Anda di halaman 1dari 3

August 26, 2015 by kampoengcelotehkita

TENANG DALAM SIKAP


Saudaraku yang baik, ketenangan menjadi sesuatu yang dibutuhkan setiap orang. Terutama
ketika sedang menghadapi masalah atau saat hendak mengambil keputusan. Orang yang
tenang tidak pernah galau, panik tergesa-gesa, tidak emosional, tidak overacting.
Orang tenang akan bisa menerima informasi lebih banyak, hingga dia bisa lebih memahami.
Sedangkan orang yang emosional pendek kemampuan memahaminya, akibatnya kalau
merespon akan tidak bagus karena keterbatasan pemahamannya.
Ketenangan pun akan membawa kewibawaan, atau karisma tersendiri bagi pemiliknya. Ia
akan disegani oleh teman dan lingkungannya. Sebaliknya, orang yang overacting tidak akan
memiliki kharisma. Terutama, kepada para calon pemimpin dalam skala apapun, ia harus
berlatih mengendalikan diri, tetap tenang dalam kondisi bagaimanapun sulitnya. Dan, tenang
bukan berarti lamban. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling tenang, tetapi
berjalannya sangat gesit. Karena ketenangan tidak ada kaitannya dengan waktu, melainkan
dengan pengendalian diri, artinya dia tetap gesit, tangkas tidak ada gurau berlebih, atau
berteriak-teriak. Pribadi yang kalem senyum berukir jernih, tidak pula banyak bicara kalau
memang tidak perlu bicara. Akibatnya, orang yang tenang mendapat ilmu yang lebih banyak,
mendapatkan kemampuan memilih keputusan lebih baik.
Namun, ketenangan harus diupayakan agar tidak berujung menjadi sombong. Cirinya adalah
ketika ia tidak peduli kepada orang lain. Dia diam tapi tidak mau mendengarkan. Malah
mungkin asyik melakukan kegiatan yang lain (saat orang lain berbicara padanya). Atau, ada
orang yang diam karena dia tengah memikirkan bantahan kepada orang lain, bukannya
mengemas manfaat dari pembicaraan yang didengarnya.
Sehingga, tenangnya kita responsif, tidak justru pelit. Reponsif seseorang memang bisa
dipengaruhi oleh banyaknya keinginan, demografi (asal tempat menetapnya), lingkungan,
tekanan kesulitan. Namun itu bisa diubah kalau memang ingin berubah. Nabi Muhammad
SAW sendiri tertawa bila orang lain tengah melucu. Demikian pula bagi seorang pemimpin,
keputusan terbaik adalah ketika ia memang memiliki akses informasi lengkap. Makin lengkap
informasi makin akurat keputusannya. Dan informasi itu sendiri tidak boleh diambil hanya
dari satu pihak. Kita harus belajar dari kedua belah pihak, baru mengambil keputusan. Dan
yang harus kita sadari adalah tidak ada keputusan tanpa resiko, semua keputusan ada
resikonya. Kita hanya perlu menghitung resiko yang paling minimal.
DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Dalam kehidupan sehari-hari, Belajar dari salah satu Pepatah Biarkan Anjing menggonggong
kafilah
tetap
berlalu,,
Apapun yang namanya hidup tidak akan terlepas dari pujian dan cacian
Kita
berbuat
salah
dicaci
orang
yang
baik.
Kita berbuat baik dicaci orang yang jelek
Jangan hiraukan anjing menggonggong. tetaplah terus berjalan sebab ia takkan
menggigitmu

bila engkau berhenti dan menghiraukannya maka anjing tersebut akan mengejar dan
menggigitmu
Yang penting Lakukanlah yg TERBAIK !! Untuk berusaha dan berkarya
Yah, itu adalah pepatah yang sangat sering kita dengar mulai sedari kita kecil, bahkan sudah
sangat sering kita gunakan di kehidupan sehari-hari bahkan saking seringnya saya sampai
lupa pernah belajar pepatah ini di waktu sekolah dasar dulu, hehehhe Pepatah ini
mempunyai tujuan untuk menggambarkan mengenai seseorang yang tetap berjalan dan
meneruskan perjalanannya, walau orang-orang di sekitarnya tetap mencibirnya.
Setelah sejenak menghilang dalam memori otak saya, saya pun teringat kembali mengenai
pepatah ini karena salah seorang teman saya membuat status mengenai pepatah itu. Setelah
membacanya dia dan teman-temannya membuat lelucon mengenai kata anjing di dalamnya
yang intinya bagi saya ada kesan mencap jelek seseorang yang dianggap sebagai gambaran
dari seekor anjing.
Akan tetapi setelah saya pikirkan, dan ini hanya opini saya saja, sebenarnya pepatah ini
mempunyai dua sisi yang berlawanan, di satu sisi menggambarkan seperti pemaknaan yang
diatas, sedangkan di sisi yang lain bagi saya ada sebuah makna lain yang sangat
bertentangan, yaitu makna penghargaan kepada si anjing.
Makna itu saya ambil dengan melakukan penggambaran bahwa si anjing dan si kafilah ada di
suatu tempat, anggap saja tempat tuan si anjing tinggal dan kafilah adalah tamunya. Si anjing
terus menyalak dan si kafilah tetap saja melenggang dan meneruskan perjalanan.
Seperti yang kita tahu bersama bahwa salah satu hewan yang paling bersahabat dengan kaum
manusia dan ia juga merupakan salah satu hewan cerdas yang bisa dilatih sedemikian rupa.
Oleh karena itu kata anjing menggonggong ini menunjukkan sebuah sifat loyalitas dan
kesetiakawanan dari seekor anjing kepada tuannya. Ia akan terus menyalak sampai tuannya
datang, seakan memberitahu bahwa ada sesuatu yang terjadi di sekitar daerah itu. Sedangkan
di sisi lain sang khafilah terus saja bersikap tidak acuh terhadap sekitar padahal ia jelas
adalah manusia yang mempunyai fungsi akal pikiran dan perasaan yang lebih dari pada si
anjing.
Kemudian, saya bertanya pada diri saya, apakah dalam pepatah ini memang yang dimaksud
jelek adalah orang yang mempunyai sifat anjing ataukah yang mempunyai sifat seperti
kafilah, atau apakah sang pembuat pepatah hanya melihat satu-sisi saja, yaitu dalam
perspektif kafilah saja?
Padahal sudah jelas sekali di zaman sekarang banyak sekali orang yang tidak acuh terhadap
orang lain, tidak kenal mana yang saudara, mana yang teman, ia hanya memikirkan dirinya
sendiri seperti yang diberitakan di media massa ketika salah seorang menjatuhkan
martabatnya, para pejabat yang selalu berfoya diatas kemiskinan para warga dan berbagai
contoh lainnya. Tidak ada lagi kesetiakawanan, sikat sana-sikat sini, saling tikung saling tebar
fitnah, saling tengkar dan contoh lain yang sangat sering kita jumpai di kehidupan
bermasyarakat kita.
Ayolah, kita sudah tahu, dari saban kita SD sampai dewasa begini, kita sudah diajarkan
bahwa kita adalah makhluk sosial, harus berinteraksi dengan orang lain, maka dari itu

sepantasnya kita menjaga nilai-nilai sosial dan tidak merusak tatanan sosial dengan perilaku
yang menyimpang, dan mengatakan bahwa itu itu bukan urusanmu!!!.
Oleh karena kita kita harus mulai kembali belajar dari sikap si anjing bahwa hidup kita
tidak sendirian, kita harus menjaga sikap terhadap orang lain, kita harus memberikan feed
back yang baik bagi orang lain, kita harus menjaga tanggung jawab yang telah kita terima dan
berbagai nilai positif lainnya.
jadi, Apakah anda akan tetap memilih menjadi seseorang dengan watak anjing ataukah
memilih menjadi ataukah memilih menjadi seorang kafilah
Pada akhirnya pilihan jatuh ke tangan anda.
Ryana