Anda di halaman 1dari 208

i

ULUMUL QURAN
Oleh:
Mahasiswa Ekonomi Syariah Angkatan 2016/2017

Editor : Muhammad Nizar

Penerbit : Kurnia Advertising


Jl. Panglima Sudirman 6 Malang 56162
Telp. (0341) 463677 / 081944870202
E-mail : nizaryudharta@gmail.com

ii

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Swt, yang
telah memberikan anugerah dan nikmatnya yang tak
terhingga. Sholawat dan salam-Nya semoga terus
tercurah kepada Rasul pilihan-Nya, yang telah
membukakan mata hati kita, hingga dapat membedakan
antara baik dan buruk, halal dan haram, jalan kesesatan
dan petunjuk.
Suatu kebahagiaan bagi kami dapat menerbitkan
buku Ulumul Quran sebagai perwujudan dalam
memberikan kontribusi dan memperbanyak khasanah
Islam.
Kehadiran buku ini untuk melengkapi refrensi
tentang mata kuliah Ulumul Quran. Dalam buku ini
terdiri dari delapan belas bab.
Dalam kesempatan ini saya menyampaikan bahwa
kandungan buku ini bukan merupakan yang final dan
sempurna, oleh karena itu saran yang konstruktif dari
berbagai pihak sangat kami harapkan. Dan akhirnya
hanya kepada Allah Swt sajalah kami mengharapkan
hidayah dan taufik-Nya, amin.

Pasuruan, 10 Oktober 2016


Muhammad Nizar, M.E.I

iii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

iii

Daftar Isi

iv-v

Bab 1

Al-Quran

1-10

Bab 2

Wahyu

11-20

Bab 3

Makiyyah dan Madaniyyah

21-30

Bab 4

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan


Terakhir Turun

31-44

Bab 5

Asbabul Nuzul

45-56

Bab 6

Turunnya Al-Quran

57-68

Bab 7

Pengumpulan dan Penertiban Al-

69-78

Quran
Bab 8

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh

79-88

Huruf
Bab 9

Qiraat dan Qurra

89-100

Bab 10

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para

101-110

Mufassir
Bab 11

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabih

111-122

Bab 12

Lafadz

123-134

yang

Umum

Khusus
iv

dan

yang

Bab 13

Nasikh dan Mansukh

135-144

Bab 14

Muthmaq dan Muqayyad

145-154

Bab 15

Kemukjizatan Al-Quran

155-166

Bab 16

Amtsal Al-Quran

167-176

Bab 17

Qasam dalam Al-Quran

177-190

Bab 18

Tafsir dan Takwil

191-200

Daftar Pustaka

201

DAFTAR PUSTAKA
Nur Efendi, Muhammad Fathurrohman, Studi al-Quran, Depok:
Teras, 2014.
Subhi as Shalih, Mabahits fi Ulum al-Quran, Bairut: Dar al Ilmi Lil
Malayin, 1988.
Muhammad Ali as Sabuni, Studi Ilmu al-Quran terjemahan
Aminuddin, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Rosihan Anwar, Ulumul Quran, Bandung: Pustaka Setia, 2000.
Usman, Ulumul Quran, Yogyakarta: Teras, 2009.

201
vi

Al-Quran

AL-QURAN
}
A. Pendahuluan
Di antara kemuraha Allah terhadap
manusia, adalah bahwa Dia tidak saja
menganugrahkan fitrah yang suci yang dapat
membimbingnya kepada kebaikan, bahkan juga
dari masa ke masa mengutus seorang rasul yang
membawa kitab sebagai pedoman hidup dari
Allah, mengajak manusia beribadah kepada-Nya
semata. Wahyu diturunkan senantiasa mengiringi
manusia sesuai dengan perkembangan dan
kemajuan berfikir manusia. Ia memberikan jalan
keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi
setiap umat para Rasul.
Al-Quran adalah risalah Allah untuk
seluruh umat manusia, banyak dalil-dalil yang
secar mutawattir diriwayatkan berkaitan dengan
masalah ini, baik dari al-Quran maupun dari
sunnah, di antaranya:
1

Al-Quran

Katakanlah (hai Muhammad) hai sekalian


manusia! Sesungguhnya Aku adalah pesuruh
Allah kepada kaum semua, (diutus oleh Allah)
yang menguasai langit dan bumi, (tiada Tuhan
yang berhak disembah) melainkan Dia yang
menghidupkan dan mematikan. Oleh sebab itu,
berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya,
nabi yang ummi yang beriman kepada Allah
dan
kalimat-kalimatNya
(kitab-kiabNya)
ikutilah Dia, dan supaya kamu mendapat
hidayah. (al-Araf: 158)
Maha Berkah yang telah menurunkan alFurqan kepada hambaNya (Muhammad) untuk
menjadi peringa tan bagi seluruh penduduk
alam. (al-Furqan: 1)
Nabi bersabda:
Setiap Nabi diutus kepada kaumnya secara
khusus, sedangkan saya diutus kepada seluruh
manusia.
HR Bukhari Muslim
Maka, tidaklah heran kalau al-Quran dapat
memenuhi segala tuntutan kemanusiaan yang
berdasar pada prinsip utama agama-agama
samawi
Allah telah menerangkan kepada kamu
perkara-perkara agama yang Ia tetapkan
hukumnya-apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nabi Nuh, dan yang telah kami
wahyukan kepadamu (Muhammad), juga yang
telah kami wasiatkan kepada Nabi Ibrahim,
2

Al-Quran

Nabi Musa, dan Nabi Isa, yaitu; tegakkanlah


agama, dan janganlah kamu berpecah belah atau
berselisihan padanya. Berat bagi rang-orang
muyrik (untuk menerima agama tauhid) yang
engkau seru merka kepadanya. Allah memilih
siapapun
yang
dikehendaki-Nya
untuk
menerima agama tauhid itu, dan member
hidayah kepada yang kembali kepada-Nya
Allah telah menetapkan untuk memelihara
Al-Quran dengan cara penyampaian yang
utawatir sehingga tidak terjadi penyimpangan
atau perubahan apapun. Di antara gambaran
tentang malaikat Jibril yang membawanya ialah:
Sesungguhnya Al-Quran itu benar benar
kalamullah (yang disampaikan malaikat Jibril)
utusan yang mulia. Yang kuat, gagah, lagi
berkedudukan tinggi disisi Allah yang
mempunyai Arasy. Yang ditaati yang disana
(dalam kalangan malaikat), dan dipercaya.
Sebenarnya sahabat kamu (Nabi MUhammad)
itu (wahai golongan Islam), bukanalah orang
gila (seperti yang kamu tuduh) dan (Nabi
Muhammad yakin bahwa ang disampaikan
kepadanya ialah wahyu dari Tuhan).
Sesungguhnya
Nabi
Muhammad
telah
mengenal dan melihat Jibril di kaki langit yang
nyata. Tidaklah patut Nabi Muhammad seorang
yang bisa dituduh dan disangka buruk tentang
penyampaiannya mengenai perkara-perkara ang
gaib (at-Takwir: 19-24)
3

Al-Quran

bahwa sesungguhnya (yang dibacakan kepada


kamu)itu ialah Al-Quran yang mulia, (yan
senantiasa member pengajaran dan pimpinan),
yang tersimpan dalam kitab yang cukup
terpelihara, yang tidak disentuh melainkan oleh
makhluk-makhluk yang suci
(al-Waqiah: 77-79)
Disamping kepada manusia, al-Quran juga
diturunkan kepada golongan jin:
Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika satu
rombongan jin dating kepadamu (wahai
Muhammad) untuk mendengar Al-Quran;
setelah
mereka
mendengar
bacaannya,
berkatalah (sebagiannya kepada yang lain);
diamlah
kamu
denga
serius
unttuk
mendenggarnya! Setelah bacaan itu selesai,
mereka kembali kepada kaumnya (menyiarkan
ajaran alQuran itu dengan) member
peringatan. Merka berkata; wahai kaum kami!
Sesungguhnya
kami
telah
mendengar
Kitabyang diturunkan (oleh Allah) sesudah
Nabi Musa, yang menegaskan kebenaran kitabkitab suci yang terdahulu daripadanya, lagi
menuntun kepada kebenaran (tauhid) dank e
jalan yang lurus. Wahai kaum kami! Sabutlah
(seruan) Rasul (nabi Muhammad )yang
mengajak kamu kepadana, supaya Allah
mengampunkan sebagian dari dosa-dosa kamu,
dan menyelamatkan kamu dari siksa yang tidak
terperi sakitnya(al-Ahqaf: 29-31)
4

Al-Quran

Dengan keistimewaan itulah, Al-Quran


memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan
diberbagai segi kehidupan. Dengan demikian, alQuran akan selalu actual disetiap waku dan
tempat. Sebab, Islam adalah agama abadi.
Menarik apa yang dikatakan oleh seorang juru
dakwah abad 14 H, Islam adalah suau sisem
yang komprehensif, ia mencangkup segala
persoaan kehidupan. Selain itu, ia juga
mengandung masalah akidah yang lurus dan
ibadah yang shahih
Manusia kini banyak yang resah gelisah,
akhlaknya rusak, tidak ada tempat berlindung
bagi mereka dari kejauhannya kejurang kehinaan
selain kembali kepada ajaran al-Quran.
Keluarlah kau berdua dari surga itu bersamasama, dalam keadaan sebagian kamumenjadi
musuh sebagian yang lain; sehingga datang
kepada kamu petunjuk dariKu, maka siapa ang
mengikut petunjukKu itu, niscaya ia tidak akan
tersesat dan tidak menderita. Dan barang siapa
yang berpaling dari mengingatKu, maka
sesungguhnya adalah baginya kehidupan yang
sempit, dan kami akan himpunkan dia pada hari
kiamat dalam keadaan buta (thaha: 123-124)
B. Definisi Al-Quran
Al-Quran asalnya sama dengan qiraah,
yaitu akar kata dari qaraa, qiraaanwa quranan.
5

Al-Quran

Menurut sebagian ulama, penamaan kitab ini


dengan nama al-Quran di antara kitab-kiab Allah
itu, Karena kitab ini juga mencakup esensi dari
kiab-kitabnya, bahkan mencakup esensi dari
semua ilmu. Hal itu diisaratkan dalam
firmanNya,
Dan (ingakanlah tentang) hari dimana Kami
bangkitkan dikalangan tiap-tiap umat, seorang
saksi bagi mereka, dari golongan mereka sendiri;
dan kami menjadikanmu (hai Muhammad)
untuk menjadi saksi aas mereka ini; kami telah
menurunkan
kepadamu
Al-Quran
an
mengandung penjelasan bagi segala sesuatu,
dan menjadi hidayah, rahmat dan berita ang
menggembirakan, bagi orang-orang Islam
(An-Nahl: 89)
Dan tidak seekor pun binatang yang melata di
bumi, dan idak seekor pun burung yang terbang
dengan kedua sayapnya, melainkan mereka
umat-uma seperti kamu. Tak sau pun Kami
lupakan di dalam kitab Al-Quran ini;
kemudian mereka semuanya akan dihimpunkan
kepada Tuhan mereka (unttuk dihisab dan
meneima balasan) (al-Anam: 38)
C. Nama dan Sifat Al-Quran
1. Al-Quran
al-Uran ini member petunjuk kepada jalan
yang lebih lurus (al-Isra: 9)
6

Al-Quran

2. Al-Kitab
Telah kami turunkan kepadamu Al-Kitab
yang di dalamnya terdapat kemuliaan bagimu
(al-Anbiya: 10)
3. Al-Furqan
Mahasuci Allah yang telah menurukan AlFurqan kepada hambNya agar dia menjadi pemberi
peringatan kepada penduduk alam (al-Furqan: 1)
4. Adz-Dzikr
Sesungguhnya Kamilah yang telah
menurunkan Adz-Dzikr. Dan sesunguhnya
kamilah pula yang akan menjaganya (al-Hijr: 9)
5. At-Tanzil
Dan dia itu adalah Tanzil (kitab yang
ditturunkan) dari Tuhan semesta alam (asySyuara: 192)
Allah melukiskan Al-Quran dengan
banyak sifat, diantaranya
1. Nur (cahaya). (an-Nisaa: 174)
2. Mauizhah (nasehat), syifa (obat), huda
(petunjuk), dan rahmah (rahmat). (yunus: 57)
3. Mubin (yang menjelaskan). (al-Maidah: 15)
4. Al-muabarak (yang diberkati). (al-Anam: 92)
5. Busyra (berita gembira). (al-Baqarah: 97)
6. Aziz (mulia), (fushilat: 41)
7. Majid (ang dihormati). (al-Buruj: 21)
7

Al-Quran

8. Basyir (pembawa beria gembira), dan nadzir


(pemberi peringatan). (fushilat: 3-4)
D. Perbedaan Antara Al-Quran, Hadist Qudsi, Dan
Hadist Nabawi
1. Hadist Qudsi
Hadist qudsi secara istilah ialah suatu
hadist yang mana oleh nabi Muhammad
disandarkan kepada Allah. Aksudna, nabi
Muahmmad meriwayatkan dalam posisi
bahwa yang disampaikannya adalah kalam
Allah.
2. Perbedaan Al-Quran dengan Hadist Qudsi
a. Al-Quran adalah kalam Allah yang
diwahyukan kepada Rasululloh dengan
lafadznya, yang denganna orang arab
ditantang tetapi mereka tidak mampu
membuat
yang
sepertti
al-Quran.
Tantangan itu tetap berlaku, karena AlQuran merupakan mukjizat abadi hingga
hari kiamat. Sedang hadist qudsi tidak
untuk menantang dan tidak pula berfungsi
sebagai mukjizat
b. Al-Quran hanya dinishbahkan kepada
Allah semata. Adapun hadist qudsi
diriwayatkan dengan disandarkan kepada
Allah. Penyandaran hadist qudsi kepada
8

Al-Quran

Allah itu bersifat penisbatan insai (yang


diadakan)
c. Seluruh isi Al-Quran dinukil searra
mutawatir, sehinnga kepastianna sudah
mutlak. Sedang hadis qudsi sebagian besar
memiliki derajat khabar ahad, sehingga
kepastiannya masih berupa dugaan.
d. Al-Quran dari Allah, baik lafadz maupun
makna. Adapun hadis qudsi maknanya saja
dai Allah, sedan lafadz dari rasululloh.
e. Membaca Al-Quran merupkan ibadah ,
karena itu ia dibaca di dalam sholat.
Sedang hadis qudsi tidak disuruh
membacaya di dalam sholat dan bukan
benuk ibadah.
3. Perbedaan Hadis Qudsi dengan Hadis Nabawi
Hadis nabawi ada dua macam:
a. Tauqifi yaitu kandungannya diterima oleh
Rasululloh dari wahyu, lalu ia dijelaskan
kepada manusia dengan kata-kata dariNya.
b. Taufiqi yaitu yang disimpulkan oleh
Rasululloh,
menurut
pemahamannya
terhadap al-Quran, karena fungsi Rasul
menjelaskan, menerangkan al-Quran dan
ijtihad.
9

Al-Quran

10

Wahyu

WAHYU
}
A. Pendahuluan
Perkembangan dunia ilmu telah maju
dengan pesat, dan cahayanya pun menerangi
segala keraguan yang selama ini meliputi diri
manusia tentang masalah apa yang ada dibalik
materi (alam ruh).
Materialisme yang selama ini meletakkan
segalanya di bawah bentuk percobaan dan
eksperimen, mulai percaya terhadap dunai gaib
yang berada di balik dunia nyata ini, bahwa alam
gaib itu lebih rumit dan lebih dalam dari pada
alam nyata dan bahwa sebagian besar penemuan
modern
menjadikan
pikiran
manusia
menyingkap rahasia yang tersembunyi, yang
hakekatnya tidak bisa di pahami oleh ilmu itu
sendiri, meskipun pengaruh dan gejalanya dapat
diamati.

11

Wahyu

Yang demikian ini telah mendekatkan jarak


antara kepada pengingkaran terhadap agamaagama dan keimanan.
B. Arti Wahyu
Al-wahy (wahyu) dalam pengertian dasar
yaitu tersembunyi dan cepat. oleh sebab itu
dikatakan wahyu adalah informasi secara
tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan
kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain.
Secara etimologi (kebahasaan) pengertian wahyu
meliputi:
1. Ilham al-fithri li al-insan (ilham yang menjadi
fitrah manusia).
2. Ilham yang berupa naluri pada binatang.
3. Isyarat yang cepat melalui isyarat.
4. Bisikan setan untuk menghias yang buruk agar
tampak indah dalam diri manusia.
5. Apa yang disampaikan Allah kepada para
malaikat-Nya berupa suatu perintah untuk
dikerjakan.
Sedangkan wahyu Allah kepada para nabiNya, secara syariat mereka definisikan sebagai
kalam Allah yang diturunkan kepada seorang
nabi.
Ustad Muhammad Abdu mendefinisikan
wahyu di dalam risalah At-tauhid sebagai
12

Wahyu

pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam


dirinya dengan suatu keyakinan bahwa
pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan
melalui perantaraan ataupun tidak.
Perbedaan antara wahyu dan ilham adalah
bahwa ilham itu intuisi yang diyakini oleh jiwa
yang mendorong untuk mengikuti apa yang
diminta, tanpa sadar dari mana datangnya.
Cara Wahyu Allah Turun Kepada Malaikat:
1. Dalam al-Quran al-Karim terdapat nash
mengenai kalam Allah kepada malaikat-Nya.
Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau
berkata kepada Malaikat: Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan di bumi seorang
khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau
hendak menjadikan padanya orang yang
merusak di dalam nya dan menumpahkan
darah, padahal kami bertasbih dengan
memuji Engkau dan memuliakan Engkau ?
Dia berkata: Sesungguhnya Aku lebih
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.
Ayat di atas dengan tegas menunjukkan
bahwa Allah berbicara kepada para malaikat
tanpa perantaraan dan dengan perbicaraan
yang dipahami oleh para malaikat itu.

13

Wahyu

Dalam hadis dari Nuwas bin Samaan


Rhadhiyallahu Anhu dijelaskan bagaimana
wahyu turun. Pertama Allah berbicara, yang
didengar oleh para malaikat. Pengaruh wahyu
itu sangat dahsyat. Pada dhohirnya didalam
perjalanan jibril untuk menyampaikan wahyu,
hadis diatas menunjukkan turunnya wahyu
khusus mengenai al-Quran. Akan tetapi hadis
tersebut juga menjelaskan cara turunnya
wahyu secara umum.
2. Jelas bahwa al-Quran telah dituliskan di
lauhul mahfuzh, seperti firman Allah dalam
surat Al-Buruj: 21-22 , surat Al-Baqarah: 185.
Di dalam sunnah terdapat hal yang
menjelaskan
turunnya
al-Quran
yang
menunjukkan bahwa nuzul itu bukanlah turun
kedalam hati Rasulullah SAW.
Oleh sebab itu, para ulama berpendapat
mengenai cara turunnya wahyu allah yang
berupa al-Quran kepada malaikat jibril
dengan beberapa pendapat:
a. Jibril menerimanya secara pendengaran
dari Allah dengan lafadznya yang khusus.
b. Jibril menghafalnya dari Lauh Al-Mahfuzh

14

Wahyu

c. Maknanya disampaikan kepada jibril,


sedang lafadznya dari jibril atau nabi
Muhammad SAW.
Pendapat pertama yang benar. Pendapat
itu yang dijadikan pegangan oleh Ahli Sunnah
wal Jamaah, serta diperkuat oleh hadits
Nuwas bin Saman di atas.
Penyandaran Al-Quran kepada Allah
itu terdapat dalam beberapa ayat:
a. At-Taubat : 6
b. Yunus : 15
Al-Quran adalah kalam Allah dengan
lafadnya, bukan kalam jibril atau Muhammad.
Adapun pendapat kedua di atas, tidak
dapat dijadikan pegangan, sebab adanya AlQuran di lauhul mahfuzh itu seperti hal-hal
gaib yang lain, termasuk Al-Quran.
Sedangkan pendapat ketiga hampir
sama dengan makna sunnah. Sebab, sunnah
itu juga wahyu dari Allah kepada jibril,
kemudian kepada Muhammad SAW secara
makna. Di antara keistimewaan Al-Quran
adalah:
a. Al-Quran adalah mukjizat.
b. Kebenarannya mutlak.
c. Membacanya dianggap ibadah.
15

Wahyu

d. Wajib disampaikan dengan lafadznya.


Sedang hadits qudsi tidak demikian,
sekalipun ada yang berpendapat lafadznya
juga diturunkan.
Hadits nabawi ada dua macam. Pertama:
sebagai ijtihad Rasulullah SAW. Ini bukan
wahyu.
Kedua:
maknanya
saja
yang
diwahyukan, sedangkan lafadznya dari
Rasulullah sendiri. Hadits qudsi itu menurut
pendapat yang kuat, maknanya saja yang
diturunkan, sedang lafadznya tidak. Ia
termasuk bagian yang kedua ini. Sedang
menisbahkan hadits qudsi kapada Allah
dalam periwayatannya karena adanya nash
tentang itu, adapun hadits-hadits nabawi
tidak.
C. Cara Penurunan Wahyu Kepada Para Rasul
Allah menurunkan wahyu kepada Allah
kepada rasul-Nya dengan dua cara: ada yang
melalui perantaraan ada yang tidak melalui
perantaraan.
1. Melalui jibril, malaikat pembawa wahyu.
2. Tanpa melalui perantaraan. Diantaranya ialah,
mimpi yang benar dalam tidur.
a. Mimpi yang benar di dalam tidur.

16

Wahyu

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata,


sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi
pada Rasulullah adalah mimpi yang benar
di dalam tidur. Beliau tidaklah melihat
mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan
terangnya pagi hari.
Mimpi yang benar itu tidak hanya
khusus bagi para rasul saja. Mimpi yang
semacam itu juga bisa terjadi pada kaum
Mukminin.
Mimpi yang benar bagi para nabi di
waktu tidur itu merupakan sutu dari sekian
macam cara Allah berkomunikasi dengan
hamba pilihan-Nya.
b. Kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui
perantara.
Seperti yang terjadi pada Musa
Alaihissalam. Demikian pula menurut
pendapat yang shahih, Allah juga pernah
berbicara secara langsung kepada Rasul
kita Muhammad pada malam Isra dan
Mi;raj.
D. Penyampaian Wahyu Oleh Malaikat kepada
Rasul
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh
malaikat kepada Rasul:
17

Wahyu

Pertama; Datang dengan suatu suara seperti


suara lonceng, yaitu suara yang amat kuat yang
dapat memengaruhi kesadaran, sehingga ia
dengan segala kekuatannya siap menerima
pengaruh itu. Cara ini adalah yang paling berat
bagi Rasul.
Kedua; Malaikat menjelma para Rasul
sebagai seorang laki-laki. Cara seperti ini lebih
ringan dari pada cara sebelumny, karena adanya
kesesuaian antara pembicara dengan pendengar.
Keadaan Jibril menampakkan diri seperti
orang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia
melepaskan sifat keruhaniannya. Dan tidak pula
berarti bahwa zatnya telah berubah menjadi
seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksudkan ialah
bahwa dia menampakkan diri dalam bentuk
manusia tadi untuk menyenangkan Rasulullah
sebagai manusia.
E. Syubhat Para Penentang Wahyu
Orang-orang jahiliyah baik yang klasik
ataupun
yanh
modern
selalu
berusaha
menimbulkan keraguan (syubhat) terhadap
wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong.
Tetapi syubhat itu lemah dan tidak dapat
diterima.

18

Wahyu

1. Mereka mengatakan bahwa Al-Quran bukan


wahyu, tetapi dari pribadi Muhammad. Dialah
yang menciptakan maknanya, dan menyusun
bentuk gaya dan bahasanya .
2. Orang-orang jahiliyah, dahulu dan sekarang,
menyangka bahwa Rasulullah mempunyai
ketajaman akal, penglihatan yang dalam,
firasat yang kuat, kecerdikan yang hebat,
kejernihan jiwa dan renungan yang benar,
yang menjadikannya mampu menimbang
ukuran-ukuran yang baik dan buruk, benar
dan salah melalui ilham ( intuisi ), mengenali
perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf.
3. Orang-orang jahiliyah klasik dan modern
berasumsi bahwa Muhammad telah menerima
ilmu-ilmu Al-Quran dari seorang guru. Itu
tidak salah, akan tetapi guru yang
menyampaikan Al-Quran itu ialah malaikat
pembawa wahyu, bukan guru yang berasal
dari kaumnya sendiri atau kaum lain.
F. Kesesatan Kaum Mutakallimin
Para ahli kalam telah tenggelam dalam
metodologi para filosof dalam menjelaskan
Kalam Allah sehingga mereka telah sesat dan
menyesatkan orang lain. Mereka membagi Kalam
Allah menjadi dua bagian; kalam nafsi yang kekal
19

Wahyu

yang ada pada zat Allah, yang tidak berupa


huruf, suara, tertib, dan tidak pula bahasa; dan
kalam lafzhi, yang diturunkan kepada para nabi,
diantaranya adalah empat buah kitab.
Madzhab Ahlu Sunnah wal Jamaah
menentukan nama-nama dan sifat-sifat Allah
yang telah ditentukan oleh Allah atau Rasulullah
dalam hadits yang shahih. Cukup bagi kita
beriman bahwa kalam itu adalah salah satu sifat
diantara sekian sifat Allah.

20

Makiyyah dan Madaniyyah

MAKIYYAH DAN MADANIYYAH


A. Pendahuluan
Semua bangsa berusaha keras untuk
melestarikan warisan pemikiran dan nilai-nilai
kebudayaannya. Tak terkecuali umat Islam,
mereka sangat memperhatikan kelestarian risalah
muhammad yang memuliakan semua umat
manusia.
Kita dapati para pengemban dakwah yang
terdiri dari para sahabat, tabiin, dan generasi
sesudahnya, mengadakan penelitian dengan
cermat tentang tempat turunnya al-Quran ayat
demi ayat, baik dalam hal waktu ataupun
tempatnya. Dia juga menjadi landasan bagi para
peneliti untuk mengetahui metode dakwah,
macam-macam seruan, pentahapan dalam
penetapan hukum, dan perintah.
Dakwah
menuju
jalan
Allah
itu
memerlukan metode tertentu dalam menghadapi
21

Makiyyah dan Madaniyyah

segala kerusakan akidah, hukum dan akhlak.


Beban dakwah itu diwajibkan setelah benih subur
tersedia baginya dan fondasi kuat telah
dipersiapkan untuk membawanya.
Orang yang membaca al-Quran al-karim
akan melihat bahwa ayat-ayat makkiyah
mengandung karakteristik yang tidak ada dalam
ayat-ayat madaniyah, baik dalam irama maupun
maknanya, sekalipun yang kedua ini didasarkan
pada yang pertama dalam hukum-hukum dan
perundang-undangannya.
Pada zaman jahiliyah, masyarakat sedang
dalam keadaan buta dan tuli, menyembah
berhala, memper-sekutukan Allah, mengingkari
wahyu, dan mendustakan hari akhir. Mereka ahli
perang, suka bertengkar, suka membantah
dengan kata-kata yang kasar, sehingga wahyu
ayat-ayat makkiyah
juga berupa goncangangoncangan yang mencekam, menyala-nyala
seperti api yang memberi tanda bahaya disertai
argumentasi sangat tegas dan kuat. Semua ini
dapat menghancurkan keyakinan mereka pada
berhala, kemudian mengajak mereka kepada
agama tauhid.
Dengan demikian kebobrokan mereka
berhasil dikikis, begitu juga segala impian mereka
22

Makiyyah dan Madaniyyah

dapat dilenyapkan dengan memberikan contohcontoh kehidupan akhirat, surga, dan neraka
yang terdapat di dalamnya.
Demikianlah, kita lihat surat makkiyah itu
penuh
dengan
ungkapan-ungkapan
yang
kedengarannya amat keras di telinga, hurufhurufnya seolah-olah melontarkan api ancaman
dan siksaan, masing-masing sebagai penahan dan
pencegah, sebagai suara pembawa malapetaka,
seperti dalam surat al-Qoriah, al-Waqiah, hurufhuruf Hijaiyah pada permulaan surat, dan ayatayat yang di dalamnya berisi tantangan, tentang
nasib umat-umat terdahulu, dan bukti-bukti
alamiah rasional. Semua ini menjadi ciri-ciri alQuran surat makkiyah .
Setelah terbentuk jamaah yang beriman
kepada Allah, malaikat, kitab dan rasul-nya,
kepada hari akhir dan qadar, baik dan buruknya,
serta akidahnya telah diuji dengan berbagai
cobaan dari orang musyrik dan ternyata dapat
bertahan, dan dengan agamanya itu mereka
berhijrah.
Ia mengajak berjihad dan berkorban di
jalan Allah, kemudian menjelaskan dasar-dasar
dan perundang-undangan, meletakkan kaidahkaidah kemasyarakatan, mengatur hubungan
23

Makiyyah dan Madaniyyah

pribadi, hubungan internasional dan antarbangsa.


Ia juga menyingkapkan aib dan isi hati orangorang munafik, berdialog dengan ahli kitab dan
membungkam mulut mereka. Inilah ciri-ciri
umum ayat-ayat al-Quran yang madaniyah.
B. Perhatikan Para Ulama Terhadap Ayat-Ayat
Makkiyah dan Madaniyah
Merupakan satu kerja besar bila seorang
peneliti menyelidiki turunnya wahyu dalam
segala tahapannya, mengkaji ayat-ayat, serta
kapan dan di mana turunnya. Dengan bantuan
tema surat atau ayat, lalu merumuskan kaidahkaidah analogis terhadap struktur sebuah seruan
itu,apakah ia termasuk makkiyah atau madaniyah,
ataukah ia termasuk tema-tema yang menjadikan
titik tolak dakwah di Makkah atau di Madinah.
Abu Qosim al-Hasan bin Muhammad bin
Habib
an-Naisaburi
menyebutkan
dalam
kitabnya at-tanbih ala fadhli ulum al-Quran, di
antara ilmu-ilmu al-Quran yang paling mulia
adalah ilmu tentang nuzul al-Quran dan
wilayahnya; urutan turunnya di Makkah dan
Madinah, tentang hukumnya yang diturunkan di
Makkah, tetapi menyangkut penduduk Madinah
dan sebaliknya; serupa dengan yang diturunkan
di Makkah, tetapi pada dasarnya termasuk madani
24

Makiyyah dan Madaniyyah

dan sebaliknya. Juga, tentang yang diturunkan di


juhfah, di baitul maqdis, di tharif atau di hudaibiyah.
Para ulama sangat memperhatikan alQuran dengan cermat. Mereka menertibkan
surat-surat sesuai dengan tempat turunnya. Yang
terpenting dalam obyek kajian para ulama dalam
pembahasan ini ialah:
1. Yang diturunkan di Makkah.
2. Yang diturunkan di Madinah.
3. Yang diperselisihkan.
4. Ayat-ayat makkiyah
dalam surat-surat
madaniyah.
5. Ayat-ayat madaniyah dalam surat-surat
makkiyah.
6. Yang diturunkan di Makkah namun hukumnya
madaniyah.
7. Yang diturunkan di Madinah namun
hukumnya makkiyah.
8. Yang serupa dengan yang diturunkan di
Makkah dalam kelompok madaniyah.
9. Yang serupa dengan yang diturunkan di
Madinah dalam kelompok makkiyah .
10. Yang di bawa dari Makkah ke Madinah.
11. Yang di bawa dari Madinah ke Makkah.
12. Yang turun di waktu malam dan di waktu
siang.
25

Makiyyah dan Madaniyyah

13. Yang turun di musim panas dan musim


dingin.
14. Yang turun di waktu menetap dan perjalanan.
Inilah macam-macam ilmu al-Quran yang
pokok, berkisar di sekitar makkiyah
dan
madaniyah. Oleh karenanya dinamakan sebagai
ilmu al-Makki wa al-Madani (ilmu makkiyah dan
madaniyah).
Adapun madaniyah ada dua puluh surat,yaitu:
1. Al-Baqarah.
11. Al-hujurat.
2. Ali imron.
12. Al-hadid.
3. An-nisaa.
13. Al-mujadilah.
4. Al-maaidah.
14. Al-hasry.
5. Al-anfal.
15. Al-mumtahanah.
6. At-taubah.
16. Al-jumuah.
7. An-nur.
17. Al-munafiqun.
8. Al-ahzab.
18. Ath-thalaq.
9. Muhammad.
19. At-tahrim.
10. Al-fath.
20. An-nashr.
Sedangkan yang diperselisihkan ada dua
belas surat, yaitu:
1. Al-fatihah.
7. Al-qadr.
2. Ar-rad.
8. Al-bayyinah.
3. Ar-rahman.
9. Az-zalzalah.
4. Ash-shaff.
10. Al-ikhlas.
5. At-taghabun.
11. Al-falaq.
26

Makiyyah dan Madaniyyah

6. At-tathfif (al-muthaffifin). 12. An-nas.


Kemudian, sisanya (selain yang disebutkan
di atas) adalah surat-surat makkiyah, yaitu delapan
puluh dua surat. Maka, jumlah surat-surat alQuran semuanya ada seratus empat belas surat.
C. Faedah Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan
al-Quran.
2. Meresapi gaya bahasa al-Quran dan
memanfaatkannya dalam metode berdakwah
menuju jalan Allah.
3. Mengetahui sejarah hidup nabi melalui ayatayat al-Quran.
D. Pengetahuan
Tentang
Makkiyah
dan
Madaniyah Serta Perbedaannya
Para ulama bersandar pada 2 cara yaitu
yang pertama; simai naqli (pendengaran seperti apa
adanya) yang didasarkan pada riwayat shahih dari
para sahabat yang hidup pada saat dan
mendengar dari para sahabat bagaimana, dimana,
dan peristiwa apa yang berkaitan dengan
turunnya wahyu itu. Yang kedua; cara qiyasi
ijtihadi didasarkan pada ciri-ciri makkiyah dan
madaniyah. Apabila dalam surat makkiyah
terdapat suatu ayat yang mengandung sifat
madani atau mengandung peristiwa madani,
27

Makiyyah dan Madaniyyah

maka dikatakan bahwa ayat itu madani,dan


sebaliknya.
E. Perbedaan Makkiyah dengan Madaniyah
Para ulama mempunyai 3 pandangan;
1. Dari segi waktu turunnya.
2. Dari segi tempat turunnya.
3. Dari sisi sasarannya.
F. Ciri Khas Makkiyah dan Madaniyah
Penetapan makkiyah dan ciri khas temanya:
1. Setiap surat yang di dalamnya mengandung
ayat-ayat sajdahadalah makkiyah .
2. Setiap surat yang mengandung lafadzh kalla,
adalah makkiyah.
3. Setiap surat yang mengandung ya ayyuhannas dan tidak mengandung ya ayyuhalladzina amanu adalah makkiyah , kecuali surat
al-Hajj.
4. Setiap surat yang mengandung kisah para nabi
dan umat terdahulu adalah makkiyah , kecuali
surat al-Baqarah.
5. Setiap surat yang mengandung kisah adam
dan iblis adalah makkiyah kecuali surat albaqarah.
6. Setiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf
muqathaah atau hijai, seperti alif lam mim, alif
lam ra, ha mim dan lain-lainnya, adalah
28

Makiyyah dan Madaniyyah

makkiyah , kecuali surat al-Baqarah dan ali


imran. Adapun surat ar-Raad masih
diperselisihkan.
Penetapan madaniyah dan ciri khas temanya:
1. Setiap surat yang berisi kewajiban atau sanksi
hukum.
2. Setiap surat di dalamnya disebutkan orangorang munafik, kecuali surat al-ankabut. Ia
adalah makkiyah .
3. Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog
dengan ahli kitab.
Dari segi karakteristik secara umu. Adapun
dari segi tema dan gaya bahasanya, adalah
sebagai berikut:
1. Menjelaskan masalah ibadah, muamalah, had,
kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial
& internasional, baik di waktu damai maupun
di waktu perang, kaidah hukum, dan masalah
perundang-undangan.
2. Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan
yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada
mereka untuk masuk Islam.
3. Menyingkap
perilaku
orang
munafik,
menganalisis
kejiwaannya,
membuka
kedoknya dan menjelaskan bahwa ia
berbahaya bagi agama.
29

Makiyyah dan Madaniyyah

4. Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan


dengan gaya bahasa yang memantapkan
syariat serta menjelaskan tujuan dan
syariatnya.

30

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

PENGETAHUAN AYAT YANG


PERTAMA DAN TERAKHIR TURUN
A. Pendahuluan
Ketinggian kedudukan AlQuran dan
keagungan ajaran-ajarannya akan dapat merubah
kehidupan manusia, menghubungkan langit
dengan bumi, dan dunia dengan akhirat.
Pengetahuan mengenai sejarah perundangundangan Islam dari sumber utamanya yaitu AlQuran akan menggambarkan kepada kita
mengenai
peringkatan
hukum
dan
penyesuaiannya dengan keadaan tempat hukum
itu diturunkan yang memerlukan pembahasan
mengenai apa yang pertama dan terakhir
diturunkan.
B. Ayat yang Pertama Diturunkan
Terdapat empat pendapat mengenai
apakah yang mula-mula diturunkan mengenai
Al-Qur ,an:
1. Jumhur (Pendapat yang paling rajih atau
sahih) Ulama yaitu yang pertama diturunkan
ialah lima ayat pertama surah al-Alaq
31

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

berdasarkan riwayat Aisyah yang dicatat oleh


Imam Bukhari, Muslim dan al-Hakim dalam
kitab-kitab
hadis mereka.
Aisyah
r.a.
menyatakan:
Sesungguhnya permulaan wahyu datang
kepada Rasulullah SAW. melalui mimpi yang
benar di waktu tidur. Mimpi itu jelas dan
terang bagaikan terangnya pagi hari.
Kemudian dia gemar menyendiri dan pergi ke
gua Hira. untuk beribadah beberapa malam
dengan membawa bekal. Sesudah kehabisan
bekal, beliau kembali kepada isterinya
Khadijah
r.a.,
maka
Khadijah
pun
membekalinya
seperti
bekal
terdahulu
sehingga beliau didatangi dengan suatu
kebenaran (wahyu) di gua Hira tersebut,
apabila seorang malaikat (Jibril a.s.) datang
kepadanya dan mengatakan: Bacalah!
Rasulullah menceritakan, maka aku pun
menjawab: Aku tidak tahu membaca.
Malaikat tersebut kemudian memeluk-ku
sehingga aku merasa sesak nafas, kemudian
aku dilepaskannya sambil berkata lagi:
Bacalah! Maka aku pun menjawab: Aku
tidak tahu membaca. Lalu dia memeluk-ku
sampai
aku
rasa
sesak
nafas
dan
dilepaskannya sambil berkata: Bacalah! Aku
menjawab: Aku tidak tahu membaca. Maka
dia memeluk-ku buat ketiga kalinya seraya
berkata: Bacalah dengan menyebut nama
32

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan


manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan
Tuhanmu yang Maha Pemurah! Yang
mengajar dengan perantaraan kalam dan
mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya. Setelah berlaku peristiwa itu
kembalilah Rasulullah SAW. kepada isterinya
Khadijah (membawa ayat-ayat ini) dengan
tubuh menggigilhingga akhir hadis
(al-Hadis).
Imam-imam yang lain seperti al-Hakim dalam
al-Mustadrak, al-Baihaqi dalam al-Dalail dan
al-Tabrani dalam al-Kabir mengesahkan ayat
tersebut adalah yang pertama diturunkan.
2. Pendapat lain mengatakan Surah alMuddatstsir yang pertama kali diturunkan
berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh
Jabir bin Abdullah seorang sahabat. Daripada
Abu Salamah bin Abdul Rahman, dia berkata:
Aku telah bertanya kepada Jabir bin
Abdullah: Yang manakah di antara Al-Quran
mula-mula diturunkan? Jabir menjawab,"
. Aku berkata, Atau iqra bismirabbikal
ladzi Khalaq. Dia Jabir berkata,Aku katakan
kepada-mu apa yang dikatakan Rasulullah
SAW kepada kami: Sesungguhnya aku
berdiam diri di gua Hira. Maka ketika habis
masa diam-ku, aku turun lalu aku susuri
lembah. Aku lihat ke depan, ke belakang, ke
kanan dan ke kiri. Lalu aku lihat ke langit,
33

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

tiba-tiba aku melihat Jibril yang amat


menakutkan. Maka aku pulang ke Khadijah.
Khadijah memerintahkan mereka untuk
menyelimuti aku. Mereka pun menyelimuti
aku. Lalu Allah menurunkan Wahyu, Yang
artinya:
Hai orang yang berkemul (berselimut),
Bangunlah, lalu berilah peringatan! Atau
Wahai orang yang berselimut; bangkitlah,
lalu berilah peringatan.
Mengenai
Hadis
Jabir
ini,
dapatlah
disimpulkan yaitu pertanyaan tersebut adalah
mengenai surah yang diturunkan secara
penuh. Jabir menjelaskan yang surah
Muddassir diturunkan secara penuh sebelum
surah al Alaq selesai diturunkan, karena yang
turun pertama sekali adalah surah al Alaq itu
hanyalah permulaannya saja. Ini diperkuat
oleh hadis Abu Salamah kepada Jabir yang
terdapat dalam Hadis Bukhari dan Muslim.
Jabir berkata: Aku mendengar Rasulullah
SAW. ketika berkata mengenai putusnya
wahyu, beliau menyebut dalam perkataannya
itu, Sewaktu aku berjalan, aku mendengar
suara dari langit. Kemudian aku angkat
kepala-ku, tiba-tiba aku melihat malaikat yang
mendatangi aku di gua Hira duduk di atas
kursi antara langit dan bumi, lalu aku pulang
dan aku katakan: Selimutkanlah aku! Mereka
34

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan


ayat,
.
Hadis ini menggambarkan peristiwa yang
terjadi di gua Hira, atau al-Muddassir adalah
surah yang pertama diturunkan setelah
terputusnya wahyu. Dapat disimpulkan ayat
pertama untuk kenabian ialah Iqra dan surah
pertama untuk kerasulan ialah surah alMuddassir.
3. Pendapat lain mengatakan, bahwa yang
pertama kali turun adalah surat Al-Fatihah.
Mungkin yang dimaksudkan adalah surat
yang pertama kali turun secara lengkap.
4. Sebahagian ulama tabiin seperti al-Dhahhak
bin Muzahim berpendapat ayat pertama ialah
Bismillah. Dia menyebut Abdullah bin Abbas
pernah berkata: Perkara pertama yang
diturunkan oleh malaikat Jibril a.s. kepada
Rasulullah SAW dengan beliau mengatakan,
Wahai Muhammad, aku berlindung kepada
Allah Yang Maha Mendengar, Maha
Mengetahui daripada Syaitan yang dilaknat,
dan katakanlah: Bismillahir Rahmanir Rahim
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah
dan Maha Penyayang.)
Al-Qadhi
Abu
Bakar
al-Baqillani
menyebutkan hadis ini sebagai munqati dalam
kitabnya, Al-Intisar. Menurut al-Zarkasyi di
dalam kitabnya al-Burhan, sebahagian besar
ulama menyatukan hadis riwayat Aisyah dan
35

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

Jabir dengan menyimpulkan Jabir mendengar


Nabi membicarakan peristiwa permulaan wahyu
dan dia mendengar bagian akhirnya sedang
bagian pertamanya dia tidak mendengar. Jadi
Jabir menyangka surah yang didengarnya adalah
yang pertama diturunkan, padahal bukan. Ibn
Hibban dalam sahihnya menyatakan tidak ada
pertentangan antara kedua hadis tersebut karena
ketika turun kepada Rasulullah Iqra, beliau
pulang ke rumah lalu berselimut; kemudian
turunlah Surah Al-Muddatstsir.
Surah-surah lain yang awal diturunkan
termasuk al-Masad (111), al-Takwir (81), al-Ala
(87), al-Lail (92) dan al-Fajr. Para ulama juga
membicarakan
ayat-ayat
yang
mula-mula
diturunkan berdasarkan permasalahan atau
persoalan tertentu. Di antaranya ia melibatkan:
1. Mengenai makanan-ayat 145 Surah al-Anam,
ayat 114 - 115 Surah al-Nahl, ayat 173 Surah alBaqarah dan ayat 3 Surah al-Maidah.
2. Mengenai minuman- ayat 219 mengenai
khamar dalam Surah al-Baqarah, ayat 43 Surah
al-Nisa dan ayat 90-91 Surah al-Maidah.
3. Mengenai perang yaitu ayat 39 Surah al-Hajj.
C. Ayat yang Terakhir Diturunkan
Berbagai pendapat mengenai yang terakhir
diturunkan tetapi semua pendapat ini tidak
mengandung sesuatu yang dapat disandarkan
kepada Rasulullah SAW., malah masing-masing
merupakan ijtihad atau dugaan. al-Qadhi Abu
36

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

Bakar
mengatakan
mungkin
mereka
memberitahu apa yang terakhir kali didengar
oleh mereka kepada Rasulullah SAW ketika
beliau
hampir
wafat.
Antara
lain
pendapat tersebut ialah:
1. Ayat terakhir diturunkan kepada Rasulullah
SAW adalah ayat mengenai riba. Berdasarkan
pada hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhori
dari Ibnu Abbas. Maksudnya ialah ayat :
Terjemahnya:
Wahai
orang-orang
yang
beriman,
bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah
sisa riba - yang belum dipungut -. (alBaqarah:278).
2. Ada yang berpendapat bahwa ayat yang
terakhir turun adalah : Dan peliharalah
dirimu dari adzab yang akan terjadi pada
suatu hari dimana pada waktu itu kamu
semua dikembalikan kepada Allah... (AlBaqarah :281).
Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan
An-Nasai dan lain-lain.
3. Dikatakan bahwa yang terakhir kali turun itu
ayat tentang hutang, dasarnya adalah hadits
yang diriwayatkan dari said bin Al-Musayyib,
.........Telah sampai kepadanya bahwa ayat AlQuran yang paling muda di Arsy ialah ayat
mengenai hutang, yang dimaksud adalah
ayat :
37

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

Wahai orang-orang beriman, apabila kamu


berhutang untuk waktu yang ditentukan,
hendaknya kamu menuliskannya..... (AlBaqarah : 282).
Ketiga riwayat itu dapat dipadukan, yaitu
bahwa ketiga ayat tersebut diatas diturunkan
sekaligus seperti urutannya dalam mushaf.
Ayat mengenai Riba, (peliharalah dirimu....)
dan ayat tentang hutang, karena ayat-ayat itu
masih satu kisah. Setiap perawi mengabarkan
bahwa sebagian dari yang diturunkan itu
sebagai yang terakhir kali. Dengan demikian
ketiga ayat itu tidak saling bertentangan.
4. Ada lagi yang berpendapat bahwa yang
terakhir kali diturunkan adalah ayat tentang
kalalah.
Al-Bukhari
dan
Muslim
meriwayatkan dari Al-Barra bin Azib, katanya,
Ayat yang terakhir kali turun adalah ,
Mereka meminta fatwa kepadamu mengenai
kalalah, katakanlah: Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah. (An-Nisaa : 176)
5. Pendapat lainnya mengatakan, bahwa yang
terakhir turun adalah ayat, Sesungguhnya
telah datang kepadamu seorang rasul dari
kaummu sendiri..... sampai dengan akhir
surat.
Dalam Al-Mustadrak disebutkan dari ubay bin
kaab, ia berkata, Ayat yang terakhir kali
38

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

diturunkan yaitu; Sesungguhnya telah datang


kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri...... (At-Taubah: 128) sampai akhir
surat. Mungkin yang dimaksud adalah ayat
terakhir yang diturunkan dari surat AtTaubah.
6. Ada juga yang mengatakan, bahwa yang
terakhir kali turun adalah surat Al-Maaidah.
Ini didasarkan pada riwayat At-Tarmidzi dan
Al-hakim sari Aisyah R.A. Tetapi menurut
hemat kami, surat itu adalah surat yang
terakhir kali turun dalam masalah halal dan
haram, sehingga tak satu hukumpun yang
dihapus didalamnya.
7. Ada juga yang mengatakan bahwa yang
terakhirkali turun adalah ayat,
Maka Tuhan memperkenankan permohonan
mereka, kata Allah; Aku tidak akan menyianyiakan amal orang-orang yang beramal
diantara kamu, baik laki-laki ataupun
perempuan, karena sebagian kamu adalah
turunandari sebagian yang lain. (Ali Imran:
195)
Pendapat ini didasarkan kepada hadits yang
diriwayatkan Ibnu Mardawaih melalui
mujahid, dari Ummu Salamah, Dia berkata,
Ayat yang terakhir kali turun adalah ayat,
39

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

Maka Tuhan memperkenankan permohonan


mereka....... sampai akhir ayat tersebut.
8. Ada yang berpendapat bahwa ayat yang
terakhir turun adalah
Barang siapa yang membunuh seorang
mukmin dengan sengaja, maka balasannya
ialah neraka jahannam, dia kekal didalamnya
dan
Allah
murka
kepadanya,
dan
mengutuknya serta menyediakan adzab yang
besar baginya. (An-Nisaa: 93).
Ini didasarkan pada hadits yang
diriwayatkan Al-Bukhari dan lainnya dari
Ibnu Abbas katanya, Ayat ini (An-Nisaa: 93)
adalah ayat yang terakhir diturunkan dan
tidak dihapus oleh apapun.
Ungkapan ia tidak dinasikh oleh
apapun itu menunjukkan ayat itu adalah ayat
yang terakhir turun dalam masalh hukum
mmbunuh mukmin dengan sengaja.
9. Ada juga pendapat yang berdasar kepada
riwayat muslim dari ibnu Abbas, yang
menyebutkan bahwa surat terakhir yang
diturunkan ialah:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan.
Semua pendapat itu tidak disandarkan
kepada Nabi. Masing-masing hanya ijtihad
40

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

dan dugaan. Mungkin pula bahwa masingmasing mereka itu memberitahukan apa yang
terakhir didengarnya dari Rasulullah SAW.
Atau
mungkin
juga
masing-masing
mengatakan hal itu berdasarkan apa yang
terakhir diturunkan dalam perundangundangan tertentu, atau dalam hal surat
terakhir yang diturunkan secara lengkap
seperti pendapat-pendapat yang telah kami
kemukakan diatas. Adapun ayat :
Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu
agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu
nikmatKu, dan telah Kuridhai islam menjadi
agama bagimu. (Al-Maidah: 3), diturunkan
diArafah pada haji wada.
Secara
teks,
menunjukkan
penyempurnaan kewajiban dan hukum. Juga
telah diisyaratkan diatas, riwayat mengenai
turunnya ayat riba, ayat hutang piutang, ayat
kalalah dan yang lain itu setelah ayat ketiga
dari surat Al-Maidah. Oleh karena itu, para
ulama menyatakan kesempurnaan agama
didalam ayat ini. Allah telah mencukupkan
nikmatNya
kepada
mereka
dengan
menenpatkan mereka dinegeri suci dan
membersihkan
orang-orang
musyrik
daripadanya serta menghajikan mereka
dirumah suci tanpa disertai oleh seorang
41

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

musyrikpun, padahal sebelumnya orangorang musyrik juga berhaji dengan mereka.


Yang demikian termasuk nikmat yang
sempurna, Dan telah Kucukupkan kepadamu
nikmatKu.
D. Hubungan Ayat Pertama Turun dengan
Penidikan
Al-Quranul Karim sebagai suatu mukjizat
yang terbesar bagi Nabi Muhammad saw., amat
dicintai oleh kaum muslimin, karena fashahah
serta balagha dan sebagai sumber petunjuk
kebahagiaan hidup di Dunia dan akhirat. Hal ini
terbukti dengan perhatian yang amat besar
terhadap pemeliharaannya semenjak turunnya di
masa Rasulullah sampai kepada tersusunnya
sebagai suatu sebagai mushaf di masa Usman bin
Affan. Kemudian sesudah Usman, mereka
memperbaiki tulisannya dan menambah harakat
dan titik pada huruf-hurufnya, agar supaya
mudah dibaca oleh umat Islam yang belum
mengerti bahasa Arab.
Karena kecintaannya terhadap Al-Quran
dan untuk membuktikan kebenarannya, mereka
mengarang dan menerjemahkan bermacammacam buku ilmu pengetahuan, baik yang
mengerti bahasa Arab, Syariat, filsafat dan
akhlak, maupun yang mengenai kesenian dan
ekonomi, sehingga penuh buku-buku ilmiah
perpustakaan-perpustakaan Islam di kota-kota
yang besar seperti cairo, Cordova, dan lain-lain.
42

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

Hal ini sesuai dengan anjuran Al-Quran sendiri.


Ayat yang mula-mula turun ialah yang
berhubungan
dengan
Ilmu
Pengetahuan,
sebagaimana yang di urai dalam pembahasan
makalah ini yaitu: Al-Quran Surat al-Alaq ayat 15, adapun ilmu-ilmu yany berkembang, pada
masa kemasan Islam, Paling erat hubungannya
Ayat pertama turun dengan pendidikan surat al
Alaq Ayat 1 , 4 ,dan 5 adalah : perintah untuk
membaca, menulis dan mengajarkan Manusia apa
yang belum diketahuinya, karena membaca dan
menulis merupakan Sumber Ilmu pengetahuan.

43

Pengetahuan Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun

44

Asbabul Nuzul

ASBABUL NUZUL
A. Perhatian Ulama Terhadap Asbab An-Nuzul
Para peneliti ilmu-ilmu al-quran menaruh
perhatian besar terhadap pengetahuan tentang
asbab an-nuzul. Untuk menafsirkan Al-quran,
ilmu ini sangat diperlukan, sehingga ada yang
mengambil spesialisasi dalam bidang ini. Yang
terkenal diantaranya ialah Ali bin Al-Madini,
guru Al-Bukhari, kemudian Al-Wahidi dalam
kitabnya Asbab An-Nuzulkemudian Al-Jabari,
yang meringkas kitab A-Wahidi dengan
menghilangkan
sanad-sanad
yang
ada
didalamya, tanpa menambahkan sesuatu.
B. Definisi Asbab An-Nuzul
Sebab turunnya suatu ayat itu berkisar
pada dua hal:
1. Jika terjadi suatu peristiwa, maka turunlah
ayat Al-Quran mengenai peristiwa itu. Hal itu
seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ketika
turun ayat, Dan peringatkanlah kerabatkerabatmu yang terdekat, Nabi turun dan naik ke
bukit shafa, lalu berseru, Wahai kaumku!
45

Asbabul Nuzul

Maka mereka berkumpul ke dekat Nabi.


Beliau berkata lagi, Bagaimana pendapatmu
bila aku beritahukan kepadamu bahwa dibalik
gunung ini ada sepasukan berkuda hendak
menyerang kalian, percayakah kalian apa yang
kukatakan? Mereka menjawab, Kami belum
pernah melihat engkau berdusta. Nabi
melanjutkan, Aku memperingatkan kamu
sekalian tentang siksa yang pedih. Ketika itu
Abu Lahab berkata; Celakalah engkau, apakah
engkau mengumpulkan kami hanya untuk
urusan ini? Lalu ia berdiri, Maka, turunlah
surat ini celakalah kedua tangan Abu Lahab.
2. Bila Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam
ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah
ayat Al-Quran menerangkan hukumnya. Hal
itu seperti yang terjadi pada Khaulah binti
Tsalabah dikenakan ia terkena zihar oleh
suaminya, Aus bin Shamit. Ia mengadukan
suaminya kepada Rasulullah. Katanya,
Wahai
Rasulullah,
suamiku
telah
menghabiskan masa mudaku dan sudah
beberapa kali aku mengandung anaknya,
setelah aku menjadi tuan dan aku tidak
beranak lagi, ia menjatuhkan zihar kepadaku!
Ya allah sesungguhnya aku mengadu kepadaMu. Aisyah berkata, Tiba-tiba Jibril turun
membawa ayat-ayat ini, Sesungguhnya allah
telah mendengar perkataan perempuan yang
mengadu kepadamu tentang suaminya.yakni
46

Asbabul Nuzul

Aus bin Shamit. Al-Jabar menyebutkan, AlQuran diturunkan dalam dua kategori: yang
turun tanpa sebab, dan yang turun karena
suatu peristiwa atau pertanyaan.
Oleh sebab itu, maka Asbab An-Nuzul
didefinisikan sebagai Sesuatu yang karenanya
Al-Quran diturunkan, sebagai penjelas terhadap
apa yang terjadi, baik berupa peristiwa maupun
pertanyaan. As-Suyuthi dan orang-orang yang
konsen terhadap masalah asbab an nuzul
mengatakan bahwa ayat itu tidak turun disaat
terjadinya sebab. Ia menyatakan demikian itu
karena hendak mengkritik apa yang dikatakan
oleh Al-Wahidi dalam menafsirkan surat Al-Fil,
bahwa sebab turun surat tersebut adalah kisah
datangnya orang-orang habasyah.
C. Manfaat Mengetahui Asbab An-Nuzul
1. Mengetahui hikmah pemberlakuan suatu
hukum, dan perhatian syariat terhadap
kemaslahatan umum dalam menghadapi
segala peristiwa sebagai rahmat bagi umat.
2. Memberi batasan hukum yang diturunkan
dengan sebab yang terjadi, jika hukum itu
dinyatakan
dalam
bentuk
umum.
Diriwayatkan bahwa Marwan berkata kepada
penjaga pintunya, Pergilah, hai RifaI, kepada
Ibnu Abbas dan katakana kepadanya,
sekiranya setiap orang di antara kita
bergembira dengan apa yang telah telah
dikerjakan dan ingin dipuji dengan perbuatan
47

Asbabul Nuzul

yang belum dikerjakan itu akan disiksa,


niscaya kita semua akan disiksa.
3. Apabila lafadz yang diturunkan itu bersifat
umum da nada dalil yang menunjukkan
pengkhususannya, maka adanya asbab annuzul
akan
membatasi
takhshish
(pengkhususan)itu hanya terhadap yang selain
bentuk sebab.
4. Mengetahui sebab turunnya ayat adalah cara
terbaik untuk memahami Al-Quran dan
menyingkap kesamaran yang tersembunyi
dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan
tanpa pengetahuan sebab turunnya. Kesulitan
Marwan bin Al-Hakam dalam memahami
ayat, Janganlah sekali-kali kamu menyangka
bahwa orang-orang yang bergembira dengan apa
yang telah kamu kerjakan dan mereka suka untuk
dipuji dengan perbuatan yang belum mereka
kerjakan. Janganlah kamu menyangka bahwa
mereka terlepas dari siksa dan bagi mereka siksa
yang pedih.(Ali Imran:187), sampai Ibnu
Abbas menjelaskan kepadanya sebab turunnya
ayat itu.
5. Sebab turunnya ayat dapat menerangkan
tentang kepada siapa ayat itu diturunkan
sehingga ayat tersebut tidak diterapkan
kepada
orang
lain
karena
dorongan
permusuhan dan perselisihan.

48

Asbabul Nuzul

D. Yang Dianggap Adalah Lafazh yang Umum,


Bukan Sebab yang Khusus
Apabila ayat diturunkan sesuai dengan
sebab yang umum, atau sesuai dengan sebab
yang khusus, maka yang umum diterapkan pada
keumumannya
dan
yang
khusus
pada
kekhususanya.
Kata Anas dalam suatu riwayat; Jika istri
orang-orang yahudi haid, mereka dikeluarkan
dari rumah, tidak diberi makan dan minum, dan
didalam rumah tidak boleh bersama-sama. Lalu
Rasulullah ditanya tentang hal itu, maka allah
menurunkan, Mereka bertanya kepadamu tentang
haid kemudian kata Rasulullah, Bersamasamalah dengan mereka dirumah, dan perbuatlah apa
saja kecuali hubungan seksual.
Jika asbab an-nuzul itu bersifat khusus,
sedang ayat itu turun berbentuk umum, maka
para ahli ushul berselisih pendapat; yang
dijadikan pegangan itu apakah yang umum atau
sebab yang khusus?
1. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang
menjadi pegangang adalah lafazh yang umum
dan bukan sebab yang khusus. Hukum yang
diambil dari lafazh yang umum itu melampaui
sebab yang khusus.
2. Kelompok ulama lain berpendapat bahwa
yang menjadi pegangang adalah kekhususan
sebab, bukan lafazh yang umum. Karena
49

Asbabul Nuzul

lafazh yang umum itu menunjukkan sebab


yang khusus.
E. Redaksi Asbab An-Nuzul
Bentuk pertama adalah jika perawi
mengatakan, Asbab An-Nuzul ayat ini adalah
begini atau menggunakan fataqibiyah (kira-kira
seperti maka, yang menunjukkan urutan
peristiwa ) yang dirangkaikan dengan kata
turunlah ayat sesudah ia menyebutkan
peristiwa atau pertanyaan. Bentuk kedua yaitu
redaksi yang boleh jadi menerangkan Asbab AnNuzul atau hanya sekedar menjelaskan
kandungan hukum ayat ialah jika misalnya
perawi menyatakan, Ayat ini turun mengenai
ini. Yang dimaksud dengan ungkapan seperti
ini, bisa jadi tentang Asbab An-Nuzul ayat dan
mungkin juga tentang kandungan hukum ayat
tersebut.
F. Beberapa Riwayat Mengenai Asbab An-Nuzul
1. Apabila bentuk-bentuk redaksi riwayat itu
tidak tegas, seperti, Ayat ini turun mengenai
urusan ini, atau aku mengira ayat ini turun
mengenai urusan ini, maka tidak ada yang
kontradiksi diantara riwayat-riwayat itu,
sebab maksud riwayat-riwayat tersebut adalah
menafsirkan atau menjelaskan bahwa hal itu
termasuk kedalam makna ayat yang
disimpulkan darinya.
2. Jika salah satu redaksi riwayat itu tidak tegas,
misalnya ayat ini turun mengenai urusan
50

Asbabul Nuzul

ini, sedang riwayat lain menyebutkan Asbab


An-Nuzul dengan tegas dan berbedadengan
riwayat pertama, maka yang menjadi
pegangan adalah riwayat yang menyebutkan
Asbab An-Nuzul yang tegas tadi.
3. Jika riwayat itu banyak dan semuanya
menegaskan sebab nuzul, salah satu riwayat
diantaranya itu shahih, maka yang dijadikan
pegangang adalah riwayat yang shahih.
4. Apabila riwayat-riwayat itu sama-sama shahih
namun terdapat segi yang memperkuat salah
satunya, seperti kehadiran perawi dalam kisah
tersebut, atau salah satu dari riwayat-riwayat
itu lebih shahih, maka riwayat yang lebih kuat
itulah yang didahulukan.
5. Jika riwayat-riwayat tersebut sama-sama kuat,
maka riwayat-riwayat itu dipadukan atau
dikompromikan
jika
mungkin,
hingga
dinyatakan bahwa ayat itu turun sesudah
terjadi dua buah sebab atau lebih karena jarak
waktu diantara sebab itu berdekatan.
Kesimpulannya, jika Asbab An-Nuzul
suatu ayat itu banyak, maka terkadang semuanya
tidak tegas, terkadang pula semuanya tegas dan
terkadang sebagiannya tidak tegas sedang
sebagian lainnya tegas dalam menunjukkan
sebab.
1. Apabila semuanya tidak tegas dalam
menunjukkan sebab, maka tidak ada salahnya
51

Asbabul Nuzul

untuk
dipandang
sebagai
tafsir
dan
kandungan ayat.
2. Jika sebagian tidak jelas dan sebagian lain
tegas maka yang menjadi pegangan adalah
yang tegas.
3. Jika semuanya tegas, maka tidak terlepas dari
kemungkinan salah satunya shahih atau
semuanya shahih. Apabila salah satunya
shahih sedang yang lain tidak, maka yang
shahih itulah yang menjadi pegangan.
4. Jika semuanya shahih, maka dilakukan
pentarjihan bila mungkin.
5. Tetapi jika tidak mungkin dengan pilihan
demikian, maka dipadukan bla mungkin.
6. Jika tetap tidak mungkin dipadukan, maka
dipandanglah ayat itu diturunkan beberapa
kali dan berulang. Dalam bagian yang terakhir
itu terdapat pembahasan.
G. Banyak Ayat Satu Sebab
Terkadang banyak ayat yang turun, sedang
sebabnya hanya satu,. Dalam hal ini tidak ada
masalah yang cukup penting, karena itu banyak
ayat yang turun didalam berbagai surat
berkenaan dengan suatu peristiwa.contohnya
ialah apa yang diriwayatkan Said bin Manshur,
Abdurrazzaq,At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, Ibnul
Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ath-Thabarani dan Alhakim mengatakan shahih.

52

Asbabul Nuzul

H. Ayat Lebih Dahulu Turun dari pada Hukumnya


Dalam Al-Burhan, Az-Zarkasyimenulis
suatu pembahasan yang berhubungan dengan
asbab an-nuzul, tajuknya penurunan ayat lebih
dahulu dari pada hukumnya ia mengemukakan
contoh yang tidak menunjukkan bahwa ayat itu
turun mengenai hukum tertentu, kemudian
pengamalannya dating sesudahnya. Tetapi hal
tersebut menunjukkan bahwa ayat itu diturunkan
dengan lafadz mujmal (global), yang mengandung
arti lebih dari sstu, kemudian penafsirannya
dihubungkan dengan salah satu arti-arti tersebut,
sehingga ayat tadi mengacu kepada hukun yang
dating kemudian. Demikian pula dengan ayat
yang turun di Makkah: Golongan itu pasti akan
dikalahkan dan akan mundur kebelakang. 9AlQamar:45).
I. Beberapa Ayat Turun Berkaitan Dengan Satu
Orang
Terkadang seorang sahabat mengalami
beberapa kali peristiwa. Al-Quran juga demikian,
turun setiap mengiringi peristiwa. Ia banyak
turun sesuai dengan banyaknya peristiwa yang
terjadi. Misalnya apa yang diriwayatkan AlBukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad tentang
berbakti kepada orang tua. Pertama; ketika ibuku
bersumpah bahwa ia tidak akan makan dan
minum sebelum aku meninggalkan Muhammad.
Kedua; ketika akan mengambil sebilah pedang
dan mengaguminya, maka aku berkata kepada
53

Asbabul Nuzul

Rasulullah , Wahai Rasulullah, berikalah pedang


ini.
J. Faedah Mengetahui Asbab An-Nuzul dalam
Medan Pendidikan dan Pengajaran
Tahap pendidikan dasar dalam suatu
pengajaran memerlukan kecerdasan yang dapat
membantumrmbantu guru dalam menarik minat
anak didik terhadap pelajarannya degan berbagai
media yang cocok. Tahap pendidikan dasar itu
disamping bertujuan membangkitkan perhatian
dan menarik minat anak didik, juga ditujukan
memberikan konsepsi menyeluruh mengenai
kurikulum pelajaran, agar guru dapat dengan
mudah membawa anak didiknya dari hal-hal
yang bersifat umum kepada yang khusus,
sehingga materi-materi pelajaran yang telah
ditargetkan dan dapat dikuasai secara detil.
K. Kolerasi Antara Ayat dengan Ayat, Surat dengan
Surat
Seperti halnya pengetahuan tentang asbab
an-nuzul yang mempunyai pengaruh dalam
memahami makna dan menafsirkan ayat, maka
pengetahuan mengenai korelasi ayat dengan ayat
dan surat dengan surat juga membantu dalam
menakwilkan dan memahami ayat dengan baik
dan cermat. Yang dimaksud dengan munasabah
disini ialah sisi kolerasi antara satu kalimat
dengan kalimat lain dalam satu ayat, antara satu
ayat dengan ayat=ayat lain, atau antara satu surat
dengan surat yang lain. Munasabah juga terjadi
54

Asbabul Nuzul

antara awal surat dengan akhir surat. Contohnya


ialah apa yang terdapat dalam surat Al-Qashas.
Surat ini dimulai dengan menceritakan kisah
Musa, menjelaskan langkah awal dan pertolongan
yang diperolehnya.
Orang yang membaca dengan cermat kitabkitab tafsir tentu akan banyak menemukan
berbagai segi kesesuaian (munasabah) tersebut.

55

Asbabul Nuzul

56

Turunnya al-Quran

TURUNNYA AL-QURAN
A. Pendahuluan
Allah menurunkan Al-quran kepada Rasul
kita Muhammad SAW untuk membimbing
manusia. Turunnya Al-quran pertama kali pada
lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada
alam samawi yang di huni para malaikat tentang
kemuliaan umat muhammmad. Turunnya AlQuran yang kedua kali secara bertahap, berbeda
dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya, AlQuran adalah wahyu yang turun berangsurangsur.
B. Turunnya Al-Quran Sekaligus
Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya
yang mulia:
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang
di dalamnya diturunkan Al-Quran yang menjadi
petunjuk bagi manusia, dan mengandung
penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu, juga
sebagai pembeda antara hak dengan yang batil.
(Al-baqarah : 185).
57

Turunnya al-Quran

Dan firman-Nya:
Sesungguhnya
kami
telah
menurunkannya (Al-Quran) pada malam lailatul
qadar. (Al-qodar: 1) kedua arti ayat tersebut
tidak bertentangan karena malam yang di berkahi
dalam bulan ramadhan itu adalah Lailatul
Qadhar. Al-quran turun kepada Muhammad
selama 23 tahun, dalam hal ini ulama terbagi
kepada 4 madzhab pokok:
1. Madzhab pertama: Pendapat Ibnu Abbas dan
sejumlah ulama kemudian di pegang oleh
jumhur ulama, bahwa yang di maksud
dengan turunnya Al-quran sekaligus ke Baitul
Izzah di langit dunia untuk menunjukkan
kepada para malaikatnya bahwa betapa
besarnya masalah ini, selanjutnya Al-quran di
turunkan kepada Nabi Muhammad secara
bertahap selama 23 tahun sesuai peristwaperistiwa yang mengiringinya. Selama 13
tahun wahyu turun di Makkah dan di
Madinah 10 tahun, pendapat-pendapat ini di
dasarkan pada riwayat-riwayat yang shahih
dari Ibnu Abbas, antara lain:
a. Ibnu Abbas RA berkata Al-Quran
diturunkan sekaligus ke langit dunia pada
lailatul qadar, kemudian setelah itu ia di
turunkan selama dua puluh tahun lalu dia
membaca:
Dan mereka tidak membawa kepadamu
sesuatu kata-kata yang ganjil (untuk
58

Turunnya al-Quran

menentangmu) melainkan kami bawakan


kepadamu kebenaran dan penjelasan yang
sebaik-baiknya (untuk menangkis segala
yang mereka katakan itu). (Al-Furqan:33)
b. Di riwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata,
Al-Quran itu dipisahkan dari Adz-dikr,
lalu diletakkan di Baitul Izzah di langit
dunia. Maka jibril mulai menurunkannya
kepada Nabi SAW.
c. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:
Allah menurunkan Al-Quran sekaligus ke
langit dunia, pusat turunnya Al-Quran
secara gradual. Lalu Allah menurunkan
kepada rasulnya bagian demi bagian.
Menurut Ibnu Abbas Al-Quran di turunkan
pada lailatul qadar pada bulan ramadhan ke
langit dunia sekaligus, lalu ia di turunkan
secara berangsur-angsur.
Madzhab kedua yaitu, yang diriwayatkan asysya`bi bahwa yang di maksud dengan
turunnya al-Qur`an dalam ayat di atas ialah
permulaan turunnya al-Qur`an itu di mulai
pada lailatul qadr di bulan ramadhan, yang
merupakan malam yang di berkahi. Kemudian
sesudah itu turun secara bertahap sesuai
dengan
berbagai
peristiwa
yang
mengiringinya selama kurang lebih dua puluh
tiga tahun. Dengan demikian, al-Qur`an hanya
satu macam cara turun, yaitu turun secara
bertahap kepada rasulullah saw, sebab yang
59

Turunnya al-Quran

demikian inilah yang di nyatakan oleh alQur`an sesuai pada ayat Al-isra:106. para
peneliti menjelaskan bahwa rasulullah saw
pada mulanya diberi tahu dengan mimpi pada
bulan kelahirannya yaitu bulan Rabi`ul
Awwal.
2. Madzhab ke tiga al-quran di turunkan ke
langit dunia pada 23 malam kemuliaan
(Lailatul Qadar). Kemudian diturunkan secara
baerangsur-angsur
kepada
Rasulullah
sepanjang tahun. Madzhab ini adalah hasil
ijtihad sebagian mufassir. Pendapat ini tidak
mempunyai dalil.
Adapun madzhab ke dua yang di riwayatkan
dari As-Syabi tidaklah bertentangan dengan
madzhab yang pertama yang di riwayatkan
oleh Ibnu Abbas.
Pendapat yang kuat adalah: Al-quran AlKarim
itu
di
turunkan
dua
kali
Pertama: diturunkan sekaligus pada Lailatul
qadar ke Baitul izzah dilangit dunia.
Kedua: Diturunkan dari langit dunia ke bumi
secara berangsur-angsur selama 23 tahun.
Imam Al- Qurtubi menukil riwayat dari
Muqatil bin Hayyan tentang adanya ijma
akan turunnya Al-Quran sekaligus dari
Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit
dunia. Ibnu Abbas menafikan adanya
kontradiksi antara ke dua ayat di atas
berkenaan dengan turunnya Al-Quran dan
60

Turunnya al-Quran

fakta kehidupan Rasulullah SAW.Al-Quran


itu memang turun selama 23 tahun di bulanbulan selain Ramadhan. Di riwayatkan dari
Ibnu Abbas, dia pernah di Tanya oleh Athiyah
bin Al-Aswad, Katanya, Dalam hatiku terjadi
keraguan tantang firman Allah, Bulan
Ramadhan itu ialah bulan yang di dalamnya
di turnkan Al-Quran, dan firman Allah,
sesungguhnya kami menurunkannya pada
(malam) Lailatul Qadar , padahal Al-Quran
itu ada yang di turunkan pada bulan Syawal,
Dzulqodah, Dzulhijjah, Muharram, Safar dan
Rabiul Awwal. Ibnu abbas menjawab, Alquran di turunkan pada Lailatul qadar
sekaligus. Kemudian di turunkan secara
berangsur, sedikit demi sedikit dan terpisahpisah serta perlahan-lahan di sepanjang bulan
dan hari.
3. Madzhab ke 4, ada juga sebagian ulama yang
berpandangan
bahwa
Al-quran
turun
pertama-tama secara berangsur-angsur ke
Lauh Mahfuzd berdasarkan firman Allah
taala, Tidak lain ia adalah Al-quran yang
mulia, di Lauh Mahfuzd. Kemudian setelah
itu ia turun dari Lauh
Mahfuzd secara serentak seperti itu ke Baitl
Izzah. Selanjutnya, ia turun sedikit demi
sedikit dengan demikian, ini berarti turun
dalam 3 tahap.
61

Turunnya al-Quran

C. Turunnya Al-Quran Secara Bertahap


Yang di maksud turunnyadi sini bukanlah
turunnya yang pertama kali ke langit dunia.
Tetapi turunnya Al-Quran secara bertahap. Alquan turun secara barangsur-angsur selama 23
tahun: 13 tahun di Makkah menurut pendapat
kuat , dan 10 tahun di Madinah. Adapun kitabkitab samawi yang lain, seperti taurat, injil, dan
zabur, turunnya sekaligus sebagaimana dalam
firman-Nya:
Dan orang-orang kafir berkata, mengapa
Al-quran itu tidak di turunkan kepadanya sekali
turun saja? Yang demikian supaya kami dapat
meneguhkan hatimu dangannya dan kami
membacakannya secara tartil: (Al-Furqan: 32)
Ayat ini sebagai dalil bahwa kitab-kitab
samawi terdahulu itu di turunkan sekali jadi.
Pendapat inilah yang dipegang oleh jumhur
ulama.
Penelitian terhadap hadist-hadist shahih
menyebutkan bahwa Al-Quran turun menurut
keperluan, terkadang turun lima ayat, sepuluh
ayat, dan terkadang lebih banyak dari itu atau
lebih sedikit.
D. Hikmah Turunnya Al-Quran Secara Bertahap
1. Hikmah
pertama:
Meneguhkan
hati
Rasulullah SAW.
Wahyu turun kepada Rasulullah dari
waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan
hatinya
terhadap
kebenaran
dan
62

Turunnya al-Quran

memperkokoh
azamnya
untuk
tetap
melangkahkan kaki di jalan dakwahnya tanpa
ambil peduli akan perlakuan jahil yang ia
hadapinya dari masyarakatnya sendiri, karena
yang demikian itu hanyalah kabut di musim
panas yang segera lenyap. Al-Quran juga
memerintahkan Rasul agar bersabar seperti
para rasul sebelumnya:
Maka bersabarlah kamu seperti bersabarnya
para rasul yang memiliki ulul azmi (AlAhqaf:32)
Sehingga hati beliau menjadi tenang, sebab
Allah telah menjamin akan melindunginya
dari
gangguan
orang-orang
yang
mendustakannya,
2. Hikmah ke dua: Tantangan dan Mujizat
Orang-orang musyrik senantiasa dalam
kesesatan.
Mereka
sering
mengajukan
pertanyaan-pertanyaan
dengan
maksud
melemahkan dan menantang, untuk menguji
kenabian Rasulullah.
Dan orang-orang kafir itu tidak datang
kepadamu dengan membawa sesuatu yang
ganjil,
Melainkan kami datangkan kepadamu
sesuatu yang benar dan yang paling baik
Penjelasannya. (Al-Furqan: 33).
Maksudnya, setiap kali mereka datang
kepadamu dengan pertanyaan-pertanyaan
yang
63

Turunnya al-Quran

Aneh-aneh, kami datangkan kepadamu


jawaban yang benar dan lebih berbobot
daripada
Pertanyaan-pertanyaan
yang
merupakan contoh dari kebatilan.
Tantangan mereka terhadap Al-Quran
yang diturunkan secara berangsur, sekaligus
melemahkan mereka untuk membuat yang
serupa
dengannya
dan
membuktikan
kemukjizatan Al-Quran.
3. Hikmah ke tiga: Memudahkan Hafalan dan
Pemahamannya
Al-Quran Karim turun di tengahtengah umat ummi, yang tidak pandai
membaca dan menulis yang menjadi catatan
mereka adalah hafalan dan daya ingatnya.
Dialah yang mengutus kepada kaum
yang ummi seorang rasul yang barasal dari
antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan
mengajarkan kepada mereka kitab dan
hikmah. Sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Aljumuah: 2).
Umat yang buta huruf itu tidak akan
mudah untuk menghafal seluruh Al-Quran,
seandainya ia di turunkan sekaligus, dan tidak
mudah pula bagi mereka untuk memahami
maknanya dan merenungkan ayat-ayatnya.
Jelasnya bahwa turunnya Al-Quran secara
64

Turunnya al-Quran

berangsur itu merupakan bantuan terbaik bagi


mereka untuk menghafal dan memahami ayatayatnya.
4. Hikmah ke empat: Relevan dengan Peristiwa,
Pentahapan dalam Penetapan Hukum
Setiap kali terjadi sesuatu peristiwa
ditengah-tengah mereka, maka turunlah
hukum mengenai peristiwa itu yang
memberikan kejelasan statusnya, membimbing
mereka
dan
meletakkan
dasar-dasar
perundang-undangan bagi mereka, sesui
dengan situasi dan kondisinya. Yang demikian
ini menjadi terapi mujarab bagi hati mereka.
Al-Quran menjelaskan kaidah-kaidah
halal dan haram yang mendasari agama dalam
hal makanan, minuman, harta benda,
kehormatan dan nyawa.
Al-Quran juga turun sesuai dengan
peristiwa-peristiwa yang terjadi terhadap
kaum muslimin dalam perjuangan panjang
mereka demi meninggikan kalimah Allah.
5. Hikmah ke lima: Tanpa diragukan bahwa AlQuran Al-Karim di turunkan dari sisi yang
Maha Bijaksana dan Maha Terpuji
Al-Quran yang turun secara berangsurangsur kepada Rasulullah dalam waktu lebih
dari dua puluh tahun ini, ayat-ayatnya turun
dalam waktu-waktu tertentu, orang-orang
membacanya dan mengkajinya surat demi
surat.
Ketika
itu
mereka
mendapati
65

Turunnya al-Quran

rangakaiannya yang tersusun cermat sekali


dengan makna yang saling bertaut, dengan
gaya redaksi yang begitu teliti.
inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya di
susun dengan rapi dan di jelaskan secara
terperinci, yang diturunkan dari sisi Allah
yang Maha Bijaksana dan Maha Tau. (Hud: 1)
Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan
dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatinya
saling bertentangan di dalamnya (An-Nisaa:
82).
Hadist-hadist rasulullah SAW sendiri
yang merupakan puncak kefasihan sesudah
Al-Quran
tidak
mampu
menandingi
keindahan bahasa Al-Quran apalagi ucapan
dan perkataan manusia biasa.
E. Faidah turunnya Al-Quran secara bertahap
dalam pendidikan dan pengajaran
Proses belajar mengajar itu berlandaskan
dua asas: perhatian terhadap tingkat pemikiran
siswa, pengembangan potensi akal, jiwa dan
jasmaniahnya dengan metode yang dapat
membawanya
kearah
kebaikan
dan
keterbimbingan.
Dalam hikmah turunnya Al-Quran secara
bertahap itu kita melihat adanya suatu metode
yang berfaedah bagi kita dalam mengaplikasikan
kedua asas tersebut seperti yang kami sebutkan
tadi.
66

Turunnya al-Quran

Sistem belajar mengajar yang tidak


memperhatikan tingkat pemikiran siswa dalam
tahap-tahap pengajaran, pembinaan bagianbagian ilmu di atas sesuatu yang bersifat
menyeluruh dan mutlak serta dari yang umum
menjadi yang lebih khusus, atau tidak
memperhatikan
pertumbuhan
aspek-aspek
kepribadian yang bersifat intelektual, ruhani dan
jasmani maka ia adalah sistem pendidikan yang
gagal dan tidak akan memberi hasil ilmu
pengetahuan kepada umat, selain hanya
menambah kebekuan dan kemunduran.

67

Turunnya al-Quran

68

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

PENGUMPULAN DAN PENERTIBAN


AL-QURAN
A. Pendahuluan
Yang dimaksud dengan pengumpulan AlQuran (jamul Quran) oleh para ulama adalah
salah satu dari dua pengertian berikut:
1. Pengumpulan
dalam
arti:
hafazhahu
(menghafalnya dalam hati). Jummaul Quran
artinya haffazhuhu (para penghafalnya,yaitu
orang-orang yang menghafalkanya di dalam
hati).
Ibnu Abbas mengatakan,bahwa Rosulullah
SAW sangat ingin segera menguasai Al-quran
yang di turunkan.Ia menggerakkan kedua
lidah dan bibirnya karena takut apa yang
turun itu akan terlewatkan.
2. Pengumpulan dalam arti kitabuhu kullihi
(penulisan Al-Quran semuanya) baik dengan
memisah-misahkan ayat-ayat dan suratnya,
atau menertibkan ayat-ayatnya semata dan
setiap surat di tulis dalam satu lembaran yang
terpisah,ataupun menertibkan ayat-ayat dan
69

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

surat-suratnya dalam lembaran-lembaran yang


terkumpul
yang
menghimpun
semua
surat,sebagiannya di tulis sesudah sebagian
yang lain.
B. Pengumpulan Al-Quran dalam konteks hafalan
pada masa Nabi
Rosulullah SAW, amat menyukai wahyu,ia
senantiasa menunggu penurunan wahyu dengan
rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya,
persis seperti yang di janjikan Allah. Al-Quran di
turunkan selama dua puluh tahun lebih. Proses
penurunanya terkadang hanya turun satu ayat
dan terkadang turun sampai sepuluh ayat. Dalam
kitab
shohihnya,
Al
Bukhari
telah
mengemukakan tentang tujuh penghafal AlQuran dengan tiga riwayat. Mereka adalah
Abdullah bin Masud, Salim bin Maqil Maula Abi
Hudzaifah,Muadz bin Jabal,Ubay bin Kaab, Zaid bin
Tsabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Ad-Darda.
Ibnu Hajar ketika menulis biografi said bin Ubaid
menjelaskan bahwa ia termasuk seorang
penghafal Al-Quran dan di juluki dengan AlQori (pembaca Al-Quran).
C. Pengumpulan
Al-Quran
dalam
Konteks
Penulisannya Pada Masa Nabi
Rosulullah SAW mengatakan para penulis
wahyu Al-Quran (asisten) dari sahabat-sahabat
terkemuka,seperti Ali,Muawiyyah, Ubay bin
Taab dan Zaid bin Tsabit.Bila ayat turun,ia
memerintahkan mereka menuliskannya dan
70

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

menunjukkan,dimana tempat ayat tersebut dalam


surat.Maka penulisan pada lembaran itu
membantu penghafalan di dalam hati.
Malaikat Jibril membacakan Al-Quran
kepada Rosulullah pada malam-malam bulan
ramadhan setiap tahunnya. Al-Quran telah di
hafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan
seperti disebutkan di atas; ayat-ayat dan suratsurat di pisahkan, atau di tertibkan ayat-ayatnya
saja, setiap surat berada dalam satu lembaran
secara terpisah dan dalam tujuh huruf (sabatun
ahruf), tetapi Al-Quran belum di kumpulkan
dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap),
sebab apabila wahyu turun segera di hafal oleh
para qurra dan di tulis oleh para penulis.
Dengan
demikian,
jamu
Al-Quran
(pengumpulan Al-Quran di masa Nabi ini di
namakan: a) hifzhan (hafalan); dan b) kitabatan
(pembukuan) yang pertama.
D. Pengumpulan Al-Quran Pada Masa Abu Bakar
Abu Bakar menjabat sebagai khalifah
pertama dalam Islam sesudah Rosulullah wafat.Ia
di hadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar
berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang
arab. Peperangan yamamah yang terjadi pada
tahun dua belas hijrah melibatkan sejumlah besar
sahabat penghafal Al-Quran. Dalam peperangan
ini tujuh puluh qorri dari para sahabat gugur. AlQuran sudah tercatat pada masa itu, yaitu pada
masa Nabi, tetapi masih berserakan pada kulit71

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

kulit,tulang dan pelepah korma. Kemudian Abu


Bakar memerintahkan agar catatan-catatan
tersebut di kumpulkan dalam satu mushaf,
dengan ayat-ayat dan surat-surat yang tersusun
serta di tuliskan dengan sangat hati-hati dan
mencakup tujuh huruf yang dengan itu AlQuran itu di turunkan.
E. Pengumpulan Al-Quran Pada Masa Utsman
Setelah wilayah kekuasaan Islam semakin
luas,dan para qurro pun tersebardi berbagai
wilayah penduduk di setiap wilayah itu biasanya
mempelajari qiroat (bacaan) ayat dari qorri yang
di kirim
kepada mereka.Ketika penyerbuan
Armenia dan Azerbaijan dari penduduk
Irak,termasuk Hudzaifah bin Al yaman. Ia
melihat banyak perbedaan dalam cara-cara
membaca Al-Quran. Sebagian bacaan itu
bercampur
dengan ketidak fasihan,masingmasing mempertahankan dan berpegang pada
bacaannya,serta menentang setiap orang yang
menyalahi bacaannya dan puncaknya mereka
saling mengafirkan. Mushaf-mushaf itu ditulis
dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf AlQuran seperti yang di turunkan agar orang
bersatu dalam satu qiroat.
F. Perbedaan Antara Pengumpulan Al-Quran Di
Masa Abu Bakar dan Utsman
Dari keterangan di atas,jelaslah bahwa
pengumpulan al-Quran Abu Bakar berbeda
dengan pengumpulan al-Quran yang di lakukan
72

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

Usman,baik dalam hal latar belakang (motivasi)


maupun metodenya. Motivasi Abu Bakar adalah
kehawatiran Beliau akan hilangnya Al-Quran
karena banyaknya para qurro yang gugur dalam
peperangan. Sedangakan motivasi Utsman adalah
karena banyaknya perbedaan (yang berujung
pada konflik) dalam cara-cara membacaAlQuran yang terjadi di berbagai wilayah
kekuasaan Islam yang di saksikannya sendiri.
Puncaknya mereka saling menyalahkan satu
sama lain. Pengumpulan yang di lakukan Utsman
adalah menyalinnya dalam satu huruf diantara ke
tujuh huruf itu, untuk mempersatukan kaum
muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang
mereka baca tanpa enam huruf lainnya.
Para Ulama berbeda pendapattentang
jumlah mushaf yang di kirimkan Utsman ke
berbagai daerah yaitu:
1. Ada yang mengatakan : jumlahnya tujuh buah
mushaf.
2. Dikatakan pula, jumlahnya ada empat buah.
3. Ada juga yang mengatakan bahwa jumlahnya
ada lima mushaf
Mushaf-mushaf yang di tulis oleh Utsman
itu sekarang hampir tidak di temukan sebuah pun
juga.Mushaf itu di tulis pada lembaran yang
menurutnya terbuat dari kulit unta. Dan di
riwayatkannya pula bahwa mushaf Syam ini di
bawa ke Inggris setelah beberapa lama berada
ditangan kaisar Russia di perpustakaan
73

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

Leningrad.Juga di katakan bahwa mushaf itu


terbakar di masjid Damaskus pada tahun 1310 H.
Jamu Al-Quran (pengumpulan Al-Quran)
oleh Utsman ini di sebut dengan Jamu Al-Quran
yang ketiga pada tahun 25 H.
G. Syubhat Yang Batil
Ada beberapa keraguan (syubhat) yang
sengaja di hembuskan oleh para pengumbar
hawa nafsu untuk melemahkan keyakinan
kepada Al-Quran dan proses pengumpulannya
yang telah di lakukan secara teliti.
1. Menurut penebar syubhat itu,beberapa
riwayat menunjukkan bahwa ada beberapa
bagian Al-Quran yang tidak di tuliskan dalam
mushaf-mushaf yang ada di tangan kita ini.
2. Mereka mengatakan,dalam Al-Quran terdapat
sesuatu yang bukan AlQuran.Mereka berdalil
dengan riwayat yang menyatakan bahwa Ibnu
Masud mengingkari surat An-Nas dan AlFalaq termasuk bagian dari Al-Quran.
3. Satu kelompok Syiah yang ekstrim menuduh
Abu Bakar,Umar,dan Utsman telah mengubah
Al-Quran serta menggugurkan beberapa ayat
dan suratnya.
H. Tertib Ayat Dan Surat Tertib Ayat
Ayat ialah sejumlah kalam Allah yang
terdapat dalam suatu surat Al-Quran. Sedangkan
surat adalah sejumlah ayat Al-Quran yang
mempunyai
permulaan
dan
kesudahan.
Penempatan secara tertib urutan ayat-ayat Al74

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

Quran ini adalah bersifat tauqifi,berdasarkan


ketentuan dari Rosulullah SAW. Menurut
sebagian Ulama, pendapat ini merupakan ijma.
I. Tertib Surat
Para Ulama berbeda pendapat tentang
tertib surat-surat Al-Quran yang ada sekarang.
1. Ada yang berpendapat bahwa tertib surrat itu
tauqifiI dan di tangani oleh Nabi sebagaimana
di beritahukan malaikat Jibril kepadanya atas
perintah Allah.
2. Kelompok kedua berpendapat bahwa tertib
surat
itu
berdasarkan
ijtihad
para
sahabat,sebab ternyata ada perbedaan tertib di
dalam mushaf-mushaf mereka.
3. Kelompok ketiga berpendapat,sebagian surat
itu tertibnya bersifat tauqifi dan sebagian
lainnya berdasarkan ijtihad parasahabat.
J. Surat-Surat Dan Ayat-Ayat Al-Quran
Surat-surat Al-Quran ada empat bagian:
1. Ath-Thiwal ada tujuh surat yaitu Al-Baqoroh,
Ali-imran,An-Nisa, Al-Maidah, Al-Anam,AlArof dan yang ketujuh ada yang mengatakan
Al-Anfal dan Baroah.
2. Al-Miun yaitu surat-surat yang ayat-ayatnya
lebih dari seratus itu.
3. Al-Matsani, yaitu surat-surat yang jumlah
ayatnya di bawah Al-Miun.
4. Al-Mufashshol, dikatakan bahwa surat-surat ini
di mulai dari surat Qof,ada pula yang
mengatakan dimulai dari surat Al-hujurat.
75

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

K. Rasm Utsmani
1. Ada yang berpendapat bahwa Rasm Utsmani
Al-Quran ini bersifat tauqifi yang wajib di
pakai dalam penulisan Al-Quran, dan harus
sungguh-sungguh di sucikan. Mereka menisbatkan tauqifi dalam penulisan Al-Quran ini
pada Nabi.
2. Banyak Ulama berpendapat bahwa Rasm
Utsmani bukan tauqifi dari Nabi,tetapi hanya
merupakan satu cara penulisan yang di setujui
Utsman dan diterima umat dengan baik,
sehingga menjadi suatu keharusan yang wajib
di jadikan pegangan dan tidak boleh di
langgar.
3. Sebagian Ulama lain berpendapat,Rasm
Utsmani itu hanyalah sebuah istilah, metode,
dan tidaklah mengapa berbeda dengannya jika
orang telah menggunakan satumodel Rasm
tertentu untuk penulisan, kemudian Rasm itu
menjadi tersiar luas di antara mereka.
L. Proses Perbaikan Rasm Utsmani
Mushaf Utsmani tidak memakai tanda baca
titik dan harokat,karena semata-mata di dasarkan
atas karakter pembacaan orang-orang Arab yang
masih murni, sehingga mereka
tidak
memerlukan syakal dengan harokat dan
pemberian titik. Orang pertama yang melakkukan
hal itu adalah Abul Aswad Ad-Duali. Dialah
peletak dasar-dasar kaidah bahasa Arab pertama
76

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

atas permintaan Ali bin AbiThalib.Perbaikan


Rasm Musahaf itu berjalan secara bertahap.
M. Pemisah dan Ujung Ayat
Al-Quran Al-Karim mempunyai sistem
yang khas baik dalam masalah pemisah (fashilah)
maupun ujung (ras) ayatnya. Fashilah ialah kalam
(pembicaraan) yang terputus dengan kalam
sesudahnya. Adapun yang di maksud dengan ras
ialah akhir ayat yang padanya diletakkan tanda
fashl (pemisah) antara satu ayat dengan ayat
lainnya.Setiap ujung ayat adalah pemisah,tetapi
tidak setiap pemisah itu ujung atau akhir
ayat,sebab
pemisah
ayat
meliputi
dan
mengumpulkan keduanya itu.
Perkataan orang terkadang di sebut
sajak,seperti yang di kenal dalam ilmu badi.
Tetapi banyak Ulama yang tidak menggunakan
istilah sajak ini pada Al-Quran Al-Karim karena
nilai Al-Quran memeng lebih tinggi dari
perkataan kalangan sastrawan atau ungkapan
para Nabi dan gaya bahasa para pujangga.
Mereka membedakan antara fashila dengan
sajak.fashila dalam Al-Quran ialah mengikuti
makna-makna, bukan fashila itu sendiri yang di
maksud.

77

Pengumpulan dan Penertiban al-Quran

78

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

TURUNNYA AL-QURAN DENGAN


TUJUH HURUF
}
A. Pendahuluan
Orang Arab mempunyai keberagaman
lajhah (dialek) dalam langgam, suara, dan hurufhuruf
sebagaimana
diterangkan
secara
komprehensif dalam kitab-kitab sastra. Setiap
kabilah mempunyai irama tersendiri dalam
mengucapkan kata-kata yang tidak dimiliki oleh
kabilah-kabilah yang lain. Oleh sebab itu, seluruh
bangsa Arab menjadikan bahasa Quraisy sebagai
bahasa ibu bahasa-bahasa mereka karena adanya
berbagai karakteristik tersebut. Dengan demikian,
wajarlah jika Al-Quran di turunkan dalam
bahasa quraisy, kepada rasul Quraisy pula, untuk
mempersatukan bangsa Arab dan menjadi
penengah dari perbedaan lahjah-lahjah bahasa
kaum Quraisy dan mewujudkan kemukjizatan
Al-Quran.
Al-Quran yang di wahyukan Allah kepada
Rasul-nya, menyempurnakan makna kemuk79

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

jizatanya karena ia mencangkup semua huruf dan


qiraah diantara lahjah-lahjah itu. Ini merupakan
salah satu sebab yang memudahkan mereka
untuk membaca, menghafal dan memahaminya.
Teks-teks
hadits
secara
mutawatir
mengemukakan mengenai turunya Al-Quran
dengan tujuh huruf. Di antaranya:
Ibnu abbas ra berkata; Rasulullah bersabda,
JIbril membacakan (Al-Quran) kepadaku
dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku
meminta agar huruf itu ditambah, ia pun
menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf.
Hadits-hadits yang berkenan dengan hal
itu amat banyak jumlahnya dan sebagian besar
telah di selidiki oleh ibnu jarir di dalam pengantar
tafsirnya. As-Suyuthi menyebutkan bahwa
hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari dua
puluh satu orang sahabat. Abu Ubaid Al-Qasim
bin Sallam menetapkan kemutawatiran hadits
mengenai turunya Al-Quran dengan tujuh huruf
B. Perbedaan Pendapat dalam makna Tujuh Huruf
Para ulama berbeda pendapat dalam
menafsirkan maksud tujuh huruf ini dengan
perbedaan yang bermacam-macam. Sehingga
Ibnu Hayyan mengatakan, Ahli ilmu berbeda
pendapat tentang arti kata tujuh huruf menjadi
tga puluh lima pendapat. Di sini kami akan
mengemukakan beberapa pendapat di antaranya
yang di anggap paling mendekati kebenaran.
80

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

Pertama, sebagian besar ulama berpendapat


bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf
adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa
Arab mengenai satu makna. Dengan pengertian
jika
bahasa
mreka berbeda-beda
dalam
mengungkapkan satu makna, maka Al-Quran di
turunkan dengan sejulah lafadz sesuai dengan
ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu
itu.
Kedua, yang di maksud dengan tujuh huruf
adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa
Arab yang ada, dengan pengertian bahwa katakata dalam Al-Quran secara keseluruhan tidak
keluar dari ketujuh macam bahasa tadi, yaitu
bahasa yang paling fasih di kalangan bangsa arab
Pendapat ini berbeda dengan pendapat
sebelumnya karena yang dimaksud dengan tujuh
huruf yang bertebaran di berbagai surat di AlQuran, bukan tujuh bahasa yang bereda dalam
kata tetapi sama dalam makna.
Ketiga, sebagian ulama menyebutkan, yang
dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh segi,
yaitu; amr (perintah), nahyu (larangan), wad
(ancaman), jadal (perdebatan), qashash (cerita), dan
matsal (perumpamaan). Atau amr, nahyu, halal,
haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal.
Keempat, segolongan ulama berpendapat,
bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf
adalah tujuh macam hal yang di dalamnya terjadi
ikhtilaf (perbedaan), yaitu;
81

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

1. Ikhtilaful asma (perbedaan kata benda): dalam


bentuk mufrad, mudzakkar, dan cabangcabangnya seperti jamak taknis, tasniyah
tetapi kesimpulan akhir adalah sama, sebab
bacaan dalam bentuk jamak dimaksudkan
untuk arti istihgraq (mencangkupi) yang
menunjukan jenis-jenisnya
2. Perbedaan dalam segi Irab, seperti firman allah
taala dalam surat yusuf ayat 31 jumhur
membacanya dengan nashab, sebab kalimat
ma berfungsi seperti laisa sebagaimana
penduduk hijaz, dengan bahasa inilah AlQuran diturunkan.
3. Perbedaan dalam tashrif, disinilah yang di
perselisihkan termasuk perubahan huruf
dalam satu kalimat, seperti yalamun dibaca
talamun (ya dan ta),Shirot dan sirat,dalam
(Al-Fatihah:6)
4. Perbedaan dalam taqdim (mendahulukan) dan
takhit (mengakhirkan), dimana yang pertama
di baca dalam bentuk aktif dan yang kedua
dibaca dalam bentuk pasif, juga dibaca dengan
sebaliknya.
5. Perbedaan dalam segi ibdal (penggantian),
baik penggantian huruf dengan huruf.
6. Perbedaan dengan sebab adanya penanbahan
dan pengurangan, mengenai perbedaan
karena adanya pengurangan (naqsh),
7. Perbedaan lahjah dengan pembacaan tafkhim
(tebal) dan tarqiq (tipis), fathah dan imalah,
82

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

izhar dan idhgam, hamzah dan tashil, isymam,


dan lain-lian
Kelima, sebagian
ulama ada yang
berpendapat bahwa bilangan tujuh itu tidak bisa
diartikan secara harfiyah, tetapi angka tujuh
tersebut hanya sebagai symbol kesempurnaan
menurut kebiasaan orang Arab. Dengan demikian
maka angka tujuh adalah isyarat bahwa bahasa
dan susunan Al-Quran merupakan batas dan
sumber utama bagi semua perkataan orang Arab
yang telah mencapai puncak kesempurnaan
tertinggi.
Keenam. Ada juga ulama yang berpendapat
yang dimaksud dengan tujuh huruf tersebut
adalah qiraat sabah.
Pendapat terkuat dari semua pendapat
tersebut adalah pendapat pertama, yang
mengatakan bahwa tujuh huruf yang dimaksud
adalah tujuh macam bahasa-bahasa Arab dalam
mengungkappkan satu makna yang sama,
misalnya; aqbala, taal, haluma, ajala dan asraa.
Lafash-lafash yang berada ini untuk menunjuk
pada satu makna. Pendapat ini dipilih oleh
Sufyan bin Uyaimah, Ibnu jarir, Ibnu Wahab dan
lainya. Ibnu Abdil menistbatkan pendapat ini
kepada sebagian besar ulama. Dalil pendapat ini
ialah apa yang terdapat dalam hadits Abu
Bakrah.

83

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

Pendapan pertama ini pula didukung oleh


banyak hadits, antara lain; seorang lelaki
membaca Al-Quran di dekat Umar Al-Khatab.
Umar marah kepadanya. Orang itu berkata,
sungguh aku telah membacanya di hadapan
Rasulullah, tetapi ia tidak menegur bacaan saya
itu. kata perawi; maka keduanya berselisih di
hadapan nabi. Orang itu berkata, wahai
Rasuullah bukankah engkau membacakan
kepadaku ayat itu begini-begini? Nabi
menjawab, ya. Perawi menjelaskan.
Dengan
penjelasan
ini
timbulah
ketidakpuasan dalam hati Umar, dan Nabi
mengetahui hal itu di wajahnya. Lalu belilau
menepuk-nepuk dada Umar seraya mengatakan,
jauhilah satan. Ucapan ini diulanginya sampai
tiga kali. Kemudian katanya pula. Hai Umar, AlQuran itu seluruhnya benar, selama ayat rahmat
tidak dijadikan azab atau ayat azab dijadikan ayat
rahmat.
Pendapat kedua yang menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh
macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab yang
denganya Al-Quran di turunkan, artinya
kalimat-kalimat Al-Quran secara keseluruhan
tidak keluar dari ketujuh bahasa tadi. Karena itu,
maka himpunan Al-Quran mencangkupnya.
Semua itu menunjukan bahwa yang dimaksud
dengan tujuh huruf bukanlah apa yang mereka
84

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

kemukakan, tetapi hanyalah perbedaan lafadzhlafadzh mengenai makna yang sama.


Setelah mengemukakan dalil-dalil untuk
membatalkan pendapat kedua ini, ibnu jarir AtThabari berkomentar, tujuh huruf yang
dimaksud denganya Al-Quran diturunkan
adalah tujuh dialek baasa dalam satu huruf dan
satu kata karena perbedaan lafazh tetapi sama
maknanya.
Namun pada masa pemerintaha Usman
keadaan menuntut agar bacaan itu di tetapkan
dengan satu huruf saja kerena di khawatirkan
akan timbul fitnah. Kemudian hal ini diterima
secara bulat oleh umat islam, suatu umat yang
dijamin bebas dari kesesatan.
Pendapat ketiga yang menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh
macam hal, yaitu; amr, nahyu, halal, haram,
mukham, mutasyabih, dan amtsal, dapat dijawab;
dzahir hadits-hadits tersebut yang menunjukan
tujuh huruf itu adalah suatu kata yang dapat
dibaca dengan dua atau tiga hingga tujuh macam
sebagai keleluasan bagi umat, padahal sesuatu
yang satu tidak mungkin di nyatakan halal dan
haramdi dalam satu ayat, dan keleluasan pun
tidak terletak pada masalah mengharamkan yang
halal dan menghalalkan yang haram atau dengan
mengubah sesuatu makna dari mekne-mekne
tersebut.
85

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

Peniadaan hal tersebut (adanya kontradiksi


dalam Al-Quran) oleh Allah yang magha terpuji
dari Kitab-nya yang muhkam merupakan bukti
paling jelas bahwa Dia tidak menurunkan Kitabnya melalui lisan Muhammad kecuali dengan
satu hukum yang sama bagi semua mahluk-nya,
bukam dengan hukum-hukum yang berbeda bagi
mereka.
Pendapat keempat yang menyatakan,
bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf
adalah tujuh macam hal yang diantaranya terjadi
ihtilaf. Jawabanya, pendapat ini meskipun telah
popular dan diterima, tetapi ia tidak dapat
bertahan di hadapan bukti-bukti dan argumentasi
pendapat pertama yang menyatakan dengan
tegas sebagai perbedaan dalam beberapa lafazh
yang mempunyai makna sama.
Para pendukung pendapat keempat
memandang
mushaf-mushaf
Utsmani
mencangkup tujuh huruf tersebut seluruhnya,
dengan pengertian bahwa mushaf-mushaf itu
mangandung huruf-huruf yang dimungkunkan
oleh bentuk tulisanya
Pendapat kelima, menyatakan bilangan
tujuh itu tidak di artikan secara harfiah. Ini dapat
dijawab
bahwasanya nash-nash haadits
menunjukan hakekat bilangan tersebut secara
tegas, seperti, jibril membacakan Al-Quran
kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulankali
86

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

aku memohon agar huruf itu di tambah, ia pun


menambahkanya kepadaku sampai tujuh huruf.
Dan sabda beliau
sesungguhnya Tuhanku mengutusku untuk
membaca Al-Quran dengan satu huruf. Lalu brulangulang aku memohon kepadanya untuk member
kemudahan kepada umatku. Maka ia mengutusku agar
membaca Al-Quran dengan tujuh huruf.
Pendapat keenam, maksud tujuh huruf
adalah tujuh qiraat, dapat dijawab; Al-Quran itu
bukanlah qiraat. Al-Quran adalah wahyu yang
diturunkan kepada Muhammadsebagai bukti
risalah dan mukjizat. Adapun qiraat adalah
perbedaan mengucapkan lafazh-lafazh wahyu
tersebut. Abu syamah berkata, suatu kaum
mengira qiraat tujuh yang ada sekarang ini itulah
yang dimaksudkan dengan tujuh huruf dal
hadits. Asumsi ini sangat bertentangan dengan
kesepakatan paraahli ilmu. Juga anggapan seperti
itulah adlah anggapan orang-orang yang tidak
mengerti.
Dengan penbicaraan ini, jelaslah bagi kita
bahwa pendapat pertama yang melihat bahwa
tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari bahasa Arab
mengenai satu makna yang sama adalah
pendapat yang sesuai denga zhahir nash-nash,
dan di dukung oleh bukti;bukti yang shahih.
Al-Quran dijadikan oleh Allah sebagai
obat penawar bagi orang-orang mukmin, yang
dengan nasehat-nasehatnya mereka dapat
87

Turunnya Al-Quran dengan Tujuh Huruf

menyembuhkan segala penyakit hati yang


bersumber dari bisikan setan dan getarangetaranya. Karena itulah, Al-Quran memadai
dan mereka tidak memerlukan lagi nasehat orang
lain.
C. Hikmah Turunya Al-Quran Dengan Tujuh
Huruf
Hikmah diturunkanya Al-Quran dengan
tujuh huruf (ahruf sabah) dapat di simpulkan
sebagai berikut:
1. Untuk memudahkan bacaan dan hafalan bagi
bangsa yang ummi, yang setiap kabilahnya
mempunyai dialek masing-masing, dan belum
terbiasa
menghafal
syariat
apalagi
mentradisikanya.
2. Bukti kemukjizatan Al-Quran bagi naluri
kebahasaan orang Arab. Al,Quran banyak
mempunyai susunan bunyi yang sebanding
dengan segala macam dialek bahasa yang
telah menjadi naluri bahasa orang arab,
sehingga
setiap
orang
arab
dapat
mengalunkam huruf-huruf dan kata-katanya
sesuai dengan irama naluri mereka dan lahjah
kaumnya.
Kemukjizatan Al-Quran dalam aspek
makna dan hukum-hukumnya. Sebab,perubahan
bentuk lafazh pada sebagian huruf dan kata-kata
memberikan
peluang
luas
untuk
dapat
disimpulkan berbagai hukum dari padanya.
88

Qiraat dan Qurra

QIRAAT DAN QURRA


A. Pendahuluan
Qiraat adalah bacaan mashar dari qaraa.
Qiraat adalah salah satu madzhab pembacaan
alquran yang dipakai oleh salah seorang imam
qurra sebagai satu madzhab yang berrbeda
dengan madzhab lainnya. Antara para sahabat
yang terkenal mengajarkan qiraat ialah Ubay,
Ali, Zahid bin tsabit, Ibnu masud, Abu Musa alasyari dan lain-lain.
Adz-Dzahabi menyebutkan di dalam
thabaqat al-qurra sahabat yang terkenal sebagai
guru dan ahli qiraat Al-Quran ada tujuh orang
yaitu: Utsman, Ali, Ubay, Zahid bin tsabit, Abu
Ad-darda dan Abu Musa al-asyari sahabat
mempelajari qiraat dari ubay.
Imam yang terkenal sebagai ahli qiraat di
seluruh dunia adalah Abu Amr, Nafi, Ashim,
Hamzah, Al-Kisai, Ibnu Amir, dan Ibnu Katsir.
Qiraat hanya merupakan madhzab yang secara
ijma dan sumbernya adalah perbedaan langgam,
cara pengucapan dan sifatnya. Seperti tafkhim,
89

Qiraat dan Qurra

tarqiq, imalah, idgham, izhar, isyba, mad, qashr,


tashydid, takhfaf.
B. Tujuh Imam dan Latar belakangnya
Ada tujuh orang imam qiraat serta para
ulama memilih pula tiga orang imam qiraat yang
dipandang sahih dan mutawatir. Qiraat di luar
yang sepuluh ini dipandang qiraat syadz (cacat).
Mengapa hanya tujuh imam qiraat saja yang
masyur padahal yang masih banyak yang lainlainnya, , meskipun demikian, bukan berarti tidak
ada satupun dari qiroat sepuluh dan bahkan
qiraat tujuh yang masyhur itu terlepas dari syadz,
sebab di dalam sepuluh qiraat tersebut masih
tersebut masih terdapat juga beberapa yang syadz
sekalipun hanya sedikit. hal ini dikarenakan
sangat banyaknya para periwayat qiraat
mereka.tetapi dalam kitab karya Ibnu Mujahid
dan pengikutnya, sebenarnya qiraat yang
masyur sedikit sekali sebagai contoh adalah Abu
Amru bin Al-ala ia terkenal mempunyai tujuh
belas orang perawi.
Pemilih qurra dilakukan abad ketiga
hijrah, bashrah memilih qiraat ibnu Amr dan
yaqub. Dikufah, qiraat Ibnu Amr. Dimakkah
ibnu katsir di madinah abad ketiga, ibnu bakar
bin mujahid. Nama Alkisa dan membuang nama
Yaqub dari kelompok tujuhqari tersebut. Kata
As-Suyuti, Orang pertama yang menyusun kitab
tentang qiraat adalah Abu Ubaid Al-Qasim bin
Salllam, di susul oleh Ahmad bin Jubair Al-Kufi,
90

Qiraat dan Qurra

kemudian Ismail bin Ishaq Almaliki murid Qalun,


lalu Abu Jafar bin Jarir Ath-Thabari.
Hal ini dikarenakan sangat banyaknya para
periwayat qiraat mereka.tetapi dalam kitab karya
Ibnu Mujahid dan pengikutnya, sebenarnya
qiraat yang masyur sedikit sekali sebagai contoh
adalah Abu Amru bin Al-ala ia terkenal
mempunyai tujuh belas orang perawi.
C. Macam macam Qiraat, hukum dan Kaidahnya
Sebagai ulama menyebutkan bahwa qiraat
itu ada yang mutawatir, ahad dan syadz. Qiraat
yang mutawatir adalah qiraat yang tujuh. Qiraat
ahad ialah qiraat pelengkap menjadi sepuluh
qiraat. Yang menjadi pedoman qiraat adalah
terpenuhinya sifat-sifat atau syarat-syarat, bukan
kepada siapa qiraat itu dinisbatkan, kepada
setiap qari yang tujuh atau yang lain, sebab ada
yang disepakati dan ada pula yang dianggap
syadz. Menurut ulama, syarat-syarat qiraat yang
shahih adalah sebagai berikut:
1. Kesesuaian qiraat tersebut dengan kaidah
bahasa Arab sekalipun dalam satu segi, baik
fasih maupun lebih fasih.
2. Qiraat sesuai dengan salah satu mushaf
utsmani, meskipun hanya sekedar mendekati
saja.
3. Qiraat itu isnadnya harus shahih sebab
sunnah yang diikuti yang didasarkan pada
penukilan dan kesahihan riwayat.
91

Qiraat dan Qurra

Menurut zaid bin tsabit, qiraat adalah


sunah yang harus diikuti sebagian ulama
menyimpulkan macam macam qiraat menjadi
enam macam:
1. Mutawatir, yaitu qiraat yang di nukil oleh
sejumlah besar perawi yang tidak mungkin
bersepakat untuk berdusta.
2. Mashyur, yaitu qiraat yang sanadnya shahih.
3. Ahad, yaitu qiraat yang sanadnya shahih,
tetapi menyalahi. Qiraat macam ini tidak
termasuk qiraat yang dapat diamalkan
bacaannya.
4. Syadz, yaitu qiraat yang shahih sanadnya
5. Maudhu, yaitu qiroat yang tidak ada asalnya.
6. Muddaraj, yaitu yang di tambahkan kedalam
qiroat sebagai penafsiran.
D. Faedah Kebeagaman dalam Qiraart yang
Shahih
Keberagaman qiraat yang shalih ini
mengandung banak faedah dan fungsi, di
antaranya:
1. Menunjukkan
betapa
terjaganya
dan
terpelihaanya Kitab Allah dari perubahan dan
penyimpangan padahal kitab ini mempunyai
sekian banak segi bacaan ang berbeda-beda
2. Meringankan umat Islam dan memudahkan
mereka untuk membaca Al-Quran.
3. Bukti kemukjizatan Al-Quran dari segi
kepadatan
makna
(ijaz)nsetiap
Qiraat
menunjukkan sesuatu hukum syariat tetentu
92

Qiraat dan Qurra

tanpa perlu pengulangan lafazd. Hukum


membasuh kaki. Kaena dia di athofkan kepada
mamul fiil
4. Penjelasan apa yang mungkin masih global
dalam Qiraat lain. Masud Qiraat yang syad
adalah
menafsirkan
Qiraat
yang
masyhurndan menjelaskan makna-maknanya.
Ketujuh Qiraat yang mashur itu adalah:
1. Abu Amru bin Al-Ala. Seorang syaikh para
perawi, nama lengkapnya Zabban bin Al-Ala
bin Ammar Al-Mazini Al-Bashri
2. Ibnu Katsir, nama lengkapnya Abdulloh bin
Katsir Al-Makki. Ia termasuk seorang tabin.r
Seorang qumbul adalah Al-Bazzi dan Qumbul.
Al-Bazzi adalah Ahmad bin Abdirahman bin
Muhammmad bin Khalid bin Said Al-Makki
Al-Makhzumi. Ia di gelarkan dungan Abu
Amru, panggilannya Qumbul
3. Nafi Al-Madani, nama lengkapnnya Abu
ruwaim Nafi bin Abdirrahman bin Abi Nuaim
Al-Laitsi, berasal dari Isfahan, adapun Warsy
adalah ustman bin Said Al-Maishri. Ia di bei
gelar abu said dan di beri julukan warsy
4. Ibnu Amir Asy-Syami adalah abdullah bin
Amir Al-ahsubi, seorang qadhi di Damaskus
dan ia di gelari abul Walid.
5. Ashim Al-Khufi. Ia adalah Ashim bin Abi AnNajud, dinamakan juga Ibnu Bahdalah, Abu
bakar. Dari kalangan tabiin. Ia adalah orang
93

Qiraat dan Qurra

terpercaya ia lebih pandai qiraat daripada


Abu Bakar.
6. Hamzah Al-Kufi. Ia adalah hamzah bin
Imarah Ar-Zayyat Al-Fardhi At-Taimi
7. Al-kisaai Al-Kufi ia adalah Ali bin Hamzah,
seorang imam ilmu Nahwu di Kufah.
Adapun ketiga imam qiraat yang
pelengkap imam qiraat tujuh, menjadi sepuluh
imam:
8. Abu Jafar Al-madani ia bernama azid bin AlQaqa. Wafat di madinah pada 128 H tapi ada
yang mengatakan 132 H.
9. Yaqub Al-Bashari ia adalah Abu Muhammad
Yaqub bin Ishaq bin Zaid Al-Hadharmi. Wafat
di Basharah pada 205 H.
10. Khalaf ia adalah Abu Muhammad Khalaf bin
Hisyam bin Tsalab Al-Bazzar Al-Baghdadi.
Wafat pada 229 H.
Adapun empat qiraat yang ditambahkan
pada sepuluh qiraat diatas, yaitu antara lain :
1. Qiraat Al Hasan Al Bashri, seorang
maulakaum Anshar dan salah seorang tabiin
besar yang terkenal dengan kezuhudannya.
Wafat pada 110 H.
2. Qiraat Muhammad bin Abdirrahman yang
dikenal dengan Ibnu Muhaisin. Wafat pada
123 H. Dia adalah syaikhnya Abu Amru.
3. Qiraat Yahya bin Al-Mubarak Al-Yazidi AnNahwi dari Baghdad. Ia belajar qiraat dari
94

Qiraat dan Qurra

Abu Amru dan Hamzah. Dia juga syaikhnya


Ad Duri dan As Susi, wafat pada 202 H.
4. Qiraat Abul Faraj Muhammad bin Ahmad AsSyambudzi. Wafat pada 388 H.
E. Waqaf dan ibtida
Pengetahuan tentang waqaf ( berhenti ) dan
ibtida ( memulai ) berperan penting dalam
mengetahui cara pembacaan Al-Quran untuk
menjaga validitas makna ayat, menjauhkan
kekaburan dan menghindari kesalahan. Adapun
contohnya wajib waqaf antara lain:
1. Surat al kahfi ayat 1-2.
2. Terdapat huruf ha sakat pada ayat surat Al
Haqqah : 19-20 dan 28-29.
3. Surat Yunus ayat 65.
Tidak dapat diragukan bahwa pengetahuan
tentang waqaf dan ibtida sangat berfaedah dalam
memahami makna dan memikirkan hukumhukum yang terkandung dalam Al-Quran.
Macam-macam Waqaf
Ada yang mengatakan bahwa waqaf terbagi
menjadi delapan macam, yaitu : tam (sempurna),
syabihun bih (menyerupai sempurna), naqsih
(kurang) , syabihun bih (menyerupai yang kurang),
hasan (bagus), syabihun bih (menyerupai bagus),
qobih (jelek), dan syabihun bih (menyerupai yang
jelek).
Ada yang berpendapat, waqaf terbagi menjadi
tiga yaitu : tam (sempurna) , jaiz (boleh), dan qabih
(jelek) saja.
95

Qiraat dan Qurra

Menurut pendapat yang mashyur, waqaf


terbagi menjadi empat macam yaitu : tamm-mukhtar
(sempuna terpilih), kafin jaiz (cukup dan boleh),
hasan mafhum (bagus bisa dipahami), dan qabih
matruk (jelek dan ditinggalkan).
1. Tamm : waqaf pada lafazh yang tidak
berrhubungan sedikitpun dengan lafazh
sesudahnya.
2. Kafin jaiz : waqaf pada suatu lafazh yang dari
segi lafazh telah terputus dari lafazh
sesudahnya, tetapi maknya masih tetap
tersambung.
3. Hasan:waqaf pada lafazh yang dipandang
baik padanya, tetapi tidak baik memulai
dengan lafazh yang sesudahnya, kaena masih
ada hubungan dengannya secara lafazh dan
maknannya
4. Qabih : waqf pada lafazh yang tidak dapat
dipahami maksud sebenarnya.
F. Tajwid dan Adab Membaca Al-Quran
Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu
mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang harus
dipedomani dalam pengucapan huruf-huruf dari
makhrajnya disamping harus pula di perhatikan
hubungan setiap huruf dengan yang sebelumdan
sesudahnya dalam cara pengucapannya. Oleh
karena itu ia tidak dapat diperoleh hanya sekedar
dipelajari namun juga harus melalui latihan,
praktik, dan menirukan orang yang baik
bacaannya.
96

Qiraat dan Qurra

Para ulama mengaggap qiraat Al-Quran


tanpa tajwid sebagai suatu lahn, yaitu kerusakan
atau kesalahan yang menimpa lafazh, baik secara
nyata (jaliy) maupun secara samar (khafiy). Lahn
jaliy adalah kerusakan pada lafazh secara nyata
sehingga dapat diketahui oleh ulama qiraat
maupun lainnya. Lahn khafiy adalah kerusakan
pada lafazh yang hanya dapat diketahui oleh
ulama qiraat dan para pengajar Al-Quran yang
cara bacaannya diterima langsung dari mulut
para ulama qiraat dan kemudian dihafalnya
dengan teliti.
Diantara perbuatan bidah dalam qiraat
adalah talhin atau melagukan bacaan yang hingga
sekarang ini masih ada dan disebarluaskan oleh
orang-orang yang hatinya telah terpikat dan
terlanjur mengagumi. Dan macam-macam talhin
antara lain :
1. Tarid yaitu bila qayi menggetarkan suaranya,
laksana suara yang menggeletar karena
kedinginan atau kesakitan.
2. Tarqish yaitu sengaja berhenti pada huruf
nanti namun kemudian dihentakkannya secara
tiba-tiba disertai gerakan tubuh, seakan-akan
sedang melompat atau berjalan cepat.
3. Tathrib yaitu mendendangkan dan melagukan
Al-Quran sehingga membaca panjang (mad)
bukan pada tempatnya atau menambahnya
bila kebetulan tepat pada tempatnya.
97

Qiraat dan Qurra

4. Tahzin yaitu membaca Al-Quran dengan nada


memelas seperti orang yang sedih sampai
hampir menangis disertai kekhusyukan dan
suara lembut.
5. Tardid
yaitu
bila
sekelompok
orang
menirukan seorang qari pada akhir bacaannya
dengan satu gaya dari cara-cara diatas.
Sesungguhnya Al-Quran itu mesti dibaca
dengan cara tahqiq, yaitu dengan cara
memberikan kepada setiap huruf akan haknya
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan
para ulama. Atau dengan cara tartil, yaitu dengan
bacaan yang pelan-pelan dan tenang. Atau
dengan cara hadar, yaitu membaca dengan cepat
tetapi
tetap
memperhatikan
syarat-syarat
pengucapan yang benar. Dan, ada pula bacaan
dengan cara tadwir, yaitu pertengahan antara
tahqiq dan hadar.
G. Adab Membaca Al-Quran
Dalam membaca Al-Quran dianjurkan
memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Membaca Al-Quran sesudah berwudhu.
2. Membacanya ditempat yang suci.
3. Membacanya dengan khusyuk, tenang dan
penuh hormat.
4. Bersiwak sebelum mulai membaca.
5. Membaca taawudz pada permulaannya.
6. Membaca basmalah pada permulaan setiap
surat, kecuali surat Baraah (At-Taubah).
98

Qiraat dan Qurra

7. Membaca dengan tartil yaitu bacaan yang


pelan-pelan dan jelas serta memberikan hak
pada setiap huruf seperti membaca mad dan
idgham.
8. Merenungkan ayat-ayat yang dibacanya.
9. Meresapi makna dan maksud ayat-ayat AlQuran.
10. Membaguskan suara dengan membaca AlQuran, karena suara yang bagus lagi merdu
akan lebih berpengaruh dan meresap dalam
jiwa.
11. Mengeraskan bacaan Al-Quran .
12. Adapun pendapat tentang cara membacanya
yaitu dengan membaca langsung dari mushaf,
membaca diluar kepala,dan bergantung pada
situasi dan kondisi individu masing-masing.
H. Mengajar Al-Quan dan Menerima Honor dari
mengajar Al-Quran
Mengajarkan Al-Quran termasuk fardhu
kifayah. Sedangkan menghafalnya merupakan
suatu kewajiban bagi umat islam agar tidak
terputus jumlah kemutawatiran para penghafal
Al-Quran di samping untuk menghindari
timbulnya perubahan dan penyimpangan.
Pengajaran Al-Quran itu ada tiga macam.
Pertama pengajaran yang karena Allah semata
dan tidak mengambil upah. Kedua pengajaran
dengan mengambil upah. Ketiga pengajaran
tanpa syarat namun bila diberi hadiah, maka ia
terima.
99

Qiraat dan Qurra

Pengajaran pertama merupakan tugas Nabi


Alaihimussalam.
Pengajaran
kedua
masih
diperselisihkan karena ada yang mengatakan
boleh dan ada yang mengatakan tidak boleh.
Pengajaran ketiga menurut ulama boleh. Sebab
Nabi sendiri adalah pengajar semua orang dan
beliau juga menerima hadiah.

100

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

KAIDAH-KAIDAH PENTING UNTUK


PARA MUFASSIR
}
A. Pendahuluan
Untuk mengetahui suatu bidang ilmu
tertentu, seseorang pelu mengetahui dasar dasar
umum
karateristiknya
agar
ia
dapat
mendalaminya secara baik. Ia juga terlebih
dahulu harus mengetahui pengetahuan yanyg
cukup tentang disiplin ilmu lain dalam kadar
yang dapat membantunya mencapai tingkat ahli
dalam disiplin ilmu tersebut, dimana selanjutnya
ia dapat memasuki pintu pintu ilmu itu dengan
kunci yang telah dimilikinya
Maka, kaidah-kaidah yang diperlukan para
mufassir dalam memahami al-quran tevpusat
pada kaidah-kaidah bahasa, pemahaman asasasasnya, penghayatan terhadap redaksinya dan
pengetahuan
akan
rahasia-rahasia
yang
dikandungnya.

101

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

B. Fungsi Dhamir (Kata Ganti)


Dhamir mempunyai kaidah-kaidah bahsa
tersendiri yang telah disimpulkan oleh para ahli
bahasa arab dari al-quran. Sumber-sumber asli
bahasa arab, hadist nabawi dan dar penuturan
orang-orang arab yang dapat dijadikan rujukan,
baik yang berupa puisi atau prosa.
Maja dhamir (tempat kembali kata ganti)
kadang-kadang terletak sesudah lafazh dhamir
itu sendiri, namun hanya dalam pengucapannya
saja, seperti Fa aujasa fi nafsihi khifatan Musa
(Thaha : 67 ).
Dhamir terkadang juga kembali kepada
lafazh, bukan kepada makna, seperti dalam surah
Fathir ayat 11.
Terkadang dhamir itu disebutkan terlebih
dahulu sebagai khabar yang dijelaskan oleh
lafazh yang sesudahnya, seperti In hia illa
haatuna ad-dunya. (Al-anam : 22).
C. Isim Marifah Dan Nakirah
Penggunaan isim nakirah ini mempunyai
bebebrapa fungsi:
1. Untuk menunjukkan satu seperti lafazh
Rajulun dalam surah Yasin ayat 20,
maksudnya adalah seorang laki-laki.
2. Untuk menunjukkan jenis, seperti dalam surah
Al-baqarah ayat 96.
3. Untuk menunjukkan kedua-duanya (satu
jenis), seperti dalam surah An-Nur ayat 45
102

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

4. Untuk membesarkan dan memuliakan, seperti


dalam surah Al-Baqarah ayat 279
5. Untuk menunjukkan arti banyak dan
melimpah seperti ayat, Aina lana la ajran
(Asy-Syuaarra : 41)
Adapun penggunaan isim marifah ,
mempunyai bebebrapa fungsi sesuai dengan jenis
dan macamnya:
1. Dengan Dhamir baik dhamir mutakalim,
mukhatab, ataupun ghaib.
2. Dengan menggunakan isim isyarah (kata
tunjuk) untuk menjelaskan bahwa sesuatu
yang ditunjuk itu dekat.
D. Penyebutan Kata Benda Dua Kali
Pengulangan dua kali isim memiliki
emepat kemungkinan:
1. Jika Keduanya marifah, maka isim yang
kedua adalah yang pertama
2. Sebaliknya, jika keduanya Nakirah, maka isim
yang kedua bukanlah yang pertama
3. Jika yang pertama Nakirah dan yang kedua
Marifah, maka yang kedua itu adalah yang
pertama.
4. Jika yang pertama Marifah sedang yang
kedua nakirah, maka tergantung pada
Qarinahya
E. Mufrad dan Jamak
Sebagian lafazh Al-Quran terkadang
dimufradkan untuk menunjuk pada suatu makna
tertentu dan dijamamkkan untuk menunjuk pada
103

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

isyarat khusus. Karena itu sering kita jumpai


dalam Al-Quran sebagian lafzah yang hanya
bebrbentuk jamak., ketika diperlukan bentuk
mufrad nya maka yang digunakan adalah kata
sinonimnya.
Sebaliknya ada sejumlah lafazh yanghanya
ditulis dalam bentuk mufradnya di setiap tempat
dalam Al-Quran.Dan ketika hendak dijamakkan,
ia dijamakkan dalam bentuk yang menarik yang
tiada bandingannya, seperti ayat Allahu alladzi
khalaqa saba samawat wa min al-ardhi. (AtThalaq:12)
F. Jamak dengan Jamak atau dengan Mufrad
Mengimbangi
jamak
dengan
jamak
terkadang menuntut bahwa setiap satuan dari
jamak yang satu di imbangi dengan satuan jamak
yg lain, misalnya dalam surah Nuh:7.
Maksudnya, setiap orang dari mereka menutupi
badannya dengan bajunya masing-masing.
Terkadang dimaksudkan pula bahwa isi
jamak itu diberlakukan bagi setiap individu yang
terkena hukuman, seperti Walladzina yarmuna almuhsanati tsumma la yatu bi arbaati syuhada
fajliduhum tsamanina jaldatan. (An-Nur:4)
G. Lafazh yang Diduga Sinonim
Di antaranya adalah al-khauf dan alkhassyah (takut). Makna al-khasyyah lebih
tinggi daripada al-khauf, karena alkhasyyah
diambil dari kata-kata syajarah khassyah
artinya pohon yang kering. Jadi, arti al-khayyah
104

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

adalah rasa takut yang sangat. Sedangkan alkhau beasal dari kata-kata naqah khaufa,
artinya onta betina yang berpenyakit, yakni
mengandung kekurangan. Demikian juga lafazh
asy-syuh dan al-bukhl (kikir). Arti lafazh
pertama lebih berat dari lafah kedua, karena pada
umunya asy-syuh adalah al-bukhl atau kikir yag
disertai ketamakan.
Pertanyaan dan Jawaban
Pada dasarnya, jaaban itu hendaklah sesuai
dengan pertanyaan. Namun terkadang ia
menyimpang
dari apa yang dikehendaki
pertanyaan, sebagia peringatan bahwa jawaban
itulah yang seharusnya ditanyakan. Jawabn
seperti ini yang disebut uslub al-hakim(car yang
baik). Sebagai contoh firman Allah SWt,
Yasalunaka anil ahillah, qul hiya mawaqitu
linnasi l hajj (Al-Baqarah :189) .
Terkadang sebuah jawaban lebih umum
dari apa yang ditanyakan, karena memang hal itu
di pandnag perlu. Misalnya ayat, Qulillahu
yunajjikum minha wamin kulli karbin (AlAnam:63). Untuk menjawab pertanyaan dalam,
Man yunajjikm min dzulumat al-barr wa albahr(Al-Anam:63)
Pemakaian Kata Benda dan Kata Kerja
Jumlah
imiyyah
(kalimat
yang
menggunakn kata benda) menunjukkan arti
tsubut (tetap) dan istimrar(terus-menerus).
Sedangkan jumlah filiyyah (kalimat yang
105

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

menggunakan kata kerja) menunjukkan arti


tajaddud (baru) dan huduts (temporal). Masingmasing kalimat ini mempunyai tempat tersendiri
yang tidak bias ditempati oleh yang lain.
Misalnya, tentang infaq yang diungkap kan
dengan jumlah filiyyah, seperti ayat, Alldzina
yunfiquna fi as-srra wa ad-dharra (Ali Imran:
134). Tidak diungkapkan dengan menggunakan
kata al-munfiqun.
Akan tetapi, dalam masalah keimanan
digunakan jumlah ismiyah, seperti dalam,
Innama al-muminuna al-ladzina amanu billahi
warasulihi (Al_Hujarat:15).
Masalah Athaf
Athaf terbagi menjadi tiga macam:
1. Athaf alal lafzhi (athaf kepada lafazh ), dan
inilah yang pokok bagi athaf
2. Athaf alal mahal ( atahf kepad mahal ) atau
kedudukan kata. Al-kisai memberi contoh
dalam (Al-Maidah:69)
3. Athaf alal mana (athaf kepada makna).
Misalnya dalam (Al-Munafiqun : 10)
Para ulama berbeda pendapat tentang boleh
tidaknya mengathafkan khabar (kalimat
berita) kepada insya (bukan kalimat berita)
dan sebaliknya. Sebagian besar mereka tidak
membolehkan, sedang golongan
yang
membolehknnya, dengan dalil ayat wa
basysyir al_muminin (Ash-shaf : 13)
106

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

Para ulama berbeda pendapat pila tentang


mengathafkan kepada dua maful dari dua amil.
Golongan yang membolehkan berdalil dengan
ayat Inna fis samawati wal ardhi la ayatil lil
muminin . Liqaumin yqilun (Al-jatsiyah :3-5)
Perbedaan Antara Al-Ita dan Al-Itha
Terdapat perbedaan antara al-ita dengan
al-Itha di dalam Al-Quran. Menurut Al-Juwaini,
lafazh al-ita lebih kuat dari al-Itha dalam
menetapkan
obyeknya
(maful).
Al-Itha
mempunyai pola kata muthawaah (kata kerja
mutaaddi
yang
mengandung
makna
akibat/pengaruh)
Fiil atau katakerja yang muthawi lebih
lemah dalam menetapkan pengaruh maknanya
terhadap maful (obyek) daripad fiil yang tidak
muthawi. Misalnya anda berkata: Qathatuhu
fanqhataa (aku memotongnya maka ia pun
terpotong)
Lafazh Faala
Lafazh
faala
digunkan
untuk
menunjukkan beberapa jenis perbuatan, bukan
satu perbuatan saja. Jadi pemakaian lafazh ini
untuk meringkas kalimat. Misalnya ayat, Labisa
ma kanu yafalun (Al-Maidag : 79). arti lafazh
yafalun dalam ayat ini mencakup segala
kemungkaran yang tidak mereka cegah.
Lafazh Kana
Lafazh Kana dalam Al-Quran banyak
digunakan berkenaan dengan zat Allah dan sifat107

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

Nya.
Paraahli
nahwu
dan
yang
lain
berbedavpendapat tentang apakah lafazh tersebut
menunjukkan arti inqitha (terputus), sebagai
berikut :
1. kana Imenunjukkan artio inqitha sebab ia
adalah fiil atau kata kerja yang memberikan
arti tajaddud (kondisional)
2. Sebaliknya, kana tidak menunjukkan arti
inqitha, tapi dawam
( kekal, dan terus
menerus)
Menurut penilitian Abu Bakar Ar-Razi
penggunaan kana dalam Al-Quran ada lima
macam :
1. Dengan makna azali dan abadi, misalnya Wa
kanallahu aliman hakima (An-Nisa:170)
2. Dengan makna terputus, misalnya Wa kana
fil madinati tisatu rahth (An-Naml : 48).
3. Dengan makna masa sekarang (al-hal), seperti
innash-shalata kanat alal muninina kitaban
mauquta (Am-Nisa:103 )
4. Demgan makna masa yang akan datang (alistiqbal) seperti Wa yakhafuna yauman kana
syarruhu mustathira (Ad-Dahr:7 )
5. Dengan makna shara menjadi seperti Wa kana
minal kafirin (Al-Baqarah:34 ).
Lafazh Kada
Para ulama mempunyai beberapa madzhab
tentang lafzh kada :

108

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

1. kada sama dengan fiil lainnya baik dalam


hal (negatif) maupun dalam hal iitsbat
(positif).
2. kada berbeda dengan fiil-fiil lainnya baik
dalam hal pofitif maupun negatif .posotifnya
adalah negative dan negatifnya adalah positif .
3. kada yang negative menunjukkan pada
terjadinya sesuatu dengan susah payah
4. Dibedakan antara kalimat negates (nafi0 yang
berbentuk mudhari dan yang madhi . Yang
negatiif adalah mudhari menunjukkan arti
negative. Namun negatif dalam madhi menunjuk
kan arti positif .
5. kadai yang dinegatifkan untuk menunjukkan
arti positif jika lafazh yang sesudahnya
berhubungan atau berkaitan dengan lafazh
yang sebelumnya .
Lafazh Jaala
Jaala digunakan dalam Al-Quran dengan
bebebrapa pengertian :
1. Dengan arti samma (menanamkan), seperti
ayat aladzina jaalul qurana idin (Al-Hijr :91)
. maksudnya, mereka menanakan al-Quran
sebagai suatu kedustaan.
2. Dengan makna awjada (mewujudkan) dengan
satu maful.
3. Dengan makna perpindahan dari satu keadaan
kepada keaddan lain, dan tashyir (imenjadikan),
dengan dua maful.
109

Kaidah-Kaidah Penting untuk Para Mufassir

4. Dengan makna Itiqad (keyakinan), seperti


pada ayat Wa jaalu lillahi syukrakaal jinn
(Al-Anam :100)
5. Dengan makna member hukum sesuatu atas
sesuatu yang lain, baik bnar maupun batil.
Lafazh laalla dan Asa
laalla dan Asa digunakan untuk makna
ar-raja (harapan) dan thama (keinginan) dalam
perkataan sesama
manusia jika
mereka
meragukan bebebrapa hal yang masih bersifat
kemungkin an , tetatpi tidak dapat memastikan
mana yang terjadi diantaranya. Jika dikaitkan
dengan kalam Allah, maka ada bebebrapa
pendapat.
1. Menunjukkan sesuatu hal yang sudah dan
pastiterjadi, sebab penisbatan segala sesuatu
kepada
Allah
adalahpenisbatan
yang
mengandung kepastian dan keyakinan.
2. Menunjukkan makna harapan sebagaimana
arti aslinya, jika dilihat dari sudut mukhatab.
3. Kedua lafazh itu, di banyak tempat
menunjukkan talil (alasan).

110

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

PERBEDAAN
MUHKAM DAN MUTASYABIL
A. Pendahuluan
Allah menurunkan al-furqon (Al-quran)
kepada hambanya agar ia menjadi pemberi
peringatan bagi semesta alam. Ia menggariskan
untuk makhluk-makhluknya itu satu akidah yang
benar dan prinsip-prinsip ajaran yang lurus
dalam ayat-ayat yang jelas dan tegas
karakteristiknya.
Pokok-pokok agama di beberapa tempat
dalam Al-quran terkadang di nyatakan lafazh,
ungkapan dan gaya bahasa yang berbeda-beda
tetapi maknanya tetap satu. Maka sebagiannya
serupa dengan sabagian yang lain dan maknanya
cocok dan serasi. tak ada kontradiktif di
dalamnya. Adapaun mengenai masalah-masalah
cabang agama yang bukan masalah pokok, ayatayatnya ada yg bersifat umum daan samar-samar
(mutasyabih) yng memberikan peluang kepada
para mujtahid yang ilmunya telah memadai
untuk mengembalikan kepada yang tegas
111

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

maksutnya
(muhkam)
dengan
cara
mengembalikan masalah cabang kepada masalah
pokok, dan yang bersifat parsial (juzi) kepada
yang bersifat universal (kulli). Sementara itu
beberapa
hati
memang
ada
yang
memperturutkan hawa nafsu, sehingga tersesat
dengan ayat-ayat yang mutasyabih.
B. Muhkam dan Mutasyabih Secara Umum
Menurut bahasa, muhkam berasal dari
kata-kata, hakamtu dabbah wa ahkamtu,
artinya saya menahan binatang itu. Kata al-hukm
berarti memutuskan antara dua hal atau perkara.
Maka, hakim adalah orang yang mencoba
kezhaliman dan memisahkan antara dua pihak
yang bersengketa, serta memisahkan antara yang
haq dengan yang bathil dan antara kejujuran dan
kebohongan.
Ihkam al-kalam berarti mengokohkan
perkataan dengan memisahkan berita yang benar
dari yang salah, dan urusan yang lurus dari yang
sesat. Jadi, kalam muhkam adalah perkataan yang
seperti itu sifatnya.
Dengan pengertian itulah allah menyifati
Al-quran bahwa seluruhnya adalah muhkam
sebagaimana di tegaskan dalam firmannya:
Alif Lam Ra. (inilah) sebuah kitab yang
ayat-ayatnya di muhkamkan (di kokohkan) dan
di jelaskan secara rinci yang di turunkan dari sisi
Yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu. (hud:1)
112

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

Alif Lam Ra. Inilah ayat-ayat Al-quran yang


mengandung hikmah. (Yunus:1)
Al-quran itu seluruhnya muhkam,
maksudnya yaitu seluruh kata-katanya kokoh,
fasih dan membedakan antara yang haq dan yang
bati, serta antara yang benar dengan yang dusta.
Inilah yang dimaksud dengan al-ihkam al-am
atau makna muhkam secara umum.
Tasyabuh al-kalam adalah kesamaan dan
kesesuaian perkataan, karena sebagiannya
membenarkan sebagian yang lain serta sesuai
pula maknanya. Inilah yang dimaksud dengan attasyabuh al-amm atau mutasyabih dalam arti
umum.
Masing masing muhkam dan mutasyabih
dengan pengertian scara mutlak atau umum
sebagaimana di atas ini tidak menafikan atau
kontradiksi satu dengan yang lain. Jika Al-Quran
memerintahkan suatu hal maka ia tidak akan
memerintahkan kebalikannya di tempat lain,
tetapi ia akan memerintahkannya pula atau yang
serupa dengannya.
C. Muhkam dan Mutasyabih Secara Khusus
Khusus dalam masalah definisi muhkam
dan mutasyabih, terjadi banyak perbedaan
pendapat. Yang terpenting di antaranya sebagai
berikut:
1. Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui
maksudnya, sedang mutasyabih hanyalah
diketahui maksudnya oleh Allah sendiri.
113

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

2. Muhkam adalah ayat yang mengandung satu


segi, sedang mutasyabih mengandung banyak
segi.
3. Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat
diketahui secara langsung, tanpa memerlukan
keterangan lain, sedang mutasyabih tidak
demikian; ia memerlukan penjelasan dengan
merujuk kepada ayat-ayat lain.
Para ulama memberikan contoh ayat-ayat
muhkam dalam Al-Quran dengan ayat-ayat
nasikh, tentang halal, haram, hudud, kewajiban,
janji dan ancaman. Sementara untuk ayat-ayat
mutasyabih mereka mencontohkan dengan ayatayat mansukh, dan asma Allah dan sifatsifatNya, antara lain:
Ar-rahman itu bersemayam di atas
Arsy.(thaha:5)
Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajahNya.(Al-Qashash:88)
Tangan Allah ada di atas tangan
mereka.(Al-Fath:10)
Dan Dia-lah yang berkuasa di atas hambahambaNya.(Al-AnAm:18)
Dan masih banyak lagi ayat lainnya.
Termasuk di dalamnya permulaan beberapa surat
yang dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah dan
hakekat Hari Kemudian serta pengetahuan
tentang Hari Kiamat (ilmu as-saah).

114

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

D. Perbedaan
Pendapat
dalam
Mengetahui
Mutasyabih
Sumber
perbedaan
pendapat
ini
berpangkal pada masalah waqaf (berhenti) dalam
ayat,Wama yalamu tawilahu illallah, warrasikhuna fililmi yaquluna amanna bihi.
Apakah kedudukan lafazh ini sebagai huruf
istinaf (permulaan) dan waqaf dilakukan pada
lafazh Wama yalamu tawilahu illa Allah,
ataukah ia mathuf? Sedang lafazh wa
yaquluna menjadi hal dan waqafnya pada lafazh
war-rasikhuna fil ilmi.
Pendapat pertama, mengatakan istinaf.
Pendapat didukung oleh sejumlah tokoh seperti
ubay bin kaab, ibnu masud, ibnu abbas,
sejumlah sahabat, tabiin dan lainnya. Mereka
beralasan, antara lain dengan keterangan yang
diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam MustadrakNya, bersumber dari ibnu Abbas, bahwa ia
membaca; wa ma yalamu tawilahu illa Allah,
wa ar-rasikhuna fililmi yaquluna amanna bihi.
Juga dengan qiraat Ibnu Masud, wa
innaa tawilahu indallahi wa ar-rasikhuna fi alilmi yaquluna amanna bihi, dan dengan ayat
itu sendiri yang menyatakan celaan terhadap
orang-orang yang mengikuti hal-hal yang
mutasyabih dan menyifatinya sebagai orangorang yang hatinya condong kepada kesesatan
dan berusaha menimbulkan fitnah.
115

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

Pendapat kedua, menyatakan bahwa


wawu sebagai huruf athaf. Ini dipilih oleh
segolongan ulama lain yang dipelopori oleh
mujahid.
Pendapat ini diplih juga oleh An-Nawawi.
Dalam syarah Muslim-nya ia menegaskan, inilah
pendapat yang paling shahih, karena tidak
mungkin Allah menyeru hamba-hambaNya
dengan sesuatu yang tidak dapat diketahui
maksudnya oleh mereka.
E. Kompromi Dua Pendapat dengan memahami
Makna Takwil
Dengan merujuk kepada makna takwil,
maka akan jelas bahwa antara kedua pendapat di
atas tidak terdapat pertentangan, karena lafazh
takwil digunakan untuk menunjukkan tiga
makna:
1. Memalingkan sebuah lafazh dari makna yang
kuat (rajih) kepada makna yang lemah
(marjuh) karena ada suatu dalil yang
menghendakinya. Inilah pengertian takwil
yang dimaksudkan oleh mayoritas ulama
mutaakhirin.
2. Takwil dengan makna tafsir (menerangkan,
menjelaskan), yaitu pembicaraan untuk
menafsirkan lafazh-lafazh maknanya dapat
dipahami.
3. Takwil adalah pembicaraan tentang substansi
(hakekat) suatu lafazh.maka, takwil tentang
zat dan sifat-sifat Allah ialah tentang hakekat
116

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

zat-Nya itu sendiri yang kudus dan hakekat


sifat-sifatNya. Dan takwil tentang Hari
Kemudin yang diberitakan Allah adalah
substansi yang ada pada Hari Kemudian itu
sendiri. Dengan makna inilah diartikan ucapan
Aisyah; rasulullah mengucapkan di dalam
ruku dan sujudnya, subhanaka Allhumma
rabbana wa bi hamdika Allahummaghfirli.
Bacaan ini sebagai takwil beliau terhadap Alquran, yakni firman allah, Fa sabbih bi
hamdi rabbika wastaghfirhu, innahu kana
tawwaba. (An-nashr:3).
Golongan yang berpendapat bahwa waqaf
di lakukan pada lafazh wama yalamu ta wilahu
illallah dan menjadikan war rasikhuna fil
ilmi, sebagai istinaf (permulaan kalimat)
mengatakan, takwil dalam ayat ini ialah takwil
dengan pengertian yang ketiga, yakni hakekat
yang di maksud dari sesuatu perkataan. Karena
itu hakekat zat allah,esensi-Nya,makna nama dan
sifat-Nya serta hakekat Hari Kemudian,semua itu
tidak ada yang mengetahuinya selain Allah
sendiri.
Sebaliknya, golongan yang mengatakan
waqaf pada lafazh war rasikhuna fil ilmi.
Dengan menjadikan wawu sebagai huruf athaf,
bukan istinaf, memaknai kata takwil tersebut
dengan makna kedua, yaitu tafsir, sebagaimana
di
kemukakan
Mujahid
ini
Ats-Tsauri
117

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

berkata,jika di katakan, ia mengetahui


tafsirnya.
Dengan pembahasan ini maka jelaslah
bahwa pada hakekatnya tidak ada pertentangan
antara dua pendapat tersebut. Dan masalahnya
ini hanya berkisar pada perbedaan arti takwil.
Dalam Al-quran terdapat lafazh-lafazh
mutasyabih yang maknannya serupa dengan
makna yang kita ketahui di dunia, akan tetapi
hakekatnya jauh berbeda. Misalnya asma allah
dan sifat-sifat-Nya dalam hal lafazh dan makna
kulli (universal)-nya, tetapi hakekat Khalik dan
sifat-sifat-Nya itu sama sekali tidak sama dengan
hakekat makhluk dan sifat-sifatNya.
Para ulama peneliti memahami betul
makna lafazh-lafazh tersebut dan dapat
membeda-bedakannya.
Namun
hakekatnya
sebenarnya merupakan takwil yang hanya di
ketahui Allah.Oleh karena itu ketika di nyatakan
kepada Malik dan ulama salaf lainnya tentang
makna istiwa telah kita ketahui, namun
mengenai bagaimana caranya (kaifiyat)nya, kita
tidak mengetahui nya. Iman kepadanya adalah
wajib dan menanyakannya adalah bidah rabiah
bin abdurrahman, guru malik, jauh sebelumnya
pernah berkata Arti istiwa sudah kita ketahui,
tetapi bagaimana adalah majhul. Hanya allah-lah
yang mengetahui apa sebenarnya. Rasul pun
hanya menyampaikan, sedang kita wajib
mengimaninya.
118

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

Jadi, jelaslah bahwa arti istiwa itu sendiri


sudah di ketahui tetapi caranya yang tidak di
ketahui.
Demikian juga halnya berita-berita dari
Allah tentang hari kemudian. Di dalamnya
terdapat lafazh-lafazh tang makna-maknanya
serupa dengan apa yang kita kenal, akan tetapi
hakekatnya tidaklah sama. Misalnya, di akhirat
terdapat mizan (timbangan), jannah (taman/
surga) dan nar (api/neraka). Dan di dalam taman
itu terdapat sungai-sungai air susu yang tidak
berubah rasanya, sungai-sungai khamar yang
lezat rasanya bagi para peminumnya dan sungaisungai madu yang di saring . (Muhammad:15).
di dalamnya ada tahta-tahta yang di tinggalkan,
dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya) dan
bantal-bantal sandaran yang tersusun dan
permadani-permadani yang terhampar.(AlGhasyiah: 13-16)
Berita-berita itu harus kita yakini dan
imani, di samping juga harus di yakini bahwa
yang ghaib itu lebih besar daripada yang nyata,
dan segala apa yang ada di akhirat adalah
berbeda dengan apa yang ada di dunia. Namun
hakekat perbedaan ini tidak kita ketahui karena
termasuk takwil yang hanya di ketahui oleh
Allah.
F. Takwil yang Tercela
Takwil yang tercela adalah takwil dengan
pengertian, memalingkan lafazh dari makna rajih
119

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

kepada makna marjuh karena ada dalil yang


menyertainya. Takwil semacam ini banyak
dipergunakan oleh sebagian besar ulama
mutaakhirin
(ulama
belakangan)
secara
berlebihan,
dengan
tujuan
untuk
lebih
memahasucikan Allah Subhanahu Wa Taala dari
keserupaan-Nya dengan makhluk seperti yang
mereka sangka.
Maksud
mereka
adalah
untuk
menghindarkan penetapan tangan bagi Khaliq
mengingat makhluk pun memiliki tangan. Oleh
karena lafazh al-yad ini bagi mereka
menimbulkan kekaburan maka di takwilkanlah
dengan
al-qudrah.hal
ini
mengandung
kontradiktif, karena memaksa mereka untuk
menetapkan sesuatu makna yang serupa dengan
makna mereka sangka harus ditiadakan,
mengingat makhluk pun mempunyai kekuasaan,
pula. Apabila qudrah yang mereka tetapkan itu
betul dan mungkin, maka penetapan tangan bagi
Allah pun tidaklah salah dan mungkin.
Sebaliknya, jika penetapan tangan
dianggap
batil
dan
terlarang
karena
menimbulkan keserupaan menurut dugaan
mereka, maka penetapan kekuasaan juga batil
dan terlarang. Dengan demikian, maka tidak
dapat dikatakan bahwa lafazh ini dui takwilkan,
dalam arti di palingkan dari makna yang rajih
kepada makna yang marjuh.
120

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

Celaan terhadap para penakwil yang


datang dari para ulama salaf dan lainnya itu di
tujukan kepada mereka yang menakwilkan
lafazh-lafazh yang kabur maknanya bagi mereka,
tetapi tidak menurut takwil yang sebenarnya,
sekalipun yang demikian tidak kabur bagi orang
lain.

121

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabil

122

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

LAFADZ
YANG UMUM DAN YANG KHUSUS
A. Pendahuluan
Sitem tasyri dan hukum keagamaan
mempunyai sasaran yang jelas. Terkadang suatu
hukum mengandung sejumlahkarakteristik yang
menjadikanya bersifat umum, melipuut setiap
individu atau relevan untuk semua keadaan. Dan
terkadang pula sasaran itu terbatas dan bersifat
khusus. Maka penjelasannya hukum yang bersifat
umum, biasa nya kemudian di ikuti ucapan lain
yang menjelaskan batasanya atau mempersempit
cakupanya.
B. Pengertian Am dan bentuk umum
Am adalah lafadz yang mencakup segala
apa yang pantas baginya tanpa ada pembatasan.
Para ulama berbeda pendapan tentang makna
am, Sebagian ulama berpendapat,di
makna
umum dan di pergunakan secara majas pada
selainya.
untuk mendukung pendapatx ini
mereka mengajukan sebuah argumen dari dalil123

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

dalil tekstual (nashshiyah), ijma dan konstektual


(maknawiyah).
a. Di antara dalil-dalil nya ialah firman Allah
yang artinya:
Dan Nuh berseru pada tuhannya; Wahai Tuhan
ku, sesungguhnya anak ku termasuk keluarga ku ,
dan sesungguhnya janjimu itulah yang benar .
Dan engkau adalah hakim paling adil .Allah
berfirman ;Hai Nuh sesungguhnya ia tidak
termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan di
selamatkan). (Hud : 45-46).
Dalam ayat ini Allah membenarkan apa
yang di katakan Nuh , karena itu Allah
menjawab dengan sesuatu perkataan yang
menunjukkan bahwa anaknya itu tidak
termasuk
keluarga.
Seandainya
idhafah
(penyandaran). Kata Keluarga kepada
Nuh tidak menunjukkan makna umum ,
maka jawaban Allah tersebut tidak benar.
b. Di antara dalil-dalil ijmaiyah, yakni yang
menjadi ijma sahabat bahwa firman Allah
SWT yang artinya :
seorang dari keduanya seratus kali deraan.
(An-ur:2) juga Ayat , Dan laki-laki yang mencuri
dan perempuan yang mencuri ,potonglah tangan
keduanya. (Al-Maaidah: 38) . dan lain
sebagainya , adalah bermakna umum , berlaku
dan dapat di terapkan bagi setiap orang yang
berzina dan mencuri .
124

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

c. Di antara dalil-dalil manawiyah ialah bahwa


makna umum itu dapat di fahami dari
penggunaan lafazh-lafazh syarat , istifham
(pertanyaan) dan maushul. Tanpa lafazh-lafazh
ini apa yang di maksud tidak akanterlintas
dalam benak untuk memahaminya.
Kita dapat menangkap adanya perbedaan
antara kata kull (seluruh) dengan
badh (sebagian). Seandainya kull tudak
menunjukkan arti umum , tentulah perbedaan
itu tidak terwujud.
Atas dasar ini maka makna umum itu
mempunyai bentuk-bentuk (shigat) tertentu
yang menunjukkan, di antaranya:
1) Kull , seperti ayat (setiap yang memiliki
jiwa pastiakan merasakan mati) dalam Al
Imran:185 dan firman Allah dalam Allahu
khaliqu kulli syai, (Allah adalah pencipta
segala sesuatu) (Al-anam: 102). Yang
semakna dengan kull adalah kata
jami
2) Lafazh-lafazh yang di dengan Al yang
bukan Al-ahdiyah . Misalnya ,dalam ayat
Walashri innal insane lafi khurs(Al-ashr:1-2)
, Maksudnya , setiap manusia ,berdasarkan
ayat selanjutnya (Al-ashr:3) , juga seperti
ayat Illalladziina amanu (Al-baqarah:275)
dan Waahallallahu al baI. (Al-maaidah
:125).
125

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

3) Isim nakirah dalam konteks nafi dan nahi,


seperti dalam, Fala rafatsa wala fusuqa wala
jidala fi al-haj (al-baqarah 2: 197), Fala
taqullahuma uffin. (al-isra : 23 ). Atau
dalam konteks syarat, sepeti, wala in
ahadun minal-musyrikina (at-taubah :6)
4) Alladzi dan allati serta cabang-cabangnya.
Misalnya
dalam
ayat
al-ahqaf:107)
maksudnya, setiap orang yang mengatakan
seperti itu, berdasarkan firman sesudahnya
dalam bentuk jamak, yaitu dalam ulaaikal
ladzina haqqa alaihim al-qaul (al-ahqaf:18)
atau walladzina yatiyanaha minkum fa
adzuhuma ( An-niisaa: 16), dan ayat
wallaI
ya
isna
minal
mahadi
min..hamlahunn (at-thalaq:4)
5) Semua isim syarat. Misalnya dalam ayat
faman hajjal baita awitamara fala junahaalaihi
an yaththawwafa bihima (al-baqarah: 158).
Ini menunjukkan umum bagi semua yang
berakal.
6) Ismu al-jins (kata jenis) yang didasarkan pada
isim marifat. Misalnya dalam falyahdzarilladzina yukhalifuna an amrih (An-nur:63).
Maksudnya, segala perintah Allah. Dan
juga dalam yushikiumullahu fi auladikum
(An-nisaa : 11)
C. Macam-macam lafazh umum
Lafazh yang bersifat umum terbagi tiga
macam, yaitu:
126

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

Pertama: umum yang tetap dalam


keumumannya (albaqi ala umumihi). Al-qadhi
jalaludin al-balqini mengatakan ( umum yang
seperti ini jarang ditemukan, sebab tidak ada
tidak ada satu pun lafadz am (umum) kecuali
didalam takhsis (pengkhususan). Tetapi Azarkasyi dalam al-burhan mengemukakan,
umum yang demikian banyak terdapat dalam Alquran.
Kedua: umum teteapi yang dimaksud
adalah khusus (al-am al-murad bihi al-khusushh).
seperti firman Allah dalam alladzina qala
lahumunnasu innan-nasa qad jamau lakum
kakhsyakuhum (Ali-imran : 173) yang dimaksu
denga An-nas yang petama adala nuaim bin
masud, dan An-nas yang kedua adalah abu
sufyan kedua lafasz tersebut tidak dimaksudkan
untuk makna umum. Kesimpulan ini ini
ditunjukkan lanjutan ayat sesudahnya (innama
dzalikum asy-syaithan),sebab isyarah dengan
(dzalikum) hanya menunjuk pada satu orang
tertentu. Seandainya yang dimaksud adalah
banyak orang,jamak, tentulah akan dikatakan
(innama ulaikum asy-syaithan).
Ketiga; umum yang dikhususkan (al-am almakhsush). Umum seperti ini banyak ditemukan
dalan Al-quran sebagaiman akan diemukan
nanti. diantaranya adalah ayat wa kulu wasyrabu
hatta yatabayyana lakumul khaitul abyadhu mina
khatil aswadi minal fajr (Al-baqarah ; 187), dan
127

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

walillahialan-nasi hijjul baiti manisthathaa ilaihi


sabila(ali-imran:97)
D. Perbedaan antara lafadh umum yang bermakna
khusus denga lafadh umum yang dikhususkan
Perbedaan antara lafadh umum yang
bermakna khusus (al-am al-murad bihil khushush)
dengan lafadh umum yang dikhususkan dapat
dilihat dari berbagai sisi, yang terpenting antara
lain:
1. Yang pertama (al-am al-murad bihil khushush),
tidak dimaksudkan untuk mencakup semuan
satuan atau individu yang dicakup sejak
semula, baik dari cakupan makna lafadh
maupun dari hukumnya. Lafadh tersebut
memang
mempunyai
individu-individu
namun ia digunaka hanya satu atau lebih
individu. Sedang yang kedua dimaksudkan
umtuk menunjukkan makna umum, meliputi
semua individunya, dari segi lafadh,tidak dari
segi hukumnya.
2. Yang pertama (al-am al-murad bihil khushush)
dapat dipastikan mengandung majas, karena ia
telah beralih dari mkana aslinya dan
dipergunakan
untuk
sebagian
satuansatuannya saja. Sedang yang kedua, menurut
pendapat yang lebih shahih,adalah hakekat.
3. Qorinah (ciri) bagi yang pertama pada
umumnya bersifat rasional (aqliyah) dan tidak
pernah terpisah, sedan ciri bagi yang kedua
128

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

bersifat hanya lafzhiyah dan terkadang


terpisah.
E. Pengertian Khas dan Mukhashshish
Khas (khusus) adalah lawan kata am,
karena ia tidak menghabiskan semua apa yang
pantas baginya tanpa pembatasan . Takhshish
adalah mengeluarkan sebagian apa yang di cakup
lafazh am. Dan mukhashish (yang mengkhususkan) terkadang muttasil (antara am dengan
mukhashish tidak di pisah) oleh sesuatu hal ,
tetapi juga ada kalanya munfasil ,kebalikan dari
muttasil.
Muttasil ada lima macam:
1. Istishna (pengecualian) , seperti dalam
Walladzina yarmunal muhshanati tsumma lam
yatu bi arbaati syuhadaaa fajliduhum tsamanina
jalbatan wala taqbalu lahum syahadatan abada, wa
ulaahumul fasiqun , illaladzina tabu (An-nur:
4-5) .
2. Menjadi
sifat,
misalnya
dalam
Wa
rabbaibukumul-lati
fi
hujurikum
min
nisaaikumul-ati dakhaltum bihinna (An-nisa :
23), lafazh Allati dakhaltum bihinna adalah
sifat bagi lafazh nisaikum .
3. Menjadi syarat, misalnya dalam Kutiba
alaikum idza hadhara ahada kumul mautu In taraka
khairan al- washiyyatulil walidaini wal aqrabina bil
maruf haqqan alal muttaqin (Al-Baqarah: 180).
Lafazh In taraka khairan yakni meninggalkan
harta adalah syarat dalam wasiat.
129

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

4. Sebagai ghayah (batas sesuatu), seperti dalam


wala tahliku ruusakum hatta yablughal hadyu
mahillah (Al-baqarah: 196 dan 222) .
5. Sebagai badal badh min kull (pengganti
sebagian dari keseluruhan) . Misalnya dalam "
Wa lillahi alan nasi hijjul baiti manistathaa
adalah badal dari An nas , maka kewajiban
haji hanya khusus bagi mereka yang mampu .
Adapun mukhashish munfashil adalah
mukhashish yang terdapat di tempat lain,baik ayat
,hadist ,ijma, atau pun qiyas. Contoh yang di
takhsish leh Al-quran ialah Wal muthallakaqatu
yatarabbshnha bi anfushina tsalatsata quru (Albaqarah : 228)
Beberapa dalil yang di takhsish oleh hadits
ialah seperti Wa ahallallahul baia wa harramar
riba (Al-baqarah : 275) . Ayat ini di takhsish oleh
jual beli yang fasid sebagaimana dalam sejumlah
hadits. Antara lain di sebutkan dalam kitab Shahih
Al-bukhari dari Ibnu Umar ,ia berkata , Rasulullah
shallalllahualaihi wasallam melarang mengambil
upah dari air mani kuda jantan .
Contoh am yang di takhsish oleh ijma
adalah ayat tentang warisan , seperti
Yushikumullahu fi auladikum lidz-dzakari mitslu
hazhzil untnsayain (An-nisaa : 11). Berdasarkan
ijma , budak tidak mendapat warisan kaarena
sifat budak merupakan faktor penghalang hak
waris .
130

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

Sedangkan yang di takhsish oleh qiyas


adalah ayat tentang zina dalam Az zani yatu waz
zani fajlidu kulla wahidin minhuma miata jaldah
(An-nur : 2) . budak laki-laki di takhsiskan dengan
cara di qiyaskan kepada budak perempuan .
pentakhsisannya di tegaskan dalam
Fa
alaihinna nishfu ma alal mushanati miinal adzab
(An-nisaa : 25).
F. Mengkhususkan
(Takhshsish)
As-sunnah
dengan Al-Quran
Terkadang ayat Al quran mengkhusukan
keumuman
As-sunnah
.
para
ulama
mengemukakan contoh dengan hadits riwayat
Abu Waqid Al-Laitsi Radhiyallahu Anhu ,kayanya ,
Nabi berkata,
bagian apa saja yang di potong dari hewan
ternak hidup maka ia adalah bangkai
Hadist ini di takhsish oleh ayat : Dan
(dijadikan nya pula) dari bulu domba ,bulu unta
dan bulu kambimg,alat-alat rumah tangga dan
perhiasan(yang
kamu
pakai)
sampai
waktu(tertentu).(An-nahl:80)
G. Boleh beradil dengan dalil yang umum sesudah
ia ditakhshish
Para ulama berbeda pendapat tentang sahtidaknya berhujjah dengan lafazh yang umum
sesudah ia ditakhshish. mereka mengajukan
argumentasi berupa ijma,dan dalil aqli untuk
menunjukkan hal itu.
131

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

1. Diantara dalil ijma ialah bahwa


Fatimah
Radilaalahuanha menuntut kepada abu bakar
radilaahuanhu hak waris dari ayahnya
berdasarkan keumuman ayat, yang artinya ,
Allah mewasiatkan kalian (untuk memberikaan
warisan) kepada anak-anak kalian,(dimana) anak
laki-laki mendapatkan dua bagian anak permpuan
(An-Nisa:11)
Padahal ayat ini telah ditakhshish dengan
orang kafir dan orang yang membunuh
(maksudnya anak yang kafir atau membunuh
pewarisnya tidak berhak mendapatkan
warisan-Edt).
2. Di antara dalil aqli ialah bahwa mennurut
ijma ulama lafazh umum sebelum di takhsish
menjadi hujjah dengan semua bagian yang di
kandungnya .
H. Yang tercakup dalam dalil yang khusus
Para ulama berbeda pendapat tentang
khithab (seruan) yang di tunjukan secara khusus
kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam ,seperti
dhalil yang artinya ,
wahai nabi takutlah kepada Allah dan
jangan lah engkau menaati orang-orang kafir dan
munafik. (Al-ahzab : 1)
1. Segolongan ulama
berpendapat ,ini
mencakupseluruh umat karena Rasulullah
adalah qudwah (panutan) bagi mereka.
2. Golongan lain berpendapat bahwa ini tidak
mencakup mereka, karena lafazh nya
132

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

menunjukkan kekhususan nya bagi Rasulullah


saja.
Sementara itu ulama yang lain merincikan,
katanya ;jika di sertai kata qul (katakanlah)
maka ia tidak mencakup Rasul, karena secara
dhohir khitab tersebut untuk di sampai kan
(kepada umatnya).
Dan jika tidak di sertai dengan qul , maka
ia juga mencakup Rasulullah hu alaihi wasallam .
Demikian juga terjadi silang pendapat
tentang khithab yang di tujukan kepada
manusia atau kepada orang-orang mukmin
misalnya dhalil ini yang artinya:
Wahai sekalian manusia ! sesungguhnya kami
telah menciptakan kalian dari pria dan wanita , dan
kami jadikan kalian ber bangsa-bangsa dan bersukusuku agar kalian saling mengenal (Al-hujurat : 13)
Menurut pendapat yang kuat khitab jenis
pertama , juga mencakup orang mukmin, orang
kafir, hamba sahaya, dan perempuan. adapun
khitan jenis kedua hanya mencakup dua golongan
terakhir di samping orang mukmin laki-laki
tentunya, sebab hukum itu di bebankan kepada
semua orang mukmin.
Jika khitab mencakup biasa laki-laki
(mudzakar) dan perempuan (muannas) , maka
biasanya khitab itu menggunakan bentuk
mudzakar. dan kebanyakan khitab Allah dalam Alquran memang dengan bentyk lafazh mudzakar,
tetapi perempuan pun termasuk di dalamnya.
133

Lafadz yang Umum dan yang Khusus

134

Nasikh dan Mansukh

NASIKH DAN MANSUKH


}
A. Pengertian Naskh dan syarat- syaratnya
Naskh menurut bahasa di pergunakan
untuk arti izalah (menghilangkan). Di dalam AlQuran di katakan:
Sesungguhnya kami menyuruh untuk
menasakh apa dahulu kalian kerjakan. (AlJatsiyah:
29).
Maksudnya,
kami
(Allah)
memindahkan amal perbuatan ke dalam
lembaran- lembaran catatan amal.
Nasakh menurut istilah nasakh ialah
mengangkat (menghapuskan) hukum syara
dengan dalil hukum syara yang lain. Segala
sesuatu hukum asalnya boleh.
Kata Nasikh (yang menghapus) maksudnya
adalah Allah (Yang menghapus hukum itu).
Mansukh adalah hukum yang di angkat
atau di hapuskan. Maka ayat- ayat mawarits atau
hukum yang terkandung di dalamnya, misalnya
adalah menghapuskan (Nasikh) hukum wasiat
kepada kedua orang tua atau kerabat
135

Nasikh dan Mansukh

sebagaimana akan dijelaskan. Di dalam nasakh


diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Hukum yang Mansukh adalah hukum syara.
2. Dalil penghapusan hukum tersebut adalah
khibah syari yang datang lebih kemudian dari
khitbah yamg hukumnya di mannsukh.
3. Khitbah yang di hapuskan aau di angkat
hukumnya tidak di batasi dengan waktu, sebab
jika tidak.
B. Beberapa Cara untuk Mengetahui Nasikh dan
Mansukh
1. Keterangan tegas dari Nabi atau sahabat
2. Ijma ummat bahwa ayat ini Nasikh dan yang
itu Mansukh
3. Mengetahui mana yang terlebih dahulu dan
mana yang belakangan, berdasarkan sejarah.
Nasikh tidak dapat di tetapkan berdasarkan
para ijtihad, pendapat mufassir atau kontradiksi
dalil- dalil secara lahiriyah, atau terlambatnya ke
islaman salah seorang dari dua perawi.
C. Jenis-jenis Nasakh
Nasakh ada 4 bagian:
1. Nasakh Al Quran dengan Al Quran
2. Nasakh Al Quran dengan sunnah. Hukum
yang didasarkan pada dalil ayat Al Quran
dinasakh dengan dalil sunnah. Nasakh jenis
ini menurut Syaikh Manna terbagi dua,
yaitu:
a. Nasakh Al Quran dengan hadits ahad
136

Nasikh dan Mansukh

Jumhur berpendapat, Quran tidak


boleh dinasakh oleh hadis ahad, sebab Al
Quran
adalah
mutawatir
dan
menunjukkan yakin, sedang hadis ahad
zanni, bersifat dugaan, di samping tidak
sah pula menghapus sesuatu yang malum
(jelas diketahui) dengan yang maznun
(diduga)
b. Nasakh Al Quran dengan hadis
mutawatir
Nasakh jenis ini dibolehkan
oleh Malik, Abu Hanifah dan Ahmad
dalam satu riwayat, sebab masing-masing
keduanya adalah wahyu.Dasarnya adalah
firman Allah dalam surah an Najm ayat 34.
Artinya
Dan
tiadalah
yang
diucapkannya itu menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya). Serta Surah An Nahl ayat
44. Artinya Dan kami turunkan
kepadamu
Quran
agar
kamu
menerangkan kepada umat manusia apa
yang telah diturunkan kepada mereka.
Dan nasakh itu sendiri merupakan salah
satu penjelasan.
Sementara
itu
Asy
SyafiI,
Zhahiriyah dan Ahmad dalam riwayatnya
yang lain menolak nasakh seperti ini,
137

Nasikh dan Mansukh

berdasarkan firman Allah dalam surah Al


Baqarah ayat 106. Terjemahan:
Apa saja ayat
yang kami
nasakhan, atau kami jadikan (manusia)
lupa kepadanya, kami datangkan yang
lebih baik atau yang sebanding
denganya, sedang hadits menurut ulamaulama tersebut tidak lebih dari atau
sebanding dengan Al Quran. Jadi jumhur
ulama sepakat tidak ada nasakh Al Quran
dengan sunnah, karena Al Quran lebih
tinggi dari sunnah, jadi tidak mungkin
dalil yang lebih tinggi dihapus oleh dalil
yang lebih rendah.
Pada Surah Al Baqarah ayat 106
telah disebutkan bahwa dalil yang
menasakh yaitu lebih baik dalam arti kuat
dari pada dalil yang dinasakh, atau
setidaknya sama.
3. Nasakh Sunnah dengan Al- Quran.
4. Nasakh Sunnah dengan sunnah.
D. Macam- macam Nasakh dalam Al- Quran
Nasakh dalam Al- Quran ada tiga macam:
1. Nasakh hukum sedang tilawahnya tetap
Misalnya hukum iddah bagi isteri yang
ditinggal mati suaminya dalam surah Al
Baqarah ayat 240 ditetapkan iddahnya selama
satu tahun, kemudian dinasakh menjadi
hanya empat bulan sepuluh hari seperti
ditetapkan dalam Surah Al Baqarah ayat 234
138

Nasikh dan Mansukh

(ayat 240 turun lebih dahulu daripada ayat


234). Lalu timbul pertanyaan. Apakah hikmah
penghapusan hukum sedang tilawahnya
tetap? Jawabannya ada dua, yaitu (1) Al
Quran di samping dibaca untuk diketahui
makna dan diamalkan hukumnya, juga Al
Quran sebagai Kalamullah yang membacanya
mendapat pahala.(2) Pada umumnya nasakh
itu untuk meringankan, sehingga dengan
tetapnya tilawah dan terus dibaca untuk
mengingatkan akan nikmat dihapuskannya
kesulitan (masyaqqah) dari hukum yang
dihapus.
2. Nasakh Hukum dan Tilawah
Dalam hal ini baik hukum maupun
tilawahnya dihapus sehingga ayatnya maupun
hukumnya sudah tidak ada lagi, dan diganti
dengan hukum baru pada ayat AlQuran.
Bentuk ini menurut sebagian besar ulama
tidak terdapat dalam Al Quran, karena ayatayat Al Quran sejak diturunkan kepada Nabi
Muhammad Saw, hingga wafat beliau, bahkan
hingga sekarang, tidak ada yang berubah atau
berkurang. Nasakh hukum dan tilawah hanya
ada pada kitab-kitab suci terdahulu, yaitu
antar kitab-kitab Zabur, Taurat, dan Injil yang
telah dinasakh Al Quran.
Meskipun begitu, ada sebagian ulama
yang berpendapat bahwa nasakh hukum dan
tilawahnya ini ada juga dalam Al Quran
139

Nasikh dan Mansukh

seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dan


beberapa perawi hadits lain, dari Aisyah, ia
berkata: Diantara yang diturunkan kepada
beliau adalah sepuluh susuan yang diketahui
itu menjadikan muhrim(haram dinikahi),
kemudian dinasakh oleh lima susuan yang
diketahui. Maka ketika Rasulullah wafat lima
susuan ini termasuk ayat Al Quran yang
baca. Kata-kata Aisyah lima susuan ini
termasuk ayat Quran yang dibaca, pada
lahirnya menunjukkan bahwa tilawahnya
masih tetap, tetapi tidak demikian halnya,
karena ia tidak terdapat dalam mushaf
Usmani. Kesimpulan demikian dijawab,
bahwa yang dimaksud dengan perkataan
Aisyah tersebut ialah ketika beliau menjelang
wafat.
Tilawahnya
itu
telah
dinasakh
(dihapuskan) tetapi penghapusan ini tidak
sampai kepada semua orang kecuali sesudah
Rasulullah wafat. Oleh karena itu ketika beliau
wafat,
sebagian
orang
masih
tetap
membacanya.
3. Nasakh Tilawah Sedang Hukumnya Tetap
Menurut sebagian besar ulama bentuk
ini juga tidak terdapat dalam Al Quran, tetapi
terdapat antar kitab-kitab suci terdahulu.
Dalam fiqih ada istilah yang disebutSyarun
man qablanayaitu syariat orang-orang
sebelum kita. Hukum syariat itu masih kita
140

Nasikh dan Mansukh

lakukan hingga sekarang, seperti kewajiban


khitan bagi anak laki-laki sebelum usia balig,
tetapi ayat yang mewajibkan khitan pada
kitab-kitab suci terdahulu sudah tidak perlu
kita baca lagi, tetapi ada juga sebagian ulama
yang berpendapat bahwa nasakh tilawah
tetapi hukumnya tidak dinasakh ada juga
dalam Al Quran, yaitu tentang hukum rajam,
ayat yang telah dinasakh dan kini tidak
terdapat dalam Al Quran, yaitu:
Orang tua laki-laki dan perempuan
apabila keduanya berzina maka hendaknya
dirajam kedua orang tersebut dengan pasti
sebagai siksaan dari Allah, dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.
E. Hikmah Nasakh
1. Memelihara kemaslahatan hamba.
2. Perkembangan
tasyri
menuu
tingkat
sempurna sesuai dengan perkembangan
dakwah dan perkembangan kondisi umat
manusia.
3. Cobaan dan ujian bagi seorang mukalaf
apakah mengikutinya atau tidak.
4. Menghendaki kebaikan dan kemudahan bagi
umat.
F. Nasakh dengan Pengganti dan tanpa Pengganti
Nasakh itu ada kalanya disertai dengan
badal (pengganti) dan ada pula yang tanpa badal.
Nasakh dengan badal terkadang badalnya itu
141

Nasikh dan Mansukh

lebih ringan, sebanding dan terkadang pula lebih


berat.
G. Syubhat- syubhat dalam Penentuan Nasakh
Nasikh dan Mansukh mempunyai contoh
cukup banyak, namun sikap paa ulama dalam
hal ini berbeda- beda, ada yang berlebih- lebihan
dan ada yang berhati- hati.
H. Contoh- contoh Nasakh
As-Suyuti menyebutkan beberapa contoh
ayat nasakh:
a. Firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah/ 2 :184.
Terjemahan: Dan wajib bagi mereka
yang kuat menjalankan puasa (jika mereka
tidak puasa) membayar fidyah.
Ayat ini dinasakh oleh:
Firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah/
2 :185
Maka
barang
siapa
yang
menyaksikan bulan Ramadhan, hendaklah
ia berpuasa..
Hal ini berdasarkan keterangan dalam
as-Sahihain, berasal dari Salamah bin Akwa,
ketika turun Surah Al-Baqarah ayat 184,
maka orang yang ingin tidak berpuasa, ia
membayar fidyah, sehingga turunlah ayat
sesudahnya yang menasakhkannya.
Ibn Abbas berpendapat, ayat pertama
adalah muhkam, tidak Mansukh. Bukhari
meriwayatkan dari Ata, bahwa ia
mendengar Ibn Abbas membaca: Dan bagi
142

Nasikh dan Mansukh

mereka yang kuat menjalankannya (jika


mereka tidak berpuasa) membayar fidyah,
memberi makan seorang miskin. Ibn Abbas
mengatakan, ayat ini tidak diMansukh,
tetapi tetap berlaku bagi mereka yang telah
lanjut usia yang tidak lagi sanggup
berpuasa.Mereka boleh tidak berpuasa
dengan memberikan makanan kepada seorang
miskin pada setiap harinya. Dengan demikian,
maka
makna
yatikuwnahu
bukanlah
yastatiyuwnahu (sanggup menjalankanya).
Tetapi maknanya ialah mereka sanggup
menjalankannya dengan sangat susah payah
dan memaksakan diri.
b. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 240
Dan orang-orang yang akan meninggal
dunia diantaramu dan meninggalkan isteri,
hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya,
(yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya
dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).
Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri),
maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris
dari yang meninggal) membiarkan mereka
berbuat maruf terhadap diri mereka. Dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS.Al-Baqarah 2:240)
Dinaskh dengan ayat Al-Baqarah : 234
Artinya: Orang-orang yang meninggal dunia
di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri
(hendaklah para isteri itu) menangguhkan
143

Nasikh dan Mansukh

dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.


Kemudian apabila telah habis masa iddahnya,
maka tiada dosa bagimu (para wali)
membiarkan mereka berbuat terhadap diri
mereka
menurut
yang
patut.
Allah
mengetahui apa yang kamu perbuat. ( QS. AlBaqarah /2:234).

144

Muthlaq dan Muqayyad

MUTHLAQ DAN MUQAYYAD


}
A. Pengertian
Mutlaq adalah lafadz yang menunjukkan
satu hakikat (dalam suatu kelompok) tanpa
sesuatu qayid (pembatas). Jadi ia hanya menunjuk
kepada satu dzat tanpa ditentukan (yang mana)
daari (kelompok) tersebut.
Mutlaq menurut ushul fiqih adalah
suatu lafadz
yang
menunjukan
pada
makna/pengertian tertentu tanpa dibatasi oleh
lafadz lainnya. Misalnya lafad raqabah (seorang
budak) dalam ayat: fatahriru raqabatin. Di sini
mencakup memerdekakan manusia yang di
miliiki, yaitu budak apapun jenisnya, baik dari
kalangan muslim atrau kafir.
1. Menurut Khudhari Beik, Mutlaq ialah lafadz
yang memberi petunjuk terhadap satu atau
beberapa satuan yang mencakup tanpa ikatan
yang terpisah secara lafdzi.
2. Menurut Abu Zahrah, Mutlaq ialah lafadz yang
memberi petunjuk terhadap maudhunya tanpa
memandang kepada satu, banyak, atau
145

Muthlaq dan Muqayyad

sifatnya, tetapi memberi petunjuk kepada


hakikat sesuatu menurut apa adanya.
3. Menurut Ibnu Subki memberikan definisi
bahwa Mutlaq adalah lafadz yang memberi
petunjuk kepada hakikat sesuatu tanpa ikatan
apa-apa.
Adapun Muqayyad adalah lafadz yang
menunjukkan suatu hakikat
dengan qayyid
(batasan), seperti kata- kata raqabah(budak)
yang dibatasi dengan iman dalam ayat,
Maka
hendaklah
pembunuh
itu
memerdekakan budak yang beriman
(An- Nisa: 92)
B. ketentuan Mutlaq dan muqayyad
Apabila
lafadz
itu
Mutlaq,
maka
mengandung ketentuan secara Mutlaq (tidak di
batasi). Dan apabila lafadz itu muqayyad, maka
mengandung arti ketentuan secara muqayyad
(dibatasi).
Maksudnya lafadz Mutlaq harus diartikan
secara Mutlaq dan lafadz muqayyad harus
diartikan secara muqayyad pula dan tidak boleh
dicampur adukkan satu dengan lainnya. Maka
dengan sendirinya hukumnya pun harus berbeda.
C. Pembagian Muthlaq, Muqayyad dan Hukumnya
Apabila nash hukum datang dengan
bentuk Mutlaq dan pada sisi yang lain dengan
bentuk muqayyad, maka menurut ulama ushul
ada empat bentuk di dalamnya, yaitu:
146

Muthlaq dan Muqayyad

1. Jika
sebab
dan
hukum
yang
ada
dalam Mutlaq sama dengan sebab dan hukum
yang ada dalam muqayyad,maka salah satunya
harus diikutkan pada yang lain, yakni yang
muqayyad. Seperti puasa untuk kaffarah
sumpah Di ungkapkan secara Mutlaq, yang di
terangkan dalam surat Al- maidah: 89.
Terjemahan:
Barangsiapa yang tidak sanggup melakukan yang
demikian, maka kaffarahnya puasa selama 3 hari,
yang demikian itu adalah kaffarah sumpahsumpahmu bila kamu bersumpah, lalu kamu
langgar..
Puasa itu muqayyad atau di batasi dengan
at- tatabu yaitu berturut- turut, seperti
dalam qiraah Ibnu Masud:
Maka kaffarahnya adalah berpuasa selama 3
hari berturut- turut.
Disini, pengertian lafadz yang Mutlaq ditarik
kepada yang muqayyad, karena sebab yang
satu (dalam hal ini kafarah sumpah) tidak
akan menghendaki dua hal yang bertentangan
(yaitu puasa secara Mutlaq dan puasa yang
dilakukan berturut-turut).
2. Jika sebab yang ada dalam Mutlaq dan
muqayyad sama tetapi hukum keduanya
berbeda, maka dalam hal ini yang Mutlaq tidak
bisa ditarik kepada muqayyad.
Contoh:
a. Ayat Mutlaq
147

Muthlaq dan Muqayyad

Surat al-Maidah ayat 6 tentang


tayammum, yaitu:
Maka bertayammumlah dengan tanah
yang baik (bersih); sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah
Lafadz yad (tangan) dalam ayat di
atas berbentuk Mutlaq karena tidak ada
lafadz
lain
yang
mengikat
lafadz yad (tangan). Dengan demikian
kesimpulan dari ayat ini ialah keharusan
menyapukan tanah ke muka dan kedua
tangan, baik itu hingga pergelangan tangan
atau sampai siku, tidak ada masalah.
Kecuali jika di sana ada dalil lain seperti
hadits yang menerangkan tata cara
tayammum oleh Nabi yang memberikan
contoh mengusap tangan hanya sampai
pergelangan tangan.
b. Ayat Muqayyad:
Surat al-Maidah ayat 6 tentang
wudhu, yaitu:
Hai orang-orang yang beriman, apabila
kamu hendak mengerjakan shalat, Maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai
dengan siku
Lafadz yad (tangan) dalam ayat ini
berbentuk muqayyad karena ada lafadz
yang
mengikatnya
yaitu ilal
marafiqi (sampai dengan siku). Maka
148

Muthlaq dan Muqayyad

berdasarkan ayat tersebut mencuci tangan


harus sampai siku.
Sebab dari ayat di atas adalah sama
dengan ayat Mutlaq yang sebelumnya yaitu
keharusan bersuci untuk mendirikan
shalat, akan tetapi hukumnya berbeda.
Ayat Mutlaq sebelumnya menerangkan
keharusan menyapu dengan tanah, sedang
ayat muqayyad menerangkan
keharusan
mencuci dengan air. Maka ketentuan
hukum yang ada pada ayat Mutlaqtidak
bisa
ditarik
kepada
yang muqayyad.
Artinya, ketentuan menyapu tangan
dengan tanah tidak bisa dipahami sampai
siku, sebagaimana ketentuan wudhu yang
mengharuskan membasuh tangan sampai
siku.
Ada yang berpendapat, lafadz yang
Mutlaq tidak di bawa kepada yang
muqayyad karena berlainan hukumnya.
Namun Al- Ghozali menukil dari mayoritas
ulama Syafiiyah bahwa Mutlaq di sini bisa
di bawa kepada muqoyyad karena
sebabnya sama sekalipun berbeda
hukumnya.
3. Jika sebab yang ada pada Mutlaq dan muqayyad
berbeda, tetapi hukum keduanya sama, maka
yang Mutlaq tidak
bisa
dipahami
dan
diamalkan sebagaimana yang muqoyyad.
Contoh:
149

Muthlaq dan Muqayyad

a. Mutlaq
Surat al-Mujadalah ayat 3 tentang
kafarah dzihar yang dilakukan seorang
suami kepada istrinya. Terjemahan:
Orang-orang yang menzhihar isteri
mereka, kemudian mereka hendak menarik
kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib
atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum
kedua suami isteri itu bercampur.
Lafadz raqabah (hamba
sahaya)
dalam
masalah dzihar ini
berbentuk
Mutlaq karena tidak ada lafadz yang
mengikatnya. Sehingga seorang suami yang
sudah terlanjur men-dzihar istrinya dan
ingin ditarik ucapannya, maka sebelum
mencampurinya harus memerdekan hamba
sahaya atau budak, baik yang beriman
ataupun yang tidak.
b. Muqayyad
Surat
an-Nisa
ayat
92
tentang
kafarah qatl (pembunuhan)
yang tidak
sengaja, yaitu :
..........Dan barangsiapa membunuh seorang
mukmin karena tersalah (hendaklah) ia
memerdekakan seorang hamba sahaya yang
beriman.
Lafadz raqabah (hamba
sahaya)
dalam ayat ini berbentuk muqayyad dengan
diikat lafadz mukminah (beriman), maka
hukumnya
ialah
keharusan
untuk
150

Muthlaq dan Muqayyad

memerdekakan hamba sahaya yang


beriman. Karena sebabnya berbeda, satu
masalah kafarah dzihar dan yang lain
kafarah qatl, walaupun hukumnya samasama memerdekakan hamba sahaya,
namun tetap diamalkan sesuai dengan
ketentuannya
masing-masing.
Ayat Mutlaq berjalan
berdasarkan
keMutlaq-annya, sedang yang muqayyad
berjalan berdasarkan kemuqayyadannya.
Ada dua bentuk dalam hal ini:
1) Taqyid atau batasannya hanya satu.
Misalnya pembebasan budak dalam hal
kaffarah . Budak yang di bebaskan
disyaratkan harus budak beriman
dalam kaffarah pembunuhan tak
sengaja.
Allah berfirman :
dan tidak layak bagi seorang
mukmin membunuh seorang mukmin
(yang lain) kecuali karena tersalah (tidak
sengaja). Dan barang siapa membunuh
seorang mukmin karena tersalah,
hendaknya ia memerdekakan seorang
hamba sahaya yang beriman.....
2) Taqyid atau pembatasannya berbeda.
Misalnya: puasa kaffarah ia di
taqyidkan dengan berturut- turut dalam
kaffarah pembunuhan.
151

Muthlaq dan Muqayyad

Lafadz yang Mutlaq dalam hal ini tidak


boleh dibawa kepada muqayyad, sebab
qoyyid (pembatas)nya berbeda- beda
dan membawa Mutlaq kepada salah satu
dua muqoyyad itu merupakan tarjih
atau menguatkan sesuatu tanpa ada
penguat.
4. Jika
sebab
dan
hukum
yang
ada
pada Mutlaq berbeda dengan sebab dan
hukum yang ada pada muqayyad, maka
yang mutlak tidak
bisa
dipahami
dan
diamalkan sebagaimana yang muqayyad.
a. Mutlaq
Masalah had pencurian
yang
terdapat
dalam surat al-Maidah ayat 38. Terjemahan:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan
yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka
kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.
Lafadz yad dalam ayat di atas
berbentuk Mutlaq,
yakni
keharusan
memotong tangan tanpa diberi batasan
sampai daerah mana dari tangan yang
harus dipotong.
b. Muqayyad
Masalah wudhu yang dijelaskan dalam
surat al-Maidah ayat 6, yaitu:
Hai orang-orang yang beriman, apabila
kamu hendak mengerjakan shalat, maka
152

Muthlaq dan Muqayyad

basuhlah mukamu dan tanganmu sampai


dengan siku.
Lafadz yad dalam ayat wudhu ini
berbentuk muqayyad karena diikat dengan
lafadz ilal marafiqi (sampai dengan siku).
Ketentuannya hukumnya adalah kewajiban
mencuci tangan sampai siku.
Dari dua ayat di atas terdapat lafadz
yang
sama
yaitu
lafadz yad. Ayat
pertama
berbentuk Mutlaq, sedangkan
yang kedua berbentuk muqayyad. Keduanya
mempunyai sebab dan hukum yang
berbeda. Yang Mutlaq berkenaan dengan
pencurian yang hukumannya harus potong
tangan.
Sedangkan
yang muqayyad berkenaan masalah wudhu
yang mengharuskan membasuh tangan
sampai siku. Dapat disimpulkan bahwa
yang Mutlaq tidak bisa dipahami menurut
yang muqayyad.
Jadi, hubungan antara Mutlaq dan
muqayyad ada empat:
1) Persamaan hukum dan sebab, maka
yang Mutlaq harus di ikutkan pada yang
muqayyad.
2) Persamaan hukum dan berlainan sebab,
maka yang Mutlaq tidak bisa diikutkan
pada yang muqayyad.

153

Muthlaq dan Muqayyad

3) Perbedaan hukum dan sebab, maka


yang Mutlaq boleh diikutkan pada yang
muqayyad.
4) Perbedaan hukum dan sebab, maka
yang Mutlaq tidak boleh diikutkan pada
yang muqayyad.
Menurut penulis kitab Al- Burhan, jika
terdapat dalil bahwa Mutlaqh telah di batasi,
maka yang Mutlaq di bawa kepada muqoyyad.
Namun jika tidak terdapat dalil, maka Mutlaqh
tidak boleh di bawa kepada muqoyyad. Ia tetap
dalam keMutlaqkannya dan yang muqoyyadpun
tetap dalam keterbatasannya. Sebab Allah
berkomunikasi kepada kita dengan bahasa arab.
Apabil Allah telah menetapkan sesuatu (hukum)
dengan sifat atau syarat, kemudian terdapat pula
ketetapan lain yang bersifat Mutlaqh, maka
mengenai
yang
Mutlaq
itu
harus
di
pertimbangkan. Jika ia tidak mempunyai hukum
pokok, yang kepadanya ia di kembalikan, selain
dari hukum yang muqoyyad, maka ia wajjib di
taqyidkan dengannya. Tetapi jika mempunyai
hukum pokok yang lain selain muqoyyad, maka
mengembalikannya kepada salah satu dari
keduanya
tidak
lebih
baik
daripada
mengembalikan kepada yang lain.

154

Kemukjizatan al-Quran

KEMUKJIZATAN AL-QURAN
}
A. Pengertian Mukjizat
Menurut bahasa kata Mujizat berasal dari
kata ijaz diambil dari kata kerja ajaza-ijaza yang
berarti melemahkan atau menjadikan tidak
mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai
mujiz. Bila kemampuannya melemahkan pihak
lain
amat
menonjol
sehingga
mampu
membungkam lawan, ia dinamai mujizat.
Menurut istilah Mukjizat adalah peristiwa
luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang
mengaku Nabi, sebagai bukti kenabiannya.
Dengan redaksi
yang berbeda,
mukjizat
didefinisikan pula sebagai suatu yang luar biasa
yang diperlihatkan Allah SWT. Melalui para Nabi
dan Rasul-Nya, sebagai bukti atas kebenaran
pengakuan kenabian dan kerasulannya.
Kata Ijaz dalam bahasa Arab berarti
menganggap
lemah
kepada
orang
lain.
Sebagimana Allah berfirman:

155

Kemukjizatan al-Quran

Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti


burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan
mayat saudaraku ini (QS. Al Maidah (5): 31)
Maksud kumukjizatan Al-Quran bukan
semata mata untuk melemahkan manusia atau
menyadarkan mereka atas kelemahanya untuk
mendatangkan semisal Al-Quran akan tetapi
tujuan
yang
sebenarnya
adalah
untuk
menjelaskan kebenaran Al-Quran dan Rasul
yang membawanya dan sekaligus menetapkan
bahwa sesuatu yang dibawa oleh mereka hanya
sekedar menyampaikan risalah Allah SWT,
mengkhabarkan dan menyerukan.
Unsur-unsur
mukjizat,
sebagaimana
dijelaskan oleh Quraish Shihab, adalah:
1. Hal atau peristiwa yang luar biasa
Peristiwa-peristiwa alam, yang terlihat
sehari-hari, walaupun menakjubkan, tidak
dinamai mukjizat. Hal ini karena peristiwa
tersebut merupakan suatu yang biasa. Yang
dimaksud dengan luar biasa adalah sesuatu
yang berbeda di luar jangkauan sebab akibat
yang hukum-hukumnya diketahui secara
umum. Demikian pula dengan hipnotis dan
sihir, misalnya sekilas tampak ajaib atau luar
biasa, karena dapat dipelajari, tidak termasuk
dalam pengertian luar biasa dalam definisi
di atas.
2. Terjadi atau dipaparkan oleh seseorang yang
mengaku Nabi.
156

Kemukjizatan al-Quran

Hal-hal di luar kebiasaan tidak mustahil


terjadi
pada
diri
siapapun.
Apabila
keluarbiasaan tersebut bukan dari seorang
yang mengaku Nabi, hal itu tidak dinamai
mukjizat. Demikian pula sesuatu yang luar
biasa pada diri seseorang yang kelak bakal
menjadi Nabi ini pun tidak dinamai mukjizat,
melainkan irhash. Keluarbiasaan itu terjadi
pada diri seseorang yang taat dan dicintai
Allah, tetapi inipun tidak disebut mukjizat,
melainkan karamah atau kerahmatan. Bahkan,
karamah ini bisa dimiliki oleh seseorang yang
durhaka kepada-Nya, yang terakhir dinamai
ihanah (penghinaan) atau Istidraj (rangsangan
untuk lebih durhaka lagi).
Bertitik tolak dari kayakinan umat Islam
bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah Nabi
terakhir, maka jelaslah bahwa tidak mungkin
lagi terjadi suatu mukjizat sepeninggalannya.
Namun,
ini
bukan
berarti
bahwa
keluarbiasaan tidak dapat terjadi dewasa ini.
3. Mendukung tantangan terhadap mereka yang
meragukan kenabian
Tentu saja ini harus bersamaan dengan
pengakuannya sebagai Nabi, bukan sebelum
dan sesudahnya. Di saat ini, tantangan
tersebut harus pula merupakan sesuatu yang
berjalan dengan ucapan sang Nabi. Kalau
misalnya ia berkata, batu ini dapat bicara,
tetapi ketika batu itu berbicara, dikatakannya
157

Kemukjizatan al-Quran

bahwa Sang penantang berbohong, maka


keluarbiasaan ini bukan mukjizat, tetapi ihanah
atau istidraj
4. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal
dilayani
Bila yang ditantang berhasil melakukan
hal serupa, ini berarti bahwa pengakuan sang
penantang tidak terbukti. Perlu digarisbawahi
di sini bahwa kandungan tantangan harus
benar-benar dipahami oleh yang ditantang.
Untuk membuktikan kegagalan mereka, aspek
kemukjizatan tiap-tiap Nabi sesuai dengan
bidang keahlian umatnya.
B. Macam-macam Mukjizat
Secara garis besar, mukjizat dibagi dalam
dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat
material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat
immaterial, logis, dan dapat dibuktikan sepanjang
masa. Mukjizat nabi-nabi terdahulu merupakan
jenis pertama. Mukjizat mereka bersifat material
dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut
dapat disaksikan dan dijangkau langsung lewat
indra
oleh
masyarakat
tempat
mereka
menyampaikan risalahnya.
Perahu Nabi Nuh yang dibuat atas
petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam
situasi ombak dan gelombang yang demikian
dahsyat. Tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a.s
dalam kobaran api yang sangat besar; berubah
wujudnya tongkat Nabi Musa a.s. menjadi ular;
158

Kemukjizatan al-Quran

penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s.


atas izin Allah, dan lain-lain, kesemuanya bersifat
material indrawi, sekaligus terbatas pada lokasi
tempat mereka berada, dan berakhir dengan
wafatnya mereka. Ini berbeda dengan mukjizat
Nabi Muhammad SAW, yang sifatnya bukan
indrawi atau material, tetapi dapat dipahami akal.
Karena sifatnya yang demikian, ia tidak dibatasi
oleh suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat
Al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang
yang menggunakan akalnya dimana dan
kapanpun.
Perbedaan ini disebabkan oleh dua hal
pokok:
1. Para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW,
ditugaskan untuk masyarakat dan masa
tertentu. Karena itu, mukjizat mereka hanya
berlaku untuk masa dan masyarakat tersebut,
tidak untuk sesudah mereka. Ini berbeda
dengan mukjizat Nabi Muhammad yang
diutus seluruh umat manusia sampai akhir
zaman sehingga bukti ajaranya harus selalu
ada dimana dan kapanpun berada.
2. Manusia mengalami perkembangan dalam
pemikiranya. Umat para Nabi khususnya
sebelum Nabi Muhammad membutuhkan
bukti kebenaran yang sesuai dengan tingkat
pemikiran mereka. Bukti tersebut harus
demikian jelas dan langsung terjangkau oleh
indra mereka. Akan tetapi, setelah manusia
159

Kemukjizatan al-Quran

mulai menanjak ke tahap kedewasaan


berpikir, bukti yang bersifat indrawi tidak
dibutuhkan lagi.
C. Bukti Historis Kegagalan Menandingi AlQur'an
Al-Qur'an
digunakan
oleh
Nabi
Muhammad SAW untuk menantang orang-orang
pada masanya dan generasi sesudahnya yang
tidak mempercayai kebenaran Al-Qur'an sebagai
firman Allah (bukan ciptaan Muhammad) dan
risalah serta ajaran yang dibawanya. Terhadap
mereka, sungguhpun memiliki tingkat fashahah
dan balaghah yang tinggi di bidang bahasa Arab,
Nabi memintanya untuk menandingi Al-Qur'an
dalam tiga tahapan:
1. Mendatangkan semisal Al-Qur'an secara
keseluruhan, sebagaimana dijelaskan pada
surat Al-Isra (17) ayat 88:
Katakanlah, Sesungguhnya jika manusia dan jin
berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an
ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang
serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka
menjadi pembantu bagi sebagian lain. (Al-Isra
(17): 88)
2. Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai
surat-surat yang ada dalam Al-Quran,
sebagaimana dijelaskan dalam surat Hud (11)
ayat 13 berikut

160

Kemukjizatan al-Quran

Bahkan mereka mengatakan, Muhammad telah


membuat-buat Al-Quran itu. Katakanlah, kalu
demikian, maka datangkanlah sepuluh surat-surat
yang dibuat-buat menyamai, dan panggilah orangorang yang kamu sanggup memanggilnya selain
Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar
(Q.S. Hud [11]: 13)
3. surat yang menyamai surat-surat yang ada
dalam Al-Qur'an, sebagaimana dijelaskan oleh
surat Al-Baqarah (2) ayat 23:
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang
Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba
Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang
semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolongpenolongmu selain Allah, jika kami orang-orang
yang benar (QS. Al Baqarah (2): 23)
Sejarah telah menunjukan bahwa jawaban
orang-orang Arab ternyata gagal menandingi AlQur'an. Inilah beberapa catatan sejarah yang
memperlihatkan kegagalan itu:
1. Pemimpin Quraisy pernah mengutus Abu AlWalid, seorang sastrawan ulung yang tiada
bandingannya untuk membuat sesuatu yang
mirip dengan Al-Qur'an ketika Abu Al-Walid
berhadapan dengan Rasulullah SAW. Yang
membaca surat Fushilat, ia tercengang
mendengar kehalusan dan keindahan gaya
bahasa Al-Qur'an dan ia pun kembali pada
kaumnya dengan tangan hampa.

161

Kemukjizatan al-Quran

2. Musailamah bin Habib Al Kadzdzab yang


mengaku sebagai Nabi juga pernah berusaha
mengubah sesuatu yang mirip dengan ayatayat Al-Qur'an. Ia mengaku bahwa dirinyapun
mempunyai Al-Qur'an yang diturunkan dari
langit dan dibawa oleh Malaikat yang
bernama Rahman. Di antara gubahangubahannya yang dimaksudkan untuk
mendandingi Al-Qur'an itu adalah antara lain:
Hai katak, anak dari dua katak. Bersihkan apa saja
yang akan engkau bersihkan, bagian atas engkau di
air dan bagian bawah engkau di tanah.
Ketika itu pula, ia merobek-robek apa saja
yang telah ia kumpulkan dan merasa malu
tampil di depan khalayak ramai. Setelah
peristiwa itu ia mengucapkan kata-katanya
yang masyhur:
Demi Allah, siapapun yang tidak akan mampu
mendatangkan yang sama dengan Al-Qur'an.
D. Segi-segi Kemukjizat Al-Qur'an
1. Gaya Bahasa
Gaya bahasa Al-Quran membuat orang
Arab pada saat itu merasa kagum dan
terpesona, bukan saja orang-orang mukmin,
tetapi juga bagi orang-orang kafir. Kehalusan
ungkapan bahasanya membuat banyak
diantara mereka masuk Islam. Bahkan, Umar
bin Khattab pun yang mulanya dikenal
sebagai orang yang paling memusuhi nabi
Muhammad SAW, dan bahkan berusaha
162

Kemukjizatan al-Quran

membunuhnya, memutuskan masuk Islam


dan beriman pada kerasulan Muhammad
hanya karena membaca petikan ayat-ayat AlQur-an. Susunan Al-Qur-an tidak dapat
disamakan oleh karya sebaik apa pun.
2. Susunan Kalimat
Kendatipun Al-Qur-an, hadis qudsi, dan
hadis nabawi sama-sama keluar dari mulut
nabiu, terapi uslub (style) atau susunan
bahasanya sangat jauh berbeda. Uslub bahasa
Al-Qur-an jauh lebih tinggi kualitasnya bila
dibandingkan dengan lainya. Al-Qur-an
muncul dengan uslub yang begitu indah.
Didalam uslub tersebut terkandung nilai-nilai
istimewa yang tidak akan pernah ada ucapan
manusia.
3. Hukum Illahi yang Sempurna
Al-Qur-an menjelaskan pokok-pokok
aqidah, norma-norma keutamaan, sopansantun, undang-undang ekonomi, politik,
sosial, dan kemasyarakatan, serta hukumhukum ibadah. Al-Qur-an menggunakan dua
cara tatkala menetapkan sebuah ketentuan
hukum, yakni:
a. Secara global
Persoalan
ibadah
umumnya
diterangkan secara global, sedangkan
perincianya diserahkan kepada ulama
melalui ijtihad.
163

Kemukjizatan al-Quran

b. Secara terperinci
Hukum yang dijelaskan secara
terperinci adalah yang berkaitan dengan
utang piutang, makanan yang halal dan
yang haram, memelihara kehormatan
wanita, dan masalah perkawinan.
4. Ketelitian Redaksinya
Ketelitian redaksi Al-Qur-an bergantung
pada hal berikut:
a. Keseimbangan antara jumlah bilangan
kata dengan antonimnya.
b. Keseimbangan jumlah bilangan kata
dengan
sinonimnya/makna
yang
dikandungnya.
c. Keseimbangan jumlah bilangan kata
dengan jumlah kata yang menunjukan
akibatnya.
d. Keseimbangan jumlah bilangan kata
dengan kata penyebabnya.
e. Disamping keseimbangan-keseimbangan
tersebut, ditemukan juga keseimbang
khusus
5. Berita tentang Hal-hal yang Gaib
Sebagaimana ulama mengatakan bahwa
sebagian mukjizat Al-Qur'an itu adalah berita
gaib. Salah satu contohnya adalah Firaun,
yang mengejar-ngejar Nabi Musa. Hal ini,
diceritakan dalam surat Yunus (10) ayat 92:
Maka pada hari Kami selamatkan badanmu
supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang164

Kemukjizatan al-Quran

orang datang sesudahmu dan sesungguhnya


kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda
kekuasaan Kami.
Pada ayat itu ditegaskan bahwa badan
Firaun akan diselamatkan Tuhan untuk
menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.
Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut
karena telah terjadi sekitar 1.200 tahun SM.
Pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun
1896 di lembah raja-raja Luxor Mesir, seorang
ahli purbakala Loret menemukan satu mumi,
yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia
Firaun yang bernama Muniftah yang pernah
mengejar Nabi Musa a.s. selain itu pada
tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin
dari pemerintah Mesir untuk membuka
pembalut-pembalut Firaun tersebut. Apa yang
ditemukannya satu jasad utuh, seperti yang
diberitakan Al-Qur'an melalui Nabi yang
ummy (tidak pandai membaca dan menulis)
6. Isyarat-isyarat Ilmiah
Banyak sekali isyarat ilmiah yang
ditemukan dala Al-Qur-an misalnya:
a. Cahaya matahari bersumber dari dirinya
dan cahaya bulan merupakan pantulan.
Terdapat dalam Q.S. Yunus [10]: 5.
b. Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat
menyesakan napas, hal ini terdapat pada
surat Al-Anam [6]: 25
165

Kemukjizatan al-Quran

c. Perbedaan sidik jari manusia. Terdapat


dalam surat Al-Qiyamah [75]: 4
d. Aroma/bau
manusia
berbeda-beda.
Terdapat dalam surat Yusuf [12]: 94
e. Masa penyusuan yang tepat dan kehamilan
minimal. Terdapat dalam surat Al-Baqarah
[2]: 233
f. Adanya nurani (super ego) dan bawah
sadar manusia. Terdapat dalam surat AlQiyamah [75]: 14
g. Yang merasakan nyeri adalah kulit.
Terdapat dalam surat Al-Qiyamah [75]: 4

166

Amtsal Al-Quran

AMTSAL AL-QURAN
}
A. Pengertian Amtsal Al-Quran
Al-Quranul karim sebagai kitab pedoman
berisi berbagai pembahasan bermanfaat yang
sangat dibutuhkan oleh manusia dalam segala
kondisi. Misalnya, dalam metode pembelajaran
dan cara menanamkan sebuah nilai dalam hati
seseorang. Metode yang dipakai adalah metode
yang simpel dan paling jelas. Diantara metodenya
yaitu
dengan
membuat
perumpamaanperumpamaan.
Metode ini dipakai untuk menyampaikan
masalah-masalah yang sangat urgen dan krusial,
seperti masalah tauhid dan kondisi orang-orang
yang mentauhidkan Allh Azza wa Jalla ,
masalah syirik dan kondisi kaum musyrik, dan
berbagai amalan besar lainnya. Tujuannya tentu
untuk memahamkan dan menanamkan nilai-nilai
luhur yang abstrak dengan cara menggambarkannya dengan sesuatu yang kongkrit sehingga
seakan-akan terlihat mata. Oleh karena itu,
merupakan suatu keharusan bagi seorang hamba
167

Amtsal Al-Quran

untuk memperhatikannya dan berusaha untuk


memahami
maksud
perumpamaanperumpamaan itu.
Menurut supiana dan karman (2002: 253),
kata Amtsal adalah bentuk jamak dari matsal.
Adalah kata matsal, mitsl dan matsil serupa
dengan syabah, syibh, dan syabih, baik lafazh
maupun maknanya. Amtsal dalam sastra adalah
penyerupaan sesuatu keadaan dengan keadaan
lain, demi tujuan yang sama, yaitu pengisah
menyerupakan
sesuatu
dengan
aslinya.
Contohnya, rubba ramiyah min ghairi ramin,
maksudnya berapa banyak musibah diakibatkan
oleh kesalahan pemanah. Orang yang pertama
mengatakan seperti ini adalah Hakam bin
Yaghust Al-Naqri, membuat perumpamaan orang
yang salah dengan musibah walaupun kadangkadang benar.
Amtsal
juga
digunakan
untuk
mengungkapkan suatu keadaan dan kisah yang
menakjubkan. Dengan makna inilah lafazh Amtsal
ditafsirkan dalam banyak ayat. Seperti
Perumpamaan surga yang telah dijanjikan
kepada orang-orang yang bertaqwa ialah:
ada padanya beberapa sungai dari air yang
tidak berubah (rasa dan baunya), dan
beberapa sungai dari susu yang tidak
berubah rasanya, serta beberapa sungai
dari arak yang lezat bagi orang-orang yang
meminumnya, dan juga beberapa sungai
168

Amtsal Al-Quran

dari madu yang suci bersih. Dan ada pula


untuk mereka di sana segala jenis buahbuahan, serta keredaan dari Tuhan
mereka... (QS. Muhammad: 15).
Ada juga yang berpendapat, Amtsal adalah
makna yang paling jelas dalam menggambarkan
suatu realita yang dihasilkan oleh adanya daya
tarik dan keindahan. Amtsal seperti ini tidak
disyaratkan harus adanya sumber atau metafor.
Ibnu Qayyim (dalam Manna Kholil, 1992 : 400),
dalam masalah Amtsal dalam Al-Quran
menjelaskan bahwa Amtsal adalah menyerupakan
sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukum,
mendekatkan yang rasional kepada yang indrawi,
atau salah satu dari dua indra dengan yang lain
karena adanya kemiripan. Al-Quran secara
terminologi menurut Drs. Anwar Rosihin, M.Ag
beliau berkata bahwasannya ilmu amtsal AlQuran adalah ilmu yang menerangkan
perumpamaan Al-Quran, yakni menerangkan
ayat-ayat perumpamaan yang dikemukakan AlQuran (2008: 28).
Menurut Syahidin (2009 : 78), di dalam AlQuran ditemukan 165 tempat yang memakai kata
amtsal (permisalan / perumpamaan) sebagai adat
tasybih (alat untuk mengumpamakan) dan masih
banyak adat tasybih lain yang menunjukan
perumpamaan.

169

Amtsal Al-Quran

B. Tujuan Amtsal Al-Quran


Para ulama ahli tafrsir tidak secara jelas
menyebutkan tujuan dari
amtsal Al-Quran.
Namun apabila dicermati dari berbagai faedah
dan ayat-ayat amtsal Al-Quran maka dapat
dikatakan bahwa tujuan dari amtsal adalah agar
manusia menjadikannya pelajaran dan bahan
renungan dalam arti contoh yang baik dijadikan
sebagai teladan sedangkan perumpamaan yang
jelek sedapat mungkin dihindari. Hal ini
sebagaimana yang difirmankan Allah dalam
surat Az-Zumar ayat 27. Mengenai kedudukan
amtsal dalam Al-Quran, Rasulullah SAW
bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah:
(Sesungguhnya al-Quran turun dengan
menggunakan lima sisi: halal, haram, muhkam,
mutasyabih
dan
amtsal.
Kerjakanlah
kehalalannya; tinggalkanlah keharamannya;
ikutilah muhkamnya; imanilah mutasyabihnya;
dan ambillah pelajaran dari amtsalnya).
Dari dalil al-Quran dan hadits di atas maka
jelaslah bahwa tujuan amtsal al-Quran adalah
sebagai teladan dan bahan renungan sehingga
manusia terbimbing menuju jalan yang benar
demi meraih kebahagiaan hidup dunia maupun

170

Amtsal Al-Quran

akhirat. Menurut izzan (2007: 240) ada beberapa


ciri-ciri Amtsal khusus dan terperinci yaitu.
1. Mengandung penjelasan atas makna yang
samar atau abstrak sehingga menjadi jelas,
konkret dan berkesan.
2. Amtsal memiliki kesejajaran antara situasi
perumpamaan yang dimaksud dan padanya.
3. Adanya keseimbangan (tawazun) antara
perumpamaan
dan
keadaan
yang
dianalogikan.
C. Ciri-Ciri Amtsal Al-Quran
Adapun ciri-ciri amtsal Al-Quran, yaitu:
1. Mengandung penjelasan atas makna yang
samar atau abstrak sehingga menjadi jelas,
konkret, dan berkesan.
2. Amtsal memiliki kesejajaran antara situasisituasi perumpamaan yang dimaksud dan
padannya.
3. Ada
keseimbangan
(Tawazun)
antara
perumpanaan dan keadaan yang dianologikan
D. Unsur-unsur Amtsal
Al-Quran Sebagian Ulama mengatakan
bahwa Amtsal memiliki empat unsur, yaitu:
1. Wajhu Syabah: segi perumpamaan
2. Adaatu Tasybih: alat yang dipergunakan untuk
tasybih
3. Musyabbah: yang diperumpamakan
4. Musyabbah bih: sesuatu yang dijadikan
perumpamaan.
171

Amtsal Al-Quran

E. Macam-macam Amtsal Al-Quran


Secara garis besar, amtsal al-Quran terbagi
menjadi dua. Pertama perumpamaan yang
disebutkan secara jelas dan tegas. Imam
Jalaluddin
as-Suyuthi
dalam
al-Itqaan
menyebutnya sebagai matsal zhahir musharrah bih.
Sedangkan yang kedua disebutkan secara tersirat
(matsal kaamin). Namun apabila diamati secara
seksama maka amtsal al-Quran bisa dibagi
menjadi tiga macam, yaitu:
1. Al-amtsal al-musharrahah, yaitu perumpamaan
yang jelas yang di dalamnya lafazh matsal
atau yang menunjuk kepada tasybih. Amtsal
jenis ini banyak terdapat dalam al-Quran.
Seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah
ayat 261:
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan
oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap
bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.
Dalam ayat ini dijelaskan keuntungan besar
bagi orang-orang yang mau berinfak dengan
menyamakannya terhadap orang yang
menanam 1 butir biji yang kelak menghasilkan
172

Amtsal Al-Quran

700 butir biji. Penyamaan pahala orang yang


infak dengan hasil tanaman pada ayat ini jelas
menggunakan lafazh matsal (
). Dalam ayat ini yang disamakan
adalah keuntungan.
2. Al-amtsal al-kaaminah, yaitu perumpamaan
yang tidak jelas dengan tanpa menggunakan
lafazh matsal atau sejenisnya, akan tetapi
artinya menunjukkan arti perumpamaan yang
indah dan singkat. Makna amtsal seperti ini
akan mengena jika lafazh tersebut dinukilkan
kepada hal yang menyerupainya.
Jadi, sebenarnya dalam al-amtsal al-kaaminah alQuran itu sendiri tidak menjelaskan bentuk
perumpamaan terhadap suatu makna tertentu.
Hanya saja maknanya menunjukkan pada
makna suatu perumpamaan. Tegasnya amtsal
jenis ini merupakan perumpamaan maknawi
yang tersembunyi, bukan perumpamaan lafzhi
yang jelas.
Salah satu contoh al-amtsal al-kaaminah adalah
sebagaimana ungkapan yang disebutkan
orang Arab yang berupa
(sebaik-baiknya perkara adalah tengahtengah). Ungkapan ini merupakan hasil
perumpamaan dari beberapa ayat al-Quran,
di antaranya:
Surat al-Baqarah ayat 68:
173

Amtsal Al-Quran

Artinya: bahwa sapi betina itu adalah sapi


betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan
antara itu
Surat al-Furqan ayat 67:
Artinya: Dan orang-orang yang apabila
membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah
(pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian.
Surat al-Israa ayat 29:
Artinya: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu
terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu
terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi
tercela dan menyesal.
Surat al-Israa ayat 110:
Artinya: Katakanlah: Dan janganlah kamu
mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan
janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan
tengah di antara kedua itu.
Begitu juga masih banyak ungkapan orangorang
arab
yang
merupakan
hasil
perumpamaan al-Quran.
3. Al-amtsal al-mursalah, yaitu beberapa jumlah
kalimat yang bebas yang tidak jelas tanpa
menggunakan lafazh tasybih. Al-amtsal almursalah ini adalah beberapa ayat al-Quran
yang
berlaku
sebagai
perumpamaan.
Contohnya seperti dalam surat Yusuf ayat 51:

174

Amtsal Al-Quran

Artinya: Berkata isteri Al-Aziz: Sekarang


jelaslah kebenaran itu
Begitu juga pada surat al-Baqarah ayat 216:

Artinya: Boleh jadi kamu membenci sesuatu,


padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu
F. Manfaat Amtsal al-Quran
Di antara manfaat amtsal al-Quran ialah:
1. Menyampaikan sesuatu yang abstrak menjadi
bentuk nyata sehingga pesan perumpamaan
mudah diterima oleh akal.
2. Mengemukakan sesuatu yang tidak nampak
menjadi sesuatu yang seakan-akan nampak.
3. Mengumpulkan makna yang menarik dan
indah dalam ungkapan yang padat.
4. Memotivasi orang untuk beribadah dan
berbuat baik seperti apa yang digambarkan
dalam perumpamaan yang menarik dalam alQuran.
5. Menghindarkan diri dari perbuatan negatif.
6. Lebih efektif untuk memberikan nasihat, Allah
SWT menyebut amtsal untuk pengajaran dan
peringatan supaya dapat diambil ibrahnya.
7. Memberikan kesempatan kepada setiap
budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan
untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan
diri dalam wadah nilai-nilai universalnya.
175

Amtsal Al-Quran

176

Qasam dalam Al-Quran

QASAM DALAM AL-QURAN


}
A. Pendahuluan
Jiwa yang jernih yang fitrahnya tidak
ternoda kejahatan akan segera menyambut
petunjuk dan membukakan pintu hati bagi
sinarnya serta berusaha mengikutinya sekalipun
petunjuk itu sampai kepadanya hanya sepintas
kilas.
Sedang jiwa yang tertutup oleh kejahilan
dan gelapnya kebatilan tidak akan tergerak
hatinya kecuali dengan peringatan dan kalimat
yang keras, dengan cara seperti itulah
keingkarannya tergerak. Qasam (sumpah) dalam
perkataan, termasuk salah satu cara memperkuat
ungkapan kalimat yang diiringi dengan bukti
nyata, sehingga lawan dapat mengakui apa yang
semula diingkarinya.

177

Qasam dalam Al-Quran

B. Definisi dan Model Qosam


Aqsam adalah bentuk jamak dari qasam
yang berarti al-hilf dan al-yamin, yakni sumpah.
Shighat asli qasam ialah fiil atau kata kerja
aqsama atau ahlafa yang di-mutaadi
(transitif)-kan dengan ba menjadi muqsam bih
(sesuatu yang digunkan untuk bersumpah),
kemudian muqsam alaih, yang dinamakan
dengan jawab qasam. Misalnya firman Allah,
Mereka bersumpah dengan nama Allah,
dengan sumpah yang sungguh-sungguh,
bahwasannya
Allah
tidak
akan
membangkitkan orang yang mati.
(An-Nahl: 35)
Oleh karena qasam itu sering dipergunakan
dalam percakapan maka ia ringkas, yaitu fiil
qasam dihilangkan dan dicukupkan dengan ba.
Kemudian bapun diganti dengan wawu pada
isim zhahir, seperti,
(1).
Demi malam, bila menutupi (cahaya siang).
(Al-Lail: 1)
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan
tipu daya terhadap berhala-berhalamu.
(Al-Anbiya: 57)
178

Qasam dalam Al-Quran

Dan dalam Kamus Besar Bahasa


Indonesia: sumpah diartikan sebagai: Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan saksi
kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang
dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan
kesungguhannya dan sebagainya). Pernyataan
yang disertai tekat melakukan sesuatu untuk
menguatkan kebenaran atau berani menderita
sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Janji
atau ikrar yang teguh (akan menunaikan
sesuatu).
Sedangkan menurut Louis Maluf, dalam
konteks bangsa arab, sumpah yang diucapkan
oleh orang Arab itu biasanya menggunakan nama
Allah atau selain-Nya. Pada intinya sumpah itu
menggunakan sesuatu yang diagungkan seperti
nama Tuhan atau sesuatu yang disucikan.
Akan tetapi, bangsa Arab pra-Islam yang
dikenal sebagai masyarakat yang menyembah
berhala (paganism). Mereka menyebutkan atau
mengatakan sumpah dengan atas nama tuhannya
dengan sebutan Allah, seperti dalam yang
tersurat dalam al-Quran surat Al-Ankabuut ayat
61 yang berbunyi:
Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan
kepada
mereka:
Siapakah
yang
179

Qasam dalam Al-Quran

menjadikan
langit
dan
bumi
dan
menundukkan matahari dan bulan? tentu
mereka akan menjawab: Allah, Maka
betapakah mereka (dapat) dipalingkan
(dari jalan yang benar).
(QS. Al-Ankabuut: 61)
Dhamir (kata ganti)
dalam surat AlAnkabut ayat 63 tersebut, seperti dikutip
Toshihiko Izutsu berarti the pagan Arabs.
Izutsu berpendapat ada lima konsep Allah
menurut bangsa Arab pra-Islam seperti yang
disebut oleh al-Quran yaitu:
Allah adalah pencipta dunia; Allah adalah
pencipta hujan, lebih umum lagi Dia-lah yang
menciptakan kehidupan di permukaan bumi;
Allah satu-satunya yang berhak disebut dalam
sumpah; Allah adalah obyek monoteisme
sementara; Allah adalah Tuhannya Kabah
(Lord of Kabah).
Qasam dibagi menjadi dua yaitu:
1. Zhahir, ialah sumpah yang didalamnya
disebut Fiil qasam dan muqsam bihi. Dan
diantaranya ada yang dihilangkan Fiil
qasamnya, sebagaimana pada umumnya,
karena dicukupkan dengan huruf jar berupa

180

Qasam dalam Al-Quran

ba, wawu dan ta. Dan ada juga yang


didahului la nafy seperti:
Tidak sekali-kali, Aku bersumpah dengan
hari kiamat. Dan tidak sekali-kali , Aku
bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali
(dirinya sendiri) (Al-Qiyamah:1-2)
2. Mudhmar, yaitu yang didalamnya tidak
dijelaskan Fiil qasam dan tidak pula muqsam
bih, tetepi ia ditunjukkan oleh lam taukid yang
masuk dalam jawab qasam, seperti firman
Allah:
Kamu sunguh-sungguh akan diuji terhadap
hartamu dan dirimu (Ali Imran:186).
Sedangkan huruf-huruf yang berfungsi
sebagai
perangkat
sumpah
atau
untuk
membentuk lafal sumpah ada 3 macam yaitu:
1. Wawu ( )
Seperti firman Allah dalam surat AdzDzariyaat ayat 23 yang berbunyi:
Maka demi Tuhan langit dan bumi,
Sesungguhnya yang dijanjikan itu
adalah benar-benar (akan terjadi) seperti
perkataan yang kamu ucapkan.
(QS. Adz-Dzariyaat: 23).
Dengan masuknya huruf wawu
sebagai huruf qasam maka amil (pelaku)nya
181

Qasam dalam Al-Quran

wajib dihapuskan. Dan setelah wawu harus


diikuti dengan isim dlahir.
2. Ba ( )
Seperti dalam firman Allah dalam surat
A-Qiyaamah ayat 1 yang berbunyi:
Artinya:Aku bersumpah demi hari
kiamat. (QS. Al-Qiyaamah: 1)
Maka dengan masuknya huruf Ba ini
boleh disebutkan amil-nya sebagaimana
contoh di atas, dan boleh juga menghapusnya,
sebagaimana firman Allah dalam surat Shaad
ayat 82 tentang Iblis yang bersumpah untuk
menyesatkan manusia:
Artinya:Iblis
menjawab:
Demi
kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan
mereka semuanya. (QS. Shaad: 82).
Setelah huruf Ba boleh diikuti isim
dlahir sebagaimana telah dicontohkan di atas,
dan boleh juga diikuti oleh isim dlamir.
3. Ta ( )
Seperti dalam firman Allah dalam surat
An-Nahl ayat 56:
Artinya: Dan mereka sediakan untuk
berhala-berhala
yang
mereka
tiada
mengetahui (kekuasaannya), satu bahagian
dari rezki yang Telah kami berikan kepada
mereka. demi Allah, Sesungguhnya kamu
182

Qasam dalam Al-Quran

akan ditanyai tentang apa yang Telah kamu


ada-adakan. (QS. An-Nahl: 56).
Dengan masuknya huruf Ta ini, amil
(pelaku)-nya harus dihapuskan dan tidak bisa
diikuti sesudahnya kecuali isim jalalah (nama
Allah), yaitu atau .
Pada dasarnya, kebanyakan al-muqsam bih
(sesuatu yang dijadikan dasar atau landasan
sumpah) itu disebutkan, sebagaimana pada
contoh-contoh terdahulu. Dan kadang-kadang
dihapus dengan amil (pelaku)-nya. Bentuk yang
seperti ini banyak sekali, misalnya firman Allah
dalam Al-Quran surat At-Takaatsur ayat 8 yang
berbunyi:
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada
hari itu tentang kenikmatan (yang kamu
megah-megahkan di dunia itu).
(QS. At-Takaastur: 8)
Pada dasarnya, kebanyakan al-muqsam
alaih (sesuatu yang disumpahkan) disebutkan.
Seperti dalam firman Allah :
Orang-orang yang kafir mengatakan
bahwa mereka sekali-kali tidak akan
dibangkitkan. Katakanlah: Memang, demi
Tuhanku,
benar-benar
kamu
akan
dibangkitkan, Kemudian akan diberitakan
183

Qasam dalam Al-Quran

kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.


yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. (QS. At-Taghaabun : 7)
Dan kadang-kadang boleh dihapus, seperti
dalam firman Allah taala :
Qaaf, demi Al Quran yang sangat mulia.
(QS. Qaaf : 1).
Selain dari unsur-unsur dan redaksi
sumpah tersebut di atas, yang paling
fundamental adalah rukun sumpah yang
merupakan unsur-unsur sumpah muncul.
Nashruddin Baidan mengungkapkan bahwa
rukun sumpah ada 4, yaitu:
1. Muqsim (pelaku sumpah).
2. Muqsam Bih (sesuatu yang dipakai sumpah).
3. Adat Qasam (alat untuk bersumpah).
4. Muqsam Alaih (berita yang dijadikan isi
sumpah atau disebut juga dengan jawab
sumpah).
Qasam dan yamin mempunyai makna yang
sama. Qasam didefinisikan sebagai mengikat
jiwa (hati) agar tidak melakukan atau melakukan
sesuatu, dengan suatu makna yang dipandang
besar, agung, baik secara hakiki maupun secara
itiqadi, oleh orang yang bersumpah itu. Sumpah
dinamakan juga dengan yamin (tangan kanan),
184

Qasam dalam Al-Quran

karena orang Arab ketika sedang bersumpah


memegang tangan kanan orang yang diajak
bersumpah.
C. Faedah Qasam dalam Al-Quran
Bahasa Arab mempunyai keistimewaan
tersendiri berupa kelembutan ungkapan dan
beraneka ragam uslubnya sesuai dengan berbagai
tujuannya.
Lawan
biacara
(mukhatab)
mempunyai beberapa keadaan yang dalam ilmu
maani disebut adhrubul khabar ats-tsalatsah atau
tiga macam pola penggunaan kalimat berita;
ibtidai, talabi dan inkari.
Mukhathab terkadang berhati kosong
(khaliy azh-zhihni), sama sekali tidak mempunyai
persepsi akan pernyataan (hukum) yang
diterangkan kepadanya, maka perkataan yang
disampaikan kepadanya tidak perlu memakai
penguat
(takid).
Penggunaan
perkataan
demikian dinamakan ibtidai.
Terkadang
ia
ragu-ragu
terhadap
kebenaran
pernyataan
yang
disampaikan
kepadanya. Mka perkataan untuk orang semacam
ini sebaiknya diperkuat dengan suatu penguat
guna menghilangkan keraguannya. Perkataan
demikian dinamakan thalabi.
Dan terkadang ia ingkar atau menolak isi
pernyataan. Maka pembicaraan untuknya harus
185

Qasam dalam Al-Quran

disertai penguat sesuatu kadar pengingkarannya,


kuat atau lemah. Pembicaraan demikian
dinamakan inkari.
Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin mengatakan bahwa faedah dalam
bersumpah adalah:
1. Menjelaskan tentang agungnya al-muqsam
bihi (yang dijadikan landasan atau dasar
sumpah).
2. Menjelaskan tentang pentingnya al-muqsam
alaih (sesuatu yang disumpahkan) dan
sebagai bentuk penguat atasnya.
Oleh karena itu, tidaklah tepat bersumpah
kecuali dalam keadaan berikut:
1. Hendaknya sesuatu yang disumpahkan (almuqsam alaih) itu adalah sesuatu yang
penting.
2. Adanya keraguan dari mukhaththab (orang
yang diajak bicara).
3. Adanya pengingkaran dari mukhaththab
(orang yang diajak bicara).
Terlepas dari apakah argumen yang
dipaparkan
Manaul
Al-Quththan
dan
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin tersebut
apologis, secara hermeneutis sebenamya setiap
pengarang, teks dan pembaca tidak terlepas dari
konteks sosial, politis, psikologis, teologis, dan
186

Qasam dalam Al-Quran

konteks lainnya dalam ruang dan waktu tertentu,


maka dalam memahami sejarah yang diperlukan
bukan hanya transfer makna, melainkan juga
transformasi makna.
Dengan begitu, tidak semua doktrin dan
pemahaman agama (tafsir) berlaku sepanjang
zaman dan tempat, mengigat antara lain gagasan
universal Islam tidak semuanya tertampung
dalam bahasa Arab yang bersifat lokal-kultural,
serta terungkap dalam tradisi kenabian. Itulah
sebabnya setiap zaman muncul berbagai ulama
yang menafsirkan ajaran agama dari al-Qur an
yang tidak ada batas akhimya.
Jika logika ini diteruskan maka akan timbul
pertanyaan yang menggelisahkan, bisakah
manusia memahami dan menggali gagasangagasan Tuhan yang universal namun terwadahi
dalam bahasa lokal (bahasa Arab, ini pun sudah
tereduksi Arab versi Quraisy, bukan sebagai
bahasa Arab lingua franca). Hanya saja, dalam
psikologi linguistis dikatakan, sebuah ungkapan
dalam bentuk omongan atau tulisan kadang kala
kebenarannya serta maksudnya berada jauh ke
depan. bukan berhenti apa yang diucapkan ketika
itu. Artinya kebenaran itu bersifat intensional dan
teleologis.

187

Qasam dalam Al-Quran

D. Muqsam Bih dalam Al-Quran


Allah telah bersumpah dengan Dzat-Nya
sendiri dalam Al-Quran pada tujuh tempat:
1. Orang-orang kafir menyangka bahwa mereka
sekali-kali
tidak
akan
dibangkitkan.
Katakanlah: Tidak demikian, demi Tuhanku,
benar-benar kamu akan dibangkitkan. (AtTaghabun: 7).
2. Dan orang-orang kafir berkata: Hari
berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.
Katakanlah: Pasti datang, demi Tuhanku,
sungguh kiamat itu pasti akan datang
kepadamu. (Saba: 3)
3. Dan
mereka
menanyakan
kapadamu:
Benarkah

(adzab

yang

dijanjikan)

itu?

Katakanlah: Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya


adzab itu benar? (Yunus: 53)
Dalam ketiga ayat ini Allah memerintahkan
Nabi agar bersumpah dengan Dzat-Nya.
4. Demi

Tuhanmu,

sungguh

Kami

akan

membangkitkan mereka bersama syaitan.


(Maryam: 68)

188

Qasam dalam Al-Quran

5. Maka demi Tuhanmu, Kamu pasti akan


menanyai mereka semua! (Al-Hijr: 92)
6. Maka

demi

Tuhanmu,

mereka

(pada

hakikatnya) tidak beriman hingga mereka


menjadikan kamu hakim terhadap perkara
yang mereka perselisihkan. (An-Nisa: 65)
7. Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang
memiliki timur dan barat.
Semua sumpah dalam Al-Quran adalah
dengan menggunakan nama makhluk. Misalnya,
(2).
(1).
Demi matahari dan cahayanya dipagi hari,
dan bulan apabila mengiringinya... (AsySyams: 1-2);
Demi malam apabila menutupi (cahaya
siang), dan siang apabila terang benderang,
dan penciptaan laki-laki dan perempuan. (AlLail: 1-3);
Demi fajar, dan malam yang sepuluh
(Al-Fajr: 1-4);
Sungguh aku bersumpah dengan bintangbintang. (At-Takwir: 15);
Demi Tin dan Zaitun, dan demi bukit
Sinai. (Ath-Thin: 1-2). Sumpah inilah yang paling
banyak ditemui dalam Al_Quran.
189

Qasam dalam Al-Quran

Allah bisa bersumpah dengan apa saja yang


dikehendaki-Nya. Adapun sumpah manusia
dengan selain Allah merupakan salah satu bentuk
kemusyrikan. Diriwayatkan dari Umar bin AlKhatab Radhiyallahu Anhu. Bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam, bersabda: Barang
siapa bersumpah dengan selain (nama) Allah,
maka ia telah kafir atau telah mempersekutukan
(Allah).

190

Tafsir dan Takwil

TAFSIR DAN TAKWIL


}
A. Pendahuluan
Al-Quran Al-Karim adalah sumber hukum
pertama bagi umat Muhammad. Kebahagiaan
mereka tergantung pada kemampuan memahami
maknanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan
pengalaman apa yang terkandung didalamnya.
Mka tidaklah mengherankan jika Al-Quran
mendapatkan perhatian besar dari umatnya
melalui pengkajian intensif terutama dalam
rangka menafsirkan kata-kata yang gharib atau
dalam menawilkan suatu redaksi kalimat.
B. Definisi Tafsir dan Tawil
Tafsir secara bahasa mengikuti wazan
tafil artinya menjelaskan, menyingkap dan
menerangkan makna-makna rasional. Kata
kerjanya megikuti wazan dharaba-yadhribu
dan nashara-yanshuru. Dikatakan fasara asysyaia-yafsiru
dan
yafsuru,fasran,
dan
fassarahu,
artinya
abanahu
191

Tafsir dan Takwil

(menjelaskannya). Kata at-tafsir dan al-fasr


mempunyai arti menjelaskan dan menyingkap
yang tertutup. Dalam Lisanul Arab dinyatakan:
Kta al-fasr berarti menyingkap sesuatu yang
tertutup , sedang kata at-tafsir berarti
menyingkap maksud suatu lafazh yang musykil.
Dalam Al-Quran dinyatakan:
Tiadaklah mereka dating kepadamu
membawa sesuatu yang ganjil, melainkan
kami datangkan kepadamu sesuatu yang
benar-benar dan paling baik tafsir-nya.
(Al-Furqan: 33), yaitu penjelasan dan
perinciannya.
Sebagian ulama berpendapat, kata tafsir
adlah kata kerja yang terbalik, berasal dari kata
safara yang juga memiliki makna menyingkap
(al-kasyf), dikatakan: Safarat al-maratu sufura,
apabila perempuan itu menyingkap cadar dari
wajahnya. Dan kata asfara ash shubhu: artinya
menyinari dan terang. Pembentukan kata alfasr menjadi bentuk tafil (yakni, tafsir) untuk
menunjukkan arti taksir (banyak, sering berbuat).
Misalnya firman Allah:
Mereka banyak menyembelih anak-anak
laki-laki kamu. (Al-Baqarah: 49)
192

Tafsir dan Takwil

Ia sering menutup pintu-pintu. (Yusuf:


23). Jadi seakan-akan tafsir terus berjalan
mengikuti surat demi surat dan ayat demi
ayat.
Menurut Ar-raghib, kataal-fasr dan assafr adalah dua kata yang berdekatan makna
dan lafdz nya. Tetapi yang pertama untuk
menunjukan artu menampakan benda kepada
penglihatan mata. Maka dikatakanlah, safarat al
maratu sufura (perempuan itu menampakan
mukanya).
C. Tafsir Secara Istilah dan Perbedaanya dengan
Tawil
Abu Hayyan mendefinisikan tafsir sebagai,
Ilmu yang membahas tentang cara pengucapan
lafazh-lafazh Al-Quran, indicator-indikatornya,
masalah
hukum-hukumnya
baik
yang
independen maupun yang berkaitan dengan yang
lain, serta tentang makna-maknanya yang
berkaitan dengan kondisi struktur lafazh yang
melengkapinya.
Ilmu adalah kata jenis yang meliputi
segala macam ilmu. Yang membahas cara
mengucapkan lafazh-lafazh Al-Quran, mengacu
kepada ilmu qiraat. indikator-indikatornya
adalah pengertian-pengertian yang diperlukan
dalam ilmu (tafsir) ini.
193

Tafsir dan Takwil

Menurut Az-Zarkasyi, Tafsir adalah ilmu


untuk memahami Kitabullah yang diturunkan
kepada Muhammad, menerapkan maknamaknanya serta mengeluarkan hukum dan
hikmah-hikmahnya.
Tawil secara bahasa berasal dari kata a-ul, yang berarti kembali ke asal. Atas dasar ini
maka tawil al-kalam (penakwilan terhadap suatu
kalimat) dlam istilah mempunyai dua makna.
Pertama, tawil kalam dengan pengertian,
sesuatu makna yang menjadi tempat kembali
perkataan pembicara, atau sesuatu makna yang
kepadanya suatu kalam dikembalikan.
Maka tawilul amr maksudnya perbuatan
yang diperintahkan. Misalnya hadits yang
diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha,
berkata, Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam, membaca didalam rukuk dan
sujudnya
Subhanallah
wa
bi
hamdika
allahummaghfirli.
Sedang tawil al-ikhbar ialah esensi berita
yang yang benar-benar terjadi. Misalnya firman
Allah,

194

Tafsir dan Takwil

Dan sungguh Kami telah mendatangkan


Kitab (Al-Quran) kepada mereka yang
Kami telah menjelaskannya atas dasar
pengetahuan kami; menjadi petunjuk dan
rahmat bagi kaum yang beriman. Tiadalah
mereka menunggu-nunggu kecuali tawilnya. Pada hari tawil itu dating, berkatalah
orang-orang yang melupakannya sebelum
itu; Sungguh telah dating rasul-rasul
Tuhgan kami membawa yang hak, maka
adakh bagi kami pemberi syafaat kepada
kami, atau dapat beramal yang lain dari
yang pernah kami amalkan? (Al-Araf: 5253).
Kedua,
tawil
al-kalam
maknanya:
Menafsirkan
dan
menjelaskan
maknanya.
Pengertian inilah yang dimaksudkan Ibnu Jarir
Ath-Thabari dalam Tafsir-nya katanya, Pendapat
tentang tawil terhadap firman Allah inibegini
dan begitu dan kata-kata: Ahli tawil berbeda
pendapat tentang ayat ini. Maka yang dimaksud
dengan kata tawil disini adalah tafsir.
Tawil
dalam
tradisi
mutaakhirin
adalah,memalingkan makna lafadh yang
kuat(rajih) kepada makna yang lemah (marjuh)
karena ada dali yang menyertainya.
Definisi ini berbeda dengan lafazh tawil
dalam alquran menurut prespektif Salaf.
195

Tafsir dan Takwil

Diantara para ulama ada yang membedakan


makna, tafsir dan tawil. Mengingat ketiga kata
ini, dari segi bahasa, mempunyai perbedaan arti,
sekalipun agak berdekatan. Mengenal hal ini AzZarkasyi telah menukil sebagai berikut:
Ibnu Faris menjelaskan, makna-makna
ungkapan yang menggambarkan sesuatu itu
kembali pada tiga lata; makna, tafsir, dan tawil.
Ketiga kata ini, sekalipun berbeda tetapi
maksudnya berdekatan. Makna adalah apa
yang dimaksud dan dituju. Misalnya perkataan;
anaitu bi hadza al-kalam kadza (yang aku
maksud dengan perkataan ini adalah begini).
Adapun Tafsir menurut bahasa mengacu
pada arti menampakkan dan menyingkap. Ibnu
Al-Anbari menjelaskan, orang Arab mengatakan:
fasartu ad-dabbah wa fasartuhu, (aku memacu
binatang). Juga berarti menyingkap (al-kasyf).
Adapun tawil maka menurut bahasa
berasal dari kata aul. Perkataan mereka, apa
tawil perkataan ini? artinya ialah sampai
dimanakah pengaruh yang dimaksud oleh
perkataan itu? Misalnya dalam firman Allah
(Al-Araf: 53), maksudnya ialah disaat
kesudahannya tersingkap.

196

Tafsir dan Takwil

Dan dikatakan: ala al-amr ila kadza,


(urusannya menjadi begini). Seperti firman-Nya:
Tawil berasal dari maal, yaitu akibat
dan kesudahan. Kata-kata wa qad awwaltuhu,
(aku palingkan ia, maka ia un berpaling). Dengan
demikian tawil sekan-akan memalingkan ayat
kepada makna-makna yang dapat diterimanya.
Kata tawil dibentuk dengan pola tafil
adalah untuk menunjukkan arti banyak. (AlKahfi: 82).
D. Perbedaan antara Tafsir Dengan Tawil
1. Tawil adalah menafsirkan perkataan dan
menjelaskan maknanya, maka tawil dan
tafsir dalah dua kata yang berdekatan atau
sam maknanya.
2. Tawil adalah esensi yang dimaksud dari
suatu perkataan, maka tawil dari thalab
(tuntutan) adalah esensi perbuatan yang
dituntut itu sendiri, dan tawil dari khabar
adalah esensi sesuatu yang diberitakan.
3. Tafsir adalah apa yang telah jelas didalam
Kitabullah atau tertentu (pasti) dalam Sunnah
yang sahih karena maknanya telah jelas dan
gambling
4. Di katakan pula, tafsir lebih banyak digunakan
dalam menerangkan lafazh dan mufradat (kosa
kata), sedang tawil lebih banyak dipakai
dalam (menjelaskan) makna dan susunan
197

Tafsir dan Takwil

kalimat. Dan masih banyak lagi pendapatpendapat yang lain.


E. Keutamaan Tafsir
Tafsir dalah ilmu syariat paling agung dan
paling tinggi kedudukannya. Ia merupakan ilmu
yang paling mulia obyek pembahasan dan
tujuannya
serta
dibutuhkan.
Obyek
pembahasannya
adalah
Kalamullah
yang
merupakan
sumber
segala
hikmah
dan
tambang segala keutamaan.Tujuan utamanya
untuk dapat berpegang pada tali yang kokoh dan
mencapai kebahagiaan hakiki.Dan kebutuhan
terhadapnya sangat mendesak karena segala
kesempurnaan agamawi dan duniawi haruslah
sejalan dengan syara sedang kesejalanan ini
sangat bergantung pada pengetahuan tentang
Kitab Allah.
F. Adab Mufasir
1. Berniat baik dan bertujuan benar, sebab amal
perbuatan itu bergantung pada niat. Orang
yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu syariat
hendak nya mempunyai tujuan dan tekad
membangun kemaslahatan umum.
2. Berakhlak mulia, karena muffasir bagai
seorang pendidik. Pendidikannya yang
diberikan itu tidak akan berpengaruh ke
dalam jiwa,jika ia tidak menjadi panutan
dengan akhlak dan perbuatab mulia.
3. Taat dan amal.Ilmu akan lebih dapat
menerima
melalui
orang
yang
198

Tafsir dan Takwil

4.

5.

6.

7.

8.

9.

mengamalkannya daripada yang hanya hebat


dalam teori dan konsep. Dan perilaku mulia
akan menjadikan muffasir sebagai panutan
yang baik pengamalan masalah-masalah
agama yang ditetapkannya.
Jujur dan teliti dalam penulikan. Ia tidak
berbicara atau menulis kecuali setelah
menyelidiki apa yang diriwayatkannya
Tawadhu
dan
lemah
lembut,karena
kesombongan ilmiah merupakan satu dinding
kokoh yang dapat menghalangi antara seorang
alim dengan kemanfaatan ilmunya.
Berjiwa mulia seharusnya lah orang alim
menjauhkan diri dari hal-hal yang remeh serta,
tidak menjadi penjiklat dan pengemis jabatan
dan kekuasaan bagi peminta-minta yang buta
Berani dalam menyampaikan kebenaran,
karena
jihad
paling
utama
adalah
menyampaikan kalimat yang hak di hadapan
penguasa alim.
Bersikap tenang dan mantap. Musafir
hendaknya tenang dalam berbicara, tidak
terburu-buru, mantap dan jelas, kata demi
kata.
Mendahulukan orang yang lebih utama dari
pada dirinya. Seorang musafir hendaknya
tidak gegabah untuk menafsirkan dihadapan
orang yang lebih pandai pada waktu mereka
masih hidup dan tidak pula merendahkan
mereka sesudah mereka wafat
199

Tafsir dan Takwil

10. Berpenampilan
simpatik
yang
dapat
menjadikan musafir berwibawa dan terhormat
dalam semua penampilan nya secara umum,
juga dalam cara duduk, berdiri dan berjalan,
namun sikap ini hendaknya tidak dipaksapaksakan.
11. Siap metodologis dalam membuat langkahlangkah penafsiran sepperti memulai dengan
menyebutkan asbabun nuzul , arti kosa kata,
menerangka struktur kalimat, menjelaskan
segi-segi balaghah dan irab yang padanya
bergantung penentuan makna.
Adapun mengemukakan koleraasi dan
pertautan di antara ayat-ayat, bergantung pada
struktur kalimat dan konteks.

200