Anda di halaman 1dari 17

RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN

(RPP)
ASUHAN KEBIDANAN IV
GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN PADA NEONATUS

OLEH :
Kristina Hendrika Padhi
Priska Olga Sareng
Yasi Lamika Ridwanti
UNIVERSITAS KADIRI -KEDIRI
2014

RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN


(RPP)
Satuan Pendidikan
Podi
Mata Kuliah
Kode Mata Kuliah
Beban Studi
TK/Semester
Pertemuan ke
Alokasi Waktu
Standar Kompetensi

: Universitas Kadiri
: D IV Kebidanan
: Asuhan Kebidanan IV
: AK4
: 5 SKS
: V (Lima)
:1
: 1X100 menit
: Memberikan kemampuan

pada

mahasiswa

untuk

melakukan asuhan kebidanan pada neonatus dengan


Kompetensi Dasar

gangguan sistem pencernaan.


: Mahasiswa mampu memahami tentang pelaksanaan
asuhan kebidanan pada neonatus dengan gangguan sistem

Indikator

pencernaan.
: Mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan asuhan
kebidanan pada neonatus dengan gangguan sistem
pencernaan.

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah selesai pembelajaran mahasiswa dapat:
1. Menjelaskan pengertian, etiologi, patofisiologi, gejala, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang, komplikasi, penatalaksanaan dari perforasi
gastrointestinal.
2. Menjelaskan pengertian, klasifikasi, etiologi, tanda dan gejala, diagnosis,
komplikasi, penatalaksanaan dari kanker lambung.

B. Materi Pembelajaran
1. Perforasi Gastrointestinal
2. Kanker Lambung
C. Metode Pembelajaran
Ceramah, diskusi, tanya jawab
D. Media pembelajaran
Komputer, LCD

E. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran


Jenis

Kegiatan Belajar Mengajar

Waktu

Kegiatan
Kegiatiatan Dosen
Kegiatan
Awal

Kegiatan Mahasiswa

Mengucap salam
Memperkenalkan diri
Menjelaskan
tujuan

Menjawab salam
Mendengarkan

apa 10 menit

yang disampaikan oleh

pembelajaran :
Pada akhir perkuliahan

dosen

diharapkan mahasiswa
mampu
menjelaskan
tentang gangguan sistem
pencernaan pada neonatus
dengan tepat.

Kegiatan

Inti

Kegiatan

Melakukan apersepsi
Menjelaskan tentang
Perforasi

gastrointestinal

Menanggapi apersepsi
Mendengarkan
apa 60 menit
yang disampaikan oleh

dan Kanker Lambung


Memberikan kesempatan

dosen
Mengajukan

mahasiswa untuk bertanya


Menyimpulkan
hasil

pertanyaan
Mendengarkan

materi

Penutup

yang

diberikan
Memberikan

telah

soal essay

apa

yang disampaikan oleh

dosen
Mengerjakan

kepada mahasiswa secara

secara

berkelompok (diskusi)
Mengucap salam

(diskusi)
Menjawab salam

soal

berkelompok

F. REFERENSI
1. http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2008/05/sistem-pencernaanmakanan.html
2. http://cetrione.blogspot.com/2008/11/demam-typhoid.html
3. http://medlinux.blogspot.com/2008/06/terapi-konservatif-chron-disease.html

20

4. http://dannysatriyo.blogspot.com/2012/11/tukak-peptik-perforasigastrointestinal.html
5. http://nsyadi.blogspot.com/2012/01/askep-kanker-lambung.html
G. PENILAIAN
1. Jenis Penilaian
2. Bentuk Instrumen
3. Soal

: Tes
: Soal Essay
:

Perforasi Gastrointestinal
1) Apakah yang dimaksudkan dengan Perforasi Gaster ?
Jawaban :
Perforasi gastrointestinal merupakan suatu bentuk penetrasi yang
komplek dari dinding lambung, usus halus, usus besar akibat dari
bocornya isi dari usus ke dalam rongga perut. Perforasi dari usus
mengakibatkan secara potensial untuk terjadinya kontaminasi bakteri
dalam rongga perut ( keadaan ini dikenal dengan istilah peritonitis).
2) Sebutkan 5 hal yang dapat menyebabkan Perforasi Gaster !
Jawaban :
Cedera tembus yang mengenai dada bagian bawah atau perut (contoh :

trauma tertusuk pisau).


Trauma tumpul perut yang mengenai lambung. Lebih sering

ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa.


Obat aspirin, NSAID (misalnya fenilbutazon,

antalgin,dan

natriumdiclofenac) serta golongan obat anti inflamasi steroid


diantaranya deksametason dan prednisone. Sering ditemukan pada

orang dewasa.
Kondisi yang mempredisposisi : ulkus peptikum, appendicitis
akut,divertikulosis

akut,

dan

divertikulum

Meckel

yang

terinflamasi.
Appendicitis akut: kondisi ini masih menjadi salah satu penyebab
umum perforasi usus pada pasien yang lebih tua dan berhubungan

dengan hasil akhir yang buruk.


Luka usus yang berhubungan dengan endoscopic : luka dapat
terjadi oleh ERCP dan colonoscopy.

Fungsi usus sebagai suatu komplikasi laparoscopic: faktor yang


mungkin

mempredisposisikan

pasien

ini

adalah

obesitas,

kehamilan, inflamasi usus akut dan kronik dan obstruksi usus.


Infeksi bakteri (demam typoid) mempunyai komplikasi menjadi
perforasi usus pada sekitar 5% pasien. Komplikasi perforasi pada
pasien ini sering tidak terduga terjadi pada saat kondisi pasien

mulai membaik.
Penyakit inflamasi usus : perforasi usus dapat muncul pada pasien
dengan colitis ulceratif akut, dan perforasi ileum terminal dapat

muncul pada pasien dengan Crohns disease.


Perforasi sekunder dari iskemik usus (colitis iskemik) dapat timbul.
Perforasi usus dapat terjadi karena keganasan didalam perut atau

limphoma.
Radiotherapi dari keganasan cervik dan keganasan intra abdominal
lainnya dapat berhubungan dengan komplikasi lanjut, termasuk

obstruksi usus dan perforasi usus.


Benda asing (misalnya tusuk gigi atau jarum pentul) dapat
menyebabkan perforasi oesophagus, gaster, atau usus kecil dengan

infeksi intra abdomen, peritonitis, dan sepsis.


3) Bagaimanakah gejala yang timbul jika terkena perforasi gaster?
Jawaban :
Nyeri perut hebat yang makin meningkat dengan adanya pergerakan
disertai nausea, vomitus, pada keadaan lanjut disertai demam dan
menggigil.
Kanker Lambung
4) Uraikan hal-hal yang merupakan tanda dan gejala dari kanker lambung !
Jawaban :
Penurunan berat badan
Muntah
Anoreksia
Disfagia
Nausea
Lemah
Hematemasis
Regurgitasi

Mudah kenyang
Asites (perut membesar)
Kram abdomen
Adanya darah yang nyata atau samar pada tinja
Pasien mengeluh tidak enak pada perut terutama sehabis makan.
5) Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan untuk mengetahui jika
seseorang terkena kanker lambung?
Jawaban :
Pemeriksaan fisis.
Radiologi.
Gastroskopi dan Biopsi.
Pemeriksaan darah pada tinja.
Sitologi.

LAMPIRAN MATERI
PERFORASI GASTROINTESTINAL
Perforasi gaster pada periode neonatal meskipun jarang terjadi, penyakit
ini lebih sering terjadi pada anak daripada dewasa, dan biasanya terjadi di ICU
neonatal. Etiologi spesifik sulit ditentukan karena bayi biasanya sakit dan patologi
aktual menyediakan hanya sedikit petunjuk. Kebanyakan perforasi gaster adalah
akibat trauma iatrogenik. Cedera paling umum adalah akibat pemasangan pipa
orogastrik atau nasogastrik yang terlalu bertenaga. Perforasi biasanya di sepanjang
kurvatura mayor dan tampak sebagai luka tusuk atau laserasi pendek.
Tiga mekanisme telah diajukan untuk perforasi gaster pada neonatal yaitu :
1. Traumatik
Perforasi gaster traumatik dapat muncul sebagai akibat distensi
gaster yang hebat selama ventilasi tekanan positif selama resusitasi
bag-mask atau ventilasi mekanik untuk gagal napas.
2. Iskemik
Mekanisme perforasi iskemik sulit diterangkan karena kasus ini
dihubungkan

dengan

kondisi

stress

fisiologis

berat

seperti

prematuritas hebat, sepsis, dan asfiksia neonatal. Perforasi gastrik


iskemik telah dilaporkan dalam hubungan dengan enterokolitis
nekrotikans. Karena stress ulcer gaster telah dilaporkan pada berbagai

bayi yang sakit kritis, telah diajukan bahwa perforasi gaster sebagai
akibat dari nekrosis transmural.
3. Spontan
Perforasi gaster spontan pernah dilaporkan terjadi pada bayi yang
sehat, biasanya dalam minggu pertama kehidupan terutama antara hari
ke 2 sampai ke 7. Istilah spontan menyatakan penyebab yang bukan
akibat enterokolitis nekrotikan atau iskemia, trauma dari intubasi
gastrik, obstruksi intestinal atau insuflasi aksidental selama bantuan
ventilasi. Meskipun stress perinatal dan prematuritas tidak umum
dihubungkan, tidak ada faktor predisposisi yang dapat diidentifikasi
pada setidaknya 20% kasus.
1. Pengertian
Perforasi gastrointestinal merupakan suatu bentuk penetrasi yang
komplek dari dinding lambung, usus halus, usus besar akibat dari

bocornya isi dari usus ke dalam rongga perut.


Perforasi dari usus mengakibatkan secara potensial untuk
terjadinya kontaminasi bakteri dalam rongga perut ( keadaan ini

dikenal dengan istilah peritonitis).


Perforasi dalam bentuk apapun yang mengenai saluran cerna
merupakan suatu kasus kegawatan bedah.

2. Etiologi
Cedera tembus yang mengenai dada bagian bawah atau perut
(contoh: trauma tertusuk pisau)
Trauma tumpul perut yang mengenai lambung. Lebih sering
ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa.
Obat aspirin, NSAID, steroid. Sering ditemukan pada orang
dewasa
Kondisi yang mempredisposisi : ulkus peptikum, appendicitis
akuta, divertikulosis akut, dan divertikulum Meckel yang
terinflamasi.
Appendicitis akut: kondisi ini masih menjadi salah satu penyebab
umum perforasi usus pada pasien yang lebih tua dan berhubungan
dengan hasil akhir yang buruk.

Luka usus yang berhubungan dengan endoscopic : luka dapat


terjadi oleh ERCP dan colonoscopy.
Fungsi usus sebagai suatu komplikasi laparoscopic: faktor yang
mungkin

mempredisposisikan

pasien

ini

adalah

obesitas,

kehamilan, inflamasi usus akut dan kronik dan obstruksi usus.


Infeksi bakteri: infeksi bakteri ( demam typoid) mempunyai
komplikasi menjadi perforasi usus pada sekitar 5 % pasien.
Komplikasi perforasi pada pasien ini sering tidak terduga terjadi
pada saat kondisi pasien mulai membaik.
Penyakit inflamasi usus : perforasi usus dapat muncul pada paien
dengan colitis ulceratif akut, dan perforasi ileum terminal dapat
muncul pada pasien dengan Crohns disease.
Perforasi sekunder dari iskemik usus (colitis iskemik) dapat
timbul.
Perforasi usus dapat terjadi karena keganasan didalam perut atau
limphoma
Radiotherapi dari keganasan cervik dan keganasan intra abdominal
lainnya dapat berhubungan dengan komplikasi lanjut, termasuk
obstruksi usus dan perforasi usus.
Benda asing ( tusuk gigi) dapat menyebabkan perforasi
oesophagus, gaster, atau usus kecil dengan infeksi intra abdomen,
peritonitis, dan sepsis.

3. Patofisiologi
Secara fisiologis, gaster relatif bebas dari bakteri dan
mikroorganisme lainnya karena kadar asam intraluminalnya yang tinggi.
Kebanyakan orang yang mengalami trauma abdominal memiliki fungsi
gaster yang normal dan tidak berada pada resiko kontaminasi bakteri yang
mengikuti perforasi gaster. Bagaimana pun juga mereka yang memiliki
masalah gaster sebelumnya berada pada resiko kontaminasi peritoneal
pada perforasi gaster.

Kebocoran asam lambung kedalam rongga peritoneum sering


menimbulkan peritonitis kimia. Bila kebocoran tidak ditutup dan partikel
makanan mengenai rongga peritoneum, peritonitis kimia akan diperparah
oleh perkembangan yang bertahap dari peritonitis bakterial. Pasien dapat
asimptomatik untuk beberapa jam antara peritonitis kimia awal dan
peritonitis bakterial lanjut. Mikrobiologi dari usus kecil berubah dari
proksimal sampai ke distalnya. Beberapa bakteri menempati bagian
proksimal dari usus kecil dimana pada bagian distal dari usus kecil
(jejunum dan ileum) ditempati oleh bakteri aerob (E.Coli) dan anaerob
( Bacteriodes fragilis).
Kecenderungan infeksi intra abdominal atau luka meningkat pada
perforasi usus bagian distal. Adanya bakteri di rongga peritoneal
merangsang masuknya sel-sel inflamasi akut. Organ-organ visceral
cenderung melokalisir proses peradangan menghasilkan phlegmon (ini
biasanya terjadi pada perforasi kolon). Hipoksia yang diakibatkannya di
daerah itu memfasilisasi tumbuhnya bakteri anaerob dan menggangu
aktifitas bakterisidal dari granulosit yang mengarah pada peningkatan
aktifitas fagosit dari pada granulosit, degradasi sel-sel,dan pengentalan
cairan sehingga membentuk abscess, efek osmotik, dan pergeseran cairan
yang lebih banyak ke lokasi abscess, dan diikuti pembesaran absces pada perut.
Jika tidak ditangani terjadi bakteriemia, sepsis, multiple organ failure dan
shock.
4. Gejala Klinik
Nyeri perut hebat yang makin meningkat dengan adanya pergerakan
diertai nausea, vomitus, pada keadaan lanjut disertai demam dan
mengigil.
5. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pada area perut : periksa apakah ada tanda-tanda
eksternal seperti luka, abrasi, dan atau ekimosis. Amati pasien :
lihat pola pernafasan dan pergerakan perut saat bernafas, periksa
adanya distensi dan perubahan warna kulit abdomen. Pada

perforasi ulkus peptikum pasien tidak mau bergerak, biasanya


dengan posisi flexi pada lutut, dan abdomen seperti papan.
Palpasi dengan halus, perhatikan ada tidaknya massa atau nyeri
tekan. Bila ditemukan tachycardi, febris, dan nyeri tekan seluruh
abdomen mengindikasikan suatu peritonitis. rasa kembung dan
konsistensi seperti adonan roti mengindikasikan perdarahan intra
abdominal.
Nyeri perkusi mengindikasikan adanya peradangan peritoneum.
Pada auskultasi : bila tidak ditemukan bising usus
mengindikasikan suatu peritonitis difusa.
Pemeriksaan rektal dan bimanual vagina dan pelvis : pemeriksaan
ini dapat membantu menilai kondisi seperti appendicitis acuta,
abscess tuba ovarian yang ruptur dan divertikulitis acuta yang
perforasi.

6. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi
Perforasi gastrointestinal adalah penyebab umum dari akut
abdomen. Isi yang keluar dari perforasi dapat mengandung udara,
cairan lambung dan duodenum, empedu, makanan, dan bakteri.
Udara bebas atau pneumoperitoneum terbentuk jika udara keluar
dari sistem gastrointestinal. Hal ini terjadi setelah perforasi
lambung, bagian oral duodenum, dan usus besar.
Pada kasus perforasi usus kecil, yang dalam keadaan
normal tidak mengandung udara, jumlah udara yang sangat kecil
dilepaskan. Udara bebas terjadi di rongga peritoneum 20 menit
setelah perforasi. Manfaat penemuan dini dan pasti dari perforasi
gaster sangat penting, karena keadaan ini biasanya memerlukan
intervensi bedah.
2. Ultrasonografi

Ultrasonografi adalah metode awal untuk kebanyakan


kondisi akut abdomen. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi
cairan bebas dengan berbagai densitas, yang pada kasus ini adalah
sangat tidak homogen karena terdapat kandungan lambung.
Pemeriksaan ini khususnya berharga untuk mendeteksi cairan
bebas di pelvik kecil menggunakan teknik kandung kemih penuh.
Kebanyakan, ultrasonografi tidak dapat mendeteksi udara bebas.
3. CT scan
CT scan abdomen adalah metode yang jauh lebih sensitif
untuk mendeteksi udara setelah perforasi, bahkan jika udara
tampak seperti gelembung dan saat pada foto rontgen murni
dinyatakan negatif. Oleh karena itu, CT scan sangat efisien untuk
deteksi dini perforasi gaster. Ketika melakukan pemeriksaan, kita
perlu menyetel jendelanya agar dapat membedakan antara lemak
dengan udara, karena keduanya tampak sebagai area hipodens dengan
densitas negatif.
7. Komplikasi
Komplikasi pada perforasi gaster, sebagai berikut:
Infeksi luka, angka kejadian infeksi berkaitan dengan
muatan bakteri pada gaster.
Kegagalan luka operasi, kegagalan luka operasi (kerusakan

parsial atau total pada setiap lapisan luka operasi) dapat


terjadi segera atau lambat.
Faktor-faktor berikut ini dihubungkan dengan kegagalan
luka operasi :
- Malnutrisi
- Sepsis
- Uremia
- Diabetes mellitus
- Terapi kortikosteroid
8. Penatalaksanaan
Penderita yang lambungnya mengalami perforasi harus diperbaiki
keadaan umumnya sebelum operasi. Pemberian cairan dan koreksi
elektrolit, pemasangan pipa nasogastrik, dan pemberian antibiotik mutlak

diberikan. Jika gejala dan tanda-tanda peritonitis umum tidak ada,


kebijakan nonoperatif mungkin digunakan dengan terapi antibiotik
langsung terhadap bakteri gram-negatif dan anaerob.
Tujuan dari terapi bedah adalah :
Koreksi masalah anatomi yang mendasari
Koreksi penyebab peritonitis
Membuang setiap material asing di rongga peritoneum
yang dapat menghambat fungsi leukosit dan mendorong
pertumbuhan bakteri (seperti darah, makanan, sekresi
lambung). Laparotomi dilakukan segera setelah upaya
suportif dikerjakan.
KANKER LAMBUNG
1. Pengertian
Neoplasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh selsel yang tumbuh terus-menerus secara tak terbatas, tidak
terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi
tubuh.
Karsinoma Gaster ialah suatu neoplasma yang terdapat pada
Gaster.
2. Klasifikasi
Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini).
Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, gastroskopi dan
pemeriksaan histopatologis dapat dibagi atas :
o Tipe I (pritrured type)
Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa
dan sub mukosa yang berbentuk polipoid. Bentuknya
ireguler permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau
tanpa ulserasi.
o Tipe II (superficial type)
Dapat dibagi atas 3 sub tipe.
- II.a. (Elevated type)
Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung.

Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit elevasi dan


-

lebih meluas dan melebar.


II.b. (Flat type)
Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan

hanya terlihat perubahan pada warna mukosa.


II.c. (Depressed type)
Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir

tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan.


o Type III (Excavated type)
Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering

disertai kombinasi.
Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut).
Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas :
Bormann I
Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga
disebut sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor
atropik dan iregular.
Bormann II
Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan
tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai
nodular. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna
kecoklatan, keabuan dan merah kehitaman. Mukosa sekitar
ulkus tampak sangat hiperemik.
Bormann III
Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat bats
tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.
Bormann IV
Berupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas
tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

3. Etiologi
Seperti pada umumnya tumor ganas ditempat lain penyebab tumor
gaster juga belum diketahui secara pasti. Faktor yang mempermudah
timbulnya tumor ganas gaster adalah perubahan mukosa yang abnormal
antara lain seperti gastritis atropik, polip di gaster, dan anemia pernisiosa.
Di samping itu juga pengaruh keadaan lingkungan mungkin memegang

peran penting terutama pada penyakit gaster seperti dinegara Jepang, Chili,
Irlandia, Australia, Rusia dan Skandinavia.
Ternyata pada orang Jepang yang telah lama meninggalkan Jepang,
frekuensi tumor ganas gaster lebih rendah.
Dapat disimpulkan bahwa kebiasaaan hidup mempunyai peran penting,
Gastritis kronis, faktor infeksi (oleh kuman H. Pylory), herediter, sering
makan daging hewan dengan cara dipanggang atau dibakar atau diasapkan,
sering makan makanan yang terlalu pedas, kurang makanan yang
mengandung serat, makan makanan yang memproduksi bahan
karsinogenik dan ko-karsinogenik yang mungkin mempermudah
timbulnya tumor ganas gaster.
4. Patofisiologi
Karsinoma gaster berasal dari pertumbuhan epitel pada membran
mukosa gaster. Kebanyakan karsinoma gaster berkembang pada bagian
bawah gaster, sedangkan pada atrofi gaster didapatkan bagian atas gaster
dan secara multisenter.
Karsinoma gaster terdapat beberapa bentuk yaitu :
Seperempatnya berasal dari propria yang berbentuk fungating yang
tumbuh ke lumen sebagai massa.
Seperempatnya berbentuktumor yang berulserasi.
Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot
Penyebarannya melalui dinding yang disemari penyebaran pada
permukaan.
Bentuk linisplastika.
Sepertiganya karsinoma berbagai bentuk di atas.
Prognosis yang baik berhubungan dengan bentuk polipoid dan
kemudian berbentuk ulserasi dan yang paling jelek ada bentuk scirrhous.
Penyebaran karsinoma gaster sering kehati, arteri hepatika dan celiac,
pankreas dan hilus selitar limpa. Dapat juga mengenai tulang, paru, otak
dan bagian lain saluran cerna.
5. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala karsinoma kolo-rektal tergantung dari lokasi dan
besarnya tumor :

Nyeri
Penurunan Berat badan.
Muntah
Anoreksia.
Disfagia.
Nausea.
Kelemahan.
Hematemasis.
Regurgitasi.
Mudah kenyang.
Asites ( perut membesar).
Kram abdomen.
Darah yang nyata atau samar dalam tinja.
Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis
makan.

6. Diagnosis
a) Pemeriksaan fisis.
Pemeriksaan fisis dapat membantu diagnosis berupa berat
badan menurun dan anemia. Didaerah epigastrium mungkin
ditemukan suatu massa dan jika telah terjadi metastasis ke hati,
teraba hati yang iregular, dan kadang-kadang kelenjar limfe
klavikula teraba.
b) Radiologi.
Pemeriksaan radiologi yang penting adalah pemeriksaan
kontras ganda dengan berbagai posisi seperti telentang. Tengkurap,
oblik yang disertai dengan komprsi.
c) Gastroskopi dan Biopsi.
Pemeriksaan gastroskopi banyak sekali membantu
diagnosis untuk melihat adanya tumor gaster. Pada pemeriksaan
Okuda (1969) dengan biopsi ditemukan 94 % pasien dengan tumor
ganas gaster sedangkan dengan sitologi lavse hanya didapatkan
50%.
d) Pemeriksaan darah pada tinja.
Pada tumor ganas sering didapatkan perdarahan dalam tinja
(occult blood), untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tes Benzidin.
e) Sitologi.

Pemeriksaan Papanicolaou dari cairan lambung dapat


memastikan tumor ganas lambung dengan hasil 80 90 %. Tentu
pemeriksaan ini perlu dilengkapi dengan pemeriksaan gastroskopi
dan biopsi.
7. Komplikasi
a. Perforasi
Dapat terjadi perforasi akut dan perforasi kronik.
b. Hematemesis.
Hematemesis yang masif dan melena dapat terjadi pada tumor
ganas lambung sehingga dapat menimbulkan anemia.
c. Obstruksi.
Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus
yang disertai keluhan mintah-muntah.
d. Adhesi.
Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan
dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan
nyeri perut.

8. Penatalaksanaan
a. Bedah
Jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran,
pilihan terbaik adalah pembedahan. Walaupun telah terdapat daerah
sebar, pembedahan sudah dapat dilakukan sebagai tindakan
paliatif. Reaksi kuratif akan berhasil bila tidak ada tanda metastasis
di tempat lain, tidak ada sisa Ca pada irisan lambung, reseksi
cairan sekitar yang terkena, dari pengambilan kelenjar limfa
secukupnya.
b. Radiasi
Pengobatan dengan radiasi kurang berhasil.
c. Kemoterapi
Pada tumor ganas dapat dilakukan pemberian obat secara
tunggal atau kombinasi kemoterapi. Di antara obat yang digunakan

adalah 5 FU, trimetrexote, mitonisin C, hidrourea, epirubisin dan


karmisetin dengan hasil 18 30 %.