Anda di halaman 1dari 29

PRAKTIKUM FARMASI RUMAH SAKIT DAN KLINIK

STUDI KASUS GANGGUAN SALURAN KEMIH DAN GINEKOLOGI


KANKER SERVIKS

Dosen :
Wiwin Herdwiani, M.Sc., Apt

OLEH :
KELOMPOK 3B
1. Dini Tari Jayanti
1620323447
2. Dwi Wijayanti
1620323448

APOTEKER KELAS A
PROGRAM PROFESI APOTEKER XXXII
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDISURAKARTA

2016
BAB I

PENDAHULUAN
DEFINISI
Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7%
disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Kanker
serviks atau kanker leher rahim merupakan jenis penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher
rahim. Yaitu, bagian rahim yang terletak di bawah, yang membuka ke arah liang vagina. Berawal
dari leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ
lain di seluruh tubuh.
Kebanyakan penelitian menemukan bahwa infeksi human papillomavirus (HPV)
bertanggung jawab untuk semua kasus kanker leher rahim. Human papilloma virus (HPV) 16
dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari
infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10
hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini seringkali tidak disadari oleh para penderita,
karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala.

Anatomi
Serviks merupakan bagian 1/3 bawah dari uterus, berbentuk silindris, menonjol kearah vagina
depan atas dan berhubungan dengan vagina melalui ostium uteri eksternal. Kanker dapat timbul
dari permukaan vaginal (porsio) atau kanalis servikalis. Aliran limfe dari serviks pre dan post
ureteral dan ligamentum sakrouterina kearah kelenjar stasiun pertama yaitu parametrium, iliaka

interna, iliaka eksterna, presdakral dan iliaka kommunis. Kelenjar paraaorta merupakan stasiun
kedua.
Epidemilogi
Kanker serviks menduduki urutan tertinggi di negara berkembang, dan urutan ke 10 dinegara
maju atau urutan ke 5 secara global. Di Indonesia ia menduduki urutan pertama dari 10 kanker
terbanyak ditemukan di 13 Laboratorium Patologi di Indonesia. Adapun faktor risiko kanker
serviks umumnya terkait dengan aktivitas seksual. Faktor risiko terutama adalah: hubungan
seksual dini, multpel mitra seksual, sosial ekonomi rendah, merokok, pemakaian pil KB,
penyakit ditularkan secara seksual, dan gangguan imunitas. Penyebab utama adalah virus HPV.
Proses dimulai dengan lesi prakanker dan setelah bertahun-tahun baru menjadi invasif. Angka
kematian berkaitan dengan stadium penyakit. Pengobatan tergantung dari stadium penyakit yaitu
operasi, radiasi, atau kemoterapi baik sendiri sendiri atau gabungan.
Manifestasi Klinis
Pada lesi prakanker 92% tidak mempunyai gejala kalau ada hanya berupa rasa kering di vagina.
Umumnya gejala yang timbul berupa perdarahan pervaginam (kontak atau diluar masa haid), dan
cairan keluar dari liang vagina. Kalau sudah lanjut dapat cairan yang keluar berbau tidak sedap,
nyeri panggul, lumbosakral, gluteus, gangguan berkemih (urinary frequency), nyeri di kandung
kemih dan rektum. Kalau sudah bermetastasis maka akan timbul gej ala sesuai dengan organ
yang terkena. Penyakit residif menunjukkan gejala seperti edema tungkai unilateral, nyeri siatika,
dan gejala obstruksi ureter. Pemeriksaan fisik dengan spekulum vagina pada lesi prakanker tidak
ditemukan kelainan nyata atau hanya lesi berwarna putih dengan asam asetat. Lesi invasif yang
masih terlokalisasi terlihat di serviks atau telah meluas ke forniks berwarna kemerahan, granular,
atau eksofitik mudah berdarah tanpa atau dengan gambaran nekrotik disertai darah atau cairan
yang berbau. Pemeriksaan dalam melalui vagina dapat meraba perluasan ke forniks, sedang
pemeriksaan rektal dapat mengetahui besarnya uterus, sedang pemeriksaan rektal dapat
mengetahui besarnya uterus, perluasan ke parametrium, rektum. Kalau penyakit sudah meluas ke
luar panggul makan dapat ditemukan gangguan sentral, pembesaran kelenjar getah bening,
pembesaran hati, masa di abdomen , pelvis, hidronefrosis atau efusi pleura atau tanda penyebaran
ke tulang, dll.

Patofisiologi
Virus HPVmen ginfeksi membrana basalis pada daerah metaplasia dan zona transformasi
serviks. Setelah menginfeksi sel epitel serviks sebagai upaya berkembang biak virus ini akan
meninggalkan sekuensi genomnya pada sel inang. Genom HPV berupa episomal (bentuk
lingkaran dan tidak terintegrasi dengan DNA inang) dijumpai pada CIN dan berintegrasi dengan
DNA inang pada kanker invasif. Pada percobaan in vitro HPV terbukti mampu mengubah sel
menjadi immortal (Aziz et al.,2006). Tipe HPV paling berisiko adalah tipe 16 dan tipe 18 yang
mempunyai peranan yang penting melalui sekuensi gen E6 dan E7 dengan mengode
pembentukan protein-protein penting dalam replikasi virus. Onkoprotein dari E6 akan mengikat
dan menjadikan gen penekan tumor (p53) menjadi tidak aktif, sedangkan onkoprotein E7 akan
berikatan dan menjadikan produk gen retinoblastoma (pRb) menjadi tidak aktif. P53 dan pRb
adalah protein penekan tumor yang berperan menghambat kelangsungan siklus sel. Dengan tidak
aktifnya p53 dan pRb, sel yang telah bermutasi akibat infeksi HPV dapat meneruskan siklus sel
tanpa harus memperbaiki kelainan DNA-nya. Ikatan E6 dan E7 serta adanya mutasi DNA
merupakan dasar utama terjadinya kanker (Aziz et al., 2006).
Epidemiologi
Kanker serviks merupakan jenis kanker yang paling banyak nomor tiga di dunia. Kanker servik
disebut juga "silent killer" karena perkembangan kanker ini sangat sulit dideteksi. Perjalanan dari
infeksi virus menjadi kanker membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 10-20 tahun. Proses ini
seringkali tidak disadari hingga kemudian sampai pada tahap pra-kanker tanpa gejala. Badan
Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat
teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di
Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks dan setiap satu jam
seorang wanita meninggal karena kanker. Sekitar 8000 kasus di antaranya berakhir dengan
kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks
yang tertinggi di dunia. Kanker serviks sulit dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium
lanjut.
Etiologi

Virus HPV diduga kuat sebagai penyebab utama kanker Serviks. Virus HPV akan menyerang
selaput di dalam mulut dan kerongkongan, serviks, serta anus. Apabila tidak segera terdeteksi,
infeksi virus HPV menyebabkan terbentuknya sel-sel prankanker serviks dalam jangka panjang.
Beberapa faktor yang dapat mempermudah terinveksi virus HPV yaitu

1.Menikah atau memulai aktivitas seksual pada usia muda (kurang dari 18 tahun)
2.Berganti-ganti pasangan seks (pasangan wanita tersebut maupun pasangan suaminya)
3.Wanita melahirkan banyak anak (sering melahirkan), sering menderita infeksi di daerah rahim,
dan wanita perokok yang mempunyai resiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks
dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.
4.Seorang wanita yang terjangkit HIV memiliki sistem kekebalan tubuh yang kurang dapat
memerangi infeksi HPV maupun kanker pada stadiun awal.
5.Beberapa penelitian menemukan bahwa wanita yang memiliki sejarah atau infeksi klamidia
saat ini, memiliki resiko kanker serviks lebih tinggi.
6.Penggunaan pil KB dalam jangka panjang dapat menikatkan resiko terjadinya kanker serviks.
7.Wanita yang hamil pertama pada usia dibawah umur 17 tahun hampir selalu dua kali lebih
memungkinkan terkena kanker serviks pada usia tuanya jika dibandingkan dengan wanita yang
menunda kehamilanya hingga berusia 25 tahun atau lebih.
8.Apabila ibu atau kakak perempuan anda menderita kanker serviks, resiko anda terkena kanker
ini mencapai dua atau tiga kali lipat dibandingkan orang yang tidak ada riwayat kanker serviks
pada keluarga.
Gejala Kanker Serviks
Gejala awal kondisi pra-kanker umumnya ditandai dengan ditemukannya sel-sel abnormal
serviks yang dapat ditemukan melalui tes Pap Smear. Sering kali kanker serviks tidak
menimbulkan gejala. Namun bila sel-sel

abnormal ini berkembang menjadi kanker

serviks, barulah muncul gejala-gejala sebagai berikut :

1.Pendarahan vagina yang tidak normal seperti :

Pendarahan di antara periode menstruasi yang regular


Pendarahan di luar waktu haid
Periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya
Pendarahan setelah hubungan seksual atau pemeriksaan panggul
Pendarahan sesudah menopause
Kelainan pada vagina (keluarnya cairan kekuningan, berbau) 2.

2.Rasa sakit saat berhubungan seksual


3.Rasa sakit/ nyeri pada pinggul dan kaki
DIAGNOSTIK
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, gejala, tanda, pemeriksaan klinik. Pemeriksaan
klinik ini meliputi palpasi, inspeksi, kolposkopi, kuret endoserviks, sistoskopi, proktoskopi, IVP,
foto toraks dan tulang. Kecurigaan metastasis kekandung kemih atau rektum harus dikonfirmasi
dengan biopsi dan histologik. Konisasi dan amputasi serviks dianggap sebagai pemeriksaan
klinik. Khusus pemeriksaan sistoskopi dan rektoskopi dilakukan hanya pada kasus dengan
stadium IB2 atau lebih. Stadium kanker serviks didasarkan atas pemeriksaan klinik oleh karena
itu pemeriksaan harus cermat kalau perlu dilakukan dalam narkose. Stadium klinik ini tidak
berubah bila kemudian ada penemuan baru. Kalau ada keraguan dalam penentuan maka dipilih
stadium yang lebih rendah.

KLASIFIKASI STADIUM
0 Karsinoma in situ (karsinoma preinvasif)
Karsinoma serviks terbatas di uterus (ekstensi ke korpusuterus dapat diabaikan)
IA Karsinoma invasif didiagnosis hanya dengan mikroskop.
Semua lesi yang terlihat secara makroskopik, meskipun invasi hanya superfisial, dimasukkan

IA1 Invasi stroma tidak lebih dari 3,0 mm kedalamannya dan 7,0 mm dan tidak lebih

dari 5,0 mm atau kurang ukuran secara horisontal


IA2 Invasi stroma lebih dari 3,0 mm dan tidak lebih dari 5,0 mm dengan penyebaran
7,0 mm atau kurang

IB Lesi terlihat secara klinik dan terbatas di serviks atau secara mikroskopik lesi lebih besar
dari IA2
IB 1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4,0 cm atau
kurang
IB2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari 4,0 cm
II Invasi tumor keluar dari uterus tetapi tidak sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3
bawah vagina
IIA Tanpa invasi ke parametrium
IIB Invasi ke parametrium
III Tumor meluas ke dinding panggul/ atau mencapai 1/3 bawah vagina dan/atau
menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal
IIIA Tumor mengenai 1/3 bawah vagina tetapi tidak mencapai dinding panggul
IIIB Tumor meluas sampai ke dinding panggul dan/ataumenimbulkan hidronefrosis atau
afungsi ginjal
IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum dan/ atau meluas keluar panggul
kecil (true pelvis)
IVB Metastasis jauh
Penyebaran ke korpus uterus tidak mempengaruhi stadium. Penumbuhan ke dinding panggul
pendek dan induratif kalau tidak nodular dimasukkan sebagai stadium IIB, bukan stadium IIIB.
Induratif sulit dibedakan apakah proses kanker ataukah peradangan. Penemuan postoperasi
dicatat tetapi tidak merubah stadium yang ditetapkan praoperasi.
KLASIFIKASI HISTOLOGIK
1.Tipe histologik
Neoplasia intraepitelial serviks, Derajat III, Karsinoma sel skuamosa in situ, Karsinoma sel
skuamosa, Keratin, Nonkeratin, Verrukosa, Adenokarsinoma in situ, Adenokarsinoma in situ, tipe
endoserviks,

Adenokarsinoma

endometroid,

Adenokarsinoma

sel

jernih,

Karsinoma

adenoskuamosa, Karsinoma adenoid kistik, Karsinoma sel kecil, Karsinoma undiferensiasi


2. Derajat histologik
Gx- Derajat tidak dapat ditentukan
G1- Diferensiasi baik
G2- Diferensiasi sedang
G3- Diferensiasi buruk atau undiferensiasi

Pemeriksaan lain sebagai opsional seperti CT scan, MRI, limfoangiografi, arteriografi, venografi,
laparoskopi, fine needle aspiration (FNA) bermanfaat untuk rencana pengobatan tetapi tidak
merubah stadium klinik (2). Persiapan pengobatan perlu pemeriksaan darah tepi lengkap, kimia
darah. Pemeriksaan factor pembekuan darah diperlukan bila rencana pengobatan dengan operasi.
Petanda tumor SCC (untuk skuamosa) atau CEA atau Ca125 (untuk adenokarsinoma) merupakan
pemeriksaan opsional.
TATALAKSANA
Pengobatan primer
Stadium IA1
Histerektomi ekstrafasial atau Konisasi kalau fertilitas diperlukan.
Atas pilihan pasien, dapat pula dilakukan brakhiterapi.
Stadium IA2 dan IB1 tanpa kontraindikasi operasi
Operasi
1. Histerektomi radikal atau modifikasi (tipe 2) dan limfadenektomi pelvis
2. Histerektomi ekstrafasial dan limfadenektomi pelvis bila tidak ada invasi limfo-vaskular (ILV)
3.Trakhelektomi dengan limfadenektomi ekstra peritoneal atau limfadenektomi laparoskopi,
kalau fertilitas masih diperlukan.
Radioterapi(RT)
Bila terdapat faktor resiko : Diferensiasi buruk, Ca adeno skuamosa, adeno karsinoma, KGB +
menembus kapsul dan Invasi limfovaskular diberikan terapi ajuvan radioterapi eksterna. Bila tepi
sayatan tidak bebas tumor/close margin,pasca radiasi eksterna dilanjutkan dengan brakhiterapi
ovoid 2 x 10 Gy.
Stadium IA2,IB1,IB2 dan IIA Tidak Operasi
Stad IA2-IIA tidak operasi apabila:
Stad IB2, IIA, tumor > 4 cm
Indeks obesitas >70%
Umur >65 tahun
Pasien menolak operasi

Kontraindikasi anestesi
Radioterapi (RT) : Diberikan Radiasi kuratif: RE: 46-50 Gy. BT: 3x700 cGy.
Pemberian BT dimulai pasca RE dosis 30 Gy atau 40 Gy atau 50 Gy secepatnya setelah hasil
evaluasi status lokalis memungkinkan untuk dapat dilakukan pemasangan aplikator.
Pemberian BT dilakukan dalam interval 1 minggu
Bila BT tidak dapat dilakukan, maka dapat digantikan dengan 3D Conformal RT atau radiasi
eksterna small field ~20Gy
Stadium IIB - IIIB
Kemoradiasi
Radiasi eksternal 50 Gy + brakhiterapi 3 x 700 cGy dan kemoterapi(cisplatin 40 mg/m2 setiap
minggu selama radiasi luar. Bila kgb iliaka komunis atau paraaorta (+) maka lapangan radiasi
diperluas. Kemoterapi yang diberik an antar lain cisplatinum, paclitaxel,doxetaxel.
Jika ulkus dalam, atau ada kontraindikasi anestesi, maka brakhiterapi diganti dengan radiasi
eksterna 3D Conformal RT atau radiasi eksterna small field ~20 Gy.
Stadium IVA
Kemoradiasi
Radiasi kuratif 4000 cGy, bila respon (+) : Radiasi Eksterna dilanjutkan sampai 50 Gy ditambah
BT 3x700 cGy. Respon (-) : Stop Eksenterasi
Dapat dipertimbangkan pada IVA bila tidak meluas sampai dinding panggul, terutama bila ada
fistel rektovaginal atau vesikovaginal.
Stadium IVB
Radiasi Paliatif
1. Tumor Primer dilakukan evaluasi gelala sesuai keluhan
2. Metastasis jauh
Terapi lokal dengan radiasi untuk mengurangi simptom seperti nyeri karena metastasis tulang,
pembesaran kgb para-aorta dan supraklavikula, atau metastasis otak.

Komite Penanggulangan Kanker Nasional


(KPKN)

PENGOBATAN KANKER SERVIKS


A. Pengobatan Kanker Serviks Operasi
Ada beberapa jenis operasi untuk pengobatan kanker serviks. Beberapa pengobatan melibatkan
pengangkatan rahim (histerektomi). Daftar ini mencangkup beberapa jenis operasi yang paling
umum di lakukan pada pengobatan kanker serviks.
1. Cryosurgery
Sebuah probe metal yang di dinginkan dengan nitrogen cair dimasukkan ke dalam vagina
dan leher rahim.Cara ini dapat membunuh sel-sel abnormal dengan cara membekukanya.
Cryosurgery digunakan untuk mengobati kanker serviks yang hanya ada di dalam leher
rahim (stadium 0), bukan kanker invasif yang telah menyebar keluar leher rahim.
2. Bedah Laser
Cara ini menggunakan sebuah sinar laser untuk membakar sel - sel atau menghapus
sebagian kecil jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan laser hanya di gunakan
sebagai pengobatan kanker serviks pra-invasif (stadium 0).

3. Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan di angkat dari leher rahim. Pemotongan
dilakukan menggunakan pisau bedah, laser atau kawat tipis yang di panaskan oleh listrik.
Pendekatan ini dapat digunakan untuk menemukan atau mengobati kanker serviks tahap
awal(stadium 0 atau 1).
4. Histerektomi
Histerektomi sederhana
Cara kerja metode ini adalah mengangkat rahim, tetapi tidak mencangkup
jaringan yang berada didekatnya. Histerektomi digunakan untuk mengobati
beberapa kanker serviks stadium awal (stadium 1) dan mengobati kanker stadium

prakanker (stadium 0) jika sel-sel kanker ditemukan pada batas tepi konisasi.
Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul. Pada operasi ini,
dokter bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di dekatnya, vagina bagian
atas yang berbatasan dengan leher rahim, dan beberapa kelenjar getah bening

yang berada di daerah panggul.


5. Trachlektomi
Metode ini meliputi pengangkatan serviks dan bagian atas vagina, kemudian
meletakkannya pada jahitan berbentuk kantong yang bertindak sebagai pembukaan leher
rahim didalam rahim. Kelenjar getah bening di dekatnya juga di angkat. Resiko
terjadinya kekambuhan kanker sesudah pengobatan ini cukup rendah.
6. Ekstenterasi Panggul
Selain mengambil semua organ dan jaringan vagina dan perut, pada operasi jenis ini juga
dilakukan pengangkatan kandung kemih, vagina, dubur dan sebagian usus besar. Operasi
ini dilakukan saat kanker serviks kambuh kembali setelah pengobatan sebelumnya.
Diperlukan waktu enam bulan atau lebih untuk pulih dari operasi radikal ini.

B.Radioterapi
Pada pengobatan radiasi internal, zat radioaktif dimasukkan kedalam silinder didalam vagina.
Kadang - kadang, bahan - bahan radioaktif ini ditempatkan ke dalam jarum tipis yang
dimasukkan langsung ke dalam tumor.

C.Kemoterapi
Kemoterapi adalah penggunaan obat - obatan untuk membunuh sel - sel kanker. Biasanya
obat - obatan tersebut di berikan melalui infus kedalam pembuluh darah atu melalui mulut.
PENCEGAHAN KANKER SERVIKS
1.Skrining Tes yang dapat membantu mencegah kanker leher rahim yakni:
A.Tes Pap (Pap smear atau) mencari prekanker, perubahan sel pada leher rahim yang
dapat menjadi kanker serviks jika tidak diobati dengan tepat. Mulai dilakukan pada usia
21.
B.Papillomavirus test (HPV) manusia mencari virus yang dapat menyebabkan perubahan
sel. Yang paling penting yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah kanker serviks
adalah dengan melakukan tes skrining rutin.Jika hasil tes pap smear normal, kesempatan
untuk mendapatkan kanker serviks dalam beberapa tahun ke depan sangat rendah. Untuk
alasan itu, tidak perlu lagi tes Pap selama tiga tahun. Pada usia 30 tahun atau lebih tua,
dapat memilih untuk memiliki tes HPV bersama dengan tes Pap. Jika kedua hasil tes
normal, bisa menunggu lima tahun untuk melakukan tes Pap berikutnya. Tapi
pemeriksaan ke dokter secara teratur tetap harus dilakukan(Centers for Disease Control
and Prevention, 2013). Bagi wanita berusia 21-65, penting untuk terus mendapatkan tes
Pap. Namun, pada usia yang lebih tua dari 65 dan memiliki hasil tes Pap normal untuk
beberapa tahun, atau pada kondisi serviks yang tidak ada karena histerektomi total pada
kondisi non kanker, seperti fibroid, tidak perlu dilakukan tes Pap lagi (Centers for
Disease Control and Prevention, 2013).
2.Mendapatkan Vaksin HPV
Dua vaksin HPV yang tersedia untuk melindungi perempuan terhadap jenis HPV yang
menyebabkan kanker serviks yang paling, vagina, dan vulva. Kedua vaksin yang
direkomendasikan untuk remaja perempuan usia 11-12 tahun, dan untuk wanita 13
sampai 26 tahun yang tidak mendapatkan salah satu atau semua dari vaksin ketika
mereka masih muda. Vaksin ini juga dapat diberikan pada remaja perempuan usia 9
tahun. Disarankan bahwa wanita mendapatkan merek vaksin yang sama untuk tiga dosis
keseluruhan, bila memungkinkan.

3.Menghindari faktor risiko dan meningkatkan faktor proteksi


Menghindari faktor risiko kanker dapat membantu mencegah kanker tertentu. Faktor
risiko meliputi merokok, kelebihan berat badan, dan tidak cukup berolahraga.
Meningkatkan faktor proteksi seperti berhenti merokok, makan makanan yang sehat, dan
berolahraga juga dapat membantu mencegah beberapa jenis kanker (National Cancer
Institute, 2012)

BAB II

STUDI KASUS
KASUS 2.Kanker
Seorang pasien Ny D usia 50thn no MR 613971 berat badan 50 kg, Tinggi badan 150 cm,
didiagnosa dokter menderita, kanker rahim karsinoma sel kanker (stage IIb)
Catatan

Tgl
9/6

10/6

Keterangan
Carboplatin 5 AUC
Cisplatin 20 mg/m2
Docetaxel 50 mg/m2
Dexamethason 4 amp
Na Cl 0,9%
Cisplatin
NaCl 0,9% 500 cc 20 tpm, inj dexamethasone 2 A iv
Docetaxel 100 mg dlm NS botol kaca 3 jam
Carboplatin 550 mg dalam NS 500 cc 3 jam
Cisplatin 20 mg/m2

Data laboratorium :
Parameter
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit

Hasil
(9/6/15)
6,9 low
19600 high
20 low
40000 low

Hasil
(10/6/15)
6,9 low
29540 high
22 low
50000 low

Eritrosit
GDP
Kreatinin
BUN
Albumin
SGOT
SGPT

3,0 low
40
0,5
8
5
35
35

3,4 low
40
0,5
8
5
35
35

Parameter penyakit
Tanda-tanda vital (TTV)
TTV
Tanggal
16/9
17/9
TD (mmHg)
90/60 100/6
0
HR (x/menit)
76
70
RR (x/menit)
16
16
o
Suhu ( C)
40
40
Keluhan
Nyeri Perut
+
+
Demam
+
+

Nilai Normal
12-16 gr/dL
4800-10800 10 /Ul
37-47 %
150000-450000
/uL
4,2-5,4 6 / -UL
35-50%
0,7-1,5
10-50
3,5-5,5
10-41
10-41

Menggigil
Lemas
Mual

+
+

+
+

Kata Kunci Kasus 2.


1. Mengetahui definisi :
a. Kanker rahim
b. Berbagai macam stage Kanker Rahim
c. BSA
d. CrCl
e. AUC
f. Hematokrit
2. Memahami arti data laboratorium abnormal :
a. Hemoglobin
b. Leukosit
c. Hematokrit
d. Trombosit
e. Eritrosit
3. Memahami guide line terapi Kanker Rahim
4. Bisa melakukan perhitungan dosis pemberian paklitaxel dan carboplatin
5. Memberikan konseling terhadap pasien akan terapi obat kanker dengan baik dan efek
sampingnya
Memahami bagaimana handling sitostatika

BAB III

PENYELESAIAN KASUS
Form Data Base PasienUntuk Analisis Penggunaan Obat
FORM DATA BASE PASIEN
UNTUK ANALISIS PENGGUNAAN OBAT
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny D

No. Rek Medik

Umur
Tempat/tgl lahir
Alamat
BB
Pekerjaan
Sosial

: 50 tahun
:
:
:
50 kg
:
:
-

Dokter yang merawat :

613971
-

Riwayat Masuk RS

Riwayat Penyakit Terdahulu : Riwayat Sosial


Kegiatan
Pola makan / Diet (Vegetarian )
Merokok
Meminum Alkohol
Meminum Obat Herbal
Riwayat Alergi :

Keterangan
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Vital / Sign
TTV
TD (mmHg)
HR (x/menit)
RR (x/menit)
Suhu (oC)

Tanggal
16/9
17/9
90/60 100/60
76
70
16
16
40
40

Data Subyektif:
Pasien nyeri perut,demam,lemas,mual
Data Obyektif:
Suhu: 40 OC ,Tekanan darah: 90/60 (16/9) dan 100/60 (17/9), HR: 76 (16/9) dan 70 (17/9),
RR: 16x/menit, BB: 50 kg
Data Laboratorium
Parameter
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit

Hasil
(9/6/15)
6,9 low
19600 high
20 low

Hasil
(10/6/15)
6,9
low
29540 high
22
low

Nilai Normal
12-16 gr/dL
4800-10800 10 /Ul
37-47 %

Trombosit
Eritrosit
GDP
Kreatinin
BUN
Albumin
SGOT
SGPT

40000 low
3,0 low
40
0,5
8
5
35
35

50000 low
3,4
low
40
0,5
8
5
35
35

150000-450000 /uL
4,2-5,4 6 / -UL
35-50%
0,7-1,5
10-50
3,5-5,5
10-41
10-41

OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI


No
.

Nama obat

Indikasi

Dosis

Rute
pemberi
an

Interaksi

ESO

Outcome terapi

Cisplatin dan
Carboplatin
keduanya
meningkatka
n
nefrotoxicitas
(kerusakan
ginjal) dan
atau
ototoksisitas
(kerusakan
pendengaran)

leukopenia,

trombositopenia,
anemia, mual
muntah, diare,

konstipasi,
peningkatan
bersihan kreatinin,

Rx pada ginjal.
Mual muntah,
diare, nyeri perut,
hiperurisemia

Mengurangi gejala
Mencegah
peningkatan
stage kanker
Meningkatkan
kualitas hidup
pasien
Meningkatkan
duration of
survival pasien

Tanggal, 9 6
1

Carboplatin

Kanker Serviks

AUC 5
mg/mL.me
nit.

Injeksi
i.v

Cisplatin

20 mg/m2
Vial

Injeksi
i.v

Docetaxel

Monoterapi kanker
yng sudah
metastasis,
kombinasi dengan
kemoterapi
Kanker stadium
lanjut , metastasik
kanker
(varium, payudara,
paru)

50 mg/m2

Injeksi
i.v

Deksamethas
on
4 mg/ml

Alergi, penyakit
kolagen, syok,
penyakit
pernafasan,
gangguan
hematologi,

4 ampul

Injeksi
i.v

reaksi alergi,
retensi cairan,
neuropati perifer,
mual muntah,
gang saluran
cerna, gangg
fungsi hati
Retensi air dan
garam, edema,
hipertensi,
amenore,

Mengatasi
efek
samping
nyeri
mualbelum
adekuat

edematus
5

Infus NaCl
0,9 % 500 cc

Elektrolit pengganti
cairan tubuh

Injeksi

Carboplatin

Terapi kanker
Serviks IIB

550
mg/500 ml
3 jam

Injeksi
i.v

Cisplatin

20 mg/m2

Injeksi
i.v

Docetaxel

Monoterapi kanker
yng sudah
metastasis,
kombinasi dengan
kemoterapi
Terapi kombinasi
kanker

Dexamethas
one 4mg/ml

Alergi, penyakit
kolagen, syok,
penyakit
pernafasan,
gangguan
hematologi,
edematus

2 ampul

Cairan fisiologis
pembawa
kemoterapi

leukopenia,

trombositopenia,
anemia, mual
muntah, diare,

konstipasi,
peningkatan
bersihan kreatinin,

Rx pada ginjal.
Mual muntah,
diare, nyeri perut,
hiperurisemia

Mengurangi gejala
Mencegah
peningkatan
stage kanker
Meningkatkan
kualitas hidup
pasien
Meningkatkan
duration of
survival pasien

10-6

100
mg
dlm NS
botol kaca
3 jam

Injeksi
IV

Cisplatin dan
Carboplatin
keduanya
meningkatka
n
nefrotoxicitas
(kerusakan
ginjal) dan
atau
ototoksisitas
(kerusakan
pendengaran)

reaksi alergi,
retensi cairan,
neuropati perifer,
mual muntah,
gang saluran
cerna, gangg
fungsi hati
Retensi air dan
garam, edema,
hipertensi,
amenore,

Mengatasi
efek
samping
nyeri
mualbelum
adekuat

NaCl 0,9% Elektrolit pengganti 20 tpm


cairan tubuh
500 cc

Injeksi

Cairan fisiologis
pembawa
kemoterapi

ASSESMENT
Problem
Medik

Subyektif

Kanker
Serviks

Stadium II B

Obyektif

Leukosit 29540
high
Hematokrit 22
low
Trombosit 50000
low
Eritrosit 3,4 low
Creatinin 0,5 low
BUN 8 low

Terapi

Analisis

DRP

- Interaksi cisplatin dan


carboplatin
meningkatkan resiko
nefrotoksisitas, maka
- Drug interaction
pilih salah
cisplatin dan
satuhilangkan cisplatin
carboplatin
Carboplatin
Docetaxel
Cisplatin

(ikuti guidelines PPK


Kanker serviks
Kemenkes RI 2015)

- Waspada ES
Carboplatin
(Supresi sumsum
tulang,
leukopenia,
- Dexametason mengatasi
trombositopenia,
efek samping kemoterapi.
anemia, mual
muntah, diare

- Pasien mengalami nyeri


pada bagian bekas
sayatan, perlu dilakukan
penatalaksanaan nyeri
untuk mengurangi nyeri.

Mual

Malnutrisi

Mual

Lemas,
muntah

Dexametason merupakan
Dexametason 4 terapi pendukung
antiemetik, untuk emesis
mg iv
sebanayak 4
post kemoterapi yang
ampul
munculnya terlambat dan
pencegahan ES alergi dari
kemoterapi. (ISO 1 2008)

Malnutrisi terjadi karena


defisiensi makro dan
mikronutrien di dalam
tubuh POD sehingga
membutuhkan pengganti
cairan elekrolit ataupun
nutrisi parenteral

Suhu tubuh pasien

Improper drug
selection

Unthreated
indication

Suhu tubuh: 40 C
Demam

Unthreated

meningkat sehingga
membutuhkan antipiretik

Nyeri perut

Anemia

Nyeri

Lemas

Hb 6,9 low
-

Penanganan nyeri
(moderate) pada pasien
kanker menggunakan
analgetik opioid biasanya
tramadol ( Gardian dan
Eddy 2007)
Merupakan Anemia berat

indication

Unthreated
indication

Unthreated
indication

PLAN (CARE PLAN)


1. Koreksi penggunaan kemoterapi, jika mengacu pada guidelines PPK kanker serviks
kemenkes tahun 2015, maka dapat digunakan kombinasi Taxan-Carboplatin (Docetaxel dan
Carboplatin).

Sumber: PPK Kanker Serviks Kemenkes RI, 2015

Perhitungan dosis sitostatika:

Perhitungan LPT
Perhitungan LPT

=
=

tinggi ( cm) x bobot (kg)


3600

150 cm x 50 kg
3600

= 1,44 m2
Perhitungan dosis dan konsentrasi obat
a Docetaxel
Dosis referensi
: 75 mg/m2 (Dipiro, NCCN)
Dosis yang seharusnya diberikan (berdasarkan dosis referensi)
= 75 mgx 1.44=108mg
sediaan docetaxel yang digunakan 100 mg/vial, maka dibutuhkan :
= 108 mg/100 mg/vial
= 1,08 vial
~ diambil 1 vial
b Carboplatin
Dosis referensi
:AUC 5-7.5 mcg*h/mL IV day (DIH,2010)
Dosis untuk Carboplatin dihitung dengan Calvert Formula yaitu
perhitungan dosis yang didasarkan pada Glomerulus Filtration Rate (GFR
dalam ml/menit)

Dosis ( mg )= (target AUC ) x (GFR+25)


GFR=

( 140umur ) x BB
x o .85(wanita )
72 x SCr

GFR=

( 14050 ) x 50
72 x 0.5

x 0.85= 106,25 ml/menit

AUC ( mg )=( 57.5 ) x ( 106,25+25 )=656,25mg984,375 mg


Dosis kurang memenuhi rentang terapi yaitu 500 mg (dalam kasus)

3.

Dosis yang diberikan berdasarkan protocol: 500 mg.


Sediaan Carboplatin yang digunakan : 400 mg/15 ml/ vial.
Untuk mendapat 800 mg Carboplatin maka dibutuhkan
= 800 mg/400 mg/vial
= 2 vial

Untuk mengatasi efek samping mual sitostatika dosis dexamethasone 8-20 mg (pada
protocol diberikan 4mg/ml sebanyak 4 ampul=16mg) ditambahkan ondansetron 8mg
sebelum sitostatika.

Sumber: Dyah Aryani Perwitasari, 2006

4. Perlu dilakukan evaluasi status gizi pasien, jika perlu diberikan nutrisi parenteral (TPN)
5. Diberikan analgetik antipiretik untuk mengatasi deman (40 oC) dan rasa nyeri yaitu kombinasi
tramadol-acetaminophen dosis 37,5 mg/325mg, 2 tablet peroral tiap 4-6 jam PRN, tidak lebih
dari 8 tablet/hari, selama kurang dari 5 hari (Sumber: Medscape)
6. Diperlukan penanganan anemia dengan tranfusi darah dan pemberian eritropoetic stimulating
agen+suplementasi besi

Terapi Non Farmakologi


1. Dengan melakukan radiasi internal setelah dilakukan kemoterapi Tidak terlalu
sering mencuci vagina dengan antiseptik, apalagi tanpa indikasi dan saran dari
dokter.
2. Menjauhi rokok, karena kandungan nikotin dalam rokok pun bisa mengakibatkan
kanker serviks (leher rahim).
3. Diet rendah lemak, karena wanita yang banyak mengkonsumsi lemak akan jauh
lebih berisiko terkena kanker endometrium.
4. Jangan melakukan seks dengan berganti-ganti pasangan.
5. Menjaga kebersihan organ intim dan mengganti pakaian dalam secara teratur.
6. Perbaikan nutrisi makanan yang mengandung zat besi dan mineral
Monitoring
1. Monitoring kemungkian adanya ESO
2. Monitoring data lab ( seperti : Hb, WBC, HCT, Cr)
3. Monitoring penggunaan timbulnya mual untuk mengetahui interval penggunaan
antiemetik yang tepat
4. Monitoring timbulnya tingkat keparahan nyer

KETERANGAN
1. Hemoglobin
Adalah molekul yang terdiri dari kandungan heme (zat besi) dan rantai polipeptida globin
(alfa,beta,gama, dan delta), berada di dalam eritrosit dan bertugas untuk mengangkut oksigen.
Kualitas darah ditentukan oleh kadar haemoglobin. Stuktur Hb dinyatakan dengan menyebut

jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul asama amino pada rantai alfa, dan
146 mol asam amino pada rantai beta, gama dan delta.
Pada bayi baru lahir, kadar hemoglobin lebih tinggi dari pada orang dewasa yaitu berkisar antara
13,6 19, 6 g/dl. Kemudian kadar hemoglobin menurun dan pada umur 3 tahun dicapai kadar
paling rendah yaitu 9,5 12,5 g/dl. Setelah itu secara bertahap kadar hemoglobin naik dan pada
pubertas kadarnya mendekati kadar pada dewasa yaitu berkisar antara 11,5 14,8 g/dl. Pada lakilaki dewasa kadar hemoglobin berkisar antara 13 16 g/dl sedangkan pada perempuan dewasa
antara 12 14 g/dl.

Pada perempuan hamil terjadi hemodilusi sehingga batas terendah nilai rujukan
ditentukan 10 g/dl.

Penurunan Hb terdapat pada penderita: Anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian


cairan intravena berlebih, dan hodgkin. Dapat juga disebabkan oleh obat seperti:
Antibiotik, aspirin, antineoplastik(obat kanker), indometasin, sulfonamida, primaquin,
rifampin, dan trimetadion.

Peningkatan Hb terdapat pada pasien dehidrasi, polisitemia, PPOK, gagal jantung


kongesti, dan luka bakar hebat. Obat yang dapat meningkatkan Hb adalah metildopa dan
gentamicin.

Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi oleh tersedianya oksigen pada tempat tinggal,
misalnya Hb meningkat pada orang yang tinggal di tempat yang tinggi dari permukaan
laut. Selain itu, Hb juga dipengaruhi oleh posisi pasien (berdiri, berbaring), variasi
diurnal (tertinggi pagi hari).

2. Hematokrit
Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah
persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan
tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui
konsentrasi eritrosit dalam darah.
Nilai normal HMT:
Anak
Laki-laki Dewasa
Perempuan Dewasa

: 33-38%
: 40-50%
: 36-44%

Penurunan HMT, terjadi dengan pasien yang mengalami kehilangan darah akut, anemia,
leukemia, penyakit hodgkins, limfosarcoma, mieloma multiple, gagal ginjal kronik, sirosis
hepatitis, malnutrisi, defisiensi vit B dan C, kehamilan, SLE, athritis reumatoid, dan ulkus
peptikum.

Peningkatan HMT, terjadi pada hipovolemia, dehidrasi, polisitemia vera, diare berat, asidosis
diabetikum,emfisema paru, iskemik serebral, eklamsia, efek pembedahan, dan luka bakar.
Nilai Rujukan

Dewasa laki-laki : 4.50 6.50 (x106/L)

Dewasa perempuan : 3.80 4.80 (x106/L)

Bayi baru lahir : 4.30 6.30 (x106/L)

Anak usia 1-3 tahun : 3.60 5.20 (x106/L)

Anak usia 4-5 tahun : 3.70 5.70 (x106/L)

Anak usia 6-10 tahun : 3.80 5.80 (x106/L)

3. Eritrosit
Penurunan eritrosit : kehilangan darah (perdarahan), anemia, leukemia, infeksi kronis, mieloma
multipel, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan, hidrasi berlebihan
Peningkatan eritrosit : polisitemia vera, hemokonsentrasi/dehidrasi, dataran tinggi, penyakit
kardiovaskuler
Hitung Trombosit Adalah komponen sel darah yang dihasilkan oleh jaringan hemopoetik, dan
berfungsi utama dalam proses pembekuan darah. Penurunan sampai dibawah 100.000/ L
berpotensi untuk terjadinya perdarahan dan hambatan pembekuan darah.
Jumlah Normal: 150.000-400.000 /L
4. Hitung Leukosit
Hitung leukosit adalah menghitung jumlah leukosit per milimeterkubik atau mikroliter darah.
Leukosit merupakan bagian penting dari sistem pertahanan tubuh, terhadap benda asing,
mikroorganisme atau jaringan asing, sehingga hitung julah leukosit merupakan indikator yang
baik untuk mengetahui respon tubuh terhadap infeksi.
Nilai normal leukosit:
Dewasa

: 4000-10.000/ L

Bayi / anak

: 9000-12.000/ L

Bayi baru lahir

: 9000-30.000/ L

Bila jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan, maka keadaan tersebut disebut leukositosis.
Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis yang fisiologik
dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang, takhikardi paroksismal, partus dan
haid.
Peningkatan leukosit juga dapat menunjukan adanya proses infeksi atau radang akut, misalnya
pneumonia, meningitis, apendisitis, tuberkolosis, tonsilitis, dll. Dapat juga terjadi miokard infark,
sirosis hepatis, luka bakar, kanker, leukemia, penyakit kolagen, anemia hemolitik, anemia sel
sabit , penyakit parasit, dan stress karena pembedahan ataupun gangguan emosi. Peningkatan
leukosit juga bisa disebabkan oleh obat-obatan, misalnya: aspirin, prokainmid, alopurinol,
kalium yodida, sulfonamide, haparin, digitalis, epinefrin, litium, dan antibiotika terutama
ampicillin, eritromisin, kanamisin, metisilin, tetracycline, vankomisin, dan streptomycin.
Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah leukosit kurang dari 5000/L darah. Karena pada
hitung jenis leukosit, netrofil adalah sel yang paling tinggi persentasinya hampir selalu
leukopenia disebabkan netropenia.
Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu, terutama virus, malaria,
alkoholik, SLE, reumaotid artritis, dan penyakit hemopoetik(anemia aplastik, anemia perisiosa).
Leokopenia dapat juga disebabkan penggunaan obat terutama saetaminofen, sulfonamide, PTU,
barbiturate, kemoterapi kanker, diazepam, diuretika, antidiabetika oral, indometasin, metildopa,
rimpamfin, fenotiazin, dan antibiotika.(penicilin, cefalosporin, dan kloramfenikol)
Laju Endap Darah
Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit
dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak
spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis,
kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress
fisiologis.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun IONI, 2000, IONI: Informatorium Obat Nasional Indonesia, Depkes RI
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.
Tim Redaktur MIMS Indonesia, 2006, MIMS Indonesia: Petunjuk dan Konsultasi, Edisi 6
2006/2007, PT. Infomaster lisensi dari CMPMedica, Jakarta.
Tim Penyusun ISO Farmakoterapi, 2008, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta
American Cancer Society. Cancer Facts & Figures 2015. Atlanta, Ga. American Cancer Society;
2015
CPDH. 2013. California Department of Health Care Services & California Department of Public
Health www.dhcs.ca.gov/services/
Riono, Y., 2008, Kanker Leher Rahim, http://dokter.indo.net.id/serviks.html, diakses Desember
2009.
Tim Penyusun IONI, 2000, IONI: Informatorium Obat Nasional Indonesia, Depkes RI Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta
National Cancer Institute. 2012. Cervical Cancer Prevention. Diakses dari
http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/prevention/cervical/Patient/page3 pada tanggal 14
Maret 2013
Sinta, NS. 2010. Kanker Serviks dan Infeksi Human Pappilomavirus
Javamedia Network

(HPV). Jakarta: