Anda di halaman 1dari 58

KELOMPOK TUGAS 1

KAJI ULANG DAN


PEMUTAKHIRAN DATABASE

1. KAJI ULANG DAN PEMUTAKHIRAN DATABASE


WAKTU: DESEMBER - JANUARI

PEMUTAKHIRAN
DATA JARINGAN
JALAN
1A

PEMUTAKHIRAN
DATA RIWAYAT
PEKERJAAN
1B

DOKUMENTASI
STUDI
1G

TUGAS

PEMUTAKHIRAN
DATA SUMBER
DAYA
1C

PEMUTAKHIRAN
PETA
1F

PEMUTAKHIRAN
DATA JEMBATAN
1D

PEMUTAKHIRAN
DATA SOSIAL
EKONOMI
1E

SURVAI
2

TUJUAN/PROSEDUR

FORMULIR

1A

PEMUTAKHIRAN DATA JARINGAN JALAN


Memutakhirkan Daftar Induk Jaringan Jalan Kabupaten setiap tahunnya
berdasarkan informasi dari hasil survai jalan (S1,S2) dan informasi pekerjaan
(K3,RPPIP)
Mengkaji-ulang pilihan ruas dari jaringan jalan yang ditetapkan sebagai
'strategis' untuk menda - patkan prioritas khusus dalam pemeliharan atau
studi untuk peningkatan

K1, K2, Peta


Jaringan Jalan
1+2

1B

PEMUTAKHIRAN DATA RIWAYAT PEKERJAAN


Memutakhirkan data pekerjaan jalan dan jembatan yang telah dilaksanakan
pada setiap ruas, untuk keperluan pemantauan dan penanganan lebih lanjut
Merangkum data pembiayaan jalan dari seluruh sumber dana setiap
tahunnya, untuk keperluan perencanaan dan pemantauan

K3, K4

1C

PEMUTAKHIRAN DATA SUMBER DAYA


Menyiapkan daftar yang sistematis mengenai sumber-daya yang tersedia
seperti; Tim Perencana jalan dan staf pelaksana, sumber material, harga
bahan/material dan upah pekerja / buruh, untuk mempersiapkan dan
melaksanakan program pekerjaan jalan

K7-K9

1D

PEMUTAKHIRAN DATA JEMBATAN


Memutakhirkan data mengenai lokasi dan karakteristik kondisi setiap jembatan
pada setiap ruas setiap tahunnya, berdasarkan hasil survai dan informasi
pekerjaan

K10

1E

PEMUTAKHIRAN DATA SOSIAL EKONOMI


Menyiapkan daftar yang sistematis mengenai data penyebaran penduduk dan
karakteristik pasar atau pusat kegiatan di setiap kecamatan untuk keperluan
studi perencanaan
Menyiapkan data statistik tata guna lahan dan data sosial ekonomi lainnya,
serta informasi mengenai sumber pembangkit lalu lintas angkutan berat dan
rencana-rencana pembangunan, untuk keperluan perencanaan

K11-K12

1F

PEMUTAKHIRAN PETA
Memutakhirkan peta jaringan jalan supaya selalu sesuai dengan data
inventarisasi jalan (K1)
Sebagai tujuan jangka panjang, menyempurnakan kualitas peta dasar
dengan menggunakan pete topografi dan pemeriksaan di lapangan.

Peta JJ 1+2+3
Peta Topo

1G

DOKUMENTASI STUDI
Menyusun dan menyimpan database, hasil survai, analisa dan program tahunan
secara sistimatis dan meringkasnya dalam bentuk laporan untuk disampaikan
dalam RATEK

Laporan, Arsip

1A.

PEMUTAKHIRAN DATA JARINGAN JALAN

PENANGGUNG JAWAB : Transport Planner


FORMULIR : K1 dan K2
RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
Tujuan utama adalah untuk meyakinkan bahwa `Daftar Induk' K1 mengenai ruas jalan adalah
benar dan selalu diperbaharui minimal sekali dalam setahun. Tugas ini sebaiknya dilakukan
terutama pada bulan Desember/Januari dengan mengacu dari hasil survai perencanaan S1/S2
dan informasi mengenai pekerjaan yang sedang dilaksanakan. Formulir K1 yang ada saat ini,
pada umumnya dihasilkan dari datadasar komputer. Karena itu, penting sekali bahwa
perbaikan-perbaikannya dibuat secara langsung pada datadasar maupun secara manual pada
lembar hasil keluaran datadasar, sehingga operator datadasar dapat melihat dengan mudah
perbaikan- perbaikan yang diperlukan. Sekarang ini sudah tidak diperlukan lagi untuk membuat
kembali secara manual atau mengetik seluruh daftar K1.

Contoh hasil keluaran komputer

dapat dilihat di bawah ini. Formulir K1 kosong, jika diperlukan untuk memasukkan data secara
manual dapat juga digunakan.
Formulir K1 terdiri atas dua bagian, yaitu data ruas dan data segmen. Data segmen perlu
diperbaiki secara berkala seperti kondisi jalan dan perubahan karakteristik, sebagai akibat
kerusakan karena hasil pekerjaan yang kurang baik atau karena kerusakan normal. Sekali
data ruas sudah ditentukan dengan benar, data tersebut tidak dapat dirubah kecuali ada
alasan-alasan yang dapat diterima.
Kaji ulang dan perbaikan secara berkala diperlukan untuk ruas strategis dan ruas jalan yang
menunjang sektor ekonomi prioritas (dengan menggunakan formulir K2). Informasi ini
dirangkum di dalam daftar K1. Jika tugas ini telah diselesaikan dengan benar, maka kaji ulang
dan perbaikan hanya diperlukan kira-kira setiap tiga tahun sekali.

1A/1. PENYELESAIAN DATA RUAS K1


Kolom 1-9 pada K1 menunjukkan data ruas yang sekali sudah ditentukan dengan benar, tidak
boleh dirubah-rubah lagi :
Kolom 1

: Nomer ruas

Kolom 2

: Nama pangkal ruas

Kolom 3

: Nama ujung ruas

Kolom 4

: Titik pengenal pangkal

Kolom 5

: Titik pengenal ujung

Kolom 6

: Panjang ruas

Kolom 7

: Fungsi jalan (sektor ekonomi yang dilayani)

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 1

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 2

Kolom 8

: Status administrasi ruas

Kolom 9

: Kecamatan yang dilayani

Nomer Ruas
Setiap ruas yang telah ditentukan di Kabupaten harus diberi tanda dengan angka bulat
(misalnya 02, 33). Jangan membuat nomer ruas dalam bentuk 02.1, 02.2, 33.1, 33.2 dan
sebagainya. Jangan menggunakan bentuk gabungan angka dan huruf, misalnya : 45 A, 45 B;
ataupun menggunakan campuran antara angka bulat dan desimal, misalnya : 45, 45.1 untuk
membedakan ruas jalan yang berkelanjutan.
Jangan mengganti nomer ruas kecuali untuk alasan yang sangat khusus.

Sekali sudah

ditentukan, maka nomer ruas tersebut harus dipertahankan. Penggantian nomer ruas dapat
menimbulkan keraguan dalam pembacaan peta dan datadasar komputer.
Ruas-ruas baru yang sebelumnya tidak bernomer atau tidak masuk dalam K1, biasanya diberi
nomer lanjutan dari nomer terakhir yang ada sebelumnya, misalnya bila selama ini ada 100
ruas, maka ruas berikutnya harus diberi nomer 101. Sebagai alternatif apabila ada urutan
nomer ruas yang belum terpakai, maka nomer tersebut dapat digunakan; misalnya nomer yang
ada 1 kemudian 3, maka gunakan nomer 2 untuk nomer ruas baru.
Sebagai alternatif lain bila tidak ada kejelasan mengenai status resmi suatu ruas, maka dapat
digunakan nomer kode sementara yang dapat dipakai sebagai patokan, misalnya sebagai
berikut:
400

Jalan Kota (yaitu 401, 402, 403, ... dan seterusnya)

500

Jalan Irigasi

600

Jalan Baru

700

Jalan Transmigrasi

800

Jalan Perkebunan/PIR atau Jalan Kehutanan/Angkutan Kayu

900

Jalan Desa

BM

Jalan Negara/Propinsi atau Jalan Toll (gunakan nomer jalan Bina Marga yang
sudah ditetapkan).

Bila kabupaten menginginkan, nomer ini dapat diganti dengan nomer-nomer yang tetap. Namun
ini hanya dapat dilakukan bila nomer-nomer tersebut secara resmi disetujui dan setelah survai
perencanaan dilaksanakan. Bersamaan dengan itu, maka data pada peta dan pada semua
yang berkaitan dengan datadasar juga harus diganti.
Di dalam datadasar, nomer-nomer ruas telah digabung dengan kode-kode Kabupaten dan
Propinsi yang mengikuti sistim pemberian kode BPS (Lampiran 2). Semua ini dapat dilihat
pada bagian atas formulir K1 disisi nama Propinsi dan Kabupaten (misalnya : Aceh (11), Aceh
Selatan (01).

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 3

Nama Ruas
Setiap ruas jalan harus diberi nama pangkal dan nama ujung yang khas, yang biasanya
berdasarkan nama pemukiman setempat.

Titik pangkal ruas (yang biasanya ditentukan

sebagai km 0,0 ruas) biasanya merupakan titik yang paling sibuk pada ruas tersebut. Yang
lebih penting lagi adalah, sekali nama ruas sudah ditentukan maka nama tersebut tidak boleh
dirubah kecuali dengan alasan yang benar-benar dapat diterima. Perubahan tersebut dapat
menyebabkan kekacauan dalam datadasar komputer dan dalam pembacaan peta.
Cara penentuan nama dan nomer ruas yang benar dan yang salah, diilustrasikan dalam
gambar 1A1 berikut :

Gambar 1A1. CONTOH KESALAHAN DALAM PEMBERIAN NOMOR DAN NAMA RUAS

PETA

NO
RUAS

SALAH
NAMA
RUAS

NO
RUAS

BENAR
NAMA
RUAS

Alam
Citra
2

Alam

Bisa

Alam

Bisa

Alam-Bisa

2
45

Bisa-Alam
Dadu-Citra

2
45

Alam-Bisa
Citra-Dadu

2
45

Alam-Bisa
Alam-Dadu

2
45

Alam-Bisa
Citra-Dadu

Dadu

45

Citra

Alam-Citra
Citra-Bisa

Dadu

45

Citra

2.1
2.2

Bisa

Titik Pengenal Ruas Jalan


Titik pangkal dan ujung setiap ruas jalan harus ditentukan secara jelas terhadap titik pengenal
di lapangan, seperti misalnya nama tempat dan patok kilometer.

Sedapat mungkin, titik

pengenal atau simpul tersebut merupakan persimpangan dengan satu atau lebih ruas jalan lain
dan ditentukan dengan nomer ruasnya, misalnya titik pangkal dan ujung ruas jalan 45 pada
sket di bawah ini ditentukan sebagai (02/02) dan (46/47).

47
45

02

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

46

1A - 4

Persimpangan dengan ruas jalan negara atau propinsi dinyatakan dengan pal km jalan raya
yang diukur dari patok kilometer terdekat dengan kota pengenal (biasanya ibukota propinsi),
misalnya :

JN. Km 14,5 Med.


ke Medan

40

Km 14.0

Km 15.0

Pada kasus jalan buntu atau ruas jalan tanpa persimpangan beri tanda yang jelas pada titik
dimana nomer ruas jalan itu berubah, dengan menggunakan titik pengenal di lapangan dan
cantumkan pada bagian atas dari formulir S1, misalnya sekolah atau kantor atau tanda batas
administratif yang jelas seperti contoh berikut :
SD Kampung Baru
KC Bayah
MSJ P. Lawas
BTS KAB
KD Kulon

:
:
:
:
:

Sekolah Dasar di Kampung Baru


Kantor Camat di Bayah
Mesjid di P. Lawas
Batas Kabupaten
Kantor Desa Kulon

Titik pengenal seperti `desa' saja tidak memadai untuk diketahui secara jelas batasnya.
Demikian pula `jembatan' sebagai titik pengenal ruas agar dihindari. Harap diperhatikan bahwa
ruas jalan buntu biasanya berakhir di dalam pusat pemukiman dan jangan dilanjutkan ke arah
lahan pertanian yang akan berakhir pada suatu jalan setapak.
Cara penentuan titik pengenal ruas yang benar dan yang salah diilustrasikan pada Gambar
1A2.
Gambar 1A2. CONTOH KESALAHAN DALAM PENENTUAN TITIK PENGENAL

PETA

NO
RUAS

NAMA RUAS
(PANGKAL/
UJUNG)

Alam

46

Esa

45

Citra

TITIK PENGENAL
SALAH
BENAR

Km
Alam
Km

Citra
2

Esa

46

47

JN.KM 20.6
BGR

Bisa

45
Dadu

JN
(Jalan Negara)

Jln. Desa
Bts. Desa
Desa Esa
Kampung Esa

Mesjid Esa

46

2
Citra

Dadu
45

2/2

47

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 5

Klasifikasi Fungsi Jalan


Semua ruas harus ditentukan fungsinya berdasarkan sektor ekonomi yang dilayani, yang akan
dipakai sebagai alat untuk memantau perkembangan jaringan jalan serta sebagai alat bantu
dalam pemilihan proyek yang berkaitan dengan petunjuk kebijaksanaan tingkat Negara. Untuk
setiap ruas hanya ditentukan satu fungsi saja sebagai berikut :
JJS

: Ruas jaringan jalan strategis (lihat prosedur 1A/3)

TRAN : Melayani kawasan transmigrasi


PIR

: Melayani kawasan perkebunan inti rakyat

NMG : Melayani kegiatan ekspor non migas seperti perkebunan besar


PAR : Melayani proyek atau kawasan pariwisata
JI

: Melayani proyek irigasi atau daerah penghasil utama padi

UH

: Melayani wilayah kehutanan/jalan untuk mengangkut kayu gelondongan

KOTA : Melayani jalan kota


LU

: Untuk pelayanan umum

Kecuali untuk fungsi pelayanan umum atau jalan kota, fungsi ekonomi lainnya harus ditunjang
oleh dokumen pendukung sesuai dengan jenis dan skala kegiatan yang dilayani, dengan
menggunakan baik itu K2 untuk ruas- ruas strategis, ataupun survai S6 untuk sektor-sektor
tertentu.
Peraturan Pemerintah (PP No. 26/1985) menjelaskan bahwa sebagian besar jalan kabupaten
juga ditentukan fungsinya sebagai jalan `lokal' yang menghubungkan antara `pusat' dengan
daerah pemukiman (persil), atau menghubungkan antar pusat orde ke-tiga ; sebagian kecil
jalan kabupaten ditentukan sebagai jalan `kolektor' yang menghubungkan antar pusat orde kedua atau pusat orde ke dua dan ketiga.

Status Administrasi Ruas Jalan


Telah dibuat kode huruf yang menunjukkan kedudukan hukum secara administratif atau yang
bertanggung jawab terhadap suatu ruas jalan.
K

Kabupaten

Desa

Perkebunan

Kehutanan/angkutan balok kayu

Transmigrasi

Irigasi/pengairan

BM :

Propinsi/Negara/Toll

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 6

Kecamatan
Suatu kecamatan yang dilayani atau dilewati oleh suatu ruas jalan, harus ditentukan namanya
untuk membantu penggambaran ruas pada peta dan sebagai alat bantu dalam pemilihan
proyek dimana masalah pemerataan harus diperhatikan. Bila suatu ruas melewati lebih dari
satu kecamatan, tentukan salah satu saja yang terpenting atau yang mencakup bagian ruas
terpanjang.

Panjang Ruas
Panjang ruas yang didasarkan pada pengukuran dengan pita ukur atau odometer yang telah
disesuaikan harus dibulatkan menjadi per 100 m. Perbedaan dalam pengukuran dapat terjadi
meskipun dengan menggunakan odometer yang telah disesuaikan. Jangan terus merubah
panjang ruas, sebagai hasil dari beberapa kali survai dengan kendaraan dalam batas 10% dari
data yang ada di K1. Namun panjang ruas harus segera diperbaiki, setelah pengukuran disain
selesai dilaksanakan.

1A/2. PENYELESAIAN DATA SEGMEN DARI KI


Kolom 10 - 19 dalam K1 mencatat segmen atau data bagian ruas yang secara berkala perlu
diperbaharui bila kondisi jalan berubah.
Kolom 10 :

Pal km awal dan akhir ruas

Kolom 11 :

Lebar perkerasan

Kolom 12 :

Tipe dan kondisi permukaan jalan

Kolom 13 :

Kode hambatan lalu lintas

Kolom 14 :

Bulan - Tahun survai perencanaan terakhir

Kolom 15 :

Tahun pelaksanaan pekerjaan terakhir (PK dan MP)

Kolom 16 :

Kelas rencana lalu lintas (KRLL)

Kolom 17 :

Total LHR kendaraan roda-4 untuk penentuan KRLL

Kolom 18 :

Total LHR ekivalen roda-4 untuk Penaksiran Manfaat

Kolom 19 :

Jumlah penduduk yang dilayani

Kolom 20 :

Bulan -Tahun Perubahan data terakhir kali

Kolom-kolom 17-20 tidak termasuk dalam K1 yang dibuat secara manual, namun dimasukkan
ke dalam datadasar K1 dan merupakan pilihan untuk versi K1 keluaran datadasar.

Pal Kilometer
Pal kilometer untuk jalan kabupaten belum biasa digunakan. Karenanya titik pangkal dan ujung
suatu bagian ruas harus ditentukan dengan pal km yang diukur dengan pita ukur atau dengan
odometer kendaraan yang telah disesuaikan di sepanjang ruas.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 7

Pengukuran tersebut harus dimulai dari titik pangkal yang telah ditentukan dan diberi tanda
sebagai Km 0,0, misalnya :
Ruas No

Panjang total :

6,6 km

Segmen 1

Km 0,0 - 3,5

aspal baik

Segmen 2

Km 3,5 - 6,6

aspal rusak

Perlu diperhatikan bahwa jumlah panjang seluruh segmen harus sama dengan total panjang
ruas.
Jangan menggunakan pal km yang diukur dari kota Kabupaten atau kota Propinsi. Sistim ini
akan mudah menyebabkan kekacauan bagi ruas jalan kabupaten yang pendek dan bagi
jaringan jalan.

Lebar Perkerasan
Lebar rata-rata perkerasan suatu ruas harus dicatat dalam `Meter' dengan pembulatan paling
kecil 0,5 meter. Bahu jalan tidak dimasukkan kecuali untuk jalan tanpa perkerasan, dimana
tidak jelas seberapa lebar bahunya. Jalan setapak dapat dicatat dengan lebar nominal, yakni
satu meter (1,0 m).

Tipe dan Kondisi Permukaan


Tipe permukaan harus ditentukan menurut kategori di bawah ini :
A

: Aspal

: Batu

: Kerikil

: Tanah

: Beton

Kondisi permukaan rata-rata suatu

segmen, terutama yang

mencerminkan kualitas

berkendaraan (kenyamanannya) atau kekasarannya, ditentukan menurut kategori berikut :


B

: Baik

: Sedang

SR : Sedang/Rusak
R

: Rusak

RB : Rusak Berat

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 8

Hambatan Lalu Lintas


Setiap segmen harus ditentukan tingkat aksesnya terhadap kendaraan roda-4, dengan
menggunakan kode angka (kode akses dari formulir A3 bila sudah ada) atau kode huruf
sebagai berikut :
Terbuka untuk kendaraan roda-4 sepanjang tahun

TB

TB/TMH

Tertutup untuk kendaraan roda-4 pada musim hujan

TMH

Tertutup untuk kendaraan roda-4 sepanjang tahun

TST

Tertutup juga untuk sepeda motor

TST

Tertutup untuk kendaraan roda-4 selama 2-6 minggu/tahun

Bulan-Tahun Survai Perencanaan Terakhir


Data ini harus ditunjukkan dengan bulan dan tahun, misalnya 6/94 dari studi perencanaan
S2/A1 terakhir, atau dari pelaksanaan survai lalu lintas terakhir (untuk ruas yang berkondisi
baik/sedang) namun bukan dari survai S1 yang dilakukan setiap tahun pada semua ruas yang
kondisinya baik/sedang.

Tahun Pelaksanaan Pekerjaan Terakhir (PK dan MP)


Catat dalam kolom ini (15.1) tahun program pelaksanaan pekerjaan berat terakhir (PK),
misalnya 93 (tahun program 1993/94).

Tidak perlu memberikan bulan awal dan akhir

pelaksanaan pekerjaan.
Pada versi K1 yang baru, disediakan kolom data yang kedua (15.2) untuk mencatat pekerjaan
pemeliharaan periodik yang terakhir (overlay/ pelapisan ulang).

Kelas Rencana Lalu Lintas (KRLL)


Datadasar K1 juga mempunyai kolom data untuk Kelas Rencana Lalu Lintas (KRLL). Data ini
diperoleh dari data lalu lintas beserta studi perencanaan yang berkaitan dan menunjukkan
perkiraan kisaran lalu lintas harian rata-rata roda-4 (LHR) bila jalan tersebut telah ditingkatkan
atau sudah dalam kondisi baik/sedang.
KRLL 1 : LHR < 50
KRLL 2 : LHR 51 - 200
KRLL 3 : LHR 201 - 500
KRLL 4 : LHR 501 - 1500
KRLL 5 :

LHR > 1500

Penambahan satu angka di belakangnya (.1, .2 atau .3) menunjukkan bagian dari jumlah truk
sedang dan berat dalam lalu lintas tersebut (lihat tugas 4B).

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 9

Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR)


Datadasar K1 mempunyai kolom data untuk pencatatan total LHR kendaraan roda-4 yang ada
(17) dan LHR kendaraan roda-4 ekivalen termasuk sepeda motor dan lalu lintas bukan
bermotor (18) yang tercatat dalam penghitungan lalu lintas.

Kependudukan
Dalam datadasar K1 juga disediakan kolom data untuk mencatat jumlah penduduk yang
dilayani oleh suatu segmen yang terangkum dalam lembar analisa A3.

Bulan-Tahun Perubahan Data K1 Terakhir


Datadasar K1 mempunyai kolom data untuk pengisian bulan/tahun dari setiap perbaikan yang
dibuat pada formulir K1. Hal ini tercatat secara otomatis dari data entry.
Perlu dicatat bahwa pada versi hasil komputer, biasanya dicantumkan pula tanggal di bagian
atas, misalnya "Edisi April 1993". Ini menunjukkan bahwa sebagian besar perubahanperubahan segmen yang baru harus sudah dibuat dalam kwartal pertama 1993. Hasil cetakan
komputer juga mencantumkan tanggal pencetakan pada bagian kanan atas.

1A/3. PENENTUAN JARINGAN JALAN STRATEGIS (K2)


Tujuan
Tujuan pokok dari tugas ini adalah untuk menentukan rute jalan kabupaten yang akan
mendapat prioritas tertinggi untuk pekerjaan pemeliharaan, atau bila sesuai untuk pekerjaan
rehabilitasi atau peningkatan. Sekali pemilihan rute ini dilakukan dengan benar, maka kaji ulang
dan perbaikannya (jika diperlukan) cukup dilakukan kira-kira setiap tiga tahun sekali saja.
Target utamanya adalah menentukan jaringan jalan strategis sekitar 20 persen

dari total

jaringan jalan yang ada di kabupaten (tidak termasuk jalan negara/propinsi) dengan batas
maksimal 150 km tiap kabupaten.

Kriteria
Jaringan jalan strategis itu harus mencakup jalur utama yang melayani hubungan antar
berbagai bagian di dalam kabupaten yang sesuai dengan kriteria sebagai berikut :
(i)

Ruas jalan yang umumnya bersifat antar kota, yaitu menghubungkan kota kabupaten
dengan pusat-pusat administrasi pemerintahan seperti kota kecamatan, dan pusat-pusat
kegiatan ekonomi seperti pasar utama ; ini akan meliputi jalan `kolektor' yang
menghubungkan kota 'orde' kedua dan ketiga (seperti yang ditetapkan menurut
peraturan yaitu : PP No. 26, 1985).

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 10

(ii)

Ruas jalan alternatif yang salah satunya sudah ditetapkan dan memenuhi hubungan
yang memadai, tidak termasuk dalam kriteria ini.

(iii) Ruas jalan yang biasanya sudah menampung tingkat lalu lintas tinggi (atau berpotensi
tinggi pada wilayah yang jaringannya belum berkembang secara penuh) ; pada
kenyataannya tingkatan ini bisa berbeda, misalnya, mulai dari di atas 500 LHR di daerah
padat penduduk di Pulau Jawa sampai di atas 50 LHR di daerah kurang berkembang di
pulau lain.
(iv) Ruas jalan yang biasanya sudah diaspal, kecuali pada daerah yang jaringan jalannya
belum dikembangkan.
(v)

Ruas jalan yang melayani sumber-sumber penyebab meningkatnya lalu lintas selain
perkotaan, seperti sumber material besar, pabrik atau daerah perkebunan, dapat pula
masuk ke dalam kriteria ini asalkan ruas jalannya terbuka bagi lalu lintas umum.

(vi) Ruas jalan yang melayani pangkalan jenis angkutan lain (yakni ruas menuju pelabuhan
laut atau sungai, lapangan udara, atau stasion KA)
(vii) Ruas jalan yang pendek (yakni kurang dari 5 km), tapi bukan bagian dari rute lanjutan,
tidak termasuk dalam kriteria ini (kecuali pada vi)
(viii) Ruas jalan di daerah perkotaan tidak termasuk dalam kriteria ini, kecuali kalau ruas
tersebut

merupakan

bagian

dari

rute

lanjutan

jaringan

jalan

strategis

yang

menghubungkan dua pusat kota.


(ix) Ruas jalan utama antar kabupaten bisa dimasukkan apabila tidak ada jalan
negara/propinsi yang memadai untuk jalur tersebut.
(Perlu diketahui bahwa bagian ruas jalan negara/propinsi yang berada di dalam kabupaten
secara otomatis merupakan bagian dari jaringan jalan strategis, walaupun pemeliharaan atau
peningkatannya tidak masuk ke dalam program jalan kabupaten).
Perlu dicatat, bahwa istilah strategis disini didasarkan atas konsep ekonomi. Berbeda halnya
dengan istilah `strategis keamanan' yang mengacu pada jalan khusus dengan fungsi keamanan
negara, seperti jalan yang berdekatan dengan batas negara : jalan seperti ini tidak tercakup
dalam prosedur ini.

Prosedur
Pada formulir K2 dan Peta Jaringan Jalan 2 (lihat tugas 1F), tentukan ruas jalan yang akan
diusulkan menjadi bagian dari jaringan jalan strategis sesuai langkah-langkah berikut :
(1)

Kelompok A : Beri tanda di peta tersebut dan juga pada formulir K2 semua ruas jalan
negara

dan propinsi, termasuk nomernya sesuai dengan yang telah

dibuat

Bina

Marga. Informasi ini mungkin bisa diperoleh dari DPU Propinsi.


(2)

Kelompok B : Beri tanda dan cantumkan ruas terpendek atau terdekat yang ada yang
menghubungkan tiap kota kecamatan ke jalan negara/propinsi dan atau ke ibukota
kabupaten. Perhatikan: rute baru secara umum tidak dapat dimasukkan terkecuali bila
penghematan jarak tempuhnya ke kota kabupaten mencapai paling sedikit 50 persen

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 11

dari jarak tempuh lewat jalur yang sudah ada; perhatikan juga bahwa rute baru itu
memerlukan studi khusus yang justru memperlambat penyertaannya dalam program
kerja). Catat pada formulir K2 nama kota yang dilayani ruas jalan itu, instansi mana
yang bertanggung jawab untuk pemeliharaannya dan data informasi tentang kondisi
perkerasan serta keterbukaan ruas jalan itu (dari formulir K1).
(3)

Kelompok C : Beri tanda pada satu jalur langsung yang menerus dan wajar yang
merupakan penghubung antar kota kabupaten dengan setiap ibukota kabupaten
tetangganya dan cantumkan ruas jalur itu jika belum tercatat pada kelompok A atau B.
Biasanya ini terdiri atas jalur jalan yang sudah ada; jalur baru hanya akan diterima bila
terjadi penghematan jarak tempuh paling sedikit 50 persen dari yang ada; dan
perhatikan juga bahwa untuk

jalur baru memerlukan studi khusus yang dapat

menghambat pernyertaannya dalam program ini. Bagian-bagian ruas penghubung antar


kabupaten yang bertetangga ini harus ditentukan sebagai jalur strategis.
(4)

Kelompok D : Beri tanda dan cantumkan kemungkinan pilihan lain untuk masukan bagi
jalur strategis, yakni:
-

ruas jalan lain yang melayani lalu lintas tinggi yang secara khusus merupakan ruas
jalan langsung penghubung dua bagian penting di dalam daerah kabupaten.

ruas jalan lain ke arah jalan

negara / propinsi atau ibukota kabupaten dari

sumber-sumber penyebab lalu lintas tinggi (perlu dijelaskan apa) selain ke kota
kecamatan.
(5)

Periksa bahwa total (B+C+D) sama dengan atau tidak lebih dari 20 persen dari total
jaringan jalan kabupaten (dari K1) atau sebanyak- banyaknya 150 km, tidak termasuk
ruas jalan berprioritas rendah bila total tersebut sudah melebihi target.

(6)

Kaji kembali dan sesuaikan usulan itu seperlunya pada waktu konsultasi dengan instansi
terkait tingkat propinsi (yakni Biro Bangda TK I, Bappeda TK I, DPUP) dan kalau ada
dengan konsultan pembimbing, khususnya untuk penentuan :
-

status yang sebenarnya dari ruas jalan kabupaten yang kemungkinannya dalam
waktu dekat akan menjadi jalan propinsi untuk keperluan perencanaan pekerjaan,
termasuk terutama usulan ruas baru.

pandangan tingkat propinsi terhadap perkembangan yang sesuai dari ruas jalan
antar kabupaten. Umumnya, dana dan sumber daya kabupaten seharusnya tidak
dialokasikan ke ruas-ruas yang dalam waktu dekat menjadi status propinsi.

(7)

Tunjukkan

pada formulir K1 (kolom 7) ruas jalan yang termasuk dalam klasifikasi

jaringan jalan strategis (JJS).

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 12

USULAN JARINGAN JALAN STRATEGIS


PROPINSI

KABUPATEN

SUMATERA UTARA
LABUHAN BATU

K2
1:2

DIISI OLEH

TANGGAL : 5 - 12 - 1998

GT. SINAGA

NO
RUAS

Km
SEGMEN

NAMA RUAS

PANJANG
(Km)

TIPE &
KONDISI
PERMUKAAN

LEBAR
(m)

HAMBATAN
LALU LINTAS

LHR
KEND.
RODA4
/Tahun

STATUS
ADMINIS
TRASI

KOTA UTAMA /
AKTIVITAS
YANG DILAYANI

10

(A) BAGIAN JALAN NEGARA DAN JALAN PROPINSI (YANG BERADA DI KABUPATEN). Data dari DPU/DPU Bina Marga Propinsi / K1 kolom : 1 - 9

057 0.0 - 65.7 R.Prapat- B.Durian- Bts.K65.7

AB

TB

JP

058 0.0 - 20.0 R. Prapat - A. Nabara

20.0

AB

TB

JP

059 0.0 - 69.0 A. Nabara - Lb. Bilik

69.0

AS

TB

JP

060 0.0 - 33.0 A. Nabara - Kt. Pinang

33.0

AB

TB

JP

061 0.0 - 30.2 Kt.Pinang- L.Payung- Bts30.2

AS

TB

JP

083 0.0 - 32.6 Kt. Pinang - Bts. Propins 32.6

AB

TB

JP

(B) RUAS JALAN PENGHUBUNG TIAP KOTA KECAMATAN KE KOTA KABUPATEN (SATU RUTE SAJA). Data sesuai dengan daftar K1 kolom : 1 - 17

0.0 - 8.0

Sigambal - Sp. Rintis

8.0

AR

3.5

TB

11

0.0 - 3.4

Sp. Merbau - Merbau

3.4

AB

3.5

TB

21

0.0 - 12.9 Lb. Bilik - Sei. Beromba 12.9

AR

3.5

TB

22

0.0 - 3.4

Tolan - Tj. Medan

3.4

AS

3.5

TB

23

0.0 - 7.1

G. Saga - Tj. Pasir

7.1

AS

3.5

TB

24

0.0 - 8.4

Tj. Pasir - A. Naetek

8.4

KS

3.5

TB

31

0.0 - 7.6

Sp. Rintis - Bilah Hulu 7.6

AR

3.5

TB

37

0.0 - 9.3

A. Naetek - K. Bangka

9.3

KS

3.5

TB

38

0.0 - 9.7

K. Bangka - Kp. Mesjid 9.7

KR

3.5

TB

(C) RUAS JALAN ANTAR KABUPATEN (BAGIAN YANG BERADA DI KABUPATEN). Data sesuai dengan daftar K1 kolom : 1 - 17

70

0.0 - 11.6 Parisa - Simandiangin

71

0.0 - 13.0 Simandiangin - Manomp13.0

11.6

AR

3.5

TB

KRB

3.5

TB

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

1A - 13

USULAN JARINGAN JALAN STRATEGIS


PROPINSI
KABUPATEN

: SUMATERA UTARA
: LABUHAN BATU

Km
SEGMEN

2:2
TANGGAL : 5 - 12 - 1998

DIISI OLEH : G.T. SINAGA


TIPE &

NO
RUAS

K2

NAMA RUAS

LHR

STATUS

PAN-

KONDISI

LE-

BATAN

KEND.

ADMINIS

KOTA UTAMA / AKTIVITAS

JANG
(Km)

PERMUKAAN

BAR
(m)

LALU LINTAS

HAM-

RODA4
/Tahun

TRASI

YANG DILAYANI

10

(D) PILIHAN / TAMBAHAN LAIN ; Data disesuaikan dengan daftar K1 kolom : 1 - 17

01

0.0 - 11.6 Tl. Nipah - Binjai

11.6

AB

3.5

TB

02

0.0 - 15.2 Palo - Siluman

15.2

AS

3.5

TB

NMG

05

0.0 - 7.3

7.3

AS

3.5

TB

NMG

32

0.0 - 10.9 Gapuk - Bilah Hulu

10.9

ARB

3.5

TB

69

0.0 - 6.8

6.8

KRB

3.5

TMH

Merbau - Siluman

Kp. Mesjid - Kulim

PANJANG MAKSIMUM (Km)


JARINGAN JALAN STRATEGIS
KABUPATEN

J
U
M
L
A

JJS = (0,2 x K) = 170.0 Km

250.5

69.8

24.6

51.8
94.4
146.2

B+C
B+C+D
K1
TOTAL

850.0

TIPE DAN KONDISI JARINGAN JALAN STRATEGIS - JALAN KABUPATEN


(JUMLAH BAGIAN B,C,D DIATAS)
(Km)
BAIK SEDANG RUSAK
TMH
TST
JUMLAH
ASPAL

15.0

33.0

51.0

17.7

29.5

50.7

80.5

BETON
KERIKIL
BATU

TANAH
JUMLAH

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Datadasar

15.0

6.8

99.0
0.0
47.2
0.0
0.0
146.2

1A - 14

1B. PEMUTAKHIRAN DATA RIWAYAT PEKERJAAN


PENANGGUNG JAWAB : Transport Planner
FORMULIR : K3 dan K4
RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
Tujuannya adalah untuk menyusun dan menjaga tersedianya catatan mengenai pekerjaanpekerjaan yang telah dilakukan pada setiap ruas dari jaringan jalan setiap tahunnya. Ini sangat
penting untuk membuat perencanaan yang sistematis, terutama untuk pekerjaan pemeliharaan
dan untuk membantu dalam pemantauan keefektifan program pekerjaan. Informasinya bisa
didapat terutama dari data anggaran (RPPIP2) atau dari data kontrak yang harus memuat
semua sumber dana untuk jalan kabupaten, termasuk diantaranya semua pekerjaan jalan yang
dibiayai oleh Inpres Dati II. Formulir K3 digunakan dalam menyusun rincian per ruas untuk
setiap tahun program. Formulir K4 merupakan rangkuman semua dana untuk jalan kabupaten
per tahun serta cakupan pekerjaannya untuk beberapa tahun. Data riwayat pekerjaan per
segmen juga diringkaskan dalam formulir K1 dan P1. Formulir K3 dan K4 harus selalu
dimutakhirkan pada bulan April setelah anggaran biaya diketahui dan diperbaiki pada bulan
Januari tahun berikutnya untuk memperhitungkan pelaksanaan yang sebenarnya. Prioritas
utama harus ditujukan dalam hal pencatatan secara rinci semua pekerjaan berat dan
pemeliharaan berkala.
Untuk selanjutnya K3 akan disusun sebagai bagian dari database komputer, meskipun formulir
untuk pemasukkan data secara manual mungkin juga akan diperlukan. Suatu contoh hasil hasil
keluaran komputer dapat dilihat di halaman berikut ini.

1B/1. PENYELESAIAN FORMULIR K3


Formulir K3 harus dibuat secara terpisah untuk setiap ruas jalan. Rincian dari semua pekerjaan
pada ruas tersebut harus didaftar secara berurutan setiap tahun program. Formulir dalam
bentuk manual maupun dalam bentuk database komputer telah tersedia. Formulir K3
mencakup hal- hal di bawah ini :
Bagian atas : Nomer, panjang, nama pangkal dan ujung ruas.
Kolom 1 :

Tahun Program Pekerjaan

Kolom 2 :

Panjang Pekerjaan Jalan

Kolom 3 :

Pal Km Awal dan Akhir Segmen Pekerjaan Jalan

Kolom 4 :

Jenis Pekerjaan Jalan

Kolom 5 :

Tipe Lapisan Permukaan Pekerjaan Jalan

Kolom 6 :

Lebar Perkerasan Pekerjaan Jalan

Kolom 7 :

Biaya Pekerjaan Jalan

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1B - 1

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1B - 2

Kolom 8 :

Biaya Pekerjaan Jalan/Km

Kolom 9 :

Nomor Urut Jembatan (9.1) atau

jumlah jembatan yang mendapatkan pekerjaan (9.2)


Kolom 10 :

Jenis Pekerjaan Jembatan

Kolom 11 :

Panjang dan Lebar Jembatan

Kolom 12 :

Biaya Pekerjaan Jembatan

Kolom 13 :

Jumlah Seluruh Biaya Pekerjaan

Kolom 14 :

Sumber Dana

Kolom 15 :

Tanggal Dimulainya Pekerjaan

Kolom 16 :

Tanggal Selesainya Pekerjaan

Kolom 17 :

Status Proyek

Kolom 18 :

Sumber dan Tanggal Data

Kolom 19 :

Catatan

Cakupan dan format K3 hampir mendekati bentuk format dokumen biaya RPPIP/HR (lihat tugas
5F).
Kotak-kotak di bagian atas dari formulir K3 harus mencatat data ruas jalan dalam format yang
tepat sama dengan K1. Perlu diperhatikan bahwa nama dan nomer ruas yang digunakan harus
sama dengan yang tertera pada K1, meskipun nama yang dipakai dalam kontrak adalah
berbeda.
Kolom 1 menunjukkan Tahun Program Pekerjaan dalam bentuk misalnya : 94/95.
Kolom 2-8 merangkum rincian pekerjaan jalan : Pal Km segmen diukur dengan cara yang sama
seperti pada K1, namun segmen-segmen pekerjaan mungkin berbeda dengan yang tercatat
dalam K1 yang ada. Panjang pekerjaan (kolom 2) harus sama dengan selisih antara kolom
(3.1) dan (3.2).
Jenis pekerjaan diberikan dengan kode standar sebagai berikut :
PK : Pekerjaan Berat atau Peningkatan
MP : Pemeliharaan Berkala/Periodik
MR : Pemeliharaan Rutin
PB : Pembangunan Baru
RE : Rehabilitasi
Lebar perkerasan (kolom 6) adalah lebar yang diusulkan dalam pekerjaan tanpa memasukkan
lebar bahu jalan. Jenis permukaan jalan yang diusulkan ditentukan secara rinci dengan
menggunakan, misalnya kode-kode berikut ini :

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1B - 3

PMA

Penetrasi Macadam (Lapen)

LKP : Kerikil Padat Tertutup (Kepatup)


TAB : Lapis Tipis Aspal Beton (HRS)
Bila rincian mengenai lapisan permukaan belum diketahui, cukup gunakan A (lapisan aspal)
atau K (kerikil).
Jumlah seluruh biaya pekerjaan harus merupakan biaya kontrak termasuk pajak (kolom 14
harus memperjelas dengan menyatakan sumber datanya). Biaya jalan/km dihitung secara
otomatis oleh komputer dengan membagi kolom 7 dengan kolom 2.
Kolom 9 sampai 12 menunjukkan pekerjaan jembatan. Untuk jembatan- jembatan besar dapat
dicatat secara tersendiri. Bila ada sejumlah jembatan yang lebih kecil yang menerima pekerjaan
sebagai bagian dari kontrak pekerjaan jalan, maka dapat diberikan data jumlah dari seluruh
pekerjaan jembatan. Bila ditemukan jembatan yang berdiri sendiri, masukkan (bila mungkin) pal
km jembatan tersebut dalam kolom 3.1, urutan nomor jembatan dari formulir K10 di kolom 9.1,
jenis pekerjaan jembatan di kolom 10, panjang dan lebar jalur jembatan dalam meter di kolom
11, dan biaya pekerjaannya dalam kolom 13.
Bila informasi untuk beberapa jembatan digabung, masukkan jumlah jembatan yang
bersangkutan dalam kolom 9.2, gabungan panjangnya (namun bukan lebar) ke dalam kolom 11
dan gabungan biayanya dalam kolom 12. Jangan masukkan lokasi pal km-nya, nomor urutnya
atau jenis pekerjaannya (kecuali pekerjaan itu sama untuk semua jembatan).
Jenis

pekerjaan

jembatan

harus

ditentukan

dengan

menggunakan

kode

standar

(PBJ/PAJ/PJJ/JL).
Gabungan pengeluaran untuk jalan dan jembatan untuk pekerjaan dalam satu segmen harus
dimasukkan dalam kolom 13.
Isikan sumber dananya dalam kolom 14 dengan menggunakan kode standar :
IJ

= BPJK/IPJK

IK

= Inpres Dati II per kapita.

Sebutkan sumber-sumber dana lainnya dan masukkan sumber dana Luar Negeri (BLN) bila
ada, misalnya IJ/IBRD.
Kolom 15 dan 16 harus menunjukkan bulan dan tahun awal dimulai dan selesainya pekerjaan
yang sebenarnya jika diketahui (misalnya 6/94 sampai 3/95); tanggal ini mungkin berbeda
dengan tanggal pada program aslinya. Jangan mengisi tanggal selesainya pekerjaan sebelum
diketahui kebenarannya. Kolom 17 merupakan informasi tambahan sesuai dengan status
pekerjaannya, misalnya :
L

: Proyek `Luncuran'

ST : Pekerjaan yang dikerjakan dengan menggunakan dana sisa tender.


MY : Kontrak berlanjut (tahun berikutnya)

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1B - 4

Kolom 18 menunjukkan sumber data dan tanggal data tersebut diterbitkan; biasanya dalam
bentuk kode formulir, misalnya : RPPIP, CJ dan lain sebagainya.
Bila setelah beberapa tahun pekerjaan halaman K3 untuk ruas tersebut sudah penuh, mulailah
dengan halaman baru yang diberi nomer urut di bagian atasnya. Pertahankan formulir K3
tersusun secara berurutan berdasarkan nomor ruas.

IB/2. PENYELESAIAN K4
K4 merupakan rangkuman tahunan yang berkesinambungan mengenai pembiayaan pekerjaan
dan mencakup seluruh jaringan jalan kabupaten untuk selama enam tahun ke belakang.
Rangkuman ini dapat disusun dengan menjumlah catatan-catatan yang ada pada K3 sesuai
dengan jenis pekerjaan dan sumber dananya. Data ini harus diperbaharui setiap bulan Januari
sesudah penyelesaian K3.
Bila catatan selama enam tahun telah lengkap, mulailah dengan formulir K4 baru dan satukan
dengan yang lama.
Bagian atas formulir merupakan rangkuman jumlah pengeluaran untuk jalan dalam juta rupiah
dengan sumber dana utama, yang dibagi sebagai berikut:
(A) Inpres Dati II per kapita :
-

Penggunaan untuk jalan

Tidak digunakan untuk jalan

Jumlah yang dialokasikan

(B) BPJK / IPJK


(C) Dana lainnya untuk jalan (supaya ditentukan)
(D) Jumlah dana untuk jalan : A+B+C
Pisahkan juga jumlah (D) dalam komponen dana APBN dan BLN jika ada. Biaya umum dan lain
sebagainya harus dimasukkan dalam sub-total biaya.
Bagian bawah formulir membagi TOTAL biaya untuk jalan ke dalam lima komponen utama dan
juga memberikan rangkuman panjang jalan dalam kilometer dan jembatan dalam meter :
-

Pekerjaaan berat (PK termasuk PB/RE)

Pemeliharaan Berkala/Periodik (MP)

Pemeliharaan Rutin (MR)

Pekerjaan lainnya (harus ditentukan misalnya Pekerjaan Penyangga / Darurat).

Biaya umum

Angka TOTAL yang merupakan jumlah pengeluaran dari ke-lima komponen tersebut di atas,
harus sama dengan jumlah pengeluaran (D) di bagian atas formulir.
Ke-tiga komponen pekerjaan utama juga harus mempunyai jumlah untuk setiap sumber dana
utama.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1B - 5

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1B - 6

1C.

PEMUTAKHIRAN DATA SUMBER DAYA

PENANGGUNG JAWAB : Transport Planner/Planning Engineer


FORMULIR : K5 - K9
RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
Pencatatan secara sistimatis mengenai aspek-aspek sumber daya yang tersedia di Kabupaten
bagi persiapan dan pelaksanaan program, diperlukan untuk membantu dalam administrasi dan
pemantauan. Ini mencakup hal-hal seperti peralatan, kontraktor, sumber-sumber material dan
jumlah staf. Beberapa dari aspek-aspek tersebut sekarang ini telah tercakup dalam petunjuk
teknis atau prosedur lain, misalnya data kontraktor (dulu K6) dan data peralatan (dulu K5), yang
sekarang tercakup dalam Buku Petunjuk Peralatan yang dikeluarkan oleh Bina Marga dan
Bangda : Sistem Pengelolaan Armada Peralatan Dati II.
Aspek-aspek yang masih dicakup dalam prosedur perencanaan sekarang ini adalah :
K7 : Catatan mengenai staf Tim Perencana Jalan Kabupaten
K8 : Sumber-sumber material lokal
K9 : Daftar upah buruh dan harga material
Formulir-formulir tersebut harus diperbaharui pada bulan Januari setiap tahunnya.

1C/1. PENYELESAIAN K7
Gunakan formulir K7 untuk mencatat staf kabupaten yang terlibat dalam perencanaan jalan ;
mencakup nama, jabatan dalam Tim, golongan/pangkat, jabatan di instansi, asal instansi
masing-masing anggota Tim Perencana. Tentukan juga siapa dari anggota tim perencana atau
staf lain yang bertanggung jawab untuk masalah lingkungan dan untuk perencanaan
pemeliharaan. Dalam formulir K7 tersebut juga diterangkan informasi mengenai jumlah
keseluruhan staf DPUK dan staf Bappeda TK II. Formulir ini harus diperbaiki setiap tahun dan
ditanda tangani oleh pejabat instansi terkait yaitu DPUK, BAPPEDA, Bagian Penyusunan
Program, serta dilampiri dengan SK Bupati untuk Tim Perencana. Informasi ini akan digunakan
bagi penyusunan database mengenai anggota Tim Perencana, untuk keperluan pelatihan serta
pemantauan prestasi kerja anggota tim.

1C/2. PENYELESAIAN K8
Gunakan formulir K8 dalam kaitannya dengan K9 untuk mencatat sumber- sumber utama
material lokal untuk pekerjaan jalan. Cantumkan nama quarry, sungai, dan sebagainya, lalu
perkirakan jarak ke ruas terdekat pada peta dasar dan sebutkan nomor ruasnya. Perlu dicatat
bahwa material yang ada dalam daftar tersebut harus ditentukan dengan kode nomor dan

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1C - 1

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1C - 2

( Formulir K8 : Contoh )

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1C - 3

satuan yang sama dengan yang digunakan dalam K9.


berdasarkan pada harga di sumbernya

Harga yang dicantumkan harus

tanpa memasukkan ongkos angkut yang sudah

ditentukan secara terpisah dalam K9. Berikan keterangan, misalnya apakah sumber material
tersebut sampai saat ini masih dipakai juga mengenai kualitas atau kapasitas produksinya.
Formulir K8 ini setiap tahun harus diperiksa kembali dan diperbaiki.

1C/3. PENYELESAIAN K9
Formulir K9 berisikan daftar harga lokal di kabupaten untuk buruh dan material dalam kisaran
tertentu, yang digunakan dalam pembangunan jalan kabupaten. Formulir ini setiap tahun harus
diperbaharui antara bulan Desember/Januari. Kebenaran data tersebut harus diperiksa secara
teliti dan harus ditanda-tangani oleh kepala DPUK. Formulir ini harus disampaikan kepada
PBPJK atau langsung ke Bina Marga atau konsultannya yang ada di Jakarta. Daftar ini akan
digunakan untuk memperbaiki Matriks Biaya Perencanaan. Untuk ini hanya perlu disiapkan
satu K9 yang mewakili untuk setiap kabupaten.
Selesaikan pengisian formulir K9 sebagai berikut :
1.

Harga di Quarry/Sumbernya.
Harga bahan di quarry/sumbernya (Pelabuhan atau Depo) harus di luar pajak. Bila pajak
dimasukkan dan tidak dapat dipisahkan secara tepat, tunjukkan pada harga tersebut
dengan tanda bintang ( * ).

2.

Jarak Angkut Rata-rata


Catat jarak angkut rata-rata yang biasa dipakai dan mewakili jarak dari quarry/sumber ke
tempat proyek untuk wilayah kabupaten sebagai keseluruhan. Informasi ini harus masuk
juga dalam formulir K8 yang menyertai formulir K9.

3.

Biaya Angkut per Unit


Perhitungkan biaya angkut per unit untuk material dari quarry/sumber dengan
menggunakan prosedur berikut ini sebagai petunjuk (angka-angkanya hanya untuk
ilustrasi saja).
-

Jarak angkut rata-rata dari quarry ke lokasi proyek

= 20 km

Kapasitas truk

Kecepatan truk rata-rata

= 45 km/jam

3 m3

- Biaya Truk
1. Sewa truk

Rp 16.000/ jam

Rp 16.000/jam

2. Pengemudi

Rp 8.000/5 jam

Rp

1.600/jam

2. Pembantu/kenek Rp 4.500/5 jam

Rp

1.800/jam

----------------------Jumlah

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

Rp 19.400/jam

1C - 4

( Formulir K9 : Contoh )

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1C - 5

Waktu
Untuk muat

= 15 menit }

Untuk bongkar = 10 menit }

= 25 menit

20 km
Untuk perjalanan = 2 x --------------- x 60 menit

= 53.3 menit

45 km/jam
-------------------Jumlah

= 78.3 menit

Ongkos angkut/3 m3

= 1.3 jam x Rp 19.400

= Rp 25.220

Ongkos angkut/m3

= Rp 25.220 : 3

= Rp

8.400

-------------------(Jangan menggunakan perkiraan ongkos angkut misalnya Rp 75,- per ton per km,
dan lain sebagainya untuk K9, disain dan DURP).
4.

Biaya Total (tanpa pajak)


Biaya total untuk material, bilamana mungkin harus tanpa pajak, tanpa "pengeluaran
tambahan" untuk biaya tak terduga, keuntungan kontraktor, inflasi dan lain-lain.

5.

Pajak
Pajak ini termasuk Pajak Penghasilan, Asuransi Tenaga kerja (Astek) dan 10% Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) untuk material, (perlu di catat bahwa biasanya hal ini sudah
dimasukkan dalam harga material yang dibawa ke kabupaten).

6.

Catat tanggal dan oleh siapa, bila K9 sudah disiapkan ; K9 harus ditanda tangani oleh
kepala DPUK.

7.

K9 yang telah dilengkapi harus dikirimkan kepada PBPJK atau Bina Marga ( atau
konsultannya) antara bulan Desember atau Januari, supaya pengolahan komputer untuk
pembuatan matriks biaya perencanaan dapat diselesaikan pada waktunya.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1C - 6

ID.

PEMUTAKHIRAN DATA JEMBATAN

PENANGGUNG JAWAB : Transport Planner/Planning Engineer


FORMULIR : K10
RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
Suatu inventarisasi data mengenai lokasi dan karakteristik setiap jembatan pada jaringan jalan
kabupaten perlu disusun dan dijaga kemutakhirannya. Hal ini dilakukan pada formulir K10 yang
pada dasarnya harus merupakan rangkuman dari informasi yang lebih rinci, yang dikumpulkan
dari hasil pemeriksaan jembatan secara rutin dan terinci (dengan formulir MS1, B1, B2 dan B3
dari buku Petunjuk Pemeliharaan Jembatan Kabupaten). Dalam prakteknya, kualitas dari
informasi tentang jembatan termasuk penentuan datanya, masih ketinggalan dibandingkan data
untuk jalan. Data K10 masih harus ditingkatkan secara bertahap dari beberapa sumber
termasuk dari survai perencanaan S1 dan S2. Informasi dari inventarisasi data Bina Marga
tahun 1990 mengenai jembatan (IJK03) dapat pula digunakan. Namun demikian, tujuan yang
paling penting adalah untuk memastikan bahwa data lokasi jembatan sesuai dengan penentuan
data ruas yang sama seperti yang ada dalam inventarisasi jalan pada K1, termasuk cara
pengukuran lokasi dengan pal km dari awal ruas. Prioritas harus diberikan dalam
menyelesaikan

pengisian

lokasi

jembatan,

nama,

panjang

dan

lebarnya,

sebelum

mengumpulkan secara rinci mengenai data jenis komponen jembatan dan kondisinya yang
memerlukan survai-survai yang lebih rinci.
Untuk selanjutnya akan dikembangkan database komputer untuk K10, namun untuk saat ini
penyelesaian formulir secara manual perlu diteruskan. Pemutakhiran K10 harus dilaksanakan
terutama dalam bulan Desember/ Januari pada waktu yang sama dengan pemutakhiran K1.

PENYELESAIAN K10
Untuk setiap ruas harus dibuatkan satu formulir K10 tersendiri. Cantumkan nomor ruas, nama
dan panjangnya di bagian atas K10 persis seperti yang tercantum dalam formulir K1.
Semua bangunan jembatan yang panjangnya 2 meter atau lebih (diukur antara ke-dua kepala
jembatan) harus dicatat. Lokasi lintasan sungai yang tidak berjembatan juga dimasukkan dan
diberi nama. Jembatan dan lintasan sungai harus dicatat dan diberi nomor urut (kolom 1),
dimulai dari titik pangkal ruas yang telah ditentukan pada daftar K1. Lokasinya harus ditentukan
dengan pal km yang telah disesuaikan dari titik pangkal ruas yang telah ditentukan (kolom 3),
dan bila mungkin juga dengan nama-nama sungainya (kolom 2). Bila semua penyeberangan di
catat, maka tidak perlu lagi untuk merubah nomor urut jembatan. Kode-kode yang digunakan
pada K10 dapat dilihat bersama-sama dengan contoh formulir K10 yang telah diisi lengkap.
Keterangan untuk masing-masing hal yang diisikan ke dalam K10 adalah sebagai berikut :

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1D - 1

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1D - 2

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1D - 3

Tipe Penyeberangan/Lintasan (kolom 4) :


JN

= Penyeberangan Jalan

KA = Penyeberangan Kereta Api


S

= Penyeberangan Sungai

= Lain-lain

Panjang jembatan dalam meter (kolom 5) diukur di antara kedua kepala jembatan. Lebar
jembatan harus ditentukan sebagai lebar jalur jalan saja (kolom 6.1) dan total lebar jembatan
sampai dengan bagian luar dari sandaran (kolom 6.2).
Bagunan jembatan dibagi dalam 5 bagian komponen :
-

bangunan atas

(kolom 8-11)

lantai (dek)

(kolom 12, 13)

sandaran (handrail)

(kolom 14, 15)

pondasi

(kolom 16-18)

kepala jembatan dan pilar

(kolom 19-21)

Deskripsi setiap komponen terdiri atas :


-

tipe bagian (bangunan atas/pondasi/kepala jembatan)

tipe bahan/material

asal/sumber (hanya bangunan atas)

nilai/tingkat kondisinya

Kode rujukan (pada formulir K10L) dan catatan khusus pada uraian komponen-komponen
bangunan atas, diberikan secara singkat di bawah ini :
(1)

Tipe Bangunan Atas


Sebuah jembatan adalah setiap konstruksi yang mempunyai panjang total antar kepala
jembatan 2,0 meter atau lebih.
B = Gorong-gorong persegi (kotak)
Gorong-gorong persegi adalah gorong-gorong dengan penampang melintang berbentuk
persegi.
Y = Gorong-gorong Pipa
Gorong-gorong pipa adalah gorong-gorong dengan penampang melintang berbentuk
lingkaran.
Untuk keperluan masukan data, semua gorong-gorong dengan garis tengah (diameter)
atau lebar luar sepanjang sumbu jalan > 2,0 meter harus dicatat sebagai jembatan.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1D - 4

KX = Lintasan Kereta Api


Lintasan kereta api perlu dicatat sebaik-baiknya, sehingga dapat ditetapkan suatu
prioritas untuk dibangun jembatan (bila sangat diperlukan).
S = Jembatan Sementara
Jembatan sementara adalah jembatan yang digunakan sebagai alat hantaran sementara
sampai jembatan permanen dibangun. Jembatan sementara dapat berupa rangka,
gelagar, pelat atau lainnya. Jembatan Bailey termasuk dalam kategori ini.
FX = Ferry
Jika penyeberangan sungai dilakukan dengan ferry (untuk kendaraan ataupun tidak),
catatlah dalam laporan. Perkirakanlah lebar penyeberangan tersebut. Nyatakanlah
dalam catatan, waktu tunggu rata-rata dan perkiraan panjang jembatan yang diperlukan.
WX = Pelintasan Basah (Jembatan Limpas)
Pelintasan basah adalah jembatan limpas, pelintasan banjir (atau yang serupa);
dimaksudkan untuk suatu pelintasan sungai dimana kendaraan melintas melalui sungai
di atas pondasi atas di bawah air yang telah dipersiapkan. Setiap pelintasan demikian
harus dicatat pada kartu data inventarisasi jembatan, dengan suatu tanda dalam
catatan; berapa kali dan berapa lama pelintasan basah ini tidak dapat dilalui dalam satu
tahun. Nyatakan perkiraan panjang jembatan yang diperlukan atau bila pelintasan
tersebut sudah cocok dengan keadaan sekarang.
(2)

Sumber / Asal Bangunan Atas


Sumber / asal pemasok terutama mengacu kepada negara pembuat dengan cara
memberi Kode negara asal dengan huruf tersendiri seperti diberikan pada lampiran
formulir K10L.

(3)

Bahan untuk Bangunan Atas


Kode bahan yang digunakan untuk pemeriksaan inventarisasi dapat dilihat pada
lampiran formulir K10L. Terdapat sejumlah 21 bahan yang berbeda, yang

masing-

masing didaftar dengan satu kode huruf.


(4)

Bahan Lantai Jembatan


Kode untuk tiap jenis bahan lantai jembatan harus dibentuk dengan dua huruf yang
diambil dari daftar bahan seperti tersebut di atas. Satu huruf untuk jenis bahan bagian
perletakan lantai dan huruf lainnya untuk jenis bahan jalur kendaraan, misalnya KA =
lantai jembatan kayu dengan jalur kendaraan aspal.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1D - 5

(5)

Kepala Jembatan dan Pilar, Tipe dan Bahan


Disiapkan kode untuk dua bentuk kepala jembatan dan enam jenis pilar. Kode
ditentukan dengan satu huruf seperti yang dapat dilihat dalam lampiran formulir (K10L).

(6)

Jenis dan Bahan Pondasi


Rincian-rincian tertentu mengenai jenis konstruksi pondasi mungkin tidak dapat
ditentukan dalam pemeriksaan di lapangan, tanpa penyelidikan lapangan lebih lanjut.
Jika tidak ada data, biarkan kolom tersebut tetap kosong.
Diberikan delapan jenis pondasi, masing-masing ditentukan dengan dua huruf. Apabila
terdapat data, maka isilah jenis pondasi tersebut dengan menggunakan kode dari
lampiran formulir K10 (K10L).

(7)

Bahan Sandaran
Dipertimbangkan untuk mencakup hal-hal seperti sandaran, pagar pengaman dan
tembok ujung sebuah jembatan : yang kesemuanya dimaksudkan sebagai perlindungan
kendaraan atau pejalan kaki, dan kadang-kadang juga dijadikan sebagai pelindung
untuk bagian-bagian pokok jembatan.
Apabila jembatan dilengkapi dengan sandaran beton serta tembok ujung pasangan batu,
gunakan kode bahan untuk beton dan pasangan batu, misalnya TM. Bilamana jembatan
mempunyai sandaran pipa baja dan tiang beton tanpa tembok ujung pasangan batu,
gunakan kode bahan hanya untuk sandaran saja, misalnya B.
Kode-kode bahan dicantumkan pada lampiran formulir K10 (K10L).

(8)

Penilaian Kondisi
Digunakan untuk menilai kondisi bagian-bagian jembatan sebagai berikut :
-

Bangunan atas

Sistim lantai jembatan

Sandaran (dan pagar pengaman, dll)

Pondasi (dan aliran air)

Kepala jembatan dan pilar-pilar

Penilaian kondisi jembatan menggunakan skala 0-5 seperti yang ditetapkan pada bagian
bawah lampiran formulir K10 (K10L).
Bila ruangan pada formulir K10 tidak cukup untuk mendaftar semua jembatan yang ada pada
suatu ruas, gunakan halaman kedua, beri nomor halaman pada formulir menurut urutannya.
Usahakan formulir yang telah di selesaikan selalu tersusun sesuai dengan urutan nomor ruas.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1D - 6

1E.

PEMUTAKHIRAN DATA SOSIAL-EKONOMI

PENANGGUNG JAWAB : Transport Planner


FORMULIR : K11 - K14 dan S6-A/B/C
RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
Pengembangan jaringan jalan kabupaten harus juga memperhitungkan rencana dan kebutuhan
pengembangan tata ruang dari kabupaten yang bersangkutan. Studi perencanaan jalan yang
sistimatis memerlukan suatu kerangka kerja mengenai informasi penunjang sosial-ekonomi
kabupaten, sebagai tambahan pada data mengenai jaringan jalan dan lalu lintas. Terdapat lima
jenis informasi yang diperlukan, dengan susunan data atau formulir survai seperti berikut :
Data kependudukan

(K11)

Data pusat kegiatan

(K12)

Data penggunaan lahan kecamatan

(K13)

Kegiatan pembangkit/penyebab timbulnya angkutan berat

(K14/S6A)

Rencana pengembangan/pembangunan

(S6B/6C)

Informasinya bisa didapat dari dua sumber utama :


(1)

Statistik sosial-ekonomi yang telah diterbitkan dan tersedia di tingkat kabupaten atau
kecamatan (misalnya : data penggunaan lahan BPN, kabupaten dalam angka,
monografi desa)

(2)

Informasi khusus yang diperoleh dari wawancara dengan para manager perkebunan
(mengenai sumber-sumber pembangkit lalu lintas berat), manager pabrik, quarry, dan
lain sebagainya ; atau dari instansi- instansi pemerintah sektoral yang bertanggung
jawab atas rencana khusus (seperti : kehutanan, pertanian, irigasi, pariwisata).

Informasi ini diperlukan untuk memperkirakan lalu lintas potensial dan penggunaan jalan
dimasa datang, serta untuk menafsirkan data lalu lintas; termasuk menentukan pergerakan
kendaraan-kendaraan berat yang dapat mempengaruhi disain jalan.
Suatu copy dari peta dan dokumen pokok dari Rencana Utama Tata Ruang - Kabupaten
(RUTR-K), harus disimpan dalam ruangan Tim Perencana Jalan Kabupaten. Ini akan
diperlukan sebagai acuan, untuk memastikan bahwa perencanaan jalan sudah sesuai dengan
tujuan perencanaan pembangunan kabupaten dalam skala yang lebih luas.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 1

1E/1. DATA KEPENDUDUKAN


Tujuan
Perkiraan jumlah penduduk yang dilayani oleh ruas jalan, diperlukan untuk menaksir manfaat
dari peningkatan jalan yang sekarang ini tertutup untuk lalu lintas kendaraan roda-4 karena
kondisi jalannya. Sebagai kerangka kerja untuk tugas ini, maka perlu dibuat (di kantor) suatu
tabulasi sebaran penduduk per desa dan per ruas jalan untuk seluruh kabupaten dengan
menggunakan formulir K11. Hal ini akan membantu dalam menentukan ruas-ruas mana yang
memerlukan survai yang lebih terinci (S7).
Sekali hal ini dikerjakan dengan benar, maka K11 hanya memerlukan kaji ulang dan perbaikan
secara berkala bila data survai S7 yang lebih terinci telah diperoleh. Catat tanggal diperbaikinya
K11 dan tanggal diselesaikannya survai S7.

Prosedur Penyelesaian K11


(1)

Siapkan peta skala besar (diutamakan berdasarkan peta topo skala 1 : 50.000, yakni
copy 1 hasil tugas 1F) yang menunjukkan nama dan perkiraan batas tiap desa dalam
kabupaten serta jaringan jalan dengan nomor ruasnya.

(2)

Dapatkan suatu daftar dari semua desa per kecamatan yang menunjukkan perkiraan
jumlah penduduk yang menetap atas dasar statistik pencatatan terakhir; periksa apakah
desa-desa baru telah dimuat pada peta dan ditandai tanpa ada yang tertinggal sebuah
desapun.

(3)

Siapkan formulir K11 untuk tiap kecamatan (Penentuan Pendahuluan Jumlah Penduduk
menurut Ruas Jalan); tulis nama tiap desa beserta jumlah penduduknya pada kolom
sebelah kiri dan tulis nomor ruas semua jalan yang ada di dalam kecamatan
bersangkutan di baris atas.

(4)

Buatlah perkiraan pendahuluan atas keterlibatan tiap desa terhadap satu atau lebih ruas
jalan, berdasarkan kenyataan di peta dan dengan menggunakan pedoman berikut ini :
-

Tujuan utama dari tugas ini adalah mencoba menentukan keterlibatan seluruh
penduduk desa itu

kepada satu ruas jalan yang diperkirakan akan digunakan

sebagai jalur pilihan ke pusat kegiatan di luar desa (pasar, dan sebagainya) atau
untuk mencapai jaringan jalan utama lainnya.
-

Kelompok penduduk yang sama jangan ditentukan pada lebih dari satu ruas jalan.

Jangan mengabaikan satu bagianpun dari penduduk desa, meskipun bagian itu
diperkirakan telah dilayani langsung oleh ruas jalan negara atau propinsi daripada
oleh ruas jalan kabupaten itu sendiri.

Penduduk yang berada di titik pangkal atau ujung yang merupakan persimpangan
ruas jalan (misalnya dalam jarak 500 meter dari titik persimpangan dengan ruas
jalan yang lebih penting) perlu dipisahkan dan dimasukkan ke dalam jangkauan
pelayanan ruas jalan

yang lebih penting

tadi

ke bagian mana ruas jalan itu

bersambung.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 2

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 3

Tandai desa-desa yang jelas terlayani sepenuhnya oleh satu ruas jalan saja dan
masukkan jumlah penduduknya pada kolom nomor ruas jalan yang dimaksud.

Bagi desa yang dilayani oleh beberapa ruas jalan dan pembagian jumlah
penduduknya meragukan, beri tanda silang ( x ) kolom ruas jalan yang sesuai, dan
pada tahap ini jangan mencoba memasukkan jumlah penduduk tersebut (dalam
kasus ini ada desa-desa yang nantinya akan memerlukan studi tambahan).

(5)

Minta pada setiap kecamatan untuk menyediakan peta kecamatan dan sket tiap desa
di kecamatan itu dengan skala perkiraan, yang menunjukkan:
-

nama dan lokasi tiap kampung atau pemukiman yang terpisah di dalam wilayah
desa

jumlah penduduk tiap kampung (data registrasi terakhir)


lokasi dan panjang jalan desa, tipe dan kondisi permukaan jalan serta hambatan
aksesnya.

Formulir S7 dapat dimanfaatkan untuk tujuan ini.

1E/2. DATA PUSAT KEGIATAN


Tujuan
Tujuan dari tugas ini adalah untuk menentukan lokasi, karakteristik dan ukuran relatif dari
semua pasar atau pusat kegiatan/perkotaan yang berarti (cukup besar) di wilayah Kabupaten.
Informasi ini terutama diperlukan untuk berbagai alasan seperti berikut:
(i)

membantu menafsirkan data lalu lintas dengan menentukan pusat- pusat kegiatan yang
diperkirakan menjadi pusat daya tarik untuk melakukan perjalanan ;

(ii)

membantu dalam menentukan dan menjelaskan variasi lalu lintas harian sehubungan
dengan hari pasar;

(iii) membantu dalam menentukan tingkat lalu lintas yang potensial pada ruas jalan yang
saat ini mengalami hambatan akses dikaitkan dengan ukuran dan tipe pusat kegiatan
luar yang digunakan (tugas 3D).
Tugas ini menggunakan formulir K12 yang akan mencatat seluruh kota pusat administrasi
kecamatan dan kabupaten, serta kota/pusat lainnya yang memiliki pasar. Untuk mengisi data
khusus selanjutnya bagi setiap kota yang tercatat tadi, mintalah bantuan staf kecamatan bila
perlu mengenai :
(i)

status administratif

(ii)

informasi pasar

(iii) fasilitas yang dinyatakan penting

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 4

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 5

Hasil pendataan tersebut akan digunakan dalam menentukan ukuran relatip dari pusat-pusat
kegiatan itu yang

dibagi ke dalam lima kelompok. Metode ini merupakan suatu bentuk

penyederhanaan dari hasil studi yang dikembangkan oleh Direktorat Jendral Cipta Karya dan
sesuai dengan petunjuk Bappenas terhadap pengertian tingkat orde kota. Penerapan metode
pengukuran dari hasil penilaian bagi pusat-pusat kegiatan berdasarkan urutan kategori itu
dapat berubah sesuai

dengan

kenyataan atau faktor-faktor tentang

perkembangan

karakteristik yang ada.


Sekali telah dilakukan dengan benar, K12 hanya perlu untuk dikaji ulang dan diperbaiki secara
berkala, kira-kira tiga tahun sekali.

Kriteria
(i) Tipe Pusat
Hubungan antara sistim orde kota oleh Cipta Karya/Bappenas dan pemakaiannya pada
perencanaan jalan kabupaten adalah berikut:

Orde
Kota

Radius
Pelayanan
Maksimum

Indikator
penduduk yang
dilayani (ribu)

III
(lebih tinggi )

> 50 Km

IV

Tipe
Pusat

Skor
Kepusatan

> 100

Pusat utama/
Kota Kabupaten

> 85

25 - 50 Km

50 - 100

Pusat besar

51 - 85

15 - 25 Km

20 - 50

Pusat sedang

30 - 50

VI

7,5 - 15 Km

5 - 20

Pusat kecil

15 - 29

< 7,5 Km

<5

Pusat terkecil

< 15

Kota-kota orde lebih tinggi yakni orde IV, III atau lebih tinggi, biasanya termasuk pusat
administrasi kota kabupaten dan beberapa kota kecamatan besar yaitu

dengan radius

pelayanan paling sedikit 25-50 km dan jumlah penduduk 50.000 jiwa atau lebih yang memiliki
fasilitas orde lebih tinggi seperti rumah sakit. Pusat-pusat sedang dan kecil biasanya hanya
memiliki fasilitas orde sedang atau lebih rendah, seperti SMP atau Puskesmas, dengan radius
pelayanan kurang dari 25 km dan jumlah penduduk kurang dari 50 ribu jiwa.
(ii)

Tipe Pasar

Pasar dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari tiga kelompok ukuran relatif yang didasarkan
pada perkiraan volume kegiatan mingguan.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 6

Apabila data khusus tidak ada, petunjuk di bawah ini dapat dipakai sebagai indikator ukuran
relatif :

Ukuran
Relatif

Status
Administrasi
Pasar

Frekuensi
hari
pasar

Tipe
Bangunan

Besar

Kabupaten

Setiap hari

Permanen
(mis : bang.
batu bata)

Kabupaten

Berkala

Permanen

Kecamatan

Setiap hari

Permanen /
Semi
permanen

Kecamatan

Berkala

Semi
permanen
/ sementara
(mis : bang.
kayu dan
bambu)

Sedang

Kecil

Kegiatan
penjualan eceran /
fasilitasperdagangan
Keaneka ragaman yang luas dari toko khusus
bahan pokok (mis; Toko pakaian, listrik, toko
emas / perhiasan, studio foto).
Fasilitas perdagangan pedagang partai besar
Fasilitas penjualan dengan skala yang
terbatas , misalnya : bahan bangunan dan
9 bahan pokok.
Fasilitas perdagangan dalam jumlah sedang
sampai kecil.
Pada umumnya berupa toko kecil seperti
warung yang hanya menjual terbatas pada
kebutuhan sehari-hari , toko pengecer dan
tidak ada perdagangan dalam jumlah besar.
Merupakan tempat penukaran langsung
antara penjual / petani dan pembali.

Pasar "kabupaten" yakni pasar yang secara resmi dikelola oleh kabupaten bagi pemasukan
pajak (IPEDA) dan bagi pemeliharaan fasilitasnya; sedangkan pasar kecamatan belum memiliki
pengaturan bagi pajak pendapatan pasar dan kebanyakan belum memiliki fasilitas yang
permanen.
(iii) Fasilitas
Ada 15 macam fasilitas yang sudah ditentukan dan dibagi ke dalam 3 kelompok tipe yang khas
sesuai dengan kepentingannya di kabupaten, yaitu :
Fasilitas Biasa
Kolom :
(7)

: Sekolah Menengah Pertama (SMP)

(8)

: Puskesmas (tidak termasuk puskesmas pembantu) dan/atau tempat praktek dokter


umum

(9)

: Pos Polisi

(10) : 'Bank Desa', kantor cabang untuk melayani Kredit Bank (BRI atau BNI '46)
(11) : Badan Usaha Unit Desa (BUUD, bukan KUD)

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 7

Fasilitas Madya
Kolom :
(13) : Sekolah Menengah Atas (SMA)
(14) : Apotik
(15) : Kantor Pos
(16) : Terminal Bis (atau stasiun Kereta Api)
(17) : Bioskop permanen

Fasilitas Utama
Kolom :
(19) : Fasilitas perguruan tinggi (Sekolah ahli Tekhnik, Politekhnik, Akademi / Universitas)
(20) : Rumah Sakit
(21) : Kantor Telepon/Telegram
(22) : Hotel dengan Restoran
(23) : Stadion/Gedung Olah Raga

Penyelesaian K12
(1)

Catat pada formulir K12, setiap kota dalam wilayah kabupaten yang berstatus
administrasi setingkat kecamatan atau yang lebih tinggi dan juga pusat lainnya yang
mempunyai pasar termasuk pasar kecil yang tidak dikelola oleh kabupaten.

(2)

Tunjukkan status administrasi dari setiap pusat kegiatan pada kolom 2 di formulir K12,
dengan menggunakan petunjuk angka berikut ini :

(3)

Kabupaten (lokasi dan kantor kabupaten)

= 20

Kecamatan (lokasi dan kantor camat)

= 10

Desa (lokasi dari kantor desa)

= 0

Tidak ada status administrasinya

= 0

Untuk setiap pasar, tunjukkan :


-

Status administrasi pasar (kolom 3) : KAB (Kabupaten) atau


KEC (Kecamatan)

Tipe konstruksi bangunan pasar (kolom 4) : P (Permanen)


SP (Semi Permanen)
S (Sementara)

Jika berupa pasar khusus, tunjukkan (kolom 5)

tipe komoditi perdagangannya,

misalnya IK ( ikan ), HE ( hewan/ternak ), SA (sayuran), sedangkan tipe lainlainnya ditetapkan sebagai UM ( pasar umum )

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 8

Tunjukkan hari-hari pasar setiap minggunya (kolom 6) dengan memberi tanda silang
('X'); dan tunjukkan hari pasar mana yang terpenting pada rangkaian kegiatan itu
dengan melingkari tanda silang tadi.

Tentukan ukuran relatif pasar (kolom 7) dengan mempergunakan informasi dan


kriteria di atas serta pengetahuan umum dari kabupaten; berilah kode seperti
berikut:

(4)

besar

30

sedang :

20

kecil

10

Untuk setiap tipe fasilitas dalam kolom 8-12; 14-18 dan 20-24, isilah dengan angka 1
bila fasilitas ada atau 0 bila tidak ada. Untuk pusat sedang/kecil, fasilitasnya harus
berada di dalam radius 2 km dari titik pusatnya (misalnya pasar); untuk pusat
utama/besar, fasilitasnya harus terletak di dalam radius 5 km.

(5)

Hitunglah jumlah angka dengan cara `pembobotan' sebagai berikut :


-

kolom 13 : jumlah angka dari kolom 8-12 saja

kolom 19 : jumlah angka dari kolom 14-18 dikalikan dengan 3

kolom 25 : jumlah angka dari kolom 20-24 dikalikan dengan 6

`Pembobotan' bobot tersebut dimaksudkan untuk dapat mencerminkan ukuran relatif


dari tipe fasilitas yang ada di setiap kabupaten.
(6)

Skor pada kolom 26 merupakan jumlah angka (dengan bobot) yang terdapat pada
kolom (2), (7), (13), (19), (25) untuk mendapatkan skor total keterpusatan pada kolom
(26), lalu tentukan tipe pusat kegiatan itu dengan memakai kisaran skor dalam kolom
(27) sebagai berikut :

(7)

Pusat kabupaten/utama :

> 85

Pusat besar

51 - 85

Pusat sedang

30 - 50

Pusat kecil

15 - 29

Pusat terkecil

< 15

Tandai pada peta topo copy-1 dan peta jaringan jalan 2, semua pusat kegiatan yang
telah ditentukan sesuai dengan tanda indikatornya. (lihat tugas 1F).

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 9

1E/3. DATA KECAMATAN


Diperlukan suatu rangkuman data sosial-ekonomi per kecamatan untuk menyusun programprogram tahunan, dalam hubungannya dengan pengembangan kabupaten yang lebih luas.
Formulir K13 digunakan untuk mendaftar/mencatat informasi mengenai jumlah desa, jumlah
penduduk, jumlah kepala keluarga (KK), luas wilayah, penggunaan lahan dan hasil utama
daerah besar atau kegiatan-kegiatan lokal yang besar per kecamatan. Gunakan sumber data
kependudukan yang sama seperti untuk tugas 1E/1 (K.11). Data penggunaan lahan harus
didapatkan dari BPN. Periksa bahwa jumlah kolom dan pada barisnya benar. Sekali formulir
K13 dilengkapi dengan benar, maka kaji ulang dan perbaikan hanya diperlukan secara berkala,
kira-kira setiap tiga tahun sekali.

1E/4. KEGIATAN PEMBANGKIT LALU LINTAS BERAT DAN


RENCANA PENGEMBANGAN
Tujuan
Diperlukan informasi mengenai sumber-sumber utama yang ada atau yang potensial dalam hal
lalu lintas angkutan berat yang mempengaruhi jalan- jalan kabupaten. Perhitungan lalu lintas
saja, kemungkinan tidak dapat memberikan informasi yang memadai tentang karakteristik lalu
lintas angkutan berat tadi. Adalah penting sekali untuk mengetahui lebih banyak tentang lalu
lintas truk sedang dan berat, yang dapat mempengaruhi pemilihan disain teknis jalan (lihat
tugas 4B); dan tentang kecenderungan dari pertumbuhan lalu lintas angkutan berat yang
mungkin berbeda dengan pertumbuhan lalu lintas secara umum di kabupaten.

Penyelesaian K14 dan S6A


Informasi kegiatan pembangkit lalu lintas angkutan berat dikumpulkan dalam dua tahap seperti
berikut :
(i)

penyusunan daftar ruas jalan yang melayani semua sumber penyebab

meningkatnya

lalu lintas angkutan berat di kabupaten (formulir K14)


(ii)

survai khusus mengenai kegiatan penyebab meningkatnya lalu lintas (formulir S6A)

Sebelum survai S2 dimulai namun setelah survai penjajagan (tugas 2A) dilaksanakan, mulailah
mempersiapkan daftar kegiatan utama yang menjadi penyebab meningkatnya lalu lintas
angkutan berat, dengan menggunakan formulir K14. Daftar ini harus diperluas dan
dimutakhirkan sesuai dengan informasi baru yang tersedia.

Jika ruas jalan kelihatannya

digunakan oleh lalu lintasnya terbangkit oleh kegiatan-kegiatan tersebut, maka pertama-tama,
informasi studi harus diperoleh langsung dengan mewawancarai pihak pengelola kegiatan
dengan menggunakan formulir S6A. Survai ini dilaksanakan oleh transport planner pada waktu
yang telah ditentukan bersama-sama dengan survai lainnya (tugas kelompok 2).

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 10

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 11

( Formulir K14 : Contoh )

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 12

Beberapa

informasi yang diperlukan mungkin bisa diperoleh dari instansi pemerintah di

kabupaten. Sumber-sumber LL yang kelihatannya bisa disurvai, adalah :


Sumber bahan galian/material (kantor setempat, DPUK)
Perkebunan (kantor perkebunan)
Kehutanan dan industri kayu (kantor setempat)
Rencana pengairan (DPUK, kantor pemerintah)
Rencana pengembangan pertanian (kantor pemerintah)
Rencana/Program transmigrasi (kantor SKP, kantor pemerintah setempat)
Kegiatan pembuatan bata merah, genteng dan lain-lain (kantor setempat)
Pabrik-pabrik (kantor pabrik)
Pelabuhan/dermaga (kantor)
Masukkan rencana dan proyek pengembangan yang sedang dikerjakan atau yang sudah
diangggarkan. Usaha swasta di dalam wilayah perkotaan sebaiknya tidak perlu dicatat kecuali
kalau membangkitkan lalu lintas yang cukup berarti pada jalan kabupaten (dibandingkan
dengan jalan negara atau propinsi)
Survai ini dimaksudkan untuk mengetahui informasi berikut:
-

jumlah lalu lintas truk per hari ke/dari lokasi kegiatan berdasarkan tipe truk dan beban
muatan rata-rata.

variasi lalu lintas yang terjadi sesuai dengan kondisi iklim atau musim

kecenderungan volume lalu lintas dimasa datang

Formulir S6A tidak dimaksudkan untuk memberikan daftar pertanyaan yang mendalam;
beberapa tambahan pertanyaan mungkin dibutuhkan. Secara khusus, penting untuk memeriksa
ulang bahwa perkiraan volume per hari atau per minggu sesuai dengan perkiraan jumlah
perjalanan dikalikan dengan rata-rata muatan per truk.

Penyelesaian S6B (rencana/pola transmigrasi dan PIR/NES)


Formulir S6B ini digunakan untuk memperoleh informasi lebih rinci tentang keadaan proyek
transmigrasi dan perkebunan (PIR/NES) yang dilayani oleh calon proyek ruas jalan dan
merupakan tambahan terhadap informasi tentang lalu lintas truk yang tercatat pada formulir
S6A.
Informasi yang dikumpulkan dalam formulir S6B meliputi :
1.

Nama kecamatan dimana proyek berada dan nama desa atau kampung utama terdekat.

2.

Nama Proyek, PTP berapa dan nama perusahaan (PT atau lainnya) bila ada

3.

Tipe proyek : misalnya PIR/NES; perkebunan besar (swasta atau BUMN); SKP/WPP
Transmigrasi

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 13

4.

Jenis tanaman pohon untuk ekspor, yang telah ditanam atau yang direncanakan catat
data tiap jenis tanaman kalau lebih dari satu macam

5.

Data terakhir total luas areal yang sudah ditanami per jenis tanaman dalam hektar
(sebut tahunnya).

6.

Rencana atau proyeksi total luas areal yang akan ditanami dalam 5 tahun ini per jenis
tanaman (sebut tahunnya).

7.

Produktifitas

yang ada : data

terakhir rata-rata

produksi ton per

hektar yang

sebenarnya dicapai (sebut tahunnya) ; jelaskan jenis produksinya, misalkan kelapa


segar, minyak kelapa dan sebagainya.
8.

Rencana

atau proyeksi

produktifitas : rata-rata

produksi ton per hektar yang

diharapkan dalam 5 tahun ini (sebut tahunnya) ; jelaskan jenis produksinya.


9/10. Total produksi dalam ton yang sebenarnya dan yang diharapkan (yakni data no. 5 x 7
dan 6 x 8)
11/12. Bila tanaman perlu diolah terlebih dahulu untuk diekspor, tanyakan dimana lokasi
pengolahannya atau rencana pembangunan tempat pengolahan (tandai pada peta).
13. Nama lokasi pelabuhan utama dari tanaman yang akan diekspor atau tempat utama
untuk penampungan pertama.
14. Perkirakan panjang jalan penghubung dalam kilometer yang berkondisi baik/sedang
yang hanya perlu pemeliharaan dan kondisi rusak/rusak berat untuk perbaikan atau
rehabilitasi; catat total panjang jembatan yang perlu dibangun, diganti atau diperbaiki;
kelompokkan jalan penghubung tadi ke dalam pengertian di bawah ini :
(i) penghubung langsung ke pusat proyek - `Jalan Penghubung'
(ii) penghubung tak langsung, biasanya jalan kabupaten yang menghubungkan `Jalan
Penghubung' ke jaringan jalan utama
(iii) penghubung lokal terpenting - `Jalan Poros (Utama)' yaitu menghubungkan lokasi
di dalam proyek itu sendiri, seperti ke SP atau Kampung Utama; pada proyek
PIR/NES disebut `Jalan Produksi' (`Jalan Poros' sekunder merupakan jalan
penghubung lokal yang kurang penting, disebut `Jalan Kolektor' di lokasi
perkebunan proyek PIR/NES, menghubungkan langsung ke daerah penanaman).

Sektor Transmigrasi
15. Berapa jumlah keluarga (KK dan Jiwa) yang sudah ada dan akan ditempatkan di proyek
dalam 5 tahun ini.
Kapan proyek transmigrasi secara fisik siap, yakni kapan transmigran pertama datang ?
(sebut bulan dan tahunnya).
Kapan proyek ini wewenangnya diserahkan ke kabupaten ? (sebut bulan dan tahunnya).

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 14

Sektor PIR
16. Berapa jumlah keluarga yang bekerja di perkebunan rakyat (atau jumlah buruh, bila
perkebunan berskala besar) yang diharapkan terlibat dalam proyek pada saat
seluruhnya selesai.
Apabila areal perkebunan yang tersedia masih belum ditanami, kapan areal tersebut
akan mulai ditanami ? Apakah dana untuk penanaman tersebut sudah tersedia ?
Apakah proyek tersebut pernah distudi secara teknis dan ekonomis ?

Peta
17. Sediakan peta yang menunjukkan areal proyek dan batas-batasnya, lokasi dan nomor
ruas jalan masuknya, lokasi pabriknya, kantor utamanya dan lain-lain.

Semua Sektor
18. Penjelasan tentang ruas jalan yang mempunyai prioritas tertinggi di proyek untuk
perbaikan, catat nama dan panjang ruas bila memungkinkan. Kalau belum ada jalan
penghubung, maka perlu penjelasan mengenai pilihan alat transportasi yang memadai,
seperti angkutan sungai, laut dan sebagainya.
19. Penjelasan atas masalah-masalah selain dari jalan penghubung yang berpengaruh
terhadap proyek secara khusus, seperti : kondisi lahan, drainase, pengadaan air, faktor
adat, dana terbatas, dan seterusnya.

Penyelesaian S6C (Kegiatan Sektor Pariwisata)


Formulir S6C harus digunakan untuk mendapatkan latar belakang informasi mengenai proyekproyek jalan yang digolongkan melayani atraksi/obyek wisata yang sudah ada atau yang
diusulkan. Beberapa dari informasi ini bisa didapat secara langsung di lokasi obyek wisata,
namun sebagian besar hanya bisa didapat dari instansi yang terlibat langsung dalam
perencanaan dan pengembangan pariwisata di tingkat kabupaten, propinsi atau pusat.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 15

( Formulir S6A : Contoh )

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 16

( Formulir S6B : Contoh )

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 17

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1E - 18

1F. PEMUTAKHIRAN PETA


PENANGGUNG JAWAB : Transport Planner
FORMULIR : Peta Dasar Jaringan Jalan dan Peta Topo
RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
Penggunaan peta-peta yang kualitasnya baik sangat penting untuk suatu perencanaan jalan
yang baik. Prosedur yang ada sekarang mempunyai tiga tujuan utama dalam pemetaan :
(1)

Memperbaiki dan memutakhirkan peta-peta jaringan jalan yang ada

(2)

Memberikan informasi yang mutakhir mengenai jaringan jalan

(3)

Meningkatkan kualitas, penyajian dan ketepatan dan peta jaringan jalan

Tujuan (1) dan (2) adalah tugas-tugas tahunan yang berulang, sedangkan, tujuan (3) adalah
sasaran jangka panjang.
Sebagian besar kabupaten saat ini mempunyai peta dasar jaringan jalan ukuran A1 atau A0
yang biasanya berskala antara 1 : 100.000 dan 1 : 250.000. Peta-peta ini dibuat dalam bentuk
lembaran kalkir tembus pandang yang dapat diperbaiki dan diperbanyak dengan mudah. Versi
yang telah diperkecil menjadi format A3 juga dibuat untuk kemudahan pemakaian. Banyak dari
peta-peta ini yang telah ditingkatkan dengan cara menyesuaikannya dengan peta topo, namun
ketepatan untuk hal-hal lainnya masih rendah.
Dalam jangka panjang peta jalan hasil olahan komputer dengan Sistem Informasi Geografi
(Geographical Information Systems - GIS) akan tersedia. Informasi gambar tersebut dapat
dihubungkan kepada database jaringan jalan (K1), melalui suatu proses `diginasi peta' yang
akan dilaksanakan oleh tingkat pusat. Peta jaringan jalan kabupaten yang sudah ada sekarang
akan menjadi masukkan pokok dalam proses ini, karena itu sangatlah penting untuk dijaga agar
selalu mutakhir dan akurat.

1F/1. PERBAIKAN DAN PEMUTAKHIRAN PETA DASAR JARINGAN


JALAN
Yang paling diperlukan dari peta dasar jaringan jalan ini adalah bahwa nama dan nomor ruasnya memenuhi syarat dan sama dengan apa yang tercantum dalam daftar K1. Ruas-ruasnya
harus mempunyai alinyemen yang kurang lebih benar dan bersimpangan secara benar dengan
ruas lainnya. Namun demikian untuk banyak keperluan perencanaan, suatu pendekatan `Peta
Skets' dapat diterima sampai peta yang lebih baik dan lebih sempurna dapat disiapkan.
Peta dasar harus diperiksa dan diperbaharui setiap tahunnya pada bulan Januari, pada waktu
yang sama dengan pelaksanaan kaji ulang dan perbaikan pada K1, yang terutama didasarkan
atas bukti hasil survai- survai S1 dan S2. Koreksi harus dilaksanakan pada `kalkirnya'.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1F - 1

Tidak perlu melakukan penggambaran ulang seluruh peta, cukup hanya membuat koreksi dan
perbaikan. Adapun yang perlu diperiksa adalah sebagai berikut :
1.

Nama dan nomor ruas yang hilang

2.

Ketidak-konsistenan, ketidak-benaran atau perbaikan nama dan nomor ruas

3.

Nama dan nomor ruas yang tidak terbaca

4.

Persimpangan jalan yang salah

5.

Skala dan arah kompas yang tidak ada

6.

Penambahan ruas yang sebelumnya tidak ada pada peta dan K1

7.

Penambahan tanggal dilakukannya perbaikan

Bila di lapangan ditemukan bahwa peta dasarnya ternyata sama sekali tidak cocok/salah, maka
harus diberi keterangan mengenai hal tersebut pada peta toponya.

1F/2. PETA ACUAN DATA JARINGAN JALAN


Peta dasar jaringan jalan supaya dicopy, baik dalam ukuran A3 maupun dalam ukuran A0/A1,
untuk digunakan dalam pemberian kode warna pada jalan-jalan yang menunjukkan aspekaspek karakteristik jaringan jalan. Tiga jenis peta harus disiapkan dan diperbaiki secara
berkala:
Peta 1 : Peta Kondisi Jalan (diperbaiki setiap tahun bersama K1)
Peta 2 : Peta Jaringan Jalan Strategis (diperbaiki 3 tahun sekali bersama K2)
Peta 3 : Peta Program Tahunan (diperbaiki setiap tahun bersama P3).
Lima copy dari setiap peta tersebut di atas harus disiapkan.
Tambahkan batas wilayah perencanaan yang membagi jaringan jalan dalam tiga wilayah yang
kira-kira sama untuk menunjukkan pemusatan kegiatan survai (S2) tahunan. Tambahkan pula
tempat-tempat penghitungan lalu lintas.
Beri kode pada Peta 1 sebagai berikut : (lihat juga tugas 1A/2).
Jalan Toll, Nasional dan Propinsi
Jalan Kabupaten :

Jalan Tanah

merah

_________

Aspal Baik / Sedang

biru

_________

Aspal Rusak / Rusak Berat

biru

______

Kerikil / Batu Baik / Sedang

hijau

_________

Kerikil /Batu Rusak / Rusak Berat :

hijau

______

Terbuka untuk Kendaraan Roda-4

kuning _________

Tertutup untuk Kendaraan Ruda-4

kuning _ _ _ _ _ _

Kota Kabupaten :

Letak Pos PLL

Kota Kecamatan :

Wilayah Perencanaan

Pasar Utama

Daerah Perkebunan

Batas Kota

Proyek Transmigrasi

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1F - 2

Beri kode pewarnaan pada Peta 2 sebagai berikut : (lihat juga tugas 1A/3)
Jalan Toll, Nasional dan Propinsi ( A )

merah

Jalan Kabupaten : -

Penghubung Kota Kecamatan ( B )

biru

Antar Kabupaten ( C )

hijau

Pilihan ( D )

kuning

Beri kode pewarnaan pada Peta 3 sebagai berikut : (lihat juga tugas 5E)
Diusulkan untuk Pekerjaan Pemeliharaan

biru

Layak untuk Pekerjaan Berat :

Hasil studi tahun berjalan

merah

Luncuran

hijau

kuning

Belum Layak untuk Pekerjaan Berat

1F/3. PENYEMPURNAAN PETA DASAR


Tujuan
Tujuan utama dari kegiatan perencanaan ini adalah untuk memperbaiki peta dasar jaringan
jalan yang ada di kabupaten. Dengan kata lain bahwa peta kabupaten itu harus diperbaiki
berdasarkan peta topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000 (bila memungkinkan).
Untuk beberapa wilayah mungkin terpaksa menggunakan peta topo dengan skala yang lebih
kecil atau

peta tata-guna tanah

BPN, bila

peta topo yang berskala 1 : 50.000 tidak

didapatkan. Sekalipun banyak peta topo sudah kadaluwarsa, namun biasanya masih dapat
dipergunakan untuk penentuan suatu lokasi secara tepat dari keadaan fisiknya; seperti sungai
besar, pemukiman luas, dan paling tidak sebagian dari jaringan jalannya masih sama.
Pembetulan dan penambahan data dapat dilakukan waktu survai lapangan dan hasilnya segera
digambar ulang pada skala yang diperkecil melalui fotocopy (biasanya dengan skala
1:100.000). Tugas untuk menyempurnakan peta ini tidak mungkin dikerjakan bagi seluruh
wilayah kabupaten sekaligus, tetapi memerlukan waktu beberapa tahun. Untuk sementara,
bagaimanapun juga peta sket jaringan jalan yang lebih umum dan mencakup seluruh
kabupaten akan terus diperlukan.

Prosedur
Untuk keperluan kegiatan perencanaan jalan di kabupaten dibutuhkan satu set peta topografi
skala 1:50.000 yang mencakup wilayah kabupaten tersebut. Bila dijumpai kesulitan, PBPJK
dapat membantu untuk pengadaan fotocopy atau cetakan kalkir dari aslinya.
Siapkan lima buah fotocopy dari peta topo asli dan gabung menjadi mosaik yang mencakup
setiap wilayah survai. Untuk wilayah yang luas, guna memudahkan pekerjaan di lapangan,
maka dianjurkan untuk memperkecil `copy' peta topo tadi menjadi skala 1 : 100.000 dengan
cara `fotocopy perkecil'.

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1F - 3

Lima buah copy peta tersebut akan digunakan untuk hal-hal berikut ini :
Copy-1.

Penentuan batas desa, pemukiman dan pusat kegiatan


(tugas 1E/1 dan 1E/2)

Copy-2.

Copy lapangan untuk survai penjajagan


(tugas 2 A juga untuk di pos penghitungan lalu lintas)

Copy-3.

Copy lapangan untuk survai penyaringan ruas jalan


(tugas 2 B dan 2 F)

Copy-4.

Copy biasa untuk arsip di kabupaten

Copy-5.

Copy biasa untuk dikirim ke Propinsi/PBPJK sebagai dokumentasi.

Setiap tahun setelah pelaksanaan survai, copy-5 peta topo dari wilayah survai yang sudah
diperbaiki datanya, harus dikirim ke PBPJK propinsi untuk keperluan dokumentasi. Nantinya,
setelah peta dari setiap wilayah survai selesai diperbaiki untuk seluruh kabupaten, maka
dimungkinkan untuk membuat peta yang baru untuk seluruh jaringan jalan di kabupaten dalam
berbagai ukuran skala.
Dalam pemberian tanda pada setiap copy Peta Topo tersebut, gunakan standar pewarnaan
dan kode-kode berikut ini :
Jalan Toll, Nasional dan Propinsi

merah

Jalan Kabupaten

merah

______
______

Jalan Desa atau lainnya yang terbuka untuk kendaraan roda-4 : hijau

______

Jalan setapak atau yang tertutup untuk kendaraan roda-4

______

Persimpangan

Pusat Pemukiman

Nomor Ruas

Tempat Pos PLL

Sungai
Jembatan besar (>20m)
14
X

Penyeberangan
sungai

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

:
:

kuning

biru
:
:

1F - 4

1G.

DOKUMENTASI STUDI

PENANGGUNG JAWAB : Transport Planner


FORMULIR : Arsip Data, Laporan Dokumentasi Tahunan,
Ikhtisar Program Tahunan

RUANG LINGKUP DAN TUJUAN


Dokumentasi data perencanaan memerlukan suatu sistimatika dan standarisasi, dengan
beberapa alasan sebagai berikut :
(i)

memberi kemudahan dalam mendapatkan bahan referensi pokok mengenai jalan di


kabupaten

(ii)

membantu pemantauan dan penelitian ulang dari data perencanaan jalan kabupaten di
tingkat propinsi dan/atau tingkat pusat.

(iii) membentuk suatu `data base', yang diawali dari tingkat pusat.
(iv) memberikan dasar pembuatan laporan ke pemerintah tingkat pusat dan badan-badan
donor dari luar.
Selain dari kebutuhan pengarsipan yang sistematis terhadap seluruh formulir dan peta yang
telah dilengkapi dan diperbaiki, maka kebutuhan utama lainnya dari kabupaten adalah dua
macam laporan tahunan berikut ini :
(i)

Laporan dokumentasi tahunan

(ii)

Ikhtisar program tahunan

PROSEDUR
Semua formulir asli yang telah dilengkapi untuk kerangka studi, hasil dokumentasi survai,
analisa, serta penyaringan proyek dan program (yakni formulir seri K,S, A dan P), harus
diarsipkan dalam `map-odner' atau map-kantong dan disimpan di kantor, bagi keperluan
pekerjaan perencanaan jalan kabupaten.
Formulir seri S harus disimpan rapi berdasarkan ruas jalannya.
Formulir seri K, A dan P harus disimpan bersama-sama berdasarkan tahun programnya.
Peta asli harus juga dikumpulkan dan disimpan bersama-sama untuk memudahkan pencarian,
yakni :
Peta Kondisi Jalan (Peta 1)
Peta Jaringan Jalan Strategis (Peta 2)
Copy peta topo 1-4

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1G - 1

Peta Program Tahunan (Peta 3)


Ikhtisar Program Tahunan harus dipersiapkan sebanyak 10 copy yang terdiri atas :
P1

daftar program pekerjaan pemeliharaan

P2

daftar panjang program pekerjaan berat

P3

daftar pendek program pekerjaan berat

P4

daftar program pekerjaan penyangga

Peta Program Tahunan (Peta 3)


Laporan Dokumentasi Tahunan harus dipersiapkan sebanyak 5 copy yang terdiri atas :
A1-A3

lembar data proyek untuk semua proyek yang telah disurvai.

P1-P5

formulir program/penyaringan proyek

K1-K14

formulir kerangka kerja/lembar dokumentasi sumber data

Peta-1

peta kondisi jalan

Peta-2

peta jaringan jalan strategis

Peta-3

peta program tahunan

Perlu ditambahkan 5 buah peta topografi (copy peta dengan data lain terekam) dan dikirim ke
PBPJK untuk kepentingan dokumentasi.
Copy dari ikhtisar dan laporan tadi harus dikirimkan masing-masing kepada :

Ikhtisar

Laporan

Program

Dokumentasi

Tahunan

Tahunan

Instansi Tingkat Kabupaten

Instansi Tingkat Propinsi

Bangda (Jakarta)

Bina Marga (Jakarta)

CTC (kalau ada)

Pembimbing Perencana Lapangan

(misalnya PBPJK)
Konsultan Lapangan (kalau ada)

Pedoman Prosedur : Kaji Ulang dan Pemutakhiran Database

1G - 2