Anda di halaman 1dari 22

ASKEP LABIOPALATOSCHIZIS

TINJAUAN TEORITIS PENYAKIT


A. Pengertian
Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa celah pada
bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit (Fitri Purwanto, 2001).
Labio palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut palato
shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing pada bibir) yang terjadi akibat gagalnya
perkembangan embrio (Hidayat, 2005).
Labio palatoschizis adalah merupakan congenital anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk
pada wajah ( Suryadi SKP, 2001).
Berdasarkan ketiga pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa labio
palatoschizis adalah suatu kelainan congenital berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan
langit-langit yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.
Beberapa jenis bibir sumbing :
a.

Unilateral Incomplete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke
hidung.

b. Unilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang hingga ke hidung.
c. Bilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
B. Etiologi
1. Faktor herediter
2. Kegagalan fase embrio yang penyebabnya belum diketahui
3. Akibat gagalnya prosessus maksilaris dan prosessus medialis menyatu
4. Dapat dikaitkan abnormal kromosom, mutasi gen dan teratogen (agen/faktor yang menimbulkan
cacat pada embrio).
5. Beberapa obat (korison, anti konsulfan, klorsiklizin).
6. Mutasi genetic atau teratogen.
C. Patofisiologi
1. Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama fase embrio
pada trimester I.

2. Terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial dan maksilaris untuk
menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu.
3. Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan
penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
4. penggabungan komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa kehamilan.
Penyebab utama bibir sumbing karena kekurangan seng dan karena menikah/kawin
dengan saudara/kerabat. Bagi tubuh, seng sangat dibutuhkan enzim tubuh. Walau yang
diperlukan sedikit, tapi jika kekurangan berbahaya. Sumber makanan yang mengandung seng
antara lain : daging, sayur sayuran dan air. Di NTT airnya bahkan tidak mengandung seng sama
sekali. Soal kawin antara kerabat atau saudara memang menjadi pemicu munculnya penyakit
generatif, (keterununan) yang sebelumnya resesif. Kekurangan gizi lainya seperti kekurangan vit
B6 dan B complek. Infeksi pada janin pada usia kehamilan muda, dan salah minum obat
obatan/jamu juga bisa menyebabkan bibir sumbing.
Proses terjadinya labio palatoshcizis yaitu ketika kehamilan trimester I dimana terjadinya
gangguan oleh karena beberapa penyakit seperti virus. Pada trimester I terjadi proses
perkembangan pembentukan berbagai organ tubuh dan pada saat itu terjadi kegagalan dalam
penyatuan atau pembentukan jaringan lunak atau tulang selama fase embrio.
Apabila terjadinya kegagalan dalam penyatuan proses nasal medical dan maxilaris maka
dapat mengalami labio shcizis (sumbing bibir) dan proses penyatuan tersebut akan terjadi pada
usia 6-8 minggu. Kemudian apabila terjadi kegagalan penyatuan pada susunan palato selama
masa kehamilan 7-12 minggu, maka dapat mengakibatkan sumbing pada palato (palato shcizis).
D. Manifestasi Klinis
1. Deformitas pada bibir
2. Kesukaran dalam menghisap/makan
3. Kelainan susunan archumdentis.
4. Distersi nasal sehingga bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
5. Gangguan komunikasi verbal
6. Regurgitasi makanan.
7. Pada Labio skisis
Distorsi pada hidung
Tampak sebagian atau keduanya
Adanya celah pada bibir
8. Pada Palati skisis
a. Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan faramen incisive.

b.
c.
d.
e.

Ada rongga pada hidung.


Distorsi hidung
Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksadn jari
Kesukaran dalam menghisap/makan.

E. Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Gangguan bicara
Terjadinya atitis media
Aspirasi
Distress pernafasan
Resiko infeksi saluran nafas
Pertumbuhan dan perkembangan terhambat
Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh atitis media rekureris sekunder akibat disfungsi

tuba eustachius.
8. Masalah gigi
9. Perubahan harga diri dan citra tubuh yang dipengaruhi derajat kecacatan dan jaringan paruh.
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tergantung pada kecacatan. Prioritas pertama antara lain pada tekhnik
pemberian nutrisi yang adekuat untuk mencegah komplikasi, fasilitas pertumbuhan dan
perkembangan.
Penanganan : bedah plastik yang bertujuan menutupi kelainan, mencegah kelainan,
meningkatkan tumbuh kembang anak. Labio plasty dilakukan apabila sudah tercapai rules of
overten yaitu : umur diatas 10 minggu, BB diatas 10 ponds ( 5 kg), tidak ada infeksi mulut,
saluran pernafasan unutk mendapatkan bibir dan hidung yang baik, koreksi hidung dilakukan
pada operasi yang pertama. Palato plasty dilakukan pada umur 12-18 bulan, pada usia 15 tahun
dilakukan terapi dengan koreksi-koreksi bedah plastik. Pada usia 7-8 tahun dilakukan bone
skingraft, dan koreksi dengan flap pharing. Bila terlalu awal sulit karena rongga mulut kecil.
Terlambat, proses bicara terganggu, tidak lanjutnya adalah pengaturan diet. Diet minum susu
sesuai dengan kebutuhan klien.
1. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan bibir sumbing adalah tindakan bedah efektif yang melibatkan beberapa disiplin
ilmu untuk penanganan selanjutnya. Adanya kemajuan teknik bedah, orbodantis,dokter anak,
dokter THT, serta hasil akhir tindakan koreksi kosmetik dan fungsional menjadi lebih baik.
Tergantung dari berat ringan yang ada, maka tindakan bedah maupun ortidentik dilakukan secara
bertahap. biasanya penutupan celah bibir melalui pembedahan dilakukan bila bayi tersebut telah

berumur 1-2 bulan. Setelah memperlihatkan penambahan berat badan yang memuaskan dan
bebas dari infeksi induk, saluran nafas atau sistemis. Perbedaan asal ini dapat diperbaiki kembali
pada usia 4-5 tahun. Pada kebanyakan kasus, pembedahan pada hidung hendaknya ditunda
hingga mencapi usia pubertas. Karena celah-celah pada langit-langit mempunyai ukuran, bentuk
dan derajat cerat yang cukup besar, maka pada saat pembedahan, perbaikan harus disesuaikan
bagi masing-masing penderita. Waktu optimal untuk melakukan pembedahan langit-langit
bervariasi dari 6 bulan 5 tahun. Jika perbaikan pembedahan tertunda hingga berumur 3 tahun,
maka sebuah balon bicara dapat dilekatkan pada bagian belakang geligi maksila sehingga
kontraksi otot-otot faring dan velfaring dapat menyebabkan jaringan-jaringan bersentuhan
2.
a.
1)
a)
b)
c)
d)
e)
2)
a)
b)
c)
3)
a)

dengan balon tadi untuk menghasilkan penutup nasoporing.


Penatalaksanaan Keperawatan
Perawatan Pra-Operasi:
Fasilitas penyesuaian yang positif dari orangtua terhadap bayi.
Bantu orangtua dalam mengatasi reaksi berduka
Dorong orangtua untuk mengekspresikan perasaannya.
Diskusikan tentang pembedahan
Berikan informasi yang membangkitkan harapan dan perasaan yang positif terhadap bayi.
Tunjukkan sikap penerimaan terhadap bayi.
Berikan dan kuatkan informasi pada orangtua tentang prognosis dan pengobatan bayi.
Tahap-tahap intervensi bedah
Teknik pemberian makan
Penyebab devitasi
Tingkatkan dan pertahankan asupan dan nutrisi yang adequate.
Fasilitasi menyusui dengan ASI atau susu formula dengan botol atau dot yang cocok.Monitor

b)
c)
d)
e)
f)
4)
a)
b)
c)
b.
1)
a)
b)
c)
d)
2)

atau mengobservasi kemampuan menelan dan menghisap.


Tempatkan bayi pada posisi yang tegak dan arahkan aliran susu ke dinding mulut.
Arahkan cairan ke sebalah dalam gusi di dekat lidah.
Sendawkan bayi dengan sering selama pemberian makan
Kaji respon bayi terhadap pemberian susu.
Akhiri pemberian susu dengan air.
Tingkatkan dan pertahankan kepatenan jalan nafas
Pantau status pernafasan
Posisikan bayi miring kekanan dengan sedikit ditinggikan
Letakkan selalu alat penghisap di dekat bayi
Perawatan Pasca-Operasi
Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adequate
Berikan makan cair selama 3 minggu mempergunakan alat penetes atau sendok.
Lanjutkan dengan makanan formula sesuai toleransi.
Lanjutkan dengan diet lunak
Sendawakan bayi selama pemberian makanan.
Tingkatkan penyembuhan dan pertahankan integritas daerah insisi anak.

a)
b)
c)
d)

Bersihkan garis sutura dengan hati-hati


Oleskan salep antibiotik pada garis sutura (Keiloskisis)
Bilas mulut dengan air sebelum dan sesudah pemberian makan.
Hindari memasukkan obyek ke dalam mulut anak sesudah pemberian makan untuk mencegah

e)
f)
g)
h)
i)

terjadinya aspirasi.
Pantau tanda-tanda infeksi pada tempat operasi dan secara sistemik.
Pantau tingkat nyeri pada bayi dan perlunya obat pereda nyeri.
Perhatikan pendarahan, cdema, drainage.
Monitor keutuhan jaringan kulit
Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat tidak steril, missal alat tensi

G. Pemeriksaan penunjang
1. Tes pendengaran, bicara dan evaluasi.
2. Laboratorium untuk persiapan operasi; Hb, Ht, leuko, BT, CT.
3. Evaluasi ortodental dan prostontal dari mulai posisi gigi dan perubahan struktur dari
orkumaxilaris.
4. Konsultasi bedah plastik, ahli anak, ahli THT, ortodentisist, spech therapi.
5. MRI

TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN


A. Konsep Tumbuh Kembang, Bermain, Nutrisi dan Dampak Hospitalisasi.
Dibawah ini akan diuraikan mengenai konsep tumbuh kembang, bermain, nutrisi dan dampak
hospitalisasi pada anak yang berumur 5 tahun.
1. Pertumbuhan, menurut Whalley dan Wong (2000), mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu
peningkatan jumlah dan ukuran, hal ini merupakan suatu proses yang alamiah yang terjadi pada
setiap individu, sedangkan Marlow (1998) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu
peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau sentimeter untuk tinggi badan
dan kilogram atau gram untuk berat badan. Pertumbuhan pada anak usia 5 tahun pertumbuhan
fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata per tahunnya adalah 2 Kg, kelihatan
kurus akan tetapi aktifitas motorik tinggi, dimana sistem tubuh mencapai kematangan seperti
berjalan, melompat, dan lain-lain. Pada pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan
bertambah rata-rata 6,75 sampai 7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2006).
2. Perkembangan, perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari
tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks yang melalui maturasi
dan pembelajaran. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak diantaranya
faktor herediter, faktor lingkungan, dan faktor internal. Perkembangan psikoseksual, anak pada

fase falik (3-6 tahun), selama fase ini genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang
sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin, seringkali anak merasa
penasaran dengan pertanyaan yang diajukannya. Dengan perbedaan ini anak sering meniru ibu
atau bapaknya untuk memahami identitas gender (Freud). Pada masa ini anak mengalami proses
perubahan dalam pola makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan.
Proses eliminasi pada anak sudah menunjukkan proses kemandirian dan masa ini adalah masa
dimana perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan perkembangan dan anak sudah
mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah yang terlihat sekali kemampuan anak belum
mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman
belajar dengan lingkungan dan orang tuanya (Hidayat, 2006).
3. Nutrisi, nutrisi sangat penting untuk tumbuh dan berembang, anak membutuhkan zat gizi yang
esensial mencakup protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air yang harus dikonsumsi
secara seimbang, dengan jumlah yang sesuai kebutuhan pada tahapan usianya. Kebutuhan cairan
pada anak usia 5 tahun yaitu 1600-1800cc/24 jam (Hidayat, 2006). Kebutuhan kalorinya adalah
85 kkal per kg BB, Pada masa prasekolah kemampuan kemandirian dalam pemenuha kebutuhan
nutrisi sudah mulai muncul, sehingga segala peralatan yang berhubungan dengan makanan
seperti garpu, piring, sendok dan gelas semuanya harus dijalaskan pada anak atau doperkenalkan
dan dilatih dalam penggunaannya, sehingga dapat mengikuti aturan yang ada. Dalam pemenuhan
kebutuhan nutrisi pada usia ini sebaiknya penyediaan bervariasi menunya untuk mencegah
kebosanan, berikan susu dan makanan yang dianjurkan antara lain daging, sup, sayuran dan
buah-buahan.
4. Bermain , bermain merupakan suatu aktifitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikkan
keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri
untuk berperan dan berprilaku dewasa. Pada usia 3-6 tahun anak sudah mulai mampu
mengembangkan kreatifitas dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat
mengembangakan kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa,
mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik,
mengembangkan dalam mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian
yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong royong.
Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini seperti benda-benda sekitar
rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat-alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting
dan air.

5. Dampak Hospitalisasi
Hospitalisasi merupakan suatu poroses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat,
mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya sampai kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat
mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman
yang sangat traumatik dan penuh dengan sterss. Perawatan anak dirumah sakit memaksa anak
untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakan amat, penuh kasih sayang, dan menanyakan,
yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan
dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak
kooperatif terhadap petugas kesehatan. Perawatan dirumah sakit juga membuat anak kehilangan
kontrol terhadap dirinya, anak merasa kehilangan kekuatan diri, malu, bersalah, atau takut.anak
akan bereaksi agresif dengan marah dan berontak, tidak mau bekerjasama dengan perawat.
B. PENGKAJIAN
1. Riwayat Kesehatan
Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiotalatos kisis dari keluarga, berat/panjang
bayi saat lahir, pola pertumbuhan, pertambahan/penurunan berat badan, riwayat otitis media dan
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
3.
a.
b.
c.
d.
e.

infeksi saluran pernafasan atas.


Pemeriksaan Fisik
Inspeksi kecacatan pada saat lahir untuk mengidentifikasi karakteristik sumbing.
Kaji asupan cairan dan nutrisi bayi
Kaji kemampuan hisap, menelan, bernafas.
Kaji tanda-tanda infeksi
Palpasi dengan menggunakan jari
Kaji tingkat nyeri pada bayi
Pengkajia Keluarga
Observasi infeksi bayi dan keluarga
Kaji harga diri / mekanisme kuping dari anak/orangtua
Kaji reaksi orangtua terhadap operasi yang akan dilakukan
Kaji kesiapan orangtua terhadap pemulangan dan kesanggupan mengatur perawatan di rumah.
Kaji tingkat pengetahuan keluarga

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Koping Keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau krisis perkembangan /keadaan
dari orang terdekat mungkin muncul ke permukaan.
2. Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi tubuh bagian atas.
3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakseimbangan.

4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan


menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis.
5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
D. INTERVENSI
1. DX.1 : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain dan krisis perkembangan /

a.
b.
c.
d.

keadaan dari orang lain terdekat mungkin muncul ke permukaan.


NOC.: Family koping
KH :
Mengatur masalah
Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
Menggunakan startegi pengurangan stress
Membuat
jadwal
untuk
rutinitas
dan

1)
2)
3)
4)
5)

Indikator skala :
Tidak pernah dilakukan
Jarang dilakukan
Kadang dilakukan
Sering dilakukan
Selalu dilakukan

kegiatan

keluarga

NIC : Family Support


a.
b.
c.
d.
e.
2.

a.
b.
c.
d.
e.
1)
2)
3)
4)
5)

Dengarkan apa yang diungkapkan


Bangun hubungan kepercayaan dalam keluarga
Ajarkan pengobatan dan rencana keperawatan untuk keluarga
Gunakan mekanisme kopoing adaptif
Mengkonsultasikan dengan anggota keluarga utnk menambahkan kopoing yang efektif.
DX.II: Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi tubuh bagian
atas.
NOC : Risk Control
KH :
Monitor lingkungan faktor resiko
Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
Monitor perubahan status kesehatan
Monitor faktor resiko individu
Indikator skala :
Tidak pernah dilakukan
Jarang dilakukan
Kadang dilakukan
Sering dilakukan
Selalu dilakukan
NIC : Aspiration Precaution

a.
b.
c.
d.
e.
f.
3.
a.
b.
c.
d.
e.
1)
2)
3)
4)
5)

Monitor status hormonal


Hindari penggunaan cairan / penggunaan agen amat tebal
Tawarkan makanan / cairan yang dapat dibentuk menjadi bolu sebelum ditelan.
Sarankan untuk berkonsultasi ke Patologi
Posisikan 900 atau lebih jika memungkinkan.
Cek NGT sebelum memberi makan
DX. III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidak seimbangan
NOC :
Menggunakan pesan tertulis
Menggunakan bahasa percakapan vocal
Menggunakan percakapan yang jelas
Menggunakan gambar/lukisan
Menggunakan bahasa non verbal
Indikator skala :
Tidak pernah dilakukan
Jarang dilakukan
Kadang dilakukan
Sering dilakukan
Selalu dilakukan
NIC : Perbaikan Komunikasi

a.
b.
c.
d.
e.
f.
4.

a.
b.
c.
d.
e.
1)
2)
3)
4)
5)
a.
b.

Membantu keluarga dalam memahami pembicaraan pasien


Berbicara kepada pasien dengan lambat dan dengan suara yang jelas.
Menggunakan kata dan kalimat yang singkat
Mendengarkan pasien dengan baik
Memberikan reinforcement/pujian positif pada keluarga
Anjurkan pasien mengulangi pembicaraannya jika belum jelas.
DX. IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis.
NOC : Status Nutrisi
KH :
Stamina
Tenaga
Penyembuhan jaringan
Daya tahan tubuh
Pertumbuhan (untuk anak)
Indikator skala :
Tidak pernah dilakukan
Jarang dilakukan
Kadang dilakukan
Sering dilakukan
Selalu dilakukan
NIC : Nutrition Monitoring
BB dalam batas normal
Monitor type dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan

c.
d.
e.
f.
g.
h.
5.
a.
b.
c.
1)
2)
3)
4)
5)

Monitor interaksi anak/orangtua selama makan


Monitor lingkungan selama makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor rambut kusam, kering dan mudah patah
Monitor pertumbuhan danperkembangan
DX. V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
NOC : Tingkat Kenyamanan
KH :
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.
Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri.
TTV dalam batas normal
Indikator skala :
Tidak pernah dilakukan
Jarang dilakukan
Kadang dilakukan
Sering dilakukan
Selalu dilakukan
NIC : Pain Management

a.

Kaji secara komprehensif tentang nyeri meiputi : Lokasi, karkteristik, durasi, frekwensi, kualitas

dan intensitas nyeri.


b. Observasi isarat-isarat non verbal dari ketidaknyamanan
c. Gunakan komunikasi teraupeutik agar pasien dapat nyaman mengekspresikan nyeri.berikan
dukungan kepada pasien dan keluarga.
6. DX. VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
NOC : Risk Control
KH :
a. Monitor gejala kemunduran penglihatan
b. Hindari tauma mata
c. Hindarkan gejal penyakit mata
d. Gunakan alat melindungi mata
e. Gunakan resep obat mata yang benar
Indikator skala :
1) Tidak pernah dilakukan
2) Jarang dilakukan
3) Kadang dilakukan
4) Sering dilakukan
5) Selalu dilakukan
NIC : Identifikasi Resiko
a. Identifikasi pasien dengan kebutuhan perawatan rencana berkelanjutan
b. Menentukan sumber yang financial
c. Identifikasi sumber agen penyakit untuk mengurangi faktor resiko

d.

Menentukan

pelaksanaan

dengan

treatment

medis

dan

perawatan

E. EVALUASI
1. Diagnosa I : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau krisis
a.
b.
c.
d.
2.

perkembangan keadaan dari orang terdekat mungkin muncul ke permukaan.


Mengatur masalah
Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
Menggunakan startegi pengurangan stress
Membuat jadwal untuk rutinitas dan kegiatan keluarga
Diagnosa II : Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi tubuh

a.
b.
c.
d.
e.
3.
a.
b.
c.
d.
e.
4.

bagian atas.
Monitor lingkungan faktor resiko
Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
Monitor perubahan status kesehatan
Monitor faktor resiko individu
Diagnosa III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakseimbangan.
Menggunakan pesan tertulis
Menggunakan bahasa percakapan vocal
Menggunakan percakapan yang jelas
Menggunakan gambar/lukisan
Menggunakan bahasa non verbal
Diagnosa IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

a.
b.
c.
d.
e.
5.
a.
b.
c.
6.
a.
b.
c.
d.
e.

ketidak mampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis.


Stamina
Tenaga
Penyembuhan jaringan
Daya tahan tubuh
Pertumbuhan (untuk anak)
Diagnosa V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.
Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri
TTV dalam batas normal
Diagnosa VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif.
Monitor gejala kemunduran penglihatan
Hindari tauma mata
Hindarkan gejal penyakit mata
Gunakan alat melindungi mata
Gunakan resep obat mata yang benar

DADFTAR PUSTAKA
http://www.trinoval.web.id/2010/04/askep-labio-palato-skisis.html
http://askep-topbgt.blogspot.com/.../asuhan-keperawatan-labio-palatos
Betz, Cecily, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Jakarta ; EEC.

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba Medika.
Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama.

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.

Wong, Dona L.2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatik. Jakarta : EEC.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menurut laporan peneliti dari berbagainegara, cacat labiopalatoschizis
dapat munculdari 1 : 800 sampai 1 : 2000 kelahiran. Indonesia yang berpenduduk
200

juta

lebih,

tentu

mempunyai

dan

akan

mempunyai

banyak

kasus

labiopalatoschizis. Labiopalatoschizis merupakan kelainan bibir dan langit-langit, hal


ini biasanya

disebabkan karena perkembangan bibir dan langit-langit yang tidak

dapat berkembang secara sempurna padamasa pertumbuhan di dalam kandungan

Dimana biasanya penderita labiopalatoschizis mempunyai bentuk wajah kurang


normal dan kurang jelas dalam berbicara sehingga menghambat masa persiapan
sekolahnya.
Labiopalatoschizi sering dijumpai pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan
(Randwick, 2002) kelainan ini merupakan kelainan yang disebabkan factor
herediter, lingkungan, trauma, virus (SjamsulHidayat, 1997).
Kelainan ini dapat dilihat ketika bayi berada di dalam kandungan, melalui alat yang
disebut USG atau Ultrasonografi. Setelah bayi lahir kelainan ini tampak jelas pada
bibir dan langit langitnya.
Pada dasarnya kelainan bawaan dapat terjadi pada mulut, yang biasa disebut
labiopalatoskisis. Kelainan ini diduga terjadi akibat infeksi virus yang diderita ibu
pada kehamilan trimester 1. jika hanya terjadi sumbing pada bibir, bayi tidak akan
mengalami banyak gangguan karena masih dapat diberi minum dengan dot biasa.
Bayi dapat mengisap dot dengan baik asal dotnya diletakan dibagian bibir yang
tidak

sumbing.
Kelainan bibir ini dapat segera diperbaiki dengan pembedahan. Bila sumbing

mencakup pula palatum mole atau palatum durum, bayi akan mengalami kesukaran
minum, walaupun bayi dapat menghisap naun bahaya terdesak mengancam. Bayi
dengan kelainan bawaan ini akan mengalami gangguan pertumbuhan karena sering
menderita infeksi saluran pernafasan akibat aspirasi.keadaan umu yang kurang baik
juga akan menunda tindakan untuk meperbaiki kelainan tersebut.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Labiopalatoshizis adalah suatu keadaan terbukanya bibir dan langit langit
rongga mulut dapat melalui palatum durum maupun palatum mole, hal ini
disebabkan bibir dan langit-langit tidak dapat tumbuh dengan sempurna pada masa
pembentukan mesoderm pada saat kehamilan.
Labio/plato skisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa adanya
kelainan bentuk pada struktur wajah. Palatoskisi adalah adanya celah pada garis
tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada
masa kehamilan 7-12minggu.
Labiopalatoshizis yang terjadi sering kali berbentuk fistula, dimana fistula ini
dapat diartikan sebagai suatu lubang atau celah yang menghubungkan rongga
mulut dan hidung (Sarwoni, 2001).
Labiopalatoskisis merupakan kelainan congenital anomaly yang berupa
adanya kelainan bentuk pada struktur wajah. Kedua keadaan ini di bahas bersama
karena berhubungan sangat erat. Kelainan ini diduga terjadi pada sekitar satu
dalam 1000 kelahiran. Deformitas terbagi menjadi 3 kategori:
1. Sumbing pra alveolar, di mana yang terlibat adalah bibir, atau bibir dengan
hidung (derajat empat)
2. sumbing alveolar, dimana sumbing melibatkan bibir, tonjolan alveolar dan
biasanya palatum (derajat tiga)
3. Sumbing pasca alveolar, dimana sumbing terbatas hanya pada palatum
(derajat pertama dan kedua)

Palatoskisis lebih serius proknosanya dibandingkan dengan labioskisis. Dari


bentuknya yang terletak diantara nasofaring dengan hidung , sehingga
menimbulkan masalah dalam hal makan, memudahkan infeksi saluran pernafasan
dan infeksi telinga tengah.

Labioskisis atau clelf lip dapat terjadi berbagai derajat malformasi, mulai dari
yang ringan pada tepi bibir di kanan, di kiri atau kedua tepi bibir dari garis tengah,
sampai sumbing yang lengkap berjalan hingga ke hidung. Terdapat variasi lanjutan
dari cacat yang melibatkan palatum.

B.

Etiologi
Ada beberapa etiologi yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan Labio
palatoschizis, antara lain:

1.
2.

Faktor
Genetik
Merupakan penyebab beberapa palatoschizis, tetapi tidak dapat ditentukan dengan
pasti karena berkaitan dengan gen kedua orang tua. Diseluruh dunia ditemukan
hampir 25 30 % penderita labio palatoscizhis terjadi karena faktor herediter.
Faktor dominan dan resesif dalam gen merupakan manifestasi genetik yang
menyebabkan terjadinya labio palatoschizis. Faktor genetik yang menyebabkan
celah bibir dan palatum merupakan manifestasi yang kurang potensial dalam
penyatuan beberapa bagian kontak.

3.

Insufisiensi

zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional, baik

kualitas maupun kuantitas (Gangguan sirkulasi foto maternal).


Zat zat yang berpengaruh adalah:

Asam folat
Vitamin C
Zn
Apabila pada kehamilan, ibu kurang mengkonsumsi asam folat, vitamin C dan
Zn dapat berpengaruh pada janin. Karena zat - zat tersebut dibutuhkan dalam
tumbuh kembang organ selama masa embrional. Selain itu gangguan sirkulasi foto
maternal juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang organ selama masa
embrional.

4. Pengaruh obat teratogenik.Yang termasuk obat teratogenik adalah:


Jamu
Mengkonsumsi jamu pada waktu kehamilan dapat berpengaruh pada janin,
terutama

terjadinya

labio

palatoschizis.

Akan

tetapi

jenis

jamu

apa

yang

menyebabkan kelainan kongenital ini masih belum jelas. Masih ada penelitian lebih
lanjut
Kontrasepsi hormonal
Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi hormonal, terutama untuk
hormon estrogen yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya hipertensi
sehingga

berpengaruh

pada

janin,

karena

akan

terjadi

gangguan

sirkulasi

fotomaternal.
Obat obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama labio

palatoschizis. Obat obatan itu antara lain :


Talidomid, diazepam (obat obat penenang)
Aspirin (Obat obat analgetika)
Kosmetika yang mengandung merkuri & timah

5.

penggunaan obat pada ibu hamil harus dengan pengawasan dokter.


Faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan Labio

hitam (cream pemutih). Sehingga

palatoschizis, yaitu:
Zat kimia (rokok dan alkohol)
Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi rokok dan alkohol dapat berakibat terjadi
kelainan kongenital karena zat toksik yang terkandung pada rokok dan alkohol yang
dapat mengganggu pertumbuhan organ selama masa embrional.
Gangguan metabolik
Untuk ibu hamil yang mempunyai penyakit diabetessangat rentan terjadi kelainan
kongenital, karena dapat menyebabkan gangguan sirkulasi fetomaternal. Kadar gula
dalam darah yang tinggi dapat berpengaruh padatumbuh kembang organ selama
masa embrional.h
Penyinaran radioaktif
Untuk ibu hamil pada trimester pertama tidak dianjurkan terapi penyinaran
radioaktif, karena radiasi dari terapi tersebut dapat mengganggu proses tumbuh
kembang organ selama masa embrional.
6.

Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial . Ibu hamil yang terinfeksi
virus (toxoplasma) berpengaruh pada janin sehingga dapat berpengaruh terjadinya
kelainan kongenital terutama labio palatoschizis.

Dari beberapa faktor tersebit diatas dapat meningkatkan terjadinya Labio


palatoshizis, tetapi tergantung dari frekuensi dari frekuensi pemakaian, lama
pemakaian, dan wktu pemakaian.
Manifestasi klinis
a)
b)
c)
d)

Tampak ada celah


Adanya rongga pada hidung
Distorsi hidung
Kesukaran dalam menghisap atau makan.

C.

Patofisiologi
Cacat tebentuk pada trimester pertama, prosesnya karena tidak terbentuknya
mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (Prosesus
nasalis dan maksialis) pecah kembali.
Bibir sumbing merupakan kelainan kongenital yang memiliki prevalensi
cukup tinggi. Bibir sumbing memiliki beberapa tingkantan kerusakan sesuai organ
yang mengalami kecacatannya. Bila hanya dibibir disebut labioschizis, tapi bisa juga
mengenai gusi dan palatum atau langit-langit. Tingkat kecacatan ini mempengaruhi
keberhasilan operasi. Cacat bibir sumbing terjadi pada trimester pertama kehamilan
karena tidak terbentuknya suatu jaringan di daerah tersebut. Semua yang
mengganggu pembelahan sel pada masa kehamilan bisa menyebabkan kelainan
tersebut, misal kekurangan zat besi, obat2 tertentu, radiasi. Tak heran kelainan bibir
sumbing sering ditemukan di desa terpencil dengan kondisi ibu hamil tanpa
perawatan kehamilan yang baik serta gizi yang buruk. Bayi-bayi yang bibirnya
sumbing akan mengalami gangguan fungsi berupa kesulitan menghisap ASI,
terutama jika kelainannya mencapai langit-langit mulut. Jika demikian, ASI dari ibu
harus dipompa dulu untuk kemudian diberikan dengan sendok atau dengan botol
berlubang besar pada bayi yang posisinya tubuhnya ditegakkan. Posisi bayi yang
tegak sangat membantu masuknya air susu hingga ke kerongkongan. Jika tidak
tegak, sangat mungkin air susu akan masuk ke saluran napas mengingat refleks
pembukaan katup epiglottis( katup penghubung mulut dengan kerongkongan) mesti

dirangsang dengan gerakkan lidah, langit-langit, serta kelenjar liur. Bibir sumbing
juga menyebabkan mudah terjadinya infeksi di rongga hidung, tenggorokan, tuba
eustachius

(saluran

penghubung

telinga

dan

tenggorokan)

sebagai

akibat

mudahnya terjadi iritasi akibat air susu atau air yang masuk ke rongga hidung dari
celah sumbingnya.
1.

Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama

fase embrio pada trimester I.


2.
Terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial dan
maksilaris untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu.
3.
Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh
kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
4. Penggabungan komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa kehamilan.
D. Klasifikasi
a. Berdasarkan organ yang terlibat
Celah bibir ( labioscizis ) : celah terdapat pada bibir bagian atas
Celah gusi ( gnatoscizis ) : celah terdapat pada gusi gigi bagian atas
Celah palatum ( palatoscizis ) : celah terdapat pada palatum
b. Berdasarkan lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk
Komplit : jika celah melebar sampai ke dasar hidung
Inkomplit : jika celah tidak melebar sampai ke dasar hidung
c. Berdasarkan letak celah
Unilateral : celah terjadi hanya pada satu sisi bibir
Bilateral : celah terjadi pada kedua sisi bibir
Midline : celah terjadi pada tengah bibir
E.

Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada pasien dengan Labio palatoschizis adalah:

1)

Kesulitan berbicara hipernasalitas, artikulasi, kompensatori


Dengan adanya celah pada bibir dan palatum, pada faring terjadi pelebaran

2)

sehingga suara yang keluar menjadi sengau.


Maloklusi pola erupsi gigi abnormal
Jika celah melibatkan tulang alveol, alveol ridge terletak disebelah palatal, sehingga

3)

disisi celah dan didaerah celah sering terjadi erupsi.


Masalah pendengaran otitis media rekurens sekunder
Dengan adanya celah pada paltum sehingga muara tuba eustachii terganggu

4)

akibtnya dapat terjadi otitis media rekurens sekunder.


Aspirasi

Dengan terganggunya tuba eustachii, menyebabkan reflek menghisap dan menelan


5)

terganggu akibatnya dapat terjadi aspirasi.


Distress pernafasan
Dengan terjadi aspirasi yang tidak dapat ditolong secara dini, akan mengakibatkan

6)

distress pernafasan
Resiko infeksi saluran nafas
Adanya celah pada bibir dan palatum dapat mengakibatkan udara luar dapat masuk
dengan bebas ke dalam tubuh, sehingga kuman kuman dan bakteri dapat masuk

7)

ke dalam saluran pernafasan.


Pertumbuhan dan perkembangan terlambat
Dengan adanya celah pada bibir dan palatum dapat menyebabkan kerusakan
menghisap dan menelan terganggu. Akibatnya bayi menjadi kekurangan nutrisi

8)

sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan bayi.


Asimetri wajah
Jika celah melebar ke dasar hidung alar cartilago dan kurangnya penyangga

9)

pada dasar alar pada sisi celah menyebabkan asimetris wajah.


Penyakit peri odontal
Gigi permanen yang bersebelahan dengan celah yang tidak mencukupi di dalam
tulang. Sepanjang permukaan akar di dekat aspek distal dan medial insisiv pertama

dapat menyebabkan terjadinya penyakit peri odontal.


10) Crosbite
Penderita labio palatoschizis seringkali paroksimallnya menonjol dan lebih rendah
posterior premaxillary yang colaps medialnya dapat menyebabkan terjadinya
crosbite.
11) Perubahan harga diri dan citra tubuh
Adanya celah pada bibir dan palatum serta terjadinya asimetri wajah menyebabkan
perubahan harga diri da citra tubuh.
F.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan labio palatoschizis adalah dengan tindakan pembedahan.
Tindakan operasi pertama kali dikerjakan untuk menutup celah bibir palatum
berdasarkan kriteria rule of ten , yaitu:

a)
b)
c)
d)

Umur lebih dari 10 minggu ( 3 bulan )


Berat lebih dari 10 pond ( 5 kg )
Hb lebih 10 g / dl
Leukosit lebih dari 10.000 / ul
Cara operasi yang umum dipakai adalah cara millard. Tindakan operasi
selanjutny adalah menutup bagian langitan ( palatoplasti ), dikerjakan sedini

mungkin ( 15 24 bulan ) sebelum anak mampu berbicara lengkap sehingga pusat


bicara di otak belum membentuk cara bicara. Kalau operasi dikerjakan terlambat,
seringkali hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal ( tidak
sengau ) sulit dicapai.
Bila Ini telah dilakukan tetapi suara yang keluar masih sengau dapat
dilakukan laringoplasti. Operasi ini adlah membuat bendungan pada faring untuk
memperbaiki fonasi, biasanya dilakukan pada umur 6 tahun keatas.
Pada umur 8 -9 tahun dilakukan operasi penambalan tulang pada celah
alveolus atau maksila untuk memungkinkan ahli ortodonti mengatur pertumbuhan
gigi di kanan kiri celah supaya normal. Graft tulang diambil dari dari bagian
spongius kista iliaca. Tindakan operasi terakhir yang mungkin perlu dikerjakan
setelah pertumbuhan tulang tulang muka mendekatiselesai, pada umur 15 17
tahun.
Sering ditemukan hiperplasi pertumbuhan maksila sehingga gigi geligig
depan atas atau rahang atas kurang maju pertumbuhannya. Dapat dilakukan bedah
ortognatik

memotong

bagian

tulang

yang

tertinggal

pertumbuhannya

dan

mengubah posisinya maju ke depan.

PENUTUP

Kesimpulan

Labiopalatoschizis adalah suatu keadaan terbukanya bibir dan langit-langit rongga


mulut dapat melalui palatum durum maupun palatum mole, hal ini disebabkan bibir

dan langit-langit tidak dapat tumbuh dengan sempurna pada masa pembentukan

mesoderm pada saa tkehamilan.


Beberapa penyebab labiopalatoschizis antara lain: factor genetik, insufisiensi zat
untuk tumbuh kembang, pengaruh obat teratogenik, factor lingkungan maupunin

feksik hususnya toxoplasma danklamidial.


Labiopalatoshizis dibagi menjadi tiga klasifikasi: berdasarkan organ yang terlibat,

berdasarkan lengkap atau tidak nyacelah yang terbentuk, berdasarkan letakcelah.


Labio palatoshizis adalah suatu kelainan kongenital sehingga insidensnya adalah
kongenital. Insiden tertinggi terdapat pada orang Asia dengan prevalensi 1:1000

kelahiran.
Penatalaksanaan Labio palatoshizis adalah dengan tindakan pembedahan
Asuhan keperawatan ditegakkan untuk mengatasi masalah dan

dampak

hospitalisasi yang ditimbulkan.

5.2 Saran
Bagi

masyarakat

khusunya

ibu

hamil

dapat

sesering

mungkin

untuk

memeriksakan kehamilannya dan menghindari seminimal mungkin hal-hal yang


dapat menyebabkan terjadinya kelainan congenital pada janin atau organ yang
dikandungnya.

DAFTAR PUSTAKA

Suradi, S.Kp, dan Yuliani, Rita. S.Kp.2001. Asuhan keperawatan pada anak. PT Fajar
Interpratama, Jakarta.
Wong, Donna L.1996. Pedoman klinis keperawatan pediatrik. EGC. Jakarta
Mansyoer, Arif. Dkk.2000. Kapita selekta kedokteran. Edisi III jilid II. Media
Aesculapius FK UI. Jakarta.

Dr .Bisono, SpBp. Operasibibirsumbing.EGC. Jakarta.


Syaifuddin,H.2006. Anaomi fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta :
EGCBetz, Cecily, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Jakarta ; EEC.
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta :
SalembaMedika.
Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.Ngastiyah. 2005. Perawatan
Anak Sakit. Jakarta : EEC.
Wong, Dona L.2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatik. Jakarta : EEC.Sumber :
Betz, Cecily,. 2002. Keperawatan Pedriatik. Jakarta ; EEC