Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH AKHLAK TASAWUF

PEREMPUAN DALAM TASAWUF


Dosen Pengampu : Syafa Al Mirzana, Ph.D, D.Min

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Erny Mawati
Vita Maizia
Liyah
Miftahul Rasyadi
Ahmad Nurkholis Majid
Irma Asfiyani .Z.

(10670015)
(10670017)
(10670029)
(106700 )
(11670043)
(11670046)

Pendidikan Kimia

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012/2013
PENDAHULUAN

Khasanah keilmuan Islam menempatkan kedudukan perempuan lebih rendah


dibandingkan laki-laki, seperti ilmu fiqh yang memberikan hak lebih besar terhadap lakilaki dibanding perempuan. Sedangkan ilmu kalam yang menjadi objek kajiannya adalah halhal yang berkaitan dengan ilmu ketuhanan seperti sifat-sifat, esensi dan perbuatan Tuhan.
Kalam tidak terlibat dengan spekulasi terhadap hakikat kenyataan dalam menjelaskan
pertanyaan

tentang hubungan

gender.

Perhatian

utamanya

adalah

untuk

menopang

keabsahan Al-quran sebagai sumber perintah-perintah. Pada akhirnya, yang dihasilkan oleh
kalam adalah syariat, bukan hakikat kenyataan itu sendiri. Dua cabang keilmuan tersebut
berbicara mengenai aspek-aspek fisik berbeda dengan tasawuf yang berbicara melampaui
dataran fisik. Menurut Sachiko Murata persoalan tentang relasi gender bisa dijawab oleh
tradisi kearifan yang tertarik pada struktur realitas sebagaimana ia menampakkan dirinya
kepada kita.
Tasawuf merupakan sisi lain dari Islam yang lebih menitik beratkan pada nilai-nilai
esoteris. Dalam dunia tasawuf, manusia tersusun dari dua unsur yaitu, materi dan
immateri. Jika dilihat dari segi hubungannya dengan Allah, unsur materi memiliki
hubungan lebih jauh dengan Allah dibanding dengan unsur immateri. Ruh memiliki fungsi yang
sangat dominan dalam diri manusia, sehingga krisis spiritual bagi manusia menyebabkan
terjadinya berbagai penyakit jiwa yang pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai
kemadlaratan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Dunia tasawuf lebih menampilkan sisi-sisi feminin Tuhan, seperti indah, kasihsayang, lembut, cinta dan lain sebagainya, sehingga Tuhan terasa sangat ramah dan lembut dalam
berhubungan dengan manusia. Hal ini menghancurkan anggapan bahwa perempuan dianggap
lemah dan di bawah laki-laki dikarenakan memiliki sisi feminin. Annemarie Schimmel
menceritakan bahwa mahasiswanya memiliki pandangan Tuhan memiliki sisi jalal dan
jamal, aspek-aspek kemuliaan yang luar biasa dan kebaikan yang mengagumkan, dan kedua
hal tersebut menjadi sifat-Nya yang kamal, kesempurnaan. Dia mengatakan sebagai
seorang fenomenolog agama, dirinya tidak menghadapi kesulitan untuk menamakan
kekuasaan, sifat maskulin, dan sifat feminim.
PEMBAHASAN

Dalam Perspektif Tasawuf., relasi laki-laki perempuan tampak adil dan setara. Hal ini
disebabkan ajaran utama sufisme adalah kebersihan hati dalam upaya mencapai kedekatan dengan
Tuhan. Persoalan utamanya adalah bagaimana mencapai Tuhan sedekat-dekatnya dan bahwa Dia semakin
dirindukan dan dicintai. Untuk mencapai tingkat tersebut tidak ada syarat laki-laki, karena
masing-masing orang,laki-laki maupun perempuan, mempunyai kesempatan yang sama.
Ketika diyakini bahwa tidak ada bedanya Islam dengan agama lain dan bahkan tidak ada
jarak antara Tuhan dengan semesta, lalu apa artinya perbedaan laki-laki perempuan? Cinta lakilaki kepada perempuan dan keinginan bersatu dengannya adalah simbol kecintaan dan kerinduan
manusia kepada Tuhan dan sebaliknya. Dalam cinta perempuan terdapat cinta kepada Tuhan, dan essensi
cintanya kepada Tuhan.
Tidak adanya starata antara laki-laki dan perempuan dalam sufisme Islam tersebut tidak
hanya dalam konsep melainkan juga dalam pergaulan sehari-hari. Dalam kisah-kisah sufis, lakilaki bukan mahram secara rutin berkunjung kepada wanita sufi dirumahnya, menemui mereka di
berbagai tempat dan berdiskusi tentang masalah spiritual bersama mereka. Begitu pula
perempuan mengunjungi laki-laki, duduk bersama mereka dan menyuarakan perasaan batin
mereka. Selain itu, perempuan sufi juga mengikuti pertemuan-pertemuan kaum sufis dalam
majliszikr dan mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut di rumah mereka yang dihadiri laki-laki.
Dunia sufisme atau mistik islam tidak mempermasalahkan perbedaan jenis kelamin, lakilaki atau perempuan dalam pencapaian spiritualitas. Dalam spiritualitas, jenis kelamin adalah
simbol duniawi. Dunia spiritual tidak mengenal eksistensi individu karena bertentangan dengan
sifat keabadian, sedang spiritualitas adalah dunia jiwa abadi. Oleh karena itu, perempuan tidak
berbeda dengan laki-laki, dapat mencapai puncak tertinggi ketenangan batin.
A. Perempuan dalam Tasawuf menurut Ibn Arabi
Perempuan dalam pandangan Ibn Arabi adalah simbol dari jiwa yang reseptive
(munfail) dan yang creative (fail). Sementara laki-laki adalah jiwa yang creative atau aktif
(fail) saja. Karenanya, Ibn Arabi tidak menempatkan yang feminin dan yang maskulin itu
secara berhadap-hadapan. Sebaliknya, yang feminin baginya adalah jiwa yang meliputi dua
unsur sekaligus, yaitu aktif dan reseptif. Dalam menguatkan argumennya, Ibnu 'Arabi
menyandarkan logikanya pada proses penciptaan Adam. Adam sebagai yang maskulin
sesungguhnya menurut Ibn Arabi diwujudkan dari esensi wujud yang feminin. Karena, zat

atau asal usul segala sesuatu dalam bahasa Arab disimbolkan dengan sesuatu yang feminin,
termasuk zat Tuhan. Setelah terciptanya Adam, Tuhan menciptakan Hawa yang feminin.
Hirarki ini dimaknai Ibn Arabi sebagai kebenaran kualitas feminin yang kreatif
melalui simbol Tuhan sebagai pencipta Adam dan sebagai yang reseptif melalui simbol
Hawa. Sementara Adam yang maskulin kedudukannya adalah berada di tengah-tengah antara
dua feminin yang kreatif dan pasif.
Ibnu 'arabi menambahkan bahwa dua kualitas yang saling melengkapi (aktif
dan reseptif) yang menyatu dalam perempuan (feminin) inilah yang memungkinkan
jiwa ini menjadi tempat yang paling sempurna sebagai tajalli Tuhan. Inilah yang
disebut sebagai esensi dari imajinasi kreatif. Dan jiwa kreatif ini juga berpotensi
melahirkan cinta dalam diri manusia dan nostalgia yang mampu membangkitkan
imajinasinya ke seberang wujudnya yang inderawi. Sementara dari rasa cinta dan nostalgia
inilah muncul rasa simpati antara yang inderawi dan yang ruhani menuju pengetahuan
ilahi atau tajalli Tuhan par excellence. Bahkan, Ibn Arabi sampai pada kesimpulan
bahwa tajalli Tuhan yang paling sempurna akan terwujud melalui hubungan seksual.
Dalam Futuhat, Ibnu Arabi menjelaskan; Tidak ada sesuatu pun di dunia ciptaan ini
yang lebih besar kekuatannya dibanding perempuan, dikarenakan suatu misteri yang hanya
diketahui oleh mereka yang mengetahui bahwa di dalamnyalah kosmos muncul dan
kenyataan bahwa kosmos berasal dari dua premis. Sebab kosmos adalah perkawinan
(nakih) adalah pencari, dan pencari adalah pihak yang miskin dan membutuhkan.
Pihak yang dilibatkan dalam perkawinan (mankih) adalah yang dicari, dan yang dicari
itu mempunyai kekuatan untuk menjadi objek kebutuhan. Dan nafsu berkuasa. Maka jelaslah
bagi kalian kedudukan perempuan di antara hal-hal yang ada, apa artinya ia di hadirat
Ilahi yang memandanganya, dan mengapa perempuan mewujudkan kekuatan.
Anggapan bahwa perempuan memiliki spiritualitas yang rendah tidaklah beralasan,
karena

sifat

feminin

yang

dimilikinyalah

sebenarnya

yang

memudahkannya

berhubungan dengan Tuhan. Akan tetapi sebenarnya tasawuf tidak mengunggulkan jenis
kelamin seseorang yang lebih dilihat bagaimana kedudukannya di hadapan Tuhan. dalam
prespektif tasawuf

perbedaan

antara

laki-laki

dan

perempuan

bukan

untuk

dipertentangkan karena keduanya saling melengkapi, jika mempertentangkan keduanya,


semua yang terkait dengan relasi keduanya tidak akan berakhir.
Menurut Ibn Arabi, Sufi adalah muslim yang terbaik: jika dia seorang
perempuan, dia adalah seorang yang berbeda dari kaum perempuan
beriman sesamanya terutama dalam ruang lingkup bahwa pengabdiannya
kepada Tuhan adalah pekerjaan yang menyita seluruh waktunya. Sejarah
Islam menunjukkan banyak peran penting yang dimiliki oleh perempuan.
Kenyataan bahwa wali sejati islam yang pertama adalah seorang
perempuan pecinta agung, yaitu Rabiah Al-adawiyah. Kebesaran dan
kesalehahan Rabiah adalah yang terbesar. Misi rabiah adalah meraih
tataran tertinggi yakni dalam jelajah ruh, mendahulukan apa-apa yang
pertama, yakni Tuhan di depan surga yang mutlak sebelum yang nisbi.
B. Perempuan dalam Tasawuf menurut Al Ghazali
Dalam kajian mengenai perempuan, Alghazali melihat dan memahaminya sesuai
dengan firman-firman Allah serta sabda Rasulullah SAW. Menurut Alghazali, pilar-pilar yang
menyangga hubungan antara laki-laki dan perempuan tampak jelas dalam firman Allah Swt:
Sesungguhnya Aku (Allah) tidak akan menyia-nyiakan amalan orang-orang yang beramal
diantara kamu, laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah sebagian dari yang lain...
(Ali Imran: 195). Dan firman-Nya: Barangsiapa mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki atau
perempuan, sementara ia beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan
pahala yang lebih utama daripada yang telah mereka kerjakan (An-Nahl: 97)
Demikian pula sabda Nabi Muhammad SAW: Kaum perempuan adalah sisi yang
seimbang dengan kaum laki-laki. Ada pula hal-hal yang dalam agama tidak ada larangan
ataupun perintah tentangnya. Yang demikian itu termasuk di antara hal-hal yang dibiarkan
dan didiamkan oleh syariat, agar memberi kepada kita kebebasan untuk memilih untuk
melakukan atau meninggalkannya.

C. Perempuan dalam Tasawuf menurut Jalaludin Rumi


Menurut Rumi, laki-laki dan perempuan mempunyai kemampuan yang sama untuk
mencapai tingkat tinggi yaitu dekat dengan Tuhan. Dalam dunia gender, penggunaan kata
perempuan dalam menggambarkan nafsu-nafsu rendah termasuk dalam kategori bias
gender karena dampaknya sangat besar dalam masyarakat sehingga muncul stereotipi
terhadap perempuan. Padahal sebenarnya, perempuan memiliki kesempatan yang sama
dengan laki-laki dalam mencapai prestasi spiritual tetapi kecil kemungkinannya karena
perempuan tidak pernah ikut berperang sehingga dianggap kecil kemungkinan untuk
berperang melawan musuh terbesar, yaitu hawa nafsu.
Laki-laki dan perempuan sama-sama merupakan hamba Allah, yaitu sama-sama
wajib menyembah Allah. Keduanya memiliki peluang dan potensi yang sama untuk
menjadi

hamba

ideal.

Dalam

Al-quran

yang

dimaksud

dengan

hamba

ideal

diistilahkan dengan orang-orang yang bertakwa. Rumi mengatakan bahwa manusia sempurna
tidak mempermasalahkan tentang jenis kelamin biologis. Sehingga keduanya dapat
menjadi manusia sempurna, dalam hal ini dimaksud juga dengan hamba ideal, serta
sama-sama memiliki peluang untuk mencapai prestasi spiritual.

KESIMPULAN
Berbeda dengan ilmu fiqh yang hanya membicarakan aspek-aspek fisik semata, tasawuf
mampu membicarakan/mempelajari aspek-aspek yang melampaui batas dataran fisik. Oleh
karenanya kajian mengenai perempuan dalam tasawuf mampu memberikan pemahaman yang
lebih mendalam. Dunia tasawuf lebih menampilkan sisi-sisi feminin Tuhan, seperti indah,
kasih-sayang, lembut, cinta dan lain sebagainya, sehingga Tuhan terasa sangat ramah dan lembut
dalam berhubungan dengan manusia. Hal ini menghancurkan anggapan bahwa perempuan
dianggap lemah dan di bawah laki-laki dikarenakan memiliki sisi feminin.
Dalam Perspektif Tasawuf., relasi laki-laki perempuan tampak adil dan setara. Hal ini
disebabkan ajaran utama sufisme adalah kebersihan hati dalam upaya mencapai kedekatan dengan
Tuhan. Persoalan utamanya adalah bagaimana mencapai Tuhan sedekat-dekatnya dan bahwa Dia semakin
dirindukan dan dicintai. Untuk mencapai tingkat tersebut tidak ada syarat laki-laki, karena
masing-masing orang,laki-laki maupun perempuan, mempunyai kesempatan yang sama.
Anggapan bahwa perempuan memiliki spiritualitas yang rendah tidaklah beralasan,
karena sifat feminin yang dimilikinyalah sebenarnya yang memudahkannya berhubungan
dengan Tuhan. Akan tetapi sebenarnya tasawuf tidak mengunggulkan jenis kelamin
seseorang yang lebih dilihat bagaimana kedudukannya di hadapan Tuhan. Dalam prespektif
tasawuf perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan untuk dipertentangkan karena
keduanya saling melengkapi, jika mempertentangkan keduanya, semua yang terkait dengan relasi
keduanya tidak akan berakhir.

DAFTAR PUSTAKA
Kholik, Abdul. 2008. Skripsi: Perempuan dalam Tasawuf. Yogyakarta: UIN Press.
Muhammad Al-Ghazali, Studi Kritis Hadis Nabi Saw; Antara Pemahaman Tekstual dan
Kontestual, Mizan.
Ulya, Fina. 2009. Skripsi: Perempuan dalam Pandangan Rumi. Yogyakarta: UIN Press.