Anda di halaman 1dari 21

MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH

MAKALAH BLOK PRODUKTIF


MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH

Disusun oleh:
Eka rini mahmudah (10)
Eri ermawati (11)
Ida rahayu (14)
Krismono ardiyanto (16)
Mariyati(19)
Tri meilani (31)
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Panjatan
2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian minyak atsiri


Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah menguap dan banyak digunakan
dalam industri sebagai pemberi aroma dan rasa. Nilai jual dari minyak atsiri sangat
ditentukan oleh kualitas minyak dan kadar komponen utamanya. Minyak atsiri di
Indonesia sebagian besar masih diusahakan oleh masyarakat awam, sehingga
minyak yang dihasilkan tidak memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.
Kualitas atau mutu minyak atsiri ditentukan oleh karakteristik alamiah dari masingmasing minyak tersebut dan bahan-bahan asing yang tercampur di dalamnya.
Adanya bahan-bahan asing tersebut dengan sendirinya akan merusak mutu minyak

atsiri yang bersangkutan. Bila tidak memenuhi persyaratan mutu, maka nilai jual
minyak tersebut akan jauh lebih murah.
Untuk meningkatkan kualitas minyak dan nilai jualnya, bisa dilakukan dengan
beberapa proses pemurnian baik secara fisika ataupun kimia. Dari beberapa hasil
penelitian menunjukkan bahwa proses pemurnian bisa meningkatkan kualitas
minyak tersebut, terutama dalam hal warna, sifat fisikokimia dan kadar komponen
utamanya. Proses pemurnian yang akan dibahas adalah untuk pemurnian minyak
nilam, akar wangi, kenanga dan daun cengkeh. Dari proses pemurnian bisa
dihasilkan minyak yang lebih cerah dan karakteriknya memenuhi persyaratan mutu
standar.
Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor minyak atsiri, seperti minyak
nilam, sereh wangi yang dikenal sebagai Java cittronellal oil, akar wangi, pala,
kenanga, daun cengkeh, dan cendana. Beberapa daerah produksi minyak atsiri
adalah daerah Jawa Barat (sereh wangi, akar wangi, daun cengkeh, pala), Jawa
Timur (kenanga, daun cengkeh), Jawa Tengah (daun cengkeh, nilam), Bengkulu
(nilam), Aceh (nilam, pala), Nias, Tapanuli, dan Sumatera Barat (Manurung, 2003).
Teknik penyulingan minyak atsiri yang selama ini diusahakan para petani, masih
dilakukan secara sederhana dan belum menggunakan teknik penyulingan secara
baik dan benar. Selain itu, penanganan hasil setelah produksi belum dilakukan
secara maksimal, seperti pemisahan minyak setelah penyulingan, wadah yang
digunakan, penyimpanan yang tidak benar, maka akan terjadi proses-proses yang
tidak diinginkan, yaitu oksidasi, hidrolisa ataupun polimerisasi. Biasanya minyak
yang dihasilkan akan terlihat lebih gelap dan berwarna kehitaman atau sedikit
kehijauan akibat kontaminasi dari logam Fe dan Cu. Hal ini akan berpengaruh
terhadap sifat fisika kimia minyak. Untuk itu, proses penyulingan minyak yang baik
dan benar perlu diketahui secara lebih rinci, sehingga minyak yang dihasilkan dapat
memenuhi persyaratan mutu yang ada.
Kualitas atau mutu minyak atsiri ditentukan oleh karakteristik alamiah dari masingmasing minyak tersebut dan bahan-bahan asing yang tercampur di dalamnya;
adanya bahan-bahan asing akan merusak mutu minyak atsiri. Komponen standar
mutu minyak atsiri ditentukan oleh kualitas dari minyak itu sendiri dan
kemurniannya. Kemurnian minyak bisa diperiksa dengan penetapan kelarutan uji
lemak dan mineral. Selain itu, faktor yang menentukan mutu adalah sifat-sifat
fisika-kimia minyak, seperti bilangan asam, bilangan ester dan komponen utama
minyak, dan membandingkannya dengan standar mutu perdagangan yang ada. Bila
nilainya tidak memenuhi berarti minyak telah terkontaminasi, adanya pemalsuan
atau minyak atsiri tersebut dikatakan bermutu rendah. Faktor lain yang berperan
dalam mutu minyak atsiri adalah jenis tanaman, umur panen, perlakuan bahan
sebelum penyulingan, jenis peralatan yang digunakan dan kondisi prosesnya,
perlakuan minyak setelah penyulingan, kemasan dan penyimpanan.

B. Potensi minyak atsiri


Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman aromatik merupakan komoditas ekspor
non migas yang dibutuhkan diberbagai industri seperti dalam industri parfum,
kosmetika, industri farmasi/obat-obatan, industri makanan dan minuman. Dalam
dunia perdagangan, komoditas ini dipandang punya peran strategis dalam
menghasilkan produk primer maupun sekunder, baik untuk kebutuhan domestik
maupun ekspor. Komoditas ini masih tetap eksis walaupun selalu terjadi fluktuasi
harga, namun baik petani maupun produsen masih diuntungkan.
Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar sebagai salah satu negara
penghasil minyak atsiri. Dari 70 tanaman penghasil penghasil minyak atsiri yang
ada di dunia, sekitar 40 jenis diantaranya dapat diproduksi di Indonesia karena
tanaman penghasilnya dapat dibudidayakan dengan pertumbuhan yang cukup baik.
Namun pada kenyataannya sampai dengan tahun 1993 baru tercatat sekitar 14
jenis minyak atsiri Indonesia yang cukup nyata peranannya sebagai komoditi
ekspor. Bidang penggunaan minyak atsiri sangat luas, antara lain dalam industri
kosmetik, penyedap makanan, parfum, farmasi dan obat-obatan, bahkan digunakan
pula sebagai insektisida.
Sebagian besar minyak atsiri yang diproduksi oleh petani diekspor, pangsa pasar
beberapa komoditas aromatik seperti nilam (64%), kenanga (67%), akar wangi
(26%), serai wangi (12%), pala (72%), cengkeh (63%), jahe (0,4%) dan lada (0,9%)
dari ekspor dunia (Ditjenbun 2004; FAO, 2004). Selain mengekspor, Indonesia juga
mengimpor minyak atsiri pada tahun 2002, volume impor mencapai 33.184 ton
dengan nilai US$ 564 juta, serta hasil olahannya (derivat, isolat dan formula) yang
jumlahnya mencapai US$ 117.199-165.033 juta tiap tahun. Diantara minyak atsiri
yang diimpor, terdapat tanaman yang sebenarnya dapat diproduksi di Indonesia
seperti menthol (Mentha arvensis) dan minyak anis (Clausena anisata). Oleh sebab
itu keanekaragaman minyak atsiri Indonesia yang bertujuan untuk ekspor maupun
berfungsi sebagai substitusi impor harus ditingkatkan.

C. Produsen Minyak Cengkeh di Indonesia


PT.Indesso Aroma, merupakan pemain dunia di industri pewangi berbasis minyak
cengkeh (flavor dan flagrance) dan turunannya. Dari 3.500 ton total produksi
minyak cengkeh dunia, 2.500 ton-nya diproduksi dan dipasok oleh PT.Indesso. Tahun
2008, PT. Indesso mengekspor 1.900 ton minyak cengkeh dan turunannya. Tujuan
ekspor terbesar saat ini adalah AS dan negara-negara Eropa, dan belakangan mulai
masuk ke pasar Cina, India dan negara-negara Amerika latin. Pada tahun 2006, PT.
Indesso mempunyai satu unit distilasi (1000 L/ batch) dan tiga unit Fraksinasi (dua
@ 2000 L/batch dan satu 600 L/batch), sehingga pabrik ini mampu menghasilkan

minyak cengkeh sebesar 100 150 ton/bulan, atau sekitar 2 3 ton per hari. Angka
ini membuat perusahaan yang terletak di Banyumas, Jawa Tengah, sebagai
produsen minyak cengkeh terbesar di dunia. Di pasar dunia, harga minyak cengkeh
cukup fluktuatif, pada kisaran Rp 110.000 170.000 per kg.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Minyak Atsiri Daun Cengkeh

Minyak daun cengkeh adalah minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan daun
dan ranting tanaman cengkeh. Minyak daun cengkeh hasil penyulingan rakyat
seringkali berwarna hitam kecoklatan dan kotor, sehingga untuk meningkatkan nilai
jual dari minyak tersebut, perlu dilakukan pemurnian. Dari beberapa hasil
pemurnian menunjukkan bahwa minyak dapat dimurnikan dengan metoda adsorpsi
dan pengkelatan. Komponen minyak daun cengkeh dapat dibagi menjadi dua
kelompok. Kelompok pertama adalah senyawa fenolat dengan eugenol sebagai
komponen terbesar. Kelompok kedua adalah senyawa non fenolat yaitu kariofeilen, -kubeben, -kopaen, humulen, - kadien, dan kadina 1,3,5 trien
dengan -kariofeilen sebagai komponen terbesar. Eugenol mempunyai flavor yang
kuat dengan rasa yang sangat pedas dan panas (Sastrohamidjojo, 2002).
Pada proses pemurnian minyak daun cengkeh dengan bentonit 1 sampai 10 %
diketahui bahwa dengan peningkatan konsentrasi bentonit terjadi peningkatan
kejernihan, kecerahan dan warna minyak. Peningkatan kejernihan terjadi karena
bentonit sifatnya mudah menyerap air dan logam, sehingga dengan berkurangnya
air dan logam yang terikat dalam minyak menyebabkan minyak menjadi jernih.
Pemurnian secara pengkelatan dengan asam sitrat 0,6 % juga menunjukkan hasil
yang sama
Populasi Cengkeh, bila di daerah Jawa banyak terdapat di Garut, Trenggalek,
Pacitan, Malang, dan di lereng Gunung Lawu. Sementara di luar jawa, Sulawesi
Selatan kabarnya juga daerah dengan populasi yang cukup banyak, namun belum
termanfaatkan minyak daunnya. Dan yang sudah terkenal dari dahulu kala, Maluku
dan Maluku Utara, sebagai daerah tujuan pencarian rempah-rempah, termasuk
cengkeh. Di Aceh juga banyak dijumpai tanaman ini. Adapun di negara lain,
Zanzibar adalah salah satu ikon cengkeh dunia. Adapun tujuan pemasaran, daerah
yang banyak membutuhkan ditilik dari permintaan melalui situs Alibaba.com, India
adalah konsumen yang senantiasa memerlukan dalam jumlah besar dan kontinyu.

Produk akhir berupa minyak cengkeh, di apotek, dilihat juga sudah mulai ada yang
memasarkan produk ini, termasuk salah satu produsen minyak-minyakan yang
biasanya menjadi ikon minyak angin dan minyak telon.
B.

Potensi Minyak Cengkeh di Indonesia

Menurut data statistik FAO, Indonesia memiliki luas areal tanaman cengkeh terluas
di dunia, yaitu sekitar 241.800 ha atau lebih dari 70% luas areal tanaman cengkeh
di dunia. Indonesia juga merupakan penghasil minyak cengkeh terbesar di dunia.
Industri minyak daun cengkeh tidak saja memproduksi minyak daun cengkeh
sebagai komoditas ekspor yang menghasilkan devisa, tetapi juga menyerap tenaga
kerja hal ini dikarenakan besarnya permintaan dari dalam maupun luar negeri.
Sentra produksi minyak cengkeh terdapat di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur,
Sumatra Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan. Produksi minyak cengkeh Indonesia pada
tahun 2007 sekitar 2.500 ton dengan perkiraan pemakaian dunia sekitar 3.500 ton /
tahun. Walaupun demikian volume ekspor minyak cengkeh sangat kecil, karena
sebagian besar minyak cengkeh sudah diolah menjadi produk turunannya sehingga
yang diekspor lebih banyak pada produk turunannya, seperti eugenol, eugenol
asetat, dan lain-lain.
Tanaman cengkeh memiliki kandungan minyak atsiri dengan jumlah cukup besar,
baik dalam bunga (10-20%), tangkai (5-10%) maupun daun (1-4%). Dari ketiga
bagian tersebut yang paling ekonomis adalah ekstrak bagian daunnya. Oleh karena
itu jenis minyak cengkeh yang umum diperjualbelikan adalah minyak daun cengkeh
( clove leaf oil ). Kandungan utama minyak atsiri bunga cengkeh adalah eugenol
(70-80%). Eugenol adalah komponen utama minyak cengkeh berupa cairan tidak
berwarna, beraroma khas, dan mempunyai rasa pedas yang banyak dimanfaatkan
dalam industri fragrance dan flavor karena memiliki aroma yang khas dan industri
farmasi karena bersifat antiseptik.
Minyak daun cengkeh Indonesia sudah dikenal di pasar dunia sejak tahun 1970,
sedangkan minyak tangkai dan bunga cengkeh mulai tahun 1992 masuk pasaran
dunia. Sebagai bahan obat, cengkeh telah lama digunakan terutama untuk
kesehatan gigi, yaitu eugenol murni sebagai obat gigi. Disamping itu dapat dipakai
sebagai bahan baku obat kumur, dan industri pasta gigi. Dalam hal ini digunakan
minyak cengkeh karena mengandung eugenol yang bersifat antiseptik. Dalam
industri makanan cengkeh digunakan dalam bentuk bubuk atau produk hasil
ekstraksi dari bunga cengkeh seperti minyak cengkeh atau oleoresin.

C.

Bahan Baku (Raw material)

Pilih bahan baku yang jelas mempunyai randemen minyak tinggi. Pengukuran
rendemen minyak dilakukan di laboratorium atau bisa juga dilakukan sendiri dengan
alat Stahl Distillation. Sebelum disuling bahan baku harus dirajang dahulu untuk
mempermudah keluarnya minyak yang berada di ruang antar sel dalam jaringan
tanaman.
Tentukan juga perlakuan awal raw material, apakah bahan basah, layu atau kering.
Ini sangat penting karena setiap bahan baku memerlukan penenangan yang
berbeda. Sebagai contoh perlakuan nilam sebaiknya dalam keadaan kering dengan
kadar air antara 22-25%. Jika yang masuk ketel adalah nilam basah membutuhkan
waktu destilasi lebih lama, akibatnya cost produksi menjadi lebih besar.
Bahan baku utama yang digunakan pada minyak daun cengkeh adalah daun
cengkeh kering yang sudah gugur. Ini menyebabkan usaha minyak daun cengkeh
bersifat musiman karena sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku. Pada
musim kemarau ketersediaan bahan baku melimpah dan sebaliknya pada musim
penghujan terjadi kekurangan suplai bahan baku. Beberapa pengusaha pengolahan
minyak daun cengkeh mengantisipasinya dengan menyimpan sebagian hasil
produksinya untuk dijual pada saat mereka tidak dapat melakukan proses produksi
dengan harga yang lebih baik. Pada umumnya, proses produksi dapat dilakukan 5-6
bulan dalam satu tahun.

D.

Alat-alat Distilasi

Untuk mendapatkan produk minyak atsiri yang berkualitas, gunakan alat yang tidak
bereaksi/menimbulkan kontaminasi terhadap produk minyak. Material yang baik
adalah dengan glass/pyrex dan stainless steel. Untuk material glass hanya mampu
untuk skala laboratorium, sedang skala industri biasa digunakan stainless steel.
Jenis material stainlees steel mulai dari yang paling bagus antara lain :
1. Material Pharmaceutical Grade (SUS 316)
2. Material Food Grade (SUS 314)
3. Material Mild Mild Steel Galvanized
4. Material Mild Steel
Untuk keperluan destilasi minyak atsiri biasa digunakan material food grade.
Perlu diperhatikan juga penggunaan jacket ketel atau sekat kalor jika proses
penyulingan berada didaerah dingin seperti di pengunungan, ini dimaksudkan agar
mengurangi kehilangan kalor panas.

Jangan lupa dipasang juga accessories control dan safety device yang minimal
berupa thermometer, manometer tekanan (pressure gauge) dan safety valve untuk
alat destilasi yang menggunakan boiler.

a.

Condensor (Pendingin)

Alat ini digunakan untuk kondensasi (mengembunkan) uap yang keluar dari ketel.
Prinsip kerja alat adalah merubah fase uap menjadi fase cair karena pertukaran
kalor pada pipa pendingin. Pada alat berskala laboratorium bisa menggunakan
condensor lurus (liebig), sedang untuk skala industri harus menggunakan kondensor
yang lebih besar. Kondensor untuk skala produksi berbahan stainless dalam bentuk
pipa spiral agar kontak dengan air pendingin lebih lama dan area perpindahan kalor
juga lebih panjang.

b.

Separator (Pemisah Minyak)

Alat ini berfungsi untuk memisahkan minyak atsiri dengan air berdasarkan
perbedaan berat jenis. Separator untuk alat suling sistem kukus kohobasi tersedia 2
macam yaitu untuk minyak dengan density (massa jenis) rendah dan minyak
density tinggi.

c.

Receiver Tank (Tangki Penampung)

Digunakan untuk menampung minyak atsiri, bisa dari bahan glass atau stainless
steel. Untuk bahan glass, gunakan botol gelap agar minyak terhindar dari masuknya
sinar matahari langsung sehingga tidak menurunkan grade minyak.
d.

Manometer (pressure gauge)/ pengukur tekanan

e.

Termometer/ penunjuk suhu

f.

Safety valve/Pengaman

g.

Ketel uap

h.

Ketel penyulingan

i.

Keranjang bahan

j.

Alat pendingin

k.

Dan assesories lainnya

E.

Proses Produksi Minyak Cengkeh


1. Proses Pembuatan Minyak Atsiri Cengkeh

Persiapan Ketel Suling

Sebelum ketel digunakan, sisa air bekas penyulingan sebelumnya harus dibuang,
karena air tersebut mengandung garam dan komponen hasil degradasi yang dapat
mencemari mutu minyak yang dihasilkan.
Pengisian Daun ke dalam Ketel Suling
Daun kering tidak perlu dirajang, dapat langsung dimasukkan ke dalamketel
suling.Pengisian dilakukan secara bertahap dan diinjak-injak/ditekanuntuk
meningkatkan kepadatan daun dalam ketel. Kepadatan optimum daun cengkeh
kering didalam ketel sekitar 70-80 gram/liter.
Proses Penyulingan
Lama penyulingan daun cengkeh basah sekitar 7-8 jam, dan penyulingan daun
kering sekitar 6-7 jam. Penggunaan tekanan bertahap mulai dari 1bar sampai 2 bar,
dapat mempersingkat lama penyulingan menjadi 4-5 jam. Rendemen minyak daun
cengkeh yang dihasilkan sekitar 2,0-2,5%.
Pendinginan (Kondensasi) Uap
Pendinginan dilakukan dengan unit pendingin (kondensor) berupa pipa pendingin
model multi tubular atau spiral yang dipasang dalam tabung atau direndam dalam
bak air pendingin. Aliran air pendingin dibuat berlawanan arah (counter flow)
dengan arah aliran uap di dalam pipa. Tujuannya adalah agar distilat pada saat
akan keluar dari pipa pendingin, telah terkondensasi sempurna.
Pemisahan minyak dari air destilat
Suhu destilat yang mengalir keluar tabung kondensor diusahakansama/mendekati
suhu air pendingin yang masuk (maks 30oC). Pemisahan minyak dilakukan pada
prinsipnya berdasarkan perbedaan BJ (Berat Jenis)antara air dengan minyak. Jika BJ
minyak <1, maka minyak akan berada diatas permukaan air, sementara untuk
BJ>1, minyak akan mengendap di bagian bawah unit pemisah minyak, dan air
berada dia atasnya
Penyaringan Minyak
Minyak yang dihasilkan masih terlihat keruh karena masih mengandung sejumlah
kecil air dan kotoran yang terdispersi dalam minyak . Air tersebut perlu dipisahkan
dengan menyaring minyak menggunakan kain teflon/sablonatau dapat dilakukan

dengan menambahkan Natrium Sulfat Anhidrida(Na2SO4) sebagai pengikat air


sebanyak 1%, selanjutnya diaduk dan disaring.
Pemucatan Minyak Cengkeh
Jika minyak yang dihasilkan masih berwarna kuning coklat/coklat gelap, biasanya
mengandung logam besi yang berasal dari ketel suling dan alat penampung minyak
yang terbuat dari besi. Jika diinginkan minyak cengkeh berwarna kuning pucat, dan
bebas dari logam besi, dapat dilakukan dengan 2cara pemucatan yaitu :
1) Redestilasi minyak daun cengkeh pada kondisi vakum;
2) pemucatan dengan penambahan chelating agent (bahan pengkelat)seperti asam
sitrat dan asam tartarat.

F.

Standar Mutu

Standar merupakan dokumen yang sangat penting dalam menentukan kualitas


suatu bahan dengan persyaratan tertentu, yang meliputi persyaratan spesifikasi,
prosedur dan aturan yang bersifat dinamis, sehingga perlu dikelola secara
profesional dengan memperhatikan kebutuhan pengguna serta perkembangan
teknologinya. Bila tidak memenuhi aturan tersebut, maka dapat menimbulkan
masalah sosial seperti menurunkan persaingan akibat adanya hambatan dalam
menembus pasar serta tidak cukupnya proteksi terhadap pengguna dan
perlindungan lingkungan. Sebaliknya, apabila standar dirumuskan berdasarkan
acuan ke standar-standar nasional yang telah diakui serta ke standar internasional
yang merefleksikan persyaratan pasar dunia dan tidak sekedar pada kondisi khusus
untuk pasar dalam negeri, maka standar dapat membantu proses perencanaan,
mendukung pembuatan dan penjualan barang dan jasa dengan lebih mudah baik di
pasar domestik dan pasar bebas.
Persyaratan standar mutu minyak atsiri menggunakan batasan atau kriteria-kriteria
tertentu. Biasanya dalam karakteristik mutu dicantumkan sifat khas minyak atsiri
sesuai dengan bahan asalnya atau karakteristik ilmiah dari masing-masing minyak
tersebut.Dari sifat fisika kita akan mengetahui keasliannya, sedangkan sifat kimia,
meliputi komponen kimia pendukung minyak secara umum bisa diketahui, terutama
komponen utamanya. Adanya bahan-bahan asing yang tercampur dengan
sendirinya akan merusak mutu minyak tersebut. Oleh karena itu, cara-cara
sederhana tetapi teliti sangat diperlukan untuk mendeteksi adanya bahan-bahan
asing, baik secara kualitatif ataupun kuantitatif. Bahkan persyaratan tertentu seperti
komponen utama minyak atsiri perlu dicantumkan dalam upaya menghindari
pemalsuan (Pardede, 2003). Contoh standar yang digunakan dalam perdagangan
minyak daun cengkeh.
SNI : 06-4267-1996 Minyak Cengkeh (Clove Oil)

Parameter Mutu Minyak Cengkeh

Karakteristik

Warna

Tak berwarna/ kuning muda

Berat Jenis ( 25C)

1,030 1,060 g/ml

Indek Bias

1,527-1,535

Putaran Optik

0-135

Kelarutan dalam Etanol

1:2

Eugenol Total (b/b)

80-95 %

Faktor yang berpengaruh terhadap kualitas minyak yang disuling adalah waktu
penyulingan, suhu, dan tekanan uap, serta kualitas mesin yangdigunakan. Minyak
atsiri merupakan produk yang sangat komplek. Minyak atsiridapat diproduksi sangat
banyak dari tanaman maupun akar-akaran, ratusan ikatankimia yang ada pada
minyak atsiri dapat membawa aroma dan dapat digunakansebagai obat-obatan.
Beberapa molekul yang terkandung pada minyak atsiri dapatrusak karena kondisi
lingkungan maupun proses pengolahan dengan suhu yangsangat tinggi.Suhu dan
tekanan yang tinggi sering digunakan untuk produksiminyak atsiri dengan skala
besar, yang membutuhkan waktu yang pendek,biasanya minyak yang diproduksi
digunakan sebagai industri kosmetik, maupunbahan tambahan makanan, namun
kadang ada yang dijual dalam bentuk minyak atsiri, dengan harga yang cukup
murah jika dibandingkan dengan minyak atsiriyang diolah menjadi produk lain
seperti parfum (Cech 2007).

G.

Pemasaran

Aspek pemasaran
Pemasaran minyak daun cengkeh dapat melalui para pedagang pengumpul maupun
langsung ke pihak produsen barang jadi yang membutuhkan. Namun pada
umumnya jalur penjualan ke pedagang pengumpul relatif lebih mudah. Harga yang
ada di pasar perdagangan minyak daun cengkeh dalam negeri juga relatif stabil.
Harga
Harga minyak daun cengkeh relatif stabil pada tahun 2002 dan 2003. Pada awal
tahun 2002 harga minyak daun cengkeh mencapai Rp 29.500,- dan pada tahun

2003 berfluktuasi antara Rp 23.000,- sampai Rp 25.000,- per kilogram. Harga


tersebut juga cenderung stabil hingga memasuki tahun 2004. Fluktuasi harga
minyak daun cengkeh sedikit banyak juga dipengaruhi oleh fluktuasi nilai rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat. Pada saat krisis tahun 1997, harga minyak daun
cengkeh bisa mencapai Rp 57.000,- per kilogram (data primer). Berdasarkan data
primer lapangan yang diperoleh, para pengusaha minyak daun cengkeh
memperkirakan harga untuk kondisi breakeven point (BEP) atau impas adalah
sekitar Rp 20.000,- per kilogram. Dengan melihat selisih harga pada kondisi BEP
dengan harga jual di pasar, maka usaha ini cukup menjanjikan.
Jalur Pemasaran
Secara umum, jalur pemasaran minyak daun cengkeh tidak berbeda dengan
komoditi pertanian lainnya. Di pemasaran dalam negeri, produsen menjual produk
ke pedagang pengumpul atau agen eksportir. Barulah kemudian produk tersebut
sampai ke tangan eksportir. Seperti telah disebutkan sebelumnya, sebagian besar
perdagangan minyak daun cengkeh adalah untuk ekspor.
Pada praktiknya, keadaan pasar sering dipengaruhi oleh orang yang pertama kali
melakukan proses transaksi. Ada beberapa situasi pemasaran yang terjadi.
Pertama, pihak produsen langsung menjual produk ke tengkulak, pedagang
perantara, atau agen eksportir. Dalam hal ini, produsen memiliki posisi tawar yang
lemah. Harga lebih banyak dipengaruhi oleh pembeli. Situasi kedua, pihak pembeli
yang mencari produsen. Pada situasi ini, produsen dapat memperoleh harga yang
relatif lebih baik. Hal ini seringkali terjadi, terbukti dengan adanya pemesanan
dengan uang muka terlebih dahulu oleh pembeli kepada produsen sementara
minyak daun cengkeh masih pada proses produksi.
Jalur pemasaran minyak daun cengkeh dari pengusaha pengolahan sebagian besar
ditampung terlebih dahulu oleh para pengumpul. Dari survai di wilayah Kulon Progo,
setidaknya ada tiga perusahaan pengumpul yang cukup besar, yaitu PT Djasula
Wangi di Solo, CV Indaroma di Yogyakarta, dan PT Prodexco di Semarang.
Untuk jalur pemasaran luar negeri ada beberapa pihak yang mungkin terlibat, yaitu
pemakai (end-user), broker murni, broker merangkap trader, dan pedagang (trader).
Jalur perdagangan minyak daun cengkeh dapat digambarkan sebagaimana terdapat
pada Gambar 1. Pemasaran tersebut juga dapat menjadi lebih pendek. Produsen
menjual minyak daun cengkeh pada pedagang kecil dan pedagang besar dan kedua
jenis pedagang tersebut langsung menjualnya pada eksportir, seperti ditunjukkan
pada
Kendala Pemasaran
Kendala pemasaran yang utama pada minyak daun cengkeh ini adalah mata rantai
perdagangan yang cukup panjang. Para pengusaha pengolahan minyak daun
cengkeh masih mengalami kesulitan untuk memasok langsung ke eksportir atau

end-user. Akibat panjangnya rantai perdagangan ini adalah ketidakseragaman mutu


yang ditetapkan. Faktor yang harus diperhatikan
dalam upaya pemasaran minyak daun cengkeh, terutama untuk tujuan ekspor
adalah dengan memperhatikan kualitas, harga yang kompetitif dan
keberlangsungan produksi. Secara umum, kendala pemasaran minyak daun
cengkeh disebabkan oleh tiga hal, yaitu:
1. mutu yang rendah karena sifat usaha penyulingan minyak daun cengkeh yang
umumnya berbentuk usaha kecil dengan berbagai keterbatasan modal dan
teknologi,
2. pemasaran dalam negeri masih bersifat buyer market (harga ditentukan pembeli)
karena lemahnya posisi tawar pengusaha pengolah, dan
3. harga yang berfluktuasi (dalam dan luar negeri) akibat tidak terkendalinya
produksi dalam negeri dan persaingan negara sesame produsen. Secara umum,
jalur pemasaran minyak daun cengkeh tidak berbeda dengan komoditi pertanian
lainnya. Di pemasaran dalam negeri, produsen menjual produk ke pedagang
pengumpul atau agen eksportir. Barulah kemudian produk tersebut sampai ke
tangan eksportir.

H. Khasiat Minyak Atsiri Daun Cengkeh


1. Obat sakit gigi yang mujarab
Oleh dokter gigi, eugenol yang diencerkan dengan alkohol (kadar di kisaran 1020%) dijadikan obat standar untuk sakit gigi. Bila anda membaca indeks komposisi
obat gigi, bahan aktifnya adalah eugenol. Bila langsung menggunakan minyak
cengkeh, efek penyembuhannya juga sama, tetapi sangat pahit dan panas, terlebih
masuk ke dalam rongga mulut, terkena lidah dan gusi. Kalaupun terpaksa
menggunakan minyak cengkeh murni, sebaiknya menggunakan secuil kapas yg
dibasahi sedikit saja dengan minyak cengkeh. Meski pahit dan pedas, masih bisa
ditahan.
2. Obat Luka Berdarah
Luka berdarah yang masih baru atau sudah lama, sangat cocok diberi minyak
cengkeh. 15 menit pertama, memang rasanya sangat panas, hampir 5 kali
dibandingkan Rheumason. Namun, bila diolesi minyak cengkeh, efek
penyucihamaan (desinfektan), perangsangan penutupan luka dan pembentukan
jaringan baru sangat-sangat cepat dibandingkan dengan obat lain. Saya berkali-kali
membuktikan hal ini. Dari luka yang saya sengaja (kutil/caplak), hingga yang tidak
sengaja. Pernah ketika naik kereta api Gumarang Jakarta-Surabaya, di Bekasi Timur
kereta dilempar batu dari luar. Kaca pun hancur berantakan, dan pecahannya

beberapa mengenai leher saya. Alhamdulillah karena saat itu saya membawa
minyak, langsung saya olesi ke luka tersebut. Dalam 10 menit luka sudah berhenti
mengalirkan darah, dan dalam sehari Alhamdulillah sudah hampir pulih. Orang lain
juga demikian halnya. Di daerah Fatmawati, ketika ada insiden kecil, yakni spion bus
pecah dan mengenai salah satu penumpang hingga terluka. Penumpang tersebut
segera saya olesi minyak, dan Alhamdulillah pendarahan berhenti dan luka
mengering.
3. Obat Luka Bernanah
Pertama kali saya membuktikan, adalah seorang famili yang sudah tiga hari luka
bernanah di bagian jari tangan. Luka ini disebabkan bacokan arit / parang manakala
sedang membelah kayu. Kondisinya cukup memprihatinkan, selain bernanah,
selama tiga malam juga tidak bisa tidur nyenyak karena nyeri dan nyut-nyutan di
jarinya. Sore hari ketika bertemu saya, langsung saya celupkan jarinya ke minyak
cengkeh, sehingga seluruh luka terbasahi minyak. Ybs langsung menjerit kepanasan
dan perih :) . Maklum, baru pertama. Tapi ini tidak berlangsung lama. 15 menit saja
sudah berangsur hilang panas nyerinya. Paginya, ketika bertemu, famili ini
mengatakan bahwa malamnya sudah bisa tidur nyenyak, nanahnya sudah
mengempis dan tidak lagi bengkak. Dan saya celupkan lagi ke dalam minyak.
Besoknya, luka sudah mengering, dan berangsur sembuh.
Kasus ke-dua, Ibu saya di pertengahan 2010 ini. Manakala terjatuh dan bibir bawah
sobek, karena sudah sore tidak segera saya bawa ke Rumah Sakit untuk dijahit.
Melainkan dicuci dan dibasuh dengan minyak cengkeh. Entah bagaimana panas dan
perihnya waktu itu. Ketika di UGD RS keesokan harinya (sudah lewat 12 jam lebih),
dokter mengatakan bahwa luka untuk bisa dijahit dan pulih dengan bagus
sebaiknya dilakukan pada masa Golden Period. Periode emas luka ini adalah
maksimal enam jam setelah luka. Tapi bagaimana lagi, toh sudah terlanjur. Akhirnya
pagi itu dijahit dengan 13 jahitan. Cukup banyak karena bentuknya seperti huruf T
dan tidak rata.
Di masa penyembuhan luka ini, setiap habis mandi, Bapak saya selalu rutin
menetesi minyak daun cengkeh ke bekas jahitan. Efeknya memang dahsyat. Nanah
semakin cepat keluar dan terhitung banyak. Dan harus tega mengingat khasiat
yang sudah diyakini selama ini. Tiga hari setelah dijahit, kontrol ke dokter.
Dikatakan penyembuhan lukanya sangat bagus dan cepat. Begitu pula pada hari kelima, dikatakan luka sudah menutup sempurna, tetapi masih diperlukan satu kali
lagi kontrol. Alhamdulillah, meski masih meninggalkan bekas luka robek yang
minor, bibir Ibu saya sudah pulih, dan bagi orang awam, sekilas tidak nampak
adanya bekas luka tersebut.
4. Obat Luka Bakar
Ini yang mengalami saya sendiri. Ketika lengan ini terkena knalpot motor, tentu rasa
panas membakar. Dan bila tidak diobati, kulit melepuh berair. Begitu pula rambut

tangan tidak tumbuh lagi dan meninggalkan bekas putih. Namun, karena waktu itu
saya sedia selalu minyak cengkeh, langsung saya olesi. Alhamdulillah tidak sampai
ada yang namanya lepuhan apalagi berair. Juga kulit cepat pulih, sementara
bekasnya yang biasanya berwarna mengkilap atau putih, tidak lagi terlihat dalam 23 bulan. Bahkan rambut di daerah lukapun sudah tumbuh di waktu 2-3 bulan itu.
5. Minyak Urut
Karena sifatnya yang panas, minyak cengkeh sangat cocok digunakan untuk
memijat dan mengurut urat yang capek maupun keseleo. Namun perlu diingat,
panasnya 5 kali lebih kuat dibanding Rheumason. Apalagi minyak yang baru keluar
dari penyulingan. Hati-hati untuk penderita lemah jantung / darah tinggi karena bisa
sontak kaget.
6. Obat Nyamuk
Yang membuktikan pertama kali kawan saya. Semasa masih di Lapan Rumpin,
nyamuk adalah teman kami setiap malam. Karena sudah menyerah, dan kebetulan
stok obat nyamuk sedang menipis, minyak cengkehpun jadilah. Minyak dioleskan ke
bagian kulit yang terbuka. Alhamdulillah nyamuk tidak berani hinggap. Cara yang
lain, yakni diteteskan ke atas Mat / kertas obat nyamuk elektrik yang menggunakan
pemanas model keramik. Seiring panasnya keramik, minyak juga menguap,
menyebarkan eugenol melalui asapnya. Alhasil, nyamuk tidak berani mendekat.
7. Obat Bius
Di beberapa literatur yang pernah saya baca, di luar negeri eugenol ini digunakan
sebagai bahan anestesi. Dan yang sudah diuji coba pada hewan.
8. Obat kedinginan
Karena efek hangat dan panasnya ke kulit dan tubuh, bila kedinginan cocok juga
untuk dioleskan. Tetapi sekali lagi, terasa panas, dan bagi yang belum terbiasa,
dicoba dahulu pada daerah yang tidak terlalu sensitif.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.
Usaha penyulingan minyak daun cengkeh pada umumnya dilakukan di wilayah
pedesaan dengan teknologi sederhana dan berskala kecil.

2.
Usaha minyak daun cengkeh memiliki masa depan yang cerah. Peluang pasar
komoditas minyak daun cengkeh, terutama untuk ekspor masih terbuka, sehingga
secara langsung memberikan peluang bagi pengembangan dan peningkatan
produksi minyak daun cengkeh.
3.
Berdasarkan kondisi alam di Indonesia, potensi usaha penyulingan minyak
daun cengkeh dapat dilakukan di banyak wilayah di Indonesia terutama di wilayah
pedesaan dengan sumber air yang cukup.
4.
Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh para pengusaha penyulingan
minyak daun cengkeh adalah masalah bahan baku yang sangat tergantung pada
musim. Bahan baku berupa daun cengkeh kering hanya tersedia pada musim
kemarau.
5.
Munculnya usaha penyulingan minyak atsiri memberikan peluang kerja bagi
masyarakat setempat, baik untuk pengusaha maupun para pekerjanya, sehingga
dapat meningkatkan taraf hidupnya.
6.
Usaha penyulingan daun cengkeh tidak menimbulkan pencemaran dan tidak
menghasilkan limbah yang berbahaya. Limbah berupa abu daun cengkeh bahkan
dapat digunakan sebagai pupuk.

B. Saran
1.
Usaha minyak daun cengkeh di pedesaan masih dapat dikembangkan lagi di
wilayah lain di Indonesia, terutama yang dekat dengan sumber bahan baku.
2.
Untuk memperbaiki mutu minyak daun cengkeh, yang sangat penting dalam
persaingan di masa yang akan datang, pengusaha perlu membekali diri dengan
pengetahuan yang memadai mengenai minyak daun cengkeh dari pengolahan
sampai pengemasannya.
3.
Faktor yang harus diperhatikan dalam dalam upaya pemasaran minyak daun
cengkeh, terutama untuk tujuan ekspor adalah dengan memperhatikan kualitas,
harga yang kompetitif dan keberlangsungan produksi.

DAFTAR PUSTAKA

Guenther E, 1987. Minyak Atsiri. Diterjemahkan oleh R.S. Ketaren dan R. Mulyono.
Jakarta : UI Press

Nurdin, A dan A. Mulyana. 2001. Isolasi Eugenol Dari Minyak Cengkeh Skala Pilot
Plant. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. No. 9. Hal 58 62
Nurdjannah, N. 2004. Diversifikasi Penggunaan Cengkeh. Persektif. Vol 3. No. 2, 6170.
Ruhnayat, A. 2002. Memproduktifkan Cengkeh. Jakarta : Penebar Swadaya
http://www.infopasaragro.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=54&Itemid=59

Industri Minyak Cengkeh di Indonesia


Industri Minyak Cengkeh di Indonesia

Cengkeh merupakan salah satu komoditas subsektor perkebunan yang sebagian


besar diusahakan oleh perkebunan rakyat. Hasil utama tanaman cengkeh adalah
bunganya yang dipanen pada saat kelopak bunga belum mekar. Bagian utama dari
tanaman cengkeh yang bernilai komersial adalah bunganya yang sebagian besar
digunakan dalam industri rokok dan hanya sedikit dalam industri makanan. Namun
demikian, dengan adanya penemuan penemuan baru bagian tanaman lain dari
cengkeh yaitu daun dan tangkai bunganya telah pula dimanfaatkan sebagai sumber
minyak. Salah satu produk cengkeh yang banyak digunakan dalam industri adalah
minyak cengkeh. Bahan baku minyak cengkeh dapat berasal dari bunga cengkeh,
gagang/tangkai, dan daun.

Potensi Minyak Cengkeh di Indonesia

Menurut data statistik FAO, Indonesia memiliki luas areal tanaman cengkeh terluas
di dunia, yaitu sekitar 241.800 ha atau lebih dari 70% luas areal tanaman cengkeh
di dunia. Indonesia juga merupakan penghasil minyak cengkeh terbesar di dunia.
Industri minyak daun cengkeh tidak saja memproduksi minyak daun cengkeh
sebagai komoditas ekspor yang menghasilkan devisa, tetapi juga menyerap tenaga
kerja hal ini dikarenakan besarnya permintaan dari dalam maupun luar negeri.

Sentra produksi minyak cengkeh terdapat di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur,
Sumatra Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan. Produksi minyak cengkeh Indonesia pada
tahun 2007 sekitar 2.500 ton dengan perkiraan pemakaian dunia sekitar 3.500 ton /

tahun. Walaupun demikian volume ekspor minyak cengkeh sangat kecil, karena
sebagian besar minyak cengkeh sudah diolah menjadi produk turunannya sehingga
yang diekspor lebih banyak pada produk turunannya, seperti eugenol, eugenol
asetat, dan lain-lain.

Tanaman cengkeh memiliki kandungan minyak atsiri dengan jumlah cukup besar,
baik dalam bunga (10-20%), tangkai (5-10%) maupun daun (1-4%). Dari ketiga
bagian tersebut yang paling ekonomis adalah ekstrak bagian daunnya. Oleh karena
itu jenis minyak cengkeh yang umum diperjualbelikan adalah minyak daun cengkeh
( clove leaf oil ). Kandungan utama minyak atsiri bunga cengkeh adalah eugenol
(70-80%). Eugenol adalah komponen utama minyak cengkeh berupa cairan tidak
berwarna, beraroma khas, dan mempunyai rasa pedas yang banyak dimanfaatkan
dalam industri fragrance dan flavor karena memiliki aroma yang khas dan industri
farmasi karena bersifat antiseptik.

Minyak daun cengkeh Indonesia sudah dikenal di pasar dunia sejak tahun 1970,
sedangkan minyak tangkai dan bunga cengkeh mulai tahun 1992 masuk pasaran
dunia. Sebagai bahan obat, cengkeh telah lama digunakan terutama untuk
kesehatan gigi, yaitu eugenol murni sebagai obat gigi. Disamping itu dapat dipakai
sebagai bahan baku obat kumur, dan industri pasta gigi. Dalam hal ini digunakan
minyak cengkeh karena mengandung eugenol yang bersifat antiseptik. Dalam
industri makanan cengkeh digunakan dalam bentuk bubuk atau produk hasil
ekstraksi dari bunga cengkeh seperti minyak cengkeh atau oleoresin.

Teknologi Proses Produksi Minyak Cengkeh

Proses produksi minyak cengkeh sebagian besar menggunakan metode destilasi.


Tahap pertama adalah pengeringan untuk mengurangi kadar air bahan baku. Proses
pengeringan ini bertujuan untuk meningkatkan rendemen. Tahap kedua adalah
proses destilasi. Destilasi merupakan pemisahan fisis yang terjadi akibat perbedaan
titik didih dan tekanan uap. Minyak atsiri memiliki titik didih yang lebih rendah
dibandingkan air, sehingga daun yang dipanaskan dalam ketel akan mengalami
proses hidrodifusi, sehingga minyak yang ada dalam daun cengkeh keluar dari
bahan, dan akan menguap terlebih dahulu dibandingkan air. Proses destilasi ini
dilakukan selama 5-7 jam. Uap dari minyak cengkeh dialirkan ke tempat
penampungan. Uap air dan uap minyak daun cengkeh dicairkan dengan
mengalirkan pipa melingkar ke dalam kolam pendingin (kondensor).

Tahap ketiga adalah pemisahan. Pemisahan antara air dan minyak cengkeh terjadi
di dalam penampungan, disebabkan oleh perbedaan berat jenis. Minyak cengkeh
memiliki berat jenis yang lebih besar dibandingkan air, yakni 1,030 g/cc, sedangkan
air memiliki berat jenis 1,000 g/cc, oleh karena itu posisi air berada di atas,
sedangkan minyak berada di bawah. Sedikit demi sedikit air dipisahkan dari minyak
cengkeh, dan pada akhirnya minyak didapatkan. Tahap terakhir adalah
penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan alat penyaring minyak. Penyaringan
dapat terjadi akibat perbedaan ukuran molekul. Minyak akan lolos (filtrat),
sedangkan sampah dan air tidak lolos. Dari proses penyaringan menghasilkan
minyak yang benar-benar murni, yang siap untuk dipasarkan ke konsumen.

Tabel.1. SNI : 06-4267-1996 Minyak Cengkeh (Clove Oil)

Parameter Mutu Minyak Cengkeh

Karakteristik

WarnaTak berwarna/ kuning muda


Berat Jenis ( 25C) 1,030 1,060 g/ml
Indek Bias

1,527-1,535

Putaran Optik

0-135

Kelarutan dalam Etanol

1:2

Eugenol Total (b/b) 80-95 %

Produsen Minyak Cengkeh di Indonesia

PT.Indesso Aroma, merupakan pemain dunia di industri pewangi berbasis minyak


cengkeh (flavor dan flagrance) dan turunannya. Dari 3.500 ton total produksi
minyak cengkeh dunia, 2.500 ton-nya diproduksi dan dipasok oleh PT.Indesso. Tahun
2008, PT. Indesso mengekspor 1.900 ton minyak cengkeh dan turunannya. Tujuan
ekspor terbesar saat ini adalah AS dan negara-negara Eropa, dan belakangan mulai
masuk ke pasar Cina, India dan negara-negara Amerika latin. Pada tahun 2006, PT.
Indesso mempunyai satu unit distilasi (1000 L/ batch) dan tiga unit Fraksinasi (dua
@ 2000 L/batch dan satu 600 L/batch), sehingga pabrik ini mampu menghasilkan
minyak cengkeh sebesar 100 150 ton/bulan, atau sekitar 2 3 ton per hari. Angka
ini membuat perusahaan yang terletak di Banyumas, Jawa Tengah, sebagai
produsen minyak cengkeh terbesar di dunia. Di pasar dunia, harga minyak cengkeh
cukup fluktuatif, pada kisaran Rp 110.000 170.000 per kg.

Prospek Pengembangan Agroindustri

Permintaan akan minyak daun cengkeh sangatlah besar dan sering terjadi kelebihan
permintaan yang tidak dapat dipenuhi oleh kapasitas produksi industri kecil minyak
daun cengkeh yang terbatas.

Pemanfaatan minyak cengkeh, untuk dunia industri memang cukup luas. terutama
untuk keperluan industri farmasi atau obat- obatan. Begitu juga untuk industri
parfum, yang merupakan campuran utama untuk Geranium, Bergamot, Caraway,
Cassie dan bahan untuk pembuatan vanillin sintetis sebagai bahan baku industri
makanan dan minuman. Sebagian besar hasil produksi minyak daun cengkeh
diekspor ke luar negeri.

Potensi usaha minyak daun cengkeh masih sangat luas di Indonesia terutama di
daerah-daerah yang dekat dengan sumber bahan baku. Saat ini, cengkeh telah
dibudidayakan di hampir seluruh wilayah Indonesia, sehingga potensi untuk
mendirikan usaha pengolahan minyak daun cengkeh sangatlah besar.

Tingkat persaingan minyak daun cengkeh Indonesia di pasar internasional terutama


ditentukan oleh kualitas minyak daun cengkeh yang dihasilkan Indonesia dan
negara-negara pesaing, seperti Madagaskar, Tanzania dan Srilanka. Negara
penghasil minyak atsiri bukan hanya berasal dari negara-negara berkembang saja,

seperti Cina, Brasil, Indonesia, India, Argentina dan Meksiko melainkan juga negara
maju, seperti Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Italia, dan Inggris. Perbedaannya,
negara-negara berkembang lebih banyak memproduksi minyak atsiri menjadi bahan
setengah jadi dan kemudian mengekspornya ke negara maju.

Lain halnya yang dilakukan oleh negara maju. Meskipun mereka mengimpor bahan
setengah jadi dari negara berkembang untuk diolah menjadi barang jadi, mereka
mengekspornya sebagian kembali ke negara-negara lain termasuk negara
berkembang dalam bentuk barang jadi dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Namun demikian, peluang pasar minyak daun cengkeh masih terbuka luas terutama
di pasar dunia yang volume permintaannya terus meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Guenther E, 1987. Minyak Atsiri. Diterjemahkan oleh R.S. Ketaren dan R. Mulyono.
Jakarta : UI Press

Nurdin, A dan A. Mulyana. 2001. Isolasi Eugenol Dari Minyak Cengkeh Skala Pilot
Plant. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. No. 9. Hal 58 62

Nurdjannah, N. 2004. Diversifikasi Penggunaan Cengkeh. Persektif. Vol 3. No. 2, 6170.

Ruhnayat, A. 2002. Memproduktifkan Cengkeh. Jakarta : Penebar Swadaya