxo mengidentifikasihkan bahwa pada zona uninvaded tidak
terdapat hidrokarbon, melainkan air formasi.
5. SP log digunakan untuk menentukan litologi formasi.
6. Resistifity Log digunakan untuk menentukan jenis fluida yang
terkandung di dalam formasi.
7. Indiction log digunakan untuk mendeteksi lapisan-lapisan tipis yang
jauh.
8. Aplikasi lapangan dari praktikum ini adalah untuk menentukan jenis
batuan dari suatu lapisan pada kedalaman tertentu, dan untuk
mengindifikasikan kandungan fluida yang terdapat pada lapisan
tersebut. Spontaneous log lebih tepatnya digunakan untuk menentukan
lapisan permeable dan non-permeabel dari harga Vclay yang diperoleh.

39

Resistivity log berperan untuk menentukan indikasi hidrokarbon dari


harga Rt yang didapat.