Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 2
1.1 Latar Belakang..............................................................................2
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................2
1.3 Tujuan...........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
2.1

Perkembangan Penamaan Manajemen Operasional...................3

2.2

Defenisi Manajemen Operasional...............................................4

2.3 Penerapan Operasi Dan Penentuan Lokasi Dalam Kegiatan Produksi.5


2.3.1 Sistem Produksi/Operasi.........................................................5
2.3.2 Penentuan Lokasi Perusahaan...............................................5
2.4 Pengaturan Proses Produksi Atau Operasi.....................................6
2.5 Rancangan Pabrik Dan Sistem Produksi........................................7
2.6 Perencanaan Jumlah Produksi Dan Penentuan Standar.................7
2.7 Pengelolaan Dalam Kegiatan Operasi..........................................8
2.8 Pengawasan Kegiatan Produksi....................................................9
2.9

Ruang Lingkup Manajemen Operasional.....................................9

2.10 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Manajemen Operasional


9
2.11 Fungsi Manajemen Operasional Dalam Organisasi/Perusahaan. 10
2.12 Struktur Manajemen Operasional Dalam Organisasi/Perusahaan 10
2.13 Langkah-Langkah Manajemen Operasional................................11
2.14 Strategi Manajemen Operasional Dalam Organisasi atau
Perusahaan..........................................................................................11
BAB III PENUTUP........................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan....................................................................................13
3.2 Saran.............................................................................................13
3.3 Daftar Pustaka..............................................................................13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri yang semakin pesat saat ini, membuat
persaingan semakin ketat antar perusahaan yang ada di dunia. Segala
upaya dilakukan untuk menjadi yang terbaik. Manajemen yang baik
menjadi kunci kesuksesan dunia industri saat ini baik itu manajemen
produksi, pemasaran, sumber daya manusia dan keuangan. Manajemen
operasional merupakan satu fungsi manajemen yang sangat penting
bagi sebuah organisasi atau perusahaan. Bidang ini berkembang sangat
pesat terutama dengan lahirnya inovasi dan teknologi baru yang
diterapkan dalam praktik bisnis. Oleh karena itu banyak perusahaan
yang sudah melirik dan menjadikan aspek-aspek dalam manajemen
operasi sebagai salah satu senjata strategis untuk bersaing dan
mengungguli kompetitornya. Dalam kewirausahaan, manajemen
operasi pun diperlukan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan
perubahan atau inovasi produk untuk menjadi lebih baik lagi. Seiring
perkembangan industri yang semakin maju perusahaan juga dituntut
untuk memberikan kualitas yang terbaik baik dalam produk maupun
jasa yang dihasilkan tetapi tidak melupakan dampak lingkungan yang
terjadi dari segala aktivitas perusahaan.

1.2
1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.
9.

Rumusan Masalah
Bagaimana Perkembangan Penamaan Manajemen Operasional?
Apakah pengertian manajemen operasional itu?
Bagaimana penerapan operasi dan penentuan lokasi dalam kegiatan
produksi?
Bagaimana ruang lingkup manajemen operasional?
Apa Faktor-faktor yang Mempengaruhi Manajemen Operasional
Organisasi
atau Perusahaan?
Fungsi Manajemen Operasional Dalam Organisasi/Perusahaan?
Bagaimana struktur manajemen operasional?
Bagaimana langkah langkah manajemen operasional?
Bagaimana strategi manajemen operasional?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Perkembangan Penamaan Manajemen Operasional.
2. Mengetahui pengertian dari manajemen operasional.
2

3. Mengetahui penerapan operasi dan penentuan lokasi dalam kegiatan


produksi.
4. Mengetahui bagaimana ruang lingkup manajemen operasional.
5. Mengetahui faktor-faktor yang Mempengaruhi Manajemen
Operasional Organisasi
atau Perusahaan.
6. Mengetahui fungsi Manajemen Operasional Dalam
Organisasi/Perusahaan
7. Mengetahui struktur manajemen opeasional.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Perkembangan Penamaan Manajemen Operasional


Manajemen Operasional memiliki tiga tahapan perkembangan
teoretik dan setiap pase perkembangan dimaksud memiliki nama yang
khas. Pada mulanya bernama Manajemen Pabrik (Manufacturing
Management), kemudian menjadi Manajemen Produksi (Production
Management) dan terakhir bernama Manajemen Operasional
(Operations Management).
1. Manajemen Pabrik
Menurut Adam dan Ebert (1992) manajemen pabrik lahir
bersamaan dengan lahirnya revolusi industri di Inggris sekitar tahun
1785 dan dipicu oleh pemikiran Adam Smith, terutama tentang
spesialisasi (asas pembagian kerja) dan efisiensi ekonomi. Manajemen
Pabrik diperlukan karena revolusi industri telah menggeser teknik
pengolahan manual atau kerja tangan (hand-making production
system) menjadi kerja mesin (machine-made production system).
Manajemen Pabrik pada dasarnya merupakan metode
pengorganisasian faktor-faktor produksi, termasuk sumber daya
manusia, dalam usaha menghasilkan produk barang secara massal
dengan efisien. Tekanan utama Manajemen Pabrik terletak pada usaha
menghasilkan produk barang dengan efisien. Oleh karena itu
orientasinya masih tunggal, yaitu berproduksi untuk memperoleh
keunggulan bersaing berdasarkan basis biaya. Manajemen Pabrik ini
berlangsung sampai sekitar tahun 1930-an, yaitu sampai dengan
kebangkitan
industri
di
Jerman,
khususnya
industri
mobil
(Mercedez dan Mercy) yang mengutamakan mutu.
2. Manajemen Produksi (Production Management)
Era Manajemen Produksi mulai sejak 1930-an sampai 1970-an.
Manajemen Produksi lahir sejak pemikiran Taylor yang terkenal dengan
sebutan manajemen ilmiah (scientific management) diterima secara
luas dan diterapkan di lapangan produksi. Pada mulanya, produksi
3

dengan orientasi pada mutu dipelopori oleh Jerman sehingga Jerman


diterima sebagai pelopor Manajemen Produksi. Era ini berlangsung
hingga Jepang muncul sebagai salah satu negara industri berteknologi
tinggi dan menawarkan gaya manajemen khas Jepang, yaitu
Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management, TQM) dan Just In
Time Production System (JIT) pada awal tahun 1970-an. Gagasan Taylor
mengenai produksi terutama bertujuan untuk menghilangkan gerakangerakan yang tidak berguna, yaitu gerakan yang tidak memberikan
nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Pada dasarnya Manajemen
Produksi juga melulu mengkaji tata produksi barang dan belum
menaruh perhatian pada produksi jasa. Namun demikian orientasi
Manajemen Produksi sudah lebih luas daripada Manajemen Pabrik.
Manajemen Produksi sudah memperhatikan soal kualitas keluaran
disamping pada tekanan biaya atau efisiensi ekonomi.
Pada
dasarnya Manajemen
Produksi merupakan
metode
pengorganisasi-an faktor-faktor produksi, termasuk sumber daya
manusia, untuk digunakan dalam proses menghasilkan produk barang
secara massal yang memenuhi stanadard mutu tertentu secara efisien.
3. Manajemen Operasional (Operations Management)
Manajemen Operasional lahir sejak 1970-an hingga sekarang.
Sasaran yang hendak dicapai Manajemen Operasional ialah
mewujudkan efisiensi ekonomi (cost minimization) dalam proses
produksi, baik barang maupun jasa, kualitas yang tinggi (high quality),
dapat diserahkan ke pasar dalam waktu yang cepat (speed of delivery),
dan peralatan produksi dapat dengan segera dialihkan untuk
mengerjakan produk lainnya (flexibility). Dengan demikian, Manajemen
Operasional sudah berbeda secara mendasar dengan Manajemen
Pabrik dan Manajemen Produksi. Manajemen Operasional mengkaji
produksi barang dan jasa, sedang Manajemen Pabrik dan Manajemen
Produksi melulu membicarakan produksi barang. Disamping itu,
orientasi Manajemen Operasional sudah semakin luas dan lazim disebut
memiliki orientasi pada biaya, mutu, kecepatan penyerahan, dan
keluwesan proses (QCDF Orientation). Kepeloporan Jepang dibidang
modernisasi Manajemen Produksi dipimpin oleh Toyota yang
menekankan proses pada usaha menghasilkan produk yang bermutu
sesuai pengharapan konsumen.
2.2

Defenisi Manajemen Operasional


Manajemen operasional adalah bentuk pengelolaan secara
menyeluruh dan optimal pada masalah tenaga kerja, barang-barang
seperti mesin, peralatan, bahan-bahan mentah, atau produk apa saja
4

yang sekiranya bisa dijadikan sebuah produk barang dan jasa yang
biasa dijual belikan.Sesuai dengan definisinya sendiri, manajeman yang
berasal dari kata manage yang berarti mengatur penggunaan. Jika
disandingkan dengan kata operasional, artinya dalah pengaturan pada
masalah produksi atau operasional baik dalam bidang barang atau
jasa. fungsi manajemen operasional, yakni dalam hal
pengambilan keputusan mengenai kebutuhan-kebutuhan
operasional..
Manjemen operasional sangat erat kaitannya dengan pe Unsur
Manajemen terdiri dari ; perencanaan, pelaksanaan, pengawasan.
Tahap
Perencanaan, meliputi ; Penentuan strategi operasi;
penentuan lokasi pabrik; Riset dan pengembangan produk;
penentuan
jumlah
produk;
penentuan
luas
dan
pola
produksi;penyusunan layout & job design; serta penentuan standar
kerja.
Tahap Pelaksanaan, meliputi ; pengaturan bahan baku; pengturan
proses produksi; pemeliharaan dan penggantian fasilitas; perbaikan
lingkungan kerja; dan perbaikan kesejahteraan pekerja.
Tahap Pengawasan, meliputi ; pengawasan kuantitas ; pengawasan
kualitas; dan pengawasan biaya produksi dan operasi.
Dengan demikian, Manajemen Produksi atau Operasional
menyangkut pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses
produksi untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
2.3 Penerapan Operasi Dan Penentuan Lokasi Dalam Kegiatan
Produksi
2.3.1 Sistem Produksi/Operasi
Sistem operasi merupakan sistem yang mengacu pada sistem
transformasi yang menghasilkan barang dan jasa. Dalam sistem
operasi, yang menjadi masukan adalah energi, material, tenaga kerja,
modal dan informasi. Sedangkan sistem operasi yang disandarkan pada
kendali syariat akan memastikan berjalannya proses transformasi yang
amanah, disamping jaminan halal atas segala masukan yang digunakan
serta semua keluaran yang dihasilkan.
Lingkungan eksternal mempengaruhi ketiga subsistem manajemen
operasi. Sebagai contoh, lingkungan eksternal menyediakan tenaga
kerja, bahan mentah yang menjadi input. Perubahan teknologi dapat
mengubah proses transformasi. Produk yang dihasilkan oleh organisasi
dilempar kelingkungan eksternal, tetapi lingkungan eksternal juga
mempengaruhi output yang dihasilkan. Sebagai contoh, perubahan
preferensi konsumen akan mengubah produk yang dihasilkan organisasi
menjadi produk yang lebih sesuai dengan preferensi konsumen
5

tersebut. Alat dan metode dapat mempengaruhi dan membantu proses


transformasi..
2.3.2 Penentuan Lokasi Perusahaan

Terdapat 2 kriteria dalam menentukan lokasi produksi:


Kriteria subyektif, keputusan lokasi produksi berdasarkan
pertimbangan subyektif pemilik perusahaan.
Kriteria obyektif, mempertimbangkan berbagai faktor yang akan
mendukung tercapainya keberhasilan. Seperti budaya masyarakat,
akses terhadap pasar dan pemasok, tingkat persaingan, akses
transportasi dan lain-lain.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pilihan Lokasi Kerja:
Biaya ruang kerja
Biaya untuk membeli ruang kerja dapat berbeda dari satu lokasi ke
lokasi lain tergantung dari letak tanah.
Ketersediaan dan biaya tenaga kerja
Perusahaa dapat memilih lokasi dimana terdapat banyak tenaga
kerja dengan keahlian khusus yang diperlukan. Biaya tenaga kerja
sangat bervariasi tergantung dari lokasi perusahaan.
Insentif pajak
Insentif pajak diberikan untuk menambah lapangan kerja dan
memperbaiki kondisi ekonomi di daerah-daerah yang menawarkan
kridit pajak.
Sumber permintaan
Biaya trasportasi dan jasa produk dapat dikurangi dengan
memproduksi di lokasi yang dekat sumber permintaan dari
konsumen.
Akses trasportasi
Perusahaan lebih memilih lokasi dekat sumber utama transportasi
agar para konsumen lebih mudah mengakses perusahaan.

2.4 Pengaturan Proses Produksi Atau Operasi


Proses produksi diatur sesuai dengan keinginan dan keadaan
prusahaan,dengan memilih dari berbagai alternatif proses produksi
sebagai berikut:
2.4.1
Secara umum,terdapat dua jenis proses produksi :
Pertama,sistem Produksi Intermiten
Sistem prosuksi dimana pengelolaan kegiatan produksi bersifat tidak
terus menerus, berkelanjutan dan menggunakan pola mulai selesai.
Artinya,kepastian mengenai kapan memulai proses produksi dan
6

kapan menyelesaikan proses produksi jelas. Terdapaat dua jenis pola


produksi yang menggunakan sistem intermiten :
1. Produksi massal ( mass production)
Umumnya berlaku pada prusahaan manufaktur. Dilakukan melalui
standar produksi tertentu, prosedur tertentu dan jumlah unit produk
tertentu yang secara rutin diproduksi
2. Pilihan masal (mass customization)
Bahwa produk yang dihasilkan oleh prusshaan memberikasn
keleluasaan kepada konsumen untuk memilih sesuai selera dan daya
beli masing-masing. Perusahaan memproduksi variasi produk yang
lebih banyak,seperti HP,Komputer.
Kedua,sistem proses produksi yang terus menerus (continous
production system)
Sistem produksi dimana pengelolaan kegiatan produksi bersifat
terus menerus dan untuk jangka waktu yang relatif panjang
kemudian disimpan dalam gudang, disalurkan ke penyalur dan dijual
kepada konsumen. Contoh perusahaan manufaktur seperti
perusahaan kimia, minyak bumi dan tambang, sedangkan
perusahaan jasa seperti ttransportasi transportasi yang terus
menerus memberatkan penumpang dari terminal.
2.4.2 Proses produksi Pelayanan
1) Produksi yang standar
Proses produksi yang didasarkan pada standar perusahaan. Standar
tersebut di desain dari informasi konsumen. Konsemen membeli
sebagaimana barang yang distandardisasikan tersebut.
2) Produksi menurut pesanan
Proses produksi dilakukan untuk membuat barang sebagaimana yang
dipesan oleh konsemen. Jadi bentuknya tidak distandardisasikan tetapi
sangat bervariasi.
2.4.3 Sifat dan Teknis Produksi
Teknik produksi pada perusahaan manufaktur ada beberapa jenis
yaitu:
a) Proses Ekstraktif merupakan proses produksi yang haanya
mengambil dari alam dan sudah terjadi produksi akhir, misalnya
emas, batu bara, dan sebagainya.
b) Proses Analitis merupakan kegiatan produksi yang memisah
misahkan bahan alam menjadi produk akhir, misalnya minyak,
semen dan sebagainya.
c) Proses sintetis merupakan kegiatan produksi dengan mencampur
bahan-bahan kemudian diolah menjadi produk akhir, misalnya
makanan, minuman, dan obat-obatan.
d) Proses Pengubahan yaitu kegiatan produksi dengan mengubah
bahan baku menjadi produk akhir, misalnya elektronik.
7

2.5 Rancangan Pabrik Dan Sistem Produksi


Rancangan (Design) menunjukkan ukuran dan struktur pabrik atau
kantor.Tata Letak (Layout) adalah pengaturan mesin dan perlengkapan
didalam pabrik atau kantor. Sebagai contoh untuk perusahaan
garmen, perlu ditentukan dimana meletakkan bahan baku,
menempatkan pekerja, mesin dan menyimpan hasil akhir. Begitu juga
dalam bisnis restoran, manajer perlu menentukan dimana letak
kasir,meja makan, dapur, toilet, hingga lokasi parkir.
Rancangan sistem produksi menyangkut bagaimana proses
konversi dalam sistem produksi dilakukan. Terdapat beberapa jenis
rancangan dalam sistem produksi sebagai berikut :
a. Rancangan Produksi
Adalah
rancanga
sistem
produksi
yang
bersifat
berkesinambungan dari awal hingga akhir dan mengikuti satu pola
proses produksi. Sebagai contoh, proses pembuatan kain dari kapas
hingga kain jadi. Tahapan proses pembuatan kain tersebut mulai dari
bahan baku berupa kapas disiapkan, kapas dipintal menjadi kain
dalam mesin pintal, kain yang sudah jadi melalui pembersihan,
kemudian kain dan diwarnai dan dibersihkan lagi kemudian
dikeringkan, lalu kain melalui proses penggulungan kemudian
digudangkan.
b. Rancangan Proses
Yaitu rancangan sitem produksi yang proses produksinya
mengikuti jenis proses yang harus dilakuakan dan tak selalu harus
mengikuti seluruh proses yang ada. Contah, proses pemariksaan
kesehatann disebuah poliklinik. Proses dimulai dari pasien datang,
mendafter ke resepsionis lalu menunggu diruang tunggu. Proses
selanjutnya sangat bergantung jasa apa yang diinginkan oleh pasien,
apakah perlu kedokter anak, ahli penyakit dalam atau pemeriksaan
gigi
c. Rancangan Posisi Tetap
Adalah sistem produksi dimana produk yang akan dibuat diletakkan
disatu tempat, dan berbagai fasilitas seperti mesin, alat produksi, dan
tenaga kerjanya mengerjakan proses produksi ditempat tersebut.
Contoh, pembuatan pesawat terbang, atau proses make up artis.

2.6 Perencanaan Jumlah Produksi Dan Penentuan Standar


Perkiraan jumlah produk yang dibuat diwaktu yang akan datang dan
penentuan standar dapat dilakukan beberapa cara antara lain :
a) Penghitungan Forecast Produksi
8

Forecast produksi didasarkan forecast penjualan perusahaan.


Forecast penjualan dapat dilakukan dengan metode statistik dan
metode pendapatan. Besarnya forecast produksi dirumuskan :
b) Dasar Perhitungan BEP (Unit)
BEP (Break Even Point) adalah suatu keadaan pada titik atau jumlah
penjualan itu perusahaan tidak laba dan tidak rugi yang berarti total
biaya (Total cost) sama dengan total pendapatan (total revenue).
Jumlah produk di buat harus lebih besar dari unit terjual pada BEP.
Perhitungan BEP mempunyai asumsi, bahwa : Biaya dapat dipisah
menjadi biaya tetap dan variable; Haraga jual dan biaya varibel per
unit dalam periode perhitungn selalu tetap; Semua produksi terjual
habis sehingga kuantitas penjualan sama dangan produksi.
c) Penentuan Standar Kinerja
Standar kerja yang harus ditetapkan meliputi :
Standar Kualitas
Standar Kuantitas
Standar Waktu Proses:Standar waktu yang dibutuhkan untuk
proses produksi yang normal agar diperoleh efisiensi yang
maksimal.
Standar Produktivitas (Productivity : Standar mengenai rasio antara
output dari proses produksi dan input yang digunakan.
2.7

Pengelolaan Dalam Kegiatan Operasi


a. Pengaturan Bahan Baku
Pengatuaran bahan baku dilakaukan dalam mengefesienkan
biaya pemasaran dan penyimpanan yang akan dikeluarkan dalam satu
periode jika asumsinya dapat dipenuhi. Sedangkan untuk efesiensi
biaya penyimpanan ekstra (Ekstra Carrying Cost) dan penganti bahan
baku (Stoc Out Cost) .
.
b. Keputusan Operasi
Pengambilan keputusan merupakan tema pokok dalam operasi
perusahaan.
Keputusan berkaitan dengan proses
Keputusan mengenai proses fisik berkenaan dengan fasilitas yang
akan dipakai untuk memproduksi brang dan jasa.

Keputusan berkaitan dengan kapasitas


Keputusan mengenai kapasitas diperlukan untuk menghasilkan jumlah
produk yang tepat, ditempat dan dalam waktu yang tepat pula.
Keputusan berkaitan dengan kesediaan

Keputusan berkaitan kesediaan ini mencangkup apa yang akan


dipesan, berapa banyak, dan kapan dipesan.
Keputusan berkaitan dengan tenaga kerja
Keputusan berkaitan dengan tenaga kerja mencangkup bagaimana
rekrutmen, proses seleksi diselesaikan, pelatihan dan pengembangan,
supervisi, kompensasi dan PHK.
Keputusan berkaitan dengan mutu
Keputusan yang menyangkut penentuan mutu produk harus menjadi
orientasi bersama dalam setiap proses operasi penetapan standar,
desain peralatan, pemilihan orang-orang terlatih dan pengawasan
terhadap produk yang dihasilkan.
2.8 Pengawasan Kegiatan Produksi
Pengawasan dalam kegiatan produksi perlu dilakukan yaitu: pada
kegiatan
perencanaan
atau desainnya,
proses
produksinya,
monitoringnya maupun tindak lanjut dari monitoring itu.
a.
Pembelian Bahan Baku
Para menejer melakukan tugas-tugas berikut ketika persediaan
barang.
Pertama
memilih
pemasok
bahan
baku
dengan
memperhatikan karekteristik seperti harga, kecepatan, kualitas,
layanan dan ketersediaan kredit. Kedua mencoba mendapatkan
potongan/diskon menurut volume. Ketiga menyerahkan produksi
kepada pemasok.

b.
Pengawasan Persediaan Bahan Baku
Pengawasan persediaan adalah proses pengelola persediaan pada
tingkat yang meminimkan biaya. Perencanaan kebutuhan bahan baku
adalah proses untuk menjamin bahawa bahan baku tersedia bila mana
diperlukan.
c.
Routing
Roting ialah urutan (rute) tugas yang perlu nuntuk menghasilkan
sebuah produk. Proses routing biasanya dievaluasi secara periodik
untuk menentukan apakah bias ditingkatkan sehingga mendapat
proses produksi yang lebih cepat dan murah.
d.
Penjadwalan
Penjadwalan adalah tindakan menentukan periode waktu untuk setiap
tugas dalam proses produksi.. Cara untuk menjadwalkan proyek
khusus adalah teknik evaluasi dan peninjauan program (program
evaluation and review technique-PERT), menjadwalkan tugas dengan
cara meminimkan hambatan proses produksi.
10

e.
Pengawasan Kualitas
Kualitas adalah dimana derajat dimana barang atau jasa memuaskan
persyaratan atau harapan pelanggan.
2.9

Ruang Lingkup Manajemen Operasional


Belakangan ini sudah umum kita jumpai jabatan dalam perusahaan
yang terkait dengan manajemen operasi, seperti manajer dan direktur
operasi. Konsep proses dalam pengertian manajemen operasi pada
dasarnya mencakup semua proses, mulai dari proses global/utama
hingga subproses terkecil yang dapat dijumpai dalam perusahaan.
Dengan demikian, ruang lingkup analisis dalam manajemen operasi
adalah keseluruhan proses yang terdapat dalam suatu perusahaan.

2.10
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Manajemen Operasional
Organisasi/Perusahaan
Menurut Higgins (1994) Faktor Faktor Yang Mempengaruhi
Manajemen Operasional adalah: Manajer/Pimpinan Pada dasarnya
setiap tindakan yang diambil oleh manajer atau pimpinan
mempengaruhi dalam beberapa hal, seperti aturan-aturan, kebijakankebijakan, dan prosedur-prosedur organisasi terutama masalahmasalah yang berhubungan dengan masalah personalia, distribusi
imbalan, gaya komunikasi, cara-cara yang digunakan untuk
memotivasi, teknik-teknik dan tindakan pendisiplinan, interaksi antara
manajemen dan kelompok, interaksi antar kelompok, perhatian pada
permasalahan yang dimiliki karyawan dari waktu ke waktu, serta
kebutuhan akan kepuasan dan kesejahteraan karyawan.

Tingkah laku karyawan


Tingkah laku karyawan mempengaruhi melalui kepribadian
mereka, terutama kebutuhan mereka dan tindakan-tindakan yang
mereka lakukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Komunikasi
karyawan memainkan bagian penting, karena cara seseorang
berkomunikasi menentukan tingkat sukses atau gagalnya hubungan
antar manusia.

Tingkah laku kelompok kerja


Terdapat kebutuhan tertentu pada kebanyakan orang dalam hal
hubungan persahabatan, suatu kebutuhan yang seringkali dipuaskan
oleh kelompok dalam organisasi. Kelompok-kelompok berkembang
dalam organisasi dengan dua cara, yaitu secara formal, utamanya
pada kelompok kerja; dan informal, sebagai kelompok persahabatan
atau kesamaan minat.

Faktor eksternal organisasi

11

Sejumlah faktor eksternal organisasi mempengaruhi pada


organisasi tersebut. Keadaan ekonomi merupakan faktor utama yang
mempengaruhi organisasi. Keadaan ekonomi adalah faktor utama. Di
lain pihak, ledakan ekonomi dapat mendorong penjualan dan
memungkinkan setiap orang mendapatkan pekerjaan dan peningkatan
keuntungan yang besar, sehingga hasilnya menjadi lebih positif.
2.11 Fungsi Manajemen Operasional Dalam
Organisasi/Perusahaan
Manajemen Operasional Memiliki beberapa Fungsi yaitu:
Fungsi Pemasaran (Marketing Function), Berhubungan dengan
pasar untuk dapat menciptakan permintaan dan pada akhirnya
menyampaikan produk yang dihasilkan ke pasar.
Funsi Keuangan (Finance Function), Mengelola berbagaai urusan
keuangan didalam perusahaan maupun perusahaan dengan fihak luar
perusahaan.
Fungsi Produksi (Operastion Function), Berkaitan dengan penciptaan
barang dan jasa yang dihasilkan perusaan.
2.12 Struktur Manajemen Operasional Dalam
Organisasi/Perusahaan
Pimpinan tertinggi dalam sistem manajemen operasional adalah
manajer operasional. Mereka-mereka ini yang menjadi tiang atau pilarpilar dalam berjalannya manajemen operasional. Tugas dari seorang
manajer adalah melakukan dan memetakan fungsi-fungsi manajemen
sesuai dengan tugasnya, misalnya membuat konsep dalam hal
perencanaan, pembentukan staf, pengorganisasian, serta memiliki
jiwa kepemimpinan dalam mengendalikan manajemen operasional
secara keseluruhan. Dari fungsi operasi juga ada bagian yang mesti
dijabarkan dalam pengembangannya, seperti harus disiapkan adanya
proses produksi dan operasi, ada juga jasa penunjang pelayanan
produksi, yang melingkupi perencanaan serta pengendalaian dan
kontrol yang ekstra. Begitulah fitrah yang harus ada pada pola
manajemen operasional.
2.13 Langkah-Langkah Manajemen Operasional
Manajemen operasional juga meliputi langkah-langkah dalam
pengambilan keputusan sebagaimana telah disebut di awal. Jika
melihatnya dari segi pengambilan keputusan, sedikitnya ada empat
langkah
dalam
pengambilan
keputusan
dalam
manajemen
operasional, yaitu pengambilan keputusan dari peristiwa yang pasti,
12

dari peristiwa yang mengandung risiko, dari peristiwa yang belum


pasti, dan peristiwa yang lahir dari pertentangan-pertentangan dari
keadaan lain. Ada juga manajemen operasional yang dilihat dari segi
persediaan, baik itu mengenai apa yang dipesan, kualitas bahan
hingga kapan bahan tersebut akan dipesan. Selain itu, mesti juga
memastikan kualitas atau mutu yang meliputi mutu barang dan jasa
dari yang dihasilkan, desain peralatan, serta pengawasan produk atau
jasa.
2.14 Strategi Manajemen Operasional Dalam Organisasi atau
Perusahaan
Sebelum kita melangkah dalam hal pengambilan keputusankeputusan atau mengeluarkan suatu produk, ada baiknya kita
memetakan strategi yang akan digunakan dalam teori manajemen
operasional. Salah satu strategi dalam menetapkan arah dan tujuan
untuk mengambil keputusan bisnis. Sedikitnya, ada dua tipe dalam
pengambilan strategi. Pertama, dengan menggunakan biaya rendah
yang ditekan dari biaya produksi, namun tetap menggunakan
teknologi bagus, tapi biaya tenaga kerja diusahakan rendah, dan
tingkat persediaannya juga rendah, tapi tetap menjaga mutu. Mutu
yang harus tetap terjamin. Ini tentu bisa berjalan berbarengan jika
bagian keuangan serta pemasaran mendukung dan tidak mati. Yang
kedua adalah dengan menggunakan strategi invasi dalam
menciptakan produk atau pengenalan produk baru. Pada bagian ini,
tidak usah terlalu memikirkan harga pemasaran karena tidak ada
masalah. Serta adanya fleksibilitas dalam pengenalan produk baru.
Dan yang berikutnya adalah perencanaan pabrik atau dalam
bahasa asing disebut factoy planning. Ini adalah langkah yang penting
dalam kelangsungan hidup serta kemajuan perusahaan sesuai tujuan
perusahaan yang ingin dicapai dalam hal teori manajemen
operasional. Di antara perencanaan pabrik itu adalah penentuan lokasi
pabrik, bangunan, peralatan, hingga penerangan, dan sirkulasi udara
dalam pabrik. Pemilihan lokasi pabrik sangat penting karena bisa
mempengaruhi dalam daya saing dengan perusahaan lain. Selain itu,
juga harus memperhatikan adanya kemungkinan terjadi ekspansi.
Agar perusahaan bisa berjalan lancar, efektif, dan efisien, kita
bisa melihat banyak faktor yang bisa mempengaruhi lokasi pabrik
yang masih terkait dengan menejemen operasional, di antaranya
lingkungan masyarat, dekat dengan pasar, dan tenaga kerja,
kedekatan dari pengiriman bahan pemasok, biaya transportasi, dan
juga sumber daya alam di sekitar lokasi yang mempengaruhi. Ini
peting dalam praktik manajemen operasional.
13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manajemen Operasi memberikan cara pandang yang sistematik
dalam melihat proses-proses dalam organisasi dan agar kita memahami
apa yang dikerjakan manajer operasi sehingga dengan cermat dapat
meningkatkan peluang keuntungan dan pelayanan dalam masyarakat
serta mampu mengorganisasikan diri pada perusahaan yang produktif.
Bahwa sangatlah penting untuk mengetahui bagaimana aktivitas
Manajemen Operasi berjalan agar kita memahami apa yang dikerjakan
manajer operasi sehingga dengan cermat dapat meningkatkan peluang
keuntungan
dan
pelayanan
dalam
masyarakat
serta
mampu
mengorganisasikan diri pada perusahaan yang produktif.
3.2 Saran
Sarannya ketika perusahaan menghadapi peluang global maka
manajer perusahaan harus dengan cermat menempatkan perusahaannya
dalam misi dan strategi operasi dan mampu mengevaluasi kekuatan dan
kelemahan internal perusahaan, juga peluang dan ancaman yang
terdapat di lingkungan perusahaan, sehingga efektifitas perusahaan dapat
terus berjalan.
3.3 Daftar Pustaka
T. Hani Handoko, Dasar-Dasar Manajemen Produksi Dan Operasi, BFE
Yogyakata, 1984.
Jay Heyzer dan Barry Render, Manajemen Operasi, Salemba Empat,
Jakarta, 2005
Assauri, Sofjan, Manajemen Produksi dan Operasi Edisi Revisi 2004,
Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 2004
http://manajemenoperasional.com/mengapa-kita-perlu-belajarmanajemen-operasi/
http://manajemenoperasional.com/apa-sih-definisi-manajemen-operasi/
http://hamididoank.blogspot.com/2014/03/makalah-manajemenpoasionalr.html
http://umikalsum8493.blogspot.com/2014/03/peranan-manajemenoperasional-dalam.html

14