Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN GANGGUAN OKSIGENASI

PADA SDR. D DENGAN DIAGNOSA MEDIS ASMA ATTACK,


TACICARDIA, OBS CHEST PAIN
DI RUANG ANGGREK
RSUD WONOSARI

ISROIYAH WAHYUNI
P07120113055

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1. DEFINISI
Oksigenasi adalah pemenuhan akan kebutuhan oksigen (O).
Kebutuhan fisiologis oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia
yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, untuk
mempertahankan hidupnya, dan untuk aktivitas berbagai organ atau sel.
Apabila lebih dari 4 menit orang tidak mendapatkan oksigen maka akan
berakibat pada kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki dan biasanya
pasien akan meninggal.
Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang
di gunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan
hidup dan aktivitas berbagai organ atau sel. Dalam keadaan biasa manusia
membutuhkan sekitar 300 cc oksigen setiap hari (24 jam) atau sekitar 0,5
cc tiap menit. Respirasi berperan dalam mempertahakan kelangsungan
metabolisme sel. Sehingga di perlukan fungsi respirasi yang adekuat.
Respirasi juga berarti gabungan aktifitas mekanisme yang berperan dalam
proses suplai O ke seluruh tubuh dan pembuangan CO (hasil pembakaran
sel).
2. ETIOLOGI
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
1. Faktor predisposisi
a. Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit
alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor
pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga
bisa diturunkan
2. Faktor presipitasi
a. Faktor fisiologi

a. Menurunnya kapasitas peningakatan oksigen ( misal: anemia).


b. Menurunnya konsentrasi oksigen oksigen yang diinspirasi.
c. Hipovolemia mengakibatkan transpor oksigen terganggu akibat
tekanan darah menurun.
d. Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu
hamil, luka, dll.
e. Kondisi yang mempengaruhi

pergerakan

dinding

dada

( kehamilan, obesitas )
f. Perubahan pola nafas
Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan
ini sama jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya.
Bernapas yang sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang
terdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang
meningkat, denyut jantung meningkat. Orthopneo yaitu
ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan
berdiri seperti pada penderita asma.
g. Obstruksi jalan nafas
Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di
sepanjang saluran pernapasan di sebelah atas atau bawah.
Obstruksi jalan napas bagian atas meliputi: hidung, pharing,
laring atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda asing
seperti makanan, karena lidah yang jatuh kebelakang
(otrhopharing) bila individu tidak sadar atau bila sekresi
menumpuk disaluran napas. Obstruksi jalan napas di bagian
bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari saluran
napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas
yang terbuka merupakan intervensi keperawatan yang kadangkadang membutuhkan tindakan yang tepat. Onbstruksi
sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara mengorok
selama inhalasi (inspirasi).
b. Faktor perkembangan
a. Bayi prematur: kurangnya pembentukan surfaktan.
b. Bayi dan toddler: akibat adanya infeksi saluran nafas.
c. Anak usia sekolah dan remaja: resiko infeksi saluran
pernafasan dan merokok.

d. Dewasa muda dan pertengahan: akibat diet yang tidak sehat,


kurang aktivitas, dan stres.
e. Dewasa tua: adanya penuaan

yang

mengakibatkan

kemungkinan arteoriklerosis dan ekspansi paru menurun.


c. Faktor perilaku
a. Nutrisi: penurunan ekspansi paru pada obesitas.
b. Exerase: meningkatkan kebutuhan oksigen.
c. Merokok: nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah.
d. Substanse abuse dan nikotin: menyebabkan intake nutrisi/Fe
menurun mengakibatkan penurunan Hb, alkohol menyebabkan
depresi pernafasan.
d. Faktor lingkungan
a. Tempat kerja ( polusi ).
b. Suhu lingkungan.
c. Ketinggian tempat dari permukaan laut.
3. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY
Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan
trasportasi. Proses ventilasi (proses penghantaran jumlah oksigen yang
masuk dan keluar dari dan ke paru-paru), apabila pada proses ini terdapat
obstruksi maka oksigen tidak dapat tersalur dengan baik dan sumbatan
tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda asing yang menimbulkan
pengeluaran mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari alveoli ke
jaringan) yang terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan pertukaran
gas. Selain kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka kerusakan pada
transportasi seperti perubahan volume sekuncup, afterload, preload, dan
kontraktilitas miokard juga dapat mempengaruhi pertukaran gas (Brunner
& Suddarth, 2002)
PATHWAY

4. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN


a. PENATALAKSANAAN MEDIS
- Pemantauan Hemodinamika
- Pengobatan bronkodilator
- Melakukan tindakan delegatif dalam pemberian medikasi oleh
dokter, misal: nebulizer, kanula nasal, masker untuk membantu
pemberian oksigen jika diperlukan.
- Penggunaan ventilator mekanik
- Fisoterapi dada
b. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
a. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
- Pembersihan jalan nafas
- Latihan batuk efektif
- Pengisapan lender
- Jalan nafas buatan
b. Pola Nafas Tidak Efektif
- Atur posisi pasien ( semi fowler )

- Pemberian oksigen
- Teknik bernafas dan relaksasi
c. Gangguan Pertukaran Gas
- Atur posisi pasien ( posisi fowler )
- Pemberian oksigen
- Pengisapan lender
C. TERAPI
Terapi oksigen diberikan pada pasien yang mengalami gangguan ventilasi
pada seluruh area paru, pasien dengan pertukaran gas, serta mereka yang
mengalami gagal jantung dan membutuhkan terapi oksigen guna
mencegah hipoksia.
Metode Pemberian Oksigen dapat dibagi menjadi 2 tehnik, yaitu :
1. Sistem Aliran Rendah
Ditujukan untuk klien yang memerlukan oksigen, namun masih
mampu bernafas dengan pola pernafasan normal, misalnya klien
dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 20
kali permenit.
Contoh sistem aliran rendah adalah :
1. Kateter nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen
secara kontinyu dengan aliran 1 6 liter/mnt dengan konsentrasi
24% - 44%.
- Keuntungan
Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan dan
berbicara, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai
-

kateter penghisap.
Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari
45%, tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada
kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung, dapat terjadi
iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6
liter/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan

mukosa hidung, serta kateter mudah tersumbat.


2. Kanule nasal

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen


kontinyu dengan aliran 1 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen
sama dengan kateter nasal.
- Keuntungan
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju
pernafasan teratur, pemasangannya mudah dibandingkan
kateter nasal, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih
-

mudah ditolerir klien dan terasa nyaman.


Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%,
suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut,
mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1 cm, dapat
mengiritasi

selaput

lendir.

3. Sungkup muka sederhana


Merupakan alat pemberian oksigen kontinu atau selang seling 5
8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 60%.
- Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter
atau kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan
melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat digunakan
-

dalam pemberian terapi aerosol.


Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%,

dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah.


4. Sungkup muka dengan kantong rebreathing
Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu
60 80% dengan aliran 8 12 liter/mnt
- Keuntungan
Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana,
-

tidak mengeringkan selaput lendir


Kerugian
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika
aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2,

kantong

oksigen

bisa

terlipat.

5. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing.


Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen mencapai
99% dengan aliran 8 12 liter/mnt dimana udara inspirasi tidak
bercampur dengan udara ekspirasi
- Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak
-

mengeringkan selaput lendir.


Kerugian

Kantong oksigen bisa terlipat.


2. Sistem Aliran Tinggi
Contoh tehnik sistem aliran tinggi adalah sungkup muka dengan
ventury.
Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari
tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk
mengatur suplai ooksigen sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya
udara luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak.
Aliran udara pada alat ini sekitas 4 14 liter/mnt dengan konsentrasi
30 55%.
- Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan sesuai dengan
petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola nafas
terhadap FiO2, suhu dan kelembaban gas dapat dikontrol serta
-

tidak terjadi penumpukan CO2


Kerugian
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika
aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2,
kantong oksigen bisa terlipat.

ASUHAN KEPERAWATAN TERHADAP KLIEN DENGAN GANGGUAN


OKSIGENASI
A. Pengkajian
1. Identitas
Identitas pasien, mencakup:
1. Nama
2. Alamat
3. Umur
4. Status
5. Agama
6. Suku bangsa
7. Pendidikan
8. Pekerjaan
9. Tempat/tanggal lahir
10. No. RM
11. Diagnose medis
Identiras Penanggung jawab :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama
Alamat
Tempat/tanggal lahir
Status
Agama
Suku bangsa/bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Hubungan dangan pasien

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Yang biasa muncul pada pasien dengan ganguan siklus O2 dan CO2 antara
lain: batuk, peningkatan produksi sputum, dipsnea, hemoptisis, wheezing,
stridor, dan nyeri dada.

b. Riwayat kesehatan sekarang


1) Waktu terjadinya sakit
Berapa lama sudah terjadinya sakit
2) Proses terjadinya sakit
- Kapan mulai terjadinya sakit
- Bagaimana sakit itu mulai terjadi
3) Upaya yang telah dilakukan
- Selama sakit sudah berobat kemana
- Obat-obatan yang pernah dikonsumsi
4) Hasil pemeriksaan sementara / sekarang
- TTV meliputi tekanan darah, suhu, respiratorik rate, dan nadi
- Adanya patofisiologi lain seperti saat diauskultasi adanya ronky,
wheezing.
c. Riwayat kesehatan terdahulu
1) Riwayat merokok, yaitu sebagi penyebab utama kanker paru paru,
emfisema, dan bronchitis kronis. Anamnesa harus mencakup:
- Usia mulai merokok secara rutin
- Rata rata jumlah rokok yang dihisap setiap hari.
- Usai menghentikan kebiasaan merokok.
2) Pengobatan saat ini dan masa lalu
3) Alergi
4) Tempat tinggal
d. Riwayat kesehatan keluarga
Tujuan pengkajian ini:
- Kelainan alergi seperti asma bronchial, menujukkan suatu
predisposisi keturunan tertentu. Asma bisa juga terjadi akibat konflik
-

keluarga.
Pasien bronchitis kronis mungkin bermukim di daerah yang tingkat
polusi udaranya tinggi. Polusi ini bukan sebagai penyebab timbulnya
penyakit tapi bisa memperberat.

3. POLA FUNGSI KESEHATAN (GORDON)


a. Persepsi terhadap kesehatan manajemen kesehatan
- Tingkat pengetahuan kesehatan / penyakit
- Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan
- Faktor-faktor resiko sehubungan dengan kesehatan
b. Pola aktivitas dan latihan
Menggunakan tabel aktifitas meliputi makan, mandi berpakaian, eliminasi,
mobilisaasi di tempat tidur, berpindah, ambulansi, naik tangga.
c. Pola istirahat tidur
- Jam berapa biasa mulai tidur dan bangun tidur
- Sonambolisme

- Kualitas dan kuantitas jam tidur


d. Pola nutrisi - metabolic
- Berapa kali makan sehari
- Makanan kesukaan
- Berat badan sebelum dan sesudah sakit
- Frekuensi dan kuantitas minum sehari
e. Pola eliminasi
- Frekuensi dan kuantitas BAK dan BAB sehari
- Nyeri
- Kuantitas
f. Pola kebersihan diri
1. Kebersihan diri
2. Rambut
3. Telinga
4. Mata
5. Mulut
g. Pola kognitif perseptual
Adakah gangguan penglihatan, pendengaran (Panca Indra)
h. Pola konsep diri
- Gambaran diri
- Identitas diri
- Peran diri
- Ideal diri
- Harga diri
i. Pola koping
Cara pemecahan dan penyelesaian masalah
j. Pola peran hubungan
- Hubungan dengan anggota keluarga
- Dukungan keluarga
- Hubungan dengan tetangga dan masyarakat.
4. PEMERIKSAAN FISIK
a. Data klinik, meliputi:
1. TTV
2. KU
b. Data hasil pemeriksaan yang mungkin ditemukan:
1. Mata
- Konjungtiva pucat (karena anemia)
- Konjungitva sianosis ( karena hipoksemia)
- Konjungtiva terdapat pethecia ( karena emboli lemak atau
endokarditis)
2. Kulit
- Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah perifer).
- Sianosis secara umum (hipoksemia)
- Penurunan turgor (dehidrasi)

Edema
Edema periorbital

3. Dada
a. Inspeksi
- simetris atau tidak
- jenis pernafasan
- retraksi dada
b. palpasi
Untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi
abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit, dan mengetahui tactil
premitus (vibrasi).
c. Perkusi
Mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada di sekitarnya, dan
pengembangan (ekskursi) diafragma. Ada dua suara perkusi yaitu:
- Suara perkusi normal:
Resonan (sonor) : dihasilkan pada jaringan paru normal,

umumnya bergaung dan bernada rendah.


Dullness : dihasilkan di atas jantung atau paru.
Tympany : dihasilkan di atas perut yang berisi udara.
Suara perkusi abnormal:
Hiperesonan : lebih rendah dari resonan seperti paru abnormal
yang berisi udara.
Flatness : nada lebih tinggi dari dullness seperti perkusi pada

paha, bagian jaringan lainnya.


d. Auskultasi
- Suara napas normal
Bronchial/ tubular sound seperti suara dalam pipa, keras, nyaring,
dan hembusan lembut.
Bronkovesikuler sebagai gabungan antara suara napas bronchial
dengan vesikuler.
Vesikuler terdengar lembut, halus, sperti hembusan angin sepoi
sepoi.
-

Jenis suara tambahan


Wheezing : suara nyaring, musical, terus menerus akibat jalan
napas yang menyempit.

Ronchi : suara mengorok karena ada sekresi kental dan


peningkatan produksi sputum.
Pleural friction rub : suara kasar, berciut, dan seperti gessekan
akibat inflamasi dim pleura, nyeri saat bernapas.
Crakles :
- Fine cracles : suara meletup akibat melewati daerah alveoli,
-

seperti suara rambut digesekkan.


Coars cracles: lemah, kasar, akibat ada cairan di jalan saluran

napas yang besar. Berubah jika pasien batuk.


4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Laboratorium
- Radiografi: rontgen thoraks, bronkhoskopi, tomographi (CT-scan),
endoskopi, MRI
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Bersihan jalan napas tidak efektif
2) Pola napas tidak efektif
3) Gangguan pertukaran gas
4) Intoleransi aktivitas
C. PERENCANAAN
N
O
D
X
1

TUJUAN
NOC

INTERVENSI
NIC

EVALUASI

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama x 24 jam
diharapkan bersihan jalan
napas
efektif
sesuai
dengan kriteria:
Memiliki RR dalam batas
normal
Memiliki irama
pernafasan yang normal
Mampu mengeluarkan
sputum dari jalan nafas
Bebas dari suara nafas
tambahan

Tentukan kebutuhan
suction oral dan atau
trakheal
Auskultasi suara nafas
sesudah dan sebelum
melakukan suction
Informasikan kepada
klien dan keluarga tentang
suction
Monitor status oksigen
pasien (tingkat SaO2 dan
SvO2) dan status
hemodinamik (tingkat
MAP [mean arterial
pressure] dan irama
jantung) segera sebelum,

S: pasien mengatakan tidak


susah lagi dalam bernafas
dan tidak ada lagi secret
yang mengganggu
O: pernafasan pasien mulai
stabil
A: Dx ketidakefektifan
jalan nafas (dilanjutkan)
P: lanjutkan intervensi

selama dan setelah


saksion
Perhatikan tipe dan
jumlah sekresi yang
dikumpulkan
2

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama.X24
jam
diharapkan pola napas
efektif dengan kriteria :
Memiliki RR dalam batas
normal
Mampu inspirasi dalam
Memiliki dada yang
mengembang
secara
simetris
Dapat bernafas dengan
mudah
Tidak menggunakan otototot tambahan dalam
bernafas
Tidak mengalami dispnea

Monitor rata-rata, irama,


kedalaman dan usaha
respirasi
Perhatikan pergerakan
dada, amati kesemetrisan,
penggunaan oto-otot
aksesoris, dan retraksi otot
supraklavikuler dan
interkostal
Monitor respirasi yang
berbunyi, seperti
mendengkur
Monitor pola pernafasan:
bradipneu, takipneu,
hiperventilasi, respirasi
Kussmaul, respirasi
Cheyne-Stokes, dan
apneustik Biot dan pola
taxic
Perhatikan lokasi trakea
Monitor peningkatan
ketidakmampuan istirahat,
kecemasan, dan haus
udara, perhatikan
perubahan pada SaO2,
SvO2, CO2 akhir-tidal, dan
nilai gas darah arteri
(AGD), dengan tepat

S: pasien mengatakan
sesaknya berkurang
O: ritme nafas klien normal,
tidak adanya penggunaan
otot bantu pernafasan
A: Dx ketidakefektifan pola
nafas (dilanjutkan)
P: lanjutkan intervensi

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama .X 24 jam
diharapkan pertukaran gas
baik dengan kriteria :
Dapat bernafas dengan
mudah
Tidak mengalami dispnea
Tidak mengalami
sianosis
Tidak mengalami

Posisikan klien untuk


memaksimalkan potensi
ventilasinya.
Identifikasi kebutuhan
klien akan insersi jalan
nafas baik aktual maupun
potensial.
Lakukan terapi fisik dada
Auskultasi suara nafas,
tandai area penurunan
atau hilangnya ventilasi

S: pasien tidak kesulitan


dalam bernafas
O: tidak adanya sianosis,
tidak adanya dyspnea, tidak
adanya bunyi nafas
tambahan
A: Dx gangguan pertukaran
gas (teratasi)
P: intervensi dihentikan

somnolen
Memiliki perfusi
ventilasi yang seimbang

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama x 24 jam
diharapkan tidak terjadi
intoleransi aktivitas sesuai
kriteria:
Activity Tolerance
Frekuensi jantung dalam
rentang
normal
saat
merespon aktivitas
Frekuensi napas dalam
rentang
normal
saat
merespon aktivitas

dan adanya bunyi


tambahan
Monitor status pernafasan
dan oksigenasi, sesuai
kebutuhan

Energy Management
Kaji perasaan verbal
tentang kecukupan energy
Kaji penyebab kelelahan
seperti nyeri, pengobatan,
dll
Monitor intake nutrisi
secara adekuat sebagai
sumber energy
Monitor laporan pola
tidur pasien serta lamanya
tidur berapa jam
Batasi
stimulasi
lingkungan seperti cahaya
Self care : Activites of dan kebisingan untuk
Daily Living (ADL)
relaksasi
Tidak dibantu makan
Anjurkan bedrest atau
Tidak dibantu berpakaian batasi kegiatan seperti
Tidak dibantu toileting
meningkatkan
waktu
Tidak dibantu mandi
periode tidur / istirahat
Tidak dibantu perawatan
Ajarkan pada pasien atau
Tidak dibantu hygiene
keluarga tanda tanda
Tidak dibantu oral kelelahan dan anjurkan
hygiene
mengurangi aktivitas.
Tidak dibantu ambulasi :
berjalan

S: pasien mengatakan sudah


mulai beraktivitas yang
ringan
O: pasien bisa beraktivisa
tanpa dibantu
A: Dx intoleransi aktivitas
(di lanjutkan)
P:lanjutkan intervensi