Anda di halaman 1dari 136

Identitas Nasional

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Tonybee, ciri khas suatu bangsa yang merupakan local genius dalam
menghadapi pengaruh budaya asing akan menghadapi challance dan response. Jika challance
cukup besar sementara response cukup kecil, maka bangsa tersebut akan punah dan hal ini
sebagai mana terjadi pada bangsa Aborigin di Australia dan bangsa Indian di Amerika Serikat.
Namun demikian, apabila challance kecil dan response besar maka bangsa tersebut tidak akan
pernah berkembang menjadi bangsa yang kreatif. Oleh karena itu, agar bangsa ini besar maka
haruslah tetap meletakkan jati dirinya dan identitas nasional sebagai dasar pengembangan
kreatifitas budaya globalisasi (Batubara,Ismed et al. 2010)
Negara dan bangsa memiliki pengertian yang beda apabila negara adalah organisasi
kekuasaan dari persekutuan hidup manusia. Maka bangasa lebih menunjuk pada persekutuan
hidup manusai itu sendiri. Di dunia ini masih ada bangsa yang belom bernegara. Demikian pula
orang-orang yang telah bernegara yang pada mulanya berasal dari banyak bangsa. Baik bangsa
maupun negara memiliki ciri khas yang membedakan bangsa atau negara tersebut dengan bangsa
dan negara lain di dunia. Ciri khas sebuah bangsa merupakan identitas dari bangsa yang
bersangkutan. Identitas-identitas yang disepakati dan diterima oleh bangsa jadi identitas bangsa.
Dalam konteks berbangasa dan bernegara di Indonesia, maka identitas nasional itu
merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum
masuknya agama-agama secara besar-besaran dimuka bumi ini (Tim Dosen.2011). Namun,
selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya sendiri. Dari uraian
diatas maka penulis merasa tertarik untuk membuat makalah dengan judul Identitas Nasional
Idonesia
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan tujuan tersebut, rumusan masalah yang dapat dibuat adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan identitas nasional ?
2. Apa sajakah parameter identitas nasional ?

3. Apa sajakah yang termasuk kedalam unsur-unsur identitas nasional ?


1.3 Tujuan
Adapun beberapa tujuan yang akan dibahas dalam materi ini adalah :
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan pengertian identitas nasional
2. Mahasiswa dapat memahami parameter identitas nasional
3. Mahasiswa dapat memahami unsur-unsur identitas nasional.

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Identitas Nasional


Pada tahun 1992 untuk pertama kalinya bendera merah putih berkibar di Olimpiade
Internasional di Barcelona ,Spanyol. Susi susanti (emain bulu tangkis putri yang mendapatkan
medali emas Olimpiade pertama) berdiri dipanggung, diiringi pengibaran bendera merah putih
dan lagu Indonesia Raya. Perasaan bangga dan haru menendai usaha keras menuju budaya
unggul telah membuahkan hasil berupa kehormatan bangsa berkibar melalui bendera dan lagu
kebangsaan.
Bendera yang berkibar dan lagu kebangsaan yang terdengar di Barcelona tersebut
merupakan salah satu ciri dari bangsa Indonesia. Bangsa-bangsa lain mengenal Indonesia dengan
berbagai ciri yang bersifat khas, selainbendera dan lagu Indonesia raya sebagai lagu kebangsaan,
ciri khas lainnya seperti letak geografis Indonesia yang khas., pulau-pulaunya yang berjumlah
ribuan, suku bangsanya yang beragam, masyarakatnya yang religius atau beragam dan
kebudayaan baik yang terkait dengan norma maupun teknologi.
Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat
memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia.
Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan
suatu keunikannya serta membedakannya dengan hal-hal lain. Nasional berasal dari kata
Nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural tertentu
yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, yang dimaksud dengan
Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia (Kibaw.2011).
Nilai-nilai budaya yang berada dalam sebagian besar masyarakat dalam suatu negara dan
tercermin didalam suatu identitas nasional bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam
kebekuan normative dan dogmatis, melainkan sesuatu yang terbuka yang cendrung terus
menerus berkembang karena hasrat menuju kemajuan yang di miliki masyarakat pendukungnya.
Implikasinya, identitas nasional merupakan sesuatu yang terbuka untuk diberi makna baru agar

tetap relevan dan fungsional dalam kondisi actual yang berkembang dalam masyarakat.
Idaentitas nasional merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang
dalam aspek kehidupan suatu bangsa (nation) dengan cirri-ciri khas, dan dengan cirri khas tadi
suatu bangsa berbeda dengan bangsa lainnya (Batubara,Ismed et al. 2010).
2.1.1 Faktor Pembentukan Identitas Bersama
Proses pembentukan bangsa-negara membutuhkan identitas identitas untuk menyatukan
masyarakat bangsa yang bersangkutan. Faktor faktor yang diperkirakan menjadi identitas
bersama suatu bangsa, meliputi primordial, sacral, tokoh, bhinneka tnggal ika, sejarah,
perkembangan ekonomi, dan kelembagaan ( Ramlan Surbakti, 1999)
2.1.1.1 Primordial
Faktor faktor primordial ini meliputi : ikatan kekerabatan (darah dan keluarga),
kesamaan suku bangsa, daerah asal (homeland), bahasa, dan istiadat. Faktor primordial
merupakan identitas yang menyatakan masyarakat sehingga mereka dapat membentuk bangsanegara. Contoh, bangsa Yahudi membentuk Negara Israel.
2.1.1.2 Sakral
Faktor sakral dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk masyarakat atau ideologi
doktriner yang diakui oeh masyarakat yang bersangkutan. Agama dan ideologi merupakan faktor
sacral yang dapat membentuk bangsa-negara. Factor sacral ikut menyumbang terbentuknya satu
nasionalisme baru. Factor agama Katolik mampu membentuk beberapa negar di Amerika Latin.
Negara Uni Sovyet diikat oleh kesamaan ideologi komunitas.
2.1.1.3 Tokoh
Kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan dihormati oleh masyarakat dapat pula
menjadi factor yang menyatukan bangsa-negara. Pemimpi di beberapa Negara dianggap sebagai
penyambung lidah rakyat, pemersatu rakyat, dan symbol persatuan bangsa yang bersangkutan.
Beberapa Contoh, misalnya Mahatma Ghandi di India, Tito di Yugoslavia, Nelson Mandella di
Afrika Selatan, dan Soekarno di Indonesia.
2.1.1.4 Bhinneka Tunggal Ika

Prinsip bhinneka tunggal ika pada dasarnya adalah kesediaan warga bangsa untuk bersatu
dalalm perbedaan (unity in diversity). Yang disebut bersatu dalam perbedaan adalah kesediaan
warga bangsa untuk setia pada lembaga yang disebut Negara dan pemerintahnya, tanpa
menghilangkan keterikatannya pada suku bangsa adat, ras, dan agamanya.
Sesungguhnya warga bangsa memiliki kesetiaan ganda (multiloyalities). Warga setiaa
pada identitas primodialnya dan warga juga memiliki kesetiaan pada pemerintahan dan Negara,
namun mereka menunjukkan kesetiaan yang lebih besar pada kebersamaan yang terwujud dalam
bangsa-negara di bawah satub pemerintah yang sah. Mereka sepakat untuk hidup bersama di
bawah satu bangsa meskipun berbeda latar belakang.
2.1.1.5 Perkembangan Ekonomi
Perkembangan ekonomi (industrilisasi) akan melahirkakn spesialisasi pekerjaan dan
profesi sesuai dengan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan variasi kebutuhan
masyarakat, semakin saling bergantung di antara jenis pekerjaan. Setiap orang akan saling
bergantung dalam memenuhi kebutuhan hidup. Semakin kuat saling ketergantungan anggota
masyarakat karena perkembangan ekonomi, akan semakin besar solidaritas dan persatuan dalam
masyarakat. Solidaritas yang terjadi kerena perkembangan ekonomi oleh Emile Dirkhiem disebut
solidaritas organis. Factor ini berlaku di masyarakat industri maju seperti Amerika Utara dan
Eropa Barat.
2.1.1.6 Kelembangaan
Faktor lain yang berperan dalam mempersatukan bangsa berupa lembaga lembaga
pemerintahan dan politik. Lembaga lembaga itu seperti birokrasi, angkatan bersenjata,
pengadilan, dan partai politik. Lembaga lembaga itu melayani dan mempertemukan warga
tanpa memebeda beda asal-usul dan golongannya dalam masyarakat. Kerja dan perilaku
lembaga politik dapat mempersatukan orang sebagai satu bangsa (Winarno. 2009).
2.1.2

Identitas Cultural Unity atau Identitas Kesukubangsaan (Bangsa dalam Arti Sosiologis
dan Antrtopologis)
Cultural unity merujuk pada bangsa dalam pengertian kebudayaan atau bangsa dalam arti
sosiologis antropologis. Bangsa dalam pengertian sosiologis dan antropologis adalah persekutuan
hidup masyar,akat yang berdiri sendri masing-masing anggota persekutuan hidup tersebut merasa

satu kesatuan ras, bahasa, agama, dan adat istiadat. Jadi, mereka menjadi satu bangsa karena
mereka disatuakn oleh kesamaan ras, budaya, kkutuan hidup masyaraeyakinan, bahasa dan
sebagainya. Ikatan demikian disebut ikatan primordial. Persekutuan hidup masyarakat semacam
ini dalam suatu negara dapat merupakan persekutuan hidup yang mayoritas dan dapat pula
persekutuan hidup minoritas.
Satu negara dapat terdiri dari beberapa bangsa. Misalnya Amerika Serikat terdirid dari
Bangsa Negro, Bangsa Indian, Bangsa Cina, Bangsa Yahudi yang dahulunya merupakan kaum
pendatang. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai Bangsa yang tersebar dari Aceh sampai Irian
Jaya, seperti Batak, Minang Kabau, sunda, dayak, Banjar dan sebagainya. Sebuah Bangsa dapat
pula tersebar dibeberapa Negara. Misalnya Bangsa Arab tersebar di berbagai negara disekitar
Timur tengah (Srijanti et al. 2007).
Identitas yang dimiliki oleh sebuah cultural unity kurang lebih bersifat askriptif (sudah
ada sejak lahir), bersifat alamiah (bawaan), primer, dan etnik. Setiap anggota cultural unity
memiliki kesetiaan atau loyaritas dan identitasnya. Misalnya, setia pada suku, agama, budaya,
kerabat, daerah asal, dan bahasanya. Identitas demikian dapat pula disebut sebagai identitas
primordial.
Loyalitas pada primodialnya pada umumnya kuat dan langgeng (bertahan lama). Orang
orang yang bersatu dalam kesatuan primodial memiliki ikatan emosional yang kuat serta
melahirkan solidaritas erat. Solidaritas mereka akan semakin kuat manakala berhadapan dengan
kelompok primordial lainnya (Syarif Hidayatullah. 2008)
2.1.3

Identitas Political Unity atau Identitas Kebangsaan (Bangsa dalam Arti Politis)
Political unity merujuk pada bangsa dalam pengertian politik yaitu bangsa-negara.
Bangsa dalam pengertian politik adalah suatu masyarakat dalam suatu daerah yang sama dan
mereka tunduk pada kedaulatan negaranya s bagai suatu kekuasaan tertinggi keluar dan kedalam.
Jadi mereka diikat oleh kekuasaan politik yaitu negara. Jadi bangsa dalam arti politik adalah
bangsa yang sudah memiliki negara dan mengakui serta tunduk pada kekuasaan dari negara yang
bersangkutan. Setelah mereka bernegara, terciptalah Bangsa. Misalnya, pemunculan bangsa
Indonesia (arti politis) setelah terciptanya negara Indonesia. Bangsa dalam arti sosiologis
sekarang ini lebih dikenal dengan istilah etnik suku atau suku Bangsa. Ini untuk membedakan
dengan bangsa yang sudah beralih dalm arti politis. Namun, kita masih mendengar istilah Bangsa

dalam arti sosiologis antropologis untuk menunjukkan persekutuan hidup misalnya Bangsa
Morou, Bangsa Yahudi, Bangsa Urdi dan Bangsa Tamil. Bangsa Indonesia dalam arti politis
memiliki banyak Bangsa seperti Bangsa Batak, Minang Kabau, jawa, Betawi, Madura, Dayak,
hasmat dll. Indonesia dikenal sebagai Bangsa yang heterogen karena banyak Bangsa didalamnya.
Negara yang terbentuk berasal dari satu bangsa dengan identitas primordial yang sama.
Namun dewasa ini, Negara yang relatif homogeny, yang hanya terdiri dari satu bangsa tidak
banyak terjadi. Umumnya Negara yang terbentuk adalah heterogen, terdiri dari banyak bangsa di
dalamnya. Negara baru perlu menciptakan identitas kebangsaan atau identitas nasional.
Identitas identitas kebangsaan itu merupakan kesepakatan dari banyak bangsa di
dalamya. Identitas nasional itu dapat saja berasal dari identitas sebuah bangsa di dalamya yang
selanjutnya disepakati sebagai identitas nasionalnya. Identitas kebangsaan bersifat buatan,
sekunder, etis dan nasional. Beberapa bentuk identitas nasional adalah bahasa nasional, lambing
nasional, semboyan nasional, bendera nasional, dan ideologi nasional.
Kesediaan dan kesetiaan warga bangsa untuk mendukung identitas nasional itu peril
ditanamkan, dipupuk, dan dikembangkan secara teru menerus. Hal ini disebabkan warga juga
memilki kesertaaan pada identitas kelompoknya yang justru lebih dahulu daripada kesetiaan
pada identitas nasional. Kesetiaan pada identitas nasional amat penting karena dapat
mempersatukan warga bangsa itu sebagai satu bangsa dalam satu negara. Dinegara yang
heterogen atau negara yang proses pembentukannya model mutakhir, sesungguhnya warga
bangsa di Negara itu memiliki loyalitas ganda (Syarif Hidayatullah. 2008)
2.2 Hakikat Negara ( Proses Pembentukan Bangsa Negara)
Secara umum dikenal adanya dua proses pembentukan bangsa Negara, yaitu model
ortodoks dan model mutakhir. ( Ramalan Surbakti, 1999 ). Pertama, model ortodoks yaitu
bermula dari adanya suatu bangsa terlebih dahlu, untuk kemudian bangsa itu membentuk satu
Negara tersendiri. Contoh, bangsa Yahudi berupaya mendirikan Negara Israel untuk bangsa
Yahudi. Setelah bangsa Negara ini terbentuk maka rezim politik ( penguasa ) dirumuskan
berdasarkan konstitusi Negara yang selanjutkan dikembangkan oleh partisipasi warga Negara
dalam kehidupan bangsa Negara yang bersangkutan. Kedua, model mutakhir yaitu berawal dari
adanya Negara terlebih dahulu yang terbentuk melalui proses tersendiri, sedangkan penduduk

Negara merupakan sekumpulan suku, bangsa dan ras. Contohnya adalah kemunculan Negara
Amerika serikat pada tahun 1776.
Kedua model ini berbeda dalam empat hal. Pertama, ada tidaknya perubahan unsure
dalam masyarakat. Model ortodoks tidak mengalami perubahan unsur karena satu bangsa
membentuk satu Negara. Model mutakhir mengalami perubahan unsur karena dari banyak
kelompok suku bangsa menjadi satu. Kedua, lamanya waktu yang diperlukan dalam proses
pembentukan bangsa Negara. Model ortodoks membutuhkan waktu yang singkat saja, yaitu
hanya membentuk struktur pemerintahan, bukan pembentukan identitas kulturalbaru. Model
mutakhir memerlukan wakt yang lamakarena harus mencapai kesepakatan tentang identitas
cultural yang baru. Ketiga, kesadaran politik masyarakat dalam model ortodoks muncul setelah
terbentuknya bangsa negara, sedangkan dalam model mutakhir, kesadaran politik warga muncul
mendahuluinbahkan menjadi kondisi awal terbentuknya bangsa negara. Keempat, derajat
partisipasi politik dan rezim politik. Pada model ortodoks, partisipasi politik dan rezimpolitik
dianggap sebagian terpisah dari proses integrasi nasional. Pada model mutakhir, partisipasi
politik dan rezim politik merupakan hal yang terpisahkan dari proses integrasi nasional
(Winarno. 2009).
2.2.1 Arti Negara
Menurut Kamus Besar Bahsa Indonesia, Negara mempunyai dua pengertian berikut.
Pertama, Negara adalah organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang
sah dan ditaati rakyatnya. Kedua Negara adalah kelompok social yang menduduki wilayah atau
daerah tertentu yang diorganisasi dibawah lembaga politik dan pemerintahan yang efektif,
mempunyai satu kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.
Pengertian negara dari pendapat para ahli, antara lain sebagai berikut :
1. George Jellinek
Negara ialah orgarnisasi kekuasaan dari sekelompok manusaia yang telah berkediaman di
wilayah tertentu.
2. Kranenburg
Negara adalah organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsanya
sendiri.
3. Roger F. soultau

Negara adalah alat (agency) atau wewenag (authority) yang mengatur atau mengendalikan
persoalan bersama atas nama masyarakat.
4. Soenarko
Negara adalah organisasi kekuasaan masyarakat yang mempunyai daerah tertentu dimana
kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai sovereign.
5. George Wilhelm Fredrich Hegel
Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan
individual dan kemerdekaan universal.
6. R. Djokosoetono
Negara ialah suatu organisasi masyarakat atau kumpulan manusia yang berada diwilayah
suatu pemerintahan yang sama.
7. Jean Bodin
Negara adalah suatu persekutuan keluarga dengan segala kepentingannya yang dipimpin
oleh akal dari suatu kuasa yang berdaulat.
8. Mirriam Budiardjo
Negara adalah suatu daerah territorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat
dan yang berhasi menuntut dari warganya ketaatan pada perundangan melalui penguasaan
control dari kekuasaan yang sah.
2.2.2 Unsur Unsur Negara
Dari beberapa pendapat mengenai negara tersebut, dapat disimpulkan bahwa negara
adalah organisasi yang didalamnya harus ada rakyat, wilayah yang permanen dan pemerintah
yang berdaulat (baik dalam maupun ke luea). Hal diatas disebut unsur-unsur negara. Unsureunsur negara meliputi:
a.

Rakyat
Yaitu orang orang yang bertempat tinggla diwilayah itu, tunduk pada kekuasaan negara
dan mendukung negara yang beresangkutan.

b.

Wilayah
Yaitu daerah yang menjadi kekuasaan negara serta menjadi tempat tinggal bagi rakyat
negara. Wilayah juga menjadi sumber kehidupan rakyat negara. Wilayah negara mencakup
wilayah darat, laut dan udara.

c.

Pemerintah yang berdaulat


Yaitu adanya penyelenggara negara yang memiliki kekuasaan menyelenggarakan
pemerintahan di negara tersebut. Pemerintah tersebut memiliki kedaulatan baik ke dalam
maupun ke luar. Kedaulatan ke dalam berarti negara memiliki kekuasaan untuk ditaati oleh
rakyatnya. Kedaulatan ke luar artinya negara mampu mempertahankan diri dari serangan negara
lain.
Unsur rakyat, wilayah, dan pemerintah yang berkedaulatan merupakan unsur konstitusif
atau unsur pembentuk, yang harus terpenuhi agar terbentuk negara. Selain ada unsur rakyat,
wilayah dan pemerintah yang berdaulat, ada unsur pengakuan dari negara lain. Pengakuan dari
negara lain merupakan deklaratif. Unsur deklaratif adalah unsur yang sifatnya menyatakan,
bukan unsur yang mutlak.
Sebagai organisasi kekuasaan, negara memiliki sifat memaksa, monopoli, dan mencakup
semua.

a.

Memaksa, artinya memiliki kekuasaan untuk menyelenggarakan ketertiban dengan memakai


kekerasan fisik secara legal.

b. Monopoli, artinya memliki hak menetapkan tujuan bersama masyarakat.


Negara memiliki hak untuk melarang sesuatu yang bertentangan dan manganjurkan sesuatu yang
dibutuhkan masyarakat.
c.

Mencakup semua, artunya semua peraturan dan kebijakan negara berlaku untuk semua orang
tanpa kecuali.
2.2.3 Teori Terjadinya Negara
2.2.3.1 Proses Terjadinya Negara secara Teoretis
Secara teoritis yang dimaksud adalah, para ahli politik dan hukum tata negara berusaha
membuat teoretisasi tentang terjadinya negara. Dengan demikian, apa yang dihasilkan lebih
karena pemikiran para ahli tersebut, bukan berdasarkan kenyataan faktualnya.Beberapa teori
terjadinya negara adalah sebagi berikut :

1. Teori Hukum Alam


Teori hukum alam merupakan hasil pemikiran paling awal, yaitu masa Plato dan
Aristoteles. Menurut teori ini, terjadinya negara adalah sesuatu yang alamiah. Bahwa segala
sesuatu itu berjalan menurut hukum alam, yaitu mulai lahir, berkembang, mencapai puncaknya,

layu, dan akhirnya mati. Negara terjadi secara alamiah, bersumber dari manusia sebagai makhluk
social yang memiliki kecenderungan berkumpul dan saling berhubungan untuk mencapai
kebutuhan hidupnya.
2.

Teori Ketuhanan
Teori ini muncul setelah lahirnya agama-agama besar di dunia, yaitu Islam dan Kristen.
Dengan demikian, teori ini dipengaruhi oleh paham keagamaan. Menurut teori ketuhanan,
terjadinya negara adalah karena kehendak Tuhan, didasari kepercayaan bahwa segala sesuatu
berasal dari Tuhan dan terjadi atas kehendak Tuhan.

3.

Teori Perjanjian
Teori perjanjian muncul sebagain reaksi atas teori hukum alam dam kedaulatan Tuhan.
Mereka menganggap kedaun teori tersebut belum mampu menjelaskan dengan baik bagaimana
terjadinya negara. Teori ini dilahirkan oleh pemikir-pemikir Eropa menjelang abad Pencerahan.
Mereka adalah Thomas Hobbes, Jhon Locke, J.J. Rousseau dan Montesquieu.
Menurut teori perjanian, negara terjadi sebagai hasil perjanjian antar manusia / individu.
Manusia berada dalam dua keadaan, yaitu keadaan sebelum bernegara dan keadaan setelah
bernegara. Negara pada dasarnya adalah wujud perjanjian dari masyarakat sebelum bernegara
tersebut untuk kemudian menjadi masyarakat bernegara.
Pendapat lain dikemukan oleh G. Jellinek, yaitu terjadinya negara dapat dilihat secara
primer dan sekunder. Perkembangan negara seacara primer membicarakan tentang bagaimana
pertumbuhan negara mulai dari persekutuan atau kelompok masyarakat yang sederhana
berkembang menjadi negara modern. Sedangkan perkembangan negara secara sekunder
membicarakan tentang bagaimana terbentuknya negara baru yang dihubungkan dengan masalah
pengakuan. Jaadi, yang terpenting adalah muncul tidaknya negara baru tersebut adalah karena
ada tidaknya pengakuan dari begara lain.
Menurut Jellinek, teradinya negara secara primer melaui 4 (empat) tahapan, yaitu:

a. Persekutuan masyarakat
b. Kerajaan
c. Negara, dan
d. Negara demokrasi

2.2.3.2 Proses terjadinya negara di Zaman Modern


Menurut pandangan ini dalam kenyataanya, terjadinya negara bukan disebabkan oleh
teori-teori seperti diatas. Negara-negara di dunia ini terbentuk karena melalui beberapa proses,
seperti:
a.

Penaklukan atau occupatie


Yaitu suatu daerah yang tidak dipertuan kemudian diambil alih dan didirikan negara diwilayah
itu. Misal, Liberia adalah daerah kosong yang dijadikan negara oleh para budak Negro yang telah
dimerdekakan orang Amerika. Liberia dimerdekakan pada tahun 1847.

b. Peleburan atau fusi


Adalah suatu penggabungan dua atau lebih negara menjadi negara baru. Misal, Jerman Barat dan
Jerman Timur bergabung menjadi negara Jerman.
c.

Pemecahan
Adalah terbentuknya negara-negara baru akibat terpecahnya negara lama sehingga negara
sebelumnya menjadi tidak ada lagi. Contoh Yugoslavia terpecah menjadi negara Serbia, Bosnia,
Montenegro.

d. Pemisahan diri
Adalah memisalnya suatu bagian wilayah negara yang kemudian terbentuk negara baru.
Misalnya India kemudian terpecah menjadi India, Pakistan dan Bangladesh.
e.

Perjuangan atau revolusi


Merupakan hasil dari rakyat suatu wilayah yang umumnya dijajah negara lain kemudian
memerdekakan diri. Contohnya adalah Indonesia yang melakukan perjuangan revolusi sehingga
mampu membentuk negara merdeka.

f.

Penyerahan / pemberian
adalah bekas jajahannya. Contoh Kongo dimemerdekakan oleh prancis

g. Pendudukan atas wilayah yang belum ada pemerintahan sebelumnya.

Pendudukan terjadi terhadap wilayah yang ada penduduknya, tetapi tidak berpemerintah.
Contohnya Australia merupakan daerah baru yang ditemukan Inggris meskipun disana terdapat
suku Aborigin.

2.2.3.3 Fungsi dan Tujuan Negara


Fungsi negara merupakan gambaran apa yang dilakukan negara untuk mencapai
tujuannya. Fungsi nergara dapat dikatakan sebagai tugas daripada negara. Negara sebagai
organisasi kekuasaaan dibentuk untuk menjalankan tugas-tugas tertentu. Dibawah ini adalah
fungsi negara menurut beberapa ahli, antara lain sebagai berikut:
a. John Locke
Seorang sarjana Inggris membagi fungsi negara menjadi tiga fungsi, yaitu:
1.

Fungsi Legislatif, untuk membantu peraturan

2.

Fungsi Eksekutif, untuk melaksanakan peraturan

3.

Fungsi Federatif, untuk mengurusi urusan luar negeri dan urusan perang dan damai

b. Montesquieu
Tiga fungsi negara menurut Montesquieu adalah:
1.

Fungsi legislative, mermbuat Undang-Undang

2.

Fungnsi eksekutif, melaksanakan Undang-Undang

3.

Fungsi yudikatif, untuk megawasi agara semua peraturan ditaati (fungsi mengadili), yang

popular dengan nama Trias Politika


c. Van Vollen Hoven
Seorang sarjan dari negara Belanda, menurutnya fungsi negara dibagi dalam:
1.

Regeling, membuat peraturan

2.

Bestuur, menyelenggarakan pemerintahan

3.

Rechtspraak, fungsi mengadili

4.

Politie, fungsi ketertiban dan keamanaan

Ajaran Van Vollen Hoven tersebut terkenal dengan Catur Praja.


d. Goodnow
Menurut Goodnow fungsi negara sebagai prinsipil dibagi menjadi 2 bagian:

1.

Policy making, yaitu kebijaksanaan negara untuk waktu tertentu utuk seluruh masyarakat.

2.

Policy executing, yaitu kebijaksanaan yang harus dilaksanakan untuk tercapainya policy making
Karena mengemukakan fungsi negara dalam 2 bagian, maka ajaran Goodnow terkenal
dengan sebutan Dwipraja (Dichotomy).
Menurut Mirriam Budiardjo, fungsi pokok negara adalah sebagai berikut:

1.

Melaksananakan penertiban untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah bentrokan-bentrokan


dalam masyarakat.

2.

Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.


Fungsi ini dijalankan dengan melaksanakan pembangunan disegala bidang

3. Pertahanan
Hal ini diperlukan untuk menjaga kemungkina serangan dari luar. Untuk ini negara dilengkapi
dengan alat-alat pertahanan.
4. Menegakkan keadilan
Hal ini dilaksanakan melalui badan-badan pengadilan.
Keseluruhan fungsi negara tersebut diselenggarakan oleh pemerintah untuk mencapai
tujuan negara yang telah ditetapkan bersama. Adapun tujuna sutu negara berbeda- beda. Dibawah
ini adalah tujuan negara menurut para ahli.
1. Roger H.Soltau
Tujuan negara ialah memungkinkan rakyatnya berkembang serta menyelenggarakan daya
ciptanya sebebas mungkin.
2. Harold J. Laski
Tujuan negara adalah menciptakan keadaan dimana rakyatnya dapat mencapai terkabulnya
keinginan keinginan secara maksimal.
3.

Plato
Tujuan negara adalah memajukan kesusilaan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai
makhluk social.

4.

Thomas Aquino dan Agustinus

Untuk mencapai penghidupan dan kehidupan aman dan tentram dengan taat kepada dan dibawah
pimpinan Tuhan. Pemimpin negara menjalankan kekuasaan hanyalah berdasarkan kekuasaan
Tuhan yang diberikan kepadanya.
2.3. Cakupan Identitas Nasional
2.3.1. Identitas Manusia
Pada hakikatnya manusia hidup tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, manusia
senantiasa membutuhkan orang lain. Pada akhirnya manusia hidup berkelompok-kelompok.
Aristoteles seorang filsuf yunani mengatakan manusia adalah zoon poloticon,yang artinya
manusia adalah makhluk yang berkelompok (Srijanti et al. 2007). Manusia merupakan makhluk
yang

multidimensional,

paradoksal

dan

monopluralistik.

Keadaan

manusia

yang

multidimensional, paradoksal dan sekaligus monopluralistik tersebut akan mempengaruhi


eksistensinya. Eksistensi manusia selain dipengaruhi keadaan tersebut juga dipengaruhi oleh
nilai-nilai yang dianutnya atau pedoman hidupnya. Pada akhirnya yang menentukan identitas
manusia baik secara individu maupun kolektif adalah perpaduan antara keunikan-keunikan yang
ada pada dirinya dengan implementasi nilai-nilai yang dianutnya (Kibaw.2011).
Manusia dalam bersekutu atau berkelompok akan membentuk suatu organisasi yang
berusaha mengatur dan mengarahkan terciptanya tujuan hidup kelompok tersebut. Dimulai dari
terkecil sampai kelingkungan besar. Pada mulanya manusia hidup dalam kelompok keluarga.
Selanjutnya mereka membentuk kelompok lebih besar lagi seperti suku masyarakat dan bangsa.
Kemudian manusia hidup bernegara mereka membentuk negara sebagai persekutuan hidupnya.
Negara merupakan suatu organisasi yang dibentuk oleh kelompok manusia yang memiliki citacita bersatu, hidup dalam daerah tertentu, dan mempunyai pemerintahan yang sama (Srijanti et
al. 2007).
2.3.2 Identitas nasional
Identitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik menyangkut
sosiokultural atau religiositas. Yang termasuk kedalam Identitas nasional adalah:

Identitas fundamental/ ideal : Pancasila yang merupakan falsafah bangsa

Identitas instrumental : identitas sebagai alat untuk menciptakan Indonesia yang dicitacitakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara, bahasa Indonesia, dan lagu
kebangsaan

Identitas religiusitas : Indonesia pluralistik dalam agama dan kepercayaan.

Identitas sosiokultural : Indonesia pluralistik dalam suku dan budaya.

Identitas alamiah : Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia


(Kibaw.2011).

2.3.3 Nasionalisme Indonesia


Nasionalime merupakan situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total
diabdikan langsung kepada negara bangsa. Nasionalisme sangat efektif sebagai alat merebut
kemerdekaan dari kolonial. Nasionalisme menurut Soekarno adalah bukan yang berwatak
chauvinisme, bersifat toleran, bercorak ketimuran, hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila
2.3.4 Integrasi Nasional
Menurut Mahfud M.D integrasi nasional adalah pernyataan bagian-bagian yang berbeda
dari suatu masayarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih untuh , secara sederhana
memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Untuk
mewujudkan integrasi nasional diperlukan keadilan, kebijaksanaan yang diterapkan oleh
pemerintah dengan tidak membersakan SAR. Ini perlu dikembangkan karena pada hakekatnya
integrasi nasional menunjukkan tingkat kuatnya kesatuan dan persatuan bangsa.
Kesimpulan Identitas Nasional Indonesia adalah sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai
yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian di satupadukan dan
diselaraskan dalam Pancasila. Nilai-nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi
identitas bangsa. Oleh sebab itu, nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk

ditekankan pada diri setiap warga Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas
(Kibaw.2011).
2.4 Parameter Identitas Nasional
2.4.1 Pengertian Parameter Identitas Nasional
Parameter identitas nasional adalah suatu ukuran atau patokan yang dapat digunakan
untuk menyatakan sesuatu untuk mencari ciri khas suatu bangsa. Parameter identitas nasional
terdiri dari : Pola perilaku, Lambang lambang dan Alat-alat perlengkapan

2.4.1.1 Pola Perilaku


Identitas ini terwujud melalui aktifitas masyarakat sehari-hari. Identitas ini menyangkut
adat-istiadat, tata kelakuan, kebiasaan, ramah tamah, hormat kepada orang tua dan gotong
royong .
2.4.1.2 Lambang Lambang
Lambang-lambang ini merupakan cirri khas dari bangsa dan secara simbolis
mengambarkan tujuan dan fungsi bangsa. Lambing-lambang itu biasanya dinyatakan dalam
Undang-Undang seperti Garuda Pancasila, Bendera, Bahasa dan Lagu kebangsaan.
2.4.1.3 Alat-Alat Perlengkapan
Alat-alat perlengkapan ini dipergunakan untuk mencapai tujuan sperti bangunan, teknolgi
dan peralatan manusia. Identitas yang dari perlengkapan ini seperti bangunan yang merupakan
Tempat ibadah (Mesjid, Gereja, Pura, Vihara dan Candi), Peralatan manusia (Pakaian adat), dan
Teknologi (Batubara,Ismed et al. 2010).
2.4.2 Unsur Pembentuk Identitas Nasional Berdasarkan Parametris Sosiologis
2.4.2.1 Suku bangsa
Suku bangsa adalah golongan social yang khusus dan bersifat askriptif (ada sejak lahir),
yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Menurut statistic, ada 300 suku

bangsa di Indonesia yang memiliki adat istiadat, tata kelakuan, dan norma yang berbeda
(Winarno. 2009).
Kemajemukan merupakan identitas lain bangsa Indonesia. Namun demikian, lebih dari
sekedar kemajemukan yang bersifat alamiah tersebut, tradisi bangsa Indonesia ntuk hidup
bersama dalam kemajemukan merupakan unsur lain yang harus terus dikembangkan dan
dibudayakan. Kemajemukan alamiah bangsa Indonesia bangsa Indonesia dapat dilihat pada
keberadaban lebih dari ribuan kelompok suku, beragam bahasa, budaya, dan ribuan kepulauan
(Syarif Hidayatullah. 2008).
2.4.2.2 Kebudayaan
Kebudayaan menurut ilmu sosiologis ternasuk kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi dan
adat istiadat. Kebudayaan sifatnya kolektif komunal, milik bersama suatu kelompok, khas dan
unik.
Aspek kebudayaan yang menjadi unsur pembentuk identitas nasional meliputi tiga unsur,
yaitu akal budi, peradaban, dan pengetahuan. Akal budi bangsa Indonesia dapat dillihat pada
sikap ramah dan santun kepada sesama. Sedangkan, unsur identitas peradabannya tercermin dari
keberadaan dasar Negara Pancasila sebagai nilai nilai bersama bangsa Indonesia yang
majemuk .Sebagai bangsa maritim, keandalan bangsa Indonesia dalam pembuatan kapal Pinisi di
masa lalu merupakan identitas pengetahuan bangsa Indonesia lainnya yang tidak dimiliki oleh
bangnsa lain di dunia (Syarif Hidayatullah. 2008).
2.4.2.2.1 Bahasa
Ada lebih dari 300 bahasa daerah di Indonesia, tetapi kita bisa Berbhineka Tunggal Ika
yang melambang kemajemukan bangsa ini, tetapi bangsa melayu yang menjadi lingua franca
dalam transaksi perdagangan diantara suku-suku di Nusantara dan suku bangsa Indonesia dengan
bangsa asing.
Bahasa Indonesia adalah salah satu identitas nasional Indonesia yang penting. Sekalipun
Indonesia memiliki ribuan bahasa daerah, kedudukan bahasa Indonesia (bahasa yang digunakan
bahasa Melayu) sebagai bahasa penghubung berbagai kelompok etnis yang mendiami kepulauan
Nusantara memberikan nilai identitas tersendiri bagi bangsa Indonesia. Peristiwa Sumpah
Pemuda tahun 1928, yang menyatakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa
Indonesia, telah memberikan nnilai tersendiri bag pembentukan identitas nasional Indonesia.

Lebih dari sekedar bahasa nasional, bahasa Indonesia memilki nilai tersendiri dari bangsa
Indonesia; ia telah memberikan sumbangan besar pada pembentukan persatuan dan
nasionalisme Indonesia (Syarif Hidayatullah. 2008).
2.4.2.2.2

Kondisi Geografis
Indonesia memiliki 13.667 pulau dengan letak yang strategis diantara dua samudra dan
dua benua. Buminya kaya baik didarat maupun dilaut, hutannya terbesar kedua setelah brazil,
tanahnya mengandung emas, intan, nikel, dan batubara. Lautnya tidak sekedar penuh dengan
ikan tetapi juga aneka biota, mutiara, terumbu karang dan sebagainya. Kekayaan ini adalah
modal, harapan dan sekaligus ancaman bila salah dalam menempatkan strategoi dan
pengelolaannya.

2.5 Unsur-Unsur Pembentuk Identitas Nasional


Identitas nasional indonesia pada saat ini terbentuk dari enam unsur yaitu sejarah
perkembangan bangsa Indonesia, kebudayaan bangsa Indonesia, suku bangsa, agama, dan
budaya unggul. Namun demikian, unsur-unsur ini tidak statis dan akan berkembang sesuai
dengan tujuan bangsa indonesia.
2.5.1 Sejarah
Persepsi yang sama di antara warga masyarakat tentang sejarah mereka dapat
menyutakan diri dalam satu bangsa. Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu, seperti
sama sama menderita kerena penjajahan , tidak hanya melahirkan solidaritas tetapi juga
melahirkan tekad dan tujuan yang sama antara anggota masyarakat itu.
Bangsa indonesia mengalami kehidupan dalam beberapa situasi dan kondisi sosial yang
berbeda sesuai dengan perubahan zaman. Bangsa Indonesia secara ekonomis dan politik pernah
mencapai era kajayaan di wilayah asia tenggara. Kejayaan di bidang ekonomi bangsa indonesia
ada era pemerintahan kerajaan majapahit dan sriwijaya, rakyat mengalami kehidupan ekonomi
yang sejahtera, sedangkan dalam bidang politik memiliki kekuasaaan negara hinnga seluruh
wilayah nusantara yang meliputi wilayah NKRI hingga wilayah filiphina, Singapura, Malaisya,
bahkan sebagian wilayah thailand. Namun kejayaan ini mengalami keruntuhan akibat hilangnya
jiwa persatuan dan kesatuan diantara bangsa dalam pemerintahan Majapahit dan Sriwijaya.

Keruntuhan pemerintah Majapahit dan Sriwijaya ini berimplikasi pada terciptanya


pemerintahan kerajaan di masing-masing daerah di seluruh wilayah Indonesia. Sistem
pemerintahan kerajaan ini menyebabkan bangsa Indonesia menjadi makin lemah untuk
menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dari negara lain yang ingin mencari
sumber energi baru bagi negaranya. Ketidakmampuan bangsa Indonesia ini pada akhirnya
menyebabkan bangsa Indonesia jatuh ketangan negara koloni atau negara penjajah. Sebagai
mana kita ketahui negara yang menjajah bangsa Indonesia adalah Belanda, ortugis, dan Jepang.
Ketiganya masing-masin menjajah kita selama 350 tahun, 400 tahun, dan 3,5 tahun. Dampak
langsung dari adanya penjajah ini adalah bangsa Indonesia mengalami kebodohan, kemiskinan,
keterbelakangan, perpecahan dan kehilangan sumber daya alam akibat ekploitasi yang tidak
bertanggung jawab oleh penjajah untuk di bawa ke negaranya.
Realitas pendorong bangsa indonesia dalamk perjalanan sejarah bangsa tersebut
mendorong bangsa indonesia untuk menjadi bangsa pejuang yang pantang menyerah dalam
melawan penjajah untuk meraih dan mempertahankan kembali harga diri, martabatnya (Srijanti
et al. 2007).
Bangsa indonesia mengalami kehidupan dalam beberapa situasi dan kondisi sosial yang
berbeda sesuai dengan perubahan zaman. Bangsa Indonesia secara ekonomis dan politik pernah
mencapai era kajayaan di wilayah asia tenggara. Kejayaan di bidang ekonomi bangsa indonesia
ada era pemerintahan kerajaan majapahit dan sriwijaya, rakyat mengalami kehidupan ekonomi
yang sejahtera, sedangkan dalam bidang politik memiliki kekuasaaan negara hinnga seluruh
wilayah nusantara yang meliputi wilayah NKRI hingga wilayah filiphina, Singapura, Malaisya,
bahkan sebagian wilayah thailand. Namun kejayaan ini mengalami keruntuhan akibat hilangnya
jiwa persatuan dan kesatuan diantara bangsa dalam pemerintahan Majapahit dan Sriwijaya.
Keruntuhan pemerintah Majapahit dan Sriwijaya ini berimplikasi pada terciptanya
pemerintahan kerajaan di masing-masing daerah di seluruh wilayah Indonesia. Sistem
pemerintahan kerajaan ini menyebabkan bangsa Indonesia menjadi makin lemah untuk
menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dari negara lain yang ingin mencari
sumber energi baru bagi negaranya. Ketidakmampuan bangsa Indonesia ini pada akhirnya
menyebabkan bangsa Indonesia jatuh ketangan negara koloni atau negara penjajah. Sebagai
mana kita ketahui negara yang menjajah bangsa Indonesia adalah Belanda, ortugis, dan Jepang.
Ketiganya masing-masin menjajah kita selama 350 tahun, 400 tahun, dan 3,5 tahun. Dampak

langsung dari adanya penjajah ini adalah bangsa Indonesia mengalami kebodohan, kemiskinan,
keterbelakangan, perpecahan dan kehilangan sumber daya alam akibat ekploitasi yang tidak
bertanggung jawab oleh penjajah untuk di bawa ke negaranya.
Realitas perjalanan sejarah bangsa indonesia tersebut mendorong bangsa indonesia untuk
menjadi bangsa pejuang yang pantang menyerah dalam melawan penjajah untuk meraih dan
mempertahankan kembali harga diri, martabatnya sebagai bangsa, selain itu, dipertahankan
semua potensi sumber daya alam yang ada tidak terus-menerus dieksplorasi dan dieksploitasi
yang akhirnya dapat menghancurkan kehidupan bangsa Indonesia di masa datang. Perjuangan
bangsa Indonesia ini tidak berhenti pada masalah yang tersebut di atas, melainkan berlanjut pada
perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dari penjajah.
Perjuangan demi perjuangan bangsa Indonesia pada akhirnya menjadi suatu nilai yang
mengkristal dalam jiwa bangsa indonesia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang.
Sekaligus semangat juang yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tersebut menjadi kebanggaan
sebagai identitas nasional bagi bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa lain di
ASEAN dan dunia pada umumnya. Sejarah telah memberikan identitas nasional bahwa bangsa
Indonesia adalah bangsa pejuang.
2.5.2 Kebudayaan
Aspek kebudayaan yang menjadi unsur pembentuk identitas nasional adalah meliputi tiga
unsur yaitu :
a. Akal budi
Akal budi adalah sikap dan perilaku yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam
interaksinya antara sesama maupun antara pimpinan dengan staf, anak dengan orang tua atau
sebaliknya.
b. Peradaban
Peradaban yang menjadi identitas nasional bangsa Indonesia adalah dapat dilihat dari
beberapa aspek yang meliputi aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan hankam. (1) Ideologi
adalah sila-sila dalam Pancasila, (2) Politik adalah demokrasi langsung dalam pemilu langsung
presiden dan wakil presiden serta kepala daerah tingkat I dan tingkat II kabupaten/kota,(3)
Ekonomi adalah usaha kecil dan koperasi,(4) Sosial adalah semangat gotong royong, sikap
ramah tamah, murah senyum, dan setia kawan, dan (5) Hankam adalah sistem keamanan

lingkungan, sistem perang gerilya, dan teknologi kentongan dalam memberikan informasi
bahaya dan sebagainya.
c. Pengetahuan
Pengetahuan yang menjadi unsur pembentuk identitas nasional meliputi:
1.

Prestasi anak bangsa dalam bidang olahraga bulutangkis dunia

2.

Karya anak bangsa dalam bidang teknologi pesawat terbang

3.

Karya anak bangsa dalam bidang teknologi kapal laut

4.

Prestasi anak bangsa dalam menjuarai lomba olimpiade fisika dan kimia dan sebagainya

2.5.3 Budaya Unggul


Budaya unggul adalah semangat dan kultur kita untuk mencapai kemajuan dengan cara kita
harus bisa, kita harus berbuat terbaik, kalau orang lain bisa,mengapa kita tidak bisa. Dalam UUD
1945, menyatakan bahwa bangsa Indonesia berjuang dan mengembangkan dirinya sebagai
bangsa yang merdeka, berdaulat, bersatu, maju, makmur, serta adil atau berkejahteraan. Untuk
mencapai kualitas hidup demikian, nilai kemanusiaan, demokrasi dan keadilan dijadikan
landasan ideologis yang secara ideal dan normatif diwujudkan secara konsisten, konsekuen,
dinamis, kreatif, dan bukan indoktriner.
2.5.4

Suku Bangsa
Identitas nasional dalam aspek suku bangsa adalah adanya suku bangsa yang majemuk.
Majemuk atau ragamnya suku bangsa dimaksud adalah terlihat dari jumlah suku bangsa lebih
kurang 300 suku bangsa dengan bahasa yang berbeda.

2.5.5. Agama
Identitas nasional dalam aspek agama adalah masyarakat agamis dan memiliki hubungan
antar umat seagama dan antar umat beragama yang rukun. Di samping itu, menurut UU
no.16/1969, negara Indonesia mengakui multiagama yang dianut oleh bangsanya yaitu Islam,
Khatolik, Kristen, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Indonesia merupakan negara multiagama,
karena itu dikatakan negara yang rawan disentegrasi bangsa. Untuk itu perlu diciptakan tradisi
saling menghormati antara umat beragama yang ada.
2.5.6. Bahasa

Bahasa adalah salah satu atribut bangsa disamping sebagai identitas nasional. Bahasa
Indonesia dikenal sebagai bahasa melayu yang merupakan bahasa penghubung ( lingua franca )
brerbagai etnis yang mendiami kepulauan nusantara. Bahasa melayu ini pada tahun 1982
ditetapkan oleh pemuda dari berbagai suku bangsa Indonesia dalam peristiwa Sumpah Pemuda
sebagai bangsa persatuan bangsa Indonesia.
2.6 Bentuk Bentuk Identitas Nasional Indonesia
Beberapa bentuk identitas nasional Indonesia yang akan dibahas dalam materi ini,
diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Bahasa nasional atau bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.


Bahasa Indonesia berawal dari rumpun bahasa melayu yang dipergunakan sebagai bahasa
pergaulan yang kemudian diangkat sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28 oktober 1928.
Bangsa Indonesia sepakat bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional sekaligus sebagai
identitas nasional Indonesia.

2.

Bendera negara yaitu sang Merah Putih


Warna merah berarti berani dan putih berarti suci. Lambang merah putih suadah dikenal
pada masa kerajaan di Indonesia yang kemudian diangkat sebagai bendera negara. Bendera
warna merah putih dikibarkan pertama kali pada tanggal 17 agustus 1945, namun telah
ditunjukkan pada peristiwa sumpah pemuda.

3.

Lagu kebangsaan yaitu Indonesia Raya


Indonesia raya sebagai lagu kebangsaan yang pada tanggal 28 oktober 1928 dinyanyikan
untuk pertama kali sebagai lagu kebangsaan negara.

4.

Semboyan negara yaitu Bhinneka Tungga Ika


Bhinneka Tungga Ika artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Menunjukkan kenyataan
bahwa bangsa kita heterogen, namun tetap berkeinginan untuk menjadi satu bangsa yakni bangsa
Indonesia.

5.

Dasar Falsafah Negara yaitu Pancasila

Berisi lima nilai dasar yang dijadikan sebgaai dasar filsafat dan ideologi dari negara
Indonesia. Pansila merupakan identitas nasional yang berkedudukan sebagai dasar negara dan
ideology nasional Indonesia.
6.

Konstitusi (hukum dasar) Negara yaitu UUD 1945


Merupakan hukum dasar tertulis yang menduduki tingkatan tertinggi dalam tata urutan
perundangan dan dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan bernegara.

7.

Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Berkedaulatan Rakyat


Bentuk negara adalah kesatuan, sedang bentuk pemerintahan adalah republic. Sistem
politik yang digunakan adalah sistem demokrasi ( kedaulatan rakyat ). Saat ini identitas negara
kesatuan republic Indonesia yang berkedaulatan rakyat disepakati untuk tidak ada perubahan.

8.

Konsepsi Wawasan Nusantara


Sebagai pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba
beragamdan memiliki nilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta
kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan masyarakat, bernbangsa, dan bernegara
untuk mencapai tujuan nasional.

9.

Kebudayaan Daerah yang Telah Diterima Sebagai Kebudayaan Nasional


Berbagai kebudayan dari kelompok-kelompok bangsa di Indonesiayanmg memiliki cita
rasa tinggi, dapat dinikmati dan diterima oleh masyarakat luas merupakan kebudayaan nasional.
Kebudayyan nasional pada dasarnya adalah puncak-puncak dari kebudayaan daerah.

10. Pancasila Sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional


Bangasa indonesia yang terbentuk dari berbagai etnik, bahasa, agama dan kepercayaan,
bahasa daerah, dan kebudayaan memiliki sejarah serta prinsip dalam hidupnya yang berbeda
dengan bangsa-bangsa lain didunia. Bangsa Indonesiapun berkembang menuju fase
Nasionalisme Modern dengan meletakkan prinsip-prinsip dasar filsafat sebagai suatu asas dalam
hidup berbangsa dan bernegara. Dalam hal tersebut maka perlu dilakukan penyelidikan, dari
hasil penyelidikkan itu para pendiri bangsa menemukan prinsip-prinsip dasar yang diangkat dari
filsafat hidup atau pandangan hidup bangsa Indonesia yang kemudian diabstraksikan menjadi

dasar filsafat negara yaitu Pancasila. Dengan demikian sudah jelas bahwa pancasila yang
menjadi dasar filsafat bangsa dan negara Indonesia berakar pada pandangan hidup yang
bersumber pada kepribadian bangsa indonesia.
Dapat pula dikatakan bahwa Pancasila sebagai dasar filsafat bangsa dan negara Indonesia
pada hakikatnya bersumber pada nilai-nilai budaya dan keagamaan yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia sebagai kepribadian bangsa. Jadi filsafat pancasila itu bukan muncul secara tiba-tiba
dan dipaksakan oleh suatu penguasa, melainkan melalui fase historis yang cukup panjang.
Sebelum dirumuskan secara formal yuridis dalam pembukaan UUD 1945 sebagai dasar filsafat
negara Indonesia, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah ada pada bangsa Indonesia,
dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu pandangan hidup sehingga materi Pancasila berupa
nilai-nilai tersebut tidak lain adalah dari bangsa indonesia sendiri. Menurut Notonegoro bangsa
Indonesia adalah sebagai Kausal Materialios Pancasila

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga
menunjukkan suatu keunikannya serta membedakannya dengan hal-hal lain. Nasional berasal
dari kata Nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural
tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, yang dimaksud
dengan Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Identitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik menyangkut
sosiokultural atau religiositas. Yang termasuk kedalam Identitas nasional adalah:

Identitas fundamental/ ideal : Pancasila yang merupakan falsafah bangsa

Identitas instrumental : identitas sebagai alat untuk menciptakan Indonesia yang dicitacitakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara, bahasa Indonesia, dan lagu
kebangsaan

Identitas religiusitas : Indonesia pluralistik dalam agama dan kepercayaan.

Identitas sosiokultural : Indonesia pluralistik dalam suku dan budaya.

Identitas alamiah : Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia


Cakupan Identitas nasional yaitu identitas bersama, identitas nasional, nasionalisme
Indonesia, dan Integrasi nasional. Identitas nasional indonesia pada saat ini terbentuk dari enam
unsur yaitu sejarah perkembangan bangsa Indonesia, kebudayaan bangsa Indonesia, suku bangsa,
agama, dan budaya unggul.
Parameter identitas nasional adalah suatu ukuran atau patokan yang dapat digunakan
untuk menyatakan sesuatu untuk mencari ciri khas suatu bangsa. Parameter identitas nasional
terdiri dari : Pola perilaku, Lambang lambang dan Alat-alat perlengkapan. Bentuk- bentuk
Identitas nasional yaitu : Bahasa nasional atau bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia,
Semboyan negara yaitu bhinneka tunggal ika, Dasar falsafah negara yaitu Pancasila, Konstitusi
(hukum dasar) negara yaitu UUD 1945, Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat, Konsepsi wawasan nusantara, Kebudayan daerah yang telah diterima
sebagai kebudayaan nasional.
3.2 Saran
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan berbagai macam hal, diantaranya adalah
berupa kekayaan alam yang berada didarat maupun dilautan, dan budaya-budaya masyarakat
Indonesia yang terdiri atas berbagai macam suku dari berbagai daerah. Semua itu wajib kita
pelihara dengan sebaik-baiknya karena semuanya menunjukkan identitas bangsa Indonesia.
Sebagai negara berkembang dengan segala kemewahannya, Indonesia memiliki berbagai macam
kekayaan. Setelah memahami materi ini secara mendalam, saya harapkan pembaca dapat
mengerti dan menambah ilmu serta wawasannya. Semoga makalah yang kami buat ini dapat
membantu pembaca dalam menyelesaikan tugas atau materi yang bersangkutan dengan pokok
bahasan Identitas Nasional Idonesia. Apabila ada kekurangan dari penulisan makalah yang kami
buat ini, harap pembaca dapat memakluminya.

DAFTAR PUSTAKA

Kibaw.

2011

.Identitas

Nasional

Negara

Indonesia

http://isharmanto.blogspot.com

2011/12/identitas-nasional-negara-indonesia.html, diakses 10 september 2011


Syarif Hidayatullah. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Prenada Media Group
Winarno. 2009. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan (Panduan Kuliah di Perguruan
Tinggi) Edisi II. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Srijanti et al. 2007. Etika Berwarganegara Pendidikan Kewarganegaraan Diperguruan Tinggi.
Jakarta. Salemba Empat
Surbakti, Ramlan . 1999. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Batubara,Ismed et al. 2010 . Pendidikan Kewarganegaraan Diperguruan Tinggi. Jakarta : Prenada
Media Group)
Tim Dosen. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan . Medan : Universitas Negeri Medan

IDENTITAS NASIONAL
PENDAHULUAN
Pada hakikatnya manusia hidup tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, manusia senantiasa
membutuhkan orang lain. Pada akhirnya manusia hidup secara berkelompok-kelompok. Manusia
dalam bersekutu atau berkelompok akan membentuk suatu organisasi yang berusaha mengatur
dan mengarahkan tercapainya tujuan hidup yang besar. Dimulai dari lingkungan terkecil sampai
pada lingkungan terbesar. Pada mulanya manusia hidup dalam kelompok keluarga. Selanjutnya
mereka membentuk kelompok lebih besar lagi sperti suku, masyarakat dan bangsa. Kemudian
manusia hidup bernegara. Mereka membentuk negara sebagai persekutuan hidupnya. Negara
merupakan suatu organisasi yang dibentuk oleh kelompok manusia yang memiliki cita-cita
bersatu, hidup dalam daerah tertentu, dan mempunyai pemerintahan yang sama. Negara dan
bangsa memiliki pengertian yang berbeda. Apabila negara adalah organisasi kekuasaan dari
persekutuan hidup manusia maka bangsa lebih menunjuk pada persekutuan hidup manusia itu
sendiri. Di dunia ini masih ada bangsa yang belum bernegara. Demikian pula orang-orang yang
telah bernegara yang pada mulanya berasal dari banyak bangsa dapat menyatakan dirinya
sebagai suatu bangsa. Baik bangsa maupun negara memiliki ciri khas yang membedakan bangsa
atau negara tersebut dengan bangsa atau negara lain di dunia. Ciri khas sebuah bangsa
merupakan identitas dari bangsa yang bersangkutan. Ciri khas yang dimiliki negara juga
merupakan identitas dari negara yang bersangkutan. Identitas-identitas yang disepakati dan
diterima oleh bangsa menjadi identitas nasional bangsa.
Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hakikat identitas asional kita sebagai bangsa di
dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya
tercermin dalam berbagai penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam Pembukaan
beserta UUD kita, sistem pemerintahan yang diterapkan, nilai-nilai etik, moral, tradisi, bahasa,
mitos, ideologi, dan lain sebagainya yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan, baik
dalam tataran nasional maupun internasional. Perlu dikemukaikan bahwa nilai-nilai budaya yang
tercermin sebagai Identitas Nasional tadi bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam
kebekuan normatif dan dogmatis, melainkan sesuatu yang terbuka-cenderung terus menerus
bersemi sejalan dengan hasrat menuju kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat pendukungnya.
Konsekuensi dan implikasinyaadalahidentitas nasional juga sesuatu yang terbuka, dinamis, dan
dialektis untuk ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan funsional dalam kondisi
aktual yang berkembang dalam masyarakat. Krisis multidimensi yang kini sedang melanda
masyarakat kita menyadarkan bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan
Identitas Nasional kita telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional sebagaimana
dirumuskan oleh para pendiri negara kita dalam Pembukaan, khususnya dalam Pasal 32 UUD
1945 beserta penjelasannya, yaitu : Kebudayan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai
buah usaha budaya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli terdapat ebagi
puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan
bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan
tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau
memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa
Indonesia . Kemudian dalam UUD 1945 yang diamandemen dalam satu naskah disebutkan

dalam Pasal 32:


1. Negara memajukan kebudayan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memeliharra dan mengembangkan nilai-nilai budaya.
2. Negara menghormatio dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.
Dengan demikian secara konstitusional, pengembangan kebudayan untuk membina dan
mengembangkan identitas nasional kita telah diberi dasar dan arahnya, terlepas dari apa dan
bagaimana kebudayaan itu dipahami yang dalam khasanah ilmiah terdapat tidak kurang dari 166
definisi sebagaimana dinyatakan oleh Kroeber dan Klukhohn di tahun 1952.
Pengertian Identitas Nasional
Istilah identitas nasional dapat disamakan dengan identitas kebangsaan. Secara etimologis ,
identitas nasional berasal dari kata identitas dan nasional. Kata identitas berasal dari bahasa
Inggris identity yang memiliki pengertian harfiah; ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada
seseorang, kelompok atau . sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain. Kata nasional
merujuk pada konsep kebangsaan. Kata identitas berasal dari bahasa Inggris identiti yang
memiliki pengerian harfiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang atau
sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Jadi, pegertian Identitas Nsaional adalah
pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, filsafat pancasila dan juga sebagai Ideologi
Negara sehingga mempunyai kedudukan paling tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan
bernegara termasuk disini adalah tatanan hukum yang berlaku di Indonesia, dalam arti lain juga
sebagai Dasar Negara yang merupakan norma peraturan yang harus dijnjung tinggi oleh semua
warga Negara tanpa kecuali rule of law, yang mengatur mengenai hak dan kewajiban warga
Negara, demokrasi serta hak asasi manusia yang berkembang semakin dinamis di Indonesia.
Identitas Nasional Indonesia :
1. Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia
2. Bendera negara yaitu Sang Merah Putih
3. Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya
4. Lambang Negara yaitu Pancasila
5. Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika
6. Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila
7. Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945
8. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
9. Konsepsi Wawasan Nusantara
10. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional
Unsur-Unsur Identitas Nasional
Unsur-unsur pembentuk identitas yaitu:
1. Suku bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir),
yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak
sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang 300 dialeg bangsa.
2. Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yan
tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan
Kong Hu Cu. Agama Kong H Cu pada masa orde baru tidak diakui sebagai agama resmi negara.

Namun sejak pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara
dihapuskan.
3. Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang isinya adalah
perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh
pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan
digunakan sebagi rujukan dan pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan bendabenda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
4. Bahasa: merupakan unsure pendukung Identitas Nasonal yang lain. Bahsa dipahami sebagai
system perlambang yang secara arbiter dientuk atas unsure-unsur ucapan manusia dan yang
digunakan sebgai sarana berinteraksi antar manusia.
Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya menjadi 3 bagian
sebagai berikut :
Identitas Fundamental, yaitu pancasila merupakan falsafah bangsa, Dasar Negara, dan Ideologi
Negara
Identitas Instrumental yang berisi UUD 1945 dan tata perundangannya, Bahasa Indonesia,
Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Identitas Alamiah, yang meliputi Negara kepulauan (Archipelago) dan pluralisme dalam suku,
bahasa, budaya, dan agama, sertakepercayaan.
Menurut sumber lain ( http://goecities.com/sttintim/jhontitaley.html) disebutkan bahwa:
Satu jati diri dengan dua identitas:
1. Identitas Primordial
Orang dengan berbagai latar belakang etnik dan budaya: jawab, batak, dayak, bugis, bali, timo,
maluku, dsb.
Orang dengan berbagai latar belakang agama: Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Budha, dan
sebagainya.
2. Identitas Nasional
Suatu konsep kebangsaan yang tidak pernah ada padanan sebelumnya.
Perlu diruuskan oleh suku-suku tersebut. Istilah Identitas Nasional secara terminologis adalah
suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut
dengan bangsa lain.
Eksistensi suatu bangsa pada era globalisasi yang sangat kuat terutama karena pengaruh
kekuasaan internasional. Menurut Berger dalam The Capitalist Revolution, era globalisasi
dewasa ini, ideology kapitalisme yang akan menguasai dunia. Kapitalisme telah mengubah
masyarakat satu persatu dan menjadi sistem internasional yang menentukan nasib ekonomi
sebagian besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara tidak langsung juga nasib, social, politik dan
kebudayaan. Perubahan global ini menurut Fakuyama membawa perubahan suatu ideologi, yaitu
dari ideologi partikular kearah ideology universal dan dalam kondisi seperti ini kapitalismelah
yang akan menguasainya. Dalam kondisi seperti ini, negara nasional akan dikuasai oleh negara

transnasional yang lazimnya didasari oleh negara-negara dengan prinsip kapitalisme.


Konsekuensinya, negara-negara kebangsaan lambat laun akan semakin terdesak. Namun
demikian, dalam menghadapi proses perubahan tersebut sangat tergantung kepada kemampuan
bangsa itu sendiri. Menurut Toyenbee, cirri khas suatu bangsa yang merupakan local genius
dalam menghadapi pengaruh budaya asing akan menghadapi Challence dan response. Jika
Challence cukup besar sementara response kecil maka bangsa tersebut akan punah dan hal ini
sebagaimana terjadi pada bangsa Aborigin di Australia dan bangfsa Indian di Amerika. Namun
demikian jika Challance kecil sementara response besar maka bangsa tersebut tidak akan
berkembang menjadi bangsa yang kreatif. Oleh karena itu agar bangsa Indonesia tetap eksis
dalam menghadapi globalisasi maka harus tetap meletakkan jati diri dan identitas nasional yang
merupakan kepribadian bangsa Indonesia sebagai dasar pengembangan kreatifitas budaya
globalisasi. Sebagaimana terjadi di berbagai negara di dunia, justru dalam era globalisasi dengan
penuh tantangan yang cenderung menghancurkan nasionalisme, muncullah kebangkitan kembali
kesadaran nasional.
Faktor-Faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional
1. Faktor-faktor yang mendukung kelahiran identitas nasional bangsa Indonesia meliputi:
Faktor Objektif, yang meliputi faktor geografis-ekologis dan demografis
Faktor Subjektif, yaitu faktor historis, social, politik, dan kebudayaan yang dimiliki bangsa
Indonesia (Suryo, 2002)
2. Menurut Robert de Ventos, dikutip Manuel Castelles dalam bukunya The Power of Identity
(Suryo, 2002), munculnya identitas nasional suatu bangsa sebagai hasil interaksi historis ada 4
faktor penting, yaitu:
Faktor primer, mencakup etnisitas, territorial, bahasa, agama, dan yang sejenisnya.
Faktor pendorong, meliputi pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan
bersenjata modern dan pembanguanan lainnya dalam kehidupan bernegara.
Faktor penarik, mencakup modifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnya
birokrasi, dan pemantapan sistem pendidikan nasional
Faktor reaktif, pada dasarnya tercakup dalam proses pembentukan identitas nasional bangsa
Indonesia yang telah berkembang dari masa sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan
dari penjajahan bangsa lain.
Faktor pembentukan Identitas Bersama. Proses pembentukan bangsa- negara membutuhkan
identitas-identitas untuk menyataukan masyarakat bangsa yang bersangkutan. Faktor-faktor yang
diperkirakan menjadi identitas bersama suatu bangsa, yaitu :
Primordial
Sakral
Tokoh
Bhinneka Tunggal Ika
Sejarah
Perkembangan Ekonomi
Kelembagaan

Faktor-faktor penting bagi pembentukan bangsa Indonesia sebagai berikut


1. Adanya persamaan nasib , yaitu penderitaan bersama dibawah penjajahan bangsa asing lebih
kurang selama 350 tahun
2. Adanya keinginan bersama untuk merdeka , melepaskan diri dari belenggu penjajahan
3. Adanya kesatuan tempat tinggal , yaitu wilayah nusantara yang membentang dari Sabang
sampai Merauke
4. Adanya cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sebagai suatu bangsa
Cita- Cita, Tujuan dan Visi Negara Indonesia.
Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Dengan rumusan singkat, negara Indonesia bercita-cita mewujudkan masyarakat Indonesia yang
adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini sesuai dengan amanat dalam
Alenia II Pembukaan UUD 1945 yaitu negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil
dan makmur.
Tujuan Negara Indonesia selanjutnya terjabar dalam alenia IV Pembukaan UUD 1945. Secara
rinci sbagai berikut :
1. Melindungi seganap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
2. Memajukan kesejahteraan umum
3. Mencerdaskan Kehidupan bangsa
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan , perdamaian abadi, dan
keadilan sosial
Adapun visi bangsa Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai ,
demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman,
bertakwa dan berahklak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, mengausai
ilmu pengetahuandan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin. Setelah
tidak adanya GBHN makan berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka mengenah (RPJM)
Nasional 2004-2009, disebutkan bahwa Visi pembangunan nasional adalah :
1. Terwujudnya kehidupan masyarakat , bangsa dan negara yang aman, bersatu, rukun dan
damai.
2. Terwujudnya masyarakat , bangsa dan negara yang menjujung tinggi hukum, kesetaraan, dan
hak asasi manusia.
3. Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan
yang layak serta memberikan fondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan.
Pancasila sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional
Bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa dari masyarakat internasional, memilki sejarah serta
prinsip dalam hidupnya yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tatkala bangsa

Indonesia berkembang menujufase nasionalisme modern, diletakanlan prinsip-prinsip dasar


filsafat sebagai suatu asas dalam filsafat hidup berbangsa dan bernagara. Prinsip-prinsip dasar itu
ditemukan oleh para pendiri bangsa yang diangkat dari filsafat hidup bangsa Indonesia, yang
kemudian diabstraksikan menjadi suatu prinsip dasar filsafat Negara yaitu Pancasila. Jadi,
filsafat suatu bangsa dan Negara berakar pada pandangan hidup yang bersumber pada
kepribadiannya sendiri. Dapat pula dikatakan pula bahwa pancasila sebagai dasar filsafat bangsa
dan Negara Indonesia pada hakikatnya bersumber kepada nilai-nilai budaya dan keagamaan yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai kepribadian bangsa. Jadi, filsafat pancasila itu bukan
muncul secara tiba-tiba dan dipaksakan suatu rezim atau penguasa melainkan melalui suatu
historis yang cukup panjang. Sejarah budaya bangsa sebagai akar Identitas Nasional. Menurut
sumber lain (http://unisosdem.org.kliping_detail.php/?aid=7329&coid=1&caid=52) Disebutkan
bahwa: kegagalan dalam menjalankan dan medistribusikan output berbagia agenda pembangnan
nasional secaralebih adil akan berdampak negatif pada persatuan dan kesatuan bangsa. Pada titik
inilah semangat Nasionalisme akan menjadi slah satu elemen utama dalam memperkuat
eksistensi Negara/Bangsa. Study Robert I Rotberg secara eksplisit mengidentifikasikan salah satu
karakteristik penting Negara gagal (failed states) adalah ketidakmampuan negara mengelola
identitas Negara yang tercermin dalam semangat nasionalisme dalam menyelesaikan berbagai
persoalan nasionalnya. Ketidakmampuan ini dapat memicu intra dan interstatewar secara hamper
bersamaan. Penataan, pengelolaan, bahkan pengembangan nasionalisme dalam identitas
nasional, dengan demikian akan menjadi prasyarat utama bagi upaya menciptakan sebuah
Negara kuat (strong state). Fenomena globalisasi dengan berbagai macam aspeknya seakan telah
meluluhkan batas-batas tradisional antarnegara, menghapus jarak fisik antar negara bahkan
nasionalisme sebuah negara. Alhasil, konflik komunal menjadi fenomena umum yang terjadi
diberbagai belahan dunia, khususnya negara-negara berkembang. Konflik-konflik serupa juga
melanda Indonesia. Dalam konteks Indonesia, konflik-konflik ini kian diperuncing karekteristik
geografis Indonesia. Berbagai tindakan kekerasan (separatisme) yang dipicu sentimen
etnonasionalis yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia bahkan menyedot perhatian
internasional. Nasionalisme bukan saja dapat dipandang sebagai sikap untuk siap mengorbankan
jiwa raga guna mempertahankan Negara dan kedaulatan nasional, tetapi juga bermakna sikap
kritis untuk member kontribusi positif terhadap segala aspek pembangunan nasional. Dengan
kata lain, sikap nasionalisame membutuhkan sebuah wisdom dalam mlihat segala kekurangan
yang masih kita miliki dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dan sekaligus
kemauan untuk terus mengoreksi diri demi tercapainya cita-cita nasional. Makna falsafah dalam
pembukaan UUD 1945, yang berbunyi sebagai berikut:
1. Alinea pertama menyatakan: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu hak segala bangsa dan
oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan , karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan. Maknanya, kemerdekaan adalah hak semua bangsa dan
penjajahan bertentangan dengan hak asasi manusia.
2. Alinea kedua menyebutkan: dan perjuangan kemerdekaaan Indonesia telah sampailah kepada
saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kepada depan
gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Maknanya:
adanya masa depan yang harus diraih (cita-cita).

3. Alinea ketiga menyebutkan: atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorong
oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Maknanya, bila Negara ingin mencapai cita-cita maka
kehidupan berbangsa dan bernegara harus mendapat ridha Allah SWT yang merupakan dorongan
spiritual.
4. Alinea keempat menyebutkan: kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan
Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, menmcerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam susunan Negara
republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dan berdasarkan kepada: ketuhanan yang maha
esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Alinea ini mempertegas cita-cita yang harus dicapai oleh
bangsa Indonesia melalui wadah Negara kesatuan republik Indonesia.
PENUTUP
Kesimpulan
Sekilas kata-kata diatas memang membuat tanda tanya besar dalam memaknainya. Beribu-ribu
kemungkinan yang terus melintas dibenak pikiran, untuk menjawab sebuah pertanyaan yang
membahas tentang identitas nasional.Kendatipun, dalam hidup keseharian yang mencakup suatu
negara berdaulat, Indonesia sendiri sudah menganggap bahwa dirinya memiliki identitas
nasional. Identitas nasional merupakan pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, filsafat
pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan paling tinggi dalam
tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Unsur-unsur dari identitas nasional adalah Suku
Bangsa: gol sosial (askriptif : asal lhr), golongan,umur. Agama : sistem keyakinan dan
kepercayaan. Kebudayaan: pengetahuan manusia sebagai pedoman nilai,moral, das sein das
sollen,dlm kehidupan aktual. Bahasa : Bahasa Melayu-penghubung (linguafranca). Faktor-faktor
kelahiran identitas nasional adalah Faktor-faktor yang mendukung kelahiran identitas nasional
bangsa Indonesia meliputi faktor subjektif dan factor objektif, Faktor primer, mencakup etnisitas,
territorial, bahasa, agama, dan yang sejenisnya. Faktor pendorong, meliputi pembangunan
komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan pembanguanan lainnya
dalam kehidupan bernegara. Faktor penarik, mencakup modifikasi bahasa dalam gramatika yang
resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan sistem pendidikan nasional. Faktor reaktif, pada
dasarnya tercakup dalam proses pembentukan identitas nasional bangsa Indonesia yang telah
berkembang dari masa sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dari penjajahan bangsa
lain.
Saran
Identitas nasional merupakan suatu ciri yang dimiliki oleh bangsa kita untuk dapat
membedakannya dengan bangsa lain. Jadi, untuk dapat mempertahankan keunika-keunikan dari
bangsa Indonesia itu sendiri maka kita harus menanamkan akan cinta tanah air yang diwujudkan
dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap atura-aturan yang telah ditetapkan serta
mengamalkan nilai-nilai yang sudah tertera dengan jelas di dalam pancasila yang dijadikan

sebagai falsafah dan dasar hidup bangsa Indonesia. Dengan keunikan inilah, Indonesia menjadi
suatu bangsa yang tidak dapat disamakan dengan bangsa lain dan itu semua tidak akan pernah
lepas dari tanggung jawab dan perjuangan dari warga Indonesia itu sendiri untuk tetap menjaga
nama baik bangsanya.
Identitas Nasional Indonesia
March 27th, 2010 Related Filed Under
Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan
suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain. Nasional berasal dari kata nasion
yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural tertentu yang
memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama.Jadi, Identitas Nasional Indonesia
adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsabangsa lain di dunia. dentitas Nasional Indonesia meliputi segenap yang dimiliki bangsa
Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber kekayaan
alam Indonesia, demografi atau kependudukan Indonesia, ideolgi dan agama, politik negara,
ekonomi, dan pertahanan keamanan.
Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat
memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia.
Moto nasional Indonesia adalah Bhinneka Tunggal atau kesatuan dalam keragaman. Hal ini
diciptakan oleh para pemimpin Republik yang baru diproklamasikan pada tahun 1945 dan
tantangan politik adalah sebagai benar mencerminkan hari ini seperti yang lebih dari 50 tahun
yang lalu. Karena meskipun setengah abad menjadi bagian dari Indonesia yang merdeka telah
menimbulkan perasaan yang kuat tentang identitas nasional di lebih dari 13.000 pulau-pulau
yang membentuk kepulauan, banyak kekuatan lain yang masih menarik negara terpisah.
Deklarasi kemerdekaan mengikuti proses yang lambat penjajahan Belanda yang dimulai pada
abad ke-17 dengan penciptaan VOC Belanda.
Saat itu rempah-rempah yang menarik para pedagang Eropa untuk koleksi pulau-pulau kecil di
tempat yang sekarang Eastern Indonesia. Belanda memonopoli perdagangan dan dari sana
memperluas pengaruh mereka terutama melalui pemerintahan tidak langsung di koleksi
kesultanan dan kerajaan yang independen yang membentuk daerah itu. Kesatuan politik di
bawah Belanda hanya dicapai pada awal abad ini, meninggalkan identitas regional yang kuat
utuh.
Menghadapi identitas nasional
Bangsa Indonesia sendiri masih kesulitan dalam menghadapi masalah bagaimana untuk
menyatukan negara yang mempunyai lebih dari 250 kelompok etnis, yang memiliki pengalaman
dari Belanda bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Sukarno, yang menjadi presiden pertama dari Republik, adalah seorang nasionalis tertinggi.
Dialah yang menciptakan ideologi nasional Indonesia Pancasila dirancang untuk
mempromosikan toleransi di antara berbagai agama dan kelompok-kelompok ideologis.

Penyebaran bahasa nasional Bahasa Indonesia juga membantu menyatukan multi-bahasa


penduduk.
GEOGRAFI
Indonesia terdiri dari 17.508 pulau, sekitar 6.000 yang dihuni. ini tersebar di kedua sisi dari garis
khatulistiwa.Lima pulau terbesar adalah Jawa, Sumatra, Kalimantan (di Indonesia bagian dari
Kalimantan), New Guinea (bagian dari Papua Nugini), dan Sulawesi. Indonesia berbatasan
dengan Malaysia di pulau Kalimantan dan Sebatik, Papua Nugini di pulau New Guinea, dan
Timor Timur di pulau Timor.
Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia terletak di DKI Jakarta.
DEMOGRAFI
pemerintah secara resmi hanya mengakui enam agama: Islam, Protestan, Katolik Roma, Hindu,
Buddha, dan Konghucu. Walaupun bukan merupakan negara Islam, Indonesia adalah dunia yang
paling padat penduduknya mayoritas beragama Islam. Dan agama yang paling minoritas adalah
Hindu dan Budha,meskipun begitu tetap berpengaruh pada kebudayaan bangsa Indonesia.
IDEOLOGI
Identitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik menyangkut
sosiokultural atau religiositas. Identitas fundamental/ ideal adalah Pancasila yang merupakan
falsafah bangsa. Identitas instrumental adalah identitas sebagai alat untuk menciptakan Indonesia
yang dicita-citakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara, bahasa Indonesia, dan lagu
kebangsaan.
POLITIK NEGARA
Indonesia adalah republik dengan sistem presidensiil. Sebagai negara kesatuan, kekuasaan
terkonsentrasi di pemerintah pusat. Semenjak Tahun 1998 amandemen UUD 1945 di Indonesia
telah dirubah eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Presiden Indonesia adalah kepala negara,
komandan-in-chief dari Angkatan Bersenjata Nasional Indonesia, dan direktur pemerintahan
dalam negeri, pembuatan kebijakan, dan luar negeri. Presiden menunjuk sebuah dewan menteri,
yang tidak perlu dipilih anggota legislatif. Pemilihan presiden tahun 2004 adalah yang pertama di
mana orang-orang yang dipilih secara langsung presiden dan Vice President. Presiden dapat
melayani maksimum dua berturut-turut lima tahun.
Secara administratif, Indonesia terdiri dari 33 provinsi, lima di antaranya memiliki status khusus.
Setiap provinsi memiliki politik sendiri legislatif dan gubernur. Provinsi-provinsi tersebut dibagi
lagi menjadi kabupaten dan kota, yang kemudian dibagi lagi menjadi kecamatan, dan kembali ke
pengelompokan desa.
IDENTITAS NASIONAL
Special Resume

A. KOMPETENSI
Mahasiswa diharapkan mampu mengenali karakteristik identitas nasional sehingga dapat
memiliki daya tangkal terhadap berbagai hal yang akan menghilangkan identitas nasional
Indonesia.
B. INDIKATOR
Mahasiswa diharapkan mampu:
1. mengerti tentang Latar Bclakang dan Pengcrtian Identitas Nasional;
2. menjelaskan Muatan dan Unsur-Unsur Identitas Nasional;
3. menjelaskan keterkaitan Globalisasi dengan Identitas Nasional;
4. menjelaskan keterkaitan Integrasi Nasional dengan Identitas Nasional;
5. menganalisis tentang Paham Nasionalisme atau Paham Kebangsaan sebagai paham yang
mengantarkan pada konsep Identitas Nasional; serta
6. menganalisis tentang Revitalisasi Pancasila sebagai Pemberdayaan Identitas Nasional;
C. DAFTAR ISTILAH KUNCI
Identitas Nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam aspek kehidupan suatii nation (bangsa) dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciriciri yang khas tadi sunlit bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hldup dan kehidupannya.
(Wibisono Koento: 2005)
Globalisasi diartikan sebagai suatu era atau zaman yang ditandai dengan perubahan tatanan
kehidupan dunia akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi
informasi sehingga interaksi manusia nienjadi sempit, serta seolah-olah dunia tanpa ruang.
Paham Nasionalisme atau Paham Kebangsaan adalah sebuah situasi kejiwaan ketika kesetiaan
seseorang secara total diabdikan langsung pada negara bangsa atas narna scbuah bangsa.
Munculnya nasionalisme terbukti sangat selektif sebagai alat pcrjuangan bcrsama dalam rangka
merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial.
Integrasi Nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang bcrbeda dari suatu masyarakat menjadi
suatu keseluruan yang lebih utuh atau memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak
jumlahnya menjadi suatu bangsa. Intcgrasi nasional tidak lepas dari pcngcrtian integrasi sosial
yang mcmpunyai arti perpaduan dari kelompok-kclornpok masyarakat yang asalnya berbeda
menjadi suatu kclompok besar dengan cara melcnyapkan perbedaan dan jali diri masing-masing.
Dalam arti ini, integrasi sosial sama artinya dengan asimilasi atau pembauran.
Rcvitalisasi Pancasila adalah pemberdayaan kembali kedudukan, fungsi, dan pcranan Pancasila
sebagai dasar negara, pandangan hidup, ideologi, dan sumber nilai-nilai hangsa Indonesia.
(Kocnto W: 2005)
Situasi dan kondisi masyarakat dcwasa ini menjadikan kita prihatin dan sekaligus mcrasa ikut
bertanggung jawab atas tercabik-cabiknya Indonesia serta kerusakan social yang menimpa
masyarakatnya. Bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai hezachsfc volk tcr aardc dalam
pergaulan antarbangsa, kini sedang mengalami bukan saja krisis identitas, melainkan juga krisis
dalam berbagai dimensi kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkcpanjangan semenjak

reformasi digulirkan pada tahun 1998. (Koento W: 2005)


Krisis moneter yang disusul krisis ekonomi dan politik yang akar-akarnya tcrtanam dalam krisis
moral dan menjalar ke dalam krisis budaya, menjadikan rnasyarakat kita kchilangan orientasi
nilai. Masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, hancur porak-poranda, kemudian menjadi kasar,
serta gersang dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spritual. Social terorism mimcul dan
berkcmbang di sana-sini dalam ,fenomena pcrgolakan fisik, pembakaran, dan penjarahan yang
disertasi pembunuhan sebagaimana terjadi di Poso, Ambon, dan bom bunuh diri di berbagai
tempat yang disiarkan sccara luas, baik olch media massa di dalam maupun di luar ncgcri.
Semenjak peristiwa pcrgolakan antaretnis di Kalimantan Barat, bangsa Indonesia di forum
internasional dilecehkan sebagai bangsa yang tclah kchilangan peradabannya. Kehalusan budi,
sopan santun dalam sikap dan perbuatan, kerukunan, toleransi, serta solidaritas sosial, idealismc,
dan scbagainya telah hilang hanyut dilanda oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang
penuh paradoks. Berbagai lembaga kocar-kacir semuanya dalam malfungsi dan disfungsi. Trust
atau kepercayaan di antara sesama, baik vertikal maupun horisontal telah lenyap dalam
kehidupan bermasyarakat. Identitas nasional kita dilecehkan dan dipertanyakan eksistensinya.
Krisis multidimensi yang sedang melanda masyarakat menyadarkan kita semua bahwa
pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan Identitas Nasional telah ditegaskan
sebagai komitmen konstitusional, sebagaimana telah dirumuskan oleh para pendiri negara dalam
Pembukaan UUD 1945 yang intinya adalah memajukan kebudayaan Indonesia. Dengan
demikian, secara konstitusional pengembangan kebudayaan untuk mernbina dan
mengembangkan Identitas Nasional telah diberi dasar dan arahnya.
Identitas Nasional
Kata identitas berasal dari bahasa Inggris identity yang memiliki pengertian harfiah ciri-ciri,
tanda-tanda, atau jati diri yang melckat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya
dengan yang lain. Dalam terminologi antropologi, identitas adalah sifat khas yang menerangkan
dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas
sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada pengertian ini identitas tidak terbatas pada individu
semata, tetapi berlaku pula pada suatu kelompok. Adapun kata nasional merupakan identitas
yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan,
baik fisik, seperti budaya, agama, dan bahasa, maupun nonllsik, seperti keinginan, cita-cita, dan
tujuan. Himpunan kelompok-kelompok inilah yang disebut dengan istilah identitas bangsa atau
identitas nasional yang pada akhirnya melahirkan lindakan kelompok (colective action) yang
diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut
nasional. Kata nasional sendiri tidak bisa dipisahkan dari kemunculan konsep nasionalisme.
Bila dilihat dalam konteks Indonesia maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilainilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku
yang dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia mcnjadi kebudayaan nasional dengan acuan
Pancasila dan roh Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya. Dengan
kata lain, dapat dikatakan bahwa hakikat Identitas Nasional kita sebagai bangsa di dalam hidup
dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam
penataan kehidupan dalam arti luas. Misalnya, dalam aturan perundang-undangan atau hukum,
sistem pemerintahan yang diharapkan, scrla dalam nilai-nilai etik dan moral yang secara
normatif diterapkan di dalam pcrgaulan, baik dalam tataran nasional maupun intcrnasional, dan

scbagainya. Nilai-nilai budaya yang tercermin di dalam Identitas Nasional tersebut bukanlah
barang jadi yang sudah sclesai dalam kebekuan normatif dan dogmatis, melainkan sesuatu yang
terbuka yang cenderung terus-menerus bersemi karena hasrat menuju kemajuan yang dimiliki
oleh masyarakat pcndukungnya. Konsekuensi dan implikasinya adalah bahwa Identitas Nasional
adalah sesuatu yang terbuka untuk ditafsirkan dengan diberi makna barn agar tetap relevan dan
fungsional dalam kondisi aktual yang bcrkcmbang dalam masyarakat.
Muatan Identitas Nasional dapat digambarkan sebagai berikut:
Pandangan Hidup Bangsa
Kcpribadlan Bangsa
Filsafat Pancasila
Ideologi Negara
Dasar Negara
Norma Pcraturan
Rule of Law
Hak dan Kewajiban WN Demokrasi dan HAM
Etika Politik
Ccopolitik Indonesia Geostrategi Ketahanan Nasional
Dari gambaran tcrsebut, bisa dikatakan bahwa Identitas Nasional adalah merupakan Pandangan
Hidup Bangsa, Kepribadian Bangsa, Filsafat Pancasila, dan juga scbagai Ideologi Negara.
Dengan clemikian, Identitas Nasional mempunyai kedudukan paling tinggi dalam tatarian
kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk di sini adalc.h tatanan hukum yang berlaku di
Indonesia, dalam arti lain juga sebagai dasar negara yang merupakan norma peraturan (Rule of
Law) yang harus dijunjung tinggi oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Norma peraturan ini
mcngatur mengenai hak dan kcwajiban warga negara, demokrasi, serta hak asasi manusia yang
berkembang semakin dinamis di Indonesia. Hal inilah akhirnya menjadi etika Politik yang
kemudian dikembangkan menjadi konsep geopolitik dan geostrategi Ketahanan Nasional di
Indonesia.
Identitas Nasional Indonesia merujuk pada sualu bangsa yang majcmuk. Ke-majemukan itu
merupakan gabungan dari unsur-unsur pembcntuk identitas, yaitu suku bangsa, agama,
kebudayaan, dan bahasa.
1) Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir),
yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak
sekali suku bangsa atau kclompok etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa.
2) Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yang
tumbuh dan berkembang di Nusantara adalah agama Islam, Kristcn, Katolik, Hindu, Buddha, dan
Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi
negara, tctapi sejak pcmerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara
dihapuskan.
3) Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah
perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolcktit digunakan oleh

pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahanii lingkungan yang dihadapi dan


digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan bendabenda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
4) Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa dipa! ami sebagai
sistem pcrlambang yang secara arbitrcr dibentuk alas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan
yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antarmanusia.
Dari imsur-unsur identilas Nasional tersebut dapat diruinuskan pembagiannya menjadi 3 bagian
scbagai berikul:
1) Identitas Fundamental, yaitu Pancasila yang merupakan Falsafah Bangsa, Dasar Negara, dan
l.leologi Negara.
2) Identitas Instrumental, yang berisi UUD 1945 dan Tata Pcrundangannya, Bahasa Indonesia,
Lambang Ncgaia, Bcndcra Negara, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
3) Identitas Alamiah yang ineliputi Negara Kepulauan (archipelago} dan pluralismc dalam suku.
bahasa, budaya, seila agama dan kcpercayaan (agama).
Keterkaitan Globalisasi dcngan Identitas Nasional
Adanya lira Globalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Era
Globalisasi tersebut man tidak man, suka tidak suka telah datang dan menggeser nilai-nilai yang
telah ada. Nilai-nilai tcrscbul, ada yang bersifat positifada pula yang bcrsifat negatif. Semua ini
merupakan aneaman, tantangan. dan sekaligus sebagai peluang bagi bangsa Indonesia iinluk
bcrkrcasi dan bcrinovasi di scgala aspck kehidupan.
Di era globalisasi, pergaulan antarbangsa semakin ketat. Batas anlarnegara hampir tidak ada
artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan antarbangsa yang
semakin kenlal ilu, akan tcrjadi proses akulturasi, saling meniru, dan saling memcngaruhi di
antara budaya masing-masing. Adapun yang pcrlu dieermati dari proses akulturasi tersebut,
apakah dapat melunturkan lata nilai yang merupakan jati diri bangsa Indonesia? Lunturnya tata
nilai tersebut biasanya ditandai oleh dua faktor, yaitu:
1) semakin menonjolnya sikap individualists, yaitu mengutamakan kepentingan pribadi di atas
kepentingan umum, hal ini bcrlcnlangan dengan asas golong-royong; serta
2) semakin menonjolnya sikap materialises, yang bcrarti harkat dan martabat kemaivjsiaan hanya
diukur dari hasil atau kcbcrhasilan scseorang dalam mcmperolch kckayaan. Hal ini bisa
berakibat bagaimana cara inemperolehnya menjadi tidak dipcrsoalkan lagi. Apabila hal ini
lerjadi, berarli etika dan moral telah dikesampingkan.
Arus informasi yang semakin pesat mcngakibatkan akses masyarakat terhadap
nilai-nilai asing yang negatif semakin besar. Apabila proses ini tidak segera dibcndung,
akan berakibat lebih serins ketika pada puncaknya masyarakat tidak bangga lagi pada
bangsa dan negaranya.
Pengaruh negatif akibat proses akulturasi tersebut dapat merongrong nilai-nilai yang telah ada di
dalam masyarakat. Jika semua ini tidak dapat dibendung, akan mengganggu ketahanan di segala

aspek kehidupan, bahkan akan mengarah pad; kredibilitas sebuah ideologi. Untuk membendung
arus globalisasi yang sangat deras tersebut, harus diupayakan suatu kondisi (konsepsi) agar
ketahanan nasional dapat terjaga, yaitu dengan cara merabangun sebuah konsep nasional isme
kebangsaan yang mengarah kepada konsep Identilas Nasional.
Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu ncgara dengan negara
yang lain mcnjadi semakin tinggi. Dengan demikian, kecenderungan munculnya kejahatan yang
bersilat transnasional semakin scring terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut, antara lain terkait
dengan masalah narkotiLa, pencucian uang (money laundering), peredaran dokumen
keimigrasian palsu, dan terorisme. Masalah-masalah tersebut berpengaruh lerhadap nilai-nilai
budaya bangsa yang selama ini dijunjung tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan semakin
merajalelanya peredaran narkotika dan psikotropika sehingga sangat merusak kepribadian dan
moral bangsa, khususnya bagi generasi penerus bangsa. Jika hal tersebut tidak dapat dibendung,
akan mengganggu terhadap ketahanan nasional di segala aspek kehidupan, bahkan akan
menyebabkan lunturnya nilai-nilai Identitas Nasional.
Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan multidimensional. Untuk
mewujudkannya, diperlukan keadilan dalam kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan
tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa, dan sebagainya. Sebenarnya, upaya mcmbangun
keadilan, kesatuan, dan persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya membangun dan
membina stabilitas politik. Di samping itu, upaya lainnya dapat dilakukan, seperti banyaknya
keterlibatan pemerintah dalam mcncntukan komposisi dan rnckanisme parlemen.
Dengan demikian, upaya integrasi nasional dengan strategi yang mantap perlu terus dilakukan
agar terwujud integrasi bangsa Indonesia yang diinginkan. Upaya pembangunan dan pembinaan
integrasi nasional ini perlu karena pada hakikatnya integrasi nasional menunjukkan kckuatan
persatuan dan kesaluan bangsa yang diinginkan. Pada akhirnya, persatuan dan kesatuan bangsa
inilah yang dapat lebih menjamin terwujudnya negara yang makmur, aman. clan tcntcram.
Konflik yang terjadi di Aceh, Ambon, Kalimantan Barat, dan Papua mcrupakan ccrmin belum
terwujudnya integrasi nasional yang diharapkan. Adapun kctcrkaitan integrasi nasional dengan
Identitas Nasional adalah bahwa adanya integrasi nasional dapat menguatkan akar dari Identitas
Nasional yang sedang dibangun.
Dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi sesama manusia berubah menjadi bentuk
yang Icbih komplcks dan rumit. Hal ini dimulai dari tumbuhnya kesadaran untuk menentukan
nasib scndiri. Di kalangan bangsa-bangsa yang tcrtindas kolonialisme, scperti Indonesia salah
satunya, lahir semangat untuk mandiri dan bebas untuk menentukan masa depannya scndiri.
Dalam situasi perjuangan kemerdekaan dari kolonialisme ini, dibutuhkan suatu konsep sebagai
dasar pernbenaran rasional dari tuntutan terhadap penentuan nasib sendiri yang dapat mengikat
keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa. Dasar pcmbcnaran tersebut, selanjutnya
mengkristal dalam konsep paham ideologi kebangsaan yang biasa disebut dengan nasionalisme.
Dari sinilah, lahir konsep-konsep turunannya seperti bangsa (nation), negara (state), dan
gabungan keduanya yang menjadi konsep negara bangsa (nation state) sebagai komponsnkomponen yang membentuk Identitas Nasional atau Kebangsaan. Dalam konteks ini, dapat
dikalakan bahwa Paham Nusionalismc a fan Paham Kebangsaan adalah sebuah situasi kcjiwaan
kctika kcsctiaan scscorang sccara total diabdikan langsung pada negara bangsa atas nama sebuah
bangsa. Munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama
mcrebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Semangat nasionalisme diharapkan secara

cfcktif dapat dipakai sebagai metode perlawanan dan alat idcntifikasi olch para penganutnya
untuk mengetahui siapa lawan dan kawan.
Secara garis bcsar terdapat tiga pemikiran besar tentang nasionalisme di Indonesia yang terjadi
pada masa sebelum kemerdekaan, yaitu paham keislaman, Marxisme, dan Nasionalisme
Indonesia. Seiring dcngan naiknya pamor Soekarno ketika menjadi Presiden Pertarna RI,
kecurigaan di antara para tokoh pergerakan-yang telah tumbuh di saat-saat menjclang
kemerdekaanberkcmbang menjadi pola ketegangan politik yang lebih permancn antara negara
mclalui figur nasionalis Soekarno di satu sisi, dengan para tokoh yang nicwakili pemikiran Islam
(sebagai agama terbesar pemeluknya di Indonesia) dan Marxisme di sisi yang lain.
Paham Nasionalisme Kcbangsaan sebagai Paham yang Mengaritarkan pada Konsep Identitas
Nasional
Paham Nasionalisme atau paham Kcbangsaan tcrhukti sangat efektif sebagai alal perjuangan
bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Scmangat nasionalismc dipakai
sebagai metode perlawanan secara cfektif oleh para penganutnya, sebagaimana yang
disampaikan oleh Larry Diamond dan Marc F. Plattner bahwa para penganut nasionalisme dunia
ketiga secara khas menggunakan retorika antikolonialisme dan antiimperalisme. Para pengikut
nasionalisme tersebut berkeyakinan bahwa persamaan cita-cita yang mereka miliki dapat
diwujudkan dalam sebuah identitas politik atau kepentingan bersama dalam bcntuk sebuah
wadah yang disebut bangsa (nation). Dengan demikian, bangsa atau nation mcrupakan sualu
wadah yang di dalamnya terhimpun orang-orang yang mcmpunyai persamaan keyakinan dan
persamaan lainnya yang mereka miliki, seperti ras, etnis, agania, bahasa, dan budaya. Unsur.
persamaan tersebut dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama atau untuk menentukan
tujuan organisasi politik yang dibangun berdasarkan geopolitik yang terdiri alas populasi,
geografis, dan pemcrintahan yang pennanen yang disebut negara atau state.
Nation state atau negara bangsa merupakan sebuah bangsa yang mcmiliki bangunan polilik
(polilical building), seperli ketentuan-kelentuan perbatasan teritorial, pemerintahan yang sah,
pcngakuan luar negeri, dan sebagainya. Munculnya paham nasionalisme atau paham kebangsaan
Indonesia lidak bisa dilepaskan dari situasi sosial politik dekade pertama abad ke-20. Pada waktu
itu semangat menenlang kolonialisme Belanda mulai bermunculan di kalangan pribumi. Cita-cita
bersama untuk merebut kemerdekaan menjadi semangat umum di kalangan tokoh-lokoh
pergerakan nasioi al. Kemudian, semangat tersebut diformulasikan dalam bentuk nasionalisme
yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
Menurut penganutnya, paham nasionalisme di Indonesia yang disampaikan oleh Soekarno
bukanlah nasionalisme yang berwatak sempit, sekadar meniru dari Barat, atau berwatak
chauvinism. Nasionalisme yang dikembangkan Soekarno bersifat toleran, bercorak ketimuran,
clan tidak agrcsif sebagaimana nasionalisme yang dikembangkan t.i Eropa. Selain itu, Soekarno
mengungkapkan keyakinan watak nasionalisme yang penuh nilai-nilai kemanusiaan, juga
meyakinkan pihak-pihak yang berseberangan pandangai bahwa kelompok nasional dapat
bekerja sama dengan kelompok mana pun, baik golongan Islam maupun Marxis. Sckalipun
Soekarno seorang Muslim, tetapi tidak sckadar mcndasarkan pada pcrjuangan Islam, menurutnya
kebijakan ini merupakan pilihan torbaik bagi kemerdckaan ataupun bagi masa depan seluruh
bangsa Indonesia. Semangat nasionalisme Soekarno tersebut mendapat respon dan dukungan

luas dari kalangan intclektual muda didikan Barat, semisal Syahrir dan Mohammad Hatta.
Kemudian, paham ini scmakin bcrkembang paradigmanya hingga sekarang dengan munculnya
konscp Identitas Nasional. Schubungan dengan ini, bisa dikatakan bahwa Paham Nasionalisme
atau Kebangsaan di sini adalah merupakan refleksi dari Identitas Nasional.
Walaupun demikinan, ada yang perlu diperhatikan di sini, yakni adanya perdebatan panjang
tentang paham nasionalisme kebangsaan ketika para, founding father bangsa ini mempunyai
kesepakatan perlunya paham nasionalisme kebangsaan, tetapi mereka berbeda pendapat
mengenai masalah nilai atau watak nasionalisme Indonesia.
Revitalisasi Pancasila scbagaimana manifestasi Identitas Nasional pada gilirannya harus
diarahkan pula pada pcmbinaan dan pengcmbangan moral. Dengan dccmikian, moralitas
Pancasila dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk mengatasi krisis dan disintegrasi
yang ccnderung sudali menyentuh ke semua segi dan sendi kehidupan. Pcrlu disadari bahwa
moralitas Pancasila akan menjadi tanpa makna dan hanya menjadi sebuah karikatur apabila
tidak disertai dukungan suasana kehidupan di bidang hukum secara kondusif. Antara moralitas
dan hukum memang terdapat kcrelasi yang sangat erat. Artinya, moralitas yang tidak didukung
oleh kchidupan hukum yang kondusif akan menjadi subjeklivitas yang satu sama lain akan saling
berbenturan. Scbaliknya, ketentuan hukum yang disusun tanpa disertai dasar dan alasan moral,
akan melahirkan suatu legalisme yang represif, kontra produktif, dan bcrtcntangan dengan nilainilai Pancasila itu sendiri.
Dalam merevitalisasi Pancasila sebagai manifestasi Identitas Nasional, penyeienggaraan MPK.
hendaknya dikaitkan dengan wawasan:
1) Spiritual, untuk mcletakkan landasan ctik, moral, religiusiias, sebagai dasar dan arah
pengembangan sesuatu profcsi;
2) Akademis, untuk menunjukkan bahwa MPK merupakan aspek being yang tidak kalah
pentingnya, bahkan lebih penting daripada aspek having dalam kerangka penyiapan
sumber daya manusia (SDM) yang bukan sekadar instrumen, melainkan sebagai subjek
pembaharuan dan pencerahan;
3) Kebangsaan, untuk menumbuhkan kesadaran nasionalismenya agar dalam pergaulan
antarbangsa tetap setia pada kepentingan bangsanya, serta bangga dan respek pada jati diri
bangsanya yang memiliki ideologi tersendiri; serta
4) Mondial, untuk menyadarkan bahwa manusia dan bangsa di masa kini siap menghadapi
dialektika perkembangan dalam masyarakat dunia yang terbuka. Selain itu, diharapkan mampu
untuk segera beradaptasi dengan perubahan yang terus-menerus terjadi dengan cepat. Di samping
itu, juga mampu mencari jalan keluer sendiri dalam mengatasi setiap tantangan yang dihadapi.
Sehubungan dengan kondisi ini, dampak dan pengaruh perkembangan iptek yang bukan lagi
hanya sekadar p?da sarana, melainkan telah menjadi sesuatu yang substantif, yang dapat menjadi
tantangan dan peluang untuk berkarya dalam kehidupan umat manusia.
Dalam rangka pemberdayaan Identitas Nasional, perlu ditempuh dengan melalui revitalisasi
Pancasila. Revitalisasi sebagai manifestasi Identitas Nasional mengandung makna bahwa
Pancasila harus diletakkan dalam keutuhannya dengan Pembukaan, serta dieksplorasikan
dimensi-dimensi yang melekat padanya, yang meliputi:

1) Realitas, dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dikonsentrasikan sebagai
cerminan kondisi objektif yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kampus utamanya;
suatu rangkaian nilai-nilai yang bersifat sein im sollen dan das sollen im sein;
2) Idealitas, dalam arti bahwa idealisme yang terkandung di dalamnya bukanlah sekadar utopis
tanpa makna, melainkan diobjektivasikan sebagai kata kerja untuk membangkitkan gairah dan
optimisme warga masyarakat agar melihat masa depan secara prospektif, serta menuju hari esok
yang lebih baik. Hal ini dapat dilakukan melalui seminar atau gerakan dengan tema Revitalisasi
Pancasila;
3) Fleksibilitas, dalam arti Pancasila bukanlah barang jadi yang sudah selesai dan tertutup, atau
menjadi sesuatu yang sakral, melainkan terbuka bagi tafsir-tatsir barn untuk memenuhi
kebutuhan zaman yang terus-menerus berkembang. Dengan demikian, tanpa kehilangan nilai
hakikinya, Pancasila menjadi tetap aktual, rclevan, serta fungsional sebagai tiang-tiang
penyangga bagi kehidupan bangsa dan negara dengan jiwa dan semangat Bhinncka Tunggal
Ika, sebagaimana yang telah dikcmbangkan di Pusat Studi Pancasila (di UGM), Laboratorium
Pancasila (di Universitas Ncgeri Malang).
Dengan dcmikian, agar Idcntitas Nasional dapat dipahami oleh masyarakat scbagai pcncrus
tradisi nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang, maka pemberdayaan nilai-nilai ajarannya
harus bermakna, dalam arti relevan dan fungsional bagi kondisi aktual yang sedang berkembang
dalam masyarakat. Perlu disadari bahwa umat manusia masa kini hidup di abad XXI, yaitu
zaman baru yang sarat dengan nilai-nilai baru yang tidak saja berbeda, tetapi juga bertentangan
dengan nilai-nilai lama sebagaimana diwariskan oleh nenck moyang dan dikembangkan para
pendiri negara ini. Abad XXI sebagai zaman baru mengandung arti sebagai zaman ketika umat
manusia semakin sadar untuk berpikir dan bertindak secara baru.
Dengan kcmampuan rcfleksinya, manusia menjadikan rasio scbagai mitos, atau sebagai sarana
yang andal dalam bersikap dan bertindak dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi
dalam kehidupan. Kesahihan tradisi, juga nilai-nilai spiritual yang dianggap sakral, kini dikritisi
dan dipertanyakan berdasarkan visi dan harapan tentang masa depan yang lebih baik. Nilai-nilai
budaya yang diajarkan oleh nenek moyang tidak hanya diwarisi sebagai barang sudah jadi
yang berhenti dalam kebekuan normatif, tetapi harus diperjuangkan serta terus-menerus
ditumbuhkan dalam dimensi ruang dan waktu yang terns berkembang dan berubah.
Dalam kondisi kehidupan bcrmasyarakat dan berbangsa yang sedang dilanda krisis dan
disintcgrasi, Pancasila pun tidak tcrhindar dari berbagai macam gugatan, sinisme, serta pelecehan
terhadap kredibilitas dirinya sebagai dasar negara ataupun sebagai manifestasi Identitas
Nasional. Namun, pcrlu segera disadari bahwa tanpa suatu platform dalam format dasar negara
atau ideologi, mustahil suatu bangsa akan dapat survive menghadapi berbagai tantangan dan
ancaman yang menyertai derasnya arus globalisasi yang melanda seluruh dunia.
Melalui revitalisasi Pancasila sebagai wujud pemberdayaan Identitas Nasional inilah, Identitas
Nasional dalam alur rasional-akadcmik tidak saja diajarkan secara tekstual, tetapi juga segi
konstckstualnya dieksplorasikan scbagai refercnsi kritik sosial terhadap bcrbagai pcnyimpangan
yang melanda masyarakat dewasa ini. Untuk membentuk jati diri, nilai-nilai yang ada terscbut

harus digali dulu, misalnya nilai-nilai againa yang datang dari Tuhan, serta nilai-nilai lainnya,
sepcrti gotong royong, persatuan dan kcsatuan, juga saling menghargai dan menghormati. Semua
nilai ini sangat bcrarti dalam mcmpcrkuat rasa nasionalisme bangsa. Dengan adanya saling
pengertiari di antara satu dengan yang lain, secara langsung akan memperlihatkan jati diri bangsa
yang pada akhirnya mewujudkan Identitas Nasional.
Sementara itu, untuk mengembangkan jati diri bangsa, harus dimulai dari pengembangan nilainilai, yaitu nilai-nilai kejujuran, kcterbukaan, berani mengambil resiko, bertanggung jawab, serta
adanya kcsepakatan di antara sesama. Untuk itu, perlu perjuangan dan ketekunan untuk
menyatukan nilai, cipta, rasa, dan karsa. (Soemarno, Soedarsono).
Di sinilah, letak arti pentingnya penyelenggaraan MPK dalam kerangka pendidikan tinggi untuk
mengembangkan dialog budaya dan budaya dialog untuk mengantarkan lahirnya generasi
penerus yang sadar dan terdidik dengan wawasan nasional yang rnenjangkau jauh ke masa
depan. MPK. harus dimanfaatkan untuk mengembalikan Identitas Nasional bangsa, yang di
dalam pergaulan antarbangsa dahulu dikenal sebagai bangsa yang paling halus atau sopan di
bumi het zachste volk ter aarde.(W\bisor\o Koento: 2005) Dari nilai-nilai budaya tersebut,
lahir asumsi dasar bahwa menjadi bangsa Indonesia tidak sekadar masalah kelahiran saja, tetapi
juga sebuah pilihan yang rasional dan emosional yang otonom.
DATA DAN FAKTA
Contoh masalah Identitas Nasional adalah:
Keunggulan
Pelaksanaan UnsurUnsur Identitas Nasional
Kekurangberhasilan
Pelaksanaan Unsur-Unsur
Identitas Nasional
Alasan Kurang
berhasilnya Pelaksanaan
Identitas Nasional
Identitas Fundamental:
-Tetap tercantum dalam UUD 1945 walaupun sudah diamandemen.
Identitas Instrumental:
Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Indonesia
.Identitas Alamiah
Kekayaan alam yang mclimpah
Baru dihayati pada tataran
kognitif
Implementasinya tidak
konsisten

Bangsa Indonesia belum menggunakan dengan baik dan benar


-Belum bisa mengoptimal-kan kekayaan alam yang ada
Para pemimpin tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi rakyat
Primordial yang masih tinggi
Kualitas SDM yang rendah
KASUS DAN ILUSTRASI
Di bcbcrapa dacrah Indonesia pada masa Orde Lama (ORLA), Orde Baru (ORBA), dan Orde
Rcformasi pernah terjadi kasus tentang perbedaan ras/suku/etnik, agama, bahasa, atau budaya
yang membahayakan inlcgritas nasional dan menyamarkan Identitas Nasional, di antaranya
sebagai berikut:
Alternatif Pemecahan agar
tidak tcrjadi/terulang
Meningkatkan kerja sama bilateral dan internasional
Memperkuat nilai-nilai ideologi
-Konflik dalam negeri jangan diintervensi oleh pihak asing
Nama dan Waktu Kasus
Tokoh/ Pimpinan
Latar Bclakang Kasus
Akibat dari Kasus Terscbut
Masa ORLA
-Konfrontasi dcngan Malaysia
Ir. Soekarno
Perebutan wilayah
Kehilangan sebagian Kalimantan
Utara
Masa ORBA Pemberontakan PKI
Aidit
Pcrubahan idcologi Pancasila
Gugurnya pahlawan revolusi
menjadi Komunis

Masa Reform as i -Terlepasnya wilayah Timor -Timur


B.J. Habibie
-Tuntutan Referendum
Kehilangan wilayah Propivinsi Timor Timur
Identitas Nasional
I. Identitas Nasional Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal
sehingga menunjukkan suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain Nasional
berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosiokultural tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, Identitas
Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya
dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Identitas Nasional Indonesia meliputi segenap yang dimiliki
bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber
kekayaan alam Indonesia, demografi atau kependudukan Indonesia, ideolgi dan agama, politik
negara, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Identitas nasional pada hakikatnya juga merupakan
manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan
suatu bangsa dengan ciri-ciri khas. Dengan ciri-ciri khas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan
bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya. Diletakkan dalam konteks Indonesia, maka Identitas
Nasional itu merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang
sebelum masuknya agama-agama besar di bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan
dari ratusan suku yang kemudian dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan
Nasional dengan acuan Pancasila dan roh Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah
pengembangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. II. Sumber Identitas Nasional
Bangsa Indonesia 1. Dasar-dasar negara Dasar negara yang merupakan key yang menyatukan
bangsa Indonesia yang beragam-ragam merupakan kesepakatan bersama yang menyatukan
bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, dasar yang melandasi negara adalah merupakan identitas
nasional. Indonesia sebagai negara yang berdaulat memiliki landasan fundamental yaitu
Pancasila yang merupakan tujuan, dan pedoman dalam berbangsa dan bertanah air di Indonesia,
serta kunci dasar pemersatu bangsa Indonesia. Landasan fundamental ini merupakan nilai-nilai
dasar kehidupan bagi bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di
dunia. Indonesia merupakan negara demokrasi yang dalam pemerintahannya menganut sistem
presidensiil, dan Pancasila ini merupakan jiwa dari demokrasi. Demokrasi yang didasarkan atas
lima dasar tersebut dinamakan Demokrasi Pancasila. Dasar negara ini, dinyatakan oleh Presiden
Soekarno (Presiden Indonesia yang pertama) dalam Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Untuk menciptakan Indonesia yang dicita-citakan, bangsa Indonesia memiliki dasar instrumental
berupa UUD 1945, burung Garuda sebagai lambang negara, bahasa Indonesia dan lagu
kebangsaan. 2. Wilayah dan Kondisi Geografis Dalam kemerdekaannya bangsa Indonesia
menyatakan bahwa wilayah negara kesatuan ini meliputi segenap wilayah bekas jajahan
Pemerintah Kolonial Belanda. Wilayah yang terbentang antara 6 derajat garis lintang utara
sampai 11 derajat garis lintang selatan, dan dari 97 derajat sampai 141 derajat garis bujur timur
serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia/Oceania diakui kedaulatannya oleh

Belanda sendiri dan dunia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat
dan bersatu. Untuk mencapai semua itu, bangsa ini mengalami perjalanan yang cukup panjang
dan berat hingga akhirnya saat ini, wilayah Indonesia dapat terlihat seperti pada peta berikut :
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau. Wilayah
Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Apabila
perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi
dengan lima pulau besar di Indonesia adalah : Sumatera dengan luas 473.606 km persegi, Jawa
dengan luas 132.107 km persegi, Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia) dengan luas
539.460 km persegi, Sulawesi dengan luas 189.216 km persegi, dan Papua dengan luas 421.981
km persegi. 3. Politik Indonesia Indonesia adalah negara demokrasi Pancasila. Segala sesuatu di
Indonesia diatur dan dimusyawarahkan secara mufakat, hikmat dan kebijaksanaan. Perpolitikan
di Indonesia berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya,
sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif
dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis
Permusyawatan Rakyat (MPR) yang terdiri dari dua badan yaitu DPR yang anggota-anggotanya
terdiri dari wakil-wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-anggotanya mewakili provinsi yang
ada di Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang dipilih langsung oleh rakyat di
daerahnya masingmasing. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah lembaga tertinggi
negara. Keanggotaan MPR berubah setelah Amandeman UUD 1945 pada periode 19992004.
Seluruh anggota MPR adalah anggota DPR ditambah anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah).
Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan. Anggota
MPR saat ini terdiri dari 550 anggota DPR dan 128 anggota DPD. Anggota DPR dan DPD
dipilih melalui pemilu dan dilantik dalam masa jabatan lima tahun. Sejak 2004, MPR adalah
sebuah parlemen bikameral, setelah terciptanya DPD sebagai kamar kedua. Lembaga eksekutif
berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet
Presidenstil sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai
politik yang ada di parlemen. Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen
UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, termasuk pengaturan administrasi para Hakim.
Politik luar negeri Indonesia seperti tertuang dalam pembukaan UUD 1945 adalah poltik bebas
aktif. Yang artinya Indonesia sebagai negara berdaulat memiliki konsep politik luar negeri yang
tidak terikat oleh negara manapun di dunia. Artinya, Indonesia berhak menentukan sikapnya
sendiri dalam perpolitikan di dunia yang bebas aktif dan bertujuan untuk menjaga keamanan
dunia. Serta Indonesia mengatur urusan dalam negerinya tanpa campur tangan asing. 4. Ideologi
dan Agama Seperti yang di atur dalam UUD 1945, bahwa negara Indonesia menjamin kebebasan
beragama di dalam kehidupan warga negara Indonesia. Masingmasing warga negara Indonesia
berhak untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing dan menjalankan peribadatan
sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing warga negara Indonesia. Hak dalam hidup
beragama di Indonesia dilindungi oleh negara. Penduduk di Indonesia secara garis besar
merupakan penganut dari lima agama di antara lain islam, budha, hindu, katolik dan protestan
serta penganut kepercayaan lainnya seperti kong fu tsu. Mayoritas penduduk Indonesia adalah
beragama islam dan selebihnya adalah penganut agama budha, hindu, katolik dan protestan serta
aliran kepercayaan. Dalam berideologi, masyarakat Indonesia berhak untuk memiliki ideologi
dan pandangan hidup. Akan tetapi, ideolgi bangsa Indonesia tidak boleh bertentangan dengan
nilai-nilai Pancasila yang merupakan kunci pemersatu bangsa Indonesia.
5. Ekonomi Perekonomian bangsa Indonesia seperti diatur dalam UUD 1945 adalah ekonomi
yang bersifat kerakyatan. Kekayaan alam dan segala hal yang menyangkut hajat hidup orang

banyak diatur oleh negara untuk sebesar-besarnya digunakan demi mensejahterakan seluruh
penduduk Indonesia. Dalam perekonomiannya, dalam negara Indonesia terdapat tiga bentuk
badan usaha yaitu Badan Usaha Miliki Negara (BUMN), Badan Usaha Miliki Swasta (BUMS)
dan Koperasi. Jadi, bangsa Indonesia memiliki azas perokonomian yang untuk kekayaan alam
dan menyangkut hidup orang banyak diatur oleh negara sedangkan bidang lainnya dijalankan
oleh swasta dan koperasi. 6. Pertahanan Keamanan Ciri khas dari bangsa Indonesia dalam bidang
ini adalah bahwa, pertahanan di Indonesia adalah pertahanan rakyat semesta atau dikenal
Hankamrata. Pertahanan di Indonesia bersifat menyeluruh bagi masyarakat Indonesia. Apabila
salah satu wilayah Indonesia diserang, maka seluruh masyarak di Indonesia lah yang akan
mengamankan dan mempertahankannya. 7. Demografi Indonesia. Penduduk Indonesia dapat
dibagi secara garis besar dalam dua kelompok. Di bagian barat Indonesia penduduknya
kebanyakan adalah suku Melayu, sementara di timur adalah suku Papua, yang mempunyai akar
di kepulauan Melanesia. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian
dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya
Jawa, Sunda atau Batak. Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali suku dan budaya dan adat
istiadat. Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas di antaranya adalah
Etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke nusantara dengan jalur
perdagangan sejak abad ke 8 SM dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia
terdapat sekitar 3% populasi etnis Tionghoa. Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun
1930-an terakhir kalinya pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan
masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya. Islam adalah agama mayoritas
yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan
penduduk muslim terbanyak di dunia. Sisanya beragama Protestan (8,9%); Katolik (3%); Hindu
(1,8%); Buddha (0,8%); dan lain-lain (0,3%). Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam
bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi Indonesia, bahasa Indonesia, diajarkan di
seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.
III. Kondisi Identitas Bangsa Indonesia Saat Ini 1. Dalam perekonomian, kekayaan alam saat ini
banyak yang dikelola oleh asing. Pengelolaan ini memberikan keuntungan yang sangat kecil
sekali bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya di bidang pertambangan, bahkan lahan perkebunan
pun telah mulai sedikit demi sedikit dikuasai oleh negara lain. Beberapa bidang yang
menyangkut hajat hidup orang banyak seperti air minum tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh
negara. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun pengelolahannya mayoritas
dikuasai oleh asing. Pola hidup masyarakat bangsa Indonesia saat ini merupakan pola kehidupan
yang mengagungkan produk asing. Masyarakat Indonesia saat ini lebih senang apabila produk
yang dikonsumsinya merupakan buatan luar negeri. 2. Dalam kebudayaan, beberapa budaya,
lagu dan tarian telah dicaplok oleh bangsa lain. Kebudayaan batik, telah dipatenkan oleh
Malaysia sebagai produk budayanya, lagu, tarian, seni musik, serta bahkan makanan khas bangsa
Indonesia banyak yang dicaplok begitu saja oleh bangsa lain. Selain itu, pola kehidupan generasi
muda bangsa Indonesia saat ini telah luntur dan bersifat kebarat-baratan. Tidak ada rasa
kebanggaan lagi dalam penggunaan bahasa Indonesia, bertata krama Indonesia. Kehidupan dan
kebudayaan yang berbau kebarat-baratan dianggap lebih tinggi statusnya dan lebih modern. 3.
Dalam bidang Geografi Indonesia memiliki banyak pulau.17.508 pulau. Namun, penjagaan
kesatuan wilayah ini serta rasa memilikinya terasa sangat begitu kurang. Masih hangat di telinga
bangsa Indonesia, beberapa pulau di Indonesia telah dicaplok dan diakui sebagai wilayah dari
bangsa lainnya. Sedangkan ketegasan untuk mempertahankannya sangat kurang sekali baik itu
dari tingkatan pemerintah maupun masyarakat Indonesia sendiri. IV. Kesimpulan Bangsa

Indonesia saat ini dalam keadaan rapuh akan sikap dan rasa memiliki jati diri dan identitas
bangsa. Kurang kesadaran akan Identitas Nasional yang akibatnya tidak ada sikap dan rasa
bangga menjadi bangsa Indonesia. Hal yang penting adalah rasa memiliki identitas tersebut
sehingga apabila identitas kita dicaplok begitu saja, kita bangkit dan mempertahankannya. Oleh
sebab itu, Identitas Nasional ini perlu dihidupkan kembali. V. Referensi
1.http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=11
2&Itemid=1722 (dilihat pada tanggal 21 Februari 2009) 2.http://id.shvoong.com/socialsciences/1747413-identitas-nasional-indonesia/ (dilihat pada tanggal 23 Februari 2009)
3.http://64.203.71.11/kompas-cetak/0608/24/Politikhukum/2901687.htm (dilihat pada tanggal 25
Februari 2009) 4. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=181233 (dilihat pada tanggal
25 Februari 2009)
Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat
memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia.
Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan
suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain. Nasional berasal dari kata nasion
yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural tertentu yang
memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, yang dimaksud dengan
Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.Uraiannya mencakup :1.identitas manusia
Manusia merupakan makhluk yang multidimensional, paradoksal dan monopluralistik. Keadaan
manusia yang multidimensional, paradoksal dan sekaligus monopluralistik tersebut akan
mempengaruhi eksistensinya. Eksistensi manusia selain dipengaruhi keadaan tersebut juga
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya atau pedoman hidupnya. Pada akhirnya yang
menentukan identitas manusia baik secara individu maupun kolektif adalah perpaduan antara
keunikan-keunikan yang ada pada dirinya dengan implementasi nilai-nilai yang
dianutnya.2.identitas nasionalIdentitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada
keanekaragaman) baik menyangkut sosiokultural atau religiositas. Identitas fundamental/ ideal
= Pancasila yang merupakan falsafah bangsa.- Identitas instrumental = identitas sebagai alat
untuk menciptakan Indonesia yang dicita-citakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara,
bahasa Indonesia, dan lagu kebangsaan.- Identitas religiusitas = Indonesia pluralistik dalam
agama dan kepercayaan.- Identitas sosiokultural = Indonesia pluralistik dalam suku dan budaya.Identitas alamiah = Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.3.Nasionalisme
IndonesiaNasionalime merupakan situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total
diabdikan langsung kepada negara bangsa. Nasionalisme sangat efektif sebagai alat merebut
kemerdekaan dari kolonial. Nasionalisme menurut Soekarno adalah bukan yang berwatak
chauvinisme, bersifat toleran, bercorak ketimuran, hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila.4.
Integratis NasionalMenurut Mahfud M.D integrai nasional adalah pernyataan bagian-bagian
yang berbeda dari suatu masayarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih untuh , secara
sederhana memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu
bangsa. Untuk mewujudkan integrasi nasional diperlukan keadilan, kebijaksanaan yang
diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membersakan SAR. Ini perlu dikembangkan karena
pada hakekatnya integrasi nasional menunjukkan tingkat kuatnya kesatuan dan persatuan
bangsa.KesimpulanIdentitas Nasional Indonesia adalah sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai
yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian disatupadukan dan

diselaraskan dalam Pancasila. Nilai-nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi
identitas bangsa. Oleh sebab itu, nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk
ditekankan pada diri setiap warga Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas.
Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajah Dan Kaitannya Dengan Kemerdekaan RI
DASAR PEMIKIRAN.
Perkembangan globalisasi ditandai dengan kuatnya pengaruh lembaga-Iembaga kemasyarakatan
internasional, negara-negara maju yang ikut mengatur percaturan perpolitikan, perekonomian,
sosial budaya dan pertahanan dan keamanan global. Kondisi ini akan menumbuhkan berbagai
konflik kepentingan, baik antar negara maju dengan negara-negara berkembang maupun antar
sesama negara berkembang serta lembaga-Iembaga internasional. Disamping hal tersebut adanya
issu global yang meliputi demokratisasi, hak asasi manusia dan lingkungan hidup turut pula
mempengaruhi keadaan nasional.
Globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
khususnya di bidang informasi, komunikasi dan trnasportasi, sehingga dunia menjadi transparan
seolah-olah menjadi kampung sedunia tanpa mengenal batas negara. Kondisi yang demikian
menciptakan struktur baru yaitu struktur global. Kondisi ini akan mempengaruhi struktur dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia, serta akan mempengaruhi juga
daiam berpola pikir, sikap dan tindakan masyarakat Indonesia sehingga akan mempengaruhi
kondisi mental spiritual bangsa Indonesia.
Dari uraian tersebut di atas, bahwa semangat perjuangan bangsa yang merupakan kekuatan
mental spiritual yang melahirkan kekuatan yang luar biasa dalam masa Perjuangan Fisik. Dalam
menghadapi globalisasi dan menatap masa depan untuk mengisi kemerdekaan diperlukan
Perjuangan Non Fisik sesuai dengan bidang tugas dan profesi masing-masing yang dilandasi
nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia, sehingga memiliki wawasan dan kesadaran bernegara,
sikap dan perilaku yang cinta tanah air dan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dalam
rangka bela negara demi tetap utuh dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam rangka Perjuangan Non Fisik sesuai bidang tugas dan profesi masing-masing wawasan
atau cara pandang bangsa Indonesia yaitu wawasan kebangsaan atau Wawasan Nasional yang
diberi nama Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri
dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan
dan kesatuan wilayah dengan tetap menghargai dan menghormati kebhinekaan dari setiap aspek
kehidupan bangsa untuk mencapai tujuan nasional. Sedang hakekat Wawasan Nusantara adalah
keutuhan Nusantara atau Nasional dengan pengertian cara Pandang yang selalu utuh menyeluruh
dalam lingkup Nusantara dan demi kepentingan nasional.
Atas dasar pemikiran dari perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang mengandung
nilai-nilai semangat perjuangan yang dilaksanakan dengan perjuangan Fisik dan wawasan
Nusantara yang merupakan pancaran nilai dari ideoiogi Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa Indonesia, sehingga dalam mengisi kemerdekaan diperlukan Perjuangan Non Fisik sesuai
bidang tugas dan profesi masing-masing dj dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara untuk mencapai cita-cila dan tujuan nasional.
Dengan demikian anak-anak bangsa sebagai generasi penerus akan memiliki pola pikir, pola
sikap dan pola tindak yang tercermin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
serta tidak akan mengarah ke disintegrasi bangsa, karena hanya ada satu Indonesia yaitu NKRI
adalah SATU INDONESIA SATU.
Kesukubangsaan, Nasionalisme dan Multikulturalisme[1]

Achmad Fedyani Saifuddin


Guru Besar Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta
I
Pembicaraan mengenai nasionalisme dan multikulturalisme bersifat posteriori karena beberapa
konsep harus dibicarakan lebih dahulu sebelum membahas isyu tersebut. Menurut pendapat
sayadalam hal ini tentu banyak diwarnai oleh pemikiran antropologi konsep-konsep yang
harus dibicarakan lebih dahulu setidak-tidaknya adalah sukubangsa, kesukubangsaan, bangsa,
negara-bangsa, dan kebangsaan. Semenjak lama kajian antropologi mengenai kesukubangsaan
memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan antar kelompok yang kelompok-kelompok
tersebut dianggap memiliki ukuran sedemikian sehingga memungkinkan dikaji melalui
penelitian lapangan tradisional seperti pengamatan terlibat, wawancara pribadi, maupun survei
dalam pengertian tertentu. Fokus empiris kajian antropologi nyaris merupakan kajian komunitas
lokal. Apabila negara dibicarakan dalam hal ini, maka negara ditempatkan sebagai bagian dari
konteks yang lebih luas, misalnya sebagai agen luar (external agent) yang mempengaruhi
kondisi-kondisi lokal. Selain itu, antropologi masa lampau kerapkali bias terhadap kajian the
others. Istilah-istilah seperti masyarakat primitif, masyarakat belum beradab, masyarakat
sederhana dan lainnya jelas menunjukkan bagaimana para antropolog Barat pada akhir abad 19
hingga pertengahan abad ke 20 memandang dan menyebut masyarakat asing (the others) yang
di hadapinya di lapangan .
Pergeseran peristilahan dari suku bangsa menjadi kelompok etnik (ethnic groups)
merelatifkan dikotomi kita/mereka, karena istilah kelompok etnik, berbeda dari
sukubangsa, berada atau hadir di dalam kita (self) sekaligus orang lain/mereka
(others). Mekanisme batas (boundary mechanism) yang menyebabkan kelompok etnik tetap
kurang-lebih distinktif atau diskret memiliki karakteristik formal yang sama di kota-kota
metropolitan seperti Jakarta maupun di daerah pedalaman pegunungan Meratus, Kalimantan
Selatan, dan perkembangan identitas etnik dapat dipelajari dengan peralatan konseptual yang
sama di Indonesia maupun di negeri-negeri lain, meski pun konteks-konteks empirisnya berbedabeda atau mungkin unik. Pada masa kini, kalangan antropologi sosial mengakui bahwa mungkin
sebagian besar peneliti kini mempelajari sistem-sistem kompleks yang unbounded daripada
komunitas-komunitas yang terisolasi.
Kebangsaan atau nasionalisme adalah topik baru dalam antropologi. Kajian tentang nasionalisme
ideologi negara-bangsa modernsejak lama adalah topik pembicaraan ilmu politik, sosiologi
makro dan sejarah. Bangsa (nation) dan ideologi kebangsaan adalah fenomena modern berskala
besar. Meski pun kajian mengenai nasionalisme memunculkan masalah-masalah metodologi
yang baru yang berkaitan dengan skala dan kesukaran mengisolasi satuan-satuan penelitian,
masalah-masalah ini justru mengkait dengan topik-topik lain. Perubahan sosial telah terjadi di
wilayah sentral kajian antropologi, yang mengintegrasikan jutaan orang ke dalam pasar dan
negara. Perhatian antropologi terhadap nasionalisme justru menempuh jalur yang berbeda dari
ilmu politik yang sejak awal menempatkan negara sebagai pusat kajian. Antropologi, sejalan
dengan tradisi teorinya yang menempatkan evolusi sebagai premis dasar memposisikan negara
sebagai bagian dari pembicaraan mengenai evolusi masyarakat dari sederhana ke kompleks
(modern). Dalam hal ini negara menjadi bagian dari pembicaraan tentang proses masyarakat
mengkota (urbanizing) sebagai akibat proses evolusi dari masyarakat sederhana (d/h masyarakat

primitif). Dengan kata lain, negara adalah suatu institusi yang merupakan konsekuensi dari
evolusi masyarakat tersebut, suatu pengorganisasian yang tumpang-tindih dengan institusi
kekerabatan pada masyarakat sederhana pada masa lampau. (Cohen 1985). Secara metodologi,
seperti halnya kita yang hidup pada masa kini, dan disini, informan penelitian antropologi adalah
warga negara. Selanjutnya, masyarakat primitif mungkin tak terisolasi seperti pada masa lampau,
sehingga kini tak lagi lebih asli atau lebih murni daripada masyarakat kita kini .
Para antropolog sejak lama berupaya mengangkat kasus-kasus pada tingkatan mikro,
sebagaimana tercermin dari masyarakat sederhana (d/h primitif) yang berskala kecil, populasi
kecil, hidup di suatu lingkungan yang relatif terisolasi, dan memiliki kebudayaan yang relatif
homogen, ke tingkatan abstraksi yang bersifat makro, sehingga mampu menjelaskan gejala yang
sama di berbagai tempat di dunia. Meski demikian, upaya ini tidak mudah diwujudkan terlebih
ketika antropolog masa kini semakin cenderung menyukai keanekaragaman dalam paradigma
berfikir konstruktivisme yang kini berkembang, seolah paradigma relativisme kebudayaan yang
berakar pada tradisi antropologi masa lampau memperoleh tempat baru pada masa kini
(Saifuddin 2005)
Dalam terminologi klasik antropologi sosial, konsep bangsa (nation) digunakan secara kurang
akurat untuk menggambarkan kategori-kategori besar orang atau masyarakat dengan kebudayaan
yang kurang lebih seragam. I.M. Lewis (1985: 287), misalnya, mengatakan bahwa :Istilah
bangsa (nation), mengikuti arus pemikiran dominan dalam antropologi, adalah satuan
kebudayaan. Selanjutnya Lewis memperjelas bahwa tidak perlu membedakan antara
sukubangsa (tribes), kelompok etnik (ethnic groups), dan bangsa (nation) karena
perbedaannya hanya dalam ukuran, bukan komposisi struktural atau fungsinya. Apakah
segmen-segmen yang lebih kecil ini berbeda secara signifikan? Jawabannya adalah bahwa
segmen-segmen tersebut tidaklah berbeda; karena hanya merupakan satuan yang lebih kecil dari
satuan yang lebih besar yang memiliki ciri yang sama. (Lewis 1985: 358).
Dalam terminologi masa kini, ketika argumentasi homogenitas semakin sukar dipertahankan,
maka pembedaan bangsa dan kategori etnik menjadi semakin penting karena keterkaitannya
dengan negara modern. Lagi pula, suatu negara yang isinya adalah suatu kategori etnik semakin
langka adanya. Dengan kata lain, suatu perspektif antropologi menjadi esensil bagi pemahaman
secara menyeluruh mengenai nasionalisme. Suatu fokus yang bersifat analitis dan empiris
mengenai nasionalisme dalam penelitian modernisasi dan perubahan sosial, menjadi penting dan
sangat relevan dengan lapangan kajian yang lebih luas dari antropologi politik dan kajian
mengenai identitas sosial.
Barangkali penting merujuk pandangan Ernest Gellner (1983) tentang nasionalisme:
Nasionalisme adalah prinsip politik, yang berarti bahwa satuan nasion harus sejalan dengan
satuan politik. Nasionalisme sebagai sentimen, atau sebagai gerakan, paling tepat didefinisikan
dalam konteks prinsip ini. Sentimen nasionalis adalah rasa marah yang timbul akibat
pelanggaran prinsip ini, atau rasa puas karena prinsip ini dijalankan dengan baik. Gerakan
nasionalis diaktualisasikan oleh sentimen semacam ini (hal. 1). Pandangan Gellner tentang
nasionalisme ini lebih pas untuk konteks negara-bangsa (nation state). Hal ini tercermin dari
konsep satuan nasion yang terkandung dalam kutipan di atas. Nampaknya Gellner masih
memandang satuan nasion sama dengan kelompok etnik atau setidak-tidaknya suatu

kelompok etnik yang diklaim keberadaannya oleh para nasionalis : Ringkas kata, nasionalisme
adalah suatu teori legitimasi politik, yakni bahwa batas-batas etnik tidak harus berpotongan
dengan batas-batas politik (Gellner 1983: 1). Dengan kata lain, nasionalisme, menurut
pandangan Gellner, merujuk kepada keterkaitan antara etnisitas dan negara. Nasionalisme,
menurut pandangan ini, adalah ideologi etnik yang dipelihara sedemikian sehingga kelompok
etnik ini mendominasi suatu negara. Negara-bangsa dengan sendirinya adalah negara yang
didominasi oleh suatu kelompok etnik, yang penanda identitasnya seperti bahasa atau agama
kerapkali terkandung dalam simbolisme resmi dan institusi perundang-undangannya.
Tokoh lain yang dikenal dengan gagasan teoretisnya tentang nasionalisme, khususnya Indonesia,
adalah Benedict Anderson (1991[1983]: 6) yang mendefinisikan nasion sebagai an imagined
political community dan dibayangkan baik terbatas secara inheren maupun berdaulat. Kata
imagined di sini lebih berarti orang-orang yang mendefinisikan diri mereka sebagai anggota
suatu nasion, meski mereka tak pernah mengenal, bertemu, atau bahkan mendengar tentang
warga negara yang lain, namun dalam fikiran mereka hidup suatu citra (image) mengenai
kesatuan komunion bersama (hal. 6). Jadi, berbeda dari pendapat Gellner yang lebih
memusatkan perhatian pada aspek politik dari nasionalisme, Anderson lebih suka memahami
kekuatan dan persistensi identitas dan sentimen nasional. Fakta bahwa banyak orang yang rela
mati membela bangsa menunjukkan adanya kekuatan yang luar biasa itu.
Meski Gellner dan Anderson memusatkan perhatian pada tema yang berbeda, prinsip politik dan
sentimen identitas, keduanya sesungguhnya saling mendukung. Keduanya menekankan bahwa
bangsa adalah konstruksi ideologi demi untuk menemukan keterkaitan antara kelompok
kebudayaan (sebagaimana didefinisikan warga masyarakat yang bersangkutan) dan negara, dan
bahwa mereka menciptakan komunitas abstrak (abstract communities) dari keteraturan yang
berbeda dari negara dinasti atau komunitas berbasis kekerabatan yang menjadi sasaran perhatian
antropologi masa lampau.
Anderson sendiri berupaya memberikan penjelasan terhadap apa yang disebut anomali
nasionalisme. Menurut pandangan Marxis dan teori-teori sosial liberal tentang modernisasi,
nasionalisme seharusnya tidak lagi relevan di dunia individualis pasca Pencerahan, karena
nasionalisme itu berbau kesetiaan primodial dan solidaritas yang berbasis asal-usul dan
kebudayaan yang sama. Maka, kalau kita kini menyaksikan goyahnya nasionalisme di
Indonesia, hal ini mungkin disebabkan antara lain oleh masuk dan berkembangnya pemikiran
liberal dalam ilmu-ilmu sosial di Indonesia, dan menjadi bagian dari cara ilmu-ilmu sosial
memikirkan negara-bangsa dan nasionalisme kita sendiri.
Kajian antropologi mengenai batas-batas etnik dan proses identitas mungkin dapat membantu
memecahkan problematika Anderson. Penelitian tentang pembentukan identitas etnik dan
dipertahankannya identitas etnik cenderung menjadi paling penting dalam situasi-situasi tak
menentu, perubahan, persaingan memperoleh sumberdaya, dan ancaman terhadap batas-batas
tersebut. Maka tak mengherankan bahwa gerakan-gerakan politik yang berdasarkan identitas
kebudayaan kuat dalam masyarakat yang tengah mengalami modernisasi, meski pun hal ini
tidaklah berarti bahwa gerakan-gerakan tersebut menjadi gerakan-gerakan nasionalis.
II

Titik temu antara teori-teori nasionalisme dan etnisitas perlu disinggung di sini. Menurut hemat
saya, baik Gellner maupun Anderson tidak berupaya menemukan titik temu tersebut; kedua
pandangan teori mereka dikembangkan sendiri-sendiri. Baik kajian etnisitas di tingkat komunitas
lokal maupun kajian nasionalisme di tingkat negara menegaskan bahwa identitas etnik maupun
nasional adalah konstruksi. Berarti kedua identitas tersebut bukan alamiah. Selanjutnya, jalinan
hubungan antara identitas khusus dan kebudayaan bukanlah hubungan satu per satu. Asumsiasumsi titik temu yang tersebar luas antara etnisitas dan kebudayaan obyektif adalah kasus
yang terpancarkan dari konstruksi kebudayaan itu sendiri. Berbicara tentang kebudayaan dan
kebudayaan dapat dibedakan ibarat kita berbicara tentang perbedaan antara menu dan
makanan. Keduanya adalah fakta sosial dengan keteraturan yang berbeda.
Tatkala kita menyoroti nasionalisme, jalinan hubungan antara organisasi etnik dan identitas etnik
sebagaimana didiskusikan sebelumnya menjadi lebih jelas. Menurut nasionalisme, organisasi
politik seharusnya bersifat etnik karena organisasi ini merepresentasikan kepentingankepentingan kelompok etnik tertentu. Sebaliknya, negara-bangsa mengandung aspek penting dari
legitimasi politik yakni dukungan massa yang sebenarnya merepresentasikan sebagai suatu
satuan kebudayaan.
Di dalam antropologi dapat kita temukan juga teori-teori tentang simbol-simbol ritual yang
dalam konteks pembicaraan ini juga menggambarkan dualitas antara makna dan politik, yang
umum kita temukan baik dalam kajian etnisitas maupun kajian nasionalisme. Menyitir Victor
Turner (1969 : 108) :simbol-simbol itu multivokal karena memiliki kutub instrumental dan
sensoris (makna). Itulah sebabnya, pendapat Turner ini relevan dengan apa yang dikemukakan
Anderson (1991) bahwa nasionalisme memperoleh kekuatannya dari kombinasi legitimasi politik
dan kekuatan emosional. Sejalan dengan hal di atas, seorang ahli antropologi lain, Abner Cohen
(1974) mengemukakan bahwa politik tidak dapat sepenuhnya instrumental, melainkan harus
selalu melibatkan simbol-simbol yang mengandung kekuatan untuk menciptakan loyalitas dan
rasa memiliki. Para antropolog yang mengkaji nasionalisme umumnya memandang isyu ini
sebagai varian dari etnisitas. Tentu saja dapat muncul pertanyaan bahwa kalau nasionalisme
dibicarakan dalam atau sebagai bagian dari etnisitas, dan nasionalisme yang berbasis etnisitas itu
imaginable kalau kita mengikuti pandangan Anderson maka bagaimana dengan nasionalisme
yang dibangun tidak berdasarkan etnik ? Apakah untuk kasus ini juga imaginable ?
Para pengkaji nasionalisme menekankan aspek-aspek modern dan abstrak. Perspektif
antropologis khususnya penting di sini karena para antropolog lebih suka mengetengahkan
karakter nasionalsme dan negara-bangsa yang khusus dan unik melalui pembandinganpembandingan dengan, atau pemikiran yang berakar pada masyarakat yang berskala kecil.
Dalam perspektif ini, bangsa (nation) dan ideologi nasionalis setidak-tidaknya nampak sebagai
peralatan simbolik bagi kelas-kelas yang berkuasa dalam masyarakat, yang tanpa peralatan
simbolik itu bangsa rentan terancam perpecahan. Sebagian ahli berpendapat bahwa nasionalisme
dan komunitas nasional dapat memiliki akar yang kuat dalam komunitas etnik sebelumnya atau
ethnies (A.D. Smith 1986), tetapi niscaya kurang tepat untuk mengklaim bahwa kesinambungan
masyarakat komunitas pra-modern atau kebudayaan etnik menjadi nasional terjaga dengan
baik. Contoh Norwegia menunjukkan bahwa tradisi dan simbol-simbol nasional lainnya
memiliki makna yang sangat berbeda dalam konteks modern dibandingkan makna pada masa
lampau (A.D.Smith 1986).

III
Multikulturalisme: Penguatan Politik dan Sentimen Kebangsaan Negara-Bangsa
Seperti telah dikemukakan di atas, konsep negara dalam antropologi adalah perluasan dari
konsep-konsep sukubangsa, kelompok etnik, etnisitas, yang pada setiap konsep tersebut konsep
nasionalisme menyelimuti sekaligus memberikan roh. Dalam konteks ini negara merupakan
suatu bentuk pengorganisasian warga masyarakat yang secara intrinsik berasal dari sukubangsa
atau kelompok etnik tersebut. Konsep negara-bangsa (nation-state), misalnya, jelas sekali
menunjukkan orientasi pemikiran antropologi ini.
Dipandang dari perspektif ini, nasionalisme yang sukses ditentukan oleh keterjalinan ideologi
etnik dengan aparatus negara. Negara-bangsa, seperti halnya banyak sistem politik lain,
memandang pentingnya ideologi bahwa batas-batas politik harus saling mendukung dengan
batas-batas kebudayaan. Selanjutnya, negara-bangsaa memiliki monopoli atas keabsahan untuk
memungut pajak, dan bahwa tindakan kekerasan terhadap warga yang dianggap menyimpang
dari kehendak negara. Monopoli ini adalah sumber kekuasaan yang paling penting. Negara
bangsa memiliki administrasi birokrasi dan undang-undang tertulis yang meliputi semua warga
negara, dan memiliki sistem pendidikan yang seragam di seluruh negeri, dan pasar tenaga kerja
yang sama bagi semua warga negara. Hampir semua negara-bangsa di dunia memiliki bahasa
nasional yang digunakan untuk komunikasi resmi. Suatu ciri yang khas dari negara bangsa
adalah konsentrasi kekuasaan yang luarbiasa. Cukup jelas bahwa Indonesia adalah salah satu
contoh negara-bangsa.
Negara Bangsa dan Multikulturalime
Dari pembicaraan kita tentang perspektif antropologi mengenai nasionalisme dan negara di atas,
dapatlah dikemukakan bahwa negara-bangsa Indonesia kini menghadapi tantangan-tantangan
besar, yang apabila kita tak berhasil menghadapi dan menaklukkan tantangan tersebut, dapat
diprediksi bahwa negara kesatuan Republik Indonesia ini akan berakhir. Akan tetapi kalau kita
memiliki kesepakatan dan komitemen bahwa negara kesatuan ini adalah final, maka kita perlu
memperhatikan secara seksama tantangan-tantangan yang kita hadapi, dan tugas-tugas yang
harus kita laksanakan untuk menghadapinya. Banyak orang berpendapat bahwa
multikulturalisme merupakan alternatif yang paling tepat untuk membangun kembali integrasi
bangsa tersebut, meski belum ditemukan model multikulturalisme seperti apa yang paling tepat
untuk Indonesia. Pendapat tersebut benar, karena pendekatan proses dalam multikulturalisme
lebih relevan untuk menjawab isyu kebangsaan dan integrasi nasional yang kini dituntut mampu
menjawab tantangan perubahan.
Buku Sdr Mashudi Noorsalim (ed.) yang kini sedang kita bahas menurut hemat saya
mengandung empat persoalan besar (penulis menyebutnya dilematis) berkaitan dengan isyu
hak-hak minoritas dalam kaitannya dengan multikulturalisme dan dilema negara bangsa.
1. Fakta keanekaragaman sukubangsa, ras, agama, dan golongan sosial-ekonomi, semakin
diperumit oleh faktor geografi Indonesia yang kepulauan, penduduk yang tinggal terpisah-pisah
satu sama lain, mendorong potensi disintegrasi meningkat.
2. Premis antropologi bahwa nasionalisme dan negara seyogyanya dibicarakan mulai dari
akarnya, yakni mulai dari konsep-konsep sukubangsa, kelompok etnik, dan etnisitas, jelas

menunjukkan bahwa apabila semangat nasionalisme luntur karena berbagai sebab, maka yang
tertinggal adalah semangat kesukubangsaan yang menguat. Dengan kata lain, meningkatnya
semangat primordial ( antara lain kesuku-bangsaan) di tanah air akhir-akhir adalah indikasi
melunturnya nasionalisme.
3. Hak-hak minoritas senantiasa melekat pada fakta pengaturan keanekaragaman yang ada.
Apabila pengaturan nasional berorientasi pada kebijakan kebudayaan seragam dan sentralistis
maka fakta pluralisme, diferensiasi, dan hirarki masyarakat dan kebudayaan akan meningkat.
Dalam kondisi ini hak-hak minoritas akan terabaikan karena tertutup oleh kebijakan negara yang
terkonsentrasi pada kekuasaan sentralistis. Namun, apabila pengaturan tersebut adalah
demokratis dan/atau multikuluralistis maka hak-hak minoritas akan semakin dihargai. Yang perlu
diperhatikan adalah bahwa upaya membangun bangsa yang multikultural itu berhadapan dengan
tantangan berat, yaitu fakta keenekaragaman yang luas dalam konteks geografi, populasi,
sukubangsa, agama, dan lainnya. Oleh karena itu membangun negara-bangsa yang multikultural
nampaknya harus dibarengi oleh politik pengaturan dan sentimen kebangsaan yang kuat.
4. Perekat integrasi nasional yang selama ini terjadi seperti politik penyeragaman nasional dan
konsentrasi kekuasaan yang besar sesungguhnya adalah hal yang lumrah dalam politik
pemeliharaan negara bangsa. Namun, mekanisme pengaturan nasional ini terganggu ketika
seleksi global pernyataan saya ini dipengaruhi oleh prinsip alamiah proses seleksi alam dalam
evolusionisme tidak lagi menghendaki (not favour) bentuk negara-bangsa sebagai bentuk
pengaturan nasional pada abad yang baru ini. Kondisi negeri kita yang serba lemah di berbagai
sektor mempermudah kita menjadi rentan untuk tidak lagi dikehendaki dalam proses seleksi
global.
Identitas Nasional
Identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi, golongan
sendiri, kelompok sendiri, atau negara sendiri.
Nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok- kelompok yang lebih besar yang
diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa maupun non fisik,
seperti keinginan,cita-cita dan tujuan. Jadi adapun pengertian identitas sendiri adalah ciri-ciri,
tanda-tanda, jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang bisa membedakannya.
Identitas nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam berbagai aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri khas. Dengan ciri-ciri
khas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya.
Diletakkan dalam konteks Indonesia, maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilainilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum masuknya agama-agama besar di
bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan bdari ratusan suku yang kemudian dihimpun
dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional dengan acuan Pancasila dan roh
Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat
memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia.
Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan
suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain.
Nasional berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas
sosio-kultural tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi,

yang dimaksud dengan Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa
Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Uraiannya mencakup :
1. Identitas manusia Manusia merupakan makhluk yang multidimensional, paradoksal dan
monopluralistik. Keadaan manusia yang multidimensional, paradoksal dan sekaligus
monopluralistik tersebut akan mempengaruhi eksistensinya. Eksistensi manusia selain
dipengaruhi keadaan tersebut juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya atau pedoman
hidupnya. Pada akhirnya yang menentukan identitas manusia baik secara individu maupun
kolektif adalah perpaduan antara keunikan-keunikan yang ada pada dirinya dengan implementasi
nilai-nilai yang dianutnya.
2. Identitas nasionalIdentitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik
menyangkut sosiokultural atau religiositas. Identitas fundamental/ ideal = Pancasila yang
merupakan falsafah bangsa.- Identitas instrumental = identitas sebagai alat untuk menciptakan
Indonesia yang dicita-citakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara, bahasa Indonesia,
dan lagu kebangsaan.- Identitas religiusitas = Indonesia pluralistik dalam agama dan
kepercayaan.- Identitas sosiokultural = Indonesia pluralistik dalam suku dan budaya.- Identitas
alamiah = Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.
3. Nasionalisme IndonesiaNasionalime merupakan situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang
secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa. Nasionalisme sangat efektif sebagai alat
merebut kemerdekaan dari kolonial. Nasionalisme menurut Soekarno adalah bukan yang
berwatak chauvinisme, bersifat toleran, bercorak ketimuran, hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai
Pancasila.
4. Integritas Nasional Menurut Mahfud M.D integrai nasional adalah pernyataan bagian-bagian
yang berbeda dari suatu masayarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh secara
sederhana memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu
bangsa. Untuk mewujudkan integrasi nasional diperlukan keadilan, kebijaksanaan yang
diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membersakan SAR. Ini perlu dikembangkan karena
pada hakekatnya integrasi nasional menunjukkan tingkat kuatnya kesatuan dan persatuan bangsa.
Kesimpulan Identitas Nasional Indonesia adalah sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai
yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian disatupadukan dan
diselaraskan dalam Pancasila. Nilai-nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi
identitas bangsa. Oleh sebab itu, nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk
ditekankan pada diri setiap warga Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas.
Unsur-unsur pembentuk identitas nasional berdasarkan ukuran parameter sosiologis, yaitu :
1.suku bangsa
2.kebudayaan
3.bahasa
4.kondisi georafis.
Unsur-unsur pembentuk identitas nasional indonesia, yaitu :
1. Sejarah
2. Kebudayaan :
-Akal budi
-Peradaban
-Pengetahuan
3. Budaya Unggul

4. Suku Bangsa : keragaman/majemuk


5. Agama: multiagama
6. Bahasa

ABSTRAKSI

Identitas nasional Indonesia merupakan suatu ciri yang dimiliki oleh bangsa Indonesia
yang membedakan dengan bangsa lain di dunia ini. Faktor-faktor yang mendukung kelahran
identitas bangsa Indonesia tersebut meliputi: faktor objektif (geografis, ekologis dan
demografis), faktor subjektif (historis, social, politik dan kebudayaan) yang dimiliki bangsa
Indonesia. Unsur-unsur pembentuk identitas nasional Indonesia tersebut meliputi: suku bangsa,
agama, kebudayaan, dan bahasa. Dalam menentukan identitas nasional Indonesia, yang
terpenting adalah perilaku atau kepribadian bangsa Indonesia yang sesuai dengan ideologinya
yaitu Pancasila. Perilaku tersebut tercermin dalam nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila
yaitu berketuhanan YME, berkemanusiaan yang adil dan beradap, berkesatuan Indonesia,
berkerakyatan yang di pimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,
dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kepribadian bangsa Indonesia yang sesuai
dengan Ideologi Pancasila tersebut dalam era Globalisasi ini mudah sekali terkontaminasi oleh
pengaruh kebudayaan dari negara lain. Secara umum melihat fakta-fakta yang ada saat ini,
keadaan jati diri jati diri Bangsa Indonesia sedang mengalami kerusakan/keterpurukan. Langkahlangkah paling efektif untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia tersebut yang pertama
dimulai dari diri kita sendiri, selanjutnya kita mengajarkan atau mengejak orang lain yang beradi
di sekitar kita. Kemudian peran pemerintah untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia dan
menumbuhkan karakter bangsa yang bagus yang sesuai dengan pancasila yaitu dengan
mengalakkan program wajib belajar ajaran agama (untuk meningkatkan ketakwaan) dan juga
pendidikan umum (untuk meningkatkan rasa kebangsaan).

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan pada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat,
hidayah serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikantugas makalah
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang berjudul Cara Mengembalikan Jati Diri
Bangsa Indonesia tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami selesaikan ini masih jauh dari kesempurnaan.
Seperti halnya pepatah tak ada gading yang tak retak , oleh karena itu kami mengharapkan
kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah
kami
selanjutnya.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta

dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Serta kami berharap agar makalah ini
dapat bermanfaat bagi semua kalangan.
Amin

Surabaya, 03 Januari 2011

PENYUSUN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Identitas nasional Indonesia merupakan pembeda atau ciri khas yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia yang dapat dijadikan pembeda dengan bangsa lainnya di dunia ini. Identitas nasional
merupakan suatu hal yang sangat penting dimiliki oleh setiap bengsa di dunia ini termasuk
Indonesia sebagai karakter dan pola perilaku yang seharusnya tertanam kuat sebagai acuan
masyarakat dalam berprilaku atau bersikap di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar
tatanan kehidupan di negara kita ini dapat berjalan teratur dan sesuai dengan ciri khas bangsa
Indonesia yang telah tertanam sejak dahulu kala.
Jika suatu bangsa tidak mempunyai ciri khas atau cirikhasnya telah pudar kerena suatu hal,
bangsa tersebut akan mengalami perubahan sikap dan tatanan kehidupan yang terjadi pada
masyarakatnya. Mereka akan cenderung meniru perilaku atau cirikhas bangsa lain yang
diidolakannya. Padahal ciri khas bangsa lain belum tentu cocok dan sesuai bila digunakan pada
bangsa tersebut. Ketidak cocokan tersebut mungkin dikarenakan karena faktor letak geografis,
kebudayaan, agama yang dianut oleh masyarakat pada umumnya, sejarah pembentukan bangsa,
dan sebagainya.

Dampak dari hilangnya identitas suatu bangsa dan pola perilaku masyarakat yang baru
tersebut tidak sesuai dengan keadaan bangsa itu, maka akan melemahkan keadaan bangsa
tersebut dalam berbagai bidang. Sehingga dapat dengan mudah bangsa itu dihancurkan atau
dijajah oleh negara lain.
Dari uraian diatas kita tahu betapa pentingnya identitas nasional itu dimiliki oleh setiap
bangsa. Maka dari itu dalam makalah ini penulis ingin mengetahui bagaimana kondisi identitas
nasional Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia saat ini. Kemudian apabila ternyata
identitas bangsa Indonesia ini mulai pudar, maka penulis ingin mengetahui bagaimana langkahlangkah yang efektif untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia agar kembali kepada jati
diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini yaitu:
1.

Apa definisi dari Identitas Nasional Indonesia?

2.

Bagaimana sejarah pembentukan Identitas Nasional Indonesia?

3.

Apa sajakah unsur-unsur pembentuk Identitas Nasional Indonesia?

4.

Bagaimana jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya?

5.

Bagaimana pengaruh kebudayaan asing terhadap jati diri bangsa Indonesia?

6.

Bagaimana kondisi jati diri bangsa Indonesia saat ini?

7.

Bagaimana cara mengembalikan jati diri bangsa Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini yaitu:
1.

Untuk mengetahui definisi dari Identitas Nasional Indonesia

2.

Untuk mengetahui sejarah pembentukan Identitas Nasional Indonesia

3.

Untuk mengetahui unsur-unsur pembentuk Identitas Nasional Indonesia

4.

Untuk mengetahui jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya

5.

Untuk mengetahui pengaruh kebudayaan asing terhadap jati diri bangsa Indonesia

6.

Untuk mengetahui kondisi jati diri bangsa Indonesia saat ini

7.

Untuk mengetahui cara efektif untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia

D.

Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan dan pengumpulan data dalam makalah ini yaitu
di lakukan dengan sistim dokumentatif, yaitu mengambil referensi bahan dari berbagai sumber
yang relefan kemudian menganalisisnya sesuai dengan kasus yang kami angkat.

E. Batasan Masalah
Dalam Pembuatan Makalah ini, penulis hanya mengulas dan membatasi masalah seputar:
1.

Definisi dari Identitas Nasional Indonesia

2.

Sejarah pembentukan Identitas Nasional Indonesia

3.

Unsur-unsur pembentuk Identitas Nasional Indonesia

4.

Jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya

5.

Pengaruh kebudayaan asing terhadap jati diri bangsa Indonesia

6.

Kondisi jati diri bangsa Indonesia saat ini

7.

Cara mengembalikan jati diri bangsa Indonesia

F. Manfaat Penulisan
Ada beberapa manfaat yang bisa diambil dri penulisan makalah ini yaitu:
1.

Bagi penulis

Manfaat yang bisa diambil oleh penulis yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman mengenai definisi bangsa Indonesia, jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya,
kondisi jati diri bangsa Indonesia saat ini, dan cara mengenbalikan jati diri bangsa Indonesia.

Sehingga penulis dapat megapresiasikan pengetahun tersebut dalam kehidupan sehari-hari dalam
rangka terbentuknya jati diri bangsa indonesia yang sesungguhnya.
2.

Bagi Mahasiswa

Manfaat yang bisa diperoleh bagi mahasiswa yaitu sebagai salah satu acuan untuk
memahami materi kuliah mengenai identitas nasional Indonesia. Serta agar menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari baik pada diri mereka sendiri maupun menularkannya kepada orang
lain demi terwujudnya jati diri bangsa indonesia yang sesungguhnya yang bisa membawa kita
menjadi manusia yang Excellent with Morallity.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Identitas Nasional


Menurut Kaelan (2007:07) Istilah identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri
yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan
bangsa lain. Berdasarkan pengertian yang demikian ini maka setiap bangsa di dunia ini akan
memiliki identitas sendidri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, cirri-ciri serta karakter dari
bangsa tersebut. Jadi Identitas nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat dengan wilayah dan
selalu memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri), kesamaan sejarah, sistim
hukum/perundang undangan, hak dan kewajiban serta pembagian kerja berdasarkan profesi.
Demikian pula hal ini juga sangat ditentukan oleh proses bagaimana bangsa tersebut terbentuk
secara historis. Berdasarkan hakikat pengertian identitas nasional sebagaimana dijelaskan di
atas maka identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri suatu bangsa
atau lebih populer disebut sebagai kepribadian suatu bangsa. Pengertian kepribadian suatu
identitas sebenarnya pertama kali muncul dari pakar psikologi. Manusia sebagai individu sulit
dipahami jika terlepas dari manusia lainnya. Oleh karena itu manusia dalam melakukan interaksi
dengan individu lainnya senantiasa memiliki suatu sifat kebiasaan, tingkah laku, serta karakter
yang khas yang membedakan manusia tersebut dengan manusia lainnya. Namun demikian pada
umumnya pengertian atau istilah kepribadian sebagai suatu identitas adalah keseluruhan atau
totalitas dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang mendasari tingkah laku
individu. Tingkah laku tersebut terdidri atas kebiasaan,sikap, sifat-sifat serta karakter yang
berada pada seseorang sehingga seseorang tersebut berbeda dengan orang yang lainnya. Oleh
karena itu kepribadian adalah tercermin pada keseluruhan tingkah laku seseorang dalam
hubungan dengan manusia lain.

Menurut Kibawa (2010:01) identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada
suatu hal sehingga menunjukkan suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain.
Nasional berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas
sosio-kultural tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama.Jadi,
Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. dentitas Nasional Indonesia meliputi
segenap yang dimiliki bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain seperti
kondisi geografis, sumber kekayaan alam Indonesia, demografi atau kependudukan Indonesia,
ideolgi dan agama, politik negara, ekonomi, dan pertahanan keamanan.

B. Sejarah Pembentukan Identitas Nasional Indonesia


Menurut Kaelan (2007:18) Kelahiran identitas nasional suatu bangsa memiliki sifat,ciri
khas serta keunikan sendiri-sendiri, yang sangat ditentukan oleh factor-faktor yang mendukung
kelahiran identitas nasional tersebut. Adapun faktor-faktor yang mendukung kelahran identitas
bangsa Indonesia meliputi (1) factor objektif yang meliputi factor geografis, ekologis dan
demografis, (2) factor subjektif yaitu factor,historis, social, politik dan kebudayaanyang dimiliki
bangsa Indonesia.
Kondisi geografis ekologis Indonesia sebagai wilayah kepulauan terletak diantara
dua benua yaitu Asia dan Australia yang menjadi jalur komunikasi di Asi tenggara turut
mempengaruhi perkembangan kehidupan demografis, ekonomis, social dan kultural bangsa
Indonesia. Selain itu factor historis yang ada di Indonesia mengakibatkan berbagai macam
interaksi yang terjadi di dalamnya turut menyumbang proses pembentukan identitas nasional
yang ada di Indonesia.Robert De Ventos mengungkapakan terdapat empat factor penting sebagai
akibatdari interaksi historis yaitu factor primer, factor pendorong, factor penarik dan factor
reaktif. Faktor yang pertama mencakup etnisitas, territorial, bahasa, agama dan sejenisnya. Hal
seperti inilah yang merupakan kesatuan meskipun memiliki beragam perbedaan tetapi hal ini
tetap menjadi sebuah kesatuan yang kemudian dinamakan Bhineka Tunggal Ika. Faktor yang
kedua meliputi pembangunan telekomunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata
modern dan pembangunan lainnya dalam kehidupan negara. Dalam hal ini kemajuan iptek dan
pembangunan negara juga menjadi salah satu identitas nasional yang bersifat dinamis atau dapat
terus berubah tetapi tetap berpegang teguh pada kepribadian bangsa. Hal ini tergantung sesuai
dengan prestasi bangsa tersebut serta kemampuannya dalam mencapai prestasi tersebut. Dalam
hal ini tentu saja dibutuhkan persatuan dan kesatuan untuk memajukan negara dan bangsa
Indonesia ini.
Faktor yang ketiga yaitu mencakup kodifikasi bahasa dalam gramatika yang
resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan system pendidikan nasional. Di sini bangsa
Indonesia memiliki berbagai macam bahasa mengingat terdapat berbagai macam suku,etnis
dengan berbagai macam kebudayaan mereka tetapi mereka tetap bersatu yaitu dengan satu
bahasa yang menjadi bahasa bersama yaitu bangsa Indonesia. Di dalam pendidikan pun
menggunakan bahasa Indonesia sebagai meia komunikasi untuk mempersatukan mereka. Faktor
yang keempat meliputi penindasan, dominasi dan pencarian identitas alternative melalui memori

kolektif rakyat. Penderitaan dan kesengsaraan yang dialami masyarakat Indonesia merupakan
salah satu factor strategis dalam membentuk memori kolektif rakyat. Semangat perjuangan itulah
yang kemudian menjadi identitas yang mampu memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Selain itu, bangsa Indonesia mengalami sejarah yang panjang sampai terbentuknya
bangsa yang seperti sekarang ini. Faktor sejarah tersebutlah yang menjadi donator yang cukup
besar dalam perkembangan identitas nasional dan hal tersebut tidak terlepas dari budaya yang
merupakan hasil dari sejarah tersebut. Kepribadian dan jati diri bangsa Indonesia dituangkan
dalam pancasila harus dilacak dari sejarah pada masa lampau seperti pada jaman kerajaan seperti
majapahit, sriwijaya dan sebagainya. Oleh karena itu akar-akar nasionalisme Indonesia yang
berkembang dalam perspektif sejarah sekaligus juga merupakan unsur-unsur identitas nasional,
yaitu nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam sejarah terbentuknya bangsa Indonesia.

C. Unsur-unsur Pembentuk Identitas Nasional Indonesia


Menurut Prince (2010:01) Identitas Nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang
majemuk. Ke-majemukan itu merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas, yaitu
suku bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa.
o Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir),
yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak
sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang [1]300 dialek bahasa.
o Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yang
tumbuh dan berkembang di Nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan
Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi
negara, tetapi sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara
dihapuskan.
o Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah
perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh
pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan
digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan bendabenda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
o Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa dipahami sebagai
sistem perlambang yang secara arbitrer dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan
yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia.

Dari unsur-unsur identitas Nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya menjadi 3 bagian
sebagai berikut:

1) Identitas Fundamental, yaitu Pancasila yang merupakan Falsafah Bangsa, Dasar Negara, dan
ldeologi Negara.
2) Identitas Instrumental, yang berisi UUD 1945 dan Tata Perundangannya, Bahasa Indonesia,
Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya".
3) Identitas Alamiah yang meliputi Negara Kepulauan (archipelago) dan pluralisme dalam
suku, bahasa, budaya, serta agama dan kepercayaan (agama).

D. Jati Diri Bangsa Indonesia yang Sesungguhnya


Menurut Robert (2002:04) jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya tercermin pada
perilaku masyarakat Indonesia pada umumnya yang sesuai dengan nilai yang terkandung dalam
pancasila. Perilaku yang sesuai dengan nilai dalam pancasila dan merupakan ciri khas bangsa
Indonesia yang sesungguhnya yaitu:

1.Ketuhanan Yang Maha Esa

Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada


Tuhan Yang Maha Esa.
Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab.

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra


pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.

Membina kerukunan hidup di antara sesama


kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah
yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah
yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah


sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang


Maha Esa kepada orang lain.

umat

beragama

dan

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan


martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap
manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan,
jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Berani membela kebenaran dan keadilan.

Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan


bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia

Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan


keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas
kepentingan pribadi dan golongan.
Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila
diperlukan.

Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

Mengembangkan
Indonesia.

Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian


abadi dan keadilan sosial.

Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

rasa

kebanggaan

4.
Kerakyatan
yang
Dipimpin
Permusyawaratan/Perwakilan

oleh

berkebangsaan

Hikmah

dan

bertanah

Kebijaksanaan

air

dalam

Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia


mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan


bersama.

Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai


hasil musyawarah.

Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan
hasil keputusan musyawarah.

Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan


pribadi dan golongan.

Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani
yang luhur.

Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral


kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat
manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan
kesatuan demi kepentingan bersama.

Memberikan kepercayaan kepada


melaksanakan pemusyawaratan.

wakil-wakil

yang

dipercayai

untuk

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan


suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Menghormati hak orang lain.

Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan


terhadap orang lain

Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan
gaya hidup mewah.

Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan


kepentingan umum.

Suka bekerja keras.

Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.

Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata


dan berkeadilan sosial.

Itulah ciri khusus bangsa Indonesia sebagai Identitas nasional yang seharusnya dimiliki,
dikembangkan, dan menjadi kepribadian masyarakat Indonesia, agar cita-cita luhur bangsa
Indonesia ini yaitu menjadi bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera dapat terwujut.

E. Pengaruh Kebudayaan Asing Terhadap Jati Diri Bangsa Indonesia


Menurut Widianto (2009:82) Berbagai problem mengusik kehidupan berbangsa dan
bernegara yang kita hadapi pada saat ini. Salah satunya yaitu adanya isu bahwa semakin banyak
kebudayaan bangsa asing yang masuk di Indonesia.
Dewasa ini kita dihadapkan kepada tiga masalah yang saling berkaitan, yaitu
1. Suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa, dengan latar belakang
sosio-budaya yang beraneka ragam. Kemajemukan tersebut tercermin dalam berbagai aspek
kehidupan. Oleh karena itu diperlukan sikap yang mampu mengatasi ikatan-ikatan primordial,
yaitu kesukuan dan kedaerahan.
2. Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat. perubahan itu nampak terjadinya
pergeseran sistem nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas sosial, yang diikuti
oleh hubungan antar aksi yang bergeser dalam kelompok-kelompok masyarakat. Sementara itu
terjadi pula penyesuaian dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dapat dipahami apabila
pergeseran nilai-nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan kita sebagai bangsa.
3. Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi massa dan transportasi, yang membawa
pengaruh terhadap intensitas kontak budaya antar suku maupun dengan kebudayaan dari luar.
Khusus dengan terjadinya kontak budaya dengan kebudayaan asing itu bukan hanya
intensitasnya menjadi lebih besar, tetapi juga penyebarannya berlangsung dengan cepat dan luas
jangkauannya. Terjadilah perubahan orientasi budaya yang kadang-kadang menimbulkan
dampak terhadap tata nilai masyarakat, yang sedang menumbuhkan identitasnya sendari sebagai
bangsa.

Menurut Moestopo (1983:23) Budaya asing yang masuk ke Indonesia tersebut tidak
menutup kemungkinan membawa dampak positif maupun negatif bagi bangsa Indonesia.
Pengaruh tersebut diantaranya yaitu:
a.

Pengaruh Positif

Memberi inspirasi bagi kita agar tidak tertinggal informasi tentang


kecanggihan teknologi.
Menggunakan sebagai motivasi untuk hidup yang lebih baik dan maju.

b.

Memberi semangat bagi kita untuk memperkenalkan dengan Negara asing


bahwa kebudayaan Indonesia yang beragam mampu bersaing dengan
kebudayaan mereka.

Pengaruh Negatif

Etika atau cara berperilaku akan merubah seorang individu perilaku yang
lama ke perilaku baru. Pada awalnya individu etika yang lama sudah tidak
sesuai dengan peilaku yang ada sehingga ia cenderung merubah etikanya
untuk menyesuaikan dengan yang baru. Padahal etika yang baru belum tentu
sesuai dengan norma yang berlaku pada kehidupannya.
Cara berpakaian oleh para remaja yang terkena dampak ini akan
menyesuaikan cara berpakaiannya dengan kebudayaan yang ia pelajari. Pada
awalnya individu merasa tertarik untuk mencoba berpakaian yang berbeda
untuk mengikuti tren yang sedang marak namun lambat laun akan merubah
gaya berpakaian untuk seterusnya.

Adanya teknologi yang canggih menyebabkan hidup seesorang cenderung ke


arah hedonisme dan arogan.

Adanya teknologi yang dirasa lebih berguna sehingga mengesampingkan


tenaga manusia. Padahal sebelum mengenal teknologi, masyarakat Indonesia
menghargai jasa manusia.

F. Kondisi Jati Diri Bangsa Indonesia Saat Ini


Menurut Habib (2011:01) kondisi jati diri bangsa Indonesia saat ini dapat kita kaji dan
kita identifikasi dengan melihat prilaku dan kepribadian masyarakat Indonesia pada umumnya
yang tercermin pada tingkah laku masyarakat Indonesia sehari-hari. Perilaku masyarakat
Indonesia pada umumnya saat ini yaitu:
Banyaknya generasi muda yang saat ini telah berprilaku tidak sesuai dengan butir-butir
pancasila. Sebagai contoh yaitu sekarang ini banyak generasi muda yang tidak bertaqwa kepada
Tuhan YME. Kita lihat saja, sekarang ini banyak pemuda-pemudi muslim yang tidak memegang
teguh agamanya sesuai syariah Islam. Contohnya banyak pemuda-pemudi yang sekarang ini
menjalin cinta kasih dengan pasangan yang bukan muhrimnya, dan tidak jarang hal tersebut
sampai kepada prilaku yang sangat memalukan yaitu berhubungan sek bebas dengan pasangan
yang bukan muhrimnya. Tanpa disadari sekarang ini moral para pemuda bangsa indonesia juga
dijajah melalui beredarnya vidio-vidio porno diinternet yang dapat diakses dengan mudah
sehingga banyak diantara pemuda Indonesia yang melihat dan bahkan menirukan aksi dari video
porno tersebut. Selain itu,model-model pakaian para generasi muda saat ini kebanyakan telah
meniru bangsa barat yang dikenal modis dan trend masa kini. Mereka lebih bangga mengenakan
pakaian-pakaian tersebut dari pada pakaian asli budaya Indonesia. Padahal belum tentu model
pakaian itu cocok dikenakan di indonesia. Model pakaian tersebut nampak jelas terutama pada
model pakaian cewek yang terlalu terbuka sehingga menimbulkan gairah lawan jenisnya dan
mengakibatkan sekarang ini tidak jarang kita temui kasus pemerkosaan di Indonesia ini. Selain

masalah penampilan, sekarang ini masalah akhlak pemuda di negara Indonesia juga kian
memburuk. Faktanya generasi muda saat ini banyak yang melampiaskan masalah-masalah yang
sedang meraka hadapi seperti: ketika putus dengan pacar, bertengkar dengan orang tua, merasa
terasing dengan lingkungan teman, dan ketika pusing dengan beban-beban tugas sekolah yang
mereka anggap berat. Mereka mengatasi masalah-masalah tersebut cenderung dengan jalan
pintas. Seperti minum miunuman keras, menggunakn narkoba, pergi ke tempat-tempat hiburan
malam dan bahkan sampai ada yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sungguh ini
merupakan kerusakan moral dari jati diri bangsa yang begitu fatal. Selain moral dan gaya hidup,
ketaqwaan generasi muda bangsa indonesia yang mencermainkan sila pertama juga luntur seperti
contoh nyatanya banyak generasi muda muslim indonesia yang tidak bisa membaca Al-quan.
Hal itu terjadi karena lemahnya sistem pendidikan agama di negara ini. Padahal sebenarnya jika
generasi muda mempunyai ketaqwaan yang tinggi pasti tidak akan ada tindakaan tindakan yang
melanggar hukum seperi korupsi, kolusi, pelecehan seksual, dan tindakan menyimpang lain,
karena mereka menganggap dirinya selalu di awasi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga
mereka takut dosa dan akan selalu berbuat baik.
Disamping fakta-fakta tentang sila pertama di atas, di paragraf saya akan mengemukakan
fakta tentang keadaan jati diri bangsa Indonesia saat ini yang berhubungan dengan sila kedua
sebagai jati diri bangsa indonesia. Sekarang ini banyak diantara pemuda indonesia yang tidak
memanusiakan manusia lain sebagai mana mestinya. Maksutnya yaitu mereka tidak menganggap
manusia berhakekat sebagai manusia yang mempunyai hak dan kewajiban yang harus dihargai
seperti dirinya. Segai contoh yaitu sekarang ini banyak kasus-kasus perkelahian antar pelajar
yang disertai daengan penyiksaan salah satu pihak yang kalah. Mereka menjadikan pihak yang
kalah itu sebagai bulan-bulanan dan dianggap sebagai boneka yang dapat dimain-mainkan dan
mereka siksa. Kasus lain yaitu adanya playboy dikalangan remaja Indonesia. Mereka
menganggap wanita sebagai mainan yang dapat di pergunakan sesuka hati untuk memuaskan
nafsu birahinya dan apabila telah bosan meraka buang sesuka hati tanpa menghargai wanita
sebagai manusia yang punya hati dan persaan. Dalam fakta lain yang terjadi dan lebih parah
yaitu adanya pemerkosaan yang dilakuakan oleh para remaja Indonesia. Mereka memperlakukan
orang yang ia perkosa seperti mainan pemuas nafsu birahi tanpa mereka anggap sebagai manusia
yang mempunyai hak, dan perasaan sama seperti dirinya.
Lalu fakta-fakta lain yang terjadi dan mencerminkan terjadinya krisis jati diri pada
generasi muda sesuai sila ke-3 yaitu seperti memudarnya rasa persatuan dan kesatuan yang
terjadi pada generasi penerus bangsa Indonesia saat ini. Hal tersebut dapat kita lihat dari kasuskasus bentrok antar pelajar atau mahasiswa, bentrok antar seporter sepakbola, bentrok antar
genk, dan lain sebagainya. Dari kasus diatas dapat kita ketahui bahwa rasa persatuan kita sebagai
warga negara indonesia sudah mulai luntur dan mudah dipengaruhi atau diprovokasi oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab. Keadaan seperti inilah yang menjadi bibit-bibit terjadinya
konflik yang lebih besar seperti konflik antar agama, ras, maupun suku. Selain itu fenomenafenomena yang terjadi yang mencerminkan tidak tertanamkannya rasa persatuan indonesia yaitu
terjadinya perpecahan disetiap kelompok sosial. Sebagai contoh dalam kelas sosiologi terdapat
sub-sub kelompok kecil yang biasanya terjadi konflik antar kelompok tersebut. Kelompok
tersebut biasanya terbentuk karena adanya perasaan sederajat (dalam hal ekonomi),
kesukaan/hobi yang sama, pandangan hidup yang sama, bahkan juga bisa karena musuh yang

sama. Hal inilah yang sekarang ini mewabah pada generasi penerus bangsa yang cenderung
membentuk perpecahan.
Selanjutnya fakta ke-4 yaitu mengenai kepemimpinan yang demokratis. Maksutnya
pemimpin di negara kita ini harus bersifat demokratis baik dalam hal pemilihannya maupun
ketika telah membuat keputusan/kebijakan umum yang terkait dengan masyarakat karena
kekuasaan tertinggi di negara kita ini sebenarnya berada di tangan rakyat, dan para pemimpin
hanya sebagai wakil/pelayan bagi rakyat untuk mengatur dan mengambil kebijakan dalam negara
demi tercapainya kemakmuran bersama. Sekarang ini fenomena-fenomena pemimpin yang tidak
demokratis sudah banyak terjadi pada generasi muda saat ini, dan apabila hal itu dibiarka saja
berlanjut maka kelak ketika mereka menjadi pemimpin bangsa ini, mereka akan bertindak seperti
apa yang mereka biasakan sejak dini. Contoh nyata yaitu ketua dalam kelas sosiologi misalnya.
Dia dalam mengambil kebijakan untuk urusan kelas seperti hendak mengadakan acara pentas
seni dan lain sebagainya, dia hanya mendiskusikan/memilih pengurus dalam acara tersebut
secara sepihak. Dia hanya berdiskusi dan menerima usulan dari teman-teman yang dekat/akrab
dengan dia, sebenarnya untuk formalitas dia telah mengadakan musyawarah namun usul dari
teman-temannya yang kurang dekat dengan dia, pasti tidak didengar apalagi dilaksanakan. Inilah
contoh kecil saja yang biasanya kita rasakan pada kelompok-kelompok kecil dikalangan remaja
Indonesia saat ini.
Selanjutnya mengenai keadilan, banyak fakta-fakta mengenai ketidak adilan yang di
lakukan oleh generasi muda bangsa Inonesia saat ini. Tidak perlu jauh-jauh, saat ini dapat kita
lihat pada kelompok belajar kita saja sebagai faktanya. Dalam kelompok belajar PPKN misalnya,
tugas PPKN membuat makalah secara kelompok ketidak adilan selalu kita rasakan. Hal tersebut
karena sebenarnya yang mengerjakan tugas kelompok dari 8 anggota kelompok, hanya 3 orang
saja dan yang lainnya tinggal nitip nama. Padahal ia menginginkan mendapatkan nilai yang
sama. Sungguh ini adalah contoh kecil yang berada pada kehidupan para pelajar sehari-hari. Jika
hal ini terus berlanjut dapat kia lihat kelak mereka akan seperti para anggota DPR yang ketika
sidang mereka ada yang tidur, bertelfon, dan bahkan ada yang menonton fideo porno. Padahal
mereka menginginkan upah/gaji yang sama dengan anggota yang melaksanakan musyawarah
dengan baik. Sebenarnya hal ini terjadi pada mulanya dimulai dari kasus-kasus kecil seperti
diatas yang kemuadian berlanjut karena kebiasaan sampai mereka bekerja pada nantinya.

Menurut Adib (2011:01) selain kasus diatas, secara global dapat kita lihat kerusakan jati
diri bangsa Indonesia saat ini yang berhubungan dengan aspek-aspek kenegaraan yaitu:
Pertama, fenomena besar krisis multidimensional yang menimpa masyarakat, bangsa dan
negara Indonesia adalah suatu fakta yang signifikan hingga sampai saat ini.Memang telah
dilakukan upaya dan pendekatan untuk menyelesaikan krisis multidimensional yang mengenai
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun hasil dari upaya national recovery,
terutama economic recovery belum cukup memadai dan masih jauh dari harapan seluruh rakyat
Indonesia.

Kedua, terdapat fenomena pengelolaan masyarakat, bangsa dan negara yang keliru atau
salah, sehingga bangsa dan negara Indonesia yang memiliki sumber daya alam (SDA) dan
sumber dalam manusia (SDM) yang besar, yang pada akhirnya kurang berhasil membawa
masyarakat, bangsa dan negara mencapai tingkat keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran yang
memadai. Bahkan cenderung membawa sebagian rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan dan
serba kekurangan.
Ketiga, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia sedang menghadapi masalah mendasar
dalam memilih peminpin-peminpin bangsa dan negara yang memiliki komitmen kebangsaan
yang kuat dan memiliki kualitas diri yang tinggi, sehingga peminpin bangsa dan negara tidak
mampu memperlihatkan kualitas diri sebagai negarawan yang sejati. Atau tidak mampu
memiliki jati diri yang berjiwa Pancasilais yang kokoh. Akibatnya banyak pemimpin bangsa dan
negara memiliki moral dan ahlak yang buruk atau busuk.
Keempat, persaingan dan perseteruan kekuasaan (power) telah kehilangan dasar-dasar
moral dan akhlak, sehingga dalam kehidupan politik muncul etika materialisme dan vulger yaitu
menghalalkan segala cara atau jalan untuk mencapai tujuan (kemenangan). Bahkan kondisi
tersebut telah memperluas iklim KKN dan praktik money politics, yang dapat merugikan semua
pihak termasuk bangsa dan negara.
Kelima, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia cenderung kehilangan semangat
kemandirian dan harga dirinya sebagai dampak ketergantungan dengan bangsa dan negara asing,
yang pada akhirnya melahirkan imperialisme gaya baru.
Keenam, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia cenderung terjebak ke dalam
pertarungan luas antara budaya modern-materialistik yang datang dari luar (Barat) dengan
budaya tradisional dan konservatif yang hidup di masyarakat Indonesia, sehingga melahirkan
kehidupan bangsa dan negara yang paradoks dan permisif terhadap gaya hidup materialistik,
individualistik, liberalistik, hedonistik, dan vulgeristik
Ketujuh, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia cenderung tidak bersikap tegas, lugas,
dan tidak memiliki komitmen kuat dalam penegakan hukum, sehingga telah terjadi kerusakan
lingkungan hidup dan kondisi SDA, serta munculnya kerugian-kerugian lain yang lebih parah.
Kedelapan, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia belum siap melakukan transformasi
sosial sehingga belum mampu membangun masyarakat Indonesia modern yang lebih rasional,
terbuka, dan menghargai nilai Ipteks, yang pada akhirnya sulit untuk melaksanakan rule of law.
Kesembilan, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia dapat dinyatakan belum memiliki
komitmen yang kuat untuk membangun kehidupan berdemokrasi yang berkualitas melalui
pemilu. Dan, belum memiliki komitmen dalam membangun pola-pola kehidupan masyarakat
sipil (civil society) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, sehingga pembangunan
demokrasi masih diwarnai dengan tindak kekerasan dan konflik sosial yang berkepanjangan
Kesepuluh, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia dapat dinyatakan belum memiliki
tanggung jawab bersama yang kuat dalam menciptakan ketertiban dan keamanan nasional,

regional dan lokal, sehingga tindak kekerasan dan bahkan tindak kriminalitas menjadi fenomena
yang luas dan signifikan
Kesebelas, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia dapat dinyatakan mengalami krisis
jatidiri yang cukup parah, sehingga menimbulkan krisis moral dan akhlak yang sangat luas,
sehingga memberi peluang berkembangnya perilaku KKN yang tercela. KKN tidak akan dapat
diberantas bilamana kualitas moral dan akhlak itu rendah.
Dari uraian kasus dan fakta diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa Jati Diri Bangsa
Indonesia saat ini sedang mengelami krisis. Hal itu dapat kita lihat dari Ideologi Pancasila
sebagai salah satu ciri khas bangsa Indonesia yang merupakan lndasan dalam bertindak dan
berperilaku sebagai masyarakat Indonesia, sudah tidak dilaksanakan dengan baik oleh
masyarakat Indonesia sebagai kepribadiannya.

G. Cara Mengembalikan Jati Diri Bangsa Indonesia


Menurut Habib (2011:01) cara efektif yang bisa digunakan untuk membangun dan
mengembalikan jati diri bangsa Indonesia serta menekan pengaruh buruk pihak lain baik yang
berasal dari luar maupun dari dalam yang mengikis jati diri bangsa Indonesia yaitu yang pertama
dimulai dari diri kita sendiri. Hal itu dapat dilakukan dengan membiasakan diri dari sekarang
untuk bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila sebagai jati diri kita.
Seperti harus bertakwa kepada Tuhan YME, maksutnya kita harus selalu menjalankan perintah
Tuhan dan menjauhi laranganNya. Dari sila pertama ini saja sebanarnya jika diterapkan dengan
baik bangsa Indonesia ini pasti akan menjadi bangsa yang damai, tentram, aman, adil, dan
sejahtera. Sebab masyarakat Indonesia akan takut terhadap dosa dan akan berhati-hati dalam
bertindak dan berperilaku. Dalam kaitannya dengan sila pertama ada nilai-nilai yang harus kita
kembangkan pada diri kita yaitu:

Ideologi Pancasila merupakan dasar negara yang mengakui dan


mengagungkan keberadaan agama dalam pemerintahan. Sehingga kita
sebagai warga negara Indonesia tidak perlu meragukan konsistensi atas
Ideologi Pancasila terhadap agama. Tidak perlu berusaha mengganti ideologi
Pancasila dengan ideologi berbasis agama dengan alasan bahwa ideologi
Pancasila bukan ideologi beragama. Sebab Ideologi Pancasila adalah ideologi
beragama.
Sesama umat beragama seharusnya kita saling tolong menolong. Tidak perlu
melakukan permusuhan ataupun diskriminasi terhadap umat yang berbeda
agama, berbeda keyakinan maupun berbeda adat istiadat.
Hanya karena merasa berasal dari agama mayoritas tidak seharusnya kita
merendahkan umat yang berbeda agama ataupun membuat aturan yang
secara langsung dan tidak langsung memaksakan aturan agama yang dianut
atau standar agama tertentu kepada pemeluk agama lainya dengan dalih
moralitas.

Hendaknya kita tidak menggunakan standar sebuah agama tertentu untuk


dijadikan tolak ukur nilai moralitas bangsa Indonesia. Sesungguhnya tidak
ada agama yang salah dan mengajarkan permusuhan.

Agama yang diakui di Indonesia ada 5, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Budha
dan Hindu.

Sebuah kesalahan fatal bila menjadikan salah satu agama sebagai standar
tolak ukur benar salah dan moralitas bangsa. Karena akan terjadi chaos dan
timbul gesekan antar agama. kalaupun penggunaan dasar agama haruslah
mengakomodir standar dari Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu bukan
berdasarkan salah satu agama entah agama mayoritas ataupun minoritas.

Selain itu kita harus bersikap adil dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Maksutnya
kita harus memenusiakan orang lain tanpa pandang bulu dan bersikap adil kepada siapa saja
yaitu kita tidak boleh sewenang-wenang memperlakukan orang yang lemah kemudian tunduk
patuh terhadap orang yang mempunyai kekuasaan tinggi dan mempunyai uang banyak. Sebab
apabila hal ini terjadi dapat menjadiakn keadilan bangsa kita ini menjadi lemah, karena hukum
hanya bersifat tajam bagi masyarakat yang kedudukannya rendah sementara bagi kalangan atas
hukum sangat tumpul dan bahkan bisa dibeli dengan uang. Sehingga nilai keadilan sosial harus
dikembangkan dan ditegakkan di semua kalangan terutama pada kehidupan kita sehari-hari.
Kemudian kia juga harus selalu bersatu sebagai negara kesauan republik Indonesia,
walaupun sebenarnya kita mempunyai kebudayaan, agama, ras, dsb yang beranekaraga, namun
dari keberanekaragaman tersebut sebenarnya kalau disatukan dalam satu wadah besar (NKRI)
bisa menjadi kekayaan besar yang saling melengkapi dan memajukan bangsa Indonesia.
Sehingga kita tidak perlu mempersoalkan kebinekaan tersebut apalagi terlalu fanatik dan ingin
menghancurkan satu sama lain, hal inilah yang dapat melemahkan persatuan Indonesia dan
memudahkan bangsa Indonesia untuk dihancurkan. Sehingga kita harus mengikis sikap
primordialisme yang berlebihan terhadap budaya lokal agar kasus-kasus pertikaian antar suku,
agama, dsb dapat ditekan bahkan dihilangkan dari NKRI. Selanjutnya kita juga harus ikut
menjaga dan melestarikan keutuhan NKRI dan jangan berusaha melepaskan diri dari wilayah
NKRI yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke.
Lalu kita juga harus menanamkan sikap demokrasi yang tingi, yaitu apabila kita menjadi
seorang pemimpin di negara Indonesia ini kita harus sadar bahwa kita ini sebenarnya sebagai
wakil rakyat untuk mengatur dan mengambil kebijakan dalam rangka memajukan dan
mensejahterakan bengsa Indonesia. Bukan sebaliknya, sebagai pemimpin hanya untuk mencari
harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi. Ingat negara Indonesia sebagai negara
demokrasi dengan pemerintahan tertinggi dipegang oleh rakyat, jadi sebagai seorang pemimpin
sebanarnya merupakan pelayan dan wakil untuk rakyat. Banyak kasus-kasus korupsi di negara
ini karena mensalahartikan kekuasaannya sebagai ajang untuk mencari uang sebanyakbanyaknya. Hal inilah yang membuat perekonomian negara Indonesia ini semakin mempuruk.
Kemudian dalam pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin kita juga harus
memusyawarahkannya dengan demokratis dan tidak mengambil keputusan secara sepihak yang
menguntungkan kelompok tertentu. Dan yang tidak kalah pentingnya dalam pemilihan waklil
rakyat sikap adil dan demokratis harus benar-benar kita junjung tinggi. Kita harus menghindari

kasus suap-menyuap, agar negara kita ini benar-benar menjadi negara yang demokratis sesuai
dengan nilai yang terkandung dalam panca sila sebagai kepribadian yang harus kita miliki.
Selanjutnya kita juga harus menjunjung tinggi nilai keadilan tanpa pandang bulu dan di
segala sektor bagi seluruh warga negara Indonesia. Jika ke-5 sila tersebut sudah tertanam kuat
pada diri sendiri selanjutnya kita harus mengajak orang-orang yang ada di sekitar kita. Semisal
dengan mengajar nilai-nilai Pancasila di sekolah melalui mata pelajaran PPKN kepada peserta
didik kita, agar mereka menanamkan nilai pancasila dalam kepribadiannya, Sebagai orang tua
kita mendidik dan menanamkan nilai pancasila pada anak kita agar nilai Pancasila menjadi
kepribadian yang melekat baik pada anak kita. Mengajak teman-teman disekitar kita agar
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, dan
menasetinya/menegur apabila teman-teman kita berperilaku bertentangan dengan Pancasila.
Agar masyarakat Indonesia mampu menjalankan nilai-nilai pancasila dengan baik, cara
efektif yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan YME.
Karena dengan ketakwaan dan keyakinan yang tingi, masyarakat akan mempunyai rasa takut
terhadap dosa sehingga mereka akan enggan berbuat salah. Kasus-kasus seperti: korupsi, kolusi,
penipuan, pencurian, pembunuhan, pelecehan seksual, dsb. Pasti tidak akan terjadi. Namun jika
primordialisme terhadap agama yang dianut terlalu tinggi maka akan mengakibatkan perpecahan.
Hal ini dapat diatasi dengan menenemkan sikap toleransi melalui pendidikan di sekolah umum.
Maka dari itu, sebaikya pemerintah mewajibkan para generasi penerus bangsa untuk
mendapatkan program wajib belajar selain sekolah umum juga sekolah keagamaam seperti
madrasah/pondok pesantren bagi yang muslim. Sehingga untuk meningkatkan ketakwaan agar
tidak perprilaku menyimpang yaitu melalui program pendidikan Agama. Selanjutnya untuk
mendapatkan pendidikan mengenai cara hidup berkemajemukan (bertoleransi) serta untuk
meningkatkan keahlian/ketrampilan khusus, melalui sekolah umum.
Secara otomatis apabila kita telah menanamkan kuat jati diri bangsa Indonesia pada diri
kita melalui cara-cara diatas, kita akan mempunyai filter dengan sendirinya untuk memilih dan
memilah pengaruh kebudayaan lain yang masuk ke negara kita. Yang baik kita pakai dan yang
buruk atau tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia, kita tinggalkan. Kemudian pengaruh
kebudayaan lokal juga dapat kita saring melalui pendidikan kewarganegaraan di sekolah umum
serta kita juga harus berusaha mengikis primordialisme yang berlebihan pada diri kita.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa Identitas Nasional Indonesia adalah
ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain
di dunia. Ciri khas tersebut dapat kita lihat dari perilaku masyarakat Indonesia sehari-hari secara
umum dan juga kebudayaan serta atribut-atribut khas yang dimiliki bangsa Indonesia. Jati diri
bangsa Indonesia yang sesungguhnya dan merupakan harapan bangsa yaitu pribadi masyarakat
Indonesia yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Jati diri bangsa
Indonesia tersebut dapat tercemari oleh kebudayaan lain melalui globalisasi apabila kita tidak
dapat menjaga dan melestarikannya dengan baik. Sekarang ini jati diri bangsa Indonesia sedang
mengalami krisis, hal tersebut dapat kita lihat dari prilaku masyarakat secara umum yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Cara efektif untuk mengembalikan
jati diri bangsa Indonesia yaitu yang pertama dimulai dari merubah sikap dan perilaku diri kita
sendiri agar sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kemudian kita juga harus mengajak dan
mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitar kita agar mengikuti kita dalam menanamkan nilai
pancasila sebagai kepribadian bangsa. Untuk membangun jati diri bangsa Indonesia peran yang
harus dilakukan oleh pemerintah yaitu harus menggalakkan pendidikan agama dan pendidikan
umum pada generasi penerus bangsa.
B. Saran
Sebagai masyarakat Indonesia yang menginginkan perubahan kearah yang lebih baik bagi
bangsa Indonesia, kita harus memulai perubahan itu dari hal kecil dalam diri kita sendiri.
Perilaku/kepribadin yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila harus kita kikis. Sementara itu,
kita harus memupuk dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri kita. Selanjutnya kita
juga harus menularkannya pada orang-orang disekitar kita, agar kepribadian bangsa Indonesia
sebagai Identitas Nasional dapat sesuai dengan Pancasila. Sehingga harapan bangsa sebagai
bangsa yang aman, adil, makmur, sentosa, sejahtera, dan makmur dapat terwujut, demi
kebahagiaan seluruh masyarakat Indonesia.

REFERENSI

Mustopo, Habib. (1983). Manusia dan Budaya. Kumpulan Essay.Ilmu Budaya


Dasar. Surabaya: Usaha Nasional
Widianto, Bambang. (2009). Perspektif Budaya: Kumpulan Tulisan
Koentjaraningrat. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Kaelan dan Zubaidi.2007.Pendidikan
Kewarganegaraan.Yogyakarta:Paradigma, Edisi pertama

http://kibaw90.wordpress.com/2010/03/29/identitas-nasional-indonesia/

http://madib.blog.unair.ac.id/jatidiri-and-characters/jatidiri-bangsa-indonesia/

http://ideologipancasila.wordpress.com/2007/07/02/bedah-butir-padapancasila-sila-pertama/

http://ideologipancasila.wordpress.com/butir-pancasila/

http://hadahabib.blogspt.com/2011/11/esay-jati-diri-generasi-mudaindonesia.html

http://prince-mienu.blogspot.com/2010/01/identitas-nasional.html

TRATEGI MEMPERTAHANKAN IDENTITAS NASIONAL DI ERA


GLOBALISASI
BAB I
1.1. PENDAHULUAN
Identitas suatu bangsa merupakan faktor yang sangat menentukan jati diri sebuah bangsa ataupun
negara yang pada prinsipnya identitas itulah yang menandakan eksistensi bangsa di lingkungan
internasional. Bertolak dari konsep diatas, adalah sangat penting bagi setiap bangsa untuk
mampu mempertahankan identitas nasionalnya demi eksistensi bangsa tersebut dan harga diri,
jati
diri,
dan
kehormatan
bangsa
tersebut.
Adapun dalam era globalisasi sekarang ini, menuntut penyesuaian bagi setiap negara agar dapat
mempertahankan eksistensinya sebagai negara berdaulat. Demikian halnya dengan identitas
nasional suatu bangsa yang harus dipertahankan agar tidak mengalami pergeseran nilai identitas
nasional tersebut. Hal inilah yang akan menjadi bahan kajian dalam makalah yang kami
(kelompok II) sajikan dengan mengungkap caracara atau trick suatu bangsa dalam
mempertahankan identitas nasionalnya. Dalam ulasannya, disajikan juga kondisi globalisasi
sekarang ini yang mengalami kemajuan pesat. Disamping kemajuan yang pesat itu, tidak
dipungkiri lagi ada begitu banyak tantangan yang dihadapi negara, dengan adanya pergeseran
nilainilai budaya asli bangsa karena arus globalisasi yang kian deras sehingga kadang tidak
terkendali.
Menyikapi hal ini, perlu adanya peran pemerintah dan masyarakat yang bekerjasama dalam
merespon masalahmasalah yang timbul dalam arus globalisasi sekarang ini, dan demi
mempertahankan eksistensi identitas nasional. Hal ini akan dibahas dalam makalah kami ini,
dengan menyertakan berbagai sumber terkait demi keakuratan materi didalamnya.
1.2.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimanakah
keberadaan
identitas
nasional
dalam
arus
globalisasi
?
2. Strategi apakah yang diterapkan untuk mempertahankan identitas nasional dalam arus
globalisasi
?
3. Mengapa identitas nasional perlu dipertahankan di era globalisasi ?
1.3.
MANFAAT
PENULISAN
1. Secara teoritis kegunaan makalah ini dapat mengembangkan wawasan dan pengetahuan
tentang
strategi
mempertahankan
identitas
nasional
dalam
arus
globalisasi.
2. Secara praktis bermanfaat bagi pengembangan wawasan ilmu pengetahuan mengenai strategi
mempertahankan nasional dalam arus globalisasi, mengembangkan konsep tentang strategi
mempertahankan nasional dalam arus globalisasi, memberikan manfaat dalam rangka
pengembangan konsep, proposisi maupun teori baru tentang identitas nasional dan arus
globalisasi, memberikan manfaat kepada masyarakat umum yang ingin mengetahui cara
mempertahankan nasional dalam arus globalisasi.

1.4.
METODOLOGI
Metode penulisan makalah ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research).
Dalam penyusunannya, makalah ini disajikan dengan tiga bab, dimana pada Bab I, terdiri dari
Pendahuluan, Rumusan Masalah, Manfaat Penulisan, Metodologi, dan Tinjauan Pustaka. Bab II,
merupakan bagian pembahasan, dan Bab III merupakan bagian penutup yang terdiri atas
kesimpulan dan saran.
1.5. TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Strategi
Kata strategi berasal dari turunan bahasa Yunani strategos yang dapat diterjemahkan sebagai
komandan militer pada zaman demokrasi atena. Menurut Henry Mintz Berg, James Brian
quinn, dan Jhon voyer( 1995), The Strategi Process Preatice-HLL,inc mendifinisikan strategi
sebagai 5P yaitu: strategi sebagai perspektif, strategi sebagai posisi, strategi sebagai perencanaan,
strategi sebagai pola kegiatan, dan strategi sebagai penipuan (ploy) yaitu muslihat manusia.
Sebagai perspektif; dimana strategi dalam membentuk misi, menggambarkan perspektif kepada
semua aktivitas. Sebagai posisi; dimana dicari piliha untuk bersaing sebagai perencanaan; dalam
hal strategi menentukan tujuan performansi perusahaan. Sebagai pola kegiatan; dimana dalam
strategi dibentuk suatu pola yaitu umpan balik dan penyesuaian. Menurut Henry Mints juga
strategi merupakan sebuah pola dalam aliran keputusan atau tindakan. Dari berbagai pendapat
yang dipaparkan para ahli, dapat di tarik kesimpulan bahwa strategi adalah suatu perencanaan
dalam bentuk tindakan untuk mencapai tujuan.
B.
Identitas
Nasional
Identitas secara terminologi adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara
filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain . Berdasarkan pengertian tersebut,
identitas nasional dapat berarti setiap bangsa memiliki ciri khas, keunikan dan sifat-sifat yang
berbeda dengan bangsa lain. Dengan demikian, identitas nasional merupakan jati diri bangsa atau
kepribadian suatu bangsa. Pada umumnya pengertian atau istilah kepribadian sebagai suatu
identitas adalah keseluruhan atau totalitas dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis
yang mendasaari tingkah laku individu. Tingkahlaku tersebut terdiri atas kebiasaan, sikap, sifatsifat serta karakter yang beda dengan orang lain. Oleh karena itu, kepribadian tercermin pada
keseluruhan tingkahlaku seseorang dalam hubungan dengan manusia lain (Ismaun, 1981:6)
Identitas nasional merupakan kepribadian bangsa. Ketika dapat memahami kepribadian, yang
menjadi pertanyaan apakah pengertian bangsa . Pada hakikatnya bangsa adalah sekelompok
besar manusia yang mempunyai persamaan nasib dalam proses sejarahnya, sehingga mempunyai
persamaan watak atau karakter yang kuat untuk bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu
wilayah
sebagai
suatu
kesatuan
nasional.
Dari pengertian kepribadian dan bangsa, maka identitas nasional itu benar-benar melekat pada
setiap individu yang mendiami suatu bangsa.
C.
Globalisasi
Globalisasi adalah suatu kekuatan yang tidak dapat dibendung. Didalam Konferensi Berlin dari
kelompok yang menyebut dirinya sosial demokrat, Shimon Peres menyatakan kekuatan
globalisasi sebagai pengalaman seseorang yang bangun pagi dan melihat segala sesuatu berubah.
Banyak hal yang kita anggap biasa, banyak paradigma yang kita anggap suatu kebenaran tiba-

tiba menghilang tanpa bekas. Menurut Budi Winarno, globalisasi menjadi sebuah fenomena
multifaset (banyak wajah) yang menimbulkan beraneka ragam pandangan dan interpretasi,
terutama jika dikaitkan dengan kesejahteraan umat manusia di dunia.
BAB
PEMBAHASAN
STRATEGI MEMPERTAHANKAN IDENTITAS NASIONAL

II

2.1 Keberadaan Identitas Nasional dalam Era Globalisasi


Globalisasi saat ini bergerak dengan sangat cepatnya, kemajuan teknologi informasi serta
komunikasi menyebabkan hubungan antara manusia menjadi sangat cepat dan tanpa batas. Setiap
orang bisa berbicara dan bertatap muka dengan berbagai masyarakat dari berbagai belahan dunia
lainnya. Dengan adanya kemajuan dibidang teknologi dan informasi mempengaruhi keberadaan
bidang-bidang lain. Misalnya bisnis, transportasi, pembangunan, pendidikan, budaya. Pengaruh
dari adanya kemajuan ini memudahkan proses transaksi bisnis dan transportasi maka secara
otomatis akan memudahkan masuknya budaya-budaya asing yang akan mempengaruhi identitas
nasional. Dalam identitas nasional, budaya adalah salah satu faktor penentu jati diri bangsa. Pada
saat ini budaya lokal (daerah) perlahan-lahan mulai berubah dan bahkan ada bagian-bagian
tertentu yang hilang, ini terlihat secara perlahan-lahan masyarakat cenderung berpikir dan
menerapkan budaya nasional dalam tata kehidupan secara format bisnis yang dibangunnya.
Seperti beberapa menu makanan dan tata budaya lokal mulai terasa asing diterapkan, seperti
model keputusan ke daerah mulai ditinggal dan dipakai format keputusan budaya nasional,
padahal kearifan budaya daerah juga mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan.
Pergeseran ini dapat kita lihat terutama pada masyarakat perkotaan yang telah mengalami
akulturasi dari berbagai budaya, karena masyarakat kota bersifat heterogen. Contohnya terlihat
pada acara-acara pesta perkawinan tertentu yang diadakan di perkotaan dimana mempelai lakilaki dan perempuan kadangkala ditemui tidak lagi memakai pakaian adat mereka, namun telah
memakai pakaian yang bergaya barat seperti jas dan gaun. Contoh yang lainnya dapat dilihat
dalam penyelesaian konflik dan proses pengambilan keputusan di masyarakat, yaitu dalam
proses penyelesaian konflik tidak lagi mengedepankan konsep penyelesaian secara adat, padahal
penyelesaian secara adat mampu memberi pengaruh penguatan rasa persaudaraan. Dari melihat
contoh diatas globalisasi yang masuk ke Indonesia mampu mempengaruhi budaya yang sudah
ada.
2.2 Strategi Mempertahankan Identitas Nasional
Dalam arus globalisasi ada begitu banyak tantangan yang di hadapi oleh berbagai negara, maka
ada begitu banyak pula tuntutan untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut. Termasuk
juga tantangan dalam mempertahankan jati diri bangsa. Untuk menghadapi hal ini perlu adanya
strategi untuk mempertahankan identitas nasional yang merupakan jati diri bangsa, diantaranya
dengan mengembangkan nasionalisme, pendidikan, budaya dan Bela Negara.
a. Mengembangkan Nasionalisme
Nasionalisme telah menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberi

identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat bangsa-bangsa . Secara umum, nasionalisme
dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air, termasuk segala aspek yang terdapat didalamnya.
Dari pengertian tersebut ada beberapa sikap yang bisa mencerminkan sikap nasionalisme, yaitu :
1. Menggunakan barang-barang hasil bangsa sendiri, karena bisa menambah rasa cinta dan
bangga akan hal yang di buat oleh tangan-tangan kreatif penduduknya.
2. Menghargai perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan bangsa ini, bisa dilakukan
dengan beberapa perbuatan misalkan membaca, menonton, mengunjungi hal-hal yang berkaitan
tentang sejarah bangsa ini lahir. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme yang
sudah
ada
dari
masing-masing
individu.
3. Berprestasi dalam semua bidang misalkan dari bidang olah raga, akademik, teknologi dan lainlain. Hal ini bertujuan untuk menambahkan rasa bangga dan sikap rela berkorban demi bangsa.
Ada tiga aspek penting yang tidak dapat dilepaskan dalam konteks nasionalisme yaitu :
1. Politik. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghilangkan dominasi politik bangsa asing dan
menggantikannya
dengan
sistem
pemerintahan
yang
berkedaulatan
rakyat.
2. Sosial ekonomi. Nasionalisme Indonesia muncul untuk menghentyikan eksploitasi ekonomi
asing dan membangun masyarakat baru yang bebas dari kemeralatan dan kesengsaraan.
3. Budaya. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghidupkan kembali kepribadian bangsa yang
harus
diselaraskan
dengan
perubahan
zaman.
Dengan demikian, mengembangkan sikap nasionalisme (cinta tanah air), akan dengan sendirinya
telah mempertahankan dan melestarikan keaslian dari bangsanya, termasuk budaya atau
kebiasaan, karakter, sifat-sifat, produk dalam negeri dan adat istiadat masing-masing suku.
Dengan demikian, hal ini merupakan sikap yang menjadi salah satu faktor penentu dalam
mempertahankan identitas nasional.
b. Pendidikan
Pembinaan jati diri bangsa indonesia dapat dilaksanakan melalui jalur formal maupun informal .
Melalui jalur formal jati diri bangsa Indonesia dapat dikembangkan melalui pendidikan.
Pendidikan nasional mempunyai peran yang sangat besar didalam pembentukan jati diri bangsa
Indonesia. Salah satu kenyataan bangsa Indonesia ialah memiliki kekayaan budaya yang
beraneka ragam dengan jumlah suku bangsa yang ratusan dengan budayanya masing-masing
merupakan kekayaan yang sangat berharga didalam pembentukan bangsa Indonesia yang
multikultural. Didalam upaya pembentukan dan mempertahankan jati diri bangsa, peran
pendidikan sangat efektif untuk menimbulkan rasa memiliki dan keinginan untuk
mengembangkan
kekayaan
nasional
dari
masing-masing
budaya
lokal
.
Hal ini sejalan dengan penuturan Syamhalim dalam tulisannya yang ditampilkan di blog-nya
bahwa salah satu upaya untuk mengembalikan dan mengembangkan identitas nasional adalah
melalui bidang pendidikan. Socrates menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses
pengembangan manusia kearah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika
(conduct), (Zaim. 2007). Ada dua fenomena mengapa pendidikan adalah yang pertama dan
utama
.
Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yang pertama Sputnic pada 4
Oktober 1957, Amerika Serikat meradang. Amerika adalah negara besar dengan kemampuan
teknologi yang paling maju merasa didahului oleh Uni Sovyet. Presiden AS ketika itu
memerintahkan untuk membentuk special unit. Tim ini tidak berkeinginan untuk menandingi Uni
Sovyet, tetapi tugasnya adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang

Pendidikan Dasar sampai tingkat Perguruan Tinggi. Dengan bekerja keras dalam waktu yang
singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum
pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi.
Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya.
Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai pada sistem
evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar
biasa. Pada tanggal 14 Juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan
bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet.
Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai
jenjang
perguruan
tinggi.
(C. Winfield
dan
Scoot
dalam
Zaim.
2007).
Kedua, kejadian yang hampir serupa ketika Jepang telah kalah dalam perang dunia II dengan
dijatuhi bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Jepang
praktis lumpuh dalam segala sendi kehidupan. Bahkan Kaisar Jepang waktu itu menyatakan
bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Namun sang Kaisar
langsung memanggil pucuk pimpinan dan bertanya: berapa orang guru yang masih hidup?.
Sebuah pertanyaan sederhana tapi mengandung makna bahwa pendidikan adalah awal segalanya.
Dua fenomena diatas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami
dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah
membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan
bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka akan mengalami kehancuran
dari
bangsanya.
Di Indonesia, jauh sebelum Bung Karno menggagas konsep kemerdekaan Indonesia, elemen
bangsa yang berbasis pendidikan seperti R.A. Kartini, HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo, Cipto
Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara, sudah memikirkan bangsa ini lewat pendidikan. Tidak
lama berselang giliran KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi sosial dan kependidikan
dengan nama Muhammadiyah. Lewat satu Dekade berikutnya KH. Hasyim Asyari ikut
mencerdaskan bangsa dengan NUnya. Semua bermuara pada pendidikan. Hasilnya, semua orang
terdidik mulai memikirkan bangsa dan berusaha lepas dari penjajahan .
Dari uraian di atas nampak adanya keterkaitan antara pendidikan dengan kemajuan suatu bangsa.
Warna pendidikan adalah warna suatu bangsa. Identitas nasional yang dikembangkan melalui
pendidikan diharapkan akan memberi harapan positif bagi kemajuan bangsa ini untuk
mempertahankan karakteristiknya sebagai sebuah bangsa yang beradab, bangsa yang santun,
bangsa yang toleran, bangsa yang menghargai perbedaan dan bangsa yang menjunjung tinggi
nilai-nilai
kemanusiaan.
Pemantapan identitas nasional melalui dunia pendidikan hendaknya tidak dilakukan setengah
hati dan parsial. Transformasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang memacu tumbuhnya
identitas dan jatiri bangsa perlu sinergi dari pihak-pihak yang berkompeten di dunia pendidikan
terutama guru yang bersentuhan langsung dengan siswa, dan yang perlu diperhatikan adalah
bahwa tugas ini tidak hanya menjadi tugas guru mata pelajaran tertentu saja misalnya Pendidikan
Kewarganegaraan, tetapi juga semua guru mata pelajaran dengan pendekatan sesuai karakteristik
mata pelajaran yang diampuh. Melalui dunia pendidikan dapat ditanamkan identitas nasional
kepada generasi muda yang merupakan miniatur masyarakat masa depan.
c. Pelestarian Budaya
Seseorang yang di sebut berbudaya adalah seorang yang menguasai dan berperilaku sesuai

dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup di dalam kebudayaan
tersebut . Budaya merupakan salah faktor penentu jati diri bangsa. Pada pengertiannya, budaya
adalah hasil karya cipta manusia yang dihasilkan dan telah dipakai sebagai bagian dari tata
kehidupan sehari-hari . Suatu budaya yang dipakai dan diterapkan dalam kehidupan dalam waktu
yang lama, akan mempengaruhi pembentukan pola kehidupan masyarakat, seperti kebiasaan
rajin bekerja. Kebiasaan ini berpengaruh secara jangka panjang, sehingga sudah melekat dan
terpatri dalam diri masyarakat. Namun pada kenyataannya budaya indonesia sekarang ini mulai
menghilang karena pengaruh budaya asing yang masuk ke indonesia, untuk itulah perlu adanya
pembangunan kembali jati diri dan budaya bangsa dan Negara, ada dua hal utama yang harus
dilakukan
:
1. Merevitalisasi kedaulatan politik, ekonomi dan budaya agar berada pada jalur yang benar
sesuai dengan hakikat bangsa yang merdeka sehingga bangsa kita mampu mandiri dan
bermartabat.
2. Mendorong political will penyelenggaraan Negara, baik eksekutif maupun legislatif untuk
membangun dan menjabarkan kembali nilai-nilai dan semangat kebangsaan di setiap hati nurani
rakyat.
Selain pembangunan diatas, pembangunan dalam bangunan-bangunan budaya seperti rumah
adat, dan lain sebagainya juga perlu diperhatikan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang
ada di Indonesia. Dengan demikian, jelaslah bahwa dengan melestarikan budaya bangsa, dapat
memperkokoh identitas nasional itu sendiri karena dalam setiap pelaksanaan nilai-nilai budaya,
masyarakat akan lebih cenderung melekat dan menyatu dengan budaya yang dianutnya, selain itu
juga dengan adanya keeratan dari buday ayang ada dapat membawa nama bangsa indonesia
menjadi harum, dalam arti membawa budaya indonesia ke mancanegara atau memperkenalkan
budaya yang ada ke negara luar.
d. Bela Negara
Pasal 27 ayat 3 UUD 1945 berbunyi : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya pembelaan negara. Dari bunyi pasal tersebut menunjukkan bahwa bela negara merupakan
hak dan sekaligus kewajiban bagi setiap warga negara, ini membuktikan bahwa bela negara juga
menjadi suatu aturan agar setiap warga negara harus melakukan tindakan bela negara demi
ketahanan dan eksistensi sebuah negara. Pada zaman penjajahan bela negara diartikan dengan
cara mengikuti wajib milter agar dapat membertahankan negara indonesia. Namun, seiring
berjalannya waktu ketika bangsa indonesia berhasil mengalahkan para penjajah dan merdeka,
konsep bela negara berbuah dalam arti tidak tertapaku lagi harus mengikuti wajib iliter. Zaman
sekarang ini, setiap orang dapat melakukan bela negara dengan caranya masing-masing, menurut
profesinya atau pekerjaannya. Dalam konsep bela negara diinterpretasikan secara labih luas lagi
sehingga meliputi segala bidang dalam kehidupan bernegara. Dalam upaya pembelaan negara
ini, dilakukan secara terpadu dan disadasarkan atas kecintaan terhadap tanah air dan bangsa.
Misalnya, dalam bidang kesehatan seorang dokter menekuni preofesinya dengan sungguh
sehingga dapat membuat ia menjadi dokter yang handal bukkan hanya di Indonesia namun juga
di luar negeri. Adapun contoh yang lain dala dunia pendidikan siswa belajar dengan rajin dan
kemudian mengikuti lomba di tingkat internasional dan dapat meraih juara. Dari berbagai sikap
yang dilakukan oleh warga negara sebagai rasa cinta terhadap negara dan pembelaan negara ini
dapat mengharumkan nama bangsa indonesia. Dengan sendirinya juga setiap warga negara sudah
memberikan sumbangsi terhadap ketahanan nasional dan eksistensi dari pada identitas nasional.

2.3. Pentingnya Mempertahankan Identitas Nasional


Identitas Nasional Indonesia meliputi apa yang dimiliki bangsa Indonesia yang membedakannya
dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber kekayaan alam Indonesia, kependudukan
Indonesia, ideologi, agama, politik negara, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Menghadapi
identitas nasional, bangsa Indonesia sendiri masih kesulitan dalam menghadapi masalah
bagaimana untuk menyatukan negara yang mempunyai banyak sekali kelompok etnis, yang
memiliki pengalaman yang berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Namun saat ini
masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Karena kebiasaan atau pun
budaya masyarakat kita telah bercampur dengan kebiasaan dan kebudayaan negara-negara lain.
Indikator identitas nasional itu antara lain pola perilaku yang nampak dalam kegiatan masyarakat
seperti adat-istiadat, tata kelakuan, kebiasaan. Lambang-lambang yang menjadi ciri bangsa dan
negara
seperti
bendera,
bahasa,
dan
lagu
kebangsaan.
.
Arus globalisasi yang demikian pesatnya, ternyata telah mampu mempengaruhi identitas
nasional dan berpotensi merosotnya nilai-nilai budaya bangsa. Masyarakat budaya tidak lagi
memperhatikan budayanya sendiri apalagi punya keinginan dan dorongan untuk melestarikan.
Mereka cenderung mengadopsi dan menerapkan budaya asing dan mengabaikan budaya sendiri.
Budaya yang asli dianggap kuno dibandingkan dengan budaya asing yang dianggap lebih
modern.
Pemikiran dan pemahaman seperti inilah yang membuat menurunnya nilai-nilai kebudayaan asli
bangsa dan berpotensi hilangnya identitas bangsa yang sebenarnya. Menyikapi hal ini maka
dianggap penting untuk mempertahankan identitas nasional demi eksistensi bangsa. Salah satu
alasan pentingnya mepertahankan nilai-nilai budaya sendiri adalah karena nilai-nilai budaya
suatu negara adalah identitas negara tersebut didepan dunia internasional . Jika kita sebagai
masyarakat Indonesia tidak mengahargai dan mempertahankan budaya kita sendiri, siapa yang
akan mempertahankannya? Jika kita tidak mempertahankan budaya kita sendiri sama saja
dengan kita membuang identitas negeri kita didepan dunia internasional yang akan membuat
negara kita tidak terpandang didepan negara-negara lain. Dengan kita lebih menghargai dan
mempertahankan budaya kita, akan lebih banyak lagi negara-negara yang akan tahu tentang
bangsa kita dan dapat mendatangkan berbagai keuntungan dalam hal moneter ataupun hal nonmoneter seperti nama Indonesia yang terpandang sebagai negara dengan berbagai keunikan dan
keindahan alam.
BAB
PENUTUP

III

3.1. Kesimpulan
Dari
pembahasan
diatas
maka
kami
kelompok
2
menyimpulkan
:
1. Identitas nasional dalam era globalisasi sekarang ini sudah mengalami kemerosotan dari nilainilainya yang merupakan akibat dari lajunya arus globalisasi sehingga proses masuknya budaya
asing kedalam budaya asli bangsa sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Akibatnya budaya asiang
dan
buday
asli
bangsa
bercampur
baur.
2. Untuk menyikapi hal diatas perlu adanya strategi untuk mempertahankan identitas nasional.
Strategi untuk mempertahankan identitas nasional dapat dilakukan dengan mengembangkan

nasionalisme,
melestarikan
budaya,
pendidikan,
dan
bela
negara.
3. Identitas nasioanal dianggap penting untuk dipertahankan karena alasan berikut:
a.
Identitas
nasional
merupakan
jati
diri
bangsa.
b. Identitas nasional menjadi faktor yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain.
3.2. Saran
Sebagai warga negara yang baik kita harus mampu mempertahnkan identitas nasional di era
globalisasi. Dimana pada saat ini dengan adanya perkembangan di era globalisasi mempengaruhi
budaya-budaya yang sudah ada di indonesia. Disinilah kita sebagai warga negara harus mampu
mengaembangkan jati diri bangsa, jangan sampai budaya kita diganti dengan budaya asing atau
budaya luar. Terlebih kita sebagai mahasiswa harus berpartisipasi dalam mempertahankan
identitas nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Fahmi Irham, 2011. Manajemen teori, kasus, dan solusi, Bandung : Alfabeta
Kaelan dan Zubaidi Achmad, 2010. Pendidikan Kewarganegaraan, Yogyakarta: Paradigma
Tilaar. H.A.R, 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan, Jakarta : Grasindo
Tilaar. H.A.R., 2007. Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta
Tilaar. H.A.R., 1999. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Bandung:
Rosda
Adriel Kevin download http://kevinadriel.blogspot.com/2010/05/pentingnyamempertahankannilai-nilai.html, diposting pada minggu 9 Mei 2010, pukul 07.51, di kutip pada Rabu 14
November
2012,
pukul
10.49.
Heru Tri yuza, download http://kelompokkwntekdus.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-falsefalse-in-x-none-x.html, diposting pada Kamis, 10 November 2011, pukul 06.27, di kutip pada
hari
rabu,
14
November
2012,
Pukul
10.05.
Syamhalim,
http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/17/agenda-memantapkan-identitasnasional-melalui-pendidikan/,
diposting
pada
17 August
2012
pukul, 05:52.
http://fikternora.16mb.com/2012/11/strategi-mempertahankan-identitas-nasional-di-eraglobalisasi/

TRATEGI MEMPERTAHANKAN IDENTITAS NASIONAL DI ERA


GLOBALISASI
BAB I
1.1. PENDAHULUAN
Identitas suatu bangsa merupakan faktor yang sangat menentukan jati diri sebuah bangsa ataupun
negara yang pada prinsipnya identitas itulah yang menandakan eksistensi bangsa di lingkungan
internasional. Bertolak dari konsep diatas, adalah sangat penting bagi setiap bangsa untuk
mampu mempertahankan identitas nasionalnya demi eksistensi bangsa tersebut dan harga diri,
jati
diri,
dan
kehormatan
bangsa
tersebut.
Adapun dalam era globalisasi sekarang ini, menuntut penyesuaian bagi setiap negara agar dapat
mempertahankan eksistensinya sebagai negara berdaulat. Demikian halnya dengan identitas
nasional suatu bangsa yang harus dipertahankan agar tidak mengalami pergeseran nilai identitas
nasional tersebut. Hal inilah yang akan menjadi bahan kajian dalam makalah yang kami
(kelompok II) sajikan dengan mengungkap caracara atau trick suatu bangsa dalam
mempertahankan identitas nasionalnya. Dalam ulasannya, disajikan juga kondisi globalisasi
sekarang ini yang mengalami kemajuan pesat. Disamping kemajuan yang pesat itu, tidak
dipungkiri lagi ada begitu banyak tantangan yang dihadapi negara, dengan adanya pergeseran
nilainilai budaya asli bangsa karena arus globalisasi yang kian deras sehingga kadang tidak
terkendali.
Menyikapi hal ini, perlu adanya peran pemerintah dan masyarakat yang bekerjasama dalam
merespon masalahmasalah yang timbul dalam arus globalisasi sekarang ini, dan demi
mempertahankan eksistensi identitas nasional. Hal ini akan dibahas dalam makalah kami ini,
dengan menyertakan berbagai sumber terkait demi keakuratan materi didalamnya.
1.2.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimanakah
keberadaan
identitas
nasional
dalam
arus
globalisasi
?
2. Strategi apakah yang diterapkan untuk mempertahankan identitas nasional dalam arus
globalisasi
?
3. Mengapa identitas nasional perlu dipertahankan di era globalisasi ?
1.3.
MANFAAT
PENULISAN
1. Secara teoritis kegunaan makalah ini dapat mengembangkan wawasan dan pengetahuan
tentang
strategi
mempertahankan
identitas
nasional
dalam
arus
globalisasi.
2. Secara praktis bermanfaat bagi pengembangan wawasan ilmu pengetahuan mengenai strategi
mempertahankan nasional dalam arus globalisasi, mengembangkan konsep tentang strategi
mempertahankan nasional dalam arus globalisasi, memberikan manfaat dalam rangka
pengembangan konsep, proposisi maupun teori baru tentang identitas nasional dan arus
globalisasi, memberikan manfaat kepada masyarakat umum yang ingin mengetahui cara
mempertahankan nasional dalam arus globalisasi.

1.4.
METODOLOGI
Metode penulisan makalah ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research).
Dalam penyusunannya, makalah ini disajikan dengan tiga bab, dimana pada Bab I, terdiri dari
Pendahuluan, Rumusan Masalah, Manfaat Penulisan, Metodologi, dan Tinjauan Pustaka. Bab II,
merupakan bagian pembahasan, dan Bab III merupakan bagian penutup yang terdiri atas
kesimpulan dan saran.
1.5. TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Strategi
Kata strategi berasal dari turunan bahasa Yunani strategos yang dapat diterjemahkan sebagai
komandan militer pada zaman demokrasi atena. Menurut Henry Mintz Berg, James Brian
quinn, dan Jhon voyer( 1995), The Strategi Process Preatice-HLL,inc mendifinisikan strategi
sebagai 5P yaitu: strategi sebagai perspektif, strategi sebagai posisi, strategi sebagai perencanaan,
strategi sebagai pola kegiatan, dan strategi sebagai penipuan (ploy) yaitu muslihat manusia.
Sebagai perspektif; dimana strategi dalam membentuk misi, menggambarkan perspektif kepada
semua aktivitas. Sebagai posisi; dimana dicari piliha untuk bersaing sebagai perencanaan; dalam
hal strategi menentukan tujuan performansi perusahaan. Sebagai pola kegiatan; dimana dalam
strategi dibentuk suatu pola yaitu umpan balik dan penyesuaian. Menurut Henry Mints juga
strategi merupakan sebuah pola dalam aliran keputusan atau tindakan. Dari berbagai pendapat
yang dipaparkan para ahli, dapat di tarik kesimpulan bahwa strategi adalah suatu perencanaan
dalam bentuk tindakan untuk mencapai tujuan.
B.
Identitas
Nasional
Identitas secara terminologi adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara
filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain . Berdasarkan pengertian tersebut,
identitas nasional dapat berarti setiap bangsa memiliki ciri khas, keunikan dan sifat-sifat yang
berbeda dengan bangsa lain. Dengan demikian, identitas nasional merupakan jati diri bangsa atau
kepribadian suatu bangsa. Pada umumnya pengertian atau istilah kepribadian sebagai suatu
identitas adalah keseluruhan atau totalitas dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis
yang mendasaari tingkah laku individu. Tingkahlaku tersebut terdiri atas kebiasaan, sikap, sifatsifat serta karakter yang beda dengan orang lain. Oleh karena itu, kepribadian tercermin pada
keseluruhan tingkahlaku seseorang dalam hubungan dengan manusia lain (Ismaun, 1981:6)
Identitas nasional merupakan kepribadian bangsa. Ketika dapat memahami kepribadian, yang
menjadi pertanyaan apakah pengertian bangsa . Pada hakikatnya bangsa adalah sekelompok
besar manusia yang mempunyai persamaan nasib dalam proses sejarahnya, sehingga mempunyai
persamaan watak atau karakter yang kuat untuk bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu
wilayah
sebagai
suatu
kesatuan
nasional.
Dari pengertian kepribadian dan bangsa, maka identitas nasional itu benar-benar melekat pada
setiap individu yang mendiami suatu bangsa.
C.
Globalisasi
Globalisasi adalah suatu kekuatan yang tidak dapat dibendung. Didalam Konferensi Berlin dari
kelompok yang menyebut dirinya sosial demokrat, Shimon Peres menyatakan kekuatan
globalisasi sebagai pengalaman seseorang yang bangun pagi dan melihat segala sesuatu berubah.
Banyak hal yang kita anggap biasa, banyak paradigma yang kita anggap suatu kebenaran tiba-

tiba menghilang tanpa bekas. Menurut Budi Winarno, globalisasi menjadi sebuah fenomena
multifaset (banyak wajah) yang menimbulkan beraneka ragam pandangan dan interpretasi,
terutama jika dikaitkan dengan kesejahteraan umat manusia di dunia.
BAB
PEMBAHASAN
STRATEGI MEMPERTAHANKAN IDENTITAS NASIONAL

II

2.1 Keberadaan Identitas Nasional dalam Era Globalisasi


Globalisasi saat ini bergerak dengan sangat cepatnya, kemajuan teknologi informasi serta
komunikasi menyebabkan hubungan antara manusia menjadi sangat cepat dan tanpa batas. Setiap
orang bisa berbicara dan bertatap muka dengan berbagai masyarakat dari berbagai belahan dunia
lainnya. Dengan adanya kemajuan dibidang teknologi dan informasi mempengaruhi keberadaan
bidang-bidang lain. Misalnya bisnis, transportasi, pembangunan, pendidikan, budaya. Pengaruh
dari adanya kemajuan ini memudahkan proses transaksi bisnis dan transportasi maka secara
otomatis akan memudahkan masuknya budaya-budaya asing yang akan mempengaruhi identitas
nasional. Dalam identitas nasional, budaya adalah salah satu faktor penentu jati diri bangsa. Pada
saat ini budaya lokal (daerah) perlahan-lahan mulai berubah dan bahkan ada bagian-bagian
tertentu yang hilang, ini terlihat secara perlahan-lahan masyarakat cenderung berpikir dan
menerapkan budaya nasional dalam tata kehidupan secara format bisnis yang dibangunnya.
Seperti beberapa menu makanan dan tata budaya lokal mulai terasa asing diterapkan, seperti
model keputusan ke daerah mulai ditinggal dan dipakai format keputusan budaya nasional,
padahal kearifan budaya daerah juga mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan.
Pergeseran ini dapat kita lihat terutama pada masyarakat perkotaan yang telah mengalami
akulturasi dari berbagai budaya, karena masyarakat kota bersifat heterogen. Contohnya terlihat
pada acara-acara pesta perkawinan tertentu yang diadakan di perkotaan dimana mempelai lakilaki dan perempuan kadangkala ditemui tidak lagi memakai pakaian adat mereka, namun telah
memakai pakaian yang bergaya barat seperti jas dan gaun. Contoh yang lainnya dapat dilihat
dalam penyelesaian konflik dan proses pengambilan keputusan di masyarakat, yaitu dalam
proses penyelesaian konflik tidak lagi mengedepankan konsep penyelesaian secara adat, padahal
penyelesaian secara adat mampu memberi pengaruh penguatan rasa persaudaraan. Dari melihat
contoh diatas globalisasi yang masuk ke Indonesia mampu mempengaruhi budaya yang sudah
ada.
2.2 Strategi Mempertahankan Identitas Nasional
Dalam arus globalisasi ada begitu banyak tantangan yang di hadapi oleh berbagai negara, maka
ada begitu banyak pula tuntutan untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut. Termasuk
juga tantangan dalam mempertahankan jati diri bangsa. Untuk menghadapi hal ini perlu adanya
strategi untuk mempertahankan identitas nasional yang merupakan jati diri bangsa, diantaranya
dengan mengembangkan nasionalisme, pendidikan, budaya dan Bela Negara.
a. Mengembangkan Nasionalisme
Nasionalisme telah menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberi

identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat bangsa-bangsa . Secara umum, nasionalisme
dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air, termasuk segala aspek yang terdapat didalamnya.
Dari pengertian tersebut ada beberapa sikap yang bisa mencerminkan sikap nasionalisme, yaitu :
1. Menggunakan barang-barang hasil bangsa sendiri, karena bisa menambah rasa cinta dan
bangga akan hal yang di buat oleh tangan-tangan kreatif penduduknya.
2. Menghargai perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan bangsa ini, bisa dilakukan
dengan beberapa perbuatan misalkan membaca, menonton, mengunjungi hal-hal yang berkaitan
tentang sejarah bangsa ini lahir. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme yang
sudah
ada
dari
masing-masing
individu.
3. Berprestasi dalam semua bidang misalkan dari bidang olah raga, akademik, teknologi dan lainlain. Hal ini bertujuan untuk menambahkan rasa bangga dan sikap rela berkorban demi bangsa.
Ada tiga aspek penting yang tidak dapat dilepaskan dalam konteks nasionalisme yaitu :
1. Politik. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghilangkan dominasi politik bangsa asing dan
menggantikannya
dengan
sistem
pemerintahan
yang
berkedaulatan
rakyat.
2. Sosial ekonomi. Nasionalisme Indonesia muncul untuk menghentyikan eksploitasi ekonomi
asing dan membangun masyarakat baru yang bebas dari kemeralatan dan kesengsaraan.
3. Budaya. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghidupkan kembali kepribadian bangsa yang
harus
diselaraskan
dengan
perubahan
zaman.
Dengan demikian, mengembangkan sikap nasionalisme (cinta tanah air), akan dengan sendirinya
telah mempertahankan dan melestarikan keaslian dari bangsanya, termasuk budaya atau
kebiasaan, karakter, sifat-sifat, produk dalam negeri dan adat istiadat masing-masing suku.
Dengan demikian, hal ini merupakan sikap yang menjadi salah satu faktor penentu dalam
mempertahankan identitas nasional.
b. Pendidikan
Pembinaan jati diri bangsa indonesia dapat dilaksanakan melalui jalur formal maupun informal .
Melalui jalur formal jati diri bangsa Indonesia dapat dikembangkan melalui pendidikan.
Pendidikan nasional mempunyai peran yang sangat besar didalam pembentukan jati diri bangsa
Indonesia. Salah satu kenyataan bangsa Indonesia ialah memiliki kekayaan budaya yang
beraneka ragam dengan jumlah suku bangsa yang ratusan dengan budayanya masing-masing
merupakan kekayaan yang sangat berharga didalam pembentukan bangsa Indonesia yang
multikultural. Didalam upaya pembentukan dan mempertahankan jati diri bangsa, peran
pendidikan sangat efektif untuk menimbulkan rasa memiliki dan keinginan untuk
mengembangkan
kekayaan
nasional
dari
masing-masing
budaya
lokal
.
Hal ini sejalan dengan penuturan Syamhalim dalam tulisannya yang ditampilkan di blog-nya
bahwa salah satu upaya untuk mengembalikan dan mengembangkan identitas nasional adalah
melalui bidang pendidikan. Socrates menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses
pengembangan manusia kearah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika
(conduct), (Zaim. 2007). Ada dua fenomena mengapa pendidikan adalah yang pertama dan
utama
.
Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yang pertama Sputnic pada 4
Oktober 1957, Amerika Serikat meradang. Amerika adalah negara besar dengan kemampuan
teknologi yang paling maju merasa didahului oleh Uni Sovyet. Presiden AS ketika itu
memerintahkan untuk membentuk special unit. Tim ini tidak berkeinginan untuk menandingi Uni
Sovyet, tetapi tugasnya adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang

Pendidikan Dasar sampai tingkat Perguruan Tinggi. Dengan bekerja keras dalam waktu yang
singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum
pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi.
Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya.
Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai pada sistem
evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar
biasa. Pada tanggal 14 Juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan
bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet.
Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai
jenjang
perguruan
tinggi.
(C. Winfield
dan
Scoot
dalam
Zaim.
2007).
Kedua, kejadian yang hampir serupa ketika Jepang telah kalah dalam perang dunia II dengan
dijatuhi bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Jepang
praktis lumpuh dalam segala sendi kehidupan. Bahkan Kaisar Jepang waktu itu menyatakan
bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Namun sang Kaisar
langsung memanggil pucuk pimpinan dan bertanya: berapa orang guru yang masih hidup?.
Sebuah pertanyaan sederhana tapi mengandung makna bahwa pendidikan adalah awal segalanya.
Dua fenomena diatas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami
dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah
membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan
bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka akan mengalami kehancuran
dari
bangsanya.
Di Indonesia, jauh sebelum Bung Karno menggagas konsep kemerdekaan Indonesia, elemen
bangsa yang berbasis pendidikan seperti R.A. Kartini, HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo, Cipto
Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara, sudah memikirkan bangsa ini lewat pendidikan. Tidak
lama berselang giliran KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi sosial dan kependidikan
dengan nama Muhammadiyah. Lewat satu Dekade berikutnya KH. Hasyim Asyari ikut
mencerdaskan bangsa dengan NUnya. Semua bermuara pada pendidikan. Hasilnya, semua orang
terdidik mulai memikirkan bangsa dan berusaha lepas dari penjajahan .
Dari uraian di atas nampak adanya keterkaitan antara pendidikan dengan kemajuan suatu bangsa.
Warna pendidikan adalah warna suatu bangsa. Identitas nasional yang dikembangkan melalui
pendidikan diharapkan akan memberi harapan positif bagi kemajuan bangsa ini untuk
mempertahankan karakteristiknya sebagai sebuah bangsa yang beradab, bangsa yang santun,
bangsa yang toleran, bangsa yang menghargai perbedaan dan bangsa yang menjunjung tinggi
nilai-nilai
kemanusiaan.
Pemantapan identitas nasional melalui dunia pendidikan hendaknya tidak dilakukan setengah
hati dan parsial. Transformasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang memacu tumbuhnya
identitas dan jatiri bangsa perlu sinergi dari pihak-pihak yang berkompeten di dunia pendidikan
terutama guru yang bersentuhan langsung dengan siswa, dan yang perlu diperhatikan adalah
bahwa tugas ini tidak hanya menjadi tugas guru mata pelajaran tertentu saja misalnya Pendidikan
Kewarganegaraan, tetapi juga semua guru mata pelajaran dengan pendekatan sesuai karakteristik
mata pelajaran yang diampuh. Melalui dunia pendidikan dapat ditanamkan identitas nasional
kepada generasi muda yang merupakan miniatur masyarakat masa depan.
c. Pelestarian Budaya
Seseorang yang di sebut berbudaya adalah seorang yang menguasai dan berperilaku sesuai

dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup di dalam kebudayaan
tersebut . Budaya merupakan salah faktor penentu jati diri bangsa. Pada pengertiannya, budaya
adalah hasil karya cipta manusia yang dihasilkan dan telah dipakai sebagai bagian dari tata
kehidupan sehari-hari . Suatu budaya yang dipakai dan diterapkan dalam kehidupan dalam waktu
yang lama, akan mempengaruhi pembentukan pola kehidupan masyarakat, seperti kebiasaan
rajin bekerja. Kebiasaan ini berpengaruh secara jangka panjang, sehingga sudah melekat dan
terpatri dalam diri masyarakat. Namun pada kenyataannya budaya indonesia sekarang ini mulai
menghilang karena pengaruh budaya asing yang masuk ke indonesia, untuk itulah perlu adanya
pembangunan kembali jati diri dan budaya bangsa dan Negara, ada dua hal utama yang harus
dilakukan
:
1. Merevitalisasi kedaulatan politik, ekonomi dan budaya agar berada pada jalur yang benar
sesuai dengan hakikat bangsa yang merdeka sehingga bangsa kita mampu mandiri dan
bermartabat.
2. Mendorong political will penyelenggaraan Negara, baik eksekutif maupun legislatif untuk
membangun dan menjabarkan kembali nilai-nilai dan semangat kebangsaan di setiap hati nurani
rakyat.
Selain pembangunan diatas, pembangunan dalam bangunan-bangunan budaya seperti rumah
adat, dan lain sebagainya juga perlu diperhatikan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang
ada di Indonesia. Dengan demikian, jelaslah bahwa dengan melestarikan budaya bangsa, dapat
memperkokoh identitas nasional itu sendiri karena dalam setiap pelaksanaan nilai-nilai budaya,
masyarakat akan lebih cenderung melekat dan menyatu dengan budaya yang dianutnya, selain itu
juga dengan adanya keeratan dari buday ayang ada dapat membawa nama bangsa indonesia
menjadi harum, dalam arti membawa budaya indonesia ke mancanegara atau memperkenalkan
budaya yang ada ke negara luar.
d. Bela Negara
Pasal 27 ayat 3 UUD 1945 berbunyi : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya pembelaan negara. Dari bunyi pasal tersebut menunjukkan bahwa bela negara merupakan
hak dan sekaligus kewajiban bagi setiap warga negara, ini membuktikan bahwa bela negara juga
menjadi suatu aturan agar setiap warga negara harus melakukan tindakan bela negara demi
ketahanan dan eksistensi sebuah negara. Pada zaman penjajahan bela negara diartikan dengan
cara mengikuti wajib milter agar dapat membertahankan negara indonesia. Namun, seiring
berjalannya waktu ketika bangsa indonesia berhasil mengalahkan para penjajah dan merdeka,
konsep bela negara berbuah dalam arti tidak tertapaku lagi harus mengikuti wajib iliter. Zaman
sekarang ini, setiap orang dapat melakukan bela negara dengan caranya masing-masing, menurut
profesinya atau pekerjaannya. Dalam konsep bela negara diinterpretasikan secara labih luas lagi
sehingga meliputi segala bidang dalam kehidupan bernegara. Dalam upaya pembelaan negara
ini, dilakukan secara terpadu dan disadasarkan atas kecintaan terhadap tanah air dan bangsa.
Misalnya, dalam bidang kesehatan seorang dokter menekuni preofesinya dengan sungguh
sehingga dapat membuat ia menjadi dokter yang handal bukkan hanya di Indonesia namun juga
di luar negeri. Adapun contoh yang lain dala dunia pendidikan siswa belajar dengan rajin dan
kemudian mengikuti lomba di tingkat internasional dan dapat meraih juara. Dari berbagai sikap
yang dilakukan oleh warga negara sebagai rasa cinta terhadap negara dan pembelaan negara ini
dapat mengharumkan nama bangsa indonesia. Dengan sendirinya juga setiap warga negara sudah
memberikan sumbangsi terhadap ketahanan nasional dan eksistensi dari pada identitas nasional.

2.3. Pentingnya Mempertahankan Identitas Nasional


Identitas Nasional Indonesia meliputi apa yang dimiliki bangsa Indonesia yang membedakannya
dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber kekayaan alam Indonesia, kependudukan
Indonesia, ideologi, agama, politik negara, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Menghadapi
identitas nasional, bangsa Indonesia sendiri masih kesulitan dalam menghadapi masalah
bagaimana untuk menyatukan negara yang mempunyai banyak sekali kelompok etnis, yang
memiliki pengalaman yang berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Namun saat ini
masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Karena kebiasaan atau pun
budaya masyarakat kita telah bercampur dengan kebiasaan dan kebudayaan negara-negara lain.
Indikator identitas nasional itu antara lain pola perilaku yang nampak dalam kegiatan masyarakat
seperti adat-istiadat, tata kelakuan, kebiasaan. Lambang-lambang yang menjadi ciri bangsa dan
negara
seperti
bendera,
bahasa,
dan
lagu
kebangsaan.
.
Arus globalisasi yang demikian pesatnya, ternyata telah mampu mempengaruhi identitas
nasional dan berpotensi merosotnya nilai-nilai budaya bangsa. Masyarakat budaya tidak lagi
memperhatikan budayanya sendiri apalagi punya keinginan dan dorongan untuk melestarikan.
Mereka cenderung mengadopsi dan menerapkan budaya asing dan mengabaikan budaya sendiri.
Budaya yang asli dianggap kuno dibandingkan dengan budaya asing yang dianggap lebih
modern.
Pemikiran dan pemahaman seperti inilah yang membuat menurunnya nilai-nilai kebudayaan asli
bangsa dan berpotensi hilangnya identitas bangsa yang sebenarnya. Menyikapi hal ini maka
dianggap penting untuk mempertahankan identitas nasional demi eksistensi bangsa. Salah satu
alasan pentingnya mepertahankan nilai-nilai budaya sendiri adalah karena nilai-nilai budaya
suatu negara adalah identitas negara tersebut didepan dunia internasional . Jika kita sebagai
masyarakat Indonesia tidak mengahargai dan mempertahankan budaya kita sendiri, siapa yang
akan mempertahankannya? Jika kita tidak mempertahankan budaya kita sendiri sama saja
dengan kita membuang identitas negeri kita didepan dunia internasional yang akan membuat
negara kita tidak terpandang didepan negara-negara lain. Dengan kita lebih menghargai dan
mempertahankan budaya kita, akan lebih banyak lagi negara-negara yang akan tahu tentang
bangsa kita dan dapat mendatangkan berbagai keuntungan dalam hal moneter ataupun hal nonmoneter seperti nama Indonesia yang terpandang sebagai negara dengan berbagai keunikan dan
keindahan alam.
BAB
PENUTUP

III

3.1. Kesimpulan
Dari
pembahasan
diatas
maka
kami
kelompok
2
menyimpulkan
:
1. Identitas nasional dalam era globalisasi sekarang ini sudah mengalami kemerosotan dari nilainilainya yang merupakan akibat dari lajunya arus globalisasi sehingga proses masuknya budaya
asing kedalam budaya asli bangsa sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Akibatnya budaya asiang
dan
buday
asli
bangsa
bercampur
baur.
2. Untuk menyikapi hal diatas perlu adanya strategi untuk mempertahankan identitas nasional.
Strategi untuk mempertahankan identitas nasional dapat dilakukan dengan mengembangkan

nasionalisme,
melestarikan
budaya,
pendidikan,
dan
bela
negara.
3. Identitas nasioanal dianggap penting untuk dipertahankan karena alasan berikut:
a.
Identitas
nasional
merupakan
jati
diri
bangsa.
b. Identitas nasional menjadi faktor yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain.
3.2. Saran
Sebagai warga negara yang baik kita harus mampu mempertahnkan identitas nasional di era
globalisasi. Dimana pada saat ini dengan adanya perkembangan di era globalisasi mempengaruhi
budaya-budaya yang sudah ada di indonesia. Disinilah kita sebagai warga negara harus mampu
mengaembangkan jati diri bangsa, jangan sampai budaya kita diganti dengan budaya asing atau
budaya luar. Terlebih kita sebagai mahasiswa harus berpartisipasi dalam mempertahankan
identitas nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Fahmi Irham, 2011. Manajemen teori, kasus, dan solusi, Bandung : Alfabeta
Kaelan dan Zubaidi Achmad, 2010. Pendidikan Kewarganegaraan, Yogyakarta: Paradigma
Tilaar. H.A.R, 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan, Jakarta : Grasindo
Tilaar. H.A.R., 2007. Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta
Tilaar. H.A.R., 1999. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Bandung:
Rosda
Adriel Kevin download http://kevinadriel.blogspot.com/2010/05/pentingnyamempertahankannilai-nilai.html, diposting pada minggu 9 Mei 2010, pukul 07.51, di kutip pada Rabu 14
November
2012,
pukul
10.49.
Heru Tri yuza, download http://kelompokkwntekdus.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-falsefalse-in-x-none-x.html, diposting pada Kamis, 10 November 2011, pukul 06.27, di kutip pada
hari
rabu,
14
November
2012,
Pukul
10.05.
Syamhalim,
http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/17/agenda-memantapkan-identitasnasional-melalui-pendidikan/,
diposting
pada
17 August
2012
pukul, 05:52.
http://fikternora.16mb.com/2012/11/strategi-mempertahankan-identitas-nasional-di-eraglobalisasi/

DENTITAS NASIONAL
PENDAHULUAN
Pada hakikatnya manusia hidup tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, manusia senantiasa
membutuhkan orang lain. Pada akhirnya manusia hidup secara berkelompok-kelompok. Manusia
dalam bersekutu atau berkelompok akan membentuk suatu organisasi yang berusaha mengatur
dan mengarahkan tercapainya tujuan hidup yang besar. Dimulai dari lingkungan terkecil sampai
pada lingkungan terbesar. Pada mulanya manusia hidup dalam kelompok keluarga. Selanjutnya
mereka membentuk kelompok lebih besar lagi sperti suku, masyarakat dan bangsa. Kemudian
manusia hidup bernegara. Mereka membentuk negara sebagai persekutuan hidupnya. Negara
merupakan suatu organisasi yang dibentuk oleh kelompok manusia yang memiliki cita-cita
bersatu, hidup dalam daerah tertentu, dan mempunyai pemerintahan yang sama. Negara dan
bangsa memiliki pengertian yang berbeda. Apabila negara adalah organisasi kekuasaan dari
persekutuan hidup manusia maka bangsa lebih menunjuk pada persekutuan hidup manusia itu
sendiri. Di dunia ini masih ada bangsa yang belum bernegara. Demikian pula orang-orang yang
telah bernegara yang pada mulanya berasal dari banyak bangsa dapat menyatakan dirinya
sebagai suatu bangsa. Baik bangsa maupun negara memiliki ciri khas yang membedakan bangsa
atau negara tersebut dengan bangsa atau negara lain di dunia. Ciri khas sebuah bangsa
merupakan identitas dari bangsa yang bersangkutan. Ciri khas yang dimiliki negara juga
merupakan identitas dari negara yang bersangkutan. Identitas-identitas yang disepakati dan
diterima oleh bangsa menjadi identitas nasional bangsa.
Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hakikat identitas asional kita sebagai bangsa di
dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya
tercermin dalam berbagai penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam Pembukaan
beserta UUD kita, sistem pemerintahan yang diterapkan, nilai-nilai etik, moral, tradisi, bahasa,
mitos, ideologi, dan lain sebagainya yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan, baik
dalam tataran nasional maupun internasional. Perlu dikemukaikan bahwa nilai-nilai budaya yang
tercermin sebagai Identitas Nasional tadi bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam
kebekuan normatif dan dogmatis, melainkan sesuatu yang terbuka-cenderung terus menerus
bersemi sejalan dengan hasrat menuju kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat pendukungnya.
Konsekuensi dan implikasinyaadalahidentitas nasional juga sesuatu yang terbuka, dinamis, dan
dialektis untuk ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan funsional dalam kondisi
aktual yang berkembang dalam masyarakat. Krisis multidimensi yang kini sedang melanda
masyarakat kita menyadarkan bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan
Identitas Nasional kita telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional sebagaimana
dirumuskan oleh para pendiri negara kita dalam Pembukaan, khususnya dalam Pasal 32 UUD
1945 beserta penjelasannya, yaitu : Kebudayan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai
buah usaha budaya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli terdapat ebagi
puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan
bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan
tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau
memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa
Indonesia . Kemudian dalam UUD 1945 yang diamandemen dalam satu naskah disebutkan

dalam Pasal 32:


1. Negara memajukan kebudayan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memeliharra dan mengembangkan nilai-nilai budaya.
2. Negara menghormatio dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.
Dengan demikian secara konstitusional, pengembangan kebudayan untuk membina dan
mengembangkan identitas nasional kita telah diberi dasar dan arahnya, terlepas dari apa dan
bagaimana kebudayaan itu dipahami yang dalam khasanah ilmiah terdapat tidak kurang dari 166
definisi sebagaimana dinyatakan oleh Kroeber dan Klukhohn di tahun 1952.
Pengertian Identitas Nasional
Istilah identitas nasional dapat disamakan dengan identitas kebangsaan. Secara etimologis ,
identitas nasional berasal dari kata identitas dan nasional. Kata identitas berasal dari bahasa
Inggris identity yang memiliki pengertian harfiah; ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada
seseorang, kelompok atau . sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain. Kata nasional
merujuk pada konsep kebangsaan. Kata identitas berasal dari bahasa Inggris identiti yang
memiliki pengerian harfiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang atau
sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Jadi, pegertian Identitas Nsaional adalah
pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, filsafat pancasila dan juga sebagai Ideologi
Negara sehingga mempunyai kedudukan paling tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan
bernegara termasuk disini adalah tatanan hukum yang berlaku di Indonesia, dalam arti lain juga
sebagai Dasar Negara yang merupakan norma peraturan yang harus dijnjung tinggi oleh semua
warga Negara tanpa kecuali rule of law, yang mengatur mengenai hak dan kewajiban warga
Negara, demokrasi serta hak asasi manusia yang berkembang semakin dinamis di Indonesia.
Identitas Nasional Indonesia :
1. Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia
2. Bendera negara yaitu Sang Merah Putih
3. Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya
4. Lambang Negara yaitu Pancasila
5. Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika
6. Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila
7. Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945
8. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
9. Konsepsi Wawasan Nusantara
10. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional
Unsur-Unsur Identitas Nasional
Unsur-unsur pembentuk identitas yaitu:
1. Suku bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir),
yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak
sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang 300 dialeg bangsa.
2. Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yan
tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan
Kong Hu Cu. Agama Kong H Cu pada masa orde baru tidak diakui sebagai agama resmi negara.

Namun sejak pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara
dihapuskan.
3. Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang isinya adalah
perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh
pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan
digunakan sebagi rujukan dan pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan bendabenda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
4. Bahasa: merupakan unsure pendukung Identitas Nasonal yang lain. Bahsa dipahami sebagai
system perlambang yang secara arbiter dientuk atas unsure-unsur ucapan manusia dan yang
digunakan sebgai sarana berinteraksi antar manusia.
Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya menjadi 3 bagian
sebagai berikut :
Identitas Fundamental, yaitu pancasila merupakan falsafah bangsa, Dasar Negara, dan Ideologi
Negara
Identitas Instrumental yang berisi UUD 1945 dan tata perundangannya, Bahasa Indonesia,
Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Identitas Alamiah, yang meliputi Negara kepulauan (Archipelago) dan pluralisme dalam suku,
bahasa, budaya, dan agama, sertakepercayaan.
Menurut sumber lain ( http://goecities.com/sttintim/jhontitaley.html) disebutkan bahwa:
Satu jati diri dengan dua identitas:
1. Identitas Primordial
Orang dengan berbagai latar belakang etnik dan budaya: jawab, batak, dayak, bugis, bali, timo,
maluku, dsb.
Orang dengan berbagai latar belakang agama: Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Budha, dan
sebagainya.
2. Identitas Nasional
Suatu konsep kebangsaan yang tidak pernah ada padanan sebelumnya.
Perlu diruuskan oleh suku-suku tersebut. Istilah Identitas Nasional secara terminologis adalah
suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut
dengan bangsa lain.
Eksistensi suatu bangsa pada era globalisasi yang sangat kuat terutama karena pengaruh
kekuasaan internasional. Menurut Berger dalam The Capitalist Revolution, era globalisasi
dewasa ini, ideology kapitalisme yang akan menguasai dunia. Kapitalisme telah mengubah
masyarakat satu persatu dan menjadi sistem internasional yang menentukan nasib ekonomi
sebagian besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara tidak langsung juga nasib, social, politik dan
kebudayaan. Perubahan global ini menurut Fakuyama membawa perubahan suatu ideologi, yaitu
dari ideologi partikular kearah ideology universal dan dalam kondisi seperti ini kapitalismelah
yang akan menguasainya. Dalam kondisi seperti ini, negara nasional akan dikuasai oleh negara

transnasional yang lazimnya didasari oleh negara-negara dengan prinsip kapitalisme.


Konsekuensinya, negara-negara kebangsaan lambat laun akan semakin terdesak. Namun
demikian, dalam menghadapi proses perubahan tersebut sangat tergantung kepada kemampuan
bangsa itu sendiri. Menurut Toyenbee, cirri khas suatu bangsa yang merupakan local genius
dalam menghadapi pengaruh budaya asing akan menghadapi Challence dan response. Jika
Challence cukup besar sementara response kecil maka bangsa tersebut akan punah dan hal ini
sebagaimana terjadi pada bangsa Aborigin di Australia dan bangfsa Indian di Amerika. Namun
demikian jika Challance kecil sementara response besar maka bangsa tersebut tidak akan
berkembang menjadi bangsa yang kreatif. Oleh karena itu agar bangsa Indonesia tetap eksis
dalam menghadapi globalisasi maka harus tetap meletakkan jati diri dan identitas nasional yang
merupakan kepribadian bangsa Indonesia sebagai dasar pengembangan kreatifitas budaya
globalisasi. Sebagaimana terjadi di berbagai negara di dunia, justru dalam era globalisasi dengan
penuh tantangan yang cenderung menghancurkan nasionalisme, muncullah kebangkitan kembali
kesadaran nasional.
Faktor-Faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional
1. Faktor-faktor yang mendukung kelahiran identitas nasional bangsa Indonesia meliputi:
Faktor Objektif, yang meliputi faktor geografis-ekologis dan demografis
Faktor Subjektif, yaitu faktor historis, social, politik, dan kebudayaan yang dimiliki bangsa
Indonesia (Suryo, 2002)
2. Menurut Robert de Ventos, dikutip Manuel Castelles dalam bukunya The Power of Identity
(Suryo, 2002), munculnya identitas nasional suatu bangsa sebagai hasil interaksi historis ada 4
faktor penting, yaitu:
Faktor primer, mencakup etnisitas, territorial, bahasa, agama, dan yang sejenisnya.
Faktor pendorong, meliputi pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan
bersenjata modern dan pembanguanan lainnya dalam kehidupan bernegara.
Faktor penarik, mencakup modifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnya
birokrasi, dan pemantapan sistem pendidikan nasional
Faktor reaktif, pada dasarnya tercakup dalam proses pembentukan identitas nasional bangsa
Indonesia yang telah berkembang dari masa sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan
dari penjajahan bangsa lain.
Faktor pembentukan Identitas Bersama. Proses pembentukan bangsa- negara membutuhkan
identitas-identitas untuk menyataukan masyarakat bangsa yang bersangkutan. Faktor-faktor yang
diperkirakan menjadi identitas bersama suatu bangsa, yaitu :
Primordial
Sakral
Tokoh
Bhinneka Tunggal Ika
Sejarah
Perkembangan Ekonomi
Kelembagaan

Faktor-faktor penting bagi pembentukan bangsa Indonesia sebagai berikut


1. Adanya persamaan nasib , yaitu penderitaan bersama dibawah penjajahan bangsa asing lebih
kurang selama 350 tahun
2. Adanya keinginan bersama untuk merdeka , melepaskan diri dari belenggu penjajahan
3. Adanya kesatuan tempat tinggal , yaitu wilayah nusantara yang membentang dari Sabang
sampai Merauke
4. Adanya cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sebagai suatu bangsa
Cita- Cita, Tujuan dan Visi Negara Indonesia.
Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Dengan rumusan singkat, negara Indonesia bercita-cita mewujudkan masyarakat Indonesia yang
adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini sesuai dengan amanat dalam
Alenia II Pembukaan UUD 1945 yaitu negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil
dan makmur.
Tujuan Negara Indonesia selanjutnya terjabar dalam alenia IV Pembukaan UUD 1945. Secara
rinci sbagai berikut :
1. Melindungi seganap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
2. Memajukan kesejahteraan umum
3. Mencerdaskan Kehidupan bangsa
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan , perdamaian abadi, dan
keadilan sosial
Adapun visi bangsa Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai ,
demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman,
bertakwa dan berahklak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, mengausai
ilmu pengetahuandan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin. Setelah
tidak adanya GBHN makan berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka mengenah (RPJM)
Nasional 2004-2009, disebutkan bahwa Visi pembangunan nasional adalah :
1. Terwujudnya kehidupan masyarakat , bangsa dan negara yang aman, bersatu, rukun dan
damai.
2. Terwujudnya masyarakat , bangsa dan negara yang menjujung tinggi hukum, kesetaraan, dan
hak asasi manusia.
3. Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan
yang layak serta memberikan fondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan.
Pancasila sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional
Bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa dari masyarakat internasional, memilki sejarah serta
prinsip dalam hidupnya yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tatkala bangsa

Indonesia berkembang menujufase nasionalisme modern, diletakanlan prinsip-prinsip dasar


filsafat sebagai suatu asas dalam filsafat hidup berbangsa dan bernagara. Prinsip-prinsip dasar itu
ditemukan oleh para pendiri bangsa yang diangkat dari filsafat hidup bangsa Indonesia, yang
kemudian diabstraksikan menjadi suatu prinsip dasar filsafat Negara yaitu Pancasila. Jadi,
filsafat suatu bangsa dan Negara berakar pada pandangan hidup yang bersumber pada
kepribadiannya sendiri. Dapat pula dikatakan pula bahwa pancasila sebagai dasar filsafat bangsa
dan Negara Indonesia pada hakikatnya bersumber kepada nilai-nilai budaya dan keagamaan yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai kepribadian bangsa. Jadi, filsafat pancasila itu bukan
muncul secara tiba-tiba dan dipaksakan suatu rezim atau penguasa melainkan melalui suatu
historis yang cukup panjang. Sejarah budaya bangsa sebagai akar Identitas Nasional. Menurut
sumber lain (http://unisosdem.org.kliping_detail.php/?aid=7329&coid=1&caid=52) Disebutkan
bahwa: kegagalan dalam menjalankan dan medistribusikan output berbagia agenda pembangnan
nasional secaralebih adil akan berdampak negatif pada persatuan dan kesatuan bangsa. Pada titik
inilah semangat Nasionalisme akan menjadi slah satu elemen utama dalam memperkuat
eksistensi Negara/Bangsa. Study Robert I Rotberg secara eksplisit mengidentifikasikan salah satu
karakteristik penting Negara gagal (failed states) adalah ketidakmampuan negara mengelola
identitas Negara yang tercermin dalam semangat nasionalisme dalam menyelesaikan berbagai
persoalan nasionalnya. Ketidakmampuan ini dapat memicu intra dan interstatewar secara hamper
bersamaan. Penataan, pengelolaan, bahkan pengembangan nasionalisme dalam identitas
nasional, dengan demikian akan menjadi prasyarat utama bagi upaya menciptakan sebuah
Negara kuat (strong state). Fenomena globalisasi dengan berbagai macam aspeknya seakan telah
meluluhkan batas-batas tradisional antarnegara, menghapus jarak fisik antar negara bahkan
nasionalisme sebuah negara. Alhasil, konflik komunal menjadi fenomena umum yang terjadi
diberbagai belahan dunia, khususnya negara-negara berkembang. Konflik-konflik serupa juga
melanda Indonesia. Dalam konteks Indonesia, konflik-konflik ini kian diperuncing karekteristik
geografis Indonesia. Berbagai tindakan kekerasan (separatisme) yang dipicu sentimen
etnonasionalis yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia bahkan menyedot perhatian
internasional. Nasionalisme bukan saja dapat dipandang sebagai sikap untuk siap mengorbankan
jiwa raga guna mempertahankan Negara dan kedaulatan nasional, tetapi juga bermakna sikap
kritis untuk member kontribusi positif terhadap segala aspek pembangunan nasional. Dengan
kata lain, sikap nasionalisame membutuhkan sebuah wisdom dalam mlihat segala kekurangan
yang masih kita miliki dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dan sekaligus
kemauan untuk terus mengoreksi diri demi tercapainya cita-cita nasional. Makna falsafah dalam
pembukaan UUD 1945, yang berbunyi sebagai berikut:
1. Alinea pertama menyatakan: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu hak segala bangsa dan
oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan , karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan. Maknanya, kemerdekaan adalah hak semua bangsa dan
penjajahan bertentangan dengan hak asasi manusia.
2. Alinea kedua menyebutkan: dan perjuangan kemerdekaaan Indonesia telah sampailah kepada
saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kepada depan
gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Maknanya:
adanya masa depan yang harus diraih (cita-cita).

3. Alinea ketiga menyebutkan: atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorong
oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Maknanya, bila Negara ingin mencapai cita-cita maka
kehidupan berbangsa dan bernegara harus mendapat ridha Allah SWT yang merupakan dorongan
spiritual.
4. Alinea keempat menyebutkan: kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan
Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, menmcerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam susunan Negara
republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dan berdasarkan kepada: ketuhanan yang maha
esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Alinea ini mempertegas cita-cita yang harus dicapai oleh
bangsa Indonesia melalui wadah Negara kesatuan republik Indonesia.
PENUTUP
Kesimpulan
Sekilas kata-kata diatas memang membuat tanda tanya besar dalam memaknainya. Beribu-ribu
kemungkinan yang terus melintas dibenak pikiran, untuk menjawab sebuah pertanyaan yang
membahas tentang identitas nasional.Kendatipun, dalam hidup keseharian yang mencakup suatu
negara berdaulat, Indonesia sendiri sudah menganggap bahwa dirinya memiliki identitas
nasional. Identitas nasional merupakan pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, filsafat
pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan paling tinggi dalam
tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Unsur-unsur dari identitas nasional adalah Suku
Bangsa: gol sosial (askriptif : asal lhr), golongan,umur. Agama : sistem keyakinan dan
kepercayaan. Kebudayaan: pengetahuan manusia sebagai pedoman nilai,moral, das sein das
sollen,dlm kehidupan aktual. Bahasa : Bahasa Melayu-penghubung (linguafranca). Faktor-faktor
kelahiran identitas nasional adalah Faktor-faktor yang mendukung kelahiran identitas nasional
bangsa Indonesia meliputi faktor subjektif dan factor objektif, Faktor primer, mencakup etnisitas,
territorial, bahasa, agama, dan yang sejenisnya. Faktor pendorong, meliputi pembangunan
komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan pembanguanan lainnya
dalam kehidupan bernegara. Faktor penarik, mencakup modifikasi bahasa dalam gramatika yang
resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan sistem pendidikan nasional. Faktor reaktif, pada
dasarnya tercakup dalam proses pembentukan identitas nasional bangsa Indonesia yang telah
berkembang dari masa sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dari penjajahan bangsa
lain.
Saran
Identitas nasional merupakan suatu ciri yang dimiliki oleh bangsa kita untuk dapat
membedakannya dengan bangsa lain. Jadi, untuk dapat mempertahankan keunika-keunikan dari
bangsa Indonesia itu sendiri maka kita harus menanamkan akan cinta tanah air yang diwujudkan
dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap atura-aturan yang telah ditetapkan serta
mengamalkan nilai-nilai yang sudah tertera dengan jelas di dalam pancasila yang dijadikan

sebagai falsafah dan dasar hidup bangsa Indonesia. Dengan keunikan inilah, Indonesia menjadi
suatu bangsa yang tidak dapat disamakan dengan bangsa lain dan itu semua tidak akan pernah
lepas dari tanggung jawab dan perjuangan dari warga Indonesia itu sendiri untuk tetap menjaga
nama baik bangsanya.
Identitas Nasional Indonesia
March 27th, 2010 Related Filed Under
Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan
suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain. Nasional berasal dari kata nasion
yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural tertentu yang
memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama.Jadi, Identitas Nasional Indonesia
adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsabangsa lain di dunia. dentitas Nasional Indonesia meliputi segenap yang dimiliki bangsa
Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber kekayaan
alam Indonesia, demografi atau kependudukan Indonesia, ideolgi dan agama, politik negara,
ekonomi, dan pertahanan keamanan.
Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat
memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia.
Moto nasional Indonesia adalah Bhinneka Tunggal atau kesatuan dalam keragaman. Hal ini
diciptakan oleh para pemimpin Republik yang baru diproklamasikan pada tahun 1945 dan
tantangan politik adalah sebagai benar mencerminkan hari ini seperti yang lebih dari 50 tahun
yang lalu. Karena meskipun setengah abad menjadi bagian dari Indonesia yang merdeka telah
menimbulkan perasaan yang kuat tentang identitas nasional di lebih dari 13.000 pulau-pulau
yang membentuk kepulauan, banyak kekuatan lain yang masih menarik negara terpisah.
Deklarasi kemerdekaan mengikuti proses yang lambat penjajahan Belanda yang dimulai pada
abad ke-17 dengan penciptaan VOC Belanda.
Saat itu rempah-rempah yang menarik para pedagang Eropa untuk koleksi pulau-pulau kecil di
tempat yang sekarang Eastern Indonesia. Belanda memonopoli perdagangan dan dari sana
memperluas pengaruh mereka terutama melalui pemerintahan tidak langsung di koleksi
kesultanan dan kerajaan yang independen yang membentuk daerah itu. Kesatuan politik di
bawah Belanda hanya dicapai pada awal abad ini, meninggalkan identitas regional yang kuat
utuh.
Menghadapi identitas nasional
Bangsa Indonesia sendiri masih kesulitan dalam menghadapi masalah bagaimana untuk
menyatukan negara yang mempunyai lebih dari 250 kelompok etnis, yang memiliki pengalaman
dari Belanda bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Sukarno, yang menjadi presiden pertama dari Republik, adalah seorang nasionalis tertinggi.
Dialah yang menciptakan ideologi nasional Indonesia Pancasila dirancang untuk
mempromosikan toleransi di antara berbagai agama dan kelompok-kelompok ideologis.

Penyebaran bahasa nasional Bahasa Indonesia juga membantu menyatukan multi-bahasa


penduduk.
GEOGRAFI
Indonesia terdiri dari 17.508 pulau, sekitar 6.000 yang dihuni. ini tersebar di kedua sisi dari garis
khatulistiwa.Lima pulau terbesar adalah Jawa, Sumatra, Kalimantan (di Indonesia bagian dari
Kalimantan), New Guinea (bagian dari Papua Nugini), dan Sulawesi. Indonesia berbatasan
dengan Malaysia di pulau Kalimantan dan Sebatik, Papua Nugini di pulau New Guinea, dan
Timor Timur di pulau Timor.
Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia terletak di DKI Jakarta.
DEMOGRAFI
pemerintah secara resmi hanya mengakui enam agama: Islam, Protestan, Katolik Roma, Hindu,
Buddha, dan Konghucu. Walaupun bukan merupakan negara Islam, Indonesia adalah dunia yang
paling padat penduduknya mayoritas beragama Islam. Dan agama yang paling minoritas adalah
Hindu dan Budha,meskipun begitu tetap berpengaruh pada kebudayaan bangsa Indonesia.
IDEOLOGI
Identitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik menyangkut
sosiokultural atau religiositas. Identitas fundamental/ ideal adalah Pancasila yang merupakan
falsafah bangsa. Identitas instrumental adalah identitas sebagai alat untuk menciptakan Indonesia
yang dicita-citakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara, bahasa Indonesia, dan lagu
kebangsaan.
POLITIK NEGARA
Indonesia adalah republik dengan sistem presidensiil. Sebagai negara kesatuan, kekuasaan
terkonsentrasi di pemerintah pusat. Semenjak Tahun 1998 amandemen UUD 1945 di Indonesia
telah dirubah eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Presiden Indonesia adalah kepala negara,
komandan-in-chief dari Angkatan Bersenjata Nasional Indonesia, dan direktur pemerintahan
dalam negeri, pembuatan kebijakan, dan luar negeri. Presiden menunjuk sebuah dewan menteri,
yang tidak perlu dipilih anggota legislatif. Pemilihan presiden tahun 2004 adalah yang pertama di
mana orang-orang yang dipilih secara langsung presiden dan Vice President. Presiden dapat
melayani maksimum dua berturut-turut lima tahun.
Secara administratif, Indonesia terdiri dari 33 provinsi, lima di antaranya memiliki status khusus.
Setiap provinsi memiliki politik sendiri legislatif dan gubernur. Provinsi-provinsi tersebut dibagi
lagi menjadi kabupaten dan kota, yang kemudian dibagi lagi menjadi kecamatan, dan kembali ke
pengelompokan desa.
IDENTITAS NASIONAL
Special Resume

A. KOMPETENSI
Mahasiswa diharapkan mampu mengenali karakteristik identitas nasional sehingga dapat
memiliki daya tangkal terhadap berbagai hal yang akan menghilangkan identitas nasional
Indonesia.
B. INDIKATOR
Mahasiswa diharapkan mampu:
1. mengerti tentang Latar Bclakang dan Pengcrtian Identitas Nasional;
2. menjelaskan Muatan dan Unsur-Unsur Identitas Nasional;
3. menjelaskan keterkaitan Globalisasi dengan Identitas Nasional;
4. menjelaskan keterkaitan Integrasi Nasional dengan Identitas Nasional;
5. menganalisis tentang Paham Nasionalisme atau Paham Kebangsaan sebagai paham yang
mengantarkan pada konsep Identitas Nasional; serta
6. menganalisis tentang Revitalisasi Pancasila sebagai Pemberdayaan Identitas Nasional;
C. DAFTAR ISTILAH KUNCI
Identitas Nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam aspek kehidupan suatii nation (bangsa) dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciriciri yang khas tadi sunlit bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hldup dan kehidupannya.
(Wibisono Koento: 2005)
Globalisasi diartikan sebagai suatu era atau zaman yang ditandai dengan perubahan tatanan
kehidupan dunia akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi
informasi sehingga interaksi manusia nienjadi sempit, serta seolah-olah dunia tanpa ruang.
Paham Nasionalisme atau Paham Kebangsaan adalah sebuah situasi kejiwaan ketika kesetiaan
seseorang secara total diabdikan langsung pada negara bangsa atas narna scbuah bangsa.
Munculnya nasionalisme terbukti sangat selektif sebagai alat pcrjuangan bcrsama dalam rangka
merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial.
Integrasi Nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang bcrbeda dari suatu masyarakat menjadi
suatu keseluruan yang lebih utuh atau memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak
jumlahnya menjadi suatu bangsa. Intcgrasi nasional tidak lepas dari pcngcrtian integrasi sosial
yang mcmpunyai arti perpaduan dari kelompok-kclornpok masyarakat yang asalnya berbeda
menjadi suatu kclompok besar dengan cara melcnyapkan perbedaan dan jali diri masing-masing.
Dalam arti ini, integrasi sosial sama artinya dengan asimilasi atau pembauran.
Rcvitalisasi Pancasila adalah pemberdayaan kembali kedudukan, fungsi, dan pcranan Pancasila
sebagai dasar negara, pandangan hidup, ideologi, dan sumber nilai-nilai hangsa Indonesia.
(Kocnto W: 2005)
Situasi dan kondisi masyarakat dcwasa ini menjadikan kita prihatin dan sekaligus mcrasa ikut
bertanggung jawab atas tercabik-cabiknya Indonesia serta kerusakan social yang menimpa
masyarakatnya. Bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai hezachsfc volk tcr aardc dalam
pergaulan antarbangsa, kini sedang mengalami bukan saja krisis identitas, melainkan juga krisis
dalam berbagai dimensi kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkcpanjangan semenjak

reformasi digulirkan pada tahun 1998. (Koento W: 2005)


Krisis moneter yang disusul krisis ekonomi dan politik yang akar-akarnya tcrtanam dalam krisis
moral dan menjalar ke dalam krisis budaya, menjadikan rnasyarakat kita kchilangan orientasi
nilai. Masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, hancur porak-poranda, kemudian menjadi kasar,
serta gersang dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spritual. Social terorism mimcul dan
berkcmbang di sana-sini dalam ,fenomena pcrgolakan fisik, pembakaran, dan penjarahan yang
disertasi pembunuhan sebagaimana terjadi di Poso, Ambon, dan bom bunuh diri di berbagai
tempat yang disiarkan sccara luas, baik olch media massa di dalam maupun di luar ncgcri.
Semenjak peristiwa pcrgolakan antaretnis di Kalimantan Barat, bangsa Indonesia di forum
internasional dilecehkan sebagai bangsa yang tclah kchilangan peradabannya. Kehalusan budi,
sopan santun dalam sikap dan perbuatan, kerukunan, toleransi, serta solidaritas sosial, idealismc,
dan scbagainya telah hilang hanyut dilanda oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang
penuh paradoks. Berbagai lembaga kocar-kacir semuanya dalam malfungsi dan disfungsi. Trust
atau kepercayaan di antara sesama, baik vertikal maupun horisontal telah lenyap dalam
kehidupan bermasyarakat. Identitas nasional kita dilecehkan dan dipertanyakan eksistensinya.
Krisis multidimensi yang sedang melanda masyarakat menyadarkan kita semua bahwa
pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan Identitas Nasional telah ditegaskan
sebagai komitmen konstitusional, sebagaimana telah dirumuskan oleh para pendiri negara dalam
Pembukaan UUD 1945 yang intinya adalah memajukan kebudayaan Indonesia. Dengan
demikian, secara konstitusional pengembangan kebudayaan untuk mernbina dan
mengembangkan Identitas Nasional telah diberi dasar dan arahnya.
Identitas Nasional
Kata identitas berasal dari bahasa Inggris identity yang memiliki pengertian harfiah ciri-ciri,
tanda-tanda, atau jati diri yang melckat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya
dengan yang lain. Dalam terminologi antropologi, identitas adalah sifat khas yang menerangkan
dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas
sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada pengertian ini identitas tidak terbatas pada individu
semata, tetapi berlaku pula pada suatu kelompok. Adapun kata nasional merupakan identitas
yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan,
baik fisik, seperti budaya, agama, dan bahasa, maupun nonllsik, seperti keinginan, cita-cita, dan
tujuan. Himpunan kelompok-kelompok inilah yang disebut dengan istilah identitas bangsa atau
identitas nasional yang pada akhirnya melahirkan lindakan kelompok (colective action) yang
diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut
nasional. Kata nasional sendiri tidak bisa dipisahkan dari kemunculan konsep nasionalisme.
Bila dilihat dalam konteks Indonesia maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilainilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku
yang dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia mcnjadi kebudayaan nasional dengan acuan
Pancasila dan roh Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya. Dengan
kata lain, dapat dikatakan bahwa hakikat Identitas Nasional kita sebagai bangsa di dalam hidup
dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam
penataan kehidupan dalam arti luas. Misalnya, dalam aturan perundang-undangan atau hukum,
sistem pemerintahan yang diharapkan, scrla dalam nilai-nilai etik dan moral yang secara
normatif diterapkan di dalam pcrgaulan, baik dalam tataran nasional maupun intcrnasional, dan

scbagainya. Nilai-nilai budaya yang tercermin di dalam Identitas Nasional tersebut bukanlah
barang jadi yang sudah sclesai dalam kebekuan normatif dan dogmatis, melainkan sesuatu yang
terbuka yang cenderung terus-menerus bersemi karena hasrat menuju kemajuan yang dimiliki
oleh masyarakat pcndukungnya. Konsekuensi dan implikasinya adalah bahwa Identitas Nasional
adalah sesuatu yang terbuka untuk ditafsirkan dengan diberi makna barn agar tetap relevan dan
fungsional dalam kondisi aktual yang bcrkcmbang dalam masyarakat.
Muatan Identitas Nasional dapat digambarkan sebagai berikut:
Pandangan Hidup Bangsa
Kcpribadlan Bangsa
Filsafat Pancasila
Ideologi Negara
Dasar Negara
Norma Pcraturan
Rule of Law
Hak dan Kewajiban WN Demokrasi dan HAM
Etika Politik
Ccopolitik Indonesia Geostrategi Ketahanan Nasional
Dari gambaran tcrsebut, bisa dikatakan bahwa Identitas Nasional adalah merupakan Pandangan
Hidup Bangsa, Kepribadian Bangsa, Filsafat Pancasila, dan juga scbagai Ideologi Negara.
Dengan clemikian, Identitas Nasional mempunyai kedudukan paling tinggi dalam tatarian
kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk di sini adalc.h tatanan hukum yang berlaku di
Indonesia, dalam arti lain juga sebagai dasar negara yang merupakan norma peraturan (Rule of
Law) yang harus dijunjung tinggi oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Norma peraturan ini
mcngatur mengenai hak dan kcwajiban warga negara, demokrasi, serta hak asasi manusia yang
berkembang semakin dinamis di Indonesia. Hal inilah akhirnya menjadi etika Politik yang
kemudian dikembangkan menjadi konsep geopolitik dan geostrategi Ketahanan Nasional di
Indonesia.
Identitas Nasional Indonesia merujuk pada sualu bangsa yang majcmuk. Ke-majemukan itu
merupakan gabungan dari unsur-unsur pembcntuk identitas, yaitu suku bangsa, agama,
kebudayaan, dan bahasa.
1) Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir),
yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak
sekali suku bangsa atau kclompok etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa.
2) Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yang
tumbuh dan berkembang di Nusantara adalah agama Islam, Kristcn, Katolik, Hindu, Buddha, dan
Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi
negara, tctapi sejak pcmerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara
dihapuskan.
3) Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah
perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolcktit digunakan oleh

pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahanii lingkungan yang dihadapi dan


digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan bendabenda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
4) Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa dipa! ami sebagai
sistem pcrlambang yang secara arbitrcr dibentuk alas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan
yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antarmanusia.
Dari imsur-unsur identilas Nasional tersebut dapat diruinuskan pembagiannya menjadi 3 bagian
scbagai berikul:
1) Identitas Fundamental, yaitu Pancasila yang merupakan Falsafah Bangsa, Dasar Negara, dan
l.leologi Negara.
2) Identitas Instrumental, yang berisi UUD 1945 dan Tata Pcrundangannya, Bahasa Indonesia,
Lambang Ncgaia, Bcndcra Negara, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
3) Identitas Alamiah yang ineliputi Negara Kepulauan (archipelago} dan pluralismc dalam suku.
bahasa, budaya, seila agama dan kcpercayaan (agama).
Keterkaitan Globalisasi dcngan Identitas Nasional
Adanya lira Globalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Era
Globalisasi tersebut man tidak man, suka tidak suka telah datang dan menggeser nilai-nilai yang
telah ada. Nilai-nilai tcrscbul, ada yang bersifat positifada pula yang bcrsifat negatif. Semua ini
merupakan aneaman, tantangan. dan sekaligus sebagai peluang bagi bangsa Indonesia iinluk
bcrkrcasi dan bcrinovasi di scgala aspck kehidupan.
Di era globalisasi, pergaulan antarbangsa semakin ketat. Batas anlarnegara hampir tidak ada
artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan antarbangsa yang
semakin kenlal ilu, akan tcrjadi proses akulturasi, saling meniru, dan saling memcngaruhi di
antara budaya masing-masing. Adapun yang pcrlu dieermati dari proses akulturasi tersebut,
apakah dapat melunturkan lata nilai yang merupakan jati diri bangsa Indonesia? Lunturnya tata
nilai tersebut biasanya ditandai oleh dua faktor, yaitu:
1) semakin menonjolnya sikap individualists, yaitu mengutamakan kepentingan pribadi di atas
kepentingan umum, hal ini bcrlcnlangan dengan asas golong-royong; serta
2) semakin menonjolnya sikap materialises, yang bcrarti harkat dan martabat kemaivjsiaan hanya
diukur dari hasil atau kcbcrhasilan scseorang dalam mcmperolch kckayaan. Hal ini bisa
berakibat bagaimana cara inemperolehnya menjadi tidak dipcrsoalkan lagi. Apabila hal ini
lerjadi, berarli etika dan moral telah dikesampingkan.
Arus informasi yang semakin pesat mcngakibatkan akses masyarakat terhadap
nilai-nilai asing yang negatif semakin besar. Apabila proses ini tidak segera dibcndung,
akan berakibat lebih serins ketika pada puncaknya masyarakat tidak bangga lagi pada
bangsa dan negaranya.
Pengaruh negatif akibat proses akulturasi tersebut dapat merongrong nilai-nilai yang telah ada di
dalam masyarakat. Jika semua ini tidak dapat dibendung, akan mengganggu ketahanan di segala

aspek kehidupan, bahkan akan mengarah pad; kredibilitas sebuah ideologi. Untuk membendung
arus globalisasi yang sangat deras tersebut, harus diupayakan suatu kondisi (konsepsi) agar
ketahanan nasional dapat terjaga, yaitu dengan cara merabangun sebuah konsep nasional isme
kebangsaan yang mengarah kepada konsep Identilas Nasional.
Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu ncgara dengan negara
yang lain mcnjadi semakin tinggi. Dengan demikian, kecenderungan munculnya kejahatan yang
bersilat transnasional semakin scring terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut, antara lain terkait
dengan masalah narkotiLa, pencucian uang (money laundering), peredaran dokumen
keimigrasian palsu, dan terorisme. Masalah-masalah tersebut berpengaruh lerhadap nilai-nilai
budaya bangsa yang selama ini dijunjung tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan semakin
merajalelanya peredaran narkotika dan psikotropika sehingga sangat merusak kepribadian dan
moral bangsa, khususnya bagi generasi penerus bangsa. Jika hal tersebut tidak dapat dibendung,
akan mengganggu terhadap ketahanan nasional di segala aspek kehidupan, bahkan akan
menyebabkan lunturnya nilai-nilai Identitas Nasional.
Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan multidimensional. Untuk
mewujudkannya, diperlukan keadilan dalam kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan
tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa, dan sebagainya. Sebenarnya, upaya mcmbangun
keadilan, kesatuan, dan persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya membangun dan
membina stabilitas politik. Di samping itu, upaya lainnya dapat dilakukan, seperti banyaknya
keterlibatan pemerintah dalam mcncntukan komposisi dan rnckanisme parlemen.
Dengan demikian, upaya integrasi nasional dengan strategi yang mantap perlu terus dilakukan
agar terwujud integrasi bangsa Indonesia yang diinginkan. Upaya pembangunan dan pembinaan
integrasi nasional ini perlu karena pada hakikatnya integrasi nasional menunjukkan kckuatan
persatuan dan kesaluan bangsa yang diinginkan. Pada akhirnya, persatuan dan kesatuan bangsa
inilah yang dapat lebih menjamin terwujudnya negara yang makmur, aman. clan tcntcram.
Konflik yang terjadi di Aceh, Ambon, Kalimantan Barat, dan Papua mcrupakan ccrmin belum
terwujudnya integrasi nasional yang diharapkan. Adapun kctcrkaitan integrasi nasional dengan
Identitas Nasional adalah bahwa adanya integrasi nasional dapat menguatkan akar dari Identitas
Nasional yang sedang dibangun.
Dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi sesama manusia berubah menjadi bentuk
yang Icbih komplcks dan rumit. Hal ini dimulai dari tumbuhnya kesadaran untuk menentukan
nasib scndiri. Di kalangan bangsa-bangsa yang tcrtindas kolonialisme, scperti Indonesia salah
satunya, lahir semangat untuk mandiri dan bebas untuk menentukan masa depannya scndiri.
Dalam situasi perjuangan kemerdekaan dari kolonialisme ini, dibutuhkan suatu konsep sebagai
dasar pernbenaran rasional dari tuntutan terhadap penentuan nasib sendiri yang dapat mengikat
keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa. Dasar pcmbcnaran tersebut, selanjutnya
mengkristal dalam konsep paham ideologi kebangsaan yang biasa disebut dengan nasionalisme.
Dari sinilah, lahir konsep-konsep turunannya seperti bangsa (nation), negara (state), dan
gabungan keduanya yang menjadi konsep negara bangsa (nation state) sebagai komponsnkomponen yang membentuk Identitas Nasional atau Kebangsaan. Dalam konteks ini, dapat
dikalakan bahwa Paham Nusionalismc a fan Paham Kebangsaan adalah sebuah situasi kcjiwaan
kctika kcsctiaan scscorang sccara total diabdikan langsung pada negara bangsa atas nama sebuah
bangsa. Munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama
mcrebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Semangat nasionalisme diharapkan secara

cfcktif dapat dipakai sebagai metode perlawanan dan alat idcntifikasi olch para penganutnya
untuk mengetahui siapa lawan dan kawan.
Secara garis bcsar terdapat tiga pemikiran besar tentang nasionalisme di Indonesia yang terjadi
pada masa sebelum kemerdekaan, yaitu paham keislaman, Marxisme, dan Nasionalisme
Indonesia. Seiring dcngan naiknya pamor Soekarno ketika menjadi Presiden Pertarna RI,
kecurigaan di antara para tokoh pergerakan-yang telah tumbuh di saat-saat menjclang
kemerdekaanberkcmbang menjadi pola ketegangan politik yang lebih permancn antara negara
mclalui figur nasionalis Soekarno di satu sisi, dengan para tokoh yang nicwakili pemikiran Islam
(sebagai agama terbesar pemeluknya di Indonesia) dan Marxisme di sisi yang lain.
Paham Nasionalisme Kcbangsaan sebagai Paham yang Mengaritarkan pada Konsep Identitas
Nasional
Paham Nasionalisme atau paham Kcbangsaan tcrhukti sangat efektif sebagai alal perjuangan
bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Scmangat nasionalismc dipakai
sebagai metode perlawanan secara cfektif oleh para penganutnya, sebagaimana yang
disampaikan oleh Larry Diamond dan Marc F. Plattner bahwa para penganut nasionalisme dunia
ketiga secara khas menggunakan retorika antikolonialisme dan antiimperalisme. Para pengikut
nasionalisme tersebut berkeyakinan bahwa persamaan cita-cita yang mereka miliki dapat
diwujudkan dalam sebuah identitas politik atau kepentingan bersama dalam bcntuk sebuah
wadah yang disebut bangsa (nation). Dengan demikian, bangsa atau nation mcrupakan sualu
wadah yang di dalamnya terhimpun orang-orang yang mcmpunyai persamaan keyakinan dan
persamaan lainnya yang mereka miliki, seperti ras, etnis, agania, bahasa, dan budaya. Unsur.
persamaan tersebut dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama atau untuk menentukan
tujuan organisasi politik yang dibangun berdasarkan geopolitik yang terdiri alas populasi,
geografis, dan pemcrintahan yang pennanen yang disebut negara atau state.
Nation state atau negara bangsa merupakan sebuah bangsa yang mcmiliki bangunan polilik
(polilical building), seperli ketentuan-kelentuan perbatasan teritorial, pemerintahan yang sah,
pcngakuan luar negeri, dan sebagainya. Munculnya paham nasionalisme atau paham kebangsaan
Indonesia lidak bisa dilepaskan dari situasi sosial politik dekade pertama abad ke-20. Pada waktu
itu semangat menenlang kolonialisme Belanda mulai bermunculan di kalangan pribumi. Cita-cita
bersama untuk merebut kemerdekaan menjadi semangat umum di kalangan tokoh-lokoh
pergerakan nasioi al. Kemudian, semangat tersebut diformulasikan dalam bentuk nasionalisme
yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
Menurut penganutnya, paham nasionalisme di Indonesia yang disampaikan oleh Soekarno
bukanlah nasionalisme yang berwatak sempit, sekadar meniru dari Barat, atau berwatak
chauvinism. Nasionalisme yang dikembangkan Soekarno bersifat toleran, bercorak ketimuran,
clan tidak agrcsif sebagaimana nasionalisme yang dikembangkan t.i Eropa. Selain itu, Soekarno
mengungkapkan keyakinan watak nasionalisme yang penuh nilai-nilai kemanusiaan, juga
meyakinkan pihak-pihak yang berseberangan pandangai bahwa kelompok nasional dapat
bekerja sama dengan kelompok mana pun, baik golongan Islam maupun Marxis. Sckalipun
Soekarno seorang Muslim, tetapi tidak sckadar mcndasarkan pada pcrjuangan Islam, menurutnya
kebijakan ini merupakan pilihan torbaik bagi kemerdckaan ataupun bagi masa depan seluruh
bangsa Indonesia. Semangat nasionalisme Soekarno tersebut mendapat respon dan dukungan

luas dari kalangan intclektual muda didikan Barat, semisal Syahrir dan Mohammad Hatta.
Kemudian, paham ini scmakin bcrkembang paradigmanya hingga sekarang dengan munculnya
konscp Identitas Nasional. Schubungan dengan ini, bisa dikatakan bahwa Paham Nasionalisme
atau Kebangsaan di sini adalah merupakan refleksi dari Identitas Nasional.
Walaupun demikinan, ada yang perlu diperhatikan di sini, yakni adanya perdebatan panjang
tentang paham nasionalisme kebangsaan ketika para, founding father bangsa ini mempunyai
kesepakatan perlunya paham nasionalisme kebangsaan, tetapi mereka berbeda pendapat
mengenai masalah nilai atau watak nasionalisme Indonesia.
Revitalisasi Pancasila scbagaimana manifestasi Identitas Nasional pada gilirannya harus
diarahkan pula pada pcmbinaan dan pengcmbangan moral. Dengan dccmikian, moralitas
Pancasila dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk mengatasi krisis dan disintegrasi
yang ccnderung sudali menyentuh ke semua segi dan sendi kehidupan. Pcrlu disadari bahwa
moralitas Pancasila akan menjadi tanpa makna dan hanya menjadi sebuah karikatur apabila
tidak disertai dukungan suasana kehidupan di bidang hukum secara kondusif. Antara moralitas
dan hukum memang terdapat kcrelasi yang sangat erat. Artinya, moralitas yang tidak didukung
oleh kchidupan hukum yang kondusif akan menjadi subjeklivitas yang satu sama lain akan saling
berbenturan. Scbaliknya, ketentuan hukum yang disusun tanpa disertai dasar dan alasan moral,
akan melahirkan suatu legalisme yang represif, kontra produktif, dan bcrtcntangan dengan nilainilai Pancasila itu sendiri.
Dalam merevitalisasi Pancasila sebagai manifestasi Identitas Nasional, penyeienggaraan MPK.
hendaknya dikaitkan dengan wawasan:
1) Spiritual, untuk mcletakkan landasan ctik, moral, religiusiias, sebagai dasar dan arah
pengembangan sesuatu profcsi;
2) Akademis, untuk menunjukkan bahwa MPK merupakan aspek being yang tidak kalah
pentingnya, bahkan lebih penting daripada aspek having dalam kerangka penyiapan
sumber daya manusia (SDM) yang bukan sekadar instrumen, melainkan sebagai subjek
pembaharuan dan pencerahan;
3) Kebangsaan, untuk menumbuhkan kesadaran nasionalismenya agar dalam pergaulan
antarbangsa tetap setia pada kepentingan bangsanya, serta bangga dan respek pada jati diri
bangsanya yang memiliki ideologi tersendiri; serta
4) Mondial, untuk menyadarkan bahwa manusia dan bangsa di masa kini siap menghadapi
dialektika perkembangan dalam masyarakat dunia yang terbuka. Selain itu, diharapkan mampu
untuk segera beradaptasi dengan perubahan yang terus-menerus terjadi dengan cepat. Di samping
itu, juga mampu mencari jalan keluer sendiri dalam mengatasi setiap tantangan yang dihadapi.
Sehubungan dengan kondisi ini, dampak dan pengaruh perkembangan iptek yang bukan lagi
hanya sekadar p?da sarana, melainkan telah menjadi sesuatu yang substantif, yang dapat menjadi
tantangan dan peluang untuk berkarya dalam kehidupan umat manusia.
Dalam rangka pemberdayaan Identitas Nasional, perlu ditempuh dengan melalui revitalisasi
Pancasila. Revitalisasi sebagai manifestasi Identitas Nasional mengandung makna bahwa
Pancasila harus diletakkan dalam keutuhannya dengan Pembukaan, serta dieksplorasikan
dimensi-dimensi yang melekat padanya, yang meliputi:

1) Realitas, dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dikonsentrasikan sebagai
cerminan kondisi objektif yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kampus utamanya;
suatu rangkaian nilai-nilai yang bersifat sein im sollen dan das sollen im sein;
2) Idealitas, dalam arti bahwa idealisme yang terkandung di dalamnya bukanlah sekadar utopis
tanpa makna, melainkan diobjektivasikan sebagai kata kerja untuk membangkitkan gairah dan
optimisme warga masyarakat agar melihat masa depan secara prospektif, serta menuju hari esok
yang lebih baik. Hal ini dapat dilakukan melalui seminar atau gerakan dengan tema Revitalisasi
Pancasila;
3) Fleksibilitas, dalam arti Pancasila bukanlah barang jadi yang sudah selesai dan tertutup, atau
menjadi sesuatu yang sakral, melainkan terbuka bagi tafsir-tatsir barn untuk memenuhi
kebutuhan zaman yang terus-menerus berkembang. Dengan demikian, tanpa kehilangan nilai
hakikinya, Pancasila menjadi tetap aktual, rclevan, serta fungsional sebagai tiang-tiang
penyangga bagi kehidupan bangsa dan negara dengan jiwa dan semangat Bhinncka Tunggal
Ika, sebagaimana yang telah dikcmbangkan di Pusat Studi Pancasila (di UGM), Laboratorium
Pancasila (di Universitas Ncgeri Malang).
Dengan dcmikian, agar Idcntitas Nasional dapat dipahami oleh masyarakat scbagai pcncrus
tradisi nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang, maka pemberdayaan nilai-nilai ajarannya
harus bermakna, dalam arti relevan dan fungsional bagi kondisi aktual yang sedang berkembang
dalam masyarakat. Perlu disadari bahwa umat manusia masa kini hidup di abad XXI, yaitu
zaman baru yang sarat dengan nilai-nilai baru yang tidak saja berbeda, tetapi juga bertentangan
dengan nilai-nilai lama sebagaimana diwariskan oleh nenck moyang dan dikembangkan para
pendiri negara ini. Abad XXI sebagai zaman baru mengandung arti sebagai zaman ketika umat
manusia semakin sadar untuk berpikir dan bertindak secara baru.
Dengan kcmampuan rcfleksinya, manusia menjadikan rasio scbagai mitos, atau sebagai sarana
yang andal dalam bersikap dan bertindak dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi
dalam kehidupan. Kesahihan tradisi, juga nilai-nilai spiritual yang dianggap sakral, kini dikritisi
dan dipertanyakan berdasarkan visi dan harapan tentang masa depan yang lebih baik. Nilai-nilai
budaya yang diajarkan oleh nenek moyang tidak hanya diwarisi sebagai barang sudah jadi
yang berhenti dalam kebekuan normatif, tetapi harus diperjuangkan serta terus-menerus
ditumbuhkan dalam dimensi ruang dan waktu yang terns berkembang dan berubah.
Dalam kondisi kehidupan bcrmasyarakat dan berbangsa yang sedang dilanda krisis dan
disintcgrasi, Pancasila pun tidak tcrhindar dari berbagai macam gugatan, sinisme, serta pelecehan
terhadap kredibilitas dirinya sebagai dasar negara ataupun sebagai manifestasi Identitas
Nasional. Namun, pcrlu segera disadari bahwa tanpa suatu platform dalam format dasar negara
atau ideologi, mustahil suatu bangsa akan dapat survive menghadapi berbagai tantangan dan
ancaman yang menyertai derasnya arus globalisasi yang melanda seluruh dunia.
Melalui revitalisasi Pancasila sebagai wujud pemberdayaan Identitas Nasional inilah, Identitas
Nasional dalam alur rasional-akadcmik tidak saja diajarkan secara tekstual, tetapi juga segi
konstckstualnya dieksplorasikan scbagai refercnsi kritik sosial terhadap bcrbagai pcnyimpangan
yang melanda masyarakat dewasa ini. Untuk membentuk jati diri, nilai-nilai yang ada terscbut

harus digali dulu, misalnya nilai-nilai againa yang datang dari Tuhan, serta nilai-nilai lainnya,
sepcrti gotong royong, persatuan dan kcsatuan, juga saling menghargai dan menghormati. Semua
nilai ini sangat bcrarti dalam mcmpcrkuat rasa nasionalisme bangsa. Dengan adanya saling
pengertiari di antara satu dengan yang lain, secara langsung akan memperlihatkan jati diri bangsa
yang pada akhirnya mewujudkan Identitas Nasional.
Sementara itu, untuk mengembangkan jati diri bangsa, harus dimulai dari pengembangan nilainilai, yaitu nilai-nilai kejujuran, kcterbukaan, berani mengambil resiko, bertanggung jawab, serta
adanya kcsepakatan di antara sesama. Untuk itu, perlu perjuangan dan ketekunan untuk
menyatukan nilai, cipta, rasa, dan karsa. (Soemarno, Soedarsono).
Di sinilah, letak arti pentingnya penyelenggaraan MPK dalam kerangka pendidikan tinggi untuk
mengembangkan dialog budaya dan budaya dialog untuk mengantarkan lahirnya generasi
penerus yang sadar dan terdidik dengan wawasan nasional yang rnenjangkau jauh ke masa
depan. MPK. harus dimanfaatkan untuk mengembalikan Identitas Nasional bangsa, yang di
dalam pergaulan antarbangsa dahulu dikenal sebagai bangsa yang paling halus atau sopan di
bumi het zachste volk ter aarde.(W\bisor\o Koento: 2005) Dari nilai-nilai budaya tersebut,
lahir asumsi dasar bahwa menjadi bangsa Indonesia tidak sekadar masalah kelahiran saja, tetapi
juga sebuah pilihan yang rasional dan emosional yang otonom.
DATA DAN FAKTA
Contoh masalah Identitas Nasional adalah:
Keunggulan
Pelaksanaan UnsurUnsur Identitas Nasional
Kekurangberhasilan
Pelaksanaan Unsur-Unsur
Identitas Nasional
Alasan Kurang
berhasilnya Pelaksanaan
Identitas Nasional
Identitas Fundamental:
-Tetap tercantum dalam UUD 1945 walaupun sudah diamandemen.
Identitas Instrumental:
Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Indonesia
.Identitas Alamiah
Kekayaan alam yang mclimpah
Baru dihayati pada tataran
kognitif
Implementasinya tidak
konsisten

Bangsa Indonesia belum menggunakan dengan baik dan benar


-Belum bisa mengoptimal-kan kekayaan alam yang ada
Para pemimpin tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi rakyat
Primordial yang masih tinggi
Kualitas SDM yang rendah
KASUS DAN ILUSTRASI
Di bcbcrapa dacrah Indonesia pada masa Orde Lama (ORLA), Orde Baru (ORBA), dan Orde
Rcformasi pernah terjadi kasus tentang perbedaan ras/suku/etnik, agama, bahasa, atau budaya
yang membahayakan inlcgritas nasional dan menyamarkan Identitas Nasional, di antaranya
sebagai berikut:
Alternatif Pemecahan agar
tidak tcrjadi/terulang
Meningkatkan kerja sama bilateral dan internasional
Memperkuat nilai-nilai ideologi
-Konflik dalam negeri jangan diintervensi oleh pihak asing
Nama dan Waktu Kasus
Tokoh/ Pimpinan
Latar Bclakang Kasus
Akibat dari Kasus Terscbut
Masa ORLA
-Konfrontasi dcngan Malaysia
Ir. Soekarno
Perebutan wilayah
Kehilangan sebagian Kalimantan
Utara
Masa ORBA Pemberontakan PKI
Aidit
Pcrubahan idcologi Pancasila
Gugurnya pahlawan revolusi
menjadi Komunis

Masa Reform as i -Terlepasnya wilayah Timor -Timur


B.J. Habibie
-Tuntutan Referendum
Kehilangan wilayah Propivinsi Timor Timur
Identitas Nasional
I. Identitas Nasional Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal
sehingga menunjukkan suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain Nasional
berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosiokultural tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, Identitas
Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya
dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Identitas Nasional Indonesia meliputi segenap yang dimiliki
bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber
kekayaan alam Indonesia, demografi atau kependudukan Indonesia, ideolgi dan agama, politik
negara, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Identitas nasional pada hakikatnya juga merupakan
manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan
suatu bangsa dengan ciri-ciri khas. Dengan ciri-ciri khas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan
bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya. Diletakkan dalam konteks Indonesia, maka Identitas
Nasional itu merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang
sebelum masuknya agama-agama besar di bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan
dari ratusan suku yang kemudian dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan
Nasional dengan acuan Pancasila dan roh Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah
pengembangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. II. Sumber Identitas Nasional
Bangsa Indonesia 1. Dasar-dasar negara Dasar negara yang merupakan key yang menyatukan
bangsa Indonesia yang beragam-ragam merupakan kesepakatan bersama yang menyatukan
bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, dasar yang melandasi negara adalah merupakan identitas
nasional. Indonesia sebagai negara yang berdaulat memiliki landasan fundamental yaitu
Pancasila yang merupakan tujuan, dan pedoman dalam berbangsa dan bertanah air di Indonesia,
serta kunci dasar pemersatu bangsa Indonesia. Landasan fundamental ini merupakan nilai-nilai
dasar kehidupan bagi bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di
dunia. Indonesia merupakan negara demokrasi yang dalam pemerintahannya menganut sistem
presidensiil, dan Pancasila ini merupakan jiwa dari demokrasi. Demokrasi yang didasarkan atas
lima dasar tersebut dinamakan Demokrasi Pancasila. Dasar negara ini, dinyatakan oleh Presiden
Soekarno (Presiden Indonesia yang pertama) dalam Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Untuk menciptakan Indonesia yang dicita-citakan, bangsa Indonesia memiliki dasar instrumental
berupa UUD 1945, burung Garuda sebagai lambang negara, bahasa Indonesia dan lagu
kebangsaan. 2. Wilayah dan Kondisi Geografis Dalam kemerdekaannya bangsa Indonesia
menyatakan bahwa wilayah negara kesatuan ini meliputi segenap wilayah bekas jajahan
Pemerintah Kolonial Belanda. Wilayah yang terbentang antara 6 derajat garis lintang utara
sampai 11 derajat garis lintang selatan, dan dari 97 derajat sampai 141 derajat garis bujur timur
serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia/Oceania diakui kedaulatannya oleh

Belanda sendiri dan dunia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat
dan bersatu. Untuk mencapai semua itu, bangsa ini mengalami perjalanan yang cukup panjang
dan berat hingga akhirnya saat ini, wilayah Indonesia dapat terlihat seperti pada peta berikut :
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau. Wilayah
Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Apabila
perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi
dengan lima pulau besar di Indonesia adalah : Sumatera dengan luas 473.606 km persegi, Jawa
dengan luas 132.107 km persegi, Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia) dengan luas
539.460 km persegi, Sulawesi dengan luas 189.216 km persegi, dan Papua dengan luas 421.981
km persegi. 3. Politik Indonesia Indonesia adalah negara demokrasi Pancasila. Segala sesuatu di
Indonesia diatur dan dimusyawarahkan secara mufakat, hikmat dan kebijaksanaan. Perpolitikan
di Indonesia berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya,
sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif
dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis
Permusyawatan Rakyat (MPR) yang terdiri dari dua badan yaitu DPR yang anggota-anggotanya
terdiri dari wakil-wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-anggotanya mewakili provinsi yang
ada di Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang dipilih langsung oleh rakyat di
daerahnya masingmasing. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah lembaga tertinggi
negara. Keanggotaan MPR berubah setelah Amandeman UUD 1945 pada periode 19992004.
Seluruh anggota MPR adalah anggota DPR ditambah anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah).
Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan. Anggota
MPR saat ini terdiri dari 550 anggota DPR dan 128 anggota DPD. Anggota DPR dan DPD
dipilih melalui pemilu dan dilantik dalam masa jabatan lima tahun. Sejak 2004, MPR adalah
sebuah parlemen bikameral, setelah terciptanya DPD sebagai kamar kedua. Lembaga eksekutif
berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet
Presidenstil sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai
politik yang ada di parlemen. Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen
UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, termasuk pengaturan administrasi para Hakim.
Politik luar negeri Indonesia seperti tertuang dalam pembukaan UUD 1945 adalah poltik bebas
aktif. Yang artinya Indonesia sebagai negara berdaulat memiliki konsep politik luar negeri yang
tidak terikat oleh negara manapun di dunia. Artinya, Indonesia berhak menentukan sikapnya
sendiri dalam perpolitikan di dunia yang bebas aktif dan bertujuan untuk menjaga keamanan
dunia. Serta Indonesia mengatur urusan dalam negerinya tanpa campur tangan asing. 4. Ideologi
dan Agama Seperti yang di atur dalam UUD 1945, bahwa negara Indonesia menjamin kebebasan
beragama di dalam kehidupan warga negara Indonesia. Masingmasing warga negara Indonesia
berhak untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing dan menjalankan peribadatan
sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing warga negara Indonesia. Hak dalam hidup
beragama di Indonesia dilindungi oleh negara. Penduduk di Indonesia secara garis besar
merupakan penganut dari lima agama di antara lain islam, budha, hindu, katolik dan protestan
serta penganut kepercayaan lainnya seperti kong fu tsu. Mayoritas penduduk Indonesia adalah
beragama islam dan selebihnya adalah penganut agama budha, hindu, katolik dan protestan serta
aliran kepercayaan. Dalam berideologi, masyarakat Indonesia berhak untuk memiliki ideologi
dan pandangan hidup. Akan tetapi, ideolgi bangsa Indonesia tidak boleh bertentangan dengan
nilai-nilai Pancasila yang merupakan kunci pemersatu bangsa Indonesia.
5. Ekonomi Perekonomian bangsa Indonesia seperti diatur dalam UUD 1945 adalah ekonomi
yang bersifat kerakyatan. Kekayaan alam dan segala hal yang menyangkut hajat hidup orang

banyak diatur oleh negara untuk sebesar-besarnya digunakan demi mensejahterakan seluruh
penduduk Indonesia. Dalam perekonomiannya, dalam negara Indonesia terdapat tiga bentuk
badan usaha yaitu Badan Usaha Miliki Negara (BUMN), Badan Usaha Miliki Swasta (BUMS)
dan Koperasi. Jadi, bangsa Indonesia memiliki azas perokonomian yang untuk kekayaan alam
dan menyangkut hidup orang banyak diatur oleh negara sedangkan bidang lainnya dijalankan
oleh swasta dan koperasi. 6. Pertahanan Keamanan Ciri khas dari bangsa Indonesia dalam bidang
ini adalah bahwa, pertahanan di Indonesia adalah pertahanan rakyat semesta atau dikenal
Hankamrata. Pertahanan di Indonesia bersifat menyeluruh bagi masyarakat Indonesia. Apabila
salah satu wilayah Indonesia diserang, maka seluruh masyarak di Indonesia lah yang akan
mengamankan dan mempertahankannya. 7. Demografi Indonesia. Penduduk Indonesia dapat
dibagi secara garis besar dalam dua kelompok. Di bagian barat Indonesia penduduknya
kebanyakan adalah suku Melayu, sementara di timur adalah suku Papua, yang mempunyai akar
di kepulauan Melanesia. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian
dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya
Jawa, Sunda atau Batak. Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali suku dan budaya dan adat
istiadat. Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas di antaranya adalah
Etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke nusantara dengan jalur
perdagangan sejak abad ke 8 SM dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia
terdapat sekitar 3% populasi etnis Tionghoa. Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun
1930-an terakhir kalinya pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan
masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya. Islam adalah agama mayoritas
yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan
penduduk muslim terbanyak di dunia. Sisanya beragama Protestan (8,9%); Katolik (3%); Hindu
(1,8%); Buddha (0,8%); dan lain-lain (0,3%). Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam
bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi Indonesia, bahasa Indonesia, diajarkan di
seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.
III. Kondisi Identitas Bangsa Indonesia Saat Ini 1. Dalam perekonomian, kekayaan alam saat ini
banyak yang dikelola oleh asing. Pengelolaan ini memberikan keuntungan yang sangat kecil
sekali bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya di bidang pertambangan, bahkan lahan perkebunan
pun telah mulai sedikit demi sedikit dikuasai oleh negara lain. Beberapa bidang yang
menyangkut hajat hidup orang banyak seperti air minum tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh
negara. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun pengelolahannya mayoritas
dikuasai oleh asing. Pola hidup masyarakat bangsa Indonesia saat ini merupakan pola kehidupan
yang mengagungkan produk asing. Masyarakat Indonesia saat ini lebih senang apabila produk
yang dikonsumsinya merupakan buatan luar negeri. 2. Dalam kebudayaan, beberapa budaya,
lagu dan tarian telah dicaplok oleh bangsa lain. Kebudayaan batik, telah dipatenkan oleh
Malaysia sebagai produk budayanya, lagu, tarian, seni musik, serta bahkan makanan khas bangsa
Indonesia banyak yang dicaplok begitu saja oleh bangsa lain. Selain itu, pola kehidupan generasi
muda bangsa Indonesia saat ini telah luntur dan bersifat kebarat-baratan. Tidak ada rasa
kebanggaan lagi dalam penggunaan bahasa Indonesia, bertata krama Indonesia. Kehidupan dan
kebudayaan yang berbau kebarat-baratan dianggap lebih tinggi statusnya dan lebih modern. 3.
Dalam bidang Geografi Indonesia memiliki banyak pulau.17.508 pulau. Namun, penjagaan
kesatuan wilayah ini serta rasa memilikinya terasa sangat begitu kurang. Masih hangat di telinga
bangsa Indonesia, beberapa pulau di Indonesia telah dicaplok dan diakui sebagai wilayah dari
bangsa lainnya. Sedangkan ketegasan untuk mempertahankannya sangat kurang sekali baik itu
dari tingkatan pemerintah maupun masyarakat Indonesia sendiri. IV. Kesimpulan Bangsa

Indonesia saat ini dalam keadaan rapuh akan sikap dan rasa memiliki jati diri dan identitas
bangsa. Kurang kesadaran akan Identitas Nasional yang akibatnya tidak ada sikap dan rasa
bangga menjadi bangsa Indonesia. Hal yang penting adalah rasa memiliki identitas tersebut
sehingga apabila identitas kita dicaplok begitu saja, kita bangkit dan mempertahankannya. Oleh
sebab itu, Identitas Nasional ini perlu dihidupkan kembali. V. Referensi
1.http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=11
2&Itemid=1722 (dilihat pada tanggal 21 Februari 2009) 2.http://id.shvoong.com/socialsciences/1747413-identitas-nasional-indonesia/ (dilihat pada tanggal 23 Februari 2009)
3.http://64.203.71.11/kompas-cetak/0608/24/Politikhukum/2901687.htm (dilihat pada tanggal 25
Februari 2009) 4. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=181233 (dilihat pada tanggal
25 Februari 2009)
Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat
memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia.
Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan
suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain. Nasional berasal dari kata nasion
yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural tertentu yang
memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, yang dimaksud dengan
Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.Uraiannya mencakup :1.identitas manusia
Manusia merupakan makhluk yang multidimensional, paradoksal dan monopluralistik. Keadaan
manusia yang multidimensional, paradoksal dan sekaligus monopluralistik tersebut akan
mempengaruhi eksistensinya. Eksistensi manusia selain dipengaruhi keadaan tersebut juga
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya atau pedoman hidupnya. Pada akhirnya yang
menentukan identitas manusia baik secara individu maupun kolektif adalah perpaduan antara
keunikan-keunikan yang ada pada dirinya dengan implementasi nilai-nilai yang
dianutnya.2.identitas nasionalIdentitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada
keanekaragaman) baik menyangkut sosiokultural atau religiositas. Identitas fundamental/ ideal
= Pancasila yang merupakan falsafah bangsa.- Identitas instrumental = identitas sebagai alat
untuk menciptakan Indonesia yang dicita-citakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara,
bahasa Indonesia, dan lagu kebangsaan.- Identitas religiusitas = Indonesia pluralistik dalam
agama dan kepercayaan.- Identitas sosiokultural = Indonesia pluralistik dalam suku dan budaya.Identitas alamiah = Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.3.Nasionalisme
IndonesiaNasionalime merupakan situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total
diabdikan langsung kepada negara bangsa. Nasionalisme sangat efektif sebagai alat merebut
kemerdekaan dari kolonial. Nasionalisme menurut Soekarno adalah bukan yang berwatak
chauvinisme, bersifat toleran, bercorak ketimuran, hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila.4.
Integratis NasionalMenurut Mahfud M.D integrai nasional adalah pernyataan bagian-bagian
yang berbeda dari suatu masayarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih untuh , secara
sederhana memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu
bangsa. Untuk mewujudkan integrasi nasional diperlukan keadilan, kebijaksanaan yang
diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membersakan SAR. Ini perlu dikembangkan karena
pada hakekatnya integrasi nasional menunjukkan tingkat kuatnya kesatuan dan persatuan
bangsa.KesimpulanIdentitas Nasional Indonesia adalah sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai
yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian disatupadukan dan

diselaraskan dalam Pancasila. Nilai-nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi
identitas bangsa. Oleh sebab itu, nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk
ditekankan pada diri setiap warga Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas.
Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajah Dan Kaitannya Dengan Kemerdekaan RI
DASAR PEMIKIRAN.
Perkembangan globalisasi ditandai dengan kuatnya pengaruh lembaga-Iembaga kemasyarakatan
internasional, negara-negara maju yang ikut mengatur percaturan perpolitikan, perekonomian,
sosial budaya dan pertahanan dan keamanan global. Kondisi ini akan menumbuhkan berbagai
konflik kepentingan, baik antar negara maju dengan negara-negara berkembang maupun antar
sesama negara berkembang serta lembaga-Iembaga internasional. Disamping hal tersebut adanya
issu global yang meliputi demokratisasi, hak asasi manusia dan lingkungan hidup turut pula
mempengaruhi keadaan nasional.
Globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
khususnya di bidang informasi, komunikasi dan trnasportasi, sehingga dunia menjadi transparan
seolah-olah menjadi kampung sedunia tanpa mengenal batas negara. Kondisi yang demikian
menciptakan struktur baru yaitu struktur global. Kondisi ini akan mempengaruhi struktur dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia, serta akan mempengaruhi juga
daiam berpola pikir, sikap dan tindakan masyarakat Indonesia sehingga akan mempengaruhi
kondisi mental spiritual bangsa Indonesia.
Dari uraian tersebut di atas, bahwa semangat perjuangan bangsa yang merupakan kekuatan
mental spiritual yang melahirkan kekuatan yang luar biasa dalam masa Perjuangan Fisik. Dalam
menghadapi globalisasi dan menatap masa depan untuk mengisi kemerdekaan diperlukan
Perjuangan Non Fisik sesuai dengan bidang tugas dan profesi masing-masing yang dilandasi
nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia, sehingga memiliki wawasan dan kesadaran bernegara,
sikap dan perilaku yang cinta tanah air dan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dalam
rangka bela negara demi tetap utuh dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam rangka Perjuangan Non Fisik sesuai bidang tugas dan profesi masing-masing wawasan
atau cara pandang bangsa Indonesia yaitu wawasan kebangsaan atau Wawasan Nasional yang
diberi nama Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri
dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan
dan kesatuan wilayah dengan tetap menghargai dan menghormati kebhinekaan dari setiap aspek
kehidupan bangsa untuk mencapai tujuan nasional. Sedang hakekat Wawasan Nusantara adalah
keutuhan Nusantara atau Nasional dengan pengertian cara Pandang yang selalu utuh menyeluruh
dalam lingkup Nusantara dan demi kepentingan nasional.
Atas dasar pemikiran dari perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang mengandung
nilai-nilai semangat perjuangan yang dilaksanakan dengan perjuangan Fisik dan wawasan
Nusantara yang merupakan pancaran nilai dari ideoiogi Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa Indonesia, sehingga dalam mengisi kemerdekaan diperlukan Perjuangan Non Fisik sesuai
bidang tugas dan profesi masing-masing dj dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara untuk mencapai cita-cila dan tujuan nasional.
Dengan demikian anak-anak bangsa sebagai generasi penerus akan memiliki pola pikir, pola
sikap dan pola tindak yang tercermin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
serta tidak akan mengarah ke disintegrasi bangsa, karena hanya ada satu Indonesia yaitu NKRI
adalah SATU INDONESIA SATU.
Kesukubangsaan, Nasionalisme dan Multikulturalisme[1]

Achmad Fedyani Saifuddin


Guru Besar Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta
I
Pembicaraan mengenai nasionalisme dan multikulturalisme bersifat posteriori karena beberapa
konsep harus dibicarakan lebih dahulu sebelum membahas isyu tersebut. Menurut pendapat
sayadalam hal ini tentu banyak diwarnai oleh pemikiran antropologi konsep-konsep yang
harus dibicarakan lebih dahulu setidak-tidaknya adalah sukubangsa, kesukubangsaan, bangsa,
negara-bangsa, dan kebangsaan. Semenjak lama kajian antropologi mengenai kesukubangsaan
memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan antar kelompok yang kelompok-kelompok
tersebut dianggap memiliki ukuran sedemikian sehingga memungkinkan dikaji melalui
penelitian lapangan tradisional seperti pengamatan terlibat, wawancara pribadi, maupun survei
dalam pengertian tertentu. Fokus empiris kajian antropologi nyaris merupakan kajian komunitas
lokal. Apabila negara dibicarakan dalam hal ini, maka negara ditempatkan sebagai bagian dari
konteks yang lebih luas, misalnya sebagai agen luar (external agent) yang mempengaruhi
kondisi-kondisi lokal. Selain itu, antropologi masa lampau kerapkali bias terhadap kajian the
others. Istilah-istilah seperti masyarakat primitif, masyarakat belum beradab, masyarakat
sederhana dan lainnya jelas menunjukkan bagaimana para antropolog Barat pada akhir abad 19
hingga pertengahan abad ke 20 memandang dan menyebut masyarakat asing (the others) yang
di hadapinya di lapangan .
Pergeseran peristilahan dari suku bangsa menjadi kelompok etnik (ethnic groups)
merelatifkan dikotomi kita/mereka, karena istilah kelompok etnik, berbeda dari
sukubangsa, berada atau hadir di dalam kita (self) sekaligus orang lain/mereka
(others). Mekanisme batas (boundary mechanism) yang menyebabkan kelompok etnik tetap
kurang-lebih distinktif atau diskret memiliki karakteristik formal yang sama di kota-kota
metropolitan seperti Jakarta maupun di daerah pedalaman pegunungan Meratus, Kalimantan
Selatan, dan perkembangan identitas etnik dapat dipelajari dengan peralatan konseptual yang
sama di Indonesia maupun di negeri-negeri lain, meski pun konteks-konteks empirisnya berbedabeda atau mungkin unik. Pada masa kini, kalangan antropologi sosial mengakui bahwa mungkin
sebagian besar peneliti kini mempelajari sistem-sistem kompleks yang unbounded daripada
komunitas-komunitas yang terisolasi.
Kebangsaan atau nasionalisme adalah topik baru dalam antropologi. Kajian tentang nasionalisme
ideologi negara-bangsa modernsejak lama adalah topik pembicaraan ilmu politik, sosiologi
makro dan sejarah. Bangsa (nation) dan ideologi kebangsaan adalah fenomena modern berskala
besar. Meski pun kajian mengenai nasionalisme memunculkan masalah-masalah metodologi
yang baru yang berkaitan dengan skala dan kesukaran mengisolasi satuan-satuan penelitian,
masalah-masalah ini justru mengkait dengan topik-topik lain. Perubahan sosial telah terjadi di
wilayah sentral kajian antropologi, yang mengintegrasikan jutaan orang ke dalam pasar dan
negara. Perhatian antropologi terhadap nasionalisme justru menempuh jalur yang berbeda dari
ilmu politik yang sejak awal menempatkan negara sebagai pusat kajian. Antropologi, sejalan
dengan tradisi teorinya yang menempatkan evolusi sebagai premis dasar memposisikan negara
sebagai bagian dari pembicaraan mengenai evolusi masyarakat dari sederhana ke kompleks
(modern). Dalam hal ini negara menjadi bagian dari pembicaraan tentang proses masyarakat
mengkota (urbanizing) sebagai akibat proses evolusi dari masyarakat sederhana (d/h masyarakat

primitif). Dengan kata lain, negara adalah suatu institusi yang merupakan konsekuensi dari
evolusi masyarakat tersebut, suatu pengorganisasian yang tumpang-tindih dengan institusi
kekerabatan pada masyarakat sederhana pada masa lampau. (Cohen 1985). Secara metodologi,
seperti halnya kita yang hidup pada masa kini, dan disini, informan penelitian antropologi adalah
warga negara. Selanjutnya, masyarakat primitif mungkin tak terisolasi seperti pada masa lampau,
sehingga kini tak lagi lebih asli atau lebih murni daripada masyarakat kita kini .
Para antropolog sejak lama berupaya mengangkat kasus-kasus pada tingkatan mikro,
sebagaimana tercermin dari masyarakat sederhana (d/h primitif) yang berskala kecil, populasi
kecil, hidup di suatu lingkungan yang relatif terisolasi, dan memiliki kebudayaan yang relatif
homogen, ke tingkatan abstraksi yang bersifat makro, sehingga mampu menjelaskan gejala yang
sama di berbagai tempat di dunia. Meski demikian, upaya ini tidak mudah diwujudkan terlebih
ketika antropolog masa kini semakin cenderung menyukai keanekaragaman dalam paradigma
berfikir konstruktivisme yang kini berkembang, seolah paradigma relativisme kebudayaan yang
berakar pada tradisi antropologi masa lampau memperoleh tempat baru pada masa kini
(Saifuddin 2005)
Dalam terminologi klasik antropologi sosial, konsep bangsa (nation) digunakan secara kurang
akurat untuk menggambarkan kategori-kategori besar orang atau masyarakat dengan kebudayaan
yang kurang lebih seragam. I.M. Lewis (1985: 287), misalnya, mengatakan bahwa :Istilah
bangsa (nation), mengikuti arus pemikiran dominan dalam antropologi, adalah satuan
kebudayaan. Selanjutnya Lewis memperjelas bahwa tidak perlu membedakan antara
sukubangsa (tribes), kelompok etnik (ethnic groups), dan bangsa (nation) karena
perbedaannya hanya dalam ukuran, bukan komposisi struktural atau fungsinya. Apakah
segmen-segmen yang lebih kecil ini berbeda secara signifikan? Jawabannya adalah bahwa
segmen-segmen tersebut tidaklah berbeda; karena hanya merupakan satuan yang lebih kecil dari
satuan yang lebih besar yang memiliki ciri yang sama. (Lewis 1985: 358).
Dalam terminologi masa kini, ketika argumentasi homogenitas semakin sukar dipertahankan,
maka pembedaan bangsa dan kategori etnik menjadi semakin penting karena keterkaitannya
dengan negara modern. Lagi pula, suatu negara yang isinya adalah suatu kategori etnik semakin
langka adanya. Dengan kata lain, suatu perspektif antropologi menjadi esensil bagi pemahaman
secara menyeluruh mengenai nasionalisme. Suatu fokus yang bersifat analitis dan empiris
mengenai nasionalisme dalam penelitian modernisasi dan perubahan sosial, menjadi penting dan
sangat relevan dengan lapangan kajian yang lebih luas dari antropologi politik dan kajian
mengenai identitas sosial.
Barangkali penting merujuk pandangan Ernest Gellner (1983) tentang nasionalisme:
Nasionalisme adalah prinsip politik, yang berarti bahwa satuan nasion harus sejalan dengan
satuan politik. Nasionalisme sebagai sentimen, atau sebagai gerakan, paling tepat didefinisikan
dalam konteks prinsip ini. Sentimen nasionalis adalah rasa marah yang timbul akibat
pelanggaran prinsip ini, atau rasa puas karena prinsip ini dijalankan dengan baik. Gerakan
nasionalis diaktualisasikan oleh sentimen semacam ini (hal. 1). Pandangan Gellner tentang
nasionalisme ini lebih pas untuk konteks negara-bangsa (nation state). Hal ini tercermin dari
konsep satuan nasion yang terkandung dalam kutipan di atas. Nampaknya Gellner masih
memandang satuan nasion sama dengan kelompok etnik atau setidak-tidaknya suatu

kelompok etnik yang diklaim keberadaannya oleh para nasionalis : Ringkas kata, nasionalisme
adalah suatu teori legitimasi politik, yakni bahwa batas-batas etnik tidak harus berpotongan
dengan batas-batas politik (Gellner 1983: 1). Dengan kata lain, nasionalisme, menurut
pandangan Gellner, merujuk kepada keterkaitan antara etnisitas dan negara. Nasionalisme,
menurut pandangan ini, adalah ideologi etnik yang dipelihara sedemikian sehingga kelompok
etnik ini mendominasi suatu negara. Negara-bangsa dengan sendirinya adalah negara yang
didominasi oleh suatu kelompok etnik, yang penanda identitasnya seperti bahasa atau agama
kerapkali terkandung dalam simbolisme resmi dan institusi perundang-undangannya.
Tokoh lain yang dikenal dengan gagasan teoretisnya tentang nasionalisme, khususnya Indonesia,
adalah Benedict Anderson (1991[1983]: 6) yang mendefinisikan nasion sebagai an imagined
political community dan dibayangkan baik terbatas secara inheren maupun berdaulat. Kata
imagined di sini lebih berarti orang-orang yang mendefinisikan diri mereka sebagai anggota
suatu nasion, meski mereka tak pernah mengenal, bertemu, atau bahkan mendengar tentang
warga negara yang lain, namun dalam fikiran mereka hidup suatu citra (image) mengenai
kesatuan komunion bersama (hal. 6). Jadi, berbeda dari pendapat Gellner yang lebih
memusatkan perhatian pada aspek politik dari nasionalisme, Anderson lebih suka memahami
kekuatan dan persistensi identitas dan sentimen nasional. Fakta bahwa banyak orang yang rela
mati membela bangsa menunjukkan adanya kekuatan yang luar biasa itu.
Meski Gellner dan Anderson memusatkan perhatian pada tema yang berbeda, prinsip politik dan
sentimen identitas, keduanya sesungguhnya saling mendukung. Keduanya menekankan bahwa
bangsa adalah konstruksi ideologi demi untuk menemukan keterkaitan antara kelompok
kebudayaan (sebagaimana didefinisikan warga masyarakat yang bersangkutan) dan negara, dan
bahwa mereka menciptakan komunitas abstrak (abstract communities) dari keteraturan yang
berbeda dari negara dinasti atau komunitas berbasis kekerabatan yang menjadi sasaran perhatian
antropologi masa lampau.
Anderson sendiri berupaya memberikan penjelasan terhadap apa yang disebut anomali
nasionalisme. Menurut pandangan Marxis dan teori-teori sosial liberal tentang modernisasi,
nasionalisme seharusnya tidak lagi relevan di dunia individualis pasca Pencerahan, karena
nasionalisme itu berbau kesetiaan primodial dan solidaritas yang berbasis asal-usul dan
kebudayaan yang sama. Maka, kalau kita kini menyaksikan goyahnya nasionalisme di
Indonesia, hal ini mungkin disebabkan antara lain oleh masuk dan berkembangnya pemikiran
liberal dalam ilmu-ilmu sosial di Indonesia, dan menjadi bagian dari cara ilmu-ilmu sosial
memikirkan negara-bangsa dan nasionalisme kita sendiri.
Kajian antropologi mengenai batas-batas etnik dan proses identitas mungkin dapat membantu
memecahkan problematika Anderson. Penelitian tentang pembentukan identitas etnik dan
dipertahankannya identitas etnik cenderung menjadi paling penting dalam situasi-situasi tak
menentu, perubahan, persaingan memperoleh sumberdaya, dan ancaman terhadap batas-batas
tersebut. Maka tak mengherankan bahwa gerakan-gerakan politik yang berdasarkan identitas
kebudayaan kuat dalam masyarakat yang tengah mengalami modernisasi, meski pun hal ini
tidaklah berarti bahwa gerakan-gerakan tersebut menjadi gerakan-gerakan nasionalis.
II

Titik temu antara teori-teori nasionalisme dan etnisitas perlu disinggung di sini. Menurut hemat
saya, baik Gellner maupun Anderson tidak berupaya menemukan titik temu tersebut; kedua
pandangan teori mereka dikembangkan sendiri-sendiri. Baik kajian etnisitas di tingkat komunitas
lokal maupun kajian nasionalisme di tingkat negara menegaskan bahwa identitas etnik maupun
nasional adalah konstruksi. Berarti kedua identitas tersebut bukan alamiah. Selanjutnya, jalinan
hubungan antara identitas khusus dan kebudayaan bukanlah hubungan satu per satu. Asumsiasumsi titik temu yang tersebar luas antara etnisitas dan kebudayaan obyektif adalah kasus
yang terpancarkan dari konstruksi kebudayaan itu sendiri. Berbicara tentang kebudayaan dan
kebudayaan dapat dibedakan ibarat kita berbicara tentang perbedaan antara menu dan
makanan. Keduanya adalah fakta sosial dengan keteraturan yang berbeda.
Tatkala kita menyoroti nasionalisme, jalinan hubungan antara organisasi etnik dan identitas etnik
sebagaimana didiskusikan sebelumnya menjadi lebih jelas. Menurut nasionalisme, organisasi
politik seharusnya bersifat etnik karena organisasi ini merepresentasikan kepentingankepentingan kelompok etnik tertentu. Sebaliknya, negara-bangsa mengandung aspek penting dari
legitimasi politik yakni dukungan massa yang sebenarnya merepresentasikan sebagai suatu
satuan kebudayaan.
Di dalam antropologi dapat kita temukan juga teori-teori tentang simbol-simbol ritual yang
dalam konteks pembicaraan ini juga menggambarkan dualitas antara makna dan politik, yang
umum kita temukan baik dalam kajian etnisitas maupun kajian nasionalisme. Menyitir Victor
Turner (1969 : 108) :simbol-simbol itu multivokal karena memiliki kutub instrumental dan
sensoris (makna). Itulah sebabnya, pendapat Turner ini relevan dengan apa yang dikemukakan
Anderson (1991) bahwa nasionalisme memperoleh kekuatannya dari kombinasi legitimasi politik
dan kekuatan emosional. Sejalan dengan hal di atas, seorang ahli antropologi lain, Abner Cohen
(1974) mengemukakan bahwa politik tidak dapat sepenuhnya instrumental, melainkan harus
selalu melibatkan simbol-simbol yang mengandung kekuatan untuk menciptakan loyalitas dan
rasa memiliki. Para antropolog yang mengkaji nasionalisme umumnya memandang isyu ini
sebagai varian dari etnisitas. Tentu saja dapat muncul pertanyaan bahwa kalau nasionalisme
dibicarakan dalam atau sebagai bagian dari etnisitas, dan nasionalisme yang berbasis etnisitas itu
imaginable kalau kita mengikuti pandangan Anderson maka bagaimana dengan nasionalisme
yang dibangun tidak berdasarkan etnik ? Apakah untuk kasus ini juga imaginable ?
Para pengkaji nasionalisme menekankan aspek-aspek modern dan abstrak. Perspektif
antropologis khususnya penting di sini karena para antropolog lebih suka mengetengahkan
karakter nasionalsme dan negara-bangsa yang khusus dan unik melalui pembandinganpembandingan dengan, atau pemikiran yang berakar pada masyarakat yang berskala kecil.
Dalam perspektif ini, bangsa (nation) dan ideologi nasionalis setidak-tidaknya nampak sebagai
peralatan simbolik bagi kelas-kelas yang berkuasa dalam masyarakat, yang tanpa peralatan
simbolik itu bangsa rentan terancam perpecahan. Sebagian ahli berpendapat bahwa nasionalisme
dan komunitas nasional dapat memiliki akar yang kuat dalam komunitas etnik sebelumnya atau
ethnies (A.D. Smith 1986), tetapi niscaya kurang tepat untuk mengklaim bahwa kesinambungan
masyarakat komunitas pra-modern atau kebudayaan etnik menjadi nasional terjaga dengan
baik. Contoh Norwegia menunjukkan bahwa tradisi dan simbol-simbol nasional lainnya
memiliki makna yang sangat berbeda dalam konteks modern dibandingkan makna pada masa
lampau (A.D.Smith 1986).

III
Multikulturalisme: Penguatan Politik dan Sentimen Kebangsaan Negara-Bangsa
Seperti telah dikemukakan di atas, konsep negara dalam antropologi adalah perluasan dari
konsep-konsep sukubangsa, kelompok etnik, etnisitas, yang pada setiap konsep tersebut konsep
nasionalisme menyelimuti sekaligus memberikan roh. Dalam konteks ini negara merupakan
suatu bentuk pengorganisasian warga masyarakat yang secara intrinsik berasal dari sukubangsa
atau kelompok etnik tersebut. Konsep negara-bangsa (nation-state), misalnya, jelas sekali
menunjukkan orientasi pemikiran antropologi ini.
Dipandang dari perspektif ini, nasionalisme yang sukses ditentukan oleh keterjalinan ideologi
etnik dengan aparatus negara. Negara-bangsa, seperti halnya banyak sistem politik lain,
memandang pentingnya ideologi bahwa batas-batas politik harus saling mendukung dengan
batas-batas kebudayaan. Selanjutnya, negara-bangsaa memiliki monopoli atas keabsahan untuk
memungut pajak, dan bahwa tindakan kekerasan terhadap warga yang dianggap menyimpang
dari kehendak negara. Monopoli ini adalah sumber kekuasaan yang paling penting. Negara
bangsa memiliki administrasi birokrasi dan undang-undang tertulis yang meliputi semua warga
negara, dan memiliki sistem pendidikan yang seragam di seluruh negeri, dan pasar tenaga kerja
yang sama bagi semua warga negara. Hampir semua negara-bangsa di dunia memiliki bahasa
nasional yang digunakan untuk komunikasi resmi. Suatu ciri yang khas dari negara bangsa
adalah konsentrasi kekuasaan yang luarbiasa. Cukup jelas bahwa Indonesia adalah salah satu
contoh negara-bangsa.
Negara Bangsa dan Multikulturalime
Dari pembicaraan kita tentang perspektif antropologi mengenai nasionalisme dan negara di atas,
dapatlah dikemukakan bahwa negara-bangsa Indonesia kini menghadapi tantangan-tantangan
besar, yang apabila kita tak berhasil menghadapi dan menaklukkan tantangan tersebut, dapat
diprediksi bahwa negara kesatuan Republik Indonesia ini akan berakhir. Akan tetapi kalau kita
memiliki kesepakatan dan komitemen bahwa negara kesatuan ini adalah final, maka kita perlu
memperhatikan secara seksama tantangan-tantangan yang kita hadapi, dan tugas-tugas yang
harus kita laksanakan untuk menghadapinya. Banyak orang berpendapat bahwa
multikulturalisme merupakan alternatif yang paling tepat untuk membangun kembali integrasi
bangsa tersebut, meski belum ditemukan model multikulturalisme seperti apa yang paling tepat
untuk Indonesia. Pendapat tersebut benar, karena pendekatan proses dalam multikulturalisme
lebih relevan untuk menjawab isyu kebangsaan dan integrasi nasional yang kini dituntut mampu
menjawab tantangan perubahan.
Buku Sdr Mashudi Noorsalim (ed.) yang kini sedang kita bahas menurut hemat saya
mengandung empat persoalan besar (penulis menyebutnya dilematis) berkaitan dengan isyu
hak-hak minoritas dalam kaitannya dengan multikulturalisme dan dilema negara bangsa.
1. Fakta keanekaragaman sukubangsa, ras, agama, dan golongan sosial-ekonomi, semakin
diperumit oleh faktor geografi Indonesia yang kepulauan, penduduk yang tinggal terpisah-pisah
satu sama lain, mendorong potensi disintegrasi meningkat.
2. Premis antropologi bahwa nasionalisme dan negara seyogyanya dibicarakan mulai dari
akarnya, yakni mulai dari konsep-konsep sukubangsa, kelompok etnik, dan etnisitas, jelas

menunjukkan bahwa apabila semangat nasionalisme luntur karena berbagai sebab, maka yang
tertinggal adalah semangat kesukubangsaan yang menguat. Dengan kata lain, meningkatnya
semangat primordial ( antara lain kesuku-bangsaan) di tanah air akhir-akhir adalah indikasi
melunturnya nasionalisme.
3. Hak-hak minoritas senantiasa melekat pada fakta pengaturan keanekaragaman yang ada.
Apabila pengaturan nasional berorientasi pada kebijakan kebudayaan seragam dan sentralistis
maka fakta pluralisme, diferensiasi, dan hirarki masyarakat dan kebudayaan akan meningkat.
Dalam kondisi ini hak-hak minoritas akan terabaikan karena tertutup oleh kebijakan negara yang
terkonsentrasi pada kekuasaan sentralistis. Namun, apabila pengaturan tersebut adalah
demokratis dan/atau multikuluralistis maka hak-hak minoritas akan semakin dihargai. Yang perlu
diperhatikan adalah bahwa upaya membangun bangsa yang multikultural itu berhadapan dengan
tantangan berat, yaitu fakta keenekaragaman yang luas dalam konteks geografi, populasi,
sukubangsa, agama, dan lainnya. Oleh karena itu membangun negara-bangsa yang multikultural
nampaknya harus dibarengi oleh politik pengaturan dan sentimen kebangsaan yang kuat.
4. Perekat integrasi nasional yang selama ini terjadi seperti politik penyeragaman nasional dan
konsentrasi kekuasaan yang besar sesungguhnya adalah hal yang lumrah dalam politik
pemeliharaan negara bangsa. Namun, mekanisme pengaturan nasional ini terganggu ketika
seleksi global pernyataan saya ini dipengaruhi oleh prinsip alamiah proses seleksi alam dalam
evolusionisme tidak lagi menghendaki (not favour) bentuk negara-bangsa sebagai bentuk
pengaturan nasional pada abad yang baru ini. Kondisi negeri kita yang serba lemah di berbagai
sektor mempermudah kita menjadi rentan untuk tidak lagi dikehendaki dalam proses seleksi
global.
Identitas Nasional
Identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi, golongan
sendiri, kelompok sendiri, atau negara sendiri.
Nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok- kelompok yang lebih besar yang
diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa maupun non fisik,
seperti keinginan,cita-cita dan tujuan. Jadi adapun pengertian identitas sendiri adalah ciri-ciri,
tanda-tanda, jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang bisa membedakannya.
Identitas nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam berbagai aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri khas. Dengan ciri-ciri
khas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya.
Diletakkan dalam konteks Indonesia, maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilainilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum masuknya agama-agama besar di
bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan bdari ratusan suku yang kemudian dihimpun
dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional dengan acuan Pancasila dan roh
Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat
memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia.
Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan
suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain.
Nasional berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas
sosio-kultural tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi,

yang dimaksud dengan Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas bangsa
Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Uraiannya mencakup :
1. Identitas manusia Manusia merupakan makhluk yang multidimensional, paradoksal dan
monopluralistik. Keadaan manusia yang multidimensional, paradoksal dan sekaligus
monopluralistik tersebut akan mempengaruhi eksistensinya. Eksistensi manusia selain
dipengaruhi keadaan tersebut juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya atau pedoman
hidupnya. Pada akhirnya yang menentukan identitas manusia baik secara individu maupun
kolektif adalah perpaduan antara keunikan-keunikan yang ada pada dirinya dengan implementasi
nilai-nilai yang dianutnya.
2. Identitas nasionalIdentitas nasional Indonesia bersifat pluralistik (ada keanekaragaman) baik
menyangkut sosiokultural atau religiositas. Identitas fundamental/ ideal = Pancasila yang
merupakan falsafah bangsa.- Identitas instrumental = identitas sebagai alat untuk menciptakan
Indonesia yang dicita-citakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara, bahasa Indonesia,
dan lagu kebangsaan.- Identitas religiusitas = Indonesia pluralistik dalam agama dan
kepercayaan.- Identitas sosiokultural = Indonesia pluralistik dalam suku dan budaya.- Identitas
alamiah = Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.
3. Nasionalisme IndonesiaNasionalime merupakan situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang
secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa. Nasionalisme sangat efektif sebagai alat
merebut kemerdekaan dari kolonial. Nasionalisme menurut Soekarno adalah bukan yang
berwatak chauvinisme, bersifat toleran, bercorak ketimuran, hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai
Pancasila.
4. Integritas Nasional Menurut Mahfud M.D integrai nasional adalah pernyataan bagian-bagian
yang berbeda dari suatu masayarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh secara
sederhana memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu
bangsa. Untuk mewujudkan integrasi nasional diperlukan keadilan, kebijaksanaan yang
diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membersakan SAR. Ini perlu dikembangkan karena
pada hakekatnya integrasi nasional menunjukkan tingkat kuatnya kesatuan dan persatuan bangsa.
Kesimpulan Identitas Nasional Indonesia adalah sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai
yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian disatupadukan dan
diselaraskan dalam Pancasila. Nilai-nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi
identitas bangsa. Oleh sebab itu, nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk
ditekankan pada diri setiap warga Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas.
Unsur-unsur pembentuk identitas nasional berdasarkan ukuran parameter sosiologis, yaitu :
1.suku bangsa
2.kebudayaan
3.bahasa
4.kondisi georafis.
Unsur-unsur pembentuk identitas nasional indonesia, yaitu :
1. Sejarah
2. Kebudayaan :
-Akal budi
-Peradaban
-Pengetahuan
3. Budaya Unggul

4. Suku Bangsa : keragaman/majemuk


5. Agama: multiagama
6. Bahasa

IDENTITAS NASIONAL DAN NASIONALISME DI INDONESIA


A. Pengertian Identitas Nasional

Kata identitas berasal dari kata identity yang berarti ciri-ciri, tanda-tanda, atau jati diri yang melekat
pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Sedangkan Nasional menunjuk
pada sifat khas kelompok yang memiliki ciri-ciri kesamaan, baik fisik seperti, budaya, agama, bahasa,
maupun non-fisik seperti, keinginan, cita-cita, dan tujuan. Jadi, Identitas nasional adalah identitas suatu
kelompok masyarakat yang memiliki ciri dan melahirkan tindakan secara kolektif yang diberi sebutan
nasional.1[1]
Pengertian Identitas Nasional pada hakikatnya adalah manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa (nasion) dengan ciri-ciri khas, dan dengan yang khas
tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.2[2] Identitas nasional merupakan
sesuatu yang terbuka untuk diberi makna baru agar tetap relevan dan fungsional dalam kondisi aktuall
yang berkembang dalam masyarakat.
Sedangkan Istilah identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu
bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain. Berdasarkan pengertian
yang demikian ini maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas sendidri-sendiri sesuai dengan
keunikan, sifat, cirri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut. Jadi Identitas nasional adalah sebuah
kesatuan yang terikat dengan wilayah dan selalu memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri),
kesamaan sejarah, sistim hukum/perundang undangan, hak dan kewajiban serta pembagian kerja
berdasarkan profesi.
Pengertian kepribadian suatu identitas sebenarnya pertama kali muncul dari pakar psikologi. Manusia
sebagai individu sulit dipahami jika terlepas dari manusia lainnya. Oleh karena itu manusia dalam
melakukan interaksi dengan individu lainnya senantiasa memiliki suatu sifat kebiasaan, tingkah laku,
serta karakter yang khas yang membedakan manusia tersebut dengan manusia lainnya.
Namun demikian pada umumnya pengertian atau istilah kepribadian sebagai suatu identitas adalah
keseluruhan atau totalitas dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang mendasari tingkah
laku individu. Tingkah laku tersebut terdidri atas kebiasaan,sikap, sifat-sifat serta karakter yang berada
pada seseorang sehingga seseorang tersebut berbeda dengan orang yang lainnya. Oleh karena itu
kepribadian adalah tercermin pada keseluruhan tingkah laku seseorang dalam hubungan dengan manusia
lain3[3].

1
2
3

Secara umum terdapat beberapa dimensi yang menjelaskan kekhasan suatu bangsa. Unsur-unsur itu
secara normatif berbentuk sebagai nilai, bahasa, adat istiadat dan letak geografis. Beberapa dimensi dalam
identitas nasional antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pola Perilaku, sebagai gambaran pola perilaku yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari,semisal
adat-istiadat, budaya dan kebiyasaan. Contohnya : ramah tamah, gotong royong, menghormati orang tua,
2. Lambang-lambang, yakni suatu yang mengambarkan tujuan dan fungsi negara, biasanya dinyatakan
dengan lagu kebangsaan, bendera, bahasa dan undang-undang.
3. Alat-alat perlengkapan, yaitu seperangkat alat yang di unakan untuk mencapai tujuan yang berupa
bangunan, peralatan dan teknologi contohnya: bangunan candi, masjid, dan gereja. Serta peralatan
manusia sperti pakaian adat teknologi bercocok tanam.
4. Tujuan yang ingin di capai. Identitas yang bersumber dari tujuan ini bersifat dinamis dan tidak tetap,
seperti budaya unggul, prestasi dalam bidang tertentu , dan tujuan bersama bangsa Indonesia yang telah
tertuang dalam UUD 1945, yakni kecerdasan, dan kesejahtraan bersama bangsa Indonesia. 4[4]

B.

UNSUR-UNSUR PEMBENTUKAN IDENTITAS NASIONAL

Salah satu Identitas bangsa Indonesia adalah dikenal sebagai sebuah bangsa yang majmuk. Kemajemukan
Indonesia dapat dilihat dari:
1.

Kebudayaan

Kebudayaan merupakan patokan nilai-nilai etika dan moral, baik yang tergolong sebagai ideal dan
operasional atau aktual di dalam kehidupan sehari-hari. Aspek kebudayaan yang menjadi unsur
pembentuk identitas nasional meliputi 3 unsur, yaitu : akal budi, peradapan, dan pengetahuan.
Akal budi indonesia dapat dilihat pada sikap ramah dan santun kepada sesama. Sedangkan, unsur
identitas peradapannya tercermin dari keberadaan dasar negarah pancasila sebagai nilai-nilai bersama
bangsa indonesia yang majmuk. Sebagai bangasa maritim, keandalan bangsa indonesia dalam pembuatan
kapal pinisi di masa lalu merupakan identitas pengetahuan bangsa indonesia lainnya yang tidak dimiliki
oleh bangsa lain di dunia. Dan masih ada ratusan bahkan ribuan kebudayaan yang membentuk identitas
masional.
2.

Suku Bangsa

Suku bangsa bersifat askriptif, yaitu ada sejak lahir, yaitu golongan sosial yang khusus. Tradisi bangsa
indonesia untuk hidup bersama dalam kemajmukan merupakan unsur lain yang harus terus dikembangkan
dan dibudayakan. Kemajemukan alami bangsa indonesia dapat dilihat pada keberadaan lebih dari ribuan
kelompok suku, beragam bahasa, dan ribuan kepulauan. Yang dimana penduduk indonesia sekitar 220
juta mempunyai 300 dialek bahasa.
4

3.

Agama

Keanekaragaman agama merupakan identitas lain dari kemajemukan alamiah indonesia. Dengan kata
lain, keragaman agama dan kenyakinan di indonesia tidak hanya dijamin oleh konsititusi negara, tapi juga
merupakan suatu rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang harus tetap dipelihara dan disyukuri bangsa
indnesia.
Masyarakat indonesia dikenal dengan masyarakat yang agamis. Di indonesia tumbuh beberapa agama, di
antaranya : Islam, Kristen protestan, katolik, Hindu, budha, kong hyu chu dll.
4.

Bahasa

Bahasa indonesia adalah salah satu identitas nasional indonesia yang penting. Sekalipun indonesia
memiliki ribuan bahasa daerah, kedudukan bahasa idonesia (bahasa yang digunakan bangsa melayu)
sebagai bahasa penghubung (lingua franca) berbagai kelompok etnis yang mendiami kepulauan
Nusantara memberikan nilai identitas tersendiri bagi bangsa indonesia. 5[5]
Peristiwa sumpah pemuda 28 Oktober 1928, telah menyatakan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan
bangsa indonesia, telah memberikan nilai tersendiri bagi pembentukan identitas nasional indonesia. Lebih
dari sekedar bahasa nasional, bahasa indonesia memiliki nilai tersendiri bagi bangsa indonesia ; ia telah
memberikan sumbangan besar pada pembenrukan persatuan dan nasionalisme indonesia.6[6]

C.

Nasionalisme di Indonesia

Dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi sesama manusia berubah


menjadi bentuk yang lebih kompleks dan rumit. Dimulai dari tumbuhnya kesadaran
untuk menentukan nasib sendiri di kalangan bangsa-bangsa yang tertindas
kolonialisme dunia (seperti Indonesia salah satunya), hingga melahirkan semangat
untuk mandiri dan bebas menentukan masa depannya sendiri.
Nasionalisme sendiri dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan dimana
kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa atas
nama sebuah bangsa. Nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan
bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial.7[7]
Dalam situasi perjuangan merebut kemerdekaan, dibutuhkan suatu konsep sebagai
dasar pembenaran rasional dari tuntutan terhadap penentuan nasib sendiri yang
dapat mengikat keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa. Dasar
pembenaran tersebut kemudian mengkristal dalam konsep paham ideologi

5
6
7

kebangsaan yang biasa disebut dengan nasionalisme. Dari sanalah kemudian lahir
konsep-konsep turunannya, seperti :

Bangsa (nation)

Negara (state)

Negara-bangsa (nation state)

Ketiganya merupakan komponen-komponen yang membentuk identitas nasional


atau kebangsaan. Para pengikut nasionalisme berkeyakinan bahwa persamaan citacita yang mereka miliki dapat diwujudkan dalam sebuah identitas atau kepentingan
bersama dalam bentuk sebuah wadah yang disebut bangsa (nation). Dengan
demikian bangsa merupakan suatu wadah atau badan yang didalamnya terhimpun
orang-orang yang memiliki persamaan keyakinan dan persamaan lain yang mereka
miliki seperti ras, etnis, agama, bahasa dan budaya.
Unsur persamaan yang mereka miliki dapat dijadikan sebagai identitas politik
bersama atau untuk menentukan tujuan bersama. Tujuan bersama ini direalisasikan
dalam bentuk sebuah organisasi politik yang dibangun berdasarkan geopolotik yang
terdiri atas populasi, geografis, dan pemerintahan yang permanen yang disebut
negara atau state.8[8]
Gabungan dari dua ide tentang bangsa (nation) dan negara (state) tersebut
mewujud dalam sebuah konsep tentang negara bangsa atau dikenal dengan nationstate dengan pengertian yang lebih luas dari sekedar sebuah negara. Yakni sebuah
bangsa yang memiliki bangunan politik (political building) seperti ketentuenketentuan perbatasan teritorial, pemerintahan yang sah, pengakuan luar negeri dan
sebagainya.

Sejarah Nasionalisme di Indonesia

Tumbuhnya paham nasionalisme atau paham kebangsaan Indonesia tidak bisa


dilepaskan dari situasi sosial politik dekade pertama abad ke-20. 9[9] Saat itu
semangat menentang kolonialisme Belanda mulai bermunculan di kalangan
pribumi. Cita-cita bersama untuk merebut kemerdekaan menjadi semangat umum
di kalangan tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk memformulasikan bentuk
nasionalisme yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Tokoh pergerakan
nasional sepakat tentang perlunya suatu konsep nasionalisme Indonesia merdeka,
tapi mereka berbeda dalam persoalan nilai atau watak nasionalisme Indonesia. Hal
yang patut disayangkan karena perdebatan panjang diantara mereka tentang
paham kebangsaan itu berakhir pada saling curiga dan sulit dipertemukan.

8
9

Secara garis besar terdapat tiga pemikiran besar tentang watak nasionalisme
Indonesia yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan yakni paham ke-islaman,
Marxisme dan Nasionalisme Indonesia. Para analis nasionalisme beranggapan
bahwa Islam memegang peran sangat penting dalam pembentukan nasionalisme
ini.Seperti yang diungkapkan oleh George Mc. Turnan bahwa Islam bukan saja
merupakan mata rantai yang mengikat tali persatuan melainkan juga merupakan
simbol persamaan nasib (in group) menentang penjajahan asng dan penindas yang
berasal dari agama lain.
Ikatan universal Islam dalam aksi kolektifnya diwakili oleh gerakan politik yang
dilakukan oleh Sarekat Islam (SI) yang dipimpin oleh H. Samanhoedi di Solo pada
1911 dan mengalami pasang surut pada pengujung 1920-an.
Paham marxisme pada mulanya berkembang diluar gerakan-gerakan kebangsaan
pribumi yakni Partai Nasional Hindia Belanda yang merupakan organisasi politik
Eropa-indonesia yang lahir pada tahun 1912 yang menyerukan kesetaraan ras,
keadilan sosial-ekonomi dan kemerdekaan yang didasarkan pada kerjasama EropaIndonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya, Soekarno mendirikan partai politik yang
mengembangkan paham ideologi politik yang berbeda dari ideologi pergerakan
sebelumnya.Organisasi tersebut didirikan pada tahun 1927 dengan nama Partai
Nasional Indonesia (PNI) dengan tujuan menyempurnakan kemerdekaan Indonesia
seperti partai lainnya. Gagasan dan semangat nasionalisme PNI mendapatkan
respon dan dukungan luas dari kalangan ntelektual muda didikan barat lainnya
seperti Syahrir dan Mohammad Hatta. Konsep nasionalisme Soekarno mendapat
kritikan dar kalangan Islam yang mengkhawatirkan faham nasionalisme Soekarno
dapat berkembang menjadi sikap fanatisme buta (ashabiyah) kepada tanah air.
Soekarno membantah tuduhan kalangan Islam terhadap gagasan nasionalismenya.
Dia juga meyakinkan pihak-pihak yang berseberangan pandangan bahwa kelompok
nasional dapat bekerja sam adengan kelompok manaun baik golongan Islam
maupun Marxis.10[10]
D. Konsep Intergrasi Nasional

Di Indonesia istilah integrasi masih sering disamakan dengan istilah pembauran atau asimilasi. Padahal
kedua istlah tersebut memiliki perbedaan. Integrasi diartikan dengan integrasi kebudayaan, integrasi
sosial, dan pluralisme sosial. Sementara pembauran dapat berarti asimilasi dan amalganasi.
Integrasi sosial adalah penyatupaduan dari kelompok-kelompok masyarakat yang asalnya berbeda,
menjadi suatu kelompok besar dengan cara melenyapkan perbedaan dan jati diri masing-masing. Dalam
arti ini, integrasi sosial sama artinya dengan asimilasi atau pembauran 11[11].
10

Pluralisme kebudayaan adalah pendekatan heterogenis atau kebhennekaan kebudayaan, dengan


kebudayaan suku-suku bangsa dan kelompok-kelompok minoritas diperkenankan mempertahankan
jatidiri mereka masing-masing dalam suatu masyarakat
Sementara yang dimaksud dengan Integrasi Nasional adalah penyatuan bagianbagian yang berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih
utuh atau memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya
menjadi suatu bangsa. Selain itu dapat pula diartikan bahwa integrasi bangsa
merupakan kemampuan pemerintah yang semakin meningkat untuk menerapkan
kekuasaannya di seluruh wilayah 12[12]
Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan multidimensional.
Untuk mewujudkannya diperlukan keadilan kebijakan yang diterapkan oleh
pemerintah dengan tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa dan sebagainya.
Dengan demikian upaya integrasi nasional dengan strategi yang mantap perlu terus
dilakukan agar terwujud integrasi bangsa Indonesia yang diinginkan. 13[13]

E.

Konsep Pluralisme dan Wawasan Kebangsaan di Indonesia

Kata pluralisme berasal dari kata plural yang berarti banyak, beragam, dan
jamak . Sesuai dengan namanya indonesia terbentuk dari berbagai suku bangsa
yang memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda-beda, agama yang beda dan
bahasa yang berbeda pula disatukan dalam suatu idealisme yang sama yaitu untuk
memakmurkan hidup bersama di negara indonesia yang tercinta ini .
Pluralisme mungkin merupakan kebijakan budaya yang paling tepat.Dalam
pancasila disebutkan Persatuan Indonesia bukan kesatuan Indonesia.Pluralisme
berarti bahwa semua daerah,semua tradisi,dan semua kebudayaan patut
dilestarikan dan dikembangkan14[14].
Untuk mewujudkan suatu idealisme dalam negara Indonesia yang terdiri dari
berbagai suku bangsa seperti suku bangsa Indonesia, Eropa, Arab, Tionghoa, India
dan masih banyak lagi, maka mutlak di butuhkan suatu konsep pluralisme agar
tidak memihak pada suatu golongan saja. Konsep pluralisme tersebut antara lain :

11
12
13
14

Bhineka Tunggal Ika

Undang-Undang Dasar

Lembaga-Lembaga Konsitusi

Dengan dibentuknya konsep pluralisme tersebut . Bisa menurunkan rasa ego


masing-masing suku bangsa, sehingga apa yang kita cita-citakan bersama akan
terwujud .

KESIMPULAN
Identitas Nasional merupakan ungkapan nilai-nilai budaya suatu bangsa yang
bersifat khas dan membedakannya dengan bangsa lain. Warga negara yang
mengerti akan identitas nasional bangsanya akan memilki rasa nasionalisme yang
tinggi terhadap ciri khas bangsanya.
Nasionalisme sendiri adalah sebuah situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang
secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa.
Dari nasionalisme lahirlah konsep-konsep turunannya seperti bangsa (nation),
negara (state), dan negara-bangsa (nation state). Unsurunsur yang membentuk
nasionalisme adalah Kebudayaan, Suku Bangsa, Agama,Bahasa.

Integrasi diartikan dengan integrasi kebudayaan, integrasi sosial, dan pluralisme


sosial. Integrasi sosial adalah penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari suatu
masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan
masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Dapat
pula diartikan bahwa integrasi bangsa merupakan kemampuan pemerintah yang
semakin meningkat untuk menerapkan kekuasaannya di seluruh wilayah.

15

[1] Herdiawanto,2010.Cerdas, Kritis, Aktif Berwarganegara, 33

16

[2] Wibisono koenta, 2005:23

17

[3] Ismaun, Pancasila Sebagai kepribadian bangsa Indonesia (Bandung:cahayssa Remaja,1991),5

18

[4] Tim ICCE UIN Jakarta,pendidikan kewargaan(Jakarta prenada media, 2005),98.

19

[5] Tim ICCE UIN Jakarta,pendidikan kewargaan(Jakarta prenada media, 2005),29

20

[6] Minto Rahayu, 2007: 67

21

[7] Herdiawanto,2010.Cerdas, Kritis, Aktif Berwarganegara, 39

15
16
17
18
19
20
21

22

[8] Herdiawanto,2010.Cerdas, Kritis, Aktif Berwarganegara, 39

23

[9] Tim ICCE UIN Jakarta,pendidikan kewargaan(Jakarta prenada media, 2005),25

24

[10] Tim ICCE UIN Jakarta,pendidikan kewargaan(Jakarta prenada media, 2005),26-28

25

[11] Tim ICCE UIN Jakarta,pendidikan kewargaan(Jakarta prenada media, 2005),35

26

[12] Mahfud MD.1993: 71

27

[13] Mahfud MD.1993: 70

28

[14] Kuntowijoyo Bandung,Identitas Politik Umat Islam,1997:157

22
23
24
25
26
27
28