Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

SATUAN OPERASI INDUSTRI

KUNJUNGAN GULA SEMUT

Disusun Oleh:
Dimas Aji Pradipta
NIM A1H014020

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gula kelapa kristal atau gula semut tengah menjadi primadona produk
turunan dari tanaman kelapa (coconut nuficera). Dibandingkan pula kelapa cetak,
gula semut lebih disukai konsumen luar negeri khususnya karena lebih mudah
penggunaannya, lebur mudah larut, dan tidak banyak bahan pengotor non gula
seperti yang banyak terdapat di gula cetak. Pengalaman yang kerap terjadi di
lapangan, dari 5 kg gula kelapa cetak dapat mengandung bahan non gula
mencapai 2 kg. Bahan seperti nasi aking, ampas kelapa, jagung dan lain
sebagainya sengaja dicampur oleh pengrajin yang nakal guna meningkatkan
bobot atau massa produk. Dengan adanya produk gula semut, walaupun harganya
lebih tinggi dibanding gula cetak, minat konsumen khususnya pasar ekspor gula
kelapa akhirnya beralih ke gula semut atau gula kristal atau gula granul.
Proses pengolahan pangan melibatkan berbagai jenis bahan, baik tunggal
maupun kombinasi yang masuk maupun keluar dari suatu tahapan proses. Sesuai
dengan teori konservatif kekekalan massa, maka bahan yang masuk ke dalam dan
keluar dari proses akan tetap, hanya berubah bentuk dari wujud yang satu ke
wujud yang lain. Namun dalam praktiknya, kita mungkin tidak menemukan total
input yang sama dengan total bahan output, karena terjadinya akumulasi bahan
pada alat yang sering kali tidak bisa dihindarkan selama proses atau adanya
kehilangan bahan yang tidak terkontrol.
B. Tujuan
1. Mengetahui proses pembuatan gula semut.
2. Mengetahui alat-alat apa saja yang digunakan dalam pembuatan gula semut.
3. Mengetahui prinsip-prinsip teknik pengolahan pangan dalam proses
pembuatan gula semut.

4. Mengetahui kesetimbangan massa yang terjadi pada proses pembuatan gula


semut.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Gula semut merupakan hasil pengentalan nira palma (aren, kelapa, siwalan)
berbentuk serbuk dan lebih dikenal dengan nama palm sugar, berwarna kuning
sampai coklat tua. Gula semut masih kalah populer dengan gula pasir, tetapi disisi
lain bisnis gula semut cukup menguntungkan, bukan saja harganya yang lebih
mahal dari gula pasir, namun permintaan pasar terutama ekspor masih belum
terpenuhi. Gula semut dikenal sebagai bahan pemanis, penyedap, memberikan
tekstur dan warna coklat pada berbagai jenis makanan. Pembuatan gula semut
sebetulnya hampir sama dengan pembuatan gula aren cetak yaitu dengan jalan
menguapkan nira sampai kental, kemudian didinginkan dan dilanjutkan dengan
pengadukan sampai terbentuk butiran atau serbuk gula (Balai Penelitian dan
Pengembangan Industri, 1988).
Proses pengolahan gula semut sama dengan pengolahan gula cetak, yaitu
tahap pemanasan nira hingga menjadi kental. Pada pengolahan gula cetak, setelah
diperoleh nira kental, wajan diangkat dari tungku, dilakukan pencetakan,
sedangkan pada pengolahan gula semut setelah diperoleh nira kental dilanjutkan
dengan pendinginan dan pengkristalan. Pengkristalan dilakukan dengan cara
pengadukan menggunakan garpu kayu. Pengadukan dilakukan secara perlahanlahan, dan makin lama makin cepat hingga terbentuk serbuk gula (gula semut).
Langkah selanjutnya adalah pengeringan gula semut. Pengeringan dilakukan
dengan oven dengan suhu pengeringan 50oC-60oC selama 12 jam. Untuk
keseragaman ukuran butiran, dilakukan pengayakan menggunakan ayakan ukuran
14-16 mesh. Sebelum diayak dilakukan proses granulasi dengan batok kelapa.

Butiran gula yang tidak lolos ayakan akan dlakukan penghalusan ulang dengan
batok kelapa, kemudian dilakukan pengayakan ulang. Gula semut kering dikemas
dalam box atau plastik kemudian dipasarkan.
Teknik pembuatan gula semut dengan alat penguapan hampa (vacuum
evaporator) saat ini sedang tren di kalangan produsen gula semut, teknik ini
dilakukan dengan memanaskan bahan dengan menentukan suhu dan waktu
pemanasan menggunakan tekanan di bawah satu atmosfer hingga bahan yang
dipanaskan mengental berbentuk konsentrat. Pada aplikasinya alat ini bekerja
berdasarkan perputaran yang bisa diatur, sehingga secara langsung rotari ini dapat
juga berfungsi sebagai pengaduk.
Berdasarkan uraian tersebut maka telah dilakukan penelitian mengenai cara
pembuatan gula semut menggunakan teknik penguapan hampa dengan variasi
suhu dan lama evaporasi, sehingga diharapkan dapat diperoleh gula semut dengan
mutu produk yang lebih baik dari sifat fisik maupun kimiawi bila dibandingkan
dengan produk yang ada di pasaran (Suroso, 2003).

III.

METODOLOGI
A. Alat dan Bahan

1. Alat tulis
2. Kamera
3. Kalkulator
B. Prosedur Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Mengamati tahapan dan prinsip pengolahan pangan dalam pembuatan
gula semut
3. Mengamati bagian-bagian alat yang akan digunakan dalam pembuatan
gula semut
4. Mengamati bagian-bagian dan fungsi perangkat alat yang digunakan
dalam pembuatan gula semut
5. Mencatat cara kerja dari alat yang digunakan dalam pembuatan gula
semut
6. Membuatlah diagram kesetimbangan massa yang terjadi dalam proses
pembuatan gula semut dari nira hingga bahan jadi serta perhitungan
kesetimbangannya.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Alat yang digunakan beserta fungsinya:
a Tungku, befungsi sebagai tempat untuk memasak atau melarutkan gula.
b Sarignan, berfungsi untuk memisahkan gula cair atau gula leleh dari
c
d

kotoran-kotoran yang terangkut.


Oven, berfungsi untuk mengurangi kadar air gula semut.
Susuk atau pengaduk, berfungsi untuk mengaduk gula cair di dalam

e
f

wajan.
Batok, berfungsi untuk melakukan proses granulasi.
Box plastik, berfungsi sebagai tempat penampungan gula semut yang

sudah disortasi.
Ember plastik, berfungsi sebagai tempat penampungan gula semut yang

h
i

belum disortasi.
Sealer, berfungsi untuk mengemas gula semut.
Timbangan berfungsi untuk menimbang bahan baku atau gula semut

yang sudah jadi.


Bahan yang digunakan:
a Air nira
b laru
c Air
d Minyak kelapa
e Plastik pengemas
f Kayu bakar
Proses pembuatan
a Menyiapkan air nira yang telah di sadap dari pohon kelapa.
b Nira yang telah di sadap disaring dan timbang.
c Tuangkan air dan gula di atas wajan dan tambahkan laru yang dibuat dari
d
e

kulit manggis dan kapur.


Panaskan tungku dengan membakar kayu sebagai bahan bakar.
Aduk perlahan dan terus menerus selama 1 2 jam hingga gula meleleh

f
g

dan homogen sempurna.


Setelah berbuih tambahkan 3 sendok makan minyak kelapa.
Lakukan pengadukan hingga nira mengental dan lakukan proses

h
i

granulasi dengan tempurung kelapa.


Ayak hasil granulasi dengan ayakan 14-16 mesh
Hasil pengayakan kemudian dioven hingga kadar airnya berkurang.

Hasil pengovenan, gula semut kemudian ditempatkan pada box plastik

k
l

besar untuk disortasi.


Hasil pengovenan kemudian dikemas menggunakan plastik.
Gula semut siap untuk didistribusikan ke pasaran.

Diagram alir proses pembuatan gula semut.


Start
Nira hasil deres
Penyaringan dan
penambahan laru
Pemasakan
Pemberian
minyak kelapa
Granulasi
Pengayakan

Di oven
Disortir
pengemasan

Finish

B. Pembahasan
Gula kelapa merupakan hasil pengolahan nira kelapa dengan cita rasa yang
khas sehingga penggunaannya tidak dapat digantikan oleh jenis gula yang lain.
Selain berfungsi sebagai pemanis, gula kelapa juga berfungsi sebagai pemberi
warna coklat. Selama ini, produk gula kelapa yang terdapat di pasaran masih
memiliki kelemahan diantaranya memiliki daya simpan yang tidak lama (sekitar
2-4 minggu), belum adanya pengemasan yang baik, serta kurang praktis dalam
penyajian. Oleh karena itu, perubahan bentuk gula kelapa dari cetak menjadi
butiran (gula semut) merupakan salah satu alternatif produk yang dapat membuat
gula kelapa memiliki umur simpan yang lebih panjang serta memiliki kemudahan
dalam penyajian.
Gula semut adalah gula kelapa berbentuk bubuk yang dapat dibuat dari nira
palma, yaitu suatu larutan gula cetak palmae yang telah dilebur kembali dengan
penambahan air pada konsentrasi tertentu. Kualitas gula semut yang dihasilkan
sangat ditentukan oleh bahan baku utamanya yaitu gula kelapa. Bentuk gula semut
yang serbuk menyebabkan gula mudah larut sehingga praktis dalam penyajian,
mudah dikemas dan dibawa, serta daya simpan yang lama karena memiliki kadar
air yang rendah. Selain memiliki kelebihan, gula semut memiliki kelemahan yaitu
proses pembuatan yang tidak mudah sehingga harga gula semut relatif lebih mahal

dibanding gula kelapa. Permasalahan yang muncul pada gula semut yang terdapat
di pasaran adalah memiliki pH yang terlalu rendah. pH atau derajat keasaman
yang terdapat pada bahan baku sangat mempengaruhi proses kristalisasi
pembuatan gula semut karena adanya jumlah gula reduksi yang terbentuk. Adanya
gula pereduksi yang tinggi akan mengikat air lebih banyak karena komponen OHmengikat H+ dari udara (proses hidrolisis). Untuk menghindari penurunan
kualitas akibat gula reduksi yang tinggi dapat dilakukan dengan meningkatkan pH
dengan cara penambahan bahan yang bersifat basa seperti Natrium bikarbonat
(NaHCO3).
Gula semut merupakan hasil pengentalan nira palma (aren, kelapa, siwalan)
berbentuk serbuk dan lebih dikenal dengan nama palm sugar, berwarna kuning
sampai coklat tua (Balai Informasi Pertanian, 2000).
Gula semut merupakan gula merah berbentuk serbuk, beraroma khas dan
berwarna kuning kecoklatan, gula merah versi bubuk dan sering pula disebut
orang sebagai gula kristal. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip
rumah semut yg bersarang di tanah. Bahan dasar untuk membuat gula semut
adalah nira dari pohon kelapa atau pohon aren. Karena kedua pohon ini masuk
jenis tumbuhan palmae maka dalam bahasa asing, secara umum gula semut hanya
disebut sebagai Palm Sugar atau Palm Zuiker (Indrawanto, Evi. 2013). Gula
semut ini memiliki beberapa kelebihan dibanding gula cetak pada umumnya,
yakni dapat tahan lama disimpan dalam jangka waktu hingga dua tahun dan rasa
jika dibungkus dalam tempat yang rapat, ini karena kadar air yang terdapat dalam
gula semut hanya berkisar 2-3% saja.

Gula semut adalah gula merah yang berbentuk serbuk atau tepung yang
dikenal dengan nama Palm Sugar. Bahan dasar untuk membuat gula semut adalah
nira dari pohon kelapa, aren atau enau, nipah, lontar maupun tebu. Gula semut
memiliki beberapa kelebihan dari gula merah yang sudah lebih dulu dikenal
masyarakat. Kelebihan gula semut antara lain lebih mudah larut, daya simpan
lebih lama karena kadar air kurang dari 3%, bentuknya lebih menarik,
pengemasan dan pengangkutan lebih mudah, rasa dan aroma lebih khas, serta
harga yang lebih tinggi daripada gula kelapa cetak biasa. Pemanfaatan gula semut
sama dengan gula pasir (tebu) yakni dapat digunakan sebagai bumbu masak,
pemanis minuman (sirup, susu, soft drink) dan untuk keperluan pemanis untuk
industri makanan seperti adonan roti, kue, kolak, dan lain-lain (Mustaufik dan
Karseno, 2004).
Gula semut atau biasanya disebut gula kristal ini memiliki beberapa
manfaat, antara lain:
1. Sebagai pemanis pada minuman
Gula semut yang ditambahkan pada kopi tubruk, kopi creamer, teh
hitam m aupun capucinno mampu membuat aroma dari kopi tersebut lebih
tercium aromanya.
2. Sebagai penguat rasa dan meningkatkan khasiat minuman tradisinonal
Sudah sejak lama tradisi di Indonesia memasukkan gula semut aren ke
dalam seduhan kunyit asam, temulawak, wedang jahe dan lain-lain. Pada
minuman tersebut gula semut ini berfungi akan melompati hambatan emosi
untuk minum jamu yang rasanya pahit.
3. Sebagai taburan pada rokok
Pada perusahaan rokok menggunakan gula semut aren guna
menaburkan rasa manis yang khas terhadap tembakau yang akan dilinting
menjadi sebatang rokok.

4. Sebagai pemanis berbagai makanan


Perusahaan roti (bakery), kue-kue, kecap, sirup, makanan bayi bukan
hanya memanfaatkan rasa manis dari gula semut. Namun juga warna coklat
dan kehitamannya yang khas. Terutama untuk makanan bayi digunakan
sebagai pewarna alami untuk memperkuat tampilan fisik.
Dalam pembuatan gula semut pada praktikum kunjungan ini, tidak berbeda
dengan cara membuat gula cetak, yakni melalui proses pengambilan air nira yang
dilakukan para penderes kelapa. Biasanya para penderes kelapa mulai beraktifitas
menyadap air nira sekita pukul 05.00 09.00 WIB dan mereka mengambil air nira
di atas pohon yang tingginya kira kira mencapai 30 meter. Kemudian akan
dilanjutkan kembali menyadap air nira pada sore hari pada pukul 16.00 19.00
WIB. Penyadapan tersebut dilakukan setiap harinya untuk menghasilkan gula
semut organik.
Saat memanjat pohon untuk melakukan penyadapan air nira, para penderes
naik ke atas pohon kelapa dengan membawa beberapa pongkor yang terbuat dari
bambu ataupun wadah air nira yang sudah diberikan laru alami dan cangkang
manggis dan kapur yang berguna dalam pencegahan terjadinya fermentasi.
Apabila tidak diberi laru menyebabkan air nira akan berubah menjadi asam.
Ketika orang yang memanjat pohon kelapa atau biasa dikenal dengan sebutan
penderes berada di atas pohon, mereka akan terlebih dahulu mengambil air nira di
dalam pongkor atau wadah yang sebelumnya sudah dipasang untuk kemudian
menggantinya dengan pongkor yang baru dan kosong setelah sebelumnya
menyayat bunga kelapa (manggar) dengan sayatan baru agar air dapat keluar
kembali. Air nira dapat terisi setelah 7 8 jam.

Apabila sudah mendapatkan air nira jangan menunggu hingga 2 jam, karena
air nira tersebut harus segera dimasak agar tidak berubah menjadi arak.
Memasakan air nira ini terkadang masih ada yang menggunakan tungku api yang
menggunakan kayu bakar sebagai sumber panas.. Pasang wajan di atas tungku dan
masukkan air nira hingga mendidih dengan suhu antara 10 - 120C. Untuk
menghasilkan gula semut setidaknya membutuhkan waktu sekitar 3 jam hingga air
nira benar - benar siap untuk dibuat gula semut. Saat nira mendidih, air nira akan
tampak berwarna kecoklatan dan berbuih. Ketika berbuih tersebut, buih buih
yang menggumpal diserok di sekitaran wajan guna untuk memisahkan buih dari
kotoran yang ada. Agar buihnya tidak meluap biasanya paar pengrajin
menambahkan 3 sendok makan minyak kelapa.
Ketika air nira sudah mulai mengental dan meletup letup, nyala api mulai
dikecilkan. Saat air nira mulai mengental, harus selalu dilakukan pengadukan agar
air nira tidak hangus. Dan pengadukan dilakukan dengan gerakan memutar di
dalam wajan agar kekentalan gula merata di setiap sisi wajan dan mulai
mengkristal. Setelah air nira tersebut mengental, perlahan pengrajin mengambil
gula karamel dari wajan. Gula di haluskannya dengan menggunakan batok kelapa.
Penghalusan dilakukan dengan cara menggosok gosokan atau diguser batok
kelapa pada gula karamel.
Setelah gula berubah menjadi kering, maka gula ini diayak menggunakan
ayakan yang berguna untuk memisahkan gula halus dan gula yang masih kasar.
Apabila gula tidak dapat diayak, maka gula dibuat menjadi gula karamel kembali
dan kemudian dilakukan pencetakan gula. Sedangkan apabila gula tersebut dapat

diayak maka dilakukan pengovenan yang berguna untuk mengurangi kadar air
dalam gula tersebut. Yang suhu dalam oven tersebut berkisar sekitar 50 - 60 C
selama kurang lebih 1- 2 jam.
Hasil gula yang telah di oven, kemudian diayak kembali menggunakan
ayakan. Selanjutnya dilakukan penyortiran yang bertujuan untuk memisahkan
apabila masih ada kotoran di dalam gula semut tersebut. Penyortiran ini dilakukan
dengan cara manual agar ketelitian dalam memilih kotoran yang ada di dalam gula
semut lebih tepat. Apabila telah dilakukan penyortiran maka gula semut siap
untuk dimasukkan ke dalam kemasan. Kemasan yang biasanya digunakan oleh
pengrajin gula semut ini adalah plastik. Dan ada pula yang disimpan di dalam
box.
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan gula semut adalah :
1. Ember
Ember dalam proses pembuatan gula semut ini, berfungsi untuk
menampung nira.
2. Gayung
Gayung dalam proses pembuatan gula semut yang telah dikunjungi,
berfungsi untuk mengambil air dan nira dari ember.
3. Wajan
Dalam proses pembuatan gula semut, wajan sangat berfungsi sebagai
tempat untuk pemakan gula semut tersebut.

Gambar 1.
4. Pengaduk

Wajan
kayu
Dalam

proses
pemasakan

gula

menjadi karamel pengaduk kayu ini berfungsi untuk mengaduk gula yang
sedang dilelehkan.

Gambar 2. Pengaduk kayu


5. Batok kelapa
Batok kelapa yang sudah dihaluskan kulitnya, digunakan untuk
menghaluskan gula (granulasi)

Gambar 3. Batok kelapa


6. Oven
Oven yang digunakan dalam proses pembuatan gula semut ini,
berfungsi untuk mengeringkan gula yang telah dihaluskan menggunakan
batok kelapa.

Gambar 4. Oven
7. Ayakan
Ayakan merupakan alat yang berfungsi untuk mengayak gula yang
telah dikeringkan.

Gambar 5. Ayakan
8. Box plastik
Box plastik digunakan untuk tempat penyimpanan gula semut yang
belum akan dikemas.

Gambar 6. Box plastik


9. Plastik
Plastik digunakan untuk pengemasan.

Gambar 7. Plastik
10. Timbangan
Timbangan ini merupakan alat timbang yang berfungsi untuk
mengukur atau menimbang gula semut yang akan dikemas.

Gambar

7.

Timbangan

Prinsip teknik
pengolahan pangan

dalam

proses pembuatan gula semut ialah: Konduksi adalah perpindahan (perambatan)


panas melalui zat perantara, namun tanpa diikuti perpindahan zat perantara
tersebut. Perambatan panas terjadi pada wajan tempat memasak gula aren dimana

salah satu baian wajan tersebut dikenai dengan api, beberapa lama kemudian
wajan tersebut jika kita pegang akan terasa panas.
Selain itu pada pembuatan gula semut ini menggunakan proses konveksi.
Konveksi adalah perpindahan (perambatan) panas dengan zat perantara berupa zat
alir (cair atau gas). Pada konveksi perpindahan panas disertai perpindahan zat
perantaranya.
Dari hasil yang telah didapatkan nira segar yang belum mengalami proses
fermentasi mempunyai rasa manis, berbau harum dan jernih, serta mempunyai pH
6-7, dan kadar gula sekitar 12-18 brix. Pada penyadapan siang hari pH nira relatif
lebih asam, dan pada beberapa kasus nira telah terfermentasi, total gulanya relatif
lebih tinggi, sedangkan pada penyadapan malam hari biasanya kondisi nira lebih
segar pada kondisi cuaca yang sama. Hal ini disebabkan karena kondisi suhu
udara pada siang hari lebih tinggi dibandingkan pada malam hari sehingga proses
fermentasi pada siang lebih cepat dibandingkan pada malam hari.
Untuk mengurangi resiko fermentasi, nira perlu dipanaskan. Pada proses
pemanasan selama satu jam pada 100 oC atau lebih sudah mencukupi untuk
mengawetkan produk selama 12 jam pada suhu penyimpanan sekitar 15 oC.
Proses pembuatan gula merah pada prinsipnya yaitu pemekatan dan
kristalisasi. Gula semut yang bermutu baik yaitu yang mempunyai warna kuning
cerah, aroma khas kelapa yang kuat dan kristal yang seragam serta kering. Untuk
memperoleh hasil yang seperti tersebut perlu dikontrol bahan baku dan proses
pemanasan dan kristalisasinya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Proses pembuatan gula semut berawal dari gula yang dilelehkan pada
wajan dan disaring sebanyak dua kali agar kotoran dalam gula semut
terpisah dengan gula kemudian dilakukan pross perebusan dan
pengadukan secara kontinyu hingga membentuk karamel untuk
selanjutnya di dinginkan dan di gosok (granulasi) dengan batok kelapa,
diayak, dan selanjutnya dilakukan proses kristalisasi dengan oven.

2. Alat yang digunakan dalam pembuatan gula semut adalah: gayung,


wajan, pengaduk kayu, saringan, batok kelapa, centong atau pengaduk
kayu, oven, ayakan, box plastik, timbangan.
3. Prinsip pembuatan gula semut sebetulnya hampir sama dengan
pembuatan gula aren cetak yaitu dengan jalan menguapkan nira sampai
kental, kemudian didinginkan dan dilanjutkan dengan pengadukan
sampai terbentuk butiran atau serbuk gula.
B. Saran
Sebaiknya jadwal pemilihan dalam kunjungan lebih wal lagi, agar tidak
terlalu mepet dengan UAS, serta pembahasan laporan di perjelas lagi kepada
praktikan.

DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian dan Pengembangan Industri,1988. Alat Pengkristal Gula
Serbuk/Gula Semut. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri.
Departemen Perindustrian Semarang.
Dyanti, 2002. Studi Kompratif Gula Merah Kelapa dan Gula Merah Aren. Skripsi.
IPB. Bogor
Kusumawardhani, D.R. 2000. Karakteristik Gula dan Senyawa Hasil karamelisasi
Nira Kelapa yang Diolah dengan Cara Open Pan dan Vacuum Pan.
Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Teknologi
Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang
Mustaufik dan Karseno, 2004. Dasar-Dasar Pengolahan Gula Tebu. Departemen
Hasil Pertanian . Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rahayu, W.P. 2001. Penuntun Praktikum Penilaian Organoleptik. Jurusan
Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pangan. IPB. Bogor
Suroso, A, Riswanto dan A, Sujatmoko 2003. Pengaruh Kadar Air Bahan Baku
dan Jumlah Bibit Terhadap Gula Semut yang Dihasilkan. Seminar Nasional

dan (PATPI) Peranan Industri Dalam Pengembangan Produk Pangan


Indonesia. Yogyakarta 22-23 juli 2003.
Swardana, Pria Yudha. 2006. Pengaruh Konsentrasi Natrium Benzoat dan Lama
Penyadapan Nira Kelapa Terhadapa Kualitas Gula Semut. Skripsi. Jurusan
Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas
Brawijaya. Malang
Yuwono,S dan Susanto, T. 2001. Pengujian Fisik Pangan. Fakultas teknologi
Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang