Anda di halaman 1dari 4

Syair Pembangun Jiwa | Sebening Mata Air

https://bangaziem.wordpress.com/category/syair-pembangun-jiwa/

FEB

Sebening Mata Air


Archive | Syair Pembangun Jiwa RSS feed for this section

Dengan Apa Kupanggil Namanya


Aku tak tau pasti esensinya: kadang timbul kadang terlupa
Ini yang membuatku gilang sepanjang malam
Kucari-cari tapi tak kutemukan ujung-pangkalnya
Payah rasanya kulalui jalan panjang ini
Kalau bukan karena semangat telah tertanam, tak mungkin setiap upaya kuretas
Mungkinkah kulalui jalan yang salah?
Aku jadi bingung sendiri
Dengan sebutan apa namanya kupanggil
Jika kusebut Tuan, bukankah lebih dari itu?
Jika kusebut Maharaja, aku seperti sahaya
Setiap upaya menggantikan namanya, ternyata sia-sia
Ingin kurobek dada ini, agar terlihat kemurnian isinya
Wahai, Engkau Tanpa Nama
Terimakasih, bahwa aliran sungai mengalir dari mataku
Kucari-cari di mana wadah untuk menumpahkannya
Kurindu airmata, karena kutahu Engkau-lah yang membuatnya tumpah ruah!
Tag:maharaja (h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/maharaja/), nama
(h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/nama/), puisi (h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/puisi/),
tuan (h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/tuan/)

1 dari 4

KOMENTAR Tinggalkan sebuah Komentar


KATEGORI Syair Pembangun Jiwa

8/17/2016 18:46

Syair Pembangun Jiwa | Sebening Mata Air

https://bangaziem.wordpress.com/category/syair-pembangun-jiwa/

Pecinta yang Terkapar


Kekasih,
Engkau tahu betapa besar kerinduanku menatap wajah-Mu
Engkau lebih tahu, mengapa selalu saja ada tabir yang menghalangi pandanganku
Kekasih,
Lama aku mencari-Mu, namun tak kunjung tiba Kau sambut aku
Jika Kau ingin aku merangkak di bawah Kaki Kebesaran-Mu akibat kegelapanku, izinkan aku
mengusap kelembutan keagungan-Mu
Kekasih,
Aku percaya bahwa Kau tidak akan bosan merawat nasib pecinta-Mu, seburuk apa pun rupa lakunya
Jadikan rasa percayaku itu, mencukupi kebutuhanku akan diri-Mu
Kekasih,
Jangan tinggalkan aku dengan luka yang terus menganga
Jangan campakkan aku dengan keterasingan mencekam
Jangan usir aku dari rumah-Mu
Jangan telanjangi aku dengan kekerasan-Mu
Kekasih, kini lihatlah aku!
Tag:jangan telanjangi aku (h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/jangan-telanjangi-aku/), kekasih
(h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/kekasih/), kerinduan (h ps://bangaziem.wordpress.com
/tag/kerinduan/)
KOMENTAR Tinggalkan sebuah Komentar
KATEGORI Syair Pembangun Jiwa

Apalagi yang Musti Kukatakan


Selain cinta kasih-Mu, apalagi yang kupinta dari-Mu
Kekasih, duhai Kekasih
Jangan permalukan aku dengan kebodohanku

2 dari 4

8/17/2016 18:46

Syair Pembangun Jiwa | Sebening Mata Air

https://bangaziem.wordpress.com/category/syair-pembangun-jiwa/

Jangan tutup pintu rumah-Mu akibat kelalaianku


Kekasih,
Dengan cara apa lagi kulukiskan keagungan-Mu
Lidah kelu, berucap tak mampu
Dalam lubuk-lubuk tersembunyi, Engkau bersemayam di situ
Aku sudah pastikan bahwa tidak ada ketentraman tanpa kehadiran-Mu
Betapa bodohnya manusia yang tidak mencoba mengenal-Mu dengan sekecil apapun upaya yang
dilakukannya
Orang bisa mengatakan bahwa aku sedang mengigau karena hidup dalam suasana kacau
Asal Engkau tidak mengusirku, cukup sudah Engkau jadi pelindung nasibku
Kekasih,
Maa an aku yang tak pandai memakai peci, sarung, dan sorban
Pun tak pandai bicara syariat-Mu
Tag:cinta (h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/cinta/), cinta kasih (h ps://bangaziem.wordpress.com
/tag/cinta-kasih/), kasih (h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/kasih/), kekasih
(h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/kekasih/)
KOMENTAR Tinggalkan sebuah Komentar
KATEGORI Syair Pembangun Jiwa

Sejak Ia Menyadarinya
Sejak ia menyadari kebodohannya, ia makin tak berdaya
Kini ia mulai menyangsikan apa saja yang dilihatnya dengan kasat mata
Kebosanan terus mendera siang malamnya, membuatnya tak berhasrat dengan gemerlapnya gunung
dunia
Sejak ia menaiki bukit, ular terus memagut tubuhnya, lubang mematahkan kakiknya, dan duri menusuk
jantungnya. Kasihan rasanya, melihat kurus wajahnya
Sejak ia belajar bertapa, kilatan cahaya membuatnya terpesona akan keindahan malam dan bintangnya
Sejak ia belajar menari, lingkaran api terus mengurungnya, mengobarkan semangat cinta,
memompakan air mata darah
Sejak ia sering bertamu, kepasrahannya jadi batu, mengeras tak lagi bisa dipecah.
Ia serahkan apa yang ia punya, demi perjalanan panjangnya.
3 dari 4

8/17/2016 18:46

Syair Pembangun Jiwa | Sebening Mata Air

https://bangaziem.wordpress.com/category/syair-pembangun-jiwa/

Tag:gemerlap dunia (h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/gemerlap-dunia/), puisi


(h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/puisi/), sejak ia menyadarinya
(h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/sejak-ia-menyadarinya/), syair
(h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/syair/), tak berdaya (h ps://bangaziem.wordpress.com/tag/takberdaya/)
KOMENTAR Tinggalkan sebuah Komentar
KATEGORI Syair Pembangun Jiwa

BUAT SITUS WEB ATAU BLOG GRATIS DI WORDPRESS.COM.


Ikuti

Ikuti Sebening Mata Air

4 dari 4

Buat situs dengan WordPress.com

8/17/2016 18:46