Anda di halaman 1dari 39

Daftar Isi

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..........................................................................

1.2. Permasalahan Penelitian.............................................................

1.3. Tujuan Penelitian.......................................................................

1.4. Kegunaan Penelitian..................................................................

1.5. Kerangka Berfikir......................................................................

1.6. Hipotesis..................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Parameter Oseanografi...............................................................

2.1.1. Suhu Permukaan Laut (SPL)..............................................

11

2.1.2. Klorofil-a ......................................................................

14

2.1.3. Upwelling .....................................................................

16

2.1.4. Thermal front.................................................................

18

2.3. Aspek Biologi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)......................

23

2.3.1. Daerah Penyebaran...........................................................

24

2.3.2. Daerah dan Musim Penangkapan........................................

25

2.4. Pegelolaan Ikan Pelagis..............................................................

26

2.5. Teknologi Penginderaan Jauh (INDERAJA).................................

29

2.6. Satelit Aqua MODIS..................................................................

31

2.7. Pemanfaatan Satelit Aqua MODIS dalam Penentuan DPI.................

34

2.8. Hubungan Aplikasi SIG dengan Potensi Penangkapan Ikan..............

36

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Waktu dan Tempat Penelitian.......................................................

38

3.2. Materi Penelitian.......................................................................

38

3.3. Metode dan Pengambilan Data....................................................

39

3.4. Pengolahan Data.......................................................................

40

3.5. Analisis Data............................................................................

41

3.5. Pemetaan Daerah Potensial Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus


pelamis)..................................................................................... 44

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Perairan Laut Sawu berada pada region Sunda Kecil, yang terdapat di

Provinsi Nusa Tenggara Timur. Luas Perairan Laut Sawu sekitar 3,5 juta hektar.
Perairan Laut Sawu bagi pembangunan di Provinsi NTT bermakna strategis,
karena hampir sebagian besar Kabupaten/Kota di NTT sangat tergantung kepada
Laut Sawu. Lebih dari 65 % potensi lestari sumberdaya ikan di Provinsi ini
disumbang oleh Laut Sawu khusunya di bidang perikanan tangkap. Potensi lestari
ikan pelagis di Laut Sawu sebesar 156.000 ton/tahun, dengan hasil tangkapan
65.331,5 ton (41,88 %), sementara penangkapan di perairan umum, potensi
lestarinya mencapai 9.450 ton dengan hasil penangkapan 391 ton (4,14 %) Ditjen
Perikanan Tangkap tahun 2012. Ini menunjukkan bahwa potensi ikan pelagis yang
potensial di Perairan tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal dengan
mengopersikan alat tangkap secara efektif dan efisien.
Sumberdaya ikan yang paling banyak tertangkap oleh nelayan dipairan laut
Sawu didominasi oleh ikan pelagis, total produksi ikan pelagis di Perairan Laut
Sawu sebesar 55.747,40 ton,

yang terdiri dari ikan pelagis kecil

sebesar

38.731,10 ton sementara ikan pelagis besar sebesar 17.016,3 ton (DKP Provinsi
NTT 2015). Ikan pelagis besar yang sering ditangkap oleh nelayan di perairan
Laut sawu adalah Baby Tuna, cakalang (Katsuwonus pelamis) dan Tenggiri
(Scomberomorus commerson), diantara ikan pelagis besar tersebut, ikan cakalang
merupakan ikan yang dominan tertangkap oleh nelayan.

Ikan cakalang merupakan sumberdaya perikanan penting pada banyak


daerah di wilayah Nusa Tenggara Timur karena bernilai ekonomis penting,
pemanfaatannya dengan teknologi penangkapan yang beragam seperti pole and
line, purse seine, gill net, dan hand line/troll line. Upaya ekstensif dalam
pemanfaatan ikan cakalang banyak ditemukan pada perairan lepas pantai.
Salah satu alat tangkap yang paling efektif dan banyak digunakan oleh
nelayan di Nusa Tenggara Timur khusunya diperairan laut Sawu untuk menangkap
ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah alat tangkap Huhate atau umumnya
dikenal pole and line. Pole and line adalah cara pemancingan dengan
menggunakan pancing yang dikhususkan untuk menangkap ikan cakalang yang
banyak digunakan di perairan Indonesia. Selanjutnya dikatakan juga menurut
Ayodhoya, (1981), pole and line umum digunakan untuk menangkap ikan
cakalang (Katsuwonus pelamis) sehingga dengan kata perikanan pole and line
sering pengertian kita ke arah perikanan cakalang. Untuk Cakalang, alat yang
berperan besar dalam penangkapan adalah Pole and line, tonda dan pancing ulur
(Ditjen Perikanan, 1989).
Kegiatan operasi penangkapan ikan oleh nelayan Nusa Teggara Timur pada
umumnya masih mengandalkan pada informasi berasal dari sesama nelayan dan
pengalaman dengan memanfaatkan panca indera untuk memprediksi daerah
penangkapan ikan (fishing Ground). Sementara ketersediaan sumberdaya ikan
pada suatu wilayah Perairan selalu berubah seiring dengan perubahan lingkungan.
Dalam aktifitas penangkapan ikan cakalang selain mengoptimalkan
penggunaan alat tangkap, juga dibutuhkan informasi mengenai kondisi

lingkungan berupa parameter oseanografi. Paramater oseanografi tersebut antara


lain Klorofil-a dan Suhu, dengan mengetahui kondisi lingkungan terutama
Klorofil-a dan Suhu optimum dari suatu spesies ikan pada suatu perairan, tentu
saja akan mempermudah kita dalam memprediksi daerah peangkapan ikan
(fishing Ground). Untuk ikan cakalang SPL berhubungan erat dengan kesesuaian
kondisi fisiologi dan adaptasi morfologinya. Disamping itu menjadi indikator
tidak langsung mengenai produktifitas biologis atau keberadaan makanan ikan
(Butler et al., 1988; Santos, 2000). Sedangkan faktor klorofil-a merupakan faktor
yang dapat memberikan indikasi langsung mengenai keberadaan makanan ikan
maupun jalur wilayah migrasi ikan tuna (Polovina et al.,2011).
Menurut Simbolon et al. (2009) daerah penangkapan ikan (DPI) sangat
dipengaruhi oleh faktor oseanografi perairan baik fisik, kimiawi maupun biologi
antara lain suhu perairan (SPL atau sebaran suhu secara horizontal dan vertikal),
salinitas dan konsentrasi klorofil-a.
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Laevastu dan Hayes (1981),
Matsuwoto (1984), Suhendrata (1986) dan Anggarini (2003) bahwa suhu
permukaan laut (SPL) berpengaruh terhadap sebaran Cakalang, dan kisaran suhu
permukaan laut (SPL) ini bervariasi secara temporal dan spasial.
Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memperoleh kondisi
lingkungan berupa parameter oseanografi adalah dengan memanfaatkan
kemampuan SIG dan penginderaan jauh (inderaja) kelautan. Penginderaan jauh
(inderaja) merupakan perkembangan informasi dan teknologi yang dapat
diaplikasikan dalam bidang kelautan untuk membantu penelitian mengenai

dinamika

lingkungan

perairan

termasuk

memahami

sumberdaya

alam

yang.terkandung di dalamnya Salah satunya adalah mengamati dinamika biofisik


oseanografi, seperti kandungan klorofil-a permukaan dan SPL. Salah satu satelit
inderaja yang dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi kandungan
klorofil-a dan SPL adalah satelit Aqua Moderate Resolution Imaging
Spectroradiometer (Aqua MODIS).
Informasi mengenai kondisi lingkungan berupa parameter oseanografi di
Perairan Laut Sawu belum pernah dilakukan khusunya sebaran Klorofil-a dan
Suhu (SPL). Berdasarkan uraian singkat di atas maka ingin dilakukan penelitian
mengenai Pola Distribusi Spasial Klorofil-a dan Suhu perairan Pengaruhnya
terhadap Hasil Tangkapan Pelagis besar khususnya cakalang di Perairan Laut
Sawu NTT.
1.2.

Permasalahan Penelitian
Perairan laut sawu memiliki luas 3,5 juta hektar dan memiliki potensi

ikan pelagis khususnya ikan cakalang yang sangat banyak. Jumlah nelayan di
Nusa Tenggara Timur cukup besar yakni 194,684 orang. Jumlah alat tangkap
Huhate (Pole and line) yang tercatat di Nusa tenggara Timur sebanyak 307 buah.
Ikan Cakalang merupakan salah satu ikan terget penangkapan utama bagi nelayan,
karena ikan ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Namun demikian, informasi
informasi daerah penangkapan ini masih sulit diperoleh secara pasti sehingga
nelayan dalam menentukan lokasi penagkapan hanya berdasarkan pengalaman.
Akibatnya, usaha penangkapan kurang efisien karena mengeluarkan biaya yang

besar untuk bahan bakar minya (BBM) dalam mencari daerah penangkapan
Cakalang.
Informasi daerah penangkapan ikan cakalang perlu di eksplorasi agar
usaha penangkapan ikan lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar minyak
(BBM), tenaga dan waktu operasi penagkapan. Salah satu cara untuk
mengeksplorasi daerah penangkapan ikan ini adalah melalui analisis hasil
tangkapan dan paremeter-parameter oseanografi berupa Klorofil-a dan Suhu yang
mempengaruhi daerah keberadaan ikan.
Pengamatan

Klorofil-a

dan

suhu

dengan

metode

konvesional

membutuhkan biaya yang cukup besar dan waktu yang lama. Hal ini mendorong
untuk memanfaatkan tehnologi satelit dalam pengamatan fenomena oseanografi
khususnya klorofil-a dan suhu. Menurut Edward (2000) daerah potensial
penangkapan dapat ditentukan melaui karakteristik Oseanografi perairan setempat
yang di observasi melalui sistim penginderaan jauh. Pendekatan ini telah terbukti
akurat dan dijadikan faktor kunci dalam penetapan waktu, dan sasaran jenis ikan
yang akan dieksploitasi oleh suatu armada perikanan tangkap.
Dengan mengetahui penyebaran SPL optimum ikan cakalang, maka
nelayan dapat memprediksi daerah penangkapan sehingga menghemat biaya,
waktu dan tenaga untuk melakukan operasi penangkapan.
1.3.

Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengkaji sebaran Klorofil-a, Suhu serta Ikan Cakalang Katsuwonus
pelamis) hasil tangkapan nelayan

2. Untuk mengkaji hubungan Klorofil-a dan Suhu terhadap hasil tangkapan


ikan Cakalang
3. Memetakan daerah penangkapan potensial perikanan pole and line.
1.4.

Kegunaan Penelitian
Sebagai masukan untuk Nelayan Khusunya Pemerintah Daerah Nusa
Tenggara Timur (NTT) untuk menentukan Daerah Peangkapan (fishing
Ground) Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dengan menggunakan alat
tangkap Huhate (pole and line).

1.5.

Kerangka Berfikir
Adapun Kerangka berpikir pada penelitian ini, dapat dilihat pada gambar 1
berikut;
Gambar 1. Kerangka Pikir
Potensi Sumberdaya Ikan Cakalang
Di Perairan Laut Sawu NTT

PERMASALAHAN
Belum diketahui daerah potensial
penagkapan ikan Cakalang
(Katsuwonus pelamis)

Data Insitu

Basis data cakalang


Dan Parameter Oseanografi

Posisi dan Hasil


Tangkapan

Data Citra Satelit


Parameter Oseanografi
Klorofil-a
SPL
Bulanan

Overlay data sebaran Klorofil-a, suhu


dengan hasil tangkapan pertitik
penangkapan
Analisis hubungan parameter
oseanografi dengan hasil tangkapan
ikan cakalang.
Peta Tematik
Daerah potensial penangkapan ikan
Cakalalang

Klimatologi

Angin
Bulanan

Klimatologi

1.6.

Hipotesis
Variasi sebaran Klorofil-a dan Suhu berpengaruh terhadap hasil

tangkapan cakalang di perairan Laut Sawu Nusa Tenggara Timur.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Parameter Oseanografi


Kata Oseanografi di dalam Bahasa Indonesia adalah terjemahan dari kata
Bahasa Inggris Oceanography, yang merupakan kata majemuk yang berasal dari
kata ocean dan graphy dari Bahasa Yunani atau graphein dari Bahasa Latin
yang berarti menulis. Jadi, menurut arti katanya, Oseanografi berarti menulis
tentang laut.
Menurut Ingmanson dan Wallace (1973), akhiran grafi mengandung
arti suatu proses menggambarkan, mendeskripsikan, atau melaporkan seperti
tersirat

dalam

kata Biografi dan Geografi. Akhiran ologi mengandung arti

sebagai suatu ilmu (science) atau cabang pengetahuan (knowlegde). Dengan


demikian Oseanologi berarti ilmu atau studi tentang laut, sedang Oseanografi
berarti deskripsi tentang laut. Meskipun demikian, kedua kata itu sering dipakai
dengan arti yang sama, yaitu berarti sebagai eksplorasi atau studi ilmiah tentang
laut dan berbagai fenomenanya. Negara-negara Eropa Timur, China dan Rusia
cenderung memakai kata Oseanologi, sedang negara-negara Eropa Barat dan
Amerika cenderung memakai kata Oseanografi.

Istilah Hidrografi yang berasal dari kata Bahasa Inggris Hydrography


kadang-kadang digunakan secara keliru sebagai sinonim dari Oseanografi.
Hidrografi terutama berkaitan dengan penggambaran garis pantai, topografi
dasar laut, arus, dan pasang surut untuk penggunaan praktis dalam navigasi
laut (Ingmanson dan Wallace, 1985). Oseanografi meliputi bidang ilmu yang
lebih luas yang menggunakan prinsip-prinsip fisika, kimia, biologi, dan
geologi dalam mempelajari laut secara keseluruhan.
Secara sederhana, oseanografi dapat disebutkan sebagai aplikasi semua
ilmu (science) terhadap fenomena laut (Ross, 1977). Definisi tersebut
menunjukkan

bahwa oseanografi bukanlah suatu ilmu tunggal, melainkan

kombinasi berbagai ilmu.


Oseanografi
empat

kategori

(Stowe,1983).

sendiri
keilmuan

Oseanografi

seringkali
yaitu
fisis

diungkapkan

fisika,
khusus

biologi,

berdasarkan

kimia,

mempelajari

dan

segala

geologi

sifat

dan

karakter fisik yang membangun sistem fluidanya. Oseanografi biologi


mempelajari

sisi

hayati

samudera

guna

mengungkap

berbagai

siklus

kehidupan organisme yang hidup di atau dari samudera. Oseanografi kimia


melihat berbagai proses

aksi dan reaksi

antar

unsur, molekul,

atau

campuran dalam sistem samudera yang menyebabkan perubahan zat secara


reversibel atau ireversibel. Dan oseanografi geologi memfokuskan pada
bangunan dasar samudera yang berkaitan dengan struktur dan evolusi
cekungan samudera. di dasar laut, dan berbagai proses geologi di laut. Kata

lain

untuk

menyebutkan

oseanografi geologi adalah geologi laut (marine

geology).

2.1.1. Suhu Permukaan Laut (SPL)


Suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh
sangat dominan terhadap kehidupan ikan dan sumberdaya hayati laut pada
umumnya, setiap spesies ikan mempunyai kisaran suhu yang sesuai dengan
lingkungan untuk makan, memijah dan aktivitas lainnya (Simbolon et al.
2009).
Suhu permukaan laut dipengaruhi oleh beberapa kondisi meteorologi
seperti penguapan, curah hujan, suhu udara, kelembaban udara, kecepatan
angin dan intensitas matahari, sehingga suhu permukaan biasanya mengikuti
pola musiman. Selanjutnya dikatakan bahwa secara vertikal suhu perairan
Indonesia dapat dibedakan atas tiga lapisan, yaitu: lapisan homogen hangat
(bagian atas), lapisan termoklin (bagian tengah) dan lapisan dingin pada
bagian bawah (Nontji 1987 vide Simbolon et al. 2009).
Suhu permukaan laut perairan tergantung pada insolasi dan penentuan
jumlah panas yang kembali diradiasikan ke atmosfer. Semakin panas
permukaan maka semakin banyak radiasi baliknya. Panas juga ditransfer di
sepanjang permukaan laut melalui konduksi dan konveksi serta pengaruh
penguapan maka ketikan suhu permukaan laut lebih panas dari udara di
atasnya maka panas dapat ditransfer dari laut ke udara. Biasanya permukaan
laut lebih panas dari udara diatasnya sehingga terdapat sejumlah panas yang
hilang dari laut melalui konduksi. Kehilangan tersebut relatif tidak penting

10

untuk total panas lautan dan pengaruhnya dapat diabaikan kecuali untuk
pencampuran konvektif oleh angina yang memindahkan udara hangat dari
permukaan laut (Supangat dan Susana 2003).
Menurut Hutabarat (2001) suhu merupakan faktor pembatas bagi
proses produksi di lautan dan bersifat tidak langsung, pertama suhu yang
terlalu tinggi dapat merusak jaringan tubuh fitoplankton (kandungan enzim
dan sel tubuh), sehingga akan mengganggu proses fotosintesis, kedua, akan
mengganggu kestabilan perairan itu sendiri. Suhu yang terlalu tinggi di bagian
permukaan juga akan mengakibatkan terjadinya proses percampuran dengan
massa air di bawah. Akibatnya fitoplankton akan terbawa ke kolom air yang
lebih dalam dan membuat perairan tersebut tidak produktif.
Suhu permukaan laut perairan Indonesia umumnya berkisar antara
25oC hingga 30oC dan mengalami penurunan satu atau dua derajat dengan
bertambahnya kedalaman hingga 80 db (8m) (Tomascik et al. 1997)
sedangkan menurut Nontji (2005) suhu permukaan laut di perairan Nusantara
umunya berkisar antara 28oC-31oC pada lokasi penaikan massa air (upwelling)
terjadi. Sebaran suhu secara vertikal di perairan Indonesia umumnya
mempunyai pola seperti pada Gambar 3. Sumber : Nontji (2005)

Gambar 2. Sebaran vertikal suhu secara umum di perairan Indonesia

11

a) Lapisan

hangat, b)
Lapisan
termoklin,
c)

Lapisan
dingin.
Informasi
mengenai

suhu permukaan laut saat ini telah mudah diperoleh dengan adanya
perkembangan dalam bidang teknologi inderaja. Informasi tersebut selanjutnya
dapat digunakan untuk menganalisis dan memprediski fenomena upwelling
ataupun front yang merupakan indikator tentang daerah penangkapan ikan
potensial (Simbolon et al. 2009).
2.1.2. Klorofil-a
Konsentrasi klorofil-a di perairan Indonesia rata-rata 0,19 mg/m3 selama
musim Barat dan 0,21 mg/m3 selama musim Timur. Konsentrasi terbesar
produktivitas primer berada di perairan pantai melebihi 60% dari produktivitas
primer yang ada di laut (Nontji, 2007). Klorofil-a berkaitan erat dengan
produktivitas primer yang ditunjukkan dengan besarnya biomassa fitoplankton
yang menjadi rantai pertama makanan ikan pelagis. Produktivitas primer lingkungan

12

perairan pantai umumnya lebih tinggi dari produktivitas primer perairan laut
terbuka. Menurut Nybakken (1992), produktivitas primer perairan pantai sepuluh
kali lipat produktivitas primer perairan lepas pantai. Hal ini disebabkan oleh
tingginya kadar zat hara dalam perairan pantai bila dibandingkan dengan
perairan lepas pantai. Perairan pantai menerima sejumlah besar unsur-unsur kritis
yaitu P dan N dalam bentuk PO4 dan NO3 melalui run off (aliran air) dari daratan.
Laju produktivitas primer di laut juga dipengaruhi oleh sistem angin muson. Hal
ini berhubungan dengan daerah asal dimana massa air diperoleh. Dari
pengamatan sebaran konsentrasi klorofil-a di perairan Indonesia diperoleh
bahwa konsentrasi klorofil-a tertinggi dijumpai pada musin tenggara, pada saat
tersebut terjadi upwelling di beberapa perairan terutama di perairan Indonesia
bagian timur. Sedangkan klorofil-a terendah dijumpai pada munson barat
laut. Pada saat itu di perairan Indonesia tidak terjadi upwelling dalam
skala yang besar sehingga nilai konsentrasi nutrient di perairan lebih kecil
(Amri, 2002).
Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofila
mampu melaksanakan reaksi fotosintesis di mana air dan karbon
dioksida dengan adanya sinar surya dan garam-garam hara dapat
menghasilkan senyawa seperti karbohidrat. Kemampuan membentuk zat
organik dari zat anorganik maka fitoplankton disebut sebagai produsen
primer (Nontji, 2007). Oleh karena itu kandungan klorofil-a dalam perairan
merupakan salah satu indikator tinggi rendahnya kelimpahan fitoplankton atau
tingkat kesuburan suatu perairan. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi
klorofil-a sangat terkait dengan kondisi oseanografis suatu perairan.

13

Fitoplankton sebagai indikator produktivitas primer melimpah pada daerah


yang subur. Kesuburan perairan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti adanya upwelling ataupun input dari darat. Brodie et al. (2007)
menyatakan bahwa nutrien sebagai unsur yang penting untuk fitoplankton dapat
berasal dari darat berupa nutrien yang terbawa oleh air sungai yang masuk
kedalam suatu Perairan.
Menurut Nybakken (1992), plankton memiliki peranan penting
dalam ekosistem laut karena plankton menjadi bahan makanan bagi berbagai
jenis hewan laut lainnya. Pada tipe rantai makanan lautan, produsen pertama
dimulai dari tumbuhan hijau atau fitoplankton, yang selanjutnya akan dimakan
oleh konsumen pertama sampai kepada konsumsi tertinggi.

Fitoplankton

Gambar 3. Rantai makanan di lautan


Zooplankton

Karnivora I

2.1.3. Upwelling

14

Karnivora II

Karnivora III

Upwelling merupakan suatu proses naiknya massa air dari lapisan


bawah ke lapisan atas. Fenomena ini menimbulkan suatu daerah yang kaya
akan larutan nutrien, seperti nitrat dan fosfat dan karena itu mereka cenderung
mengandung fitoplankton (Simbolon et al. 2009). Luas daerah upwelling
diperkirakan hanya 0,1% dari total luas perairan laut namun produktivitas
primer dan rata - rata produksi ikan di wilayah ini sangat tinggi.
Tabel 1. Produktivitas perikanan beberapa lokasi di Indonesia
Habitat
Presentase luas perairan
Rata - rata Produktivitas primer
(g.C/m2/tahun)
Total Produksi (109 ton
C/tahun)
Jumlah energi yang ditransfer dalam
beberapa tingkat trofik
Rata - rata efisiensi tingkat ekologi
Rata - rata produksi ikan (mg
C/m2/tahun)

Laut
Terbuka

Pantai

Upwelling

90

9,9

0,1

50

100

300

16,3

3,6

0,1

1,5

10%

15%

20%

0,5

340

36.000

12

12

Total produksi ikan (106 ton


0,2
C/tahun)
Sumber : Wolff (2004) vide Widodo dan Suadi (2008)

Umumnya upwelling terjadi di Indonesia pada musim timur, dimana


angina bertiup dari arah timur ke barat. Fenomena ini terekam dengan
intensitas yang cukup tinggi di bulan Mei-September. Hal ini menunjukkan
adanya hubungan yang erat antara upwelling dan musim (Nontji, 1993).

15

Daerah upwelling merupakan lokasi perairan yang kaya akan pakan


ikan , kandungan plankton di lokasi upwelling umumnya tinggi karena itulah
ikan kan kecil (herbivora) akan banyak tinggal di daerah upwelling.
Banyaknya ikan-ikan kecil akan menarik ikan-ikan pemangsa (carnivora)
termasuk tuna untuk hidup di daerah upwelling tersebut (Lally and Parsons,
1994). Hal lain yang menarik tuna untuk tinggal di daerah upwelling adalah
adanya pertemuan antara arus air hangat dan arus air dingin. Hal ini menjadi
salah satu alasan untuk menduga bahwa daerah upwelling merupakan lokasi
fishing ground tuna yang potensial.
Sebaran suhu permukaan laut merupakan salah satu parameter yang
dapat dipergunakan untuk mengetahui terjadinya proses upwelling di suatu
perarian. Dalam proses upwelling ini terjadi penurunan suhu permukaan laut
dan tingginya kandungan zat hara dibandingkan daerah sekitarnya.
Gambar 4. Penentuan Zona Potensi Penangkapan Ikan

Proses upwelling tidak hanya terjadi pengkayaan zat hara pada daerah
lautnya, tetapi juga diikuti
peningkatan
kepadatan
plankton dan organisme
Marpaung
dan Prayogo
(2014)
pelagis lainnya. Konsentrasi unsur hara yang tinggi di kolasi upwelling
meningkatkan kesuburan perairan sehingga mendukung kelimpahan dan
pertumbuhan plankton. Oleh karena itu, lokasi upwelling merupakan daerah

16

yang ideal bagi ikan-ikan kecil untuk memperoleh makanan, yang kemudian
memberikan daya tarik bagi ikan-ikan besar untuk mencari makanan.
Hubungan yang berkesinambungan ini membuat lokasi upwelling merupakan
area yang sangat ideal untuk daerah penangkapan ikan (Tadjuddah, 2005).
2.1.4. Thermal front
Thermal Front di paparan laut adalah daerah - daerah batas antara air
homogen (tercampur sempurna) dan berlapis - lapis, dimana keseimbangan
antara lapisan dan pencampuran tergantung kekuatan arus pasang surut.
Gambar 5 menunjukkan bagaimana sebuah thermal front terbentuk antara air
homogen (kanan) dan air terlapis (kiri) di paparan laut. Lapisan tercampur
bawah disebabkan oleh arus pasut sementara lapisan tercampur atas
disebabkan oleh pencampuran oleh angin dan batas bawahnya adalah
termoklin musiman (kemungkinan bertemu dengan piknoklin). Kedua lapisan
tercampur akan bersatu dan bercampur dimana airnya lebih dangkal.

Gambar 5. Ilustrasi pembentukan thermal front

17

Sumber : The Open University (1995)


Dobson (1986) vide Mukhlishin (1995) mengklasifikasikan thermal
front dalam enam tipe yaitu :
1. Planetary front merupakan front yang bersama dengan konvergen skala
besar dari transport ekman permukaan dan biasanya ditemukan di tengah
laut. contohnya ialah daerah konvergen Antartika atau front kutub.
2. Front yang terjadi karena 'western current edges' dimana air tropis yang
hangat dan bersalinitas tinggi dibawa oleh western boundary current
relatif dekat dengan perairan lintang tinggi yang dingin dan segar.
3. Shelf break front yang terbentuk pada pinggiran paparan benua, dimana
sifat perairan daerah paparan sangat sempit bertemu dan bercampur
dengan perairan yang bertipe lerengan benua atau laut dalam.
4. Upwelling dan Front dimana biasanya dibarengi dengan transport ekman
yang menjahui pantai dan dipicu oleh angin yang menyusuri pantai. front
ini dicirikan oleh sebuah pycnoclin. Pycnoclin merupakan istilah untuk
mencirikan dua massa air yang berbeda sifat terutama densitasnya.
5. Plume front yaitu front yang terjadi pada perbatasan dari perairan tawar
yang diproduksi dari sungai - sungai besar dengan perairan laut.
6. Shallow sea front yaitu front yang terbentuk dalam laut yang sempit dan
estuaria sekitar pulau. Front yang terstratifikasi baik yang disebabkan oleh
angin dan pasang surut.
Robinson (1991) vide Simbolon et al. (2009) menyatakan bahwa front
penting dalam produktivitas perairan laut karena cenderung membawa
bersama- sama massa air yang dingin dan kaya akan nutrien dibandingkan
dengan perairan yang lebih hangat tetapi miskin zat hara. Kombinasi dari suhu
dan peningkatan kandungan hara yang timbul dari pencampuran ini akan
meningkatkan produktivitas fitoplankton. Hal ini ditunjukkan dengan

18

meningkatnya stok ikan di daerah tersebut. Selain itu front atau pertemuan dua
massa air merupakan penghalang bagi migrasi ikan, karena pergerakan air
yang cepat dan ombak yang besar (Simbolon et al 2009).
2.2. Sumberdaya Ikan Pelagis
Ikan pelagis (pelagic fish) adalah ikan yang hidup di permukaan laut
sampai kolom perairan laut. Ikan pelagis biasanya membentuk gerombolan
(schooling) dan melakukan migrasi/ruaya sesuai dengan daerah migrasinya.
Bentuk dari ikan pelagis umumnya bagian punggungnya berwarna kehitamhitaman, atau kebiruan bagian tengah keperakan dan bagian bawah atau perut
keputih-putihan. Perbedaan yang lain adalah ikan yang hidup didalam lumpur,
diantara batu-batuan dan tumbuhan air akan mempunyai bentuk tubuh yang
memanjang seperti ular. Sedangkan ikan perenang cepat seperti tenggiri, tongkol,
dan tuna mempunyai bentuk tubuh stream line. Bentuk tubuh dan warna serta
cara bergeraknya untuk menangkap mangsa saat makan atau menghindarkan diri
dari pemangsa (Lagler,1997).
Potensi sumberdaya ikan laut adalah bobot atau jumlah maksimum yang
dapat ditangkap dari suatu perairan setiap tahun secara berkesinambungan.
Laevastu dan Favourite (1988) menyatakan bahwa ada beberapa metode yang
dapat digunakan untuk menduga potensi sumberdaya perikanan, yaitu :
1. Pendugaan secara langsung, yaitu pandugaan yang didasarkan pada
penangkapan ikan secara langsung dengan menggunakan alat tertentu seperti
trawl survey, longline dan trap survey, telur dan larva dan young fish survey.

19

2. Accoustic survey, yaitu survey yang menggunakan peralatan akustik. Dengan


metode ini dapat dilakukan pengamatan terhadap potensi ikan dalam areal
yang lebih luas.
3. Virtual Population Analysis (VPA), didasarkan pada perhitungan pendugaan
fishing mortality. Metode ini digunakan bersama dengan cara kelimpahan dari
hasil analisa trawl survey atau akuatik survey dan rangkaian CPUE.
4. Ecosystem simulation and multispecies models. Metode ini dilakukan dengan
membuat model yang menirukan situasi ikan yang sebesarnya ketika hidup di
alam.
5. Surplus Production model, metode ini didasarkan pada data produksi tahunan
dari penangkapan.
2.3.
Aspek Biologi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)
Cakalang sering disebut skipjack tuna dengan nama lokal cakalang.
Adapun klasifikasi cakalang menurut Matsumoto, et al (1984) adalah sebagai
berikut :
Phylum : Vertebrata
Class : Telestoi
Ordo : Perciformes
Famili : Scombridae
Genus : Katsuwonus
Species : Katsuwonus pelamis
Gambar. 2. Ikan cakalang (sumber : http//www.fishbase.org)

20

Cakalang termasuk jenis ikan tuna dalam famili Scombridae, species


Katsuwonus pelamis. Collete (1983) menjelaskan ciri-ciri morfologi cakalang
yaitu tubuh berbentuk fusiform, memanjang dan agak bulat, tapis insang (gill
rakes) berjumlah 53- 63 pada helai pertama. Mempunyai dua sirip punggung yang
terpisah. Pada sirip punggung yang pertama terdapat 14-16 jari-jari keras, jari-jari
lemah pada sirip punggung kedua diikuti oleh 7-9 finlet. Sirip dada pendek,
terdapat dua flops diantara sirip perut. Sirip anal diikuti dengan 7-8 finlet. Badan
tidak bersisik kecuali pada barut badan (corselets) dan lateral line terdapat
titiktitik kecil. Bagian punggung berwarna biru kehitaman (gelap) disisi bawah
dan perut keperakan, dengan 4-6 buah garis-garis berwarna hitam yang
memanjang pada bagian samping badan.
Cakalang termasuk ikan perenang cepat dan mempunyai sifat makan
yang rakus. Ikan jenis ini sering bergerombol yang hampir bersamaan melakukan
ruaya disekitar pulau maupun jarak jauh dan senang melawan arus, ikan ini biasa
bergerombol diperairan pelagis hingga kedalaman 200 m. Ikan ini mencari makan
berdasarkan penglihatan dan rakus terhadap mangsanya.
2.4.
Daerah Penyebaran
Menurut Jones dan Silas (1962) cakalang hidup pada temperature antara
160C 300C dengan temperature optimum 280C. Ikan cakalang menyebar luas
diseluruh perairan tropis dan sub tropis pada lautan Atlantik, Hindia dan Pasifik,
kecuali laut Mediterania. Penyebaran ini dapat dibedakan menjadi dua macam
yaitu penyebaran horizontal atau penyebaran menurut letak geografis perairan dan
penyebaran vertikal atau penyebaran menurut kedalaman perairan. Penyebaran
Tuna dan Cakalang sering mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus garis
konvergensi diantara arus dingin dan arus panas merupakan daerah yang kaya

21

akan organisme dan daerah tersebut merupakan fishing ground yang sangat baik
untuk perikanan Tuna dan Cakalang.
Masing-masing jenis ikan tuna mempunyai sifat ekologi yang berbedabeda. Salah satu parameter lingkungan yang sangat mempengaruhi perilaku
kehidupan ikan tuna adalah suhu (Gunarso,1985). Masing-masing ikan tuna
mempunyai kisaran suhu optimum untuk kehidupannya, seperti terangkum dalam
Tabel 2.
Tabel 2. Kisaran Suhu untuk kehidupan beberapa jenis ikan tuna
Kisaran Suhu (oC)
Jenis Ikan
Penyebaran

Optimum

Cakalang
17 - 18
20 - 24
Bluefin
12 - 25
14 - 21
Bigeye
11 - 28
17 - 23
Yellowfin
18 - 31
20 - 28
Albacore
14 - 23
14 - 22
Sumber : Laevatsu and Hela (1970)

Penangkapan
19 - 23
15 - 22
18 - 22
20 - 28
15 - 21

Penangkapan.
opt
16 - 22
21 - 24
15 - 19

Lapisan
Renang
(Meter)
0 - 40
50 - 300
50 - 400
0 - 200
20 - 300

Dari tabel diatas, menunjukan bahwa ikan cakalang masih berada pada
daerah kategori dangkal, sedangkal beberapa jenis tuna lainnya berada pada
daerah yang relatif dalam.
Penyebaran cakalang di perairan Samudra Hindia meliputi daerah tropis
dan sub tropis, penyebaran cakalang ini terus berlangsung secara teratur di
Samudra Hindia di mulai dari Pantai Barat Australia, sebelah selatan Kepulauan
Nusa Tenggara, sebelah selatan Pulau Jawa, Sebelah Barat Sumatra, Laut
Andaman, diluar pantai Bombay, diluar pantai Ceylon, sebelah Barat Hindia,

22

Teluk Aden, Samudra Hindia yang berbatasan dengan Pantai Sobali, Pantai Timur
dan selatan Afrika (Jones dan Silas, 1963).
Menurut Uktolseja et al (1989), penyebaran cakalang di perairan
Indonesia meliputi Samudra Hindia (perairan Barat Sumatra, selatan Jawa, Bali,
Nusa Tenggara), Perairan Indonesia bagian Timur (Laut Sulawesi, Maluku,
Arafuru, Banda, Flores dan Selat Makassar) dan Samudra Fasifik (perairan Utara
Irian Jaya).
Secara garis besarnya, cakalang mempunyai daerah penyebaran dan
migrasi yang luas, yaitu meliputi daerah tropis dan sub tropis dengan daerah
penyebaran terbesar terdapat disekitar perairan khatulistiwa. Daerah penangkapan
merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan berhasil atau
tidaknya suatu operasi penangkapan. Dalam hubungannya dengan alat tangkap,
maka daerah penangkapan tersebut haruslah baik dan dapat menguntungkan.
Dalam arti ikan berlimpah, bergerombol, daerah aman, tidak jauh dari pelabuhan
dan alat tangkap mudah dioperasikan (Waluyo, 1987).
Lebih lanjut Paulus (1986), menyatakan bahwa dalam memilih dan
menentukan daerah penangkapan, harus memenuhi syarat-syarat antara lain :
1) Kondisi daerah tersebut harus sedemikian rupa sehingga ikan dengan mudah
datang dan berkumpul.
2) Daerahnya aman dan alat tangkap mudah dioperasikan.
3) Daerah tersebut harus daerah yang secara ekonomis menguntungkan. Hal ini
tentu saja erat hubungannya dengan kondisi oseanografi dan meteorologist
suatu perairan dan faktor biologi dari ikan cakalang itu sendiri.
Musim penangkapan cakalang di perairan Indonesia bervariasi. Musim
penangkapan cakalang di suatu perairan belum tentu sama dengan perairan yang
lain. Nikijuluw (1986), menyatakan bahwa penangkapan cakalang dan tuna di
perairan Indonesia dapat dilakukan sepanjang tahun dan hasil yang diperoleh

23

berbeda dari musim ke musim dan bervariasi menurut lokasi penangkapan. Bila
hasil tangkapan lebih banyak dari biasanya disebut musim puncak dan apabila
dihasilkan lebih sedikit dari biasanya disebut musim paceklik.
2.5.
Teknologi Penginderaan Jauh (INDERAJA)
Penginderaan jauh (remote sensing) merupakan suatu teknik untuk
mengumpulkan informasi mengenai objek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa
sentuhan fisik. Biasanya teknik ini menghasilkan beberapa bentuk citra yang
selanjutnya diproses dan diinterpetasikan guna menghasilkan data yang bermanfaat
untuk aplikasi di bidang pertanian, perikanan, arkeologi, dan bidang-bidang lainnya
(Purbowaseso 1995). Secara khusus penginderaan jauh didefinisikan sebagai suatu
cara untuk mendekteksi gelombang elektromagnetik dari suatu objek (dipancarkan
atau dipantulkan). Teknologi penginderaan jauh pada dasarnya meliputi tiga bagian
utama yaitu : perolehan data, pemrosesan, dan intrepetasi data (pemanfaatan data).
Wahana yang dipergunakan adalah pesawat udara atau satelit buatan yang
dilengkapi dengan peralatan perekam data (sensor).
Salah satu satelit penginderaan jauh untuk kelautan berupa satelit seri
NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) dengan sensor AVHRR
(Advanced

Very

High

Resolution

Radiometer)

dengan

kemampuan

pengamatannya mencakup daerah luas dan resolusi temporalnya tinggi


(Hartoko. A 2000).
Pemetaan sumberdaya wilayah pesisir dan laut yang sifatnya selalu
bergerak dan berubah digunakan berdasarkan konsep "pemetaan dinamis"
berdasarkan pengembangan metode pemetaan geo-statistik (Hartoko. A.
dkk, 2000). Juga diterangkan bahwa satelit dapat mengamati beberapa

24

parameter Iingkungan seperti sebaran suhu permukaan laut dan sedimentasi,


perubahan suhu permukaan akan menyebabkan perubahan parameter lain seperti
salinitas, tekanan dan densitas. Menurut Hartoko A. 1992, data citra satelit NOAA
AVHRR dapat digunakan untuk menganalisa suhu permukaan laut dan
kecerahan perairan, dari analisa suhu permukaan laut dapat menjelaskan sebaran
salinitas, densitas dan pola arus air laut. Sedangkan analisa kecerahan dapat
mengetahui padatan tersuspensi dan pola sedimen.
Satelit NOAA-12 dan NOM-14 dengan sensor AVHRR yaitu suatu
instrumen yang dapat merekam data di bumi dengan menggunakan 5 saluran
(band), sensor AVHRR membuahkan citra dengan cakupan seiebar 2850 km dan
dengan resolusi spasial 1,1 km, digunakan untuk perkiraan cuaca dan sejumlah
ilmu terapan untuk Iingkungan termasuk pengukuran suhu permukaan laut dan
memantau front laut (Susanto, 1987). Sedang untuk perairan 'pantai lebih detail
dengan data satelit Landsat-TM, yang berupa unsigned 8 bit dengan resolusi pixel 30
m dengan cakupan area full scene yaitu sekitar 180 x 180 km (Hartoko. A. dan
Suprapto, 1992).
Di samping inderaja juga digunakan GIS (Geographic Information
System) untuk pemetaan. Menurut Jacub 1994, GIS telah dikembangkan berkat
adanya perkembangan secara paralel dan terpadu dari kartografi komputer
(Computer Assisted Cartography), desain grafik, pemetaan digital inderaja dan
teknologi penentuan posisi dengan satelit menggunakan alat GPS (Global
Positioning System). Menurut Burrough, 1986. GIS adalah suatu sistem
informasi yang didesain untuk bekerja dengan data spasial yang berunjuk pada

25

posisi di muka bumi dalam bentuk koordinat geografis serta merupakan teknologi
yang mampu mengumpulkan, menyimpan, mentransformasi dan menampilkan
data spasial dari suatu wilayah untuk tujuan tertentu.
Sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,
maka saat ini pengkajian potensi dan sumberdaya ikan dapat dilakukan dengan
teknologi pemetaan. Dan hasil kegiatan pemetaari akan dapat diketahui peta Batas
wilayah laut, Peta hidro-oseanografi, peta sistem informasi geografis (SIG)
dan peta geo-statistik sumberdaya alam laut (Hartoko, 2000).
2.6.

Satelit Aqua MODIS


Nama Aqua berasal dari bahasa Latin yang berarti air. Satelit ini

mengumpulkan informasi di bumi mengenai siklus air, penguapan air laut, uap air
di udara, awan, curah hujan, kelembapan tanah, es di laut, es di daratan, dan
panutupan salju. Aqua dapat mengukur hampir semua parameter darat, laut, dan
udara sehingga kegunaannya menjadi sangat luas. Mulai dari indeks tumbuhan,
kelembaban tanah, kadar aerosol di udara, suhu permukaan laut, dan kandungan
klorofil laut, yang seluruhnya ada 86 parameter sehingga banyak keperluan lain
yang bisa ditumpangkan.
Misi Aqua merupakan bagian dari NASA-Centered International Earth
Observing System (EOS) atau sistem pemantau bumi internasional yang berpusat
di NASA. Aqua sebelumnya bernama EOS PM, yang menggambarkan Aqua
mengorbit dari selatan ke utara di atas garis ekuator pada siang hari. Aqua dapat
melihat setiap titik pada bumi hingga 1-2 hari. Aqua mengorbit bumi pada
ketinggian 705 km, dan memiliki orbit sunsynchronous, near polar, dan circular.

26

Berbeda dengan satelit Terra, Aqua melintasi ekuator setiap hari, dan bergerak
menuju utara (ascending mode). Aqua akan melintasi ekuator setiap hari pada jam
13.30 WIB.
Data MODIS pada Satelit Aqua mampu memberikan informasi distribusi
warna permukaan laut yang berkaitan dengan kandungan klorofil-a disuatu
perairan. Penentuan konsentrasi klorofil-a dilaksanakan berdasarkan ratio
radiansi atau reklektansin yang diukur dalam band spectral visible yaitu band
biru dan hijau.
Sensor MODIS yang terpasang pada satelit Terra dan Aqua dapat mengukur
hampir semua parameter darat, laut, dan udara sehingga kegunaannya menjadi
sangat luas. Mulai dari indeks tumbuhan, kelembaban tanah, kadar aerosol di
udara, suhu permukaan laut, dan kandungan klorofil laut, yang seluruhnya ada 86
parameter sehingga banyak keperluan lain yang bisa ditumpangkan. MODIS
pertama kali diluncurkan pada tanggal 18 Desember 1999 dibawa oleh satelit
Terra yang spesifikasinya lebih ke daratan. Lalu, pada tanggal 4 mei 2002
diluncurkan MODIS yang dibawa oleh satelit Aqua dan spesifikasinya lebih ke
lautan (Maccherone, 2005)
Tabel 3. Karakteristik Satelit Terra/Aqua
Elemen
Orbit

Karakteristik
Orbit Ketinggian orbit 705 km, waktu melintas
puul 10:30 dengan orbit dari selatan ke utara
(Terra) atau pukul 13:30 dengan orbit dari selatan

Kecepatan Peliputan
Lebar Cakupan
Teleskop

ke utara(Aqua).
20,3 rpm, cross track
2.330 km
17,78 cm (diameter)

27

Ukuran
Berat
Energi
Kecepatan Data

1,0 x 1,6 x 1,0 m


228,7 Kg
162,5 W (Liputan satu orbit)
10,6 Mbps (pada tengah hari);

Kuantisasi Data
Resolusi Spasial

6,1 Mbps (rata-rata per orbit)


12 bits
250 m (kanal 1-2)
500 m (kanal3-7)

Masa Operasi
Sumber : LAPAN, 2014

1.000 m (kanal8-36)
6 tahun

Tabel 4. Karakteristik Spektral Sensor MODIS Terra/Aqua


Penggunaan Utama

Kanal

Batas-batas daratan, awan


dan uap air
Karakteristik daratan, awan
dan uap air

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Warna air laut, fitoplankton,


dan biologi-geologi-kimia
(biogeochemistry)

Uap air atmosfir

Suhu permukaan dan awan

Suhu atmosfir

28

Lebar
Spektrum
620 - 670
841 - 876
459 479
545 565
1.230 1.250
1.628 1.652
2.105 2.155
405-420
438-448
483-493
526-536
546-556
662-672
673-683
743-753
862-877
890-920
931-941
915-965
3.660-3.840
3.929-3.989
3.929-3.989
4.020-4.080
4.433-4.498
4.482-4.549

Spektral
Radian
21,8
24,7
35.3
29,0
5,4
7,3
1,0
44,9
41,9
32,1
27,9
21,0
9,5
8,7
10,2
6,2
10,0
3,6
15,0
0,45(300K)
2,38(335K)
0,67(300K)
0,79(300K)
0,17(250K)
0.59(275K)

Uap awan cirus

Karakteristik awan ozon


Suhu permukaan dan awan
Ketinggian puncak awan

Keterangan

26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36

1.360-1.390
6.535-6.895
7.175-7.475
8.400-8.700
9.580-9.880
10.780-11.280
11.770-12.270
13.185-13.485
13.485-13.785
13.785-14.085
14.085-14.385

6,00
1,16(240K)
2,18(250K)
9,58(300K)
3,69(250K)
9,55(300K)
8,94(300K)
4,52(260K)
3,76(250K)
3,11(240K)
2,08(220K)

: Panjang gelombang kanal 1-19 dalam nm, kanal 20-36 dalam m, dan nilai
spektral radian (W/M2-M-SR)

Sumber : LAPAN, (2014)


2.7.

Pemanfaatan Satelit Aqua MODIS dalam Penentuan DPI


Indonesia merupakan salah satu negara yang sebagian besar wilayahnya

adalah laut, sehingga sering disebut sebagai negara maritim. Luas wilayah
perairan sekitar 5.8 juta km2 menjadikan negara Indonesia sebagai salah satu
wilayah yang memiliki potensi perikanan dan kelautan yang cukup besar.
sementara itu pengelolaan perikanan belum dikelola secara optimal dan lestari
merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi di Indonesia (Simblon
et al., 2009).
Penggunaan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis
(SIG) di bidang perikanan telah banyak digunakan, salah satunya pada sector
perikanan

tangkap.

Permasalahan

utama

yang

banyak

dikaji

dengan

menggunakan teknologi indraja dan SIG terkait dengan optimalisasi hasil


tangkapan adalah keterbatasan data dan informasi mengenai kondisi oseanografi
yang berkaitan dengan daerah penangkapan yang potensial. Sehingga dengan
adanya teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan sistem informasi

29

geografis banyak membantu dalam upaya peningkatan hasil tangkapan secara


optimal.
Menurut Simbolon et al (2009) terdapat dua teknologi yang digunakan
dalam perkembangan ilmu pemetaan di bidang perikanan yaitu pengideraan jarak
jauh dan sistem informasi geografis. Sistem informasi geografis diartikan sebagai
alat dengan sistem komputer yang digunakan untuk memetakan kondisi dan
peristiwa yang terjadi di permukaan bumi. Secara lebih luas SIG diartikan
sebagai sistem manual dan atau komputer yang digunakan untuk mengumpulkan,
menyimpan, mengelola dan menghasilkan informasi yang mempunyai rujukan
spatial atau geografis. Penginderaan jarak jauh (remote sensing) adalah ilmu dan
seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena
melalui analisis data yang diperoleh tanpa kontak langsung dengan objek, daerah
atau fenomena yang dikaji (Lilesand dan Kiefer, 1994).
Parameter oseanografi dan fenomena perairan merupakan paramater
yang dapat dimanfaatkan untuk memprediksi daerah penangkapan potensial.
Teknologi penginderaan jarak jauh saat ini telah mampu mengamati berbagai
fenomena perairan dan kondisi oseanografi tersebut, seperti suhu permukaan laut,
konsentrasi klorofil-a, salinitas, arus, sedimentasi perairan, pasang surut perairan,
fenomena upwelling, thermal front, dan eddies yang kesemuanya dapat
dimanfaatkan guna penentuan daerah penangkapan potensial. Menurut Zainuddin
(2006) salah satu alternatif yang menawarkan solusi terbaik dalam penentuan
daerah penangkapan potensial dengan mengkombinasikan kemampuan SIG dan
penginderaan jauh (indraja). Dengan teknologi indraja faktor - faktor yang

30

mempengaruhi distribusi, migrasi dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara


berkala, cepat dan dengan cakupan area yang luas. Faktor lingkungan tersebut
antara lain suhu permukaan laut (SPL), tingkat konsentrasi klorofil-a, perbedaan
tinggi permukaan perairan, arah dan kecepatan arus, serta tingkat produktifitas
primer. Pengetahuan dasar yang dipakai dalam melakukan pengkajian adalah
mencari hubungan antara spesies ikan dengan factor lingkungan di sekelilingnya
(Zainuddin, 2006). Parameter yang digunakan dalam penentuan daerah
penangkapan potensial ini kemudian diolah dengan menggunakan teknologi SIG.
Pemanfaatan teknologi SIG pada bidang perikanan tangkap harus didukung oleh
sejumlah konsep - konsep ilmiah dan data yang memadai sehingga diperoleh
hasil yang lebih akurat.
2.8.

Hubungan Aplikasi SIG dengan Potensi Penangkapan Ikan


Masalah yang umum dihadapi adalah keberadaan daerah penangkapan

ikan yang bersifat dinamis, selalu berubah/berpindah mengikuti pergerakan ikan.


Secara alami, ikan akan memilih habitat yang sesuai, sedangkan habitat tersebut
sangat dipengaruhi kondisi oseonografi perairan. Dengan demikian daerah
potensial penangkapan ikan sangat dipengaruhi oleh factor oseonografi perairan.
Kegiatan penangkapan ikan akan lebih efektif dan efisien apabila daerah
penagkapan ikan dapat diduga terlebih dahulu, sebelum armada penagkapan ikan
berangkat dari pangkalan. Salah satu cara untuk mengetahui daerah potensial
penangkapan ikan adalah melalui study daerah penangkapan ikan dan
hubungannya dengan fenomena oseonografi secara berkelanjutan (Priyanti, 1999)

31

Menurut Zainuddin (2006), Salah satu alternatif yang menawarkan solusi


terbaik adalah pengkombinasian kemampuan SIG dan pengindraan jauh. Dengan
teknologi inderaja faktor-faktor lingkungan laut yang mempengaruhi distribusi,
migrasi dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat dan dengan
cakupan daerah yang luas.
Pemanfaatan SIG dalam perikanan tangkap dapat mempermudah dalam
operasi penangkapan ikan dan penghematan waktu dalam pencarian fishing
ground yang sesuai (Dahuri, 2001). Dengan menggunakan SIG gejala perubahan
lingkungan berdasarkan ruang dan waktu dapat disajikan, tentunya dengan
dukungan berbagai informasi data, baik survei langsung maupun dengan
pengidraan jarak jauh (INDERAJA).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dlaksanakan pada bulan Oktober Desember 2016 di
Perairan Laut Sawu Nusa Tenggara Timur.
Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian
3.2. Materi Penelitian
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data klorofil-a dan
suhu permukaan laut di perairan laut sawu yang memantulkan gelombang infra
merah yang selanjutnya direkam oleh sensor satelit MODIS, data hasil tangkapan
ikan cakalang per titik koordinat penangkapan yang berasal dari log book kapal

32

penangkap cakalang, data trip penangkapan ikan cakalang diperairan Laut Sawu
selama tiga tahun dari tahun 2014 hingga tahun 2016.
Adapun alat yang digunakan serta kegunaannya dapat dilihat pada tabel
berikut;
Tabel 1. Alat dan Kegunaanya
No
1.

Alat
Komputer dengan prosesor

Untuk

Kegunaannya
melakukan
seluruh

Intel Pentium

pengolahan data dan laporan penelitian,

proses

Software winSCP
2.

Untuk download data citra MODIS


Sofware Pemrograman

3.

Untuk transformasi data Klorofil-a dan


Microsoft Excel dan SPSS

Suhu permukaan laut.

17
4.

ArcMap 10.2

Untuk analisis korelasi dan regresi data


stastistik

33

5.

Untuk membuat Peta

3.3. Metode dan Pengambilan Data


Penelitian ini menggunakan metode survei dengan mengumpulkan dua
jenis dataset, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari data
times series posisi penangkapan dan data hasil tangkapan ikan cakalang selama (3
tahun) diambil dari UPT Pelabuhan Perikanan Provinsi NTT. Data sekunder
berupa data bulanan citra satelit Aqua MODIS level 3 yang diambil selama
sepuluh tahun terakhir yakni dari bulan Januari 2002 sampai Desember 2016.
Data diakses pada website (http://oceancolor.gsfc.nasa.gov/) milik NASA
menggunakan software winSCP. Berbagai tipe data yang tersedia bisa didownload
secara gratis, namun untuk keperluan penelitian ini data yang digunakan adalah
Klorofil-a, SPL dan kecepatan Angin dengan resolusi 4 km x 4 km (pixel).
3.4. Pengolahan Data
3.4.1. Klorofil-a, Suhu Permukaan Laut dan Angin
Moderate Resolution Imaging Spectoradiometer (MODIS) yang
digunakan tidak memerlukan koreksi geometri maupun radiometrik karena
data citra yang digunakan adalah data citra level 3 yang sudah
terkoreksi baik geometrik maupun radiometrik dan data
tersebut sudah siap dipakai dan diolah. Data MODIS berupa
Klorofil-a, Suhu dan Angin bulanan selama (10 tahun) selanjutnya diolah
menggunakan software pemprograman dengan tahapan; Pemotongan
(cropping) dan mengkomposit citra untuk lebih lanjut digunakan
dalam memvisualisasi (display) serta analisis (raw data) bagi

34

kegiatan pengamatan parameter oseanografi (klorofil-a, suhu


dan angin). Khusus untuk keperluan analisis raw data, data
klorofil-a suhu permukaan dikonver lagi ke dalam format
ASCII untuk selanjutnya diolah pada MS Excell menjadi
represenstasi grafis (chart) sebaran klorofil-a dan suhu
permukaan bulanan.
3.4.2. Koordinat dan Hasil tangkapan
Data times series koordinat dan hasil tangkapan ikan cakalang selama
(3 tiga) tahun yakni dari tahun 2014-2016 diolah menggunakan program MS.
Excel melalui beberapa tahapan yaitu - pembuatan grafik tangkapan dilakukan
untuk melihat tinggi dan rendahnya hasil tangkapan, merata-ratakan hasil
tangkapan dan gridding (geo statistik) koordinat penagkapan. Proses gridding
(geo statistik) yaitu proses transformasi data pada titik koordinat menjadi
layer spasial (Hartoko dan Helmi, 2004.
3.4.3. Overlay
Layout yaitu proses memasukkan metadata agar output yang dihasilkan
dapat menjadi informasi lengkap mengenai sebaran spasial sebaran klorofil-a,
suhu permukaan laut (SPL) dan daerah tangkapan seperti Geodetic Datum,
Map Projection, jenis data, sumber data, judul, skala, dan arah mata angin.
3.5. Analisis Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Uji Pra Model Analisis
Regresi. Kemudian untuk menyatakan hubungan antara hasil tangkapan
dengan parameter oseanografi, digunakan Analisis Regresi Linier Berganda,
untuk mengetahui variable signifikan dari setiap parameter.
1. Uji Pra Model Analisis Regresi

35

Analisis regresi digunakan untuk mendefenisikan hubungan matematis


antara variabel dependent (Y) dengan satu atau beberapa variabel
independent (X), ada beberapa asumsi mendasar dalam analisis regresi,
yaitu :
a. Residu mengikuti distribusi normal
Artinya dilakukan pemeriksaan melalui pengujian normalitas residual,
dengan melihat uji statistik Kolmogrov Smirnov dimana nilai p-value >
0,05. Uji kenormalan bisa dilihat juga dari hasil grafik normal P-Plot,
dimana pencaran residual harus berada di sekitar garis lurus
melintang.
b. Varians residu konstant untuk setiap pengamatan (homoskedastisitas)

Artinya tidak adanya problem heteroskedastisitas, yang dapat dilihat


dari hasil scatter plot, dimana data tidak memenuhi suatu pola
tertentu.
terdapat Autokorelasi antara residu untuk setiap data

c. Tidak

pengamatan Pengujian dengan melihat tidak adanya problem


autokorelasi yang ditunjukkan oleh nilai Durbin Watson , dengan
kriteria keputusan : apabila nilai Durbin Watson d < du atau (4 - du),
du maka hipotesis nol ditolak, sebaliknya jika du < d < 4 - du maka
hipotesis nol diterima.
d. Tidak terdapat problem multikolineritas antara variabel independent

Pemeriksaan ini dapat dilihat dari nilai VIF > 10, maka dapat
dikatakan
terdapat gejala multikolineritas, tetapi apabila nilai VIF < 10, maka
dikatakan tidak adanya problem multikolineritas, yang artinya bahwa

36

tidak terdapat hubungan linear yang sangat tinggi antara variabel


independent.
2. Analisis Regresi Linier Ganda
Hubungan faktor oseanografi dengan jumlah hasil tangkapan juga dilakukan
dengan uji statistik dengan menggunakan analisis regresi linear ganda
(Draper, 1992).

Y = a + bx + cx2
Dimana:
Y =variabel terikat (hasil tangkapan Ikan Cakalang setiap titik koordinat)
X = variabel bebas (parameter oseanografi)
a = constant
b, c = koefisien
3.5. Pemetaan Daerah Potensial Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus
pelamis)
Pementaan daerah potensial penangkapan ikan cakalang, di tentukan dengan dua
yakni;

37